TIDAK DIBAYARNYA UANG PENGGANTI OLEH TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI DI
PENGADILAN TIPIKOR KUPANG
Oleh :
Sepriyanto Thobias Tuka1 Abstract
Corruption is an extraordinary crime for causing losses to the state and violate the rights of social and economic communities. The model used is also increasingly diverse and sophisticated. Corruption has resulted in poverty so that the perpetrators of corruption should be subject to punishment for compensation. Due to the corruption that occurred during this time in addition to harming the country also hamper the continuity of national development. The criminal purpose is for the payment of compensation by weighing possible to convict the criminals that they are a deterrent as well in order to restore the state’s financial loss due to an act of corruption (refer to Article 18 of Law No. 31 of 1999). The main problem raised in this study is why the failure to apply for compensation to the criminal defendant corruption. The purpose of this study was to determine the cause of the failure to apply for compensation to the criminal defendant corruption. To collect the data required in this study conducted interviews/questionnaires containing gives a list of questions studied in accordance with aspects along with literature. The data obtained in the study processed and analyzed by descriptive qualitative, solving will contain data and documents related to this study. The results of this study are: the judge in his decision not to impose criminal defendant payment of compensation to the corruption because the judges weigh under Article 18 of Law No. 31 of 1999 and one by one element in the provision of primary charges that elements of any person, element unlawfully, the element acts to enrich themselves or someone else or a corporation, or a state financial harm element of the country’s economy, the provisions of Article 55 paragraph (1) to-1 of the Criminal Code and the provisions of Article 64 paragraph (1) of the Criminal Code.
Keywords: Money Substitutes, State Finance, Corruption.
Abstrak
Korups merupakan kejahatan luar basa karena menyebabkan terjadnya kerugan negara dan melanggar hak-hak sosal dan ekonom masyarakat. Modus yang dgunakan juga semakn beragam dan canggh. Korups telah mengakbatkan kemsknan sehngga pelaku korups harus dkenakan pdana pembayaran uang penggant. Akbat tndak pdana korups yang terjad selama n selan merugkan negara juga menghambat kelangsungan pembangunan nasonal. Tujuan pdana pembayaran uang penggant adalah untuk memdana dengan seberat mungkn para koruptor agar mereka jera serta dalam rangka mengembalkan keuangan
1 Program Stud Magster (S2) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Unverstas Udayana, Denpasar, Bal.
e-mal : [email protected].d.
negara yang melayang akbat suatu perbuatan korups (menunjuk pada Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999). Permasalahan pokok yang dangkat pada peneltan n adalah mengapa tdak dterapkannya pdana pembayaran uang penggant kepada terdakwa tndak pdana korups. Adapun tujuan dar
peneltan n adalah untuk mengetahu penyebab tdak dterapkannya pdana pembayaran uang penggant kepada terdakwa tndak pdana korups. Untuk mengumpulkan data yang dbutuhkan dalam peneltan n dlakukan wawancara / memberkan kuesoner yang bers daftar pertanyaan sesua dengan aspek yang dtelt beserta stud pustaka. Data yang dperoleh dalam peneltan dolah kemudan danalss secara deskrptf kualtatf, pemecahan akan bers data dan dokumen yang berkatan dengan peneltan n. Hasl dar peneltan n
antara lan : hakm dalam putusannya tdak menjatuhkan pdana pembayaran uang penggant kepada terdakwa tndak pdana korups karena majels hakm menmbang berdasarkan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 satu per satu unsur dan ketentuan dalam dakwaan prmer yatu unsur setap orang, unsur secara melawan hukum, unsur melakukan perbuatan memperkaya dr
sendr atau orang lan atau suatu korporas, unsur merugkan keuangan negara atau perekonoman negara, ketentuan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan ketentuan Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Kata Kunc : Uang Pengganti, Keuangan Negara, Tindak Pidana Korupsi.
I. PENDAHULUAN
Korups merupakan kejahatan luar basa karena menyebabkan terjadnya kerugan negara dan melanggar hak-hak sosal dan ekonom
masyarakat. Modus yang dgunakan juga semakn beragam dan canggh.
Oleh karena tu dkeluarkan Undang- Undang No.30 Tahun 2002 yang menjad dasar pembentukan Koms
Pemberantasan Korups (KPK) untuk melakukan tugas pemberantasan korups d Indonesa. Pemberantasan korups tdak dapat dlakukan oleh KPK dan penegak hukum saja, tetap juga memerlukan snerg dan kesamaan perseps dar seluruh komponen bangsa. D sn, peran serta masyarakat memlk art pentng dalam strateg pemberantasan korups.
Pada kegatan yang sfatnya represf, masyarakat dapat langsung menjad
pelapor dugaan tndak pdana korups
terutama d brokras dan layanan publk sedangkan dar ss preventf, tndakan utama pemberantasan korups dapat dmula dar kesadaran dr masng-masng untuk mematuh
hukum dan menjauh tndakan koruptf. Masyarakat pada umumnya ant korups, namun pada realtanya serng kal melakukan tndakan yang koruptf atau dmanfaatkan oleh phak- phak tertentu menjad lahan korups.
Uang penggant sebaga pdana tambahan dalam perkara korups
harus dpaham sebaga bagan dar
upaya pemdanaan terhadap mereka yang melakukan tndak pdana korups. Korups telah mengakbatkan kemsknan sehngga pelaku korups
harus dkenakan pdana pembayaran uang penggant akbat tndak pdana korups yang terjad selama n selan
merugkan keuangan negara dan perekonoman negara juga menghambat kelangsungan pembangunan nasonal.
Tujuan pdana pembayaran uang penggant adalah untuk memdana dengan seberat mungkn para koruptor agar mereka jera serta dalam rangka mengendalkan keuangan Negara yang melayang akbat suatu perbuatan korups. Salah satu unsur dalam tndak pdana korups d dalam Pasal 2 dan 3 Undang- Undang No.31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No.20 Tahun 2001
alah adanya kerugan keuangan negara/perekonoman negara Konse- kuensnya, pemberantasan korups
tdak semata mata bertujuan agar koruptor djatuh pdana penjara saja, tetap harus juga dapat mengembalkan kerugan keuangan negara yang telah d korups. Pengembalan keuangan negara dharapkan mampu menutup
ketdakmampuan negara dalam membaya berbaga aspek yang sangat dbutuhkan.
Menunjuk pada Pasal 18 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 jka terpdana tdak membayar uang penggant dalam waktu sebulan setelah putusan hakm berkekuatan hukum tetap, harta bendanya dapat dsta jaksa dan dlelang untuk menutup
uang penggant. Jka terpdana tdak mempunya harta benda yang mencukup untuk membayar uang penggant maka dpdana penjara yang lamanya tdak melebh ancaman pdana pokok. Untuk solus terhadap masalah n pernah dusulkan agar d
mntakan fatwa Mahkamah Agung
yang tujuannya adalah agar ada payng hukum terhadap masalah n. Pada tahun 2012 dar data pada Pengadlan Tpkor Kupang dketahu telah terjad
42 kasus korups sedangkan pada tahun 2013 menngkat menjad 45 kasus.
Adapun penyebab Pengadlan Tpkor Kupang tdak menjatuhkan pdana pembayaran uang penggant kepada terdakwa tndak pdana korups antara lan :
a. Pengadlan berpatokan pada Undang-Undang terutama unsur pasal yang ddakwakan kepada terdakwa.
b. Terdakwa telah mengembalkan uang kerugan mlk Negara.
c. Terdakwa tdak menkmat
kerugan negara.
Kegagalan dalam pemberantasan tndak pdana korups adalah kegagalan dalam penegakan hukum.
Efektftas dalam penegakan hukum ada dua hal yang sangat pentng untuk dperhatkan yatu pertama faktor hukumnya dan yang kedua yatu faktor penegak hukumnya. Kedua faktor n
yang menentukan efektftas dalam pemberantasan tndak pdana korups.
Berdasarkan uraan d atas, penuls dalam hal n membuat rumusan permasalahan adalah pertama mengapa tdak dterapkannya pdana pembayaran uang penggant kepada terdakwa tndak pdana korups. Kedua bagamana bentuk sanks pdana yang dterapkan pada terdakwa tndak pdana korups yang tdak membayar uang penggant.
Orsnaltas peneltan berda- sarkan nformas yang ada dan dar penelusuran yang dlakukan d perpustakaan Unverstas, maka peneltan dengan judul Tdak Dbayarnya Uang Penggant Oleh Terdakwa Tndak Pdana Korups
d Pengadlan TIPIKOR Kupang.
Namun kajannya belum komprehensf membahas pengaturan serta mekansme tentang pembayaran uang penggant oleh terpdana tndak pdana korups. Peneltan n dharapkan berguna memberkan sumbangsh pemkran dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tndak pdana korups d Indonesa ke depannya, dantaranya sebaga berkut pertama judul peneltan Efektvtas Pdana Pembayaran Uang Penggant Dalam Tndak Pdana Korups (Stud Putusan Tndak Pdana Korups d Pengadlan Neger Purwokerto) oleh Ade Paul Lukas2. Kedua penelitian oleh I Ketut Rai Setiabudhi berjudul Vons Sanks
Pdana Tambahan oleh Hakm Berupa Pengembalan Kerugan Keuangan Negara oleh Terpdana Tndak Pdana Korups d Pengadlan Neger
Denpasar3
2 Lukas, A. P. (2010). Efektvtas Pdana Pembayaran Uang Penggant Dalam Tndak Pdana Korups (Stud Putusan Tndak Pdana Korups d Pengadlan Neger Purwokerto).
Jurnal Dinamika Hukum, 10(2). do:
10.20884/1.jdh.2010.10.2.142
3 Setabudh, I. (2014). Vons Sanks Pdana Tambahan Oleh Hakm Berupa Pengembalan Kerugan Keuangan Negara Oleh Terpdana Tndak Pdana Korups D Pengadlan Neger Denpasar. Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal), 3(2). do:10.24843/JMHU.2014.v03.02.p05
Aspek kebaruan peneltan penuls adalah bahwa aparat yang melakukan tugas dalam tndak pdana korups d
sn adalah bertumpu pada peran dan kedudukan Koms Pemberantasan Korups (KPK) sebaga lembaga
ndependen yang memlk fungs, tugas, dan kewenangan khusus d
bdang korups yang berkatan dengan uang penggant. Pengaturan tentang tata cara pembayaran uang penggant
korelasnya dalam Peraturan pdana d Indonesa belum tampak bak dalam KUHAP, Undang-Undang tentang pemberantasan korups dalam pencegahan dan pemberantasan korups hal tersebut penuls sajkan pada rumusan masalah pertama.
Pada rumusan masalah kedua tersrat mater yang akan dbahas dkaj terkat dasar pertmbangan pembayaran uang penggant d masa yang akan datang dalam penyelesaan perkara tndak pdana korups.
Penelt atau penuls-penuls sebelumnya tentang pembayaran uang penggant dalam tndak pdana korups
belum tampak memunculkan tndakan KPK dalam melakukan tndakan perampasan aset (penytaan) koruptor dengan mengatkan adanya sangkaan terpdana dengan tndak pdana pembayaran uang penggant dalam kasus pdana korups.
Adapun tujuan dar pembahasan dalam peneltan n dapat durakan dar
tujuan umum (het doel van onderzoek) dalam peneltan n adalah pertama
sebaga sarana pengembangan lmu hukum (rechtsbeofening) secara umum
lmu hukum pdana pada khususnya, yatu tentang tndak pdana atau delk- delk yang tersebar d luar KUHP, yang dantaranya adalah tndak pdana korups. Kedua membuka wawasan penuls akan pemahaman lebh luas tentang tndak pdana korups dalam konsep kebjakan penegakan hukum khususnya yang berkatan dengan
de-de pemkran bag pembaruan kebjakan pdana dalam ketentuan tndak pdana korups d masa yang akan datang.
Sedangkan yang menjad tujuan khusus (het doel in onderzoek) dalam penulsan n adalah untuk mengetahu
bagamana kebjakan penegak hukum dalam tndak pdana korups
d Indonesa dalam perspektf yang berlaku sekarang (ius constitutum) dan untuk mengetahu bagamana kebjakan penegak hukum dalam art formulas
terhadap tndak pdana korups dalam perspektf, tndak pdana korups yang akan datang (ius constituendum).
II. METODE PENELITIAN Karya lmah n menggunakan metode peneltan normatf yatu peneltan mengena subtans hukum yang terdr dar kadah asas-asas hukum, doktrn dan peraturan Perundang-Undangan sedangkan yang dmaksud dengan peneltan emprs adalah peneltan mengena struktur dan budaya hukum.4 Dalam peneltan
4 Mukt Fajar dan Yulanto Achmad, 2010 Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan
n, konsep-konsep yang berkatan dengan permasalahan yang dtelt, yang berupa perundang-undangan dan doktrn-doktrn yang berkembang d
bdang hukum tndak pdana akan dkaj
dengan menggunakan pendekatan konsep (conceptual approach).
Adapun sumber data yang dgunakan untuk mendukung penulsan karya lmah n ddapat dar
dua sumber yatu Sumber Data Prmer:
Bahan hukum prmer yakn bahan hukum yang terdr dar aturan hukum yang dsusun berdasarkan herark.
Adapun bahan hukum prmer yang dgunakan yatu : perundang-undangan dan peraturan-peraturan lan dalam bdang korups yang terkat dengan permasalahan. Sumber Data Sekunder:
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang dperoleh melalu lteratur jurnal, pendapat parah ahl, kasus hukum serta yang dgunakan oleh para pakar terkat dengan permasalahan n.
Bahan hukum terser: Bahan hukum terser adalah bahan hukum yang memberkan petunjuk atau pejelasan bermakna terhadap bahan hukum prmer dan bahan hukum sekunder sepert kamus hukum, enskloped dan lan-lan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Korups merupakan gejala masyarakat yang dapat djumpa
dmana saja. Sejarah membuktkan bahwa hmpr setap Negara dhadapkan
Empiris, pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm.
28.
dengan masalah korups sehngga pengertan korups selalu berkembang dan berubah sesua dengan zaman.
Istlah korups berasal dar bahasa latn
“corruptus” yang berart kerusakan atau kebobrokan. Istlah korups dar
beberapa Negara, dpaka juga untuk menunjukkan keadaan dan perbuatan yang busuk. Korups banyak dkatkan dengan ketdak jujuran seseorang d bdang keuangan.5 kerugan yang dapat dbebankan kepada terpdana adalah kerugan negara yang besarnya nyata dan past jumlahnya sebaga
akbat perbuatan melawan hukum bak sengaja atau lala yang dlakukan oleh terpdana.
Pasal 18 Undang-Undang RI No.
20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tndak Pdana Korups berbuny
sebaga berkut :
1. Selan pdana tambahan sebagamana dmaksud dalam Ktab Undang-Undang Hukum Pdana, sebaga pdana tambahan:
a. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tdak berwujud atau barang tdak bergerak yang dgunakan untuk atau yang dperoleh dar tndak pdana korups, termasuk perusahaan mlk terpdana dmana tndak pdana korups dlakukan, begtu
5 Martman. Prodjohamodjojo. Penerapan Pembuktian Terbalik Dalam Delik Korupsi UU NO. 22 Tahun2001, CV Maudar Maju Bandung. hlm. 6.
pula harga dar barang yang menggantkan barang- barang tersebut;
b. Pembayaran uang penggant
yang jumlahnya sebanyak- banyaknya sama dengan harta benda yang dperoleh dar tndak pdana korups;
c. Penutup seluruhnya atau sebagan palng lama I (satu) tahun.
d. Pencabutan seluruh atau sebagan hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagan keuntungan tertentu, yang telah atau dapat dberkan oleh pemerntah kepada terpdana.
2. Jka terpdana tdak membayar uang penggant sebagamana dmaksud dalam ayat (1) huruf b palng lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadlan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat dsta oleh jaksa dan dlelang untuk menutup
uang penggant tersebut. Dalam hal terpdana tdak mempunya
harta benda mencukup untuk membayar uang penggant
sebagamana yang dmaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dpdana dengan pdana penjara yang lamanya tdak melebh
ancaman maksmum dar
pdana pokoknya sesua dengan ketentuan dar Undang-Undang
n dan lamanya pdana tersebut sudah dtentukan dalam putusan pengadlan.
Salah satu cara untuk mengembalkan kerugan negara yang hlang tersebut adalah dengan memberkan pdana tambahan berupa pembayaran uang penggant. Upaya
n telah memberkan hasl yatu berupa pemasukan ke kas negara dar
hasl pembayaran uang penggant
dar beberapa terpdana yang telah dtetapkan jumlah pembayaran uang penggantnya. Uang penggant sebaga
pdana tambahan dalam perkara korups
harus dpaham sebaga bagan dar
upaya pemdanaan terhadap mereka yang melanggar hukum. Dalam hal n
hukum yang dlanggar adalah tndak pdana korups. Untuk memaham
lebh lanjut tentang masalah n ada baknya mengngat kembal konsep pemdanaan secara lebh lengkap.
Jens-jens pemdanaan tercantum d
dalam Pasal 10 KUHAP. Jens-jens
n berlaku bag delk yang tercantum dluar KUHP, kecual ketentuan undang-undang tu menympang (pasal 103). Jens-jens pemdanaan
n dbedakan antara pdana pokok dan pdana tambahan. Pada prnspnya pdana tambahan tu hanya djatuhkan jka pdana pokoknya djatuhkan.
Jens-jens pemdanaan tu adalah sebaga berkut :
a. Pdana pokok melput : pdana mat, pdana penjara, pdana kurungan, pdana denda, dan pdana tutupan.
b. Pdana tambahan melput : pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang tertentu, dan pengumuman putusan hakm.
Sanks pdana yang datur dalam UU Pemberantasan Tndak Pdana Korups yatu : pdana mat, bak berdasarkan pasal 69 KUHP, UU PTPK maupun berdasarkan hak tertngg manusa. Pdana mat adalah pdana terberat karena pelaksanaannya berupa penyerangan terhadap hak hdup manusa yang merupakan hak asas manusa yang utama. Selan tu, tdak dapat dkoreks atau dperbak
eksekus yang telah terjad apabla d
kemudan har dtemukan kekelruan.
Untuk tu hanya perbuatan pdana yang benar-benar berat yang dancam oleh pdana mat. Pada setap pasal yang mencantumkan pdana mat
selalu dserta alternatf pdana lannya sehngga hakm tdak serta merta past
menjatuhkan hukuman mat kepada pelanggar pasal yang dancam pdana mat. Msalnya pdana mat atau penjara seumur hdup atau pdana sementara palng lama 20 tahun sebagamana tercantum dalam pasal 340 KUHP.
Prnsp n juga dkut undang-undang lan termasuk undang-undang PTPK.
Hukum pdana korups merupakan salah satu pdana khusus. Pdana khusus yatu pdana yang pengaturannya secara khusus dtujukan kepada golongan tertentu (sepert mlter) atau suatu tndakan tertentu (sepert tndak pdana korups). Prnsp pemberlakuan nya adalah hukum pdana khusus lebh
dutamakan dar pdana umum. Sesua
asas umum hukum yatu lexgeneralis yang juga datur dalam KUHP pada pasal 63 ayat (2).
Sebelum mencar tahu apa saja yang melatarbelakang pembayaran uang penggant korups, terlebh dahulu harus dketahu alasan korups
djadkan suatu tndak pdana. Hal
n sangat pentng terutama dalam mencar keterkatan antara perbuatan yang djadkan tndak pdana dengan sanks apa yang sebaknya dgunakan.
Sehubungan dengan hal tersebut Sudarto mengungkapkan bahwa
“Perbuatan yang dusahakan untuk dcegah dan dtanggulang dengan hukum pdana harus merupakan perbuatan yang dkehendak yatu perbuatan yang mendatangkan kerugan (materl dan sprtual) atas warga masyarakat. Hal n dlakukan untuk kesejahteraan dan pengayoman masyarakat yang harus sejalan pula dengan tujuan pembangunan nasonal yatu mewujudkan masyarakat adl dan makmur”.6 Terlhat bahwa korups telah mengakbatkan pelaku memperoleh keuntungan fnansal dan sebalknya negara sebaga korban menderta kerugan fnansal. Pada pokoknya korups telah mengakbatkan kemsknan, sehngga pelaku korups
harus dkenakan pdana tambahan berupa pembayaran uang penggant.
Pdana pembayaran uang penggant, termasuk pdana tambahan yang tercantum dalam pasal 18 ayat (1)
6 Ef Lala Khols. Op – cit. hlm. 13.
UU PTPK. Pdana tambahan memlk
beberapa perbedaan dengan pdana pokok yatu :
1. Penjatuhan salah satu jens pdana pokok adalah suatu keharusan atau mperatf. Sedangkan penjatuhan pdana tambahan bersfat fakultatf. Apabla dalam satu persdangan terbukt bahwa terdakwa bersalah secara sah dan meyaknkan maka hakm harus menjatuhkan salah satu pdana pokok sesua jens dan batas maksmum dar rumusan tndak pdana yang dlanggar tersebut.
Sfat mperatf dapat dlhat pada rumusan tndak pdana, dmana terdapat 2 kemungknan yatu dancamkan salah satu pdana pokok sehngga hakm mau tdak mau harus menjatuhkan pdana sesua rumusan tersebut atau dapat juga tndak pdana yang dancam oleh 2 atau lebh jens pdana pokok sehngga hakm dapat memlh salah satu saja. Msalnya pada pasal 2 ayat (2) UU PTPK memlh jens pdana seumur hdup atau selama waktu tertentu antara 4 tahun hngga 20 tahun. Pada pdana tambahan hakm boleh menjatuhkan atau tdak pdana tambahan yang dancamkan terhadap s pelanggar msalnya, hakm dapat menjatuhkan salah satu pdana tambahan pada pasal 18 ayat(1) UU PTPK dalam hal terbukt melanggar pasal 3 UU
PTPK. Walaupun prnspnya penjatuhan pdana tambahan adalah fakultatf tetap terdapat beberapa pengecualan msalnya pasal 250 bs KUHP.
2. Penjatuhan jens pdana pokok harus bersamaan dengan pdana tambahan (berdr sendr) sedangkan penjatuhan pdana tambahan harus bersamaan dengan pdana pokok.
3. Jens pdana pokok yang djatuhkan, bla telah mempunya kekuatan hukum tetap dperlukan pelaksanaan (executie) sedangkan pdana tambahan tdak. Pada pdana pokok dperlukan eksekus
terhadap pencapaan pdana tersebut kecual pdana pokok dengan bersyarat (pasal 14a) dan syarat yang dtentukan tu tdak dlanggar. Pada pdana tambahan msalnya pdana putusan hakm.
4. Pdana pokok tdak dapat djatuhkan kumulatf sedangkan pdana tambahan dapat dlakukan.
Akan tetap dapat dsmpang
pada beberapa undang-undang termasuk UU PTPK.
Defns pdana pembayaran uang penggant dapat dtark dar pasal 18 ayat 1 huruf b Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 yatu : “Uang penggant yang jumlahnya sebanyak- banyaknya sama dengan harta benda yang dperoleh dar tndak pdana korups.” Untuk dapat menentukan dan membuktkan berapa sebenarnya
jumlah harta benda yang dperoleh dar
terpdana dar tndak pdana korups
jangan hanya dtafsrkan harta benda yang mash dkuasa oleh terpdana pada saat jatuhnya putusan pengadlan tetap juga harta benda hasl korups
yang pada waktu pembacaan putusan sudah dalhkan terdakwa kepada orang lan. Pada prakteknya, putusan pdana pembayaran uang penggant
bervaras besarannya yang dapat dsebabkan beberapa faktor antara lan sepert hakm memlk perhtungan sendr sebagan hasl korups sudah dkembalkan atau tndak pdana korups dlakukan oleh lebh dar 1 orang sehngga pdana pembayaran uang penggant dbebankan bersama- sama. Kendala dalam penjatuhan pembayaran uang penggant dalam rangka penyelesaan keuangan negara pernah dungkap oleh Ramelan adalah:
1. Kasus korups dapat dungkap setelah berjalan dalam kurun waktu yang lama sehngga sult untuk menelusur uang atau hasl kekayaan yang dperoleh dar
hasl korups.
2. Dengan berbaga upaya pelaku korups telah menghabskan uang hasl korups atau mempergunakan / mengalhkan dalam bentuk lan termasuk mengatasnamakan nama orang lan yang sult terjangkau hukum.
3. Dalam pembayaran pdana uang penggant, s terpdana banyak
yang tdak sanggup membayar.
4. Dasarnya phak ke-3 yang menggugat pemerntah atas barang bukt yang dsta dalam rangka pemenuhan pembayaran uang penggant.
Masalah penetapan sanks pdana dan tndakan pada tahap kebjakan legslas, perumusan ketentuan sanksnya banyak dpengaruh oleh konsep atau rancangan undang- undang yang dajukan ke legslatf.
Menurut Barda nawaw Aref,
“Strateg kebjakan pemdanaan dalam kejahatan-kejahatan yang berdmens
baru harus memperhatkan hakekat permasalahannya. Bla hakekat permasalahannya lebh dekat dengan masalah-masalah d bdang hukum, perekonoman dan perdagangan, maka lebh dutamakan penggunaan pdana denda atau semacamnya”.
Penetapan sanks hukum pdana seharusnya dlakukan melalu
pendekatan rasonal. Bla berdasar pada konsep rasonal n maka, kebjakan Penetapan sanks hukum pdana seharusnya dlakukan melalu
pendekatan rasonal. Bla berdasar pada konsep rasonal n maka, kebjakan penetapan sanks dalam pdana tdak terlepas dar penetapan tujuan yang ngn dcapa oleh kebjakan krmnal secara keseluruhan, yakn
perlndungan masyarakat. Dsebabkan pdana sebaga sarana untuk mencapa
tujuan tu, maka haruslah drumuskan terlebh dahulu tujuan pemdanaan yang dharapkan dapat menunjang
tujuan umum tersebut. Kemudan, berorentas dar tujuan tu untuk menetapkan cara, saran atau tndakan apa yang dlakukan. Tujuan adanya pdana uang penggant adalah untuk memdana seberat mungkn para koruptor agar mereka jera dan untuk menakut mereka yang melakukan tndak pdana korups. Sudah jelas bahwa korups mengakbatkan pelaku memperoleh keuntungan fnansal dan sebalknya negara menderta kerugan secara fnansal .
akbat kerugan yang d tanggung negara pada akhrnya berdampak pada berbaga hal. bahkan korups telah mengakbatkan kemsknan, sehngga pelaku korups harus d kenakan pdana pembayaran uang penggant. Akbat tndak pdana korups yang terjad
selama n selan merugkan keuangan negara dan perekonoman nagara juga menghambat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasonal yang menuntut efsens tngg. Pdana pembayaran uang penggant memlk
beberapa tujuan mula. Akan tetap
kontras dengan beban mula yang dembannya, ternyata pengaturan mengena pdana uang penggant
justru tdak jelas. Bak Undang- Undang No. 3 Tahun 1971 yang hanya mengatur mengena uang penggant
dalam satu pasal yakn pasal 43 huruf c maupun undang-undang penggantnya Undang-Undang No.31 Tahun 1999 serta perubahannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 pada pasal 18 mnmnya pengaturan mengena uang
penggant mengakbatkan munculnya berbaga permasalahan. Salah satunya adalah dalam menentukan berapa jumlah pdana uang penggant yang dapat dkenakan kepada terdakwa.
Memang ada kesan akan menmbulkan ketdakadlan bag
terdakwa karena harta bendanya yang dperoleh dar korups belum tentu sama banyak dengan kerugan negara yang tmbul. Apalag dalam hal terjad penyertaan, akan sangat membngungkan berapa harta masng- masng terdakwa yang dperoleh dar korups. “Apabla terdakwa atau terpdana membayar uang penggant, maka jumlah uang penggant
yang dbayarkan tersebut akan dperhtungkan dengan lamanya pdana tambahan berupa pdana penjara sebga
penggant dar kewajban membayar uang penggant”.
1. Terhadap kewajban pembayaran uang penggant yang terdakwa nya lebh dar 1 orang supaya d
dalam amar tuntutan dsebutkan secara jelas dan past jumlah kepada masng-masng terdakwa dan tdak boleh dsebutkan secara tanggung renteng karena tdak akan memberkan kepastan hukum dan menmbulkan kesultan dalam eksekus.
Kesultan eksekus yang terjad
bak menyangkut jumlah uang penggant yang harus dbayar oleh masng-masng terdakwa / terpdana maupun terhadap terpdana yang tdak membayar
(atau membayar sebagan) uang penggant sehngga harus menjalan hukuman badan sebaga penggant dar kewajban membayar uang penggant
tersebut.
2. Apabla tdak dketahu secara past jumlah yang dperoleh dar tndak pdana korups oleh masng-masng terdakwa / terpdana, maka salah satu cara yang dapat dpedoman untuk menentukan besarnya uang penggant yang akan dgunakan kepada masng-masng terpdana / terdakwa adalah menggunakan kualfkas turut serta pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHAP.
Untuk pelaksanaan petunjuk penentuan besaran uang penggant
supaya dlaksanakan secara tertb dengan admnstras yang dapat dpertanggung jawabkan dserta
bukt-bukt yang akurat yang dapat dpergunakan sebaga bahan pelaporan hasl penyelamatan kerugan keuangan negara oleh kejaksaan agung. Proses pelaksanaan putusan pengadlan secara umum datur dalam Bab XIX KUHAP.
Eksekus hanya bsa dlakukan dalam hal putusan telah berkekuatan hukum tetap. Eksekus dlakukan oleh jaksa sebagamana datur dalam pasal 1 butr 6 jo pasal 270 KUHAP jo pasal 30 ayat (1) huruf b undang-undang kejaksaan. Pdana pembayaran uang penggant tdak datur dalam KUHAP, yang mana pdana n merupakan salah satu kekhususan PTPK. Dalam hal
hakm menjatuhkan pdana tambahan berupa pembayaran uang penggant
maka terpdana dber tenggang waktu sebulan sesudah putusan pengadlan berkekuatan hukum tetap untuk melunas nya. Jka dalam waktu yang dtentukan tersebut telah habs maka jaksa sebaga eksekutor negara dapat menyta dan melelang barang benda terdakwa (pasal 18 ayat(2) UU PTPK).
Jaksa tdak dapat memperpanjang batas waktu terpdana untuk membayar uang penggant sepert pdana denda yang datur pada pasal 273 (2) KUHAP. Pdana pembayaran uang penggant dan pdana denda memlk
sfat yang berbeda hal n dapat dlhat bahwasanya pdana uang penggant
merupakan pdana tambahan sedangkan pdana denda merupakan pdana pokok. Menurut Wryono, walaupun jaksa tdak dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran tetap
mengngat buny pasal 18 ayat (2) UU PTPK maka jaksa mash dapat menentukan tahap-tahap pembayaran uang penggant, tetap tetap tdak melebh 1 bulan tersebut. Mater
pasal 18 ayat (2) UU PTPK djumpa
kata “...harta bendanya dapat dsta dan dlelang...” harta benda yang dmaksud d sn mlk terdakwa dgunakan maka harta tersebut drampas dengan menggunakan pdana perampasan sesua pasal 18 ayat (1) huruf b UU PTPK karena pdana yang djatuhkan berbeda.
Dalam hal melakukan penytaan terhadap harta benda terdakwa hendaknya mengkut tata cara penytaan yang datur dalam penerapan eksekus pembayaran uang penggant
menurut fatwa Mahkamah Agung RI No. 37 / T4 / 88 / 66 / Pd tanggal 12 Januar 1988 yang antara lan :
1. Barang-barang terpdana yang mash ada dsta untuk kemudan djual secara lelang guna memenuh kewajban pdana pembayaran uang penggant;
2. Penytaan hendaknya dkecualkan atas barang-barang yang dapaka sebaga penyangga mencar nafkah terpdana dan keluarganya,
3. Penytaan hendaknya menghn- dar kesalahan penytaan terhadap barang bukan mlk terpdana agar jangan sampa
terjad perlawanan dar phak ketga.
Pasal 18 ayat (3) UU PTPK dtentukan dalam hal terpdana tdak mempunya harta benda yang mencukup untuk membayar uang penggant dalam tenggang waktu yang dtentukan ayat (2) maka terpdana dpdana penjara yang lamanya tdak melebh ancaman maksmal pdana pokoknya dan pdana tersebut sudah dcantumkan dalam putusan. Pdana subsder penjara dalam pasal tersebut terlhat terdapat 3 syarat :
1. Pdana subsder baru berlaku dalam hal terpdana tdak mempunya harta benda yang
mencukup untuk membayar uang penggant.
2. Lamanya pdana penjara penggant tdak melebh
ancaman pdana maksmum dar
pasal UU PTPK yang dlanggar terdakwa.
3. Lamanya pdana penjara penggant telah dtentukan dalam putusan pengadlan. Dengan adanya ketentuan tersebut maka juga menjad kewajban hakm dalam putusan untuk mencantumkan pdana penggant
n menghndar apabla uang penggant tdak dapat dbayar seluruh atau sebagan.
Tmbulnya pertanyaan, adlkah apabla terdakwa hanya mampu membayar sebagan uang penggant
(yang mana hal n sudah termasuk penytaan dan pelelangan harta benda), karena ketdakmampuannya membayar setengah lag da harus melaksanakan pdana penjara subsder seluruhnya. Sepert pada kasus seorang terpdana korups dkena putusan membayar uang penggant kerugan sebesar Rp. 1 mlar subsder 1 tahun.
Namun s terpdana hanya mampu melunas Rp. 900 juta, sedangkan Rp.100 juta ssanya tdak dapat dtagh karena terpdana tdak mempunya
uang lag dan tdak punya harta untuk dsta. Adlkah bla terpdana tu harus menjalan hukuman badan 1 tahun karena sudah membayar Rp. 900 juta?
Dalam kasus sepert n mestnya dapat menggunakan perhtungan konvers
lamanya pdana penjara dengan uang
penggant terpdana korups yang mash layak dlakukan. Dengan demkan, jka seorang terpdana korups hanya mampu membayar setengah uang penggant dapat d konverskan menjad
setengah pdana penjara subsder yang mest dtanggung.
Pdana tambahan berupa pembayaran uang penggant merupakan kebjakan krmnal yang tdak terlepas dar kebjakan yang lebh luas, yatu kebjakan sosal (social policy) yang terdr dar kebjakan untuk mencapa kesejahteraan masyarakat (social walfare) dan kebjakan untuk perlndungan masyarakat (social defence).Oleh karena tu pdana tambahan pembayaran uang penggant harus dapat dtark dar
terpdana korups agar tercapanya kesejahteraan masyarakat. Pdana tambahan pembayaran uang penggant
dar Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 yang telah dtambah dan drubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tndak pdana korups merupakan tujuan dalam rangka menyelamatkan kekayaan / keuangan negara yang telah dambl oleh pelaku korups juga untuk menghukum seberat-beratnya pelaku korups.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan uraan-uran tersebut datas maka dapat dtark kesmpulan sebaga berkut pertama hakm dalam menjatuhkan amar putusan tdak menjatuhkan putusan pdana pembayaran uang penggant
kepada terdakwa dsebabkan karena majels hakm mempertmbangkan satu per satu unsur dan ketentuan dalam dakwaan prmer menurut pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yatu unsur setap orang, unsur secara melawan hukum, unsur melakukan perbuatan memperkaya dr sendr atau orang lan atau suatu korporas, unsur merugkan keuangan negara atau perekonoman negara, ketentuan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan ketentuan Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Kedua Alasan terdakwa tndak pdana korups tdak mau mengembalkan keuangan negara dalam hal n
membayar uang penggant kepada negara antara lan : terdakwa tdak menkmat keuangan negara, harta kekayaan terdakwa tdak mencukup
untuk menutup kerugan negara serta terdakwa telah terlebh dahulu mengembalkan keuangan negara.
DAFTAR PUSTAKA BUKU
Aref, B. N. (2007). Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan.
Kencana Prenada Meda Group.
Grsang Junver. Abuse Of Power, Penyalahgunaan Kekuasaan Aparat Penegak Hukum Dalam Penenganan Tindak Pidana Korupsi. J. G. Publshng
Chazaw, A. (2005). Hukum Pdana Materl dan Forml Korups d
Indonesa. Malang: Bayumedia Publishing.
Hamzah, A. (1986). Korupsi di Indonesia: masalah dan pemecahannya. Pb PT Grameda.
Kasaw Adam. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. Alumn Bandung 2008.
Lamntang, P. A. F. (1991). Delik-delik khusus kejahatan jabatan dan kejahatan-kejahatan jabatan tertentu sebagai tindak pidana korupsi. Ponr Jaya.
Marpaung, L. (2005). Asas-Teor- Praktk Hukum Pdana. Sinar Grafika, Jakarta.
Nawaw, A. B. (2001). Masalah Penegakan Hukum dan Kebjakan Penanggulangan Kejahatan. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Prodjohamdjojo, M. (2009).
Penerapan pembuktian terbalik dalam delik korupsi: UU No. 20 tahun 2001. Mandar Maju.
Tunggal Seta Had. (2013). Perundang- Undangan Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Korupsi.
Harvarndo Jakarta
Tunggal Seta Had. (2013). Undang- Undang RI No. 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Ctra Umbara, Bandung.
Tunggal Seta Had. (2013). Perundang- Undangan Keuangan Negara Terbaru, Harvarndo Jakarta.
Wryono R. Pembahasan Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Wyono, R. (2008).
Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Snar Grafka.
ARTIKEL JURNAL
Lukas, A. P. (2010). Efektvtas Pdana Pembayaran Uang Penggant
Dalam Tndak Pdana Korups
(Stud Putusan Tndak Pdana Korups d Pengadlan Neger
Purwokerto). Jurnal Dinamika Hukum, 10(2). do: 10.20884/1.
jdh.2010.10.2.142
Setabudh, I. (2014). Vons Sanks
Pdana Tambahan Oleh Hakm Berupa Pengembalan Kerugan Keuangan Negara Oleh Terpdana Tndak Pdana Korups D Pengadlan Neger
Denpasar. Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal), 3(2).
do:10.24843/JMHU.2014.v03.
02.p05.