1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Provinsi Gorontalo merupakan wilayah pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara yang didirikan pada tanggal 12 Desember tahun 2000 berdasarkan Undang- Undang No. 38 Tahun 2000 mengenai otonomi daerah di Era Reformasi (Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Gorontalo, 2000), melalui penetapan sidang paripurna DPR RI. Namun hari lahir Provinsi Gorontalo diperingati pada tanggal 16 Februari tahun 2001 yang pada akhirnya menjadi provinsi pada urutan ke-32, bersamaan dengan dilantiknya Gubernur pertama di Gorontalo yakni Tursandi Alwi (Febriandy, 2009). Walaupun sebagai wilayah pemekaran, Provinsi Gorontalo mampu bersaing dibidang ekspor dari hasil alam dan pertanian, berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survei Badan Pusat Statistik pada bulan Agustus tahun 2021 bahwa Provinsi Gorontalo mampu mencapai penghasilan sebesar US $. 6.234.235 (Badan Pusat Statistik, 2021).
Perekonomian Provinsi Gorontalo saat ini termasuk menjadi salah satu daerah yang memiliki perkembangan perekonomian yang cukup pesat dikarenakan oleh komoditas alam dan pertanian yang cukup tinggi sehingga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan daerah (BULETIN PRAHU-HUB, 2020). Oleh sebab itu, untuk mempertahankan serta mengembangkan pencapaian daerah maka perlu dilakukan berbagai macam program pembangunan diatanranya yaitu perbaikan infrastruktur sebagai pilar pembangunan agar segala kepentingan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Infrastruktur merupakan bentuk bagian dari prasarana yang di sediakan untuk kepentingan publik sebagai fasilitas nyata atau terlihat sebagai bentuk wujud fisik. Infrastruktur menjadi keperluan sebagai kebutuhan dan bentuk perkembangan yang dilakukan oleh para aktor publik agar dapat menjalankan berbagai tugas serta fungsi dari pemerintah itu sendiri. Pentingnya penyediaan infrastruktur yaitu dapat mempermudah segala kepentingan masyarakat sehingga
2
mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi skala daerah maupun skala nasional, dengan kata lain bahwa infrastruktur berkorelasi positif terhadap perkembangan dan pertumbuhan ekonomi serta memberikan korelasi negatif terhadap kesenjangan kesejahteraan (Kurniadi, 2020).
Pentingnya infrastruktur menjadi bentuk upaya pemenuhan dari kebutuhan yang dijadikan sebagai modal dasar berbagai kegiatan dalam bidang apapun.
Segala bentuk infrastruktur merupakan bagian penting bagi masyarakat, infrastruktur jalan sangat penting bagi kegiatan masyarakat dikarenakan oleh berbagai kepentingan masyarakat sehingga menyebabkan pergerakan atau yang disebut dengan lalu lintas seperti pergerakan kenderaan, yang dilakukan oleh manusia. Dengan demikian infrastruktur jalan yang memadai dapat mendorong pergerakan lalu lintas agar lancar, aman, nyaman dan ekonomis (Haryanto &
Suwardo, 2018).
Secara umum pembangunan infrastruktur jalan merupakan tugas dan kewenangan yang terbagi kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang menjadi tanggung jawab dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek yang sangat penting dan vital untuk mempercepat proses pembangunan nasional. Selain itu dijadikan sebagai pemegang peranan penting dari salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi khusunya pada lingkup daerah. Berhubung saat ini gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini penting dan harus terus dijadikan sebagai patok utama pada daerah-daerah yang belum cukup maju sebagai pondasi dari pembangunan penggerak suatu wilayah (Faisah, 2020).
Kelurahan Dembe dan Kelurahan Lekobalo merupakan bagian Provinsi Gorontalo yang berada di Kecamatan Kota Barat dengan kepadatan penduduk di bagian Kelurahan Dembe I sebanyak 3.812 orang dan Kelurahan Lekobalo sebanyak 3.090 orang. Menurut hasil Registrasi Penduduk tahun 2017 bahwa presentase penduduk di Kelurahan Dembe I sebanyak 4.418 jiwa dengan luas
3
wilayah sebesar 5,28 Km2 dan di Kelurahan Lekobalo sebanyak 3.764 jiwa dengan luas wilayah sebesar 1,59 Km2. Kecamatan Kota Barat tersebut terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan, 22 (dua puluh dua) rukun warga (RW), dan 44 (empat puluh empat) rukun tetangga (RT) (Badan Pusat Statistik, 2018). Dengan demikian, pemukiman di daerah tersebut cukup padat sehingga membutuhkan infrastruktur yang dapat menunjang kesejahteraan masyarakat dan dapat mempermudah segala bentuk kepentingan.
Gambar 1.1. Kepadatan rumah warga Kelurahan Dembe - Lekobalo
Sumber: Dokumentasi penelitian 2021
Kondisi pemukiman di Kelurahan Dembe – Lekobalo yang cukup padat memerlukan perhatian khusus agar tetap dapat menjalankan segala bentuk kepentingan. Sehingga masyarakat Kelurahan Dembe – Lekobalo meminta pemerintah untuk membukakan akses transportasi yaitu dengan pelebaran jalan (Gorontaloprov.go.id, 2019). Kepentingan masyarakat tersebut ini dilatar belakangi oleh beberapa faktor masalah yaitu, jalan yang cukup sempit dan merupakan akses satu-satunya sehingga sulit untuk mengadakan kegiatan-kegiatan besar yang akan diselenggarakan oleh masyarakat setempat, merupakan akses transportasi kenderaan muatan besar sehingga cukup mengakibatkan kemacetan
4
yang cukup panjang, dan ditambah dengan kurangnya lahan parkir sehingga menambah kepadatan lalu lintas.
Kondisi geografis juga mempengaruhi akses transportasi Kelurahan Dembe – Lekobalo, Jalan yang terbentang dari Timur ke Barat dengan di sebelah utara jalan terdapat rumah warga yang tepat berada di depan danau Limboto sedangkan di sebelah selatan jalan terdapat rumah warga yang tepat di berada di depan perbukitan, sehingga permintaan masyarakat untuk membukakan akses transportasi dengan cara pelebaran jalan tentunya bukan menjadi solusi yang tepat.
Gambar 1.2. Kondisi jalan dan rumah warga
Sumber: Dokumentasi penelitian 2021
Beberapa rumah warga berada di atas kaki bukit sehingga tidak memiliki lahan parkir dan di sebrang jalan, rumah warga tepat berada di pesisir danau sehingga tidak memiliki tanah lebih luas untuk lahan parkir. Dengan demikian kondisi akses transportasi tersebut tidak dapat ditangani dengan pelebaran jalan dikarenakan dampak sosial yang akan dihadapi begitu banyak, maka untuk kesejahteraan masyarakat Rusli Habibie sebagai Gubernur Provinsi Gorontalo memutuskan untuk membuka akses transportasi baru yaitu dengan pembangunan infrastruktur jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta (Gorontaloprov.go.id, 2019).
Kondisi geografis pemukiman warga Kelurahan Dembe – Lekobalo tentunya tidak dapat memaksakan kepentingan masyarakat membuka akses
5
transportasi dengan pelebaran jalan, apabila kepentingan masyarakat tetap dipaksakan nantinya akan berdampak pada tempat tinggal mereka sendiri.
Akhirnya masyarakat Kelurahan Dembe – Lekobalo menyetujui kepentingan pemerintah melalui kebijakan pembangunan infrastruktur jalan baru Tenilo – Pilolodaa – Iluta. Dengan demikian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Gorontalo melakukan proses pengambilan keputusan dengan cara mengambil tindakan-tindakan yang akan mengarah kearah pengembangan strategi yang dapat berjalan secara efektif atau yang dapat dijadikan sebagai pembantu pembangunan infrastruktur yang akan dicapai.
Pembukaan akses transportasi baru yaitu dengan pembangunan infrastruktur jalan Tenilo - Pilolodaa – Iluta yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Gorontalo melalui proses survei pemilihan lahan yang tentunya tidak melanggar prosedur dan menyalahi aturan tentang lingkungan dan kehutan. Maka akses transportasi yang nantinya akan dibangun melintasi bukit yang tidak terlalu menanjak, sehingga nanti jika pembangunan infrastruktur jalan sudah selesai, maka truk dan kenderaan yang bermuatan besar lainnya harus kearah jalan baru yang nantinya tembus di Bak Potanga (Kota Gorontalo) sehingga akses transportasi lama tidak terlalu macet dan tentunya tidak membahayakan masyarakat disekitarnya.
Perencanaan pembangunan infrastruktur jalan perlu didukung oleh berbagai aktor yang nantinya diikut sertakan dalam proses pembangunan agar segala perencanaan dapat diimplementasikan. Perencanaan umumnya dikenal sebagai pola atau gambaran dari sebuah rancangan rencana yang nantinya akan mengintegrasikan berbagai tujuan pokok dari suatu organisasi yang berupa kebijakan-kebijakan dan berbagai tahapan-tahapan kegiatan yang akan dimuat secara keseluruhan yang bersifat kohesif. Dikutip dari pendapat para ahli bahwa strategi perencanaan merupakan bentuk kecakapan bersamaan dengan sumber daya dari suatu organisasi dengan tujuan utama yaitu mencapai sasaran yang telah disusun sebelumnya melalui hubungan yang efektif diikuti dengan lingkungan dalam kondisi yang tentunya paling dapat menguntungkan (Salusu, 2006).
6
Perkembangan dan segala perubahan yang diperlukan oleh Provinsi Gorontalo yang merupakan provinsi muda tentunya bukan menjadi persoalan baru jika mengkait tentang pembangunan infrastruktur jalan, tujuan utama dilakukan pembangunan infrastruktur jalan tentunya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat (Indriana, 2018). Agar perencanaan strategi pemerintah dalam pembangunan dapat berlangsung dan berjalan sesuai dengan apa yang diingin dicapai maka persoalan penelitian yang akan dilakukan berhubungan dengan strategi pembangunan yang berjudul “Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah jelaskan maka rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Bagi peneliti, diharapkan penelitian ini dapat mengembangkan pengetahuan secara teoritis yang telah diperoleh selama dibangku perkuliahan.
b. Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini dapat membantu pembaca untuk dapat menambah wawasan mengenai bagaimana Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta.
7 1.4.2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Sebagai bahan pemikiran atau pembanding bagi lembaga pemerintahan bagimana bentuk upaya mengatasi masalah-masalah dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan di masa yang akan datang.
b. Sebagai bahan yang dapat digunakan dibagian keilmuan yang mengkaji permasalahan dalam pengetahuan khususnya pemerintah dalam pembangunan infrastruktur jalan di Provinsi Gorontalo.
1.5. Definisi Konseptual
Definisi konseptual merupakan pondasi utama atau disebut sebagai model yang akan menerangkan bagaimana bentuk dari penelitian ini ditujukan, yang berisi dengan hubungan-hubungan antar suatu teori dengan faktor-faktor penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan teori yaitu sebuah kumpulan proposi umum yang akan saling berkaitan dan dapat digunakan sebagai bahan penjelasan untuk hubungan yang timbul antara beberapa variabel yang telah diobserbasi, diidentifikasi, dikembangkan dari perumusan masalah.
1.5.1. Implementasi Program
Implementasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk tindakan dengan kata lain sebagai suatu kegiatan pelaksanaan sebuah strategi atau rencana yang telah tersusun rapi dengan arah dan tujuan yang jelas. Rencana strategi dapat diimplementasikan apabila suatu perencanaan atau strategi sudah ditetapkan dengan pasti dan tersusun secara sempurna. Apabila suatu perencanaan atau strategi telah ditetapkan dan dianggap sudah pasti maka dari itu implementasi dapat dilaksanakan secara terarah sebagaimana yang telah diputuskan pada renacan sebelumnya.
Setiap para ahli memiliki penjelasan yang berbeda-beda mengenai apa yang dimaksud dengan implementasi, namun pada intinya semua maksud daripada pengertian para ahli memiliki maksud dan tujuan yang sama.
8
Implementasi menurut Nurdin Usman merupakan suatu bentuk aktivitas berupa aksi atau tindakan yang terdiri dari berbagai mekanisme suatu sistem, implementasi adalah suatu upaya yang terlaksanakan dengan landasar perencanaan yang telah ditetapkan agar dapat mencapai target atau tujuan (N.
Usman, 2002). Sedangkan menurut Guntur Setiawan bahwa implementasi merupakan salah satu bentuk aktivitas yang dapat melibatkan segala bentuk penyesuaian dari proses interaksi antara tujuan yang akan dicapai dan tindakan yang akan dilakukan dengan catatan implementasi memerlukan jaringan pelaksanaan birokrasi yang efektif (Setiawan, 2004).
Berdasarkan dari beberapa penjelasan mengenai pemahaman tentang implementasi dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan suatu bentuk kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Selain itu, infrastruktur semestinya dilakukan dengan cara sungguh-sunggu atau sesuai dengan apa yang telah ditetapkan sebagai acuannya dalam kepentingan norma-norma untuk dapat mencapai apa yang sudah ditentukan sebagai tujuan kegiatan.
1.5.2. Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan merupakan suatu bentuk kegiatan yang memiliki arti dalam konsep umum yaitu sebagai suatu bentuk kegiatan yang mengalami peningkatan secara terus menerus. Namun istilah pembangunan memiliki bentuk pemaknaan yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan perorangan/individu, antara daerah, maupun negara. Pembangunan merupakan suatu proses dari pada perubahan yang telah direncanakan dengan tujuan untuk dapat memperbaiki atau meningkatkan kualitas berbagai aspek dalam kehidupan dalam suatu wilayah, sedangkan infrastruktur jalan diartikan sebagai suatu prasarana yang dapat dimanfaatkan oleh publik sebagai kepentingan bersama. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 menyebutkan bahwa jalan merupakan salah satu prasarana transportasi (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, 2004).
Menurut Ambar Sulistiyani dan Andi Muthaher (Sulistiyani & Muthaher, 2019) bahwa suatu praktik pembangunan dilakukan dengan pemerintah secara terarah dan ikuti dengan rencana strategi yang telah disusun bersama dengan baik
9
serta komprehensif. Setiap pembangunan pastinya memiliki target-target yang akan dicapai oleh sebabnya pembangunan harus mempertimbangkan apa saja pencapaian skali prioritasnya. Seperti pembangunan infrastruktur jalan yang akan menjadi konektivitas antara daerah-daerah yang menjadi hubungan dari daerah tertinggal, daerah berkembang, dan pusat-pusat pertumbuhan.
Pembangunan infrastruktur jalan dibutuhkaan sebagai kebutuhan dasar bagi publik yang tentunya harus dapat dipenuhi. Oleh karenanya hal tersebut berkaitan dengan kepentingan dari pada orang banyak, salah satunya sebagai roda penggerak daripada kebutuhan dasar dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat. Maka pembangunan infrastruktur jalan sebagai akses dan upaya menyambung hubungan antar wilayah harus dapat dibangun sememadai mungkin.
1.6. Definisi Operasional
Berdasarkan indikator atau tolak ukur untuk menilai sukses tidaknya implementasi, menurut Edward III (dalam Subarsono, 2011: 90-92) disebutkan bahwa terdapat empat indikator keberhasilan dalam pelaksanaan implementasi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi; bagaimana penyampaian informasi antara Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan masyarakat meliputi pertukaran infromasi.
2. Sumberdaya: bagaimana kemampuan sumberdaya yang diikut sertakan dalam proses pembangunan infrastruktur jalan.
3. Disposisi: bagaimana sikap atau respon pelaksana pembangunan infrastruktur jalan.
4. Struktur: bagaiman koordinasi terhadap pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab.
1.7. Kerangka Berfikir
Fenomena pembangunan infrastruktur jalan di Tenilo – Pilolodaa – Iluta merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti, hal ini dikarenakan pembangunan ini memiliki kepentingan yang berbeda antara masyarakat dan pemerintah. Dimana masyarakat meminta pelebaran jalan untuk kesejahteraan masyarakat akan tetapi pemerintah memutuskan untuk membangun jalan baru dengan tujuan yang sama yakni untuk kesejahteraan masyarakat dikarenakan
10
kondisi pelebaran jalan yang tidak mendukung. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori mengenai ‘Pendekatan Implementasi’ menurut Edward III guna mengalkaji keberhasilan dalam implementasi pembangunan jalan. Berdasarkan dari uraian-urain sebelumnya maka kerangka berpikir penelitian sebagaimana digambarkan pada gambar berikut ini:
Gambar 1.3. Kerangka berpikir
Sumber: Analisis peneliti 1.8. Metode Penelitian
1.8.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan cara mmengekspor segala fenomena-fenomena yang kemudian di analisis, digambarkan dan diringkas dalam berbagai kondisi, situasi yang merupakan hasil dari wawancara ataupu pengamatan. Data yang digunakan berasal dari hasil wawancara, observasi secara langsung pada lokasi pembangunan dan dokumentasi mengenai strategi pemerintah dalam pembangunan infrastruktur jalan di Provinsi Gorontalo.
11 1.8.2. Sumber Data
Penelitian yang menggunakan metode penelitian deksriptif kualitatif memperoleh data berupa data primer dan data sekunder. Adapun penjelasan mengenai kedua data tersebut sebagai berikut:
a. Data primer merupakan data yang didapat langsung ketika melakukan terjun lapangan secara langsung. Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil survey lapangan dengan menggunakan metode pengumpulan data secara langsung (Kuncoro & Sudarman, 2018).
Sehingga data primer dapat diperoleh melalui proses pengamatan secara langsung di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo dan di lokasi pembangunan jalan provinsi disertai dengan wawancara langsung bersama para pimpinan, staff dan para petugas yang memiliki tanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur jalan dengan observasi secara langsung yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
b. Data sekunder merupakan data yang tidak dapat di peroleh secara langsung serta memiliki sifat sebagai pelengkap. Serta berupa data- data tulisan seperti Renstra, Renja, dan lain sebagainya untuk data pelengkap, selain itu data sekunder lainnya yaitu rekaman-rekaman, gambar atau foto yang memiliki hubungan dengan penelitian mengenai pembangunan jalan.
1.8.3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian teknik pengumpulan data merupakan cara atau metode yang digunakan ketika mengumpulkan data penelitian. Berikut ini merupakan unsur utama dalam proses analisis data yang diperlukan dalam penelitian kualitatif:
a. Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Observasi dilakukan di Kantor Dinas Pekerja Umum dan Penataan Ruangan Provinsi Gorontalo dan di lokasi pembangunan
12
jalan provinsi yaitu di Kelurahan Demba – Lekobalo agar dapat memberikan bentuk gambaran secara langsung bagaimana Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta, sehingga peneliti dapat mengetahui dan memahami secara mendalam terkait implementasi program yang terjadi di lapangan.
b. Wawancara
Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab yang dilakukan dengan narasumber, wawancara dilakukan kepada para petugas yang memiliki tanggung jawab terhadap fokus penelitian di Kantor Dinas Pekerja Umum dan Penataan Ruangan Provinsi Gorontalo dan di lokasi pembangunan jalan provinsi, dengan dilakukan wawancara ini dapat mendapatkan gambaran pelaksanaan dan upaya pemerintah dalam Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti dalam studi kasus ini bersifat wawancara yang tidak terstruktur, sehingga narasumber akan lebih nyaman apabila berbagi informasi dan wawancara terjadi secara alamiah sehingga menimbulkan berbagai macam ide dan gagasan. Pada penelitian ini yang menjadi narasumber dalam wawancara untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta yaitu merupakan informan yang sudah ditetapkan sebagai sumber data. Adapun subjek-subjek yang dijadikan sebagai infroman dalam penelitian ini yaitu:
1. Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Evaluasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo;
2. Staff Perencanaan dan Evaluasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo;
13
3. Staff Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo;
4. Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo;
5. Koordinasi Lapangan Pengawas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo;
6. Pengawas Lapangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo;
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode yang dipergunakan untuk menelusuri data historis. Data historis ini merupakan data yang memiliki kegunaan dapat bertahan lama dari waktu ke waktu sehingga dapat menjadi bukti akurat dalam proses penelitian. Dokumentasi dalam penelitian ini merupakan kumpulan data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang didapatkan di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo berupa hasil rekapirulasi data seperti Renstra, Renja atau hasil penelitian sebelumnya serta gambar ataupun foto-foto yang dapat mendukung keberlangsungan penelitian.
1.8.4. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo yang berada di Jalan Prof. Dr. Aloe Saboe, Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Selain itu penelitian ini dilaksanakan di lokasi pembangunan infrastruktur jalan yaitu di Kelurahan Pilolodaa, Kelurahan Dembe I, Kelurahan Lekobalo (Kecamatan Kota Barat) dan Desa Iluta (Kecamatan Batudaa).
1.8.5. Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan untuk mengelola data yang didapat selama penelitian berlangsung agar dapat menghasilkan kesimpulan, sehingga itu analisa data merupakan suatu tahap yang terpenting di dalam suatu penelitian. Analisis data menurut Bogdan dan Biklen (2007) yaitu suatu kegiatan yang tergolong sebagai proses pencarian serta bentuk kegiatan pengaturan secara sistematik untuk
14
hasil wawancara yang didapatkan selama penelitian, data-data dan berbagai bentuk hasil yang telah terkumpulkan selama penelitian berlangsung untuk dapat menyajikan hasil penelitian dengan penjelasan yang lebih dapat dipahami sehingga data yang ditemukan dapat disajikan dengan susunan yang baik dan benar.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang artinya penelitian ini perlu melakukan beberapa tahapan untuk dapat menganalisis data, sebagaimana yang dikemukanan oleh Miles dan Huberman (1992) bahwa penelitian ini digunakan cara berpikir yang induktif untuk menganalisisa data yang kemudian memperoleh kesimpulan. Metode perpikir induktif yaitu untuk dapat mengambil data sebagai pijakan dalam menjelaskan fenomena sehingga dapat ditarik pada kesimpulan akhir. Yang lebih jelasnya analisis data perlu melakukan tiga tahapan yaitu: reduksi data; paparan data; penarikan kesimpulan dan verifikasi. Sedangkan tahapan analisis data menurut Miles dan Huberman adalah sebagai berikut.
Gambar 1.4. Model analisis interaktif Miles dan Huberman
Sumber: Milles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2018)
Melalui gambar bagan dapat diartikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara mengikuti langkah-langkah yang sudah ditentukan dalam proses analisis data, yaitu:
15
1. Mereduksi data, yaitu melakukan hal-hal inti pertama dengan menetapkan data-data penting terpakai, hasil-hasil rangkuman yang menjadi topik pembahasan dari pada kasus permasalahan yang diangkat oleh peneliti sesuai dengan tema. Data tersebut berasal dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan selama di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Gorontalo dan diperkuat dengan data yang ditemukan selama berada di lokasi pembangunan yaitu di Kelurahan Dembe – Kelurahan Lekobalo (Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta). Kemudian data-data tersebut dipilih dan diseleksi sesuai dengan rumusan masalah yang ada sehingga data yang akan digunakan dalam hasul penelitian ini nanti akan memberikan gambaran yang lebih jelas sehingga mampu memfokuskan hal-hal yang tergolong penting dengan relevan, maka dengan itu akan lebih muda untuk memapaparkan data.
2. Pemaparan data, yaitu suatu kegiatan yang dimelakukan suatu tindakan dengan memaparkan sekumpulan informasi yang telah diperoleh dengan posisi yang tersusun rapi berdasarkan urutan rumusan masalah sehingga memungkinkan untuk dapat menarik kesimpulan. Selanjutnya untuk data-data yang ikut menjadi kepentingan dari rumusan masalah terkait Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta diperoleh, sehingga dapat disajikan sebagai data yang telah diolah berdasarkan susunan rumusan masalah.
3. Penarikan kesimpulan, setelah semua data-data yang dibutuhkan telah terkumpul dan telah berhasil dipaparkan maka setalah itu yang perlu dilakukan pada penelitian ini yaitu menarik kesimpulan yang sesuai dengan hasil yang telah diperoleh sebelumnya. Di bagian kesimpulan maka harus menjelaskan secara sangat singkat apakah Implementasi Program Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Studi Kasus di Jalan Tenilo – Pilolodaa – Iluta berhasil atau tidak, bagaimana proses yang dilewati untuk mewujudkan program tersebut.