Makalah Dakwah Pencerahan dan Membangun Keluarga Indonesia
MAKALAH SEBAGAI TUGAS DALAM MATA KULIAH KEMUHAMADIYAHAN SEMESTER GANJIL
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Oleh :
FATIMAH AZZAHRA 2002015068 HAIDRA JIHAN AZZAHRA 2002015093 NENENG RIRIS TARISKA 2002015132
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA
202
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini tentang “Dakwah Pencerahan dan Membangun Keluarga Indonesia”.
Makalah ini bertujuan sebagai tugas dalam mata kuliah Kemuhammadiyahan semester ganjil tahun akademik 2021/2022. Makalah ini juga bertujuan untuk memberikan informasi mengenai dakwah pencerahan yang bisa dilakukan untuk membangun keluarga Indonesia yang ideal.
Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Toto Tohari selaku dosen Mata Kuliah Kemuhammadiyahan yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak dalam pembuatan makalah ini. Tentunya ini tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan baik dari penyusunan hingga tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis dengan rendah hati menerima kritik dan saran dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah ini mampu memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca terutama yang berkaitan dengan dakwah pencerahan untuk membangun keluarga Indonesia.
Jakarta, Oktober 2021
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 2
C. Tujuan Masalah ... 2
BAB II PEMBAHASAN A. Analisa Kasus Konversi Agama Karena Kemiskinan ... 4
B. Persoalan Akut Bangsa Indonesia Saat Ini... 4
C. Akar Persoalan Bangsa Indonesia adalah Persoalan Keluarga ... 6
D. Konsep Keluarga Ideal (Sakinah) Menurut Islam (Aisyiyah) ... 9
E. Potret Keluarga Indonesia ... 11
F. Konsep dan Strategi Dakwah Penceramahan ... 12
G. Dakwah Pencerahan Adalah Sebagai Solusi Strategis Untuk Keluarga Indonesia Yang Berkemajuan ... 14
H. Potret dan Masalah Keluarga Dhuafa ... 15
I. Pendekatan Dakwah Pencerahan Untuk Keluarga Dhuafa ... 15
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan dan Saran ... 17
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah secara konseptual merupakan usaha mengajak pada Islam secara demokratis, bukan paksaaan. Dakwah berasal dari akar kata “da‟a-yad‟u-da‟wata”, artinya
“memanggil”, “menyeru”, dan “menjamu”. Yakni memanggil, menyeru, dan menjamu orang agar mau berada di jalan Allah menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Artinya, dakwah dalam pandangan apapun meniscayakan pendekatan, strategi, dan cara yang berproses secara terbuka dan timbal-balik, bukan yang tertutup. Dakwah itu harus cerdas-bijaksana (bil-hikmah), edukatif yang baik (wal al-mauidhat al- hasanah), dan dialogis yang unggul (wa jadil-hum bi-latiy hiya ahsan) sebagaimana dititahkan Allah (QS Al-Nahl: 125).
Dakwah pencerahan sendiri ialah usaha-usaha menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam sehingga melahirkan perubahan ke arah yang lebih baik, unggul, dan utama dalam kehidupan pemeluknya dan menjadi rahmat bagi masyarakat luas di semesta alam.
Dakwah pencerahan dalam setiap usahanya bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan di segala bidang dan lingkup agar terwujudnya peradaban ya ng utama. Dakwah yang demikian memerlulan pembaruan terus menerus sehingga bersifat unggul dan alternatif.
Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia yang didalamnya terdapat berbagai macam jenis keluarga Indonesia merupakan ladang subur bagi gerakan- gerakan Islam untuk menyemai benih-benih ajaran yang mencerahkan sehingga melahirkan peradaban yang berkemajuan. Indonesia yang penduduknya di masa lampau mayoritas beragama Hindu dan kepercayaan lokal berubah total menjadi berpenduduk terbesar umat Islam. Hal itu tidak terlepas dari strategi berdakwah yang mampu memikat hati dan menawarkan jalan hidup yang member harapan lebih baik bagi masyarakat di negeri kepulauan ini.
Kini misi gerakan-gerakan Islam sesungguhnya masih menghadapi tantangan besar, yakni bagaimana membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat Islam maupun masyarakat Indonesia dari berbagai ketertinggalan menuju kehidupan yang berkemajuan di segala bidang. Tantangan gerakan Islam menjadi lebih berat. Karenanya meninjau ulang dan memperbarui pesan, pendekatan, strategi, dan langkah- langkah gerakan Islam lewat dakwah pencerahan agar selain dapat merawat jumlah kepemelukan umat secara kuantitas, sekaligus secara kualitas mampu menjadikan pemeluk Islam sebagai
2 umat terbaik di negeri ini.
Kehadiran Muhammadiyah melalui gerakan tajdid atau pembaruannya tidak lain sebagai wujud gerakan pencerahan. Gerakan mengembalikan umat pada sumber ajaran Al- Quran dan Sunnah Nabi yang murni dengan mengembangkan ijtihad di banyak bidang kehidupan merupakan aktualisasi dari gerakan pencerahan. Kehadiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mengemban misi dakwah dan tajdid selama perjalanan satu abad lebih, sungguh dituntut untuk memberi pencerahan sekaligus mengubah jalan kehidupan umat dan bangsa ke arah yang lebih berkemajuan. Di sinilah pentingnya gerakan dakwah pencerahan yang menyinari keluarga Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negara dan bangsa yang berkemajuan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, berikut ini dipaparkanrumusan masalah dalam makalah.
1. Bagaimana analisa kasus konversi agama karena kemiskinan ? 2. Apa persoalan akut bangsa Indonesia saat ini ?
3. Bagaimana persoalan keluarga menjadi akar persoalan bangsa Indonesia ? 4. Bagaimana konsep keluarga ideal (sakinah) menurut Islam (Aisyiyah) ? 5. Bagaimana potret keluarga indonesia ?
6. Bagaimana konsep dan strategi dakwah pencerahan ?
7. Apa solusi strategis untuk keluarga Indonesia yang berkemajuan ? 8. Bagaimana potret dan masalah keluarga dhuafa ?
9. Bagaimana pendekatan dakwah pencerahan untuk keluarga dhuafa ?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, berikut ini dipaparkan tujuan dalam makalah.
1. Memaparkan analisa kasus konversi agama karena kemiskinan.
2. Menjelaskan persoalan akut bangsa Indonesia saat ini.
3. Menjelaskan tentang persoalan keluarga sebagai akar persoalan bangsa Indonesia.
4. Mendeskrisikan konsep keluarga ideal (sakinah) menurut Islam (Aisyiyah).
5. Memaparkan tentang potret keluarga indonesia.
3
6. Mendeskripsikan konsep dan strategi dakwah pencerahan.
7. Menjelaskan solusi strategis untuk keluarga Indonesia yang berkemajuan.
8. Memaparkan potret dan masalah keluarga dhuafa.
9. Menjelaskan tentang pendekatan dakwah pencerahan untuk keluarga dhuafa.
4 BAB II PEMBAHASAN
A. Analisa Kasus Konversi Agama Karena Kemiskinan
Kemiskinan berasal dari kata miskin yang berarti tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Jadi kemiskinan adalah kondisi yang kurang dalam pemenuhan terhadap kebutuhan yang bersifat ekonomi (sandang, pangan, dan papan).
Konversi agama secara umum dapat diartikan dengan berubah agama ataupun masuk suatu agama. Konversi berasal dari kata “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berobah (agama). Dalam bahasa Inggris Conversion yang berarti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama keagama lain. Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama. Jadi konversi agama yang dimaksudkan adalah terjadinya perubahan atau perpindahan agama dari Islam ke non- Islam.
Kasus kemiskinan juga telah menjadi fenomena sosial di masyarakat Balangbuki yang telah membawa berbagai macam dampak sosial. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya konversi agama atau berpindahnya seseorang atau sekelompok orang ke suatu system kepercayaan (agama) atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan (agama) sebelumnya, yaitu agama Islam. Selain itu, terjadinya konversi agama di Balangbuki disebabkan karena ketidakpuasan terhadap sistem adat dan agama yang ada pada waktu itu, dan juga karena adanya perkawinan dengan orang luar. Masuknya ajaran Kristen di Balangbuki telah membawa perubahan bagi sebagian masyarakat, baik di bidang pendidikan maupun di bidang ekonomi. Umumnya mereka mendapatkan bantuan-bantuan sosial dari kaum gerejawan dan fasilitas pendidikan yang selama ini tidak mereka dapatkan.
Minimnya perhatian pemerintah setempat terhadap kebutuhan masyarakat Balangbuki pada pengembangan sumber daya alam dan sumber daya manusia Balangbuki juga menjadi penyebab keterbelakangan dan rendahnya kreatifitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
B. Persoalan Akut Bangsa Indonesia Saat Ini
Virus corona atau covid-19 ditemukan pertama di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini sudah hampir dua tahun menyebar di seluruh dunia hingga berujung pandemi, tak terkecuali Indonesia. Banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai
5
bidang, seperti kesehatan, ekonomi, sosial, maupun pendidikan. Bidang pendidikan adalah salah satu yang mengalami dampak paling besar bagi anak bangsa. Sejak ditetapkan sebagai wabah dunia, pemerintah Indonesia melalui Menteri Pendidikan membuat kebijakan baru, dimana pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran dari rumah secara online. Pembelajaran oline/daring merupakan suatu sistem yang diharapkan bukan sekedar menggantikan metode atau materi pembelajaran secara konvensional melainkan dapat menambah inovasi metode dan strategi baru dalam proses pembelajaran masa kini.
Penerapan daring adalah suatu media baru yang dapat menambah gairah belajar dan memungkinkan berinteraksi langsung dalam belajar secara mandiri.
Kesehatan merupakan peran yang penting dalam keberfungsian semua aspek kehidupan bagi manusia. WHO (World Health Organization) mendefiniskan sebagai berikut:
“Kesehatan merupakan kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kecacatan.”
Maka dari itu, kesehatan mental merupakan salah satu penunjang kesehatan yang harus dibicarakan atau tidak diabaikan begitu saja. Masalah kesehatan mental masih tergolong tinggi, terutama pada kalangan remaja. Remaja masih belum stabil untuk menahan emosi dan belum memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang ada, sehingga remaja perlu diberikan perhatian lebih karena mereka adalah aset negara dan generasi penerus bangsa.
Berawal dari pembelajaran daring, kita dapat melihat bahwa banyak dampak yang ditimbulkan terhadap anak bangsa, terutama pada pelajar atau mahasiswa baru. Seharusnya, masa pembelajaran awal merupakan kesempatan bagi semuanya untuk mengenal tempat pendidikan yang akan mereka tempuh serta mendapatkan relasi dan dapat mengembangkan potensi diri secara mandiri. Akan tetapi, semua hal itu tidak mungkin untuk dilakukan secara langsung di masa sekarang. Kesehatan mental memiliki peranan yang sangat penting bagi pelajar/mahasiswa baru untuk beradapatasi pada lingkungan tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, pembelajaran daring juga berpengaruh terhadap pelajar/mahasiswa lama, terutama yang mengikuti organisasi. Secara otomatis pun tugas- tugas akan semakin banyak. Pelajar/mahasiswa yang aktif organisasi dan terlalu fokus, pasti mereka akan memiliki sikap untuk menunda tugas. Jika hal ini terus berlanjut, maka dapat mengganggu aktivitas mereka dalam memenuhi kewajiban yaitu belajar. Oleh sebab itu, pembelajaran daring bisa berdampak terhadap kesehatan mental.
6
C. Akar Persoalan Bangsa Indonesia Adalah Persoalan Keluarga
Penyelesaian berbagai permasalahan bangsa Indonesia harus dimulai dari keluarga, mengingat permasalahan tersebut seringkali juga berasal dari keluarga. Apabila keluarga sebagai lingkup terkecil masyarakat dapat menyebarkan kebaikan, maka negara juga dapat terimbas.
Hal ini diungkapkan oleh psikolog dari Universitas Diponegoro Semarang Hastaning Sakti "Seringkali persoalan bangsa ini berawal dari permasalahan keluarga," kata Hastaning. Dengan demikian, menurut dia, negara akan baik jika keluarga sebagai lingkaran terkecil dalam masyarakat ini juga baik. Ia menuturkan masih banyak hal yang bisa dikaji dari psikologi bangsa, terutama masalah keluarga.
Dalam kehidupan nyata, kita dapatkan orang yang bergelimang dengan harta, tetapi hidupnya merasa tidak bermakna karena jauh dari agama. Pada saat yang sama ada orang yang hidup sederhana, tetapi merasa bahagia karena mengamalkan ajaran agama. Begitu pula banyak orang yang merasa hampa dan tidak berguna karena kehidupan keluarganya tidak harmonis. Tetapi banyak juga orang yang merasa bahagia dan bersemangat kerja, karena keadaan keluarganya rukun. Juga banyak anak-anak yang terlantar, merana, dan menjadi korban narkoba, karena keadaan keluarganya berantakan. Dengan demikian, agama dan keluarga merupakan instrumen penting dalam membangun kehidupan agar lebih bermakna dan bahagia.
Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang sempurna sangat memperhatikan pembinaan agama dalam keluarga. Islam sangat menekankan pendidikan agama dalam keluarga. Karena keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama dalam mempersiapkan generasi-generasi terbaik bangsa. Sementara agama menjadi fondasi dan bekal utama bagi generasi muda dalam mengarungi kehidupan yang penuh dinamika.
Ternyata sejarah telah membuktikan, bahwa generasi-generasi yang berhasil dan tangguh adalah mereka yang berasal dari keluarga yang dari sejak dini menanamkan pendidikan agama pada anak-anaknya.
Alquran sebagai kitab suci umat Islam banyak menceritakan tentang kisah-kisah sukses keluarga yang mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi generasi-generasi yang tangguh, unggul, dan shaleh. Seperti kisah Nabi Ibrahim as yang sukses membina keluarganya sehingga anak keturunannya semuanya diangkat menjadi nabi dan rasul.
Alquran pun mengabadikan keluarga Imran menjadi nama surat dalam Alquran, yakni Surat Ali-„Imran (keluarga Imran), karena keluarga ini sudah menunaikan janjinya untuk mengajari putrinya (Maryam) dengan pendidikan agama di bawah asuhan Nabi Zakaria as.
7
Sehingga kelak dari wanita suci Maryam ini lahirlah seorang rasul, yakni Nabi Isa as.
Alquran juga mengabadikan keluarga Luqman al-Hakim yang bukan nabi dan rasul menjadi Surat Luqman. Karena ia telah berhasil mendidik anaknya dan meletakkan dasar - dasar pengajaran agama dalam keluarga untuk mempersiapkan generasi-generasi yang shaleh.
Akan tetapi Alquran pun memberikan sinyalemen, bahwa setelah generasi terbaik akan datang generasi yang sangat jelek dari segi akhlak dan moralnya. Ciri-cirinya adalah generasi yang menyia-nyiakan perintah agama untuk melaksanakan shalat dan mereka pun dalam kehidupannya selalu memperturutkan hawa nafsu dengan banyak berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Akibatnya kehidupan menjadi rusak dan ancaman kehancuran sudah berada di depan mata. Allah SWT berfirman: Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam [19]:59).
Apa yang disampaikan Alquran ini tentunya harus menjadi perhatian kita semua.
Sejalan dengan fenomena generasi sekarang ini yang berada di ambang ancaman dekadensi moral dengan merajalalelanya tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan generasi muda, seperti terjerat narkoba, tawuran, pergaulan bebas, tindakan kekerasan, dan perbuatan kriminal lainnya. Jelas fenomena ini sangat mengkhawatirkan, karena dapat dibayangkan bagaimana nasib bangsa ke depan apabila generasi mudanya tak dapat diandalkan. Maka semua elemen bangsa harus terpanggil dan ikut memikirkan, bagaimana solusinya untuk memperbaiki moral dan mental anak-anak bangsa? Di antara solusinya adalah kita harus memperkuat pendidikan agama dalam keluarga.
Karena dari sejak awal Alquran sudah mewanti-wanti, bahwa kita harus bisa menjaga keluarga dari ancaman siksaan neraka. Asosiasi kita tentang siksaan neraka adalah kelak di akhirat. Padahal, itu hanya akibat dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan di dunia. Oleh karena itu, sebagai tindakan preventifnya kita selaku orangtua harus membina mental dan moral generasi muda dengan pendidikan agama sejak dini di lingkungan keluarga.
Allah SWT berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.
At-Tahrim [66]:6).
Ternyata yang mesti dikhawatirkan dari anak-anak kita itu bukan masalah perut atau material. Karena secara naluri manusia diberi kemampuan untuk memenuhi hajat hidupnya
8
dan Allah SWT juga sudah menyediakan sumber daya alamnya. Tinggal manusia mencari akal dan bekerja keras untuk menggali dan mengolahnya demi sebesar-besarnya kesejahteraan hidupnya. Tetapi yang perlu dikhawatirkan dari generasi kita adalah masa depan moral spiritualnya. Ini karena apabila moralnya sudah rusak tentu akan sulit memperbaikinya dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan, akan berakibat patal dengan menghancurkan semua sendi-sendi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, Allah SWT juga sudah menegaskan: Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Thaahaa [20]:132).
Di sinilah pentingnya penguatan pendidikan agama dalam keluarga. Sehingga diharapkan dapat menyelamatkan anak-anak kita dari jurang kehancuran dan kehinaan.
Berdasarkan petunjuk Alquran, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam rangka penguatan pendidikan agama dalam keluarga, yaitu:
Pertama, memberikan dorongan dan nasihat yang baik kepada anak. Sehingga mereka senantiasa mendapatkan motivasi untuk berbuat baik dan segera kembali pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan agama apabila melakukan kesalahan. Sebagaimana nasihat- nasihat Luqman yang diberikan kepada anak-anaknya (lihat QS. Liqman [31]:12-19).
Kedua, membimbing melakukan pembiasaan-pembiasaan pengamalan agama di lingkungan keluarga. Misalnya membiasakan selalu berdoa, mengucapkan salam, mencium tangan orangtua, melaksanakan shalat di awal waktu, berbuat baik kepada saudara dan tetangga, serta pembiasaan-pembiasaan sikap dan perbuatan baik lainnya yang diajarkan agama.
Ketiga, menerapkan reward and punishment; yaitu hukuman dan penghargaan yang sesuai dengan tahap perkembangan jiwa anak. Sehingga anak selalu terdorong untuk melakukan kebaikan dan takut untuk melakukan keburukan. Dalam sebuah hadits Nabi pun disebutkan, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika sudah berusia tujuh tahun; dan pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya ketika sudah menginjak usia sepuluh tahun”. Tentu pukulan pendidikan dan kasih sayang supaya anak mengenali kewajiban dan tanggung jawabnya.
Keeempat, memberikan keteladanan; sebagai orangtua tentunya harus menjadi teladan baik bagi anak-anaknya. Sehingga pendidikan agama dalam keluarga menjadi efektif karena keteladanan yang diperlihatkan oleh orangtua. Jadi dalam melaksanakan perintah- perintah agama, selaku orangtua bukan hanya pandai menyuruh, tetapi mengajak dengan
9
mengatakan, “Mari Nak! melakukan bersama-sama”.
Kelima, memanjatkan doa demi kebaikan dan keshalehan anak-anak kita. Selaku manusia yang namanya orangtua pasti memiliki keterbatasan, karena itu jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kemaslahatan keluarga serta keturunan kita.
Ada doa yang diajarkan Alquran, "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqaan [25]:74).
D. Konsep keluarga Ideal (Sakinah) Menurut Islam (Aisyiyah)
Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, tenang dan bahagia. Jadi, keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itulah keluarga ideal biasa disebut dengan istilah keluarga sakinah. Keluarga sakinah berdasar Keputusan Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Nomor D/71/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3 adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai- nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia.
Adapun landasan pembentukan Keluarga Sakinah, menurut Aisyiyah adalah berlandaskan pada tauhid, yaitu adanya kesadaran bahwa semua proses dan keadaan kehidupan kekeluargaan harus berpusat pada Allah SWT. Semua kepemilikan berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Oleh karena itu semua kegiatan harus dilakukan karena Allah SWT. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah (2): 284 yang artinya “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Dalam membangun keluarga sakinah perlu dilandaskan pada lima asas yaitu: Asas Pemuliaan Manusia (Karamah Insaniyyah), Asas Pola Hubungan Kesetaraan, Asas Keadilan, Asas Kasih Sayang (Mawaddah Wa Rahmah), serta Asas Pemenuhan Kebutuhan Hidup Sejahtera Dunia Akhirat (Al-Falah). Adapun tujuan Pembentukan Keluarga Sakinah
10
menurut Aisyiyah adalah pada prinsipnya terdapat dua tujuan utama pembentukan keluarga sakinah yang terkait dengan eksistensi kemanusiaan dan kemasyarakatan. Kedua tujuan utama itu adalah mewujudkan insan bertakwa dan masyarakat berkemajuan.
Keluarga Sakinah sebagai suatu keluarga terpilih menjadi lahan yang subur untuk tumbuh kembang anak agar menjadi insan bertakwa. Ini merupakan amanah Allah yang dilimpahkan kepada orangtua. Insan bertakwa adalah manusia yang semua potensi kemanusiaannya berkembang secara optimal, sehingga bisa menjadi pribadi muslim berkemajuan. Potensi tersebut antara lain potensi tauhidiyyah (tauhid), ubudiyyah (kehambaan), kekhalifahan (Pemimpin), jasadiyyah (fisik), dan „aqliyyah (pola pikir).
Pribadi tersebut akan menjadi karakter setiap anggota keluarga dan tercermin dalam semua perilakunya di seluruh aspek kehidupan.
Untuk mewujudkan masyarakat yang berkemajuan, memerlukan kehadiran satuan- satuan keluarga sakinah sebagai modal terwujudnya qaryah thayyibah. Yang dimaksud qaryah thayyibah adalah suatu perkampungan atau desa atau kelompok di mana warganya yang beragama Islam menjalankan ajaran Islam secara baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam hubungan dengan sesama manusia dalam segala aspek sehingga terwujud masyarakat Islam yang maju dan bermartabat. Qaryah thayyibah memiliki karakteristik:
1) Masjid/Tempat ibadah berfungsi sebagai pusat ibadah, pelayanan sosial dan menjadi pusat kegiatan masyarakat.
2) Masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang maju.
3) Masyarakat memiliki berbagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warganya.
4) Masyarakat memiliki derajat kesehatan yang tinggi, baik kesehatan fisik, psikis maupun lingkungan.
5) Masyarakat memiliki hubungan sosial yang harmonis.
6) Masyarakat memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
7) Masyarakat memiliki kesadaran hukum dan politik yang tinggi.
8) Masyarakat memiliki kehidupan kesenian dan kebudayaan yang Islami yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
9) Masyarakat mampu memanfaatkan teknologi dan informasi yang ada untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat.
11 E. Potret Keluarga Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64% dari jumlah total penduduk). Ditenggarai bahwa angka tersebut bertambah 690 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70%). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. Di samping kemiskinan yang makin tinggi kesenjanganpun turut melebar ekstrim. Penguasaan ekonomi kini makin terkonsentrasi pada kelompok super kaya, yang jumlahnya sangat kecil. Pada tahun 2010 kekayaan 40 orang terkaya sebesar 680 triliun (US$ 71,3 miliar) atau setara dengan 10,3% PDB Indonesia. Jumlah kekayaan 40 orang itu setara dengan kekayaan sekitar 15 juta keluarga atau 60 juta jiwa yang paling miskin.
Sebagai contoh dari kemiskinan di Semarang ada Keluarga dengan kepala rumah tangga berinisial AG dan istrinya berinisial AF yang tinggal di rumah yang tidak layak.
Keluarga ini merupakan warga Kampung Gunung Brintik, Semarang, dan ini merupakan potret kemiskinan di Kota Semarang. Rumah AG dan UF masih dapat dilewati oleh sepeda motor walaupun kesempitan gang rumahnya tidak sampai satu meter. Tidak beraspal, hanya tanah basah dan kotoran ayam yang berserakan. Rumah yang tidak berpagar dan terletak dipojokan merupakan hasil jeri payah AG dan juga UF, walaupun bukan milik pribadi. Tanah atau rumah di Gunung Brintik sangat murah, disebabkan karena struktur tanah daerah bukit yang tidak rata. AG dan juga AF bekerja sebagai penjual Koran, kadang mereka ngamen dan mengemis. Mereka memiliki 4 orang anak dengan inisial DS, DM, DN dan DR. Anak-anak mereka pun suka membantu mereka dalam mencari nafkah. Misalnya saja DS, DM, dan DN suka berjualan Koran, ngamen, atau bahkan mengemis di jalanan agar bisa menghidupi kehidupannya.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, Pada tahun 2008 hingga 2009, Kota Semarang pernah menjadi daerah dengan ketimpangan masyarakat terbesar di Indonesia saat terjadi krisis ekonomi. Terjadi penurunan angka kemiskinan dari tahun 2013 sebesar 5,25 persen menjadi 4,62 persen di tahun 2017. Bahkan indeks keparahan kemiskinan di Kota Semarang tercatat sangat kecil di angka 0,12 persen yang menggambarkan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin dan kaya semakin kecil.
Namun walaupun demikian, jumlah penduduk miskin di Kota Semarang makin bertambah misalnya saja ditahun 2017 jumlah penduduk miskinnya adalah 402.297 orang dan
12
mengalami kenaikan di tahun 2018 menjadi 427.511 orang.
F. Konsep Dan Strategi Dakwah Pencerahan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, dakwah diartikan sebagai penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Menurut Abu Bakar Zakaria (1962:8), Dakwah adalah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam untuk memberikan pengajaran kepada khalayak umum sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tentang hal- hal yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan keagamaan. Muhammadiyah memahami kata dakwah sebagai panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah, yaitu jalan menuju Islam. Dakwah juga dimaknai sebagai upaya tiap muslim untuk merealisasikan (aktualisasi) fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan. Fungsi kerisalahan dari dakwah ialah “meneruskan tugas Rasulullah, menyampaikan dinul-Islam kepada seluruh umat manusia. Sedangkan fungsi kerahmatan berarti “upaya menjadikan (mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam sebagai rahmat (penyejahtera, pembahagia, pemecah persoalan bagi seluruh manusia.”
Dalam konsepsi Muhammadiyah, secara sosiologis, objek dakwah bisa diklasifikasikan menjadi empat kelas masyarakat: kelas elit, kelas menengah, kelas bawah, dan kelompok marjinal. Dalam konsepsinya tentang dakwah pencerahan dikatakan bahwa kelompok kelas bawah merujuk kepada kelompok yang masih memiliki pekerjaan atau sumber penghasilan yang rutin namun karena minimnya penghasilan yang didapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jadi secara ekonomi sangat rentan. Setiap saat kelompok ini bisa jatuh menjadi miskin. Termasuk dalam kategori ini antara lain:
buruh tani, buruh, pengrajin, pedagang kecil, nelayan dan juga pegawai rendahan.
Penghasilan kelompok ini umumnya terbatas untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sekunder.
Terhadap segmentasi atau kelompok ini, Muhammadiyah antara lain mengajukan konsep dakwah sosial. Dakwah sosial adalah kegiatan dakwah dalam bentuk kegiatan- kegiatan sosial keagamaan yang tidak hanya berupaya memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat terkait dengan hal-hal ibadah saja, melainkan juga kegiatan yang memberikan ruang bagi mereka untuk memperkuat kemampuan sosialnya, seperti mengembangkan diri dan kepercayaan diri, meningkatkan optimisme, serta kegiatan keagamaan yang dirasakan dampak sosial dan ekonominya secara lebih nyata. Lebih lanjut dijelaskan bahwa salah satu bentuk kegiatan sosial untuk masyarakat bawah adalah pendistribusian dana-
13
dana zakat, infak dan sedekah (ZIS) secara tepat sasaran, Islam tidak hanya dilihat secara idealis, melainkan juga praksis-fungsional. Karena itulah, lembaga ZIS (Lazismu) yang bergerak di bidang sosial serta majelis yang ada dalam Muhammadiyah berperan signifikan dalam mendukung dakwah sosial ini, antar lain melalui kegiatan santunan, beasiswa, pendampingan, dan lain-lain. Disamping dakwah sosial, penting pula melakukan dakwah ekonomi. Maksudnya adalah dakwah yang berorientasi melakukan pendampingan di bidang ekonomi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin atau kelompok bawah. Bentuknya dapat bermacam-macam seperti memberikan pelatihan, pendampingan kegiatan ekonomi, dan pengembangan teknologi tepat guna.
Selain terhadap kelompok miskin, Muhammadiyah juga memberikan perhatian terhadap masyarakat marjinal. Masyarakat marjinal adalah istilah untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang secara sosial, ekonomi dan politik “terpinggirkan”.
Artinya, kelompok-kelompok tersebut dianggap tidak mendapatkan tempat yang selayaknya dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya, kaum marjinal adalah masyarakat yang terpinggirkan dari kebijakan- kebijakan pembangunan, baik yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan. Ketidak- berpihakan negara dan pembangunan tersebut semakin memperlemah posisi kelompok ini sehingga berdampak pada ketertinggalan pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik secara luas. Kelompok ini tidak mendapatkan hak- haknya sebagaimana warga negara yang lain dalam mengakses, mendapatkan manfaat, dan terlibat dalam pembanguan yang menguntungkan mereka.
Salah satu bentuk dakwah sosial yang dapat dilakukan untuk kelompok marjinal ini adalah menjadikan atau memasukkan mereka sebagai bagian dari program-program sosial lembaga keagamaan, seperti dalam pendistribusian zakat infak dan sedekah (ZIS), santunan untuk keluarga dari kelompok marjinal dan beasiswa khusus anak-anak jalanan atau anggota keluarga dari kelompok marjinal tersebut. Dakwah model ini sangat penting, mengingat sebagaimana sabda Rasulullah bahwa kefakiran atau kemiskinan berpotensi besar menjerumuskan seseorang untukmelakukan kekufuran.
Dakwah Muhammadiyah disebut sebagai dakwah pencerahan. Hal ini dikarenakan Muhammadiyah membawa konsep Islam Berkemajuan melalui tiga tahap yaitu membebaskan manusia, memberdayakan, dan memajukan. Masyarakat yang masih memiliki keyakinan menyimpang dari tauhid, masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah, akan segera dibebaskan. Setelah membebaskan dan mencerdaskan manusia dari kegelapan menuju hal yang terang benderang kemudian berusaha mencerahkan dan membawa kepada kemajuan. Dakwah pencerahan kepada
14
kelompok-kelompok masyarakat sangat penting untuk menyebarluaskan dan mewujudkan nilai-nilai pencerahan berdasarkan pandangan Islam yang berkemajuan bagi masyarakat luas yang heterogen.
G. Dakwah Pencerahan Adalah Sebagai Solusi Strategis Untuk Keluarga Indonesia Yang Berkemajuan
Dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah (QS.
Yusuf: 108), yaitu jalan menuju Islam (QS. Ali `Imran: 19). Strategi dan implementasi dakwah mesti mempertimbangkan tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu: dimensi kerisalahan (QS. Al-Maidah: 67); dimensi kerahmatan (QS. Al- Anbiya: 107); dan dimensi kesejarahan (QS. Al-Hasyr: 18). Dengan tiga dimensi tersebut, dakwah merupakan upaya untuk menyampaikan ajaran Islam dan menyebarkan nilai kebajikannya untuk kelayakan hidup manusia hingga bisa menyejarah, kini dan kelak. Karena itu, selain mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar merespons Risalah Islamiyyah, dakwah juga bermakna kontinu agar mengamalkan ajaran Islam atau merealisasikan pesan- pesan dan nilai- nilai Islam ke dalam kehidupan yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas.
Dakwah dalam konteks ini juga dapat bermakna pembangunan kualitas sumberdaya manusia, pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Dakwah juga bisa berarti penyebarluasan rahmat Allah (rahmatan lil-`alamin). Dengan pembebasan,
15
pembangunan dan penyebarluasan ajaran Islam, berarti dakwah merupakan proses untuk mengubah kehidupan manusia atau masyarakat dari kehidupan yang tidak Islami menjadi suatu kehidupan yang Islami. Dakwah pencerahan bertujuan untuk mencerahkan akidah Islamiyah, diharapkan akidahnya bersih dari kekufuran, kemusyrikan, tahayyul dan khurafat serta terhindar dari taklid dan fanatisme. Dakwah pencerahan juga untuk mencerahkan peribadatan, sehingga ibadah seorang muslim hendaknya sesuai dengan syariat Allah dan Rasulnya, dan terhindar dari praktik bidah. Di samping dakwah pencerahan juga mesti berdampak kepada perbaikan akhlak dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara. Lebih dari itu dakwah pencerahan juga seyogianya dapat mencerahkan kehidupan keduniaan. Yaitu kehidupan yang berkemajuan dalam aspek sosial, ekonomi, pendidikan dll.
H. Potret Dan Masalah Keluarga Dhuafa
Contoh potret dan masalah keluarga dhuafa yaitu di daerah Semarang, ada manusisa kotak. Manusia kotak adalah orang yang rumahnya hanyalah kotak-kotak yang berukuran 1x2 meter, dipinggir jalan (kaki 5). Di jakarta juga ada istilalh manusia gerobak. Keluarga yang tinggalnya hanyalah di gerobak yang sehari-hari digunakan untuk memulung. Kalau malam hari berubah fungsi jadi rumah tempat tinggal. Manusia gerobak di Jakarta banyak sekali yang bisa ditemukan, terutama pada malam hari. Mereka juga banyak yang berkeluarga, dan juga punya anak.
Contoh lainnya adalah keluarga yang tinggal dekat dengan tempat pembuangan sampah, selain dengan lingkungannya yang tidak sehat, udara yang tercemar karena bau yang ditimbulkan dari sampah masyarakat dan rumah mereka yang hanya terbuat dari kardus dan bahan-bahan seadanya. Keluarga miskin seperti ini tentu mengalami masalah besar dalam mencapai tujuan pembentukan keluarga. Dan bahkan fungsi- fungsi normal keluarga, bagi mereka adalah sesuatu yang nyaris tidak terlaksana. Misalnya terjadinya kesulitan dalam menjalankan fungsi sosial, fungsi pendidikan dan fungsi keagamaan.
Disinilah peran dakwah pencerahan dapat mengambil peran yang lebih strategis.
I. Pendekatan Dakwah Pencerahan Untuk Keluarga Dhuafa
Dakwah pencerahan untuk keluarga Indonesia berkemajuan adalah dakwah Islam untuk bangsa dan negara. Strategi dakwah pemberdayaan bisa dilakukan melalui tiga cara:
melalui pengembangan sumber daya manusia, pengembangan ekonomi dan karitas dalam artian terpenuhinya kebutuhan pokok.
16
Dalam surah al maun ayat 1-7. Ayat ini menyetir suatu klausul bahwa mereka yang membentak anak yatim dan tidak menggerakkan masyarakat dalam memberi makan orang miskin dianggap sebagai orang yang mendustakan agama. Ayat ini juga menjelaskan bahwa orang yang tidak memberikan kepada orang miskin barang yang bermanfaat, atau orang yang suka memberikan barang yang tidak bermanfaat dianggap sebagai orang yang telah melalaikan salat. Pada hal dalam Islam, salatadalah tiang agama.
Kemudian semangat dalam berbagi rezeki yang dalam ekonomi Islam biasa disebut distribusi kekayaan kepada golongan yang termarginalkan, telah diuraikan dengan jelas dalam Al-Qur‟an . Misalnya dalam surah al-Taubah ayat 60 digambarkan bahwa dakwah pencerahan dalam aspek ekonomi yaitu mendisribuskan kekayaan kepada keluarga miskin, bukan kepada keluarga kaya. pandangan Muhammadiyah kelompok masyarakat duafa sebetulnya mengalami deprivation trap, yaitu perangkap kemiskinan yang terdiri dari lima unsur yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan atau isolasi, kerentanan, dan ketidakberdayaan. Kelima unsur ini sering saling berkaitan sehingga merupakan perangkap kemiskinan yang benar-benar mematikan peluang hidup orang, dan akhir- akhirnya menimbulkan proses marjinalisasi. Mereka termasuk kelompok masyarakat miskin dalam berbagai aspeknya, sehingga masuk dalam kategori duafa dan mustadafin, yakni lemah dan dilemahkan atau tertindas oleh sistem yang memarjinalkan dirinya
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
Keluarga sakinah adalah keluarga ideal, dimana keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, tenang dan Bahagia. Landasan terciptanya keluarga Sakinah adalah tauhid yaitu adanya kesadaran bahwa semua proses dan keadaan kehidupan kekeluargaan harus berpusat pada Allah SWT. Dalam membangun keluarga sakinah perlu dilandaskan pada lima asas yaitu: Asas Pemuliaan Manusia (Karamah Insaniyyah), Asas Pola Hubungan Kesetaraan, Asas Keadilan, Asas Kasih Sayang (Mawaddah Wa Rahmah), serta Asas Pemenuhan Kebutuhan Hidup Sejahtera Dunia Akhirat (Al-Falah). Dalam sisi masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang berkemajuan salah satunya memerlukan kehadiran satuan-satuan keluarga sakinah sebagai modal terwujudnya qaryah thayyibah.
Dakwah adalah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam untuk memberikan pengajaran kepada khalayak umum sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tentang hal-hal yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan keagamaan. Pada kelompok miskin Muhammadiyah mengajukan konsep dakwah sosial. Dakwah sosial adalah kegiatan dakwah dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan yang tidak hanya berupaya memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat terkait dengan hal-hal ibadah saja, melainkan juga kegiatan yang memberikan ruang bagi mereka untuk memperkuat kemampuan sosialnya, seperti mengembangkan diri dan kepercayaan diri, meningkatkan optimisme, serta kegiatan keagamaan yang dirasakan dampak sosial dan ekonominya secara lebih nyata. Selain terhadap kelompok miskin, Muhammadiyah juga memberikan perhatian terhadap masyarakat marjinal. Masyarakat marjinal adalah istilah untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang secara sosial, ekonomi dan politik “terpinggirkan”. Tingginya kesenjangan ekonomi yang ada di Indonesia menyebabkan masih banyaknya masyarakat yang masih hidup dalam kesusahan, dan kebergantungan kepada orang laian. Maka dari itu Muhammadiyah juga mengusungkan Dakwah pencerhanan yang di lakukan dengan strategi dakwah pemberdayaan yang bisa dilakukan dengan tig acara yaitu melalui pengembangan sumber daya manusia, pengembangan ekonomi dan karitas dalam artian terpenuhinya kebutuhan pokok.
Terakhir saran dari penulis janganlah kita selalu melihat keatas dalam hal dunia.
Lihatlah kebawah bagaimana kondisi saudara-saudari kita yang setiap harinya mencari tempat untuk beristirahat, berjalan berpuluh kilo meter untuk mencari makan. Sebagai orang yang berkecukupan patutnya kita bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT, dan alangkah lebih baik lagi kalau kita turut membantu meringani beban saudara-saudari kita yang kekurangan, membantu tidak selalu dengan materi, bisa dengan tenaga dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amila, Fitria Rochimah. (2020.) Dampak Kuliah Daring Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Ditinjau dari Aspek Psikologi. Kalimantan Selatan.
Asmaya, Enung. (2012). Implementasi Agama Dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah.
Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol.6 No.1. ISSN: 1978-1261. Purwokerto.
Retrieved from
http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/komunika/article/view/341 Aziz, Moh.Ali. (2017). Ilmu Dakwah Edisi Revisi. Jakarta: Kencana. Retrieved
from https://bit.ly/3ozRmeC
Basir, Sofyan. (2019). Membangun Keluarga Sakinah. Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam. Vol.6 No.2. ISSN: 2407-540X. Makasar. Retrieved from http://journal.uin- alauddin.ac.id/index.php/Al-Irsyad_Al-Nafs/article/view/14544
Gunawan, Andri. (2018). Kemuhammadiyahan. Yoyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah. Retrieved from Buku Kemuhammadiyahan.pdf
Health, World Organization. (2003). Kesehatan Mental dalam Kedaruratan. Geneva.
Indra, Putu Agung Indra. (2016). Psikolog Ungkap Peran Keluarga Atasi Persoalan Bangsa. Diakses pada 15 Oktober 2021, dari https://tirto.id/psikolog-ungkap-
peran-keluarga-atasi-persoalan-bangsa-bCUX
Kristiani, Yuanita Wahyu Widiastuti, Upik Elok Endang Rasmani, Siti Wahyuningsih.
(2020). Mengkaji Penerapan E-Learning pada Anak Usia Dini. Surakarta.
Masyhadi, Anisia Kumala dan Yulistin Tresnawaty. (2019). Keluarga Sakinah dan Konstruksi Alat Ukurnya. Jurnal Ilmiah Psikologi: Kajian Empiris & Non- Empiris. Vol.5 No.1. Jakarta. Retrieved from
https://jipp.uhamka.ac.id/index.php/jipp/article/view/46
Susanty, Ria. (2019). Anak Jalanan Penjual Koran dan Pengemis di Kota Semarang.
Skripsi.Program Studi Antrpologi Sosial. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Diponegoro. Semarang. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/81081/