• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Keluarga Ideal (Sakinah) Menurut Islam (Aisyiyah)

BAB II PEMBAHASAN

D. Konsep Keluarga Ideal (Sakinah) Menurut Islam (Aisyiyah)

Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, tenang dan bahagia. Jadi, keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itulah keluarga ideal biasa disebut dengan istilah keluarga sakinah. Keluarga sakinah berdasar Keputusan Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Nomor D/71/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3 adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai- nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia.

Adapun landasan pembentukan Keluarga Sakinah, menurut Aisyiyah adalah berlandaskan pada tauhid, yaitu adanya kesadaran bahwa semua proses dan keadaan kehidupan kekeluargaan harus berpusat pada Allah SWT. Semua kepemilikan berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Oleh karena itu semua kegiatan harus dilakukan karena Allah SWT. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah (2): 284 yang artinya “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam membangun keluarga sakinah perlu dilandaskan pada lima asas yaitu: Asas Pemuliaan Manusia (Karamah Insaniyyah), Asas Pola Hubungan Kesetaraan, Asas Keadilan, Asas Kasih Sayang (Mawaddah Wa Rahmah), serta Asas Pemenuhan Kebutuhan Hidup Sejahtera Dunia Akhirat (Al-Falah). Adapun tujuan Pembentukan Keluarga Sakinah

10

menurut Aisyiyah adalah pada prinsipnya terdapat dua tujuan utama pembentukan keluarga sakinah yang terkait dengan eksistensi kemanusiaan dan kemasyarakatan. Kedua tujuan utama itu adalah mewujudkan insan bertakwa dan masyarakat berkemajuan.

Keluarga Sakinah sebagai suatu keluarga terpilih menjadi lahan yang subur untuk tumbuh kembang anak agar menjadi insan bertakwa. Ini merupakan amanah Allah yang dilimpahkan kepada orangtua. Insan bertakwa adalah manusia yang semua potensi kemanusiaannya berkembang secara optimal, sehingga bisa menjadi pribadi muslim berkemajuan. Potensi tersebut antara lain potensi tauhidiyyah (tauhid), ubudiyyah (kehambaan), kekhalifahan (Pemimpin), jasadiyyah (fisik), dan „aqliyyah (pola pikir).

Pribadi tersebut akan menjadi karakter setiap anggota keluarga dan tercermin dalam semua perilakunya di seluruh aspek kehidupan.

Untuk mewujudkan masyarakat yang berkemajuan, memerlukan kehadiran satuan- satuan keluarga sakinah sebagai modal terwujudnya qaryah thayyibah. Yang dimaksud qaryah thayyibah adalah suatu perkampungan atau desa atau kelompok di mana warganya yang beragama Islam menjalankan ajaran Islam secara baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam hubungan dengan sesama manusia dalam segala aspek sehingga terwujud masyarakat Islam yang maju dan bermartabat. Qaryah thayyibah memiliki karakteristik:

1) Masjid/Tempat ibadah berfungsi sebagai pusat ibadah, pelayanan sosial dan menjadi pusat kegiatan masyarakat.

2) Masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang maju.

3) Masyarakat memiliki berbagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warganya.

4) Masyarakat memiliki derajat kesehatan yang tinggi, baik kesehatan fisik, psikis maupun lingkungan.

5) Masyarakat memiliki hubungan sosial yang harmonis.

6) Masyarakat memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

7) Masyarakat memiliki kesadaran hukum dan politik yang tinggi.

8) Masyarakat memiliki kehidupan kesenian dan kebudayaan yang Islami yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

9) Masyarakat mampu memanfaatkan teknologi dan informasi yang ada untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat.

11 E. Potret Keluarga Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64% dari jumlah total penduduk). Ditenggarai bahwa angka tersebut bertambah 690 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70%). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. Di samping kemiskinan yang makin tinggi kesenjanganpun turut melebar ekstrim. Penguasaan ekonomi kini makin terkonsentrasi pada kelompok super kaya, yang jumlahnya sangat kecil. Pada tahun 2010 kekayaan 40 orang terkaya sebesar 680 triliun (US$ 71,3 miliar) atau setara dengan 10,3% PDB Indonesia. Jumlah kekayaan 40 orang itu setara dengan kekayaan sekitar 15 juta keluarga atau 60 juta jiwa yang paling miskin.

Sebagai contoh dari kemiskinan di Semarang ada Keluarga dengan kepala rumah tangga berinisial AG dan istrinya berinisial AF yang tinggal di rumah yang tidak layak.

Keluarga ini merupakan warga Kampung Gunung Brintik, Semarang, dan ini merupakan potret kemiskinan di Kota Semarang. Rumah AG dan UF masih dapat dilewati oleh sepeda motor walaupun kesempitan gang rumahnya tidak sampai satu meter. Tidak beraspal, hanya tanah basah dan kotoran ayam yang berserakan. Rumah yang tidak berpagar dan terletak dipojokan merupakan hasil jeri payah AG dan juga UF, walaupun bukan milik pribadi. Tanah atau rumah di Gunung Brintik sangat murah, disebabkan karena struktur tanah daerah bukit yang tidak rata. AG dan juga AF bekerja sebagai penjual Koran, kadang mereka ngamen dan mengemis. Mereka memiliki 4 orang anak dengan inisial DS, DM, DN dan DR. Anak-anak mereka pun suka membantu mereka dalam mencari nafkah. Misalnya saja DS, DM, dan DN suka berjualan Koran, ngamen, atau bahkan mengemis di jalanan agar bisa menghidupi kehidupannya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, Pada tahun 2008 hingga 2009, Kota Semarang pernah menjadi daerah dengan ketimpangan masyarakat terbesar di Indonesia saat terjadi krisis ekonomi. Terjadi penurunan angka kemiskinan dari tahun 2013 sebesar 5,25 persen menjadi 4,62 persen di tahun 2017. Bahkan indeks keparahan kemiskinan di Kota Semarang tercatat sangat kecil di angka 0,12 persen yang menggambarkan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin dan kaya semakin kecil.

Namun walaupun demikian, jumlah penduduk miskin di Kota Semarang makin bertambah misalnya saja ditahun 2017 jumlah penduduk miskinnya adalah 402.297 orang dan

12

mengalami kenaikan di tahun 2018 menjadi 427.511 orang.

F. Konsep Dan Strategi Dakwah Pencerahan

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, dakwah diartikan sebagai penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Menurut Abu Bakar Zakaria (1962:8), Dakwah adalah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam untuk memberikan pengajaran kepada khalayak umum sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tentang hal- hal yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan keagamaan. Muhammadiyah memahami kata dakwah sebagai panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah, yaitu jalan menuju Islam. Dakwah juga dimaknai sebagai upaya tiap muslim untuk merealisasikan (aktualisasi) fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan. Fungsi kerisalahan dari dakwah ialah “meneruskan tugas Rasulullah, menyampaikan dinul-Islam kepada seluruh umat manusia. Sedangkan fungsi kerahmatan berarti “upaya menjadikan (mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam sebagai rahmat (penyejahtera, pembahagia, pemecah persoalan bagi seluruh manusia.”

Dalam konsepsi Muhammadiyah, secara sosiologis, objek dakwah bisa diklasifikasikan menjadi empat kelas masyarakat: kelas elit, kelas menengah, kelas bawah, dan kelompok marjinal. Dalam konsepsinya tentang dakwah pencerahan dikatakan bahwa kelompok kelas bawah merujuk kepada kelompok yang masih memiliki pekerjaan atau sumber penghasilan yang rutin namun karena minimnya penghasilan yang didapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jadi secara ekonomi sangat rentan. Setiap saat kelompok ini bisa jatuh menjadi miskin. Termasuk dalam kategori ini antara lain:

buruh tani, buruh, pengrajin, pedagang kecil, nelayan dan juga pegawai rendahan.

Penghasilan kelompok ini umumnya terbatas untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sekunder.

Terhadap segmentasi atau kelompok ini, Muhammadiyah antara lain mengajukan konsep dakwah sosial. Dakwah sosial adalah kegiatan dakwah dalam bentuk kegiatan- kegiatan sosial keagamaan yang tidak hanya berupaya memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat terkait dengan hal-hal ibadah saja, melainkan juga kegiatan yang memberikan ruang bagi mereka untuk memperkuat kemampuan sosialnya, seperti mengembangkan diri dan kepercayaan diri, meningkatkan optimisme, serta kegiatan keagamaan yang dirasakan dampak sosial dan ekonominya secara lebih nyata. Lebih lanjut dijelaskan bahwa salah satu bentuk kegiatan sosial untuk masyarakat bawah adalah pendistribusian dana-

13

dana zakat, infak dan sedekah (ZIS) secara tepat sasaran, Islam tidak hanya dilihat secara idealis, melainkan juga praksis-fungsional. Karena itulah, lembaga ZIS (Lazismu) yang bergerak di bidang sosial serta majelis yang ada dalam Muhammadiyah berperan signifikan dalam mendukung dakwah sosial ini, antar lain melalui kegiatan santunan, beasiswa, pendampingan, dan lain-lain. Disamping dakwah sosial, penting pula melakukan dakwah ekonomi. Maksudnya adalah dakwah yang berorientasi melakukan pendampingan di bidang ekonomi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin atau kelompok bawah. Bentuknya dapat bermacam-macam seperti memberikan pelatihan, pendampingan kegiatan ekonomi, dan pengembangan teknologi tepat guna.

Selain terhadap kelompok miskin, Muhammadiyah juga memberikan perhatian terhadap masyarakat marjinal. Masyarakat marjinal adalah istilah untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang secara sosial, ekonomi dan politik “terpinggirkan”.

Artinya, kelompok-kelompok tersebut dianggap tidak mendapatkan tempat yang selayaknya dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya, kaum marjinal adalah masyarakat yang terpinggirkan dari kebijakan- kebijakan pembangunan, baik yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan. Ketidak- berpihakan negara dan pembangunan tersebut semakin memperlemah posisi kelompok ini sehingga berdampak pada ketertinggalan pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik secara luas. Kelompok ini tidak mendapatkan hak- haknya sebagaimana warga negara yang lain dalam mengakses, mendapatkan manfaat, dan terlibat dalam pembanguan yang menguntungkan mereka.

Salah satu bentuk dakwah sosial yang dapat dilakukan untuk kelompok marjinal ini adalah menjadikan atau memasukkan mereka sebagai bagian dari program-program sosial lembaga keagamaan, seperti dalam pendistribusian zakat infak dan sedekah (ZIS), santunan untuk keluarga dari kelompok marjinal dan beasiswa khusus anak-anak jalanan atau anggota keluarga dari kelompok marjinal tersebut. Dakwah model ini sangat penting, mengingat sebagaimana sabda Rasulullah bahwa kefakiran atau kemiskinan berpotensi besar menjerumuskan seseorang untukmelakukan kekufuran.

Dakwah Muhammadiyah disebut sebagai dakwah pencerahan. Hal ini dikarenakan Muhammadiyah membawa konsep Islam Berkemajuan melalui tiga tahap yaitu membebaskan manusia, memberdayakan, dan memajukan. Masyarakat yang masih memiliki keyakinan menyimpang dari tauhid, masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah, akan segera dibebaskan. Setelah membebaskan dan mencerdaskan manusia dari kegelapan menuju hal yang terang benderang kemudian berusaha mencerahkan dan membawa kepada kemajuan. Dakwah pencerahan kepada

14

kelompok-kelompok masyarakat sangat penting untuk menyebarluaskan dan mewujudkan nilai-nilai pencerahan berdasarkan pandangan Islam yang berkemajuan bagi masyarakat luas yang heterogen.

G. Dakwah Pencerahan Adalah Sebagai Solusi Strategis Untuk Keluarga Indonesia Yang Berkemajuan

Dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah (QS.

Yusuf: 108), yaitu jalan menuju Islam (QS. Ali `Imran: 19). Strategi dan implementasi dakwah mesti mempertimbangkan tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu: dimensi kerisalahan (QS. Al-Maidah: 67); dimensi kerahmatan (QS. Al- Anbiya: 107); dan dimensi kesejarahan (QS. Al-Hasyr: 18). Dengan tiga dimensi tersebut, dakwah merupakan upaya untuk menyampaikan ajaran Islam dan menyebarkan nilai kebajikannya untuk kelayakan hidup manusia hingga bisa menyejarah, kini dan kelak. Karena itu, selain mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar merespons Risalah Islamiyyah, dakwah juga bermakna kontinu agar mengamalkan ajaran Islam atau merealisasikan pesan- pesan dan nilai- nilai Islam ke dalam kehidupan yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Dakwah dalam konteks ini juga dapat bermakna pembangunan kualitas sumberdaya manusia, pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Dakwah juga bisa berarti penyebarluasan rahmat Allah (rahmatan lil-`alamin). Dengan pembebasan,

15

pembangunan dan penyebarluasan ajaran Islam, berarti dakwah merupakan proses untuk mengubah kehidupan manusia atau masyarakat dari kehidupan yang tidak Islami menjadi suatu kehidupan yang Islami. Dakwah pencerahan bertujuan untuk mencerahkan akidah Islamiyah, diharapkan akidahnya bersih dari kekufuran, kemusyrikan, tahayyul dan khurafat serta terhindar dari taklid dan fanatisme. Dakwah pencerahan juga untuk mencerahkan peribadatan, sehingga ibadah seorang muslim hendaknya sesuai dengan syariat Allah dan Rasulnya, dan terhindar dari praktik bidah. Di samping dakwah pencerahan juga mesti berdampak kepada perbaikan akhlak dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara. Lebih dari itu dakwah pencerahan juga seyogianya dapat mencerahkan kehidupan keduniaan. Yaitu kehidupan yang berkemajuan dalam aspek sosial, ekonomi, pendidikan dll.

H. Potret Dan Masalah Keluarga Dhuafa

Contoh potret dan masalah keluarga dhuafa yaitu di daerah Semarang, ada manusisa kotak. Manusia kotak adalah orang yang rumahnya hanyalah kotak-kotak yang berukuran 1x2 meter, dipinggir jalan (kaki 5). Di jakarta juga ada istilalh manusia gerobak. Keluarga yang tinggalnya hanyalah di gerobak yang sehari-hari digunakan untuk memulung. Kalau malam hari berubah fungsi jadi rumah tempat tinggal. Manusia gerobak di Jakarta banyak sekali yang bisa ditemukan, terutama pada malam hari. Mereka juga banyak yang berkeluarga, dan juga punya anak.

Contoh lainnya adalah keluarga yang tinggal dekat dengan tempat pembuangan sampah, selain dengan lingkungannya yang tidak sehat, udara yang tercemar karena bau yang ditimbulkan dari sampah masyarakat dan rumah mereka yang hanya terbuat dari kardus dan bahan-bahan seadanya. Keluarga miskin seperti ini tentu mengalami masalah besar dalam mencapai tujuan pembentukan keluarga. Dan bahkan fungsi- fungsi normal keluarga, bagi mereka adalah sesuatu yang nyaris tidak terlaksana. Misalnya terjadinya kesulitan dalam menjalankan fungsi sosial, fungsi pendidikan dan fungsi keagamaan.

Disinilah peran dakwah pencerahan dapat mengambil peran yang lebih strategis.

I. Pendekatan Dakwah Pencerahan Untuk Keluarga Dhuafa

Dakwah pencerahan untuk keluarga Indonesia berkemajuan adalah dakwah Islam untuk bangsa dan negara. Strategi dakwah pemberdayaan bisa dilakukan melalui tiga cara:

melalui pengembangan sumber daya manusia, pengembangan ekonomi dan karitas dalam artian terpenuhinya kebutuhan pokok.

16

Dalam surah al maun ayat 1-7. Ayat ini menyetir suatu klausul bahwa mereka yang membentak anak yatim dan tidak menggerakkan masyarakat dalam memberi makan orang miskin dianggap sebagai orang yang mendustakan agama. Ayat ini juga menjelaskan bahwa orang yang tidak memberikan kepada orang miskin barang yang bermanfaat, atau orang yang suka memberikan barang yang tidak bermanfaat dianggap sebagai orang yang telah melalaikan salat. Pada hal dalam Islam, salatadalah tiang agama.

Kemudian semangat dalam berbagi rezeki yang dalam ekonomi Islam biasa disebut distribusi kekayaan kepada golongan yang termarginalkan, telah diuraikan dengan jelas dalam Al-Qur‟an . Misalnya dalam surah al-Taubah ayat 60 digambarkan bahwa dakwah pencerahan dalam aspek ekonomi yaitu mendisribuskan kekayaan kepada keluarga miskin, bukan kepada keluarga kaya. pandangan Muhammadiyah kelompok masyarakat duafa sebetulnya mengalami deprivation trap, yaitu perangkap kemiskinan yang terdiri dari lima unsur yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan atau isolasi, kerentanan, dan ketidakberdayaan. Kelima unsur ini sering saling berkaitan sehingga merupakan perangkap kemiskinan yang benar-benar mematikan peluang hidup orang, dan akhir- akhirnya menimbulkan proses marjinalisasi. Mereka termasuk kelompok masyarakat miskin dalam berbagai aspeknya, sehingga masuk dalam kategori duafa dan mustadafin, yakni lemah dan dilemahkan atau tertindas oleh sistem yang memarjinalkan dirinya

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan dan Saran

Keluarga sakinah adalah keluarga ideal, dimana keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, tenang dan Bahagia. Landasan terciptanya keluarga Sakinah adalah tauhid yaitu adanya kesadaran bahwa semua proses dan keadaan kehidupan kekeluargaan harus berpusat pada Allah SWT. Dalam membangun keluarga sakinah perlu dilandaskan pada lima asas yaitu: Asas Pemuliaan Manusia (Karamah Insaniyyah), Asas Pola Hubungan Kesetaraan, Asas Keadilan, Asas Kasih Sayang (Mawaddah Wa Rahmah), serta Asas Pemenuhan Kebutuhan Hidup Sejahtera Dunia Akhirat (Al-Falah). Dalam sisi masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang berkemajuan salah satunya memerlukan kehadiran satuan-satuan keluarga sakinah sebagai modal terwujudnya qaryah thayyibah.

Dakwah adalah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam untuk memberikan pengajaran kepada khalayak umum sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tentang hal-hal yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan keagamaan. Pada kelompok miskin Muhammadiyah mengajukan konsep dakwah sosial. Dakwah sosial adalah kegiatan dakwah dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan yang tidak hanya berupaya memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat terkait dengan hal-hal ibadah saja, melainkan juga kegiatan yang memberikan ruang bagi mereka untuk memperkuat kemampuan sosialnya, seperti mengembangkan diri dan kepercayaan diri, meningkatkan optimisme, serta kegiatan keagamaan yang dirasakan dampak sosial dan ekonominya secara lebih nyata. Selain terhadap kelompok miskin, Muhammadiyah juga memberikan perhatian terhadap masyarakat marjinal. Masyarakat marjinal adalah istilah untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang secara sosial, ekonomi dan politik “terpinggirkan”. Tingginya kesenjangan ekonomi yang ada di Indonesia menyebabkan masih banyaknya masyarakat yang masih hidup dalam kesusahan, dan kebergantungan kepada orang laian. Maka dari itu Muhammadiyah juga mengusungkan Dakwah pencerhanan yang di lakukan dengan strategi dakwah pemberdayaan yang bisa dilakukan dengan tig acara yaitu melalui pengembangan sumber daya manusia, pengembangan ekonomi dan karitas dalam artian terpenuhinya kebutuhan pokok.

Terakhir saran dari penulis janganlah kita selalu melihat keatas dalam hal dunia.

Lihatlah kebawah bagaimana kondisi saudara-saudari kita yang setiap harinya mencari tempat untuk beristirahat, berjalan berpuluh kilo meter untuk mencari makan. Sebagai orang yang berkecukupan patutnya kita bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT, dan alangkah lebih baik lagi kalau kita turut membantu meringani beban saudara-saudari kita yang kekurangan, membantu tidak selalu dengan materi, bisa dengan tenaga dan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Amila, Fitria Rochimah. (2020.) Dampak Kuliah Daring Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Ditinjau dari Aspek Psikologi. Kalimantan Selatan.

Asmaya, Enung. (2012). Implementasi Agama Dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah.

Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol.6 No.1. ISSN: 1978-1261. Purwokerto.

Retrieved from

http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/komunika/article/view/341 Aziz, Moh.Ali. (2017). Ilmu Dakwah Edisi Revisi. Jakarta: Kencana. Retrieved

from https://bit.ly/3ozRmeC

Basir, Sofyan. (2019). Membangun Keluarga Sakinah. Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam. Vol.6 No.2. ISSN: 2407-540X. Makasar. Retrieved from http://journal.uin- alauddin.ac.id/index.php/Al-Irsyad_Al-Nafs/article/view/14544

Gunawan, Andri. (2018). Kemuhammadiyahan. Yoyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah. Retrieved from Buku Kemuhammadiyahan.pdf

Health, World Organization. (2003). Kesehatan Mental dalam Kedaruratan. Geneva.

Indra, Putu Agung Indra. (2016). Psikolog Ungkap Peran Keluarga Atasi Persoalan Bangsa. Diakses pada 15 Oktober 2021, dari https://tirto.id/psikolog-ungkap-

peran-keluarga-atasi-persoalan-bangsa-bCUX

Kristiani, Yuanita Wahyu Widiastuti, Upik Elok Endang Rasmani, Siti Wahyuningsih.

(2020). Mengkaji Penerapan E-Learning pada Anak Usia Dini. Surakarta.

Masyhadi, Anisia Kumala dan Yulistin Tresnawaty. (2019). Keluarga Sakinah dan Konstruksi Alat Ukurnya. Jurnal Ilmiah Psikologi: Kajian Empiris & Non- Empiris. Vol.5 No.1. Jakarta. Retrieved from

https://jipp.uhamka.ac.id/index.php/jipp/article/view/46

Susanty, Ria. (2019). Anak Jalanan Penjual Koran dan Pengemis di Kota Semarang.

Skripsi.Program Studi Antrpologi Sosial. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Diponegoro. Semarang. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/81081/

Dokumen terkait