© Copyright 2021
PERUBAHAN PELAKSANAAN PERAYAAN TRADISI BUANG NA’AS DI KAMPUNG TALISAYAN KECAMATAN
TALISAYAN KABUPATEN BERAU
Maya Sri Puspa
eJournal Pembangunan Sosial
Volume 9, Nomor 3, 2021
© Copyright 2021
PERUBAHAN PELAKSANAAN PERAYAAN TRADISI BUANG NA’AS DI KAMPUNG TALISAYAN KECAMATAN
TALISAYAN KABUPATEN BERAU
Maya Sri Puspa¹, Sukapti Wartoharjono², Sarifudin³
Abstrak
Kebudayaan merupakan suatu hal yang harus dijaga dan dilestarikan, dalam upaya pelestariannya kebudayaan akan mengalami berbagai perubahan dan komodifikasi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan perayaan dan menjelaskan dinamika perubahan pada perayaan Tradisi Buang Na’as di Kampung Talisayan. Konsep dan teori penelitian ini adalah konsep modernisasi perubahan budaya (dari sakral ke profan) dan teori bentuk komodifikasi menurut Vincent Mosco (1996) yang menjelaskan 3 bentuk komodifikasi yaitu: komodifikasi isi, komodifikasi audiens/khalayak dan komodifikasi pekerja. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Teknik Purpossive Sampling dengan metode wawancara dan observasi di lapangan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang berfokus pada proses perayaan dan nilai-nilai yang terkandung
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya bentuk komodifikasi pada perubahan Tradisi Buang Na’as yaitu: komodifikasi terhadap isi budaya (perayaan, prosesi simbolik, waktu, alat dan bahan) sehingga menghilangkan beberapa nilai religi yang bergeser menjadi produk wisata, komodifikasi terhadap khalayak/audiens yang cakupannya meningkat dari warga Talisayan menjadi wisatawan luar daerah dan asing, lalu komodifikasi terhadap pekerja yang biasanya dipimpin oleh ketua adat dan sekarang bekerja sama dengan pihak pemerintahan.
Komodifikasi menyebabkan perayaan Tradisi Buang Na’as memiliki pemanfaatan pada bidang ekonomi dan pariwisata.
Kata Kunci: Perubahan, Budaya, Komodifikasi, Tradisi.
PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara multikultural yang sangat kental, perjalanan budaya dan adatnya yang mengandung nilai-nilai sehingga membudaya dan terus berkembang hingga saat ini. Kebudayaan merupakan suatu hal yang harus dijaga dan dilestarikan karena kebudayaan merupakan identitas suatu kelompok masyarakat.
Kampung Talisayan Kecamatan Talisayan Kabupaten Berau memiliki salah satu tradisi turun temurun yang masih dilaksanakan dan dilestarikan yaitu Tradisi Buang Na’as. Bentuk perayaan Tradisi Buang Na’as dahulu dilaksanakan masing-masing saja dengan keluarga seiring berjalannya waktu dilaksanakan beramai-ramai di Pantai Muara Dumaring namun diiringi dengan pesta yang tidak terarah. Oleh karena itu beberapa anak muda Talisayan berinisiatif untuk mengemas Tradisi ini agar berjalan lebih sistematis dan dapat menarik perhatian masyarakat luar maupun masyarakat asing dengan melakukan perubahan dan komodifikasi pada perayaan tradisi tersebut.
Banyak perubahan-perubahan yang terjadi semenjak perayaan Tradisi Buang Na’as ini dirayakan melalui Pesta Adat, Pesta Adat yang diisi dengan berbagai rangkaian acara seperti festival budaya, panggung seni, pameran/ekspo dan lomba-lomba tradisional membuat Kampung Talisayan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat luar maupun masyarakat asing karena banyaknya wisatawan yang berkunjung dan bisa mengangkat pariwisata serta tradisi turun temurun tersebut lebih dikenal dan terekspos lagi. Pesta Adat Tradisi Buang Na’as ini pun memiliki manfaat bagi warga Kampung Talisayan terutama di bidang ekonomi dan pariwisata.
TINJAUAN PUSTAKA
Modernisasi dan Perubahan Budaya
Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu arah perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara yang lebih maju, dimana yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perubahan-perubahan budaya yang dapat dihasilkan dari proses modernisasi biasanya terjadi karena beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam masyarakat maupun luar masyarakat itu sendiri. Imam Manan (1989) berpendapat bahwa perubahan-perubahan yang terjadi tentu memiliki sebab, cara dan arah tujuan yang akan dicapai. Arah dan tujuan tersebut bisa ke berbagai bidang kehidupan seperti bidang sosial, ekonomi, budaya maupun pariwisata. Menurut Colin Michael Hall (1999) ia memiliki pemahaman bahwa pariwisata memiliki peranan penting terhadap perubahan nilai-nilai individu maupun kelompok yang didasarkan oleh pokok pikiran tenang komoditasi yang artinya kebudayaan yang dahulunya hanya sebagai pertunjukan atau atraksi kebudayaan berubah menjadi
produk kebudayaan yang bersifat komersil dan bisa jadi menghasilkan keuntungan dan menjadi suatu komoditas.
Komodifikasi Kebudayaan
Komodifikasi kebudayaan menjadi produk atau barang komoditas pariwisata dengan membenturkan kebudayaannya dengan dunia modern. Melalui pariwisata atau produk wisata ini masyarakat mempersatukan antara modernisasi dengan tradisionalisasi yang akhirnya membentuk kebudayaan yang bersifat touristic sebagai hasil komodifikasi untuk keperluan pariwisata. Komodifikasi berangkat dari perkembangan pengetahuan masyarakat yang sebelumnya bersifat tradisional menjadi bentuk baru bahkan telah dikomodifikasi menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Fathoni (2010, dalam Ikhwan: 2013:73) menjelaskan bahwa pengetahuan tradisonal merupakan seluruh bentuk pengetahuan, inovasi dan kegiatan budaya dari masyarakat asli maupun masyarakat local yang meliputi cara hidup dan teknologi tradisional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara turun-temurun.
Teori Komodifikasi
Vincent Mosco dalam bukunya yang berjudul “The Political Economy of Communication” (1996) juga memiliki konsep yang berbeda terkait komodifikasi, menurutnya komodifikasi adalah pemanfaatan isi media yang melihat kegunaannya sebagai komoditi yang dapat dipasarkan dan memiliki nilai guna juga bisa menghasilkan keuntungan dengan mengubah barang/jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Beberapa bentuk komodifikasi menurut Vincent Mosco (1996) adalah sebagai berikut:
1. Komodifikasi Isi, adalah proses perubahan pesan dari kumpulan informasi ke dalam sistem makna dalam wujud produk yang dapat dipasarkan.
2. Komodifikasi Khalayak/Audiens, adalah proses komodifikasi peran pembaca/khalayak atau penikmat barang jasa yang telah dikomodifikasi oleh perusahaan media dan pengiklan.
3. Komodifikasi Pekerja, pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi dan distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran pekerja secara optimal dengan cara mengarahkan pikiran mereka tentang meningkatkan kualitas suatu isi produksi sehingga dapat dinikmati oleh khalayak banyak.
Relasi Antara Masyarakat dan Kebudayaan
Kebudayaan merupakan salah satu unsur yang paling penting dalam pembangunan dan dalam proses pembangunan masyarakat tentu terlibat. Dari sisi kebudayaan pembangunan merupakan usaha untuk menghasilkan kondisi hidup yang lebih baik, lingkungan yang aman, serta kemudahaan dengan fasilitas yang lengkap agar kehidupan masyarakat lebih mudah. Pembangunan merupakan intervensi masyarakat terhadap lingkungannya baik fisik maupun sosial budaya.
Adanya perubahan dalam manusia, masyarakat dan lingkungan disebabkan oleh suatu pembangunan, dengan perkembangan dunia terjadi dinamika masyarakat berupa perubahan sikap terhadap nilai-nilai yang sudah ada seperti pergeseran nilai-nilai budaya yang sudah ada.
Konsep Tradisi Tradisi
Tradisi merupakan kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada sampai sekarang serta belum dirusak atau dilupakan. Tradisi yang dilakukan terus menerus dan dilakukan secara turun temurun oleh manusia memiliki manfaat untuk meringankan hidup manusia karena tradisi tersebut merupakan dasar nilai yang dipercaya dan dipegang oleh manusia serta tradisi tersebut menjadi bagian dari kebudayaan. C.A van Peursen menjelaskan tradisi merupakan sebagai proses pewarisan atau penerusan norma- norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tradisi juga dapat dirubah, ditolak dan dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia.
Fungsi Tradisi
Shils mengatakan manusia tidak mampu hidup tanpa tradisi meski mereka sering merasa tak puas dengan tradisi mereka. Ia mengatakan tradisi memiliki fungsi bagi masyarakat yaitu:
1. Tradisi adalah kebijakan turun temurun dari masa lalu yang memiliki kesadaran, keyakinan norma dan nilai yang kita anut serta merupakan gagasan yang menjadi dasar untuk membangun masa depan.
2. Memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan dan aturan yang sudah ada.
3. Memberikan symbol identitas terhadap suatu masyarakat, kelompok maupun bangsa.
4. Sebagai tempat keluhan, kekecewaan dan ketidakpuasaan terhadap kehidupan modern
Ritual Sakral dan Profan
Elizabeth K. Nottingham (1992) dalam Karasuta (2014), memberikan pengertian bahwa sakral berkaitan dengan hal-hal yang penuh misteri atau mistis yang berkaitan dengan hal yang mengagumkan mapun menakutkan. Sedangkan profan adalah sesuatu yang mementingkan faktor ekonomi dan kesenangan yang berlawanan dengan ritual sakral.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif yaitu penelitian yang menggambarkan atau melukiskan fakta-fakta atau keadaan ataupun gejala- gejala yang terjadi sesuai dengan apa yang telah dirumuskan pada rumusan masalah. Data yang diperoleh untuk penelitian ini ada 2 sumber yaitu data primer yang diperoleh peneliti langsung oleh narasumber dari hasil wawancara maupun observasi yang memiliki informasi atau data yang berhubungan dengan penelitian seperti berbagai pertanyaan mengenai asal-usul tradisi, bentuk perayaan serta proses perubahan tradisi Buang Na’as yang terjadi di Kampung Talisayan dan data sekunder yaitu data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Data tersebut bisa berupa dokumen-dokumen, bahan pustaka, gambar, serta buku-buku
referensi yang sesuai dengan topik perayaan tradisi Buang Na’as di Kampung Talisayan.
Adapun beberapa fokus penelitian yang akan diteliti yaitu:
1. Prosesi perayaan Tradisi Buang Na’as
2. Nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Buang Na’as 3. Komodifikasi pada perubahan perayaan Tradisi Buang Na’as:
a. Prosesi simbolik Tradisi Buang Na’as b. Nilai-nilai yang terkandung
c. Penentuan waktu tradisi dilaksanakan d. Alat dan bahan yang digunakan HASIL PENELITIAN
Sejarah Singkat Tradisi Buang Na’as
Tradisi tolak bala atau Bahasa daerah di Kabupaten Berau adalah Buang Na’as adalah tradisi pada hari Rabu di bulan Safar yang mana pada bulan Safar Allah SWT menurunkan berbagai bentuk macam bala di muka bumi. Pandangan masyarakat bulan Safar merupakan bulan bala dan harrus dilakukan untuk menghindari malapetaka dengan proses tolak bala atau Buang Na’as tersebut.
Awal mula tradisi Buang Na’as masuk di Kampung Talisayan dimulai sekitar 1950 dimana tradisi ini merupakan hasil rantauan yang berasal dari Malaysia yang sering melakukan perjalanan merantau hingga sampai di Kampung Pesisir yaitu Kampung Talisayan.
Perayaan Tradisi Buang Na’as
Proses perayaan Tradisi Buang Na’as di Kampung Talisayan mencakup segala hal yang berhubungan dengan prosesi pelaksanaannya, penentuan waktu maupun alat dan bahan yang digunakan dalam mendukung proses perayaan tradisi tersebut.
Tahapan Pelaksanaan
1. Pertama tahapan persiapan, terlebih dahulu para tokoh adat yang telah dipercayai menentukan hari puncak untuk melakukan tradisi dengan melakukan perhitungan-perhitungan yang telah dipercayakan sejak dulu yaitu dengan melihat hilal atau posisi bulan sabit di langit apakah sudah terlihat atau belum.
2. Setelah penentuan waktu telah ditentukan masyarakat akan menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan untuk melakukan ritual buang na’as.
3. Beberapa malam sebelum hari rabu terakhir pada bulan Safar masyarakat di Kampung Talisayan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan khas Berau yaitu buras, gogos, kue dippa yang akan disantap pada hari perayaan tradisi.
4. Pada malam hari Rabu terakhir bulan Safar masyarakat berkeliling Kampung dengan membaca Surah Yasin.
5. Sebelum merayakan tradisi beberapa warga akan membunyikan atau memainkan kulintang/gong pusaka yang diyakini jika tidak dilakukan
akan ada anggota keluarga yang mengalami kesurupan. Namun ini hanya sebagai symbol saja.
6. Pada hari perayaan sebelum pergi ke Pantai masyarakat selalu mandi bersih dirumah masing-masing dengan meyakini mandi untuk membersihkan segala kotoran yang ada ditubuh
7. Setelah mandi masyarakat berbondong-bondong pergi ke Pantai dengan membawa makanan khas Berau yang sudah disiapkan kemudian berkumpul, setelah itu dipimpin oleh Ketua Adat yang akan membaca doa tolak bala.
Waktu Pelaksanaan (Penentuan Hari)
Di Kampung Talisayan perayaan Tradisi Buang Na’as dilaksanakan di hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Pada bulan Safar karena anggapan bahwa banyak hal-hal buruk yang turun pada bulan Safar sehingga memanjatkan doa pada bulan Safar agar terhindar dari berbagai keburukan dan selamat apabila melakukan perjalanan. Penentuan harinya dilihat dari posisi bulan diatas yang dipahami oleh masyarakat yang mengerti seperti penentuan hari pada hari raya Idul Fitri dengan melihat posisi bulan atau hilal. Ketentuan melihat hilal adalah apabila bulan sabit tidak terlihat atau gagal terlihat maka ketentuan masukanya bulan pada kalender hijriah juga tertunda.
Alat dan Bahan
1. Surah Yasin, yang memiliki makna doa agar hidup berkah dan saat mencapai pada ayat 58 Surah Yasin diulang sebanyak 7 kali maka Allah SWT akan mempermudah dan mengabulkan hajatnya, rezeki lancer, pekerjaan akan dimudahkan dengan keberhasilan, dijauhkan dari petaka dan diampuni dosa.
2. Kulintang/Gong Pusaka, yang dipercaya apabila dimainkan atau dibunyikan akan mampu mengusir roh-roh jahat.
Nilai-nilai dan Makna dalam Tradisi Buang Na’as
1. Nialai Agama, tradisi ini melakukan ritual berdasarkan nilai agama dengan membaca Surah Yasin berkeliling kampung untuk mendoakan kampung serta masyarakatnya dan membacakan doa-doa tolak bala pada makanan yang akan dimakan di sepanjang pantai pada hari perayaan tradisi.
Makna yang terkandung dalam nilai agama pada tradisi ini pertama ada doa permohonan yaitu Tradisi Buang Na’as ini sebagai doa permohonan untuk memohon dilimpahkan kebahagiaan, rezeki, kesehatan dan dijauhkan dari berbagai musibah buruk. Kedua sebagai bentuk rasa syukur merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Talisayan karena telah diberikan rezeki dan kesehatan selam satu tahun penuh melalui prosesi mandi safar.
2. Nilai Sosial, pada tradisi ini masyarakat diajarkan untuk bekerja secara gotong royong melaksanakan tradisi turun temurun untuk menjaga kelestariannya.
3. Nilai Budaya, tradisi ini telah dipercayai turun temurun dari nenek moyang
Buang Na’as ini selalu mengajarkan agar manusia selalu berinteraksi dan saling membantu satu sama lain.
Perubahan Perayaan Tradisi Buang Na’as
Tepat pada tahun 2006 beberapa pemuda Kampung Talisayan berinisiatif untuk mengemas tradisi Buang Na’as ini. Setelah pariwisata mulai masuk di awal tahun 2000 Kampung Talisayan perayaan tradisi ini dilaksanakan lagi dengan menambahkan unsur-unsur modern didalamnya dengan meninggalkan beberapa nilai-nilai religi yang terkandung di dalamnya. Awal mulanya perubahan dan komodifikasi tersebut dilakukan hanya karena inisiatif dan kesadaran masyarakat setempat yang khawatir tradisi tersebut akan semakin terlupakan dan bahkan punah karena banyaknya transmigran dari luar daerah Kabupaten berau yang masuk ke daerah Talisayan. Setelah masyarakat sudah bergerak dan pihak pemerintahan melihat adanya keuntungan dan tujuan yang ingin dicapai oleh masyarakat itu sendiri adalah untuk tetap melestarikan tradisi turun temurun ini dan memperkenalkan tradisi turun temurun ini kepada para transmigran atau masyarakat dari luar Kabupaten Berau yang menetap di Talisayan pihak pemerintah di Talisayan pun ikut andil dalam perayaan Tradisi Buang Na’as melalui Pesta Adat tersebut.
Tahapan Pelaksanaan
Setelah dikemas ada beberapa perubahan dalam tahapan pelaksanaan Tradisi Buang Na’as di Kampung Talisayan. Beberapa tahapan yang mengandung nilai-nilai religi dihilangkan dan diganti dengan perayaan yang mengandung dan menarik pada nilai ekonomi dan pariwisata.
1. Pada beberapa malam sebelum perayaan tradisi masyarakat menyiapkan bahan untuk memasak makanan khas daerah Berau yaitu buras, gogos, dan kue cucur yang akan dibacakan doa tolak bala dan disantap bersama masyarakat di Kampung Talisayan.
2. Seminggu sebelum hari perayaan Tradisi Buang Na’as pada hari Rabu terakhir di bulan Safar diadakan lomba-lomba. ekspo/pameran dan festival kebudayaan yang diikuti seluruh Kampung di Kecamatan Talisayan. Pada ekspo/pameran masyarakat menjual oleh-oleh khas kampung seperti kerupuk ikan dan cendramata lainnya.
3. Pada hari perayaan Tradisi Buang Na’as akan dibuka dengan tausiyah agama yang disampaikan oleh ulama atau kepala adat di Kampung Talisayan.
4. Setelah itu puncak prosesi ritual dilaksanakan yaitu memandikan anak- anak yang telah disiapkan dengan menggunakan daun linjuang yang telah ditulisi ayat (tujuh kesejahteraan) yang mengandung makna permohonan untuk diberikan rezeki dan dijauhkan dari berbagai musibah buruk. Anak-anak yang dimandikan merupakan anak yang berada di jenjang Sekolah Dasar dengan umur sekitar 6-9 tahun.
5. Setelah prosesi mandi linjuang tadi, kepala adat membaca doa tolak bala dan memakan salah satu makanan yang telah disiapkan sebagai symbol
makanan tersebut sudah dipanjatkan doa tolak bala. Kemudian seluruh tamu dan masyarakat yang mengikuti perayaan tradisi tersebut dan memakan makanan yang telah dipanjatkan doa tersebut.
Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksaan Tradisi Buang Na’as di Kampung Talisayan melaksanakan Tradisi Buang Na’as ini tepat di hari Rabu Pungkasan atau yang disebut dengan hari Rabu terakhir di Bulan Safar sebelum memasuki Rabiul Awal atau Maulid Nabi Muhammad SAW, karena pada hari tersebut ada kisah bahwa Rasulullah jatuh sakit selama 12 hari berturut-turut dan juga diturunkannya 360.000 bala oleh karena itu masyarakat meyakini untuk memohon dan meminta perlindungan dengan membaca doa-doa tolak bala.
Seiring dengan berjalannya waktu penentuan hari dalam perayaan Tradisi Buang Na’as tidak berpatokan dengan melihat posisi bulan di langit karena pola pikir masyarakat sekarang yang menganggap hal tersebut terkesan kuno dan rumit masyarakat sekarang langsung menggunakan tanggal pasti pada kalender hijriah menurut Islam.
Alat dan Bahan
Pengaruh modernisasi memberikan tuntutan pada Tradisi Buang Na’as yang merupakan tradisi turun temurun di Kampung Talisayan Kecamatan Talisayan, yang mana pasti akan ada sesuatu yang baru masuk pada masyarakat yang tradisional.
Alat dan Bahan yang digunakan pada prosesi mandi Safar tersebut adalah:
- Air bersih, air disini adalah air yang telah disediakan dan ditaruh di dalam gentung yang kemudian air tersebut dibacakan oleh tokoh-tokoh ada bacaan ayat-ayat Al-Qur’an terutama doa tolak bala.
- Daun Linjuang, daun linjuang merupakan daun yang berbentuk besar dan memiliki daun yang kuat untuk diberikan tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an. Di dalam daunnya dituliskan huruf-huruf Al-Qur’an yang merupakan ayat keselamatan karena sesuai dengan Rabu terakhir di bulan Safar itu. Daun pertama bertuliskan Salaamun Qaulam-Mir-Rabbir-Rahiim, kemudian ada Salamun Ala Ibrahim, Salamun Ala Nuhin Fil Alamin, Salamun Ala Musa Wa Harun, Salamun Alaikum Thibtum Fadhkhuluna Khalidin, Salamun Ala Ilyasin, dan Salamun Hiya Hatta Mat La’il Fajr. Kemudian ketujuh daun tersebut direndam kedalam air yang sudah ditaruh di gentong tadi yang akan dimandikan ke anak-anak pada perayaan Tradisi Buang Na’as.
- Batok Kelapa Tua, batok kelapa yang dibelah dua kemudian dibuatkan seperti cantong untuk mengambil air di dalam gentong yang akan menjadi alat untuk memandikan anak-anak tersebut.
- Kain Kuning Khas Berau, Berau memiliki kain khas yaitu kain berwarna kuning yang berarti kemuliaan, keagungan dan kebijaksanaan. Pada perayaan tradisi ini anak-anak yang akan dimandikan dililitkan kain kuning untuk menutupi tubuhnya saat dimandikan air linjuang tadi.
Nilai-nilai dalam Tradisi Buang Na’as
Ada dua nilai-nilai yang berubah dalam perayaan Tradisi Buang Na’as, yaitu:
1. Nilai Agama dan Kepercayaan, pengaruh modernisasi membuat pola pikir sosial dan agama masyarakat berubah, Tradisi Buang Na’as yang merupakan ritual doa permohonan dan bentuk rasa syukur karena telah diberikan kesehatan serta rezeki bergeser menjadi produk wisata.
Perubahan ini menyebabkan beberapa ritual keagamaan tidak lagi dilaksanakan seperti membaca Surah Yasin berkeliling kampung dan membunyikan kulintang/gong pusaka saat bepergian melaksanakan tradisi tersebut.
2. Ekonomi dan Pariwisata, setelah komodifikasi yang dilakukan dan pengaruh modernisasi masyarakat menjadi terbuka terhadap perayaan tradisi yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomi dan melalui pariwisatanya. Dalam hal ekonomi beberapa pedagang makanan di sepanjang Pantai Dumaring mendapatkan peningkatan keuntungan sebesar 40-45% dan setiap warga yang menyiapkan makanan tradisional akan mendapatkan bayaran sebesar 200-300 ribu. Dalam hal pariwisata Pesta Adat Tradisi Buang Na’as ini telah menjadi salah satu sasaran strategis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengembangkan potensi seni budaya dan sejarah purbakala karena di tahun 2018 mengalami kenaikan sebesar 136% kunjungan wisatawan di Kabupaten Berau.
Bentuk-Bentuk Komodifikasi pada Tradisi Buang Na’as
1. Komodifikasi terhadap isi budaya (perayaan prosesi simbolik, penentuan waktu, alat dan bahan) terjadi karena pengaruh modernisasi yang menyebabkan perayaan dikomodifikasi untuk menarik wisatawan luar dan asing karena ritual-ritual adatnya bergeser menjadi produk wisata.
Perayaan tradisi yang awalnya hanya sebagai ritual adat sebagai bentuk rasa syukur karena telah diberikan kesehatan dan doa permohonan agar dilindungi dari malapetaka bergeser menjadi produk wisata yang meningkatkan bidang ekonomi pedagang dan masyarakat serta menjadi salah satu sasaran dinas kebudayaan sebagai pengembangan potensi seni budaya dan sejarah purbakala.
2. Komodifikasi terhadap audiens atau khalayak, audiens yang merupakan masyarakat Kampung Talisayan yang mempercayai dan meyakini tradisi sekarang bertambah menjadi para wisatawan luar daerah dan asing yang tertarik ikut langsung mengikuti tradisi turun temurun ini.
3. Komodifikasi terhadap pekerja, sebelum dikomodifikasi salah satu ritual adat yaitu mandi safar dilakukan oleh seluruh masyarakat berubah menjadi mandi linjuang untuk anak-anak berusia 6-9 tahun karena masih dianggap suci dan rentan terhadap berbagai musibah dan penyakit.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Pada tahun 2006 tradisi turun temurun Buang Na’as mengalami komodifikasi karena tingginya angka transmigran yang masuk ke daerah Talisayan sehingga masyarakat berinisiatif untuk merubah dan mengkomodifikasi tradisi tersebut agar tidak punah dan dikenal oleh para transmigran yang masuk sehingga terus dilestarikan
2. Karena pengaruh modernisasi ada 3 bentuk komodifikasi yang terjadi dalam Tradisi Buang Na’as di Kampung Talisayan yaitu:
a. Komodifikasi terhadap isi budaya (perayaan, proses simbolik, waktu, alat dan bahan). Ritual tradisi yang awalnya merupakan doa permohonan dan bentuk rasa syukur karena telah diberikan kesehatan dan rezeki bergeser menjadi produk wisata yang dikomodifikasi dengan bentuk perayaan Pesta Adat, Festival Budaya, Ekspo/Pameran yang dapat meningkatkan bidang ekonomi di Kampung Talisayan b. Komodifikasi terhadap khalayak/audiens terhadap tujuan dan makna
tradisi, yang awalnya hanya masyarakat di Kampung Talisayan saja bertambah menjadi wisatawan luar daerah maupun asing.
c. Komodifikasi terhadap pekerja, yang awalnya hanya masyarakat di Kampung Talisayan berubah menjadi memandikan anak-anak saja.
Selain itu pekerja atau pelaksananya yang dahulu hanya tokoh adat sekarang bekerja sama dengan pihak pemerintahan daerah Kabupaten Berau.
3. Mengurangi nilai-nilai kepercayaan pada perayaan Tradisi Buang Na’as menjadi pemanfaatan di bidang ekonomi dan pariwisata.
a. Pada bidang ekonomi, pedagang mendapatkan peningkatan keuntungan sebesar 40-45% setiap ada perayaan tradisi ini.
b. Pada bidang pariwisata, tradisi ini menjadi salah satu sasaran strategis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengembangkan potensi seni budaya dan sejarah purbakala karena di tahun 2018 mengalami kenaikan sebesar 136% kunjungan wisatawan di Kabupaten Berau.
Saran
Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa perubahan-perubahan pada perayaan pelaksanaan Tradisi Buang Na’as dilakukan karena memang masyarakat dan kebudayaan itu selalu berkembang serta kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan eksistensi Kampung Talisayan yang dikenal melalui Pesta Adat Tradisi Buang Na’as oleh masyarakat luar daerah dan asing.
Beberapa hal yang disarankan kepada pihak pemerintah dan masyarakat yaitu:
1. Untuk pemerintah daerah yang bekerja sama terhadap penyelenggara pariwisata seperti pemerintah (dinas kebudayaan dan pariwisata) untuk memberikan pembinaan dan sosialisasi terhadap masyarakat agar penyelenggaraan tradisi melalui pesta adat ini lebih cerdas dan inovatif
agar pengembangan pariwisata, kesenian daerah dan pelestarian tradisi tercapai dengan baik.
2. Untuk masyarakat dalam melakukan perubahan dan komodifikasi kebudayaan harus sangat memperhatikan kebutuhan dan keadaan sehingga memiliki tujuan dan manfaat yang akan dicapai untuk daerah Talisayan.
Daftar Pustaka
Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication. Sage Publication. Rianto, Puji.
Asnawati Matondang. 2019. Dampak Modernisasi Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat. Universitas Islam Sumatera.
Aulia Rahman, Reni Nuryanti. 2018. Perubahan Kebudayaan Surakarta dan Yogyakarta: Analisa Paradigma Evolusi Kebudayaan. Jurnal Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan
Bachtiar Alam. Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan. Universitas Indonesia.
Hanifah Gunawan, Karim Suryadi, Elly Malihah. Analisis Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Desa Cihideung sebagai Desa Wisata. Dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi.
Ika Pratiwi, Pendais Hak. 2017. Tradisi Karia Pada Masyarakat Muna di Kecamatan Wakorumba Selatan Kabupaten Muna. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah
Nurdinah Muhammad. Memahami Konsep Sakral dan Profan dalam Agama- Agama. Fakultas IAIN Ar Raniry Darussalam, Banda Aceh.