LAPORAN AKHIR I - 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagaimana arah RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2010 – 2015 dan RKPD Kabupaten Bandung Tahun 2012, Kabupaten Bandung berupaya melakukan akselerasi pembangunan daerah yang akan difokuskan untuk mencapai peningkatan kualitas pertumbuhan yang berbasis pada sektor pertanian/perkebunan, sehingga mampu meningkatkan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Sektor pertanian/perkebunan di Kabupaten Bandung memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PDRB Kabupaten Bandung. Pada tahun 2010 kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kabupaten Bandung berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 3.471.661.920.000,00 dan berdasarkan harga konstan mencapai Rp 1.602.050.010.000,00. Adapun jumlah PDRB Kabupaten Bandung tahun 2009 berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 46.092.238.720.000,00 dan berdasarkan harga konstan mencapai Rp 21.734.661.190.000,00.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa Persentase kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kabupaten Bandung tahun 2010 sebesar 7,532 % berdasarkan harga berlaku dan 7,371 % berdasarkan harga konstan. Prosentase kontribusi ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai 7,359 % berdasarkan harga berlaku dan 7,316 % berdasarkan harga konstan. Persentase kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kabupaten Bandung pada tahun 2010 baik berdasarkan harga berlaku maupun
LAPORAN AKHIR I - 2 berdasarkan harga konstan mengalami penurunan bila dibandingkan dengan kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Kabupaten Bandung tahun 2006, dimana pada tahun 2006 prosentase kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Bandung berdasarkan harga berlaku mencapai 7,572 % dan berdasarkan harga konstan mencapai 7,586 %.
Untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah melalui Kebijakan Umumdan Program Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung, telah memprioritaskan pengembangan 4 kelompok agribisnis tanaman perkebunan yaitu, kopi, teh, cengkeh, dan tembakau. Berdasarkan kebijakan tersebut, sektor-sektor ini akan dipacu perkembangannya melalui Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan dalam rangka Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Ekonomi Lokal dan Mampu Berdaya Saing.
Dalam RKPD Kabupaten Bandung Tahun 2012 salah satu kelompok agribisnis yang diarahkan pengembangannya dalam rangka peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk perkebunan, produk pertanian adalah pengembangan jenis agribisnis tanaman tembakau.
Tanaman tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan berumur pendek/musiman yang banyak diusahakan oleh petani di Kabupaten Bandung. Sentra komoditas tembakau di Kabupaten Bandung terdapat di 17 Kecamatan yaitu Arjasari, Cicalengka, Cikancung, Ciwidey, Cileunyi, Ibun, Pacet, Paseh, Soreang, Cilengkrang, Nagreg, Baleendah, Kutawaringin, Pasirjambu, Cimaung, Rancabali, dan Kecamatan Ciparay.
LAPORAN AKHIR I - 3 Potensi perkebunan tembakau pada dasarnya didukung pula oleh perkembangan industri rokok nasional, dan industri-industri lain yang menggunakan bahan baku tembakau, seperti industri obat, pestisida, parfum, dan biofuel.
Terhadap arah pengembangan tembakau dan industri hasil tembakau di Kabupaten Bandung, terdapat 10 poin arah pengembangan yang direncanakan yaitu,
1. Peningkatan kualitas bahan baku.
2. Pemantapan pola kemitraan dan peluasan akses pasar.
3. Untuk tembakau rakyat, pelu dijajagi pola pemasaran melalui kemitraan usaha, utamanya untuk menjamin kepastian pasar.
4. Pengembangan tembakau (areal tanam) senantiasa disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
5. Kegiatan research dan development untuk komoditi tembakau.
6. Pengembangan industri tembakau dengan kadar nikotin dan kadar tar rendah.
7. Peningkatan kualitas SDM petani tembakau melalui pelatihan dan pendidikan.
8. Diversifikasi produk berbahan baku tembakau misalnya untuk obat- obatan dan kosmetik.
9. Penguatan kelembagaan pelaku agribisnis tembakau.
10. Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau.
Meskipun secara makro pengembangan industri hasil tembakau di Kabupaten Bandung menjanjikan, namun pengembangannya masih terkendala terhadap masalah-masalah sebagai berikut,
1. Secara spasial, lokasi budidaya dan industri hasil tembakau di Kabupaten Bandung tersebar di 17 kecamatan.
LAPORAN AKHIR I - 4 2. Industri Hasil tembakau belum terorganisasi dengan baik, berimplikasi
pada pemasaran yang dilakukan secara parsial oleh masing-masing lokasi budidaya industri hasil tembakau.
3. Terbatasnya fasilitas pendukung pengembangan industri tembakau menjadi potensi yang menghambat pengembangan industri tembakau khususnya terhadap pemastian kualitas hasil tembakau.
4. Belum adanya masterplan pengembangan kawasan industri tembakau, sehingga menghambat pengembangan kawasan industri tembakau secara terpadu dan berkelanjutan.
Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri tembakau di Kabupaten Bandung adalah masih rendahnya daya saing produk pengolahan hasil tembakau yang dihasilkan petani.Hal ini disebabkan karena pengolahan yang dilakukan oleh petani masih dalam skala kecil dan tidak terintegrasi. Untuk itu diperlukan upaya untuk memperbesar skala pengolahan yang dilakukan oleh petani, baik secara individual maupun berkelompok dan upaya untuk mengintegrasikan upaya pengolahan yang dilakukan oleh petani dengan pasar.
Besarnya potensi agribinis jenis tembakau di Kabupaten Bandung sebagaimana gambaran di atas, member peluang terhadap peningkatan PDRB pada sektor industri pertanian/perkebunan, oleh karenanya untuk kepastian prospek pengembangan industri hasil tembakau yang berkelanjutan diperlukan skenario Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung.
LAPORAN AKHIR I - 5 1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran
Maksud dari penyusunan rencana pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung adalah untuk memberikan landasan terarah bagi Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung dan memberi pengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan petani tembakau serta peningkatan ekonomi wilayah Kabupaten Bandung.
Tujuannya adalah merumuskan konsep, strategi, dan program Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung, yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh pemerintah maupun stakeholder lainnya dalam upaya pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung.
Dengan maksud dan tujuan yang telah disampaikan di atas, maka sasaran dari penyusunan penyusunan rencana pengembangan kawasan industri tembakau adalah:
1. Terdentifikasinya potensi dan permasalahan pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung
2. Terumuskannya alternatif rencana pola pengembangan dan pengelolaan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung
3. Terumuskannya konsep, strategi, dan indikasi program Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung.
1.3 Ruang Lingkup Pekerjaan 1.3.1 Lingkup Wilayah Perencanaan
Lokasi Pekerjaan Perencanaan Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung adalah wilayah administrasi Kabupaten Bandung.
LAPORAN AKHIR I - 6 1.3.2 Lingkup Materi
Ruang lingkup materi pekerjaan penyusunan perencanaan pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi potensi dan permasalahan pengembangan industri tembakau di Kabupaten Bandung, meliputi identifikasi skala produksi eksisting, mata rantai produksi, dan persepsi mengenai kebutuhan infrastruktur pendukung.
2. Melakukan identifikasi alternatif rencana pola pengembangan dan pengelolaan industri tembakau di Kabupaten Bandung. Rencana yang disusun meliputi lokasi kawasan, model pengelolaan, output pengolahan, dan pasar, serta infrastruktur pendukung.
3. Melakukan kajian dan perumusan konsep dan strategi serta indikasi program pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung.
1.4 Metodologi
Pendekatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah berdasarkan sasaran sebagai berikut:
Melakukan identifikasi potensi dan permasalahan pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung, melalui :
o survey primer terhadap petani untuk mendapatkan informasi mengenai skala produksi eksisting, mata rantai produksi, dan persepsi mengenai kebutuhan infrastruktur pendukung.
o Wawancara stakeholder dan eksplorasi data sekunder, untuk mendapatkan informasi mengenai peta pasar dan kebutuhan hasil perkebunan tembakau, baik dalam skala lokal, regional, nasional, maupun internasional.
LAPORAN AKHIR I - 7 o Perhitungan potensi lahan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Bandung untuk perkebunan tembakau guna mengantisipasi perkembangan pasar. Perhitungan potensi lahan yang dapat dikembangkan didasarkan pada kebijakan terkait dan kriteria kesesuaian lahan untuk perkebunan tembakau.
Melakukan rumusan konsep dan strategi pengembangan, yang dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT adalah analisis yang dilakukan untuk merumuskan konsep, strategi, dan indikasi program melalui identifikasi kekuatan dan kelemahan internal, serta kesempatan dan tantangan eksternal.
Melakukan rumusan alternatif rencana pola pengembangan dan pengelolaan kawasan perkebunan dan pengolahan industri tembakau di Kabupaten Bandung, melalui :
o Analisis kebutuhan pasar, merupakan analisis untuk mengetahui kebutuhan pasar berbahan baku tembakau o Analisis supply, merupakan analisis untuk mengetahui
kemampuan Kabupaten Bandung dalam mencukupi kebutuhan pasar
o Analisis infrastruktur dan kelembagaan, merupakan analisis yang diperlukan untuk mengetahui infrastruktur pendukung pengembangan kawasan perkebunan dan industri tembakau di Kabupaten Bandung dan pengembangan kelembagaannya.
Melakukan Rumusan indikasi program Pengembangan Kawasan Perkebunan dan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung.
LAPORAN AKHIR I - 8 Pendekatan yang digunakan secara sistematis dalam konteks pekerjaan secara keseluruhan ditunjukkan pada Gambar berikut :
Gambar 1.1
Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan
Perencanaan Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung
Belum Optimalnya Pengembangan Perkebunan Tembakau dan Industri Pengolahan Hasil Perkebunan Tembakau di
Kabupaten Bandung
RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2010 – 2015 dan RKPD Kabupaten Bandung Tahun 2012: akselerasi pembangunan daerah yang akan difokuskan untuk mencapai peningkatan kualitas pertumbuhan yang berbasis pada
sektor pertanian/perkebunan
Identifikasi Potensi dan Permasalahan
Analisis Potensi Pasar Hasil Perkebunan Tembakau
Analisis Kemampuan Kabupaten Bandung dalam Memenuhi
Permintaan Pasar
Analisis Kebutuhan Infrastruktur Pendukung dan
kelembagaan
Rencana Pengembangan Kawasan Industri Tembakau
Konsep, Strategi, dan Indikasi Program
Analisis SWOT Perlunya Pengembangan Kawasan Industri
Rumusan Konsep dan Strategi
LAPORAN AKHIR I - 9 Dalam pengerjaan pekerjaan ini, konsultan secara spesifik akan menggunakan metode-metode sebagai berikut:
Identifikasi potensi dan permasalahan pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung
o survey dilakukan terhadap petani sebagai sampel. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode snowball pada setiap kecamatan. Metode snowball dikembangkan dengan memperhatikan skala produksi dan jenis pengolahan yang dilakukan oleh petani. Untuk melakukan survey, akan dikembangkan set kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai mengenai skala produksi eksisting, mata rantai produksi, dan persepsi mengenai kebutuhan infrastruktur pendukung. Hasil survey akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif.
o Wawancara stakeholder dan eksplorasi data sekunder, dilakukan dengan terlebih dahulu memetakan stakeholder yang terlibat dalam perkebunan dan industri tembakau di Kabupaten Bandung. Beberapa stakeholder yang terlibat dan dapat diidentifikasi adalah stakeholder dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, Bappeda, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan, BKP3, dan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI). Wawancara dilakukan dengan panduan set pertanyaan terbuka untuk mengetahui peta pasar dan kebutuhan hasil perkebunan tembakau, baik dalam skala lokal, regional, nasional, maupun internasional.
o Penentuan kawasan industri yang dapat dikembangkan di Kabupaten Bandung untuk industri tembakau dilakukan dengan terlebih dahulu mengembangkan kriteria untuk pengembangan kawasan industri tembakau. Setelah itu dilakukan analisis overlay dan perhitungan wilayah
LAPORAN AKHIR I - 10 kecamatan yang dapat dikembangkan untuk pusat kawasan industri tembakau.
Analisis SWOT yang dilakukan meliputi identifikasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan kondisi aspek internal, dan peluang dan ancaman berdasarkan kondisi eksternal. Ruang lingkup internal didefinisikan sebagai kondisi perkebunan dan industri tembakau di Kabupaten Bandung, sedangkan ruang lingkup eksternal adalah kondisi perkebunan dan tembakau diluar Kabupaten Bandung.
Rumusan alternatif rencana pola pengembangan dan pengelolaan kawasan perkebunan dan pengolahan industri tembakau di Kabupaten Bandung, dilakukan melalui:
o Analisis kebutuhan pasar, dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan stakeholder terkait untuk mengetahui potensi kebutuhan pasar berbahan baku tembakau. Teknik analisis yang dilakukan adalah content analysis.
Tahapan yang dilakukan melalui content analysis ini adalah sebagai berikut :
1) Unitizing, adalah upaya untuk mengambil data yang tepat dengan kepentingan analisis kebutuhan pasar yang mencakup teks, gambar, suara, dan data-data lain yang dapat diobservasi lebih lanjut.
2) Sampling, adalah cara analis untuk mengetahui potensi pasar dengan membatasi observasi yang merangkum semua jenis unit yang ada. Dengan demikian terkumpullah unit-unit yang memiliki tema/karakter yang sama. Dalam pendekatan kualitatif, sampel tidak harus digambarkan dengan proyeksi statistik. Dalam pendekatan ini kutipan-kutipan serta contoh-contoh, memiliki fungsi yang sama sebagai sampel. Sampel
LAPORAN AKHIR I - 11 dalam bentuk ini digunakan untuk mendukung atas pernyataan inti dari peneliti.
3) Recording, untuk dapat memberikan gambaran situasi yang berkembang mengenai potensi kebutuhan pasar tembakau
4) Reducing, tahap ini dibutuhkan untuk penyediaan data yang efisien. Secara sederhana unit-unit yang disediakan dapat disandarkan dari tingkat frekuensinya. Dengan begitu hasil dari pengumpulan unit dapat tersedia lebih singkat, padat, dan jelas.
5) Inferring, tahap ini mencoba menganalisis data lebih jauh, yaitu dengan mencari makna data unit-unti yang ada, dengan mengungkap konteks yang ada dengan menggunkan konstruksi analitis (analitical construct).
Konstruksi analitis befungsi untuk memberikan model hubungan antara teks dan kesimpulan yang dituju.
Dengan begitu, konstuksi analitis harus menggunakan bantuan teori, konsepsi yang sudah memiliki keabsahan dalam dunia akademis.
6) Naratting, merupakan tahap yang terakhir. Narasi merupakan upaya untung menjawab pertanyaan penelitian. Dalam narasi biasanya juga berisi informasi- informasi penting untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan hasil penelitian yang ada.
Secara lebih rinci teknik dan metoda pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh konsultan dapat dilihat pada Tabel berikut:
LAPORAN AKHIR I - 12 Tabel 1.1.
Metodologi Pendekatan Perencanaan Pengembangan Kawasan Industri Tembakau di Kabupaten Bandung
Analisis Sub Analisis Teknik/Metoda Potensi dan
Permasalahan
Skala produksi, mata rantai produksi, persepsi petani
Survey petani: snowball
Peta Pasar dan KebutuhanPasar
Wawancara
stakeholder: stakeholder mapping dan
wawancara Potensi kawasan Analisis Overlay Alternatif Rencana Analisis Demand Content Analysis
Analisis Supply Analisis Deskriptif berdasarkan analisis overlay dan survey petani
Analisis Infrastruktur Penunjang
Analisis Deskriptif berdasarkan survey petani dan kajian normatif
Strategi dan Kebijakan Analisis SWOT
1.5 Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
Secara subtansi dalam bab ini menyampaikan latar belakang, tujuan dan sasaran pekerjaan, ruang lingkup, keluaran, dan sistematika pelaporan
BAB 2 KAJIAN KONSEPTUAL PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TEMBAKAU
Pada bab ini, disampaikan teori-teori yang berhubungan dengan kajian konseptual mengenai kawasan industri tembakau
LAPORAN AKHIR I - 13 BAB 3 TINJAUAN KEBIJAKAN TERKAIT
Pada bab ini disampakan mengenai Tinjauan Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Prioritas Industri Berbasis Agro Tahun 2010 – 2014 dan tinjauan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027.
BAB 4 GAMBARAN WILAYAH KABUPATEN BANDUNG, PERKEBUNAN TEMBAKAU, DAN PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TEMBAKAU KABUPATEN BANDUNG Pada bab ini disampaikan Gambaran Wilayah Kabupaten Bandung, Kondisi Petani dan Perkebunan Tembakau di Kabupaten Bandung, dan Kondisi Kriteria Penentuan Lokasi Kawasan Industri
BAB 5 STRATEGI PENGEMBANGAN DAN ANALISIS PENENTUAN LOKASI KAWASAN INDUSTRI TEMBAKAU
Bab ini berisikan analisis terhadap penentuan Lokasi Kawasan Industri Tembakau dan Analisis Pengembangan Kelembagaan.
BAB 6 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TEMBAKAU
Dalam bab ini akan diuraikan rencana pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung.
BAB 7 INDIKASI PROGRAM PENGEMBANGAN
Dalam bab ini akan diuraikan tahapan-tahapan pengembangan kawasan industri tembakau di Kabupaten Bandung.