• Tidak ada hasil yang ditemukan

TSAQOFAH Jurnal Pendidikan Islam ISSN: X; Vol. 5 No. 1 Pebruari 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TSAQOFAH Jurnal Pendidikan Islam ISSN: X; Vol. 5 No. 1 Pebruari 2020"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 18

TSAQOFAH

Jurnal Pendidikan Islam

ISSN: 2614-452X; Vol. 5 No. 1 Pebruari 2020

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Studi Analisis tafsir Surat Ali Imron Ayat 138-139)

Dr. Hermanto Halil, M.Pd.I.

Dosen Tetap IAI Miftahul Ulum Pamekasan

ABSTRAK

Tujuan pendidikan islam mempunyai cakupan yang sangat luas baik secara material maupun secara spiritual. Pendidikan islam tidak hanya melihat bahwa pendidikan sebagai upaya mencerdaskan semata melainkan sejalan dengan konsep islam tentang manusia dan hakikat eksistensinya. Bahkan pendidikan islam berupaya menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah, perbedaannya adalah kadar ketaqwaannya sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif. Akhirnya tujuan pendidikan islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berpengetahuan, dan saling menunjang satu sama lainnya. Jikalau tidak, dapat dinyatakan sebagai kebodohan baru

A. PENDAHULUAN

Masalah yang menjadi kegagalan pendidikan hari ini adalah kecenderungan manusia yang melihat pendidikan sebagai tujuan dunia seperti jabatan, pekerjaan, pangkat, dll. Yang umumnya berorientasi dunia. Pengembangan pendidikan islam berkaitan secara langsung dengan ilmu pengetahuan dan metodologi dan perkembangannya.

Diakui atau tidak, bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk membuat suatu negara menjadi berperadaban. Selain itu, wawasan yang luaspun sangat mempengaruhi sebuah peradaban mengikuti perkembangan zaman. Tidak berbeda dengan pendidikan di negeri-negeri muslim yang berbasis pendidikan Islam.

Sebagaimana menurut Mahfud Junaedi, dalam sebuah tulisannya, mengatakan bahwa, Hingga pada awal abad ke-21 ini, masih sangat menekankan aspek teologis yang berarti berada pada dataran theo sentris (Theo Centric Paradigm), dan kurang memperhatikan aspek pengembangan ilmu pengetahuan ilmiah (scientific paradigm). Sistem pendidikan Islam masih disibukkan dengan persoalan-persoalan Teologis, yang karenanya menganggap aspek sains dan teknologi menjadi tidak penting dan tidak sempat terpikirkan.1

Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi.

1Mahfud Junaidi, Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan, (Semarang: RaSAIL,2010), h.146.

(2)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 19

Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.

Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.

Dalam hal ini, Al-Quran sebagai kumpulan wahyu Allah SWT telah banyak membahas dan memberi penjelasan tentang tujuan pendidikan islam, maka pada kesempatan ini penulis mencoba membahas Tafsir Surat Ali Imran ayat 138-139 yang menjelaskan tentang tujuan pendidikan dan sebagai petunjuk untuk menuju jalan yang benar agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Dari begitu besarnya perhatian islam terhadap pendidikan, tentu agama islam memiliki tujuan dan alasan tersendiri terhadap permasalahan tersebut.

Atas dasar inilah al Qur’an tidak memandang bahwa pencarian pengetahuan adalah demi pengetahuan itu sendiri tanpa merujuk kepada idealisme spiritual yang harus diraihnya yaitu kemaslahatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, atau dengan kata lain sukses sebagai khalifah dan sukses sebagai seorang hamba yang mengabdi Allah.

B. PEMBAHASAN

1. TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Dalam perspektif Islam, konsep tujuan pendidikan adalah sebagai pengubah karakter individu. Selain itu, Islam juga mempunyai konsep yang mendasar mengenai tujuan pendidikan yaitu lebih membentuk manusia yang kamil, sehingga memiliki keseimbangan baik jasmani maupun rohani. Kesemuanya itu bertujuan untuk menjalankan tugas hidup sebagai khalifah fi al ardhi yang diharapkan mampu mengubah peradaban di negeri ini.

(3)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 20

Begitu juga konsep pendidikan dalam Islam termaktub dalam al-Qur‟an, yang pada dasarnya merupakan konsep yang ideal. Akan tetapi realitanya masih kurang dalam penerapannya. Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Muslim A. Kadir, “Jika pendidikan Islam adalah bagian dari proses relijiusisasi dalam Islam, maka tujuan pendidikan Islam adalah juga bagian dari tujuan risalah.”2

Menurut D Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam”

sebagaimana dikutip oleh Arief Armai, menyebutkan bahwa; setiap usaha mengalami permulaan dan juga mengalami Akhir. Ada usaha yang terhenti karena gagal sebelum mencapai tujuan, akan tetapi usaha tersebut belum dapat disebut berakhir, karena pada umumnya suatu usaha baru berakhir setelah tujuan akhir tercapai.

Dengan demikian fungsi tujuan yang pertama, adalah mengakhiri usaha. Fungsi kedua dari tujuan adalah mengarahkan usaha. Fungsi ketiga sebagai titik tolak untuk mencapai tujuan- tujuan lain. Fungsi ke empat memberi nilai (sifat) pada usaha- usaha tersebut.3

Muhammad Abduh menjelaskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai yakni mencakup aspek kognitif (akal), aspek afektif (moral), dan spiritual. Dengan kata lain, terciptanya kepribadian yang seimbang, yang tidak hanya menekankan perkembangan akal, tetapi juga perkembangan spiritual. Sehubungan dengan itu, Quraish shihab pendidikan islam adalah pencapaian tujuan yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an yaitu serangkaian upaya yang dilakukan oleh seorang pendidik dalam membantu anak didik menjalankan fungsinya di muka bumi, baik pembinaan pada aspek material maupun spiritual.

Pada hakikatnya tujuan pendidikan yang paling mendasar adalah terciptanya perubahan yang diharapkan dalam seluruh perubahan pada dunia kehidupan manusia. Dan Allah menginginkan seluruh perubahan itu terjadi dibawah naungan al Qur’an, dibawah inspirasinya, sehingga perubahan itu tercipta ke arah yang baik, sebagaimana sifat al Qur’an itu sendiri. Ali bin Abi Thalib ra, pernah berkata, “ه تّد ِجُُىلب تُُلاُُُ ديدجُُُ نآرقلا” al Qur’an itu baru dan tak kan usang inovasinya.4

Pendapat serupa tentang tujuan pendidikan dalam al Qur’an dikemukakan Asy syaibani yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah, “adanya perubahan yang positif yang ingin dicapai melalui sebuah proses atau upaya-upaya pendidikan, baik perubahan itu

2Muslim A. Kadir, Ilmu Islam Terapan: Menggagas Paradigma Amali dalam Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 179.

3Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta; Ciputat Pres, 2002), h.15-17

4 Ahmad bin Musthafa al Maraghiy, 1365 H, Tafsiir al Maraghiy, Mesir : Syirkatu Maktabatu wa Mathba’atu Musthafa al Baabiy al Halabiy, 17/27

(4)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 21

terjadi pada aspek tingkah laku, kehidupan pribadi dan masyarakat, dan lingkungan luas dimana pribadi itu hidup.5

Sedangkan tujuan pendidikan Nasional menurut undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyatakan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.6

Dikatakan oleh Dr. Zakiah Darajat bahwa tujuan pendidikan islam secara global, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola takwa, insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah SWT. Ini mengandung arti bahwa pendidikan islam itu di harapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya serta senagn dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia kini dan akhirat nanti.7

Dalam hal ini, Abdurrahman Saleh Abdullah juga mengatakan dalam bukunya

“Educational Theory a Qur’anic Outbook”, bahwa pendidikan islam bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah swt. atau sekurang-kurangnya mempersiapkan kejalan yang mengacu kepada tujuan akhir. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepada-Nya. Selanjutnya tujuan pendidikan Islam menurutnya dibangun atas tiga komponen sifat dasar manusia yaitu:

1). Tubuh; 2). Ruh, dan 3). Akal yang masing-masing harus dijaga.8

Sedangkan menurut Ibnu Khaldun yang dirangkum dan disimpulkan oleh Athiyyah al-Abrasyi dalam kitabnya al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha merupakan tujuan pendidikan yang mengarah pada tujuan akhirat dan dunia, tujuan akhirat bahwa tujuan pendidikan islam diarahkan dan diorientasikan pada kehidupan untuk beramal dan mendekatkan pada Tuhan, jadi tujuan pendidikan bisa dikatakan untuk jangka panjang, namun demikian juga pendidikan jangka pendek yang ada di dunia ini juga diperhatikan.9

5 Umar Muhammad at Tuumiy asy Syaibani, 1975, Falsafah at Tarbiyyah al Islamiyyah, Tripoli: al Syarikah al ‘Ammah li an Nasyr wa Tauzi’ wal al I’lan, h 282.

6 Hasniati Gani Ali, ilmu pendidikan islam, (ciputat: Quantum Teaching, 2008), h. 32

7 Nur uhbiyati, ilmu pendidikan islam, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 1999), h. 41

8 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Cet. 1; Jakarta: Ciputat Press, 2002), h 19

9 Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, (Kudus: Nora Media Enterprise, 2010), h. 28.

(5)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 22

2. TAFSIR SURAT ALI IMRAN AYAT 138-139



ُُ



ُُ



ُُ



ُُ



ُُ



ُُ



ُُُُ

ُُ



ُُ

ُُ



ُُ



ُُ



ُُ

ُُ



ُُ



ُُ



ُُُُ

ُ

“(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang- orang yang bertakwa (138). Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139)10.

Penjelasan

a. Surat Ali Imran ayat 138

Pada ayat 138 menjelaskan bahwa penuturan yang telah lalu tersebut merupakan penjelasan tentang keadaan umat manusia sekaligus sebagai petuah dan nasehat bagi orang yang bertakwa dari kalangan mereka. Petunjuk ini sifatnya umum bagi seluruh umat manusia dan merupakan hujja atau bukti bagi orang mukmin dan kafir, orang yang bertakwa atau fasik.11

Ahmad Musthafa Al-Maraghy dalam tafsirnya menjelaskan, ini (Al-Qur’an) adalah sebagai petunjuk dan petuah yang khusus bagi orang-orang yang bertakwa karena mereka orang yang mau mengambil petunjuk dengan kenyataan-kenyataan seperti ini. Mereka juga mau mengambilnya sebagai pelajaran dalam menghadapi kenyataan yang sedang mereka alami. Orang mukmin sejati adalah orang yang mau mengambil hidayah dari Al-kitab dan mau menerima penyuluhan nasehat-nasehatNya, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firmanNya.12



ُ



ُُ

ُ



ُُ



ُُ



ُُ



ُ

ُُُُ

ُ

Artinya:

Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

(al-baqara: 2)

Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

10 Al-quran terjemah syaamil qur’an

11 Ahmad Musthafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy jilid 4, (Semarang :Toha Putra, 1993), h. 132

12 Ibid., h. 133

(6)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 23

نَع كِلاَم هَّنَأ هَغَلَب َّنَأ َلو سَر َِّاللّ

ىَّلَص َّاللّ

ِه يَلَع َمَّلَس َو َلاَق

َت ت كَر م كيِف ِن يَر مَأ نَل اوُّل ِضَت اَم م ت كَّسَمَت اَمِهِب َباَتِك َِّاللّ

َةَّن س َو

هِ يِبَن

“Dari Imam Malik, beliau menyampaikan sesungguhnya Rasullah SAW Bersabda:

“Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kamu takkan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi.”13

Adapun Ibnu Katsier menjelaskan bahwa firman Allah ini adalah penjelasan bagi seluruh manusia” yakni Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penjelasan mengenai berbagai hal, ( ) “dan petunjuk serta pelajaran” yakni di dalam Al-Qur’an itu terdapat

berita tentang orang-orang sebelum kalian dan petunjuk bagi hati kalian sekaligus pelajaran, yaitu pencegahan terhadap hal-hal yang diharamkan dan perbuatan dosa, dan sabda Rasulullah adalah suatu anjuran agar kita umat islam tidak boleh meninggalkan Al-Qura an dan As-Sunah.14

Sedangkan menurut Quraish shihab dalam bukunya tafsir al-mishbah menjelaskan ini, yakni pesan yang terkandung oleh semua ayat-ayat yang lalu, atau al-Qur’an secara keseluruhan adalah penjelasan yang memberikan keterangan dan dapat menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi seluruh manusia, dan ia juga berfungsi sebagai petunjuk yang memberikan bimbingan- masa kini dan akan datang- menuju kearah yang benar serta peringatan yang halus dan berkesan menyangkut hal yang tidak wajar bagi orang-orang yang bertaqwa, yang antara lain mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari sunnahtullah yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.15

Al-Qaththan menjelaskan bahwa, dengan mengetahui sejarah perjalanan manusia dan alam ini, maka dapat diambil pelajaran bahwa manusia yang berjalan sesuai dengan sunnatullah dia akan selamat dan begitu pula sebaliknya.16 Dari penjelasannya itu dapat kita ambil kesimpulan bahwa salah satu tujuan pendidikan Islam adalah harus dapat mengantarkan peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku. Sesuai dengan sunnatullah.

b. Surat Ali Imran ayat 139

Pada ayat 139 memberitakan bahwa janganlah kalian merasa lemah dalam menghadapi pertempuran dan hal-hal yang di akibatkan olehnya, seperti membuat persiapan dan mengatur siasat perang, lantaran luka dan kegagalan dalam perang uhud. Janganlah

13 Malik bin Anas, Al-Muwatha’. Juz V h.371

14 Ibnu Katsier, Terjemah Singkat Ibnu katsier, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,____), h. 149

15 Quraish Shihab, Tafsir al-mishbah, (ciputat: Lentera Hati, 2000), h. 211

16 Manna’ Al-Qatthan, Al-Tasyri’ wal Al-Fiqh Al-Islami, (Kairo ; Maktabah Wahbah, juz 1, 2001 h, 223

(7)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 24

kalian bersedih atas orang-orang yang mati selama perang tersebut. Bagaimana perasaan lemah dan sedih menimpah kalian, sedangkan kalian merupakan orang-orang yang berada di atas angin. Sunnatullah telah menerapkan pada saat terdahulu, bahwa akibat yang baik itu bagi oaring-orang yang bertkwa tidak pernah menyimpang dari sunnahnya.17

Hamka dalam tafsirnya terkait surat al-imran ayat 139 menjelaskan bahwa setelah perang uhud yang telah menewaskan tujuh puluh Mujahid Fi-Sabilillah, antarnya Hamzan bin Abdul Muthalib, paman nabi S.a.w sendiri dan nabi S.a.w pun mendapat luka.

Kelihatanlah kelesuhan, lemah semangat, dan dukacita; maka datanglah ayat ini: angkat mukamu, jangan lemah dan jangan duka cita. Sebab suatu hal masih ada padamu,modal tunggal yang tidak pernah dapat dirampas oleh musuhmu, yaitu iman. Jikalau kamu benar- benar masih mempunyai iman dalam dadamu, kamulah yang tinggi dan akan tetap tinggi.

Sebab iman itulah pandumu menempu zaman depan yang masih akan mau dihadapi18 Adapun Ibnu Katsier menjelaskan Allah menghibur kaum muslimin dengan berfirman () “janganlah kamu bersikap lemah”. Artinya janganlah kalian melemah

akibat peristiwa yang telah terjadi itu,

(   ز)

“Dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang- orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman “ maksudnya, bahwa kesudahan yang baik dan pertolongan hanya bagi kalian, wahai orang-orang yang beriman.19

Ahmad Musthafa Al-Maraghy dalam tafsirnya juga menjelaskan sesungguhnya cita- cita orang kafir hanya sesuai dengan tujuan rendah yang di kerjanya. Tidak demikian halnya dengan tujuan orang-orang mukmin, yaitu ingin menegakkan mercusuar keadilan di dunia, mengejar kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Dengan syarat kalian benar-benar beriman terhadap kebenaran janji Allah yang akan menolong orang-orang yang menolong Allah.

Allah menjadikan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa lagi mau mengikuti sunnahNya dalam tatanan kemasyarakatan ini, sehingga jadilah sifat tersebut tetap bagi diri kalian, mapan dalam jiwa dan amal kalian.

Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat, karena hal tersebut akan menyakitkan seseorang kehilangan semangat. Sebaliknya Allah tidak

17 Ahmad Musthafa Al-Maraghy, op.cit., h. 134

18 Hamka, op.cit., h. 933

19 Ibnu Katsir, op.,cit. h. 149

(8)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 25

melarang hubungan seseorang dengan apa yang dicintainya, yaitu harta, kekayaan atau teman yang dapat memulihkan kekuatannya, serta dapat mengisi hatinya dengan kegembiraan. Yang dimaksud dengan larangan hal seperti itu adalah mengobati jiwa dengan cara bekerja, meski dengan cara terpaksa.20

Adapun dari surah Ali Imran 138 “(Al Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” dapat kita ketahui bahwa tujuan pendidikan disini ialah agar manusia mengetahui jalan hidup yang lurus dan benar, dimana Al-Quran lah yang menjadi pendidik dan menjadi penerang jalan hidup manusia. Dan tujuan pendidikan pada ayat 139 “Janganlah kamu bersikap lemah” yaitu agar manusia menjadi orang yang kuat, sehat jasmani dan rohani, “dan janganlah (pula) kamu bersedih hati” yaitu agar manusia bahagia dan tentram hidup didunia dan diakhirat, kemudian dilanjutkan dengan “padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi” yaitu agar derajat manusia bertambah tinggi. Dan kesimpulan tujuan pendidikan yang ada pada ayat 139 ini yaitu agar manusia menjadi orang yang benar-benar beriman kepada Allah, dengan semakin tingginya pendidikan yang manusia dapatkan diharapkan manusia tersebut semakin kuat imannya kepada Allah SWT. Sehingga tujuan pendidikan tidak akan tercapai apabila seseorang yang mendapatkan pendidikan lebih tinggi bukannya bertambah imannya namun imannya semakin berkurang.

Selain itu orang yang mendapatkan pendidikan tidak akan tercapai tujuannya apabila nantinya tidak menjadi orang yang dapat mengambil pelajaran dari sejarah, tidak menjadi orang yang jalan hidup yang lurus dan benar, tidak menjadi orang yang kuat serta sehat jasmani dan rohani, tidak menjadi orang bahagia dan tentram hidup di dunia dan di akhirat, tidak menjadi orang yang derajatnya bertambah tinggi.

Selain kebahagiaan didunia yang diperoleh melalui ilmu, maka tujuan pendidikan akan tercapai jika semuanya melalui proses belajar sebagaiman sabda Rasulullah SAW berikut ini :

نَع

ُ

ُ نْبا ساَّبَعُُ

َُي ِض َرُ

ُ الله

ُ هْنَعُ

ُ

َُلاَق

ُ

ُ:

َُلاَق

ُ لو س َرُ

ُ الله

ُ ىلص

ُ الله

ُ هيلع

ُُ

ملسو

ُْنَمُ:

ُِد ِر يُ

ُ الله

ُِهِبُ ا ًرْيَخُ

ُ هْهِّقَف يُ يِفُ

ُِنْيِّدلاُ اَمَّنِا َوُ

ُِمْلِعْلاُ

ُُ

ُِمُّلَعَّتلاِب

ُ (...

هاور

ُ ىراخبلا

ُ)

Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata Rasulullah saw bersabda “ barangsiapa yang dikehendaki allah menjadi baik, maka dia akan dipahamkan dalam hal agama. Dan sesungguhnya ilmu itu diperoleh melalui belajar “ (HR. Bukhori)21

20 Ahmad Musthafa Al-Maraghy, op.cit., h. 134

21 Ibid.,h. 13.

(9)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 26

Hadis ….. ُُُِنْيِّدلاُُيِفُُُ هْهِّقَف يُُا ًرْيَخُُُِهِبُُاللهُُُِد ِر يُُُْنَم (barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka dia akan dipahamkan dalam hal agama) dapat dipahami bahwa orang tersebut akan diberi kebaikan oleh allah . kebaikan secara social, mental, spiritual, menjadi kunci Allah bagi kebaikan seseorang. Dengan kata lain, kalau ingin memperoleh kebaikan apapun didunia dan akhirat jangan jauh-jauh dari agama. Dalam pengertian ini, agama adalah kunci kebaikan seseorang.22 Agar tidak jauh-jauh dari agama maka seseorang diwajibkan untuk menuntut ilmu agar tujuan pendidikan islam dapat terwujud.

Hadis diatas merupakan pernyataan Allah yang mengandung perintah bahwa siapapun dari manusia yang menginginkan memperoleh kebaikan, hendaknya ia mencari ilmu agama.

Meningkkatkan pemahamannya tentang islam. Mengkaji Al-Quran dan As Sunnah dengan berbagai metode dan pendekatan yang benar. Islam maju karena umatnya kuat dalam ilmu pendidikan. 23

C. KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan sebagai berikut :

Pendidikan bertujuan atas seluruh peristiwa apapun dalam kehidupan orang beriman, adalah untuk mengambil pelajaran dalam rangka meningkatkan keimanan mereka dan meraih kedudukan yang lebih baik dalam ketaqwaan kepada Allah ta’ala.

Pendidikan juga bertujuan membina seluruh potensi manusia baik aspek pemikiran, mentalitas dan fisik. Pendapat ini dikemukakan oleh al Qasimy, menurutnya tujuan pendidikan adalah tafaqquh, dan barang siapa yang menginginkannya maka berjalanlah dijalan Allah, carilah jalan untuk menyucikan dan membersihkan jiwa, hingga nampak dengan jelas ilmu dari hatinya atas perkataannya

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Musthafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy jilid 4, Semarang :Toha Putra, 1993.

Ahmad, Mustafa Al-maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 4. Semarang. CV Thoha Putra.

1986

22 Ibid., Hlm. 15.

23 Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Hlm. 20.

(10)

Tsaqofah : Jurnal Pendidikan Islam / Edisi V-1/15 Februari 2020-ISSN : 2614-462X 27

Ahamd, Mustafa Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 26 Semarang. CV Thoha Putra.

1989

Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi ( Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1974)Al- Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais.

Al-quran terjemah syaamil qur’an

Falah, Ahmad. 2010. Hadits Tarbawi. Kudus: Nora Media Enterprise.

Gani Hasniati Ali, ilmu pendidikan islam, Ciputat: Quantum Teaching, 2008.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jakarta: PT. Pustaka Nasional, 1983

Hasbiyallah dan Moh Sulhan. 2015. Hadits Tarbawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Katsier Ibnu, Terjemah Singkat Ibnu katsier, Surabaya: PT. Bina Ilmu Malik bin Anas, Al-Muwatha’. Juz V

Shihab Quraish, Tafsir al-mishbah, Ciputat: Lentera Hati, 2000

Saebani,Beni Ahmad dan Hendra Akhdiyat. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.

Uhbiyati Nur, ilmu pendidikan islam, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 1999

Umar Muhammad at Tuumiy asy Syaibani, 1975, Falsafah at Tarbiyyah al Islamiyyah, Tripoli: al Syarikah al ‘Ammah li an Nasyr wa Tauzi’ wal al I’lan

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: manajemen pelaksanaan dan kesiapan sekolah menyongsongnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.. Muhammad Sholeh

dan Munzier S., Watak Pendidikan Islam, Jakarta: Friska Agung Insani, 2003.. Ancok, Jamaludin, Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka

Maka penulis memberi kesimpulan bahwasanya eksistensi madrasah di era kontemporer perspektif pendidikan islam adalah sebagai berikut: Perkembangan madrasah di

Kalau menempatkan fiqh atau hukum Islam dalam jajaran sumber ilmu hukum secara umum, maka dalam tataran operasional atau hukum materiil, fiqh dapat dijadikan sumber

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 ini pasal yang diperdebatkan adalah yang menyebutkan bahwa pendidikan agama adalah hak setiap

Mengenai reposisi pendidikan agama Islam dalam pendidikan nasional, Ada tiga alasan, pertama, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar pendidikan tidak

ekonomi. Ketatnya persaingan menuntut pelaku usaha melakukan inovasi yang terus- menerus. Inovasi yang dilakukan tentu saja tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal

Langkah-langkah Menerapkan Model Pembelajaran Berbasis Cooperative Learning Bermuatan Karakter Berbantuan M-Learning (Mobile Learning) pada gadget dalam materi