• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS III.1 Analisis Konseptual Teknik Pengolahan Data

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III ANALISIS III.1 Analisis Konseptual Teknik Pengolahan Data"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

22

III.1 Analisis Konseptual Teknik Pengolahan Data

Data sudah menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan. Data telah banyak terkumpul baik itu data transaksi perbankan, data kependudukan, data transaksi penjualan barang di sebuah toko, data aktivitas perkuliahan dan data-data lain. Umumnya data-data tersebut telah disimpan dalam penyimpanan berupa basis data.

Seiringan dengan lamanya penggunaan basis data, maka data yang terkumpul juga akan semakin banyak. Untuk melakukan suatu proses pengambilan keputusan yang bersumber dari basis data tentunya memerlukan waktu. Semakin besar data yang akan diolah maka akan memerlukan waktu yang lama juga untuk mengolahnya sehingga menghasilkan suatu informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan.

Karena banyaknya data yang akan diolah, seorang peneliti biasanya melakukan penelitian terhadap sekelompok data saja. Dengan aturan tertentu kelompok data tersebut diidentifikasi dari keseluruhan data yang ada. Salah satu teknik yang biasanya digunakan untuk melakukan identifikasi suatu kelompok data adalah teknik clustering.

Teknik clustering adalah suatu teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelompok data dari sekumpulan data tanpa ada acuan tertentu.

Inilah sebabnya teknik clustering termasuk sebagai teknik yang unsupervised.

Dengan tanpa ada acuan yang menjadi dasar pengelompokkan data, maka

clustering dianggap dapat mengidentifikasikan hubungan alamiah antar data yang

ada. Teknik clustering tidak membutuhkan pengetahuan awal terlebih dahulu

sebelum melakukan proses clustering, justru hasil akhir dari teknik clustering ini

yang berupa cluster-cluster dapat dijadikan sebagai pengetahuan awal pada

teknik-teknik pengolahan data lain.

(2)

Suatu clustering data akan menghasilkan cluster-cluster. Ciri dari suatu proses clustering yang baik adalah :

1. Tingkat kemiripan/similaritas (homogenitas) dari data-data yang ada dalam suatu cluster mempunyai derajat yang besar.

2. Tingkat ketidakmiripan/dissimilaritas (heterogenitas) antar cluster mempunyai derajat yang besar.

Setiap proses clustering selalu melibatkan cara mengukur kemiripan antar data atau antar cluster. Pengukuran tingkat kemiripan biasa dilakukan dengan melakukan perbandingan antara atribut milik sebuah data dengan data lain atau atribut suatu cluster dengan cluster lain. Sebagai contoh pengukuran tingkat kemiripan dapat dilihat pada Gambar III.1.

A=(3) B=(5)

Jarak=|A – B|=|3-5|=2

Gambar III.1. Contoh pengukuran tingkat kemiripan

Pada Gambar III.1 dapat dilihat ada dua buah data/obyek yaitu A dan B.

Obyek A mempunyai nilai atribut yaitu 3 dan obyek B mempunyai nilai atribut yaitu 3. Untuk obyek data yang hanya mempunyai 1 atribut, pengukuran tingkat kemiripan dilakukan dengan menghitung jarak antara obyek A dan B yaitu mengambil nilai absolute selisih kedua obyek tersebut (|3-5| = 2). Cara perhitungan di atas hanya berlaku jika obyek hanya memiliki 1 atribut saja. Tetapi jika obyek memiliki lebih dari 1 atribut, maka cara yang digunakan untuk melakukan pengukuran jarak adalah Euclidean Distance dan Manhattan Distance (City Block Distance) yang cara perhitungannya dapat dilihat pada Gambar II.11.

Penggunaan Euclidean distance sering digunakan karena pengukuran ini

dapat menghasilkan suatu nilai jarak terdekat antar obyek yang diambil dari nilai

akar dari kuadrat selisih antara atribut milik obyek. Sedangkan Manhattan

distance digunakan karena pengukuran ini dihasilkan berdasarkan penjumlahan

jarak selisih tiap atribut yang dimiliki oleh obyek, sehingga pengukuran dengan

(3)

metode Manhattan distance dapat mencerminkan jarak sebenarnya antar suatu obyek.

Perhitungan pengukuran jarak menggunakan Euclidean distance atau Manhattan distance mempunyai keterbatasan yaitu hanya mampu melakukan perhitungan pada data yang berbentuk numerik. Jika data obyek uji berupa data yang tidak numerik, maka perhitungan pengukuran jarak tidak dapat digunakan.

Ada cara alternatif yang bisa digunakan agar data yang bukan numerik dapat diproses yaitu dengan mengkonversikannya (transformasi nilai) ke dalam bentuk numerik. Dengan cara ini setiap nilai yang bukan numerik akan diberi angka pengganti yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan.

Selain adanya ketidaksesuaian format data (numerik/bukan numerik), ada juga masalah yang perlu diperhatikan terhadap data obyek uji yaitu data yang tidak lengkap. Tidak semua obyek uji memiliki nilai untuk semua variable yang akan diobservasi. Adanya nilai variable yang hilang dapat berpengaruh besar terhadap hasil penelitian. Berdasarkan Joseph F. Hair dkk, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menangani data yang hilang yaitu :

1. Obyek yang diteliti hanya yang mempunyai data lengkap

2. Menghapus variable yang mempunyai data tidak lengkap yang banyak 3. Melakukan metode penaksiran. Penaksiran nilai dapat dilakukan dengan

menggunakan karakteristik distribusi dari semua nilai yang ada, atau melakukan substitusi dengan nilai tertentu, nilai rata-rata, atau nilai tertentu yang didapatkan dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Berdasarkan hal di atas maka cara pertama yang hanya akan melakukan penelitian terhadap obyek uji yang mempunyai data yang lengkap merupakan cara yang baik karena cara ini akan mengukur semua karakteristik yang dimiliki oleh obyek uji.

Selain teknik pengukuran kemiripan, ada hal lain yang dapat

mempengaruhi hasil suatu clustering, yaitu teknik bagaimana suatu obyek

dimasukkan/didaftarkan/dilokasikan ke suatu cluster. Beberapa cara yang

(4)

dilakukan untuk menentukan pelokasian suatu obyek ke suatu cluster dapat dilihat pada sub Bab II.3.3.1.1 sampai II.3.3.1.5.

Penggunaan cara pelokasian obyek ke cluster yang menggunakan teknik Average Linkage dan Centroid Linkage akan menghasilkan cluster-cluster yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang menggunakan Single Linkage atau Complete Linkage. Hal ini disebabkan karena perbandingan jarak dilakukan terhadap seluruh obyek yang ada dalam cluster dengan obyek uji sehingga diharapkan menghasilkan tingkat homogenitas obyek dalam cluster yang lebih baik.

Walaupun Average Linkage atau Centroid Linkage dianggap dapat menghasilkan cluster yang baik tapi jika dilihat dari beban proses perhitungan yang dilakukan, proses Centroid Linkage mempunyai beban perhitungan yang lebih ringan karena perhitungan jarak hanya dilakukan terhadap centroidnya saja, sedangkan pada proses average linkage perhitungan jarak dilakukan terhadap semua obyek dalam suatu cluster.

Ada juga hal lain yang harus dilakukan dalam suatu proses clustering yaitu algoritma clustering yang akan digunakan. Umumnya ada 2 cara yang sering digunakan yaitu algoritma clustering hierarki dan non hierarki. Perbandingan antara 2 algoritma itu dapat dilihat pada Tabel III.1 di bawah ini.

Tabel III.1 Perbandingan Algoritma Clustering Hierarki dan Non Hierarki

Hierarki Non Hierarki

Proses Clustering:

- Penyusunan cluster dilakukan dengan menyusun tree.

- Setiap obyek akan dianggap sebuah cluster.

- Setiap pasangan cluster yang mempunyai jarak yang dekat akan digabungkan.

- Proses penggabungan akan dilakukan sampai dihasilkan 1 cluster.

Proses Clustering :

- Banyaknya cluster ditentukan diawal - Secara acak akan dibuat cluster

sebanyak banyak cluster yang diinginkan sebagai cluster awal (initial cluster).

- Tempatkan sebuah obyek di cluster yang mempunyai jarak terdekat.

- Proses penempatan dilakukan sampai

semua obyek telah ditempatkan ke

suatu cluster.

(5)

Kelebihan :

- Tidak ada penentuan banyaknya cluster yang diinginkan, karena cluster yang diinginkan dapat diambil dengan mengambil sub tree yang sesuai.

- Mudah digunakan dengan bentuk similaritas apapun.

- Dapat diaplikasikan untuk atribut yang tidak sejenis.

Kelebihan :

- Hasil cluster bisa lebih cepat dihasilkan.

- Dimungkinkan adanya relokasi obyek ke cluster lain.

- Dimungkinkan untuk melakukan optimalisasi terhadap hasil cluster.

Kekurangan :

- Penyusunan cluster akan dilakukan terus sampai didapatkan 1 cluster yang mencakup semua obyek.

- Pelokasian suatu obyek ke suatu cluster umumnya hanya dilakukan 1 kali, sehingga bisa saja menghasilkan obyek yang berada pada cluster yang bukan seharusnya.

- Tidak dimungkinkan adanya perpindahan suatu obyek ke cluster lain. Hal ini bisa menyebabkan hasil yang tidak optimal.

Kekurangan :

- Penentuan banyaknya cluster dilakukan diawal sebelum proses cluster dilakukan. Jika menginginkan banyak cluster yang berbeda, maka proses clustering harus diulang.

- Hasil cluster akan berbeda-beda tergantung dengan penentuan centroid awal yang dibuat random.

Berdasarkan Tabel III.1 dapat diambil kesimpulan bahwa algoritma non

hierarki dapat menghasilkan cluster yang baik karena memiliki sifat yang bisa

dioptimalkan dan dapat menghasilkan cluster dengan lebih cepat. Tetapi algoritma

ini mempunyai kelemahan yaitu ketergantungan terhadap pemilihan cluster awal

sangat besar. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar III.2 di bawah ini.

(6)

Centroid Awal

Cluster 1

Cluster 2

(a) Hasil Clustering Tanpa Optimalisasi Cluster

Centroid Awal

Cluster 1

Cluster 2

(b) Hasil Cluster Setelah Optimalisasi Cluster Gambar III.2 Ilustrasi Kelemahan Algoritma Non Hierarki

Pada Gambar III.2a dapat dilihat bahwa hasil cluster kurang baik karena ada obyek yang seharusnya berada di cluster 1 berada di cluster 2. Ini dikarenakan obyek tersebut merupakan centroid awal dari cluster 2. Oleh karena itu diperlukan suatu langkah optimalisasi hasil cluster yang dapat melakukan relokasi suatu obyek agar benar-benar berada pada cluster yang lebih baik seperti yang dapat dilihat pada Gambar III.2b.

Berdasarkan pada teknik clustering non hierarki yang biasa digunakan, ada satu algoritma yang mempunyai kemampuan untuk optimalisasi hasil cluster yaitu teknik Optimized Procedure. Dengan teknik ini, maka obyek yang berlokasi di suatu cluster dapat direlokasi ke cluster lain jika mempunyai tingkat kemiripan lebih baik dengan cluster barunya. Bahkan obyek yang direlokasikan mungkin saja obyek yang menjadi centroid awal suatu cluster. Teknik ini akan dapat mengurangi ketergantungan cluster terhadap penentuan centroid awalnya yang dilakukan umumnya secara acak.

Proses terakhir dalam analisis clustering adalah proses validasi cluster

yang sudah dihasilkan. Langkah ini digunakan untuk memeriksa apakah cluster

(7)

telah mempunyai tingkat validasi yang baik yang ditunjukan dengan tingkat konsistensi clusternya. Validasi dilakukan dengan membandingkan hasil cluster dengan hasil cluster yang menggunakan algoritma atau pengukuran yang berbeda.

Didasarkan pada hal-hal di atas, maka sebuah sistem analisis clustering dapat digambarkan sesuai dengan Gambar III.3 di bawah ini.

INPUT (SUMBER DATA) PEMBACAAN

DATA OBJEK UJI (VARIABLE DAN DATA)

PEMILIHAN VARIABLE UJI BERDASARKAN DATA DI

DATA OBJEK UJI

MEMILIH METODE PENGUKURAN SIMILARITAS EUCLIDEAN DISTANCE MANHATTAN DISTANCE MENENTUKAN BANYAK CLUSTER

YANG INGIN DIHASILKAN

MELAKUKAN PEMBERIAN PROFILE/LABEL TERHADAP CLUSTER

MENGUJI KEHANDALAN DAN VALIDITAS CLUSTER PROSES CLUSERING

MENGGUNAKAN OPTIMIZATION PROCEDURE DENGAN EUCLIDEAN DISTANCE

DATA NILAI

VARIABLE/

BOBOT

DB FILE

PROSES CLUSERING MENGGUNAKAN OPTIMIZATION PROCEDURE DENGAN MANHATTAN DISTANCE Memilih Euclidean Distance Memilih Manhattan Distance

EKSPOR DATA CLUSTER

OUTPUT

DB FILE

Gambar III.3 Model Sistem Analisis Clustering

III.2 Deskripsi Perangkat Lunak

Perangkat lunak yang akan dibangun adalah suatu perangkat lunak yang

digunakan untuk melakukan analisis clustering terhadap sekelompok obyek uji

(8)

sehingga menghasilkan cluster-cluster yang dapat mewakili seluruh obyek uji tersebut.

Data hasil proses clustering mungkin saja dijadikan sebagai masukan bagi proses lain misalnya untuk pengambilan keputusan. Dengan melakukan proses analisis clustering terlebih dahulu, seorang pengambil keputusan dapat lebih mudah untuk mengambil keputusan karena obyek penelitian yang diteliti telah tereduksi oleh proses clustering.

Cara kerja dari perangkat lunak ini dapat dilihat pada Gambar III.4 di bawah ini.

PERANGKAT LUNAK ANALISIS CLUSTERING

Data Objek Uji, Variable Uji,

Banyak Cluster yang dihasilkan, Metode Pengukuran Kemiripan

Cluster-Cluster Hasil Analisis

PROSES PENGAMBILAN

KEPUTUSAN Cluster-Cluster, Pertimbangan, Pengetahuan, Prosedur Keputusan

Sistem Pendukung Keputusan

Gambar III.4 Cara kerja perangkat lunak analisis clustering

Berdasarkan Gambar III.4 secara garis besar cara kerja perangkat lunak analisis clustering ini adalah :

1. User memasukkan data obyek uji ke sistem. Data obyek uji adalah data suatu

entitas yang akan diclusterkan. Setiap data obyek uji terdiri dari variable yang

dimiliki dan bobot variablenya. Variable-variable inilah yang akan dijadikan

dasar proses clustering. Data obyek uji bisa berasal dari suatu file atau data

dari suatu basis data. User juga memasukkan parameter clustering yang akan

digunakan oleh proses clustering. Parameter clustering terdiri dari pemilihan

(9)

variable yang akan digunakan untuk pengujian, banyaknya cluster yang ingin dihasilkan dan metode pengukuran kemiripan yang akan digunakan.

2. Sistem melakukan proses analisis clustering sesuai dengan data obyek uji dan parameter clusteringnya. Proses ini akan menghasilkan cluster-cluster hasil proses clustering. Setelah proses clustering dilakukan, maka cluster-cluster itu harus diuji tingkat kevalidannya. Tingkat kevalidan data digunakan untuk memastikan bahwa cluster-cluster dapat mewakili kasus yang dihadapi.

3. Cluster-cluster hasil analisis dikeluarkan oleh perangkat lunak ke pengguna.

4. Cluster-cluster hasil analisis digunakan oleh pengguna sebagai bahan masukan dan diproses dengan menggunakan pertimbangan, aturan-aturan atau prosedur yang ada pada proses pengambilan keputusan. Proses inilah akan menghasilkan keputusan.

Dengan melakukan proses clustering terlebih dahulu, maka proses pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan lebih cepat karena data uji telah menjadi lebih sederhana karena telah dikelompokkan berdasarkan karakteristik datanya. Hal ini memungkinkan peneliti hanya melakukan pengambilan keputusan terhadap data uji pada sebagian cluster saja.

III.3 Batasan-batasan dan Asumsi

Batasan-batasan dan asumsi yang berlaku dalam pengembangan perangkat lunak ini diantaranya adalah :

1. Perangkat lunak ini hanya akan melakukan proses clustering saja, sedangkan untuk pengambilan keputusan tetap dilakukan oleh pengguna sendiri, terutama pada bagian profiling cluster (pemberian label terhadap suatu cluster). Oleh karena itu kemampuan penguasaan pengguna terhadap kasus yang dihadapi sangat diperlukan.

2. Pengguna hanya dapat melakukan pengisian obyek data dari file atau dari

basis data. Pengisian obyek data secara manual tidak disediakan. File masukan

bisa berupa file text atau file Microsoft Excel. Pembacaan data dari basis data

(10)

dapat dilakukan dari basis data apapun dengan melalui koneksi ODBC (Open Database Connectivity).

3. Nilai-nilai variable obyek harus dapat dihitung. Nilai-nilai variable obyek harus berupa bilangan atau setidaknya dapat ditransformasikan ke dalam bentuk bilangan.

4. Perangkat lunak yang akan dibangun akan menggunakan clustering dengan algoritma Optimized Procedure dengan metode pengukuran similaritasnya menggunakan pengukuran Euclidean Distance atau Manhattan Distance.

Algoritma Optimized Procedure dipilih karena algoritma ini memungkinkan sebuah obyek uji berpindah cluster jika memiliki tingkat similaritas yang lebih baik. Jadi tingkat similaritasnya lebih baik.

5. Validasi cluster akan dilakukan dengan melakukan clustering ulang terhadap data obyek uji yang sama tetapi menggunakan teknik pengukuran yang berbeda dengan yang digunakan sebelumnya. Kedua cluster tersebut kemudian dibandingkan untuk melihat tingkat validasi clusternya.

III.4 Analisis Kebutuhan Fungsional

Perangkat lunak yang akan dibangun adalah perangkat lunak bantu untuk pengambilan keputusan menggunakan metode analisis clustering sebagai teknik pengolahan datanya.

Perangkat lunak ini hanya akan memberikan informasi hasil proses clustering saja, sedangkan pengambilan keputusan diambil secara manual oleh pengguna. Perangkat lunak ini tidak memberikan solusi yang harus diambil, tetapi hanya memberikan informasi yang dapat menjadi pertimbangan pengambilan keputusan.

Spesifikasi kebutuhan sistem perangkat lunak ini dapat dilihat pada Table III.2.

Tabel III.2 Daftar Spesifikasi Kebutuhan Fungsional

NO SRS DESKRIPSI

SRS-F-01 Sistem harus menyediakan fasilitas login ketika pengguna akan

(11)

NO SRS DESKRIPSI menggunakan sistem ini.

SRS-F-02 Sistem harus dapat menerima masukan data obyek uji yang bersumber dari file yaitu file text dan file Microsoft Excel yang tersimpan dalam format tertentu

SRS-F-03 Sistem harus dapat menerima masukan data obyek uji yang bersumber dari basis data

SRS-F-04 Sistem harus dapat menerima data nilai variable obyek uji dalam berbagai format baik numerik atau non numerik.

SRS-F-05 Sistem harus dapat menyimpan data obyek uji agar dapat dipergunakan kembali

SRS-F-06 Sistem harus dapat menyediakan pemilihan variable uji yang akan dijadikan sebagai kriteria analisis clustering

SRS-F-07 Sistem harus dapat menyediakan pembobotan variable yang mempunyai pengaruh yang menentukan

SRS-F-08 Sistem harus dapat melakukan transformasi nilai obyek uji jika nilai tersebut berupa non numerik

SRS-F-09 Sistem menyediakan fasilitas pemilihan metode pengukuran similaritas menggunakan Euclidean Distance atau Manhattan Distance.

SRS-F-10 Sistem harus dapat melakukan proses clustering menggunakan algoritma Optimized Procedure.

SRS-F-11 Sistem harus dapat menyediakan fasilitas pemberian label pada cluster.

SRS-F-12 Sistem harus dapat menyediakan fasilitas untuk memvalidasi cluster hasil clustering

SRS-F-13 Sistem harus dapat menyediakan fasilitas melihat kembali analisis clustering yang telah dilakukan

SRS-F-14 Sistem harus dapat menyediakan fasilitas menghapus data analisis clustering yang telah dilakukan

SRS-F-15 Sistem harus dapat mengekspor cluster hasil clustering ke dalam format ke

file seperti file Microsoft Excel, file text, dan file SQL (untuk digunakan

dalam basis data)

(12)

III.5 Analisis Kebutuhan Non Fungsional

Kebutuhan non fungsional dari perangkat lunak yang akan dibangun dapat dilihat pada Tabel III.3 di bawah ini.

Tabel III.3 Daftar Spesifikasi Kebutuhan Non Fungsional

NO SRS DESKRIPSI

SRS-NF-01

Performansi

sistem harus dapat melakukan clustering sesuai dengan data yang disediakan oleh pengguna. Sistem harus dapat menangani banyaknya dimensi dan banyaknya obyek penelitian yang diberikan oleh pengguna.

SRS-NF-02

Portabilitas

Sistem harus dapat melakukan pemasukan data dari beberapa sumber seperti dari file text atau basis data. Sumber data berupa basis data boleh berasal dari basis data yang terkoneksi dengan layanan ODBC (Open Database Connectivity). Sistem bisa berada dalam komputer yang sama dengan komputer server atau terpisah dari komputer server datanya.

SRS-NF-03

Ketepatan

Sistem harus dapat melakukan cluster dengan benar. Hasil cluster harus konsisten. Hal ini dilakukan dengan melakukan validasi cluster ketika proses clustering dilakukan. Salah satu proses yang dilakukan agar sistem dapat menjamin tingkat ketepatan ini adalah dengan membandingkan clustering dari clustering yang menggunakan teknik pengukuran yang berbeda.

SRS-NF-04

Reuseability

Sistem harus dapat menghasilkan cluster yang dapat digunakan dalam sistem lain. Hal ini dilakukan dengan melakukan proses ekspor data hasil cluster ke dalam beberapa format misalnya file text, file Microsoft excel dan dalam file SQL yang dapat digunakan dalam basis data lain.

SRS-NF-05

Flexibility

Sistem harus dapat melakukan clustering terhadap obyek data sesuai

dengan aturan dan variable-variable yang terlibat. Pemilihan variable yang

terlibat dalam suatu proses clustering dapat dipilih oleh pengguna. Sistem

harus dapat menyediakan layar untuk pemilihan variable.

(13)

III.6 Arsitektur Sistem Yang Akan Dibangun

Secara garis besar arsitektur perangkat lunak yang akan dibangun terdiri dari 4 modul yaitu :

1. Modul Pendefinisian Proyek Clustering

Modul ini berguna untuk mengelola proyek clustering. Ada beberapa proses yang ada dalam modul ini, yaitu :

a. Penambahan Proyek Clustering

Proses ini berguna untuk melakukan pembuatan proyek clustering baru.

b. Pengolahan Proyek Clustering

Proses ini berguna untuk mengolah proyek cluster yang telah dilakukan.

Proses ini mempunyai relasi ke modul Input Data Obyek Uji untuk melakukan pembacaan data, modul Proses Analisis Clustering untuk melakukan proses clustering, dan modul Output Data Cluster untuk melakukan penyimpanan cluster hasil clustering ke basis data atau ke target lain seperti ke file text atau file Microsoft Excel.

c. Penghapusan Proyek Clustering

Proses ini berguna untuk menghapus data proyek cluster yang telah dilakukan yang telah tidak diperlukan lagi. Penghapusan dilakukan terhadap data uji dan data clusternya.

2. Modul Input Data Obyek Uji

Modul ini berguna untuk mengatur input data obyek uji. Modul ini terdiri dari beberapa proses, yaitu :

a. Pembacaan Data dari Database Lain

Proses ini berguna untuk melakukan pembacaan data obyek uji yang bersumber dari suatu database. Pembacaan dilakukan dengan melakukan query data ke database tersebut.

b. Pembacaan Data dari File

Proses ini berguna untuk melakukan pembacaan data dari file. Format file yang bisa dibaca adalah file text atau file Microsoft Excel.

c. Pengaturan Nilai Transformasi

(14)

Proses ini berguna untuk melakukan pengaturan nilai transformasi nilai untuk nilai-nilai variable data yang bersifat bukan numerik.

d. Pengaturan Variable

Proses ini berguna untuk melakukan pengaturan variable beserta bobotnya yang akan digunakan untuk proses clustering.

3. Modul Proses Analisis Clustering

Modul ini berguna untuk melakukan proses analisis clustering. Modul ini terdiri dari beberapa proses yaitu :

a. Pengaturan Parameter Clustering

Proses ini berguna untuk melakukan pengaturan parameter-parameter clustering yang akan dilakukan. Pengaturan dilakukan untuk menentukan parameter clustering seperti banyak cluster yang diinginkan dan algoritma pengukuran similaritas.

b. Proses Clustering

Proses ini berguna untuk melakukan proses clustering sesuai dengan parameter yang telah ditentukan dengan menggunakan algoritma Optimizing Procedure.

c. Interpretasi Cluster

Proses ini berguna untuk menginterpretasi cluster misalnya dengan memberkan label terhadap suatu cluster. Pemberian label diperlukan dalam proses analisis clustering karena analisis cluster merupakan analisis data multivariate yang bersifat unsupervised.

d. Validasi Cluster

Proses ini dilakukan untuk untuk memvalidasi cluster hasil clustering.

4. Modul Output Data Cluster

Modul ini berguna untuk melakukan pengaturan terhadap data cluster hasil proses clustering. Proses yang ada dalam modul ini adalah :

a. Penyimpanan Data Cluster ke Database

Proses ini digunakan untuk melakukan penyimpanan data cluster ke basis data milik sistem ini. Data yang disimpan ke basis data ini dapat diolah kembali atau dihapus.

b. Export Data Cluster

(15)

Export data cluster terbagi menjadi 2 yaitu export data ke basis data lain yaitu dengan menyusun perintah SQL dan ekspor data ke file misalnya ke file text atau file Microsoft Excel.

Hubungan antar modul – modul yang terlibat dalam sistem ini dapat dilihat dengan lengkap pada Gambar III.5 di bawah ini.

PENDEFINISIAN PROYEK CLUSTERING INPUT DATA OBYEK UJI

PEMBACAAN DATA DARI DATABASE

PEMBACAAN DATA DARI FILE (FILE TEXT /

MS EXCEL)

OUTPUT DATA CLUSTER

KE DATABASE LAIN (FILE SQL)

KE FILE (FILE TEXT / MS

EXCEL) EXPORT DATA CLUSTER TAMBAH PROYEK CLUSTERING BARU

DATA OBYEK UJI

DATA OBYEK UJI

DATA CLUSTER

ANALISA CLUSTERING

PENGATURAN PARAMETER CLUSTERING

PROSES CLUSTERING MENGGUNAKAN ALGORITMA

OPTIMIZING PROCEDURE

INTERPRETASI CLUSTER

VALIDASI CLUSTER LOGIN

DATA CLUSTER PENGOLAHAN PROYEK CLUSTERING

HAPUS PROYEK CLUSTERING LAMA PENGATURAN VARIABLE DAN

BOBOT

PENGATURAN NILAI TRANSFORMASI DB SUMBER

OBYEK UJI FILE TEXT/

EXCEL SUMBER OBYEK UJI

Gambar III.5 Arsitektur Perangkat Lunak Yang Akan Dibangun

(16)

III.7 Diagram Use Case

Diagram use case sistem yang akan dibangun dapat dilihat pada Gambar III.6 di bawah ini.

Gambar III.6 Diagram Use Case Sistem

Berdasarkan pada gambar III.6, ada 12 use case utama yang ada dalam sistem yang akan dikembangkan, yaitu :

1. Use Case Login

2. Use Case Pendefinisian Proyek Clustering 3. Use Case Penambahan Proyek Clustering 4. Use Case Pengolahan Proyek Clustering 5. Use Case Penghapusan Proyek Clustering 6. Use Case Input Obyek Uji

7. Use Case Pengaturan Variable

8. Use Case Pengaturan Nilai Transformasi 9. Use Case Clustering

10. Use Case Validasi Cluster

11. Use Case Pelabelan Cluster

12. Use Case Output Cluster

(17)

III.7.1 Skenario Use Case Login

Nama Login

Deskripsi Use case ini menggambarkan pemeriksaan autentifikasi pengguna.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal Sistem menampilkan layar pengisian nama user dan password

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna mengisi nama user dan password

Sistem memvalidasi nama user dan password. Jika status loginnya valid, maka sistem akan menampilkan pendefinisian proyek. Jika tidak valid, maka sistem akan menampilkan layar pengisian nama user dan password kembali.

Kondisi akhir Status validasi login pengguna telah teridentifikasi.

III.7.2 Skenario Use Case Pendefinisian Proyek Clustering

Nama Pendefinisian Proyek Clustering

Deskripsi Use case ini menggambarkan pendefinisian proyek clustering yang baru atau yang telah dilakukan.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal - Pengguna telah melakukan login dengan status login valid - Sistem menampilkan pilihan operasi proyek clustering yang

bisa dilakukan oleh pengguna yaitu penambahan, pengolahan dan hapus proyek clustering.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

(18)

Pengguna memilih operasi proyek clustering yang ingin dilakukan

Skenario Alternatif : Pengguna memilih penambahan data

Sistem akan menampilkan layar penambahan proyek clustering

Pengguna mengisi data identitas proyek clustering.

Data identitas proyek clustering disimpan ke basis data

Sistem membuka layar pengolahan proyek clustering.

Skenario Alternatif : Pengguna memilih pengolahan proyek clustering

Sistem membuka layar pengolahan proyek clustering.

Skenario Alternatif : Pengguna memilih Penghapusan proyek clustering

Sistem menampilkan konfirmasi penghapusan data proyek clustering Pengguna memilih konfirmasi

penghapusan.

Jika dikonfirmasi, maka data proyek clustering dihapus dari basis data.

Kondisi akhir Pengguna memilih operasi proyek clustering yang akan dilakukan

III.7.3 Skenario Use Case Penambahan Proyek Clustering

Nama Penambahan Proyek Clustering

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses penambahan suatu proyek clustering.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal Pengguna sedang berada pada pengelolaan proyek clustering

(19)

Aksi Aktor Reaksi Sistem Pengguna memilih untuk melakukan

penambahan proyek clustering.

Sistem menampilkan layar pembuatan proyek clustering baru

Pengguna mengisi data proyek clustering baru (Nama Proyek, Deskripsi).

Sistem akan menyimpan data proyek clustering baru tersebut ke basis data, kemudian sistem akan memanggil sub sistem pendefinisian proyek clustering.

Kondisi akhir Proyek clustering baru telah tersimpan di basis data (data yang akan dianalisis dan data hasil analisis clustering)

III.7.4 Skenario Use Case Pengolahan Proyek Clustering

Nama Pengolahan Proyek Clustering

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses pengolahan sebuah proyek clustering. Dalam proses ini pengguna boleh melakukan input data obyek uji, proses clustering, dan output data cluster.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal - Proyek clustering tersimpan dalam basis data.

- Sistem menampilkan operasi yang bisa dilakukan

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih input data obyek uji.

Sistem memanggil use case input data obyek uji

Pengguna memilih pengaturan variable

Sistem memanggil use case pengaturan variable

Pengguna memilih pengaturan nilai

(20)

transformasi

Sistem memanggil use case pengaturan nilai transformasi

Pengguna memilih proses clustering

Sistem memanggi use case clustering.

Pengguna memilih pelabelan cluster

Sistem memanggil use case pelabelan cluster

Pengguna memilih validasi cluster

Sistem memanggil use case validasi cluster

Pengguna memilih output data cluster

Sistem memanggil use case output data cluster.

Kondisi akhir Pengguna dapat melihat data proyek clustering dan dapat melakukan proses clustering ulang.

III.7.5 Skenario Use Case Penghapusan Proyek Clustering

Nama Penghapusan Proyek Clustering

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses menghapus data proyek clustering yang telah dilakukan. Penghapusan suatu proyek clustering akan menghapus semua data yang berelasi dengan project tersebut.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal Data proyek clustering yang pernah dilakukan ada di basis data

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih proyek clustering yang akan dihapus.

Sistem menampilkan konfirmasi

penghapusan data proyek clustering.

(21)

Pengguna memilih apakah akan menghapus data proyek clustering atau membatalkannya.

- Jika pengguna memilih untuk menghapus data proyek clustering, maka sistem akan menghapus semua data yang berelasi dengan proyek tersebut.

- Jika pengguna membatalkan penghapusan, maka sistem akan kembali ke pendefinisian proyek clustering.

Kondisi akhir Data proyek clustering terhapus dari basis data jika pengguna memilih untuk melakukan penghapusan.

III.7.6 Skenario Use Case Input Obyek Uji

Nama Input Obyek Uji

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses input data obyek uji.

Aktor Pengguna

Skenario Utama Kondisi awal - Proyek clustering telah dibuat.

- Sistem menampilkan layar pembacaan data obyek uji.

- Sistem menampilkan pilihan sumber data obyek uji.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih sumber obyek uji

Sistem membaca data dan menampilkannya di layar pembacaan data.

Sistem menampilkan pilihan menyimpan data obyek uji atau membatalkan pembacaan datanya.

Pengguna memilih menyimpan data

obyek uji.

(22)

Sistem menyimpan data obyek uji ke basis data, dan layar pembacaan data ditutup dan kembali ke pengolahan proyek clustering.

Skenario Alternatif : Pemilih memilih pembatalan pembacaan data

Sistem tidak menyimpan data obyek uji ke basis data, dan kembali ke pengolahan proyek clustering.

Kondisi akhir Data obyek uji untuk proses analisis cluster telah tersimpan di basis data sehingga dapat digunakan untuk proses clustering.

III.7.7 Skenario Use Case Pengaturan Variable

Nama Pengaturan Variable

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses pengaturan variable yang akan digunakan dalam analisis clustering. Pengaturan variable dilakukan dengan mengupdate bobot variable.

Aktor Pengguna

Skenario Utama Kondisi awal - Data obyek uji telah dibaca.

- Sistem menampilkan variable yang dibaca dari obyek uji.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih variable yang akan diatur/diedit.

Sistem menampilkan layar pengeditan bobot variable.

Pengguna mengisi bobot variable.

Sistem menyimpan bobot variable ke basis data.

Kondisi akhir Bobot variable telah diatur dan disimpan dalam basis data dan

dapat dalam proses clustering.

(23)

III.7.8 Skenario Use Case Pengaturan Nilai Transformasi

Nama Pengaturan Nilai Transformasi

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses pengaturan nilai transformasi yang akan digunakan dalam analisis clustering.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal - Data obyek uji telah dibaca, dan memiliki nilai variable yang bukan numerik.

- Sistem menampilkan data variable yang bukan numerik yang dibaca dari obyek uji.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih data variable bukan numerik yang akan diatur/diedit.

Sistem menampilkan layar pengisian nilai transformasi untuk data variable yang bukan numerik.

Pengguna mengisi nilai

transformasinya.

Sistem menyimpan nilai transforamsi ke basis data.

Kondisi akhir Nilai transformasi telah diatur dan disimpan dalam basis data dan dapat dalam proses clustering.

III.7.9 Skenario Use Case Clustering

Nama Clustering

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses clustering

Aktor Pengguna

Skenario Utama

(24)

Kondisi awal Data yang akan dianalisis telah tersedia, variable, dan nilai transformasi telah diatur.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih untuk melakukan clustering

Sistem akan menampilkan layar pengaturan parameter clustering.

Pengguna mengisi parameter clustering

Sistem akan melakukan clustering sesuai parameter clustering.

Sistem menyimpan cluster hasil clustering ke basis data.

Sistem menampilkan cluster hasil clustering di layar output cluster.

Kondisi akhir Proses clustering telah dilakukan, data cluster telah disimpan di basis data dan pengguna dapat melihatnya di layar output cluster.

III.7.10 Skenario Use Case Validasi Cluster

Nama Validasi cluster

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses validasi cluster

Aktor Pengguna

Skenario Utama Kondisi awal Proses clustering telah dilakukan.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih untuk melakukan validasi cluster

Sistem akan melakukan clustering

untuk membuat cluster-cluster

pembanding sesuai parameter clustering

yang telah dilakukan sebelumnya, tetapi

menggunakan metode pengukuran yang

berbeda.

(25)

Sistem menampilkan cluster hasil clustering dan cluster-cluster pembandingnya di layar validasi cluster.

Pengguna mengisi status validasi cluster.

Sistem menyimpan status validasi cluster ke basis data.

Kondisi akhir Pengguna telah memvalidasi cluster dan menyimpan status validasinya di basis data.

III.7.11 Skenario Use Case Pelabelan Cluster

Nama Pelabelan Cluster

Deskripsi Use case ini menggambarkan proses pemberian label terhadap cluster hasil clustering.

Aktor Pengguna

Skenario Utama Kondisi awal - Proses clustering telah dilakukan.

- Sistem menampilkan cluster hasil proses clustering.

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih cluster yang akan diberi label.

Sistem menampilkan layar pengisian label cluster.

Pengguna mengisi label cluster.

Sistem menyimpan label cluster ke basis data.

Kondisi akhir Cluster telah diberi label dan disimpan dalam basis data.

III.7.12 Skenario Use Case Output Data Cluster

(26)

Nama Output Data Cluster

Deskripsi Use case menggambarkan proses output data cluster hasil proses clustering. Data cluster dapat disimpan/diexport ke basis data lain atau ke file.

Aktor Pengguna

Skenario Utama

Kondisi awal - Data cluster yang berasal dari proses analisis clutering telah didapatkan.

- Sistem akan menampilkan pilihan format export data yang akan dilakukan (file teks, file excel atau file sql).

Aksi Aktor Reaksi Sistem

Pengguna memilih format ekspor data yang dilakukan dan nama file tujuan ekspor.

Skenario Alternatif : Pengguna memilih eksport ke file SQL

Sistem akan menyimpan data cluster ke file text,

Skenario Alternatif : Pengguna memilih eksport ke file Excel

Sistem akan menyimpan data cluster ke file excel

Skenario Alternatif : Pengguna memilih eksport ke file Text

sistem akan menyimpan data cluster ke file text

Kondisi akhir Data cluster telah diekspor sesuai format yang dipilih.

III.8 Realisasi Use Case

III.8.1 Realisasi Use Case Login

Use case login melibatkan 3 kelas yaitu TLayarLogin sebagai kelas boundary, TLogin dan TDBAkses sebagai kelas control.

Gambar III.7 Diagram Kelas Use Case Login

(27)

Kelas TLayarLogin menerima masukan username dan password dari pengguna. Kelas TLogin melakukan pemeriksaan login ke basis data menggunakan kelas TDBAkses. Pemeriksaan ini akan menghasilkan status login valid atau tidak valid.

Gambar III.8 Sequence Diagram Login III.8.2 Realisasi Use Case Pendefinisian Proyek Clustering

Use case ini melibatkan 3 kelas yaitu TPengelolaanProyekClustering dan TFTambahProyek sebagai kelas boundary, dan kelas TAnalisisClustering sebagai kelas control.

Gambar III.9 Diagram Kelas Use Case Pendefinisian Proyek Clustering

Pengguna memilih operasi yang akan dilakukan pada kelas

TPengelolaanProyekClustering. Jika akan melakukan penambahan proyek

clustering baru, maka pengisian data proyek clusteringnya dilakukan pada kelas

TFTambahProyek. Pengolahan data dilakukan pada kelas TAnalisisClustering.

(28)

Gambar III.10 Sequence Diagram Pendefinisian Proyek Clustering III.8.3 Realisasi Use Case Penambahan Proyek Clustering Baru

Use case ini melibatkan 4 kelas yaitu TPengelolaanProyekClustering dan FTambahProyek sebagai boundary, TProyekClustering sebagai kelas entity dan TAnalisisClustering sebagai kelas control.

Gambar III.11 Diagram Kelas Use Case Penambahan Proyek Clustering

Ketika pengguna memilih tambah proyek, maka akan diminta untuk

memasukan data proyek di kelas FTambahProyek. Kemudian data proyek akan

disimpan di kelas TProyekClustering dan kemudian data proyek tersebut akan

diolah menggunakan kelas TAnalisisClustering.

(29)

Gambar III.12 Sequence Diagram Penambahan Proyek Clustering Baru III.8.4 Realisasi Use Case Pengolahan Proyek Clustering

Use case ini melibatkan 8 kelas. Ada 7 kelas boundary yang terlibat yaitu TDataReader, TLayarUpdateVariable, TLayarUpdateNilaiTransformasi, TClusterValidator, TLayarAturParameter, TLayarLabelCluster dan TDataEksporter. Semua kelas boundary dikendalikan oleh sebuah kelas control yaitu TAnalisisClustering.

Gambar III.13 Diagram Kelas Use Case Pengolahan Proyek Clustering

Pada use case ini, pengguna memulai dengan mengisikan data obyek uji

pada kelas TDataReader, kemudian pengguna melakukan pengaturan variable

pada kelas TLayarUpdateVariable. Pengguna dapat mengatur nilai transformasi

pada kelas boundary TLayarUpdateNilaiTransformasi. Kemudian untuk

melakukan proses clustering, pengguna mengisi parameter clustering di kelas

(30)

TLayarAturParameter. Kemudian dilakukan proses clustering. Hasil clustering ditampilkan dan label cluster dapat diupdate menggunakan kelas TLayarLabelCluster. Hasil clustering yang divalidasi dengan menggunakan TClusterValidator. Hasil akhir cluster diekspor dengan memanfaatkan kelas TDataExporter.

Gambar III.14 Sequence Diagram Pengolahan Proyek Clustering III.8.5 Realisasi Use Case Penghapusan Proyek Clustering

Use case ini melibatkan 2 kelas yaitu TPengelolaanProyekClustering sebagai kelas boundary dan TDBAkses sebagai kelas control.

Gambar III.15 Kelas Diagram Use Case Penghapusan Proyek Clustering

Pada use case ini, urutan proses dilakukan ketika pengguna memilih untuk

menghapus proyek clustering. Kemudian kelas TPengelolaanProyekClustering

akan memberikan konfirmasi mengenai penghapusan. Jika penghapusan telah

dikonfirmasi, maka sistem akan melakukan penghapusan data obyek uji dan data

cluster dari basis data dengan menggunakan kelas TDBAkses.

(31)

Gambar III.16 Sequence Diagram Penghapusan Proyek Clustering

III.8.6 Realisasi Use Case Input Data Obyek Uji

Use case ini melibatkan 8 kelas yaitu TAnalisisClustering, TDataReader, TObyekUji, TObyekUjiVarList, TObyekUjiList, TVariableList, TNilaiTransformasiList dan TDBAkses.

Gambar III.17 Diagram Kelas Use Case Input Data Obyek Uji

Urutan proses dalam use case ini dimulai ketika pengguna melakukan

pemilihan sumber data obyek uji. Obyek uji dibaca dengan menggunakan kelas

TDataReader. Ketika pembacaan data dilakukan, maka data-data tersebut akan

disimpan dalam kelas entitas TObyekUji, TObyekUjiVarList, TObyekUjiList,

TVariableList, TNilaiTransformasiList dan kemudian akan disimpan ke basis data

dengan perantaraan kelas TDBAkses.

(32)

Gambar III.18 Sequence Diagram Input Data Obyek Uji III.8.7 Realisasi Use Case Pengaturan Variable

Use case pengaturan variable melibatkan 4 kelas yaitu TAnalisisClustering, TLayarUpdateVariable, TVariableList dan TDBAkses.

Gambar III.19 Sequence Diagram Pengaturan Variable

Urutan proses yang terjadi dalam use case ini dimulai ketika pengguna

memilih variable yang akan diupdate di kelas TAnalisisClustering. Kemudian

sistem akan menampilkan kelas TLayarUpdateVariable untuk melakukan

pengisian bobot variable. Kemudian data bobot baru variable akan diupdate ke

(33)

kelas entitas TVariableList dan diupdate ke basis data dengan menggunakan kelas TDBAkses.

Gambar III.20 Sequence Diagram Pengaturan Variable III.8.8 Realisasi Use Case Pengaturan Nilai Transformasi

Use case pengaturan nilai transformasi melibatkan 4 kelas yaitu TAnalisisClustering, TLayarUpdateNilaiTransformasi, TNilaiTransformasiList dan TDBAkses.

Gambar III.21 Kelas Diagram Use Case Pengaturan Nilai Transforamsi Urutan proses yang terjadi dalam use case ini dimulai ketika pengguna memilih nilai transformasi yang akan diupdate di kelas TAnalisisClustering.

Kemudian sistem akan menampilkan kelas TLayarUpdateNilaiTransformasi untuk

melakukan pengisian nilai transformasi baru. Kemudian data nilai transformasi

baru akan diupdate ke kelas entitas TNilaiTransformasiList dan diupdate ke basis

data dengan menggunakan kelas TDBAkses.

(34)

Gambar III.22 Sequence Diagram Pengaturan Nilai Transformasi III.8.9 Realisasi Use Case Clustering

Use case ini melibatkan 6 kelas yaitu TAnalisis Clustering, TObyekUjiList, TClusterList, TClusterMemberList, dan TDBAkses.

Gambar III.23 Kelas Diagram Use Case Clustering

Urutan proses dalam realisasi use case ini adalah dimulai dengan pengisian

parameter clustering di kelas TLayarAturParameter, kemudian dilakukan proses

clustering. Proses clustering akan mengupdate cluster-cluster dalam TClusterList

dan TClusterListMember. Cluster-cluster hasil clustering disimpan ke basis data

dengan perantaraan kelas TDBAkses.

(35)

Gambar III.24 Sequence Diagram Clustering III.8.10 Realisasi Use Case Validasi Cluster

Realisasi use case ini melibatkan 3 kelas yaitu TAnalisisClustering, TClusterValidator dan TDBAkses.

Gambar III.25 Kelas Diagram Use Case Validasi Cluster

Proses validasi cluster dimulai ketika pengguna memilih validasi cluster.

Hal ini akan menyebabkan pengeksekusian proses clustering untuk mencari

cluster pembanding. Hasil cluster pembanding dan hasil clustering asli

ditampilkan dalam kelas TClusterValidator. Pengguna kemudian mengisi status

validasi. Status validasi akan diupdate ke basis data melalui TDBAkses.

(36)

Gambar III.26 Sequence Diagram Validasi Cluster III.8.11 Realisasi Use Case Pelabelan Cluster

Realisasi use case pelabelan cluster melibatkan 4 kelas yaitu TAnalisisClustering, TLayarLabelCluster, TClusterList dan TDBAkses.

Gambar III.27 Kelas Diagram Use Case Pelabelan Cluster

Urutan proses yang terjadi dalam realisasi use case ini dimulai ketika

pengguna menampilkan cluster, kemudian pengguna memilih untuk mengupdate

nama cluster. Sistem akan menampilkan kelas TLayarLabelCluster untuk tempat

pengisian nama cluster. Setelah nama baru cluster diisi, maka nama baru cluster

tersebut diupdatekan ke TClusterList dan disimpan ke basis data melalui kelas

TDBAkses.

(37)

Gambar III.28 Sequence Diagram Pelabelan Cluster III.8.12 Realisasi Use Case Output Data Cluster

Use case output data cluster melibatkan 4 kelas yaitu TAnalisisClustering, TDataExporter, TClusterList dan TClusterMemberList.

Gambar III.29 Diagram Kelas Use Case Output Data Cluster

Urutan proses yang terjadi di use case ini adalah ketika pengguna memilih

format tujuan ekspor cluster. Ketika memilih untuk ekspor cluster, maka sistem

akan menampilkan kelas TDataExporter untuk melakukan proses cluster. Kelas

ini akan mengambil data dari TClusterList dan TClusterMember yang kemudian

akan disimpan dalam file tujuan ekspor cluster.

(38)

Gambar III.30. Sequence Diagram Output Data Cluster

(39)

III.9 Diagram Kelas Keseluruhan Tahap Analisis

Gambar III.31 Diagram Kelas Keseluruhan Tahap Analisis

Berdasarkan kepada Gambar III.31, kelas-kelas yang digunakan dalam sistem yang akan dibangun dapat dilihat pada Tabel III.4.

Tabel III.4. Deskripsi Kelas

No Nama Kelas Jenis Daftar Tanggung-Jawab

1. TVariable Entity Menyimpan data sebuah variable dan bobotnya.

2. TVariableList Entity Menyimpan data sekumpulan variable.

3. TObyekUjiVarList Entity Menyimpan sebuah variable dan nilai yang dimiliki oleh sebuah obyek uji 4. TObyekUji Entity Menyimpan sebuah data obyek uji.

5. TObyekUjiList Entity Menyimpan sekumpulan obyek uji 6. TNilaiTransformasi Entity Menyimpan sebuah nilai transformasi.

7. TNilaiTransformasiList Entity Menyimpan sekumpulan nilai-nilai transformasi.

8. TClusterVarList Entity Menyimpan variable dan nilai yang dimiliki oleh sebuah cluster

9. TCluster Entity Menyimpan sebuah data cluster hasil proses clustering.

10. TClusterList Entity Menyimpan semua data cluster hasil proses clustering

11. TClusterMemberList Entity Menyimpan data obyek uji yang menjadi anggota suatu cluster

12. TProyekClustering Entity Menyimpan data sebuah proyek clustering.

13. TDBAkses Control Melakukan hubungan dengan basis data

(40)

No Nama Kelas Jenis Daftar Tanggung-Jawab

14. TDataReader Boundary Melakukan pembacaan data obyek uji 15. TDataExporter Boundary Melakukan ekspor data cluster.

16. TLogin Control Digunakan untuk proses pemeriksaan data login.

17. TLayarLogin Boundary Antarmuka untuk proses login

18. TTambahProyek Boundary Digunakan untuk pengisian proyek clustering baru.

19. TPengelolaanProyekCluste ring

Control Mengelola proyek-proyek clustering yang telah dilakukan

20. TAnalisisClustering Control Melakukan proses analisis Clustering 21. TLayarUpdateVariable Boundary Antarmuka untuk update variable 22. TLayarUpdateNilaiTransfo

rmasi

Boundary Antarmuka untuk update nilai transformasi

23. TLayarLabelCluster Boundary Antarmuka untuk pelabelan cluster 24. TClusterValidator Boundary Digunakan untuk proses validasi cluster.

25. TLayarAturParameter Boundary Antarmuka pengisian parameter

clustering

Gambar

Gambar III.1. Contoh pengukuran tingkat kemiripan
Tabel III.1 Perbandingan Algoritma Clustering Hierarki dan Non Hierarki
Gambar III.3  Model Sistem Analisis Clustering
Gambar III.4 Cara kerja perangkat lunak analisis clustering
+7

Referensi

Dokumen terkait

Try Scribd FREE for 30 days to access over 125 million titles without ads or interruptions. Start

Penelitian ini menggunakan dua variabel independen, maka langkah-langkah pengujian hipotesis yang digunakan dalam analisis regresi data panel dijelaskan pada uraian

Angket menurut Sugiyono (2010, hlm.194), sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya,

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh seperti suhu rektal di atas 38 °C yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial.

Penelitian ini bertujuan mengetahui cara pembuatan nanopartikel kitosan melalui metode sonokimia; gelasi ionotropik; dan kompleks polielektrolit, dan pengaruh variasi

• Mencermati pengertian, metode penyelesaian, kurva persamaan dalam sistem pertidaksamaan kuadrat dua variabel, dan penerapannya pada masalah nyata dari berbagai sumber belajar.

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang

Menurut Scott (2009) alasan apapun yang dapat digunakan manajer dalam memilih suatu kebijakan akuntansi dari sekumpulan akuntansi agar dapat meraih tujuannya