• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM dan BATUAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN

TASIKMALAYA

(Studi Kasus Pada Dinas Pendapatan, Pengeloaan Keuangan dan Aset Daerah)

Disusun Oleh HILMA DEWI RIANI

083403100

Pembimbing

Iman Pirman Hidayat, SE., M.Si., Ak Rani Rahman, SE., M.Ak

ABSTRACT

The purpose of this study is to determine the influence of the tax non metallic and rock of revenue on Kabupaten Tasikmalaya. The data used is of primary data and the secondary data.the method used is descriptive method with approach of case studies. Hypothesis testing is done by qualitative approach using a simple regression test to determine whether or not the influence of the tax non metallic and rock of revenue on Kabupaten Tasikmalaya. From the research result can be concluded that there was no significant effect on the tax non metallic and rock of revenue on Kabupaten Tasikmalaya.

Keyword: Tax non metallic and rock, revenue

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Pengaruh Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Terhadap Pendapatan Asli Daerah. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengujian hipotesis dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan uji regresi sederhana untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

(2)

2

terhadap Pendapatan Asli Daerah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan pada Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan terhadap Pendapatan Asli Daerah.

Kata kunci: Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pendapatan Asli Daerah

Latar Belakang Penelitian

Pengelolaan Pemerintah Daerah, baik di tingkat provinsi maupun tingkat Kabupaten dan Kota memasuki era baru. Hal ini sejalan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 yang mengatur tentang otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Pelaksanaan otonomi daerah yang dititikberatkan pada daerah Kabupaten dan Kota dimulai dengan adanya penyerahan sejumlah kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang bersangkutan. Pemberian otonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah, berorientasi dan memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat, serta menjamin keserasian hubungan antara daerah dengan daerah lainnya (Ade Didi Kirawan:2011).

Menurut Ahmad Yani (2008:43), penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan daerah dan pembiayaan, pendapatan daerah tersebut bersumber dari:

1) Pendapatan asli daerah yang bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daearah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi;

(3)

3

2) Dana perimbangan yang bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah dan pemerintahan daerah dan antarpemerintah daerah.

3) Pendanaan lain-lain yang member peluang kepada daerah untuk memperoleh pandapatan selain yang berasal dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan pinjaman daerah.

Pendapatan asli daerah merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendpatan asli daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi.

Kewenangan daerah untuk memungut pajak dan retribusi diatur dengan UUU Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan penyempurnaan dari Undang- Undang Nomor 18 Tahun 1997 dan ditindaklanjuti peraturan pelaksanaannya, yaitu Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.

Salah satu upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sebagai salah satu sumber penerimaan daerah yang mempunyai peranan penting dalam pembangunan daerah dan membiayai kebutuhan rumah tangga daerahnya, yaitu dengan meningkatkan penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terutama pajak mineral bukan logam dan batuan yang beberapa tahun belakangan ini realisasi penerimaan pendapatan dari mineral bukan logam dan batuan yang dahulu lebih dikenal dengan bahan galian golongan C terus menunjukan peningkatan. Di Tasikmalaya sendiri terdapat beberapa komoditi bahan galian yang mempunyai nilai prospek untuk dikembangkan seperti bentonit, gypsum,

(4)

4

zeolit, lempung, pasir, marmer dan felspar. Melalui pelaksanaan inventarisasi dan evaluasi bahan galian yang dilakukan oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, diharapkan bahan galian yang terdapat di daerah Tasikmalaya dapat dievaluasi baik mengenai kualitas maupun kuantitas, sehingga dapat diketahui lebih jauh mengenai kemungkinannya untuk diusahakan dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Penelitian ini dilakukan pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tasikmalaya karena merupakan koordinator pengelola Pendapatan Asli Daerah agar pendanaan penyelenggaraan pemerintahan terlaksana secara efisien dan efektif serta untuk mencegah tumpang tindih ataupun tidak tersedianya pendanaan pada suatu bidang pemerintahan.

Pada penelitian ini penulis mengambil referensi dari penelitian terdahulu sebagai gambaran untuk mempermudah dalam penyusunan penelitian ini.

Penelitian yang penulis lakukan merujuk pada penelitian terdahulu, antara lain:

1) Yuda Trisnawansah, judul: Pengaruh Kontribusi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Terhadap Tingkat Pendapatan Asli Daerah. Lokasi penelitian di Dinas Pendapatan Daerah Kota Tasikmalaya, hasil penelitiannya pajak daerah dan retribusi daerah terdapat pengaruh yang signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah.

2) Riska Aprilia, judul: Pengaruh Pajak Penerangan Jalan dan Parkir Terhadap Pendapatan Asli Daerah. Lokasi penelitian Dinas Pendapatan Kota Tasikmalaya.

Hasil penelitian pajak penerangan jalan dan pajak parkir berpengaruh parsial terhadap Pendapatan Asli Daerah.

(5)

5

3) Trisnawati, judul: Pengaruh Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah. Lokasi penelitian pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Tasikmalaya. Hasil penelitian retribusi pengujian kendaraan bermotor terdapat pengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah.

4) A. Waluya Jati, judul: Peranan Pajak Dan Retribusi Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Di Jawa Timur. Lokasi penelitian pada setiap Daerah Tingkat II di Jawa Timur. Pada penelitian ini hasil statistik deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata lokal kontribusi biaya pajak dan lokal adalah lebih dari 70% di setiap kota / kabupaten di Jawa Timur. Kemudian, hasil dari statistik inferensial dengan satu metode way ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok sampel lima. Ini berarti bahwa semua kota/kabupaten di Jawa Timur bergantung pada pajak daerah dan biaya setempat sebagai sumber daya utama / dominan untuk kota / kabupaten anggaran. Kota / kabupaten pemerintah cenderung menyalahgunakan sumber pendapatan lain untuk pendapatan rumah tangga.

5) Nurmalia Prasetiati, judul: Efektivitas Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C dan Kontribusinya Terhadap Pajak Daerah Di Kabupaten Semarang Tahun 2004-2007. Pada penelitian ini hasil menunjukkan bahwa pemungutan pajak pengambilan bahan galian golongan C pada tahun 2004-2007 sudah terealisasi dengan baik sesuai dengan target yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Semarang. Dilihat dari rasio efektif pada tahun 2004 sebesar 100,58%, tahun 2005 sebesar 101,02%, tahun 2006 sebesar 100,31%

(6)

6

dan tahun 2007 sebesar 101,05%, menunjukkan bahwa semuanya berada diatas 90% yang berarti termasuk kategori efektif. Tetapi dilihat dari hasil penghitungan kontribusi pajak pengambilan bahan galian golongan C terhadap pajak daerah di Kabupaten Semarang, menunjukkan bahwa pada tahun 2004 memiliki kontribusi sebesar 0,45%, tahun 2005 sebesar 0,60%, tahun 2006 sebesar 0,61% dan tahun 2007 sebesar 0,64%.

6) Arif Setiawan, judul: Analisis Efektifitas Penerimaan Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2006-2008. Pada penelitian ini hasil menunjukkan bahwa efektivitas pajak penghasilan sudah tepat untuk sekitar lebih dari 100%

untuk setiap tahunnya. Kontribusinya 0,42% rata-rata 2006-2008.

Tinjauan Pustaka Pengertian Pajak

Pengertian pajak menurut Mardiasmo, (2004:1) yaitu:

“Pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat di paksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di gunakan untuk membiayai penyelenggarakan pemerintah daerah dan pembangunan daerah”

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, pajak adalah:

“Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

(7)

7 Pengertian Pajak Daerah

Menurut Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, pengertian pajak daerah sebagai berikut:

“Iuran wajib yag dilakukan oleh daerah kepada orang pribadi atau badan tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah ”.

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, Pajak Daerah adalah:

“Kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Pajak daerah menurut Perda Kabupaten Tasikmalaya Nomor 2 Tahun 2011 adalah:

“Kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsungdan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Pengertian Pajak Mineral Bukan Logan dan Batuan

Pajak mineral bukan logam dan batuan merupakan perubahan nama dari pajak pengambilan bahan galian golongan C. Hal ini terjadi setelah adanya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang kemudian diikuti dengan Perda Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.

Pengertian pajak pengambilan bahan galian golongan C menurut Marihot P.Siahaan (2008:373) sebagai berikut:

(8)

8

“Pajak atas kegiatan pengambilan bahan galian golongan C sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Menurut Perda Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah:

“Pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan”.

Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di bidang mineral dan batubara.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan studi kasus. Metode deskriptif adalah suatu metode yang meneliti status kelompok manusia, objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan tujuan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

Operasionalisasi Variabel

Variabel adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2006:31).

Dalam penelitian ini penulis melakukan analisis pada besarnya pengaruh yang ditimbulkan variabel independen terhadapa variabel dependen. berdasarkan

(9)

9

judul yang diajukan penulis adalah “Pengaruh Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Terhadap Pendapatan Asli Daerah”.

1. Variabel Independen (variabel bebas/X)

Variabel independen yaitu variabel yang keberadaannya tidak dipengaruhi dan tidak tergantung pada variabel lain atau variabel yang berdiri sendiri. Variabel independen dalam penelitian ini adalah:

X = Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, indikatornya yaitu:

 Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan.

2. Variabel Dependen (variabel terikat/Y)

Variabel dependen yaitu suatu variabel terikat atau tidak bebas atau dengan kata lain variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen atau variabel lain. Adapun variabel dependen dalam penelitian ini adalah:

 Y = Pendapatan Asli Daerah, indikatornya yaitu:

 Total penjumlahan Pendapatan Asli Daerah

Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data yang diperoleh dalam rangka pengujian hipotesis, data tersebut diolah terlebih dahulu kemudian dianalisis dengan pendekatan kuantitatif dimana pajak mineral bukan logam dan batuan berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Metode yang digunakan adalah metode statistif parametik yaitu dengan menggunakan statistic t-test teknik statistic parametris yang digunakan untuk menguji komparasi data rasio atau interval.

(10)

10 Hasil Penelitian

Penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Kabupaten Tasikmalaya

Pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan adalah penerimaan atas kegiatan eksplorasi, eksperimen, pengolahan/pemurnian, pengangkutan dan penjualan Mineral Bukan Logam dan Batuan. Berikut ini target dan realisasi pendapatan pajak mineral dan batuan tahun anggaran 2002 sampai dengan 2012:

Pencapaian Target dan Realisasi Pendapatan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

Tahun Anggaran 2002 sampai dengan 2012

No Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)

1 2002 56.387.500 71.743.592

2 2003 81.652.000 161.989.215

3 2004 135.000.000 1.014.191.243

4 2005 1.032.882.000 790.377.439

5 2006 368.723.500 211.152.996

6 2007 71.892.500 82.215.453

7 2008 200.125.000 360.880.255

8 2009 421.000.000 456.123.573

9 2010 301.500.000 306.594.100

10 2011 321.000.000 323.128.795

11 2012 325.500.000 325.792.275

Jumlah 3.315.662.500 4.104.188.935

Rata-rata 301.423.864 373.108.085

(Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dana Aset Daerah Kabupaten Tasikmalaya)

Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tasikmalaya

Penerimaan pajak daerah merupakan pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Yang termasuk ke dalam komponen penerimaan Pendapatan Asli Daerah yaitu hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah. Berikut ini target dan

(11)

11

realisasi penerimaan PendapatnAsli Daerah tahun anggaran 2002 sampai dengan 2012:

Pencapaian Target dan Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Tahun Anggaran 2002 sampai dengan 2012

No. TahunAnggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)

1 2002 9.565.733.046,33 14.622.883.587,66

2 2003 15.364.490.000 18.659.059.135,32

3 2004 18.754.077.916,85 20.598.895.090,88

4 2005 20.240.231.259,93 22.716.648.641,04

5 2006 22.846.209.826,81 35.440.575.080,30

6 2007 29.170.929.239,50 34.725.529.177

7 2008 37.695.483.605 46.485.882.852

8 2009 46.873.279.735 49.657.867.201

9 2010 78.594.418.880,62 48.338.061.521

10 2011 52.511.188.055,12 55.771.204.716

11 2012 58.135.672.164 65.473.795.748

Jumlah 389.751.713.729,09 412.490.402.750,20 Rata-rata 35.431.973.975,37 37.499.127.522,75 (Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dana Aset Daerah Kabupaten Tasikmalaya)

Pembahasan

Pengaruh Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tasikmalaya

Dengan menggunakan hasil analisis komputer dari program SPSS 20 maka dihasilkan perhitungan-perhitungan statistik sebagai berikut :

1. Analisis Koefisien Korelasi

Hasil perhitungan paket program statistik SPSS 20 submenu Correlate, diperoleh korelasi antara variabel pajak mineral batuan logam dan batuan dengan pendapatan asli daerah bernilai 0.143 dengan tingkat signifikansi 0.674. Angka 0.143 berarti berkorelasi rendah antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan hasil

(12)

12

perhitungan korelasi ini, maka dapat diartikan bahwa variabel pajak mineral bukan logam dan batuan dengan pendapatan asli daerah mempunyai hubungan yang rendah.

2. Analisis Koefisien Determinasi

Perhitungan koefisien determinasi dan koefisien non determinasi dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh pajak mineral bukan logam dan batuan terhadap pendapatan asli daerah.

Perhitungan koefisien determinasi dan koefisien non determinasi menghasilkan nilai sebesar Kd = 2.1% dan Knd = 97.9 %. Ini berarti sebesar 2.1%

penerimaan pendapatan asli daerah dipengaruhi oleh pajak mineral bukan logam dan batuan. Dengan nilai sebesar 2.1% berarti sisanya sebesar 97.9% dipengaruhi faktor luar yang tidak diteliti. Dengan nilai Kd yang mendekati 0, berarti hubungan antara variabel adalah lemah.

Hasil analisis ini membuktikan bahwa kenyataan dilapangan ada banyak faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah, tidak hanya pajak mineral bukan logam dan batuan.

3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian yaitu pajak mineral bukan logam dan batuan berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah. Hasil dari perhitungan uji t tersebut t hitung adalah sebesar -0,434.

Berdasarkan hasil perhitungan paket program statistik SPSS 20 dapat ditunjukkan bahwa nilai signifikan t (p) lebih besar daripada taraf signifikan yang dikehendaki sebesar 0.05, dengan nilai Sig 0.674 > α (0.05). Hal ini berarti bahwa pajak

(13)

13

mineral bukan logam dan batuan mempunyai pengaruh tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa pajak mineral bukan logam dan batuan berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah (Ha) ditolak.

Berdasarkan perhitungan-perhitungan diatas, bahwa dalam penelitian penulis pada kenyataan dilapangan pajak mineral bukan logam dan batuan berpengaruh tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Ada sekitar 97.9%

faktor luar yang berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah yang tidak diteliti penulis.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tasikmalaya mengenai pokok pembahasan “Pengaruh Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tasikmalaya” maka diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendapatan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan di Kabupaten Tasikmalaya periode 2002 sampai dengan 2012 pada umumnya banyak mengalami peningkatan dan penurunan. Terjadinya kenaikan dan penurunan pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan tergantung jumlah produksi dari kegiatan eksplorasi, eksperimen, pengolahan/pemurnian, pengangkutan dan penjualan bahan mineral bukan logam dan batuan.

(14)

14

2. Penerimaan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Tasikmalaya dari tahun 2002 sampai dengan 2012 selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Hal ini disebabkan karena naik turunnya pendapatan dari komponen- komponen Pendapatan Asli Daerah tersebut seperti pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan sumber kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain- lain PAD yang sah.

3. Pajak mineral bukan logam dan batuan berpengaruh tidak signifikan terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tasikmalaya. Kecilnya pengaruh pajak mineral bukan logam dan batuan terhadap Pendapatan Asli Daerah ini disebabkan oleh daerah penyebaran serta ketersediaan bahan galian di Kabupaten Tasikmalaya lebih sedikit dibandingakan luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ade Didi Kirawan. 2011. Hukum Pemerintahan Daerah, http://id.scribd.com/doc/47164796/HUKUM-PEMERINTAHAN-DAERAH, 12 Januari 2013

Arif Setiawan. 2009. Analisis Efektifitas Penerimaan Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2006-2008. Skripsi Universitas Negeri Semarang.

Dipublikasikan.

A. Waluya Jati. 2006. Peranan Pajak Dan Retribusi Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Di Jawa Timur. Jurnal Humanity Universitas Muhamadiyah Malang. Dipublikasikan.

Mardiasmo. 2004. Perpajakan. Yogjakarta: ANDI.

Marihot P.Siahaan. 2008. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada.

Nurmalia Prasetiati. 2009. Efektivitas Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C dan Kontribusinya Terhadap Pajak Daerah Di Kabupaten Semarang Tahun

(15)

15

2004-2007. Skripsi Fakultas Ekonimi Universitas Negeri Semarang.

Dipublikasikan.

Perda Nomor 2 Tahun 2011. Tentang Pajak Daerah.

Perda Nomor 15 Tahun 2006. Tentang Pengelolaan Pertambangan Umum.

Riska Aprilia. 2011. Pengaruh Pajak Penerangan Jalan dan Parkir Terhadap Pendapatan Asli Daerah. Studi kasus pada Dinas Pendapatan Kota Tasikmalaya. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi. Tidak dipublikasikan.

Sugiyono. 2006. Metode Penilitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

______ . 2010. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta: Alfabeta.

Trisnawati, 2011. Pengaruh Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah. Studi kasus pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Tasikmalaya. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi. Tidak dipublikasikan.

Uma Sekaran. 2006. Research Methods For Business. Jakarta: Salemba Empat.

Undang-Undang No.33 tahun 2004. Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat Dengan Pemerintah Daerah.

Undang-Undang No.28 Tahun 2007. Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Undang-Undang No.28 tahun 2009. Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Undang-Undang No.32 Tahun 2004. Tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang No.34 Tahun 2000. Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Rertribusi Daerah.

Yani Ahmad, 2008. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia.Jakarta: PT. RajaGrafindo.

Yuda Trisnawansah. 2011. Pengaruh Kontribusi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Terhadap Tingkat Pendapatan Asli Daerah. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi. Tidak dipublikasikan.

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi Daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

Tipe penelitian yang dipakai untuk mengetahui kontribusi pajak daerah dan retribusi daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Jayapura dalam penelitian ini

Peranan Pajak Hotel Sebagai Sumber PAD Berikut ini adalah hasil pengolahan data pertumbuhan pajak dan peranan pajak hotel sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pajak reklame dan retribusi daerah terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pada Dinas Pendapatan Daerah

Menurut (Halim, 2004) PAD adalah semua penerimaan daerah berasal dari sumber ekonomi asli daerah berupa pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan

Komponen-komponen sumber Pendapatan asli daerah tersebut khususnya pajak daerah dan retribusi daerah di harapkan dapat menyumbangkan kontribusi yang maksimal untuk

Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil yang didapat dalam analisis regresi berganda terhadap perkembangan penerimaan Pajak, retribusi daerah dan pendapatan asli daerah PAD pemerintah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh retribusi daerah dan pajak daerah terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Badung pada kurun waktu