• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA, HANYUT AKU, DAN TERBUKA BUNGA KARYA AMIR HAMZAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA, HANYUT AKU, DAN TERBUKA BUNGA KARYA AMIR HAMZAH"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA, HANYUT AKU, DAN TERBUKA BUNGA

KARYA AMIR HAMZAH

SKRIPSI

OLEH

EKA SULISTIANI 140701005

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Eka Sulistiani

NIM : 140701005

Program Studi : Sastra Indonesia Fakultas : Ilmu Budaya USU

Judul Skripsi : ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA, HANYUT AKU, DAN TERBUKA BUNGA KARYA AMIR

HAMZAH

Saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di perguruan tinggi. Dari hasil tinjauan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis maupun diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dijadikan sebagai sumber referensi pada skripsi ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.

Medan, Oktober 2018 Penulis,

Eka Sulistiani NIM 140701005

(4)

ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA, HANYUT AKU DAN TERBUKA BUNGA

KARYA AMIR HAMZAH

Eka Sulistiani

Fakultas Ilmu Budaya USU

ABSTRAK

Simbol merupakan salah satu jenis tanda dalam kajian semiotik yang tidak memberikan hubungan antara sebuah kata dengan yang merupakan tanda dengan makna yang disampaikan. Simbol digunakan penyair sebagai bentuk penggunaan kata yang memiliki nilai keindahan. Penelitian ini membahas makna simbol dalam puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini adalah Library Research atau penelitian kepustakaan.

Library Research atau penelitian kepustakaan memperoleh data dari buku-buku.

Peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk membahas objek kajian melalui buku yang terdapat di perpustakaan. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode hermeneutika, yaitu menafsirkan atau menginterpretasikan.

Teknik analisis data yang dipakai dalam penelitian ini teknik simak dan catat, yaitu membaca terlebih dahulu semua objek kemudian mencatat hal-hal yang dapat dijadikan data dan penulis akan menganalisis puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah. Dari penggunaan simbol tersebut diperoleh makna secara keseluruhan. Puisi-puisi tersebut bercerita pada fase hidup Amir Hamzah yang berkutat pada manis pahitnya cinta.

Kata kunci: puisi, simbol, dan semiotik.

(5)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada TuhaN Yang Maha Esa Karena selalu memberikan kesehatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini sampai ke tahap akhir. Skripsi ini adalah persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak pihak yang turut memberikan dukungan serta bantuan kepada penulis. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Budi Agustono, M.S., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Drs.

Mauly Purba, M.A.,Ph.D., sebagai Wakil Dekan I, Dra. Heristina Dewi, M.Pd., sebagai Wakil Dekan II, Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., sebagai Wakil Dekan III sekaligus sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan dukungan dan arahan dari awal penulis menentukan judul hingga penyelesaian skripsi ini.

2. Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P., sebagai ketua Program Studi Sastra Indonesia, Drs. Amhar Kudadiri, M.Hum., sebagai sekretaris Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan nasihat dan semangat kepada penulis untuk menyempurnakan skripsi ini.

3. Bapak dan Ibu staf pengajar Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu serta didikan moral yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.

(6)

4. Bapak Joko yang banyak membantu penulis dalam menyelesaikan segala urusan keperluan administrasi di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

5. Kepada ayahanda Robert Marbun dan ibunda Mayur Taraja yang sudah memberikan dukungan yang luar biasa kepada penulis. Dua insan tercinta yang menjadi alasan mengapa aku harus bersekolah dan berjuang. Segala doa, usaha, semangat, cinta dan materi, disediakan untuk pendidikan dan kesehatanku. Kepada kakak dan adikku, Yudica Ratnawati, Imelda, dan Octanius, yang selalu setia mengingatkanku agar tidak malas mengerjakan skripsi, membangkitkan semangatku, dan selalu memberikan arahan dan saran yang baik. Kepada oppung/kakek yang selalu memberikan nasihat- nasihat yang sangat berarti dan mengingatkan agar selalu mengingat perjuangan orang tua.

6. Kepada teman sekaligus sahabat yang saya sayangi, yaitu Sri Ramadhani Nst dan Adelya Ramadani Nasution. Terima kasih atas segala doa dan dukungan yang kalian berikan selama ini kepada saya. Kalian adalah orang yang paling setia untuk mendengarkan segala keluh kesah saya selama awal perkuliahan sampai proses penyelesaian skripsi ini.

7. Kepada yang kukasihi, Daniel Simanullang, yang sangat setia menemaniku, membantu dan memberikan semangat, dan mengingatkanku agar menjaga kesehatan dan selalu berdoa.

8. Kepada teman-teman seperjuangan di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara stambuk 2014 yang sudah melengkapi kebahagiaanku, yaitu Irma, Eka Purba, Yunita, Desi,

(7)

Rina, Latifah Yusri, Istika, Amris, Hertina, Icha, Lilis, dan yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu yang menjadi teman untuk berjuang bersama-sama selama masa kuliah dan proses penyusunan skripsi.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis bersedia menerima saran dan kritik yang membangun hasil penelitian ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, Oktober 2018

Eka Sulistiani 140701005

(8)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN ... . ii

ABSTRAK ... iii

PRAKATA ... iv

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Batasan Masalah ... ... 4

1.4 Tujuan Penelitian ... 5

1.5 Manfaat Penelitian ... 5

1.5.1 Manfaat Teoretis ... 5

1.5.2 Manfaat Praktis ... 5

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1 Konsep ... 7

2.1.1 Puisi ... 7

2.1.2 Semiotika ... 8

2.1.3 Simbol ... ... 9

2.2 Landasan Teori ... 9

2.2.1 Semiotika Sastra ... 9

2.3 Tinjauan Pustaka ... 12

BAB III METODE PENELITIAN ... 14

3.1 Metode Penelitian ... 14

3.1.1 Bahan Analisis ... 14

3.1.2 Teknik Pengumpulan Data ... 15

3.1.3 Teknik Analisis Data ... 16

(9)

BAB IV ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA DAN

HANYUT AKU KARYA AMIR HAMZAH ... 17

4.1 Simbol ... 17

4.1.1 Taman Dunia ... 17

4.1.2 Hanyut Aku ... 27

4.1.3 Terbuka Bunga ... 32

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 36

5.1 Simpulan ... 36

5.2 Saran ... 36

DAFTAR PUSTAKA ... 37

LAMPIRAN ... 38

1. Biografi Penyair ... 38

2. Puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga ... 41

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sastra adalah sebuah karya seni. Dikatakan sebuah karya seni karena memiliki suatu nilai keindahan dalam karya tersebut. Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni yang memiliki kekhasan dan sekaligus sistematis. Sastra merupakan ekspresi masyarakat. Oleh sebab itu, kemunculan suatu karya sastra erat hubungannya dengan persoalan-persoalan yang muncul pada saat itu.

Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna.

Menurut Selden (dalam Siswanto,2012:74), karya sastra adalah anak kehidupan kreatif seorang penulis dan mengungkapkan pribadi pengarang. Karya sastra adalah proses dari hasil kreatif yang diciptakan oleh seorang pengarang secara imajinatif. Karya sastra juga memerlukan perenungan, pengendapan ide, pematangan, langkah-langkah tertentu yang akan berbeda antara sastrawan satu dengan sastrawan yang lain.

Karya sastra memerlukan bakat, intelektualitas, wawasan kesastraan, sikap terbuka, jujur, dan syarat lainnya. Karya sastra memiliki relevansi yang erat dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

(11)

Karya sastra tercipta berdasarkan keadaan dan situasi yang terjadi pada masa penciptaannya. Dengan menciptakan sebuah karya sastra, seseorang dapat menyalurkan ide, gagasan, perasaan dan pikiran yang dimilikinya.

Adapun salah satu bentuk karya sastra sebagai penuangan ide kreatif pengarang adalah puisi. Puisi merupakan salah satu dari jenis-jenis karya sastra yang dapat digunakan sebagai bahan refleksi dalam kehidupan. Puisi adalah salah satu jenis karya sastra yang dianggap sebagai sebuah pernyataan penyairnya mengenai keadaan atau kualitas kehidupan manusia.

Puisi perlu dianalisis secara semiotik karena merupakan struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti.

Berdasarkan hubungan antara penanda dengan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Simbol itu tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya (Pradopo,1993:

121).

Studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis karya sastra. Di sini puisi khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna.

(12)

Peradaban dan perkembangan dunia tidak lepas dari aspek sastra. Tidak dapat dipungkiri bahwa sastra memiliki tatanan penting bagi suatu bangsa. Oleh sebab itu, sastrawan dalam menulis sebuah karya sastra harus memperhatikan segala sesuatunya agar menarik untuk dibaca. Baik itu hal-hal yang bersifat konotatif ataupun kiasan. Hal ini dilatarbelakangi oleh sebuah alasan bahwa karya itu juga harus memberi pembelajaran atau pengetahuan sehingga kemampuan menganalisis pembacanya dapat berkembang.

Seorang penulis sangat berharap bahwa apa yang mereka sampaikan dalam tulisannya mampu mengembangkan potensi dan menambah pengetahuan pembacanya. Dengan kata lain, seorang penulis mengharapkan pembacanya menambah wawasan dan pengetahuannya lewat apa yang ia sampaikan dalam tulisannya. Berbicara konsep tanda, maka tidak lepas dari konsep makna.

Beberapa puisi yang dibuat oleh Amir Hamzah dalam kumpulan puisinya yang berjudul Nyanyi Sunyi, yaitu Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga.

Khalayak sastra di Indonesia sudah cukup lama tertarik dengan hal-hal yang disampaikan oleh Amir Hamzah dalam karya-karyanya.

Tulisannya begitu menarik dengan bahasa-bahasa yang pendek namun tajam secara makna yang kadang harus ditinjau lebih dalam. Puisi-puisi ini lebih mendekati aspek keduniawian di mana hubungan manusia dengan manusia ditelaah.

Hal ini mengingat bahwa karya tersebut dihasilkan oleh Amir Hamzah pada fase hidupnya yang berkutat pada manis pahitnya cinta. Puisi Amir Hamzah merupakan karya yang layak dikaji secara semiotik dengan pendekatan-

(13)

pendekatan yang tepat seperti yang disampaikan Charles Sanders Peirce, yaitu Representamen (R) yaitu sesuatu yang dapat dipersepsi, Objek (O) yaitu sesuatu yang mengacu kepada hal lain, dan Interpretan (I) yaitu sesuatu yang dapat diinterpretasi.

Puisi yang berjudul Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah merupakan salah satu karya yang menurut penulis mengandung simbol semiotik. Istilah semiotik berasal dari bahasa Yunani „semeion‟ yang berarti „tanda‟, atau „seme‟ yang berarti penafsiran tanda (Kaelan, 2017:162).

„Tanda‟ pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal yang lain. Berdasarkan hal tersebut penulis menganggap puisi Amir Hamzah ini dapat diteliti menggunakan pendekatan semiotika sastra.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

Bagaimana makna simbol dalam puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah?

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan pembahasan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Batasan masalah dalam penelitian ini fokus pada makna simbol dalam puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah.

(14)

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang akan dibahas maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna simbol dalam puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1.5.1 Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang studi analisis puisi sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan karya sastra Indonesia.

1.5.2 Manfaat Praktis

1) Guru Bahasa Indonesia

Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi Guru Bahasa Indonesia tingkat SMA atau sederajat bahwa puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah baik digunakan sebagai

bahan atau materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

2) Bagi Mahasiswa

Dengan menggunakan pendekatan semiotik diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami dan mengapresiasi puisi khususnya karya Amir Hamzah.

(15)

3) Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian sastra dengan permasalahan yang sama.

(16)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep 2.1.1 Puisi

Menurut Ensiklopedia, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poiesis yang berarti penciptaan. Tetapi arti yang semula ini lama kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra, yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan” (Tarigan, 1985:4). Puisi merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi.

Puisi dapat dikatakan ungkapan hati seseorang yang dituangkan dengan kata-kata yang singkat dan bahasa yang indah. Setiap puisi ditulis dengan tujuan ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembaca ataupun sekadar mengungkapkan sebuah kisah yang dialami pengarangnya.

Puisi juga merupakan salah satu karya sastra yang memiliki nilai keindahan yang tinggi. Hal ini terlihat dari penggunaan kata-kata kias lebih banyak ditemukan dalam puisi dibandingkan karya sastra lainnya. Sebuah bentuk sastra disebut puisi jika di dalamnya terdapat pendayagunaan berbagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan.

Bahasa puisi tentulah singkat dan padat, dengan sedikit kata, tetapi dapat mendialogkan sesuatu yang lebih banyak. Pendayagunaan unsur bahasa untuk memperoleh keindahan itu. Selain itu, juga dimanfaatkan adanya berbagai sarana retorika yang lain seperti pemilihan ketepatan kata, ungkapan, pemajasan,

(17)

penyiasatan struktur, dan pencitraan. Keterjalinan secara harmonis di antara berbagai unsur kebahasaan tersebut merupakan cara memperoleh keindahan dalam puisi.

2.1.2 Semiotika

Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani „semeion‟ yang berarti

„tanda‟, atau „seme‟ yang berarti penafsiran tanda (Kaelan,2017:162). Semiotika adalah ilmu tanda yaitu metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini, di tengah- tengah manusia dan bersama-sama manusia.

Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam hubungannya dengan pembacanya. Menurut Peirce, “ide” tentang segala sesuatu merupakan ide tentang efek-efek yang dapat ditangkap indra, sebagai hasil perwujudan ide tersebut. Istilah “efek-efek” (konsekuensi-konsekuensi praktis) merupakan istilah sentral dalam pemikiran Peirce.

Istilah ini menunjukkan sifat objek yang dimaksudkan, di mana objek tersebut akan bertalian bila dihubungkan dengan hal-hal lain khususnya bila objek itu direkayasa dalam cara-cara tertentu yang ditentukan sebelumnya dan dirancang untuk menguji sifat-sifatnya. Peirce tidak menganggap sifat-sifat segala sesuatu sebagai kualitas kaku yang dimiliki dalam situasi yang sungguh abadi, tetapi ia bermaksud menafsirkan sifat-sifat tersebut sebagai efek dari interaksi-interaksi.

Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol, bahasa, wacana, dan bentuk-bentuk nonverbal teori- teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan

(18)

bagaimana tanda disusun. Secara umum, studi tentang tanda merujuk kepada semiotika.

2.1.3 Simbol

Aminuddin (1995:167) simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Simbol merupakan salah satu jenis tanda dalam kajian semiotik yang tidak memberikan hubungan antara sebuah kata dengan yang merupakan tanda dengan makna yang disampaikan. Simbol digunakan penyair sebagai bentuk penggunaan kata yang memiliki nilai keindahan. Kajian mengenai simbol pada karya sastra, erat kaitannya dengan ilmu semiotik.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Semiotika Sastra

Simbol digunakan penyair sebagai bentuk penggunaan kata yang memiliki nilai keindahan. Semiotik adalah ilmu yang mengkaji sistem tanda dalam karya sastra. Objek yang dikaji dapat berupa puisi, cerpen, novel, naskah film, dan lirik lagu. Salah satu contoh penelitian ini adalah memilih puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah sebagai objek analisis. Penelitian ini

berpatokan pada kajian semiotik yang diungkapkan Charles Sanders Peirce.

Ilmu semiotik memberikan pandangan yang berbeda-beda pada setiap kata. Jika suatu kata dikenal sebagai makna dari sesuatu yang sudah diketahui oleh umum, maka semiotik dapat menyampaikan makna di luar pemahaman manusia. Sesuatu yang kita pahami sebagai kata biasa, dapat menjadi simbol yang memberikan makna lain.

(19)

Teori Peirce terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai sebuah sistem tanda (Nurgiyantoro,2015:67). Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini walau harus diakui bahwa bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap dan sempurna.

Tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rumah, pakaian, karya seni, sastra, lukis, patung, film, tari, musik, dan lain-lain yang berada di sekitar kehidupan kita. Teori semiotik Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika mewakili sesuatu yang lain.

Tanda-tanda terletak di mana-mana, kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya. Tanda dalam pengertian ini bukanlah hanya sekadar harfiah melainkan lebih luas misalnya struktur karya sastra, struktur film, bangunan, nyanyian burung, dan segala sesuatu dapat dianggap sebagai tanda dalam kehidupan manusia. Manfaat semiotika pada dasarnya adalah untuk menggali ide atau makna yang berada dibalik tanda.

Menganalisis puisi itu bertujuan untuk memahami makna puisi tersebut.

Menganalisis puisi adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks puisi. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan yang mempunyai arti.

(20)

Medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum dipergunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa. Sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh masyarakat. Lambang- lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti.

Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain bagi seseorang.

Tanda selalu memiliki tiga dimensi yang saling terkait: Representamen (R) yaitu sesuatu yang dapat dipersepsi, Objek (O) yaitu sesuatu yang mengacu kepada hal lain, dan Interpretan (I) yaitu sesuatu yang dapat diinterpretasi. Ketiga dimensi tanda tersebut, jika dihubungkan satu sama lain, menjadi hubungan segitiga atau disebut sebagai hubungan segitiga tanda (triadic).

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa Peirce sangat senang mengklasifikasi sesuatu menjadi tiga. Maka teori tanda yang ia susun terbagi tiga.

Teori-teori tanda tersebut lahir dari hubungan triadik tiga dimensi tanda, antara representamen (R), objek (O) dan Interpretan (I).

Ilmu semiotik memiliki fokus penting untuk dipahami, yaitu pengertian tanda itu sendiri. Dalam bidang semiotik, bahasa tetap dijadikan media utama dalam penyampaian gagasan. Namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa sebagai sistem tanda atau simbol yang akan berkaitan dengan makna teks sastra.

(21)

2.3 Tinjauan Pustaka

Berdasarkan pengetahuan penulis, puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah belum ada diteliti baik di Fakultas Ilmu

Budaya USU maupun di Universitas lainnya di Indonesia. Ini adalah peneliti pertama yang dilakukan terhadap puisi tersebut. Judul penelitian ini adalah

“Analisis Simbol dalam Puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga Karya Amir Hamzah”. Penelitian ini mengkaji makna simbol dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce.

Jika diperhatikan dari segi teori, ada beberapa penelitian dengan objek puisi, lagu, dan cerpen yang telah dilakukan dengan menggunakan teori semiotik.

Salah satunya adalah penelitian Tiurma Hutahaean, mahasiswa Universitas Sumatera Utara, melakukan penelitian terhadap puisi dengan teori semiotik. Judul penelitiannya adalah “Analisis Simbolik dalam Lima Puluh Puisi Selendang Berenda Jingga Karya Zulkarnain Siregar”. Penelitian ini membahas penggunaan

kata bentuk simbolik dan makna yang terdapat dalam puisi.

Penelitian lain yaitu dilakukan oleh Jumpa Riama Tampubolon, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya USU, melakukan penelitian terhadap lirik lagu Camellia I, II, III, dan IV karya Ebiet G.

Ade: Tinjauan Semiotik. Judul penelitiannya adalah “Makna Simbol dalam Lirik Lagu Camellia I, II, III, dan IV Karya Ebiet G. Ade: Tinjauan Semiotika”.

Penelitian ini membahas mengenai simbol dan makna simbol yang terdapat dalam lirik lagu.

(22)

Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Jumadi Sihombing, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya USU, melakukan penelitian terhadap aspek moral dalam kumpulan cerpen Tamu dari Paris karya Yanusa Nugroho: Tinjauan Semiotik. Judul penelitiannya adalah “Aspek Moral dalam Kumpulan Cerpen Tamu dari Paris Karya Yanusa Nugroho: Tinjauan Semiotik”.

Penelitian ini membahas mengenai aspek moral cerpen dalam kumpulan cerpen Tamu dari Paris.

(23)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode hermeneutika.

Metode ini penulis anggap sesuai dengan latar belakang dan tujuan penelitian yang dilakukan. Metode hermeneutika yang dimaksud adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang objek yang akan dianalisis untuk mewujudkan tujuan.

Secara etimologis hermeneutika berasal dari kata hermeneuein, bahasa Yunani, yang berarti menafsirkan atau menginterpretasikan (Ratna, 2004:44).

Metode hermeneutika sangat relevan untuk menafsirkan berbagai gejala, peristiwa, simbol, nilai yang terkandung dalam ungkapan bahasa atau kebudayaan lainnya, yang muncul pada fenomena kehidupan manusia.

Tujuan hermeneutika adalah untuk mencari dan menemukan makna yang terkandung dalam objek penelitian yang berupa fenomena kehidupan manusia, melalui pemahaman dan interpretasi (Kaelan, 2005:80). Selain metode hermeneutika dalam penelitian ini, penulis juga menggunakan pendekatan semiotika sastra.

3.1.1 Bahan Analisis

Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Hal ini dilakukan untuk membantu penulis mengambil hasil pembahasan dan suatu keputusan dari penelitian ini. Adapun sumber data

(24)

primer yang penulis gunakan adalah puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah, sebagai berikut:

Judul :Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga (Salah satu puisi Amir Hamzah dalam kumpulan Nyanyi Sunyi).

Penyair : Amir Hamzah

Tahun terbit : 1991 (cetakan ke sebelas)

Tebal buku : 30 halaman

Penerbit : Dian Rakyat

Warna Sampul : Hitam

Gambar Sampul : Ada beberapa bunga yang berwarna hijau, ungu, dan kekuningan.

Selain itu, penulis juga menggunakan data sekunder untuk menyusun proposal penelitian ini berupa pencarian referensi dari beberapa buku dan internet yang dapat dijadikan acuan untuk menggali informasi yang aktual dan tetap berpegang pada prinsip representatif melalui studi pustaka, tulisan, dan catatan yang relevansinya dengan objek penelitian, sehingga akan membangun dan menunjang validnya penelitian ini.

3.1.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data, yaitu penulis menggunakan studi pustaka.

(25)

Tantawi (2017: 61) mengatakan, "Studi pustaka adalah penelitian yang menggunakan buku sebagai objek penelitian." Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh bahan-bahan dan informasi penunjang yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti. Data yang diperoleh dalam penelitian ini juga diperoleh dengan mendeskripsikan objek penelitian sebagai sumber data, di samping itu juga data-data lain yang bersifat sebagai pendukung sehingga relevan dengan hasil yang diharapkan.

3.1.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang penulis gunakan untuk penelitian ini yaitu dengan urutan dan proses sistematis sebagai berikut:

1. Membaca dan memahami puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah

2. Penulis akan menganalisis puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah berdasarkan masalah yang ada 3. Membuat kesimpulan.

(26)

BAB IV

ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI TAMAN DUNIA, HANYUT AKU DAN TERBUKA BUNGA

KARYA AMIR HAMZAH

4.1 Simbol

Sebuah tanda dalam teks sastra diungkapkan dengan media bahasa. Bahasa adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan ide-ide dan dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad tunarungu, ritus simbolik, bentuk sopan santun, isyarat militer, dan seterusnya (Sudjiman dan Zoest, 1992:56).

4.1.1 TAMAN DUNIA

Kau masukkan aku kedalam taman-dunia, kekasihku!

Kau pimpin jariku, kau tunjukkan bunga tertawa; kuntum tersenyum.

Kau tundukkan haluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.

Kau gemelaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah.

Tercengang aku, takjub, terdiam.

Berbisik engkau:

“Taman swarga, taman swarga mutiara rupa”.

Engkaupun lenyap.

Termangu aku gilakan rupa.

Kau masukkan aku ke dalam taman dunia kekasihku!

Baris pertama ini adalah, Kau, interpretasi yang muncul adalah kau sebagai sosok lain yang mengacu kepada Tuhan. Kau ini tidak dapat dibatasi pada kata orang lain yang kita anggap sebagai manusia sebelum menelaah hal selanjutnya.

(27)

Masukkan, interpretasi yang muncul adalah eksistensi lain dalam hal ini

“kau” memberikan dorongan atau hal di luar kemampuan si “aku” untuk hadir pada suatu kondisi yang hanya oleh “Kau” dapat lakukan. Dari kata ini tergambar bahwa “Kau” dan “Aku” adalah dua eksistensi yang kemampuannya berbeda jauh.

Aku, dapat diinterpretasikan yang muncul adalah aku sebagai sosok manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk melawan hal-hal yang diatur oleh-Nya dalam kehidupan ini. Namun, meskipun tidak memiliki kemampuan untuk melawan hal-hal yang sudah diatur oleh-Nya, si Aku memiliki kehendak bebas dalam memaknai dan memilih jalan hidup ini.

Memandang skenario dari Aku dalam hal ini adalah sebuah penderitaan atau sebuah fase yang harus disyukuri. Taman Dunia, dapat diinterpretasikan hal ini adalah konsep dunia atau hal kehidupan. Seperti yang kita ketahui kata Taman identik dengan kebahagiaan, kesenangan, tawa, dan keajaiban. Taman adalah tempat yang mampu menemukan ide atau hal-hal baru.

Taman adalah tempat di mana kita mampu menyegarkan pikiran dari

masalah yang timbul. Secara umum kata Taman dipadankan dengan suatu kata yang merepresentasikan kebahagiaan. Misalnya, taman bunga, atau taman hiburan. Hubungan yang timbul dengan kata dunia adalah hubungan yang saling mengikat dalam bentuk bertolak belakang. Dunia identik dengan persaingan hidup yang keras, bencana alam, masalah-masalah sosial, dan berbagai hal yang bermuara pada kekejaman atau kerasnya hidup. Dengan adanya kata taman, dalam baris tersebut menempatkan bahwa dalam hal-hal yang ada di dunia ini selalu ada

(28)

tempat untuk meraih kebahagiaan, meskipun tidak sebesar dunia yang penuh dengan masalah.

Kekasihku, dapat diinterpretasikan bagaimana si aku memilih kata kekasih

dan menekankannya dengan tanda (!). Ada rasa kecewa dan kamarahan, hal ini disampaikan dengan simbol tersebut. Kecenderungan secara umum ketika simbol itu hadir tanpa padanan suatu kalimat yang bermuara pada perintah adalah rasa geram, marah, atau kecewa. Namun, di sisi lain penulis menggunakan kata kekasihku untuk melengkapi tanda tersebut.

Hal ini menjelaskan bahwa dalam kegeraman yang ia sampaikan ada rasa cinta yang timbul, di mana si Aku sekalipun menempatkannya pada kondisi yang tidak ia inginkan. Ada rasa bersyukur karena si Aku juga menunjukkan rasa cinta karena memasukkannya dalam taman dunia seperti yang ia sampaikan di atas.

Baris pertama ini secara umum dapat diinterpretasikan dengan keadaan yang diterima oleh Amir Hamzah, dengan rasa syukur karena apa yang ia dapatkan dari Tuhan. Banyak hal-hal yang tidak ia sukai, namun lewat konsep taman dunia, Amir Hamzah tetap mengatakan bahwa sekalipun Tuhan memasukkan dia pada dunia yang tidak seperti keinginan Amir Hamzah. Tuhan tetap mengasihinya dengan memberikan taman dunia sebagai tempat untuk menemukan kebahagiaan dan kegembiraan.

Kau pimpin jariku, kau tunjuk bunga tertawa, kuntumtersenyum.

Pimpin jariku, interpretasi yang timbul dari kata ini adalah bagaimana Kau membawa sistem gerak yang ada dalam diri penulis untuk bertindak seperti keinginannya. Jari adalah perwakilan dari tindakan nyata dalam kehidupan sehari-

(29)

hari. Misalnya ketika seseorang membuat gerakan telunjuk di depan bibir dengan posisi tegak maka kita diarahkan untuk diam. Saat seseorang menunjukkan arah ketika kita bertanya tempat atau lokasi maka kita cenderung mengikuti arah jarinya.

Dalam simbol-simbol yang hadir di tengah masyarakat seperti jari tengan menunjukkan ketidaksopanan. Simbol jempol di atas untuk menunjukkan rasa puas atau tindakan seperti yang diharapkan. Sebaliknya simbol jempol di bawah menunjukkan rasa tidak puas dari seseorang kepada orang lain. Kau tunjuk bunga tertawa, interpretasi yang timbul dari kata-kata tersebut adalah, melalui Aku, si

penulis melihat bahwa lewat pimpinan jarinya sendiri, Tuhan menunjukkan berbagai hal keindahan.

Peneliti menarik suatu pemaknaan bahwa bunga yang tertawa itu adalah

1. Sebuah hamparan keindahan yang dilihat oleh Amir Hamzah, bisa berupa taman bunga.

2. Wanita yang hadir pada suatu masa dalam fase hidup Amir Hamzah 3. Bunga sebagai sosok spesifik, dalam hal ini seorang wanita yang mampu

menawan hati dan menarik perhatian si penulis. Mengapa peneliti mengatakan demikian? Seorang wanita yang dimaksud ini adalah wanita pujaan hati Amir Hamzah sewaktu menimba ilmu di Pulau Jawa. Wanita ini adalah salah satu sosok yang menjadi titik balik bagaimana Amir Hamzah berkarya dan dari wanita yang dimaksud inilah tercipta karya- karyanya tersebut.

(30)

Kuntum tersenyum, kata ini menghasilkan konsep pemaknaan bahwa Aku

menunjukkan suatu kekuatan mahakuasa kepada si penulis, bahwa bunga yang kuncup bisa membuka atau memekar dengan perwakilan kata tersenyum. Baris kedua dari puisi ini memiliki makna bahwa Tuhan menggerakkan si penulis untuk melihat kemahakuasaan-Nya lewat keindahan, lewat wanita, dan lewat sosok yang hadir di tengah-tengah kehidupan si penulis.

Sosok tersebut mampu menarik perhatian si penulis lewat tindakan yang diwakili oleh kata tawa untuk lebih dalam mengenal dan merenungi kehadiran sosok tersebut. Di sisi lain Tuhan juga menunjukkan bahwa apa yang ada di dunia ini selalu terjadi atas campur tangan-Nya, suatu keadaan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal dan logika manusia.

Kau tundukkan hulu tegak, mencium wangi, tersembunyi sepi.

Tundukkan, pada pemaknaan kata tundukkan terlihat bahwa kekuatan luar

biasa dari Kau dalam hal ini adalah Tuhan. Hulu, pemaknaan yang timbul dari kata ini adalah sumber, atau awal dari suatu hal. Hulu berkaitan dengan hal-hal luar biasa yang mampu membentuk suatu keadaan dan hulu selalu dikatakan adalah hal yang sangat kuat. Contohnya adalah hulu ledak yang mampu menghasilkan suatu ledakan, atau hulu air sebagai sumber air yang pada suatu tertentu mampu menjadi sumber malapetaka dan berubah menjadi istilah seperti hulu banjir.

Mencium, interpretasi yang muncul dari hal ini adalah menyentuh sesuatu dengan bibir, merasakan sesuatu dengan hidung, terkadang juga dihubungkan dengan tindakan yang bermuara pada hal-hal yang negatif atau berbau konspirasi.

(31)

Wangi, jika kita menelaah kata wangi maka berhubungan dengan aroma dan juga bau.

Wangi adalah suatu kata yang kadang disalah artikan seolah-olah berbeda dengan bau. Jika kita lihat lebih dalam makna dua kata ini hampir sama atau sepadan, yang membedakannya adalah penggunaan dalam situasi atau kalimat.

Jika kalimat atau situasi bermuara pada hal positif maka kecenderungan yang digunakan adalah kata wangi.Jika kalimat atau situasi yang bermuara pada hal negatifmaka kecenderungan yang digunakan adalah kata bau.

Dalam baris ini mencium wangi tentu arahnya bermuara pada hal yang positif meskipun terkadang wangi itu mampu menimbulkan negatif. Sebagai contoh penggunaan minyak wangi atau parfum mampu menimbulkan efek samping bagi yang menciumnya.

Tersembunyi sepi, hal ini dapat dimaknai keadaan yang menyembunyikan

sepi atau rasa sepi itu menjadi tersembunyi karena adanya keramaian.

 Tersembunyi sepi: seseorang yang diliputi oleh rasa kesepian

 Tersembunyi sepi: keadaan yang membuat sepi itu menjadi hilang karena keramaian.

Jadi, baris ini memiliki makna bahwa Tuhan menunjukkan hal-hal yang bahkan luar biasa di dunia ini. Si penulis juga mengatakan bahwa anugerah luar biasa lewat wangi yang berhubungan dengan hal–hal positif atau kebaikan, dan mampu menghilangkan rasa sepi. Pada baris ini peneliti melihat bahwa sedikit

(32)

fase hidup dari Amir Hamzah dihadirkan. Pulang ke Langkat dan menurut keinginan keluarganya untuk menikahi putri pamannya,

Amir Hamzah diluputi rasa kecewa karena harus meninggalkan gadis pujaannya. Hatinya sedih dan rasa kecewa merundungnya tiap saat karena kesepian, namun lewat spritual kepada yang mahakuasa, dia menemukan bahwa rasa sepinya itu dapat dihilangkan dan dihalau dengan memperdalam ilmu agama dan sastra dengan pengajian, membaca sastra klasik, bahkan pada suatu waktu dia begitu asyik dengan memengaruhi karya-karyanya.

Kau gemelaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah

Makna yang timbul adalah bagaimana rasa rindu terhadap gadis pujaannya yang sudah luar biasa keras menjadi lunak dan melemah seiring rasa percaya diri penulis bangkit dari keterpurukan. Segala sesuatunya di dunia ini yang dirindukan pada dasarnya bersisi dengan kekecewaan namun oleh-Nya segalanya akan berbeda. Penulis berada pada fase yang bersiap-siap secara total untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Penggunaan kata daun beldu sejauh pengetahuan peneliti masih bersifat kabur, mengingat eksistensi dari benda ini peneliti belum pernah melihat. Namun, penggunaan kata ini merupakan sebuah ciri khas yang terbilang umum dari seorang Amir Hamzah. Dalam karya-karyanya tidak jarang hadir hal-hal yang tidak dapat ditemukan lagi dari bahasa Indonesia pada umumnya.

Penggunaan istilah seperti daun beldu juga berasal dari kegemaran Amir Hamzah dalam membaca sastra klasik dunia dan juga begitu akrab dengan bahasa asing. Sehingga tidak jarang dalam setiap karya-karyanya, Amir Hamzah

(33)

menggunakan dan menyelipkan kata-kata tersebut. Kita tidak tahu apa tujuan Amir Hamzah kala melakukan hal tersebut. Namun, yang pasti terkadang ada keadaan yang lebih jelas arti dan maknanya jika disampaikan dalam bahasa aslinya.

Tercengang aku, takjub, terdiam.

Makna yang timbul dari baris ini adalah si penulis mengalami fenomena luar biasa pada fase hidupnya. Dalam kehidupan sehari-hari, rasa tercengang yang membuat kita takjub dan terdiam pada dasarnya mampu mengubah jalan hidup kita. Meskipun rasa tercengang itu diawali oleh hal-hal yang membahayakan atau penderitaan. Sebagai contoh bagaimana proses kelahiran manusia yang mampu membuat siapapun tercengang, takjub dan terdiam. Kita tahu jika manusia sudah mengalami proses melahirkan atau dilahirkan maka fase hidupnya akan berbeda dikemudian hari. Demikian juga peneliti menganggap apa yang terjadi pada penulis dalam hal ini Amir Hamzah, dia mengalami fase hidup luar biasa yang mampu membuat hidupnya berubah.

Berbisik engkau: “Taman swarga mutiara rupa”

Baris ini memiliki makna bahwa penulis merasakan bisikan dariNya dan biasanya suatu bisikan yang jelas diterima isinya oleh seseorang merupakan bisikan dengan pesan penting. Penulis menemukan bahwa Tuhan memiliki taman yang luar biasa penuh dengan keindahan. Dengan menggunakan kata swarga, sebuah ciri khas dari Amir Hamzah untuk menyampaikan pesan tersebut dengan menggunakan istilah aslinya.

(34)

Baris ini juga merupakan percakapan batin Amir Hamzah dengan dirinya sendiri dengan tema gadis pujaan yang cinta dan kasih sayangnya kandas. Amir Hamzah menganggap bahwa gadis pujaannya memberikan dia pelajaran hidup bahwa surga adalah tempat untuk menemukan cinta sejati, di mana surga adalah tempat para pecinta sejati menemukan cinta yang paling dalam setelah berbagai proses.

Seperti yang kita tahu, mutiara adalah benda mulia yang dijadikan perhiasan bernilai tinggi, prosesnya sangat luar biasa. Bagaimana pasir masuk ke inti dari tiram, pasir yang terjebak itu menyakiti tiram dengan luar biasa. Oleh sebab itu, untuk bertahan hidup tiram akan mengeluarkan senyawa dari dalam dirinya untuk melapisi pasir tersebut dan mencegah pasir tersebut melukainya.

Proses yang panjang itu akan menghasilkan mutiara yang baik. Baris ini memberikan pemaknaan bahwa segala sesuatu yang berharga menuntut pengorbanan yang sepadan bahkan lebih.

Engkau lenyap. Termangu aku gilakan rupa

Baris ini merupakan baris penutup dari puisi taman dunia. Bagi peneliti makna dari baris ini adalah bagaimana penulis melihat hal-hal baru dalam hidupnya. Engkau, jika mengacu kepada Tuhan maka makna yang dihasilkan adalah bagaimana Tuhan mampu memesona si peneliti dan mencoba mencari gambaranNya karena selama ini Dia hanya bisa melihat kreasiNya.

Di sisi lain jika engkau adalah manusia yang merupakan wanita yang ia cintai, maka termangu adalah rasa geram yang hadir pada diri si wanita karena si penulis tidak bisa melepas dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Namun,

(35)

segala sesuatunya sudah jelas di awal.Si engkau mengharapkan agar si penulis tidak lagi tergila-gila dan mengharapkan hal-hal duniawi yang ada pada diri si engkau dalam hal rupa karena masih banyak hal yang lebih layak untuk digilakan yakni bagaimana mencari Tuhan dan mengumpulkan amal ibadah sebagai modal untuk ke surga.

Pemilihan judul puisi Amir Hamzah tersebut dapat diinterpretasi bahwa Amir Hamzah memilih judul tersebut untuk menyatakan bahwa di dunia yang keras ini tersimpan sebentuk tempat yang disediakan oleh Tuhan sebagai tempat untuk kita melupakan sejenak masalah-masalah yang ada di dunia ini. Tempat tersebut adalah Taman Dunia.

Taman yang identik dengan hal-hal yang luar biasa, menyenangkan, dan identik dengan keajaiban-keajaiban yang tidak terjelaskan. Dunia adalah tempat yang penuh perjuangan, keras, dan berbagai masalah meliputinya. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah taman sebagai tempat untuk mengembalikan hakikat ingatan bahwa bagaimanapun kerasnya hidup, segala sesuatunya akan baik-baik saja bila kita mengingat dan bersyukur atas karya-karya luar biasa dari Tuhan. Hal inilah yang mampu membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan pada suatu momen menemukan titik balik hidup sebagai manusia di dunia ini.

(36)

4.1.2 HANYUT AKU

Hanyut aku, kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganmu, tolong aku.

Sunyinya sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, Tiada air menolak ngelak.

Dahagaku kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku Sebabkan diammu.

Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam.

Tenggelam dalam malam.

Air di atas mendidih keras.

Bumi di bawah menolak ke atas.

Mati aku, kekasihku, mati aku!

Hanyut aku, kekasihku!

Interpretasi yang timbul dari baris pertama ini adalah sebuah keadaan yang sangat gawat. Hanyut merupakan suatu keadaan yang genting yang mampu membahayakan nyawa seseorang. Penulis menyampaikan bahwa ada keadaan yang sangat genting dalam hidupnya dan ia memberitahukan keadaan tersebut kepada kekasihnya. Peneliti dapat temukan bahwa hal ini merupakan curahan hati seorang Amir Hamzah dalam keadaan tertekan namun tidak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan tersebut.

Hanyut Aku!

Pada baris ini ada penegasan dari keadaan genting tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya simbol (!).

(37)

Ulurkan tanganmu, tolong aku.

Baris ini merupakan suatu penyampaian terhadap seseorang agar memberi simpati kepada penulis. Ada rasa tidak sanggup yang peneliti maknai dalam diri penulis menghadapi keadaan yang ia hadapi. Secara umum jika seseorang sudah menggunakan istilah ulurkan tangan merupakan bentuk pengharapan agar orang lain setidaknya memberikan perhatian kepada dirinya.

Sunyinya sekelilingku!

Pada baris ini penulis mencoba untuk menarik simpati orang lain dan mungkin juga kekasihnya dengan menunjukkan keadaan yang ia hadapi. Mencoba membawa orang lain untuk mengetahui sekelilingnya dan apa yang ia rasakan sehingga rasa simpati orang lain itu timbul dan tindakan yang orang lain berikan ialah sesuai dengan yang ia harapkan.

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati

Kesunyian yang penulis sampaikan dalam baris ini. Yang menjadi catatan kesunyian yang ia temukan ialah karena tidak ada orang yang memberi simpati kepada diri dan keadaannya. Hal inilah yang membuat ia kecewa dan frustasi.

Tidak adanya kesejukan yang mampu meredakan hatinya yang kecewa dan marah pada saat yang ia harapkan.

Tiada air menolak ngelak

Makna yang timbul dari baris ini adalah tidak ada suatu hal yang mampu meredakan kemarahan dalam dirinya, sebagaimana air yang mampu mematikan dan meredakan api atau panas. Api atau panas ini adalah masalah yang ia hadapi.

(38)

Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku

Interpretasi yang timbul dari baris ini adalah kembali pada keadaan yang menarik simpati orang lain. Dengan menggunakan kata hauskan bisikmu, penulis berharap agar keadaan di masa lalu yang identik dengan rasa senang dan bahagia kembali yang ia jalani.

Sebabkan diammu

Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam

Ini adalah hubungan sebab akibat dari keadaan yang terjadi. Sikap diam, tidak peduli atau apapun itu yang sepadan dengan keadaan tersebut dalam episode hidup manusia selalu menghasilkan suatu masalah karena sikap diam pada dasarnya membuat seseorang tidak mampu bertindak.

Tenggelam dalam malam

Air di atas mendidih keras

Bumi di bawah menolak ke atas

Baris ini dapat diinterpretasikan bahwa kesendirian yang dihadapi oleh penulis. Malam yang identik dengan sepi dan kesendirian dimana setiap orang tenggelam dengan istirahat dan mimpi-mimpi orang lain. Penulis menyampaikan bahwa dalam malam pun ia tetap hanyut dalam masalah-masalah yang ia hadapi, semakin tenggelam karena tidak ada teman untuk berbagi.

(39)

Hal ini semakin menambah rasa frustasi yang penulis rasakan. Orang lain tidak memberikan ia waktu untuk menyampaikan untuk menyampaikan keluh kesahnya karena orang lain juga memiliki masalah yang harus dihadapi di dunia ini.

Mati aku, kekasihku, mati aku!

Dari baris penutup ini, terlihat bahwa penulis tidak dapat menghadapi masalah yang ia hadapi sehingga ia pasrah dengan keadaan tersebut. Ada rasa takut dan geram ketika baris ini mengingat si penulis sudah berusaha agar orang lain memahami keadaannya.

Dalam puisi ini dikemukakan tema spiritual dimana penulis merasakan hasrat kerinduan dan kecintaannya pada sang kekasih (Hanyut aku, kekasihku!/Hanyut aku/…), karena itu ia meminta agar kekasihnya mengulurkan tangannya, menyelamatkan ia dari kehanyutannya. Penulis merasakan kesendirian, tiada yang peduli dan dapat menenangkan hatinya. Hanya kesunyian yang mendalam yang membanjiri dunia batinnya. Bahkan hasrat itu semakin kuat dan menolak untuk pergi dari jiwa si penulisnya yang semakin terhanyut.

Kehanyutan si penulis disebabkan karena ia begitu haus akan cinta kasih dari kekasihnya, haus akan bisikan pujaannya. Tetapi kehanyutan yang peneliti temukan disini tidak berhubungan secara tradisional terhadap bentuk air, namun lebih identik terhadap hanyut yang menyesakkan dan perih sebagaimana hanyut dalam kobaran api (terbakar) atau juga gumpalan asap.

Hal ini sangat menarik dari seorang Amir Hamzah yang karya-karyanya begitu menarik perhatian pembacanya. Hanyut dalam masalah yang membuat

(40)

batin dan fisiknya terkuras. Hal ini semakin parah akan keadaan tersebut yang harus ia hadapi sendiri. Kemudian yang ia kasihi hanya diam. Karena itulah si penulis merasa seakan-akan ia mati dikarenakan diamnya sang kekasih.

Kini si penulis tidak lagi terhanyut, namun telah tenggelam karena hasrat yang telah menyerkapnya sehingga ia semakin tenggelam. Tenggelam dalam hasrat kerinduannya akan cinta, kasih, dan bisikan sang kekasih.

Proses yang disampaikan oleh penulis disini yaitu dari hanyut menjadi tenggelam. Harapan yang ia sampaikan terhadap orang lain terkhusus yang dicintai agar peduli atau setidaknya memberikan respon terhadap keadaannya. Hal inilah yang semakin menguatkan Amir Hamzah dalam memilih judul Hanyut Aku sebagai judul puisinya.

Amir Hamzah menggunakan kata-kata umum yang dapat dengan mudah dimengerti. Amir Hamzah menggunakan kata-kata seperti hanyut, menyerkap, menindih, tenggelam, dan mati sebagai medan makna keriuhan yang seakan mematikan. Kata-kata ini sebagai kunci untuk menggambarkan dari pengalaman dan guncangan yang dirasakan oleh Amir Hamzah.

Bahasa kiasan yang terpapar sangat jelas dalam puisi ini dengan menyamakan benda dengan manusia. Benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir dan sebagainya seperti manusia.

langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam

Tenggelam dalam malam

Air di atas menindih keras

(41)

Bumi di bawah menolak ke atas

Dalam puisi ini melukiskan kesunyian dan kesendirian yang dirasakan oleh penyair.

4.1.3 TERBUKA BUNGA

Terbuka bunga dalam hatiku!

Kembang rindang disentuh bibir kesturi-mu.

Melayah-layah mengintip restu senyumanmu

Dengan mengelopaknya bunga ini, layulah bunga lampau, kekasihku.

Bunga sunting hatiku, dalam masa mengembara menanda dakau Kekasihku! Inikah bunga sejati yang tiadakan layu!

Terbuka bunga dalam hatiku!

Kata Terbuka, menjelaskan tentang suatu hal yang dapat terbuka dengan sendirinya tanpa ada unsur paksaan. Kata ini lebih menekankan pada perasaan seseorang yang tanpa sengaja terbuka dengan sendirinya. Kata Bunga pada dasarnya bunga memiliki pengertian bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, indah warnanya dan harum baunya.

Bentuk bunga yaitu bagian tumbuhan yang kita kenal menjadi cikal bakal buah dari pohon tersebut. Kita bisa melihat ini secara fisik sebagaimana biasanya.

Kata bunga dapat kita analisis lebih dalam pada puisi. Nilai-nilai yang dapat kita tarik dari kata bunga yaitu, harapan, keindahan, kecantikan, seorang gadis, dan sesuatu yang menyenangkan.

(42)

Bunga pada umumnya dapat dikatakan adalah seorang gadis (wanita). Jika kita lihat pada puisi tersebut, bunga lebih mendekati pada pembicaraan sosok gadis atau wanita. Bunga juga dapat berhubungan dengan nama wanita. Jika dihubungkan dengan sepasang kekasih maka ada hubungan yang menjembatani yaitu hadiah, kebahagiaan, namun ada juga duka cita.

Kata bunga ini digunakan sebagai unsur pelengkap untuk menunjukkan hadirnya sosok kekasih hati kepada lawan jenisnya. Kemudian, kata bunga ini digambarkan sebagai kecantikan atau keindahan paras seorang wanita yang mampu menarik hati seorang lelaki. Hal tersebut dapat di lihat dari baris pertama pada kutipan puisi tersebut. Menjelaskan bahwa hati seorang pemuda seketika terbuka karena melihat indah dan cantiknya sang bunga (wanita) sehingga ia jatuh hati terhadap wanita tersebut.

Kembang rindang disentuh bibir kesturi mu.

Kata kembang merupakan suatu wujud atau bentuk sebuah bunga yang mekar untuk menunjukkan keindahannya. Kembang yang dapat merekah mampu menarik perhatian tersendiri bagi setiap orang. Kembang rindang disentuh bibir kesturi-mu, pada kutipan tersebut menjelaskan bahwa kembang yang terlihat rindang mampu memberikan sentuhan atau kenikmatan bagi yang menyentuhnya dengan kelembutan. Hal ini juga dapat memberikan kebahagiaan bagi seseorang yang mendapatkannya.

Melayah-layah mengintip restu senyumanmu

Kata melayah-layah di sini diartikan sebagai rasa bahagia seseorang yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata sehingga kebahagiaan yang ia rasakan

(43)

seperti membuat dirinya merasa ingin terbang melayang. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut ini melayah-layah mengintip restu senyumanmu. Pada kutipan tersebut terlihat jelas bahwa seorang pemuda sembunyi-sembunyi melihat senyuman indah dari sang pujaan hati. Sebab senyuman yang ia lihat mampu membuat hatinya melayah-layah di udara.

Dengan mengelopaknya bunga ini, layulah bunga lampau, kekasihku.

Kata mengelopak, menjelaskan timbulnya rasa sayang dan cinta terhadap kekasih barunya sehingga kekasih lama ditinggalkan dan dihiraukannya.

Kemudian, dapat dikatakan bahwa rasa cinta dahulu yang pernah ia miliki dapat tergantikan dengan bunga indah (wanita cantik) yang sekarang ia temukan.

Artinya ia menaruh harapan penuh agar cinta yang ia miliki kepada wanita itu tidak putus begitu saja seperti kisah cintanya pada wanita lampau.

Bunga sunting hatiku, dalam masa mengembara menanda dakau.

Kata sunting di sini adalah sebagai hiasan yang mampu memberikan keindahan tersendiri. Kata mengembara menjelaskan tentang sebuah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang yang butuh perjuangan supaya apa yang menjadi tujuan utama dalam pengembaraannya dapat dicapai dengan baik.

Kekasihku! Inikah bunga sejati yang tiadakan layu!

Kata layu yang dimaksud di dalam puisi ini adalah sebuah harapan yang ia taruh terhadap seseorang tidak akan hilang begitu saja. Pada baris di atas terlihat jelas bahwa seseorang menaruh harapan terhadap pujaan hatinya. Sebab wanita yang ia cari selama ini kini sudah terlihat jelas dengan indahnya senyuman yang ia

(44)

pancarkan. Ia juga berharap bahwa sang bunga (wanita) itu merupakan cinta sejati yang selama ini ia harapkan.

(45)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa banyak hal-hal yang menarik dari puisi Amir Hamzah untuk dikaji simbolnya. Semua simbol tersebut berfungsi untuk menyampaikan makna dari tiap-tiap puisi. Amir Hamzah masih menggunakan bahasa sansakerta, ataupun bahasa Melayu yang sangat jarang digunakan. Namun, hal ini tidak mengurangi kepuitisan dari puisi tersebut, melainkan justru meningkatkan imajinasi estetik pembaca dengan sangat baik.

Simbol-simbol yang terdapat dalam tiap puisi adalah media penyair dalam menggambarkan kehidupannya. Makna puisi ditentukan dari penggunaan simbol yang terdapat dalam tiap simbol puisi.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil analisis dalam puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah, maka akan sangat baik jika ada penelitian

selanjutnya dengan lebih sempurna dan meluas terhadap karya-karya sastra, dengan menggunakan pendekatan semiotika sehingga para pembaca sastra dapat memahaminya. Dalam penelitian ini diharapkan tidak hanya berpedoman dengan satu pendapat ahli saja, melainkan diperlukan pendapat dari beberapa para ahli yang lainnya sebagai pembanding untuk mendapatkan penelitian yang lebih lengkap dan dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan peneliti yang lainnya.

(46)

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.

Semarang: IKIP Semarang Press.

Tarigan, Hendry Guntur. 1985. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Hamzah, Amir. 1935. Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.

Hutahaean, Tiurma. 2013. “Analisis Simbolik dalam Lima Puluh Puisi Selendang Berenda Jingga Karya Zulkarnain Siregar” (Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya USU.

Kaelan. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta:

Paradigma.

Kaelan.2017. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta:

Paradigma.

Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sihombing, Jumadi. 2014. “Aspek Moral dalam Kumpulan Cerpen Tamu dari Paris Karya Yanusa Nugroho Tinjauan Semiotik” (Skripsi). Medan:

Fakultas Ilmu Budaya USU.

Siswanto, Wahyudi. 2012. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

Sudjiman, Panuti dan Aart Van Zoest. 1991. Serba-serbi Semiotika. Jakarta:

Gramedia.

Tampubolon, Jumpa Riama. 2015. “Makna Simbol dalam Lirik Lagu Camellia I, II, III, dan IV Karya Ebiet G. Ade: Tinjauan Semiotika” (Skripsi). Medan:

Fakultas Ilmu Budaya USU.

Tantawi, Isma. 2017. Bahasa Indonesia Akademik. Bandung: Cita Pustaka Media.

Taufiq, Wildan. 2016. Semiotika: untuk Kajian Sastra dan Al-Qur’an. Bandung:

Yrama Widya.

(47)

Lampiran

1.Biografi Penyair

Amir Hamzah (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911. Meninggal di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Indonesia, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun. Ia adalah sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru dan Pahlawan Nasional Indonesia. Dia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat di Sumatera Utara).

Amir Hamzah mulai menulis puisi saat masih remaja meskipun karya- karyanya tidak bertanggal, yang paling awal di perkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Amir Hamzah mulai mengenyam pendidikan pada umur 5 tahun dengan bersekolah di Langkatsche School.

Amir Hamzah melanjutkan pendidikannya di MULO, sekolah tinggi di Medan. Setahun kemudian, Amir Hamzah pindah ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan sekolah di Christelijk MULO Menjangan dan lulus pada tahun 1927.

Amir Hamzah kemudian melanjutkan studinya di AMS (Aglemenee Middelbare School), sekolah lanjutan tingkat atas di Solo, Jawa Tengah.Di sana dia mengambil disiplin ilmu pada Jurusan Sastra Timur. Amir Hamzah adalah salah seorang siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi.

Sekitar tahun 1930, pemuda Amir Hamzah terlibat dengan gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang teman sekolahnya, Ilik Soendari.

Bahkan setelah Amir melanjutkan studinya di sekolah hukum di Batavia (sekarang Jakarta) keduanya tetap dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 ketika

(48)

Amir Hamzah dipanggil kembali ke Sumatera untuk menikahi putri Sultan dan mengambil tanggungjawab di lingkungan keraton. Meskipun tidak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya.

Selama mengenyam pendidikan di Solo, Amir Hamzah mulai mengasah minatnya pada sastra sekaligus obsesi kepenyairannya. Pada waktu itulah Amir Hamzah mulai menulis beberapa sajak pertamanya yang kemudian terangkum dalam antologi Buah Rindu yang terbit pada tahun 1943 pada waktu tinggal di Solo.

Amir Hamzah juga menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan Achdiat K Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo, bahkan mereka satu kelas di sekolah itu. Di kemudian hari, ketiga orang ini mempunyai tempat tersendiri dalam ranah kesusastraan di Indonesia.

Setelah menyelesaikan studinya di Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studi ke Sekolah Hakim Tinggi pada awal tahun 1934. Semasa di Jakarta, rasa kebangsaan di dalam jiwa Amir Hamzah semakin kuat dan berpengaruh pada wataknya. Amir Hamzah mulai menyiarkan sajak-sajak karyanya ketika masih tinggal di Solo.

Setelah kembali ke Sumatera, ia berhenti menulis. Sebagian besar puisi- puisinya diterbitkan dalam dua koleksi, Nyanyi Sunyi, dan Buah Rindu awalnya dalam Pujangga Baru, kemudian diterbitkan sebagai buku.

Revolusi sosial yang meletus pada3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah. Dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Pesindo. Kala itu, pasukan Pesindo menangkapi sekitar 21

(49)

tokoh feodal termasuk di antaranya adalah Amir Hamzah pada 7 Maret 1946.

Pada tanggal 20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkap itu dihukum mati.

Amir Hamzah wafat di Kwala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Masjid Azizi. Amir Hamzah kemudian diangkat menjadi pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106 tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

Hingga kematiannya, Amir Hamzah telah mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan. Jumlah keseluruhan karya itu adalah 160 tulisan. Jumlah karya tersebut masih ditambah dengan Setanggi Timur yang merupakan puisi terjemahan, dan terjemahan Bhagawat Gita. Dari jumlah itu, ada juga beberapa tulisan yang tidak sempat dipublikasikan.

Puisi-puisi Amir Hamzah sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu.

Karya-karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, sedangkan karya-karyanya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Dari dua koleksi, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Untuk puisi-puisinya, Amir Hamzah telah disebut sebagai Raja Penyair Zaman Pujangga Baru dan satu- satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra-Revolusi Nasional Indonesia.

(50)

2. Puisi Taman Dunia, Hanyut Aku dan Terbuka Bunga karya Amir Hamzah

1. Taman Dunia

Kau masukkan aku kedalam taman-dunia, kekasihku!

Kau pimpin jariku, kau tunjukkan bunga tertawa; kuntum tersenyum.

Kau tundukkan haluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.

Kau gemelaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah.

Tercengang aku, takjub, terdiam.

Berbisik engkau:

“Taman swarga, taman swarga mutiara rupa”.

Engkaupun lenyap.

Termangu aku gilakan rupa.

2. Hanyut Aku

Hanyut aku, kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganmu, tolong aku.

Sunyinya sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, Tiada air menolak ngelak.

Dahagaku kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku Sebabkan diammu.

Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam.

Tenggelam dalam malam.

Air di atas mendidih keras.

Bumi di bawah menolak ke atas.

Mati aku, kekasihku, mati aku!

3. Terbuka Bunga

Terbuka bunga dalam hatiku!

Kembang rindang disentuh bibir kesturi-mu.

Melayah-layah mengintip restu senyumanmu

Dengan mengelopaknya bunga ini, layulah bunga lampau, kekasihku.

Bunga sunting hatiku, dalam masa mengembara menanda dakau Kekasihku! Inikah bunga sejati yang tiadakan layu!

Referensi

Dokumen terkait

The goal of this study is to know about the meaning of film conflict in "Curse of The Golden