• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengembangan Desa Wisata Sidoakur Kecamatan Godean Kabupaten Sleman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Pengembangan Desa Wisata Sidoakur Kecamatan Godean Kabupaten Sleman"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

58

Jurnal Pariwisata Terapan Vol. 6, No. 1, 2022 ISSN-2580-1031 (print) ISSN-2580-104X (online) https://jurnal.ugm.ac.id/jpt

Analisis Pengembangan Desa Wisata Sidoakur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman

Ahmad Syahrial Semendawai

Affiliation

PPKKFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada Correspodence

Ahmad Syahrial Semendawai, PPKK FISIPOL UGM, Jalan Sosio Yustitia, Caturtunggal, Depok, Caturtunggal, Kecamatan. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, [email protected]

Abstract

Special Region of Yogyakarta has a diversity of objects as well as a variety and unique character. One of the tourisms that is being intensively developed is a tourism village which is commanded by the local community or also called community-based tourism. Tourism Village is one of the means of solving the economic development of rural communities. However, in its development not all tourist villages can be successful, some have declined and even vacuumed.

This study focuses on one of the tourism villages in Sleman Regency, namely Desa Wisata Sidoakur.

The purpose of this study is to analyze the causes of the decline in activities and visits in terms of the dynamics of development and implementation of the principles of community-based tourism. The research method used is descriptive qualitative method with a geographical unit of analysis, namely Sidoakur Tourism Village. In this study, data were collected by means of observation, interviews and documentation. While the determination of informants using purposive and snowball techniques.

The results of the study indicate the cause of the decline in tourism villages activities. The first factor is the difference in views between the new hamlet and the tourism village manager. Second, less transparent management has implications for decreasing community participation. Third, the absence of youth involvement in tourism management has an impact on the regeneration of tourism village managers.

Keywords: community-based tourism, tourism village, Sidoakur, community development

Article Information:

Submitted 303 January 2022|Revised 19 February 2022|Accepted 29 December 2022

Copyright © 2021 by the author(s). This article is published by Universitas Gadjah Mada, Indonesia under the Creative Commons Attribution (CC BY 4.0) license. Anyone may reproduce, distribute, translate, and create derivative works of this article (for both commercial and noncommercial purposes), subject to full attribution to the original publication and author(s). The full terms of this license may be seen at http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/legalcod

(2)

Pendahuluan

Pariwisata merupakan industri yang menjadi tumpuan bagi Indonesia. Didukung kondisi geografis Indonesia yang luas dan menyimpan kekayaan alam dan budaya yang bervariasi ialah aset besar untuk pengembangan potensi pariwisata. Pemasukkan devisa serta penyerapan tenaga kerja pada bidang pariwisata berdampak besar pada negara. Data yang dirujuk dari Kementerian Pariwisata menampilkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2019 mencapai 16,1 juta wisatawan mancanegara, hal tersebut berpengaruh kepada peningkatan sumbangan devisa negara. Pada tahun 2018 devisa yang diterima mencapai 224 triliun meningkat menjadi 280 triliun pada tahun 2019.

Konsep pariwisata yang gencar saat ini adalah Community Based Tourism atau pariwisata berbasis masyarakat. Community-based tourism adalah pendekatan yang holistik pariwisata yang menyatukan aspek lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi dari pariwisata. Community Based Tourism memiliki makna bahwa dalam pengelolaan pariwisata yang bertindak sebagai aktor utama adalah masyarakat baik dari sisi perencanaan, pengelolaan hingga monitoring dan evaluasi.

Implementasi konsep community-based tourism dapat ditemui dalam bentuk desa wisata.

Desa wisata memiliki andil penting pada kelembagaan sosial dan individu di wilayah destinasi wisata. Pernyataan tersebut dilandasi oleh pariwisata perdesaan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat miskin. Hal tersebut mengindikasikan pariwisata perdesaan melibatkan usaha–usaha yang dikelola masyarakat akan meningkatkan transaksi dalam masyarakat. Selain itu, pariwisata perdesaan dapat mengalihkan atau mendistribusi peluang ekonomi dari daerah perkotaan ke perdesaan (Damanik, 2013).

Masifnya pembangunan desa wisata bermula ketika muncul regulasi mengenai Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata Melalui Desa Wisata yang disahkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2009-2014 (Raharjana & Putra, 2020). Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang masif dalam pengembangan desa wisata. Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat pada tahun 2020 terdapat total 135 desa wisata yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Didukung oleh potensi alam, budaya, dan kondisi lingkungan yang mumpuni perkembangan jumlah desa wisata di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta cukup pesat. Pada prosesnya, desa wisata berdinamika mengikuti waktu. Dinamika tersebut berupa perkembangan yang semakin maju, stagnan, mundur, bahkan tidak aktif.

Desa Wisata Sidoakur merupakan salah satu desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara administratif, Desa Wisata Sidoakur termasuk dalam wilayah Desa Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Area desa ini adalah seluas 38 Ha, terbagi dalam 5 RT dan terdiri dari 251 KK dengan seluruh penduduk berjumlah sekitar 1300 jiwa. Dilihat dari aspek historis, Sidoakur diambil dari nama kelompok perwakilan desa yang pernah meraih prestasi pada lomba Klompencapir (Kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan) dengan titel juara umum pada tahun 1991.

Kondisi aktual Desa Wisata Sidoakur mengalami penurunan dalam jumlah pengunjung dan aktivitas desa wisata. Statistik kunjungan ke Desa Wisata Sidoakur, selama tahun 2016 jumah kunjungan sebesar 2601 pengunjung, pada tahun 2017 menurun menjadi 1899 pengunjung, pada tahun 2018 turun drastis hanya mencapai 602 pengunjung, serta 2019 dengan 625 pengunjung. Angka tersebut dapat dikatakan rendah jika dibandingkan dengan desa wisata lainnya di Kabupaten Sleman.

(3)

Padahal pada tahun 2013 sempat mengalami puncak kunjungan dengan total 14000 pengunjung per tahun. Pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020 turut memperparah kondisi pariwisata, khususnya dalam pengembangan desa wisata.

Desa Wisata Sidoakur cenderung jalan ditempat saja dalam pengelolaan dan pengembangannya, padahal jika dilihat terdapat banyak kompetitor desa wisata lain yang berlomba untuk menciptakan desa wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Jika hal tersebut tidak diinisasi untuk mengembangkan desa wisata, bisa saja akan mengalami kemunduran sedikit demi sedikit, bahkan terancam berhenti. Dilatarbelakangi oleh data di atas, tulisan ini menganalisis penyebab penurunan aktivitas dan kunjungan ditinjau dari dinamika pengembangan serta implementasi prinsip community-based tourism yang dijalankan Desa Wisata Sidoakur.

Metode

Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dikutip dari Moleong (1999:6) penelitian deskriptif merupakan penelitian yang memanfaatkan data yang berasal dari wawancara, catatan lapangan dan dokumen-dokumen untuk kemudian dijabarkan dalam bentuk kata-kata bukan angka-angka. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang secara singkatnya adalah memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara holistik dengan cara deskripsi berbentuk kata-kata serta bahasa (Iskandar, 2009).

Lokasi penelitian berada di Desa Wisata Sidoakur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman DIY. Desa Wisata Sidoakur adalah bagian dari Dusun Jethak II, Sidokarto, Kecamatan Godean, Sleman, DIY.

Desa Sidoakur merupakan salah satu desa wisata yang memiliki atraksi pengelolaan lingkungan dan budaya.

Penentuan sumber informan menggunakan cara purposive atau pengambilan sesuai dengan kemampuan serta kapabilitas dan fokus di bidangnya. Selain itu, pengambilan data menggunakan teknik snowball dilakukan dari informan ke informan untuk memperolah informasi yang diteliti.

Informan yang digunakan dalam penelitian adalah dari pihak Kepala Desa Sidokarto, kemudian dari pihak Pengelola Desa Wisata Sidoakur, kemudian pihak Pokdarwis Desa Sidoakur, Karang Taruna, serta Masyarakat Desa serta Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta ditunjang data sekunder berupa dokumen yang mendukung penelitian.

Penelitian ini menggunakan triangulasi data dari berbagai pihak. Triangulasi bertujuan untuk mengecek kesahihan data penelitian. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan model interaktif (Miles dan Huberman dalam Sugiyono, 2015). Model tersebut mengklasifikasi teknik analisis menjadi tiga tahap, yakni (1) data reduction, dengan cara merangkum, memilih, dan memfokuskan data; (2) data display, menyajikan data yang diperoleh dari hasil lapangan untuk menarik simpulan; dan (3) conclusing drawing, mendapatkan simpulan dari berbagai sumber dan observasi yang disesuaikan dengan fokus penelitian.

Hasil dan Pembahasan

Desa Wisata Sidoakur merupakan contoh desa wisata di Kabupaten Sleman yang terdaftar dan diakui oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dengan menawarkan wisata minat khusus berupa lingkungan dan atraksi budaya. Desa Wisata Sidoakur diresmikan pada 21 Maret tahun 2009.

Namun demikian, Roadmap desa wisata telah dicanangkan beberapa waktu sebelumnya. Sidoakur diambil dari kelompok masyarakat Padukuhan Jethak II yang mengikuti lomba Klompencampir

(4)

(Kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan) pada tahun 1991. Klompencampir merupakan perlombaan desa pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto yang bertujuan untuk menggali dan mempublikasikan potensi desa di Indonesia.

Pada tahun 2008, Desa Wisata Sidoakur mengikuti perlombaan Green and clean, dan mendapatkan juara 1 kategori desa wisata berkepadatan rendah. Kejuaraan tersebut kemudian membuat nama Sidoakur menjadi lebih dikenal. Penghargaan yang diraih memicu masyarakat desa untuk semangat dalam mengelola desa wisata. Pada tahun yang sama, Desa Wisata Sidoakur mendapat bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman. Bantuan tersebut berbentuk MCK Komunal untuk menunjang sanitasi masyarakat yang limbahnya dapat diolah menjadi biogas. Kunjungan dan studi banding dari masyarakat umum bahkan dari mancanegara seperti dari Timor Leste, Australia, serta beberapa negara Asean.

Dalam prosesnya, Kepala Dukuh mengumpulkan didukung oleh tokoh masyarakat berinisiatif untuk mendirikan desa wisata. Pada bulan Maret 2009, Desa Wisata Sidoakur berdiri dengan peresmian oleh Bupati Sleman. Pada tahapan ini Butler (1980) dalam teori siklus pariwisata mengelompokkan sebagai tahap eksplorasi, yaitu keadaan destinasi wisata mulai ditemukan dan telah dikunjungi oleh wisatawan secara terbatas. Saat itu desa wisata masih berbentuk embrio dengan potensi yang tersedia serta ada wacana pembentukan. Pada awal berdiri kunjungan dari berbagai instansi dalam negeri bahkan hingga luar negeri. Instansi tersebut melakukan studi banding untuk melakukan studi pengelolaan lingkungan dengan objek yaitu MCK/sanitasi komunal masyarakat yang limbahnya dapat digunakan untuk sumber bahan bakar memasak.

Pihak pengelola desa wisata dan dibantu oleh perangkat dukuh perlahan mengajak masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan dan budaya karena hal tersebut merupakan sebuah aset wisata yang dapat dikembangkan. Dalam tahapan ini, Butler (1980) mendefinisikan ke dalam tahapan involvement atau keterlibatan, hal tersebut ditandai dengan dengan peningkatan jumlah kunjungan dan sebagian masyarakat mulai menyediakan fasilitas yang diperuntukkan bagi wisatawan. Tahapan ini adalah tonggak dimulainya menjadi destinasi wisata, yang ditandai dengan promosi yang gencar. Selain terbilang sukses untuk menggerakkan masyarakat juga mulai marak kunjungan ke desa. Hal yang menjadi namun juga pada periode awal hingga fase puncak desa wisata juga berhasil memenangkan penghargaan ketika mengikuti lomba–lomba yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga.

Merujuk kepada kategorisasi tipologi siklus pariwisata menurut Butler, dalam tahap selanjutnya ialah tahap development (pembangunan), tahap ini dicirikan dengan investasi dari luar yang mulai masuk serta mulai munculnya pasar pariwisata secara sistematis. Ciri lainnya adalah daerah semakin terbuka menerima tamu. Hal tersebut sesuai dengan temuan penelitian yang mengungkap bahwa berbagai penghargaan yang didapat oleh Desa Wisata Sidoakur pada awal masa pembentukan tersebut berdampak pada tertariknya instansi-instansi untuk menjalin kemitraan.

Kemitraan yang dilakukan antara lain berupa bantuan dan fasilitasi pemberdayaan desa wisata dari Unilever karena memenangkan program green and clean. Selain itu, terdapat bantuan karitatif dari perusahaan cat dulux dengan menawarkan pengecatan rumah warga padukuhan. Nama desa wisata yang semakin dikenal kemudian berdampak positif, Desa Wisata Sidoakur dipilih sebagai tuan rumah event Ngayogjazz 2013. Ngayogjazz yang diselenggarakan pada tahun tersebut juga efektif untuk meningkatkan kunjungan desa wisata.

Puncak kunjungan paling ramai adalah pada tahun 2013, karena terlaksananya event Ngayogjazz.

Hampir seluruh masyarakat mendapatkan keuntungan dari event tersebut. Keuntungan diperoleh

(5)

dari penyediaan homestay, toilet umum, usaha penjualan makanan-minuman. Keberadaan Desa Wisata Sidoakur yang diperoleh masyarakat yang terlibat dalam kegiatan wisata adalah adanya penghasilan tambahan yang diterima dari pengunjung, terutama pada masa puncaknya yaitu sekitar tahun 2013 karena diselenggarakannya event musik tahunan Ngayogjazz. Teori siklus pariwisata yang dijabarkan Butler mengelompokan sebagai puncak pariwisata atau pada tahapan konsolidasi, dalam fase ini Desa Wisata Sidoakur sudah dominan dalam struktur ekonomi serta jumlah kunjungan yang naik namun dalam tingkatan yang stabil.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman pada tahun 2014, Desa Wisata Sidoakur sudah diklasifikasikan sebagai desa wisata mandiri yaitu desa wisata yang tingkatannya paling tinggi. Program klasifikasi desa wisata merupakan program dua tahunan Dinas Pariwisata Sleman yang bertujuan sebagai evaluasi desa wisata. Program klasifikasi desa wisata Dinas Pariwisata Sleman telah dilaksanakan pertama pada tahun 2014. Hal yang menjadi penilaian adalah potensi desa, kapasitas pengelola, peran masyarakat, amenitas, pemasaran, aksebilitas, kunjungan wisatawan dan kepemilikan aset.

Tabel 1. Klasifikasi Desa Wisata Sleman Tahun 2014 Klasifikasi Desa Wisata di Sleman Tahun 2014

Tumbuh Berkembang Mandiri

Rumah Domes

Garongan Kelor

Candi abang Ledoknongko Kembangarum

Nawung Sangubanyu Pentingsari

Bokesan Malangan Srowolan

Tunggularum Brajan Brayut

Ngamboh Mlangi Plempoh

Pajangan Sendari Sambi

Grogol Gabugan Ketingan

Jamur Dukuh Nganggring

Kadisobo Turgo Jethak II Sidoakur

Kaliurang Timur

Petung Sukunan

Tanjung Trumpon Sumber: Dinas Pariwisata Sleman, 2014

Pada tahun awal pembentukan hingga sekitar tahun 2016 Desa Wisata Sidoakur masih aktif dalam kegiatan serta masih ramai kunjungan. Pada tahun 2013, Desa Wisata Sidoakur mengalami masa kejayaan, pada tahun tersebut diadakan event tahunan musik jazz internasional yaitu Ngayogjazz.

Antara tahun 2014 hingga 2016 Desa Wisata Sidoakur berada dalam tahap stagnan, kondisi tersebut dicirikan dengan tingkat kunjungan yang masih tinggi, namun tidak terjadi perubahan yang signifkan.

Tabel 2. Klasifikasi Desa Wisata Sleman Tahun 2016 Klasifikasi Desa Wisata di Sleman Tahun 2016

Tumbuh Berkembang Mandiri

Sambi Kedunganten Jethak II Sidoakur

Plempoh Garongan Pulesari

Srowolan Brajan Gamplong

Bokesan Sukunan Kelor

Gabugan Tunggularum Rumah Domes

Ledoknongko Kadisobo II Pentingsari

Dukuh Pancoh Grogol

(6)

Klasifikasi Desa Wisata di Sleman Tahun 2016

Ketingan Blue Lagoon Tanjung

Malangan Brayut

Nganggring Sangurejo

Mlangi Palgading

Temon

Sumber: Dinas Pariwisata Sleman, 2016

Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman pada tahun 2016 Desa Wisata Sidoakur dalam kategori desa wisata mandiri. Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Desa Wisata Sidoakur dianggap sebagai desa wisata yang konsisten dibuktikan memiliki kegiatan aktif untuk menunjang kegiatan pariwisatanya. Namun, jika melihat tingkat kunjungan yang dirilis oleh Desa Wisata Sidoakur, antara 2016 hingga 2018 terjadi penurunan yang signifikan.

Faktor paling berpengaruh yang menyebabkan menurunnya aktivitas desa wisata adalah pergantian pengurus dukuh. Pergantian pengurus dukuh memunculkan perbedaan pandangan dalam pengelolaan desa wisata. Hal tersebut beralasan karena kepala dukuh yang baru tidak dilibatkan dalam pengelolaan desa wisata. Akibatnya, dukuh yang baru tidak memprioritaskan pengembangan desa wisata. Permasalahan tersebut semakin pelik karena terdapat pihak oposisi- koalisi dalam memandang desa wisata. Pemimpin yang sebelumnya mendukung mengembangkan desa wisata, namun pengurus dukuh pengganti memiliki pandangan yang berlawanan.

Faktor selanjutnya, dalam proses pengembangan Desa Wisata Sidoakur terjadi ketidaktransparanan pengelolaan. Ketidaktranspranan tersebut termanifestasikan dalam pelaporan penggunaan dana yang diberikan. Selain itu, tidak melibatkan masyarakat secara menyeluruh atau hanya memilih yang dalam golongannya. Berhentinya suplai dana PNPM Pariwisata merupakan salah satu penyebab kurang berkembangnya Desa Wisata Sidoakur. Dana PNPM yang diterima dapat digunakan untuk pembangunan dan perawatan infrastruktur kini tidak disediakan oleh pusat. Kondisi berhentinya aliran dana PNPM Mandiri memiliki kaitan dengan pergantian kepala dukuh yang menyebabkan dana yang diterima dukuh tidak ada yang dialokasikan untuk desa wisata. Di era pergantian kebijakan PNPM menjadi dana desa ini terjadi perubahan skema pendanaan. Seharusnya, Desa Wisata Sidoakur sebagai bagian dari Dukuh Jethak II mendapatkan pendanaan yang bersumber dari ADD (Anggaran Dana Desa) Desa Sidokarto. Namun, selama ini tidak disediakan bantuan khusus untuk pengelola Desa Wisata Sidoakur karena pengurus Dukuh Jethak II sudah tidak melegitimasi dana pengembangan program Dukuh ke arah desa wisata.

Selain itu, sebagian masyarakat berkurang kepercayaan terhadap pihak desa wisata karena ketidakransparanan pengelolaan desa wisata yang mengatasnamakan pembangunan dusun.

Ketidakpercayaan tersebut berimbas pada partisipasi masyarakat yang menurun. Masyarakat yang semula aktif perlahan mengurangi keterlibatan dalam pengelolaan desa wisata.

Tabel 3. Klasifikasi Desa Wisata Sleman Tahun 2018 Klasifikasi Desa Wisata di Sleman Tahun 2018

Tumbuh Berkembang Mandiri

Ledok Nongko

Tunggul Arum Brayut

Ketingan Bokesan Grogol

Malangan Gabugan Pentingsari

Nganggring Tanjung Rumah

Domes

Temon Jethak II Kelor

(7)

Sidoakur

West Lagon Nawung Gamplong

Plempoh Garongan Pulesari

Ngembesan Brajan Sukunan

Gamol Pendidikan

Dukuh

Kadisobo II

Karang Tanjung

Sangurejo Pancoh

Beteng Pulewulung Blue

Lagoon Kali Klegung

EKJ Sempu

Sumber: Dinas Pariwisata Sleman, 2018

Desa Wisata Sidoakur merupakan desa wisata yang termasuk klasifikasi mandiri dalam klasifikasi yang dilakukan sejak tahun 2014 hingga 2016. Namun, data yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Sleman pada tahun 2018 terdapat perubahan klasifikasi menjadi berkembang. Penurunan klasifikasi tersebut merupakan bentuk konsekuensi karena jumlah pengunjung yang berkurang serta manajerial desa wisata yang tidak berjalan. Dalam laporan yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Sleman indikator yang mengalami penurunan adalah pada aspek manajerial desa yang saat ini dianggap tidak maksimal, seperti regenerasi pengurus desa wisata yang tidak dilakukan.

Pengelolaan desa wisata tidak melibatkan keanggotaan pemuda untuk meneruskan kepengurusan.

Grafik 1. Jumlah Pengunjung Desa Wisata Sidoakur 2012 - 2019

Sumber: Olah Data, 2021

Kondisi Desa Wisata Sidoakur aktual berada dalam kategori penurunan, hal tersebut disebabkan oleh wisatawan sudah beralih ke destinasi baru yang lebih menarik. Sebuah area wisata tidak dapat bersaing dengan obyek turisme lain dalam hal ini bersaing dengan desa wisata lain akan menghadapi kemunduran pada aktivitas internal dan jumlah kunjungan. Desa Wisata Sidoakur dianggap sudah tidak menarik karena vakumnya kegiatan dan kelembagaan yang tidak mendukung. Selain itu, tidak adanya promosi efektif yang dapat mengundang wisatawan masuk.

Jika ingin meneruskan objek/ peremajaan objek maka perlu dilakukan perubahan dan inovasi obyek wisata tersebut serta ditunjang dari hal kelembagaan maupun dalam hal promosi.

Meski saat ini Desa Wisata Sidoakur sedang dalam kondisi yang menurun, pengurus Desa Wisata

2328

14802

1839 2295 2601

1899

602 625

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

(8)

Sidoakur akan berusaha untuk meregenerasi kepengurusan karena merasa mayoritas pengurus berusia tua. Kepengurusan yang baru diharapkan akan dapat membangkit kembali desa wisata.

Selain itu, terdapat wacana untuk menambah infrastruktur fisik serta ada reaktivasi bank sampah, lalu setelah semua siap akan digencarkan promosi desa wisata.

Dalam perjalanannya, aktivitas Desa Wisata Sidoakur tidak terlepas dari pengaruh pandemi Covid- 19 yang melanda seluruh dunia. Awal tahun 2020 merupakan tonggak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah mengeluarkan kebijakan lock down bagi hampir seluruh aktivitas ekonomi termasuk pariwisata. Desa Wisata Sidoakur sebagai salah satu objek pariwisata mengalami imbas dan berhenti beroperasi hingga kebijakan new normal digaungkan oleh pemerintah. Namun demikian, kebijakan terkait seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM yang diterapkan saat pandemi Covid-19 berdampak pada aktivitas pariwisata yang berjalan tidak maksimal bahkan berhenti.

Tabel 4. Dinamika Desa Wisata Sidoakur Berdasar Waktu Menurut Teori Siklus Pariwisata Butler No. Siklus Tahun Ciri

1 Eksplorasi <

2009

Pada tahapan ini Desa Wisata Sidoakur mengembangkan potensinya sebagai desa wisata didukung dengan potensi yang ada berupa budaya dan lingkungan.

2 Involvement

(keterlibatan)

2009 Tahapan ini dicirikan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Pengelola didukung masyarakat lokal menyediakan fasilitas yang diperuntukkan bagi wisatawan. Pada fase ini mulai digunakan sarana promosi.

Selain itu, dalam fase ini pemerintah lokal memiliki andil dalam membangun infrastruktur pariwisata.

3 Development

(Pembangunan)

2009 - 2012

Fase pembangunan ditandai dengan investasi dan bantuan dana dari luar sudah masuk ke Desa Wisata Sidoakur. Ciri lainnya adalah masyarakat semakin terbuka menerima tamu. Semangat masyarakat berada dalam tahap puncak.

4 Consolidation (Konsolidasi)

2012 - 2014

Dalam fase ini kegiatan pariwisata sudah dominan dalam Desa Wisata. Jumlah kunjungan naik dan mencapai puncak, sudah banyak desa wisata sejenis yang menjadi pesaing.

Klasifikasi desa wisata adalah dalam posisi desa wisata mandiri.

5 Stagnan 2014 -

2016

Tahapan ini tingkat kunjungan masih relatif tinggi, namun citra desa wisata meluntur. Partisipasi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan desa wisata juga mulai menurun. Klasifikasi desa wisata oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dalam tingkat mandiri.

6 Decline

(penurunan)

2016 - 2021

Menurunnya kegiatan dan partisipasi masyarakat dalam desa wisata serta tingkat kunjungan yang menurun secara signifikan. Pengelola aktif hanya tersisa beberapa orang.

Penurunan tingkat klasifikasi dari desa wisata mandiri menjadi desa wisata berkembang. Kondisi tersebut diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19.

- 7 Rejuvenation

(Peremajaan)

- Sedang menuju proses regenerasi.

Sumber: Analisis Data, 2021

Demartoto (2009:20) mengartikan community-based tourism sebagai pembangunan pariwisata dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Suansri (2003: 21) yang menyatakan bahwa community-based tourism adalah sarana untuk pengembangan masyarakat dan lingkungan. Karena itu, community-based tourism harus menerapkan pandangan holistik yang mencakup rangkaian lengkap sosial, budaya, ekonomi, faktor

(9)

pengembangan lingkungan dan politik. Desa Wisata Sidoakur sepatutnya menerapkan prinsip community-based tourism yang ideal demi mendukung pariwisata yang berpihak pada masyarakat.

Tabel berikut menampilkan implementasi prinsip community-based tourism di Desa Wisata Sidoakur.

Tabel 5. Implementasi Prinsip Community Based Tourism di Desa Wisata Sidoakur

No. Prinsip Implementasi

1 Ekonomi Terdapat dana pengembangan komunitas masyarakat . 2 Sosial Terdapat peningkatan kualitas sumber daya masyarakat desa.

Terdapat kesetaraan peran gender dalam pengelolaan

3 Politik Munculnya permasalahan elite capture dalam pengelolaan desaa wisata.

4 Budaya Masyarakat sudah menjalankan peran untuk menjaga nilai – nilai budaya yang berkembang.

5 Lingkungan Masyarakat tergerak untuk lebih peduli konservasi lingkungan sekitar.

Sumber: Analisis Data, 2021

Prinsip community-based tourism yang disampaikan Suansri memiliki spektrum yang cukup luas.

Menurut Nurhidayati dan Fandeli (2012:39) prinsip ekonomi yang dibicarakan oleh Suansri tidak sekadar mencakup munculnya lapangan kerja dan timbulnya pendapatan masyarakat, namun juga memperlihatkan perlunya dana komunitas atau dana bersama yang dapat bermanfaat untuk seluruh komunitas.

Dalam perkembangan Desa Wisata Sidoakur, prinsip ekonomi pariwisata berbasis masyarakat termanifestasikan dalam penekanan ekonomi yang dihasilkan untuk pengembangan masyarakat.

Idealnya, desa wisata seharusnya menerapkan sistem sharing profit bukan bussines oriented semata, artinya bukan semata-mata sebagai sarana ekonomi tapi titik utamanya adalah partisipasi masyarakat. Dana komunitas merupakan dana sumbangan donasi wisatawan untuk mengembangkan suatu komunitas/masyarakat dalam kegiatan pariwisata sebagai bentuk tanggungjawab terhadap komunitas di daerah tujuan wisata. Dana komunitas berupa dana internal yang berasal dari komunitas sendiri yang dikumpulkan dari sebagian keuntungan yang diterima anggota komunitas yang digunakan untuk kepentingan seluruh komunitas (Nurhidayati dan Fandeli, 2012:42)

Dalam prinsip sosial, terdapat peran Dinas Pariwisata Sleman untuk peningkatan sumber daya manusia dengan menyelenggarakan pelatihan untuk pengelola. Pelatihan tersebut melibatkan perwakilan pengelola desa wisata bersama masyarakat yang tinggal di wilayah Desa Wisata Selain itu, Dinas Pariwisata melakukan evaluasi, klasifikasi dan lomba desa wisata tingkat Kabupaten.

Lomba yang diadakan berdampak positif kepada komunitas, yaitu lebih merekatkan masyarakat.

Dalam pengembangan desa wisata, pengelola merangkul masyarakat baik antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan dalam pengelolaan. Hal tersebut menunjukkan adanya pembagian peran yang adil dalam masyarakat/komunitas dalam aspek gender. Ibu-ibu memiliki peran untuk berpastisipasi. Peran koordinator sering diserahkan kepada perempuan. contohnya adalah dalam penanggung jawab penyambutan tamu, konsumsi, serta kegiatan. Namun yang perlu digarisbawahi dalam prinsip sosial adalah meskipun masyarakat menerima dukungan dan pelatihan, namun masyarakat harus berinisiatif, kreativitas dan inovasi untuk menentukan arah pengelolaan suatu destinasi wisata (Raharjana dan Putra, 2020).

Partisipasi merupakan bagian dari prinsip politik yang memiliki kaitan dengan penyampaian ide oleh masyarakat kepada pihak pengelola atau pengurus dusun. Lebih lanjutnya, partisipasi masyarakat dalam kegiatan pariwisata dikaji oleh Tosun (1999:118) yang memiliki tipologi dalam tiga tingkatan, antara lain partisipasi spontan, partisipasi terdorong dan partisipasi paksaan.

(10)

Partisipasi masyarakat yang ada di Desa Wisata Sidoakur dikategorikan dalam tingkatan partisipasi terdorong. Hal tersebut didasarkan pada sejarah pembentukan Desa Wisata Sidoakur yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat kecil yang dikomandoi oleh kepala dukuh. Kemudian dalam prosesnya kelompok masyarakat yang digerakkan oleh Pak Dukuh mengajak masyarakat desa untuk membentuk desa wisata bersama. Artinya bentuk partisipasi masyarakat saat pembentukan menerapkan prinsip top-down (dari atas) bukan bottom up (dari bawah). Dalam pengelolaannya, desa wisata menerima aspirasi dan feedback dari masyarakat meskipun tidak seluruhnya terealisasikan.

Proses pengembangan Desa Wisata Sidoakur mengalami hambatan ketika terjadi fenomena elite capture. Meminjam isilah tokoh, elite capture secara definisi merupakan penguasaan yang mendominasi dari seseorang atau kelompok yang menjadikan kepentingannya sebagai tujuan menjalankan sebuah institusi (Syahran, 2018). Sedangkan dikutip dari Sim et al., (2017: 1), elite capture terjadi ketika kelompok atau individu dalam masyarakat yang memiliki status ekonomi, politik, atau sosialnya memengaruhi distribusi sumber daya masyarakat dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sementara itu, faktor-faktor internal seseorang bekerja sebagai seorang elite antara lain adalah nilai-nilai seperti prestasi seseorang dalam sejarah sebuah wilayah, kharisma individual, serta hubungan kekerabatan (Lay, 2006)

Dalam pengelolaan Desa Wisata Sidoakur fenomena elite capture termanifestasikan pada tidak transparanannya pengelolaan dana pengembangan. Hal tersebut didukung oleh pada awal pembentukan Kepala dukuh juga menjabat sebagai ketua desa wisata. Peran sosial ganda tersebut memiliki power yang besar untuk mengelola sebuah institusi. Selain itu, masyarakat digerakkan untuk menyumbang pembangunan fasilitas penunjang desa wisata. Namun, fasilitas tersebut tidak dapat bertahan lama dan hingga kini masyarakat tidak mendapat balik untung atas hasil yang dijanjikan oleh pengelola desa wisata. Bentuk ketransparanan dalam pengelolaan desa wisata merupakan aspek fundamental agar good tourism governance atau pengelolaan pariwisata yang baik berjalan lancar. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Wicaksono dan Sugiarto dalam Hadiwijoyo (2012:47) yang mengungkapkan bahwa dalam perencanaan partisipatif perlu adanya aspek legalitas dengan tidak menyalahgunakan kekuasaan.

Dalam prosesnya, masyarakat menyadari ada situasi yang dianggap kurang menguntungkan.

Fenomena elite capture yang berjalan kemudian dirasakan oleh masyarakat. Lambat laun masyarakat yang merasa dirugikan kemudian tidak percaya dengan pengelola desa wisata. Hal tersebut yang kemudian berdampak kepada turunnya partisipasi masyarakat dalam keterlibatan pengelolaan desa wisata. Alur dari permasalahan tersebut sesuai dengan tesis dari Sunaryo (2013:77-79) mengenai good tourism governance, yang berisi bahwa dalam pengelolaan desa wisata prinsip pertama adalah partisipasi yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Masyarakat juga berhak untuk mendapatkan kertransparanan dalam pengelolaan agar terdapat sinergi hak-kewajiban antar stakeholder. Abe (2005:90) dalam Hadiwijoyo (2012: 48) menambahkan bahwa penerapan perencanaan partisipatif memiliki dampak positif, yaitu terhindar dari peluang manipulasi dan memperjelas yang sebetulnya dikehendaki.

Pada dasarnya pengelolaan desa wisata tetap melibatkan budaya dan kearifan serta nilai-nilai lokal yang ada dalam masyarakat karena branding Desa Wisata Sidoakur adalah desa wisata budaya.

Ketika desa wisata masih aktif banyak kegiatan budaya yang ditampilkan seperti kothekan, gejog lesung, panembrama, dan jathilan. Kini, masyarakat sudah jarang untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya. Namun demikian, saat ini masih terdapat kegiatan budaya rutin tanpa mengatasnamakan desa wisata yaitu kegiatan hadroh tiap senin pahing serta sholawatan tiap

(11)

minggu wage. Masyarakat di Desa Wisata Sidoakur saat ini sudah terbuka dengan berbagai masyarakat yang masuk ke desanya karena dalam prosesnya wisatawan berinteraksi kepada masyarakat. Dalam keterbukaan tersebut terjadi pertukaran ide antara masyarakat dan desa wisata. Masyarakat mendapatkan wawasan ketika berkunjung, pihak masyarakat desa wisata juga mendapat pengetahuan yang baru dari wisatawan.

Dalam prinsip lingkungan, branding desa wisata lingkungan yang didorong oleh pendiri desa wisata memiliki pengaruh bagi masyarakat hingga sekarang. Masyarakat di Desa Wisata Sidoakur secara langsung maupun tidak langsung tergerak lebih peduli terhadap lingkungan. Contoh dari kepedulian lingkungan tersebut adalah kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan, serta kegiatan penanaman sayuran dan bunga di lingkungan agar tampak asri.

Kesimpulan

Dinamika pengembangan Desa Wisata Sidoakur sejak awal hingga kondisi aktual mengalami pasang surut. Pada masa awal pendirian Kepala Dukuh dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan desa wisata. Hal tersebut berdampak positif yaitu Desa Wisata Sidoakur meraih berbagai prestasi yang berimplikasi kepada nama yang terkenal di kalangan luar dan kenaikan jumlah pengunjung.

Desa Wisata Sidoakur mengalami penurunan aktivitas serta penurunan partisipasi masyarakat yang berimplikasi pada tingkat kunjungan yang menurun drastis. Pergantian pengurus dukuh menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan dengan pengurus desa wisata. Selain itu, krisis kepercayaan masyarakat yang bersumber dari ketidaktransparanan pengelolaan desa wisata atau juga disebut elite capture. Akibat fenomena tersebut, secara perlahan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan desa wisata enggan berpartisipasi dalam pengelolaan desa wisata. Selain itu, pada aspek kelembagaan tidak didukung dengan regenerasi pengelola yang dapat menunjang keberlanjutan desa wisata. Hal tersebut diperparah dengan situasi pandemi Covid-19 yang menghambat pengembangan kegiatan kepariwisataan.

Masyarakat dapat merasakan dampak adanya desa wisata dengan adanya peningkatan perekonomian. Dalam prinsip sosial, masyarakat Sidoakur merasakan adanya peningkatan dalam kualitas hidup ditunjang oleh kegiatan positif yang bersumber dari aspek lingkungan. Kemudian terdapat peran seimbang dalam pengelolaan desa wisata dalam hal keadilan gender, pria dan wanita memiliki peran dalam pengelolaan. Dalam prinsip politik, saat ini terdapat penurunan partisipasi karena yang merupakan dampak dari ketidaktransparanan dan fenomena elite capture.

Dalam prinsip budaya masyarakat sudah menjalankan peran untuk menjaga nilai – nilai budaya lokal yang berkembang. Sementara itu, pada prinsip lingkungan masyarakat tergerak untuk melakukan konservasi lingkungan sekitar.

Daftar Pustaka

Anonim. (2016). Kajian Klasifikasi Desa Wisata Kabupaten Sleman. Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Anonim. (2018). Kajian Klasifikasi Desa Wisata Kabupaten Sleman. Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Butler, R W. (1980). The Concept of a Tourist Area Life Cycle of Evolution: Implications for Management of Resources. Canadian Geographer, XXIV (1), 5-12.

Damanik, Janianton. (2013). Pariwisata Indonesia Antara Peluang dan Tantangan. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Damanik, J., Wijayanti, A., & Nugraha, A. (2018). Perkembangan siklus Hidup Destinasi Pariwisata

(12)

di Indonesia. Nasional Pariwisata, 10(1), 1–13.

Dolezal, C., & Novelli, M. (2020). Power in community-based tourism: empowerment and partnership in Bali. Journal of Sustainable Tourism, 0(0), 1–19.

https://doi.org/10.1080/09669582.2020.1838527

Demartoto, Argyo. (2009). Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat. Surakarta: Sebelas Maret Press.

Firdaus, Syahran. (2018). Fenomena Elite Capture dalam Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes): Studi kasus strategi bekerjanya kekuasaan elite dalam pengelolaan BUMDes Argosari, desa Pulosari, Kabupaten Pemalang. Jurnal Ilmu Politik, 9(2), 20-37.

Hadiwijoyo, Suryo Sakti. (2012). Perencanaan Pengembangan Desa Wisata Berbasis Masyarakat.Yogyakarta: Suluh Media.

Iskandar. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: GP Press Lay, Cornelis. (2006). Involusi politik. Yogyakarta: Polgov.

Moleong, Lexy J. (1999). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurhidayati, Sri Endah dan Chafid Fandeli. (2012). Penerapan Prinsip Community Based Tourism (CBT) Dalam Pengembangan Agrowisata Di Kota Batu, Jawa Timur. Jurnal Jejaring Administrasi Publik, IV (1), 36-46.

Patilima, Hamid. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Pitana, I Gede dan Gayatri. (2005). Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

Pitana, I Gede dan I Ketut Surya Diarta. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

Potjana, S. (2003). Community Based Tourism Handbook. Thailand, Responsible Ecological Social Tour-Rest: Mild Publishing. Rest Project: Thailand.

Purbasari, Novia dan Asnawi. (2014). Keberhasilan Community Based Tourism di Desa Wisata Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran. Jurnal Teknik PWK Universitas Diponegoro, 3(3) 560-568.

Raharjana, D. T., & Putra, H. S. A. (2020). Penguatan SDM dalam e-Marketing untuk Promosi Desa Wisata di Kabupaten Malang. Jurnal Nasional Pariwisata, 12(2), 140.

https://doi.org/10.22146/jnp.60403

Sim, Arief Armand et al. (2017). Ketimpangan, Elite Capture, dan Penargetan Program Perlindungan Sosial: Bukti dari Indonesia: Smeru Reserach Institute.

Sudaryanto, Agus. (2018). Nilai-Nilai Kearifan Lokal Yang Diterapkan dalam Pengelolaan Tanah Pariwisata Sri Gethuk di Bleberan, Playen, Gunung Kidul. Jurnal Mimbar Hukum Universitas Gadjah Mada. 30(1), 78-93.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sunaryo, Bambang. (2013). Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta: Gava Media.

Tosun C, (1999). Towards a typology of community participation in the tourism development Process, International Journal of Tourism and Hospitality,10:113-134.

Referensi

Dokumen terkait

Sumber Daya Pariwisata, Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar LampiranIII Pedoman Wawancara Kepada Kepala Desa Singapadu Kaler Lampiran IV Pedoman Wawancara Kepada Kelian Dinas

Laporan Praktek Kerja Nyata berjudul Implementasi Pengembangan Desa Wisata Tamanan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso telah diuji

Laporan Praktek Kerja Nyata berjudul Implementasi Pengembangan Desa Wisata Tamanan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso telah diuji

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan menganalisis dampak penetapan desa-desa di Kabupaten Sleman sebagai desa wisata terhadap kehidupan sosial

Desa wisata adalah salah satu bentuk pariwisata berbasis _ masyarakat. Desa Dadapan merupakan satu dari sekian desa _ wisata di Kabupaten Pacitan yang masih dalam

Pemerintah Kabupaten Demak khususnya dinas Pariwisata melakukan pendampingan kepada kelompok sadar wisata di desa Bedono ini diperlukan untuk mengawal jalannya proses,

Selain itu juga dukungan dari DP2M Dikti dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Universitas Negeri Yogyakarta khususnya Jurusan Pendidikan Teknik Boga

Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung, Desa Wisata merupakan pengembangan suatu wilayah desa yang pada hakikatnya tidak merubah apa yang sudah ada tetapi lebih