LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA
MODEL PENDIDIKAN GIZI “HEALTHY GIRLS SMART GIRLS”
BAGI REMAJA PUTRI DI PROVINSI JAWA TENGAH
Oleh :
Vilda Ana Veria S, S.Gz, M.Gizi NIDN 0617128701 dr. Sri Soenaryati, M.Kes NIDN 0620035101 Maryani Setyowati, SKM, M.Kes NIDN 0604037501
Dibiayai Oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2014
UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO 2014
Bidang Kajian : Kesehatan/ Gizi Masyarakat
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA 1. a. Judul Penelitian : Model Pendidikan Gizi “Healthy girls
smart girls” bagi Remaja Putri di Provinsi Jawa Tengah
b. Bidang Ilmu : Kesehatan/ Gizi Masyarakat c. Kategori Penelitian : Penelitian Dosen Muda 2. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar : Vilda Ana Veria Setyawati, S.Gz, M.Gizi
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Golongan/ Pangkat/ NIDN : IIIB/0617128701 d. Jabatan Fungsional : Tenaga Pengajar e. Jabatan Struktural : Staf Edukatif
f. Fakultas/ Jurusan : Kesehatan/ S1 Kesehatan Masyarakat
g. Pusat Penelitian : Kesehatan 3. Alamat Ketua Peneliti
a. Alamat kantor/ Telp/ Fax/ E-mail: Jl Nakula I No.5-11 Semarang 50131/(024) 3549948/(024)3549948/ [email protected] b. Alamat rumah/ Telp/ Fax/ E-mail : Permata Majapahit No. 58,
Pedurungan/ 085647472664/ [email protected] 4. Jumlah Anggota Peneliti : 2 orang
a. Nama Anggota : dr. Sri Soenaryati, M.Kes
Maryani Setyowati, SKM,M.Kes 5. Lokasi Penelitian : Semarang dan Sragen
6. Kerjasama dengan institusi lain : -
7. Lama Penelitian : 6 bulan
8. Biaya yang diperlukan
a. Dinas Pendidikan Provinsi Jateng : Rp.15.000.000,00 b. Sumber lain, sebutkan : -
Jumlah Rp.15.000.000,00
(Lima belas juta rupiah)
Semarang, 20 Januari 2014 Mengetahui :
Dekan Fakultas Kesehatan Ketua Peneliti
Dr.dr. Sri Andarini Indreswari, M.Kes Vilda Ana Veria Setyawati, M.Gizi NPP. 0686.20.2007. 346 NPP. 0686.11.2011.406
Menyetujui, Kepala Pusat Penelitian
Juli Ratnawati, SE, M.Si NPP. 0686.11.2000.193
RINGKASAN
Penelitian di Semarang tahun 2008, ada 25% remaja Semarang memiliki status gizi di bawah normal. Sebaliknya pada tahun 2011 berdasarkan hasil penjaringan peserta didik TA 2011/2012 pada remaja usia 16 tahun dari 16.579 anak sebesar 3,71% berstatus gizi lebih. Kecenderungan masalah gizi sejak tahun 2000 ke atas adalah penyakit tidak menular yang terdiri dari berbagai jenis penyakit degenerative.
Model penelitian yang dipilih adalah kuantitatif. Peneliti melakukan observasi pada empat variabel yang sudah ditentukan dilokasi penelitian, dengan kata lain penelitian ini merupakan explanatory research. Rancangan yang dipilih pada penelitian ini adalah cross sectional. Variabel penelitian ini adalah status gizi, body image, pengetahuan gizi, perilaku makan, Pengumpulan data dilakukan dengan observasi klinis dan wawancara. Instrumen penelitian yang digunakan adalah digital scale, microtoa, dan kuesioner. hipertensi, diabetes mellitus, stroke, asam urat, gagal ginjal, dan jantung.
Hasil pengukuran status gizi menujukkan bahwa sebagian besar remaja kota berstatus gizi kurang (47,9%), sedangkan remaja dari desa berstatus gizi normal (56,2%). Beberapa literatur menjelaskan bahwa justru dengan kemudahan akses informasi, remaja kota terpapar beberapa informasi yang kurang tepat mengenai diet. Hasil yang berkebalikan ditunjukkan pengukuran body image, yaitu pada remaja kota sebagian besar merasa puas (77,1%) dengan bentuk tubuhnya, sedangkan remaja desa sebagian besar (64,6%) merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Hasil pengukuran variabel pengetahuan gizi menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki pengetahuan yang cukup, remaja putri kota (52,1%) dan remaja desa (62,5%). Hasil yang mencengangkan ditunjukkan pada perilaku makan, baik remaja putri desa maupun kota memiliki perilaku makan yang belum baik (100%). Pada uji perbedaan keempat variabel diantara kelompok kota dan desa, hanya variabel status gizi yang menunjukkan adanya perbedaan. Sehingga produk penelitian ini adalah sebuah buku yang akan menjawab ketidakpahaman remaja tentang gizi.
Kata Kunci : Remaja Putri, status gizi, body image, pengetahuan gizi, perilaku makan
PRAKATA
Puji syukur dipersembahkan kepada Allah swt, atas karunia danperkenan- Nya sehingga penyusunan laporan penelitian yang berjudul “Model Pendidikan Gizi “Healthy Girls Smart Girls” Bagi Remaja Putri di Provinsi Jawa Tengah”
dapatdiselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan terlaksana dengan baiktanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah yang telah memberikan dukungan dana dalam penelitian ini
2. Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang, DR. Ir Edi Noersasongko,M.Kom dan Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang, DR. dr. Sri Andarini Indreswari, M.Kes yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam penelitian ini.
3. Para remaja putri SMA di Jawa Tengah yang telah menjadi responden penelitian
4. Mahasiswa yang turut membantu pelaksanaan penelitian sebagai enumerator 5. Teman-teman dosen dan tata usaha Fakultas Kesehatan UDINUS atas
dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidaklah sempurna. Oleh karenaitu, saran dan kritik sangat penulis harapkan demi kesempurnaannya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Semarang, Nopember 2014
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
RINGKASAN ... iii
PRAKATA ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB 1. PENDAHULUAN... 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 4
BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN... 14
BAB 4. METODE PENELITIAN... 15
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21
BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN ... 25 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1. Tabel 2.1. Kategori status gizi berdasarkan BMI ... 19 2. Tabel 5.1 Distribusi Responden Menurut Karakteristik Individu... 21 3. Tabel 5.2 Uji Perbedaan pada keempat variabel ... 22
DAFTAR LAMPIRAN
1. Penggunaan dana penelitian 2. Daftar Riwayat Hidup 3. Analisis Data
4. Dokumentasi Kegiatan Penelitian 5. Draft Buku Hasil Penelitian
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Survei terhadap mahasiswa kedokteran di Perancis menunjukkan bahwa 16% mahasiswa kehabisan cadangan besi, sementara 75% menderita kekurangan gizi. Penelitian lain di Kairo menunjukan asupan zat besi pada remaja putri tidak mencukupi kebutuhan harian yang dianjurkan. Di negara sedang berkembang sekitar 27% remaja putra dan 26% remaja putrid menderita anemia (Arisman, 2004). Keadaan gizi juga akan mempengaruhi kemampuan anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah dan akan mempengaruhi prestasi belajar. Penelitian di Semarang tahun 2008, ada 25% remaja Semarang dengan jenjang pendidikan SMA, memiliki status gizi di bawah normal. Pada penelitian yang sama juga didapatkan data bahwa sebesar 48,9% remaja putri memiliki pengetahuan gizi yang kurang (Purwaningsih E, 2008). Sebaliknya pada tahun 2011 berdasarkan hasil penjaringan peserta didik TA 2011/2012 pada remaja usia 16 tahun dari 16.579 anak, sebesar 3,71% berstatus gizi lebih (Aini SN, 2012). Ke depan, status gizi lebih akan berlanjut menjadi obesitas. Penelitian lain yang juga dilakukan di Semarang tahun 2013 pada remaja yang bestatus mahasiswa menunjukkan bahwa 41 % remaja berstatus gizi tidak normal (Matin SS dan Setyawati VAV, 2013).
Sejak tahun 2010, banyak westernisasi yang menjadi kiblat remaja dalam berbagai bidang, diantaranya gaya dan perilaku makan. salah satu negara yang menjadi kiblat remaja adalah korea. Dengan masuknya “Korean wave” atau demam korea, remaja-remaja mengidolakan tokoh-tokoh penyanyi dan artis dari negara tersebut. Mereka berusaha untuk meniru apa yang melekat pada artis Korea, yaitu tubuh yang super langsing. Sehingga muncul definisi body image negatif dikalangan remaja, bahwa tubuh yang ideal adalah tubuh yang super langsing. Demi mendapatkannya, remaja rela melakukan diet ketat tanpa disertai pengetahuan gizi yang cukup, sehingga muncullah perilaku makan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip gizi. Apabila hal ini diteruskan, akan berpengaruh pada kualitas kesehatan dan gizi remaja yang seharusnya disiapkan dengan matang sebagai seorang calon ibu.
Remaja putri mengalami percepatan pertumbuhan lebih dahulu dibanding remaja pria, karena tubuhnya memerlukan persiapan menjelang usia reproduksi, seperti haid dan kehamilan.Mereka memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dan cenderung mudah terpengaruh oleh hal-hal baru. Pengaruh yang paling besar berasal dari kelompok teman sebaya. Mereka ikut dalam club-club yang perilaku dan nilai kolektifnya sangat mempengaruhi perilaku individu yang menjadi anggotanya, termasuk perilaku makan(Khomsan A, 2003). Karena kurangnya pengetahuan dibidang gizi, sehingga munculah body image negatif dan kesalahan perilaku makan.
Body image negatif atau persepsi citra tubuh yang buruk merupakan masalah serius yang dapat berpengaruh pada kesehatan mental, perilaku makan dan keterbatasan aktifitas fisik. Body image negatif dapat mendorong seseorang melakukan perilaku kontrol berat badan yang tidak sehat dan disorder eating (Croll J, 2005).Dalam masa pencarian identitas, remaja cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan. (Khomsan A, 2003). Sepanjang sejarah, standar kecantikan seorang wanita selalu berubah dan sulit untuk dimengerti. Wanita, tidak terkecuali remaja putri, mampu mengorbankan kenyamanannya dan bahkan menahan rasa sakit untuk dapat mencapai standar kecantikan yang diinginkan. Persepsi body image pada remaja lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan pertemanan (Derenne, J L , Beresin, E V, 2006).
Pengetahuan gizi memegang peranan penting dalam penggunaan pangan.
Semakin tinggi pengetahuan gizi, seseorang akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang dipilih untuk dikonsumsi (Fikawati S dan Syafiq A, 2004). Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih makanan, yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami manfaat kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi. Dengan sikap dan perilaku makan yang kurang baik akan mengakibatkan status gizi yang kurang bagi remaja tersebut.
Pendidikan di sekolah merupakan tempat yang paling cocok untuk memberikan segala macam informasi bagi remaja. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah gizi tidak termasuk sebagai salah satu mata pelajaran, seperti agama ataupun kewarganegaraan untuk membentuk siswi yang berbudi pekerti.
Oleh karena itu perlu dilakukan pendidikan gizi untuk para siswi untuk meningkatkan pengetahuan dibidang gizi dan mewujudkan remaja yang sehat dan berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan dengan memberikan suatu media edukasi yaitu buklet (Contento IR, 2010). Hasil penelitian Widajanti, et al (2004) didapatkan hasil bahwa komik dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap anak sekolah dasar tentang GAKY (Widajanti L, et al, 2004). Pendidikan diharapkan akan lebih efektif jika ditambah dengan media pendidikan. Buklet adalah media untuk menyampaikan pesan kesehatan dalam bentuk buku (Ghazali PL, 2008).
Dasar-dasar dari pembuatan buklet tersebut adalah sejauh mana remaja tahu tentang body image dan pengetahuan gizi, serta bagaimana perilaku makan dan status gizi mereka.
Luaran yang diharapkan adalah terukurnya body image, pengetahuan gizi, perilaku makan, dan status gizi pada remaja sebagai dasar pembuatan buklet untuk model pendidikan gizi yang menarik pada remaja. Selain itu remaja putri Jawa Tengah bisa menjadi model bagi remaja-remaja di wilayah lain.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagiamana body image, pengetahuan gizi, perilaku makan, dan status gizi pada remaja di Provinsi Jawa Tengah?
Bagaimana model pendidikan gizi yang tepat bagi mereka sehingga terwujud
“healthy girls smart girls”?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Menganalisis body image, pengetahuan gizi, perilaku makan, dan status gizi pada remaja
2. Dibuatnya draft buklet berjudul “healthy girls smart girls” sebagai model pendidikan gizi yang menarik bagi remaja
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Body Image
Body image dibentuk oleh persepsi, imajinasi, emosi dan sensasi fisik terhadap tubuh.Body image dapat didefinisikan sebagai cara seseorang menilai penampilan fisik tubuhnya, termasuk tinggi badan, berat badan dan bentuk tubuhnya.
Terdapat tiga komponen penting dalam body image, yaitu (Fish J, Ryan C, Zechetmayr M, 2004) :
a. Body reality (apa yang kita rasakan tentang bentuk tubuh kita)
b. Body presentation (bagaimana kita menampilkan tubuh kita dalam lingkungan , seperti cara berpakaian dan bertingkah laku)
c. Body ideal (bagaimana bentuk tubuh yang seharusnya kita miliki) Body image positif adalah persepsi yang benar dan jelas tentang bentuk tubuh yang dimiliki, merasa bangga dan menerima keunikan bentuk tubuh yang dimiliki serta merasa nyaman dan percaya diri dengan tubuh yang dimiliki. Body image negatif adalah persepsi yang salah tentang tubuh yang dimiliki, merasa bentuk tubuh tidak seperti kenyataan yang ada serta merasa malu, cemas, tidak nyaman dan canggung dengan bentuk tubuhnya.Body image negatif atau persepsi citra tubuh yang buruk merupakan masalah serius yang dapat berpengaruh pada kesehatan mental, perilaku makan dan keterbatasan aktifitas fisik. Body image
negatif dapat mendorong seseorang melakukan perilaku kontrol berat badan yang tidak sehat dan disorder eating (Croll J, 2005).
Remaja bisa saja sangat nstrumen terhadap penampilannya. Remaja sering merasa tidak nyaman dengan perubahan yang terjadi secara cepat pada tubuhnya, di saat yang sama mereka ingin terlihat seperti teman yang mereka anggap paling sempurna dan atau tokoh idolanya. Remaja sering kali merasa tidak puas terhadap penampilanya. Remaja sering merasa tidak bahagia dengan berat badan dan bentuk tubuh mereka, sedangkan remaja pria lebih menginginkan bentuk tubuh yang berotot. Pubertas pada remaja nstru dibarengi dengan peningkatan lemak tubuh. Perubahan ini dapat menyebabkan ketidak puasan diantara remaja. Beberapa remaja berusaha untuk mengontrol kenaikan berat badan melalui perubahan kebiasaan dan perilaku makan (Rome ES, Vazquez, IM, Blazar NE, 2003).
Faktor yang mempengaruhi body image : - Media massa
Body image sangat dipengaruhi oleh media massa yang menampilkan bentuk tubuh kurus sebagai bentuk tubuh yang ideal.Majalah remaja menampilkan citra seorang wanita muda, langsing, menarik dan wajah cantik, sedangkan majalah remaja pria menampilkan bentuk tubuh kuat berotot dan menarik (Croll J, 2005).
- Keluarga
Tekanan dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketidak puasan terhadap bentuk tubuh. Komentar dari orang tua dan anggota keluarga lain mempunyai pengaruh yang besar terhadap body image anak.
Komentar negatif tentang berat badannya dapat membuat anak melakukan perilaku makan yang tidak sehat.
- Teman
Hubungan pertemanan secara emosional menyediakan keamanan dan kenyamanan bagi remaja untuk saling berbagi. Pada umumnya hubungan nstru teman juga membentuk cara pandang yang sama, khususnya pendapat tentang tubuh ideal.
- Lingkungan
Body image dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kebudayaan, seperti apa yang orang lain nstrume tentang tubuh kita dan lingkungan tempat kita tumbuh (Croll J, 2005).
Perubahan-perubahan yang terjadi pada periode remaja meletakkan kelompok ini, terutama perempuan, ke dalam kelompok resiko tinggi untuk berperilaku mengubah penampilan hingga memberi rasa nyaman, melalui perilaku makannya (Fikawati S, Syafiq A, 2007).
B. Pengetahuan Gizi
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan di dalam domain kognotif mempunyai 6 tingkatan, yaitu tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (instrument), analisa (analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi (evaluation) (Notoatmodjo S, 2003).
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan (Suhardjo, 2003) :
Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.
a. Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanannya mampu menyediakan zat-zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi.
b. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.
Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih makanan, yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami manfaat kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi.9 Pengetahuan gizi yang baik diharapkan mempengaruhi konsumsi makanan yang baik sehingga dapat menuju status gizi yang baik pula. Pengetahuan gizi merupakan faktor yang penting dalam masalah kurang gizi yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih makanan dan dalam pengolahan sehingga menurunkan kadar kandungan gizi (Azwar S, 2003).
Pengetahuan gizi berperan dalam memberikan cara menggunakan pangan dengan baik sehingga dapat mencapai keadaan gizi yang cukup. Tingkat
pengetahuan menentukan perilaku konsumsi pangan salah satunya didapat melalui jalur pendidikan gizi yang umumnya lebih baik dilakukan sedini mungkin untuk menambah pengetahuan dan memperbaiki kebiasaan konsumsi pangan. Melalui pendidikan kesehatan di sekolah, remaja menjadi tahu apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja memiliki pengetahuan gizi yang baik, tetapi hal itu tidak berdampak pada perilaku makannya. Pengaruh yang lebih besar justru berasal dari pengaruh lingkungan dan iklan media massa (Azwar S, 2003).
C. Perilaku Makan Remaja
Tujuan utama pemenuhan gizi remaja adalah untuk menyediakan zat-zat gizi secara optimal guna mendukung pertumbuhan dan status kesehatannya.
Kadangkala tujuan ini tidak dapat tercapai karena dipengaruhi faktor gaya hidup, perilaku dan asupan makan yang tidak seimbang. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung unsur-unsur yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan dan mengatur proses kehidupan. Untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup, setiap orang memerlukan 5 kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) dalam jumlah cukup. Disamping itu manusia memerlukan air dan serat untuk untuk memperlancar berbagai proses faali tubuh (Spear BA, 2004).
Keseimbangan gizi diperoleh apabila hidangan sehari-hari terdiri dari tiga kelompok bahan makanan, (1) sumber zat tenaga, yaitu padi-padian dan umbi- umbian serta tepung-tepungan, biasanya berupa jenis makanan pokok, (2) sumber zat pengatur, yaitu sayuran dan buah, dan (3) sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil olahannya, biasanya disajikan dalam bentuk lauk. Selanjutnya dari setiap kelompok dipilih satu atau beberapa jenis bahan makanan. Survei terhadap asupan zat gizi pada remaja menunjukkan bahwa asupan vitamin A, thiamin dan zat besi dan kalsium pada remaja kurang dari angka yang dianjurkan.Hal ini disebabkan oleh pola makan remaja yang kacau.
Ketakutan untuk mejadi gemuk merupakan salah satu faktor yang menyebabkan remaja memiliki perilaku makan yang kacau.Remaja sering makan tidak teratur, sengaja melewatkan waktu makan, konsumsi makanan cemilan secara berlebihan,
menjalani diet khusus dan konsumsi makanan cepat saji (fast food) (Spear BA, 2004).
Adanya banyak kegiatan yang diikuti oleh remaja menyebabkan mereka memiliki pola makan yang tidak teratur. Waktu makan yang sering di tinggalkan oleh remaja adalah waktu makan pagi dan makan siang. Sebagian remaja putri berangapan bahwa mereka dapat mengontrol berat badan dengan tidak makan pagi dan makan siang.Frekuensi makan hendaknya disesuaikan dengan fisiologi tubuh, yakni tiga 3 kali makan besar dan 2-3 kali makanan selingan. Pola makan teratur menjaga perut selalu berada dalam keadaan terisi.Frekuensi makan tidak teratur memicu makan banyak di saat lapar (Spear BA, 2004).
Pola makan (frekuensi makan dan kebiasan makan pagi) berkaitan erat dengan resiko menderita obesitas. Sarapan secara teratur dapat menurunkan resiko obesitas. Riset yang dilakukan oleh University of Minnesota School of Public Health menunjukkan semakin rutin remaja melakukan makan pagi, semakin rendah pula indeks masa tubuh mereka. Seseorang yang memiliki kebiasaan makan pagi dapat mengendalikan nafsu makan mereka sepanjang hari. Hal itu juga mencegah mereka makan secara berlebihan saat makan siang atau makan malam (Spear BA, 2004).
Perilaku makan remaja, khususnya remaja putri, telah banyak dibicarakan tetapi sedikit yang menelitinya. Perilaku makan remaja tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal dalam diri mereka, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Remaja belum sepenuhnya matang, baik secara fisik, kognitif dan psikososial. Dalam masa pencarian identitas ini remaja cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan.Lingkungan sekitar tempat mereka bergaul terkadang memiliki pengaruh yang lebih besar dari pada lingkungan keluarga (Spear BA,2004).
D. Status gizi
BMI merupakan salah satu indeks pengukuran status gizi yang biasa digunakan untuk mengukur status gizi usia remaja dan dewasa. Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dan perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Status gizi dapat diartikan sebagai keadaan kesehatan individu- individu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik, energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya
diukur secara antropometri. Secara umum, status gizi dapat dikatakan sebagai fungsi kesenjangan gizi, yaitu selisih antara konsumsi zat gizi dengan kebutuhan zat gizi tersebut. (Supariasa, et al, 2002).
Penilaian status gizi pada remaja dengan menggunakan Body Mass Index (BMI). Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang.
IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry (Grummer-Strawn LM et al., 2002). IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah serta metode skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan.
Untuk mengetahui nilai BMI ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:
BMI merupakan salah satu indikator yang dapat dipercayai untuk mengukur lemak tubuh. Walaubagaimanapun, terdapat beberapa kekurangan dan kelebihan dalam mnggunakan BMI sebagai indikator pengukuran lemak tubuh.
Kelebihan indeks massa tubuh adalah:
a. Biaya yang diperlukan tidak mahal
b. Untuk mendapat nilai pengukuran, hanya diperlukan data berat badan dan tinggi badan seseorang.
c. Mudah dikerjakan dan hasil bacaan adalah sesuai nilai standar yang telah dinyatakan pada table BMI.
Kekurangan indeks massa tubuh adalah:
a. Pada olahragawan: tidak akurat pada olahragawan (terutama atlet bina) yang cenderung berada pada kategori obesitas dalam BMI disebabkan mereka mempunyai massa otot yang berlebihan walaupun presentase lemah tubuh mereka dalam kadar yang rendah. Sedangkan dalam pengukuran berdasarkan
BMI = berat badan (kg) (tinggi badan (m))2
berat badan dan tinggi badan, kenaikan nilai IMT adalah disebabkan oleh lemak tubuh.
b. Pada anak-anak: tidak akurat karena jumlah lemak tubuh akan berubah seiringan dengan pertumbuhan dan perkembangan tubuh badan seseorang.
Jumlah lemak tubuh pada lelaki dan perempuan juga berbeda selama pertumbuhan. Oleh itu, pada anak-anak dianjurkan untuk mengukur berat badan berdasarkan nilai persentil yang dibedakan atas jenis kelamin dan usia.
Pada kelompok bangsa: tidak akurat pada kelompok bangsa tertentu karena harus dimodifikasi mengikut kelompok bangsa tertentu. Sebagai contoh BMI yang melebihi 23,0 adalah berada dalam kategori kelebihan berat badan dan BMI yang melebihi 27,5 berada dalam kategori obesitas pada kelompok bangsa seperti Cina, India, dan Melayu. (CDC, 2002).
E. Pendidikan gizi
Pendidikan gizi dan kesehatan adalah pendekatan edukatif untuk menghasilkan perilaku individu/masyarakat yang diperlukan dalam peningkatan atau dalam mempertahankan gizi dan kesehatan tetap baik. Menurut Suhardjo (1998), tujuan pendidikan gizi dan kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Dapat membentuk sikap positif terhadap kesehatan.
b. Terciptanya pengetahuan dan kecakapan dalam memilih dan menggunakan bahan makanan.
c. Terbentuknya kebiasaan makan yang baik.
d. Adanya motivasi untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan (Amir A, 2008).
Pada dasarnya pendidikan kesehatan hanya akan berhasil bila subjek merasa perlu tertarik dengan isi pendidikan tersebut karena menyangkut kesehatan dan kesejahteraannya. Hasilnya akan berbeda apabila konsep pendidikan yang telah diberikan hanya berdasar pada kebutuhan peneliti atau ahli untuk menyampaikan pengetahuan atau informasi tersebut kepada subjek penelitian. Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan informasi atau pengetahuan, khususnya mengenai gizi, adalah tidak hanya kesesuaian isi, tetapi juga
cara komunikasi terhadap subjek penelitian. Pendidikan kesehatan melalui komunikasi untuk merubah kebiasaan atau perilaku sangat berhubungan dengan pola asuh, pola hidup dan praktek hidup sehat. Di samping itu, lingkungan yang mendukung, seperti fasilitas dan sarana- prasarana, teman, keluarga dan orang tua dapat membantu perubahan perilaku menjadi lebih baik (Nikmawati EE, et al, 2009).
Media pendidikan gizi dan kesehatan tidak kalah pentingnya dalam proses penyampaian informasi kesehatan. Media ini berfungsi sebagai alat bantu penyuluhan. Berdasarkan fungsinya, media dibagi menjadi 3, yaitu (Notoatmodjo S, 2003):
1. Media cetak, terdiri dari :
a. Buklet : media untuk menyampaikan informasi dalam bentuk buku b. Leaflet : seperti flyer tetapi dalam bentuk lipatan
c. Flyer : media untuk menyampaikan informasi dalam bentuk lembaran d. Flip chart/ lembar balik : media untuk menyampaikan informasi dalam
bentuk lembaran besar yang disatukan. Halaman depan bersisi materi yang dilihat peserta, bagian belakang berisi materi yang sama tetapi dilihat oleh penyuluh.
e. Rubrik/ tulisan pada surat kabar/ majalah mengenai suatu masalah kesehatan
f. Poster : bentuk media cetak berisi pesan-pesan/ informasi kesehatan, yang biasanya ditempel pada tempat-tempat umum.
2. Media elektronik
Media penyampaian informasi kesehatan melalui nstrume, radio, video, atau slide.
3. Media papan (bill board)
Papan (bill board) yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai sebagai media untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan.
Proses pembuatan buklet diawali dengan mencari informasi bahan yang tepat untuk buklet. Informasi yang dibutuhkan antara lain ketersediaan bahan baku, harga bahan baku, ketahanan bahan baku dan harga cetak buklet. Buklet akan dibuat dengan bahan tepat, yaitu bahan baku mudah didapat, harga bahan baku
murah, dan bahan baku tahan lama (awet). Sebelum buklet dicetak, bahasa dan tata letak materi buklet dikonsultasikan kepada ahli komunikasi. Proses ini bertujuan untuk mengetahui bahasa dan tata letak yang mudah dipahami oleh pembaca, khususnya ibu. Revisi akan dilakukan bila dianggap perlu. Pencetakan buklet dilakukan setelah bahasa dan tata letak dianggap mudah dipahami oleh ibu.
Hasil cetakan dikonsultasikan lagi kepada ahli komunikasi (Ghazali PL, 2008).
F. Remaja
Periode remaja adalah masa transisi atau peralihan dari periode anak-anak ke periode dewasa, yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas, tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua.Menurut Thornburg, usia remaja berkisar dari usia 13 tahun sampai 21 tahun, terbagi menjadi 3 tahap yaitu (1) remaja awal (13-14 tahun), (2) remaja tengah (15-17 tahun), (3) remaja akhir (18-21 tahun) (Dariyo A, 2004).
Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran. Hal ini disebabkan karena masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak- kanak dan masa dewasa, sehingga individu menghadapi situasi yang membingungkan. Di satu pihak ia masih kanak-kanak, tetapi di lain pihak ia dituntut bertingkah laku seperti orang dewasa. Terdapat tiga mengapa remaja dikategorikan rentan. Pertama, percepatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh memerlukan energi dan zat gizi yang lebih banyak. Kedua, perubahan gaya hidup dan kebiasaan pangan menuntut penyesuaian masukan energi dan zat-zat gizi lain.
Ketiga, kehamilan, keikutsertaan dalam olahraga, kecanduan alkohol dan obat, peningkatan kebutuhan energi dan zat gizi, disamping banyak remaja yang makan secara berlebihan dan akhirnya mengalami obesitas. Remaja adalah individu aktif dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan akan menentukan kualitas manusia di masa depan. Oleh karena itu penting untuk menjamin tingkat pertumbuhan yang optimal dan perlu perhatian khusus terhadap remaja putri yang akan menjadi ibu (Arisman, 2004).
Sejak dalam kandungan hingga lahir, seorang individu tumbuh menjadi anak, remaja dan dewasa. Hal ini berarti terjadi proses perubahan pada diri setiap
individu. Secara umum ada 2 faktor yang mempengaruhi perkembangan individu, yakni faktor endogen dan eksogen.
1. Faktor endogen (nature)
Faktor endogen ini sudah ada sejak kelahiran, bahkan sejak permulaan benih menjadi janin sehingga disebut faktor hereditas (keturunan) yang diwarisi langsung dari orang tuanya, misalnya postur tubuh (tinggi badan), bakat-minat, kecerdasan, kepribadian, dan sebagainya.Kalau kondisi fisik dan psikis individu dalam keadaan normal berarti ia berasal dari keturunan yang normal pula. Kondisi fisik dan psikis atau mental yang sehat, normal dan baik menjadi predisposisi perkembangan berikutnya.
Faktor endogen akan memperlihatkan hubungan, baik individual ataupun ontologis.
a. Faktor endogen individual : semua sifat, bakat, kemampuan dalam bentuk potensi, proses perkembangan dan kecepatannya ditentukan oleh susunan gen (pembawa keturunan dalam kromosom).
b. Faktor endogen umum yang bersifat ontologis dan individual adalah faktor kematangan. Faktor ini berbeda pada manusia dan hewan. Proses perencanaan kematangan menentukan saat timbulnya suatu kecakapan baru, tanpa adanya proses belajar atau latihan sebelumnya.
2. Faktor eksogen (nurture)
Pandangan faktor eksogen menyatakan bahwa perubahan dan perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri.
Faktor-faktor eksogen dapat dibagi menjadi : a. Lingkungan (environment)
Lingkungan di sekitar individu turut mempengaruhi proses perkembangannya.
b. Lingkungan keluarga
Seorang remaja yang berasal dari lingkungan keluarga yang banyak bergerak dalam bidang sosial dapat diharapkan kelak masih menyimpan kesan dari
keluarganya dan menaruh perhatian dalam bidang yang sama, tetapi ada juga putra-putrinya itu mengambil bidang lain.
c. Lingkungan sosial
Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat dimana terdapat interaksi antara individu satu dengan yang lain. Pengaruh lingkungan sosial yang luas terlihat dari cara berpakaian, penggunaan bahasa, cara berpikir maupun perbuatan- perbuatannya.
d. Lingkungan geografis
Keadaan iklim cuaca, keadaan tanah daerah tempat tinggal seorang individu dibesarkan besar pengaruhnya terhadap perkembangan, misalnya seorang remaja yang tinggal di daerah subur, berkelimpahan makanan bergizi pekembangan fisiknya akan lebih baik dari pada mereka yang yang hidup di daerah tandus.
e. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah meliputi guru dengan kepribadian masing-masing yang turut mempengaruhi perkembangn remaja. Tanpa disadari seorang guru dengan cara mengajar, sikap dan pandangannya mempengaruhi perkembangan intelek dan seluruh perkembangan murid.
f. Makanan
Makanan secara tidak langsung mempengaruhi kepribadian. Makanan mempengaruhi perkembangan fisik dan penampilannya, secara khusus pada masa remaja kebutuhan makanan meningkat sesuai dengan pertumbuhan fisiknya.
Pandangan dan penilaian orang lain terhadap fisik remaja akan membentuk gambaran mengenai dirinya.
g. Belajar
Belajar dapat mempengaruhi perkembangan seorang remaja. Belajar yang sistematik bergantung pada faktor, antara lain : faktor pengalaman atau kesempatan, makin luas kesempatan dan pengalaman makin banyak dipelajari dan memperbaiki hasil perkembangannya
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan adanya hubungan beberapa faktor terhadap status gizi. Faktor-faktor tersebut diantaranya body image, pengetahuan gizi, dan perilaku makan dengan subjek pada remaja Kota Semarang.
B. Manfaat Penelitian 1. Bagi Responden
Mengetahui skor body image, pengetahuan gizi, perilaku makan, dan status gizi sehingga mereka lebih mawas diri dan mengajak “peer group”
nya untuk sama-sama menjaga status gizi 2. Bagi Peneliti
a. Menambah referensi untuk mata kuliah Gizi Kesehatan Masyarakat b. Meningkatkan kemampuan meneliti
3. Bagi Keilmuan
Menambah khazanah untuk penelitian-penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan remaja dan gizi
4. Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah
PENYUSUNAN BUKLET SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN GIZI Data-data yang ada dalam penelitian ini bisa menjadi acuan untuk disusunnya program bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan demi terciptanya remaja putri yang berkualitas. Perlu dgaris bawahi bahwa remaja justru adalah salah satu golongan yang rentan (mudah terkena penyakit), sehingga mengontrol status gizi mereka merupakan upaya preventif yang harus dilakukan. Model pendidikan gizi pada remaja berupa buku ini diharapkan akan diperbanyak oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dan mewajibkan para siswa untuk memilikinya sebagai panduan untuk hidup sehat sehari-hari sehingga terwujud “healthy girl smart girl” yang akan menjadi judul buku ini.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. METODE PENELITIAN 1. Tahapan Penelitian
Penelitian dimulai dari penyusunan proposal yang diajukan ke lembaga terkait (Dinas P dan K Jawa Tengah). Setelah mendapat persetujuan, kemudian mendatangi lokasi penelitian untuk mendapat ijin melakukan pengambilan data dari awal sampai selesai. Setelah itu dilakukan
PENYUSUNAN PROPOSAL
PERIJINAN LOKASI PENELITIAN
PENGUKURAN BODY IMAGE, PENGETAHUAN
GIZI, PERILAKU MAKAN, DAN
STATUS GIZI
ANALISIS DATA &
PENYUSUNAN LAPORAN
PUBLIKASI ILMIAH
pengumpulan data baik di Semarang atau di Sragen. Semarang mewakili remaja perkotaan dan sragen mewakili remaja pedesaan. Setelah semua data terkumpul sesuai dengan variabel yang ditentukan, dilakukan analisis data.
Tahap selanjutnya adalah penyusunan laporan penelitian. Kemudian disusun sebuah buklet sebagai model pendidikan gizi bagi remaja. Dilanjutkan dengan penyusunan laporan ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah terakreditasi baik lokal ataupun regional.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan beberapa sekolah menengah atas di Jawa Tengah yang mampu mewakili karakter remaja perkotaan dan pedesaan.
Dari populasi yang ditentukan, diambil sampel dengan teknik sampling simple random sampling.
Kriteria inklusi :
a. Usia 16 – 21 tahun (Dariyo A, 2004)
b. Aktif sebagai siswi SMA terpilih (tidak sedang cuti) Kriteria eksklusi :
a. Menderita penyakit kronis atau infeksi b. Memiliki gangguan keterbelakangan mental Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus :
d Z PQ
2 2
2 /
1 α
Keterangan :
n : Besar sampel
P : proporsi/prevalensi sampel
Z : Nilai baku distribusi normal, yaitu 1,96 d : Tingkat ketepatan absolut (10%) Q : 1 – P
Maka besar sampel yang diperlukan n = 1,962.0,4*.(1-0,4)
0,12
n = 93 (hasil pembulatan) n =
Besar sampel yang diperlukan di satu populasi sebanyak 93 orang, dengan estimasi drop out sehingga ditambah menjadi 94 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling.
C. Variabel Penelitian
Variabel Definisi Operasional Instrumen Skala Pengetahuan
gizi
Pengetahuan tentang perilaku makan dan bahan makanan
Kuesioner pengetahuan gizi
Interval
Body image Perasaan penerimaan/kepuasan terhadap tubuh yang dimiliki.
Kuesioner body image
Interval
Perilaku makan
Kebiasaan dan pola makan yang dijalankan selama satu bulan terakhir
Kuesioner perilaku makan
Nominal
Status gizi perbandingan keseimbangan anatara berat badan dan tinggi badan dengan menggunakan indeks BMI
Digital scale Microtoa
Interval
D. Model Penelitian
Model penelitian yang dipilih adalah kuantitatif. Peneliti melakukan observasi pada tiga variabel yang sudah ditentukan dilokasi penelitian, dengan kata lain penelitian ini merupakan explanatory research.
E. Rancangan penelitian.
Rancangan yang dipilih pada penelitian ini adalah cross sectional, dimana seluruh variabel diobservasi dalam satu waktu.
F. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil adalah data sekunder dan primer. Data diperoleh
berdasarkan hasil pencatatan langsung dari catatan yang sudah ada meliputi gambaran lokasi penelitian. Sedangkan data primer didapat dengan
menggunakan instrument penelitian di bawah ini : a. Kuesioner :
1. Body image
Kuesioer Body Image yang digunakan pada penelitian ini mengadopsi dari kuesioner Body Image yang digunakan pada
penelitian yang dilakukan oleh Paramita Eka Chandra Sari dengan judul ”Hubungan Antara Pengetahuan Gizi, Body Image Dan Perilaku Kontrol Berat Badan Dengan Kejadian Kurang Gizi Pada Remaja Putri Di SMU Negeri 1 Semarang”
- Pertanyaan no. 1 dan 2 mempunyai bobot nilai : o a = 5
o b = 4 o c = 3 o d = 2 o e = 1
- Pertanyaan no. 3 sampai 14 mempunyai bobot nilai : o a = 1
o b = 2 o c = 3 o d = 4 o e = 5
- Skor dari seluruh pertanyaan kemudian dijumlah dan dihitung dengan menggunakan metode rating yang dijumlahkan (Nix S, 2005).
T = 50 + 10 [ (A – Ā) / s ]
Keterangan:
A= Skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
Ā = Mean skor kelompok s = Deviasi skor kelompok
o Puas : skor yang diperoleh lebih dari mean skor T (skor standar)
o Tidak puas : skor yang diperoleh kurang dari mean skor T (skor standar)
2. Pengetahuan gizi
- Semua pertanyaan merupakan pertanyaan pilihan ganda.
Skor 1 untuk jawaban benar Skor 0 untuk jawaban salah
- Skor dari seluruh pertanyaan kemudian dijumlah dan dibandingkan dengan jumlah skor total semua jawaban benar - Kategori tingkat pengetahuan (Azwar S, 2003) :
o Baik : > 80% jawaban benar o Cukup : 60 – 80% jawaban benar o Kurang : < 60% jawaban benar
3. Perilaku makan
- Pertanyaan no. 1 , no. 5 , no. 8 dan no. 9 sampai no. 11 . Skor 2 untuk jawaban selalu
Skor 1 untuk jawaban kadang-kadang Skor 0 untuk jawaban tidak pernah
- Pertanyaan no. 6, no. 7 , no. 13 , no. 16 sampai no. 21 dan no.
23.
Skor 0 untuk jawaban selalu
Skor 1 untuk jawaban kadang-kadang Skor 2 untuk jawaban tidak pernah
- Pertanyaan no. 4 , no. 12 , no. 14 , no. 15 dan no. 22 Skor 0 untuk jawaban Ya
Skor 1 untuk jawaban Tidak - Pertanyaan no. 2 dan no. 3
Skor 1 untuk jawaban benar Skor 0 untuk jawaban salah
- Skor dari seluruh pertanyaan kemudian dijumlah dan dibandingkan dengan jumlah skor total semua jawaban benar - Dengan kategori :
o Sudah menjalankan perilaku makan yang baik : total skor ≥ 80% jawaban benar dari seluruh item yang ditanyakan o Belum menjalankan perilaku makan yang baik : total skor <
80% jawaban benar dari seluruh item yang ditanyakan b. Alat
Status gizi diperoleh dengan menggunakan :
1. Digital scale sebagai alat untuk menimbang berat badan dengan ketelitian 0,1 kg
2. Microtoa sebagai alat untuk mengukur tinggi badan dengan ketelitian 0,1 cm
Tabel 4.1 Kategori status gizi dengan indeks BMI Body Mass Index (BMI) Kategori
< 18,5 Kurang gizi
18,5 – 22,9 Normal
23,0 – 24,9 Gizi Lebih
25,0 – 29,9 Obesitas
G. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) dengan derajat kepercayaan 95 % (α = 0,05).
a. Analisis Univariat
Analisis deskriptif univariat digunakan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan gizi, body image, perilaku makan, dan status gizi remaja putri di SMAN 15 Semarang dan SMAN 1 Gemolong. Analisis dilakukan dengan pemaparan data dalam tabel distribusi frekuensi dari variabel yang diteliti dengan mengkategorikan tiap variabel.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan body image dan pengetahuan gizi terhadap perilaku makan, selain itu untuk mengetahui hubungan body image, pengetahuan gizi, dan perilaku makan terhadap status gizi menggunakan person product moment. Apabila data berdistribusi tidak normal, uji hubungan yang digunakan yaitu chi square.
H. JADWAL PENELITIAN
Kegiatan tersebut ndapat digambarkan pada tabel dibawah ini:
No Jenis kegiatan
Tahun I
Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember 1 Persiapan
Perijinan lokasi
Persiapan instrumen penelitian 2 Pelaksanaan
Pengambilan data
Pengumpulan hasil
observasi 3 Penyusunan
laporan Analisis data Penyusunan buklet Penyusunan laporan 4 Pelaporan
Pelaporan Workshop &
Seminar hasil
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden
Tabel 5.1 Distribusi Responden Menurut Karakteristik Individu
No Karakteristik Individu Kota Desa
n % n %
1 Status gizi
- Gizi kurang 23 47,9 9 18,8
- Normal 20 41,2 27 56,2
- Overweight 3 6,2 6 12,5
- Obesitas 2 4,2 5 10,4 2 Body image
- Puas 37 77,1 17 35,4
- Tidak puas 11 22,9 31 64,6
3 Pengetahuan gizi
- Baik 8 16,7 6 12,5
- Cukup 25 52,1 30 62,5
- Kurang 15 31,2 12 25
4 Perilaku makan
- Baik 0 0 0
- Belum baik 48 100 48 100
Hasil pengukuran status gizi menujukkan bahwa sebagian besar remaja kota berstatus gizi kurang (47,9%), sedangkan remaja dari desa berstatus gizi normal (56,2%). Hal ini sangat ironis apabila mengingat remaja kota biasanya identik dengan kemudahan mengakses informasi dibandingkan remaja desa.
Beberapa literatur menjelaskan bahwa justru dengan kemudahan akses informasi, remaja kota terpapar beberapa informasi yang kurang tepat mengenai diet, sehingga ditemukan jumlah remaja gizi kurang lebih banyak.
Hasil yang berkebalikan ditunjukkan pengukuran body image, yaitu pada remaja kota sebagian besar merasa puas (77,1%) dengan bentuk tubuhnya, sedangkan remaja desa sebagian besar (64,6%) merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Sehingga secara garis besar remaja yang normal tidak puas dengan bentuk tubuhnya, tetapi remaja yang gizi kurang justru merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Padahal seharusnya remaja putri berstatus gizi normal agar kualitas hidupnya lebih baik. Dengan kualiatas hidup yang baik diharapkan akibat prestasinya juga baik.
Hasil pengukuran variabel pengetahuan gizi menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki pengetahuan yang cukup, remaja putri kota (52,1%) dan remaja desa (62,5%). Hasil yang mencengangkan ditunjukkan pada perilaku makan, baik remaja putri desa maupun kota memiliki perilaku makan yang belum baik (100%).
Tabel 5.2 Uji Perbedaan Variabel-variabel Penelitian
No Variabel p
1 Status Gizi 0,0001
2 Body Image 0,278
3 Pengetahuan Gizi 0,874
4 Perilaku Makan 0,139
Pada uji perbedaan keempat variabel diantara kelompok kota dan desa, hanya variabel status gizi yang menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini menjadi pertimbangan bahwa remaja putri desa maupun kota harus mendapatkan pendidikan gizi. Perlu dibuat sebuah model pendidikan gizi yang menarik karena remaja putri tersebut tidak mendapat pendidikan gizi di sekolahnya. Sehingga produk penelitian ini adalah sebuah buku yang akan menjawab ketidakpahaman remaja tentang gizi.
Remaja yang terjaring sebagai responden adalah remaja awal (13-14) dan remaja tengah (15-17). Sebagian besar responden merupakan remaja tengah.
Periode remaja adalah masa transisi atau peralihan dariperiode anak-anak ke periode dewasa. Pada tahap ini, remaja sangat membutuhkan kawan-kawan, merasa senang jika ada banyak teman yang menyukainya, terdapat kecenderungan narcistic atau mencintai diri sendiri dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu, remaja masih berada dalam kondisi kebingungan dalam memilih (Agoes Dariyo, 2004).
Makanan secara tidak langsung mempengaruhi kepribadian. Makanan mempengaruhi perkembangan fisik dan penampilannya, secara khusus pada masa remaja kebutuhan makanan meningkat sesuai dengan pertumbuhan fisiknya.
Pandangan dan penilaian orang lain terhadap fisik remaja akan membentuk gambaran mengenai dirinya. Penilaian orang lain yang dapat diterima tidak menimbulkan perasaaan kurang pada dirinya, hingga berusaha menutupi kekurangan dengan berbagai cara mekanisme pertahanan (defence mechanism) yang diwujudkan dalam kepribadiannya, misalnya penilaian mengenai bentuk hidung, pinggul, paha, buah dada dan lain sebagainya (Croll J, 2005).
Gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi. Pengetahuan gizi berperan dalam memberikan cara menggunakan pangan dengan baik sehingga dapat mencapai keadaan gizi yang cukup. Melalui pendidikan kesehatan di sekolah,
remaja menjadi tahu apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka makan (Puspito A, Purwaningsih E, 2008).
Pubertas pada remaja putri dibarengi dengan peningkatan lemak tubuh, perubahan ini dapat menyebabkan ketidakpuasan diantara remaja putri. Remaja sering merasa tidak nyaman dengan perubahan yang terjadi secara cepat pada tubuhnya, disaat yang sama mereka ingin terlihat seperti teman yang mereka anggap paling sempurna dan atau tokoh idolanya.
Body image sangat dipengaruhi oleh media massa yang menampilkan bentuk tubuh kurus sebagai bentuk tubuh yang ideal. Kebanyakan remaja membandingkan dirinya dengan sosok wanita kurus yang ditampilkan di media massa dan memandang diri mereka memiliki badan gemuk. Televisi merupakan media yang sering digunakan sebagai acuan standar bentuk tubuh bagi remaja yang sangat memperhatikan penampilan tubuhnya (Wan, P L , Kandiah, M , Taib, M N M, 2004).
Perilaku makan meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi).
Semua responden memiliki perilaku makan yang kurang baik (100%). Perilaku makan tidak baik yang dilakukan remaja dalam penelitian ini antara lain mereka tidak makan secara teratur, sering melewatkan waktu makan tertentu dan kebiasaan sarapan pagi. Waktu makan yang sering dilewatkan adalah makan malam. Alasan yang mereka berikan antara lain takut gemuk jika makan di malam hari serta sudah merasa mengantuk sehingga melewatkan waktu makan malamnya. Waktu makan sarapan pagi juga merupakan waktu makan yang terlewatkan. Mereka melewatkan waktu sarapan dengan alasan bangun kesiangan, takut terlambat ke sekolah dan tidak terbiasa sarapan. Remaja melewatkan satu atau lebih waktu makan mereka, biasanya hal ini terjadi pada sarapan pagi.
Ketakutan akan menjadi gemuk menyebabkan remaja melewatkan waktu makan dan perilaku ini dianggap sebagai langkahawal untuk menurunkan berat badan (Wan, P L , Kandiah, M , Taib, M N M, 2004). Bahkan beberapa remaja sebenarnya takut makan dan makan karena disuruh ibunya saja. Sebaliknya ada responden yang gizi lebih dan obesitas. Hal ini karena kebiasaan mengkonsumsi
junk food sekali dalam seminggu. Bahkan ada yang hampir tiap hari karena di kantin sekolah disediakan makanan yang pada energi dan minim vitamin tersebut.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :
Tidak ada perbedaan pada variabel body image, pengetahuan gizi, dan perilaku makan pada remaja dipedesaan maupun perkotaan, tetapi ada perbedaan status gizi pada kedua kelompok remaja tersebut.
7.2 Saran
Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu :
1. Perlu media pendidikan gizi untuk meningkatkan pengetahuan gizi dan perilaku gizi pada baik di pedesaan maupun perkotaan.
2. Peningkatan keterlibatan pihak sekolah dalam pemantauan status gizi siswanya.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes Dariyo, 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor : Ghalia Indonesia.
Aini SN, 2012. Faktor risiko yang berhubungan dengan gizi lebih. Semarang : Unnes Journal of Public Health.
Ali Khomsan. Pola Makan Kaum Remaja. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2003
Almatsier S, 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Arisman MB, 2004. Buku Ajar Ilmu Gizi, Gizi dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Azwar S, 2003. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Croll J, 2005. Body Image and Adolescent. Guidelines for Adolescene Nutrition Services.
Derenne JL, Beresin EV, 2006. Body Image, Media and Eating Disorder.
Academic Psychiatry.
Dariyo A, 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Ghalia Indonesia : Bogor.
Fikawati S, Syafiq A, 2007. Konsumsi Kalsium pada Remaja. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, FKM UI. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Fish J, Ryan C, Zechetmayr M, 1996. Body Image and Eating Behaviour : Tasmanian School Girls’ Foci – A Pilot Study, University of Tasmania.
Ghazali I, 2007. Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Cetakan 4.
Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang
Nikmawati EE, et al. 2009. Intervensi pendidikan gizi bagi ibu hamil dan kader posyandu untuk meningkatkan PSK (pengetahuan, sikap, keterampilan).
Notoadmodjo S, 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta : Jakarta.
Arum P, Purwaningsih E, 2008. Perbedaan pengetahuan gizi, body image, dan perilaku makan remaja putri. Program Studi Ilmu Gizi Universitas Diponegoro. Semarang
Rome ES, Vazquez IM, Blazar NE, 2003. Adolescene : Healhty and Disorder Eating. Nutrition in Pediatric 3th edition. BC Decker. Canada
Spear BA, 2004. Nutrition in Adolescene. Krause’s Food, Nutrition & Diet Therapy 11th edition. Saunders.
Suhardjo, 2003. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Bumi Aksara : Jakarta.
Supariasa, et al, 2002. Penilaian Status Gizi. EGC: Jakarta.
Wan, P L , Kandiah, M , Taib, M N M, 2004. Body Image Perception, Dietary Practices, and Physical Activity of Overweight and Normal Weight Malaysian Female Adolescents. Mal J Nutr. 2004; 10(2): 131-147
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
PENELITIAN
TAHAP 1 RESPONDEN SEDANG MENGISI
KUESIONER
TAHAP 2 RESPONDEN DITIMBANG BERAT
BADANNYA
TAHAP 3 RESPONDEN DIUKUR TINGGI
BADANNYA
TAHAP 4 RESPONDEN MENDAPAT
KENANG-KENANGAN DARI PENELITI
LAMPIRAN
UJI STATISTIK
KOTA
Statistics
N
Mean Std. Deviation Minimum Maximum Valid Missing
Umur 48 0 16.29 .944 15 18
skorBI 48 0 50.9058 9.15054 25.99 67.55
kat_BI 48 0 1.77 .425 1 2
SkorPengetahuan 48 0 66.2698 13.24596 33.33 85.71
Kat_pengetahuan 48 0 2.15 .684 1 3
Skor_perilakuMakan 48 0 44.8370 7.01389 26.09 63.04
kat_perilakuMkn 48 0 1.00 .000 1 1
status_gizi 48 0 19.0808 3.51885 13.74 34.36
kategori status gizi 47 1 1.66 .788 1 4
kat_BI
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid tidak puas 11 22.9 22.9 22.9
puas 37 77.1 77.1 100.0
Total 48 100.0 100.0
Kat_pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid baik 8 16.7 16.7 16.7
cukup 25 52.1 52.1 68.8
kurang 15 31.2 31.2 100.0
Total 48 100.0 100.0
kat_perilakuMkn
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid belum menjalankan perilaku
makan dengan baik 48 100.0 100.0 100.0
kategori status gizi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid underweight 23 47.9 48.9 48.9
normal 19 39.6 40.4 89.4
overweught 3 6.2 6.4 95.7
obesitas 2 4.2 4.3 100.0
Total 47 97.9 100.0
Missing System 1 2.1
Total 48 100.0
DESA
Statistics
N
Mean Std. Deviation Minimum Maximum Sum Valid Missing
Umur 48 0 16.04 .771 14 18 770
skorBI 48 0 48.6602 10.94783 25.99 71.44 2335.69
kat_BI 48 0 1.65 .483 1 2 79
SkorPengetahuan 48 0 66.0714 11.73126 33.33 85.71 3171.43
Kat_pengetahuan 48 0 2.12 .606 1 3 102
Skor_perilakuMakan 48 0 43.1612 9.20119 28.26 69.57 2071.74
kat_perilakuMkn 48 0 1.00 .000 1 1 48
status_gizi 48 0 21.0690 2.85774 16.51 27.96 1011.31
kategori status gizi 47 1 2.15 .859 1 4 101
kat_BI
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid tidak puas 17 35.4 35.4 35.4
puas 31 64.6 64.6 100.0
Total 48 100.0 100.0
Kat_pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid baik 6 12.5 12.5 12.5
cukup 30 62.5 62.5 75.0
kurang 12 25.0 25.0 100.0
Total 48 100.0 100.0
kat_perilakuMkn
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid belum menjalankan perilaku
makan dengan baik 48 100.0 100.0 100.0
kategori status gizi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid underweight 9 18.8 19.1 19.1
normal 27 56.2 57.4 76.6
overweught 6 12.5 12.8 89.4
obesitas 5 10.4 10.6 100.0
Total 47 97.9 100.0
kategori status gizi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid underweight 9 18.8 19.1 19.1
normal 27 56.2 57.4 76.6
overweught 6 12.5 12.8 89.4
obesitas 5 10.4 10.6 100.0
Total 47 97.9 100.0
Missing System 1 2.1
Total 48 100.0
UJI PERBEDAAN
Independent Samples Test
skorBI
Equal variances assumed
Equal variances not assumed Levene's Test
for Equality of Variances
F 1.930
Sig.
.168 t-test for
Equality of Means
t 1.090 1.090
df 94 91.131
Sig. (2-tailed) .278 .278
Mean Difference 2.24567 2.24567
Std. Error Difference 2.05947 2.05947
95% Confidence Interval of the Difference
Lowe
r -1.84345 -1.84513
Uppe
r 6.33479 6.33647
Ranks
Kode_resp N Mean Rank Sum of Ranks
SkorPengetahuan kota 48 48.95 2349.50
desa 48 48.05 2306.50
Total 96
Skor_perilakuMak an
kota 48 52.69 2529.00
desa 48 44.31 2127.00
Total 96
status_gizi kota 48 38.19 1833.00
desa 48 58.81 2823.00
Total 96
Test Statisticsa
SkorPengetahua n
Skor_perilakuMa
kan status_gizi
Mann-Whitney U 1130.500 951.000 657.000
Wilcoxon W 2306.500 2127.000 1833.000
Z -.159 -1.479 -3.627
Asymp. Sig. (2-tailed) .874 .139 .000
a. Grouping Variable: Kode_resp