• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Birokrasi yang ada di Indonesia masih bermasalah dan jauh dari yang diharapkan, opini publik tentang birokrasi Indonesia tidak pernah membosanka n.

berfungsi sebagai penerima layanan dan dengan demikian memiliki kewajiban untuk memberikan layanan tersebut kepada masyarakat dengan cara yang memenuhi kebutuhannya. Artinya memberikan pelayanan yang baik, mudah, murah, cepat, dan terukur. (Indonesia, 2009). Kecendrungan yang terjadi adalah bahwa pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah daerah otonom belum sepenuhnya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan masyarakat daerah melalui suatu manajemen pelayanan yang bermutu, bertanggungjawab, efektif dan efisien. Dalam menangani permasalahan tersebut pemerinta h menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, hal ini untuk memperjelas kegiatan penataan dan penerbitan dokumen dan data kependudukan (Pusat, 2006). Namun dengan adanya peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan masih banyak permasalahan yang timbil dalam pengelolaan administrasi kependudukan. Kurangnya pengetahua n terkait mekanisme dan proses pelayanan serta kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan teknologi yang ada (Pohi et al., 2020).

Pemerintah daerah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningka ta n pelayanan, pemberdayaan warga, dan penguatan peran daerah, sekaligus meningkatkan daya saing daerah dengan menjunjung tinggi prinsip demokrasi, berkeadilan, berkeadilan, dan berkarakter. pelayanan pemerintah daerah belum berjalan dengan baik dalam suatu wilayah negara kesatuan dalam Negara Kesatuan Indonesia (Presiden RI, 2014). Fakta yang ada menunjukkan bahwa berbagai

(2)

2

kondisi ideal didalam dokumen kebijakan, seperti undang-undang, peraturan pemerintah, regulasi menteri, dan program pembangunan tahunan yang akan dilaksanakan ternyata harus berhadapan dengan realitas yang terjadi dilapanga n sehingga sulit untuk direalisasikan (Tiziana Varenty, Aidinil Zetra, 2019). Hal ini dapat terjadi akibat kurangnya kualitas sumber daya manusia seperti yang terjadi di Kota Tarakan, pelaksanaan sistem informasi administrasi kependudukan dan pencatatan sipil secara teknis belum berjalan dengan baik karena kurangnya sumber daya manusia yang ahli dalam bidangnya (Sihombing, 2016). Kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik tidak akan berjalan dengan baik apabila sumber daya manusia tidak memadai, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik merupakan hal yang terpenting dalam hal pelayanan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelayanan publik harus dimasukkan dalam penyelenggar aa n pemerintahan karena sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat. Masyarakat juga membutuhkan administrasi yang dikelola dengan baik untuk menjamin terpenuhinya hak-hak masyarakat. Pelayanan kepada masyarakat akan terganggu akibat kurangnya perhatian pemerintah terhadap syarat pelayanan, padahal pemerintah sendiri tidak banyak mengalami kendala dalam memberikan pelayanan public (Prasetyo et al., 2019). Halhal yang menghambat berjalannya suatu program, kurangnya komunikasi dan sumber daya manusia yang kurang memadai. Tingkat capaian program pencatatan akta kematian, masih rendah jika dibandingkan dengan program lain yang berkaitan dengan dokumen kependudukan seperti yang terjadi di Kota Semarang (Shahnaz Dyah Purwanto, 2018). Evaluasi perlu dilakukan untuk mengerahui tingkat keberhasilan suatu kebijakan yang dilaksanakan oleh instans i terkait. Evaluasi kebijakan KTP Elektronik (KTP-el) di Kota Sukabumi sudah berjalan dengan baik jika dilihat dari sisi efektifitas, perataan, responsivitas, dan ketepatan (Apriliani et al., 2019).

(3)

3

Permasalahan yang muncul dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat dapat meninggalkan kesan yang mendalam di benak masyarakat apabila tidak segera dibenahi dalam hal pelayanan. Dalam penyelenggaraan pemerinta ha n khususnya dalam pelayanan publik dimana pemerintah harus melakukan upaya peningkatan pelayanan publik, mengatasi permasalahan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu telah menerbitkan program yang disebut 3 In 1 untuk membantu masyarakat mendapatkan pelayanan yang tidak memerlukan antrean panjang dan penantian yang panjang dapat diselesaikan dengan tepat waktu, sehingga memudahkan warga Batu mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan.

memberikan pelayanan yang berkaitan dengan pembuatan atau pengurusan akta kelahiran, paspor, dan kartu keluarga (KK). Dengan reformasi birokrasi kita saat ini, masyarakat dapat lebih mudah mengurus administrasi publik tanpa harus mempersulit prosedur yang panjang, sebagian berkat penerapan 3 In 1 yang telah membaik dan sedang mengalami pembaruan.

Tujuan dari sistem 3 in 1 untuk pelayanan publik adalah untuk mengura ngi birokrasi yang dipandang sebagai pemborosan waktu, tenaga, dan uang. Orang sering beranggapan bahwa birokrasi kita sangat lambat, berbelit-belit, boros, dan kaku di DispenKependudukan dan Pencatatan SipilKota Batu, padahal hanya memprosesnya melalui website resmi institusi dan hanya membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya dan tentunya sangat mudah bagi masyarakat untuk mendapatkannya. layanan yang tidak lagi menerapkan sistem tatap muka (KIA). Dalam program 3 in 1, ibu yang baru melahirkan bisa mendapatkan Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran, dan Kartu Tanda Penduduk (KIA) tanpa harus ke DispenKependudukan dan Pencatatan SipilKota Batu. Bagi masyarakat yang baru melahirkan dapat mengurus dokumen kependudukan melalui pihak swasta, baik rumah sakit atau tempat melahirkan. Hal ini sangat membantu bagi mereka yang memiliki waktu terbatas dan bagi para lansia yang mungkin tidak dapat mengunjungi DispenKependudukan dan Pencatatan SipilKota Batu untuk

(4)

4

mendapatkan dokumendokumen tersebut. Selain itu, DispenKependudukan dan Pencatatan SipilKota Batu akan mengirimkan tiga dokumen yang diminta ke rumah sakit dari ibu yang mengajukan permintaan, sehingga Anda bahkan tidak perlu pergi ke sana sendiri. Saat melengkapi atau memperbarui file Anda, Anda tidak perlu melalui proses yang panjang untuk mendapatkan manajemen identitas, tetapi hanya dengan sistem online komunitas dapat mengajukan dan segera diproses, sehingga proses penyelesaian tidak memakan waktu beberapa hari untuk menerima.

Peran pemerintah dalam pengelolaan kependudukan merupakan salah satu dari sekian banyak bidang pelayanan publik. Selain itu, pelayanan tersebut melip ut i pembuatan KTP, Keluarga, dan berbagai Akta Catatan Sipil, serta pencatatan dan pengelolaan Data Kependudukan.

Menengok ke belakang, dapat kita lihat bahwa Inovasi Pelayanan Program 3 In 1 di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu telah berhasil dilihat dari segi kualitas pelayanan, khususnya: prosedur pelayanan, waktu penyelesaian, biaya pelayanan, produk pelayanan, fasilitas. dan prasarana, serta keahlian penyedia layanan dan sesuai standar Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu, dalam rangka peningkatan pelayanan publik. Terjadi peningkatan yang signifika n pada masyarakat yang mengurus Akta Kelahiran sebagai hasil dari Layanan Program 3 in 1, menurut temuan peneliti. Seperti terlihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1.1 Jumlah Keseluruhan Penduduk Pengurus Akta Kelahiran dan Akta Kelahiran anak 0-18 Tahun

Tahun Penerbitan dokumen

Persentase (%)

Memiliki Persentase (%)

Tidak Memiliki

2019 100.729 46 59.136 93 4.527

2020 115.205 52 60.158 95 3.419

Dari data diatas dapat diketahui bahwa masyarakat yang memiliki akta kelahiran pada tahun 2019 hanya 100.729 dengan persentase 46%, masih banyak masyarakat yang tidak memiliki akta kelahiran 116.725. Pada tahun 2020

(5)

5

kepemilikan akta kelahiran meningkat 115.205 dengan persentase 52%, akan tetapi masyarakat yang tidak memiliki akta kelahiran masih 105.091. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah dalam meningkatkan kepemilikan dokumen kependudukan, agar masyarakat tercatat data kependudukannya secara sah oleh negara. Tahun 2020 masyarakat yang tidak memiliki akta kelahiran mencapai 105.091 dari jumlah penduduk 220.296 jiwa. Kepemilikan dokumen kependudukan akta kelahiran anak 018 tahun dari jumlah anak berumur 0-18 tahun 63.663 yang memiliki akta kelahiran sebanyak 59.136 dengan persentase 93% dan anak yang tidak memiliki 4.527 jiwa. Pada tahun 2020 jumlah anak yang memiliki akta kelahiran sebanyak 60.158 dengan persentase 95% dan jumlah anak yang tidak memiliki akta kelahiran 3.419 jiwa. Namun, ada sejumlah masalah lain, yang paling utama adalah jumlah akta kelahiran yang diterbitkan tidak mencukupi. Bukan hanya peristiwa kelahiran dan kematian yang tidak tercatat, namun data kelahira n dan kematian Kota Batu belum terpetakan sehingga berdampak pada tujuan penerbitan akta kelahiran dan kematian. Selain itu, sulit untuk membandingka n hasil dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu dengan indikator kegiatan yang tidak terukur. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul ‘’Evaluasi program 3 In 1 dalam meningkatkan pelayanan publik Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batu’’.

2.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan yang akan ditelit i dalam penelitian ini adalah:

1) Bagaimana evaluasi Pelayanan 3 In 1 dalam pelayanan administras i kependudukan Kota Batu?

3.1 Tujuan

Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengkaji dan mendeskripsikan:

(6)

6

1) Evaluasi Pelayanan 3 In 1 dalam pelayanan administrasi kependudukan Kota Batu.

2) Faktor penghambat evaluasi Pelayanan 3 In 1 dalam pelayanan administras i kependudukan Kota Batu.

4.1 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memberikan manfaat bagi berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun manfaat-manfaat tersebut adalah:

1. Sebagai bahan evaluasi pelayanan 3 In 1 dalam pelayanan administras i kependudukan Kota Batu.

2. Dapat diketahuinya kelemahan dan kekurangan dari program 3 In 1 dalam pelayanan administrasi kependudukan Kota Batu.

3. Secara subjektif diharapkan penelitian ini sebagai penilaian kinerja penyelenggaraan pelayanan yang telah dilaksanakan secara sistematis dan teoritis dalam memecahkan suatu permasalahan secara objektif dan kritis melalui suatu karya ilmiah sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang bersifat teruji dan berguna.

4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada instansi yang diteliti dalam rangka penetapan kebijakan yang perlu diambil dalam upaya yang harus dilakukan oleh kependudukan Kota Batu dan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) lainnya.

5.1 Definisi Konseptual

Dengan menggunakan definisi konseptual, peneliti dapat mengoperasika n konsep di lapangan dengan lebih mudah. Dalam penelitian ini, definis i konseptual adalah:

1. Evaluasi Program Pemerintah

(7)

7

Ada banyak cara berbeda untuk mengumpulkan dan menganalisis data untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan mendasar tentang suatu program.

Efektivitas sistem peningkatan kualitas dalam praktik dan hasil implementas i harus dievaluasi untuk menentukan bagaimana dan sejauh mana efektivitasnya.

Evaluasi suatu program dilakukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan program sesuai dengan harapan dan untuk menonjolkan hasil, yang dapat mengarah pada saran perbaikan kebijakan dan ukuran keberhasilan progra m (output). Alhasil, setelah program berjalan beberapa lama, baru bisa dilakukan evaluasi. Menurut Sudijono evaluasi adalah suatu kegiatan yang mencakup pengukuran dan penilaian (Hidayat & Asyafah, 2019). Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur dan menilai pelaksanaan suatu program sehingga dapat meliha t keberhasilan program. Menurut Dunn, evaluasi dapat membuahka n pengetahuan yang relevan dengan kebijakan yang tidak sesuai dengan kinerja kebijakan yang diharapkan dengan yang benar dihasilkan (Apiantara, 2017). Hal ini dapat dijadikan rekomendasi untuk pelaksanaan program selanjutnya, agar tujuan dalam pelaksanaan program dapat tercapai. Menurut Arikunto (2004) evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan dan menentuka n nilai dari suatu informasi yang dapat digunakan sebagai alternative dalam mengambil suatu keputusan (Wicayani, 2019). Danim (2004:14) evaluasi adalah proses pengukuran dan perbandingan dari hasil yang nyatanya dicapai dangan hasil yang seharusnya (Permana, 2018).

Selain itu, Arikunto dan Jawa Barat (2010) telah mengusulkan langkah- langkah evaluasi program sebagai berikut: 1) Evaluator secara cermat mempersiapkan evaluasi program sebelum dimulai. Sebelum pengumpulan data dapat dimulai, perlu dilakukan beberapa langkah, antara lain: menyiapka n evaluasi, merakit instrumen, menguji instrumen, memperkirakan jumlah sampel yang dibutuhkan, dan memastikan bahwa evaluator telah mencapai konsensus.

2). pelaksanaan evaluasi program meliputi pengumpulan data melalui berbagai

(8)

8

metode seperti: observasi, wawancara, angket, metode analisis dokumen, dan teknik lainnya; 3) Pemantauan (monitoring) pelaksanaan evaluasi meliput i:

Fungsi pemantauan, Sasaran pemantauan, teknik dan alat pemantaua n, Perencanaan pemantauan, dan Pemanfaatan hasil pemantauan.

2. Program 3 In 1

Program seperti 3 in 1 dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan seperti akta kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), dan Kartu Keluarga (KK) tanpa harus mengantre panjang atau menghabiska n banyak waktu. reformasi birokrasi kita saat ini, masyarakat dapat lebih mudah mengurus administrasi publik tanpa harus mempersulit prosedur yang panjang, antara lain berkat penerapan 3 In 1 yang telah membaik dan sedang mengala mi pembaruan. Ketika berbicara tentang pemotongan birokrasi, orang sering berpikir bahwa pemerintah kita memiliki birokrasi yang lambat, rumit, boros dan kaku. Sistem 3 in 1 untuk pelayanan publik bertujuan untuk mengura ngi persepsi tersebut.

Program 3 In 1 merupakan salah satu program yang berfokus pada mempersingkat prosedur pelayanan dengan mengeluarkan tiga (3) produk dokumen kependudukan dengan persyaratan satu (1) dokumen (Aulia et al., 2020). Dengan hadirnya program ini masyarakat tidak lagi mengurus dokumen kependudukan satupersatu, dapat mengurus dokumen sekaligus dengan 1 persyaratan akan mendapatkan 3 dokumen kependudukan. Proses pelaksanaan program 3 In 1 dapat melalui sistem online, sehingga masyarakat akan lebih mudah untuk mendapatkan dokumen kependudukan yang diurusnya. Melalui sistem online masyarakat harus melangkapi berbagai persyaratan sesuai yang diminta di website resmi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

(9)

9 6.1 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah pemberian arti pada suatu konstruk dengan cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu dilakukan untuk menguk ur variabel penelitian. Definisi operasional dimaksudkan untuk menghinda r i kesalahan pemahaman dan perbedaan penafsiran dalam penelitian. Definis i operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Evaluasi Proses (process evaluation) yaitu meneliti dan menilai apakah intervensi atau layanan program telah dilaksanakan seperti yang direncanakan, dan apakah target yang direncanakan telah dilayani.

2. Evaluasi manfaat (outcome evaluation) meneliti, menilai, dan menentuka n apakah program telah menghasilkan perubahan yang diharapkan.

3. Evaluasi akibat (impact evaluation) dimana melihat perbedaan yang ditimbulkan sebelum dan setelah adanya program tersebut.

7.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dimungkinka n untuk mengumpulkan berbagai macam data dan kemudian menyatukannya dengan cara yang masuk akal bagi pembaca. Akan ada kepuasan yang lebih besar dengan interpretasi data dari hasil penelitian kualitatif. (Sugiyono, 2016).

a) Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelit ia n deskriptif. Penelitian deskriptif berupa pengamatan dengan melihat, mencatat, mendeskripsikan, dan melaporkan kegiatan dengan cara mengumpulkan dokumen berupa data, gambar, grafik, peta, hasil wawancara dan jenis data lainnya yang berkaitan dengan pembuatan dan prosedur dalam Inovasi Program 3 In 1 sebagai pelayanan publik menuju Good Governance yang ada di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batu. Reduksi Data (Data Reduction), Penyajian Data (Data Display).

(10)

10

Seperti yang didefinisikan oleh Bogdan dan Taylor, metodologi penelitian kualitatif adalah prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau pernyataan lisan yang dibuat oleh orang atau tindakan yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain. Penelitian ini menggunaka n metode pengumpulan data triangulasi, kombinasi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini Miles dan Hubberman dalam Sugiyono, 2017 menggunakan teknik analisis data seperti pengump ula n data, pengolahan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk menganalisis data. (Cahyo Sasmito, 2019).

8.1 Sumber Data

Dalam penelitian ini, sumber data primer dan sekunder digunakan untuk mengumpulkan informasi. Sumber data primer adalah data yang dikumpulka n langsung dari sumber atau subjek penelitian di lapangan, dengan menggunaka n metode pengumpulan data seperti observasi dan wawancara. Pendapat subjek penelitian dan hasil observasi di lapangan merupakan contoh data primer. Data yang diperoleh melalui perantara disebut data sekunder. Penguatan data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan data sekunder. Sumber digunakan untuk mengumpulkan data sekunder:

a. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sebelum dan sesudah adanya program pelayanan 3 In 1 pada Kota Batu berdasarkan laporan pemerintah wilayah.

b. Jurnal terkait evaluasi pelayanan 3 In 1.

c. Buku bacaan, mengenai evaluasi, pelayanan 3 In 1 dan lain sebagainya.

d. Berita baik cetak maupun online.

9.1 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, yang lebih mengutamakan sumber data primer dan lebih sering menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara secara mendala m, dan dokumentasi.

(11)

11

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan melalui tanya jawab, yang kemudian hasil wawancara tersebut dapat dikontruksikan menjadi suatu topik tertentu (Fitriani, 2017). Kegiatan wawancara dimaksudkan untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut atau mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi dari sebuah fenomena yang diamati sehingga didapat informasi yang objektif. Wawancara dilakukan dengan kepala atau pegawai Pemerintah Kota Batu maupun kepala atau pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu dan beberapa masyarakat yang menikmati pelayanan administrasi tersebut dengan berbagai kepentingan dokumen.

b. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan kegiatan pengumpulan data melalui dokumen yang telah ada sebelumnya. Dokumen yang digunakan dapat berupa tulisan, gambar, sketsa, foto, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang digunakan sebagai sumber data banyak dimanfaatkan oleh para peneliti untuk menguji, menafsirka n dan juga dapat digunakan untuk meramalkan suatu kejadian (Sugiyono, 2016). Data tersebut dapat bersumber dari data internal yang didapat dari Pemerintah Kota Batu, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu serta penelitian sebelumnya tentang pelayanan 3 In 1 dan buku yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

Disini peneliti memperoleh data pendukung dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batu terkait program pelayanan 3 In 1 berupa tabel Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (LKjIP) sebagai berikut:

Tabel 1.2 Kepemilikan Akta Kelahiran Penduduk dan Akta

Kelahiran Anak 0-18 Tahun Kota Batu Tahun 2019-2021 NO TAHUN AKTA KALAHIRAN ANAK 0-18 TAHUN

(12)

12

JUMLAH MEMILIKI % TIDAK MEMILIKI

1 2019 63.663 59.136 93 4.527

2 2020 63.577 60.158 95 3.419

3 2021 61.366 59.416 97 1.950

Sumber: Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (LKjIP) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batu 2019-2021.

Tabel 1.3 Kepemilikan Kartu Keluarga (KK) Kota Batu Tahun 2019- 2021

No Tahun Jumlah

1 2019 68.784

2 2020 70.655

3 2021 72.455

Sumber: Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (LKjIP) Kota Batu Tahun 2019-

2021

Tabel 1.4 Kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) Kota Batu Tahun 2019- 2021

No Tahun Jumlah Penduduk

Wajib KIA Memiliki KIA % Belum KIA

1 2019 217.454 53.717 26.362 49 27.533

2 2020 220.296 53.604 27.710 52 25.894

3 2021 223.193 54.517 30.551 56 23.966

Sumber: Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (LKjIP) Kota Batu Tahun 2019-

2021

Tabel 1.5 Capaian Pemanfaatan data Kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batu Tahun 2019-2021

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Tahun Target (%) Capaian (%) 1 Meningkatnya

pemanfaatan data kependudukan

Persentase jenis data kependudukan yang dimanfaatkan

2019 30 94

2 Meningkatnya pemanfaatan data

kependudukan

Persentase jenis data kependudukan yang dimanfaatkan

2020 50 94

(13)

13 3 Meningkatnya

pemanfaatan data kependudukan

Persentase jenis data kependudukan yang dimanfaatkan

2021 70 98

Sumber data: Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (LKjIP) Kota Batu Tabel 1.6 Capaian Indikator Kinerja Utama Dinas Kependudukan

dan

Pencatatan Sipil Kota Batu Tahun Anggaran 2019, 2020, 2021

Sasaran Strategis

Indikator Kinerja

Target 2019, 2020,

2021

Realisasi

Tahun 2019 (n)

Tahun 2020 (n)

Tahun 2021 (n) Meningkatnya

cakupan kepemilikan akta pencatatan sipil sesuai data kependudukan

Persentase kepemilikan Akta

Kelahiran Anak Usia 0 - 18 tahun

92 %, 94 %, 95 %

93 % 95,7 % 97 %

Persentase kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA)

45 %, 49 %, 52 %

49 % 52 % 56 %

Sumber: Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (LKjIP) DispenKependudukan dan Pencatatan SipilKota Batu.

c. Observasi

Kegiatan observasi dilakukan terhadap fenomena yang menjadi kajian dalam penelitian. Karena setiap situasi sosial setidaknya memiliki tiga elemen utama yang menjadi bahan observasi, yaitu lokasi, aktor/pelaku, dan kegiatan para pelaku (Sugiyono, 2016). Dalam penelitian ini observasi dilakukan di lokasi para subyek

(14)

14

penelitian yang juga merupakan tempat aktor melakukan aktivitasnya, yaitu berlokasi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu. Dalam melakuka n observasi, peneliti menggunakan observasi partisipasi pasif, yaitu penelit i menempatkan diri hanya sebagai peneliti/pengamat situasi sosial, sehingga penelit i tidak melakukan intervensi terhadap kegiatan yang sedang berlangsung dalam evaluasi pelayanan 3 In

1.

Pada observasi ini, peneliti mendapatkan hasil foto di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batu terkait dengan pelayanan 3 In 1 yang dilaksanakan. Berikut beberapa hasil foto hasil observasi yang dilakukan:

Gambar 1.1 (Loket pengajuan berkas) Gambar 1.2 (Ruang tunggu masyarakat)

10.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu yang terletak di Jl. Panglima Sudirman No. 507, Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.

(15)

15 11.1 Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah kepala atau pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu dan masyarakat yang terlibat dalam pelayanan 3 In 1.

12.1 Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu sebagai berikut:

a) Pertama adalah pengumpulan data, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara (yang dilakukan kepada subyek penelitian) dan dokumentas i, untuk memperoleh data primer maupun data sekunder. Data yang dikumpulkan dalam tahap ini lebih berfokus pada data pelayanan 3 In 1 di Kota Batu.

b) Kedua adalah reduksi data, dalam tahap ini data yang telah diperoleh (data primer maupun data sekunder) yang berupa gambar, tabel-tabel, dan hasil wawancara akan diklasifikasikan, diidentifikasi, dipilih dan dipila h sedemikian rupa sehingga data akan terbagi menjadi beberapa jenis. Hasil dari wawancara dengan subyek penelitian (data primer) akan dipisahka n dengan data berupa dokumen (data sekunder) yang telah diperoleh sebelumnya.

c) Ketiga adalah penyajian data, pada tahap ini peneliti akan menganalis is, menguraikan, memahami dan menggambarkan kembali data-data yang telah diperoleh dengan bahasa peneliti agar lebih mudah dipahami. Pada tahap ini data-data yang telah diperolah telah tersusun ke dalam klasifikasi/kelompok masing- masing. Kemudian dipaparkan atau dideskripsikan, dan mencari korelasi atau hubungan dari kelompok - kelompok data sehingga nantinya diperoleh data baru yang merupakan hasil dari korelasi dan kompilasi dari kedua klasifikasi data sebelumnya.

(16)

16

d) Keempat dan yang terakhir adalah menyimpulkan atau membuat kesimpulan sementara dari kesuluruhan data yang telah diperoleh, yaitu bagaimana evaluasi pelayanan 3 In 1 dalam menilai kinerja Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu dan persoalan yang dihadapi oleh stakeholder terkait. Kemudian disusun secara sistematis dalam bentuk laporan penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata

Pendekatan dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang memberikan tekanan utama pada penjelasan konsep dasar yang kemudian dipergunakan sebagai sarana

Audit, Bonus Audit, Pengalaman Audit, Kualitas Audit. Persaingan dalam bisnis jasa akuntan publik yang semakin ketat, keinginan menghimpun klien sebanyak mungkin dan harapan agar

Perbandingan distribusi severitas antara yang menggunakan KDE dengan yang menggunakan suatu model distribusi tertentu dilakukan untuk melihat secara visual, manakah dari

61 Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa dilema yang Jepang alami pada saat pengambilan keputusan untuk berkomitmen pada Protokol Kyoto adalah karena

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah virus Covid-19 adalah dengan menerapkan perilaku Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di mana dalam penerapannya

(2) Giberelin 100 ppm merupakan konsentrasi terbaik dalam mempengaruhi induksi partenokarpi sedangkan giberelin dengan konsentrasi 200 dan 300 ppm mempengaruhi

In the Suharto era, educational opportunities expanded greatly but authorities kept a tight lid on political expression, both in the universi- ties and throughout society in