B. 157
MODEL TURBIN ANGIN DARRIEUS SUDU GANDA
Sahid, Totok P., Baktiyar MH., Anis R., F.Gatot S, Nur Fatowil A
Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, S.H., Tembalang, Semarang 50275
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Turbin angin Darrieus merupakan jenis turbin angin sumbu vertikal yang memiliki poros rotor utama disusun tegak lurus. Sudu turbin Darrieus berjumlah tiga menggunakan sudu profile NACA0016. Kelebihan utama turbin dapat mengkoversi energi angin dari segala arah. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji secara eksperimental kinerja turbin Darrieus dengan profil NACA 0016 yang masing-masing sudu dibuat ganda. Metode penelitian dilakukan melalui penelusuran sumber pustaka dan material penelitian. Berdasarkan kajian pustaka dan penelusuran penelitian maka didapatkan rancangan model sudu turbin Darrieus untuk profil NACA 0016. Perancangan model penelitian meliputi turbin Darrieus sudu tunggal dan ganda. Pemegang sudu pada turbin sudu ganda diberi slot pada bagian dalam untuk mengatur posisi sudu dalam. Jumlah sudu (tunggal dan ganda) dan posisi sudu pada sudu ganda merupakan variable penelitian. Proses pengerjaan meliputi rangka, rotor, pembuatan sudu sesuai rancangan dengan bahan fiberglass, perakitan turbin angin, proses pengujian, pengambilan data, dan analisis kinerja. Pengujian dan pengambilan data dilakukan menggunakan alat uji blower pada kecepatan angin 4 m/s sd 12 m/s dengan beban mekanik. Analisis kinerja turbin angin didasarkan pada perhitungan koefisien daya (Cp) yang merupakan perbandingan antara daya keluaran (daya generator) dengan daya angin dan perhitungan tipspeedratio (TSR) yang ditampilkan melalui grafik-grafik kinerja turbin. Hasil uji turbin angin Darrieus dengan NACA 0016 dengan 3 sudu ganda memiliki Cp paling bagus pada pengujian setiap kecepatan angin. Pada kecepatan 7 m/s menghasilkan Cp sebesar 0,066 dan TSR sebesar 0,97. Turbin angin Darrieus dengan NACA 0016 pada 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan memiliki Cp dan TSR lebih baik dibanding 3 sudu tunggal. Pada kecepatan angin 8 m/s sudu tunggal memiliki Cp sebesar 0,0188 dan sudu ganda memiliki Cp sebesar 0,038, meningkat 111 % dibanding sudu tunggal.
Kata Kunci: Turbin angin Darrieus, NACA 0016, sudu ganda, posisi sudu, koefisien daya
PENDAHULUAN
Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya dengan potensi sumber daya alamnya terutama energi, baik yang berasal dari hasil tambang, air dan udara. Berdasarkan jenisnya energi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu energi terbarukan(renewable energy) dan energi tidak terbarukan (non-renewable energy). Sumber energi yang dapat diperbarui misalnya energi angin, biomassa, biogas, energi kayu. Sedangkan sumber energi seperti
Semarang, Indonesia.
B. 158
minyak bumi, batubara, gas alam adalah sumber energi yang bersifat tidak dapat diperbarui atau dapat habis. Sumber energi tidak dapat diperbarui (non-renewable energy) seperti energi fosil khusunya bahan bakar minyak akan segera habis. Gas alam diprediksi para ahli akan habis lebih kurang 100 tahun lagi, sedangakan cadangan batubara akan habis lebih kurang 200-300 tahun yang akan datang. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kelangsungan hidup manusia.Angin merupakan salah satu sumber energi potensial yang kuantitasnya cukup banyak untuk daerah - daerah di Indonesia, tetapi belum banyak di manfaatkan. Salah satu energi terbarukan yang berkembang pesat didunia saat ini adalah energi angin. Energi angin merupakan energi terbarukan yang sangat fleksibel. Energi angin dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluaan misalnya pembangkit listrik, pemompaan air untuk irigasi, pengering atau pencacah hasil panen, aerasi tambak ikan/udang, dan lain sebagainya. Selain itu pemanfaatan energi angin dapat dilakukan baik di daerah landai maupun dataran tinggi, bahkan dapat diterapkan dilaut, berbeda halnya dengan energi air.
Di wilayah Indonesia yang berada di daerah khatulistiwa memiliki cukup banyak potensi angin yang tersedia. Seperti peta angin pada gambar 1.1. Terlihat rata-rata angin di Indonesia banyak di daerah pantai dan semakin kuat angin pada daerah Indonesia bagian timur.
Pada peta di atas (gambar 1.1) ditunjukkan daerah-daerah di Indonesia yang memiliki potensi energi angin berdasarkan data kecepatan angin rata-rata. Berdasarkan kriteria turbin angin seperti turbin angin Darrieus, maka dibutuhkan angin berkecepatan minimal 6 m/detik.
Daerah yang memiliki kecepatan rata-rata angin di atas 6 m/detik banyak ditemui pada pulau-pulau di Indonesia bagian timur. Berdasarkan data potensi angin tersebut dilakukan pengembangan turbin angin Darrieus skala laboratorium (modeling) dengan variasi NACA.
Gambar 1. Kecepatan Angin Rata-Rata Per Januari 2014
B. 159
(Sumber : http://www.bmkg.go.id)
Turbin Darrieus mampu bekerja dengan baik pada kecepatan angin 8 m/s minimal dan mencapai puncak pada kecepatan 12 m/s. Meskipun dapat berputar pada kecepatan 6 m/s, kerja yang dihasilkan sangat kecil. Upaya yang dilakukan melalui penelitian ini adalah dengan membuat ganda pada setiap sudu. Secara teori penambahan sudu akan meningkatkan kerapatan rotor (Rotor solidity), sehingga turbin diharapkan mampu beroperasi pada daerah kecepatan angin yang lebih rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kinerja turbin angin Darrieus sudu ganda.
METODE PENELITIAN
Perancangan alat ini dilakukan adalah perancangan turbin angin Darrieus tiga sudu tunggal dan tiga sudu ganda. Sudu menggunakan profil NACA 0016. Perancangan meliputi tiang atau menara, poros turbin, sudu dan pemegang sudu. Panjang sudu 70 cm dengan panjang linechord 10 cm. Pemegang sudu bagian dalam dibuat slot, sehingga posisi sudu dalam pada sudu ganda dapat divariasikan. Posisi sudu ganda menjadi salah satu variabel penelitian ini (lihat Gambar 3). Variabel lainnya adalah jumlah sudu (tunggal dan ganda).
Kemudian menentukan spesifikasi tiap-tiap komponen maupun konstruksi secara keseluruhan pada desain turbin disertai pemilihan jenis material yang sesuai kebutuhan.
Uji yang dilakukan meliputi uji karakteristik kinerja turbin angin yang dilakukan terhadap rotor turbin, dengan variabel jumlah sudu (tunggal dan ganda) dan posisi sudu pada rotor sudu ganda. Setiap rotor diuji pada variasi kecepatan angin mulai dari 7 m/s sd 12 m/s.
Hasil uji berupa grafik karakteristik masing-masing rotor turbin dibandingkan dan dikaji secara diskriptif unjuk kerjanya. Langkah-langkah pengujian meliputi
Pelaksanaan pengujian, dimana pada tahap ini akan dilakukan pengambilan data.
Parameter yang diukur dalam pengujian adalah kecepatan angin (m/s) yang akan digunakan memutar sudu turbin; putaran poros (rpm), yaitu putaran yang dihasilkan oleh poros turbin setelah sudu turbin dikenai angin dengan kecepatan yang telah ditentukan; daya turbin (watt), yaitu besarnya daya air yang mampu dihasilkan oleh turbin angin; daya generator (watt), koefisien daya (%), yaitu perbandingan antara daya keluaran dengan daya masukan.
Pengolahan dan Analisis,
Data hasil pengujian diolah untuk mendapatkan kecepatan angin, putaran poros, daya turbin dan daya generator, tegangan, arus, beban, koefisien daya turbin. Hasil pengolahan kemudian dipajangkan dalam bentuk grafik karakteristik kinerja turbin angin.Unjuk kerja
B. 160
masing-masing turbin tersebut dikaji dan dianalisis secara diskriptif. Sehingga akan menghasilkan kesimpulan pada turbin angin dengan parameter optimum dimana turbin memiliki unjuk kerja terbaik.
Gambar 2. Instalasi turbin angin sudu ganda: (1) pemegang sudu, (2) sudu, (3) sepatu sudu, (4) rangka, (5) transmisi belt, (6) generator.
(a) (b) (c)
Gambar 3. Posisi sudu ganda: (a) sejajar, (b) sudu luar di depan, (c) sudu dalam di depan
B. 161
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil perhitungan pengujian turbin angin Darrieus variasi 3 sudu tunggal dan tiga sudu ganda dengan 3 posisi sudu yang berbeda dengan profil NACA 0016 dengan kecepatan angin 7 m/detik, 8 m/detik, 9 m/ detik, 10 m/ detik, 11 m/ detik, dan 12 m/ detik diolah menjadi grafik hubungan antara koefisien daya (Cp) dengan tip speed ratio (TSR). Di bawah ini ditampilkan grafik hasil perhitungan :
Gambar 4. Grafik Karakteristik Hubungan Antara Koefisien Daya (Cp) Terhadap Tip Speed Ratio (TSR) Pada Kecepatan Angin 7 m/detik
Gambar 4. Merupakan grafik karakteristik Cp terhadap TSR turbin Darrieus dengan profil NACA 0016 yang diuji pada kecepatan angin 7 m/s, dengan variasi jumlah sudu turbin dan posisi sudu turbin yaitu 3 sudu tunggal dan 3 sudu ganda dengan 3 variasi posisi sudu turbin. Koefisisen daya merupakan perbandingan daya masukan (daya angin) terhadap daya keluaran (daya listrik). Tip Speed Ratio (rasio kecepatan ujung) merupakan perbandingan antara kecepatan ujung rotor terhadap kecepatan angin bebas. Oleh karenanya pengujian dilakukan pada kecepatan angin angin tetap. Maka Tip Speed Ratio berbanding lurus terhadap putaran, artinya semakin tinggi TSR menunjukan semakin tinggi putaran turbin yang dihasilkan. sudu ganda posisi sudu dalam di depan memiliki nilai Cp maksimum sebesar 0,066 dan TSR sebesar 0,97 pada beban 20Ω. Saat sudu ganda posisi sudu luar didepan memiliki Cp maksimum sebesar 0,0238 dan TSR sebesar 0,57 pada beban 55Ω dan sudu ganda sejajar Cp maksimum sebesar 0,011 dan TSR sebesar 0,82 pada beban 65Ω.
B. 162
Perbandingan hasil Cp dan TSR dari ketiga sudu ganda dengan variasi posisi sudunya didapatkan hasil Cp dan TSR terbesar saat posisi sudu ganda posisi sudu dalam didepan dengan nilai Cp sebesar 0,066 dan TSR sebesar 0,97 pada beban 20Ω. Berdasarkan hasil uji dilihat pada gambar 4.3 bahwa kurva dengan garis merah merupakan kurva dari 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan, kurva tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi lainnya.
Maka Cp dan TSR Darrieus 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan lebih besar dibandingkan 3 sudu ganda sudu luar didepan, dan 3 sudu ganda sejajar. Besarnya nilai Cp dipengaruhi oleh jumlah sudu, variasi posisi sudu turbin, daya output (Pgen) dan daya input (Pangin) , nilai daya output maksimal maka hasil Cp juga maksimal. Untuk Cp terbesar dari 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan Pgen sebesar 3,49 dengan Cp maksimum sebesar 0,066. Semakin besar nilai Pgen dibandingkan Pangin maka nilai Cp semakin besar. Urutan nilai Cp dan TSR terbesar yaitu 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan > 3 sudu ganda posisi sejajar > 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan.
Gambar 5. Grafik Karakteristik Hubungan Antara Koefisien Daya (Cp) Terhadap Tip Speed Ratio (TSR) Pada Kecepatan Angin 8 m/s
Gambar 5. kurva dengan garis merah merupakan grafik 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan. Dibandingkan dengan kurva garis biru saat 3 sudu tunggal, nilai Cp terbesar 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan sebesar 0,038 dan TSR sebesar 1,41. Untuk Cp 3 sudu tunggal sebesar 0,0188 dan TSR sebesar 1,04. Hasil perbandingan Cp memiliki peningkatan sebesar 1,92 % dan TSR 0,37. Nilai puncak Cp dan TSR saat 3 sudu ganda posisi sudu luar
B. 163
didepan masing-masing sebesar 0,0169 dan 0,63. Saat 3 sudu ganda posisi sejajar masing- masing Cp dan TSR sebesar 0,0169 dan 0,94. Cp dan TSR dari 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan dan 3 sudu ganda posisi sejajar dibandingkan dengan 3 sudu tunggal, Cp dan TSR sudu tunggal lebih tinggi, yaitu masingmasing memiliki peningkatan Cp sebesar 0,19%
dari 3 sudu ganda posisi sudu luar dan 3 sudu ganda posisi sejajar. Peningkatan TSR dari 3 sudu ganda posisi sejajar sebesar 0,41 dan peningkatan TSR dari 3 sudu ganda sejajar sebesar 0,1%.
Gambar 6. Grafik Karakteristik Hubungan Antara Koefisien Daya (Cp) Terhadap Tip Speed Ratio (TSR) Pada Kecepatan Angin 9 m/detik
Gambar 6. adalah grafik Cp terhadap TSR turbin Darrieus dengan profil NACA 0016 yang diuji pada kecepatan angin 9 m/detik. Kurva garis berwarna biru yaitu saat 3 sudu tunggal dengan puncak Cp dan TSR sebesar 0,0174 dan 0,779. Kurva garis merah merupakan kurva dari 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan dengan Cp sebesar 0,0238 dan TSR 0,96. Kurva garis hijau yaitu 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan, Cp dan TSR puncaknya masing-masing sebesar 0,013 dan 0,95. Kurva garis warna ungu merupakan grafik dari 3 sudu posisi sejajar dengan Cp puncak dan TSR yaitu 0,0094 dan 0,45. Selisih nilai Cp antara 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan dengan 3 sudu tunggal yaitu memiliki peningkatan 0,64% dan selisih TSR sebesar 0,181. Selisih Cp antara 3 sudu tunggal dengan 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan yaitu 0,44% dan selisih TSR antara 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan dengan 3 sudu ganda sebesar 0,171. Peningkatan nilai Cp 3
B. 164
sudu tunggal dibandingkan dengan 3 sudu ganda posisi sejajar yaitu 0,8% dan peningkatan TSR sebesar 0,33.
Gambar 7. Grafik Karakteristik Hubungan Antara Koefisien Daya (Cp) Terhadap Tip Speed Ratio (TSR) Pada Kecepatan Angin 10 m/detik
Gambar 7. Hasil uji pada kecapatan angin 10 m/detik, yaitu kurva pada 3 sudu tunggal Cp maksimal sebesar 0,0133 dan TSR 0,696. Cp dan TSR dari 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan yaitu masing-masing sebesar 0,0179 dan 1,06. Cp dan TSR 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan yaitu sebesar 0,009 dan 1,25. Dan 3 sudu ganda posisi sejajar Cp sebesar 0,0106 dan TSR 0,515. Urutan Cp terbesar dari ke empat kurva pada gambar 4.6 yaitu 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan > 3 sudu tunggal > 3 sudu ganda posisi sejajar
> 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan. Urutan TSR terbesar yaitu 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan > 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan > 3 sudu tunggal > 3 sudu ganda posisi sejajar.
Gambar 8 adalah grafik hasil uji pada kecepatan angin 11 m/detik dengan empat kurva didalamnya. Kurva pertama yaitu saat 3 sudu tunggal, Cp puncak sebesar 0,0072 dan TSR 0,67. Kedua, 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan Cp terbesar yaitu 0,0153 dan TSR sebesar 0,64. Ketiga, 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan dengan Cp 0,0058 dan TSR terbesar 0,78. Keempat, 3 sudu ganda posisi sudu sejajar menghasilkan Cp 0,0088 dan TSR 0,49. Urutan Cp terbesar dari ke empat kurva pada gambar 4.7 yaitu 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan > 3 sudu ganda posisi sudu sejajar > 3 sudu tunggal > 3 sudu ganda
B. 165
posisi sudu luar didepan. Dan TSR terbesar yaitu 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan > 3 sudu tunggal > 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan > 3 sudu ganda posisi sudu sejajar.
Gambar 8. Grafik Karakteristik Hubungan Antara Koefisien Daya (Cp) Terhadap Tip Speed Ratio (TSR) Pada Kecepatan Angin 11 m/detik
Gambar 9. Grafik Karakteristik Hubungan Antara Koefisien Daya (Cp) Terhadap Tip Speed Ratio (TSR) Pada Kecepatan Angin 12 m/detik
Gambar 9 menunjukkan grafik hubungan Cp dengan TSR pada kecepatan angin 12 m/detik. Didalam grafik tersebut didalamnya terdapat empat kurva yaitu pertama, 3 sudu tunggal dengan Cp 0,0081 dan TSR 0,756. Kedua, kurva 3 sudu ganda posisi sudu dalam
B. 166
didepan dengan Cp terbesar 0,0138 dan TSR terbesar 0,79. Ketiga, 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan dengan Cp 0,0052 dan TSR 0,42. Keempat, 3 sudu ganda posisi sudu sejajar menghasilkan Cp 0,0072 dan TSR 0,65. Urutan Cp dan TSR terbesar yaitu 3 sudu ganda posisi sudu dalam > 3 sudu tunggal > ganda posisi sudu sejajar > 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan.
Berdasarkan data hasil perhitungan koefisien daya (Cp) dan tip speed ratio (TSR) turbin angin Darrieus yang ditunjukan dalam grafik dapat diketahui bahwa turbin dengan 3 sudu ganda posisi sudu diameter dalam didepan memiliki nilai Cp dan TSR yang lebih tinggi dibandingkan 3 sudu tunggal, 3 sudu ganda posisi sudu diameter luar didepan, dan sudu ganda posisi sudu diameter dalam dan luar sejajar yaitu pada kecepatan angin 7 m/detik, 8 m/detik, 9 m/detik, 10 m/detik, 11 m/detik, dan 12 m/detik. Masing-masing Cp yaitu sebesar 0,066; 0,038; 0,0238; 0,0179; 0,0153; 0,0138. Dan TSR masing-masing sebesar 0,97; 1,41;
0,96; 1,06; 0,64; 0,79. Untuk Cp 3 sudu tunggal pada kecepatan angin 8 m/detik hingga 12 m/detik yaitu masing-masing sebesar 0,0188; 0,0174; 0,0133; 0,0072; 0,0081 dan TSR 1,04;
0,779; 0,696; 0,67; 0,756. Nilai Cp dari 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan dengan kecepatan angin 7 m/detik hingga 12 m/detik yaitu 0,0238; 0,0169; 0,013; 0,009; 0,0058;
0,0052. Dan TSR masing-masing yaitu 0,57; 0,63; 0,95; 1,25; 0,78; 0,42. Untuk 3 sudu posisi sejajar nilai Cp yaitu 0,011; 0,0169; 0,0094; 0,0106; 0,0088; 0,0072. Dan TSR masing- masiing yaitu 0,82; 0,94; 0,45; 0,515; 0,49; 0,65. Nilai Cp dan TSR untuk 3 sudu tunggal pada kecapatan 8 m/detik hingga 11 m/detik nilainya menurun dan meningkat pada kecepatan 12 m/detik.
Turbin angin vertikal arah bidang putarnya sejajar dengan arah angin sehingga gaya yang berpengaruh terhadap putaran adalah gaya drag yang dihasilkan dari gesekan angin terhadap permukaan sudu.Sedangkan angin horizontal menggunakan beda tekanan antara bagian atas dengan bagian bawah sudu atau disebut gaya lift untuk dapat memutar sudu.
Berdasarkan teori tersebut profil sudu NACA 0016 untuk 3 sudu tunggal saat dilakukan pengujian diberi beban 70 ohm tidak berputar pada kecepatan angin 7 m/s. Tapi saat kecepatan angin 8 m/detik hingga 12 m/detik turbin angin Darrieus 3 sudu tunggal profil NACA 0016 dapat berputar dan bisa dilakukan pengujian. Hal ini dapat terjadi karena sudu NACA 0016 yang sangat tipis dan ringan, sehingga menghasilkan gaya drag yang nilainya sangat kecil sehingga tidak memiliki power yang cukup untuk membuat turbin berputar dan kecepatan angin yang rendah maka turbin berhenti berputar ketika diberi beban
B. 167
SIMPULAN
Hasil penelitian turbin angin tipe Darrieus tiga sudu ganda NACA 0016 berbahan fiber dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Turbin Darrieus dengan NACA 0016 berbahan fiber dengan variasi jumlah sudu dan posisi sudu yaitu 3 sudu tunggal, 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan, 3 sudu ganda posisi sudu luar didepan, dan 3 sudu ganda posisi sejajar.
b. Hasil uji turbin angin Darrieus dengan NACA 0016 dengan 3 sudu ganda memiliki Cp paling bagus pada pengujian setiap kecepatan angin. Pada kecepatan 7 m/s menghasilkan Cp sebesar 0,066 dan TSR sebesar 0,97.
Turbin angin Darrieus dengan NACA 0016 pada 3 sudu ganda posisi sudu dalam didepan memiliki Cp dan TSR lebih baik dibanding 3 sudu tunggal. Pada kecepatan angin 8 m/s sudu tunggal memiliki Cp sebesar 0,0188 dan sudu ganda memiliki Cp sebesar 0,038, meningkat 111 % dibanding sudu tunggal.
DAFTAR PUSTAKA
Andrawus J.A. 2008. Maintenance Optimisation for Wind Turbines. Thesis for Degree of Doctor of Phylosophy. The Robert Gordon University
Ariati, R. 2008. Pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) Berbasis Energi Non Fosil.http://www.energi terbarukan.net., diakses 20 Agustus 2009
AWEA. 2004. The American Wind Energy Association.http://www.awea.org. diakses tanggal 5 Oktober 2009
Beri H, and Yao Y. 2011. Effect of Chamber Airfoil on Self Starting of Vertical Axis Wind Turbine. Journal of Environment Science and Technology. Vol. 4 (3), pp. 302-312 Bondan PA, Rilyandi H, Yuli R. 2007. Rancang Bangun Turbin Angin Savonius sebagai
Penggerak Pompa Sudu Luncur.Jurnal Eksergi Vol 3 nomor 1.hal 8-13. ISSN 0216- 8685
BWEA. 2002. The British Wind Energy Association. http://www.bwea.com. diakses tanggal 6 Oktober 2009
Cooper P and Kennedy O. 2004. Development and Analysis of a Novel Vertical Axis Wind Turbines. Journal of Mechanical and Materials Engineering. Wollongong. Australia De Renzo D.J. 1979, Wind Power, New Jersey, USA : Park Ride
DESDM (Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral). 2005. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025, Jakarta.
El Wakil, M. 1987. Mesin Konversi Energi untuk Pembangkit Daya. Jakarta. Erlangga
B. 168
El-Tous Y. 2008. Pitch Angle Control of Variable Speed Wind Turbine. American Journal of Engineering and Applied Sciences vol.1 (2). Pp. 118-120
Eriksson S, Bernhoff H, and Leijon M. 2008. Evaluation of Different Turbine Concept for Wind Power. Renewable and Sustainable Energy Reviews. vol 12, pp. 1419-1434 Freris L.L. 1989, Wind Energy Conversion System, London, UK : Prentice Hall
Grant A and Kelly N. 2003. The Development of a Ducted Wind Turbine Simulation Model.
Eight International IBPSA Conference. Eindhoven Netherlands
Grinspan AS., P. Suresh Kumar, UK. Saha, P. Mahanta, DV. Ratna Rao and G. Veda Bhanu.
2006. Design, Development and Testing of Savonius Wind Turbine Rotor with Twisted Blade. Departement of Mechanical Engineering.Indian Institute of
Technology, Guwahati-781 039,
India.http://www.greenenergywindturbine.com/.../C_FMFP_Chandigarh_2001%5B1
%5D.pdf. Diakses tanggal 9 Desember 2009
Gupta R, Roy S, and Biswas A. 2010. Computational Fluid Dynamics of Twisted Airfoil Shaped Two Bladed H-Darrieus Rotor Made From Fibreglass Reinforced Plastic (FRP). International Journal of Energy and Environment. Vol. 1. Pp. 953-968
Hartanto W. 2007. Pembuatan dan Pengujian Turbin Angin Darrieus dengan Variasi Sudut Sudu. Polines. Semarang
Heege A, Betran J, Bastard L, and Lens E. 2007. Computation of Dynamic Loads of Wind Turbine Power Trains. Mecanica Computacional. Vol. XXVI, pp. 2985-3004
Herlambang, Yusuf D. 2008. Unjukkerja Turbin Angin Nibe 3-Sudu Menggunakan Pompa Sudu Luncur untuk Pengambilan Air. Jurnal Eksergi. vol. IV nomor 2. hal 12-16. ISSN 0216-8685
Hofman H dan Harun. 1987.Energi Angin. Penerbit Binacipta, Jakarta
Islam M, Ting David SK, and Fartaj A. 2008. Aerodynamic Models for Darrieus-Type Straight-Bladed Vertical Axis Wind Turbines. Renewable and Sustainable Energy Reviews. pp. 1087-1109
Johansen J and Sorensen Niels N. 2002. Numerical Investigation of Three Wind Turbine Blade Tips. Riso National Laboratory. Roskilde
Lanzafame R, and Messina M. 2007. Fluid Dynamics Wind Turbine Design: Critical Analysis, Optimization and Application of BEM Theory. Renewable Energy vol. 32, pp. 2291-2305
Lescher F, Zhao J.Y, and Martinez A. 2006. LQG Multiple Model Control of a Variable Speed Pitch Regulated Wind Turbine. ERPA-EIGSI. France
Leysen E.H. 1983, Introduction to Wind Energy. PO BOX 85/Amersfort/The Netherlands:
Steering Committee Wind Energy, Developing Countries
Li Y, Tagawa K, and Liu W. 2010. Performance Effect of Attachment on Blade on Straight- Bladed Vertical Axis Wind Turbine. Current Applied Physics vol. 10, pp. S335-S338 Masson C, Ammara I, and Paraschivoiu. 1997. An Aerodynamic Method for The Analysis
of Isolated Horizontal Axis Wind Turbines. International Journal of Rotating Machinery. Vol. 3 no.1 pp. 21-32
B. 169
Perdana A. 2008. Dynamic Models of Wind Turbines. Thesis for The Degree of Doctor of Philosophy. Departement Energy and Environment. Chalmers University of Sweden