PUSAT
DISTRIBUSI DAN
AKSES PANGAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan hidayahNya sehingga Laporan Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2020 dapat diselesaikan dengan baik.
Laporan Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan merupakan bentuk transparansi dan akuntabilitas serta menindaklanjuti amanah Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021 menyajikan hasil pengukuran sasaran kinerja yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan selama Tahun 2021. Sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Pengembangan Sistem Distribusi dan Stabilisasi Harga Pangan, laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pengembangan sistem distribusi, harga dan cadangan pangan pada masa yang akan datang, sehingga dapat berjalan dengan lebih baik.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih atas semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyusun Laporan Kinerja ini. Semoga Laporan Kinerja ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Jakarta, Januari 2022 Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan,
Prof. Dr. Ir. Risfaheri, M.Si
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... iiv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Kedudukan, Tugas dan Fungsi ... 2
1.3. Struktur Organisasi Pusat Distribusi dan Akses Pangan ... 2
1.4. Aspek Strategis dan Permasalahan Utama ... 4
1.5. Penganggaran Pusat Distribusi dan Akses Pangan ... 6
BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 7
2.1. Rencana Strategis ... 7
2.2. Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2020 ... 9
2.3. Pengukuran Indikator Kinerja ... 10
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 10
3.1. Capaian Kinerja Organisasi ... 142
3.2. Analisis Capaian Kinerja Tahun 2020 ... 20
3.3. Capaian Kinerja Kegiatan Strategis Lainnya Pendukung Capaian Indikator Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan ... 32
BAB IV PENUTUP ... 63
4.1. Kesimpulan ... 63
4.2. Upaya yang Dilakukan ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 65
LAMPIRAN ... 66
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sasaran Program dan Indikator Kinerja Sasaran Program Pusat Distribusi
dan Akses Pangan 2021-2024 ... 7
Tabel 2 Matriks Target Kinerja dan Indikator Kegiatan ... 8
Tabel 3 Penetapan Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021 ... 9
Tabel 4 Hasil Pengukuran Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021 ... 15
Tabel 5 Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Tahun 2020 dan 2021 ... 20
Tabel 6 Realisasi Intervensi Pasokan Pangan Berdasarkan Periode Bulanan Tahun 2021 ... 31
Tabel 7 Rasio Wilayah Yang Diintervensi Terhadap Wilayah Stok Pangan Waspada dan Aman Berdasarkan Simonstok Tahun 2021 ... 31
Tabel 8 Perkembangan Stok 10 Komoditas Pangan Strategis Selama Tahun 2021 ... 33
Tabel 9 Sebaran Stok Beras pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 34
Tabel 10 Sebaran Stok Jagung Pipilan Kering pada Pelaku Usaha Tahun 2021 . 35 Tabel 11 Sebaran Stok Cabai Besar pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 35
Tabel 12 Sebaran Stok Cabe Rawit pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 36
Tabel 13 Sebaran Stok Bawang Merah pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 36
Tabel 14 Sebaran Stok Telur Ayam pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 37
Tabel 15 Sebaran Stok Daging Ayam pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 37
Tabel 16 Sebaran Stok Daging Sapi pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 38
Tabel 17 Sebaran Stok Bawang Putih pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 38
Tabel 18 Sebaran Stok Bawang Putih pada Pelaku Usaha Tahun 2021 ... 39
Tabel 19 Realisasi dan Prognosa Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan Tahun 2021 ... 42
Tabel 20 Perbaikan Aplikasi Web Panel Harga Pangan 2021... 44
Tabel 21 Kinerja Pengiriman Laporan Harga Harian Nasional ... 46 Tabel 22 Alokasi dan Realisasi Anggaran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Melalui Fasilitasi Distribusi Pangan di Pusat Tahun 2021 ... Error! Bookmark not defined.
Tabel 23. Realisasi Volume Distribusi Pangan Melalui Fasilitasi Distribusi .... Error!
Bookmark not defined.
Tabel 24 Alokasi dan Realisasi Anggaran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Melalui Fasilitasi Distribusi Pangan di Pusat Tahun 2020 ... Error! Bookmark not defined.
Tabel 25. Realisasi Volume Distribusi Pangan Melalui Fasilitasi Distribusi .... Error!
Bookmark not defined.
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kelompok Jabatan Fungsional Pusat Distribusi dan Akses
Pangan ... 3
Gambar 2 Sebaran Pegawai lingkup Pusat Distribusi dan Akses Pangan ... 3
Gambar 3 Penyaluran Bahan Pangan Kegiatan FDP Tahun 2021 ... 17
Gambar 4 Persentase Kinerja Total Volume Penyaluran/Penjualan Komoditas Pangan Per Provinsi Kegiatan PUPM-TTI Tahun 2021 ... 21
Gambar 5 Mitra Kerja PMT/TTIC dalam Pemasaran Online ... 23
Gambar 6. Kinerja Omzet dan Volume Penjualan PMT/TTIC ... 24
Gambar 7. Kinerja Omzet dan Volume Penjualan Online PMT/TTIC ... 26
Gambar 8. Penjualan Online Bulanan dan Share Market Penjualan Online .. 25
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kebijakan pembangunan pertanian yang menjadi dasar pelaksanaan program dan kegiatan pada periode tahun 2020-2024 adalah Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 dan Rencana Strategik (Renstra) Kementerian Pertanian Tahun 2020-2024. Badan Ketahanan Pangan (BKP) sebagai salah satu unit kerja Kementerian Pertanian melaksanakan kegiatan strategis yang tertuang dalam Renstra Badan Ketahanan Pangan Tahun 2020-2024 sebagai tindak lanjut dari RPJMN dan Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2020-2024.
Berdasarkan kebijakan tersebut, pelaksanaan program dan kegiatan khususnya terkait dengan aspek distribusi, harga, dan akses pangan yang dilaksanakan oleh Pusat Distribusi dan Akses Pangan BKP diimplementasikan melalui Rencana Kinerja Tahunan (RKT), Rencana Kinerja dan Anggaran (RKA), Daftar Pelaksanaan Anggaran (DPA), dan Penetapan Kinerja (PK) sebagai pedoman pelaksanaan kinerja selama satu tahun.
Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistim Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah menyatakan bahwa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan negara, setiap instansi pemerintah harus mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya serta kewenangan pengelolaan sumber daya dan kebijaksanaan yang dipercayakan berdasarkan perencanaan strategis yang dirumuskan sebelumnya.
Pertanggungjawaban dimaksud harus disampaikan kepada atasan masing- masing, kepada lembaga-lembaga pengawasan dan penilai akuntabilitas yang berkewenangan dan akhirnya kepada Presiden selaku kepala pemerintahan.
Selain itu, pertanggungjawaban harus dilakukan melalui sistem akuntabilitas secara periodik dan melembaga. Sehubungan dengan hal tersebut, sebagai salah satu unit Eselon II lingkup BKP, Pusat Distribusi dan Akses Pangan perlu menyampaikan pertanggungjawaban kepada Kepala Badan Ketahanan Pangan, serta lembaga-lembaga pengawasan dan penilaian akuntabilitas yang berkewenangan.
Laporan akuntabilitas kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan diwujudkan dalam sistem akuntabilitas yang memuat tentang perencanaan strategis, perencanaan kinerja, pengukuran dan evaluasi kinerja serta pelaporan kinerja.
Tahun 2020-2024 (revisi), Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2021, Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKAKL) Tahun 2021, Penetapan Kinerja (PK) Badan Ketahanan Pangan Tahun 2021, serta Penetapan Kinerja (PK) Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021.
1.1. Kedudukan, Tugas dan Fungsi
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, Pusat Distribusi dan Akses Pangan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pengkajian, penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang distribusi dan akses pangan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Pusat Distribusi dan Akses Pangan menyelenggarakan fungsi:
a. Koordinasi di bidang distribusi pangan, harga pangan dan akses pangan;
b. Pengkajian di bidang distribusi pangan, harga pangan dan akses pangan;
c. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang distribusi pangan, harga pangan dan akses pangan;
d. Pelaksanaan kebijakan di bidang distribusi pangan, harga pangan dan akses pangan;
e. Pelaksanaan Pemantapan di bidang distribusi pangan, harga pangan dan akses pangan;
f. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang distribusi pangan, harga pangan dan akses pangan;
g. Pengkajian, penyusunan kebijakan, pemantapan, pemantauan dan evaluasi harga pangan; dan
h. Pengkajian, penyusunan kebijakan, pemantapan, pemantauan dan evaluasi cadangan pangan.
2. Organisasi Pusat Distribusi dan Akses Pangan
Organisasi Pusat Distribusi dan Akses Pangan sebagai unit kerja Eselon II didukung kelompok jabatan fungsional yang terdiri dari Kelompok Distribusi Pangan, Kelompok Harga Pangan dan Kelompok Akses Pangan, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 2 subkelompok, sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 8 Tahun 2021 seperti ditunjukkan sebagaimana pada Gambar 1.
Gambar 1 Kelompok Jabatan Fungsional Pusat Distribusi dan Akses Pangan
Untuk mencapai keberhasilan penyelenggaraan tugas dan fungsi pada tahun 2020 didukung sumberdaya manusia sebanyak 59 orang pegawai, dengan komposisi yang beragam sebagaimana Gambar 2 berikut:
PUSAT DISTRIBUSI DAN AKSES
PANGAN
KELOMPOK DISTRIBUSI PANGAN
SUBKELOMPOK KELEMBAGAAN
DISTRIBUSI PANGAN SUBKELOMPOK
JARINGAN DISTRIBUSI
PANGAN
KELOMPOK HARGA PANGAN
SUBKELOMPOK HARGA PANGAN
PRODUSEN
SUBKELOMPOK HARGA PANGAN
KONSUMEN
KELOMPOK AKSES PANGAN
SUBKELOMPOK ANALISIS AKSES
PANGAN
SUBKELOMPOK PENGEMBANGAN
AKSES PANGAN
3. Aspek Strategis dan Permasalahan Utama
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, Pusat Distribusi dan Akses Pangan (PDCP) memiliki aspek strategis beserta permasalahan utama untuk diantisipasi dalam rangka melaksanakan fungsi pengkajian, penyiapan perumusan kebijakan, pemantauan, dan pemantapan distribusi pangan. Faktor-faktor tersebut kemudian diidentifikasi, dikaji dan dioptimalkan untuk mendorong pelaksanaan kinerja lingkup Pusat Distribusi dan Akses Pangan. Adapun faktor-faktor tersebut sebagai berikut :
4. Potensi dan Peluang
Potensi dan peluang yang dihadapi Indonesia antara lain:
a. Indonesia memproduksi komoditas pangan pokok dan pangan strategis yang dikonsumsi oleh 272 juta jiwa penduduk Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2021, produksi pangan strategis dilaporkan yaitu padi 55,3 juta ton untuk padi, jagung 23,04 juta ton, kedelai 211 ribu ton, cabai 1,33juta ton, bawang merah 1,4 juta ton, daging sapi dan kerbau 423,4 ribu ton, serta tebu 2,28 juta ton.
b. Komoditas strategis pertanian merupakan komoditas-komoditas pertanian yang bernilai ekonomi cukup tinggi untuk menjaga ketahanan pangan (stabilitas harga) agar tidak terjadi inflasi. Komoditas-komoditas strategis tersebut diantaranya komoditas padi, jagung, kedelai, cabai, bawang, tebu dan daging sapi/kerbau.
c. Global Food Security Index (GFSI), yaitu instrumen yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit (EIU) untuk mengukur kinerja ketahanan pangan suatu negara yang diukur berdasarkan aspek ketersediaan, keterjangkauan, serta kualitas dan keamanan pangan. Pada tahun 2019 Indonesia berada pada peringkat 62 dengan skor 62,6. Posisi ini meningkat dibandingkan posisi tahun 2015 yang berada di posisi ke-74. Meningkatnya nilai indeks ketahanan pangan Indonesia karena membaiknya posisi tiga pilar yang membentuknya, yaitu pilar keterjangkauan (affordability) dan ketersediaan (availability) serta kualitas dan keamanan (quality and safety). Untuk aspek keterjangkauan terhadap pangan, posisi Indonesia naik dari 68 pada tahun 2017 menjadi 63 pada tahun 2018.
d. Terdapatnya satuan kerja perangkat daerah di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang menangani ketahanan pangan.
5. Tantangan dan Permasalahan
Adapun tantangan dan permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut:
a. Komoditas pangan strategis bersifat mudah rusak (perishable) sehingga membutuhkan penanganan yang tepat untuk menjaga kualitasnya hingga sampai ke tangan konsumen.
b. Potensi produksi yang tidak tersebar ke seluruh wilayah Indonesia menyebabkan terjadinya fluktuasi harga. Berdasarkan data produksi BPS tahun 2019, wilayah sentra produksi pangan strategis seperti beras/padi, bawang merah, cabai, daging sapi, daging kerbau, telur ayam ras terkonsentrasi di pulau Jawa (Provinsi Jatim, Jateng, Jabar), sebagian wilayah Sumatera (Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung), dan Sulsel.
c. Konektivitas antar wilayah yang masih lemah karena kondisi infrastruktur yang belum memadai dan mengakibatkan disparitas harga pangan pokok strategis antar daerah.
d. Peningkatan kebutuhan pangan pada saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan Tahun Baru serta pada saat kondisi darurat/bencana/rentan rawan pangan yang memicu fluktuasi harga pangan dan inflasi. Pada tahun 2018, peningkatan kebutuhan pada HBKN dan Tahun Baru untuk komoditas beras 27,5%, cabai merah 109,5%, bawang merah 109,5%, daging sapi 303%, daging ayam 191,5%, telur ayam 113%, gula pasir 61,5%, minyak goreng 81,5%,
e. Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) melaporkan bahwa inflasi pada Desember 2021 0,57% secara umum disebabkan karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan.
f. Rantai distribusi yang panjang dari produsen sampai konsumen yang menyebabkan besarnya margin perdagangan dan pengangkutan (MPP). Hal ini berdampak pada selisih harga pembelian di tingkat petani selaku produsen dan konsumen akhir. Pada kasus komoditas beras, panjangnya rantai pasok dari produsen, distributor, pedagang grosir, pedagang eceran hingga sampai di tangan konsumen akhir menimbulkan total MPP yang diterima pedagang beras di Indonesia sebesar 22,34% pada tahun 2019. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga beras dari tingkat produsen sampai dengan konsumen akhir di Indonesia adalah sebesar 22,34%. Dari total MPP tersebut, sebesar 7,25% diterima oleh distributor, sedangkan 14,07% oleh pedagang eceran.
Hal tersebut berdampak pada peningkatan pengambilan MPP di Indonesia
6. Penganggaran Pusat Distribusi dan Akses Pangan
Pusat Distribusi dan Akses Pangan pada Tahun 2021 mendapat alokasi dana sebesar Rp 45.856.400.000,- yang terdiri dari anggaran pusat dan daerah yang tersebar di 34 satker Dekonsentrasi.
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
2.1. Rencana Strategis
Untuk mendukung visi dan misi Presiden RI sesuai Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), maka Kementerian Pertanian menetapkan visi jangka menengah tahun 2020-2024 yakni: “Pertanian yang Maju, Mandiri dan Modern untuk Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”. Dukungan Kementerian Pertanian tehadap misi Presiden dan Wakil Presiden yaitu “mendukung mewujudkan struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing” diwujudkan melalu misi Kementerian Pertania sebagai berikut:
1. Mewujudkan ketahanan pangan; 2. Meningkatkan nilai tambah dan daya saing pertanian; serta 3. Pengelolaan Kementerian Pertanian yang bersih, efektif dan terpercaya.
Berdasarkan tujuan dan indikator tujuan Kementerian Pertanian, kontribusi BKP pada Tujuan ke-1 “Meningkatnya Pemantapan Ketahanan Pangan” dan Tujuan ke-5 “Terwujudnya Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian”. Kedua tujuan tersebut secara lebih rinci dijabarkan dalam 4 Sasaran Strategis (SS) dan 8 (delapan) Sasaran Program Badan Ketahanan Pangan yang pencapaiannya diukur melalui indikator kinerja dan target kinerja. Dalam hal ini, Pusat Distribusi dan Akses Pangan berkontribusi pada pencapaian Sasaran Program 1
"Meningkatnya bahan pangan yang didistribusikan".
Tabel 1. Sasaran Program dan Indikator Kinerja Sasaran Program Pusat Distribusi dan Akses Pangan 2021-2024
Sasaran Program Indikator Kinerja Target
2021 1. Stabilisasi Pasokan dan
Harga Pangan
1-1 Volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (Ton)
13.435
1-2 Tingkat kepuasan pengguna terhadap data/informasi pasokan dan harga pangan (skala likert 1-4)
3,1
2. Menurunnya jumlah wilayah dengan akses pangan rendah
2-1 Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
1
Untuk mendukung pencapaian 2 (dua) Sasaran Program tersebut, Pusat Distribusi dan Akses Pangan melaksanakan kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI, Layanan Stabilisasi Harga Komoditas Pangan Strategis di Tingkat Produsen dan Konsumen sebagaimana Tabel 2.
Tabel 2 Matriks Target Kinerja dan Indikator Kegiatan
Output/Sub Output Kegiatan Indikator Target 2021 1. Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan
1.1 Fasilitasi Distribusi Pangan Terbinanya lembaga distribusi pangan
(unit)
36
1.2 Data dan Informasi Publik Tersedianya database harga
pangan tingkat produsen dan
konsumen
34
2. Menurunnya jumlah wilayah dengan akses pangan rendah
Penurunan jumlah wilayah
dengan akses pangan rendah
(%)
1
Indikator kinerja sasaran program di atas merupakan alat ukur yang mengindikasikan pencapaian sasaran program Pusat Distribusi dan Akses Pangan dengan targetnya dijelaskan dalam Target Kinerja Renstra Pusat Distribusi dan Akses Pangan 2020-2024. Sebagai tindak lanjut pencapaian indikator-indikator tersebut telah ditetapkan Perjanjian Kinerja.
2.2. Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2021
Perjanjian Kinerja (PK) Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021 merupakan bagian dari pernyataan kinerja/perjanjian antara Kepala Pusat Distribusi dan Akses Pangan dengan Kepala Badan Ketahanan Pangan.
Berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) Badan Ketahanan Pangan, penetapan kinerja kegiatan Pusat Distribusi dan Akses Pangan yang menjadi acuan atau tolak ukur evaluasi akuntabilitas kinerja yang akan dicapai pada tahun 2021 seperti pada Tabel 3.
Tabel 3 Penetapan Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021
Sasaran Program Indikator Kinerja Target
2021 1. Stabilisasi Pasokan dan
Harga Pangan
1-1 Volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (Ton)
13.435
1-2 Tingkat kepuasan pengguna terhadap data/informasi pasokan dan harga pangan (skala likert 1-4)
3,1
2. Menurunnya jumlah wilayah dengan akses pangan rendah
2-1 Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
1
2.3. Pengukuran Indikator Kinerja
1. Peningkatan Volume Bahan Pangan yang Didistribusikan/ Disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (Ton)
Strategi yang dilakukan untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan melalui kegiatan Fasilitasi Distribusi pangan (FDP) disalurkan komoditas pangan pokok dan strategis melaluli PMT/TTIC dan TMT/TTI dengan memberikan penggantian biaya distribusi (transportasi dan kemasan), sehingga masyarakat dapat memperoleh harga yang terjangkau khususnya sepuluh komoditas pangan pokok dan strategis (Beras, Cabai Merah Keriting, Cabai Rawit Merah, Bawang Merah, Bawang Putih, Telur Ayam, Daging Ayam, Daging Sapi, Minyak Goreng, Gula dan bahan pangan lainnya). Penyaluran komoditas bahan pangan oleh PMT/TTIC di Pusat dan Daerah ke masyarakat dilakukan secara penjualan langsung (offline), maupun online di PMT/TTIC dan TMT/TTI. Target penyaluran komoditas pangan pokok/strategis kegiatan FDP melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI baik di Pusat dan Daerah tahun 2021 sebesar 13.435 ton.
2. Tingkat Kepuasan pengguna terhadap data/informasi pasokan dan harga pangan
Kebermanfaatan Pengguna terhadap data/informasi harga pangan pada Web Panel Harga Pangan BKP diukur menggunakan metode Skala Likert dengan skala 1-4 dengan indikator meliputi:
Metode survey dilaksanakan secara online dengan responden mencakup pejabat struktural dan fungsional di Pusat dan Daerah termasuk enumerator, pengolah data base serta mahasiswa dan karyawan swasta.
Jumlah responden yang berpartisipasi dalam survey berjumlah 852 orang dari 34 provinsi di Indonesia. Jumlah ini naik 9,09% dibandingkan tahun 2020. Waktu pelaksanaan survey adalah pada Bulan November - Desember 2021.
Skor tingkat kepuasan dihitung dengan cara :
(1) menghitung nilai kepuasan untuk setiap indikator dengan rumus: Skala likert (n) x Jumlah responden yang memilih skala tersebut (f)
(2) menjumlahkan nilai kepuasan setiap pertanyaan (Σ(fn)) serta jumlah responden yang memilih (Σf)
(3) menghitung tingkat kepuasan dengan rumus : (Σ(fn)) / (Σf)
Hasil survey tersebut, menunjukan bahwa rata-rata nilai untuk Indikator 1= 3,33; indikator 2= 3,42; indikator 3= 3,29; indikator 4= 3,27; indikator 5=3,27; indikator 6=3,26 dan indikator 7= 3,28, sehingga rata-rata dari keseluruhan indikator = 3,31.
3. Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
Sistem monitoring stok pangan strategis merupakan instrumen untuk mengetahui kondisi stok pangan di suatu wilayah pada periode waktu
4 3 2 1
1 kepuasan penggunaan website panel harga pangan
sangat puas puas cukup puas kurang puas
2 kemudahan mengakses data melalui website panel harga pangan
sangat mudah mudah cukup mudah kurang mudah
3 estetika dalam tampilan pada website panel harga pangan
sangat bagus bagus cukup bagus kurang bagus 4 kelengkapan informasi secara
umum pada website panel harga pangan
sangat lengkap lengkap cukup lengkap kurang lengkap
5 kelengkapan informasi data produsen pada website panel harga pangan
sangat lengkap lengkap cukup lengkap kurang lengkap
6 kelengkapan informasi data grosir pada website panel harga pangan
sangat lengkap lengkap cukup lengkap kurang lengkap
7 kelengkapan informasi data eceran pada website panel harga pangan
sangat lengkap lengkap cukup lengkap kurang lengkap
INDIKATOR SKOR
NO
hasil Simonstok dapat diperoleh informasi ketahanan stok pangan di wilayah tersebut pada tiga tingkatan, yaiu tingkat aman, waspada dan tidak aman, setiap minggu. Kriteria suatu wilayah dikatakan stok aman, waspada atau tidak aman ketahanan stoknya, tidak sama untuk setiap komoditas, tergantung pada karakteristik komoditas pangan. Komoditas dengan umur simpan yang lama, ketahanan stoknya cenderung semakin lama, sebaliknya komoditas yang tidak tahan lama, ketahanan stoknya semakin singkat.
Suatu wilayah dikatakan memiliki ketahanan stok aman, apabila stok dapat memenuhi kebutuhan selama periode waktu tertentu, sedangkan suatu wilayah dikatakan memiliki stok tidak aman apabila stok tidak dapat memenuhi kebutuhan selama periode waktu tertentu. Wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman menandakan rendahnya akses pangan di wilayah tersebut.
Tabel 4 Kriteria Pengelompokan Ketahanan Stok Komoditas Pangan Tahun 2021
Penghitungan dan pengelompokan wilayah (provinsi) dengan ketahanan stok aman, waspada dan tidak aman untuk masing-masing komoditas sudah dilakukan pada sistem pelaporan Simonstok setiap minggu.
Laporan monitoring stok pangan ini digunakan sebagai bahan rekomendasi kebijakan peningkatan akses pangan, khususnya di wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman. Kebijakan intervensi pasokan pangan dilakukan pada wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman. Pada tahun 2021, realisasi intervensi tidak dapat dilakukan untuk semua komoditas dan tidak setiap bulan, sesuai dengan ketersediaan anggaran intervensi, prioritas wilayah serta penyediaan barang yang menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan kapal/ekspedisi. Intervensi
Tidak Aman (Merah)
Waspada
(Kuning) Aman (Hijau)
1 Beras < 14 14-30 > 30 Ketahanan Stok =
2 Jagung < 7 7-14 > 14 Stok / Kebutuhan 1 Hari
3 Gula Pasir < 7 7-14 > 14
4 Bawang Putih < 4 4-7 > 7
5 Cabai Rawit < 1 1-2 > 2
6 Cabai Besar < 1 1-2 > 2
7 Bawang Merah < 1 1-2 > 2
8 Telur Ayam < 1 1-2 > 2
9 Daging Ayam < 1 1-2 > 2
10 Daging Sapi < 4 1-4 > 4
No Komoditas
Ketahanan Stok (Hari)
Keterangan
pangan antar wilayah. Pelaksanaan intervensi yaitu melakukan pengiriman komoditas pangan dengan memberikan subsidi biaya (sortir, pengemasan, bongkar muat dan angkut, serta transportasi) dari wilayah (provinsi) dengan akses pangan tinggi, yaitu provinsi dengan ketahanan stok aman, ke wilayah (provinsi) dengan akses pangan rendah, yaitu provinsi dengan ketahanan stok yang waspada dan tidak aman.
Intervensi distribusi pangan dilakukan pada provinsi yang ketahanan stoknya rendah berdasarkan hasil Simonstok pada bulan sebelumnya atau bulan berjalan. Informasi Simonstok disampaikan kepada berbagai pihak dan lembaga terkait, seperti Kementerian Perdagangan, Kemenko Perekonomian, BUMN, Dinas yang menangani pangan Provinsi, BUMD dan pelaku usaha lainnya, agar dapat dilakukan upaya-upaya percepatan distribusi pangan di wilayah waspada dan tidak aman. Hal ini berarti bahwa upaya intervensi tidak hanya dilakukan oleh Pusat Distribusi dan Akses Pangan Badan Ketahanan Pangan, namun dilakukan juga oleh berbagai pihak terkait, termasuk oleh Dinas pangan Provinsi dengan menggunakan dana fasilitasi distribusi pangan antar wilayah di provinsi. Melalui intervensi ini diharapkan wilayah (provinsi) yang rendah akses pangannya (ketahanan stok pangannya waspada dan tidak aman) dapat meningkat akses pangannya menjadi wilayah dengan ketahanan stok yang aman.
Dampak intervensi pada wilayah yang rendah akses pangannya dapat dicerminkan melalui analisis Simonstok pada bulan berikutnya. Provinsi yang ketahanan stoknya tidak aman (merah) dan waspada (kuning) dan dilakukan diintervensi, maka ketahanan stoknya dapat meningkat menjadi waspada (kuning) dan aman (hijau) pada bulan berikutnya.
Kriteria rekomendasi intervensi pasokan pangan di suatu wilayah, tidak hanya berdasarkan jumlah stok dan kebutuhan pangan di wilayah tersebut.
Ada beberapa kriteria yang ditetapkan dalam menentukan intervensi pasokan pangan dari wilayah stok aman ke wilayah tidak aman, yaitu: (1) Ketahanan stok pangan termasuk waspada dan/atau tidak aman; (2) Harga pangan di atas harga eceran tertinggi (HET) atau harga rata-rata nasional;
dan (3) Jarak wilayah pemasok ke wilayah penerima masih aman untuk dilakukan pengiriman pangan.
Penurunan wilayah dengan akses pangan rendah (ketahanan stok pangan waspada dan tidak aman), dapat dilihat dari penghitungan rasio jumlah wilayah yang diintervensi terhadap jumlah wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman setiap bulan dengan rumus berikut :
Jumlah wilayah yang diintervensi
Jumlah wilayah dengan stok waspada dan tidak aman × 100%
Penghitungan rasio intervensi dilakukan setiap bulan untuk masing- masing komoditas yang dilakukan intervensi, kemudian dihitung rata-rata rasio masing-masing komoditas selama satu tahun. Selanjutnya penghitungan dalam satu tahun dilakukan melalui rata-rata rasio intervensi untuk semua komoditas selama satu tahun. Persentase intervensi menunjukkan persentase penurunan wilayah dengan akses pangan rendah (wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman).
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. Capaian Kinerja Organisasi
Penilaian capaian kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan bergantung kepada kriteria capaian kinerja yang ditetapkan. Capaian kinerja tersebut dilakukan dengan maksud: (1) mengoptimalkan capaian kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan yang terfokus kepada program unit kerja; (2) mengalokasikan sumberdaya dan perumusan kebijakan Distribusi dan Cadangan Pangan; dan (3) mempertanggungjawabkan kepada publik khususnya dalam perbaikan pelaksanaan kinerja. Hal tersebut dapat membantu pimpinan dalam menilai suatu pelaksanaan strategi untuk pencapaian tujuan/sasaran.
Kriteria keberhasilan capaian kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan digunakan kriteria sebagai berikut:
Sangat berhasil : jika capaian kinerja lebih besar sama dengan 100 persen;
Berhasil : jika capaian kinerja antara 80-99,9 persen;
Cukup berhasil : jika capaian kinerja antara 60-79,99 persen; dan Tidak berhasil : jika capaian kinerja di bawah 60 persen.
3.2 Capaian Kinerja Tahun 2021
Capaian Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan pada Tahun Anggaran 2020 diuraikan berdasarkan sasaran kegiatan Pusat Distribusi dan Akses Pangan, yaitu stabilisasi pasokan dan harga pangan serta penguatan cadangan pangan.
Sasaran kegiatan diukur dengan 3 (tiga) indikator kinerja utama yaitu: (1) Volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (ton), (2) Tingkat kepuasan pengguna terhadap data/informasi pasokan dan harga pangan (skala likert 1-4), dan (3) Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%). Pencapaian kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021 sesuai dengan dokumen penetapan kinerja dapat dilihat pada Tabel 4 berikut
Tabel 4 Hasil Pengukuran Kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan Tahun 2021
Sasaran Indikator Kinerja Utama Target Realisasi
% Capaian
Kinerja Stabilisasi
Pasokan dan Harga Pangan
1. 1-1 2. Volume bahan pangan yang
didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (Ton)
13.435 14.791 Capaian 110,09%
(sangat berhasil) 3. 1-2 4. Tingkat kepuasan
pengguna terhadap data/informasi pasokan dan harga pangan (skala likert 1-4)
3,1 3,31 Capaian 107%
(sangat berhasil) Menurunnya
jumlah wilayah dengan akses pangan rendah
5. 2-1 6. Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
1 12,07 Capaian 1.207%
(sangat berhasil)
Pencapaian sasaran program juga didukung melalui pelaksanaan beberapa kegiatan, yaitu: (1) Fasilitasi distribusi pangan; (2) Penyediaan data dan informasi harga dan pasokan pangan; serta (3) Penyediaan data dan informasi stok pangan untuk mendukung stabilitas harga pangan pokok dan strategis.
Berdasarkan Tabel 5, seluruh indikator kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan tercapai ≥ 100% (sangat berhasil), dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Volume Bahan Pangan yang Didistribusikan/Disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (Ton)
Dalam rangka memberikan kepastian pasar dan harga wajar bagi petani/produsen serta kemudahan aksesbilitas pangan dengan harga terjangkau bagi konsumen, didistribusikan komoditas pangan pokok dan strategis melalui kegiatan Fasilitasi Distribusi pangan (FDP). FDP dilakukan dengan memberikan penggantian biaya distribusi (transportasi dan/atau kemasan) melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI atau stakeholder pelaku pangan lainnya sebagai upaya stabilisasi pasokan dan harga pangan, sehingga masyarakat dapat memperoleh harga yang terjangkau khususnya sepuluh komoditas pangan pokok dan strategis (Beras, Cabai Merah Keriting, Cabai Rawit Merah, Bawang Merah, Bawang Putih, Telur Ayam Ras, Daging Ayam Ras, Daging Sapi/Kerbau, Minyak Goreng, Gula dan bahan pangan lainnya).
Penyaluran komoditas bahan pangan oleh PMT/TTIC di Pusat dan Daerah ke
masyarakat dilakukan secara penjualan langsung (offline), maupun online di PMT/TTIC dan TMT/TTI.
Target awal penyaluran komoditas pangan pokok/strategis kegiatan FDP melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI baik di Pusat dan Daerah tahun 2021 sebesar 23.513 ton. Dalam rangka pemulihan ekonomi akibat pandemic covid-19 Kementerian Pertanian melakukan refocusing anggaran yang mengakibatkan pemotongan anggaran Kegiatan FDP yang semula Rp 25,06 milyar menjadi Rp 14,46 milyar, dengan target penyaluran bahan pangan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI menjadi sebesar 13.827 ton. Namun target berdasarkan revisi DIPA target mengalami perubahan kembali menjadi sebesar 13.435 ton. Hal ini juga yang mengakibatkan adanya perbedaan jumlah volume target penyaluran komoditas pangan yang terdapat dalam Renstra Badan Ketahanan Pangan Revisi 2 yaitu sebesar 40.000 ton.
Realisasi anggaran FDP sampai 31 Desember 2021 sebesar Rp 13,75 milyar (95,07%) dengan realisasi penyaluran bahan komoditas sebesar 14.791 ton (110,09%) dari target. Belum optimalnya realisasi keuangan khususnya disebabkan Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Barat mengalami kendala dalam administrasi pendistribusian bahan pangan yang terealisasi 25- 35%.
Penyaluran bahan pangan melalui kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan ke PMT/TTIC/TMT/TTI tersebut terdiri dari komoditas dengan kontribusi masing- masing, yaitu: Beras Segar TTI 12.311 ton (83,30%), Cabai Merah Keriting 307,98 ton (2,08%), Cabai Rawit Merah 169,65 ton (1,15%), Bawang Merah 526,05 ton (3,56%), Bawang Putih 22,43 ton (0,15%), Telur Ayam Ras 548,31 ton (3,71%), Daging Ayam Ras 6,92 ton (0,05%), Daging Sapi/Kerbau 1,30 ton (0,01%), Gula Pasir 105,53 ton (0,71%), Minyak Goreng 190,99 ton (1,29%) dan komoditas pangan Lainnya 590,68 ton (3,99%). Persentase penyaluran komoditas pangan Tahun 2021 lebih besar 5,82% dibandingkan Tahun 2020 yang mencapai 104,27%. Secara rinci per komoditas tersaji pada Gambar 1.
Gambar 3 Penyaluran Bahan Pangan Kegiatan FDP Tahun 2021
2. Tingkat Kepuasan Pengguna Terhadap Data/Informasi Pasokan dan Harga Pangan (Skala Likert 1-4)
Dalam rangka pembangunan data base harga dan pasokan pangan, Badan Ketahanan Pangan cq. Pusat Distribusi dan Akses Pangan telah mengembangkan sistem pengumpulan dan pengelolaan data melalui Panel Harga Pangan. Melalui web dan aplikasi Panel Harga Pangan, instansi pusat dan daerah serta seluruh stakeholder dapat memanfaatkan data yang ditampilkan di web. Pemanfaatan data harga pangan dalam Panel Harga Pangan sudah banyak digunakan dalam analisis harga pangan untuk mendukung upaya stabilisasi harga pangan di tingkat pusat dan daerah.
Pengukuran tingkat kepuasan pemanfaatan layanan Panel Harga Pangan dilakukan melalui survey online yang melibatkan 852 orang responden pengguna Panel Harga Pangan. Metode pengukuran menggunakan skala likert 1-4. Hasil dari survey diperoleh angka 3,31 dari 1-4 skala Likert yang digunakan (107% dari target 3,1). Hasil ini sudah sesuai dengan target kinerja Tahun 2021. Keberhasilan pencapaian target kinerja terjadi karena adanya penyempurnaan web dan aplikasi dengan menggunakan sistem penginputan baru baik dari segi backend maupun frontend web dan aplikasi panel harga pangan secara menyeluruh meliputi pembaharuan menu input yang lebih sederhana dan tampilan dashboard informasi harga pangan baik secara nasional maupun daerah. Kedepannya untuk meningkatkan tingkat kepuasan diperlukan adanya penegasan dalam Panduan Teknis Panel Harga Pangan 2022 terkait penentuan sampel atau lokasi pemantauan baik untuk panel harga produsen maupun pedagang.
3. Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
Dalam upaya meningkatkan akses pangan di wilayah dengan ketahanan stok pangan waspada dan tidak aman berdasarkan laporan monitoring stok pangan (Simonstok), pada tahun 2021 telah dilakukan intervensi pasokan pangan melalui kegiatan fasilitasi distribusi pangan antar wilayah.
Pelaksanaan intervensi yaitu melakukan pengiriman komoditas pangan dengan memberikan subsidi biaya (sortir, pengemasan, bongkar muat dan angkut, serta transportasi) dari wilayah (provinsi) dengan akses pangan tinggi, yaitu provinsi dengan ketahanan stok aman, ke wilayah (provinsi) dengan akses pangan rendah, yaitu provinsi dengan ketahanan stok yang waspada dan tidak aman.
Berdasarkan laporan Simonstok setiap bulan, wilayah atau provinsi dengan ketahanan stok pangan waspada dan tidak aman, akan dilakukan intervensi pasokan pangan. Jumlah pangan yang dikirimkan ke wilayah dengan ketahanan stok pangan waspada dam tidak aman serta periode waktu dilakukannya intervensi pasokan pangan berdasarkan usulan dari Dinas Pangan Provinsi yang ketahanan stoknya rendah dan adanya pelaku usaha yang bersedia untuk mendatangkan pangan dari wilayah sentra serta disesuaikan dengan alokasi anggaran tersedia.
Pada tahun 2021, ada empat komoditas pangan yang diintervensi atau diberikan fasilitasi distribusi pangan antar wilayah, yaitu bawang merah, cabai rawit, daging ayam dan telur ayam. Wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman yang dilakukan intervensi pangan pada tahun 2021 adalah Provinsi Maluku, Papua Barat, Kalimantan Timiur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Tengah. Wilayah pemasoknya yang merupakan wilayah sentra pangan dan memiliki ketahanan stok aman yaitu Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Jika dilihat periode waktu intervensi, bulan Juli merupakan periode waktu dilakukan intervensi pasokan dengan jumlah komoditas terbanyak, yaitu bawang merah sebanyak 33 ton, cabai rawit sebanyak 41,5 ton dan telur ayam 45 ton. Dari jenis komoditas pangannya, telur ayam merupakan komoditas yang paling banyak dilakukan intervensi pada tahun 2021 yaitu sebanyak 72 ton. Komoditas kedua terbanyak dilakukan intervensi adalah bawang merah yaitu 60,3 ton, selanjutnya cabai rawit sebanyak 41,5 ton dan telur ayam sebanyak 30 ton.
Rasio jumlah wilayah yang diintervensi terhadap jumlah wilayah tidak aman dan waspada stok pangan selama satu tahun untuk masing-masing komoditas, yaitu bawang merah 6,73%, cabai rawit 4,00%, daging ayam
25,00%, dan telur ayam 12,57%. Jika dihitung selama satu tahun untuk semua komoditas, maka rata-rata rasio wilayah diintervensi adalah 12,07%.
Persentase tersebut juga menunjukkan persentase penurunan jumalh wilayah dengan akses pangan rendah, yaitu wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman. Persentase 12,07% menunjukkan bahwa target penurunan wilayah dengan akses pangan rendah sebesar 1% sudah tercapai (sangat berhasil) atau capaian kinerjanya sebesar 1.207%
3.3 Capaian Kinerja Tahun 2021 Dibandingkan dengan Tahun 2020
Capaian kinerja Pusat Distribusi dan Akses Pangan secara umum mengalami peningkatan pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020. Hal ini terlihat pada persentase realisasi volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI pada tahun 2021 telah melebihi target. Akan tetapi dikarenakan adanya refocussing anggaran untuk pemulihan pandemi covid, volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI tahun 2021 yang mencapai 110,09%, dengan kategori sangat berhasil, masih lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2020 sebesar 115,57%, kategori sangat berhasil (Tabel 6).
Tingkat kepuasan pengguna data Panel Harga Pangan juga menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan capaian Tahun 2020, yaitu dari skor 3,29 menjadi 3.30. Peningkatan tingkat kepuasan ini antara lain didukung oleh perbaikan web panel yang pada Tahun 2021 baik pada back-end maupun front- end sehingga dapat memudahkan para petugas untuk menginput data dan masyarakat umum dalam mengakses data dan informasi harga pangan yang tersedia di web Panel Harga Pangan.
Capaian kinerja rasio penurunan wilayah dengan akses pangan rendah pada tahun 2021 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2020, yaitu dari 10,97% menjadi 12,07%. Peningkatan capaian kinerja ini didukung oleh sistem pelaporan data stok yang semakin baik dari petugas enumerator kabupaten dan adanya perbaikan metode analisis ketahanan stok yang menghasilkan wilayah defisit (ketahanan stok rendah) semakin berkurang, khususnya untuk komoditas daging ayam dan daging sapi.
Tabel 5 Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Tahun 2020 dan 2021
No Indikator Kinerja
Tahun 2020 Tahun 2021 Realisasi Capaian
Kinerja Realisasi Capaian Kinerja
1
Volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI (ton)
46.128 ton
115,57
%
14.791 ton
110,09%
2 Tingkat Kepuasan Pengguna Terhadap Data/Informasi Pasokan dan Harga Pangan (Skala Likert 1-4)
3,29 106% 3.31 107%
3 Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
10,97% 1.097% 12,07% 1.207%
3.4. Analisis Capaian Kinerja Tahun 2021
3.4.1. Peningkatan Volume Bahan Pangan yang Didistribusikan/Disalurkan Melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI.
Realisasi kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) berupa biaya transportasi dan/atau kemasan untuk pasokan ke PMT/TTIC/TMT/TTI Pusat, Provinsi dan Kab/Kota dari Januari-Desember 2021 sebesar 14.971 ton atau 110,09% dari target 13.435 ton. Sedangkan realisasi keuangan Rp 13,75 milyar atau 95,07% dari pagu Rp 14,46 milyar (OMSPAN). Belum optimalnya realisasi keuangan khususnya disebabkan Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Barat mengalami kendala dalam administrasi pendistribusian bahan pangan yang terealisasi sekitar 25-35%.
Penyaluran bahan pangan melalui kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan ke PMT/TTIC/TMT/TTI terdiri dari komoditas Beras 12.311 ton (83,30%), Cabai Merah Keriting 307,98 ton (2,08%), Cabai Rawit Merah 169,65 ton (1,15%), Bawang Merah 526,05 ton (3,56%), Bawang Putih 22,43 ton (0,15%), Telur Ayam Ras 548,31 ton (3,71%), Daging Ayam Ras 6,92 ton (0,05%), Daging Sapi/Kerbau 1,30 ton (0,01%), Gula Pasir 105,53 ton (0,71%), Minyak Goreng 190,99 ton (1,29%) dan komoditas pangan Lainnya 590,68 ton (3,99%).
Capaian indikator peningkatan volume bahan pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI adalah 14,791 ton dari
target 13.435 ton atau (110,09%). Hal ini dikarenakan pasokan komoditas pangan dari gapoktan/LUPM yang disalurkan ke PMT/TTIC dan TMT/TTI selain disalurkan secara langsung, juga dengan transaksi secara online melalui aplikasi marketplace PasTani, GoFood, GrabMart, GoMart, Mitra Bukalapak dan Digiretail Mandiri. Persentase kinerja total penyaluran komoditas pangan dengan fasilitas distribusi pangan di daerah tertinggi di capai Provinsi Bali mencapai 446 ton atau 141,14% dari target 316 ton. Sedangkan terendah di Provinsi Jawa Timur penyaluran komoditas pangan sebanyak 314,40 ton atau 59,32 % dari target 530 ton. Realisasi anggarannya yang dicapai Provinsi Jawa Timur hanya mencapai Rp 139,55 juta atau 26,33 % dari anggaran Rp 530 juta. Hal ini disebabkan penyaluran komoditas pangan di Provinsi Jawa Timur tidak optimal disalurkan kepada PMT/TTIC Kabupaten/Kota, serta tim provinsi kurang optimal berkoordinasi dengan tim kabupaten/kota. Secara rinci persentase kinerja total penyaluran komoditas pangan per provinsi tersaji pada Gambar 4.
Gambar 4 Persentase Kinerja Total Volume Penyaluran/Penjualan
Komoditas Pangan Per Provinsi Kegiatan PUPM-TTI Tahun 2021
3.4.2 Kegiatan Pasar Mitra Tani (PMT)/Toko Tani Indonesia Centre (TTIC) Salah satu kegiatan utama Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian pada tahun 2021 adalah stabilisasi pasokan dan harga pangan. Kegiatan aksi yang dilakukan untuk memenuhi capaian pengendalian pasokan dan harga pangan adalah melalui kegiatan Pasar Mitra Tani/Toko Tani Indonesia Center (PMT/TTIC) maupun Toko Mitra Tani/Toko Tani Indonesia (TMT/TTI). Kegiatan ini bertujuan: (1) Memberikan kepastian pasar dan harga wajar bagi Petani/Produsen, dan (2) Memberikan kemudahan aksesbilitas pangan dengan harga terjangkau bagi konsumen.
Strategi kegiatan yang dilakukan adalah memperpendek rantai distribusi pangan dari wilayah produsen ke wilayah konsumen sehingga masyarakat dapat memperoleh harga yang terjangkau. Adapun komoditas yang diintervensi adalah Beras, Cabai Merah Keriting, Cabai Rawit Merah, Bawang Merah, Bawang Putih, Telur Ayam, Daging Ayam, Daging Sapi, Minyak Goreng, dan Gula. Penyaluran komoditas bahan pangan oleh PMT/TTIC DI 34 Provinsi ke masyarakat dilakukan secara penjualan langsung (offline), maupun online di PMT/TTIC. Sampai dengan akhir tahun 2021 telah didirikan sebanyak 119 PMT/TTIC, yaitu 2 di Pusat (PMT/TTIC Pasar Minggu dan PMT/TTIC Bogor), 34 PMT/TTIC di 34 Provinsi, dan 83 PMT/TTIC Kab/Kota yang tersebar di 19 provinsi.
Perubahan teknologi digital saat ini juga menuntut pelaku perdagangan pangan, termasuk PMT/TTIC semakin adaptif menyesuaikan perkembangan dalam upaya meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat terlebih dengan kondisi pandemic covid-19 dimana masyarakat sangat terbatas dalam melakukan mobilitas sehari-hari sesuai anjuran dari Pemerintah. Jika pada tahun 2020 penjualan online baru menggandeng Gojek melalui GoFood untuk pendistribusian pangan, maka pada tahun 2021 penjualan online sudah bekerjasama dengan berbagai pihak sehingga masyarakat memperoleh kemudahan dan memiliki pilihan platform online.
Guna merespon tantangan di era digitalisasi, BKP Kementerian Pertanian telah meresmikan marketplace PasTANI pada 17 Desember 2020 sebagai wadah bagi para pelaku pangan untuk menjual produk pangan secara online kepada konsumen luas berbasis website dan android. Tidak hanya mengandalkan PasTANI untuk pemasaran online, PMT/TTIC juga melakukan kerjasama dengan beberapa para pemangku kepentingan dalam pendistribusian pangan secara online, seperti: digiretail (platform whatsapp); mitra Bukalapak (pemasaran grosir);
GoFood, GoMart, dan GrabMart (platform aplikasi jasa pengantaran pangan); dan layanan jasa perbankan untuk Kredit Usaha Rakyat atau fasilitas kemudahan pembayaran (Qris dan ATM Mobile).
Marketplace PasTANI sendiri tidak berdiri sendiri secara operasional, namun melibatkan berbagai para pemangku kepentingan, mulai dari jasa pengantaran, layanan perbankan, dan sistem pembayaran online. Untuk pengantaran distribusi pangan bekerjasama dengan Grab Express dan GoSend selain itu juga terdapat agregator layanan pengantaran Biteship yang didalamnya mengintegerasikan beberapa penyedia logistik jasa pengantaran (Mr Speedy, Lalamove, JNE, Wahana, GoSend, Paxel, SiCepat, J&T Express, Tiki, Deliveree, FedEx, Anteraja,
Grab Express, JetExpress, SAP, Lion Parcel, Qrim, Pos Indonesia, dan RPX).
Dari sisi sistem pembayaran online, PasTANI bisa menggunakan virtual account, payment gateway, dan Qris yang disediakan oleh Bank Mandiri dan Bank BRI.
Konsumen juga dimudahkan dalam fasilitas layanan jasa perbankan antar bank secara gratis melalui penggunaan agregator layanan perbankan Flip, dimana Flip telah bekerja sama dengan Bank Mandiri, BRI, BNI, Bank Syariah Indonesia (BSI), BCA, Jenius/BTPN, CIMB/CIMB Syariah, Muamalat, Permata/Permata Syariah, Digibank/DBS, dan Danamon/Danamon Syariah (Gambar 1).
Gambar 5 Mitra Kerja PMT/TTIC dalam Pemasaran Online
KINERJA PEMASARAN PMT/TTIC
Sepanjang Tahun 2021 (2 Januari - 31 Desember 2021), omzet penjualan PMT/TTIC baik di Pusat dan Provinsi mencapai Rp 91,15 milyar, naik Rp 24,52 milyar atau 36,80% dibanding omzet tahun 2020 sebesar Rp 66,63 milyar. Total volume penyaluran bahan pangan tahun 2021 mencapai 4.834,44 ton, naik 374,07 ton atau 8,39% dibanding tahun 2020 pada periode yang sama 4.460,37 ton.
Omzet penjualan tertinggi pada komoditas daging sapi, mencapai Rp 29,32 milyar dengan total volume penjualan mencapai 395 ton, sedangkan terendah komoditas cabai merah keriting mencapai Rp 2,13 milyar dengan total volume penjualan 75,6 ton. Namun dari sisi volume penjualan, komoditas tertinggi terjadi pada komoditas beras segar TTI yang mencapai 2.249 ton, sedangkan terendah pada komoditas cabai merah keriting yang hanya mencapai 75,6 ton. Tingginya omzet Daging Sapi dan volume penjualan pada beras disebabkan karena tingginya daya beli konsumen untuk daging sapi terutama menjelang puasa dan lebaran dikarenakan harga jual daging sapi di PMT/TTIC jauh lebih murah
dibandingkan di pasar, yaitu dikisaran harga Rp 75.000-90.000/kg sesuai jenis dagingnya (Sop, Semur dan Rendang). Begitu juga dengan Beras Segar TTI yang dijual Rp 8.800/kg menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, selain harganya murah, beras tersebut sudah memiliki branding tersendiri bagi masyarakat.
Gambar 6. Kinerja Omzet dan Volume Penjualan PMT/TTIC
Jika dibandingkan kinerja omzet PMT/TTIC di Pusat dengan Provinsi, omzet PMT/TTIC di Pusat masih jauh mendominasi dibandingkan dengan kinerja omzet di 34 Provinsi. Tercatat omzet PMT/TTIC di Pusat sebesar Rp 54.463.641.713 (60%), sedangkan omzet di 34 Provinsi hanya mencapai Rp 36.691.302.074 (40%).
Dari sisi omzet penjualan melalui offline dengan online baik di pusat maupun di provinsi tercatat penjualan offline masih mendominasi dibanding online. Omzet penjualan offline mencapai Rp 85,14 milyar (93,40%), sedangkan omzet penjualan online hanya sebesar Rp 6,01 milyar (6,60%).
a. Kinerja Pemasaran Online PMT/TTIC
Omzet penjualan online PMT/TTIC baik di Pusat dan Provinsi selama tahun 2021 mencapai Rp 6.013.275.458,- dengan total volume penjualan 10 komoditas pangan pokok/strategis mencapai 295,8 ton. Share market penjualan online
antara pusat dan provinsi masih didominasi pusat dengan persentase 93% pusat dan sisanya 7% di provinsi Gambar 7.
Gambar 7. Penjualan Online Bulanan dan Share Market Penjualan Online
Peningkatan omzet penjualan online tertinggi selama tahun 2021 terjadi pada Bulan April disebabkan adanya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Puasa dan Idhul Fithri, begitu juga terjadi pada Bulan Juli dikarenakan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sehingga sebagian masyarakat beralih pola belanja dari membeli bahan pangan secara offline menjadi online ditambah lagi adanya pemberian subsidi free ongkir melalui marketplace PasTANI dan aplikasi GoFood.
Jumlah order transaksi online tertinggi masih didominasi GoFood dan menjadi pilihan terbanyak bagi masyarakat untuk belanja online di PMT/TTIC. Secara berurutan jumlah order transaksi online dari tertinggi ke terendah adalah: GoFood 39.851 order, GrabMart 6.430 order, GoMart 2.521 order, Mitra Bukalapak 2.158 order, PasTANI 867 order, dan Digiretail Mandiri 29 order.
Gambar 8. Kinerja Omzet dan Volume Penjualan Online PMT/TTIC 2021 Komoditas Daging Sapi menjadi omzet penjualan secara online tertinggi sepanjang tahun 2021 yang mencapai hingga Rp 1,58 milyar dengan total volume penjualan 18,95 ton. Namun apabila dilihat berdasarkan volume penjualan, tertinggi pada komoditas beras segar TTI mencapai 94,01 ton dengan omzet Rp 835,21 juta. Komoditas beras segar TTI masih menjadi produk PMT/TTIC yang paling banyak diakses masyarakat. Hal ini antara lain karena harganya yang jauh lebih murah dari harga di pasar umum. Secara rinci, omzet dan volume penjualan di PMT/TTIC secara online per bulan di PMT/TTIC Pusat dan Provinsi tersaji pada Gambar 8.
3.4.3 Kegiatan Revitalisasi Sub Terminal Agribisnis
Sub Terminal Agribisnis (STA) merupakan sarana pemasaran yang dibangun secara spesifik untuk melayani dan melaksanakan kegiatan distribusi dan pemasaran hasil pertanian petani atau pelaku usaha pertanian dari sumber produksi ke lokasi tujuan pemasarannya. Permasalahan utama di STA yang terjadi selama ini antara lain kurang atau belum optimalnya pengelolaan STA, terutama terkait pemasaran atau pendistribusian bahan pangan. Umumnya masih bersifat lokal atau wilayah sekitar sehingga fluktuasi harga cukup tinggi yang tentunya bisa merugikan petani sebagai produsen. Selain itu, penggunaan teknologi informasi belum banyak digunakan sehingga jangkauan pemasaran belum optimal, padahal disparitas harga antar wilayah cukup tinggi yang tentunya bisa menjadi peluang pemasaran STA. Sebagai salah satu solusi dalam
mengatasi permasalahan ini, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian melakukan kegiatan penguatan pemasaran atau pendistribusian bahan pangan di STA melalui Revitalisasi STA.
Pelaksanaan kegiatan revitalisasi STA dilakukan di dua tempat yaitu STA Aspakusa, Jalan Raya Boyolali – Solo Km 8 Teras Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, dan STA Cigombong, Jalan Raya Cigombong No.71 Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Kegiatan revitalisasi ini lebih fokus kepada promosi offline maupun online; pelatihan dan sosialisasi serta digitalisasi transaksi pengadaan maupun penyaluran komoditas pertanian (pemasaran online). Berikut pelaksanaan kegiatan revitalisasi STA yang dilakukan:
1) Digitalisasi STA
Penyediaan sistem informasi perdagangan elektronik pangan pokok/strategis berbasis teknologi informasi menjadi keharusan terutama bagi pelaku usaha/STA/Poktan/Gapoktan ke depan dalam menghadapi perkembangan arus teknologi informasi. Seiring dengan perubahan tersebut saat ini pelaku usaha/STA/Poktan Gapoktan sudah harus melakukan penjualan dengan terobosan baru melalui online baik penjualan dalam jumlah kecil (ritel) maupun dalam jumlah besar (grosir). Terobosan yang dilakukan oleh BKP untuk mendukung digitalisasi penjualan bagi pelaku usaha/STA/Poktan/Gapoktan dengan penjualan bahan pangan dalam jumlah besar yaitu dengan menyiapkan aplikasi marketplace “PasTANI Grosir”
2) Publikasi dan Promosi STA
Publikasi dan promosi STA dilakukan dengan tujuan untuk memperkenalkan terkait STA kepada masyarakat luas sehingga mereka dapat berbelanja langsung ke STA. Untuk mendukung publikasi dan promosi STA, BKP Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan promosi secara offline seperti neon box, spanduk, goody bag, kaos dan brosur.
3) Pertemuaan Koordinasi dan Pelatihan Marketplace
Pertemuan koordinasi untuk mensosialisasikan kegiatan revitalisasi STA kepada stakeholder terkait, Gapoktan/Poktan/pelaku usaha.
4) Evaluasi Kegiatan STA Tahun 2021
Hal-hal yang dapat dievaluasi untuk perbaikan Kegiatan Revitalsiasi STA di tahun berikutnya antara lain:
a. Membuat dan menerapkan Standar Operasional dan Prosedur (SPO) kelembagaan yang harus dilakukan oleh pelaku STA,
b. Penetapan harga setiap hari, laporan harian mencakup ketersediaan barang, harga barang dan stok yang dapat diakses masyarakat,
c. Mengoptimalkan kerjasama dengan BUMD terkait pemodalan,
d. Pendataan setiap hari jumlah Gapoktan yang memasok ke STA dengan mencantumkan jumlah, menjaga kontinuitas dan kualitas komoditas dengan cara sortasi dan packaging,
e. Pengelola STA menyediakan admin pada aplikasi PasTANI,
Petani yang tergabung dalam Poktan/Gapoktan yang bermitra dengan STA dapat memperluas jejaring pemasaran online secara mandiri tidak hanya melalui PasTANI untuk jaringan pemasaran.
3.4.4 Tingkat Kepuasan Pengguna Terhadap Data/Informasi Pasokan dan Harga Pangan (Skala Likert 1-4)
Dalam rangka mengetahui kepuasan pengguna terhadap Data/Informasi Data Pasokan dan Harga Pangan, Pusat Distribusi dan Akses Pangan melakukan survei online kepada pengguna website: https://panelharga.bkp.pertanian.go.id pada bulan Desember 2021.
Survei kepuasan ini menggunakan kuisioner dengan tes skala kepuasan yang mengacu pada parameter skala likert (1-4). Hasil survei kepuasan terjadap 852 orang pengguna data/informasi harga pangan diketahui capaian kepuasan pengguna terhadap data/informasi pasokan dan harga pangan Tahun 2021 sebesar 3,31. Hasil perhitungan skor kepuasan untuk masing-masing indikator adalah sebagai berikut:
NO INDIKATOR SKOR
1 kepuasan penggunaan website panel harga pangan 3,30 2 kemudahan mengakses data melalui website panel harga
pangan
3,35 3 estetika dalam tampilan pada website panel harga pangan 3,42 4 kelengkapan informasi secara umum pada website panel
harga pangan
3,24 5 kelengkapan informasi data produsen pada website panel
harga pangan
3,25 6 kelengkapan informasi data grosir pada website panel
harga pangan
3,25 7 kelengkapan informasi data eceran pada website panel
harga pangan
3,37
SKOR RATA-RATA 3,31
Skor kepuasan tertinggi adalah 3,42 untuk faktor estetika tampilan website panel harga pangan. Dalam perbaikan Web Panel pada Tahun 2021, dilakukan
beberapa perubahan tampilan untuk mendukung kemudahan pengguna dana mendapatkan data dan informasi secara lebih cepat dan mudah. Dari sisi front- end, di halaman beranda ditampilkan grafik perkembangan harga perkomoditas serta peta sebaran harga di tingkat produsen dan konsumen yang dapat difilter sesuai kebutuhan pengguna. Fitur dalam web panel harga pangan juga diperbaiki untuk memudahkan akses bagi pengguna website panel harga pangan. Skor kepuasan terendah adalah 3,24 untuk faktor kelengkapan informasi harga pangan di website panel harga pangan BKP. Tabel harga yang dapat diakses oleh pengguna umum pada beranda hanya dapat dicopy terbatas dan belum disediakan menu download. Hal ini bertujuan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan data. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Beberapa saran dan masukan dari responden yang akan menjadi bahan perbaikan selanjutnya adalah: meminimalisir eror dalam sistem, penyederhanaan fitur, analisis usaha tani dan HBKN lebih lengkap dan jelas, tampilan pengolahan data mingguan, dan dilengkapi analisis perilaku pasar dan harga pangan
3.4.5 Penurunan jumlah wilayah dengan akses pangan rendah (%)
Situasi akses pangan di suatu wilayah dapat dilihat dari situasi ketahanan stok pangan di wilayah tersebut. Ketahanan stok suatu wilayah yang semakin aman, menunjukkan wilayah tersebut memiliki akses pangan yang semakin baik.
Sebaliknya, ketahanan stok pangan suatu wilayah yang semakin tidak aman, maka wilayah tersebut akses pangannya semakin rendah. Laporan monitoring stok pangan akan menampilkan wilayah dengan ketahanan stok aman, waspada dan tidak aman setiap minggu, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan kebijakan peningkatan akses pangan di wilayah dengan akses pangan rendah, yaitu wilayah dengan ketahanan stok yang waspada dan tidak aman.
Dalam upaya meningkatkan akses pangan di wilayah dengan ketahanan stok pangan waspada dan tidak aman berdasarkan laporan Simonstok, pada tahun 2021 telah dilakukan intervensi pasokan pangan melalui kegiatan fasilitasi distribusi pangan antar wilayah. Pada tahun 2021, ada empat komoditas pangan yang diintervensi atau diberikan fasilitasi distribusi pangan antar wilayah, yaitu bawang merah, cabai rawit, daging ayam dan telur ayam. Wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman yang dilakukan intervensi pangan pada tahun 2021 adalah Provinsi Maluku, Papua Barat, Kalimantan Timiur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Tengah. Wilayah pemasoknya yang merupakan wilayah
sentra pangan dan memiliki ketahanan stok aman yaitu Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Jika dilihat periode waktu intervensi, bulan Juli merupakan periode waktu dilakukan intervensi pasokan dengan jumlah komoditas terbanyak, yaitu bawang merah sebanyak 33 ton, cabai rawit sebanyak 41,5 ton dan telur ayam 45 ton.
Dari jenis komoditas pangannya, telur ayam merupakan komoditas yang paling banyak dilakukan intervensi pada tahun 2021 yaitu sebanyak 72 ton. Komoditas kedua terbanyak dilakukan intervensi adalah bawang merah yaitu 60,3 ton, selanjutnya cabai rawit sebanyak 41,5 ton dan telur ayam sebanyak 30 ton.
Intervensi dilakukan berdasarkan hasil Simonstok pada bulan sebelumnyan atau bulan berjalan, dan dampak intervensi dapat dilihat melalui Simonstok pada bulan berikutnya.
i. Pada bulan Juni dilakukan intervensi bawang merah ke Provinsi Maluku.
Ketahanan stok komoditas bawang merah Provinsi Maluku pada bulan Mei menunjukkan ketahanan stok waspada (kuning). Setelah dilakukan intervensi, ketahanan stok bawang merah Provinsi Maluku meningkat menjadi aman (hijau).
ii. Pada bulan Mei dilakukan intervensi komoditas daging ayam ke Provinsi Kalimantan Utara. Ketahanan stok daging ayam pada bulan Mei di Kalimantan Utara menunjukkan stok tidak aman (merah). Setelah dilakukan intervensi, ketahanan stok Provinsi Kalimantan Utara meningkat menjadi aman (hijau).
iii. Pada bulan Juli dilakukan intervensi telur ayam ke Provinsi Kalimantan Timur.
Ketahanan stok telur ayam pada bulan Juli Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan stok tidak aman (merah). Setelah dilakukan intervensi, ketahanan stok telur ayam Provinsi Kalimantan Timur menjadi waspada (kuning)
iv. Pada bulan Agustus dilakukan intervensi telur ayam ke Provinsi Maluku.
Ketahanan stok telur ayam pada bulan Juli Provinsi Maluku menunjukkan stok tidak aman (merah). Setelah dilakukan intervensi, ketahanan stok telur ayam Provinsi Maluku menjadi waspada (kuning)
v. Pada bulan Juli dilakukan intervensi cabai rawit ke Provinsi Kalimantan Timur.
Ketahanan stok cabai rawit pada bulan Juni Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan stok tidak aman (merah). Setelah dilakukan intervensi, ketahanan stok cabai rawit Provinsi Kalimantan Timur tidak nenunjukkan perubahan ketahanan stok (merah) pada bulan Juli, namun dari volume
stoknya meningkat 2 ton. Cabai rawit yang dikirim melalui intervensi tidak masuk dalam pantauan atau pencatatan stok oleh petugas Simonstok pada hari Senin. Disamping itu, cabai rawit merupakan komoditas tidak tahan lama, dan pasokannya dilakukan setiap hari.
vi.
Tabel 6 Realisasi Intervensi Pasokan Pangan Berdasarkan Periode Bulanan Tahun 2021
No Komoditas Asal Tujuan Waktu Volume
(Ton) 1 Bawang
Merah
Probolinggo,
Jatim Ambon, Maluku Juni 27,3
Probolinggo,
Jatim Ambon, Maluku Juli 31
Bima, Ntb Sorong, Papua
Barat Juli 2
2 Cabai Rawit Enrekang, Sulsel Samarinda, Kaltim Juli 41,5 3 Daging Ayam Mojokerto, Jatim Tarakan, Kaltara Juni 30 4 Telur Ayam Enrekang, Sulsel Samarinda, Kaltim Juli 45
Enrekang, Sulsel Ambon, Maluku Agustus 2
Enrekang, Sulsel Tual, Maluku Agustus 2
Enrekang, Sulsel Kep. Aru, Maluku Agustus 3
Blitar, Jatim Ambon, Maluku Oktober 10
Blitar, Jatim Pangkalanbun,
Kalteng November 10
Rasio jumlah wilayah yang diintervensi terhadap jumlah wilayah tidak aman dan waspada stok pangan selama tahun 2021 untuk masing-masing komoditas, yaitu bawang merah 6,73%, cabai rawit 4,00%, daging ayam 25,00%, dan telur ayam 12,57%. Jika dihitung selama satu tahun untuk semua komoditas, maka rata-rata rasio wilayah diintervensi adalah 12,07%. Persentase tersebut juga menunjukkan persentase penurunan jumalh wilayah dengan akses pangan rendah, yaitu wilayah dengan ketahanan stok waspada dan tidak aman.
Persentase 12,07% menunjukkan bahwa target penurunan wilayah dengan akses pangan rendah sebesar 1% sudah tercapai (sangat berhasil) atau capaian kinerjanya sebesar 1.207%
Tabel 7 Rasio Wilayah Yang Diintervensi Terhadap Wilayah Stok Pangan Waspada dan Aman Berdasarkan Simonstok Tahun 2021
No Komoditas Bulan Jumlah Wilayah
1 Bawang Merah Juni Tidak aman & Waspada 21 provinsi
Intervensi 1 provinsi