31
Disminorea Primer Yang Dialami Remaja Dapat Diatasi Dengan Tindakan Tepat Dan Benar
Eka Seba Marta
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yayasan Pendidikan Amanah Padang Email : [email protected]
ABSTRAK
Dismenorea primer di sebabkan oleh kelebihan/meningkatnya perasan pada otot-otot polos dan terjadi karena adanya peningkatan kontraksi uterus dan penurunan aliran darah 25-50%
wanita yang mengalami disminorea atau kram haid, sekitar 10% dari wanita yang dilaporkan absen kerja dan sekolah yang disebabkan oleh hal disminorea primer. Tujuannya adalah untuk mengetahui tindakan remaja putri dalam mengatasi disminorea primer. Jenis penelitian Analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah 70 orang, dengan metoda pengambilan sampel Total Sampling. Penelitian dilakukan pada tanggal bulan April sampai dengan Mei 2021. Data dikumpulkan dan dianalisa secara univariat menunjukan tindakan yang tepat dan benar dapat mengenal secara dini gangguan-gangguan yang terjadi terhadap alat reproduksinya dan dapat menjaga kesehatan reproduksi dengan baik dalam mengatasi dismenorhoe primer pada remaja.
Kata Kunci : Disminorea Primer, Remaja, Tindakan
ABSTRACT
Primary dysmenorrhea is caused by excess/increased tension in smooth muscles and occurs due to increased uterine contractions and decreased blood flow. 25-50% of women who experience dysmenorrhea or menstrual cramps, about 10% of women reported absent from work and school due to dysmenorrhea. by primary dysmenorrhea. The aim is to find out the actions of young women in overcoming primary dysmenorrhea. This type of research is analitic. The population in this study was 70 people, with the total sampling method. The study was conducted from April to May 2021. The data were collected and analyzed univariately showing that appropriate and correct actions can identify early problems with their reproductive organs and can maintain good reproductive health in overcoming primary dysmenorrhea in adolescents.
Keywords: Primary Dysmenorrhea, Adolescents, Action
32
PENDAHULUAN
Dismenorea atau nyeri haid merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. Nyeri haid ini timbul akibat kontraksi distrimikmiometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri ringan sampai berat. Dismenorea merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan .Angka kejadian dismenorea di Amerika Serikat dialami oleh 45-90% (Edmunson, 2017).
Awalnya wanita yang menderita nyeri menstruasi hanya bisa menyembunyikan rasa sakit tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya. Keadaan itu diperburuk oleh orang di sekitar mereka yang menganggap bahwa nyeri menstruasi adalah rasa sakit yang wajar. Nyeri menstruasi adalah kondisi medis yang nyata di derita wanita dan tidak hanya di anggap sebagai penyakit psikosomatis saja. Banyak metode yang telah dikembangkan oleh ahli dibidangnya yang bertujuan untuk mengatasi nyeri mestruasi.
Hampir 25-50% wanita yang mengalami disminorea atau kram haid, sekitar 10% dari wanita yang dilaporkan absen kerja dan sekolah yang disebabkan oleh hal tersebut. Wanita yang mengalami dismenorea biasanya nyeri dapat dikurangi dengan pemberian panas (kompres panas atau mandi air panas), masase, latihan fisik dan tidur cukup untuk meredakan dismenorea primer. Panas meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi dan meningkatkan sirkulasi. Penggunaan obat analgesic, obat-obatan radang bukan steroid ( non steroid Implammatory Drugs) dan diuretic untuk mereksasi uterus. Sebagai upaya terakhir untuk mengatasi dismenorea yang tidak dapat di kendalikan pembedahan dapat diindikasikan (Baziad,2018)
Di lihat dari hasil penelitian tersebut angka kejadian dismenorea cukup tinggi, namun yang datang berobat ke dokter sangatlah sedikit, yaitu 1-2% saja.
Dismenorea primer sering terjadi 50%
wanita mengalaminya, biasanya dismenorea primer timbul pada masa remaja, yaitu 2-3 tahun setelah menstruasi pertama (Kasdu, 2018).
Puncak nyeri haid pada sebagian besar (53,3%) responden tidak menentu. Sebagian besar (89,7%) rasa nyeri berlokasi diperut bagian bawah, sedangkan 5,3% pada sisi dalam paha dan 4,4% pada bokong. Keluhan lain yang menyertai nyeri haid berupa pusing sebanyak 37,4%, sakit kepala 16,6%
dan mual 10,7%. Rasa muntah, diare, pingsan dan lain-lain jarang terjadi (Baziad, 2018).
Pengetahuan dan sikap remaja putri dengan penanganan sangatlah penting bagi remaja putri selain untuk menambah pengetahuan tentang nyeri haid, juga bermanfaat bagi psikologis remaja.
Menurut survey awal yang peneliti lakukan di Kampus kota Padang dari 8 mahasiswa 5 orang yang mengerti tentang pengertian dismenorea primer dan 3 orang yang kurang mengetahui tentang pengertian dismenorea primer.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul “Disminorea Primer Yang Dialami Remaja Dapat Diatasi Dengan Tindakan Tepat Dan Benar”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitic. penelitian ini untuk mengidentifikasi Disminorea Primer Yang Dialami Remaja Dapat Diatasi Dengan Tindakan Tepat Dan Benar di Padang.
33
Populasi dalam penelitian ini adalah 70 orang remaja. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling .
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisa Univariat
Tabel 1 Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Mahasiswi tentang Waktu Terjadinya Disminorea terjadinya Primer
Pengetahuan f %
Tinggi 10 14.2
Sedang 37 52,9
Rendah 23 32,9
Jumlah 70 100
Tabel 2 Tingkat Pengetahuan Mahasiswi tentang Faktor Yang mempengaruhinya
Disminorea Primer
Pengetahuan F %
Tinggi 57 81,4
Sedang 8 11,4
Rendah 5 7,2
Jumlah 70 100
Tabel 3 Tindakan Responden Dalam Mengatasi Dismenorea Primer
Tindakan f %
Baik 33 47,2
Kurang 37 52,8
Jumlah 70 100
A. Analisis Bivariat
Hubungan Tindakan Responden dengan Cara Mengatasi Dismenorea Primer Tindakan Cara mengatasi Juml
ah
p value
Tidak teratasi
teratasi N 0,000
N % N %
Tidak baik 20 52,6 22 68,7 42 baik 18 47,3 11 34,3 29
Jumlah 38 100
%
32 100
%
70(10 0%)
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil uji chi square bahwa nilai p= 0,000 dimana nilai p<0,05 maka terdapat
hubungan bermakna antara Tindakan Responden dengan Cara Mengatasi Dismenorea Primer, bahwa (34,3%) responden memiliki tindakan teratasi yang baik yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara Hubungan Tindakan Responden dengan Cara Mengatasi Dismenorea Primer. Hasil diatas dapat dilihat dari hasil uji chi square dimana p=0,000yang berarti lebih kecildari α=0,05 maka dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara Tindakan Responden dengan Cara Mengatasi Dismenorea Primer.
Tindakan adalah reaksi dari pengetahuan yang berupa perbuatan (Notoadmodjo, 2018). Dalam menghadapi dismenorea ini ada beberapa hal yang harus
dilakukan untuk melakukan
penyembuhan/penanganan yang meliputi pemberian penerangan dan nasehat, pemberian obat analgesik/anti nyeri, terapi hormonal, terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin, sampai pada dilatasi kanalis servikalis. Menurut Notoadmodjo 2018 bahwa setelah orang mengetahui informasi, kemudian mengadakan penelitian/pendapat apa yang diketahui.
Proses selanjutnya diharapkan akan melaksanakan/mempraktekkan apa yang diketatahui atau disikapinya.
Hal ini disebabkan oleh pengetahuan remaja yang kurang tentang seputar dismenorea dan ini sangat tidak baik bagi remaja putri dalam mengatasi dismenorea yang ia rasakan. Sehubungan dengan hal ini untuk mengatasi dismenorea pada remaja maka remaja harus diberikan informasi dan yang sangat berperan disini adalah orang tua remaja putri tersebut dan institusi pendidikan dimana mereka sekolah untuk dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada mereka.
34
Sehingga penulis berpendapat bahwa pentingnya penerangan dan nasehat tentang dismenorea dan berbagai cara untuk mengatasinya diberikan pada remaja di kampus kota Padang ini agar mereka semua dapat mengatasi nyeri haid yang mereka rasakan dengan baik dan benar
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Sebanyak 37 orang (52,8%) tindaka kurang baik mengatasi disminoroe remaja
2. Terdapat hubungan yang signifikan antara terdapat hubungan bermakna antara Tindakan Responden dengan Cara Mengatasi Dismenorea Primer, bahwa (34,3%) responden memiliki tindakan teratasi yang baik yang baik
Saran Bagi remaja
Para mahasiswa diharapkan agar dapat meningkatkan pengetahuan dengan banyak mencari informasi tentang dismenorea. Juga diharapkan kepada mahasisiwa agar tidak perlu cemas saat mengalami dismenorea dan untuk mengalihkan perhatian ada dilakukan dengan olahraga secara teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan memeriksakan diri kepetugas kesehatan bila sangat mengganggu aktifitas sehari-hari.
Berkomonikasi dengan orang tua/guru untuk mencari tindakan seperti apa yang mesti diambil untuk mengatasi dismenorea.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2016). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: RinekaCipta.
Baradera, M., Dayrit, M. W & Siswandi, Y
(2018). Obat Anti
Inflamanonsteroid. Jakarta : EGC
---.(2018). Seri Asuhan Keperawatan. Klien Gangguan Sistem Reproduksi & seksualitas.
Jakarta : EGC.
Baziad, A. M. (2016). Endokrinologi. Edisi Kedua. Jakarta : Media Aesculapius 2003.
Colin, C. M.& Shushan, A. (2017).
Complications of Menstruastion Abnormal Uterine. USA : Mc Graw- Hill.
(Edmunson, 2016,¶ Dysmenorrehea, http://www.emedicine.com/emerg , diperoleh pada tanggal 13 November 2008).
Hidayat, A. A. (2017). Metode Penelitian Kebidanan & Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
Kasdu, Dini. (2018). Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta : Pustaka Swara.
Manuaba, C., Manuaba, F., & Manuaba, I.
(2019). tasiGawat Darurat Obstetri Ginekologi & Obstetri Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta : EGC.
Maulana, M. (2018). Buku Pegangan Ibu.
Panduan Lengkap Kehamilan.
Jogjakarta Katahati.
Nazir, M. (2016). Metode Penelitian. Ciawi – Bogor Selatan : Ghdia Indonesia.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2018). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
---.(2018).Metodelogi Penelitian Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta.
35
---.(2018).Metodelogi Penelitian Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta.
Pourseslan. (2017). Disminorea. Universitas Medical Sciences Iran.
Price, S. A. (2018). Patofisiologi Konsep Klinis Proses- proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
Rayburn, W. F., & Carey, J. C. (2020).
Obstetri Ginekologi. Jakarta : Widya Medika.
Reiss, M., & Halstead, M. J. (2016).
Pendidikan Seks Bagi Remaja.
Yogyakarta : Alenia Press.
Samin, A. (2018). Bahasa Indonesia. untuk Perguruan Tinggi. Medan : USU
Press.
Swartz, M.h. (2005). Buku Ajar. Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC 2005
Winkjosastro, H. (2002). Ilmu Kandungan.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.
---. (2008). Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.
---.(2008).Ilmu
Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo