• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemitraan Asian Agri - Petani Sawit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kemitraan Asian Agri - Petani Sawit"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Kemitraan Asian Agri - Petani Sawit

(2)

Konteks fundamental 1: Kemitraan sebagai model bisnis

Kesepakatan kontraktual antar mitra dalam agribisnis:

kewajiban penjual (petani) sebagaimana disepakati (harga, volume, delivery, mutu, dll

kewajiban pembeli (perusahaan agribisnis )

Model bisnis usahatani (kecil, menengah)

Model bisnis perusahaan pembeli (traders, processors

)

Manajemen

Kemitraan

Kemitraan dalam bentuk Manajemen Model Bisnis

Landasan legal Komitmen sukarela

 Kesepakatan : formal atau inormal, dalam bentuk verbal atau tertulis

 Kontrak bisa secara individual, bisa berkelompok

 Deskripsi kewajiban/komtenmen bisa samar bisa spesifik dan logis

 Kontrak bisa diperbarui tiap musim atau dibuat jangka panjang

 Spesifikasi bisa didasarkan pada negosiasi tiap kasus atau mengikuti ketentuan praktis sektor yg berlaku

(3)

Manfaat Kemitraan

• Reduction of the market access risk

• Transfer of knowledge and technologies

• Improved income and

livelihood • Reduction of unit

production costs

• Reduction of unit transaction costs

• Reduction of post- harvest losses

• Reduction of supply (raw material) risks

• Assurance of product quality/ traceability

• Facilitation of access to new markets

Bagi petani

Manfaat bagi perusahaan

pembeli Manfaat

transaksional

PRODUKSI PERDAGANGAN PENGOLAHAN KONSUMSI

(4)

Pemilihan model bisnis dan rencana bisnis

Pada tiap kasus diperlukan kajian individual tentang keadaan setempat mengikuti asas:

Kesetaraan dan transparansi

Rencana bisnis dan rencana manajemen

Manfaat kontrak (insentif atas ketaatan dan komitmen)

Mekanisme/cara penyelesaian sengketa/perselisihan Value Chain (VC)

analysis focusing on:

Economics (value- added, profit

margins, production

& transaction costs, etc.)

Social impacts

Environmental impacts

Selection of business model based on principles:

CF business plan:

Brief analysis, objectives, business partners, product requirements, marketing/ development/

financial plans, funding

CF Management plan:

Field operations plan, staffing, responsibilities

Farming contract:

 Legal obligations (freedom to contract, good faith, force majeure, performance, non-

performance, dispute settlement)

 Farmers’ and buyers’ obligations

 Pricing, marketing & payment terms

(5)

Prinsip dan Model

Kemitraan yang

mungkin

Source: Technoserve and IFAD (2011); http://www.ifad.org/ruralfinance/pub/technoserve.pdf ; p.3

(6)

CF fundamentals: Kecocokan kemitraan untuk beberapa komoditi

Source: Technoserve and IFAD (2011); http://www.ifad.org/ruralfinance/pub/technoserve.pdf ; p.10

(7)

Faktor Keberhasilan dan Kegagalan : internal kemitraan

Faktor pembawa Keberhasilan :

Trust & scope of negotiation:

trust is the foundation for success; trust builds on fair give-and-take relations & equal voice

Economic viability & incentives:

CF is a commercial agreement that can only be viable and sustainable if farmers & buyers realise a cost- benefit-‘plus’

CF arrangements & risks:

CF bears risks requiring arrangements for sharing

ownership as well as distributing and minimising risks of conjoint investments

Technology transfer & innovation:

adoption of technologies & innovations can stimulate productivity and chain efficiency, provided embedded or external services contribute to building required

capacities

Investment climate & external support

Sound analysis & planning

Penyebab Kegagalan :

Ill-informed investment decision-making

& lack of awareness on business risks

Producers/ buyers relying on

development partners for business decision-making

Low productivity and trade-off between household food security and CF crops

Uneven negotiation power &

intransparent communication by buyers

Contract default by farmers or buyers due to lack of trust, short-sighted opportunistic behaviour overriding possible long-term benefits

Failure to build solutions for contract

default into contracts (dispute resolution

mechanisms or insurance against external

risks)

(8)

Faktor Keberhasilan dan Kegagalan: faktor eksternal

Faktor pembawa Keberhasilan :

Monetary incentives

reduced transaction costs thanks to direct linkages (e.g. reduced screening and default costs)

reduced price risk for agreed quota based on preagreed

prices or price calculation formula

Non-monetary incentives

specific crop characteristics (e.g.

perishability

requiring efficient collection and delivery) better access to up-market segments requiring

compliance with (local/ global) standards

Penyebab Kegagalan :

sample market imperfections

fragile vertical linkages along the value chains result in high production and marketing risks for producers and high supply and sales risks for buyers

 inadequate road and market infrastructure

Failure to access to rural finance services, necessary investments

Weak rule of law

Unfavourable macroeconomic conditions

(9)

Structure and content

Conceptual foundations:

Definitions

Incentives & disincentives

Conditions for success & failure

CF business models

Crop suitability

Phase 1:

Initiate & plan

Step 1: Decision to develop a CF scheme

Step 2: Assessment of capacity dev. needs Step 3: Development of a

CF business plan

Phase 2:

Implement & learn

Step 4: Contract negotiation

& acceptance Step 5: Start-up of

field operations Step 6: Monitoring, feed-

back & learning

Phase 3:

Sustain & grow

Step 7:Continuous improve- ment for sustainability

Step 8:Generic growth through up-scaling

Facilitation of CF:

Justification & objectives

Principles and approaches

Facilitator profiles

(10)

Kemitraan :

1. sebuah inovasi model bisnis

2. kesempatan tetapi juga tantangan

3. Sebagai sebuah usaha yang berhasil akan ditandai oleh:

Model bisnis petani

(keluarga, kelompok, koperasi )

Model bisnis mitra (pedagang atau pengolah

)

Model bisnis

kemitraan

(11)

Prinsip Pandu dalam Kemitraan :

1. Common purpose ensuring win – win solution 2. Adherence to a legal framework

3. Clear documentation 4. Readability of contracts 5. Due attention and review 6. Disclosure

7. Transparency in price

(12)

Prinsip Pandu dalam Kemitraan :

8. Determination

9. Transparency and fairness in clauses relating to quality

10. Fairness in risk sharing: force majeure and contractual flexibility 11. Prevention of unfair practices in buyer-farmer relation

12. Honoring contractual term 13. Open dialogue

14. Clear mechanism to settle disputes

(13)

Skema manajemen kemitraan petani – Asian Agri meliputi :

 Mengikuti skema yang disediakan pemerintah : - AA mendapat hak guna lahan

- AA berkomitmen terhadap pembangunan plasamasnis - Plasma menerima kredit pemerintah dan

- AA menyediakan “embedded services (“aneka bimbingan””

Pelatihan tentang cara mengoptimalkan produksi dan konsep High Conservation Value Forest (HCVF), serta pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan serta kabut, Bantuan dalam penyediaan pupuk, pelatihan keterampilan lain untuk

membantu dengan mata pencaharian petani seperti

peternakan sapi dan budidaya ikan, dll)

(14)

Skema manajemen kemitraan petani – Asian Agri meliputi:

 Kesepakatan bisnis tentang, produk, mutu, harga, penyerahan

 pengelolaan infrastruktur seperti jalan dan jembatan

 Kepemilikan lahan setelah 48 bulan Bantuan \ dalam

 Adil dan transparan dalam penentuan harga Tandan Buah Sega (TBS): bagaimana

mekanismenya?

(15)

Dampak sosial ekonomi

bagi petani peserta

(16)

Tanggapan thd skema Skema manajemen kemitraan petani - Asian Agri:

 Banyak aspek yang menjadi sumber kegagalan sebuah kemitraan sudah ditangani dengan serius oleh kemitraan AA – petani

 Pola kemitraan AA – PETANI dengan sadar juga mengusahakan pengelolaan infrastruktur

seperti jalan dan jembatan, serta 4 issue pokok yang menjadi kritik sistem ini yaitu (OECD, 2014) - Issue keberlanjutan, khususnya keragaman hayati - Perlakuan adil kepada petani mitra

- Ketergantungan pada pasar ekspor

- Kerentanan yang tinggi atas perubahan iklim

(17)

Tanggapan thd skema Skema manajemen kemitraan petani - Asian Agri:

 Dengan transparansi dan advokasi atas aspek

aspek tersebut (let the facts speak) : penilaian

akan berbalik pada response yang positif

(18)

Preliminary Draft

Kemitraan Bank Mandiri Dalam

Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL)

(19)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Sebagai BUMN, Bank Mandiri dituntut pula untuk menjalankan CSR-nya melalui pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)

Peraturan Meneg BUMN No.: Per- 05/MBU/2007 Keputusan

Menteri BUMN No.:Kep- 236/MBU/2003 PP No 3

Tahun 1983

Keputusan Meneg BUMN No:

Kep-216/M- PBUMN/1999 Keputusan

Men Keu No.:316/KMK.

016/1994 Keputusan

Men Keu No.:1232/KM

K.013/1989

Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Perseroan (Persero). Pasal 2 ayat 2d yang menyebutkan bahwa BUMN turut aktif memberikan bimbingan kepada koperasi & pengusaha golongan ekonomi lemah.

Pedoman Pembinaan Pengusaha Ekonomi Lemah dan Koperasi melalui Badan Usaha Milik Negara,

Program Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN

Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi melalui Pemanfaatan Dana dari

Bagian Laba Badan Usaha Milik Negara Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan

Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan

1

BUMN wajib menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar

BUMN.

Program Kemitraan (2% dari laba bersih) :

Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN

Program Bina Lingkungan (2% dari laba bersih) :

Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN

Program Kemitraan

& Bina Lingkungan

(PKBL)

(20)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Fasilitas Ramah Lingkungan Komunitas

Mandiri

Edukasi &

Kewirausahaan

Program CSR Bank Mandiri untuk bersinergi dengan lingkungan

 Tujuan

Mendukung keberlangsungan pendidikan yang berkualitas di Indonesia.

 Program

a. Wirausaha Muda Mandiri b. Mandiri Peduli Pendidikan

 Tujuan

Mendorong kemajuan ekonomi suatu kawasan dengan menjadikan

masyarakat di kawasan tersebut memiliki kemampuan produksi dan kemampu labaan.

 Program

Mandiri Bersama Mandiri (Clustering)

 Tujuan

Mendukung kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lingkungan yang asri dan nyaman.

 Program

a. Pengadaan Air Bersih b. Renewable Energy c. Hutan Taman Kota

Ilustrasi Kegiatan Ilustrasi Kegiatan Ilustrasi Kegiatan

1 2 3

2

(21)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

3

Dalam pengembangan enterpreneurship, sejak tahun 2007 Bank Mandiri telah melaksanakan program Wirausaha Muda Mandiri (WMM)

Calon Wirausahawan

Micro

Proses Pengembangan Proses Financing

Small

Commercial

Corporate

Program Wirausaha Muda Mandiri

Create Entrepreneurial

Skill

Size of Business

• Belum bankable

• Belum berpengalaman

• Belum dapat mengidentifikasi peluang bisnis

• Workshop

• Pembinaan/ Internship

• Promosi Wirausaha

Muda Mandiri

(22)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Mandiri Edukasi 4

Sejak diluncurkan sampai dengan 2010, workshop Wirausaha Muda Mandiri telah diikuti oleh lebih

dari 23.000 peserta dari 972 universitas…

• Modul kewirausahaan berisi hal yang berkaitan dengan practical knowledge, business management, simple business plan, business plan, and practice for starting a business

• Sampai saat ini terdapat 120 orang yang menghadiri pelatihan untuk pelatih dan diperkirakan menyebarkan pengetahuannya kepada 15.000 - 35.000 mahasiswa.

… dan juga mengembangkan modul

kewirausahaan yang telah diajarkan di universitas

650

5,078

17,495 23,695

11,000

2007 2008 2009 2010 2011 18

123 125

321 385

# jumlah peserta

# jumlah universitas

Workshop Wirausaha Muda Mandiri

Training for Trainers

Program WMM telah terbukti mampu menciptakan enterpreneur muda yang

siap menjadi role model

(23)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Business Mentoring Program dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada para finalis dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri mengenai pentingnya kebutuhan bisnis, hambatan dan tantangan yang dihadapi serta solusinya, terutama dilihat dari aspek finansial, SDM dan promosi..

Boot-Camp Training Program diharapkan dapat meningkatkan nilai-nilai bisinis secara professional terkait aspek kewirausahaan, sehingga selaras dengan nilai budaya Bank Mandiri. Kedepan, para Wirausaha Muda Mandiri tersebut diproyeksikan sebagai role model bagi para wirausahawan baru.

Boot-Camp Training Program Business Mentoring

Dengan tema “Ethics for Entrepreneur”, Boot-Camp Training Program diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pemahaman para finalis dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri dalam mengemban tanggung jawab sosial dan berperan sebagai ikon Wirausaha Muda Mandiri

Tema

Melalui WMM para wirausahawan sukses berkesempatan untuk melakukan sharing experience

Hasil yang diharapkan

Beberapa wirausahawan sukses yang memberikan coaching dalam program ini antara lain adalah:

Irwan Hidayat (CEO Sido Muncul)

Komaruddin Hidayat (Rektor Univ Islam Syarif Hidayatullah)

Rhenald Kasali (Akademisi dan Profesional)

1 2

3 4

Tahapan pelaksanaan Business Mentoring Program

6 hari Business Coaching guna memilih peserta yang sebelumnya telah terpilih pada tahap pertama (Boot-Camp).

3 hari Boot-Camp dengan tema “Super Business Rich”. Tahap ini adalah tahap pertama (tahap seleksi) sebelum tahap coaching.

Tahap monitoring (6 bulan).

Melakukan pendampingan/coaching 2 kali sebulan (melalui telepon)

Tujuan

Sudhamek AWS (CEO Garuda Food)

5

National Lecturer Series

National Lecturer Series (NLS) atau kuliah umum kewirausahaan merupakan program terbaru dari Bank Mandiri yang diluncurkan pada tahun 2011 dalam rangka menularkan virus wirausaha kepada kaum muda. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional dan Budaya, dimana para pesertanya adalah mahasiswa dan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Selama tahun 2011, NLS telah dilaksanakan sebanyak empat kali, mulai 9 November 2011 lalu hingga 6 Desember 2011 dengan melibatkan 7.200 mahasiswa dari 64 perguruan tinggi di Indonesia

(24)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Program WMM terus berinovasi

Generasi Wirausaha Mandiri

Kebangkitan Wirausaha Mandiri

Bintang Wirausaha Mandiri

Langkah Pasti Membangun Negeri

Kemandirian Untuk

Negeri

Acara Workshop

Wirausaha Muda Mandiri diadakan untuk pertama kalinya di Jakarta, dan dilanjutkan dengan Penghargaan Wirausaha Mandiri yang diikuti oleh 488 mahasiswa dari 26 universitas di Indonesia.

Selain itu untuk pertama kalinya Beasiswa

Wirausaha Muda Mandiri diberikan kepada 200 mahasiswa dari 20 universitas di Indonesia

Sebagai terobosan, Wirausaha Muda Mandiri telah menyediakan pelatihan dan pendampingan serta program magang guna menciptakan

wirausaha muda yang sukses dan memiliki etika

Dalam rangka meningkatkan

kewirausahaan, dengan dibantu oleh 6

universitas besar di Indonesia Wirausaha Muda Mandiri menyusun modul lengkap tentang entrepreneurship yang akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di universitas

Dengan tujuan untuk menekankan

pentingnya nilai kewirausahaan di kalangan akademisi, Wirausaha Muda Mandiri juga

melaksanakan program khusus untuk para dosen sebagai berikut

Workshop Modul Entrepreneurship

Program pendampingan untuk menjadi business coach

Sebagai terobosan, untuk pertama kalinya diadakan event Mandiri Young Technopreneur dengan tujuan untuk menciptakan

teknologi tepat guna dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai berikut :

Teknologi penyediaan energi terbarukan

Teknologi pengolahan air bersih

Teknologi sistem informasi

6

(25)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Selain WMM, program unggulan CSR Bank Mandiri lainnya dalam rangka pengembangan enterpreneurship adalah Mandiri Bersama Mandiri

Tujuan

Pola

Pengembangan

7

Tahap 2 Peningkatan aktivitas kawasan

Tahap 1 Pembentukan

infrastuktur kawasan

Tahap 3 Pembentukan

program berkelanjutan

- Sejahtera - Produktif - Kreatif - Mandiri - Berdaya saing - Tidak sejahtera

- Tidak produktif - Tidak kreatif - Tidak mandiri - Tidak berdaya saing

Mendorong kemajuan ekonomi suatu kawasan dengan menjadikan masyarakat

di kawasan tersebut memiliki kemampuan produksi dan kemampulabaan,

meningkatkan pola aktivitas kreatif dan produktif yang akhirnya mewujudkan

tatanan masyarakat sejahtera dan mandiri

(26)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Kedepan, pelaksanaan Program Mandiri Bersama Mandiri akan dilaksanakan di beberapa wilayah potensial, antara lain Perajin Songket-Palembang, Petani Kacang-Jawa Tengah, Peternak Sapi Perah-Jawa Timur, Perajin Mebel- Makassar, Perajin Gerabah-DI Yogyakarta, Nelayan-Madura, Peternak Sapi Penggemukan-Bali dan Usaha Dodol Rumput-Mataram

Salah satu contoh keberhasilan pelaksanaan Program Mandiri Bersama Mandiri

Pada tahun 2010, telah dilaksanakan program Mandiri Bersama mandiri di Saung Angklung Udjo (SAU), Kawasan Pasir Layung - Jawa Barat

• Dikunjungi sekitar 120.000 wisatawan/tahun

• Sebagai magnet utama penarik wisatawan

• Memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli, aktivitas dan sistem sosial yang khas

• Penduduk disekitar SAU merupakan masyarakat perajin bambu

• Belum tersedianya fasilitas dan infrastruktur pendukung untuk mewujudkan kawasan wisata pedesaan yang berdaya saing

• Dukungan masyarakat dan pemerintah daerah setempat yang optimal

Lokasi

Alasan Pemilihan

Lokasi

8

(27)

© PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Program Mandiri Bersama Mandiri difokuskan pada 3 bidang, yaitu Pertanian &

Kelautan, Pariwisata dan Industri Kreatif

9

Tujuan

Pada umumnya pelaku usaha merupakan para wirausahawan yang berasal dari dari segmen UMKM dan perorangan

Kontribusi industri kreatif terhadap GDP Indonesia tahun 2010 mencapai Rp 151 Triliun atau 7,28% dari total GDP

Pertanian & Kelautan

1 2 Pariwisata 3 Industri Kreatif

Pemetaan daerah peternakan dan

perkebunan yang dapat dikembangkan.

Meningkatkan

produktivitas peternakan, perkebunan, dan kelautan.

Mengangkat daerah yang terpencil namun memiliki potensi pariwisata

Melibatkan

masyarakat/komunitas dalam mendukung pariwisata

Menciptakan database lokasi yang berpotensi

dikembangkan sebagai tujuan wisata

Pemetaan daerah yang menjadi pusat kerajinan Indonesia (daerah sentra produk unggulan).

Meningkatkan pengetahuan pengrajin, kualitas desain, kerapihan struktur kain dan pengemasan produk agar dapat dipasarkan.

Menciptakan/melestarikan produk unggulan di suatu daerah.

Potensi saat ini

Kontribusi sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan terhadap GDP Indonesia tahun 2010

mencapai Rp 304 Triliun atau 13,17% dari total GDP

Kontribusi pariwisata terhadap GDP Indonesia tahun 2010 mencapai Rp 78 Triliun atau 3,4% dari total GDP

Gambar

Ilustrasi Kegiatan Ilustrasi Kegiatan Ilustrasi Kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Brand awareness menurut Aaker yang dikutip dalam Rangkuti adalah “kesanggupan seseorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merk

Pada tahun 2011, hasil penghitungan proyeksi produksi tongkol adalah rata-rata 170,5 ton per bulan sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan industri pemindangan

Audit delay adalah rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuangan tahunan, diukur berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan

Maka harus disebutkan keadaan daerah geologi daerah tersebut, formasi yang diharapkan, alasan pemboran eksplorasi dilakukan didaerah tersebut, jenis tutupan prospek

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih memiliki kekurangan dan keterbatasan, walaupun demikian sangat diharapkan adanya skripsi ini dapat memberikan

Laboratorium Sistem Informasi Universitas Gunadarma 32 dari 77 Metode lain yang dapat digunakan untuk inisialisasi nilai yaitu input stream (cin). Dalam kasus ini,

Pembacaan terhadap getaran dilakukan dengan menggunakan sensor getaran (accelerometer) yang ditempatkan pada elemen struktur, kemudian dari data percepatan yang

Melihat isi pemberitaan tersebut terlihat adanya keinginan dari pimpinan TVRI untuk membenahi dari segi isi (content) siaran. Ini di lakukan untuk dapat mengimbangi tingkat