122 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CTL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VI SD NEGERI 005 SIBERAKUN
KECAMATAN BENAI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Lenawati
Guru SD Negeri 005 Siberakun
Email: [email protected] Abstract
Student learning activities in the mathematics learning process in class VI SDN 005 Siberakun are still low, so that their learning outcomes do not meet the predetermined KKM of 70. This research was conducted using a Contextual Teaching and Learning approach which was carried out in two cycles of Classroom Action Research. CTL is a learning approach that emphasizes the full involvement of students to be able to find the material being studied and relate it to real life situations, thus encouraging students to be able to apply it in their lives. Learning mathematics at the elementary school level, it is hoped that self-discovery will occur as the knowledge needed by students must be able to connect what they already have with the problems they face. To obtain activity data, an observation sheet is used which is filled in during the learning process and data on learning outcomes is obtained through a test sheet given at the end of the cycle. The increase in learning outcomes is seen from the number of students who complete at the end of the cycle. From the results of observations of teacher activity in cycle I, it seems that it has not been maximized because there are still some cryptocurrencies that have not been implemented, but in cycle II the teacher has carried out good guidance which has an impact on student activity also experiencing an increase for each meeting so that at the end of the cycle student learning outcomes have increased. than in the first cycle. In the first cycle only 10 students (56%) completed and in the second cycle there were 16 students (89%) who were declared complete according to the specified KKM. The increase in cycles I and II was 33% (6 students). From this data it can be concluded that the use of the Recitation method can increase student activity and learning outcomes.
Key words: CTL approaching, mathematics study, and result of study Abstrak
Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika di kelas VI SDN 005 Siberakun masih rendah, sehingga hasil belajarnya belum memenuhi KKM yang telah ditetapkan yaitu 70, Penelitian ini dilakukandengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learningyang dilaksanakan dalam dua siklus Penelitian Tindakanan Kelas. CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya ke dalam kehidupan mereka. Pembelajaran matematika ditingkat sekolah dasar, diharapkan terjadi penemuan sendiri sebagai pengetahuan yang diperlukan siswa harus dapat menghubungkan apa yang sudah dimiliki dengan permasalahan yang dia hadapi. Untuk memperoleh data aktivitas digunakan lembar obsevasi yang diisi selama proses pembelajaran dan data hasil belajar diperoleh melalui lembaran tes yang diberikan pada akhir siklus.. Peningkatan hasil belajar dilihat dari jumlah siswa yang tuntas pada akhir siklus. Dari hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus I terlihat belum maksimal karena masih ada beberapa kriptor yang belum dilaksanakan, tetapi pada siklus II guru sudah melakukan pembimbingan yang baik yang berdampak pada aktivitas siswa juga mengalamai peningkatan untuk setip pertemuan sehingga pada akhir siklus hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pada siklus I. Pada siklus I hanya 10 siswa (56%) yang tuntas dan pada siklus II ada 16 siswa (89%) yang dinyatakan tuntas sesuai dengan KKM yang di tetapkan.
Peningkatan siklus I dan II adalah sebesr 33% (6 siswa). Dari data ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Resitasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Kata kunci: Pedekatan CTL, pembelajara matematika, aktivitas, dan hasil belajar
123 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
PENDAHULUAN
Proses belajar mengajar yang efektif perlu adanya cara berpikir secara terarah dan jelas akan apa yang dipelajari.
Dengan banyak permasalahan- permasalahan yang muncul, perlu adanya pembaharuan-pembaharuan di lingkungan pendidikan yang mengarahkan pembelajaran agar siswa dapat selalu aktif. Disinilah peranan pendidikan memberikan suatu konsep cara belajar yang efektif.
Rendahnya keaktifan siswa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 1) Faktor dari guru misalnya tidak adanya dorongan dan motivasi dari guru untuk membimbing siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan; 2) Dari siswa misalnya perasaan takut dan malu untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan, perasaan tidak percaya diri akan jawabannya sendiri, dan lain-lain.
Usaha meningkatkan keaktifan belajar siswa didalam kelas sangat penting untuk dilakukan oleh para guru. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan fokus siswa agar dapat menerima pelajaran dengan baik. Dengan siswa yang aktif maka fokus mereka terhadap pelajaran pun akan meningkat sehingga mereka mudah memahami apa yang diberikan oleh guru.
Selain itu, siswa yang aktif dalam pembelajaran akan membuat pelajaran lebih efektif dan menyenangkan.
Dalam proses belajar mengajar guru matematika seharusnya mengerti bagaimana memberikan stimulus sehingga siswa mencintai belajar matematika dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru, serta mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan muncul kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar siswa.
Dalam pengajaran matematika diharapkan siswa benar-benar aktif, sehingga akan berdampak pada ingatan siswa tentang apa yang dipelajari akan
lebih lama bertahan. Suatu konsep akan mudah dipahami dan diingat oleh siswa bila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah-langkah yang tepat, jelas dan menarik keaktifan siswa mempengaruhi keberhasilan dalam belajar.
Berdasarkan hasil observasi penulis diperoleh informasi bahwa, hasil belajar matematika siswa masih rendah untuk semua materi pelajaran. Selain dari hasil belajar, permasalahan juga ditemui dalam proses pembelajaran matematika, permasalahan yang penulis temui selama mengajar adalah sebagai berikut: (1) siswa jarang bertanya dalam proses pembelajaran (siswa tidak dilatih bertanya), (2) siswa belum mampu memberikan tanggapan dan membuat kesimpulan pembelajarn, (3) secara umum siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita, (4) motivasi belajar matematika siswa yang masih rendah karena siswa tidak mengetahui pentingnya belajar matematika untuk kehidupan sehari-hari, (5) siswa sering menanyakan rumus ketika latihan kepada teman atau guru karena mereka lupa (matematika bersifat abstrak), (6) siswa kurang dilatih untuk bekerja kelompok karena hasilnya tidak efisien.
Agar pembelajaran matematika lebih terarah dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa perlu suatu pendekatan. Salah satu alternatifnya adalah dengan mencoba menerapkan pendekatan pembelajran yang memberdayakan siswa dalam pembelajaran. Suatu pendekatan yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi pendekatan yang dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan di benak siswa sendiri. Siswa diharapkan belajar dari mengalami bukan menghafal.
Dalam proses pembelajaran ini guru harus dapat menggunakan pendekatan yang dapat menjadikan siswa aktif dan pembelajaran berhasil sesuai dengan yang direncanakan. Guru dapat mengajak siswa memahami sesuatu masalah melalui semua tahap dalam proses belajar karena dengan
124 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
cara begitu siswa akan dapat memahami sesuatu masalah melalui semua tahap dalam proses belajar karena dengan cara begitu siswa akan dapat memahami dan memaknai sebuah pembelajaran.
Salah satu pemecahan yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang dilaksanakan adalah dengan penerapan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarakan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Pendekatan kontekstual menerapkan tujuh komponen yaitu;
Konstruktivisme, menemukan sendiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian sebenarnya.
Dengan menerapkan tujuh komponen ini siswa termotivasi untuk berani mengeluarkan pendapat, mampu menemukan konsep, mau bertanya kepada guru dan teman maupun menjadi serta dapat menyimpulkan pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa aktif di kelas.
Pendekatan kontekstual dapat memacu minat belajar siswa karena mereka diarahkan melakukan kerjasama, saling
menolong, menyenangkan,
menggairahkan, terintegrasi dan menggunakan banyak sumber belajar.
Siswa harus mengerti makna belajarnya dan bagaiman cara mencapainya. Tugas guru dalam pendekatan kontekstual hanya sebagai fasilitator membantu siswa menemukan pengetahuan barunya kebermaknaan belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut :
a. Kurangnya minat belajar siswa b. Tidak termotivasi dalam belajar c. Penguasaan materi kurang
Dari berbagai permasalahan di atas maka yang menjadi penyebabnya adalah:
a. Penjelasan guru kurang menarik b. Guru hanya berdiri di depan kelas saat
menjelaskan pelajaran
c. Tidak Menggunakan model /pendekatan yang inovatif
d. Tidak atau belum menggunakan LKS Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah yang dikemukakan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
“Apakah dengan menggunakan pendekatan kontekstual, dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas VI SDN 005 Siberakun Kecamatan Benai ?”
Landasan Teori
1. Pembelajaran CTL
Kontekstual pembelajaran merupakan sebuah sistem pengajaran yang berdasarkan pada isi atau materi pengajaran dengan keadaan siswa. Antara materi pengajaran berhubungan dan saling berkaitan satu sama lain, keduanya ada keterikatan yang tidak bisa dipisahkan).
Semakin bagus situasi siswa, akan semakin baik hasil yang didapatkan.
Sardiman (2004) mengatakan bahwa contextual teaching and learning (CTL) atau kontektual pembelajaran merupakan model pembelajaran yang membantu guru untuk mengkaitkan antara materi ajar dengan situasi nyata si siswa, yang dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang di pelajari dengan penerapannya dalam kehidupan para siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Wina (2005: 21) mengatakan bahwa CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya kedalam kehidupan mereka.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
125 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
kontekstual menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Selain itu juga, pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pangalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini dapat mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai prilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Komponen Pembelajaran Kontekstual a. Kontruktivisme adalah proses
membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalamannya.
b. Inkuiri merupakan proses pembelajaran yang dilandasi pada pencarian dan penemuan melalui berfikir secara sistematis.
c. Kegiatan bertanya sangat penting dalam menggali informasi yang ingin didapat. Bertanya adalah fondasi dari interaksi belajar mengajar. Dalam pembelajaran kontekstual guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, melainkan guru memancing peserta didik untuk selalu bertanya dan dapat menemukan jawabnnya sendiri.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Melalui interaksi sosial belajar akan lebih bermakna, belajar dengan bekerja sama dengan kelompok atau masyarakat baik secara formal maupun alamiah.
e. Pemodelan (Modelling)
Pada pembelajaran kontekstual menekankan arti penting dalam pemodelan, dikarnakan peserta didik
akan lebih mudah memahami materi pelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru peserta didik.
f. Refleksi ialah proses untuk melihat kembali, mengingat kembali, dan menganalisis kembali kejadian- kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah diproses peserta didik..
g. Penilaian nyata adalah upaya yang dilakukan guru dalam mengumpulkan berbagai informasi dan data tentang perkembangan belajar peserta didik.
Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual
Menurut Nurhadi (2002: 15) pendekatan CTL mempunyai kelebihana dan kekurangan, yaitu
Kelebihan pendekatan kontekstual
Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa melalui kegiatan konstruktivisme.
Sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa
Pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran bermakna.
Kekurangan pendekatan kontekstual
Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran
Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka situasi kelas kurang kondusif
Guru lebih intensif dalam membimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.untuk menemukan atau menerapkan ide—ide
126 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
2. Konsep Matematika
Secara etimologis, matematika berasal dari bahasa latin Manthanein atau mathemata yang berarti belajar atau hal yang harus dipelajari. Dalam bahasa Belanda disebut Wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran.
Konsep pembelajaran matematika menurut konstuktivisme didasarkan kepada kerja akademik para ahli psikologi dan peneliti yang peduli dengan konstruktivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas di kelas, maka pengetahuan matematika dikonstruksikan secara aktif
Dalam pembelajaran matematika ditingkat sekolah dasar, diharapkan terjadi penemuan sendiri sebagai pengetahuan yang diperlukan siswa harus dapat menghubungkan apa yang sudah dimiliki dengan permasalahan yang dia hadapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Suyanto (1997:
9) tentang belajar bermakna, yaitu kegiatan siswa menghubungkan informasi pada pengetahuan yang dimilikinya.
3. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar matematika sekolah dasar adalah pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa melalui berbuat dan pengalaman langsung yang dialami siswa melalui penanaman konsep, pemahaman konsep dan keterampilan konsep yang diperoleh siswa melaui langkah-langkah yang benar sesuai dengan kemampuan lingkungan siswa.
Menurut Arsyad (2002: 26), belajar adalah suatu proses komplek yang terjadi pada diri setiap orang sepangjang hidupnya. Salah satu pertanda bahwa seorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.
Selanjunya Slameto (2002: 112) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar dan hasil belajar matematika adalah dua hal yang memiliki keterkaitan yang kuat. Sudjana (2004: 62) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Sedangkan Dimyati dan Mudjiono (2002: 32) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan nilai belajar siswa melalui kegiatan evaluasi atau pengukuran.
METODE PENETIAN
1. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Salah satu ciri-ciri dari Penelitian Tindakan Kelas adalah dilakukan tindakan persiklus. Secara umum alur penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari: Perencanaan (Planning), pelaksanaan atau tindakan ini peneliti melakukan dua siklus. (Kemmis dan Taggart, 1988:11) 2. Teknik Analisis Data
Hasil observasi guru dan siswa di analisis dengan metode analisis deskriptif yang dihitung dengan cara membagi jumlah skor yang diperoleh dengan skor maksimum. Kemudian dikalikan 100 (Hamalik, 1986: 32) dengan ketentuan sebagai berkut:
100 x maksimum skor
Nskoryangdiperoleh Dengan kriteria penilaian:
86% - 100% = Sangat Baik 76% - 85% = Baik
60 % - 75% = Cukup
< 55% = Kurang
Hasil belajar dianalisis dengan metode statistik deskriptif untuk melihat keberhasilan siswa dalam pembelajaran.
Untuk melihat perbedaan hasil belajar setelah tindakan digunakan teknik perbedaan mean score. Artinya hasil yang dijadikan dasar pertimbangan adalah nilai rata-rata yang diperoleh melalui tes.
Sedangkan untuk menentukan ketuntasan
127 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
belajar siswa adalah dengan menetapkan KKM.
Data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan berdasarkan skor tes hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa.
Menurut Ngalim Purwanto (2004:112), nilai yang diperoleh siswa menunjukkan besarnya penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran (materi kurikulum) yang telah diajarkan. Nilai yang diperoleh siswa benar-benar nilai skor. Rumus penilaian (Nilai individu) adalah sebagai berikut:
x 100 SM
NP R
Keterangan:
NP = Nilai persen yang dicari atau yang diharapkan
R = Skor mentah yang diperoleh siswa
SM = Skor maksimum ideal yang bersangkutan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus I dipersiapkan perangkat pembelajaran dan instrumen pengumpul data. Perangkat pembelajaran terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang, dengan materi pokok tentang
”pengukuran” yang diberikan dengan pendekatan CTL, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan instrumen pengumpul data, lembar pengamatan, dan seperangkat tes hasil belajar matematika.
Pelaksanaan Tindakan
Pada kegiatan awal, guru Menyiapkan ruang kelas (menyiapkan alat
pembelajaran, sumber belajar, absen dan berdo’a), menyampaikan tujuan pembelajaran serta menginformasikan model dan metode pembelajaran yang akan digunakan dan membagi siswa dalam kelompok belajar.
Pada kegiatan inti guru melaksanakan pembelajaran tahap demi tahap pembelajaran CTL, yaitu konstruktivisme guru membuka wawasan siswa tentang materi pelajaran, Dalam kegiatan inquiri guru memberikan LKS, Pada kegiatan presentasi hasil diskusi memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya kepada kelompok yang menyajikan, Bertanya juga merupakansalah satu tahap pembelajaran CTL. Selama kegiatan ini guru juga memberikan penilaian terhadap aktivitas siswa agar dapat memberikan nilai yang sesuai dengan aktivitas siswa. sebagai refleksi dari pelaksanan guru meminta siswa memberikan tanggapannya pada pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan, lalu memberitahukan kepada siswa hal-hal yang harus diperbaiki seperti melakukan kegiatan harus sesuai dengan langkah-langkah atau petunjuk yang ada.
Pada kegiatan akhir adalah: (a) untuk membentuk dan penanaman sikap peserta didik terhadap kompetensi yang telah dipelajari pada akhir pelajaran diadakan perenungan, (b) post tes bisa dilakukan secara lisan maupun tertulis, (c) menyimpulkan pelajaran
Pengamatan (observation).
a. Hasil Observasi Aktivitas Guru Pada siklus I, peneliti bersama observer telah mengamati jalannya proses
pembelajaran dengan penerapan CTL dan hasil observasi aktivitas guru pada siklus I terlihat peningkatan aktivitas siswa pada siklus I seperti pada tabel berikut:
128 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
Tabel 1. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru dalam Proses Belajar Mengajar dengan Pembelajaran CTL pada Siklus I
Tahap
pembejaran Karakteriktik
Skor
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Kegiatan
Awal
Menyiapkan ruang kelas (menyiapkan alat pembelajaran, sumber belajar, absen dan berdo’a)
3 4
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi
3 4
Masyarakat belajar 2 3
Kegiatan inti
Konstruktivisme 3 3
Pemodelan 3 3
Inquiry 2 2
Bertanya 3 3
Penilaian sebenarnya 2 4
Refleksi 2 2
Kegiatan akhir Membimbing siswa menyimpulakn pelajaran dan menutup pelajaran
3 3
Persentase 65% 78%
Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa dari beberapa karakteristik kegiatan pembelajaran masih ada beberapa descriptor yang belum dilakukan guru untuk lebih jelas lihat lembaran observasi guru (lampiran). Pada pertemuan 1 siklus I skor yang diperoleh baru 65%. Dari skor yang diperoleh bimbingan yang dilakukan
guru baru pada kategori cukup. Hal ini menunjukan guru belum maksimal melaksanakan kegiatan pembelajaran CTL.
Sedangkan pada pertemuan 2 sudah mengalami peningkatan dimana skor yang diperoleh sudah mencapai 78% dengan kagori baik. Selanjutnya untuk aspek siswa dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Proses Belajar Mengajar dengan Pembelajaran CTL pada Siklus I
Tahap
pembejaran Karakteriktik
Persentase
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Kegiatan
Awal
Menyiapkan ruang kelas (menyiapkan alat pembelajaran, sumber belajar, absen dan berdo’a)
3 4
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi
3 3
Masyarakat belajar 2 3
Kegiatan inti
Konstruktivisme 3 3
Pemodelan 3 3
Inquiry 2 2
Bertanya 2 2
Penilian sebenarnya 2 3
Refleksi 2 3
Kegiatan akhir
Membimbing siswa menyimpulakn pelajaran dan menutup pelajaran
2 3
Persentase 60% 73%
129 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
Dari hasil pengamatan tentang prilaku/aktivitas siswa selama prosen pembelajaran siklus I dapat diketahui persentase yang diperoleh siswa pada pertemuan 1 baru mencapai 60% dan pertemuan 2 meningkat menjadi 73%. Jika dikategorikan baru pada kategori cukup.
b. Hasil Belajar Siswa
Peneliti bersama observer telah mengamati jalannya proses pembelajaran CTL. Hasil belajar siswa diukur melalui tes pada akhir pembelajaran. Hasil belajar siswa pada siklus I seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Hasil belajar pada siklus I
Rentang Nilai Jumlah siswa Keterangan
<50 3 orang Belum tuntas
60 5 orang Belum tuntas
70 3 orang Tuntas
80 2 orang Tuntas
90 3 orang Tuntas
100 2 orang Tuntas
Jumlah 18 orang
Hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa dari 18 siswa ada 10 siswa ( 56%) yang tuntas, sedangkan 8 orang (44%) lagi siswa belum tuntas.
Selisih siswa yang tuntas dengan yang tidak tuntas baru sedikit yakni hanya 2 orang (12%). Hal ini mungkin disebabkan oleh siswa belum selesai menjawab seluruh soal yang diberikan karena terbiasa bermain-main dalam mengerjakan soal.
Misalnya dari 10 soal, siswa hanya mengisi lima saja. Siswa kurang teliti dan cendrung malas membaca soal, karena siswa terbiasa dengan soal dibacakan oleh guru. Ada sebagian siswa yang bekerja tergesa-gesa dan ceroboh, sehingga jawaban ditulis tidak sempurna.
Refleksi (Reflection)
Setelah dilakukan pengamatan lalu dianalisa dan didiskusikan oleh peneliti dengan observer, segala temuan yang ada dijadikan bahan pertimbangan untuk perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II.
Dari aspek guru masih ditemui beberapa kekurangan yakni dalam pelaksanaan pembelajaran guru belum maksimal memberikan bimbingan dalam
memecahkan masalah, belum memberi dorongan kepada siswa yang fasif untuk bertanya dan lebih giat lagi belajar sehingga masih ada siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran
Dari aspek siswa pembelajaran masih didominasi oleh yang pintar dan berani, sehingga belum seluruh siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Masih ada siswa yang tidak mau tahu dengan tugas-tugas yang diberikan sehingga mereka tidak mengerti dan tidak memahami materi pembelajaran. Apabila diberikan kesempatan bertanya dan menjawab mereka lebih banyak diam karena tidak mau mengungkapkan apa yang masih kurang dimengerti sehingga mereka kurang paham.
Dari hasil belajar siswa masih ada siswa yang belum tuntas atau mencapai nilai KKM yang ditetapkan yaitu 70.
Selisih siswa yang tuntas dengan yang tidak tuntas hanya 12%. Hal ini masih perlu ditingkatkan. Guru harus selalu mengingatkan dan menggesa siswa siswa yang lamban mengerjakan tugas atau soal yang diberikan sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.
130 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
Dari aspek guru masih ditemui beberapa kekurangan yakni dalam pelaksanaan pembelajaran guru belum maksimal memberikan bimbingan dalam memecahkan masalah, belum memberi dorongan kepada siswa yang fasif untuk bertanya dan lebih giat lagi belajar sehingga masih ada siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran
Siklus II Perencanaan
Berdasarkan masalah yang ditemukan pada hasil observasi pada siklus I maka diberikan tindakan selanjutnya pada siklus II. Perencanaan yang dilakukan pada dasarnya sama dengan perencanaan siklus I.yaitu mempersiapkan instrument penelitian yang terdiri dari perangkat pembelajaran dan instrument pengumpul data . perangkat pembelajaran terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat untuk dua kali pertemuan.
Pelaksanaan Tindakan
Pada kegiatan awal pada pertemuan guru mSempersiapkan siswa untuk belajar dengan memotivasi siswa melalui peragaan beberapa gambar tentang berbagai kegiatan, seperti kegiatan belajar di sekolah, petani bekerja di sawah, ibu memasak di dapur, anak bermain. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang
harus dicapai siswa. Siswa dapat menjelaskan satuan panjang dan dapat mengubah ukuran satuan panjang sesuai dengan kesetaraannya
Guru menanyakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan satuan panjang, misalnya panjang meja, papan tulis, kelas dan sebagainya. Anak menunjukkan bagian panjang suatu benda yang telah disebutkan.
Dalam kegiatan pembelajaran CTL diberikan dalam bentuk LKS. LKS berisikan pernyataan dan masalah-masalah sesuai dengan keadaan dan pengalaman siswa sehari-hari. Guru menyarankan dalam penyelesaian LKS agar siswa berbagi tugas sehingga yang bekerja tidak hanya ketua kelompok. Pada saat siswa mengerjakan LKS guru memonitor pekerjaan siswa dan membantu siswa yang mengalami kesulitan. Diharapkan siswa dapat menggunakan media yang telah disediakan seperti meteran untuk membantu penyelesaian LKS. Setelah waktu yang ditentukan habis ada 1 kelompok yang belum selesai dalam pengisian LKS namun siswa tetap harus mengikuti kegiatan berikutnya yaitu presentasi kelas.
Pengamatan (observation).
Hasil observasi peningkatan aktivitas Guru dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru dalam Proses Belajar Mengajar dengan Pembelajaran CTL pada Siklus II
Tahap
pembejaran Karakteriktik
Skor
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Kegiatan
Awal
Menyiapkan ruang kelas (menyiapkan alat pembelajaran, sumber belajar, absen dan berdo’a)
4 4
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi
4 4
Masyarakat belajar 3 4
Kegiatan inti
Konstruktivisme 3 4
Pemodelan 3 4
Inquiry 3 4
Bertanya 3 3
131 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
Penilian sebenarnya 3 4
Refleksi 3 4
Kegiatan akhir
Membimbing siswa menyimpulakn pelajaran dan menutup pelajaran
3 3
Persentase 80% 95%
Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa peningkatan aktivitas guru, dari beberapa deskriptor yang ada sudah dilakukan guru untuk lebih jelas lihat lembaran observasi guru (lampiran). Pada pertemuan 1 siklus II skor yang diperoleh baru 80%. Dari skor yang diperoleh bimbingan yang dilakukan guru baru pada kategori baik. Hal ini menunjukan guru
sudah berusaha maksimal melaksanakan kegiatan pembelajaran CTL. Sedangkan pada pertemuan 2 sudah mengalami peningkatan dimana skor yang diperoleh sudah mencapai 95% dengan kategori sangat baik. Selanjutnya untuk mengetahui hasil pengamatan tentang aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Proses Belajar Mengajar dengan Pembelajaran CTL pada Siklus II
Tahap
pembejaran Karakteriktik
Persentase
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Kegiatan
Awal
Menyiapkan ruang kelas (menyiapkan alat pembelajaran, sumber belajar, absen dan berdo’a)
4 4
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi
4 4
Masyarakat belajar 3 4
Kegiatan inti
Konstruktivisme 3 4
Pemodelan 3 3
Inquiry 4 3
Bertanya 4 4
Penilian sebenarnya 3 4
Refleksi 3 3
Kegiatan akhir
Membimbing siswa menyimpulakn pelajaran dan menutup pelajaran
3 4
Persentase 85% 93%
Dari hasil pengamatan tentang prilaku/aktivitas siswa selama prosen pembelajaran siklus I dapat diketahui persentase yang diperoleh siswa pada pertemuan 1 baru mencapai 83% dan pertemuan 2 meningkat menjadi 93%. Jika dikategorikan baru pada kategori sangat baik.
Hasil Belajar Siswa
Peneliti bersama observer telah mengamati jalannya proses pembelajaran CTL. Hasil belajar siswa diukur melalui tes pada akhir pembelajaran. Hasil belajar siswa pada siklus I seperti terlihat pada tabel berikut:
132 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
Tabel 6. Hasil belajar pada siklus II
Rentang Nilai Jumlah siswa Keterangan
<50 0
60 2 orang Belum tuntas
70 2 orang Tuntas
80 2 orang Tuntas
90 5 orang Tuntas
100 7 orang Tuntas
Jumlah 18 orang
Hasil belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan dari siklus I.
Dari 18 siswa sudah ada 16 siswa ( 89%) yang tuntas, sedangkan 2 orang (11%) lagi siswa belum tuntas. Siswa yang belum tuntas adalah siswa yang berkemampuan rendah di kelasnya. Siswa yang berkemampuan rendah ini sangat fasif di kelas dan kurang mampu mencerna maksud soal terutama pada soal cerita, karena siswa ini masih kurang lancar membaca. Siswa tersebut tidak dapat menyelesaikan semua soal yang diberikan karena batas waktu yang ditentukan telah habis.
Refleksi (Reflection)
Hasil pengamatan pada siklus II ini terlihat bahwa:
a. Aktivitas siswa bertanya kepada guru dan teman mengalami peningkatan jika di bandingkan dengan siklus I. Hal ini disebabkan karena siswa makin terbiasa untuk melakukan aktivitas tersebut.
b. Aktivitas menjawab pertanyaan guru yang bertanya tentang penyelesaian masalah matematika juga meningkat bila dibandingkan pada siklus I. Siswa saling berebutan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
c. Kemampuan menyampaikan ide- ide/pendapat tentang cara memecahkan masalah/soal matematika juga meningkat Hal ini sangat tampak saat melakukan diskusi kelompok dan presentasi hasil diskusi. Siswa yang
aktif berbicara tidak lagi siswa yang berkemampuan tinggi tapi siswa yang berkemampuan rendah.
d. Kesadaran membantu teman yang mendapat kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika sudah tinggi. Bila ada teman siswa yang berkemampuan rendah yang bertanya minta bantuan siswa yang berkemampuan tinggi sudah mau memberi penjelasan dan tidak ada lagi yang mengejek temanya dengan kata- kata yang tidak enak didengar..
e. Memperlihatkan kesungguhan dalam mengikuti diskusi untuk menyelesaikan/mengorganisir bahan ajar juga meningkat. Siswa tidak lagi suka bermain atau mengganggu temannya, karena mereka sangat ingin mendapatkan predikat terbaik untuk kelompoknya, karena dalam prentase kelas hasil kerja kelompok akan sangat tampak hasilnya dan guru akan memberikan penghargaan bagi kelompok yang dianggap paling baik hasilnya.
f. Bekerjasama dalam kelompok menyelesaikan masalah yang ada dalam LKS dengan tepat waktu.
Interaksi dengan teman dalam menyelesaikan LKS atau menguasai materi pembelajaran tidak lagi didominasi oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Siswa sudah berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan LKS.
133 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
Pembahasan Hasil Penelitian Aktivitas Siswa.
Berdasarkan hasil refleksi siklus I dan II dapat dilihat telah terjadi peningkatan aktivitas belajar. Setiap aktivitas tidak lagi didominasi oleh anak pintar saja tetapi juga oleh siswa yang berkemampuan rendah. Hal ini sesuai dengan teori yang yang dikemukakan oleh Ahmad Rohani (2004) bahwa siswa dikatakan aktif jika siswa tetap bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam proses pembelajaran.
Aktivitas bertanya kepada guru atau teman meningkat antara siklus I dan siklus II. Siswa sudah serius memperhatikan penjelasan guru, sehingga siswa sudah dapat mengetahui hal-hal yang tidak dimengerti yang harus mereka tanyakan kepada guru. Begitu juga dengan aktivitas menjawab pertanyaan, siswa tidak lagi merasa takut untuk menjawab, walaupun jawaban mereka kadang sesuai dengan yang diharapkan dan siswa yang lain juga tidak lagi mengejek jika temannya salah dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.
Aktivitas menyampaikan ide/pendapat juga meningkat, siswa sudah ikut memberikan saran pendapat dalam menyelesaikan masalah matematika sehingga aktivitas ini tidak lagi didominasi oleh siswa yang berkemampuan lebih tapi siswa yang berkemampuan rendah pun sudah berani menyampaikan ide/pendapatnya.
Aktivitas membantu teman juga sudah saling dilakukan siswa. Siswa yang sudah mengerti sudah mau memberi penjelasan kepada temannya yang belum mengerti dan memahami materi pelajaran.
Aktivitas mengerjakan tugas tepat waktu juga mengalami peningkatan. Siswa sudah mulai sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Rasa percaya diri siswa sudah mulai tumbuh, sehingga siswa tidak lagi menunggu jawaban dari teman.
Aktivitas menyimpulkan pelajaran juga mengalami peningkatan. Siswa sudah
merasakan pentingnya menyimpulkan materi pelajaran yang digunakan menjadi bahan catatan yang dapat diualng mempelajarinya di rumah. Siswa juga mulai merasakan bertanya dan membahas pelajaran bersama teman juga sangat menguntungkan, sehingga siswa sudah ikut dalam menyimpulkan pelajaran.
Hasil Belajar Siswa
Terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dan II. Peningkatan ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar matematika siswa dan persentase jumlah siswa yang tuntas. Data hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes yang diberikan setiap siklus yang dapat dilihat pada lampiran. Hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan dari pada siklus I.
Pada siklus I hanya 10 siswa (56%) yang tuntas dan pada siklus II ada 16 siswa (89%) yang dinyatakan tuntas sesuai dengan KKM yang di tetapkan yaitu 70.
Jadi peningkatan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan 33% (6 siswa)
Penerapan pendekatan matematika melalui pembelajaran CTL siswa dapat menyelesaikan masalah dan persoalan matematika menurut caranya masing- masing, sehingga timbul rasa puas di hati siswa, di samping itu siswa langsung merasakan pengalaman belajar yang dirasakan sangat dekat dengan kehidupannya.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
1. Penerapan pembelajaran CTL dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VI SD Negeri 005 Siberakun.
Prilaku/aktivitas siswa selama prosen pembelajaran siklus I dapat diketahui persentase yang diperoleh siswa pada pertemuan 2 siklus I baru mencapai 83% dan siklus II pertemuan 2 meningkat menjadi 93%. Jika dikategorikan baru pada kategori sangat baik
2. Penerapan pembelajaran CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa
134 | Penerapan Model Pembelajaran CTL...
kelas VI SD Negeri 005 Siberakun Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. mengalami peningkatan dari pada siklus I. Pada siklus I hanya 10 siswa (56%) yang tuntas dan pada siklus II ada 16 siswa (89%)
Saran Tindak Lanjut
1. Guru hendaknya mempersiapkan secara matang penyajian materi dan menggunakan benda nyata (kontekstual) sebagai media pembelajaran, sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan merasakan manfaat dari materi yang dipelajarinya.
2. Penerapan CTL dapat menjadi model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran matematika maupun mata pelajaran lain di sekolah-sekolah karena dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
3. Bagi pengambil kebijakan hendaknya lebih banyak memberi kesempatan pada kepala sekolah dan guru mensosialisasikan CTL
4. Untuk peneliti lain dapat mengungkapkan permasalahan yang berkaitan dengan penerapan CTL baik pada jenjang yang berbeda maupun untuk mata pelajaran lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan Mujiono 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta
Kemmis,S. & Mc. Taggart, R. 1998. The Action Research Planner. Deakin University Press.
Hamalik, Oemar. 1986. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara Nurhadi, Yasin, B., dan Senduk, A.G.
2002. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK.
Malang: UM Press.cx
Sudjana, Nana. 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo
Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Slameto. 2002. Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta
Suyadi. 2013. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran CTL. Yokyakarta:
Dikti Depdikbud
Sagala Syaiful. 2002. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta Wina Sanjaya. 2005. Pembelajaran Dalam
Implementasi Kurikulum Berbasis Sekolah. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group