1
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
Sensus penduduk pada tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 237.641.362 jiwa. Indonesia memiliki rasio ketergantungan penduduk sebesar 51,31%, angka 51,31% menunjukkan bahwa ada 51 orang usia tidak produktif (14 tahun dan 65+ tahun) dalam setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun).
Usia pensiun di Indonesia diatur serta dikelompokkan sesuai dengan jenis - jenis pekerjaan dan telah ditetapkan dalam Undang - Undang dan Peraturan Pemerintah, usia pensiun kerja ada pada kisaran 53-65 tahun. Prediksi pensiunan PNS akan terus meningkat. Tahun 2018 menjadi 109.413 orang, 117.561 orang pada tahun 2019 dan tahun 2020 ada 137.383 orang yang pensiun.Data prediksi ini diperoleh dari pengolahan data yang dilakukan oleh BKN dengan melihat tanggal lahir PNS.
Ketika telah memasuki usia pensiun, maka orang tersebut harus berhenti bekerja, meskipun saat seseorang telah memasuki usia pensiun bisa saja ia masih masuk dalam usia produktif. Banyak hal dipertimbangkan termasuk melakukan kegiatan yang belum bisa dilakukan saat masih bekerja seperti liburan menikmati masa pensiun, membuka usaha untuk dijadikan kegiatan dalam mengisi waktu luang dan banyak hal lain yang bisa dilakukan.
Kegiatan yang dilakukan saat masa pensiun mungkin masih sangat banyak, tapi tidak semuanya memiliki manfaat. Seorang yang sudah pensiun dan memiliki tabungan hari tua mungkin akan lebih mudah untuk menjalani hari tuanya, dan sebaliknya jika seseorang telah memasuki usia senja namun tidak memiliki tabungan atau rencana di hari tuatentunya hal itu akan sangat menyulitkan.
Sebagian besar orang akan memanfaatkan hari tuanya untuk beristirahat, namun sebenarnya masih banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan untuk sekedar mengisi waktu luangnya seperti kegiatan membuka usaha. Membuka usaha bisa dimulai ketika masih muda, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga bila seseorang ingin membuka usaha di usia senja, karena ada banyak orang yang
2
berhasil dalam membuka usahanya di usia yang tidak produktif lagi, seperti penemu KFC Kolonel Harland Sanders yang sukses di usia 70 tahun dan masih banyak lagi tokoh tokoh yang berhasil menjalankan usaha diusianya yang sudah memasuki masa pensiun atau bahkan yang sudah tidak produktif.
Ketika seseorang menjadi memutuskan untuk melakukan sesuatu pastinya orang tersebut memiliki pertimbangan – pertimbangan yang akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan yang dilakukan. Begitu juga saat seseorang memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha, maka akan ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi dan menjadi bahan pertimbangan baik pengaruh dari luar maupun pengaruh dari dalam.
Intensi berwirausaha dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari internal maupun eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah seperti efikasi diri, locus of control, kebutuhan berprestasi dan masih banyak lagi sedangkan faktor eksternal seperti pengalaman kerja dan lain lain. Sejauh ini penelitian tentang intensi kewirausahaan pada pensiun masih sangat terbatas sehingga belum jelas faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi secara signifikan. Namun penelitian dengan objek yang berbeda seperti siswa dan mahasiswa menunjukkan beberapa variabel yang berpengaruh terhadap intensi kewirausahaan. Efikasi diri terbukti berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha, hal ini dibuktikan dari hasil penelitian (Achidayah dan Irafami 2013; Handaru Et al., 2014; Kadarsih et al., 2012; Andhika dan Madjid 2012; Bharanti et al., 2012). Menurut Bharanti et al., (2012) kebutuhan akan berprestasi berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha, akan tetapi penelitian yang dilakukan oleh Achadiyah dan Irafami (2013); Janah dan Winarno (2015) menunjukkan bahwa kebutuhan akan berprestasi tidak berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha. Norma Subjektif terbukti berpengaruh terhadap intensi berwirausaha (Andhika dan Madjid 2013); dan (Handaru et al., 2014). Locus of Control (Srimulyani 2013) dan (Wijayanti dan Suryani 2016). Pengalaman kerja (Achadiyah dan Irafami 2013) dan (Janah dan Winarno 2015). Yang terakhir ada ketersediaan modal yang diteliti oleh (Kadarsih et al., 2013)
Penelitian ini akan fokus pada variabel efikasi diri, dan locus of control karena peneliti ingin lebih fokus pada faktor internal. Efikasi diri adalah penilaian
3
seseorang terhadap dirinya sendiri tentang kemampuan atau kompetisinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan dan mengatasi hambatan. Meski ada beberapa perbedaan penelitian namun pada umumnya efikasi diri berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha kenapa berpengaruh positif. Locus of control merupakan persepsi individu tentang kesuksesan dan kegagalan.
Persoalan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang diungkapkan diatas maka dirumuskan persoalan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah efikasi diri berpengaruh terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan?
2. Apakah locus of control berpengaruh terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan persoalan penelitian diatas, maka tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menguji apakah terdapat pengaruh antara locus of control terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan?
2. Untuk menguji apakah terdapat pengaruh antara efikasi diri terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan?
Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada 2 bidang yaitu akademik dan praktis. Berikut adalah manfaat yang diharapkan dari penelitian ini:
1. Manfaat Akademik
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan wawasan dalam literatur kewirausahaan mengenai hal yang mempengaruhi intensi berwirausaha pada pensiunan.
2. Manfaat Praktis
4
1) Menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk membuat program pelatihan yang ditujukan bagi pensiunan yang diharapkan dapat membuat para pensiunan memiliki kegiatan yang produktif.
2) Menjadi pertimbangan bagi instansi keuangan untuk dapat membuat kebijakan kredit di hari tua.
5
BAB II TELAAH PUSTAKA DEFINISI VARIABEL
Intensi Berwirausaha
Intensi berwirausaha adalah hasrat yang ada dalam diri seseorang untuk memunculkan kemampuan individu dan menangani usaha yang memiliki keinginan untuk upaya menciptakan pekerjaan. Intensi memiliki peranan yang penting untukdapat mengarahkan sebuah tindakan, yaitu dengan menghubungkan pertimbangan yang diyakini dan diinginkan untuk dapat melakukan tindakan tertentu, dalam penelitian ini tindakan tersebut adalah berwirausaha. Individu akan mempertimbangkan intensi berwirausaha untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Intensi bisa juga dikatakan sebagai itikad untuk dapat melakukan kegiatan yang berguna atau menghasilkan hal yang diinginkan di masa depan. Drucker (1996) menyatakan wirausaha merupakan tindakan yang dilakukan dengan maksud memberikan pelayanan yang lebih baik dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Tindakan dapat dilakukan dengan cara semangat yang tinggi, sikap dan perilaku yang baik, serta kemampuan dalam menangani usaha yang mengarah pada upaya, mencari, menciptakan, menerapkan, cara kerja, teknologi, dan produk baru. Seseorang dengan intensi kewirausahaan tinggi akan lebih memiliki kesigapan dan kemajuan lebih baik dalam usaha yang dijalankan daripada seseorang yang tidak memiliki intensi kewirausahaan (Indarti dan Rostiani 2008). Intensi kewirausahaan memiliki peran penting untuk membentuk individu menjadi seorang entrepreneur (Fayolle, Gailly & Lassas-Clerc 2006).
Intensi berwirausaha merupakan keinginan yang sungguh – sungguh dari seorang individu untuk mencapai tujuan yaitu membentuk suatu usaha atau berwirausaha dengan caramelakukan atau memunculkan suatu perilaku tertentu (Nursito et al., 2013). Rasli et al., (2013) menyebutkan bahwa intensi berwirausaha merupakan keadaan dimana dalam diri seseorang memiliki pemikiran dan keinginan untuk menumbuhkan bisnis atau menciptakan sebuah usaha yang baru. Apabila seorang mahasiswa telah memiliki orientasi untuk terjun dalam dunia kewirausahaan sejak muda, maka besar kemungkinan dia akan lebih mudah untuk mengembangkan perusahaan dan meraih kesuksesan di masa depan (Fatoki 2014).
6 Efikasi Diri
Penilaian terhadap diri apakah sudah mengerjakan sesuai dengan yang diinginkan atau tidak dan dapat mengerti apakah telah melakukan tindakan yang baik atau buruk biasa disebut efikasi diri. Kepercayaan yang ada dalam diri seseorang tentang kemampuaannya mengatasi sesuatu dan dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan bisa juga disebut efikasi diri (Santrock, 2007).Keyakinan diri (self efficacy) yang dimiliki tiap orang tidak akan sama, karena setiap orang mempunyai tujuan masing masing.
Melalui penelitian yang dilakukan oleh Cromie (2000) efikasi diri dikatakan dapat mempengaruhi kepercayaan seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Bandura (1994) menyatakan efikasi dirimerupakan keyakinan kuat dalam diri seseorang terhadap keterampilan yang dimilikinya dan kemampuan untuk memulai tugas serta dapat memimpinnya untuk sukses.
Bandura (1986) menjelaskan bahwa ada empat cara yang bisa digunakan untuk mencapai efikasi diri.
1. Pengalaman sukses yang terjadi berulang-ulang. Cara pertama ini dipandang sebagai cara yang sangat efektif untuk dapat mengembangkan rasa yang kuat pada efikasi diri karena seseorang yang telah memiliki pengalaman sukses sebelumnya akan bisa mengetahui kemampuan apa yang harus dimiliki untuk dapat sukses seperti sebelumnya.
2. Pembelajaran melalui pengamatan secara langsung. Seseorang bisa memperkirakan keahlian dan perilaku yang relevan yang akan dijadikan contoh untuk mengerjakan sebuah tugas. Untuk melakukan sesuatu seseorang harus membuat penilaian mengenai keahlian yang dimilikinya, agar dapat mengetahui seberapa besar usaha yang harus dikeluarkan dalam rangka mencapai keahlian yang dibutuhkan.
3. Persuasi sosial. Persuasi sosial dapat berbentuk seperti diskusi yang persuasif dan timbal balik kinerja yang spesifik. Menggunakan cara ini, seseorang diharapkan akan dapat menyajikan informasi terkait dengan kemampuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan dapat
7
menyesuaikan beberapa hal yang didapat dari diskusi serta balikan kinerja.
4. Penilaian terhadap status psikologis yang dimiliki. Dari cara ini dapat dilihat bahwa seseorang harusnya meningkatkan kemampuan emosional dan fisik dengan mengurangi tingkat stress.
Banyak peneliti percaya bahwa efikasi diri terkait erat dengan pengembangan karir.Merujuk pada penelitian Betz dan Hacket (1986), jika seseorang memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi saat seseorang memulai karir maka, semakin kuat pula intensi kewirausahaan yang dimilikinya. Selain itu, dalam penelitiannya Gilles dan Rea (1970) membuktikan bahwa efikasi diri menjadi hal yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan karier seseorang.
Locus of Control
Banyak jenis kepribadian yang dapat mempengaruhi intensi berwirausaha dalam diri seseorang, salah satunya adalah Locus of control. Locus of control lebih mengacu kepada pemikiran individu tentang kesuksesan dan kegagalan.
Menurut Robbins (2007) locus of control merupakan tahap di mana individu merasa yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Ghufron &
Risnawita (2011) mengemukakan bahwa locus of control adalah gambaran pada keyakinan seseorang mengenai sumber penentu perilakunya. Locus of control merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu.
Kreitner dan Kinicki (2003) dalam Abdulloh (2006), menyebutkan bahwa Locus Of Control dibagi menjadi dua bagian:
1. Internal locus of control, yang termasuk dalam tipe ini merupakan seseorang yang meyakini bahwa setiap hal yang terjadi tetap akan berada dibawah kendalinya dan dia dapat mengambil peran serta keputusan dalam setiap pengambilan keputusan baik langsung maupun tidak langsung. Robbins (2007) mengungkapkan bahwa locus of control internal adalah individu yang percaya bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apapun yang terjadi pada diri mereka. Hal ini membuat orang dengan locus of control internal sangat sesuai untuk menduduki jabatan yang membutuhkan inisiatif,
8
inovasi, dan perilaku yang dimulai oleh diri sendiri (Hanurawan 2010).
Individu dengan locus of control internal mempunyai pemikiran bahwa lingkungan dapat dikendalikan olehnya sehingga dia mampu melakukan perubahan perubahan sesuai dengan apa yang diinginkan.
2. External locus of control, yang merupakan tipe ini merupakan seseorang yang meyakini bahwa apa yang dialami dalam hidupnya berada diluar kontrolnya secara langsung dan tidak langsung. Menurut Robbins (2007), orang yang termasuk dalam eksternal locus of control merupakan individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada mereka tidak dapat dikendalikan karena hal yang telah terjadi dipengaruhi keberuntungan atau kesempatan. Mereka yang memiliki locus of control eksternal tinggi akan cenderung lebih pasrah mengenai hal yang menimpa dirinya tanpa usaha untuk melakukan perubahan, sehingga cenderung lebih menyukai perilaku penyesuaian diri terhadap lingkungan agar tetap bertahan dalam situasi yang ada.
Individu dengan internal locus of control cocok dengan pekerjaan yang terkait dengan kompleksitas pekerjaan, tuntutan informasi yang rumit, pekerjaan yang membutuhkan inisiatif, kreativitas, motivasi yang tinggi, dan jiwa kepemimpinan.Internal locus of controldianggap bisa mengendalikan kejadian dan situasi(Koh 1996) sedangkan individu dengan external locus of control sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin, statis dan penuh kontrol dari atasan (Beukman 2005).
PENGEMBANGAN HIPOTESIS Efikasi Diri
Banyak peneliti yang percaya bahwa efikasi diri berkaitan terhadap pengembangan karir. Ormrod (2008) menungkapkan jika efikasi diri adalah keyakinan bahwa setiap seseorang memiliki kemampuan untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Nurihsan dan Yusuf (2008) menyatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan atau sikap percaya terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan perbuatan yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan.
9
Oleh karena itu, efikasi diri mengenai karir dapat menjadi faktor penting yang dapat menjadi penentuan apakah intensi kewirausahaan seseorang sudah terbentuk pada tahapan awal seseorang memulai karirnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Achidayah dan Irafami 2013; Handaru Et al., 2014; Kadarsih et al., 2012;
Andhika dan Madjid 2012; Bharanti et al., 2012) menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha. Maka dari itu peneliti merumuskan bahwa variabel bebas memiliki pengaruh positif terhadap variabel terikat.
H1 : Efikasi diri memberikan pengaruh positif terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan
Locus of Control
Lee-Kelley (2006) menggambarkan locus of control sebagai aspek yang memiliki dua sisi berlawanan. Aspek yang mencerminkan sejauh mana seseorang percaya bahwa apa yang terjadi kepada mereka ada dalam kendali mereka atau di luar kendali mereka. Dayakisni & Yuniardi (2008) memandang locus of control sebagai kondisi dimana individu memandang perilaku diri mereka adalah hubungan antara mereka dengan orang lain serta lingkungannya.
Berdasarkan hasil dari penelitian Uddin & Bose (2012), locus of control berpengaruh positif terhadap niat berwirausaha mahasiswa bisnis tingkat S1 dan tingkat master universitas swasta di Bangladesh. Hal serupa juga diungkapkan dalam penelitian Cahyono (2010), ditemukan bahwa locus of control, dan efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Yang terakhir hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Rojuaniah (2014) jika dilihat secara umum ditemukan bahwa Locus of Control berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha pada mahasiswa Universitas Esa Unggul. Dari penjelasan sebelumnya maka peneliti merumuskan bahwa variabel bebas memiliki pengaruh positif terhadap variabel terikat.
H2 : Locus of control memberikan pengaruh positif terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan
10 MODEL PENELITIAN
Pada penelitian ini efikasi diri dan locus of control menjadi variabel bebas dan memiliki variabel terikat yaitu intensi berwirausaha.Ada 2 hipotesis yang dapat menggambarkan penelitian ini, yaitu:
H1: Efikasi diri berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha calon pensiunan
H2: Locus of control berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha calon pensiunan.
Di bawah ini merupakan model penelitian dari penelitian ini:
H1
LOCUS OF H2 CONTROL
INTENSI BERWIRAUSAHA CALON PENSIUNAN EFIKASI DIRI
11
BAB III METODE PENELITIAN JENIS PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang ingin menguji hipotesis mengenai pengaruh efikasi diri dan locus of control terhadap intensi berwirausaha pada calon pensiunan. Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data primer, yaitu data yang didapat melalui penelitian lapangan dan dikelola sendiri (Supramono dan Utami, 2003).
POPULASI DAN SAMPLING
Populasi bisa juga disebut sebagai keseluruhan objek penelitian yang dapat menjadi sumber data penelitian (Singaribun dan Effendi 1989). Populasi penelitian ini adalah PNS dinas pendidikan di Salatiga dan pegawai di Universitas Kristen Satya Wacana yang akan pensiun dalam waktu 2 tahun yang akan datang. Peneliti memilih pegawai yang akan pensiun 2 tahun yang akan datang karena saat mendekati pensiun kemunginan besar pegawai sudah memiliki rencana tentang apa yang akan dilakukannya dimasa yang akan datang. Total populasi dari PNS yang dalam 2 tahun mendatang akan pensiun adalah 165 dan pegawai di UKSW berjumlah 44 orang. Data PNS diperoleh dari pemerintah kota Salatiga dan data pegawai UKSW didapat dari YPTKSW atau Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana.
Sampel merupakan sebagian dari populasi yang akan hendak diteliti secara keseluruhannya dalam sampel ini peneliti menggunakan metode sampling insidental. Teknik sampling ini digunakan pada penelitian yang memiliki populasi sukar untuk ditemui dengan alasan sibuk, tidak mau diganggu atau alasan lainnya.
Penentuan jumlah sampel pada penelitian kali ini didasarkan pada pernyataan Arikunto Suharsimi (2005) yang menyebutkan jika peneliti memiliki ratusan subjek yang dijadikan populasi, maka mareka dapat menentukan kurang lebih 25 – 30% dari jumlah tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan sampel yang berjumlah 63 orang yang didapat dari 209x30%.
12 METODE PENGUMPULAN DATA
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya.Pengumpulan data pada penelitian kali ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Kuesioner merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis yang ditujukan langsung kepada responden (Gendro, 2011).
Skala yang di gunakan untuk kuesioner adalah skala likert. Skala Likert memiliki dua bentuk pertanyaan yaitu pertanyaan positif untuk mengukur minat positif , dan bentuk pertanyaan negatif untuk mengukur minat negatif.Bentuk jawaban skala Likert terdiri dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.Pertanyaan positif diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1, sedangkan bentuk pertanyaan negatif diberi skor 1, 2, 3, 4, dan 5.
TEKNIK ANALISIS DATA 1. Uji Validitas
Validitas merupakan derajad ketepatan yang dimiliki oleh data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono 2008). Data dapat dinyatakan valid jika data yang sesungguhnya terjadi dilapangan tidak berbeda dengan data yang dilaporkan oleh peneliti.
Menurut Ghozali (2011) Uji Validitas dapat digunakan untuk mengetahui sah/valid tidaknya sebuah kuesioner, kuesioner dapat dinyatakan valid apabila pertanyaan yang ada dalam kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur yang dipergunakan untuk mengukur apa yang diukur (Ghozali (2005). Pengujian validitas tiap pertanyaan dilakukan dengan menghitung korelasi pearson product moment antara skor item dengan skor total. Suatu item pertanyaan dikatakan valid jika signifikansi < 0,05.
13 2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas merupakan alat pengukur pada daftar pertanyaan kuesioner yang merupakan indikator dari variabel-variabel yang diteliti (Ghozali (2005).
Reliabilitas dilakukan untuk mengukur konsistensi konstruk atau variabel penelitian. Kuesioner dapat dinyatakan Reliable atau handal apabila jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Pengukuran dalam uji Reliabilitas dilakukan dengan melihat Cronbach Alpha (α).Variabel bisa dikatakan reliable (handal) jika memiliki nilai Cronbach Alpha
> 0,600.
3. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang digunakan untuk penelitian mempunyai ditribusi yang normal atau tidak Ghozali (2011).Rumus yang digunakan dalam uji normalitas ini dengan metode Kolmogorof Smirnov.Pengujian ini digunakan karena memiliki beberapa keunggulan yaitu lebih fleksibel. Hipotesis yang diajukan adalah Ho (Hipotesis Nol) yang artinya data X berdistribusi normal dan HA (Hipotesis Alternatif) yang artinya data X tidak distribusi normal.
Pengambilan keputusannya adalah jika Sig. (p) < 0,05 maka Ho ditolak atau variabel tidak terdistribusi secara normal.
2. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas terjadi korelasi yang kuat diantara variable bebas x pada Output, akan muncul nilai collinearity statistics tolerance (T) dan VIF ( Varince Inflation Factor ). Nilai T= 1/VIF, jadi nilai Tolerance merupakan kebalikan dari nilai VIF. Diantara variabel bebas X tidak terjadi multikolinearitas jika nilai VIF mendekati nilai 1. Cara lain untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas yaitu dengan mengkorelasikan seluruh variabel bebas. Apabila nilai koefisien korelasi R > 0,80, maka diindikasi kan bahwa adanya multikolinieritas dalam persamaan regresi berganda perlu diuji mengenai sama atau tidak varian dari residual dari observasi yang satu dengan observasi lainnya.
14 3. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan tujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual antara satu pengamatan ke pengamatan yang lain Ghozali (2011). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas atau dinyatakan homoskedastisitas (Ghozali 2011). Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas.
DEFINISI OPERASIONAL
Menurut (Sekaran dan Bougie 2010) mengoperasikan variabel berarti menjelaskan sebuah konsep secara operasional yang tidak meliputi penguraian alasan, latar belakang, konsekuensi, atau korelasi konsep. Penelitian ini memiliki 2 variabel bebas yaitu efikasi diri dan locus of control serta variabel intensi berwirausaha sebagai variabel terikat. Peneliti menggunakan indikator dan pertayaan yang telah dibuat dan digunakan oleh Koh H.C pada tahun 1997. Dalam variabel efikasi diri dan locus of control terdapat pertanyaan yang memiliki sifat negatif atau reverse, dalam efikasi diri pertanyaan ke-3 dari 4 pertanyaan merupakan pertanyaan reverselalu pada locus of control pertanyaan ke-2 dan ke-7 juga merupakan pertanyaan reverse.
15
Tabel 1. Data Indikator penelitian Variabel Definisi Operasional Indikator Efikasi Diri Efikasi dirimerupakan
keyakinan kuat yang dimiliki seseorang dalam keterampilan dan kemampuan untuk
memulai tugas dan
memimpinnya untuk sukses.
(Bandura, 1994)
1. Kemampuan memimpin 2. Kemampuan berinovasi 3. Kemampuan
menyelesaikan masalah 4. Kemampuan mengatasi
kelemahan dan ketakutan Locus of
Control
Locus of control merupakan tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri.
(Robbins, 2007)
1. Kemampuan mengelola usaha
2. Bersedia menerima konsekuensi
3. Menikmati setiap usaha 4. Keberuntungan dan kerja
keras Intensi
Berwirausaha
Niat / intensi berwirausaha sebagai kesungguhan niat seorang individu untuk
melakukan atau memunculkan suatu perilaku tertentu dan proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembentukan suatu usaha atau
berwirausaha.
(Nursito et al, 2013)
1. Memilih karir sebagai wirausahawan
2. Perencanaan untuk memulai usaha 3. Keyakinan membuka
usaha sendiri
4. Kesenangan memiliki usaha sendiri
5. Kesiapan berwirausaha
Sumber: Data diolah
UJI HIPOTESIS
Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji statistic.Beberapa metode yang dapat digunakan yaitu Koefisien Determinasi (R2) dan uji t.
Koefisien Determinasi (R2) merupakan metode untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu.Jika nilai R2 yang diperoleh semakin besar atau mendekati angka satu maka sumbangan variabel independen terhadap variabel dependen semakin besar dan sebaliknya, jika diperoleh hasil semakin kecil atau mendekati angka nol, maka variabel independen terhadap variabel dependen semakin kecil (Ghozali, 2005). Sedangkan, uji t digunakan untuk menghitung signifikansi masing- masing variabel. Uji t ini juga digunakan untuk menguji hipotesis nol (Ho) bahwa masing- masing koefisien dari mode; regresi sama dengan nol,
16
kemudian hipotesis alternatifnya (Ha) adalah jika masing- masing koefisien dari model regresi tidak sama dengan nol.
Regresi linier berganda adalah analisis regresi yang menjelaskan hubungan antara peubah respon (variabel dependent) dengan faktor-faktor yang mempengaruhi lebih dari satu prediktor (variabel independent). Regresi linier berganda hampir sama dengan regresi linier sederhana, hanya saja pada regresi linier berganda variabel bebasnya lebih dari satu variabel penduga. Tujuan analisis regresi linier berganda adalah untuk mengukur intensitas hubungan antara dua variabel atau lebih dan membuat prediksi perkiraan nilai Y atas X.
Rumus regresi liniear berganda sebagai berikut : 𝑦 = 𝑎 + 𝛽1𝑥1+ 𝛽2𝑥2+ 𝑒
Keterangan:
Y : Variabel terikat (nilai yang diprediksikan) X1 dan X2 : Variabel bebas
A : Konstanta (nilai Y’ apabila X1, X2…..Xn = 0)
Β : Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)
E : Error
17
BAB IV HASIL PENELITIAN GAMBARAN UMUM RESPONDEN
Data penelitian yang dikumpulkan adalah sebanyak 54 dengan cara menyebarkan kuesioner secara langsung kepada setiap responden yang bekerja di Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana dan pegawai negeri sipil dari dinas pendidikan yang berada di Salatiga. Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan sejak kuesioner disebarkan sampai pengumpulan data.
Pengisian kuesioner ditujukan kepada pegawai akademik maupun non akademik yang akan pensiun dalam kurun waktu 2 tahun yang akan datang.
Masing masing kuesioner diberikan langsung kepada responden dengan jangka waktu 2-6 hari.
Secara keseluruhan ada 70 kuesioner yang disebarkan, namun kuesioner yang kembali dan memenuhi syarat adalah sebanyak 54 kuesioner. Untuk mengetahui lebih lanjut, rekap pengembalian kuesioner dapat diketahui pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Rekap Pengembalian Kuesioner
Keterangan Jumlah Presentase
Kuesioner yang disebarkan 70 100%
Kuesioner yang kembali 62 89%
Kuesioner yang tidak kembali 8 11%
Kuesioner yang tidak bisa digunakan 8 11%
Jumlah kuesioner yang dapat digunakan 54 77%
Sumber: data diolah
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari total 70 kuesioner hanya ada 62 kuesioner yang kembali dan 8 kuesioner lainnya tidak dikembalikan. Jumlah kuesioner yang dapat digunakan adalah sebanyak 54 serta ada 8 kuesioner yang tidak bisa digunakan.
Deskripsi identitas dari responden meliputi jenis kelamin, pekerjaan orangtua, pekerjaan pasangan, pekerjaan sekarang/terakhir, pengetahuan berwirausaha dan pengalaman berwirausaha. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:
18
Tabel 3. Jenis Kelamin Responden Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki – Laki 35 65%
Perempuan 19 35%
Jumlah 54 100%
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 35 orang atau 65% responden dari penelitian ini berjenis kelamin laki – laki dan 19 orang atau 35% berjenis kelamin perempuan.
Tabel 4. Pekerjaan Orang Tua Responden Pekerjaan Orangtua Jumlah Persentase
Wiraswasta 5 9.26%
Lain – Lain 38 70.37%
Tidak Mengisi 11 20.37%
Jumlah 54 100%
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan hasil diatas dapat dilihat bahwa hanya sedikit responden yang memiliki orang tua dengan pekerjaan sebagai wirausaha, hanya ada 5 orang atau sekitar 9.26% dari keseluruhan kuesioner. Kemudian sebanyak 38 orang atau 70.37% responden memiliki orangtua yang bekerja di lain – lain dan sebanyak 11 responden atau 20.37% tidak mengisi pekerjaan orangtua pada kuesioner.
Tabel 5. Pekerjaan Pasangan Responden Pekerjaan Pasangan Jumlah Persentase
Wiraswasta 5 9.3%
Lain – Lain 45 83.3%
Tidak Mengisi 4 7.4%
Jumlah 54 100%
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan hasil diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 45 orang atau 83.3% responden memiliki pasangan yang bekerja di lain – lain, sebanyak 5 orang atau 9.3% memiliki pasangan yang bekerja sebagai wiraswasta dan 4 orang atau 7.4% responden tidak mengisi pada Pekerjaan pasangan pada kuesioner.
19
Tabel 6. Pekerjaan Responden Sekarang/Terakhir Pekerjaan Sekarang/Terakhir Jumlah Persentase
PNS 23 43%
Pegawai UKSW 31 57%
Jumlah 54 100%
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 31 orang atau 46%
dari total responden bekerja sebagai pegawai UKSW dan 23 orang atau 43%
responden bekerja sebagai PNS
Tabel 7. Pengetahuan Berwirausaha Responden
Pengetahuan Berwirausaha Jumlah Persentase Pernah Mengikuti pelatihan/seminar berwirausaha 15 28%
Tidak pernah Mengikuti pelatihan/seminar
berwirausaha 39 72%
Jumlah 52 100%
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan hanya ada 15 orang atau 28% responden yang pernah mengikuti pelatihan/seminar berwirausaha dan sisanya sebanyak sebanyak 39 orang atau 72% responden tidak pernah mengikuti seminar atau pelatihan berwirausaha.
Tabel 8. Pengalaman Berwirausaha Responden
Pengalaman Berwirausaha Jumlah Persentase
Sedang menjalankan usaha 11 20%
Pernah menjalankan usaha (Sekarang
Tidak) 14 26%
Tidak pernah berwirausaha 28 52%
Tidak mengisi 1 2%
Jumlah 54 100%
Sumber: Data primer diolah
Sebanyak 28 orang atau 52% responden tidak penah berwirausaha, sedangkan 14 orang responden atau 26% pernah menjalankan usaha namun sekarang sudah tidak, 11 orang responden atau sebanyak 20% sedang
20
menjalankan usaha dan ada 1 responden atau sekitar 2% tidak mengisi pengalaman berwirausaha pada kuesioner.
Supaya lebih memperjelas hubungan antara identitas responden maka berikut ini merupakan beberapa hasil tabulasi silang antara jenis kelamin dan pekerjaan responden, jenis kelamin dan pengetahuan berwirausaha serta jenis kelamin dan pengalaman berwirausaha.
Tabel 9. Tabulasi silang Jenis Kelamin dan Pekerjaan Responden Jenis kelamin * Pekerjaan responden Crosstabulation
Count
Jenis kelamin
Pekerjaan responden Total PNS Pegawai UKSW Perempuan
10 9 19
Laki-laki 13 22 35
Total 23 31 54
Sumber: Data primer diolah
Pada tabel diatas menunjukkan bahwa dari total responden perempuan sebanyak 19 orang, ada 10 orang responden perempuan bekerja sebagai PNS, dan 9 orang responden bekerja sebagai pegawai UKSW. Serta dari total 35 responden laki – laki ada sekitar 13 orang yang memiliki pekerjaan sebagai PNS, dan 22 orang responden yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai UKSW.
Tabel 10. Tabulasi silang Jenis Kelamin dan Pengalaman Berwirausaha
Jenis kelamin * Pengalaman berwirausaha Crosstabulation Count
Jenis Kelamin
Pengalaman berwirausaha
Total Tidak
mengisi
Sedang berwirausaha
Pernah berwirausaha (sekarang tidak)
Tidak pernah berwirausaha
Perempuan 0 4 7 8 19
laki-lakiLaki - Laki 1 7 7 20 35
Total 1 11 14 28 54
Sumber: Data primer diolah
Di lihat dari total 54 responden, sebanyak 1 orang tidak mengisi pengalaman berwirausaha, 11 orang sedang berwirausaha, 14 orang pernah
21
berwirausaha namun sekarang sudah tidak, dan 28 orang tidak pernah berwirausaha. Pada responden perempuan ada 4 orang yang sedang menjalankan usaha, 7 orang pernah menjalankan usaha namun sekarang tidak, dan 8 orang yang tidak pernah berwirausaha sedangkan pada responden laki – laki ada 1 orang yang tidak mengisi pengalaman berwirausahanya, 11 orang sedang berwirausaha, 14 orang pernah berwirausaha namun sekarang sudah tidak lagi dan 20 orang tidak pernah berwirausaha.
Tabel 11. Tabulasi silang Pengetahuan berwirausaha dan Pengalaman berwirausaha
Pengetahuan_berwirausaha * Pengalaman_berwirausaha Crosstabulation Count
Pengetahuan berwirausaha
Pengalaman_berwirausaha
Total Tidak
mengisi
Sedang berwirausaha
Pernah berwirausaha (sekarang tidak)
Tidak pernah berwirausaha Pernah
pelatihan 0 4 6 4 14
Tidak pernah
pelatihan 1 7 8 24 40
Total 1 11 14 28 54
Sumber: data primer diolah
Dapat dilihat bahwa dari 54 orang responden ada 14 responden yang pernah mengikuti pelatihan dan 40responden belum pernah mengikuti pelatihan ataupun seminar kewirausahaan.Dari 14 responden yang pernah mengikuti pelatihan ada 4 responden yang sedang menjalankan usaha, 6 orang responden pernah menjalankan usaha namun sekarang tidak, dan 4 orang tidak pernah berwirausaha. 40 orang responden yang tidak pernah mengikuti pelatihan 7 diantaranya sedang menjalankan usaha, 8 responden pernah menjalankan usaha namun sekarang tidak lagi, 28 responden lainnya tidak pernah menjalankan usaha serta yang terakhir ada 1 responden yang tidak pernah pelatihan tidak mengisi apakah responden tersebut pernah menjalankan usaha atau tidak.
22 HASIL UJI ANALISIS DATA
1. Uji Validitas
Tabel 12. Uji validitas variabel Intensi Berwirausaha
Item r hitung Sig Hasil
Intensi Berwirausaha 1 0.765** 0.000 Valid Intensi Berwirausaha 2 0.725** 0.000 Valid Intensi Berwirausaha 3 0.840** 0.000 Valid Intensi Berwirausaha 4 0.849** 0.000 Valid Efikasi Diri 1 0.844** 0.000 Valid Efikasi Diri 2 0.832** 0.000 Valid Efikasi Diri 3 0.756** 0.000 Valid Efikasi Diri 4 0.656** 0.001 Valid Locus of Control 1 0.528** 0.000 Valid Locus of Control 2 0.707** 0.000 Valid Locus of Control 3 0.593** 0.000 Valid Locus of Control 4 0.573** 0.000 Valid Locus of Control 5 0.747** 0.000 Valid Locus of Control 6 0.679** 0.000 Valid Locus of Control 7 0.553** 0.000 Valid
Sumber: Data primer diolah
Uji validitas dilakukan dengan membandingkanr hitung dengan hasil perhitungan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, dimana n adalah jumlah sampel. Pada penelitian ini hasil r tabel adalah sebesar 0.2681 dengan degree of freedom sebesar 52.
Hasil uji validitas item variabel Intensi Berwirausaha, variabel Efikasi Diri dan variabel Locus of Control yang ditunjukkan dengan nilai r hitung pertanyaan berkisar antara 0.553 sampai 0.849. Oleh karena itu pertanyaan pertanyaan dari setiap variabel dianggap valid karena memiliki r hitung yang lebih besar dari r tabel.
23 2. Uji Reliabilitas
Tabel 13. Uji reliabilitas
Variabel Cronbach's
Alpha Kriteria Intensi
Berwirausaha 0.807 Reliabilitas dapat diterima
Efikasi Diri 0.750 Reliabilitas dapat diterima
Locus of Control 0.813 Reliabilitas dapat diterima
Sumber: Data primer diolah
Pada penelitian kali ini peneliti menggunakan metode Cronbach Alpha dalam menguji reliabilitas kuesioner.Ketika menguji reliabilitas dengan menggunakan uji statistik Cronbach.Alpha (α) suatu variabel harus memiliki nilai Cronbach Alpha > 0.600 untuk bisa dikatakan reliabel. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diketahui hasil Cronbach Alpha masing masing variabel lebih dari 0.600 sehingga dapat disimpulkan bahwa pada ketiga variabel pada penelitian ini adalah reliabel.
3. Uji asumsi klasik 1. Uji Normalitas
Tabel 14. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 54
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .43592003
Most Extreme Differences Absolute .085
Positive .062
Negative -.085
Test Statistic .085
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber: Data primer diolah
24
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang digunakan untuk penelitian mempunyai ditribusi yang normal atau tidak dengan menggunakan uji Kolmogorov – Smirnov.Penguji menggunakan program SPSS 22 dan mendapat hasil asymp sig (2 tailed) sebesar 0.200.Oleh karena itu data dapat dikatakan berdistribusi normal karena memiliki asymp sig yang lebih besar dari 0.05.data dinyatakan dapat digunakan untuk penelitian karena hasil yang digunakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2. Uji Multikolinearitas
Tabel 15. Uji Multikolinearitas Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
Collinearity Statistics B
Std.
Error Beta
Toleranc
e VIF
1 (Constant) -1.784 .598 -2.985 .004
Efikasi Diri .396 .120 .328 3.305 .002 .738 1.355
Locus of
Control 1.023 .177 .574 5.781 .000 .738 1.355
a. Dependent Variable: Intensi Berwirausaha Sumber: Data primer diolah
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi multikolinearitas atau tidak terjadi korelasi antara variabel bebas. Jika dilihat dari data Tolerance diatas maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi multikolinearitas, dikarenakan nilai Tolerance adalah sebesar 0.738 atau > 0.10 dan jika dilihat dari nilai VIF maka dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas karena nilai VIF sebesar 1.355 < 10.
25 3. Uji Heterokedastisitas
Gambar 1. Uji Heterokedestisitas
Berdasarkan data scatterplots diatas maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang baik telah terpenuhi dikarenakan tidak terjadi masalah
heterokedestisitas.Kriteria dari model regresi yang baik yaitu penyebaran titik – titik data yang tidak berpola, titik – titik tidak hanya mengumpul di atas atau di bawah saja.
HASIL UJI HIPOTESIS
Tabel 16. Uji Statistik t Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -1.784 .598 -2.985 .004
Efikasi Diri .396 .120 .328 3.305 .002
Locus of
Control 1.023 .177 .574 5.781 .000
a. Dependent Variable: Intensi Berwirausaha
Sumber: Data primer diolah
26
Dalam penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi sebesar 95% maka nilai ∝ adalah sebesar 0.05. Untuk mencari t tabelnya maka menggunakan rumus t tabel = (∝/2 ; n-k-1) = (0.025 ; 51) dimana n adalah jumlah responden dan k adalah jumlah variabel bebas sehingga mendapatkan hasil t tabel sebesar 2.007 yang apabila nilai t hitung < t tabel maka Ho diterima dan sebaliknya jika nilai t hitung > t tabel maka Ho akan ditolak.
Berdasarkan data diatas maka pengaruh masing masing variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengaruh Efikasi Diri terhadap Intensi Berwirausaha (H1)
Berdasarkan pada hasil penelitian diatas maka dapat ditetapkan bahwa H1 diterimadan Ho ditolak yang artinya efikasi diri berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis uji t yang memperlihatkan t hitung sebesar 3.305 artinya > t tabel 2.007 dan dengan signifikansi sebesar 0.002 artinya < 0.05.
2. Pengaruh Locus of Control terhadap Intensi Berwirausaha (H2)
Berdasarkan hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak karena nilai t hitung adalah 3.305> t tabel 2.007 dan nilai signifikansi yang dihasilkan adalah 0.000< 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa efikasi diri dan locus of control berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha.
Tabel 17. Koefisien Korelasi Model Summaryb Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .793a .629 .615 .44439
a. Predictors: (Constant), Locus of Control, Efikasi Diri b. Dependent Variable: Intensi Berwirausaha
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan tabel 19 diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.629. Hal ini menunjukkan bahwa presentase sumbangan pengaruh variabel Locus of control dan efikasi diri terhadap intense berwirausaha pada generasi Y sebesar 62.9%, sedangkan sisanya di pengaruhi oleh variabel variabel lain.
27 PEMBAHASAN UJI HIPOTESIS
Hasil uji hipotesis penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efikasi diri berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha.Hal ini berarti bahwa dengan adanya efikasi diri dalam diri seseorang dapat berpengaruh pada intensi berwirausaha.
Hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gilles dan Rea (1970) bahwa efikasi diri menjadi hal yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan karir seseorang dan didukung oleh Betz dan Hacket (1986) yang menyatakan bahwa ketika seseorang memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi saat seseorang memulai karir maka, semakin kuat pula intensi kewirausahaan yang dimilikinya.
Efikasi diri dapat berpengaruh pada intensi berwirausaha dikarenakan saat seseorang memiliki niat atau bahkan memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha berarti orang tersebut memiliki keyakinan yang kuat dalam dirinya yang disertai keterampilan untuk memulai usaha.
Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Andhika dan Madjid (2012) ; Achadiyah dan Irafami (2013) ; Bharanti et al., (2012);
Kadarsihet al., (2013) ; Handaru et al, (2014); Janah dan Winarno, (2015) bahwa efikasi diri terbukti berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha
Dalam hal locus of control dapat dilihat bahwa locus of control berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Robbins (2007) bahwa locus of control merupakan tingkat di mana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Visi yang jelas dan rencana jangka panjang cenderung dimiliki oleh seseorang dengan pengendalian yang tinggidan semakin tinggi tingkat pengendalian yang dimiliki seseorang maka dapat semakin berpengaruh pada tingkat intensi berwirausaha seseorang.
Saat seseorang memiliki locus of control yang tinggi, maka kemungkinan besar orang tersebut telah memutuskan untuk menjadi penentu dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Salah satu sifat dari seorang wirausaha adalah mengambil keputusan atas apa yang akan terjadi kepada kelanjutan usahanya.
28
Maka dari itu, jika seseorang memiliki locus of control yang tinggi dalam dirinya maka hal tersebut akan dapat berpengaruh terhadap intensi berwirausaha.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Srimulyani (2013) serta Wijayanti dan Suryani (2016) yang menunjukkan bahwa locus of control berpengaruh terhadap intensi berwirausaha.
29
BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN KESIMPULAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh efikasi diri dan locus of control terhadap intensi berwirausaha calon pensiunan. Efikasi diri dan locus of control merupakan hal yang dapat mempengaruhi intensi berwirausaha calon pensiunan, karena saat seseorang memiliki keyakinan bahwa dia adalah pemegang kendali atas dirinya sendiri dan memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuan serta keterampilannya sendiri maka akan lebih memperbesar intensi berwirausaha dalam diri seseorang, karena salah satu sifat seorang wirausaha merupakan penentu akan keputusan apa yang akan diambilnya dan penentu tentang apa yang akan dilakukannya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan yang pertama bahwa variabel efikasi diri dan locus of control berpengaruh terhadap intensi berwirausaha, artinya semakin tinggi tingkat efikasi diri dan locus of control yang dimiliki calon pensiunan maka akan semakin berpengaruh terhadap intensi berwirausaha calon pensiunan. Kedua, efikasi diri dan locus of controlsama sama memiliki tingkat pengaruh yang tinggi terhadap intensi berwirausaha.
IMPLIKASI
Penelitian ini memiliki beberapa implikasi yaitu implikasi teoritis merupakan hal yang berkaitan dengan kesinambungan ilmu pengetahuan dan implikasi terapan yang berupa saran yang ditujukan bagi lembaga atau instansi yang terkait.
Implikasi Teori
Efikasi diri dan locus of control berpengaruh terhadap intensi berwirausaha, hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Achidayah dan Irafami 2013; Handaru Et al., 2014; Kadarsih et al., 2012; Andhika dan Madjid 2012; Bharanti et al., 2012) bahwa efikasi diri berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha.Pada penelitian yang dilakukan oleh Cahyono (2010), ditemukan bahwa locus of control, dan efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
30 Implikasi Terapan
Pernyataan tertinggi pada variabel efikasi diri yaitu berwirausaha di usia pensiun merupakan hal yang menyenangkan, hal ini berarti calon pensiunan memiliki kepercayaan bahwa mereka mampu memulai usaha meskipun telah memasuki usia pensiun. Pernyataan mengenai responden yang lebih menyukai berbuat sesuatu daripada hanya menunggu memiliki nilai paling tinggi pada variabel locus of control, artinya responden memiliki kendali penuh atas apa yang akan dilakukannya.Variabel intensi berwirausaha memiliki tiga pernyataan dengan nilai yang sama. Ketiga pernyataan tersebut mengenai keinginan membuka usaha di usia pensiunnya.
Dari ketiga pernyataan yang memiliki nilai tertinggi di atas maka dapat dilihat bahwa pensiunan memiliki minat untuk membuka usaha saat telah pensiun nanti.Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah maupun pihak swasta untuk memberikan pelatihan kepada para pegawainya untuk mempersiapkan masa pensiunnya selain mengharapkan uang pensiunan.
KETERBATASAN DAN SARAN
Penelitian ini hanya terbatas pada faktor internal saja sehingga pada penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya meneliti dari faktor internal saja namun dapat juga melihat dari faktor eksternal juga. Peneliti selanjutnya juga bisa menggunakan calon pensiunan pada perusahaan agar hasil yang didapat bisa berbeda dan waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama.
Objek penelitian kali ini merupakan pegawai yang akan pensiun dalam jangka waktu 2 tahun kedepan. Pada penelitian yang akan datang bisa juga memilih pegawai yang akan pensiun 5 tahun yang akan datangsehingga hasil yang didapat mungkin dapat lebih bervariasi.
31 DAFTAR PUSTAKA
Achadiyah, B. N., & Irafami, D. T. (2013). Perbandingan Intensi Kewirausahaan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Jurnal Nominal, 3(2).
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian edisi revisi. Malang : UMM Press
Andhika, M., & Madjid, I. (2013). Analisis Pengaruh Sikap, Norma Subyektif Dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswafakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Paper presented at the Eco- Entrepreneurship Seminar & Call for Paper "Improving Performance by Improving Environment, Universitas Negeri Semarang.
Badan Pusat Statistik (BPS) diakses dari http://sp2010.bps.go.id/, diakses pada tanggal 2 Januari 2018 pada jam 17.20 WIB
Bandura, A. (1986). The Social Foundation of Thought and Action, Englewood Cliffs New Jersey: Prentice-Hall.
Bandura, A. (1994). Self-efficacy Encyclopedia of Human Behavior (Vol. 4). New York: Academic Press.
Betz, N. E., & Hackett, G. (1986). Application of Self-Efficacy Theory to Understanding Career Choice Behavior. Journal of Social Clinical and Phsycology, 4, 279-289.
Beukman, T. L. (2005). Locus of Control: To Lead or To Be Lead. University of Pretoria.
Bharanti, B. E., Idrus, M. S., Zain, D., & Solimun. (2012). Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan dan Stereotip Gender terhadap Intensi Kewirausahaan Mahasiswa yang Dimediasi oleh Kebutuhan Berprestasi dan Efikasi Diri Jurnal Aplikasi Manajemen, 10(3).
Cahyono, A. (2010). Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Intensi Kewirausahaan Mahasiswa Program Manajemen Bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra tahun 2006-2009. Bachelor, Petra Christian University, Surabaya.
Dayakisni, T., dan Yuniardi, S. 2008. Psikologi Lintas Budaya. Edisi Revisi.
Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang.
32
Cromie, S. (2000). Assessing Enterpreneurial Inclinations: Some Approaches and Empirical Evidence. Europran Journal of Work and Organizational Physchology, 9(1), 7-10.
Drucker, P. F. (1996). The Executive in Action: Managing for Results, Innovation
& Entrepreneurship, the Effective Executive. New York: Harper Business.
Fatoki, O. (2014). The Enterpreneurial Intention of Undergraduate Students in South Africa : The Influences of Enterpreneurship Education and Previous Work Experience. Mediterranean Journal of Social Sciences 5(7), 294- 299.
Fayolle, A., Gailly, B., & Lassas-Clerc, N. (2006). Assessing the Impact of Enterpreneurship Education Programmes: A New Methodology. Journal of European Industrial Training, 30(9), 701-720.
Gendro,Wiyono. 2011. Merancang Penelitian Bisnis dengan Alat Analisis SPSS 17.0 & Smart PLS 2.0. Yogyakarta: Percetakan STIM YKPM.
Ghozali, I. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
(2011). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghufron & Risnawita. 2011. Teori-teori Psikologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Gilles, M., & Rea, A. (1970). Career Self-efficacy: An Application of The Theory
of Planned Behavior. Journal of occupational & Organizational Psychology, 73(3), 393-399.
Handaru, A. W., Parimita, W., Achmad, A., & Nandiswara, C. (2014). Pengaruh Sikap, Norma Subjektif, dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Berwirausaha Mahasiswa Magister Management. Jurnal Universitas Paramadina, 11(2).
Hanurawan, F. (2010). Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/jumlah-pensiun-pns-tahun-2010-2016- dan-prediksi-pensiun-pns-tahun-2017-2020-1511775202 diakses pada tanggal 8 Januari 2018 pada jam 19.20 WIB
33
Indarti, N., & Rostiani, R. (2008). Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia, Jepang dan Norwegia Jurnal Ekonomika dan Bisnis Indonesia, 23(4), 1-27.
Janah, W. O., & Winarno, A. (2015). Pengalaman Praktik Kerja Industri, Motivasi Berprestasi dan Keyakinan Diri (Self-Efficacy) Pengruhnya Terhadap Intensi Berwirausaha Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Manajemen, 1(3).
Jeanne Ellis Ormrod.(2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta : ERLANGGA
Kadarsih, R., Susilaningsih, & Sumaryati, S. (2013). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Minat Berwirausaha pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UNS. Jurnal Pendidikan UNS, 2(1), 95-106.
Koh, H. C. (1996). Testing Hypotheses of Enterpreneurial Characteristics - A Research of Hong Kong MBA Students. Journal of Managerial Psychology, 11(3), 12-25.
Lee-Kelley, L. 2006. Locus of control and attitudes to working in virtual teams.
International Journal of Project Management, 24(3), 234-243.
Kreitner, R., & Kinicki, A. (2003). Perilaku Organisasi Jakarta: Salemba Empat.
Nursito, S., & Nugroho, A. J. S. (2013). Analisis Pengaruh Interaksi Pengetahuan Kewirausahaan Dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Kewirausahaan. Kiat BISNIS, 5(2).
Rasli, A. M., Rehman, K., & Malekifar. (2013). Factors Affecting Entrepreneurial Intention Among Graduate Students of Universiti Teknologi Malaysia.
International Journal of Bussines and Social Science, 4(2), 182-188.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2007). Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.
Rojuaniah. (2014). Pengaruh Faktor Kesiapan Instrumen dan Karakteristik Pribadi Terhadap Keinginan Berwirausaha Mahasiswa. Forum Ilmiah, 11(1).
Roscoe, J. (1975). Fundamental Research Statistic for the Behavioral Science.
New York: Holt, Rinehart, & Winston.
Santrock, J. W. (2007). Psikologi Pendidikan. Edisi Kedua. Jakarta : Prenada Media Group
34
Sekaran, U., & Bougie, R. (2010). Research Metodh for Business: A Skill Bilding Approach. Jakarta: Salemba Empat.
Singaribun, M., & Effendi, S. (1989). Metodologi Penelitian. Jakarta: LP3ES.
Srimulyani, V. A. (2013). Analisis Pengaruh Kecerdasan Adversitas, Internal Locus of Control, Kematangan Karir terhadap Intensi Berwirausaha pada Mahasiswa Bekerja. Widya Warta(1).
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Syamsu yusuf & Juntika Nurihsan. (2008). Teori kepribadian. Bandung : PT REMAJA ROSDA KARYA
Uddin, M. R., & Bose, T. K. (2012). Determinants of Enterpreneurial Intention of Business Students in Bangladesh. International Journal of Business and Management, 7, 128-137.
Wijayanti, N. G. P. P., & Suryani, A. (2016). Perbandingan Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Intensi Berwirausaha Mahasiswa FEB UNUD dan Mahasiswa FEB UDIKNAS. E-Jurnal Manajemen Unud, 5(3).
35 LAMPIRAN
Lampiran 1
IDENTITAS RESPONDEN A. Petunjuk pengisian
a. Bacalah setiap pernyataan dengan teliti.
b. Jawablah dengan baik setiap pertanyaan sesuai jawaban anda.
c.Isilah jawaban yang anda pilih dengan memberikan tanda check (√) pada kolom yang telah disediakan.
d. Pilihlah salah satu alternatif jawaban:
- Sangat setuju (SS) jika anda merasa sangat setuju dan sependapat dengan pernyataan tersebut
- Setuju (S) jika anda hanya merasa setuju dengan pernyataan tersebut - Netral (N) jika anda merasa netral dengan pernyataan tersebut
- Tidak setuju (TS) jika anda merasa tidak sependapat dengan pernyataan tersebut
- Sangat tidak setuju (STS) jika anda merasa sangat tidak sependapat dan menganggap pernyataan itu salah
B. Identitas Responden 1. Jenis kelamin
o
Laki – Lakio
Perempuan2. Pekerjaan orang tua
o
Wiraswasta36
o
Lain – lain3. Pekerjaan pasangan
o
Wiraswastao
Lain – lain4. Pekerjaan sekarang/terakhir
o
PNSo
Doseno
Pegawai swasta non – akademik 5. Pengetahuan berwirausahao
Pernah mengikuti pelatihan/seminar kewirausahaano
Tidak pernah mengikuti pelatihan/seminar kewirausahaan 6. Pengalaman berwirausahao
Sedang menjalankan usahao
Pernah menjalankan usaha (sekarang tidak)o
Tidak pernah berwirausaha37 EFIKASI DIRI
No PERNYATAAN SS S N TS STS
1 Bagi saya berwirausaha di usia pensiun
merupakan hal yang menyenangkan 2 Dengan menjadi wirausaha, saya dapat
sepenuhnya mengatur segala situasi 3
Banyaknya situasi yang tidak bisa saya kendalikan, membuat saya ragu untuk berwirausaha setelah pensiun (R)*
4 Saya sadarakan kemungkinan saya gagal
dalam berwirausaha
LOCUS OF CONTROL
NO PERNYATAAN SS S N TS STS
1
Kegagalan seseorang diakibatkan oleh kesalahan yang dibuat oleh seseorang itu sendiri
2
Banyak hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan seseorang disebabkan antara lain oleh nasib buruk (R)*
3 Saya menyukai setiap hasil dari usaha saya 4
Saya menerima semua konsekuensi baik positif maupun negatif dari keputusan dan tindakan saya
5
Saya yang mempengaruhi hasil dari peristiwa peristiwa dalam hidup saya, bukan keberuntungan atau nasib
6 Saya lebih suka berbuat sesuatu daripada
menunggu dan melihat sesuatu terjadi 7
Saya lebih percaya bahwa kesuksesan adalah hasil keberuntungan dan takdir daripada usaha pribadi. (R)*
*(R) merupakan pertanyaan reverse
38 Lampiran 2
Data Jawaban Kuesioner Variabel Efikasi Diri
Responden 1 2 3 4 Jumlah
1 4 4 3 3 14
2 4 4 4 4 16
3 3 3 3 3 12
4 4 3 3 4 14
5 4 3 4 3 14
6 4 3 3 3 13
7 2 2 3 3 10
8 4 4 4 4 16
9 3 3 3 4 13
10 3 3 3 4 13
11 3 4 2 2 11
12 4 4 3 4 15
13 4 4 4 4 16
14 3 3 3 3 12
15 4 4 3 4 15
16 4 3 3 3 13
17 3 3 4 4 14
18 5 4 3 4 16
19 3 3 3 3 12
20 4 4 3 4 15
21 3 3 2 2 10
22 4 4 3 4 15
23 5 5 5 5 20
24 4 4 4 4 16
25 3 4 3 4 14
26 4 4 3 4 15
27 3 3 3 4 13
28 4 4 2 4 14
tabel jawaban kuesioner efikasi diri lanjut ke halaman 39
39 lanjutan tabel jawaban kuesioner efikasi diri
29 2 3 2 3 10
30 4 4 3 4 15
31 3 3 2 3 11
32 2 2 2 2 8
33 4 4 4 4 16
34 4 3 4 4 15
35 4 4 3 3 14
36 4 3 3 4 14
37 3 2 2 3 10
38 4 4 4 4 16
39 3 4 4 3 14
40 4 4 3 3 14
41 4 4 4 2 14
42 4 5 4 5 18
43 3 3 3 4 13
44 3 3 2 3 11
45 5 5 4 4 18
46 2 2 2 4 10
47 4 3 2 4 13
48 3 4 3 4 14
49 4 3 4 2 13
50 5 4 5 4 18
51 3 2 2 4 11
52 2 2 4 3 11
53 4 4 3 2 13
54 3 3 3 3 12
Total 723
40 Variabel Locus of Control
Responden 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah
1 4 4 4 5 5 4 4 30
2 2 3 4 4 4 4 4 25
3 4 5 5 5 5 4 5 33
4 3 4 4 4 4 4 4 27
5 3 5 4 4 4 4 4 28
6 4 5 5 4 4 4 4 30
7 3 3 3 4 3 3 3 22
8 4 3 4 3 4 4 4 26
9 4 4 5 5 5 5 4 32
10 4 4 2 4 3 4 4 25
11 4 4 4 3 3 3 4 25
12 4 4 4 4 4 4 5 29
13 4 4 3 4 4 4 3 26
14 4 4 4 4 4 4 4 28
15 4 4 4 4 4 4 4 28
16 4 3 4 4 4 4 3 26
17 3 3 4 3 4 4 4 25
18 5 5 5 3 5 5 4 32
19 4 4 4 4 2 4 2 24
20 5 4 4 5 4 5 4 31
21 4 4 4 4 4 5 2 27
22 3 5 4 4 5 4 5 30
23 4 4 3 4 4 4 4 27
24 4 3 4 4 4 4 4 27
25 4 4 4 4 4 4 3 27
26 3 4 4 4 4 3 3 25
tabel jawaban kuesioner locus of control lanjut ke halaman 41