17tafsi yunahar (nabi yusuf 6)

Teks penuh

(1)

Nabi Yusuf AS (6)

Oleh Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.

ZULAIKHA memang seorang perempuan yang cerdik. Dia tidak menjauhi dan memusuhi perempuan-perempuan kota yang menggunjing dan mencela namanya itu. Dia membalasnya dengan cara lain, yaitu mengundang mereka ke rumahnya,

berkumpul, bercengkrama, dan makan minum bersama-sama. Dengan cara itu, Zulaikha berharap mereka dapat mengerti kenapa dia jatuh cinta dan tergila-gila kepada Yusuf.

(2)

latar belakang seperti itu lah Zulaikha jadi pergunjingan mereka. Sekarang Zulaikha ingin membalasnya dengan caranya sendiri.

Tamu-tamu sudah berdatangan. Al-Qur’an menyebutkan kepada masing-masing tamunya Zulaikha menyediakan sandaran dan sebuah pisau. Pisau di sediakan untuk memotong aneka buah-buahan yang dihidangkan. Para tamu duduk bersandar sambil menikmati hidangan dan bercengkerama dengan santai. Tatkala mereka tengah asyik mengupas buah-buahan, tiba-tiba Zulaikha menyuruh Yusuf keluar memperlihatkan diri. Begitu melihat Yusuf, perempuan-perempuan itu terpesona, mata mereka tidak berhenti menatap pemuda yang sangat sempurna ketampanannya itu. Tanpa disadari, tangan mereka bergerak tidak lagi memotong buah-buahan, tapi melukai tangan mereka sendiri, sehingga ada yang luka jari, dan ada yang luka telapak tangan. Rasa perih pun tidak dirasakan karena sangat kagum dengan ketampanan Yusuf. Serta merta mereka berkomentar: “"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."

(3)

semula. Setelah Yusuf pergi mereka baru sadar telah melukai tangan masing-masing. Zulaikha melihat inilah saat terbaik baginya untuk membela diri: “Kalian baru melihatnya sekali, sudah terjadi seperti ini. Bagaimana dengan saya yang bertemu tiap hari?” Perempuan-perempuan itu lalu mengakui bahwa Yusuf memang sangat istimewa, dia bukan manusia, tetapi malaikat yang mulia. Mereka berjanji kepada Zulaikha: “Setelah melihat ketampanan Yusuf, kami tidak lagi akan mencela engkau”.

Segera setelah tamu-tamunya menyadari betapa tampannya Yusuf, wajar kalau Zulaikha jatuh cinta kepadanya, segera isteri Al-‘Aziz itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana rencana dia selanjutnya. Allah berfirman:

ÞóÇáóÊú ÝóÐóáößõäøó ÇáøóÐöí áõãúÊõäøóäöí Ýöíåö æóáóÞóÏú

ÑóÇæóÏúÊõåõ Úóäú äóÝúÓöåö ÝóÇÓúÊóÚúÕóãó æóáóÆöäú áóãú

íóÝúÚóáú ãóÇ ÁóÇãõÑõåõ áóíõÓúÌóäóäøó æóáóíóßõæäóäú ãöäó

ÇáÕøóÇÛöÑöíäó

“Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina." (Q.S. Yusuf 12:32)

(4)

penolakan Yusuf, dia bertekad, jika Yusuf tetap menolak keinginannya, pemuda itu akan dipenjarakannya, biar dia menjadi orang yang hina di penjara.

Dalam pandangan Zulaikha, tidak sepantasnya Yusuf menolak keinginannya, Bukankah dia hanya seorang budak yang dibeli oleh suaminya. Sudah seharusnya seorang budak menuruti apa saja kemauan majikannya. Dia lupa, Yusuf bukanlah seorang budak biasa, tetapi dia mempunyai kepribadian yang mulia. Dia punya sikap dan pendirian yang selalu dipertahankannya, apa pun resikonya. Sikap teguh hati Yusuf untuk selalu menjaga kesucian diri diartikan oleh Zulaikha sebagai sebuah kesombongan, sehingga dia bertekad menjadikan Yusuf orang hina dina dengan memasukkannya ke penjara. Demikianlah watak buruk orang besar yang angkuh, semua keinginannya harus dipenuhi, kalau keinginannya ditolak--lebih-lebih jika yang menolaknya orang yang dianggapnya kecil, rendah,--dia dapat melakukan apa saja, tidak peduli benar atau salah.

(5)

ÞóÇáó ÑóÈøö ÇáÓøöÌúäõ ÃóÍóÈøõ Åöáóíøó ãöãøóÇ íóÏúÚõæäóäöí

Åöáóíúåö æóÅöáøóÇ ÊóÕúÑöÝú Úóäøöí ßóíúÏóåõäøó ÃóÕúÈõ

Åöáóíúåöäøó æóÃóßõäú ãöäó ÇáúÌóÇåöáöíäó

“Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada

memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Q.S. Yusuf 12:33)

Sebagai manusia biasa, Yusuf berterus terang kepada Tuhan. Jika terus menerus berada di rumah Zulaikha, dan terus menerus pula digoda, apalagi bila Zulaikha dibantu oleh perempuan-perempuan lainnya, sementara dia masih muda, laki-laki sempurna, dia khawatir suatu waktu jatuh juga dalam tipu daya mereka. Oleh sebab itu, dia minta Tuhan melepaskannya dari bahaya itu. Tanpa ragu Yusuf menyatakan: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…”

(6)

Bagi orang-orang yang rendah budi, tidak peduli dengan kesucian diri, apalagi tidak takut dengan Tuhan, tentu sikap Yusuf ini mengherankan. Bukankah kalau dia mau mengikuti kemauan Zulaikha, hidupnya akan senang bergelimang kemewahan. Dia tidak usah bekerja keras mengerjakan segala macam pekerjaan, cukup melayani gejolak nafsu majikannya yang cantik jelita dan terpandang itu. Pemuda-pemuda yang tidak beriman, atau tidak kuat imannya, posisi seperti Yusuf itu malah menjadi dambaan. Na’ûdzu billah. Cara pandang rendah seperti ini sudah mulai mengejala di sebagian anak-anak muda bangsa kita hari ini. Kehormatan, kesucian, kemuliaan dan harga diri, bukan lagi sesuatu yang berharga. Semuanya dianggap omong kosong, palsu, bahkan sudah kuno. Yang penting sekarang adalah kesenangan, kesenangan, sekali lagi kesenangan. Gaya hidup hedonis telah

menyebabkan orang lupa diri, lupa daratan, lupa lautan, lupa segala-galanya. Sikap teguh Yusuf ‘alaihi as-salam perlu diteladani dan dijadikan pegangan. Panjara lebih baik dari hidup tanpa nilai, tanpa kesucian dan tanpa harga diri.

Allah SWT mendengarkan bisikan hati Yusuf. Dia dijauhkan dari tipu daya Zulaikha dan perempuan-perempuan lain sejenisnya. Allah berfirman:

ÝóÇÓúÊóÌóÇÈó áóåõ ÑóÈøõåõ ÝóÕóÑóÝó Úóäúåõ

ßóíúÏóåõäøó Åöäøóåõ åõæó ÇáÓøóãöíÚõ

ÇáúÚóáöíãõ

(7)

Setelah peristiwa yang terjadi dalam pesta jamuan makan yang diadakan oleh Zulaikha, isteri Al-‘Aziz itu, masyarakat kelas atas mengetahui bahwa Yusuf sama sekali tidak bersalah. Yang bersalah adalah Zulaikha. Walaupun mereka juga dapat memaklumi kenapa Zulaikha sampai jatuh hati dan tergila-gila kepada Yusuf. Isteri-isteri para pembesar dan kalangan atas kerajaan sudah membuktikan sendiri, bahwa memang Yusuf adalah pemuda yang tampan luar biasa, tidak ada seorang pun yang dapat menandingi ketampanannya. Kesempurnaan fisiknya, ditambah dengan pantulan kewibawaan dan kemuliaan hatinya, dalam bayangan mereka sama dengan malaikat yang mulia. Tetapi kehormatan Zulaikha dan lebih-lebih suaminya harus dijaga. Yusuf harus dikorbankan. Penjara adalah jalan terbaik untuk menyingkirkan Yusuf.

Kenapa harus penjara? Karena kalau hanya sekadar diusir keluar dari rumah Zulaikha, Yusuf masih berpotensi menjadi masalah bagi keluarga-keluarga pembesar yang lainnya. Bukankah sudah terbukti, semuanya terpesona dengan ketampanan Yusuf. Demikianlah, para pembesar negara sepakat untuk memenjarakan Yusuf untuk masa tertentu. Paling kurang sampai Yusuf dilupakan oleh masyarakat. Allah

berfirman menceritakan kesepakatan itu:

Ëõãøó ÈóÏóÇ áóåõãú ãöäú ÈóÚúÏö ãóÇ ÑóÃóæõÇ ÇáúÂíóÇÊö

áóíóÓúÌõäõäøóåõ ÍóÊøóì Íöíäò

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.”

(8)

Sekarang mulai lah Yusuf memasuki episode baru dari kehidupannya, yaitu hidup dipenjara.

*Penulis adalah Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah Priode 2000-2005.

Sumber:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Nabi Yusuf