• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUJIAN FAMA-FRENCH FIVE FACTOR MODEL TERHADAP EXCESS RETURN PADA SAHAM YANG TERDAFTAR DI JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) PERIODE SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGUJIAN FAMA-FRENCH FIVE FACTOR MODEL TERHADAP EXCESS RETURN PADA SAHAM YANG TERDAFTAR DI JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) PERIODE SKRIPSI"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUJIAN FAMA-FRENCH FIVE FACTOR MODEL TERHADAP EXCESS RETURN PADA SAHAM YANG TERDAFTAR DI JAKARTA

ISLAMIC INDEX (JII) PERIODE 2012-2018

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Ekonomi (SE)

Oleh:

Siti Mega Murdiana (11150810000083)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1441 H/2020

(2)

ii

PENGUJIAN FAMA-FRENCH FIVE FACTOR MODEL TERHADAP EXCESS RETURN PADA SAHAM YANG TERDAFTAR DI JAKARTA

ISLAMIC INDEX (JII) PERIODE 2012-2018

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Disusun Oleh:

Siti Mega Murdiana NIM: 11150810000083

Dibawah Bimbingan:

Pembimbing I

Murdiyah Hayati, S.Kom., MM NIP. 197410032003122001

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2020 M/1441 H

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Hari ini, Rabu, 22 Januari 2020 telah dilakukan Ujian Skripsi atas mahasiswa:

1. Nama : Siti Mega Murdiana 2. NIM : 11150810000083 3. Jurusan : Manajemen (Keuangan)

4. Judul Skripsi : Pengujian Fama-French Five Factor Model terhadap Excess Return Pada Saham yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2012-2018

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang bersangkutan selama proses ujian skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut di atas dinyatakan LULUS dan skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 2019

1. Dr. Titi Dewi Warninda, S.E., M.Si.

NIP. 197312212005012002

2. Faizul Mubarok, MM NIDN. 2014058801

3. Murdiyah Hayati, S.Kom., MM

NIP. 197410032003122001

(4)

iv

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Kamis, 11 April 2019 telah dilakukan Ujian Komprehensif atas mahasiswa:

1. Nama : Siti Mega Murdiana 2. NIM : 11150810000083 3. Jurusan : Manajemen (Keuangan)

4. Judul Skripsi : Pengujian Fama-French Five Factor Model terhadap Excess Return Pada Saham yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2012-2018

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut di atas dinyatakan LULUS dan diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 11 April 2019

1. Dr. Indoyama Nasaruddin., SE., MAB NIP. 197411272001121002

2. Deni Pandu Nugraha, SE., M.Sc.

NIDN. 2012108503

(5)

v

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

ILMIAH

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Siti Mega Murdiana NIM : 11150810000083 Jurusan : Manajemen (Keuangan) Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penelitian skripsi ini, saya:

1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.

2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain.

3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau tanpa izin pemilik karya.

4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.

5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggungjawab atas karya ini.

Jikalau dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata memang benar ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenakan sanksi berdasarkan hukum yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Jakarta, Februari 2020 Yang Menyatakan

Siti Mega Murdiana

(6)

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP I. IDENTITAS PRIBADI

1. Nama : Siti Mega Murdiana

2. Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 21 Mei 1997 3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Alamat : Jl. Cemara II No. 105

Pamulang Barat, Tangerang Selatan

5. Agama : Islam

6. Telepon : 087781089205

7. Email : [email protected]

II. PENDIDIKAN

1. 2002 – 2008 : MI Nurul Hidayah

2. 2008 – 2011 : SMPN 4 Tangerang Selatan 3. 2011 – 2014 : SMAN 6 Tangerang Selatan

4. 2014 – 2019 : S1 Manajemen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

III. PENGALAMAN ORGANISASI

1. Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen UIN Jakarta 2016/2017.

2. Sekretaris LPM Ratoh Jaroe Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta

2017/2018.

(7)

vii ABSTRACT

The purpose of this research is to know the influence of Fama-French Five Factor Model variables (Market Factor, Size Factor, Book-to-Market Ratio, Profitability, and Investment) in explaining portfolio in Indonesia which is represented by the shares of the company listed on Jakarta Islamic Index (JII).

This research used panel data regression analysis with Eviews version 9. The result shows that independent variable (market factor, SMB, HML, RMW, and CMA) simultaneously have significant effect towards Excess Return.

Keywords : Fama-French Five Factor Model, Excess Return, market factor,

SMB, HML, RMW, CMA

(8)

viii ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh seluruh variabel Fama-French Five Factor Model (Market Factor, Size Factor, Book-to- Market Ratio, Profitability, dan Investment) dalam menjelaskan portofolio di Indonesia yang diwakilkan dengan saham perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII). Penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel dengan program Eviews versi 9 dan teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel independen (market factor, SMB, HML, RMW, dan CMA) memiliki pengaruh signifikan terhadap Excess Return.

Kata Kunci: Fama-French Five Factor Model, Excess Return, market factor,

SMB, HML, RMW, CMA

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah ke jaman yang terang benderang seperti saat ini. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa telah mendapat banyak dukungan, bantuan, bimbingan serta semangat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing, dan mendukung dalam penyusunan skripsi ini, yaitu:

1. Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan baik hingga selesai.

2. Kedua orang tua tercinta dan tersayang, Bapak Abdul Kadir, Ibu Siti Murtini, dan saudara-saudara penulis, Habib Zidan Abdullah dan Muhammad Naufal Alfalah yang selalu mendoakan dengan ikhlas, memberikan kasih sayang yang tulus serta selalu memberikan dukungan kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Umar Lubis, Lc., MA. selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Prof. Dr. Amilin, SE., M.Si., Ak., CA., BKP., QIA. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Ibu Murdiyah Hayati, S.Kom., M.M. selaku Ketua Jurusan Manajemen dan

Ibu Amalia, S.E., M.S.M. selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas

Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah

mengesahkan secara resmi judul penelitian sebagai bahan skripsi dan telah

membantu memberikan izin kepada penulis sehingga penulisan skripsi

berjalan dengan lancar.

(10)

x

6. Ibu Murdiyah Hayati, S.Kom., MM. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan waktu, ilmu, bimbingan serta arahan kepada penulis selama penulis menyusun skripsi.

7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Bapak dan Ibu Dosen Manajemen yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama masa perkuliahan.

8. Sahabat-sahabat penulis yaitu MOTIVASIQUEH (Diana, Yunita, Shahara, dan Ubai), Ajeng, CHSC (Najla, Lintang, Isma, Risma, Lia), dan Nirkibi (Ersha, Soraya, Selvy, Susthira) terima kasih untuk bantuan, dukungan dan motivasi agar segera menyelesaikan skripsi ini. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dan dilancarkan dalam segala urusan di masa depan.

9. Kak Disti dan Karin selaku rekan kerja dan sahabat selama di kantor, terima kasih atas doa, dukungan dan motivasi yang diberikan kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

10. Rekan-rekan tim Lingkar9 yang selalu memberikan semangat, doa dan pengertian kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

11. Seluruh teman-teman Manajemen angkatan 2015 khususnya Manajemen Keuangan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang selalu memberikan semangat dan dukungan dari awal perkuliahan hingga saat ini.

12. Semua pihak yang terlibat dalam proses pembuatan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu namun tidak mengurangi rasa terima kasih penulis.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak. Semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapat pahala berlipat dari Allah SWT. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis serta pembaca.

Jakarta, 2019 Penulis

(Siti Mega Murdiana)

(11)

xi DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... iv

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... v

ABSTRACT ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 15

C. Tujuan Penelitian ... 15

D. Manfaat Penelitian ... 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17

A. Investasi... 17

1. Definisi Investasi ... 17

2. Tujuan Investasi ... 19

3. Proses Investasi ... 20

B. Pasar Modal ... 22

1. Definisi Pasar Modal ... 22

2. Instrumen yang Diperdagangkan di Pasar Modal ... 25

3. Indeks Pasar Modal ... 29

C. Saham ... 33

1. Definisi Saham ... 33

2. Return dan Risiko Saham ... 35

D. Capital Assets Pricing Model (CAPM) ... 38

E. Fama-French Factor Model ... 40

1. Fama-French Three Factor Model ... 40

2. Fama-French Five Factor Model ... 42

3. Excess Return ... 43

4. Market Factor ... 44

(12)

xii

5. Size Factor ... 44

6. Value Factor ... 45

7. Profitability Factor ... 46

8. Investment Factor ... 47

9. Hubungan Antar-Variabel ... 48

10. Konstruksi Portofolio ... 51

F. Penelitian Terdahulu ... 53

G. Kerangka Berpikir ... 60

H. Hipotesis ... 61

BAB III METODE PENELITIAN ... 63

A. Ruang Lingkup Penelitian ... 63

B. Populasi dan Sampel ... 63

1. Populasi ... 63

2. Sampel ... 64

C. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 65

1. Jenis Data ... 65

2. Teknik Pengumpulan Data ... 66

D. Metode Analisis Data ... 66

1. Analisis Statistik Deskriptif ... 67

2. Pemilihan Model Regresi Data Panel ... 67

3. Penentuan Uji Model Regresi ... 69

4. Uji Asumsi Klasik ... 71

5. Uji Hipotesis ... 75

6. Uji Regresi Linier Berganda OLS ... 77

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 79

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN... 81

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 81

1. Adaro Energy Tbk. ... 82

2. Astra International Tbk. ... 83

3. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. ... 84

4. Indofood Sukses Makmur Tbk. ... 85

5. Kalbe Farma Tbk. ... 85

6. Lippo Karawaci Tbk. ... 86

7. PP London Sumatra Indonesia Tbk. ... 87

(13)

xiii

8. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. ... 88

9. Semen Indonesia (Persero) Tbk... 88

10. United Tractors Tbk. ... 89

11. Unilever Indonesia Tbk. ... 90

B. Analisis Statistik Deskriptif ... 90

C. Seleksi Saham Kandidat Portofolio JII ... 92

D. Pembentukan Komposisi Portofolio JII ... 93

1. Penentuan Kelompok Size ... 93

2. Penentuan Kelompok Book-to-Market Ratio ... 94

3. Penentuan Kelompok Profitability ... 94

4. Penentuan Kelompok Investment ... 94

E. Perhitungan SMB, HML, RMW dan CMA ... 99

F. Uji Asumsi Klasik ... 103

1. Uji Normalitas ... 103

2. Uji Multikolinearitas ... 104

3. Uji Heteroskedastisitas ... 105

4. Uji Autokorelasi ... 106

G. Analisis Regresi Data Panel ... 108

H. Uji Hipotesis ... 110

1. Pengaruh Variabel Market Factor, SMB, HML, RMW, dan CMA Terhadap Excess Return secara Simultan (Uji F) ... 110

2. Pengaruh Variabel Market Factor, SMB, HML, RMW, dan CMA Terhadap Excess Return secara Parsial (Uji t) ... 111

3. Koefisien Determinasi (Adjusted R2) ... 112

4. Interpretasi Hasil Penelitian ... 113

BAB V PENUTUP ... 121

A. Kesimpulan ... 121

B. Saran ... 121

DAFTAR PUSTAKA ... 130

LAMPIRAN ... 134

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 53

Tabel 3.1 Penentuan Sampel Penelitian ... 64

Tabel 3.2 Sampel Penelitian ... 65

Tabel 3.3 Variabel Penelitian ... 80

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ... 91

Tabel 4.2 Saham-Saham yang Konsisten Terdaftar di JII Periode 2012 – 2018 ... 93

Tabel 4.3 Komposisi Portofolio Size – B/M dan saham pembentuknya ... 96

Tabel 4.4 Komposisi Portofolio Size – Profitability dan saham pembentuknya ... 97

Tabel 4.5 Komposisi Portofolio Size – Investment dan saham pembentuknya ... 98

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Nilai SMB, HML, RMW dan CMA .... 99

Tabel 4.7 Excess Return Portofolio Size – Book-to-Market ... 100

Tabel 4.8 Excess Return Portofolio Size – Profitability ... 101

Tabel 4.9 Excess Return Portofolio Size – Invesment ... 102

Tabel 4.10 Hasil Uji Multikolinearitas ... 104

Tabel 4.11 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 106

Tabel 4.12 Hasil Uji Autokorelasi ... 107

Tabel 4.13 Hasil Regresi Data Panel Common Effect Model ... 108

Tabel 4.14 Uji Signifikansi (F-Statistik) ... 110

Tabel 4.15 Uji t ... 111

Tabel 4.16 Koefisien Determinasi (R2) ... 113

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Grafik IHSG 2011-2017 ... 3

Gambar 1.2 Perkembangan Indeks JII 2011-2017 ... 13

Gambar 1.3 Perkembangan Kapitalisasi Pasar JII 2011-2017 ... 14

Gambar 2.1 Garis SML ... 40

Gambar 4.1 Grafik Hasil Uji Normalitas ... 104

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pasar modal merupakan salah satu tolak ukur kemajuan perekonomian suatu negara. Di dalam pasar modal, terdapat emiten-emiten yang merefleksikan kondisi sektor riil suatu perekonomian. Pasar modal berperan penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan fungsi sebagai sumber pendanaan usaha dimana perusahaan mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor) yang kemudian digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain (Kristin, 2015). Kondisi pasar modal yang maju menunjukkan bahwa suatu negara memiliki iklim industri yang terus tumbuh dan berkembang. Menurut Tandelilin (2010) pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang kelebihan dana dapat memilih investasi mana yang akan diambil dengan memberikan tingkat pengembalian yang optimal.

Otoritas Jasa Keuangan (2019) mengatakan bahwa pasar modal (capital

market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang

yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham),

reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal

merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain, dan

sebagai sarana bagi kegiatan investasi. Dengan demikian, pasar modal

(17)

2 memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya.

Pasar modal secara umum merupakan suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal. Dalam syariah, pasar modal memiliki pengertian yaitu pasar modal yang seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai emiten, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (Tandelilin, 2010). Pasar modal yang membawahi kegiatan jual-beli surat berharga di Indonesia adalah Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kementrian Keuangan Indonesia (2019) mengatakan bahwa peran pasar modal Indonesia dalam kemajuan bangsa tercermin dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang menyatakan bahwa pasar modal mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan nasional sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat. Selain itu, dalam pasal tersebut juga disebutkan bahwa agar pasar modal dapat berkembang dibutuhkan adanya landasan hukum yang kukuh untuk lebih menjamin kepastian hukum pihak-pihak yang melakukan kegiatan di pasar modal serta melindungi kepentingan masyarakat pemodal dari praktik yang merugikan.

Dengan semakin berkembangnya pasar modal di Indonesia, tak heran

jika minat investasi juga semakin tinggi, baik dari dalam negeri maupun luar

negeri. Investasi sendiri merupakan kegiatan penanaman modal pada suatu

(18)

3 aset atau instrumen yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Investasi adalah komitmen saat ini atas uang atau sumber daya lain dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan di masa depan (Bodie, et al., 2014: 1).

Sumber: website resmi OJK

Gambar 1.1

Perkembangan IHSG 2011-2017

Investasi dilakukan karena seorang investor termotivasi oleh suatu keuntungan yang akan diterima nantinya sesuai dengan investasi yang dijalankan. Selain itu investasi dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan investor, karena investasi memberikan suatu pilihan bagi investor untuk memutuskan saat kapan akan menginvestasikan dananya guna memperbesar jumlah keuntungan yang akan didapatkan nantinya (Made, 2016).

Kementerian Perindustrian (2019) menilai bahwa sampai saat ini Indonesia masih menarik bagi investor asing yang mau menanamkan investasinya dibandingkan negara ASEAN lain seperti Thailand dan Malaysia.

Hal ini disebabkan oleh kondisi Indonesia yang kini membuka diri terhadap

(19)

4 negara lain yang ingin menanamkan investasinya. Disamping itu, kondisi politik yang kondusif juga menjadi pertimbangan dan memunculkan rasa kepercayaan tinggi investor terhadap Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (2019) mengatakan bahwa instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, right, reksadana, dan berbagai instrumen derivatif seperti option, futures, dan lain- lain. Seiring dengan perkembangan zaman di era globalisasi ini, investasi saham merupakan instrumen yang paling banyak dilakukan investor karena saham memberikan return yang cukup baik.

Saham adalah instrumen investasi yang sampai saat ini masih menjadi primadona investor yang berinvestasi di pasar modal. Dengan memiliki saham sebuah perusahaan, investor berarti telah ikut atau ambil bagian dalam penyertaan modal perusahaan. Sebagai gantinya, investor akan mendapatkan saham sebagai bukti kepemilikan (Hidayat, 2011).

Investasi saham sejatinya menjanjikan keuntungan yang besar. Dalam praktiknya, semakin besar risiko investasi semakin besar pula return yang akan didapatkan, begitu juga sebaliknya. Karena itulah, investor harus selalu siap dengan setiap kemungkinan investasi yang dapat terjadi. Pada dasarnya, keputusan investasi terdiri dari tingkat return yang diharapkan (expected return), tingkat risiko serta hubungan antara return dan risiko. Expected return adalah return yang diharapkan akan diperoleh di masa yang akan datang.

Sedangkan risiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak

(20)

5 menguntungkan. Ukuran perbedaan antara expected return aset berisiko di pasar saham dengan return aset tidak berisiko seperti misalnya suku bunga SBI disebut risk premium atau excess return (Bodie et al., 2011: 137).

Terdapat beberapa penelitian yang mengangkat excess return sebagai objek. Candika (2017) menguji kekuatan model Carhart empat faktor terhadap excess return saham di Indonesia. Variabel independen yang digunakan pada penelitian ini adalah market return, size, book-to-market ratio, dan momentum. Penelitian ini mengambil sampel seluruh perusahaan non- keuangan yang terdaftar di BEI. Hasilnya, keempat variabel Carhart berpengaruh positif signifikan terhadap excess return saham dan dapat digunakan dalam menilai harga saham di Indonesia.

Azwar, et al. (2011) menganalisa pengaruh faktor fundamental terhadap excess return saham syariah di Jakarta Islamic Index. Variabel independen yang digunakan pada penelitian ini adalah price earning ratio (PER), book value (BV), debt to equity ratio (DER), return on equity (ROE), tingkat sertifikat wadiah Bank Indonesia (SWBI), tingkat inflasi dan kurs terhadap excess return (saham) perusahaan utuk periode 2004 – 2006. Hasil dari penelitian tersebut adalah terdapat empat faktor yang secara parsial berpengaruh signifikan terhadap excess return, yaitu BV, DER, ROE dan SWBI. Variabel yang paling dominan memengaruhi harga saham adalah variabel SWBI dengan nilai koefisien sebesar 34,64.

Sikap investor terhadap risiko akan dipengaruhi oleh preferensi investor

tersebut terhadap risiko (Tandelilin, 2010). Agar dapat meraih keuntungan

(21)

6 yang diharapkan, investor harus memiliki kemampuan dalam melihat peluang investasi yang menjanjikan.

Investor yang rasional akan memilih saham-saham yang memberikan tingkat pengembalian yang tinggi dengan risiko yang rendah. Investor selalu berupaya untuk memperoleh informasi dan melakukan berbagai analisis untuk mengurangi ketidakpastian dalam investasinya atau untuk mengurangi risiko yang ada. Untuk mendapatkan tingkat return yang diharapkan, seorang investor harus melakukan diversifikasi dengan cara mengkombinasikan berbagai sekuritas di bursa efek sehingga membentuk portofolio. Portofolio yang dibentuk pun haruslah portofolio optimal yang terdiri dari portofolio- portofolio yang efisien. Portofolio yang optimal merupakan bagian dari portofolio efisien, tidak berlaku sebaliknya, yakni jika portofolio efisien belum tentu portofolio optimal (Jogiyanto, 2014: 343). Menurut Rodoni dan Ali (2010) portofolio merupakan sekumpulan instrumen investasi yang dibentuk untuk memenuhi sasaran umum investasi. Portofolio juga dapat diartikan gabungan dari berbagai aktiva / surat-surat berharga / saham / kesempatan investasi.

Hubungan antara risiko dan return dikembangkan oleh Harry

Markowitz pada tahun 1952 dengan memperkenalkan proses pemilihan

portofolio. Markowitz menekankan bahwa investor menganalisis dan memilih

suatu sekuritas berdasarkan pada expected return dan varians return sekuritas

tersebut. Teori portofolio mengimplikasikan bahwa untuk dapat menerima

(22)

7 risiko yang lebih besar, investor harus dikompensasi dengan kesempatan untuk mendapatkan return yang besar pula (Fabozzi, 1995).

Salah satu metode untuk menentukan return dan risiko sebuah portofolio adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang dikembangkan oleh Sharpe (1964), Lintner (1965), dan Mossin (1966) dua belas tahun setelah Markowitz mengemukakan teori portofolio modern. CAPM menjelaskan hubungan antara tingkat risiko sistematis dan tingkat return yang disyaratkan sekuritas portofolio (Sheila, et al., 2017). Risiko yang diperhitungkan adalah risiko sistematis yang diwakili oleh beta, karena risiko yang tidak sistematis bisa dihilangkan dengan cara diversifikasi (Komara, et al., 2016). Pada model CAPM, dapat dipahami bahwa investor ingin memperoleh kompensasi atas dua hal, yaitu nilai waktu uang yang dapat digambarkan melalui tingkat bunga bebas risiko dan risiko atas investasi yang tergambar melalui beta yang dibandingkan dengan tingkat return aset terhadap return pasar selama periode tertentu (Darmadji, 2010).

Dalam konsep CAPM, satu-satunya faktor yang mempengaruhi return saham adalah risiko pasar (market risk). Menurut beberapa peneliti, beta bukanlah satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi return. Smith dan Walsh (2013) menyatakan bahwa krisis keuangan global menyebabkan banyak akademisi mempertanyakan validitas CAPM, meskipun hingga sekarang konsep ini masih tetap digunakan.

Sudah banyak penelitian yang menggunakan model CAPM dalam

menentukan portofolio optimal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Basu

(23)

8 (1977) menunjukkan bahwa portofolio dengan price earning ratio yang rendah memiliki tingkat return yang lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan data perusahaan sektor industri di New York Stock Exchange (NYSE) selama periode April 1957 - Maret 1971 (Djamaluddin, et al., 2017). Rosenberg dan Marathe (1977) menemukan bahwa beta dapat diprediksikan jauh lebih baik jika variabel lain seperti dividen, volume trading dan ukuran perusahaan diikutsertakan. Litzenberger dan Ramaswamy (1979) menemukan bahwa pasar mensyaratkan tingkat return yang tinggi pada ekuitas yang memberikan dividen tinggi (Sheila, et al., 2017).

Banz (1981) dan Reinganum (1981) menemukan bahwa ukuran perusahaan (size) merupakan hal yang penting dalam menentukan return saham. Perusahaan dengan ukuran kecil cenderung memberikan tingkat return abnormal yang tinggi. Selanjutnya, Swastha (1981) juga melakukan penelitian lebih lanjut menggunakan faktor revenue dan ukuran perusahaan. Hasil penelitian mengkonfirmasi hasil penelitian sebelumnya. Selain itu, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa perusahaan dalam ukuran kecil (kapitalisasi pasar rendah) memiliki return yang lebih tinggi dibanding perusahaan besar (kapitalisasi pasar lebih tinggi).

Rosenberg, et al. (1985) melakukan penelitian menggunakan data harga

saham di NYSE dan bursa regional lainnya seperti ASE dan NASDAQ selama

periode 1980 - 1984. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif

antara expected return dengan rasio ekuitas book-to-market. Hal ini didukung

oleh penelitian yang dilakukan oleh Chan, et al. (1991) yang juga menemukan

(24)

9 bahwa book-to-market memiliki peran penting dalam menjelaskan expected return di Tokyo Stock Exchange Jepang, dengan periode data 1971 - 1988.

Beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa CAPM masih memiliki kelemahan dalam memprediksi return saham.

Fama dan French (1992) melakukan penelitian untuk menguji model CAPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beta yang digunakan dalam CAPM tidak dapat menjelaskan perubahan return dengan kuat. Mereka mengungkapkan bahwa beta bukanlah satu-satunya faktor yang dapat menjelaskan cross-section variation dalam return. Keduanya mengatakan bahwa size dan book-to-market juga dapat menjadi proksi atas faktor risiko yang tidak atau belum diobservasi dan mempengaruhi return. Size berasosiasi negatif terhadap return (perusahaan berukuran kecil memberikan return yang lebih tinggi daripada perusahaan berukuran besar). Sedangkan book-to-market berasosiasi positif terhadap return (Irawan dan Murhadi, 2012).

Pada tahun 1993, Fama dan French mulai memperkenalkan three factor model dengan menambahkan faktor size dan book-to-market. Fama-French Three Factor Model menyimpulkan bahwa kurva Security Market Line (SML) harus mempunyai tiga faktor, yaitu faktor yang mengukur risiko pasar (market risk) dari suatu saham, ukuran perusahaan (firm size) yang diukur dengan nilai pasar dari equity, dan nilai buku equity dibandingkan dengan nilai pasar dari equity yang disebut sebagai book-to-market ratio (B/M) (Surono, 2016).

Ukuran perusahaan menjadi salah satu faktor yang digunakan karena

perusahaan yang lebih kecil akan memiliki risiko saham yang lebih tinggi

(25)

10 dibanding perusahaan yang lebih besar sehingga investor akan mengharapkan return yang lebih besar. Rasio book-to-market menunjukkan keyakinan investor terhadap prospek masa depan suatu saham. Jika pasar lebih tinggi dibanding nilai buku, maka investor akan optimis terhadap prospek masa depan saham yang ia pegang, begitu juga sebaliknya. Saham dengan rasio book-to-market yang tinggi memiliki risiko yang relatif lebih tinggi dibanding dengan saham dengan rasio book-to-market rendah (Surono, 2016).

Di tahun 2015, Fama dan French menambahkan dua variabel ke dalam model sebelumnya, yaitu profitabilitas dan investasi. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian terbaru tersebut adalah perusahaan yang memiliki laba operasi tinggi akan memiliki kinerja yang lebih baik dibanding perusahaan dengan laba operasi rendah. Selain itu, perusahaan dengan total aset yang tinggi memiliki return rata-rata yang rendah, sedangkan perusahaan dengan total aset yang rendah memiliki return rata-rata yang tinggi (Djamaluddin, et al., 2017). Beberapa penelitian mengenai Fama-French Three Factor Model dan Fama-French Five Factor Model telah dilakukan dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Sudiyatno dan Irsad (2011) melakukan pengujian Fama-French Three Factor Model terhadap perusahaan yang sahamnya terdaftar di LQ45 untuk periode tahun 2007-2009. Hasil dari penelitian tersebut adalah return pasar berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham yaitu sebesar 0,353.

Sedangkan dua variabel lainnya, yaitu SMB dan HML, berpengaruh negatif

dan tidak signifikan terhadap return saham dengan nilai masing-masing -0,131

(26)

11 dan -0,174. Penelitian yang dilakukan oleh Sudiyatno dan Irsad ini lebih mendukung teori CAPM dibanding dengan Fama-French Three Factor Model.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, Susanti (2013) melakukan pengujian Fama-French Three Factor Model terhadap perusahaan yang sahamnya terdaftar di LQ45 untuk periode tahun 2005 - 2009 dan mendapatkan hasil bahwa keseluruhan variabel Fama-French Three Factor Model memiliki pengaruh signifikan terhadap excess return saham LQ45.

Diketahui bahwa market return memiliki pengaruh yang besar terhadap excess return yaitu 10,65564 (signifikan berpengaruh). Firm size memiliki pengaruh yang kecil terhadap excess return yaitu sebesar -0,559605 (tidak signifikan berpengaruh). Book-to-market equity memiliki pengaruh yang kecil terhadap excess return yaitu sebesar -0,375290 (tidak signifikan berpengaruh). Secara simultan, keseluruhan variabel Fama-French Three Factor Model memiliki pengaruh yang sangat besar yaitu 0,998357 atau 99,8%.

Sutrisno dan Ekaputra (2016) melakukan penelitian untuk mengevaluasi performa Fama-French Three Factor Model dan Fama-French Five Factor Model di Indonesia serta menguji apakah faktor book-to-market bersifat redundant dalam menjelaskan excess return portofolio saham di Indonesia.

Hasil penelitian menjelankan bahwa Fama-French Five Factor Model lebih

kuat dalam menjelaskan excess return portofolio saham di Indonesia

dibanding Fama-French Three Factor Model, meskipun kedua model tersebut

(27)

12 tidak valid. Faktor book-to-market juga terbukti redundant dalam menjelaskan excess return portofolio saham di Indonesia.

Arora (2017) menguji Fama-French Three Factor Model terhadap perusahaan yang terdaftar di Indian Stock Market untuk periode 2011-2016.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketiga variabel Fama-French Three Factor Model dapat menjelaskan return saham lebih baik dari Single Index Model. Korelasi pearson antara pasar - SMB dan SMB - HML signifikan pada tingkat 5%. Fama-French Three Factor Model dapat menjelaskan cross-section dari stock return yang tidak dapat dijelaskan oleh Single Index Model. Fama-French Three Factor Model juga dianggap kuat karena secara statistik, nilai intercept alpha tidak signifikan dalam sebagian besar kasus portofolio. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Fama-French (1996) untuk portofolio AS.

Djamaluddin, et al. (2017) melakukan pengujian Fama-French Five Factor Model terhadap perusahaan yang terdaftar di LQ45 untuk periode 2011-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima variabel Fama- French Five Factor Model berpengaruh positif terhadap return saham.

Seluruh variabel penelitian menunjukkan nilai koefisien positif.

Dari beberapa penelitian di atas, dapat kita ketahui bahwa sebagian besar penelitian Fama-French di Indonesia, baik tiga faktor maupun lima faktor, menggunakan indeks LQ45 sebagai populasi dan sampel. Padahal, masih banyak indeks dengan kinerja baik yang bisa dijadikan objek penelitian.

Salah satunya adalah Jakarta Islamic Index (JII).

(28)

13 Jakarta Islamic Index (JII) merupakan indeks saham yang dibuat berdasarkan syariat Islam. Dilansir dari situs resmi BEI (idx.co.id), konstituen JII hanya terdiri dari 30 saham syariah paling likuid yang tercatat di BEI.

Untuk dapat tercatat sebagai konstituen JII, suatu saham harus memenuhi kriteria likuiditas yang telah ditetapkan. Indeks ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur kinerja saham-saham berbasis syariah untuk lebih mengembangkan pasar modal syariah.

Sumber: data diolah

Gambar 1.2

Perkembangan Indeks JII 2011-2017

537.03

372.29

585.11

691.04

603.35

694.13 759.07

0 100 200 300 400 500 600 700 800

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Periode

Perkembangan Indeks JII

(29)

14

Sumber: data diolah

Gambar 1.3

Perkembangan Kapitalisasi Pasar JII 2011-2017

Dari kedua gambar di atas dapat dilihat bahwa indeks JII mengalami perkembangan yang cukup signifikan selama 6 tahun terakhir. Pun kapitalisasi pasar JII juga terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (kecuali tahun 2015).

Hal ini menunjukkan bahwa indeks JII semakin dipercaya oleh masyarakat untuk menanamkan modalnya pada saham yang terdaftar di indeks ini.

Dengan adanya data bahwa sebagian besar penelitian menggunakan indeks LQ45 sebagai objek, maka peneliti memilih untuk menggunakan indeks berperforma baik lainnya yaitu JII. Selain itu, penelitian mengenai Fama French Five Factor Model di Indonesia juga cukup jarang ditemukan sehingga hal ini memotivasi peneliti untuk menggunakan metode ini dalam penelitiannya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti memilih untuk menggunakan judul “Pengujian Fama-French Five Factor Model terhadap

1,414.98 1,671.00 1,672.10

1,944.53

1,737.29

2,035.19 2,288.02

0.00 500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00

Tahun 2011

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014

Tahun 2015

Tahun 2016

Tahun 2017 Periode

Perkembangan Kapitalisasi Pasar JII

(30)

15 Excess Return Pada Saham yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII)

Periode 2012 – 2018” pada penelitian ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel manakah yang memiliki pengaruh paling besar terhadap excess return portofolio saham di Indonesia?

2. Apakah seluruh variabel Fama-French Five Factor Model berpengaruh terhadap excess return portofolio saham di Indonesia?

3. Apakah seluruh variabel Fama-French Five Factor Model dapat menjelaskan excess return portofolio saham di Indonesia dengan baik?

C. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan perumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan Fama- French Five Factor Model dalam menjelaskan portofolio di Indonesia. Berikut uraian tujuan penelitian ini.

1. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap excess return portofolio saham di Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaruh variabel Fama-French Five Factor Model terhadap excess return portofolio saham di Indonesia.

3. Untuk mengetahui kemampuan variabel Fama-French Five Factor Model

dalam menjelaskan excess return portofolio saham di Indonesia.

(31)

16 D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis

Penulis dapat memperoleh gambaran untuk dapat menghitung dan memprediksi excess return portofolio menggunakan Fama-French Five Factor Model.

2. Bagi organisasi

Penelitian ini diharapkan dapat membantu organisasi dalam menghitung dan memprediksi excess return portofolio, khususnya menggunakan Fama-French Five Factor Model.

3. Bagi pembaca

Manfaat bagi pembaca dapat dijadikan bacaan untuk menambah wawasan

ilmu pengetahuan khususnya mengenai investasi saham dan memprediksi

excess return portofolio serta memahami model yang digunakan.

(32)

17 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Investasi

1. Definisi Investasi

Investasi merupakan kegiatan penanaman modal pada suatu aset atau instrumen investasi di masa sekarang dan diharapkan dapat memberikan keuntungan sedemikian rupa di masa yang akan datang. Bodie, et al.

(2014: 5) mendefinisikan investasi sebagai komitmen saat ini akan uang atau sumber-sumber lain dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan.

Menurut Tandelilin (2010: 2) investasi bisa didefinisikan sebagai

komitmen sejumlah uang atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada

saat ini (present time) dengan harapan memperoleh manfaat (benefit) di

kemudian hari (in future). Investasi juga bisa dilihat sebagai salah satu

cabang ilmu yang mempelajari bagaimana mengelola kesejahteraan

investor (investor’s wealth). Dalam konteks investasi, istilah kesejahteraan

investor berarti kesejahteraan yang sifatnya moneter, bukannya

kesejahteraan rohaniah yang sering kali sulit diukur. Kesejahteraan

moneter bisa ditunjukkan oleh hasil penjumlahan pendapatan yang dimiliki

saat ini dan nilai saat ini (present value) pendapatan diperoleh di masa

datang. Menurut Komara (2016) investasi adalah penundaan konsumsi saat

ini yang dilakukan untuk memperoleh nilai atau keuntungan yang lebih

besar di masa yang akan datang (Komara, et al., 2016).

(33)

18 Investasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu investasi langsung (direct investing) dan investasi tidak langsung (indirect investing) (Jones, 2014: 22).

a. Investasi Langsung (Direct Investing) / Real Investment

Investasi langsung adalah “Investor buy and sell securities them selves, typically through brokerage accounts”. Investasi secara langsung bisa disebut juga sebagai investasi nyata (real investment). Hal ini disebabkan karena investasi langsung merupakan upaya mengelola uang atau aset secara langsung pada jenis atau bidang usaha tertentu.

Misalnya mendirikan pabrik, mendirikan toko atau membentuk perusahaan atau bisa pula berupa membeli tanah, rumah dan bangunan atau membeli emas dan sebagainya, yang kemudian dijual kembali.

b. Investasi Tidak Langsung (Indirect Investing)

Investasi tidak langsung adalah “Investor buying and selling of the shares of invesment companies which, in turn, hold portfolios of securities”. Investasi tidak langsung disebut juga sebagai investasi keuangan (financial invesment). Pada jenis investasi tidak langsung, investor tidak perlu hadir secara fisik, sebab pada umumnya tujuan utama dari investor bukanlah mendirikan perusahaan, melainkan karena membeli saham dengan tujuan untuk dijual kembali. Tujuan investor di sini adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama sudah bisa menikmati keuntungan.

Dengan kata lain jenis investasi seperti ini, yang diharapkan oleh

(34)

19 investor adalah capital gain. Untuk melakukan investasi, investor sangat perlu mempertimbangkan dua hal penting yaitu tingkat pengembalian (return), dan risiko (risk).

2. Tujuan Investasi

Menurut Tandelilin (2010: 8), secara sederhana tujuan orang melakukan investasi adalah untuk menghasilkan sejumlah uang di kemudian hari. Tapi tujuan investasi yang lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Secara khusus, terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan investasi:

a. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang.

Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang.

b. Mengurangi tekanan inflasi.

Dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.

c. Dorongan untuk menghemat pajak.

Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang bersifat

mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian

fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada

bidang-bidang usaha tertentu.

(35)

20 3. Proses Investasi

Proses investasi menjelaskan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi sekuritas yang bisa dipasarkan, seberapa ekstensif dan kapan sebaiknya dilakukan (William, et al., 1997: 11).

Terdapat 5 (lima) prosedur dalam membuat keputusan yang menjadi dasar proses investasi, yaitu:

a. Kebijakan Investasi

Langkah pertama adalah menentukan kebijakan investasi, meliputi penentuan kebijakan investor dan kemampuannya/kekayaannya yang dapat diinvestasikan. Langkah ini juga meliputi identifikasi kategori potensial dari aset finansial untuk portofolio. Identifikasi ini didasarkan pada beberapa hal: tujuan investasi, jumlah kekayaan yang akan diinvestasikan, dan status pajak dari investor.

b. Analisis Sekuritas

Analisis sekuritas meliputi penilaian terhadap sekuritas secara individual (atau beberapa kelompok sekuritas) yang masuk dalam kategori luas dari aset finansial yang sudah diidentifikasi sebelumnya.

Salah satu tujuan melakukan penilaian tersebut adalah untuk

mengidentifikasi sekuritas yang salah harga (mispriced). Pendekatan

terhadap analisis sekuritas dikategorikan ke dalam dua klasifikasi, yaitu

analisis teknis dan analisis fundamental. Analisis teknis meliputi studi

harga pasar saham dalam upaya meramalkan gerakan harga pada masa

depan untuk saham perusahaan tertentu. Analisis fundamental dimulai

(36)

21 dengan pernyataan bahwa nilai intrinsik dari aset finansial sama dengan present value dari semua aliran tunai yang diharapkan diterima oleh pemilik aset. Analis saham fundamental berupaya meramalkan saat dan besarnya aliran tunai dan kemudian mengkonversikannya menjadi nilai sekarang (present value) dengan menggunakan tingkat diskon yang tepat.

c. Konstruksi Portofolio

Konstruksi portofolio melibatkan identifikasi aset khusus mana yang akan dijadikan investasi, juga menentukan berapa besar bagian dan investasi seorang investor pada tiap aset tersebut. Di sini masalah selektivitas, penentuan waktu dan diversifikasi perlu menjadi perhatian bagi investor.

d. Revisi Portofolio

Revisi portofolio berkenaan dengan pengulangan periodik dari tiga

langkah sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin

mengubah tujuan investasinya, yang pada gilirannya berarti portofolio

yang dipegangnya tidak lagi optimal. Motivasi lain dari langkah ini

adalah dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan harga sekuritas

sehingga sekuritas yang tadinya tidak menarik sekarang menjadi

menarik dan bisa juga kebalikannya.

(37)

22 e. Evaluasi Kinerja Portofolio

Evaluasi kinerja portofolio meliputi penentuan kinerja portofolio secara periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan tetapi juga risiko yang dihadapi. Jadi diperlukan ukuran yang tepat tentang return dan risiko dan juga standar yang relevan.

B. Pasar Modal

1. Definisi Pasar Modal

Dalam UU Pasar Modal RI No. 8 butir 13 Tahun 1995 disebutkan bahwa pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.

Menurut Manurung dan Haymans (2008: 73) sekuritas pasar modal adalah sekuritas dengan waktu jatuh tempo lebih dari satu tahun, seperti saham, obligasi, dan hipotek. Pembiayaan perusahaan dalam jangka panjang biasanya menggunakan sekuritas obligasi, saham dan hipotek sebagai alat pembiayaan. Alat pembiayaan sekuritas obligasi, saham dan hipotek berhubungan dengan likuiditas perusahaan dan tingkat bunga.

Jika pembiayaan jangka panjang perusahaan menggunakan instrumen

pasar uang maka likuiditas perusahaan akan terganggu. Akibatnya,

perusahaan akan menggunakan instrumen pasar modal sebagai alat

pembiayaan jangka panjang.

(38)

23 Tandelilin (2010: 26) menyatakan bahwa pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Sunariyah (2006: 5) menyatakan bahwa pasar modal adalah suatu pasar (tempat berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa perantara pedagang efek.

Partisipan dalam pasar modal terutama adalah pemerintah dan perusahaan. Pemerintah menjual obligasi jangka menengah dan jangka panjang untuk membiayai proyek pendidikan, transportasi, dan proyek- proyek pembangunan ekonomi lainnya. Pemerintah tidak pernah menjual saham karena pemerintah tidak dapat menjual klaim kepemilikan, sebaliknya perusahaan dapat menjual saham dan obligasi. Sama halnya dengan pasar uang, partisipan terbesar pasar modal adalah perusahaan dan individu.

Perdagangan sekuritas pada pasar modal terjadi pada pasar primer

dan pasar sekunder. Pasar primer adalah pasar di mana penjualan

sekuritas pasar modal ditempatkan pada pembeli pertama. Pembeli

pertama atau pasar primer dari sekuritas pasar modal adalah perusahaan

investasi, korporasi, atau individu investor dengan cara membeli semua

sekuritas pasar modal. Jika satu perusahaan menjual sekuritas pasar

modal pertama kali maka penjualan ini disebut penawaran perdana

(39)

24 kepada public (Initial Public Offering – IPO), sehingga IPO terjadi pada pasar primer.

Pasar sekunder adalah tempat penjualan dan pembelian sekuritas pasar modal yang dijual pada pasar primer. Pasar sekunder merupakan pasar yang lebih penting dari pasar primer karena investor ingin menjual sekuritas jangka panjang sebelum jatuh tempo pada pasar sekunder. Ada dua jenis organisasi pasar sekunder dari sekuritas pasar modal, yaitu pertukaran terorganisasi (organized exchange) dan pertukaran paralel (over-the-counter exchange). Pertukaran terorganisasi mempunyai suatu tempat di mana sekuritas pasar modal diperdagangkan, misalnya Bursa Efek Indonesia (BEI), New York Stock Exchage (NYSE), London Stock Exchange (LSE), dan lain-lain. Pertukaran paralel biasanya memperdagangkan sekuritas pasar modal melalui dealer tertentu, misalnya national association of securities dealers automated quotation system (Nasdaq) di Amerika Serikat (Manurung dan Haymans, 2009: 73- 74).

Peranan pasar modal dalam suatu perekonomian negara adalah sebagai berikut (Sunariyah, 2006: 9):

a. Fungsi Tabungan (Saving Function)

Menabung dapat dilakukan di bawah bantal, celengan atau di bank, tetapi harus diingat bahwasanya nilai mata uang cenderung akan turun di masa yang akan datang.

b. Fungsi Kekayaan (Wealth Function)

(40)

25 Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan dalam jangka panjang dan jangka pendek sampai dengan kekayaan tersebut dapat dipergunakan kembali. Cara ini lebih baik karena kekayaan itu tidak mengalami depresiasi (penyusutan) seperti aktiva lain.

Contohnya, mobil, gedung, kapal laut, dan aktiva lainnya.

c. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function)

Kekayaan yang disimpan dalam surat-surat berharga, bisa dilikuidasi melalui pasar modal dengan risiko yang sangat minimal dibandingkan dengan aktiva lain. Proses likuidasi surat berharga dengan biaya relatif murah dan lebih cepat. Dengan kata lain, pasar modal adalah ready market untuk melayani pemenuhan likuiditas para pemegang surat berharga.

d. Pasar Pinjaman (Credit Function)

Pasar modal merupakan fungsi pinjaman untuk konsumsi atau investasi.

2. Instrumen yang Diperdagangkan di Pasar Modal

Sebenarnya banyak sekali instrumen yang diperdagangkan di

pasar modal, yang semuanya dapat diwakili oleh satu istilah, yaitu surat

berharga. Yang termasuk surat berharga adalah saham, obligasi, right,

warran dan reksadana. Instrumen-instrumen yang diperdagangkan di

pasar modal adalah (Halim, 2015: 6):

(41)

26 a. Saham Biasa (Common Stocks)

Diantara surat-surat berharga yang dipasarkan di pasar modal, saham biasa (common stock) adalah yang paling dikenal masyarakat.

Diantara emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga), saham biasa juga merupakan yang paling banyak digunakan untuk menarik dana dari masyarakat. Jadi saham biasa paling menarik, baik bagi pemodal maupun emiten. Secara sederhana, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Bila membeli saham, maka akan menerima kertas yang menjelaskan bahwa pembeli memiliki perusahaan penerbit saham tersebut.

b. Saham Preferen (Preffered Stocks)

Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik

gabungan antara obligasi dan saham biasa. Saham preferen serupa

dengan saham biasa karena dua hal, yaitu: mewakili kepemilikan

ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas

lembaran saham tersebut; dan membayar dividen. Sedangkan

persamaan antara saham preferen dengan obligasi terletak pada tiga

hal: ada klaim atas laba dan aset sebelumnya; dividennya tetap selama

masa berlaku (hidup) dari saham; memiliki hak tebus dan dapat

dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa. Oleh karena saham

(42)

27 preferen diperdagangan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar. Walaupun demikian, obligasi di pasar menduduki tempat yang lebih senior dibanding dengan saham preferen.

c. Obligasi (Bonds)

Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi dana (dalam hal ini pemodal) dengan yang diberi dana (emiten). Jadi, surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut telah membeli utang perusahaan yang menerbitkan obligasi. Penerbit membayar bunga atas obligasi tersebut pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan secara periodik, dan pada akhirnya menebus nilai utang tersebut pada saat jatuh tempo dengan mengembalikan jumlah pokok pinjaman ditambah bunga yang terutang. Pada umumnya, instrumen ini memberikan bunga yang tetap secara periodik. Bila bunga dalam sistem ekonomi menurun maka nilai obligasi naik. Sebaliknya, jika bunga meningkat maka nilai obligasi turun.

Obligasi konversi sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa,

misalnya, memberikan kupon yang tetap, memiliki waktu jatuh tempo

dan memiliki nilai pari. Hanya saja, obligasi konversi memiliki

(43)

28 keunikan, yaitu bisa ditukar dengan saham biasa. Pada obligasi konversi selalu tercatum persyaratan untuk melakukan konversi.

d. Right

Right merupakan surat berharga yang memberikan hak bagi pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan emiten. Right merupakan produk derivatif atau turunan dari saham. Kebijakan untuk melakukan right issue merupakan upaya emiten untuk menambah saham yang beredar, guna menambah modal perusahaan. Sebab dengan pengeluaran saham baru itu, berarti pemodal harus mengeluarkan uang untuk membeli right. Kemudian uang ini akan masuk ke modal perusahaan. Karena merupakan hak, maka investor tidak terikat harus membelinya. Ini berbeda dengan saham bonus atau dividen saham yang otomatis diterima oleh pemegang saham. Karena membeli right berarti membeli hak untuk membeli saham, maka kalau pemodal menggunakan haknya maka otomatis pemodal telah melakukan pembelian saham. Jadi imbalan yang akan didapat oleh pembeli right adalah sama dengan membeli saham, yaitu dividen dan capital gain. Ada risiko yang harus diterima oleh pemodal, baik mereka yang merealisasikan haknya atau tidak dalam right issue, yaitu risiko turunnya harga saham dan dividen per saham.

e. Warran

Warran seperti halnya right adalah hak untuk membeli saham biasa

pada waktu dan harga yang sudah ditentukan. Biasanya warran dijual

(44)

29 bersamaan dengan surat berharga lain, misalnya obligasi atau saham.

Penerbit warran harus memiliki saham yang nantinya dikonversi oleh pemegang warran. Namun, setelah obligasi atau saham yang disertai warran memasuki pasar, baik obligasi, saham ataupun waran dapat diperdagangkan secara terpisah.

f. Reksadana

Reksadana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksadana dirancang sebagai sarana untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

3. Indeks Pasar Modal

Indeks harga saham adalah indikator atau cerminan pergerakan

harga saham. Indeks merupakan salah satu pedoman bagi investor untuk

melakukan investasi di pasar modal, khususnya saham. Saat ini bursa

efek memiliki 11 jenis indeks harga saham, yang secara terus menerus

disebarluaskan melalui media cetak maupun elektronik. Menurut

Indonesia Stock Exchange (2019), indeks-indeks tersebut adalah:

(45)

30 a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Menggunakan semua Perusahaan Tercatat sebagai komponen perhitungan Indeks. Agar IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang wajar, Bursa Efek Indonesia berwenang mengeluarkan dan atau tidak memasukkan satu atau beberapa Perusahaan Tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar pertimbangannya antara lain, jika jumlah saham Perusahaan Tercatat tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif kecil sementara kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham Perusahaan Tercatat tersebut berpotensi mempengaruhi kewajaran pergerakan IHSG.

IHSG adalah milik Bursa Efek Indonesia. Bursa Efek Indonesia tidak bertanggung jawab atas produk yang diterbitkan oleh pengguna yang mempergunakan IHSG sebagai acuan (benchmark). Bursa Efek Indonesia juga tidak bertanggung jawab dalam bentuk apapun atas keputusan investasi yang dilakukan oleh siapapun pihak yang menggunakan IHSG sebagai acuan (benchmark).

b. Indeks Sektoral

Menggunakan semua Perusahaan Tercatat yang termasuk dalam

masing-masing sektor. Sekarang ini ada 10 sektor yang ada di BEI

yaitu sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar, Aneka Industri,

Barang Konsumsi, Properti, Infrastruktur, Keuangan, Perdangangan

dan Jasa, dan Manufaktur.

(46)

31 c. Indeks LQ45

Indeks yang terdiri dari 45 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.

d. Jakarta Islamic Index (JII)

Indeks yang menggunakan 30 saham yang dipilih dari saham-saham yang masuk dalam kriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK) dengan mempertimbangkan kapitalisasi pasar dan likuiditas.

e. Indeks Kompas100

Indeks yang terdiri dari 100 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.

f. Indeks BISNIS-27

Kerjasama antara Bursa Efek Indonesia dengan harian Bisnis

Indonesia meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks

BISNIS-27. Indeks yang terdiri dari 27 saham Perusahaan Tercatat

yang dipilih berdasarkan kriteria fundamental, teknikal atau likuiditas

transaksi dan Akuntabilitas dan tata kelola perusahaan.

(47)

32 g. Indeks PEFINDO25

Kerjasama antara Bursa Efek Indonesia dengan lembaga rating PEFINDO meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks PEFINDO25. Indeks ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi bagi pemodal khususnya untuk saham-saham emiten kecil dan menengah (Small Medium Enterprises / SME). Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: total aset, tingkat pengembalian modal (Return on Equity / ROE) dan opini akuntan publik. Selain kriteria tersebut di atas, diperhatikan juga faktor likuiditas dan jumlah saham yang dimiliki publik.

h. Indeks SRI-KEHATI

Indeks ini dibentuk atas kerjasama antara Bursa Efek Indonesia

dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). SRI

adalah kependekan dari Sustainable Responsible Investment. Indeks

ini diharapkan memberi tambahan informasi kepada investor yang

ingin berinvestasi pada emiten-emiten yang memiliki kinerja sangat

baik dalam mendorong usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran

terhadap lingkungan dan menjalankan tata kelola perusahaan yang

baik. Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih

dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: Total Aset, Price

Earning Ratio (PER) dan Free Float.

(48)

33 i. Indeks Papan Utama

Menggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk dalam Papan Utama.

j. Indeks Papan Pengembangan

Menggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk dalam Papan Pengembangan.

k. Indeks Individual

Indeks harga saham masing-masing Perusahaan Tercatat.

C. Saham

1. Definisi Saham

Menurut Martono, et al. (2005) saham adalah surat bukti atau tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas. Artinya, pemilik saham juga memiliki bagian dalam perusahaan tersebut. Saham juga merupakan salah satu alternatif investasi yang dapat dilakukan oleh investor dengan cara membeli saham. Perusahaan yang menerbitkan saham disebut dengan emiten (Holilurohman, 2016).

Menurut Tandelilin (2010: 32) saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan perusahaan. Saham atau stocks adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu Perseroan Terbatas.

Menurut Manurung dan Haymans (2009), saham suatu perusahaan

merupakan bagian dari kepemilikan. Investor memperoleh imbal hasil dari

(49)

34 saham berupa peningkatan harga dan dividen. Saham tidak mempunyai waktu jatuh tempo seperti obligasi, sehingga sekuritas saham sangat berisiko. Pemilik saham memperoleh hak residual claimant, yaitu klaim terhadap semua aset dan pendapatan sesudah semua klaim lain terpenuhi.

Artinya pemegang saham akan memperoleh kekayaan jika kondisi perusahaan semakin baik, sebaliknya pemegang saham tidak memperoleh kekayaan jika kondisi perusahaan semakin buruk. Hak lain dari pemegang saham adalah hak suara untuk menentukan manajer dan penjualan saham baru.

Darmadji, T. dan Fakhruddin, H. M. (2010: 8) menyatakan bahwa investasi pada saham memang memberikan harapan pengembalian dan tingkat keuntungan yang tinggi. Keuntungan yang diperoleh pemodal dengan memiliki saham adalah (Halim, 2015):

a. Dividen, yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan.

b. Capital gain, yaitu selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.

Kerugian investasi dalam bentuk saham adalah (Darmadji, T. dan Fakhruddin, H. M., 2010):

a. Tidak Mendapat Dividen

Referensi

Dokumen terkait

 Paragraf pembuka, paragraf penghubung, dan paragraf penutup  Paragraf deduktif, induktif, gabungan, atau paragraf tanpa

Perusakan hutan yang berdampak negatif salah satunya adalah kejahatan pembalakan liar ( illegal loging ) yang merupakan kegiatan unpredictable terhadap kondisi

bermaksud bayaran rawatan perubatan yang perlu dari segi perubatan, yang dianggap munasabah dan biasa diamalkan selagi bayaran itu tidak melebihi had biasa bayaran yang

HASIL PERHITUNGAN SUSUT PENGERINGAN, KADAR ABU, RANDEMEN EKSTRAK, KADAR SARI LARUT ETANOL DAN. HARGA RF

Karakterisitik yang mendasar dalam sistem pendidikan full day school adalah proses integrated activity dan integrated curiculum dalam pelaksanaannya,dengan

Daftar tugas yang harus dilaksanakan oleh tim scrum di sprint mendatang disebut backlog sprint. Ini adalah praktek umum bahwa backlog sprint diwakili pada

miopia di SDK Santa Theresia 2 Surabaya Tahun 2007 35 VI.9 Distribusi responden menurut genetik terhadap kejadian. miopia di SDK Santa Theresia 2 Surabaya Tahun 2007 36 VI.10

Berdasarkan hasil penelitian tentang pertumbuhan tanaman tebu ( Saccharum Officinarum L.) varietas VMC dan PSJT dengan menggunakan bibit stek dengan jumlah mata