LEMBARAN DAERAH
KOTA TANGERANG SELATAN
No.3,2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.
Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah.
PROVINSI BANTEN
PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2017
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,
Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah;
b. bahwa ketentuan perizinan di dalam Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah dirasakan membatasi upaya ekstensifikasi pajak daerah sehingga keberadaannya perlu ditinjau kembali;
c. bahwa berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 52/PUU-IX/2011 tanggal 18 Juli 2012, jenis pajak hiburan golf yang ditetapkan dalam Pasal 42 ayat (2) huruf g dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dinyatakan tidak lagi sebagai objek pajak hiburan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036);
7. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah (Lembaran
Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN dan
WALIKOTA TANGERANG SELATAN MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7), diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 7 dihapus.
2. Penjelasan Pasal 10 diubah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal 10.
3. Ketentuan Pasal 20 dihapus.
4. Penjelasan Pasal 23 diubah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal 23.
5. Ketentuan Pasal 30 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 30 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 30
(1) Obyek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran.
(2) Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. tontonan film;
b. pagelaran kesenian, musik, dan tari;
c. pagelaran busana;
d. kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya;
e. pameran;
f. permainan bilyar dan bowling;
g. pacuan kuda dan kendaraan bermotor;
h. diskotik, klab malam, dan sejenisnya;
i. sirkus, akrobat, sulap, pertandingan olahraga, dan pusat kebugaran (fitness center);
j. permainan ketangkasan;
k. panti pijat dengan fasilitas mandi uap/spa; dan
l. panti pijat, tanpa fasilitas mandi uap/spa dan refleksi.
6. Ketentuan Pasal 33 dihapus.
7. Ketentuan Pasal 35 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 35
Tarif Pajak Hiburan ditetapkan sebagai berikut:
a. tontonan film sebesar 10 persen.
b. pagelaran:
1. pagelaran kesenian, musik dan tari meliputi:
a) pagelaran kesenian, musik dan tari berkelas lokal/tradisional sebesar 0 persen;
b) pagelaran kesenian, musik dan tari berkelas nasional sebesar 5 persen; dan
c) pagelaran kesenian, musik dan tari berkelas internasional sebesar 15 persen.
2. pagelaran busana meliputi:
a) pagelaran busana berkelas lokal/tradisional sebesar 0 persen;
b) pagelaran busana berkelas nasional sebesar 5 persen; dan
c) pagelaran busana berkelas internasional sebesar 15 persen.
c. penyelenggaraan kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya meliputi:
1. kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya berkelas lokal/
tradisional sebesar 0 persen;
2. kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya berkelas nasional sebesar 5 persen; dan
3. kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya berkelas internasional sebesar 15 persen.
d. penyelenggraan pameran meliputi:
1. pameran yang bersifat non komersial sebesar 0 persen; dan 2. pameran yang bersifat komersial sebesar 10 persen.
e. permainan bilyar dan bowling yang menggunakan AC (Air Conditioner) sebesar 10 persen dan permainan bilyar dan
bowling yang tidak menggunakan AC (Air Conditioner) sebesar 5 persen.
f. Pacuan kuda dan kendaraan bermotor sebesar 15 persen.
g. diskotik, klab malam dan sejenisnya sebesar 50 persen.
h. karoke sebesar 30 persen.
i. sirkus, akrobat, sulap, pertandingan olahraga dan pusat kebugaran (fitness center) meliputi:
1. sirkus, akrobat, sulap yang berkelas lokal/tradisional sebesar 0 persen;
2. sirkus, akrobat, sulap yang berkelas nasional dan internasional sebesar 15 persen;
3. pertandingan olahraga yang berkelas lokal/tradisional sebesar 0 persen;
4. pertandingan olahraga yang berkelas nasional sebesar 10 persen;
5. pertandingan olahraga yang berkelas internasional sebesar 15 persen;
6. pusat kebugaran (fitness center) sebesar 10 persen.
j. permainan ketangkasan sebesar 10 persen.
k. panti pijat dengan fasilitas mandi uap/spa sebesar 40 persen.
l. panti pijat tanpa fasilitas mandi uap/spa dan refleksi sebesar 20 persen.
8. Penjelasan Pasal 36 ayat (1) diubah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal 36.
9. Ketentuan Pasal 46 dihapus.
10. Ketentuan Pasal 59 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 59
Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan sebagai berikut:
a. penggunaan tenaga listrik dari sumber lain:
1. sebesar 0 persen untuk daya listrik 450 VA;
2. sebesar 3 persen untuk daya listrik 900 VA sampai dengan 1.300 VA;
3. sebesar 6 persen untuk daya listrik 2.200 VA ke atas; dan 4. sebesar 2,5 persen untuk industri, pertambangan minyak
bumi dan gas alam.
b. penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri sebesar 1,5 persen.
11. Ketentuan Pasal 70 dihapus.
12. Penjelasan Pasal 73 ayat (1) dan ayat (2) diubah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal 73.
13. Ketentuan Pasal 83 dihapus.
14. Ketentuan Pasal 96 dihapus.
15. Ketentuan Pasal 109 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 109
Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan sebagai berikut:
a. sebesar 0 persen untuk NJOP sampai dengan Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah);
b. sebesar 0,1 persen untuk NJOP Rp.200.000.001,00 (dua ratus juta satu rupiah) sampai dengan Rp.1.000.000.000,00
(satu milyar rupiah);
c. sebesar 0,2 persen untuk NJOP Rp.1.000.000.001,00 (satu milyar satu rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00
(lima milyar rupiah);
d. sebesar 0,25 persen untuk NJOP Rp.5.000.000.001,00 (lima milyar satu rupiah) sampai dengan Rp.10.000.000.000,00
(sepuluh milyar rupiah); dan
e. sebesar 0,3 persen untuk NJOP di atas Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).
16. Penjelasan Pasal 117 diubah sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal 117.
Pasal II
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan.
Ditetapkan di Tangerang Selatan pada tanggal 17 Oktober 2017
WALIKOTA
TANGERANG SELATAN, ttd
AIRIN RACHMI DIANY Diundangkan di Tangerang Selatan
pada tanggal 17 Oktober 2017 SEKRETARIS DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN,
ttd MUHAMAD
LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2017 NOMOR 3 NOREG PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN, BANTEN:
(1,8/2017).
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2017
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH
I. UMUM
Dalam rangka pelaksanaan hak dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masayarakat, Pemerintah Daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Materi muatan lokal/kearifan lokal terkait keharusan kepemilikan izin sebelum penetapan Pajak Daerah perlu dilakukan peninjauan karena hal tersebut dapat mempengaruhi potensi daerah. Adapun terkait penerbitan izin telah dilaksanakan oleh perangkat daerah sesuai tugas pokok, fungsi, dan tata kerjanya masing-masing.
Sehubungan dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 52/PUU-IX/2011 terhadap pengenaan Pajak Hiburan Golf
diperlukan peninjauan Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah.
Dengan ditetapkannya Peraturan Daerah ini, diharapkan sebagai wujud pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan asas umum pengelolaan keuangan daerah yang dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, serta manfaat untuk masyarakat.
II. PASAL DEMI PASAL Pasal I
Angka 1
Pasal 7
Cukup Jelas.
Angka 2
Pasal 10
Yang dimaksud dengan jumlah yang seharusnya dibayar kepada hotel tidak termasuk potongan harga dalam rangka promosi.
Angka 3
Pasal 20
Cukup Jelas.
Angka 4
Pasal 23 Contoh:
Agus memiliki usaha restoran XYZ di Kota Tangerang Selatan. Dia memberikan discount pada bulan ini sebesar 20 persen. Pendapatan restoran XYZ pada bulan ini sebesar Rp.440.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut:
Penjualan makanan dan minuman Rp. 540.000.000,00 Tunai, Debet dan Kartu kredit Rp. 500.000.000,00 Voucher senilai Rp.100.000,00 Rp. 40.000.000,00 Berapakah pajak yang harus dibayarkan jika service charge sebesar 5%?
Jawaban:
Voucher yang mempunyai nilai rupiah merupakan bagian dari omzet/pendapatan, sehingga:
Penjualan Rp. 500.000.000,00
Voucher (menambah) Rp. 40.000.000,00 Discount
(mengurangi)
Rp. (100.000.000,00) Pendapatatan bersih Rp. 440.000.000,00 Service Charge
5 persen
Rp. 22.000.000,00
Dasar Pengenaan Pajak
Rp. 462.000.000,00
Pajak Restoran = 10% x Dasar Pengenaan Pajak
= 10% x Rp.462.000.000,00
= Rp.46.200.000,00
Sehingga pajak yang seharusnya dibayar adalah Rp.46.200.000,00
Angka 5
Pasal 30
Ayat (1)
Cukup Jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup Jelas.
Huruf b
Cukup Jelas.
Huruf c
Cukup Jelas.
Huruf d
Cukup Jelas.
Huruf e
Cukup Jelas.
Huruf f
Cukup Jelas.
Huruf g
Cukup Jelas.
Huruf h
Cukup Jelas.
Huruf i
Cukup Jelas.
Huruf j
Permainan ketangkasan meliputi ketangkasan manual, ketangkasan mekanik, ketangkasan elektronik.
Permainan ketangkasan manual seperti lempar bola, tembak jitu/sasaran, lempar gelang atau sejenisnya dengan tidak ada unsur permainan judi.
Permainan ketangkasan mekanik seperti gokart, offroad, motor cross, atau sejenisnya.
Permainan ketangkasan elektronik yang menggunakan tenaga listrik dan dengan sistem digital atau komputerisasi seperti dingdong, video game, atau sejenisnya.
Huruf k
Cukup Jelas.
Huruf l
Cukup Jelas.
Ayat (3)
Cukup Jelas.
Angka 6
Pasal 33
Cukup Jelas.
Angka 7
Pasal 35
Huruf a
Cukup Jelas.
Huruf b
Cukup Jelas.
Angka 1
Cukup Jelas.
Huruf a)
Cukup Jelas.
Huruf b)
Cukup Jelas.
Huruf c)
Cukup Jelas.
Angka 2
Cukup Jelas.
Huruf a)
Cukup Jelas.
Huruf b)
Cukup Jelas.
Huruf c)
Cukup Jelas.
Huruf c
Cukup Jelas.
Angka 1
Cukup Jelas.
Angka 2
Cukup Jelas.
Angka 3
Cukup Jelas.
Huruf d
Cukup Jelas.
Angka 1
Cukup Jelas.
Angka 2
Cukup Jelas.
Huruf e
Cukup Jelas.
Huruf f
Cukup Jelas.
Huruf g
Cukup Jelas.
Huruf h
Cukup Jelas.
Huruf i
Cukup Jelas.
Angka 1
Cukup Jelas.
Angka 2
Cukup Jelas.
Angka 3
Cukup Jelas.
Angka 4
Cukup Jelas.
Angka 5
Cukup Jelas.
Angka 6
Cukup Jelas.
Huruf j
Cukup Jelas.
Huruf k
Cukup Jelas.
Huruf l
Cukup Jelas.
Angka 8
Pasal 36
Ayat (1) Contoh:
Tn Iman mempunyai tempat karaoke XYZ di Kota Tangerang Selatan. Tn Iman mendapatkan laporan bahwa usahanya mempunyai pendapatan bulan lalu yang diterima dari uang tunai, debet dan kartu kredit sejumlah Rp.38.961.000,00.
Service charge pada tempat karaoke tersebut
sebesar 11%. Tn Iman melaporkan dan membayar pajak karaoke sebesar Rp.8.100.000,00. Laporan rekap pendapatan dari sistem cash register Tn Iman adalah:
Pendapatan Rp. 27.000.000,00
Pajak 30% Rp. 8.100.000,00
Jumlah Rp. 35.100.000,00
Service Charge 11% Rp. 3.861.000,00 Uang Cash, Debet,
Kredit Rp. 38.961.000,00
a. Berapakah dasar pengenaan pajak yang seharusnya? jumlah pajak yang seharusnya dibayar oleh Tn Iman? jumlah pajak yang masih harus dibayar?
b. Saat pemeriksaan pajak daerah ditemukan data bahwa pada bulan tersebut ada sewa ruangan senilai Rp.900.000,00 menggunakan voucher senilai Rp.150.000,00 sebanyak 6 (enam) lembar.
Berapa dasar pengenaan pajak yang seharusnya? pajak yang seharusnya dibayar dan berapa pajak yang masih harus dibayar?
Jawaban:
Dasar pengenaan pajak yang seharusnya adalah jumlah uang yang diterima baik itu dengan uang tunai, kartu debet atau kartu kredit dikurangi dengan potongan harga (discount) ditambah service charge yang ditetapkan ditambah voucher dengan nilai nominal rupiah.
a. Pendapatan Rp. 27.000.000,00 Service 11% Rp. 2.970.000,00 Dasar Pengenaan
pajak Rp. 29.970.000,00
Pajak 30% Rp. 8.991.000,00 Uang Cash, Debet,
Kredit Rp. 38.961.000,00
Sehingga dapat diketahui bahwa:
1. Dasar pengenaan pajak yang
seharusnya
Rp. 29.970.000,00
2. Pajak yang
seharusnya Rp. 8.991.000,00 3. Pajak yang masih harus dibayar
Pajak yang
seharusnya dibayar Rp. 8.991.000,00 Pajak sudah dibayar Rp. (8.100.000,00) Pajak yang masih
harus dibayar Rp. 891.000,00
b. Dasar Pengenaan
Pajak sebelum voucher Rp. 29.970.000,00
Voucher Rp. 900.000,00
Dasar pengenaan
pajak Rp. 30.870.000,00
seharusnya
Pajak seharusnya (30% x Rp.30.870.000,00)
Rp. 9.261.000,00 Pajak yang sudah
dibayar Rp. 8.100.000,00
Pajak yang masih
harus dibayar Rp. 1.161.000,00 Sehingga dapat diketahui bahwa:
1. Dasar pengenaan pajak yang
seharusnya
Rp. 30.870.000,00
2. Pajak yang
seharusnya Rp. 9.261.000,00 (30% x
Rp.30.870.000,00) 3. Pajak yang masih
harus dibayar Rp. 1.161.000,00 Ayat (2)
Cukup Jelas Angka 9
Pasal 46
Cukup Jelas Angka 10
Pasal 59
Ayat (1)
Cukup Jelas.
Ayat (2)
Cukup Jelas Angka 11
Pasal 70
Cukup Jelas.
Angka 12
Pasal 73
Ayat (1) Contoh:
Tn Iman mempunyai tempat Parkir XYZ di Kota Tangerang Selatan. Bulan lalu Tn Iman mendapatkan laporan bahwa usaha parkirnya
mempunyai pendapatan dari non member sebesar Rp.120.000.000,00 dengan jumlah member
sebanyak 30 orang dengan tarif Rp.300.000,00 per orang per bulan. Selain pendapatan tersebut Tn Iman mendapatkan omzet dari parkir vallet sebesar Rp.300.000.000,00.
Berapakah dasar pengenaan pajak dan jumlah pajak yang harus dibayar Tn Iman pada bulan tersebut?
a. Dalam bukti pembayaran karcis tertera kalimat yang menyatakan bukti pembayaran ini sudah termasuk pajak.
b. Dalam bukti pembayaran parkir tidak tertera pengaturan tentang pajak parkir.
Jawaban:
Parkir vallet termasuk dalam dasar pengenaan pajak karena termasuk kedalam pengertian objek pajak parkir dan setiap pendapatan yang diperoleh dari usaha parkir dijadikan dasar pengenaan pajak parkir.
Pendapatan dari tarif
parkir Rp. 120.000.000,00
Pendapatan dari
member Rp. 9.000.000,00
(30 orang x Rp.300.000)
Pendapatan Vallet Rp. 300.000.000,00 Dasar pengenaan pajak Rp. 429.000.000,00 Pajak yang harus
dibayar Rp. 107.250.000,00
(25% x Rp.429.000.000)
Sehingga dasar pengenaan pajak sebesar Rp.429.000.000,00 dan pajak yang seharusnya
dibayar sebesar Rp.107.250.000,00.
Ayat (2)
Tn Witarya mempunyai pusat perbelanjaan yang mempunyai kebijakan menggratiskan parkir setiap kendaraan yang masuk.
Dari hasil pencatatan hari ini intensitas masuk kendaraan sebanyak 200 kendaraan mobil dan 150 kendaraan bermotor. Jika tarif parkir mobil sebesar Rp.3.000,00 dan motor sebesar Rp.2.000,00 berapakah pajak yang seharusnya dibayar?
Jawaban:
Dasar pengenaan pajak termasuk potongan harga parkir dan parkir cuma cuma sehingga walaupun Tn Witarya tidak menarik pembayaran parkir tetap harus membayar pajak dari pendapatan yang seharusnya diterima.
Mobil 200 x Rp.3.000,00 Rp. 600.000,00 Motor 150 x Rp.2.000,00 Rp. 300.000,00 Dasar pengenaan pajak Rp. 900.000,00
Pajak = Dasar pengenaan
pajak x 25%
= Rp.900.000 x 25%
= Rp.225.000,00
Sehingga pajak yang seharusnya dibayar adalah Rp.225.000,00.
Angka 13
Pasal 83
Cukup Jelas.
Angka 14
Pasal 96
Cukup Jelas.
Angka 15
Pasal 109 Huruf a
Tarif sebesar 0% (nol persen) untuk NJOP sampai dengan Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) diberlakukan terhadap Objek Pajak yang terdiri atas bidang tanah dan bangunan.
Jika Objek Pajak untuk NJOP sampai dengan Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) atas Objek Pajak hanya bidang tanah saja tanpa bangunan maka dikenakan sebesar 0,1% (nol koma satu persen).
Huruf b
Cukup Jelas.
Huruf c
Cukup Jelas.
Huruf d
Cukup Jelas.
Huruf e
Cukup Jelas.
Angka 16
Pasal 117 Ayat (1)
Cukup Jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Angka 1)
Cukup jelas.
Angka 2)
Cukup jelas.
Angka 3)
Cukup jelas.
Angka 4)
Yang dimaksud Hibah wasiat adalah suatu penetapan wasiat yang
khusus mengenai
pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.
Angka 5)
Cukup jelas.
Angka 6)
Yang dimaksud dengan
pemasukan dalam
perseroan atau badan hukum lain adalah pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada perseroan terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada perseroan terbatas atau badan hukum lainnya.
Angka 7)
Yang dimaksud dengan pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama.
Angka 8)
Yang dimaksud dengan penunjukan pembeli dalam lelang adalah penetapan pemenang lelang oleh pejabat lelang sebagaimana yang tercantum dalam risalah lelang.
Angka 9)
Sebagai pelaksanaan dari putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, terjadi peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut.
Angka 10)
Yang dimaksud dengan penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung.
Angka 11)
Yang dimaksud dengan peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut.
Angka 12)
Yang dimaksud dengan pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan
usaha baru dan
mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada Badan Usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi Badan Usaha yang lama.
Angka 13)
Yang dimaksud dengan hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah.
Huruf b
Angka 1)
Yang dimaksud dengan pemberian hak baru karena kelanjutan pelepasan hak adalah pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak.
Angka 2)
Yang dimasud dengan pemberian hak baru diluar pelepasan hak adalah pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan hak milik
adalah hak turun
temurun,terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Huruf b
Yang dimaksud dengan hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundangan yang berlaku.
Huruf c
Yang dimaksud dengan hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
Huruf d
Yang dimaksud dengan hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain,yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundangangan yang berlaku.
Huruf e
Yang dimaksud dengan hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan.
Huruf f
Yang dimaksud dengan hak pengelolaan adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain, berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya,penyerahan bagian- bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.
Ayat (4)
Huruf a
Cukup Jelas.
Huruf b
Penyelenggaraan pemerintahan baik pemerintah pusat maupun oleh Pemerintahan Daerah dan kegiatan yang semata-mata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, misalnya tanah dan atau bangunan yang digunakan untuk instansi pemerintah, rumah sakit pemerintah, jalan umum, tol.
Huruf c
Badan atau perwakilan organisasi internasional yang dimaksud dalam pasal ini adalah badan atau perwakilan organisasi internasional, baik pemerintah maupun non pemerintah.
Huruf d
Yang dimaksud dengan konversi hak adalah perubahan hak dari hak lama menjadi hak baru menurut Undang-Undang Pokok Agraria, termasuk pengakuan hak oleh Pemerintah.
Contoh:
1. Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik tanpa adanya perubahan nama;
2. Bekas tanah hak milik adat (dengan bukti surat Girik atau sejenisnya) menjadi hak baru.
Yang dimaksud dengan perbuatan hukum lain misalnya memperpanjang hak atas tanah tanpa adanya perubahan nama.
Contoh:
Perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB), yang dilaksanakan baik sebelum maupun setelah berakhirnya Hak Guna Bangunan (HGB).
Huruf e
Yang dimaksud dengan wakaf adalah perbuatan hukum orang pribadi atau badan yang memisahkan sebagian dari harta kekayaan yang berupa hak milik tanah dan atau bangunan dan melembagakannya untuk selama- lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum lainnya tanpa imbalan.
Pasal II
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 78