commit to user BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dipaparkan gambaran umum arah penelitian yang dilakukaan.
Bagian ini menguraikan; (a) latar belakang, berisi berbagai persoalan yang pernah diteliti sebelumnya yang menunjukan fenomena kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat; (b) rumusan masalah, (c) tujuan penelitian, yaitu target yang akan dicapai dalam penelitian ini, dan (d) manfaat penelitian.
A. Latar Belakang
Teknologi informasi telah melipat ruang-waktu, bahkan ‘melipat dunia’
mejadi sebuah tatanan masyarakat yang bersifat global. Pelipatan dunia adalah proses dan relasi yang sangat kompleks, bersifat multidimensi, multibentuk, dan melibatkan berbagai aspek kehidupan. Proses ini lazim disebut globalisasi. Ini terjadi mulai dari persoalan publik, sosial, ekonomi, budaya, hingga persoalan paling privasi; spiritualitas. Salah satu akibatnya adalah terjadi penetrasi budaya asing yang mengancam eksistensi budaya lokal, dan nilai-nilai luhur sebagai identitas bangsa yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai luhur jatidiri bangsa semakin pudar. Ini terlihat dari gaya hidup generasi muda yang sangat materialistik, hedonis, dan konsumeristik (Abdullah, 2009: 44-45; Baudrillard, 2013: 31-32; Chaney, 2009: 39-51; Hoed, 2014: 219-221; Ibrahim, 2005: 303- 317; Ibrahim, 2011: 249-264, 303-307; Pepperell, 2009: 3-8; Piliang, 2004: 63-65;
Piliang, 2011: 49; Sayuti, 2011: 28).
Dampak perkembangan teknologi informasi dan globalisasi terhadap perubahan peradaban dan segala aspek kebudayaan manusia telah lama menjadi fokus riset para peneliti di dunia. Persoalan ini selalu menarik untuk dikaji. Hasil riset menunjukkan; setidaknya terdapat dua pandangan yaitu pandangan positif dan pandangan negatif terkait hubungan perkembangan teknologi informasi dan globalisasi dengan perubahan budaya masyarakat. Bandura (2001) bahkan telah mengidentifikasi mulai melihat adanya perubahan pandangan psikologi di era globalisasi. Sementara Cerny (1995) telah mengidentifikasi pengaruh globalisasi
1
commit to user
terhadap perubahan logika dari perilaku kolektif masyarakat. Bae dan Rowley (2001) meneliti dampak dari globalisasi terhadap managemen sumber daya manusia atau human resource management (HRM) di Korea Selatan.
Beberapa dekade sebelumnya, berbagai persoalan terkait globalisasi sudah menjadi fokus penelitian. Persoalan yang menjadi fokus penelitian antara lain adalah pengaruh globalisasi terhadap inovasi dalam komunikasi (Rogers, 1971), pertarungan ideologi budaya dari sistem dunia modern (Wallerstein, 1990), pertentangan peradaban (Huntington, 1993), globalisasi sebagai hibridasi budaya (Pieterse, 1995). Studi lain yang mengemuka pada era ini adalah kajian terhadap literatur antropologi terkait migrasi dan bentuk pergerakan populasi lainnya, melalui pergerakan informasi, simbol, modal, dan komoditas di ruang global dan transnasional. Perhatian khusus diberikan pada urgensi peningkatan kontemporer dalam volume dan kecepatan arus perubahan tersebut pada dinamika masyarakat dan identitas sosial. Hal lain yang diperiksa adalah perkara inovasi dalam teori antropologi dan bentuk representasi yang merupakan tanggapan terhadap konteks dan pengaruh globalisasi (Kearney, 1995; Waters, 1995). Perkara berikutnya yang menjadi fokus penelitian adalah menyangkut globalisasi, telekomunikasi dan komunitas etnik virtual (Elkins, 1997). Kemudian, Alam (1997) membahas globalisasi dan perubahan budaya dengan perspektif teori kebudayaan. Persoalan ini disajikan dalam makalah pada Widyakarya Nasional bertajuk Antropologi dan Pembangunan. Ihwal pergeseran budaya juga dikaji oleh Hermans & Kemper (1998), dan Brown, (1999).
Sementara itu memasuki era milienium kedua, Bandura (2000) meneliti keberadaan manusia sebagai agen gerakan perubahan kolektif. Gordon & Meunier (2001) meneliti ihwal pengaruh globalisasi terhadap identitas kultural masyarakat Perancis. Greig (2002) meneliti globalisasi, komunikasi, dan budaya dalam sistem internasional, Arnett (2002). Mengungkap bagaimana psikologi dan globalisasi saling berhubungan, memberi pengaruh terhadap perubahan budaya, dan Sotshangane (2002) mengkaji dampak globalisasi terhadap perkembangan variasi atau keanekaragaman budaya. Bandura (2002) mengkaji teori kognitif sosial dalam kontek budaya. Bandura (2006) juga membahas psikologi agensi manusia.
commit to user
Globalisasi menciptakan banyak kesempatan untuk berbagi pengetahuan, teknologi, nilai sosial, dan norma perilaku dan mempromosikan perkembangan pada tingkat yang berbeda termasuk individu, organisasi, masyarakat setempat, dan masyarakat di berbagai negara dan budaya (Cheng, 2000). Pada saat yang sama, globalisasi berpotensi menciptakan dampak negatif yang serius pada perkembangan masyarakat adat, terutama negara-negara berkembang atau terbelakang. Ini juga merupakan alasan utama mengapa ada begitu banyak gerakan sosial yang terus berlanjut di berbagai belahan dunia untuk melawan tren globalisasi terutama di bidang ekonomi dan politik. Dampak negatif yang potensial adalah terjadinya berbagai jenis kolonisasi politik, ekonomi, budaya dan pengaruh yang luar biasa dari negara maju ke negara-negara berkembang dan dengan cepat meningkatkan kesenjangan antara daerah kaya dan daerah miskin di berbagai belahan dunia (Cheng, 2002).
Sementara itu, dampak negatif globalisasi bagi masyarakat Indonesia khususnya generasi muda ditandai dengan kealpaan akan identitas diri mereka sebagai bangsa yang berbudaya Indonesia. Salah satu realitanya adalah anak muda Indonesia lebih tertarik terhadap produk budaya luar. Hal itu secara jelas mengikis rasa nasionalisme. Globalisasi membuat orang kehilangan loyalitas sehingga dapat mengesampingkan perasaan solidaritas nasional yang sebelumnya telah diberikan secara sah. Secara perlahan globalisasi juga menjadi penyebab pengikis identitas nasional bangsa (Rudy, 2003: 40; Perwita, 2011: 136).
Dalam konteks masyarakat Banyumas, globalisasi juga telah mengubah struktur sosial, pola hidup, dan nilai-nilai budaya yang dianut. Nilai-nilai budi pekerti luhur telah tergeser dan tergantikan oleh nilai-nilai budaya populer yang artifisial. Wulan & Muslihudin (2003) mengungkapkan bahwa globalisasisi telah membawa dampak negatif pada perilaku seksual remaja desa di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Perilaku seks remaja tidak lepas dari perubahan konstruksi seksualitas laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.
Kondisi masyarakat Banyumas saat ini telah mengalami perubahan. Gaya hidup masyarakat sudah tidak lagi mencerminkan nilai budaya setempat. Dalam konteks hubungan manusia dengan lingkungan, Santoso (2007) mengungkapkan
commit to user
bahwa telah terjadi perubahan budaya petani tepian hutan dalam pengembangan pengelolaan sumberdaya hutan berbasis modal sosial. Perubahan ini juga tidak lepas dari pengaruh globalisasi yang berdampak pada kesenjangan ekonomi dan struktur sosial masyarakat.
Masyarakat Banyumas, khususnya generasi muda; pelajar dan mahasiswa mengalami krisis identitas, krisis kebudayaan, dan krisis nilai-nilai budi pekerti luhur. Masyarakat Banyumas kontemporer tengah mengalami krisis kultural sebagai dampak globalisasi. Ini terjadi akibat penetrasi arus budaya dari luar yang terjadi begitu cepat selaras dengan akselarasi perkembangan teknologi informasi.
Pergeseran dan perubahan budaya terjadi akibat penetrasi budaya dari luar melalui jejaring sosial, situs, dan media produk budaya populer lainnya. Terkait pengaruh teknologi informasi berbasis internet sebagai bagian dari globalisasi terhadap perilaku mahasiswa di Banyumas. Sumarsono (2011) mengungkap bahwa meski minat berperilaku mahasiswa dalam menggunakan teknologi informasi cukup positif, namun muncul dampak negatif yaitu pada pola relasi antara sesama.
Dalam konteks ini, hubungan antara sesama manusia sebagai mahluk sosial mengalami perubahan yang signifikan. Sementara itu, dampak negatif media internet juga melanda pelajar di Kota Purwokerto Kabupaten Banyumas. Hasil riset Sulaiman (2011) menunjukan bahwa pelajar di Purwokerto menyadari manfaat positif keberadaan internet untuk menunjang pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan baru. Namun di sisi lain, para pelajar juga terpengaruh oleh konten-konten yang berifat negatif yang dibawa melalui media internet. Mereka kerap terpengaruh oleh pornografi seperti video dan gambar porno, ketergantungan menikmati adegan kekerasan yang terdapat pada permainan dalam jaringan (game online), sehingga lupa dengan batasan waktu saat mengakses internet.
Sementara itu, Istiyanto (2016) mengungkapkan bahwa teknologi informasi berbasis telpon genggam telah mengubah sistem sosial pada anak-anak di Kelurahan Bobosan Kecamatan Purwokerto Kabupaten Banyumas. Internet dan telepon genggam telah membawa dampak negatif terhadap cara berkomunikasi sosial, pola pikir, dan perubahan sikap atas informasi yang mereka akses.
commit to user
Kemudahan akses informasi berpengaruh negatif dalam penggunaan waktu bermain dengan teman seusianya. Internet pada telepon genggam juga memberi pengaruh buruk seperti pornografi dan seksualitas.
Globalisasi juga membawa pengaruh buruk terhadap perempuan. Triono (2013) mengungkapkan bahwa globaliasi telah memberikan pengaruh terhadap praktik perdagangan perempuan Indonesia. Dalam risetnya, disebutkan bahwa daerah Purwokerto (Banyumas), Banjanegara, dan Wonosobo menjadi bagian yang terdampak praktik pedagangan manusia khuusnya perempuan dengan jaringan global atau internasional.
Globalisasi juga berdampak pada krisis kebudayaan dan lunturnya nilai- nilai budi pekerti luhur yang berasal dari kearifan lokal bangsa Indonesia.
Persoalan ini telah lama menjadi perhatian pemangku pendidikan, akademisi, sastrawan, dan pelaku budaya lainnya. Persoalan ini juga mengemuka di berbagai forum ilmiah dan menjadi polemik di media massa. Salah satu forum yang membahas fenomena ini adalah Kongres Kebudayaan Jawa tahun 2014 di Surakarta.
Kongres tersebut berhasil merumuskan dan menyusun rekomendasi urgen, antara lain sebagai berikut. Pertama, warisan kebudayaan Jawa harus dipelihara, dilestarikan, dan dikelola sebagai energi untuk membendung ancaman nilai-nilai asing yang merugikan. Kedua, peranan kebudayaan Jawa dalam kehidupan masyarakat harus tetap dihargai dan dilestarikan demi persatuan bangsa dan untuk mewujudkan perilaku yang berpedoman pada nilai-nilai luhur dalam relasi antargolongan yang berbeda kebudayaan. Ketiga, perlu pendidikan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan unggah-ungguh bahasa, kesantunan, dan pendidikan budi pekerti dalam rangka pembentukan kepribadian bangsa. Keempat, perlu dilakukan penelitian yang mendalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan budaya Jawa untuk inventarisasi, klasifikasi, dan referensi sebagai landasan dalam pengembangan tata kehidupan di masa mendatang. Kelima, nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal budaya Jawa yang masih relevan dengan kehidupan sekarang hendaknya dapat diinventarisasi dan dilestarikan sebagai pedoman dalam bermasyarakat, berbangsa, dan
commit to user
bernegara. Keenam, dengan terbitnya UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, perlu penguatan kebijakan pemerintah tentang konservasi dan advokasi nilai-nilai kebudayaan Jawa untuk penanaman dini kepada generasi penerus dan media pendidikan karakter. Ketujuh, perlu disiapkan grand design pelaksanaan revolusi mental yang memberikan peluang terhadap nilai-nilai budaya Jawa sebagai salah satu rujukan pengembangan karakter bangsa (Sutarno, dkk., 2014).
Selaras dengan terbitnya PP Nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan, maka institusi perguruan tinggi turut bertanggungjawab dalam implementasi pendidikan karakter. Praktik pendidikan karakter di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan model integratif yaitu memasukan muatan nilai karakter dalam mata kuliah. Setiap dosen harus dapat memilih materi pendidikan karakter yang kontekstual. Lembaga pendidikan bertanggungjawab mencari formulasi persoalan ini, termasuk Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
UMP memiliki komitmen menjadi pusat penanaman karakter bangsa yang islami dan pusat riset berbasis keunggulan budaya lokal. Rencana Induk Pengembangan (RIP) UMP Tahun 2011-2031 mengamanatkan perubahan visi perguruan tinggi menuju perguruan tinggi riset (research university). Salah satu bentuk implementasi riset berbasis keunggulan budaya lokal adalah dengan menggali nilai-nilai budi pekerti luhur budaya Banyumas yang terdapat dalam teks-teks sastra Banyumas.
Nilai kearifan budaya lokal Banyumas sudah lama menjadi bagian dari studi budaya. Kuwat & Hastanto (1999) meneliti kesinambungan benang merah seni tradisional Bongkel, Buncis, Krumpyung, dan Calung Banyumas. Terkait perkara nilai-nilai luhur dan sejarah masyarakat Banyumas yang tertuang dalam berbagai naskah juga sudah lama menjadi objek penelitian. Lihat penelitian berjudul Perdikan Cahyana (Priyadi, 2001) dan Sejarah Trah Yudhanegaran Banyumas (Priyadi, 2004). Di sisi lain, Suraji (2006) menjelaskan ihwal nilai-nilai religi atau religiositas yang terkandung dalam seni tari Lengger Desa Gerduren Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas. Pada periode yang sama, Priyadi (2006a) meneliti ihwal tabu nikah pada masyarakat Desa Onje dengan Desa
commit to user
Cipaku Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Tabu ini tercatat pada dua naskah yaitu Serat Sejarah Babad Onje dan Serat Sejarah Rupi Onje. Sementara Suwartono (2007) mengkaji bahasa pada seni Begalan dalam adat pernikahan di Banyumas. Penelitian berikutnya, Priyadi (2008) yang berfokus mengungkap orientasi nilai budaya Banyumas antara masyarakat tradisional dan modern. Objek material penelitian ini adalah naskah-naskah yang mengandung teks Babad Pasir.
Sementara itu, penelitian-penelitian terkini yang mengangkat nilai-nilai kearifan budaya Banyumas antara lain dilakukan oleh Trianton (2013) dengan tajuk Estetika Profetik Ahmad Tohari dalam Khazanah Budaya Cablaka.
Kemudian, Widyaningsih (2014) meneliti nilai falsafah bahasa Banyumas dengan judul Bahasa Ngapak dan Mentalitas Orang Banyumas: Tinjauan dari Perspektif Filsafat Bahasa Hans-Georg Gadamer.
Kearifan lokal Banyumas merupakan salah satu entitas budaya yang mempunyai nilai-nilai unggul yang perlu dilestarikan. Budaya Banyumas adalah salah satu bagian warisan budaya (cultural heritage) bangsa Indonesia. Budaya bangsa berisi nilai-nilai unggul dari kearifan budaya tempatan dari seluruh nusantara. Kearifan lokal Banyumas yang mengandung nilai budi pekerti dapat dijadikan sebagai sumber bahan ajar pendidikan karakter atau ahklak budi yang baik.
Pendidikan adalah pembudayaan atau proses transmisi kebudayaan. Dalam perspektif antropologi, pendidikan merupakan transformasi sistem sosial budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Artinya, dalam proses pendidikan terdapat sebuah sistem nilai kebudayaan yang diwariskan. Sistem nilai ini terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam pikiran masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap bernilai dalam hidup. Secara antropologis, menurut C.
Kluckhohn terdapat lima nilai budaya yang saling berkaitan, yaitu hakekat; (1) hidup manusia, (2) karya manusia, (3) kehidupan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hubungan manusia dengan alam sekitar; dan (5) hubungan manusia dengan sesama (Tilaar, 1999: 56; Hills, 2002; Koentjaraningrat, 2009: 154-157;
Sedyawati, 2014: 188).
commit to user
Sistem nilai budaya masyarakat tercermin pada gagasan, sikap, dan tindakan setiap individu anggota masyarakat. Sistem nilai budaya juga tercermin dan tersimpan dalam produk kultural masyarakat, termasuk karya sastra. Oleh karena itu, nilai kearifan lokal dapat digali secara ilmiah dari karya sastra melalui interpretasi yang mendalam. Sebagai produk kultural, karya sastra mengandung berbagai hal yang berkenaan kehidupan entitas pemiliknya, seperti sistem nilai, kepercayaan, agama, kaidah-kaidah sosial, etos kerja, bahkan cara bagaimana dinamika sosial itu berlangsung.
Karya sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Karya sastra lahir sebagai manifestasi, mimesi, atau refleksi kondisi budaya sebuah entitas masyarakat yang menjadi meliu pengarangnya. Sastra yang demikian mengandung nilai pendidikan dan pengetahuan budaya, dan masyarakat global yang partikular. Sebagai rekaman budaya, sastra yang demikian layak dipahami melalui teroka. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji teks sastra adalah antropologi sastra dan etnografi (Endraswara, 2013: 13; Ratna, 2007:
25; Ratna, 2011a: 31; Setyobudi, 2009; Teeuw, 1983: 11).
Sistem pendidikan berperan menentukan konsusmsi sastra yang legitimed secara masif. Salah satu alasannya, melalui falsafah ‘rekreasi’ dan ‘pembacaan kreatif’, guru dan dosen memiliki kebebasan untuk mengkritisi keberadaan teks sastra. Pada saat yang sama, guru dan dosen semestinya menggunakan hasil riset sastra dan karya sastra sebagai sumber bahan ajar pendidikan budi pekerti luhur.
Praktiknya, dapat dilakukan melalui proses pembelajaran apresiasi atau kritik sastra di kelas. Ilmu sastra memiliki peran yang cukup besar dalam rangka pengembangan pendidikan karakter (Bourdieu, 2010: 15; Ratna, 2014: 109).
Pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi edukatif antara siswa, guru, dan sumber belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Belajar merupakan kegiatan aktif untuk membangun makna. Dalam konteks pengajaran sastra, guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang kondusif.
Pembelajaran yang mendorong prakarsa, motivasi, agar siswa mampu belajar, sehingga terbentuk peserta didik yang memiliki karakter dan budi pekerti (Suwandi, 2013: 1-8).
commit to user
Karya sastra dapat dijadikan bahan pembelajaran kompetensi bahasa di kelas. Teks sastra dapat dijadikan materi utama pengajaran bahasa. Teks sastra menyajikan situasi komunikasi yang otentik, dan kontekstual. Pembelajaran sastra juga bermanfaat untuk menunjang pemahaman budaya tempat sastra dihasilkan.
Dalam masyarakat Indonesia yang multikultur, pembelajaran sastra berkontribusi memberi pemahaman mengenai budaya antardaerah, sehingga terjalin hubungan saling pengertian antara suku bangsa yang berbeda (Khatib, 2012: 32-36; Waluyo, 2013: 1-10).
Karya sastra sebagai simbol verbal, memiliki tiga peranan dalam usaha;
(1) pemahaman (mode of comprehension), (2) cara perhubungan (mode of communication), dan (3) cara penciptaan (mode of creation). Sastra Indonesia pada dasarnya adalah sastra lokal. Persoalan-persoalan yang ditulis oleh sastrawan merupakan persoalan yang bersumber dari budaya-budaya lokal. Ia menjadi bercitra Indonesia karena ditulis dalam bahasa Indonesia. Meneroka karya sastra berkearifan lokal setara dengan menggali nilai budi pekerti warisan leluhur bangsa yang beradab dan berbudaya tinggi (Kuntowijoyo, 2006: 171; Sayuti, 2014: 1-3;
Triwikromo, 2014: 1-4).
Sastra merupakan arena produksi kultural. Menjadikan sastra sebagai subjek studi berarti mengamanatkan kepada sejarah sastra suatu tugas yang tidak pernah selesai dikerjakan. Penelitian sastra sebagai bagian area produksi budaya mensyaratkan adanya korespondensi atau hubungan antara karya sastra dengan pembaca atau masyarakat dalam posisi yang beragam (Bourdieu, 2010: 3-10).
Dengan demikian, dalam konteks pendidikan karakter, sastra merupakan fitur budaya yang mampu memberikan pemahaman tentang nilai-nilai budi pekerti, menjadi moda transmisi nilai-nilai budi pekerti. Sastra merupakan rekontruksi nilai-nilai yang berlaku dalam sebuah entitas budaya. Sastra merupakan salah satu cabang kesenian bagian dari budaya, sehingga terjadi pola interkoneksi antara seni-sastra, budaya, dan masyarakat.
Dalam konteks Banyumas, nilai budaya lokal menjadi anasir utama konstruksi novel-novel karya Ahmad Tohari (selanjutnya disingkat AT).
Karyanya merupakan sublimasi nilai kearifan lokal masyarakat Banyumas.
commit to user
Karyanya termasuk sastra kontekstual, yaitu sastra yang sesuai dengan konteks sosial-historis masyarakat tempat terciptanya karya tersebut. Novel karya AT adalah sastra yang berpijak di bumi, yang memiliki konteksnya sendiri. Karya- karyanya merupakan mimesi, sekaligus mediasi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Banyumas yang dikenal dengan budaya cablaka. Novel-novelnya juga merepresentasikan nilai budaya Jawa yang adi luhung. Proses kreatif AT yang kental dengan tradisi Islam pesantren menjadi akar religiositas karya yang dihasilkan. Budaya Banyumas yang egaliter menjadi latar sosial kehidupan pengarang. Ini tercermin pada bahasa yang digunakan untuk menulis novel- novelnya. Bahasa Jawa dialek Banyumas yang disisipkan di antara bahasa Indonesia yang lugas, merepresentasikan identitas kebanyumasan di dalam karyanya. Dialek Banyumas menunjukkan sikap demokratis dan egaliter karena tidak mengenal strata bahasa. Karya-karya AT merupakan mimesis, sekaligus mediasi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Banyumas yang dikenal dengan budaya cablaka. Ini tampak pada novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel-novel AT juga merepresentasikan nilai budaya Jawa dan mengandung nilai pendidikan profetik. Dengan demikian, dalam konteks masyarakat Banyumas, keberadaan novel-novel tersebut sangat penting dalam kerangka konservasi budaya lokal (Al- Ma’ruf, 2012; Budiman, 1985: 95, 323-324; Heryanto, 1985: 43; Prakoso, 2006;
Priyadi, 2007: 155-166; Ratna, 2014: 292; Roqib, 2011; Saryono, 1998; Suhardi, 2013: 37-46; Yudiono, 2003: 53).
Nama AT mulai melambung, tatkala pada dekade 1970-an cerpen berjudul Jasa-jasa Buat Sanwirya mendapat anugerah Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep, tepatnya pada tahun 1975. Pada tahun 1989, cerpen ini, dibukukan bersama 12 cerpen lain dalam buku kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Ia mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama untuk novel Kubah (1980), Hadiah Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk novel Di Kaki Bukit Cibalak (1986). Pada tahun 1990, ia mengikuti International Writing Programme di Amerika Serikat. AT memperoleh penghargaan Fellow Writer the University of Iowa. Pada tahun 1995 ia mendapat Penghargaan Bhakti Upapradana dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk
commit to user
Pengembangan Seni Budaya dan South East Asia Writes Award, di Bangkok (Eneste, 2001; Tohari, 2002: 287-288; Tohari, 2003: 396-397; Tohari, 2003a: 163;
Trianton, 2013: 4; Yudiono, 2003: 1-4).
Karya-karya AT dalam konteks pendidikan budi pekerti, merupakan artefak yang menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang adi luhung. Novel karya AT dapat dijadikan sumber bahan ajar sastra dan pendidikan karakter. Sebagai artefak, maka karya tersebut harus diteroka atau dikaji terlebih dahulu. Kajian terhadap karya AT merupakan salah satu usaha konservasi nilai-nilai kearifan lokal Banyumas, sekaligus sebagai salah satu upaya menyediakan bahan ajar pengembangan pendidikan budi pekerti luhur. Novel-novel karya AT merupakan salah satu bahan konservasi nilai-nilai kearifan lokal Banyumas. Di sinilah pentingnya penelitian ini dilakukan.
Berpijak pada paparan di atas, dapat disampaikan rasionalitas yang menjadi dasar penelitian ini, sebagai berikut. Pertama, perkembangan teknologi informasi dan globalisasi membawa dampak negatif yaitu terjadi pergeseran budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Fenomena lunturnya nilai- nilai budaya lokal dapat mengancam nilai nasionalisme bangsa. Dalam konteks Banyumas, fenomena ini telah menyebabkan masyarakat kehilangan identitas budayanya. Pada saat yang sama, terjadi pergeseran nilai budaya dan nilai-nilai pekerti luhur yang dimiliki.
Kedua, langkah awal membangun karakter harus dimulai dari membangun cara berpikir (mind set) terlebih dahulu, sehingga akan tercipta kebiasaan berpikir yang baik. Cara berpikir yang baik ini akan membentuk kebiasaan merasakan hal yang baik dan kebiasaan berperilaku baik (habits of mind, habits of heart and habits of action). Dengan demikian, akan terbentuk karakter yang baik (good character). Untuk membentuk moral knowing (pengetahuan tentang moral), diperlukan kebiasaan (habit) berpikir yang akan menumbuhkan kecerdasan intelegensia sebagai dasar penanaman karakter. Secara sederhana, konsep pendidikan budi pekerti dilaksanakan dengan metode ”ngerti–ngrasa-nglakoni”
(menyadari, menginsyafi, dan melakukan).
commit to user
Ketiga, terbitnya PP Nomor 17 tahun 2010 memberikan tanggung jawab pada institusi perguruan tinggi untuk mengimplementasikan pendidikan karakter.
Praktik pendidikan karakter di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan model integratif yaitu memasukan muatan nilai karakter dalam mata kuliah. Dalam konteks ini setiap dosen harus dapat memilih materi pendidikan karakter yang sesuai dengan tema atau pokok bahasan mata kuliah.
Keempat, hubungan antara pendidikan dan kebudayaan sangat erat.
Keduanya tidak dapat dipisahkan atau dibuat berdiri sendiri. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembudayaan. Sementara, tanpa proses pendidikan tidak mungkin kebudayaan dapat lestari dan berkembang. Pendidikan merupakan proses transmisi kebudayaan. Dalam perspektif antropologi, pendidikan merupakan transformasi sistem sosial budaya dari satu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat.
Kelima, dalam konteks Indonesia hakikat pendidikan tidak bisa lepas dari sistem kebudayaan masyarakat yang majemuk (bhinneka). Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki sistem nilai budaya yang luhur yang disebut kearifan lokal (local genius, local wisdom). Praktik pendidikan berbasis kearifan lokal ini disebut etnopedagogi.
Keenam, salah satu upaya menggali nilai-nilai kearifan lokal adalah dengan meneroka karya sastra. Lantaran karya sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Karya sastra lahir sebagai manifestasi, mimesi, atau refleksi kondisi budaya sebuah entitas sosial yang melingkupi diri penulisnya.
Ketujuh, karya-karya Ahmad Tohari merupakan mimesi, sekaligus mediasi nilai-nilai budi pekerti yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat Banyumas.
Nilai-nilai budi pekerti yang bersumer dari kearifan lokal ini dapat dikembangkan sebagai bahan ajar pendidikan karakter di sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Novel-novel karya AT merupakan salah satu bahan konservasi nilai- nilai kearifan lokal Banyumas.
Oleh karena itu, kajian terhadap novel-novel karya AT penting dilakukan guna menggali nilai kearifan lokal dan nilai inti pendidikan budi pekerti, sekaligus sebagai upaya konservasi budaya. Fokus penelitian ini adalah untuk menggali
commit to user
nilai-nilai kearifan lokal Banyumas yang dipresentasikan melalui berbagai pikiran atau gagasan, cakapan, dialog, dan aktivitas para tokoh dalam novel. Selain nilai kearifan lokal, penelitian ini juga penting dilakukan untuk menggali nilai pendidikan budi pekerti yang terdapat dalam novel-novel karya AT. Nilai-nilai tersebut penting digali sebagai upaya konservasi nilai budaya lokal dan menguatkan identitas nasional.
B. Rumusan Masalah
Fokus penelitian ini adalah untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal Banyumas dan nilai budi pekerti dalam novel-novel karya Ahmad Tohari. Kajian ini menggunakan pendekatan antropologi sastra, sebagai upaya konservasi nilai budaya. Secara spesifik, penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan yang tertuang dalam rumusan masalah berikut.
1. Bagaimanakah representasi nilai-nilai kearifan lokal Banyumas dalam novel- novel karya Ahmad Tohari?
2. Bagaimanakah nilai kearifan lokal dalam novel-novel karya Ahmad Tohari sebagai medium konservasi budaya di tengah masyarakat multikultural dan global?
3. Apa sajakah nilai-nilai inti pendidikan budi pekerti masyarakat Banyumas yang tercermin pada novel-novel karya Ahmad Tohari?
4. Bagaimanakah upaya-upaya pelestarian nilai kearifan lokal Banyumas yang dapat ditempuh untuk pendidikan budi pekerti?
C. Tujuan
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal Banyumas dan nilai pendidikan budi pekerti dalam novel karya Ahmad Tohari. Secara khusus, penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan representasi nilai kearifan lokal Banyumas dalam novel-novel karya Ahmad Tohari.
commit to user
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai kearifan lokal dalam novel-novel karya Ahmad Tohari sebagai medium konservasi budaya di tengah masyarakat multikultural dan global.
3. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai inti pendidikan budi pekerti masyarakat Banyumas yang tercermin pada novel-novel karya Ahmad Tohari.
4. Mendeskripsikan dan menjelaskan berbagai upaya yang dapat ditempuh dalam pelestarian nilai budaya Banyumas untuk pendidikan budi pekerti.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan tentang kearifan lokal dan nilai budi pekerti yang terdapat dalam karya sastra, sebagai bahan ajar autentik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu referensi yang memuat wacana kajian budaya lokal yang penting dalam penanaman karakter melalui pendidikan.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak sesuai bidangnya. Pihak-pihak dan bidang yang dapat memanfaatkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Bidang Pendidikan
Bagi mahasiswa, guru, dan dosen hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu referensi tentang nilai-nilai kearifan lokal Banyumas sebagai bagian dari kebudayaan Jawa yang bersumber dari karya sastra. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan salah satu referensi tentang nilai pendidikan budi pekerti yang bersumber dari kearifan lokal Banyumas sebagai bagian dari kebudayaan Jawa.
Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan salah satu bahan ajar kajian wacana kearifan lokal dan nilai budi pekerti untuk memperkuat jati diri bangsa di tengah masyarakat multikultural dan global.
commit to user b. Instansi Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu dokumen penting yang berisi pengetahuan tentang nilai-nilai kearifan lokal yang bersumber dari karya sastra sebagai artefak budaya. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu dokumen penting yang berisi pengetahuan tentang pendidikan budi pekerti luhur yang bersumber dari kearidan lokal yang terdapat pada karya sastra sebagai warisan budaya bangsa. Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu dokumen penting bagian dari upaya konservasi nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada karya sastra yang merupakan produk budaya bangsa.