KINERJA JALAN DI KOTA SURABAYA BERDASARKAN TINGKAT PELAYANAN JALAN
Muhammad Adie Putra Tanggara, Imma Widyawati Agustin, Septiana Hariyani Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65145 -Telp (0341)567886 E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Jalan perkotaan menjadi wadah berbagai tujuan aktivitas transportasi dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui karakteristik geometrik dan kinerja jalan pada ruas Jalan Ahmad Yani, Jalan Dr. Ir. H. Soekarno, Jalan Raya Diponegoro, Jalan Raya Mastrip, dan Jalan Raya Tambak Osowilangun. Metode penelitian yang digunakan dalam menentukan kinerja jalan adalah tingkat pelayanan jalan. Tingkat pelayanan (level of service) adalah ukuran kinerja ruas jalan atau simpang jalan yang dihitung berdasarkan tingkat penggunaan jalan, kecepatan, kepadatan dan hambatan yang terjadi. Dalam bentuk matematis tingkat pelayanan jalan ditunjukkan dengan Q/C (Q = volume lalu lintas, C = kapasitas jalan). Hasil yang di dapat adalah Jalan Ahmad Yani memiliki volume lalu lintas sebesar 9675,23 Skr/jam menghasilkan derajat kejenuhan sebesar 0,6108 sehingga masuk kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor C. Pada Jalan Dr. Ir. H.
Soekarno memiliki volume lalu lintas sebesar 6640,10 Skr/jam menghasilkan derajat kejenuhan sebesar 0,7674 sehingga masuk kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor D. Jalan Raya Diponegoro memiliki volume lalu lintas sebesar 5713,65 Skr/jam menghasilkan derajat kejenuhan sebesar 0,7129 sehingga masuk kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor C. Jalan Raya Mastrip memiliki volume lalu lintas sebesar 1845,83 Skr/jam menghasilkan derajat kejenuhan sebesar 0,4196 sehingga masuk kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor B. Jalan Raya Tambak Osowilangun memiliki volume lalu lintas sebesar 3621,88 Skr/jam menghasilkan derajat kejenuhan sebesar 0,5963 sehingga masuk kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor C.
Kata Kunci: Karakteristik-Jalan, Kinerja-Jalan, Tingkat-Pelayanan ABSTRACT
Urban roads are a container for various transportation activities with a high level of traffic density. This study aims to determine the geometric characteristics and road performance on Jalan Ahmad Yani, Jalan Dr. Ir. H.
Soekarno, Jalan Raya Diponegoro, Jalan Raya Mastrip, and Jalan Raya Tambak Osowilangun. The research method used in determining road performance is the level of road services. Service level (level of service) is a measure of the performance of a road section or road intersection which is calculated based on the level of road use, speed, density and obstacles that occur. In mathematical form, the level of road service is indicated by Q / C (Q = traffic volume, C = road capacity). The results obtained are that Ahmad Yani Street has a traffic volume of 9675.23 Skr / hour resulting in a degree of saturation of 0.6108 so that it is included in the category of road service level with a score of C. On Dr. Ir. H. Soekarno Street has a traffic volume of 6640.10 Skr / hour resulting in a degree of saturation of 0.7674 so that it is included in the category of road service level with a score of D. Diponegoro Street has a traffic volume of 5713.65 Skr / hour resulting in a degree of saturation of 0.7129 so that it is included in the category of road service level with a score of C. Mastrip Street has a traffic volume of 1845.83 Skr / hour resulting in a degree of saturation of 0.4196 so that it is included in the category of road service level with a score of B. Tambak Osowilangun Street has a traffic volume. traffic of 3621.88 Skr / hour produces a degree of saturation of 0.5963 so that it is included in the category of road service level with a score of C.
Keywords: Road-Characteristic, Road-Performance, Level-of-Service
PENDAHULUAN
Jalan perkotaan memiliki peranan penting dalam segala aktivitas yang terjadi di dalam suatu kota, fungsinya adalah untuk meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas pengendara dalam menjalankan segala kegiatannya dalam lingkup kota seperti dikutip pada jurnal yang menjelaskan bahwa Jalan perkotaan merupakan wadah
berbagai tujuan aktivitas transportasi dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi (Zanuardi, 2018). Lalu lintas yang tinggi merupakan dampak dari keberadaan jumlah kendaraan pribadi yang juga terus meningkat.
Kota Surabaya yang merupakan kota metropolitan terbesar kedua setelah Kota Jakarta dimana memiliki jumlah penduduk yang tinggi menyebabkan tingginya volume lalu lintas.
Jumlah kendaraan di Kota Surabaya hingga tahun 2016 sudah mencapai 2.126.168 unit dengan prosentase kendaraan motor sebesar 78%, mobil sebesar 16%, dan sisanya sebesar 6% adalah kendaraan seperti, bis, truk, dan transportasi berat lainnya (Kota Surabaya Dalam Angka, 2017). Kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya kemacetan di Kota Surabaya.
Terjadinya kemacetan merupakan ketidak seimbangan jaringan lalu lintas yang ada, penumpukan beberapa jenis kendaraan mulai dari sepeda, sepeda motor, mobil, mobil boks, truk, bus dan angkutan umum lainnya di suatu jalan yang menyebabkan terhambatnya jaringan lalu lintas kota (Triantoni, 2020). Selain itu, menurut Oktaviani (2019) menyebutkan kemacetan merupakan kondisi tersendatnya atau berhentinya lalu lintas akibat banyaknya jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas ruas jalan.
Sehingga akan menggunakan lebih banyak ruang dan mengurangi arus kendaraan.
Kapasitas ruas jalan yang tidak sesuai disebabkan akibat laju pertumbuhan kendaraan tidak secepat pembangunan infrastrukturnya, seperti yang dikatakan oleh de Rozari (2015), pada penelitiannya mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur atau pertambahan jumlah dan lebar jalan masih sangat kecil yakni kurang lebih di bawah 1% per tahunnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingginya volume lalu lintas belum diimbangi oleh keberadaan infrastruktur transportasi yang memadai. Selain itu pada penelitian lainnya yang terjadi di Kota Pagar alam khususnya Jalan Indragiri, terdapat hambatan samping yang merupakan kendaraan parkir dan angkutan umum yang berhenti di ruas jalan tersebut. Dengan adanya kendaraan–
kendaraan yang diparkir dipinggiran jalan, akan dapat menimbulkan terjadinya antrian kendaraan bahkan kemacetan lalu lintas pada suatu ruas jalan (Syukarman, 2019).
Selain masalah kemacetan, berbagai permasalahan transportasi yang sering dialami dengan tingginya kepadatan lalu lintas salah satunya adalah kecelakaan lalu lintas.
Permasalahan ini pada umumnya terjadi ketika sarana transportasi, baik dari segi jalan, kendaraan, dan sarana pendukung lainnya belum mampu mengimbangi perkembangan yang ada di masyarakat (Enggarsari, 2017). Pertumbuhan pengguna kendaraan beroda dua dan beroda empat cukup signifikan berdampak terhadap bertambahnya volume lalu lintas, menurunnya
kualitas jalan, dan perencanaan yang tidak memenuhi standar geometrik dapat terjadinya kecelakaan lalu lintas (Ryanto, 2019).
Kecelakaan lalu lintas di Kota Surabaya pada tahun 2014-2017 tercatat sebanyak 1.338 kejadian kecelakaan (Polantas Surabaya, 2018).
Jumlah kejadian kecelakaan ini didominasi oleh kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil. Mobil berada pada posisi kedua yang menyumbangkan arus pergerakan transportasi terbanyak setelah sepeda motor di Kota Surabaya. Kecelakaan menurut jumlah kendaraan yang terlibat terbagi menjadi 3 yaitu, kecelakaan tunggal, kecelakaan ganda, dan kecelakaan beruntun (Saputra, 2017). Mayoritas faktor penyebab kecelakaan lalu lintas yaitu perilaku pengendara (tidak mematuhi aturan lalu lintas, memainkan ponsel, kelelahan, sedang sakit atau sedang tidak sadar), status perizinan, dan kecepatan berkendara (Haadi, 2014). Selain itu juga pada penelitian lainnya di Kota Pontianak dari 94 responden, perilaku pengendara yang mengakibatkan kejadian kecelakaan adalah berkendara dengan kecepatan tinggi sebesar 67%, tidak rutin merawat kendaraanya 44,7%, serta berkendara saat kondisi jalan gelap sebesar 17% (Arfan, 2018).
Pada penelitian sebelumnya di Kota Banjarmasin mengenai daerah rawan kecelakaan faktor jalan juga memicu kecelakaan lalu lintas karena terdapat jalan gelap pada 18 ruas jalan dari 21 ruas jalan, jalan tanpa marka/ rambu pada 7 ruas jalan dari 21 ruas jalan, jalan berlubang pada 4 ruas jalan dari 21 ruas jalan, dan jalan tergenang pada 4 ruas jalan dari 21 ruas jalan (Azizirrahman, 2015). Kecelakaan lalu lintas juga dapat terjadi disebabkan penggunaan jalur jalan secara sembarangan oleh pengendara. Lebih dari setengah total responden yang berkendara dengan kecepatan > 60 km/jam menyatakan pernah mengalami kecelakaan lalu lintas (Hidayati, 2016).
Analisis kinerja jalan dapat digunakan untuk menentukan strategi mengatasi masalah kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Pada penelitian sebelumnya di Kota Malang mengenai kinerja jalan menunjukkan Tingkat pelayanan ruas jalan untuk prediksi 5 tahun kedepan menunjukkan adanya peningkatan volume kendaraan, namun kapasitas jalan masih tetap.
Hal tersebut mengakibatkan tingkat pelayanan jalan semakin menurun yang dipastikan juga berdampak pula pada kinerja persimpangan (Agustin, 2016).
Berdasarkan studi yang dijabarkan sebelumnya peneliti bermaksud untuk mengkaji karakteristik dan kinerja jalan yang terdapat pada ruas Jalan Ahmad Yani, Jalan Dr. Ir. H. Soekarno, Jalan Raya Diponegoro, Jalan Raya Mastrip, dan Jalan Raya Tambak Osowilangun di Kota Surabaya dimana merupakan ruas jalan yang memiliki angka kecelakaan mobil tertinggi di Kota Surabaya. Analisis kinerja jalan diharapkan dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja jalan dan mengetahui diperlukan atau tidaknya peningkatan kapasitas ruas jalan, terutama di Kota Surabaya (Syahidan, 2016).
METODE PENELITIAN Wilayah Studi Penelitian
Wilayah studi penelitian ditentukan berdasarkan klasifikasi kecelakaan mobil di Kota Surabaya pada tahun 2014-2017 yang terbagi menjadi tertinggi, sedang, dan terendah (Arta, 2017). Berikut merupakan peta persebaran ruas jalan wilayah studi penelitian:
Gambar 1. Peta Wilayah Studi.
Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan karena memiliki keunggulan dibandingkan analisis lain yaitu memudahkan dan mempercepat memahami isi data yang disusun dalam bentuk diagram. Tujuan utama dari statistik deskriptif adalah untuk menyajikan informasi dari data yang didapat dari lapangan.
Informasi tersebut bisa berupa tabel, grafik, maupun diagram. Statistik deskriptif akan menyajikan data melalui tabel, grafik, ataupun histogram yang kemudian dilanjutkan dengan perhitungan nilai sentral untuk melihat sebaran data (Sugiyono, 2006). Penelitian kali ini kami menggunakan data tabel untuk menjabarkan data hasil survei maupun analisis.
Kapasitas Jalan
Kapasitas jalan dapat dihitung berdasarkan rumus perhitungan kapasitas jalan perkotaan.
Berikut penjabaran rumus kapasitas jalan perkotaan menurut Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia Tahun 2017:
C = Co × FCL× FCPA × FCHS × FCUK Ket:
Co = Kapasitas Dasar
FCL = Faktor Penyesuain Kapasitas akibat perbedaan lajur atau jalur lalu lintas FCPA = Faktor Penyesuaian Kapasitas terkait
pemisahan arah lalu lintas
FCHS = Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat KHS pada jalan berbahu
FCUK = Faktor Penyesuaian Kapasitas terkait Ukuran Kota
Analisis Level of Service (LOS)
Tingkat pelayanan (level of service) adalah ukuran kinerja ruas jalan atau simpang jalan yang dihitung berdasarkan tingkat penggunaan jalan, kecepatan, kepadatan dan hambatan yang terjadi. Dalam bentuk matematis tingkat pelayanan jalan ditunjukkan dengan nilai derajat kejenuhan atau DJ = Q/C (Q = volume lalu lintas, C
= kapasitas jalan). Tingkat pelayanan jalan dikategorikan dari yang terbaik (tingkat pelatanan A) sampai yang terburuk (tingkat pelayanan F). Berikut penjabaran kategori tingkat pelayanan berdasarkan batas lingkup nilai derajat kejenuhan:
Tabel 1. Kategori Tingkat Pelayanan Jalan
Tingkat Pelayanan
(LOS)
Karakteristik Batas Lingkup A Kondisi arus bebas dengan
kecepatan tinggi, pengemudi memilih keepatan yang diinginkan tanpa hambatan
0,0 – 0,20
B Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas. Pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan
0,21 – 0,44
C Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan
0,45 - 0,74
D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, Q/C masih dapat ditolerir
0,75 – 0,84
E Volume lalu lintas
mendekati/berada pada kapasitas arus tidak stabil, terkadang berhenti
0,85 – 1,00
F Arus yang dipaksakan/macet, kecepatan rendah, V di atas kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan yang besar
> 100
Diagram Alir Penelitian
Diagram alir penelitian digunakan untuk mempermudah peneliti dalam menentukan langkah-langkah penelitian sebelum proses penelitian tersebut berjalan. Berikut merupakan diagram alir penelitian untuk menunjukkan langkah-langkah peneliti dalam melakukan analisis Tingkat Pelayanan Jalan (Level of Service):
Gambar 2. Diagram Alir Penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Geometrik Jalan Jalan Ahmad Yani
Ruas Jalan Ahmad Yani merupakan ruas jalan yang terletak di pusat Kota Surabaya.
Merupakan jalan penghubung antar kota di Provinsi Jawa Timur yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Kota Malang. Koridor ruas jalan ini didominasi oleh guna lahan perdagangan dan jasa seperti, Departement Store, SPBU, perkantoran, rumah makan, dan Supermarket.
Gambar 3. Jalan Ahmad Yani.
Jalan Ahmad Yani terdapat di antara Kecamatan Wonocolo dan Kecamatan Gayungan memiliki lebar 35 meter yang terbagi menjadi 2
jalur utama, dimana fungsi jalan ini adalah Jalan Arteri Primer. Memiliki jumlah lajur 10 dengan 3 lajur diantaranya merupakan Frontage Road dengan lebar masing-masing lajur selebar 3,5 meter. Jalan Ahmad Yani memiliki bahu jalan pada tiap sisi jalur dengan lebar masing-masing 2 meter. Terdapat median jalan yang memisahkan arah arus selebar 2 meter. Berdasarkan hasil survei primer volume lalu lintas harian di jalan ini adalah sebesar 9675,23 skr/jam dengan kecepatan arus bebas sebesar 43,60 km/jam.
Tabel 2. Karakteristik Jalan Ahmad Yani
Jalan Ahmad Yani
Tipe Jalan 4/2 D
Panjang Jalan 9731,03 Meter
Lebar Jalur Efektif 35 Meter
Lebar Lajur 3,5 Meter
Jumlah Lajur 10 Lajur
Lebar Bahu 2 Meter
Lebar Median 2 Meter
Fungsi/Hirarki Arteri Primer
Jumlah Arah 4 Arah
Volume Lalu Lintas 9675,23 Skr/jam
Kecepatan Arus 43.60 Km/jam
Perkerasan Jalan Aspal
Kondisi Bahu Jalan Aspal
Jalan Dr. Ir. H. Soekarno
Jalan Dr. Ir. H. Soekarno merupakan ruas jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Sukolilo dengan Kecamatan Mulyorejo dan Kecamatan Rungkut di Kota Surabaya. Koridor ruas jalan ini didominasi oleh guna lahan perdagangan dan jasa seperti, Shopping Mall, SPBU, perkantoran, rumah makan, dan mini market.
Gambar 4. Jalan Dr. Ir. H. Soekarno.
Jalan Dr. Ir. H. Soekarno memiliki tipe jalan 4/2 D, dimana sisi barat dan sisi timurnya dibatasi oleh median jalan dengan lebar 3 meter. Median jalan tersebut memiliki vegetasi yang baik sehingga jalanan terlihat sejuk. Ruas Jalan Dr. Ir.
H. Soekarno memiliki lebar jalur efektif sebesar 18 meter yang tidak dilengkapi dengan bahu jalan. Fungsi jalan tersebut adalah Kolektor Primer, sehingga jalan ini digunakan sebagai penghubung antar kota di dalam satu provinsi.
Memiliki total 6 lajur dengan lebar masing-
masing lajur adalah 3 meter. Berdasarkan hasil survei primer volume lalu lintas harian dijalan ini adalah sebesar 6640,10 skr/jam dengan kecepatan arus bebas sebesar 55,88 km/jam.
Tabel 4. Karakteristik Dr. Ir. H. Soekarno
Jalan Dr. Ir. H. Soekarno
Tipe Jalan 4/2 D
Panjang Jalan 4496,35 Meter Lebar Jalur Efektif 18 Meter
Lebar Lajur 3 Meter
Jumlah Lajur 6 Lajur
Lebar Bahu -
Lebar Median 3 Meter
Fungsi/Hirarki Kolektor Primer
Jumlah Arah 2 Arah
Volume Lalu Lintas 6640,10 Skr/jam Kecepatan Arus 55,88 Km/jam Perkerasan Jalan Aspal Kondisi Bahu Jalan -
Jalan Raya Diponegoro
Jalan Raya Diponegoro merupakan ruas jalan di Kota Surabaya yang terdapat di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Tegalsari di Kota Surabaya. Koridor jalan pada ruas ini didominasi oleh guna lahan perdagangan dan jasa seperti hotel, restaurant, Bank, dan toko buku.
Gambar 5. Jalan Raya Diponegoro.
Jalan Raya Diponegoro memiliki tipe jalan 4/2 D dimana jalan tersebut memiliki pemisah jalan atau median dengan lebar 3,5 meter. Ruas jalan ini memiliki lebar efektif sebesar 15 meter dengan bahu jalan masing-masing 0,3 meter pada sisi bagian barat dan 0,6 meter pada sisi bagian timur. Jalan Raya Diponegoro memiliki fungsi jalan sebagai Arteri Primer dimana jalan tersebut memiliki hierarki tertinggi sebagai jalan penghubung antar provinsi atau jalan nasional.
Memiliki total 6 lajur dengan lebar masing- masing lajur adalah 3 meter. Berdasarkan hasil survei primer volume lalu lintas harian dijalan ini adalah sebesar 5713,65 skr/jam dengan kecepatan arus bebas sebesar 25,41 km/jam.
Tabel 4. Karakteristik Jalan Raya Diponegoro
Jalan Raya Diponegoro
Tipe Jalan 4/2 D
Panjang Jalan 5346,20 Meter Lebar Jalur Efektif 18 Meter
Jalan Raya Diponegoro
Lebar Lajur 3 Meter
Jumlah Lajur 6 Lajur
Lebar Bahu 0,3 Meter dan 0,6 Meter
Lebar Median 3,5 Meter
Fungsi/Hirarki Arteri Primer
Jumlah Arah 2 Arah
Volume Lalu Lintas 5713,65
Kecepatan Arus 25,41
Perkerasan Jalan Aspal Kondisi Bahu Jalan Aspal
Jalan Raya Mastrip
Jalan Raya Mastrip merupakan salah satu jalan utama di Kota Surabaya yang terletak di perbatasan kota. Koridor ruas Jalan Raya Mastrip didominasi oleh guna lahan perdagangan dan jasa, serta terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) berupa lapangan sepak bola Karang Pilang.
Gambar 6. Jalan Raya Mastrip.
Jalan Raya Mastrip memiliki tipe jalan 2/2 UD dimana dua jalurnya tidak dibatasi oleh median jalan sehingga tiap arah jalur saling berdekatan. Jalan Raya Mastrip menjadi salah satu rute yang sering dilalui angkutan penumpang antar kota, serta seringkali dilalui oleh mobil- mobil pengangkut barang bermuatan besar. Ruas jalan ini memiliki perkerasan jalan aspal dengan lebar jalur efektif sebesar 12 meter, serta dilengkapi oleh bahu jalan dengan masing-masing sisi sebesar 0,8 meter. Memiliki total 4 lajur dengan lebar masing-masing lajur adalah 3 meter. Berdasarkan hasil survei primer, volume lalu lintas harian dijalan ini adalah sebesar 1845,83 skr/jam dengan kecepatan arus bebas sebesar 48,42 km/jam.
Tabel 5. Karakteristik Jalan Raya Mastrip
Jalan Raya Mastrip
Tipe Jalan 2/2 UD
Panjang Jalan 8198,54 Meter Lebar Jalur Efektif 12 Meter
Lebar Lajur 3 Meter
Jumlah Lajur 4 Lajur
Lebar Bahu 0,8 Meter dan 0,8 Meter
Lebar Median -
Fungsi/Hirarki Kolektor Sekunder
Jumlah Arah 2 Arah
Volume Lalu Lintas 1845,83 Kecepatan Arus 48,42 Perkerasan Jalan Aspal Kondisi Bahu Jalan Aspal
Jalan Raya Tambak Osowilangun
Jalan Raya Tambak Osowilangun merupakan ruas jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Benowo dengan Kecamatan Asemrowo di Kota Surabaya. Koridor ruas jalan ini didominasi oleh guna lahan perdagangan dan jasa, khususya pergudangan.
Gambar 7. Jalan Raya Tambak Osowilangun.
Jalan Raya Tambak Osowilangun memiliki tipe jalan 4/2 D, dimana sisi barat dan sisi timur dibatasi langsung oleh median jalan. Ruas jalan ini memiliki perkerasan jalan aspal dengan lebar jalur efektif sebesar 12 meter, serta dilengkapi oleh bahu jalan dengan masing-masing sisi sebesar 1,8 meter. Fungsi ruas jalan tersebut adalah Kolektor Primer, sehingga jalan tersebut berfungsi sebagai jalan penghubung antar kota atau kabupaten dalam satu provinsi yang sama.
Memiliki total 4 lajur dengan lebar masing- masing lajur adalah 3 meter. Berdasarkan hasil survei primer volume lalu lintas harian dijalan ini adalah sebesar 3621,88 skr/jam dengan kecepatan arus bebas sebesar 39,70 km/jam.
Tabel 6. Karakteristik Jalan Raya Tambak Osowilangun
Jalan Raya Tambak Osowilangun
Tipe Jalan 4/2 D
Panjang Jalan 3813,65 Meter Lebar Jalur Efektif 12 Meter Lebar Lajur 3 Meter Jumlah Lajur 4 Lajur
Lebar Bahu 1,8 Meter dan 1,8 Meter Lebar Median 1,5 Meter
Fungsi/Hirarki Kolektor Primer
Jumlah Arah 2 Arah
Volume Lalu Lintas 3621,88 Kecepatan Arus 39,70 Perkerasan Jalan Aspal Kondisi Bahu Jalan Aspal
Kapasitas Jalan Jalan Ahmad Yani
Kapasitas jalan dihitung berdasarkan nilai kapasitas dasar jalan perkotaan serta factor penyesuaian masing-masing jalan. Kapasitas dasar jalan ditentukan berdasarkan tipe jalan dan jumlah lajur pada masing-masing ruas jalan.
Kapasitas dasar jalan Ahmad Yani adalah sebesar
16500 skr/jam. Selanjutnya nilai tersebut dihitung bersamaan dengan masing-masing faktor penyesuaian kapasitas jalan di Kota Surabaya sesuai dengan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia Tahun 2017 (Tabel 7).
Tabel 7. Faktor Penyesuaian Kapasitas Jalan Ahmad Yani
Faktor Kondisi Jalan Nilai
CO 4/2 D, 10 Lajur 16500
FCL 4/2 D, Lebar Lajur = 3,5 m 1,00 FCPA 4/2 D, Pemisah Arah 60:40 1,00 FCHS
4/2 D, Lebar Baru = 2 m, Hambatan = Sangat Tinggi
0,96
FCUK Jumlah Penduduk = 2.874.314 Jiwa
1,00
Setelah mendapatkan nilai pada masing- masing faktor penyesuaian kapasitas.
Selanjutnya, nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam rumus kapasitas sebagai berikut:
C = Co × FCL× FCPA × FCHS × FCUK C = 16500 × 1,00 × 1,00 × 0,96 × 1,00 C = 15840 Skr/jam
Hasil perhitungan menunjukkan kapasitas Jalan Ahmad Yani sebesar 15840 Skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dimasukkan kedalam rumus derajat kejenuhan untuk menentukan jenis atau kategori tingkat pelayanan jalan.
Jalan Dr. Ir. H. Soekarno
Kapasitas dasar jalan yang ditentukan berdasarkan tipe jalan dan jumlah lajur di ruas Jalan Dr. Ir. H. Soekarno adalah sebesar 9900 skr/jam. Selanjutnya nilai tersebut dihitung bersamaan dengan faktor penyesuaian kapasitas yang telah dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 8. Faktor Penyesuaian Kapasitas Jalan Dr.
Ir. H. Seokarno
Faktor Kondisi Jalan Nilai
CO 4/2 D, 6 Lajur 9900
FCL 4/2 D, Lebar Lajur = 3 m 0,92 FCPA 4/2 D, Pemisah Arah 50:50 1,00 FCHS 4/2 D, Kereb = > 2 m, Hambatan
= Tinggi
0,95
FCUK
Jumlah Penduduk = 2.874.314 Jiwa
1,00
Setelah mendapatkan nilai pada masing- masing faktor penyesuaian kapasitas.
Selanjutnya, nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam rumus kapasitas sebagai berikut:
C = Co × FCL× FCPA × FCHS × FCUK C = 9900 × 0,92 × 1,00 × 0,95 × 1,00 C = 8652,6 Skr/jam
Hasil perhitungan menunjukkan kapasitas Jalan Dr. Ir. H. Soekarno sebesar 8652,6 Skr/jam.
Nilai tersebut selanjutnya akan dimasukkan kedalam rumus derajat kejenuhan untuk menentukan jenis atau kategori tingkat pelayanan jalan.
Jalan Raya Diponegoro
Kapasitas dasar jalan yang ditentukan berdasarkan tipe jalan dan jumlah lajur di ruas Jalan Raya Diponegoro adalah sebesar 9900 skr/jam. Selanjutnya nilai tersebut dihitung bersamaan dengan faktor penyesuaian kapasitas yang telah dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 9. Faktor Penyesuaian Kapasitas Jalan Raya Diponegoro
Faktor Kondisi Jalan Nilai
CO 4/2 D, 6 Lajur 9900
FCL 4/2 D, Lebar Lajur = 3 m 0,92 FCPA 4/2 D, Pemisah Arah 50:50 1,00 FCHS 4/2 D, Lebar Bahu = 0,6 m,
Hambatan = Sangat Tinggi
0,88
FCUK Jumlah Penduduk = 2.874.314 Jiwa
1,00
Setelah mendapatkan nilai pada masing- masing faktor penyesuaian kapasitas.
Selanjutnya, nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam rumus kapasitas sebagai berikut:
C = Co × FCL× FCPA × FCHS × FCUK C = 9900 × 0,92 × 1,00 × 0,88 × 1,00 C = 8015,04 Skr/jam
Hasil perhitungan menunjukkan kapasitas Jalan Raya Diponegoro sebesar 8015,04 Skr/jam.
Nilai tersebut selanjutnya akan dimasukkan kedalam rumus derajat kejenuhan untuk menentukan jenis atau kategori tingkat pelayanan jalan.
Jalan Raya Mastrip
Kapasitas dasar jalan yang ditentukan berdasarkan tipe jalan dan jumlah lajur di ruas Jalan Raya Mastrip adalah sebesar 2900 skr/jam.
Selanjutnya nilai tersebut dihitung bersamaan dengan faktor penyesuaian kapasitas yang telah dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 10. Faktor Penyesuaian Kapasitas Jalan Raya Mastrip
Faktor Kondisi Jalan Nilai
CO 2/2 UD, 4 Lajur 2900
FCL 2/2 UD, Lebar Jalur Efekrif = 12 m
1,92
FCPA 2/2 UD, Pemisah Arah 50:50 1,00 FCHS
2/2 UD, Lebar Bahu = 0,8 m, Hambatan = Sangat Tinggi
0,79
FCUK
Jumlah Penduduk = 2.874.314 Jiwa
1,00
Setelah mendapatkan nilai pada masing- masing faktor penyesuaian kapasitas.
Selanjutnya, nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam rumus kapasitas sebagai berikut:
C = Co × FCL× FCPA × FCHS × FCUK C = 9900 × 1,92 × 1,00 × 0,79 × 1,00 C = 4398,72 Skr/jam
Hasil perhitungan menunjukkan kapasitas Jalan Raya Mastrip sebesar 4398,72 Skr/jam. Nilai
tersebut selanjutnya akan dimasukkan kedalam rumus derajat kejenuhan untuk menentukan jenis atau kategori tingkat pelayanan jalan.
Jalan Raya Tambak Osowilangun
Kapasitas dasar jalan yang ditentukan berdasarkan tipe jalan dan jumlah lajur di ruas Jalan Raya Tambak Osowilangun adalah sebesar 6600 skr/jam. Selanjutnya nilai tersebut dihitung bersamaan dengan faktor penyesuaian kapasitas yang telah dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 11. Faktor Penyesuaian Kapasitas Jalan Raya Tambak Osowilangun
Faktor Kondisi Jalan Nilai
CO 4/2 D, 4 Lajur 6600
FCL 4/2 D, Lebar Lajur = 3 m 0,92 FCPA 4/2 D, Pemisah Arah 50:50 1,00 FCHS 4/2 D, Lebar Bahu = 1,8 m,
Hambatan = Sedang
1,00
FCUK Jumlah Penduduk = 2.874.314 Jiwa
1,00
Setelah mendapatkan nilai pada masing- masing faktor penyesuaian kapasitas.
Selanjutnya, nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam rumus kapasitas sebagai berikut:
C = Co × FCL× FCPA × FCHS × FCUK C = 6600 × 0,92 × 1,00 × 1,00 × 1,00 C = 6072 Skr/jam
Hasil perhitungan menunjukkan kapasitas Jalan Raya Tambak Osowilangun sebesar 6072 Skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dimasukkan kedalam rumus derajat kejenuhan untuk menentukan jenis atau kategori tingkat pelayanan jalan.
Derajat Kejenuhan dan Tingkat Pelayanan Jalan Ahmad Yani
Derajat kejenuhan masing-masing jalan akan ditentukan berdasarkan pembagian dari volume lalu lintas dan kapasitas jalan. Volume lalu lintas Jalan Ahmad Yani diketahui sebesar 9675,23 skr/jam dengan kapasitas jalan sebesar 15840 skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dihitung dengan rumus derajat kejenuhan sebagai berikut:
Dj =Q C Dj =9675,23
15840 Dj = 0,6108
Berdasarkan hasil analisis diatas Jalan Ahmad Yani dikategorikan dalam tingkat pelayanan jalan dengan skor C, artinya arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.
Jalan Dr. Ir. H. Soekarno
Volume lalu lintas Jalan Dr. Ir. H. Soekarno diketahui sebesar 6640,1 skr/jam dengan kapasitas jalan sebesar 8652,6 skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dihitung dengan rumus derajat kejenuhan sebagai berikut:
Dj =Q C Dj =6640,10
8652,6 Dj = 0,7674
Berdasarkan hasil analisis diatas Jalan Dr. Ir.
H. Soekarno dikategorikan dalam tingkat pelayanan jalan dengan skor D, artinya arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, Q/C masih dapat ditolerir.
Jalan Raya Diponegoro
Volume lalu lintas Jalan Raya Diponegoro diketahui sebesar 5713,65 skr/jam dengan kapasitas jalan sebesar 8015,04 skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dihitung dengan rumus derajat kejenuhan sebagai berikut:
Dj =Q C Dj =5713,65
8015,04 Dj = 0,7129
Berdasarkan hasil analisis diatas Jalan Raya Diponegoro dikategorikan dalam tingkat pelayanan jalan dengan skor C, artinya arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.
Jalan Raya Mastrip
Volume lalu lintas Jalan Raya Diponegoro diketahui sebesar 1845,83 skr/jam dengan kapasitas jalan sebesar 4398,72 skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dihitung dengan rumus derajat kejenuhan sebagai berikut:
Dj =Q C Dj =1845,83
4398,72 Dj = 0,4196
Berdasarkan hasil analisis diatas Jalan Raya Mastrip dikategorikan dalam tingkat pelayanan jalan dengan skor B, artinya arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas. Pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan. Sehingga, kinerja Jalan Raya Mastrip berdasarkan tingkat pelayanan dapat jalan dikategorikan baik.
Jalan Raya Tambak Osowilangun
Volume lalu lintas Jalan Raya Diponegoro diketahui sebesar 3621,88 skr/jam dengan kapasitas jalan sebesar 6072 skr/jam. Nilai tersebut selanjutnya akan dihitung dengan rumus derajat kejenuhan sebagai berikut:
Dj =Q C Dj =3621,88
6072 Dj = 0,5963
Berdasarkan hasil analisis diatas Jalan Raya Tambak Osowilangun dikategorikan dalam tingkat pelayanan jalan dengan skor C, artinya arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.
Kinerja Jalan di Kota Surabaya
Kinerja jalan di Kota Surabaya ditentukan berdasatkan derajat kejenuhan jalan dan tingkat pelayanan (level of service). Berikut hasil rekapitulasi analisis derajat kejenuhan dan tingkat pelayanan jalan di Kota Surabaya:
Tabel 12. Rekapitulasi Kinerja Jalan di Kota Surabata
Ruas Jalan Derajat Kejenuhan
Level of Service (LOS)
Ahmad Yani 0,6108 C
Dr. Ir. H. Soekarno 0,7674 D
Raya Diponegoro 0,7129 C
Raya Mastrip 0,4196 B
Raya Tambak
Osowilangun 0,5963 C
Berdasarkan Tabel 12 Jalan Ahmad Yani, Jalan Raya Diponegoro, dan Jalan Raya memiliki tingkat pelayanan dengan skor C artinya, Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. Jalan Dr. Ir. H. Soekarno memiliki tingkat pelayanan jalan dengan skor D artinya, Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, Q/C masih dapat ditolerir. Jalan Raya Mastrip memiliki tingkat pelayanan jalan dengan skor B artinya, arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas. Pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.
KESIMPULAN
1. Jalan Ahmad Yani memiliki kapasitas Jalan sebesar 15840 skr/jam, sedangkan Jalan Dr.
Ir. H. Soekarno memiliki kapasitas jalan sebesar 8652,6 skr/jam, Jalan Raya
Diponegoro memiliki kapasitas jalan sebesar 8015,04 skr/jam, Jalan Raya Mastrip memiliki kapasitas jalan sebesar 4398,72 skr/jam, dan Jalan Raya Tambak Osowilangun memiliki kapasitas jalan sebesar 6072 skr/jam.
2. Jalan Ahmad Yani memiliki volume lalu lintas sebesar 9675,23 skr/jam, sedangkan Jalan Dr.
Ir. H. Soekarno memiliki volume lalu lintas sebesar 6640,10 skr/jam, Jalan Raya Diponegoro memiliki volume lalu lintas sebesar 5713,65 skr/jam, Jalan Raya Mastrip memiliki volume lalu lintas sebesar 1845,83 skr/jam, dan Jalan Raya Tambak Osowilangun memiliki volume lalu lintas sebesar 3621,88 skr/jam.
3. Jalan Ahmad Yani memiliki nilai derajat kejenuhan sebesar 0,6108 sehingga di kategorikan bahwa nilai derajat kejenuhannya berada pada kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor C, sedangkan pada Jalan Dr. Ir. H. Soekarno memiliki nilai derajat kejenuhan sebesar 0,7674 sehingga di kategorikan bahwa nilai derajat kejenuhannya berada pada kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor D, untuk Jalan Raya Diponegoro memiliki derajat kejenuhan sebesar 0,7129 sehingga di kategorikan bahwa nilai derajat kejenuhannya berada pada kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor C, pada Jalan Raya Mastrip memiliki derajat kejenuhan sebesar 0,4196 sehingga di kategorikan bahwa nilai derajat kejenuhannya berada pada kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor B, dan pada Jalan Raya Tambak Osowilangun memiliki derajat kejenuhan sebesar 0,5963 sehingga di kategorikan bahwa nilai derajat kejenuhannya berada pada kategori tingkat pelayanan jalan dengan skor C.
4. Jalan Ahmad Yani, Jalan Raya Diponegoro, dan Jalan Raya memiliki tingkat pelayanan dengan skor C artinya, Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. Jalan Dr. Ir. H. Soekarno memiliki tingkat pelayanan jalan dengan skor D artinya, Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, Q/C masih dapat ditolerir. Jalan Raya Mastrip memiliki tingkat pelayanan jalan dengan skor B artinya, arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas.
Pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.
5. Kinerja Jalan di Kota Surabaya berdasarkan ruas ruas jalan yang telah dikaji sebelumnya, menunjukkan bahwa kinerja jalan di Kota Surabaya memiliki arus yang stabil. Kinerja jalan terburuk berada pada kategori tingkat pelayanan jalan D sehingga arus sudah mulai tidak stabil. Sehingga, perlu dilakukan kajian lanjut mengenai kondisi kapasitas jalan maupun kondisi lalu lintas pada ruas jalan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Arfan, I., & Wulandari. 2018. Studi Epidomiologi Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Di Kota Pontianak. Jurnal Vokasi Kesehatan. 4(2): 90-96.
Arta, I Gede Benny D., Saraswati, Endang. 2017.
Kajian Spasial Tingkat Kerawanan Kecelakaan Lalu Lintas di Sebagian Ruas Jalan Kota Denpasar. Jurnal Bumi Indonesia. 6(2): 1-8.
Agustin, I. W. 2016. Peningkatan Kinerja dan Keselamatan Persimpangan di Kawasan Pusat Kota Malang. Jurnal Pengembangan Kota. 4(1): 1-13.
Azizirrahman, M., Normelani, E., & Arisanty, D.
2015. Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas Pada Daerah Rawan Kecelakaan di Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Geografi. 2(3): 20-37.
Badan Pusat Statistik Kota Surabaya. 2017. Kota Surabaya Dalam Angka Tahun 2017.
Surabaya: Badan Pusat Statistik Kota Surabaya.
de Rozari, A., & Wibowo, Y. H. 2015. Faktor- Faktor Yang Menyebabkan Kemacetan Lalu Lintas Di Jalan Utama Kota Surabaya (Studi Kasus Di Jalan Ahmad Yani Dan Raya Darmo Surabaya). Jurnal Penelitian Administrasi Publik. 1(1): 42-57.
Enggarsari, U., & Sa'diyah, N. K. 2017. Kajian Terhadap Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas Dalam Upaya Perbaikan Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas. Perspektif. 22(3): 238-247.
Hidayati, A., & Hendrati, L. Y. 2016. Analisis Risiko Kecelakaan Lalu Lintas Berdasar Pengetahuan, Penggunaan Jalur, Dan Kecepatan Berkendara. Jurnal Berkala Epidemiologi. 4(2): 275-287.
Oktaviani, E. & Hertati, D. 2019. Kualitas Pelayanan Transportasi Perkotaan Dalam Meningkatkan Kepuasan Masyarakat Di Surabaya (Studi Kasus Pada Angkutan Suroboyo Bus). Public Administration Journal. 1(1): 10-19.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Bisnis.
Bandung: CV Alfabeta.
Syahidan, A. H., Maulana, R., Riyatno, B., &
Basuki, H. K. 2016. Analisis Kinerja Ruas-Ruas Jalan Lingkungan dengan Model Pembebanan Lalu Lintas Menggunakan EMME 3.4.1 (Studi Kasus: Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah). Jurnal Karya Teknik Sipil. 5(2): 1-17.
Syukarman, A., Fuad, I. S., & Sriwahyuni, M. 2019.
Analisis Kinerja Ruas Jalan Akibat Parkir Badan Jalan (Studi Kasus: Jalan Indragiri Depan Supermarket Pagar
Alam Square). Jurnal Teknik Sipil. 7(2):
1-7.
Triantoni, Mudjanarko, S. W., Setiawan, I. M., &
Bahaswan, R. 2020. Analisis Lalu Lintas Di Ruas Jalan Wonokusumo Kota Surabaya. Spirit Pro Patria (E-Journal).
6(1): 72-78.
Saputra. A. D. 2017. Studi Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas Jalan di Indonesia Berdasarkan Data KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) Dari Tahun 2007-2016. Warta Penelitian Perhubungan. 2(29): 180- 190.
Zanuardi, A., & Suprayitno, H. 2018. Analisa Karakteristik Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Ahmad Yani Surabaya Melalui Pendekatan Knowledge Discovery in Database. Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas. 2(1): 45-55.