Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia
2012
Kesehatan Reproduksi Remaja
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Badan Pusat Statistik
Kementerian Kesehatan
MEASURE DHS ICF International
Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) merupakan bagian dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 yang dilaksanakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Pembiayaan survei disediakan oleh Pemerintah Indonesia. ICF International menyediakan bantuan teknis melalui proyek MEASURE DHS, sebuah program oleh U.S. Agency for International Development (USAID) yang menyediaan dana dan bantuan teknis dalam pelaksanaan survei kependudukan dan kesehatan di banyak negara.
Informasi tambahan tentang survei dapat diperoleh dari Direktorat Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan, BPS, Jalan Dr. Sutomo No. 6-8, Jakarta 10710, Indonesia (Telepon/fax: (021) 345-6285, e-mail: [email protected]), atau Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan, BKKBN, Jalan Permata No. 1, Halim Perdanakusumah, Jakarta 13650, Indonesia (Telepon: (021) 809-8018 ext. 661, fax: (021) 800-8557, email: [email protected]), atau Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jalan Percetakan Negara 29, Jakarta 10560, Indonesia (Telepon: (021) 426-1088, fax: (021 424-3935, email: [email protected]).
Keterangan tambahan mengenai program Demographic Health Surveys (DHS) dapat diperoleh dengan menulis surat ke: MEASURE DHS, ICF International, 11785 Beltsville Drive, Suite 300, Calverton, MD 20705, USA (Telephone 301-572-0200; Fax 301-572-0999; E-mail: [email protected]; Internet: www.measuredhs.com).
Kutipan yang dianjurkan:
Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Kesehatan (Kemekes), dan ICF International. 2013. Indonesia Demographic and Health Survey 2012. Jakarta, Indonesia: BPS, BKKBN, Kemenkes and ICF International.
DAFTAR ISI
TABEL DAN GAMBAR ... vii
KATA PENGANTAR ... xiii
SINGKATAN... xv
RINGKASAN... xix
PETA INDONESIA ... xxix
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Program kesehatah untuk remaja... 2
1.3 Tujuan Survei... 2
1.4 Organisasi Survei ... 2
1.4.1 Kuesioner Survei ... 3
1.4.2 Kegiatan Uji Coba ... 3
1.4.3 Pelatihan ... 3
1.4.4 Pengumpulan Data ... 4
1.4.5 Pengolahan Data... 4
1.5 Hasil Kunjungan ... 4
BAB 2 PROFIL REMAJA 2.1 Dimensi Sosio-demografi ... 6
2.1.2 Tempat Tinggal... 6
2.1.3 Kegiatan Remaja Saat ini ... 7
2.2 Pendidikan ... 8
2.2.1 Jenjang Pendidikan Penduduk... 8
2.2.2 AlasanTidakSekolah... 9
2.3 Dimensi Ekonomi ... 10
BAB 3 KETERPAJANAN OLEH MEDIA MASSA 3.1 Keterpajanan oleh Media Massa ... 13
3.2 Informasi Kesehatan Reproduksi Melalui Media Cetak ... 14
3.3 Informasi Kesehatan Reproduksi Dari Radio... 15
BAB 4 PENGETAHUAN TENTANG SISTEM REPRODUKSI DAN PENGALAMAN PUBERTAS
4.1 Pengetahuan dan Pengalaman Pubertas ... 19
4.1.1 Pengetahuan tentang Perubahan Fisik. ... 19
4.1.2 Sumber Pengetahuan tentang Perubahan Fisik pada Pubertas ... .20
4.1.3 Menstruasi ... 22
4.1.4 Mimpi Basah ... 23
4.2 Pengetahuan Masa Subur dan Resiko Kehamilan ... 23
4.3 Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Kawin ... 26
4.4 Pengetahuan Anemia ... 26
4.4.1 Persepsi Anemia ... 26
4.4.2 Pengetahuan Penyebab Anemia ... 27
4.4.3 Pengetahuan Cara Mengatasi Anemia... 28
4.5 Diskusi Kesehatan Reproduksi ... 28
4.5.1 Mendiskusikan Kesehatan Reproduksi dengan Seseorang ... 28
4.5.2 Sumber Informasi Kesehatan Reproduksi yang Disukai ... 29
4.5.3 Pengetahuan Pusat Kesehatan Reproduksi Remaja ... 30
4.6 Instruksi/Pelajaran Kesehatan Reproduksi. ... 31
4.6.1 Mendiskusikan Kesehatan Reproduksi dengan Seseorang ... 28
4.6.2 Pelajaran tentang Keluarga Berencana... 28
4.6.3 Pelajaran tentang Human Immunodefficiency Virus/Acquired Immunodefficinecy Syndrome (HIV/AIDS)... 28
BAB 5 KELUARGA BERENCANA 5.1 Pengetahuan Tentang Alat/Cara KB ... 37
5.2 Keinginan untuk Memakai Alat/cara KB ... 40
5.3 Kebutuhan Pelayanan KB untuk Remaja ... 42
5.4 Pendapat tentang Penggunaan Kondom ... 44
BAB 6 PERKAWINAN DAN KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK 6.1 Pendapat tentang Perkawinan ... 47
6.2 Keputusan tentang Perkawinan ... 50
6.3 Keinginan mempunyai anak ... 52
6.3.1 Umur Ideal mempunyai Anak Pertama Kali ... 52
6.3.2 Jumlah Anak Ideal ... 55
BAB 7 MEROKOK, MINUM MINUMAN BERALKOHOL DAN PENGGUNAAN OBAT TERLARANG
7.1 Merokok ... 59
7.1.1 Prevalensi Merokok... 59
7.1.2 Jumlah Rokok yang Dihisap... 61
7.1.3 Umur Mulai Merokok ... 61
7.2 Minum Minuman Beralkohol ... 62
7.2.1 Prevalensi Minum Minuman ... 62
7.2.2 Perilaku Minum... 64
7.3 Penggunaan Obat-obatan Terlarang... 65
BAB 8 PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG HIV DAN AIDS 8.1 Pengetahuan tentang AIDS dan sumber informasi ... 67
8.2 Pengetahuan tentang Permasalahan Terkait HIV/AIDS ... 68
8.3 Pengetahuan tentang Voluntary HIV Counseling and Testing (VCT) ... 69
8.4 Aspek Sosial HIV/AIDS... 70
8.5 Pengetahuan tentang Metode Pencegahan HIV... 71
8.6 Penolakan terhadap miskonsepsi dan mitos tentang HIV/AIDS ... 72
8.7 Pengetahuan tentang PMS lain dan Sumber Informasi ... 73
8.8 Pengetahuan tentang Gejala PMS... 75
8.9 Pengetahuan tentang Gejala PMS... 76
BAB 9 PACARAN DAN PENGALAMAN SEKSUAL 9.1 Pacaran ... 81
9.2 Pengalaman Seksual ... 84
9.2.1 Sikap tentang hubungan seksual sebelum kawin ... 84
9.2.2 Sikap tentang Keperawanan ... 85
9.2.3 Pengalaman Seksual ... 86
9.3 Penggunaan kondom... 89
9.4 Kehamilan yang tidak diinginkan ... 90
9.4.1 Pengalaman aborsi di antara teman ... 90
DAFTAR PUSTAKA ... 91
LAMPIRAN A TABEL-TABEL PROVINSI ... 93
LAMPIRAN C ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING... 133
LAMPIRAN D STAF SURVEI ... 173
BAB 1 PENDAHULUAN
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk... 1
Tabel 1.2 Hasil wawancara rumah tangga dan perseorangan... 4
BAB 2 PROFIL REMAJA Tabel 2.1 Karakteristik latar belakang responden ... 6
Tabel 2.2 Keberadaan remaja dalam rumah tangga... 6
Tabel 2.3 Hubungan dengan kepala rumah tangga... 7
Tabel 2.4 Kegiatan saat ini ... 8
Tabel 2.5 Jenjang pendidikan menurut karakteristik latar belakang ... 9
Tabel 2.6 Alasan tidak sekolah. ... 10
Tabel 2.7 Status kekayaan ... 11
BAB 3 KETERPAJANAN OLEH MEDIA MASSA Tabel 3.1 Keterpajanan terhadap media massa ... 14
Tabel 3.2 Terpajan informasi acara tertentu di media cetak ... 15
Tabel 3.3 Terpajan informasi acara tertentu dari radio... 16
Tabel 3.4 Terpajan informasi acara tertentu dari televisi ... 17
BAB 4 PENGETAHUAN TENTANG SISTEM REPRODUKSI DAN PENGALAMAN PUBERTAS Tabel 4.1 Pengetahuan remaja tentang perubahan fisik masa pubertas ... 20
Tabel 4.2 Sumber pengetahuan tentang perubahan fisik saat pubertas ... 21
Tabel 4.3 Umur remaja wanita pertama kali mendapat haid ... 22
Tabel 4.4 Diskusi remaja wanita tentang haid sebelum mendapat haid yang pertama kali ... 22
Tabel 4.5 Umur remaja pria pada saat pertama kali mengakami mimpi basah... 23
Tabel 4.6 Lawan diskusi remaja pria tentang mimpi basah sebelum mengalaminya untuk pertama kali ... 23
Tabel 4.7 Pengetahuan remaja tentang masa subur seorang wanita... 24
Tabel 4.8 Pengetahuan tentang risiko kehamilan ... 25
Tabel 4.9 Pemeriksaan kesehatan remaja sebelum menikah ... 26
Tabel 4.10 Pengetahuan remaja tentang anemia ... 27
Tabel 4.12 Pengetahuan remaja tentang cara mengatasi anemia... 28
Tabel 4.13 Diskusi tentang kesehatan reproduksi ... 29
Tabel 4.14 Sumber Informasi tentang Kesehatan Reproduksi yang Disukai. ... 30
Tabel 4.15 Pengetahuan sumber informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi .... 31
Tabel 4.16 Pelajaran tentang sistem kesehatan reproduksi manusia ... 32\
ltabel 4.17 Pelajaran tentang Keluarga Berencana ... 33
Tabel 4.18 Pelajaran tentang HIV/AIDS ... 34
Tabel 4.19 Pelajaran tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) ... 35
BAB 5 KELUARGA BERENCANA Tabel 5.1 Pengetahuan tentang alat/cara KB ... 38
Tabel 5.2 Keinginan untuk memakai alat/cara KB di masa yang akan datang ... 41
Tabel 5.3 Pendapat terhadap penyediaan pelayanan KB untuk remaja... 43
Tabel 5.4 Pendapat terhadap penggunaan kondom ... 45
Gambar 5.1 Pengetahuan Remaja tentang suatu alat/cara KB Modern... 39
Gambar 5.2.1 Tren Pengetahuan tentang alat/cara KB Modern pada Remaja Wanita... 40
Gambar 5.3.1 Tren Pendapat tentang penyediaan pelayanan KB pada Remaja Wanita ... 43
Gambar 5.3.2 Tren Pendapat tentang penyediaan pelayanan KB pada Remaja Pria ... 44
BAB 6 PERKAWINAN DAN KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK Tabel 6.1.1 Umur ideal kawin pertama untuk wanita ... 48
Tabel 6.1.2 Umur ideal kawin pertama untuk pria ... 49
Tabel 6.2 Keputusan terhadap siapa yang akan menikah ... 51
Tabel 6.3.1 Umur Ideal mempunyai anak pertama untuk wanita;... 53
Tabel 6.3.2 Umur Ideal mempunyai anak pertama untuk pria ... 54
Tabel 6.4 Jumlah anak ideal ... 56
Tabel 6.5 Keputusan atas jumlah anak ... 57
Gambar 6.1 Tren median umur ideal kawin menurut remaja wanita dan pria ... 50
BAB 7 MEROKOK, MINUM MINUMAN BERALKOHOL DAN PENGGUNAAN OBAT TERLARANG Tabel 7.1 Merokok... 60
Tabel 7.2 Jumlah rokok yang dihisap ... 61
Tabel 7.3 Minum minuman beralkohol ... 63
Tabel 7.4 Perilaku minum ... 64
Gambar 7.1 Tren pertama kali merokok sebelum umur 15 tahun diantara remaja
umur 15-19 tahun yang merokok... 62
Gambar 7.1 Tren pertama kali minum alkohol sebelum umur 15 tahun diantara remaja umur 15-19 tahun yang merokok ... 62
BAB 8 PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG HIV DAN AIDS Tabel 8.1 Pengetahuan tentang HIV/AIDS ... 67
Tabel 8.2 Sumber informasi tentang HIV/AIDS ... 68
Tabel 8.3 Pengetahuan tentang Permasalahan Terkait HIV/AIDS ... 69
Tabel 8.4 Pengetahuan tentang VCT dan fasilitas VCT ... 70
Tabel 8.5 Aspek Sosial HIV/AIDS ... 70
Tabel 8.6 Pengetahuan tentang metode pencegahan HIV/AIDS ... 72
Tabel 8.7 Pengetahuan Komprehensif tentang HIV/AIDS... 73
Tabel 8.8 Pengetahuan tentang Penyakit Menular Seksual ... 74
Tabel 8.9 Sumber informasi PMS ... 75
Tabel 8.10 Pengetahuan tentang gejala PMS ... 76
Gambar 8.1.1 Wanita belum kawin 15-24 tahun yang mendengar PMS menurut sumber informasi ... 77
Gambar 8.1.2 Pria belum kawin 15-24 tahun yang mendengar PMS menurut sumber informasi ... 77
Gambar 8.2.1 Wanita belum kawin 15-24 tahun yang mendengar HIV/AIDS menurut respon atas miskonsepsi dan mitos mengenai HIV/AIDS ... 78
Gambar 8.2.2 Pria belum kawin 15-24 tahun yang mendengar PMS menurut sumber informasi... 78
Gambar 8.3.1 Wanita belum kawin 15-24 tahun yang mendengar HIV/AIDS menurut menurut cara pencegahan HIV/AIDS... 79
Gambar 8.3.2 Pria belum kawin 15-24 tahun yang mendengar HIV/AIDS menurut menurut cara pencegahan HIV/AIDS... 79
Gambar 8.4.1 Wanita belum kawin 15-24 tahun yang mendengar HIV/AIDS menurut menurut cara pencegahan HIV/AIDS... 79
Gambar 8.4.2 Pria belum kawin 15-24 tahun yang mendengar HIV/AIDS menurut menurut cara pencegahan HIV/AIDS... 79
BAB 9 PACARAN DAN PENGALAMAN SEKSUAL Tabel 9.1 Usia saat pertama kali berpacaran ... 82
Tabel 9.2 Perilaku berpacaran ... 83
Tabel 93 Sikap terhadap hubungan seksual sebelum menikah ... 84
Tabel 9.4 Sikap Pria Belum Kawin mengenai Hubungan Seksual sebelum menikah... 85
Tabel 9.6 Pengalaman Seksual ... 87
Tabel 9.7 Alasan untuk berhubungan seksual pertama kali ... 88
Tabel 9.8 Umur ketika pertama kali berhubungan seksual ... 88
Tabel 9.9 Penggunaan kondom ... 89
Gambar 9.1 Wanita dan pria belum kawin 15-24 tahun yang tidak pernah berpacaran ... 83
Gambar 9.2 Wanita dan pria belum kawin 15-24 tahun pernah berhubungan seksual pranikah ... 87
Gambar 9.3 Alasan wanita dan pria belum kawin 15-24 tahun pernah berhubungan seksual pranikah ... 88
LAMPIRAN A TABEL-TABEL MENURUT PROVINSI Tabel A-3.1 Pajanan Media Massa: Wanita... 93
Tabel A-3.2 Pajanan media massa:pria. ... 94
Tabel A-3.1 Pesan dari media cetak ... 95
Tabel A-3.2 Pesan dari media cetak ... 96
Tabel A-3.3.1 Pesan dari radio ... 97
Tabel A-3.3.2 Pesan dari radio ... 98
Tabel A-3.4.1 Pesan dari televisi ... 99
Tabel A-3.4.2 Pesan dari Televisi ... 100
Tabel A-3.4.1 Pengetahuan tentang masa subur wanita ... 101
Tabel A-3.4.2 Pengetahuan tentang risiko kehamilan ... 102
Tabel A-3.4.3 Pemahaman tentang anemia ... 103
Tabel A-4.4.1 Diskusi tentang kesehatan reproduksi: Wanita. ... 104
Tabel A-4.4.2 Diskusi tentang kesehatan reproduksi: Pria... 105
Tabel A-4.5.1 Sumber pilihan untuk mengetahui informasi lebih banyak tentang kesehatan reproduksi: Wanita ... 106
Tabel A-4.5.2 Sumber pilihan untuk mengetahui informasi lebih banyak tentang kesehatan reproduksi: Pria ... 107
Tabel A-4.6.1 Pengetahuan tentang sumber informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja: Wanita ... 108
Tabel A-4.6.2 Pengetahuan tentang sumber informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja: Pria ... 109
Tabel A-5.1 Pengetahuan tentang metode kontrasepsi ... 110
Tabel A-5.2.1 Rencana untuk menggunakan kontrasepsi di masa mendatang ... 111
Tabel A-5.2.2 Rencana untuk menggunakan kontrasepsi di masa mendatang ... 112
Tabel A-5.3.1 Sikap terhadap penyedia layanan keluarga berencana bagi remaja yang belum menikah ... 113
Tabel A-5.3.2 Sikap terhadap penyedia layanan keluarga berencana bagi remaja yang belum menikah ... 114
Tabel A-6.1.1 Umur ideal kawin pertama untuk wanita : Wanita ... 115
Tabel A-6.1.3 Umur ideal kawin pertama untuk pria : Wanita ... 117
Tabel A-6.1.4 Umur ideal pria menikah pertama: Pria ... 118
Tabel A-6.3.1 Umur ideal wanita melahirkan pertama: wanita... 119
Tabel A-6.3.2 Umur ideal wanita pada kelahiran pertama: Pria ... 120
Tabel A-6.3.3 Umur ideal pria pada kelahiran pertama: Wanita ... 121
Tabel A-6.3.4 Umur ideal pria pada kelahiran pertama: Pria ... 122
Tabel A-6.5.1 Jumlah anak ideal: wanita... 123
Tabel A-6.5.2 Jumlah anak ideakPria ... 124
Tabel A-8.1 Pengetahuan tentang HIV/AIDS ... 125
Tabel A-8.2 Pengetahuan tentang penyakit menular lain ... 126
LAMPIRAN B KERANGKA SAMPEL Tabel B.1 Alokasi sampel menurut provinsi ... 128
Tabel B.1.2 Target responden menurut provinsi ... 129
Tabel B.2.1 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga... 130
Tabel B.2.2 Rancangan sampel: hasil wawancara responden: wanita ... 131
Tabel B.2.3 Rancangan sampel: hasil wawancara responden: wanita ... 132
LAMPIRAN C ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING Tabel C.I Daftar variabel terpilih untuk kesalahan sampling dari sampel wanita pernah kawin, Indonesia 2012 ... 136
Tabel C.2 Kesalahan sampling: Nasional, Indonesia 2012 ... 137
Tabel C.3 Kesalahan sampling: Perkotaan, Indonesia 2012 ... 138
Tabel C.4 Kesalahan sampling: Perdesaan, Indonesia 2012 ... 139
Tabel C.5 Kesalahan sampling: Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia 2012 ... 140
Tabel C.6 Kesalahan sampling: Sumatera Utara, Indonesia 2012 ... 141
Tabel C.7 Kesalahan sampling: Sumatera Barat, Indonesia 2012 ... 142
Tabel C.8 Kesalahan sampling: Riau, Indonesia 2012 ... 143
Tabel C.9 Kesalahan sampling: Jambi, Indonesia 2012... 144
Tabel C.10 Kesalahan sampling: Sumatera Selatan, Indonesia 2012 ... 145
Tabel C.11 Kesalahan sampling: Bengkulu, Indonesia 2012 ... 146
Tabel C.12 Kesalahan sampling: Lampung, Indonesia 2012... 147
Tabel C.13 Kesalahan sampling: Bangka Belitung, Indonesia 2012 ... 149
Tabel C.14 Kesalahan sampling: Kepulauan Riau, Indonesia 2012 ... 149
Tabel C.15 Kesalahan sampling: DKI Jakarta, Indonesia 2012 ... 150
Tabel C.16 Kesalahan sampling: Jawa Barat, Indonesia 2012... 151
Tabel G.17 Kesalahan sampling: Jawa Tengah, Indonesia 2012... 152
Tabel C.18 Kesalahan sampling: DI Yogyakarta, Indonesia 2012... 153
Tabel C.19 Kesalahan sampling: Jawa Timur, Indonesia 2012 ... 154
Tabel C.21 Kesalahan sampling: Bali, Indonesia 2012 ... 156
Tabel C.22 Kesalahan sampling: Nusa Tenggara Barat, Indonesia 2012... 157
Tabel C.23 Kesalahan sampling: Nusa Tenggara Timur, Indonesia 2012 ... 158
Tabel C.24 Kesalahan sampling: Kalimantan Barat Indonesia 2012 ... 159
Tabel C.25 Kesalahan sampling: Kalimantan Tengah, Indonesia 2012 ... 160
Tabel C.26 Kesalahan sampling: Kalimantan Selatan, Indonesia 2012... 161
Tabel C.27 Kesalahan sampling: Kalimantan Timur, Indonesia 2012 ... 162
Tabel C.28 Kesalahan sampling: Sulawesi Utara, Indonesia 2012 ... 163
Tabel C.29 Kesalahan sampling: Sulawesi Tengah, Indonesia 2012 ... 164
Tabel C.30 Kesalahan sampling: Sulawesi Selatan, Indonesia 2012 ... 165
Tabel C.31 Kesalahan sampling: Sulawesi Tenggara, Indonesia 2012 ... 166
Tabel C.32 Kesalahan sampling: Gorontalo, Indonesia 2012 ... 167
Tabel C.33 Kesalahan sampling: Sulawesi Barat, Indonesia 2012 ... 168
Tabel C.34 Kesalahan sampling: Maluku, Indonesia 2012 ... 169
Tabel C.35 Kesalahan sampling: Maluku Utara, Indonesia 2012... 170
Tabel C.36 Kesalahan sampling: Papua, Indonesia 2012 ... 171
KATA PENGANTAR
Badan Pusat Statistik
Publikasi ini menyajikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang merupakan bagian dari kegiatan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Publikasi ini merupakan laporan ketiga yang mengamati masalah kesehatan reproduksi rcmaja di Indonesia. Publikasi sebelumnya diterbitkan pada tahun 2004 dan 2008. SDKI 2012 dirancang bersama-sama oleh Badan Pusat Statistik (DPS), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Laporan Kesehatan Reproduksi Remaja menyediakan data tentang remaja pria dan wanita yang belum kawin berumur 15-24 tahun. Responden remaja pria tersebut ditanyakan dengan menggunakan daftar pertanyaan khusus, sedangkan untuk remaja wanitanya ditanyakan dengan menggunakan daftar pertanyaan seperti yang diajukan untuk semua wanita 15-49 tahun.
Tujuan utama kegiatan KRR adalah menyajikan data tentang pengetahuan, sikap, perilaku, dan praktek remaja terhadap sistem reproduksi manusia, penggunaan rokok dan obat terlarang, konsumsi alkohol, hubungan seksual, HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lain untuk pembuat kebijakan dan pengelola program.
Kegiatan SDKI 2012 dibiayai oleh Pemerintah Indonesia, sementara ICF International-MEASURE DHS, dengan dana dari USAID menyediakan bantuan teknis dalam pengolahan data dan penyusunan laporan SDKI 2012.
Rangkaian kegiatan SDKI 2012 diawali dengan uji coba yang dilaksanakan pada pertengahan Juli sampai dengan pertengahan Agustus 2011 dengan tujuan untuk raenguji kuesioner. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan petugas lapangan pada tanggal 22 April sampai dengan 5 Mei 2012, sementara kegiatan lapangannya dimulai dari 7 Mei sampai dengan 31 Juli 2012. Pengolahan data dilaksanakan pada Bulan Juni sampai dengan Oktober 2012. Laporan Pendahuluan diterbitkan pada Bulan November 2012. Tabulasi untuk laporan akhir dilakukan pada Bulan Desember 2012 sampai dengan Maret 2013, dan laporan akhir dilaksanakan pada Bulan Maret sampai dengan Juli 2013.
Dengan terbitnya publikasi ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh Tim Penulis dari BPS, BKKBN dan Kemenkes serta kepada ICF International atas asistensinya dalam penulisan laporan ini.
Saya berharap publikasi ini dapat digunakan sebagai bahan untuk memonitor dan mengevaluasi program nasional dibidang kesehatan, keluarga berencana, dan bidang lainnya, serta dapat memenuhi kebutuhan para peneliti dalam mengeksplorasi data dan untuk keperluan analisa lanjutan.
Jakarta, September 2013
Dr. Suryamin
KATA PENGANTAR
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasioanal
Program kesehatan reproduksi remaja (KRR) merupakan bagian integral dari program kesehatan dan keluarga berencana di Indonesia. Fokus utama dari program KRR adalah meningkatkan pengetahuan seluruh pihak terkait dan para remaja itu sendiri mengenai pentingnya kesehatan reproduksi bagi kehidupan remaja di masa depan. Secara khusus, program KRR ditujukan untuk mengatasi masalah terkait pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan, konsumsi tembakau dan alkohol, serta HIV-AIDS.
Pemerintah Indonesia telah mengadopsi rekomendasi Global Youth Forum yang dilaksanakan di Bali pada tahun 2012. Forum tersebut menghasilkan rekomendasi yang berisi visi generasi muda di seluruh dunia untuk masa depan mereka, mencakup kesehatan, pendidikan, pekerjaan, keluarga, hak generasi muda, partisipasi, dan kesejahteraan. Rekomendasi final dari forum ini akan menjadi bagian dari laporan Sekretaris Jenderal PBB yang disampaikan dalam sidang Majelis Umum pada tahun 2014 serta menjadi masukan dalam diskusi pembangunan di PBB.
Komponen KRR pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menyediakan informasi penting mengenai isu KRR di Indonesia bagi pembuat kebijakan dan pengelola program. Publikasi komponen KRR dari SDKI 2012 ini tepat waktu mengingat pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional periode 2015-2019.
Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada BPS, Kementerian Kesehatan, Bappenas, Lembaga Demografi-FEUI, dan ICF International untuk kerjasamanya dalam penyusunan laporan khusus KRR pada SDKI 2012 ini. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada USAID yang menyediakan fasilitasi teknis melalui ICF International.
Jakarta, September 2013
Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, Sp. GK
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
KATA PENGANTAR
Kementerian Kesehatan
Jumlah usia muda 15-24 tahun diperkirakan sekitar 17 persen dari total penduduk Indonesia. Ketika mereka membangun kehidupan mereka, kelak akan berperan penting dalam masa depan Indonesia, mulai dari membangun rumah tangga, menjadi pemimpin dalam pengambilan keputusan, dan menjadi tulang punggung pereknomian nasional Indonesia. Status kesehatan usia remaja sangatlah penting, terutama kesehatan reproduksi mereka, selama tahun-tahun remaja dan dewasa muda. Untuk merancang program yang efektif mengantarkan mereka untuk berhasil ke masa dewasa, maka sangat penting memahami apa yang menjadi pilihan mereka, hak dan tanggung jawab sehubungan dengan kesehatan reproduksi.
Laporan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) tahun 2012 merupakan laporan khusus dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012. Laporan ini menyediakan informasi remaja – karakteristik latarbelakang, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana; pengalaman penggunaan rokok, obat terlarang, dan konsumsi alkohol; hubungan seksual; dan pengetahuan HIV – AIDS, serta penyakit menular lainnya.
Laporan KRR menyajikan laporan yang komprehensif dan juga menyoroti temuan utama untuk setiap pokok bahasan. Saya mengharapkan informasi ini dapat digunakan sebagai panduan untuk para pembuat kebijakan dan program dalam mengembangkan dan mengevaluasi strategi serta program pelayanan kesehatan remaja di seluruh Indonesia. Laporan KRR ini sangat bermanfaat bagi Kementerian Kesehatan. Hasil dari survei KRR bersama dengan hasil survei lainnya telah digunakan dan terus menjadi rujukan penting mendukung perencanaan berbasis bukti untuk memberikan pelayanan yang efektif pada kelompok remaja dan dewasa muda.
Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim yang telah bekerja keras menyelesaikan laporan KRR tahun 2012. Khususnya dari BPS, BKKBN, BAPPENAS, UI, USAID, dan ICF International atas kerja samanya untuk menyelesaikan laporan ini.
Nafsiah Mboi, MD.Ped, MPH Menteri Kesehatan RI
SINGKATAN
BKKBN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
BPS Badan Pusat Statistik
IDHS Indonesia Demographic and Health Survey
PKBI Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
Susenas Survei Sosial Ekonomi Nasional, survei tingkat nasional yang dilaksanakan oleh BPS secara tahunan
UNFPA United Nations Population Fund
UNICEF United Nations Children's Fund
USAID United States Agency for International Development
RINGKASAN
KARAKTERISTIK RESPONDEN
Pada Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) sebagai bagian dari kegiatan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, dari sejumlah 19.399 responden dewasa muda yang diwawancarai: 10.980 adalah pria dan 8.419 adalah wanita. Enam puluh enam persen dari remaja berumur 15-19 tahun dan sisanya (34 persen) berumur 20-24 tahun. Sampel responden pria lebih besar daripada wanita; 57 persen dibandingkan dengan 43 persen.
Untuk remaja wanita maupun pria, responden lebih banyak ditemukan di daerah perkotaan (61 persen wanita dan 56 persen pria).
KEGIATAN SAAT INI
Hampir separuh remaja wanita dan tiga dari sepuluh remaja pria hanya bersekolah saja (masing-masing 46 dan 33 persen). Seperti yang diharapkan, remaja yang usianya muda lebih banyak yang bersekolah, sedangkan remaja yang lebih tua lebih banyak yang bekerja. Remaja di perkotaan lebih banyak yang bersekolah saja dibandingkan remaja di perdesaan, sebaliknya remaja di perdesaan lebih banyak yang bekerja saja dibandingkan remaja di perkotaan.
Remaja yang berpendidikan tinggi lebih banyak yang bersekolah saja, terutama remaja dengan pendidikan tidak tamat SMTA. Pola ini sama antara wanita dan pria (masing-masing 64 dan 47 persen). Remaja wanita dan pria yang berpendidikan rendah lebih banyak yang bekerja saja.
Remaja wanita lebih banyak yang berpendidikan SMTA keatas dibandingkan remaja pria (masing-masing 97 dan 71 persen). Sebelas persen wanita dan 13 persen pria sedang bersekolah sekaligus bekerja pada saat yang bersamaan.
KETERPAJANAN PADA MEDIA MASSA
Televisi merupakan media yang paling populer di kalangan remaja; 88 persen wanita dan 85 persen pria dilaporkan menonton televisi setidaknya sekali seminggu. Media cetak merupakan media massa yang kurang populer (20 persen wanita dan 19 persen pria).
Delapan persen wanita dan 9 persen pria terpajan oleh surat kabar, televisi, dan radio secara teratur. Delapan persen wanita dan 11 persen pria tidak terpajan oleh salah satu satu dari ketiga media tersebut. Secara keseluruhan, tidak ada perbedaan dalam keterpajanan oleh media massa antara remaja wanita dan pria.
Secara umum, responden yang lebih tua, mereka yang tinggal di daerah perkotaan, dan remaja dengan pendidikan menengah ke atas lebih besar kemungkinannya untuk terpajan oleh media massa.
PENDIDIKAN
Secara keseluruhan, 43 persen remaja wanita dan 35 persen remaja pria telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMTA. Wanita mempunyai pendidikan yang lebih baik d i b a n d i n g k a n p r i a , 9 2 p e r s e n w a n i t a berpendidikan SMTA keatas, dibandingkan dengan 86 persen pria. Untuk remaja wanita maupun pria, responden di perkotaan cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada responden di perdesaan.
Tiga puluh tujuh persen wanita dan 43 persen pria mengatakan bahwa mereka berhenti sekolah karena mereka tidak mampu membayar uang sekolah dan 24 persen wanita dan 8 persen pria mengatakan bahwa mereka sudah merasa mempunyai pendidikan yang cukup. Persentase responden yang mengatakan bahwa mereka berhenti sekolah karena perlu cari uang kecil
sekali (17 persen wanita dan 23 persen pria). Beberapa responden mengatakan bahwa mereka berhenti sekolah karena tidak suka sekolah atau tidak ingin melanjutkan pendidikan (4 persen wanita dan 10 persen pria).
Untuk remaja wanita maupun pria, responden yang lebih tua dan responden yang tinggal di daerah perkotaan lebih banyak yang menyatakan perlu mencari uang sebagai alasan berhenti sekolah dibandingkan responden lainnya.
PENGETAHUAN PERUBAHAN FISIK
Secara umum persentase pengetahuan tentang perubahan fisik remaja wanita lebih tinggi dibanding kan dengan remaja pria. Hanya satu dari sepuluh remaja pria dan wanita yang tidak dapat menyebutkan perubahan fisik pada seorang anak pria dan wanita pada saat pubertas. Tanda-tanda perubahan fisik pada pria ketika menjadi remaja yang paling banyak disebut oleh remaja wanita dan pria adalah perubahan suara, tumbuh rambut di bagian tubuh, tumbuh jakun dan mimpi basah. Tanda-tanda perubahan fisik pada wanita ketika menjadi remaja yang paling banyak disebut oleh remaja wanita dan pria adalah haid, pertumbuhan buah dada, dan pertumbuhan rambut di bagian tubuh.
SUMBER PENGETAHUAN PERUBAHAN FISIK
Sumber pengetahuan tentang perubahan fisik paling banyak disebutkan remaja wanita adalah guru (61 persen) dan teman (29 persen). Sedangkann remaja pria paling banyak menyebut teman (48 persen) dan Guru (46 persen) sebagai sumber pengetahuan perubahan fisik. Sumber pengetahuan tentang perubahan fisik dari orang tua (ibu dan ayah pada remaja wanita jauh lebih tinggi (20 persen) dibandingkan dengan remaja pria (6 persen). Peran ibu sebagai sumber pengetahuan lebih menonjol pada remaja wanita (18 persen) dibandingkan remaja pria (4 persen). Selain sumber pengetahuan tentang perubahan
fisik yang diperoleh dari hubungan personal, sumber pengetahuan media masa yang dimanfaatkan adalah buku/majalah/surat kabar sejumlah 25 persen pada remaja wanita dan 14 persen pada remaja pria.
HAID
Dari semua responden remaja wanita umur 15-24 tahun sangat sedikit yang belum pernah mendapatkan haid (0,3 persen). Dua puluh Sembilan persen remaja wanita mendapat haid pertama kali saat mereka berumur 13 tahun, dan 24 persen remaja wanita sudah mendapat haid pertama pada umur 14 tahun.
Hampir separuh remaja wanita membahas mengenai haid dengan teman sebelum mereka mendapatkan haid pertama. Ibu (41 persen), saudara kandung (13 persen) dan guru (12 persen) juga menjadi sumber tempat membahas haid sebelum responden mendapat haid pertama kali.
MIMPI BASAH
Pertama kali remaja pria sudah mengalami mimpi basah sejak umur 10 tahun. Persentase terbanyak remaja pria mengalami mimpi basah pada umur 14 tahun (25 persen). Sebagian kecil (7 persen) responden remaja pria menyebut tidak pernah mengalami mimpi basah. Remaja pria umur muda mengalami mimpi basah pertama kali lebih awal dibandingkan dengan remaja pria. Sebagai contoh 25 persen remaja telah mengalami mimpi basah pertama kali umur 14 tahun, dibandingkan dengan 10 persen untuk remaja pria umur 17 tahun atau lebih.
Remaja pria menyatakan bahwa mereka pernah membahas tentang mimpi basah dengan seseorang sebelum mengalami mimpi basah pertama kali. Separuh remaja pria menyebut tidak dengan seorangpun membicarakan pengalaman mimpi basah pertama kalinya. Sejumlah 48 persen mendiskusikannya dengan teman-temannya, dan 18 persen mendiskusikan dengan guru.
PENGETAHUAN MASA SUBUR DAN RESIKO KEHAMILAN
Sebagian besar remaja wanita dan pria tidak mengetahui dengan benar kapan terjadi masa subur seorang wanita. Pengetahuan tentang masa subur yang benar, yakni pada pertengaham masa subur, disebut dengan benar oleh 31 remaja wanita dan 18 persen remaja pria.
Persentase remaja wanita dan pria yang mengetahui bahwa seorang wanita dapat hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seksual hampir sama (masing-masing 52 persen dan 51 persen).
PEMERIKSAAN KESEHATAN SEBELUM MENIKAH
Sebagian besar remaja menyata kan setuju dilakukan pemeriksa an kesehatan sebelum menikah. Pemeriksa an fisik merupakan jenis pemeriksaan kesehatan yang paling banyak disebut kan oleh remaja wanita (66 persen) dan remaja pria (65 persen). Pemeriksaan darah, air seni dan lainnya kurang dianggap perlu oleh remaja wanita dan pria.
Sebagian besar remaja (69 wanita dan 56 persen pria) belum mengetahui dengan benar arti anemia (Hb rendah, kekurangan zat besi, dan kekurangan sel darah merah). Dua puluh lima persen remaja wanita dan 11 persen remaja pria yang mengetahui dengan benar arti anemia.
PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA
Diantara remaja yang mengeta hui dengan benar arti anemia, persen tase terbanyak menyebutkan penyebab anemia adalah: kurang mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan; kurang mengkonsumsi daging, ikan dan hati; dan malnutrisi. Pengetahuan remaja wanita lebih tinggi dibandingkan remaja pria tentang cara mengobati anemia. Untuk mengobati anemia jawab an yang banyak disebutkan remaja adalah dengan minum pil untuk menambah darah,
meningkatkan konsumsi sayur-sayuran yang kaya akan zat besi, minum tablet besi, dan meningkatkan konsumsi daging, ikan dan hati.
TEMPAT PELAYANAN BAGI REMAJA UNTUK BERDISKUSI TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI
S e b a g i a n b e s a r r e m a j a w a n i t a membicarakan kesehatan reproduksi dengan teman (60 persen), ibu (44 persen), dan guru (43 persen). Pada remaja pria membicara kan masalah kesehatan reproduksi dengan teman (59 persen) dan guru (39 persen). Persentase remaja yang membicarakan masalah kesehatan reproduksinya dicirikan dengan mereka yang berdomi sili di perkotaan dan berpendi dikan lebih tinggi. Peran petugas kesehatan dan pemuka agama masih rendah (masing-masing 17 persen dan 11 persen).
KELUARGA BERENCANA
Program pemerintah untuk remaja difokuskan pada penyebarluasan informasi melalui berbagai media massa dan sistem pendidikan formal maupun informal dengan tujuan untuk menunda perkawinan dini di kalangan remaja dan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang keluarga berencana.
PENGETAHUAN TENTANG ALAT/CARA KB
Sembilan dari 10 remaja wanita mengetahui suatu alat/cara KB modern. Alat/cara KB modern yang paling banyak dikenal oleh remaja wanita adalah pil, suntikan, dan kondom. Alat/cara KB modern yang bersifat jangka panjang seperti Susuk KB/Impant, IUD/Spiral, Sterilisasi Wanita (MOW), Sterilisasi Pria (MOP) kurang terkenal di kalangan remaja wanita dan pria. Pola pengetahuan remaja wanita tentang alat/cara KB modern selama kurun waktu dua survey tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna.
Distribusi remaja yang berkeinginan menggunakan suatu alat/cara KB di masa mendatang secara umum cukup tinggi (81 persen pada wanita dan 68 persen pada pria). Remaja yang berumur lebih tua, tinggal di perkotaan, dan berpendidikan lebih tinggi cende rung lebih menginginkan tersedianya suatu pelayanan KB dibandingkan dengan remaja yang lebih muda.
KEINGINAN UNTUK MEMAKAI ALAT/CARA KB
Sejumlah 77 persenwanita dan 64 persen pria yang menyatakan ingin memakai suatu alat/cara KB pada masa masa yang akan datang. Remaja pria cenderung menyatakan tidak ingin memakai alat/cara KB pada masa mendatang dibandingkan dengan remaja wanita (15 persen berbanding 4 persen). Di antara para remaja tersebut, 14 persen wanita dan 15 persen pria m e n y a t a k a n t i d a k y a k i n a p a k a h a k a n menggunakan alat/cara KB atau tidak pada masa yang akan datang.
D i s t r i b u s i r e m a j a y a n g i n g i n menggunakan cara/alat KB pada masa mendatang meningkat dalam lima tahun terakhir, terutama pada remaja pria. Pada tahun 2007, ada 37% pria yang menyatakan ingin menggunakan alat/cara KB pada masa mendatang, sedangkan pada tahun 2012, 6 dari 10 pria menyatakan ingin menggunakan alat/cara KB pada masa mendatang. Keinginan untuk memakai alat/cara KB remaja wanita pada masa mendatang sedikit meningkat dari 72% pada tahun 2007 menjadi 77% pada tahun 2012
KEBUTUHAN PELAYANAN ALAT/CARA KB
Sebagian besar (80 persen) remaja wanita berpendapat bahwa suatu pelayanan KB harus tersedia untuk remaja, sementara itu angka ini jauh lebih rendah pada pria (58 persen). Sebagian besar remaja berpendapat bahwa pelayanan KB yang paling diinginkan adalah penyuluhan KB (76 persen wanita dan 54 persen pria). Konseling tentang KB dibutuhkan oleh 65 persen wanita dan 51 persen pria. Pelayanan KB yang paling sedikit dibutuhkan oleh wanita maupun pria adalah
penyediaan alat/cara KB, masing-masing 36 persen dan 34 persen). Remaja yang tinggal di perkotaan dan berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih menginginkan adanya pelayanan KB bagi remaja
Jika dibandingkan dengan temuan pada tahun 2007, terlihat adanya penurunan persentase remaja yang menginginkan pelayanan KB. Secara k e s e l u r u h a n , p e r s e n t a s e w a n i t a y a n g menginginkan adanya pelayanan KB bagi remaja turun dari 90 persen pada tahun 2007 menjadi 80 persen pada tahun 2012. Begitu juga di antara remaja pria yang menyetujui adanya pelayanan KB untuk remaja turun dari dari 85 persen tahun 2007 menjadi 58 persen tahun 2012.
PENDAPAT TENTANG PENGGUNAAN KONDOM
Pria cenderung lebih setuju dengan pernyataan bahwa penggunaan kondom dapat mencegah kehamilan (74 persen pria dan 64 persen wanita) dan dapat mencegah HIV/AIDS (66 persen pria dan 50 persen wanita) disbanding kan dengan wanita.
Dalam lima tahun terakhir terjadi penurunan pengetahuan remaja tentang kegunaan kondom yang dapat mencegah kehamilan dan melindungi kesehatan dari HIV/AIDS dan IMS. Dibandingkan dengan SDKI 2007, maka pada SDKI KRR-2012 diketahui persenta se pendapat remaja pria tentang penggunaan kondom yang dapat mencegah kehamilan, kondom dapat mencegah HIV/AIDS dan IMS terjadi penurunan.
Remaja dari kelompok umur dewasa (20-24 tahun), berdomisili di perkotaan, dan pada pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih menyetujui penggunaan kondom dapat mencegah kehamilan, dapat mencegah HIV/AIDS dan IMS.
PERILAKU SEKSUAL
Secara umum, remaja pria cenderung lebih bisa menyetujui hubungan seksual sebelum menikah dibandingkan wanita. Hanya 1% remaja wanita menyetujui adanya hubungan seksual sebelum kawin bila dibandingkan dengan 4% pria.
Persentase remaja pria bisa menerima hubungan seksual sebelum menikah lebih tinggi (7%) dibandingkan dengan wanita (2%). Alasan utama remaja pria bisa menerima hubungan seksual pranikah karena menyukai hubungan seksual, saling mencintai dan merencanakan menikah. Remaja pria dengan pendidikan lebih rendah cenderung dapat menerima hubungan seksual sebelum kawin dibandingkan dengan yang berpendidikan lebih tinggi.
Remaja wanita yang tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya akan cenderung empat kali lebih banyak mempunyai pengalaman seksual daripada wanita yang belum kawin dan berpendidikan lebih tinggi.
Delapan belas persen remaja wanita dan 25 persen remaja pria menyatakan bahwa mereka mengguna kan kondom ketika berhubungan seksual untuk pertama kalinya dan 27 persen remaja pria menyatakan bahwa mereka menggunakan kondom pada saat terakhir kali berhubungan seksual.
PACARAN
Dua puluh delapan persen dari remaja pria dan 27 persen remaja wanita menyatakan bahwa mereka memulai berpacaran sebelum berumur 15 tahun, sedangkan menurut SKRRI tahun 2007 hanya 19 persen remaja pria dan 24 persen remaja wanita. Peningkatan ini menegaskan temuan sebelumnya bahwa makin banyak remaja saat ini telah mulai berpacaran. Ada perbedaan nyata pada umur mulai berpacaran pada remaja berumur 12 – 14 tahun pada SDKI 2012 KRR dibandingkan dengan SKRRI tahun 2007. Pada tahun 2012, sejumlah 25 persen remaja pria dan 26 persen remaja wanita memulai berpacaran pada berumur 12 sampai dengan 14 tahun, sementara pada tahun 2007, 15 persenremaja pria dan 20 persen remaja wanita memulai berpacaran pada umur yang sama. Hal ini menegaskan bahwa remaja mulai berpacaran pada umur yang lebih muda.
Aktivitas remaja dalam berpacaran menunjukkan berpegangan tangan adalah hal yang paling banyak mereka lakukan (72 persen remaja wanita dan 80 persen remaja pria). Remaja pria cenderung lebih banyak melaporkan perilaku berciuman (48 persen) dibandingkan dengan
r e m a j a w a n i t a ( 3 0 p e r s e n ) d a n meraba/merangsang bagian tubuh yang sensitif (sejumlah 30 persen remaja pria dan 6 persen remaja wanita).
KEPERAWANAN
Keperawanan masih dinilai tinggi oleh remaja wanita dan pria. Remaja wanita lebih berpersepsi pentingnya bagi seorang wanita untuk mempertahankan keperawanannya dibandingkan remaja pria (masing-masing 77 persen dan 66 persen). Persepsi ini lebih rendah bila dibandingkan dengan SKRRI tahun 2007 (masing-masing 99 persen dan 98 persen). Remaja SDKI KRR-2012 lebih dapat menerima wanita yang sudah tidak perawan lagi bila dibandingkan dengan remaja SKRRI 2007. Remaja wanita dan pria yang berpendidikan lebih t i n g g i c e n d e r u n g m e n y a t a k a n b a h w a keperawanan seorang wanita hendaklah dipertahankan.
PERKAWINAN
Remaja berpendapat bahwa pria idealnya menikah lebih tua daripada wanita. Menurut pendapat remaja wanita, median umur yang ideal pada saat perkawinan adalah 23,6 tahun untuk wanita dan 25,9 tahun untuk pria, sedangkan menurut remaja pria, median umur menikah adalah 22,6 tahun untuk wanita dan 25,6 tahun untuk pria.
Hampir tidak ada perubahan di median umur ideal ideal kawin bagi seorang pria untuk menikah selama lima tahun terakhir. Bagi remaja wanita median umur ideal kawin bagi seorang wanita untuk menikah sedikit mening kat dari 23,1 tahun pada tahun 2007 menjadi 23,6 tahun pada tahun 2012. Menurut pendapat remaja pria, median umur kawin bagi wanita terlihat jelas meningkat dari 21,3 tahun di 2007 menjadi 22,6 tahun di 2012. Sedangkan pendapat remaja wanita dan remaja pria tentang umur ideal pria menikah tidak ada perubahan sama sekali selama kurun waktu 5 tahun.
Mayoritas remaja wanita (70 persen) dan remaja pria (74 persen) mengatakan bahwa
mereka akan memutuskan sendiri dengan siapa mereka akan kawin.
P e r s e n t a s e w a n i t a r e m a j a y a n g mengatakan bahwa mereka sendiri yang akan memutuskan dengan siapa akan kawin meningkat dari 50 persen pada tahun 2007 menjadi 70 persen pada tahun 2012. Perubahan ini bahkan lebih menonjol di antara remaja pria di tahun 2012 sebesar 74 persen dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 28 persen.
UMUR IDEAL MEMPUNYAI ANAK PERTAMA KALI
Sangat sedikit remaja belum kawin yang menyatakan bahwa seorang wanita seharusnya mulai melahirkan anak sebelum umur 20 tahun (1 persen wanita dan 2 persen pria); atau bahwa seorang pria seharusnya mulai mempunyai anak sebelum umur 22 tahun (2 persen wanita dan 2 persen pria).
Median umur yang ideal seorang wanita untuk memiliki kelahiran pertamanya adalah 25 tahun sementara di antara pria adalah 24,4 tahun. Median umur yang ideal pada kelahiran pertama bagi seorang pria adalah sama antara pernyataan wanita remaja dan pria (masing-masing 27,1 tahun dan 27 tahun) dan jauh lebih tinggi daripada median umur ideal untuk seorang wanita.
Menurut remaja wanita dan pria, median umur ideal seorang wanita melahirkan anak pertama antara hasil SKRRI 2007 dan SDKI KRR-2012 ada perubahan namun kecil. Perubahan lebih Nampak dari pendapat remaja pria yang menyebutkan median umur ideal seorang wanita mempunyai anak pertama adalah 23,3 tahun (SKRRI 2007) dan median umur 24,4 tahun (SDKI KRR 2012). Median umur ideal umur pertama seorang pria mempunyai anak pertama kali dari dua survey tidak nampak adanya perubahan.
JUMLAH ANAK IDEAL
Remaja wanita dan pria menyatakan jumlah anak ideal yang diinginkan hampir sama (median 2,6 anak remaja wanita dan median 2,7 anak remaja pria). Jika dibandingkan dengan
SKRRI 2007, maka dari hasil SDKI KRR-2012 menunjukkan ada sedikit peningkatan persepsi median jumlah anak yang ideal pada remaja wanita. Median jumlah anak ideal yang diinginkan remaja wanita pada SKRRI 2007 sejumlah 2,5 orang anak menjadi 2,6 orang anak pada SDKI KRR 2012.
KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN
Tiga dari 10 remaja wanita dan 18 persen pria mengaku mengetahui seseorang yang mereka kenal secara pribadi yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Mereka telah menyarankan teman sebayanya untuk tidak menggugurkan kandungan pada kehamilan yang tidak diinginkan.
MINUM MINUMAN BERALKOHOL
Pria cenderung minum minuman beralkohol dibandingkan dengan wanita. Dari 39 persen remaja pria yang pernah minum minuman beralkohol, 23 persen merupakan mantan peminum, 16 persen jarang minum, dan kurang dari 1 persen mengkonsumsi setiap hari.
Remaja wanita muda (umur 15 – 19 tahun) mulai minum minuman beralkohol pada umur lebih muda dari wanita yang lebih tua (umur 20 – 24 tahun). Sejumlah 15 persen remaja wanita dan 9 persen remaja pria mulai minum minuman alkohol pada umur sebelum 14 tahun. Pada umur 15 tahun, 16 persen remaja wanita dan 17 persen remaja pria telah mengkonsumsi minuman beralkohol.
Dalam tiga bulan terakhir sebelum survei, dari 5 persen remaja wanita dan 39 persen remaja pria yang pernah mengkonsumsi alcohol; sejumlah 22 persen remaja wanita dan 41 persen remaja pria di antaranya mengkonsumsi alkohol dalam tiga bulan terakhir, 11 persen remaja wanita dan 47 persen remaja pria pernah mabuk.
PENGGUNAAN OBAT OBATAN
Hanya kurang dari 1 persen remaja wanita yang mengunakan obat-obatan terlarang. Sebagian besar obat-obatan tersebut dikonsumsi dengan cara dihisap, dihirup, dan ditelan. Sejumlah 4 persen remaja pria diketahui telah menggunakan obat-obatan terlarang dan mengkonsumsi dengan cara merokok. Obat-obatan terlarang tersebut digunakan oleh remaja pria dengan cara terbanyak adalah menghisap, dan dicirikan oleh remaja pria dewasa (20-24 tahun), tinggal di daerah perkotaan, dan berpendidikan SMTA plus.
PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS
Pada umumnya remaja wanita memiliki kesadaran yang lebih tinggi tentang AIDS dibandingkan dengan remaja pria. Remaja yang berumur lebih tua juga pada umumnya memiliki kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang lebih muda. Responden dengan pendidikan yang lebih tinggi memiliki pengetahuan lebih tinggi tentang HIV/AIDS dibandingkan dengan remaja yang berpendidikan lebih rendah. Pada mereka yang berpendidikan rendah, proporsi pria yang mengetahui AIDS lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Akan tetapi, wanita yang berpendidikan tinggi lebih banyak memiliki pengetahuan tentang AIDS dibandingkan dengan pria dengan tingkat pendidikan yang sama.
Media yang banyak diakses oleh remaja pria dan wanita sebagai sumber informasi HIV/AIDS berturut-turut adalah televisi (TV), sekolah, teman dan kerabat., Tenaga profesional kesehatan (medis) belum menjadi sumber informasi yang efektif tentang HIV/AIDS. Remaja wanita dan pria yang berpendidikan rendah mengandalkan TV, teman, dan kerabat u n t u k m e n d a p a t k a n i n f o r m a s i t e n t a n g HIV/AIDS. Proporsi mereka yang mengandalkan teman dan kerabat sebagai sumber informasi cukup tinggi (37 persen).
Sejumlah 67 persen remaja wanita dan 63 persen remaja pria yang mengetahui bahwa menggunakan kondom dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV. Empat puluh enam persen remaja wanita dan 59 persen remaja pria mengetahui bahwa membatasi jumlah partner seksual hanya satu saja dapat mengurangi risiko tertular HIV
PENGETAHUAN TENTANG VOLUNTARY HIV COUNSELING AND TESTING
Sejumlah 11 persen dari remaja wanita dan 6 persen remaja pria yang mengetahui keberadaan layanan VCT. Persentase ini lebih rendah lagi ketika ditanyakan tentang pengetahuan mengenai akses layanan (8 persen wanita dan 3 persen pria). Remaja yang berumur lebih tua, berpendidikan lebih tinggi, dan tinggal di perkotaan lebih banyak yang mengetahui lokasi layanan VCT.
ASPEK SOSIAL HIV/AIDS
Mayoritas remaja mengetahui bahwa pengidap HIV/AIDS tidak harus menunjukkan tanda-tanda infeksi. Lebih dari setengah responden, terlepas dari jenis kelamin mereka, menganggap bahwa status HIV anggota keluarga yang terinfeksi seharusnya tidak diekspos ke ruang publik (59 persen untuk remaja wanita dan 64 persen remaja pria). Sikap positif terhadap anggota keluarga yang terinfeksi HIV/AIDS masih cukup tinggi. Hanya 20 persen remaja wanita dan 17 persen remaja pria yang diwawancarai yang tidak bersedia untuk merawat anggota keluarga mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. Persentase responden yang enggan untuk merawat anggota keluarganya yang terinfeksi tersebut lebih tinggi di kalangan responden yang lebih muda, responden yang tinggal di perdesaan dan responden yang berpendidikan rendah.
Pengetahuan remaja tentang cara penularan HIV/AIDS memprihatinkan. Lebih dari separuh responden wanita belum kawin umur 15 – 24 tahun masih percaya bahwa HIV dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk dan berbagi makanan. Pengetahuan pria tentang HIV tidak lebih baik daripada wanita. Hanya 13 persen remaja wanita dan 12 persen remaja pria yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV.
PENGETAHUAN TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL LAINNYA
Pengetahuan remaja tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) menunjukkan 79 persen remaja wanita dan 92 persen remaja pria mengetahui syphilis, sedangkan 35 persen remaja wanita dan 19 persen remaja pria mengetahui gonorrhea. Pengetahuan tentang genital herpes masih tergolong rendah (24 persen remaja wanita dan 4 persen remaja pria), sedangkan pengetahuan mengenai condylomata, chancroid, chlamydia,
candida, dan jenis PMS lain tergolong sangat
rendah (dibawah 1 persen). Responden berumur 20 – 24 tahun, yang tinggal di perkotaan, dan yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan tentang PMS lebih baik.
Sumber informasi IMS lainnya yang paling sering disebut oleh wanita adalah sekolah dan guru (65 persen) diikuti oleh televisi (23 persen), dan teman dan kerabat (22 persen). Pada pria, teman dan kerabat adalah sumber informasi yang paling sering disebut (51 persen) diikuti oleh sekolah dan guru (48 persen). Internet mulai dikenal sebagai sumber informasi yang umum mengenai PMS yang disebutkan oleh 13 persen remaja wanita dan 15 persen remaja pria.
Sejumlah 11 persen remaja pria dapat menyebutkan dua atau lebih gejala PMS pada pria, dan hanya 3 persen remaja yang dapat menyebutkan gejala PMS pada wanita. Pria dan wanita yang berumur lebih matang, tinggal di area perkotaan, dan berpendidikan tinggi lebih cenderung mengetahui gejala-gejala PMS.
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Terminologi 'remaja' telah diterjemahkan menjadi beberapa arti. Pada dasarnya, remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Secara lengkap, definisi 'remaja' harus mempertim-bangkan perubahan biologis, psikologi dan sosial. Perubahan biologis menekankan pada terjadinya masa pubertas yang mengubah bentuk tubuh anak-anak menjadi seorang remaja yang matang secara fisik dan seksual. Definisi psikologis membedakan terminologi 'remaja' pada perubahan tugas-tugas yang harus dicapai, masing-masing berkaitan dengan tugas utama yaitu pencapaian identitas personal. Definisi sosio-logis menjelaskan bahwa remaja adalah status di dalam suatu masyarakat, khususnya sebagai periode transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa (http://site.sinauer.com/cobb/chapter01.html, 3 April 2013).
Umur telah digunakan untuk membedakan kelompok remaja menurut pertumbuhan fisiknya, se-perti masa remaja 'awal' (11-13 tahun), remaja 'tengah' (14-18 tahun) dan remaja 'akhir' (19-24 tahun) (The
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 2008). WHO mendefinisikan “dewasa” untuk
mencakup semua orang yang berumur 10-19 tahun (WHO, 1989 dalam Khan dan Mishra 2008), Kementerian Kesehatan Indonesia mendefinisikan ulang kelompok ini sebagai orang-orang yang hanya berumur 10-19 dan tidak kawin. Sedangkan menurut BKKBN kelompok umur remaja adalah 10-24 tahun dan tidak kawin (BKKBN, 2012).
Dalam Kesehatan Reproduksi Remaja yang merupakan komponen dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, kelompok umur responden difokuskan pada pria dan wanita 15-24 tahun yang belum kawin. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk memastikan kecukupan jumlah responden atas perilaku berisiko seperti menghisap tembakau, mengkonsumsi minuman keras, menggunakan obat terlarang, dan keterikatan dalam hubungan seksual. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, ada 40,4 juta penduduk berumur 15-24 tahun yang terdiri dari 16,6 juta pria dan 12,8 juta wanita dengan status belum kawin (Tabel 1.1). Populasi inilah yang menjadi fokus survei ini.
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk
Distribusi persentase penduduk 15-24 tahun menurut kelompok umur, jenis kelamin, status perkawinan, dan daerah tempat tinggal, Indonesia 2010
Umur, Jenis Kelamin, dan Status Perkawinan
Perkotaan Perdesaan Jumlah
Jumlah (?1000) Persentase Jumlah (?1000) Persentase Jumlah (?1000) Persentase Pria 15 – 19 Tahun Belum kawin 4.927 93,6 4.924 94,2 9.851 93,9 Kawin 337 6,4 304 5,8 641 6,1 Total 5.264 100,0 5.228 100,0 10.492 100,0 Pria 20 – 24 Tahun Belum kawin 3.877 72,6 2.880 64,8 6.757 69,1 Kawin 1.460 27,4 1.562 35,2 3.022 30,9 Total 5.337 100,0 4.442 100,0 9.779 100,0 Wanita 15 – 19 Tahun Belum kawin 4.746 89,0 2.938 77,1 7.684 84,0 Kawin 588 11,0 872 22,9 1.460 16,0 Total 5.334 100,0 3.810 100,0 9.144 100,0 Wanita 20 – 24 Tahun Belum kawin 2.787 51,1 1.321 29,3 4.108 41,2 Kawin 2.670 48,9 3.184 70,7 5.854 58,8 Jumlah 5.457 100,0 4.505 100,0 9.962 100,0
Baru-baru ini, tujuh lembaga pemerintahan di Indonesia ditugaskan untuk memetakan kebutuhan remaja. Lembaga tersebut adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak (KPP dan PA), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga telah membantu secara aktif dalam penyediaan informasi, edukasi, dan pembinaan terhadap remaja di Indonesia sejak tahun 1986.
1.2 Program Kesehatan untuk Remaja
Dalam rangka mengenali titik berat pada kelompok ini sekaligus isu-isu yang terkait dengan itu, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak (KPP dan PA), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, dan BKKBN bekerja sama dengan
United Nations Population Fund (UNFPA) merumuskan kebijakan dan strategi nasional kesehatan
reproduksi (Kememterian Kesehatan, 2005). Berdasarkan Strategi dan Kebijakan Kesehatan Reproduksi tahun 2005-2010, pemerintah Indonesia harus menempatkan kesehatan reproduksi sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan nasional, demi peningkatan status dan derajat kesehatan sekaligus pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Kebijakan ini juga menjadi dasar dan arah bagi berbagai sektor, pemerintah daerah, LSM, profesional, swasta, dan khalayak bisnis demi menyukseskan program-program kesehatan reproduksi di Indonesia.
1.3 Tujuan Survei
Temuan-temuan dalam survei ini diharapkan agar dapat menyediakan informasi terbaru mengenai indikator kesehatan reproduksi remaja yang dicakup di dalam Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) sebagai komponen SDKI 2012. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja dirancang untuk:
·Mengukur tingkat pengetahuan remaja mengenai isu kesehatan reproduksi ·Menguji sikap remaja terhadap berbagai macam isu dalam kesehatan reproduksi
·Mengukur tingkat penggunaan tembakau, konsumsi minuman keras, dan penggunaan obat-obatan terlarang
·Mengukur tingkat aktivitas seksual remaja
·Menggali kesadaran remaja terhadap HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya
1.4 Organisasi Survei
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) sebagai komponen SDKI 2012 dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan BKKBN dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pendanaan biaya lokal survei disediakan oleh pemerintah Indonesia. ICF Internasional menyediakan bantuan teknis melalui United States Agency for International Development (USAID) komponen dana untuk Program Survei Demografi dan Kesehatan (MEASURE-DHS).
Sebuah steering committee dibentuk yang terdiri atas perwakilan pejabat BPS, BKKBN, Kemen-kes, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sebuah tim teknis terdiri atas anggota dari organisasi yang sama ditambah Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI). Tim ini lebih sering bertemu daripada steering committee untuk membahas dan memutuskan isu-isu teknis yang berkaitan dengan penyelenggaraan survei. Kepala BPS Provinsi bertanggung jawab pada hal teknis dan administratif survei pada wilayah kerjanya masing-masing. Mereka dibantu oleh koordinator lapangan yang sebagian besar di antaranya adalah kepala seksi statistik sosial pada BPS Provinsi.
1.4.1 Kuesioner Survei
Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2012 menggunakan empat macam kuesioner: kuesioner rumah tangga, kuesioner wanita usia subur, kuesioner pria kawin, dan kuesioner remaja pria. Karena dalam SDKI 2012 cakupan survei dari wanita pernah kawin berumur 15-49 tahun (SDKI 2007) diubah menjadi semua wanita berumur 15-49 tahun, kuesioner untuk wanita usia subur ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan untuk wanita belum pernah kawin yang berumur 15-24 tahun. Pertanyaan-pertanyaan ini sebelumnya adalah bagian dari kuesioner Survei Reproduksi Remaja Indonesia (SKKRI) tahun 2007. Pertanyaan yang ditujukan pada wanita berumur 15-24 tahun dan belum kawin juga ditambah dengan beberapa pertanyaan mengenai karakteristik latar belakang, pengetahuan tentang sistem repro-duksi manusia, sikap terhadap pernikahan dan mempunyai anak, peran keluarga, sekolah, masyarakat dan media, penggunaan tembakau, minuman keras dan obat-obatan terlarang, pacaran dan kegiatan seksual.
Kuesioner untuk pria berumur 15-24 tahun dan belum pernah kawin mencakup pertanyaan yang sama bagi wanita 15-24 tahun dan belum pernah kawin. Pertanyaan-pertanyaan yang secara khusus diajukan kepada wanita berumur 15-24 tahun dan belum pernah kawin adalah:
·Pertanyaan tambahan mengenai latar belakang karakteristik ·Pengetahuan mengenai sistem reproduksi manusia
·Sikap terhadap perkawinan dan anak
·Peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan media ·Konsumsi minuman keras dan tembakau
·Pacaran dan kegiatan seksual
Kuesioner untuk pria berumur 15-24 tahun dan belum pernah kawin berisi pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan kepada wanita berumur 15-24 tahun dan belum pernah kawin.
1.4.2 Kegiatan Uji Coba
Kuesioner survei KRR 2012 dikembangkan dari format standar Demographic and Health Survey (DHS). Sebelum pelaksanaan lapangan, kuesioner diujicobakan di Provinsi Riau dan Provinsi Nusa Teng-gara Timur (NTT) untuk memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan sudah jelas dan dapat dimengerti oleh responden. Uji coba sangat penting agar dapat memberikan informasi perubahan cakupan dari wanita ber-umur 15-49 tahun yang pernah menikah menjadi seluruh wanita berber-umur 15-49 tahun, sehingga ada pertanyaan-pertanyaan baru dan perubahan pada format pertanyaan standar kuesioner DHS.
Dua tim uji coba kuesioner direkrut dari setiap provinsi. Survey Pilot dilaksanakan (sebagaimana yang disebutkan sebelumnya) pada pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus 2011 di empat kabupaten terpilih (empat perkotaan dan empat perdesaan). Wilayah yang dipilih untuk uji coba adalah Kabupaten Pekanbaru dan Kabupaten Kampar (Provinsi Riau) dan Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi NTT). Rumah tangga perdesaan dan perkotaan dipilih untuk subyek uji coba pada semua kabupaten. Temuan dari uji coba digunakan untuk memperbaiki kuesioner.
1.4.3 Pelatihan
Sebanyak 922 orang yang terdiri dari 376 pria dan 546 wanita berpartisipasi dalam pelatihan pen-cacah SDKI 2012. Pelatihan dilaksanakan pada bulan Mei 2012 selama 12 hari untuk penpen-cacah remaja dan 7 hari untuk pencacah pria tidak kawin di 9 pusat pelatihan (Batam, Bukittinggi, Banten, Yogyakarta, Den-pasar, Banjarmasin, Makasar, Manokwari, dan Jayapura). Pelatihan meliputi presentasi kelas, uji coba wawancara, dan tes. Pada tiap pusat pelatihan, peserta dikelompokkan menjadi tiga jenis kelas yang berbe-da, masing-masing untuk wanita, pria kawin, dan remaja pria. Seluruh peserta dilatih dengan menggunakan kuesioner rumah tangga dan individu.
1.4.4 Pengumpulan Data
Komponen survei KRR dari SDKI 2012 merekrut 119 tim pewawancara untuk pengumpulan data. Setiap tim terdiri dari 8 pewawancara, yaitu seorang pengawas pria, seorang editor lapangan wanita, empat orang pewawancara wanita, seorang pewawancara pria untuk remaja pria, dan seorang pewawancara untuk pria kawin yang juga bertugas sebagai editor pewawancara remaja pria. Di Papua dan Papua Barat masing-masing tim terdiri atas lima orang pewawancara: seorang pengawas pria yang juga bertugas sebagai pewawancara pria kawin dan editor pewawancara remaja pria, seorang editor lapangan wanita, dua orang pewawancara wanita, seorang pewawancara pria kawin dan remaja pria. Pelaksanaan lapangan berlangsung antara 7 Mei hingga 31 Juli 2012.
1.4.5 Pengolahan Data
Semua kuesioner yang telah terisi berikut lembar kontrol dikembalikan kepada BPS Pusat di Jakarta untuk proses pengolahan data. Kuesioner dikumpulkan, diedit, dan seluruh pertanyaan terbuka dikodekan. Jawaban-jawaban tersebut dientri ke dalam komputer dua kali untuk verifikasi dan dikoreksi untuk kesalahan-kesalahan yang ditemukan komputer. Pengolahan data dilakukan oleh tim yang terdiri dari 58 orang petugas entri data, 42 orang editor, 14 orang editor data kedua, dan 14 orang pengawas. Sebuah paket program komputer yang disebut Census and Survey Processing System (CsPro) yang secara khusus didesain untuk mengolah data SDKI digunakan untuk mengolah data. Program ini telah digunakan dalam pengolahan SKRRI tahun 2007.
1.5 HASIL KUNJUNGAN
Tabel 1.2 adalah rekapitulasi hasil kunjungan survei KRR sebagai komponen SDKI 2012. Seba-nyak 46.024 rumah tangga terpilih sebagai sampel yang 44.302 di antaranya dapat tercacah. Dari 43.852 rumah tangga yang ditemukan di dalam survei, berhasil diwawancarai dengan tingkat respons sangat tinggi (99 persen).
Pada wawancara rumah tangga, 9.442 responden wanita dan 12.381 responden pria berhasil di-identifikasi untuk wawancara individu. Dari jumlah tersebut, 8.902 responden wanita dan 10.980 respon-den pria selesai diwawancarai, menghasilkan tingkat respons masing-masing 94 persen dan 89 persen. Tingkat respons lebih tinggi daripada SKRRI tahun 2007 diperoleh dari responden wanita (90 persen) dan responden pria (86 persen) (BPS dan Macro International, 2007).
Tabel 1.2 Hasil wawancara rumah tangga dan perseorangan
Jumlah rumah tangga, jumlah kunjungan, dan hasil kunjungan, menurut daerah tempat tinggal, Indonesia 2012
Hasil Perkotaan Perdesaan Jumlah
Pencacahan Rumah tangga
Rumah tangga terpili h 22.039 23.985 46.024
Rumah tangga ditemui 21.130 23.172 44.302
Rumah tangga diwawancarai 20.866 22.986 43.852
Hasil kunjungan (%) 98,8 99,2 99,0
Wawancara perseorangan
Wanita belum kawin umur 15 – 24 Tahun
Wanita memenuhi syarat 5.610 3.832 9.442
Wanita yang diwawancarai 5.304 3.598 8.902
Hasil kunjungan (%) 94,5 93,9 94,3
Pria belum kawin umur 15 – 24 Tahun
Pria memenuhi syarat 6.680 5.701 12.381
Pria yang diwawancarai 5.937 5.043 10.980
2
PROFIL REMAJA
Temuan Utama:
·Di antara remaja wanita, 72 persen berumur 15-19 tahun dan 29 persen berumur 20-24 tahun dengan proporsi masing-masing 62 persen dan 38 persen.
·Enam puluh satu persen remaja wanita dan 56 persen remaja pria tinggal di daerah perkotaan.
·Enam puluh enam persen rumah tangga tidak memiliki remaja, 25 persen memiliki seorang remaja, dan 9 persen memiliki dua orang remaja atau lebih. ·Pada sebagian besar rumah tangga, responden adalah anak dari kepala
rumah tangga (74 persen remaja wanita dan 78 persen remaja pria). Sebaliknya, 4 persen remaja wanita dan 3 persen remaja pria adalah kepala rumah tangga.
·Baik remaja wanita maupun pria, responden di perkotaan cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada responden di perdesaan.
·Empat pulut tujuh persen remaja wanita dan 43 persen remaja pria berhenti sekolah karena tidak mempunyai biaya untuk sekolah; 24 persen remaja wanita dan 8 persen remaja pria mengatakan tidak ingin sekolah lagi.
·Tiga belas persen remaja wanita dan 16 persen remaja pria berada di kuantil terbawah, sedangkan 50 persen remaja wanita dan 42 persen remaja pria berada di dua kuantil teratas.
2.1 DIMENSI SOSIO-DEMOGRAFI
2.1.1 Karakteristik Responden
Bab ini menyajikan informasi mengenai karakteristik demografi dan sosio-ekonomi responden remaja komponen KRR dalam SDKI 2012. Istilah remaja dan dewasa muda yang sering digunakan dalam bab ini mengacu pada wanita dan pria belum kawin yang berumur 15-24 tahun. Karakteristik latar belakang utama yang digunakan dalam bab-bab selanjutnya adalah pengetahuan, sikap, dan perilaku di bidang kesehatan reproduksi yang membedakan sub-kelompok remaja menurut umur, daerah tempat tinggal (perkotaan dan perdesaan), dan tingkat pendidikan. Tabel 2.1 menunjukkan distribusi wanita dan pria belum kawin yang umur 15-24 tahun.
Dari 19.399 responden dewasa muda yang telah diwawancarai, 10.980 orang adalah pria dan 8.419 orang adalah wanita dengan 66 persen berumur 15-19 tahun dan sisanya (34 persen) berumur 20-24 tahun. Sampel responden pria (57 persen) lebih besar daripada sampel wanita (43 persen). Hal ini sama dengan proporsi penduduk umur 15-24 tahun yang belum kawin secara keseluruhan (lihat Tabel 1.1). Baik remaja wanita maupun pria, responden lebih banyak ditemukan di daerah perkotaan (61 persen wanita dan 56 persen pria).
Tabel 2.1 Karakteristik latar belakang responden
Distribusi persentase wanita belum kawin umur 15 -24 tahun dan pria belum kawin umur 15-24 tahun menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik latar belakang
Wanita Belum Kawin Pria Belum Kawin
Persentase Tertimb ang Jumlah Tertimbang Jumlah Tak Tertimbang Persentase Tertimbang Jumlah Tertimbang Jumlah Tak Tertimbang Umur (tahun) 15 17,3 1.453 1.497 13,1 1.433 1.432 16 16,8 1.412 1.462 14,5 1.597 1.577 17 15,2 1.278 1.305 12,8 1.410 1.413 18 11,9 1.003 1.056 11,4 1.248 1.218 19 10,4 872 895 10,4 1.147 1.135 15-19 71,5 6.018 6.215 62,2 6.835 6.775 20 8,4 705 783 9,5 1.048 1.079 21 6,8 576 636 8,1 893 920 22 5,2 439 525 7,8 861 837 23 4,5 382 415 6,3 690 715 24 3,5 298 328 5,9 653 654 20-24 28,5 2.401 2.687 37,8 4.145 4.205
Daerah tempat tinggal
Perkotaan 60,8 5.121 5.304 56,1 6.154 5.937 Perdesaan 39,2 3.298 3.598 43,9 4.826 5.043 Pendidikan Tidak sekolah 0,6 54 66 0,5 59 80 Tidak tamat SD 1,9 157 216 4,1 448 554 Tamat SD 5,0 421 423 9,4 1.036 833
Tidak tamat SMTA 49,5 4.171 4.219 50,6 5.560 5.360
Tamat SMTA + 42,9 3.615 3.978 35,3 3.877 4.153
Jumlah 100,0 8.419 8.902 100,0 10.980 10.980
2.1.2 Tempat Tinggal
Tabel 2.2 memperlihatkan bahwa 66 persen rumah tangga tidak memiliki remaja, 25 persen hanya memiliki satu orang remaja, dan 9 persen memiliki dua orang remaja atau lebih. Dengan demikian, wawancara terhadap remaja dilakukan hanya pada 34 persen rumah tangga sampel (sekitar 15.100 rumah tangga). Didapatkan bahwa enam dari sepuluh rumah tangga di perkotaan dan tujuh dari sepuluh rumah tangga di perdesaan tidak memiliki remaja.
Tabel 2.2 Keberadaan remaja dalam rumah tangga
Distribusi persentase rumah tangga menurut keberadaan wanita belum kawin umur 15 -24 tahun dan pria belum kawin umur 15-24 tahun, menurut daerah tempat tinggal, Indonesia 2012
Jumlah remaja (orang)
Daerah Tempat Tinggal
Jumlah Perkotaan Perdesaan 0 60,8 70,1 65,5 1 27,5 23,4 25,4 2 9,2 5,3 7,2 3 2,1 1,0 1,5 4+ 0,5 0,2 0,3 Jumlah 100,0 100,0 100,0
Jumlah rumah tangga 21.523 22.329 43.852
Tabel 2.3 menunjukkan distribusi persentase wanita dan pria belum kawin yang berumur 15-24 tahun menurut hubungan dengan kepala rumah tangga. Pada sebagian besar rumah tangga, responden adalah anak dari kepala rumah tangga (74 persen remaja wanita dan 78 persen remaja pria). Hal ini terutama berlaku untuk remaja wanita dan pria yang berumur 15-19 tahun masing-masing 77 persen dan 81 persen. Ini adalah kebiasaan umum di Indonesia, bahwa remaja masih tinggal bersama orang tua