5
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pola asuh
2.1.1 Definisi pola asuh
Secara epistimologi kata pola diartikan sebagai cara kerja, dan kata asuh berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih, dan sebagainya) supaya dapat berdiri sendiri, atau dalam bahasa mudahnya adalah cara mendidik. Secara terminologi pola asuh orang tua dapat diartikan cara terbaik yang ditempuh oleh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari tanggung jawab kepada anak. Remaja sering digambarkan sebagai stres bagi kedua orang tua. Penelitian menunjukkan bahwa remaja menjalani sejumlah penyesuaian perkembangan termasuk perubahan biologis, kognitif, emosional dan sosial dalam perjalanan mereka untuk menjadi orang dewasa. Pola asuh secara efektif selama masa remaja dan dalam periode perkembangan apapun sangat memerlukan pemahaman menyeluruh tentang perubahan perkembangan ini.
Orang tua bisa mendapatkan keuntungan dari pemahaman bahwa sebagaimana gaya mengasuh mereka kepada anak, sedikit banyak akan memberi dasar bagi perkembangan anak selama masa remaja. Memahami gaya mengasuh yang berbeda dan dampaknya pada hubungan orang tua-remaja dapat saling membantu keduanya dalam menavigasi pertumbuhan masa remaja dengan lebih lancar (Kopko, 2007).
Menurut Broumrind yang dikutip oleh Dr. Yusuf mengemukakan perlakuan orang tua terhadap anak dapat dilihat dari :
1) Cara orang tua mengontrol anak.
2) Cara orang tua memberi hukuman.
3) Cara orang tua memberi hadiah.
4) Cara orang tua memerintah anak.
5) Cara orang tua memberikan penjelasan kepada anak.
Sedangkan menurut Weiton dan Lioyd yang juga dikutip oleh Dr. Yusuf menjelaskan perlakuan orang tua terhadap anak yaitu :
1) Cara orang tua memberikan peratuaran kepada anak.
2) Cara orang tua memberikan perhatian terhadap perlakuan anak.
3) Cara orang tua memberikan penjelasan kepada anak.
4) Cara orang tua memotivasi anak untuk menelaah sikap anak.
Dari berbagai macam bentuk pola asuh di atas pada intinya hampir sama.
Misalnya saja antara pola asuh parent oriented, authoritarian, otoriter, semuanya menekankan pada sikap kekuasaan, kedisiplinan dan kepatuhan yang berlebihan.
Demikian pula halnya dengan pola asuh authoritative atau demokratis menekankan sikap terbuka dari orang tua terhadap anak. Sedangkan pola asuh neglectful, indulgent, children centered, permisif dan laissez faire orang tua cenderung membiarkan atau tanpa ikut campur, bebas, acuh tak acuh, apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua, orang tua menuruti segala kemauan anak.
Jadi yang dimaksud dengan pola asuh orang tua adalah pola yang diberikan orang tua dalam mendidik atau mengasuh anak baik secara langsung maupun tidak
langsung. Cara mendidik secara langsung artinya bentuk asuhan orang tua yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan dan ketrampilan yang dilakukan secara sengaja, baik berupa perintah, larangan, hukuman, penciptaan situasi maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan. Sedangkan mendidik secara tidak langsung adalah merupakan contoh kehidupan sehari-hari mulai dari tutur kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup, hubungan orang tua, keluarga, masyarakat dan hubungan suami istri.
Psikolog Diana Baumrind (1971, 1991) mengidentifikasi tiga pola gaya pengasuhan berdasarkan dua aspek perilaku mengasuh anak, yaitu kontrol dan kehangatan. Kontrol orang tua mengacu pada tingkat di mana orang tua mengelola tingkah anak-anak mereka mulai dari sangat mengendalikan hingga menetapkan beberapa peraturan dan tuntutan. Kehangatan orang tua mengacu pada tingkat di mana orang tua menerima dan merespons tingkah laku anak-anak mereka sebagai kawan yang responsif dan tidak menolak.
2.1.2 Dasar Pengasuhan Anak 1. Dasar Pengasuhan Anak
a) Al-Qur’an Surat At Tahrim ayat 6
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang 14 bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at Tahriim/66 : 6)
b) Al-Qur’an Surat Thaahaa ayat 132
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa/20 : 132)
c) Al Qur’an Surat Luqman ayat 14
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (QS. Luqman/31 : 14)
Dari beberapa ayat di atas menjelaskan, bahwa Allah memerintahkan bagi orang-orang yang beriman untuk saling menjaga keluarga dari api neraka. Orang tua dan anak mempunyai kewajiban dan tugasnya masing-masing, orang tua bertugas untuk mendidik dan mengajarkan anak-anaknya kepada kebaikan dan berperilaku sesuai dengan perintah agama serta memerintahkan anak untuk selalu mendirikan shalat, begitupun kewajiban anak kepada orang tua harus sopan dan berbuat baik kepada kedua orang tua.
2.1.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi
Dalam pola pengasuhan sendiri terdapat banyak faktor yang mempengaruhi serta melatarbelakangi orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan pada anak- anaknya. Menurut Manurung (1995:53) beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pola pengasuhan orang tua adalah :
1) Latar Belakang Pola Pengasuhan Orang Tua, dimana para orang tua belajar dari metode pola pengasuhan yang pernah didapat dari orang tua mereka sendiri.
2) Tingkat pendidikan orang tua bilamana orang tua yang memiliki tingkat pendidikan tinggi berbeda pola pengasuhannya dengan orang tua yang hanya memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
3) Status ekonomi serta pekerjaan orang tua yang cenderung sibuk dalam urusan pekerjaannya terkadang menjadi kurang memperhatikan keadaan anak-anaknya. Keadaan ini mengakibatkan fungsi atau peran menjadi
“orang tua” diserahkan kepada pembantu, yang pada akhirnya pola pengasuhan yang diterapkanpun sesuai dengan pengasuhan yang diterapkan oleh pembantu.
Sedangkan Santrock (1995: 240) menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pola pengasuhan antara lain :
1) Penurunan metode pola asuh yang didapat sebelumnya. Orang tua menerapkan pola pengasuhan kepada anak berdasarkan pola pengasuhan yang pernah didapat sebelumnya.
2) Perubahan budaya, yaitu dalam hal nilai, norma serta adat istiadat antara dulu dan sekarang.
Pendapat di atas juga didukung Mindel (dalam Walker, 1992:3) yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola asuh orang tua dalam keluarga, diantaranya:
a. Budaya setempat dalam hal ini mencakup segala aturan, norma, adat dan budaya yang berkembang di dalamnya.
b. Ideologi yang berkembang dalam diri orangtua Orangtua yang mempunyai keyakinan dan ideologi tertentu cenderung untuk menurunkan kepada anak-anaknya dengan harapan bahwa nantinya nilai dan ideologi tersebut dapat tertanam dan dikembangkan oleh anak dikemudian hari.
c. Letak geografis dan norma etis semisal penduduk pada dataran tinggi tentu memiliki perbedaan karakteristik dengan penduduk dataran rendah sesuai tuntutan dan tradisi yang dikembangkan pada tiap-tiap daerah.
d. Orientasi religius orangtua yang menganut agama dan keyakinan religius tertentu senantiasa berusaha agar anak pada akhirnya nanti juga dapat mengikutinya.
e. Status ekonomi dengan perekonomian yang cukup, kesempatan dan fasilitas yang diberikan serta lingkungan material yang mendukung cenderung mengarahkan pola asuh orangtua menuju perlakuan tertentu yang dianggap orangtua sesuai.
f. Bakat dan kemampuan orangtua yang memiliki kemampuan komunikasi dan berhubungan dengan cara yang tepat dengan anaknya cenderung akan mengembangkan pola asuh yang sesuai dengan diri anak.
g. Gaya hidup, seperti halnya masyarakat di desa dan di kota besar cenderung memiliki ragam dan cara yang berbeda dalam mengatur interaksi orangtua dan anak.
Soekanto (2004:43) secara garis besar menyebutkan bahwa “ada dua faktor yang mempengaruhi dalam pengasuhan seseorang yaitu faktor eksternal serta faktor internal.” Faktor eksternal adalah lingkungan sosial dan lingkungan fisik serta lingkungan kerja orang tua, sedangkan faktor internal adalah model pola pengasuhan yang pernah didapat sebelumnya.
2.1.4 Pola gaya pengasuhan
1) Orangtua wajib bersifat hangat namun tetap tegas. Mereka mendorong remaja untuk bersikap mandiri sambil mempertahankan batasan dan kontrol atas tindakan mereka. Orang tua yang berwibawa tidak meminta peraturan.
Sebaliknya, mereka rela menghibur, mendengarkan, dan mempertimbangkan sudut pandang remaja mereka. Orang tua yang berwibawa terlibat dalam diskusi maupun debat dengan remaja mereka, tetapi tetap tanggung jawab utama dimiliki pada orang tua. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang berwibawa lebih dapat belajar bagaimana cara bernegosiasi dan terlibat dalam diskusi. Mereka mengerti bahwa pendapatnya akan dihargai dan di butuhkan oleh anak - anaknya.
Akibatnya, mereka lebih cenderung kompeten secara sosial, bertanggung jawab, serta otonom.
2) Orangtua Otoriter menunjukkan sedikit kehangatan dan cenderung sangat mengendalikan. Mereka adalah pendisiplin yang ketat, menggunakan gaya hukuman yang ketat dan bersikeras bahwa remaja mereka harus mengikuti petunjuk mereka. Orang tua otoriter meminta frase seperti, "Anda akan melakukan ini karena saya berkata," dan "karena saya adalah orang tua dan Anda sebenarnya tidak benar." Orang tua yang otoriter tidak terlibat dalam diskusi dengan peraturan dan standar remaja. Di dalam keluarga mereka hal seperti itu tidak diperdebatkan. Orang tua otoriter percaya bahwa remaja harus menerima, tanpa pertanyaan, peraturan dan praktik yang mereka tetapkan harus di laksanakan. Penelitian menunjukkan bahwa remaja orangtua otoriter mengetahui bahwa mengikuti peraturan orang tua dan kepatuhan terhadap disiplin ketat dinilai berdasarkan perilaku independen.
Akibatnya, remaja bisa menjadi pemberontak atau dependen. Mereka yang menjadi pemberontak mungkin menampilkan perilaku agresif. Remaja yang lebih patuh cenderung tetap bergantung pada orang tua mereka.
3) Orangtua yang permisif sangat hangat, tetapi tidak sopan. Mereka sabar dan pasif dalam mengasuh anak mereka, dan percaya bahwa cara untuk menunjukkan cinta mereka adalah dengan menyerah pada permintaan remaja mereka. Orang tua yang permisif condong dengan ungkapan- ungkapan seperti, "tentu, Anda bisa begadang jika Anda mau," atau seperti
"Anda tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun jika Anda tidak merasa menyukainya." Orang tua yang permisif tidak suka mengatakan tidak atau mengecewakan anak-anak mereka, sehingga mengakibatkan remaja
diperbolehkan untuk membuat keputusan penting tanpa masukan dari orang tua. Orangtua tidak memandang diri mereka sebagai peserta aktif dalam membentuk tindakan remaja mereka. Sebaliknya mereka memandang diri mereka sebagai sumber daya disaat remaja memilih untuk meminta nasehat kepada mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa remaja dari orang tua permisif belajar bahwa hanya ada sedikit batasan dan peraturan serta konsekuensi tersebut banyak di acuhkan. Akibatnya, remaja mungkin mengalami kesulitan dengan pengendalian diri dan menunjukkan kecenderungan egosentris yang dapat mengganggu perkembangan hubungan teman sebaya yang semestinya.
Diluar 3 hal tadi juga sedikit banyak ditemukan tipe orang tua yang tidak terlibat, tidak hangat dan tidak melakukan tuntutan apapun dari anak mereka.
Mereka meminimalkan waktu interaksi mereka dengan remaja. Bahkan dalam beberapa kasus ada yang tidak terlibat sama sekali sampai - sampai diabaikan.
Orang tua yang tidak terlibat, tidak acuh terhadap kebutuhan, lingkungan, atau pengalaman remaja mereka di sekolah atau dengan teman sebayanya. Orang tua yang tidak terlibat mengajukan ungkapan seperti, "Saya tidak peduli ke mana Anda pergi," atau "mengapa saya harus peduli dengan apa yang Anda lakukan?" Orang tua yang tidak terlibat jarang mempertimbangkan masukan remaja mereka dalam keputusan dan mereka umumnya tidak ingin diganggu oleh remaja mereka. Orang tua ini mungkin terbebani oleh keadaan mereka atau mereka mungkin egois. Orang tua mungkin juga terlibat dalam gaya ini jika mereka lelah, frustrasi, atau hanya
"menyerah" dalam usaha mempertahankan otoritas orang tua. Penelitian mendukung bahwa remaja dari orang tua yang tidak terlibat menyadari bahwa orang
tua cenderung tertarik pada kehidupan mereka sendiri dan cenderung tidak memperdulikan perkembangan anak mereka. Akibatnya, remaja umumnya menunjukkan pola perilaku yang sama seperti remaja yang di asuh orang tua tipe permisif dan mungkin juga menunjukkan perilaku impulsif karena masalah dengan pengaturan diri sendiri.
2.2 Capaian Akademis
2.2.1 Prestasi dan Akademik
Prestasi selalu dihubungkan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau aktivitas. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi belajar merupakan output dari proses belajar.
Menurut Hilgard (dalam Sumardi Suryabrata, 1984;252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja yang kemudian menimbulkan perubahan yang keadaaanya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Saiful Bahri Djamarah (1994:20) menyatakan bahwa prestasi merupakan apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Muray (dalam Beck 2014:290) mendefinisikan prestasi adalah untuk mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dan secepat mungkin.
Selanjutnya yang dimaksud dengan akademik adalah keadaan orang- orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan, pemikiran, ilmu pengetahuan, dan sekaligus dapat mengujinya secara jujur, terbuka, dan leluasa (Fadjar, 2002:5).
Adapun kata akademik berasal dari bahasa Yunani yakni academos yang berarti
sebuah taman umum (plasa) di sebelah barat laut kota Athena. Sesudah itu, kata acadomos berubah menjadi akademik, yaitu semacam tempat perguruan. Para pengikut perguruan tersebut disebut academist, sedangkan perguruan semacam itu disebut academia.
Menurut Alex Sobur (2006) prestasi akademik merupakan perubahan dalam hal kecakapan tingkah laku, ataupun kemampuan yang dapat bertambah selama beberapa waktu dan tidak disebabkan proses pertumbuhan, tetapi adanya situasi belajar. Sementara itu menurut Hasan Abdul Qohar (2000:56) berpendapat bahwa pengertian prestasi akademik adalah hasil dari suatu yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Setiawan (dalam Naam, 2009) menyatakan bahwa prestasi akademik merupakan suatu pencapaian tingkat keberhasilan dari usaha belajar tentang suatu tujuan, karena suatu usaha belajar telah dilakukan oleh seseorang secara optimal. Sementara itu menurut Slameto (2003;10) prestasi akademik merupaka suatu perubahan yang dicapai seseorang setelah mengikuti proses belajar.
Lebih lanjut persyaratan akademik di pendidikan tinggi bukan sekedar mengikuti perkuliahan saja, tetapi ada ketentuan-ketentuan lain seperti presentase kkehadiran dalam perkuliahan, penyelesaian tugas-tugas, dan ikut aktif dalam kegiatan akademik lainnya (diskusi, presentasi, mengkuti ujian, kuis). Keberhasilan mahasiswa dalam bidang akademik ditandai dengan prestasi akademik yang dicapai, ditunjukkan melalui Indeks Prestasi (IP) maupun indeks Prestasi Kumulatif serta ketepatan dalam menyelesaikan studi.
2.2.2 Definisi IPK
Indeks Prestasi (IP) adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan satuan nilai akhir yang menggambarkan nilai proses belajar mengajar setiap semester atau dapat diartikan juga sebagai besaran atau angka yang menyatakan prestasi keberhasilan dalam proses belajar mengajar mahasiswa pada suatu semester. Indeks Prestasi dibedakan menjadi Indeks Prestasi Semester (IPS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). 1. IP semester adalah indeks prestasi yang perhitungannya berdasarkan mata kuliah yang ditempuh selama satu semester tertentu. 2. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) adalah indeks prestasi mahasiswa yang perhitungannya berdasarkan seluruh mata kuliah yang telah ditempuh. Standard yang di terapkan tiap universitas berbeda beda mengenai IP & IPK. Beberapa penelitian mengungkapkan nilai IP yang baik merupakan nilai IP yang melebihi angka 2.50 sedangkan IP kurang baik yaitu IP yang kurang dari angka 2.50.
Tetapi persyaratan akademik di pendidikan tinggi bukan sekedar mengikuti perkuliahan saja, tetapi ada ketentuan-ketentuan lain seperti presentase kkehadiran dalam perkuliahan, penyelesaian tugas-tugas, dan ikut aktif dalam kegiatan akademik lainnya (diskusi, presentasi, mengkuti ujian, kuis). Keberhasilan mahasiswa dalam bidang akademik ditandai dengan prestasi akademik yang dicapai, ditunjukkan melalui Indeks Prestasi (IP) maupun indeks Prestasi Kumulatif serta ketepatan dalam menyelesaikan studi.
Kemampuan IPK pada tingkat pendidikan digunakan untuk memprediksi prestasi belajar juga diteliti oleh Newton dan Moore (2007), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa skor Undergraduate Grade Point Average (UGPA) dan test
bakat akademis Graduate Record Examination (GRE) adalah prediktor yang baik dalam menilai kesuksesan sekolah tingkat selanjutnya, tetapi UGPA diduga merupakan prediktor yang lebih baik. Hasil penelitian-penelitian terdahulu secara konsisten menyatakan bahwa nilai IPK S1 merupakan key predictor dalam menentukan kinerja akademik (Trail et.al, 2006).
Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Eskew dan Faley (1988) membuktikan bahwa kecerdasan akademis yang diukur dengan skor Scholastic Aptitude Test (SAT) mempunyai kontribusi yang paling besar dalam mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa jurusan akuntansi keuangan tingkat pertama di Purdue University, dibandingkan dengan beberapa faktor lain yang diteliti yaitu nilai IPK pada tingkat pendidikan sebelumnya (SMU), usaha/motivasi mahasiswa, dan pengalaman akademis yang terkait dengan mata kuliah akuntansi.
Kemampuan skor SAT untuk memprediksi prestasi belajar ini juga diteliti oleh Kruck dan Lending (2003) yang dilakukan pada mahasiswa kelas pengantar sistem informasi (Introductory college-level IS course) menunjukkan bahwa nilai SAT mampu memprediksi prestasi akademis mahasiswa pria, namun tidak mampu memprediksi prestasi akademis mahasiswa wanita.
2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi
Menurut Daruyani, Wilandari, & Yasin, 2013, Baik faktor dalam diri mahasiswa (internal) maupun faktor dari luar mahasiswa (eksternal). Beberapa penelitia telah menunjukkan banyak faktor yang mempengaruhi prestasi akademik.
Faktor internal antara lain : intelegensi, konsep diri dan lain sebagainya, sedangkan
Fakor eksternal antara lain: keluarga, status sosial, lingkungan akademik dan lain sebagainya) (Garkaz, Banimahd, & Esmaeili, 2011).
Menurut Anni (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terbagi menjadi 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor internal, yang mencakup aspek fisik, misalnya kesehatan organ tubuh, aspek psikis, misalnya intelektual, emosional, motivasi, dan aspek sosial, misalnya kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan.
2. Faktor eksternal, misalnya variasi dan derajat kesulitan materi yang dipelajari, tempat belajar, iklim, suasana lingkungan, budaya belajar masyarakat dan sebagainya.
Tetapi ditemukan juga beberapa faktor yang lain yang diduga memiliki pengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa. faktor yang diuji dalam penelitian ini berupa lima faktor. Keenam faktor tersebut antara lain:
1. Gender
Berdasarkan beberapa hasil penelitian, ditemukan bahwa sex role differences belum menentukan prestasi akdemik, sedangkan academic scale dapat menentukan prestasi akademik. Selanjutnya, peran aktif dalam berorganisasi turut membantu dalam meningkatkan prestasi akademik. Oleh karena itu, perlu diteliti kembali korelasi antara perbedaan peran gender tehadap prestasi akademik Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan cenderung lebih kuat dalam akademik dibandingkan dengan mahasiswa laki-laki (Gracia & Jenkins, 2003). Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh (Garkaz, Banimahd, & Esmaeili, 2011).
2. Status Pernikahan
Pada mahasiswa yang bekerja, melakukan kegiatan akademik sekaligus mencari uang bukanlah hal yang mudah, karena dapat menyebabkan tekanan atau stress yang cukup tinggi. Penelitian (Furr & Elling, 2000) menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja cenderung memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak bekerja.
Jika hal tersebut terjadi terus menerus lambat laun akan mempengaruhi afeksi serta tingkah laku mahasiswa tersebut. Salah satu yang dibutuhkan mahasiswa selain belajar dan membagi waktu antara kuliah dan bekerja adalah adanya dukungan sosial untuk mengurangi kecemasan yang dihadapinya. Sebagai mahasiswa yang sedang bekerja, mereka dapat memperoleh dukungan sosial dari berbagai sumber, seperti keluarga, dosen, orang tua, teman sebayanya dan lingkungan sekitar seperti masyarakat.
House (Smet, 1994) menjelaskan dukungan sosial sebagai persepsi seseorang terhadap dukungan potensial yang diterima dari lingkungan, dukungan sosial tersebut mengacu pada kesenangan yang dirasakan sebagai penghargaan akan kepedulian serta pemberian bantuan dalam konteks hubungan yang akrab. (Rudkin & De Zoysa, 2007) menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam prestasi akademik dengan mahasiswa yang sudah bekerja. Hasil penelitian ini juga didukung oleh (Garkaz, Banimahd, & Esmaeili, 2011).
3. Status Pernikahan
Setelah melakukan pernikahan seseorang memiliki status yang berbeda dengan sebelumnya. Secara otomatis tugas dan tanggungjawab mereka juga
akan bertambah, jika sebelum menikah mereka hanya mempunyai tugas pokok untuk belajar, tetapi setelah menikah tugas mereka bertambah dengan tugas keluarga yang berupa hak dan kewajiban suami istri, sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang pernikahan. Banyaknya perubahan dan perbedaan yang akan dihadapi akan mempengaruhi proses kegiatan dalam perkuliahan sehingga akan berpengaruh juga terhadap prestasi akademik yang akan dihasilkan. Hasil penelitian (Garkaz, Banimahd, & Esmaeili, 2011)menunjukkan bahwa baik mahasiswa yang sudah menikah ataupun yang belum tidak memiliki perbedaan dalam prestasi akademik. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa status pernikahan secara langsung tidak memiliki pengaruh terhadap prestasi akademik yang akan dicapai oleh mahasiswa.
4. Keluarga
Keluarga merupakan lem- baga pendidikan pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi de wasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian tiap manusia. Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah. Faktor orang tua sangat berpengaruh ter- hadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup kurang perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, semuanya itu turut mempengaruhi percapaian hasil belajar. Hasil penelitian (Garkaz,
Banimahd, & Esmaeili, 2011) menunjukkan bahwa dukungan keluarga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara mahasiswa yang didukung oleh keluarga maupun yang tidak.
5. Keaktifan Berorganisasi
Peran aktif berorganisasi adalah seseorang yang ikut berpartisipasi, terlibat dalam pengambilan keputusan, terlibat dalam memberikan dampak kemajuan atau produktivitas organisasi. Peran aktif berorganisasi dapat ber- bentuk loyalitas dan komitmen untuk terlibat pada kegiatan atau program organisasi.