Pembentukan Modal Sosial
Melalui Lembaga Formal
dan Non Formal
Pengantar
Pembentukan modal sosial di dalam klaster cor logam Ceper, dilakukan melalui lembaga formal seperti halnya koperasi, pola sub kontrak dan kemitraan serta melaui lembaga non formal seperti halnya melalui hubungan keluarga.
Bab ini berisikan tentang bagaimana pembentukan modal sosial melalui lembaga formal seperti koperasi, hubungan pola sub kontrak sehingga melahirkan modal sosial serta pola kemitraan yang juga melahirkan modal sosial di klaster ceper cor logam, demikian pula pembentukan modal sosial melalui lembaga non formal hususnya melalui hubungan keluarga, diuraikan bagaimana modal sosial diusahakan melalui kerjasama keluarga dalam suatu usaha serta kerjasama
usaha antar perusahaan keluarga. Pertemuan sosial yang merupakan budaya dari masyarakat diurakaikan mengenai bagaimana bentuk kegiatan sosial budaya dan bagaimana modal sosial dibentuk melaui lembaga non formal seperti halnya melalui hubungan keluarga.
Pembentukan Modal Sosial Melalui Lembaga Formal
Pembentukan modal sosial melalui lembaga formal dapat dilakukan melalui kelembagaan koperasi, hubungan pola sub kontrak serta pola kemitraan.
Pembentukan Modal Sosial melalui Kelembagaan Koperasi
Pada tahun 1954 Pemerintah mengeluarkan peraturan untuk membentuk koperasi. Maka para pelaku usaha cor logam membentuk beberapa koperasi, antara lain yang terkenal bernama Koperasi G.P.3.T yang terbentuk pada tahun 1954 dan koperasi cor logam” Prasodjo” yang telah terbentuk dan berbadan hukum tahun 1962. Kedua koperasi tersebut merupakan koperasi produksi dan penyedia bahan baku untuk anggota (Koperasi Batur Jaya, 2004). Selain penyediaan bahan baku dan pemasaran, koperasi tersebut juga memberikan bantuan pembinaan kepada anggotanya. Peranan dua koperasi tersebut jelas sangat penting sebagai wadah untuk membangun modal sosial dalam bentuk kerjasama dan kepercayaan. Jalinan kerja sama yang sudah terbentuk karena adat dan budaya menjadi lebih kuat dengan adanya koperasi. Dengan adanya koperasi maka mulailah terjadi perubahan dalam masyarakat, bahwa keberadaan kerja sama kemudian lebih didasarkan pada kepentingan
ekonomi dan bukan lagi karena adat dan budaya.
Peranan koperasi dalam menyediakan bahan baku kepada anggotanya dirasakan sangat bermanfaat dan koperasi bahkan juga memberikan bantuan pembinaan kepada anggotanya. Kondisi tersebut semakin menumbuhkan kepercayaan baik diantara sesama anggota maupun dari anggota terhadap koperasi. Pembentukan koperasi tersebut tidak terlepas dari campur tangan pemerintah yang memfasilitasi proses terbentuknya berupa peraturan dan bantuan modal kerja. Semangat pemerintah untuk memfasilitasi pendirian koperasi tersebut jelas sangat erat kaitannya dengan tujuan membangun modal sosial yang kokoh agar keberadaan cor logam di Kabupaten Klaten dapat terangkat.
Namun, seiring dengan adanya perkembangan politik pada awal tahun 1965-an, keberadaan koperasi dalam perjalanannya menjadi tidak seperti yang diharapkan karena penuh dengan nuansa politik. Ikatan modal sosial dalam bentuk bonding yang cenderung terbatas dalam hal jaringan, dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk kepentingan politik. Timbulah kelompok-kelompok politik dalam koperasi tersebut dan puncaknya dengan adanya peristiwa G-30-S PKI pada tahun 1965 menyebabkan koperasi yang ditunggangi unsur politik tersebut akhirnya bangkrut dan bubar.
Dari paparan tersebut jelas terlihat bahwa ikatan modal sosial dalam bentuk bonding mempunyai sisi negatif berupa kepercayaan yang didasarkan pada tokoh yang dihormati. Karena para pengurus koperasi, yang juga merupakan tokoh yang dihormati, menjadi pengurus inti partai maka anggota terpaksa bersedia membantu dengan menggunakan dana koperasi untuk kepentingan partai tersebut. Tidak adanya transparansi dan keterbukaan kemudian menjadikan anggota tidak percaya kepada
para pengurus yang terlibat dalam partai politik. Ketidakpercayaan anggota tersebut melahirkan konflik antar anggota yang berdampak pada menurunnya kepatuhan anggota terhadap aturan koperasi dan melahirkan kelompok-kelompok yang terpecah belah. Hingga akhirnya koperasi mengalami kebangkrutan.
Dalam rangka menumbuh kembangkan industri pedesaan, langkah pemerintah untuk menunjang usaha tersebut adalah dengan memberikan bantuan. Usaha pemerintah untuk memajukan klaster cor logam tersebut melalui beberapa tahapan yaitu tahap pertama, berupa pendirian PT. Mein Contractor, pada awal tahun 1973, yang berlokasi di Batur dengan usaha memproduksi kaki mesin jahit. Dalam hal ini pemerintah berusaha untuk mendorong kerjasama antara para pelaku usaha cor logam dengan asosiasi pabrik mesin jahit di Indonesia. Tahap kedua, yaitu dimulai pada awal 1975 melalui proyek Bimbingan dan Pengembangan Industri Kecil (BIPIK) di lingkungan Dirjen Industri Logam dan Mesin, yakni berusaha untuk meningkatkan hasil produk dengan memberikan berbagai peralatan permesinan (Koperasi Batur Jaya, 2000).
Pada tahun 1974 atas inisiatif dari para tokoh masyarakat Ceper, dimana salah satunya adalah Ibu Rumini dan Bapak Margono telah menggagas pembentukan koperasi. Pembentukan koperasi ini tidak lepas juga dari dukungan pemerintah yang menggagas akan memberikan bantuan peralatan kepada para pelaku usaha cor logam. Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang akhirnya pada tanggal 23 Juli tahun 1976 terbentuklah Koperasi yang dinamakan KOPERASI PUSAT PERMESINAN PENGERJAAN LOGAM BATUR JAYA, dengan jumlah pelaku usaha usaha kurang lebih 103 pengusaha (Koperasi Batur Jaya, 2004). Dalam perkembangan koperasi saat ini (2010) jumlah pengusaha
sebanyak 224 pengusaha dimana yang tidak aktif kurang lebih 25%. Sebagaimana yang disampaikan oleh Anas Yusuf :
“Saat ini (2010) jumlah anggota koperasi sebanyak 224 pengusaha, yang aktif sekitar 171 pengusaha sedangkan yang tidak aktif produksi sekitar 25 %. Syarat untuk menjadi anggota Koperasi sangat mudah hanya ijin dan memiliki Nomor Pengusaha Wajib Pajak (NPWP) dan membayar iuran wajib anggota. Koperasi Batur Jaya dibentuk sebagai wadah yang bertujuan memajukan usaha cor logam di wilayah ini. Dibentuknya koperasi dengan harapan dapat membantu para pengusaha dalam mengembangkan usaha melalui kegiatan bersama”.
Koperasi Batur Jaya merupakan wadah pembentukan modal sosial karena merupakan tempat pembinaan anggota yang bertujuan untuk peningkatan kualitas sumber daya anggotanya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Yuli sebagai berikut :
“Beberapa pengusaha yang baru memulai usahanya
dapat meminta bantuan pada koperasi untuk mendapatkan order. Koperasi ini juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan berupa pemberian pelatihan yang bekerjasama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra, ATMI Surakarta, POLMAN, GTZ dan masih banyak lagi. Pelatihan yang diadakan, diantaranya adalah pelatihan manajemen, analisa gambar, teknik-teknik pembuatan cor logam, ecoeffisiensi, produksi bersih. Pelatihan ini bertujuan agar para anggota dapat meningkatkan ketrampilan
dalam melaksanakan tugas-tugas mereka di perusahaan cor logam sehingga kualitas produk yang dihasilkan meningkat pula. Disamping itu, para pengusaha melalui pelatihan manajerial diharapkan mampu meningkatkan kemampuan manajerial mereka”.
Dari kalangan para pengusaha muncul berbagai tanggapan mengenai keberadaan koperasi tersebut. Sebagian besar berpendapat bahwa koperasi sangat membantu dan bermanfaat. Berbagai keuntungan bisa didapat dengan cara masuk sebagai anggota koperasi. Keuntungan tersebut dapat berupa jatah order, pelatihan manajemen, dan proses pembuatan cor logam secara lebih baik, termasuk merancang gambar serta memperkirakan bahan. Meskipun demikian, masih ada beberapa pengusaha yang lain berpendapat bahwa keberadaan koperasi tidak begitu menguntungkan beberapa pihak. Pembagian order seringkali tidak merata dan hanya kalangan tertentu saja yang banyak mendapatkannya. Namun masih ada pula yang berpendapat bahwa meskipun tidak mendapatkan order namun bermanfaat dalam hal memperoleh rekomendasi yang berguna untuk mendapatkan kredit dari Perbankan (Susi, 1989).
Dalam periode pertumbuhan, peningkatan peranan koperasi sangat pesat karena disamping pertumbuhan ekonomi sangat mendukung, keberpihakan pemerintah baik dalam penyediaan bahan baku melalui Krakatau Steel maupun dukungan pasar melalui order dari pemerintah seperti dari Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan maupun Departemen Perhubungan serta dari perusahaan swasta. Demikian juga pembinaan klaster cor logam langsung ditangani oleh Departemen Perindustrian. Hal tersebut menyebabkan modal sosial pelaku usaha
pada waktu tersebut sangat tinggi baik berupa kepercayaan, kepedulian, ketaatan terhadap norma maupun keterlibatan dalam organisasi.
Tingginya modal sosial tersebut banyak dipengaruhi oleh fasilitas yang diberikan oleh koperasi kepada anggotanya dalam bentuk order, pelatihan-pelatihan dan pengenalan teknologi, yang berdampak pada kepercayaan, kebersamaan, ketaatan dan kepedulian masyarakat baik terhadap sesama, organisasi maupun pemerintah sangat tinggi. Demikian pula dukungan dari pemerintah pusat yang memberikan fasilitas peralatan dan bantuan modal kepada koperasi Batur Jaya. Fasilitas tersebut telah membuat koperasi semakin tumbuh berkembang dari tahun ke tahunnya. Akhirnya keberhasilan membangun modal sosial pada koperasi Batur Jaya tidak terlepas dari peranan para pengurus koperasi, khususnya pada awal pembentukannya. Para pengurus koperasi harus mengeluarkan tenaga dan biaya ekstra untuk meyakinkan para anggota dan pihak ekternal membantu koperasi. Disamping juga manajemen koperasi dilakukan secara transpran kepada seluruh anggota.
Meskipun koperasi bermanfaat bagi anggotanya namun perannya mulai memudar karena ketidakpercayaan anggotanya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Suyitno :
“Keberadaan koperasi ini memberikan kontribusi yang besar bagi kelangsungan produksi mengingat koperasi ini sering mengadakan pelatihan-pelatihan dan memberikan order bagi anggota. Namun belakangan peran semakin terpinggirkan karena adanya ketidakpercayaan dan persaingan usaha yang tidak sehat diantara anggota koperasi sendiri. Kondisi industri pengecoran logam mengalami
penurunan aktivitas produksi tepatnya sejak tahun 1995 dan mencapai puncaknya pada krisis ekonomi tahun 1998”.
Krisis moneter pada tahun 1998 berdampak pada menurunnya pasar dan naiknya harga bahan bakar dituding sebagai faktor utama dari permasalahan ekonomi tersebut. Para pengusaha cor logam, mulai mengembangkan usahanya agar tidak mati. Dengan berbagai cara, antara lain peningkatan mutu, teknologi, penurunan harga yang dilakukan secara pribadi bukan dalam bentuk kelompok (koperasi). Akibat dari kondisi ekonomi yang memburuk, maka modal sosial masyarakat menjadi rendah.
Tingkat kepercayaan anggota terhadap koperasi juga rendah, karena Koperasi dianggap sebagai sampingan saja. Sementara agar usaha berjalan maka modal sosial yang sudah terbentuk mulai ditinggalkan. Rasa curiga, banting harga, persaingan lainnya yang tidak sehat diatara pelaku usaha sudah menjadi pemandangan biasa di Ceper. Dampak dari kemajuan teknologi tersebut juga menyebabkan modal sosial dari pelaku usaha yang mempunyai teknologi tinggi cenderung rendah. Karena tidak membutuhkan pelaku usaha yang lain, berdampak pada keluarnya pelaku usaha tersebut dari kelompok atau Koperasi Batur Jaya.
Pada tahun 1970, karena dorongan permintaan pasar dan ketersediaan teknologi tungku pembakaran yang lebih modern yaitu tungku kupola, maka para anggota merasakan akan lebih menguntungkan apabila mempunyai dapur pembakaran sendiri. Oleh karena itu, satu-persatu para anggota mulai membeli tungku sendiri. Dampaknya adalah bahwa pengusaha tidak lagi menggantungkan order dari koperasi dan mampu mencari order sendiri. Berdasarkan kondisi tersebut, disepakati dalam rapat koperasi bahwa untuk tetap membangun kebersamaan dalam
berusaha, maka koperasi hanya akan melaksanakan order yang sifatnya pesanan dalam jumlah besar. Koperasi tidak diperbolehkan menjadi kompetitif dari anggota sendiri. Salah satu order dalam jumlah besar adalah order dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) berupa rem blok kereta api. Sedangkan order-order yang lain dan macam produknya sangat bervariasi, dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan di Ceper yang merupakan anggota Koperasi.
Dalam perjalanannya kebutuhan diversifikasi produk menjadi sangat penting dikarenakan permintaan pasar akan variasi produk semakin banyak dengan kualitas produk yang terstandar maka dibutuhkan adanya teknologi tungku dapur yang lebih modern yaitu tungku induksi. Anggota menyarankan koperasi untuk membeli tungku tersebut. Namun berdasarkan rapat anggota koperasi keputusan untuk membeli tungku induksi tidak disetujui. Akhirnya para anggota yang cukup besar usahanya membeli tungku induksi sendiri. Hal tersebut, berdampak pada tingkat ketergantungan anggota kepada koperasi semakin rendah. Dari aspek modal sosial berdampak pada menurunnya modal sosial anggota terhadap koperasi.
Agar modal sosial anggota tidak semakin menurun, maka para pengurus melakukan aktivitas yang mendorong modal sosial, dalam bentuk arisan haji, pelatihan dan pembagian fee yang adil. Dari upaya para pengurus koperasi tersebut menimbulkan dampak positif berupa peningkatan modal sosial anggota khususnya untuk kegiatan blok rem maupun kegiatan sosial lainnya. Di satu sisi para anggota tetap menjalankan usahanya masing-masing yang terlepas dari Koperasi Batur Jaya. Dampak yang terjadi adalah adanya dualisme modal sosial. Berkaitan dengan jenis usaha blok rem, masih dilakukan dengan kerjasama dan kebersamaan.
Tetapi untuk produk-produk lain, terjadi penurunan kepercayaan dan kepatuhan terhadap norma, dengan adanya persaingan harga diantara pelaku usaha di Ceper.
Meskipun demikian dibandingkan dengan klaster-klaster logam yang lain di Jawa Tengah, misalnya knalpot di Purbalingga ataupun logam kuningan di Pati maka modal sosial klaster cor logam di Klaten masih cukup bagus. Peranan koperasi dalam membangun modal sosial, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan angggota masih cukup besar.
Pembentukan Modal Sosial melalui Pola Subkontrak
Pada tahun 1985, ketika terjadi pesanan dalam jumlah besar, banyak buruh pekerja yang mendirikan usaha sendiri dan berlaku sebagai subkontrak dengan perusahaan yang lama. Demikian pula, karena kebanjiran order maka beberapa pengusaha mengajak saudaranya untuk mendirikan perusahaan baru sebagai subkontrak karena order tidak sanggup diselesaikan sendiri. Dalam kaitan dengan order dari luar, maka perusahaan besar yang ada di Ceper tersebut juga merupakan subkontrak dari perusahaan besar tingkat Nasional, misalnya perusahaan Astra, Kubota, dan lain-lain. Ada empat faktor yang mendorong berkembangnya praktek subkontrak, yaitu: full capacity subcontracting, yaitu praktek subkontrak yang timbul karena kontraktor menghadapi kegiatan yang melebihi kapasitas produksinya (peak load) ; specialized subcontracting, yaitu praktek subkontrak yang timbul karena para kontraktor mengetahui adanya sejumlah sub kontraktor yang ternyata memiliki mesin/ alat khusus dan atau keahlian khusus untuk membuat komponen tertentu; marginal subcontracting, yaitu kontraktor memberi order kepada subkontraktor karena barang yang
dipesan terlalu sedikit jumlahnya atau jarang dipesan secara reguler; cost
saving subcontracting, yaitu kontraktor memberi order karena adanya biaya
yang lebih rendah di pihak subkontraktor (Saleh, 1986).
Para kontraktor menyerahkan pekerjaan kepada sub kontraktor dilandasi oleh modal sosial berupa kepentingan untuk melakukan kerjasama dalam pemenuhan order dan kepercayaan. Biasanya pekerjaan hanya akan dibagi kepada para subkontraktor yang sudah terbiasa bekerja selama ini. Masing-masing kontraktor sudah mempunyai sub kontraktor sendiri-sendiri.
Dalam rangka memupuk modal sosial dengan subkontraktor, maka kontraktor melakukan beberapa kegiatan antara lain arisan, bantuan pembinaan dan bantuan alat. Kontraktor, selain membagi order juga memberikan pembinaan teknologi dan mengajarkan tentang pengecoran yang baik kepada sub kontraktor. Sistem ini mempunyai sisi positif dan negatif bagi subkontraktor. Positif berupa order dan pembinaan dari kontraktor kepada subkontrak secara rutin dan terus-menerus. Tetapi mempunyai sisi negatif berupa harga yang masih bergantung dengan kontraktor. Kontraktor cenderung menguasai sub kontraktor yang ada, terkadang pembayaran terlambat sehingga mengganggu bagi subkontraktor yang merupakan perusahaan kecil. Namun keuntungan bagi subkontraktor dengan bekerjasama kontraktor akan menjawab kesulitan pasar, alih teknologi dan pengetahuan, bahan baku serta modal. Bagi kontraktor sendiri melakukan hubungan kerja dengan subkontrak berarti bisa menghindari kebutuhan investasi lahan, peralatan, fluktuasi permintaan dan ongkos produksi (Purbasari, 1997).
Perkembangan cor logam yang cukup tinggi pada tahun 1980 membuka kesempatan tenaga kerja yang cukup banyak. Buruh kerja
tidak hanya berasal dari desa setempat, namun sebagian besar datang dari kabupaten lain. Bagi tenaga-tenaga terampil terbuka kesempatan luas untuk mengembangkan dengan terlebih dahulu bekerja di perusahaan untuk kemudian membuka perusahaan sendiri. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Yuli :
“Pengusaha mula-mula memberikan pekerjaan khusus kepada buruh kerja yang dianggap terampil dan dapat dipercaya. Karena dianggap baik, maka pengusaha tersebut memberikan kesempatan kepada pekerja khusus tersebut untuk mewakili perusahaannya dalam kegiatan bisnis. Ketika order semakin besar, maka pekerja khusus tersebut disuruh mendirikan perusahaan baru sebagai subkontraktor. Makin banyak tenaga kerja yang dapat dipercaya maka para subkontraktor juga semakin bertambah. Akhirnya para subkontraktor membentuk jaringan usaha yang sifatnya non formal. Diantara para sub kontraktor sering mengadakan pertemuan untuk membahas bisnis dan pengembangan teknologi. Dalam pertemuan tersebut dihadiri pula oleh kontraktor yang dulunya sebagai juragan mereka. Modal sosial para sub kontraktor cukup tinggi, termasuk hubungan subkontraktor dengan kontraktor”.
Selain modal sosial antara subkontrak dengan kontraktor terdapat pula modal sosial antara pimpinan dan karyawan. Pada klaster cor logam Ceper khususnya pada industri kecil, modal sosial pimpinan dan karyawan relatif tinggi. Hubungan pimpinan dan karyawan relatif dekat karena jumlah
karyawan yang relatif lebih kecil. Mereka sering mengadakan pertemuan-pertemuan antara pimpinan dan karyawan. Hal-hal yang dibahas antara lain: disiplin kerja, peningkatan mutu, kecepatan kerja, pemeliharaan mesin, kebersihan lingkungan, rasa memiliki, kesulitan pekerja, rasa kebersamaan dan keselamatan kerja (Salam, 2000). Keberadaan modal sosial yang tinggi tersebut, menyebabkan para pengusaha berusaha tidak melakukan PHK terhadap karyawannya meskipun kondisi krisis. Langkah yang dilakukan para pengusaha cor logam, dengan melakukan penghematan biaya produksi, dalam bentuk penghematan bahan baku, penggunaan limbah bahan baku dan model penggajian dengan sistem borongan.
Pembentukan Modal Sosial melalui Kemitraan
Kegiatan kemitraan di Kecamatan Ceper diperkirakan mulai berjalan pada tahun 1990. Ditandai dengan kegiatan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memberikan pelatihan teknis/ manajerial dan keuangan kepada unit-unit kecil, menengah serta koperasi. Koperasi yang pertama kali mendapatkan pelatihan tersebut adalah Batur Jaya sedangkan pengusaha kecil yang pertama kali mendapatkan pelatihan adalah PT. Baja Kurnia. BUMN dan perusahaan besar skala nasional tersebut merupakan bapak angkat dari program inti plasma antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil di cor logam Ceper.
Sebagaimana Eriyatno (1997) mengemukaan bahwa ada 4 aspek penting yang digunakan dalam pembentukan kemitraan, yaitu: aspek bisnis untuk menjamin kelayakan usaha, aspek kesejahteraan sosial untuk
menjamin manfaat usaha, aspek partisipasi untuk menjamin keberlanjutan dan aspek teknologi untuk menjamin teknik dan mutu produksi (kualitas produksi).
Oleh karena itu, untuk membangun 4 hal tersebut, dibutuhkan adanya modal sosial yang kuat dari para pelaku usaha cor logam yang merupakan plasma. Menurut Salam (2000), bentuk penguatan modal sosial dilakukan dalam bentuk pembinaan berupa pelatihan, magang, alih teknologi dan bantuan promosi. Diharapkan dengan pembinaan, terjalin kerja sama yang harmonis disamping adanya kualitas produk yang memenuhi syarat pembeli. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh BUMS (Badan Usaha Milik Swasta), antara lain: BUMS sebagai bapak angkat memberikan pembinaan berupa: pelatihan, (misal dilakukan oleh PT. Astra Internasional), magang, pembinaan/ penyuluhan, penyediaan prototipe/ desain peralatan atau produk, penyediaan sarana promosi dan informasi. Penyediaan sarana pameran, penerbitan buletin tentang informasi teknologi (sebagai contoh buletin yang diterbitkan oleh YDBA yang merupakan media informasi dan komunikasi usaha kecil dan menengah).
Perkuatan bidang manajemen yang dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan Manajemen Astra (PPMA) yang dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap yang pertama adalah melalui pelatihan standar manufaktur Astra dengan membaurkan peserta dari industri kecil dengan karyawan Astra setingkat Foreman dan Penyelia (supervisor), dengan demikian diharapkan pola berpikir, motivasi kerja peserta dari industri kecil akan dapat terbentuk seperti karyawan Astra. Dan yang kedua adalah melaui pelatihan dengan memberikan bimbingan teknis di tempat kerja industri kecil binaan yang dilakukan oleh instruktur PPMA.
Sedangkan Training Center PT. United Tractor (UT) yang mengadakan pelatihan teknologi, khususnya teknik pengelasan plat dengan ketebalan 6 mm misalnya. Metoda yang digunakan hampir sama dengan pengembangan manajemen, yaitu terdiri dari 3 (tiga) tahapan: pelatihan teori dan praktek pengelasan selama 10 hari, magang selama 30 hari dan bimbingan teknis 2 (dua) kali di tempat kerja industri kecil.
Sesuai dengan penjelasan-penjelasan di atas, nampak bahwa proses institusionalisasi formal dalam usaha bersama pada industri cor logam di Ceper mengalami proses transformasi modal sosial. Sebelum koperasi terbentuk, pelaku usaha menjalankan bisnis dengan dukungan keluarga, kerabat dan lingkungan terdekat dalam bentuk relasi yang saling mendukung, tidak ada perbedaan relasi sosial dan relasi ekonomi. Setelah koperasi terbentuk, terjadi interaksi dan perubahan relasi, di mana relasi sosial masih berjalan tanpa hambatan, namun relasi ekonomi dalam bentuk koperasi berubah, selain munculnya kerjasama terbatas dengan pertimbangan ekonomis, terjadi persaingan laten yang sangat kuat, terjadi ketimpangan relasi dan muncul ketidakpercayaan. Ada kelemahan mendasar di mana para pelaku usaha menjadi sangat oportunistik, menilai kerjasama dari untung rugi sesaat. Seperti halnya pada hubungan plasma inti, atau subkontrak, pilihan yang didasari sifat oportunistik sangat kentara, meskipun di sisi lain muncul keuntungan-keuntungan usaha. Dengan demikian, ada faktor penghambat dan pendukung dari institusi formal terhadap modal sosial dalam mendukung perkembangan klaster sebagaimana gambar 7.1.
Peranan dan Pemanfaatan Modal Sosial dalam Pengembangan Klaster
Gambar 7.1
Faktor Penghambat dan Pendukung Institusi Formal Terhadap Modal Sosial
Pembentukan Modal Sosial melalui Lembaga Non Formal
Pembentukan modal sosial melalui lembaga non formal dapat dilakukan melalui beberapa cara diantaranya: melalui keluarga dan melalui berbagai pertemuan sosial. Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
162
dalam bentuk koperasi berubah, selain munculnya kerja sama terbatas dengan pertimbangan ekonomis, terjadi persaingan laten yang sangat kuat, terjadi ketimpangan relasi dan muncul ketidakpercayaan. Ada kelemahan mendasar di mana para pelaku usaha menjadi sangat oportunistik, menilai kerjasama dari untung rugi sesaat. Seperti halnya pada hubungan plasma inti, atau sub kontrak, pilihan yang didasari sifat oportunistik sangat kentara, meskipun di sisi lain muncul keuntungan-keuntungan usaha. Dengan demikian, ada faktor penghambat dan pendukung dari institusi formal terhadap modal sosial dalam mendukung perkembangan klaster sebagaimana gambar 7.1.
Gambar 7.1 : Faktor Penghambat dan Pendukung Institusi Formal Terhadap Modal Sosial
Pembentukan Modal Sosial melalui Lembaga Non Formal
Pembentukan modal sosial melalui lembaga non formal dapat
keluarga - ikatan kelompok -jaringan Norma dan nilai sosial - pedoman politik = kolusi keluarga = kolusi norma dan nilai=keadilan politik = fasilitasi kebijakan institusi = sub kontrak, promosi jaringan = kursus,
latihan, bantuan kelompok = partisipasi transformasi
relasi, nilai, norma
jaringan = bisnis kelompok = kolusi pra institu
sional sional isasi institu
Destruktif ; gagal
konstruktif ; new konsep Norma dan nilai = keadilan,
transparan institusi = saluran pendukung penghambat Modal Sosial Baru Modal Sosial Bounding
Modal Sosial Bridging dan Linking bonding
Pembentukan Modal Sosial Melalui Keluarga
Suyitno (informan kunci) yang adalah mantan Kepala Perindustrian Kabupaten Klaten, mengatakan bahwa perusahaan cor logam di Batur dan Ceper bisa disebut sebagai perusahaan keluarga. Pada awalnya perusahaan itu cukup dikerjakan oleh anggota keluarga dan dibantu oleh para tetangganya. Aset masih terbatas dan omset penjualan masih bisa dilakukan oleh keluarga. Perusahaan cor logam dimulai + 1940an sebagai generasi pertama dan tahun 1970an sebagai generasi kedua dan tahun 1990 sebagai generasi ketiga. Lebih lanjut ia mengatakan apabila diruntut dari perjalanan regenerasi pengecoran sangat bervariasi. Sebagian pengusaha menerima estafet kepemimpinan langsung dari orang tua dengan segenap kondisi perusahaan, mulai dari mesin, modal, dan uang, dan bahkan sekaligus dibuatkan perusahaannya. Sebagian besar budaya kerja yang dilakukan oleh para penerusnya meniru apa adanya sebagaimana yang telah diwarisi dari orang tuanya. Bahkan pelanggan dan produk lama yang masih ada juga diwariskan, akibatnya produk tersebut adalah produk lama yang terkadang sulit bersaing di pasar (Badaruddin, 2010).
Pekerjaan sebagai pengusaha cor logam itu seringkali telah berjalan secara turun temurun, artinya usaha cor logam dari ayah, diturunkan kepada anak-anaknya sejak jaman sebelum penjajahan Belanda sampai kemerdekaan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa jika pengusaha merasa kurang mampu lagi mengelola perusahaannya, lalu mereka memberikan estafet kepemimpinannya kepada anak-anaknya, dan orang tua memberikan fasilitas mulai dari modal, pelanggan, peralatan, dapur pengolahan dan tanah untuk pengembangan (Badaruddin, 2010).
Sebagai contoh adalah keluarga alamarhum Mashudi yang menyuruh anak-anaknya ikut bekerja, mendidik cara bekerja dan memberi tanggung jawab pekerjaan terhadap anak-anaknya. Salah seorang anaknya bernama Muslikah, yang menerima warisan usaha dari alm. Mashudi, juga mengatakan bahwa setelah anaknya berumah tangga maka juga akan diajari tentang proses pengecoran, mencari bahan dan menjualnya. Jika dirasa anaknya telah bisa bekerja, maka orang tua akan mempersilahkan anaknya untuk bekerja sendiri (Badaruddin, 2010).
Perusahaan keluarga akan diwariskan kepada salah seorang anaknya. Meskipun demikian, anak yang lain juga diberi bantuan modal untuk mendirikan usaha cor logam baru. Sehingga banyak pengusaha cor logam di Ceper masih ada hubungan saudara satu dengan yang lain. Beberapa perusahaan berbentuk subkontrak yang menghubungkan perusahaan orang tua sebagai perusahaan inti dan perusahaan-perusahaan anaknya sebagai sub kontrak. Sebagaimana yang disampaikan Nunik (istri Didik yang juga salah satu pemilik PT. Suyudi Sido Maju):
“Keluarga saya terdiri dari 6 bersaudara. Pada waktu orang tua masih hidup, anak-anaknya disuruh membantu perusahaan sebagai tenaga serabutan, baik sebagai administrasi, sopir, supervisi pabrik dan lain-lain. Sehingga waktu anak-anaknya berumah tangga, masing-masing anak diberi modal untuk mendirikan perusahaan sendiri. Perusahaan orang tua yang bernama PT. Suyudi Sido Maju kemudian diserahkan kepada salah satu anaknya untuk meneruskan. Setelah itu PT. Suyudi Sido Maju berperan sebagai perusahaan induk, sedangkan perusahaan anak-anak yang lain merupakan subkontrak atau istilahnya departemen. Terdapat
3 perusahaan dibawah PT. Suyudi Sido Maju, yaitu PT. Dika Masra, PT. Daya Cipta Utama dan PT. Putra Suyudi”.
Order perusahaan keluarga didapat dari perusahaan induk dan tempat lain. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Didiek Parmadi yang merupakan suami Nunik dan menjabat direktur PT. Dika Masra :
“Selama ini order didapatkan dari perusahaan induk (Suyudi Sido Maju). Namun, tidak menutup kemungkinan mendapatkan order dari tempat lain. Pada dasarnya masing-masing perusahaan, mempunyai produk yang berbeda satu dengan yang lain sehingga bisa saling melengkapi. Namun ada pula yang produknya sama, misalnya pompa air dari Panasonik. Beberapa saudaranya juga menjadi subkontraktor untuk pompa air Panasonik. Dalam membangun kebersamaan, keluarga sering sekali mengadakan pertemuan keluarga, yang biasanya dalam pertemuan keluarga tersebut juga membahas masalah bisnis”.
Disamping model perusahaan keluarga, dimana perusahaan orang tua sebagai induk dan anak-anaknya sebagai cabang/departemen, terdapat pula model perusahaan keluarga yang tidak menginduk pada salah satu perusahaan orang tua. Sebagai contoh adalah perusahaan Sidodadi Jaya. Sebagaimana diceritakan Bambang (informan kunci) :
Narno Wiryono merupakan kakek saya adalah mantan
direktur Sidodadi Jaya yang mempunyai 6 orang anak. Dari 6 orang anak tersebut, 4 orang anaknya mempunyai usaha
pengecoran, 1 orang pedagang bahan baku dan 1 orang lagi dulu pengecoran tetapi karena tutup berubah menjadi pendidikan. Perusahaan anak-anaknya adalah: Bonjor, Inti Baja, Solo Casting, Sidodadi Jaya, Rekacipta Indopertama dan Pedagang Bahan Baku. Dari 4 perusahaan tersebut, produknya masing-masing perusahaan berbeda-beda meskipun ada pula yang sama. Keempat perusahaan tersebut berdiri sendiri-sendiri, dan bukan merupakan perusahaan cabang dari Sidodadi Jaya. Sidodadi Jaya juga masih ada sampai sekarang, yang kebetulan dipegang oleh salah satu paman saya. Meskipun demikian, mereka tetap menjalankan kerja sama bisnis diantara mereka.
Dalam memulai usaha para pengusaha seringkali mendapat dukungan dari keluarga baik dalam belajar berusaha, pemberian modal, jejaring, order maupun dalam bentuk bantuan produksi, karena perusahaan baru untuk mencapai efisiensi diperlukan skala produksi tertentu (Rutten, 2003).Kerjasama dan dukungan dari keluarga merupakan salah satu aspek penting dari perilaku ekonomi dari para pengusaha. Salah satu indikasi dari kenyataan adanya hubungan keluarga adalah bahwa ada seperampat dari para pengusaha (43 keluarga) di Ceper yang ternyata berada dalam suatu struktur keluarga besar. Beberapa industri besar di Ceper jelas-jelas dimiliki dan dikelola oleh keluarga, sehingga sebagian kerja dibagi diantara para keluarganya. Juga dijumpai kasus suatu perusahaan keluarga yang di pecah-pecah menjadi beberapa perusahaan yang dikelola oleh anggota keluarga dalam rangka untuk menghindari pajak. Pada umumnya skema hubungan usaha yang dipengaruhi oleh hubungan keluarga yang terjadi seperti pada gambar 7.2
Gambar 7.2 Skema Perusahaan Keluarga Cor Logam, Ceper
Keterangan gambar :
1. Mula-mula perusahaan keluarga dilakukan sendiri dan dibantu para tetangganya, pada umumnya dimulai sekitar tahun 1940, dan merupakan generasi pertama,
2. Orang tua kemudian menyerahkan estafet perusahaan pada salah satu anaknya, tetapi anak yang lainnya juga dibantu mendirikan usaha pengecoran. Perusahaan anak-anaknya kemudian menjadi perusahaan cabang dari perusahaan orang tua. Kelompok ini merupakan generasi kedua yang pada umumnya bermunculan di sekitar tahun 1970, 3. Anak-anak yang akhirnya menjadi orang tua, juga mewariskan
pengecoran kepada anak-anaknya termasuk produk dan pelanggan. Perusahaan orang tua dari generasi pertama tersebut pada akhirnya
Pembentukan Modal Sosial Melalui Lembaga Formal dan Non Formal
166
keluarga) di Ceper yang ternyata berada dalam suatu struktur keluarga besar. Beberapa industri besar di Ceper jelas-jelas dimiliki dan dikelola oleh keluarga, sehingga sebagian kerja dibagi diantara para keluarganya. Juga dijumpai kasus suatu perusahaan keluarga yang di pecah-pecah menjadi beberapa perusahaan yang dikelola oleh anggota keluarga dalam rangka untuk menghindari pajak. Pada umumnya skema hubungan usaha yang dipengaruhi oleh hubungan keluarga yang terjadi seperti pada gambar 7.2
Gambar 7.2 Skema Perusahaan Keluarga Cor Logam, Ceper
Keterangan gambar :
1. Mula-mula perusahaan keluarga dilakukan sendiri dan dibantu para tetangganya, pada umumnya dimulai sekitar tahun 1940, dan merupakan generasi pertama,
2. Orang tua kemudian menyerahkan estafet perusahaan pada salah satu anaknya, tetapi anak yang lainnya juga dibantu mendirikan usaha pengecoran. Perusahaan anak-anaknya kemudian menjadi perusahaan cabang dari perusahaan orang tua. Kelompok ini merupakan generasi kedua yang pada umumnya bermunculan di sekitar tahun 1970,
menjadi perusahaan induk, sedangkan perusahaan anak-anaknya menjadi perusahaan cabang atau istilahnya departemen. Dalam mendapatkan order, masing-masing perusahaan memperoleh dari perusahaan induk, meskipun juga diperbolehkan untuk mendapatkan order ataupun bekerjasama dengan perusahaan lain. Biasanya yang diajak kerjasama adalah perusahaan yang masih punya hubungan famili.
Suyitno (informan kunci), mengatakan bahwa hampir semua pelaku usaha berasal dari satu keluarga. Mulanya orang tua yang mempunyai usaha, kemudian diteruskan anak-anaknya. Ada pula yang diteruskan oleh menantu yang berasal dari luar Ceper. Anas Yusuf (informan kunci), juga mengatakan bahwa beberapa pelaku usaha ada yang berasal dari luar daerah Klaten, misalnya ayahnya dulunya dari Madiun, ayahnya Yahya berasal dari Purworejo. Menurut Didik (informan kunci), personil yang berasal dari luar Ceper biasanya lebih sukses daripada yang berasal dari Ceper sendiri. Kemungkinan faktornya adalah personil dari luar Ceper daya juangnya dan jiwa kewirausahaan lebih besar daripada dari dalam Ceper sendiri.
Sebagai contoh adalah Musa Asy’arie (informan kunci), yang menyatakan bahwa dorongan usahanya adalah sebagai bagian dari upaya mengatasi problem ekonomi keluarga. Saat itu ia memasuki dunia usaha karena situasi “kepepet”. Ia mengatakan ternyata menumpang di komplek “Mertua Indah” dengan posisi belum bekerja tidak seindah warna aslinya untuk menghidupi keluarga satu anak, dengan bergantung pada mertua tidak mungkin lagi, sementara bekal ketrampilan usaha yang dimiliki minim. Salah satu jalan yang dipilih bekerja sambil kuliah menjadi makelar
dengan menjual produk “pompa kodok”, meskipun tidak berhasil namun tidak putus asa.
Musa Asy’rie sebagai pengusaha yang bukan berasal dari Ceper tersebut, akhirnya mendirikan usaha pada tahun 1978 dengan nama PT. Baja Kurnia. Untuk meraih cita-citanya ia menjual gagasan, semangat, komitmen, kesungguhan, niat baik dan dapat memberi manfaat bagi diri dan keuntungan orang lain. Adapun visi usaha dengan upaya pengembangan melalui perusahaan PT. Baja Kurnia dengan upaya membangun jaringan kemitraan usaha yang hidup dan menghidupi sesamanya (Badaruddin, 2004). Musa membangun modal sosial jaringan baik jaringan internal maupun jaringan eksternal dan membangun kepercayaan melalui kesungguhan dan niat baik untuk memberi manfaat bagi diri dan keuntungan orang lain.
PembentukanModal Sosial Melalui Pertemuan Sosial
Selain kerjasama bisnis maka pembentukan modal sosial juga dapat lahir dari pertemuan-pertemuan sosial. Pertemuan sosial yang paling banyak dilaksanakan adalah kegiatan keagamaan, antara lain pengajian, pertemuan haji, sholat Jum’atan. Disamping itu juga kegiatan-kegiatan hajatan, seperti pernikahan, sunatan, dan lain-lain. Menurut Husain (informan kunci), pelaku usaha di Ceper sering bertemu satu dengan yang lain. Banyak kegiatan keagamaan yang membuat mereka saling bertemu satu dengan yang lain. Misalnya setiap Jum’at, mereka ketemu di Masjid untuk sholat Jum’atan.
tentang bisnis cor logam. Menurut Suyitno (informan kunci), beberapa konflik yang terjadi di Ceper dapat diselesaikan dengan silaturahmi melalui pengajian dan kegiatan sosial lainnya. Jarang ada konflik yang berlarut-larut, semua masalah akan berakhir dengan damai. Karena sistem kekeluargaan dan kekerabatan masih tinggi menyebabkan pelaku usaha cenderung tidak terlibat dalam konflik. Kalaupun terjadi konflik, biasanya tidak akan lama.
Beberapa kegiatan sosial budaya, yang hidup di Ceper diantaranya sebagai berikut (Baharudin 2010):
1. Tradisi Walimahan
Tradisi walimahan (perkawinan) bagi para pengusaha dapat digunakan sebagai ajang untuk menunjukkan kemewahan dan meninggikan status sosial mereka. Walimahan dalam perkawinan anak, biasanya dilakukan secara besar-besaran (mewah) yang dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, upacara perkawinan biasanya diadakan dirumah masyarakat Batur sendiri yang dihadiri oleh sanak famili, tetangga dan teman-teman dekat. Kedua, walimahan biasa dilaksanakan di gedung-gedung pertemuan di luar daerah seperti Solo atau Yogyakarta, bahkan di hotel dengan biaya besar. Alasan utama menyelenggarakan resepsi pernikahan di luar Ceper untuk menghormati tamu berkaitan dengan bisnis dan popularitas mereka serta dikaitkan dengan harga diri.
Menurut Didik (informan kunci) para pengusaha memanfaatkan walimahan untuk membangun kerjasama yang lebih erat khususnya dengan para pengusaha yang berada di luar Ceper. Dalam acara perkawinan tersebut, tidak menutup kemungkinan undangan yang merupakan para pengusaha juga melakukan pembicaraan yang
berkaitan dengan kegiatan bisnis cor logam. 2. Tradisi Selamatan.
Selain resepsi pernikahan, ada juga selamatan yang menjadi salah satu tradisi budaya yang ada di Ceper. Selamatan sering dihubungkan dengan peristiwa spesifik dalam kehidupan keluarga. Saat pengusaha cor logam sudah berhasil dan meningkat usahanya, maka diadakan selamatan, juga ketika memulai bisnis atau saat ada pesanan baru. Budaya selamatan, diadakan sebagai sarana memperlihatkan kesyukuran dan kesuksesan bisnis mereka. Dalam acara semalatan, diundang tetangga terdekat dan teman-teman bisnis ataupun calon partner bisnis. Tradisi tersebut, dapat meningkatkan modal sosial diantara pelaku usaha cor logam.
3. Tahlilan
Tahlilan merupakan salah satu budaya agama. Acara tahlilan biasanya digelar untuk memohon keselamatan bagi mereka yang meninggal, keselamatan usaha, keselamatan hidup dan sebagai sarana sadaqah yang benar agar terhindar dari bahaya. Acara tahlil dengan mengundang tetangga sekitar. Setelah acara selesai, peserta tahlil masih diberi oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih. Upacara tersebut memiliki pengaruh terhadap anggota masyarakat. Dalam bisnis, tahlil juga ditujukan untuk membangun modal sosial berupa kepedulian terhadap orang lain. Disamping tahlil juga menjadi ukuran taat dan tidaknya anak terhadap orang tua.
4. Salawatan
Salawat yang sering dibacakan adalah Salawat Nariyah, merupakan doa untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Dilihat dari unsur keduniaan yaitu agar usaha kerjanya lancar dan terhindar dari bala’
dan kejahatan, biasanya dibawakan pada malam Senin. Salawat yang lain adalah Salawat Tunjinah dimaksudkan agar diberi kelancaran dalam keberhasilan segala usahanya. Masyarakat meyakini dengan membaca salawat termasuk amal yang utama yang dilakukan khusus karena keselamatan akan diberikan kepada yang membaca. Pelaksanaan salawatan ini hampir seminggu sekali diadakan, sebagai sarana berdoa agar perusahaan dan pekerja selamat. Biasanya dihadiri oleh tetangga terdekat, khususnya para pekerja.
5. Yasinan
Yasinan merupakan kegiatan keagamaan yang dilakukan satu minggu sekali. Dalam yasinan, mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia, disamping juga digunakan untuk mendoakan dalam keadaan kesusahan, misalnya ada yang sakit. Dengan yasinan para anak menunjukkan bakti-nya kepada orang tua dalam bentuk doa. Acara tersebut, juga digunakan untuk membangun kredibilitas pengusaha yang mempunyai acara, disamping untuk membangun kebersamaan dengan pelaku usaha yang lain dan para tenaga kerjanya.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa lembaga non formal, seperti keluarga, kekerabatan, kelompok, jaringan sosial, norma dan aturan sosial telah memberikan dukungan sangat penting bagi keberlangsungan usaha. Berbagai macam pola dukungan tersedia, mulai dari pewarisan sumberdaya, penggunaan sumber daya bersama, magang dengan kerabat atau kelompok dan forum-forum sosial sangat membantu membangun kekuatan usaha dan ikatan diantara para pelaku usaha, seperti dijelaskan pada gambar 7.3.
Gambar 7.3
Pola Pembentukan Modal Sosial Melalui Lembaga Non Formal maupun Lembaga Formal
Gambaran dari pola pembentukan modal sosial baik melalui lembaga non formal maupun lembaga formal sebagaimana dijelaskan di atas, merupakan sebuah dinamika interaksi relasi dan dukungan sumberdaya antara faktor-faktor sosial non profit yang humanistik dan faktor-faktor ekonomi berorientasi profit dan bersifat oportunistik. Masing-masing faktor memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, di mana dapat menghambat atau mendukung peran modal sosial. Pada beberapa kasus, kehadiran institusi formal seperti koperasi menajamkan kecenderungan penghambat modal sosial, seperti tidak transparan karena mengutamakan keluarga atau kerabat dalam memberikan order, akses modal dan sebagainya, meskipun di sisi lain ada manfaat berupa
Gambar 7.3 Pola Pembentukan Modal Sosial Melalui Lembaga Non Formal maupun
Lembaga Formal
Gambaran dari pola pembentukan modal sosial baik melalui lembaga non formal maupun lembaga formal sebagaimana dijelaskan di atas, merupakan sebuah dinamika interaksi relasi dan dukungan sumberdaya antara faktor-faktor sosial non profit yang humanistik dan faktor-faktor ekonomi berorientasi profit dan bersifat oportunistik. Masing-masing faktor memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, di mana dapat menghambat atau mendukung peran modal sosial. Pada beberapa kasus, kehadiran institusi formal seperti koperasi menajamkan kecenderungan penghambat modal sosial, seperti tidak transparan karena mengutamakan keluarga atau kerabat dalam memberikan order, akses modal dan sebagainya, meskipun di sisi lain ada manfaat berupa saluran bisnis. Di sisi lain kehadiran kerjasama plasma inti atau kontrak-kontrak tertentu menghasilkan dukungan modal sosial, karena di situ terdapat keuntungan yang dibagi, oportunistik terwadahi dan secara sosial mendukung, sehingga memberikan dampak positif. Pada gambar 7.4 tentang bagan mengenai gambaran proses pembentukan modal sosial keturunan Kekerabatan Perkawinan jejaring sosial lembaga-lembaga sosial forum-forum sosial relasi sosial pembagian pasar/order permodalan keluarga pola magang kerabat Usaha
Keluarga Jaringan dan
kelompok Modal Sosial Bounding alat produksi bersama Pola usaha warisan pengayaan nilai, norma, dan relasi
saluran bisnis. Di sisi lain kehadiran kerjasama plasma inti atau kontrak-kontrak tertentu menghasilkan dukungan modal sosial, karena di situ terdapat keuntungan yang dibagi, oportunistik terwadahi dan secara sosial mendukung, sehingga memberikan dampak positif. Pada gambar 7.4 tentang bagan mengenai gambaran proses pembentukan modal sosial dalam lembaga formal dan non formal.
Gambar 7.4
Bagan Proses Pembentukan Modal Sosial Dalam Lembaga Formal dan Non Formal
Peranan dan Pemanfaatan Modal Sosial Pada Klaster Logam Ceper Klaten
172
dalam lembaga formal dan non formal.
Gambar 7.4 Bagan Proses Pembentukan Modal Sosial Dalam Lembaga Formal dan
Non Formal permodalan magang kerja peningkatan ketrampilan jejaring sosial pembagian pasar/order alat produksi bersama persaingan usaha laten kolusi dalam kelompok pola usaha kekrabatan tidak transparan Pola usaha warisan norma dan nilai sosial forum sosial institusi sosial keluarga kerabat kelompok koperasi jaringan bisnis kontrak bisnis interaksi nilai, normai, dan relasi institusi non formal institusi formal Modal Sosial klaster
Kesimpulan
Dalam perkembangan klaster cor logam Ceper setelah terbentuknya koperasi GP3T dan koperasi cor logam “Prasojo” modal sosial mengalami peningkatan, dan bentuk modal sosialnya adalah Bonding. Tipe modal sosial bonding, dimana para pimpinan lembaga formal sangat di “tokoh”kan dan menjadi panutan maka waktu terjadi gejolak G30 S/PKI, dimana beberapa pengurus dan anggota berafiliasi dengan partai PKI, maka mengakibatkan koperasi bubar dan akhirnya modal sosial menjadi rentan, dan mengalami penurunan, karena modal kepercayaan antar anggota mengalami penurunan.
Kondisi penurunan modal sosial mulai membaik dengan terbentuknya koperasi Cor logam Baturjaya pada tahun 1976 dan modal sosial tumbuh lagi setelah adanya fasilitasi dari pemerintah yang lebih besar baik dalam membuka akses pasar, pengembangan SDM maupun pengadaan bahan baku dan adanya pola subkontraktor dan pola kemitraan plasma inti sehingga modal sosial pelaku pada periode ini dapat dikatakan pada tahap pertumbuhan sangat tinggi baik berupa kepercayaan kepedulian, ketaatan terhadap norma maupun keterlibatan dalam organisasi. Dalam perkembangan selanjutnya yaitu pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998, dimana pasar mengalami penurunan, modal sosial masyarakat menjadi rendah. dan mulai ditinggalkan dan digantikan dengan rasa curiga, banting harga, serta persaingan yang tidak sehat diantara pelaku usaha. Demikian juga adanya tuntutan perubahan tehnologi, beberapa pengusaha yang semula menggantungkan tungku Koperasi dan berinisiatif membeli tungku kopola sendiri, sehingga terjadilah dualisme modal .
Proses institusionalisasi formal dalam usaha bersama juga diiringi dengan proses transformasi modal sosial. Keberadaan lembaga formal mengakibatkan terjadinya interaksi dan perubahan relasi seperti munculnya kerjasama terbatas, persaingan laten, ketimpangan relasi dan muncul ketidakpercayaan. Ini terjadi karena para pelaku usaha menjadi sangat oportunistik dan berpikir hanya demi keuntungan sesaat. Dengan demikian ada faktor pendukung dan penghambat dari institusi formal terhadap modal sosial dalam perkembangan klaster.
Dari lembaga non-formal, modal sosial juga dapat terbentuk dari hubungan kerja yang muncul dalam perusahaan-perusahaan yang masih terikat secara kekeluargaan, orang tua sebagai pusat/inti dan perusahaan anak-anaknya sebagai sub-kontraknya. Keberadaan pengusaha dari luar juga mendorong terbentuknya modal sosial jaringan baik jaringan internal maupun jaringan eksternal dan membangun kepercayaan melalui kesungguhan dan niat baik untuk memberi manfaat bagi diri dan keuntungan orang lain. Lembaga non formal, seperti keluarga, kekerabatan, kelompok, jaringan sosial, norma dan aturan sosial telah memperkuat keberadaan modal sosial yang telah terbentuk sehingga sangat membantu membangun kekuatan usaha dan ikatan diantara para pelaku usaha.