8
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1. Landasan Teori
Beberapa keterkaitan teori-teori yang mempunyai hubungan erat dalam mewakili konsep isu sustainability ataupun environmental dalam suatu organisasi bisnis yang meliputi teori stakeholder, teori liegitimasi, teori kepuasan pelanggan, teori perilaku pemilik atas isu lingkungan, dan teori kinerja keuangan.
2.1.1. Teori Stakeholder
Robert (1992) menyatakan bahwa teori stakeholder merupakan teori yang dinilai tepat untuk menjelaskan dan menjadi dasar penelitian terkait dengan tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan. Stakeholder perusahaan meliputi pemilik modal, kreditur, konsumen, suplier, masyarakat umum, dan pemerintah.
Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa kegiatan sosial yang dilakukan oleh perusahaan merupakan tindakan yang dilakukan untuk menjaga kepentingan seluruh stakeholder perusahaan.
Freeman (1984) mendefinisikan stakeholder merupakan bagian terpenting dalam suatu organisasi bisnis, karena keberadaannya dapat mempengaruhi tujuan dan kinerja perusahan melalui tindakannya dalam pengambilan keputusan.
Menurut Coombs dan Gilley (2005), definisi pemangku kepentingan yang diusulkan oleh Freeman (1984) dimana para pemangku kepentingan adalah individu atau kelompok yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi atau proses untuk mencari tujuan. Beberapa dimensi yang dikaitkan dengan teori stakeholder. Menurut Donaldson dan Peterson (1995) teori stakeholder menunjukkan tiga dimensi yaitu: deskriptif, instrumental dan normatif. Dalam dimensi deskriptif teori ini menjelaskan bagaimana manajer dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi para pemangku kepentingan untuk mengelola perusahaan. Dimensi deskriptif terungkap ketika perusahaan menggunakannya untuk mewakili dan memahami hubungan dan peran dalam lingkungan eksternal dan internal. Dimensi normatif teori ini mendukung fungsi tujuan perusahaan. Awalnya, dimensi ini didasarkan pada Clarkson (1995), yang
9
Universitas Kristen Petra
menunjukkan bahwa tujuan perusahaan adalah menciptakan dan mendistribusikan kekayaan kepada pemangku kepentingan utama. Dalam hal ini, Mitchell, Agle, dan Wood (1997) menyatakan bahwa para pemangku kepentingan mengklasifikasikan sesuai dengan tiga atribut berikut: kekuasaan, legitimasi, dan urgensi klaim mereka. Melalui dimensi instrumental, teori ini akan memiliki kinerja yang unggul jika sila normatif dipekerjakan (Berman et al. , 1999).
Stakeholder memiliki beberapa karakteristik yang dapat dibedakan berdasarkan kekuatan, kepentingan dan pengaruh stakeholder terhadap suatu isu stakeholder menurut (ODA, 1995) yaitu:
a. Pemangku kepentingan internal atau stakeholder primer adalah mereka yang memiliki kepentingan terutama pada bidang ekonomi karena terlibat langsung dengan transaksi bisnis dan penanggungan risiko. Pemangku kepentingan yang dimaksud adalah mereka yang sebagai pemegang saham, pelanggan, pemasok, kreditur, dan karyawan.
b. Pemangku kepentingan eksternal atau stakeholder sekunder adalah mereka yang memiliki kelangsungan hidup kesehatan perusahaan secara ekonomi.
Meskipun pemangku kepentingan eksternal tidak terlibat secara lagsung dengan transaksi bisnis, mereka memperoleh pengaruh atau dapat juga mempengaruhi tindakan-tindakan bisnis dalam perusahaan. Pemangku kepentingan eksternal yang dimaksud adalah mereka sebagai masyarakat umum, lembaga sosial masyarakat, komunitas, serikat buruh, kelompok aktivis, kelompok dukungan bisnis serta media.
c. Stakeholder kunci adalah mereka yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan yang memiliki unsur eksekutif, legislatif dan instansi seperti pemerintah.
2.1.2. Teori Legitimasi
Teori Legitimasi berakar pada gagasan kontrak sosial antara korporasi dan masyarakat. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan sebuah perusahaan tergantung pada kemampuannya untuk memberikan yang sesuatu diharapkannya berakhir untuk mendistribusikan manfaat ekonomi, sosial, dan politik kepada kelompok (Shocker dan Sethi, 1974). Teori legitimasi berpendapat untuk memastikan bahwa
10
Universitas Kristen Petra
suatu organisasi beroprasi dengan batas dan norma-norma sosial yang ditentukan.
Menurut Deegan (2000) legitimasi dapat dianggap sebagai presepsi umum atau asumsi bahwa tindakan yang diinginkan oleh entitas dalam beberapa sistem sosial seperti norma, nilai-nilai, kayakinan dan defisini itu telah tepat. Legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat (society), pemerintah dan kelompok masyarakat.
Menurut Dowling & Pfeffer (1975) Legitimasi organisasi dapat dibangun atau ditingkatkan melalui penggunaan simbol atau tindakan simbolis mengkomunikasikan "public image" atau “citra publik”. Dowling & Pfeffer (1975) memiliki empat strategi legitimasi organisasi yang luas yang dapat dipakai ketika mendapat ancaman ketika terjadi perbedaan antara nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai sosial masyarakat sering dinamakan “legitimacy gap” yang dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melanjutkan kegiatan usahanya. Strategi tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Agar metode dan tujuan sesuai dengan harapan masyarakat dapat dilakukan dengan mengubah output yang kemudian diinformasikan kepada publik agar lebih relevan.
2. Menunjukkan kesesuaian output, metode atau tujuan melalui pendidikan dan informasi.
3. Mendekatkan masyararakat dengan simbol-simbol yang mencerminakan tingkat legitimasi yang relevan.
4. Menyelaraskan masyarakat dengan output, tujuan atau metode yang diharapkan.
Teori legitimasi didasarkan pada persepsi, maka dibutuhkan pengungkapan oleh manajemen atas tindakan yang tidak dipublikasikan secara efektif dalam mengubah pandangan pihak eksternal organisasi (Cormier dan Gordon, 2001).
2.1.3. Teori Signaling
Teori signaling berkembang pada tahun 1977 dan banyak digunakan oleh teori Ross and Spence. Konsep signaling pertama kalli dipelajari dalam konteks
11
Universitas Kristen Petra
pekerjaan dan pasar produk oleh Akerlof dan Arrow, dan berkembang menjadi teori ekuilibrium dengan Spence (Ross, 1977). Dalam incentive-signalling model, (Ross, 1977) memberikan peran keuangan perusahaan dalam kerangka untuk mendukung suatu harga.
Leland dan Pyle (1977) menggunakan retensi kepemilikan saham atau proporsi saham yang masih dipertahankan oleh pemilik lama setelah penawaran umum perdana sebagai sinyal arus kas perusahaan di masa yang akan datang.
Untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan berdasarkan signaling theory (Leland dan Pyle, 1977) peneliti memiliki presepsi sebagai berikut :
a. Suatu organisasi dipersepsikan memiliki kesinambungan keuangan yang bagus jika memiliki tren penjualan yang meningkat. Dengan semakin meningkatnya jumlah penjualan, maka kesinambungan keuangan suatu organisasi juga semakin bagus.
b. Sebuah organisasi juga dipersepsikan memiliki kesinambungan keuangan yang bagus jika fasilitas atau infrastruktur yang dimiliki oleh suatu organisasi semakin baik.
c. Suatu organisasi dipersepsikan memiliki kesinambungan keuangan yang bagus jika jumlah karyawan dalam sebuah organisasi meningkat. Dengan menambah menambah jumlah karyawan tetap menunjukkan bahwa kondisi keuangan organisasi tersebut sedang bagus.
d. Terakhir, suatu organisasi dipersepsikan memiliki kesinambungan keuangan yang bagus jika imbalan yang diberikan kepada para karyawan meningkat. Dengan menambah imbalan karyawan menunjukkan bahwa kondisi keuangan organisasi sedang bagus.
Teori sinyal menjelaskan tentang bagaimana para investor memiliki informasi yang sama tentang prospek perusahaan sebagai manajer perusahaan ini disebut informasi asimetris. Namum dalam kenyataannya manajer sering memiliki informasi lebih baik dari investor luar. Hal ini disebut informasi asimetris, dan ini memiliki dampak penting pada struktur modal yang optimal (Brigham, 2005).
12
Universitas Kristen Petra
Menurut (Susilowati, 2006) teori sinyal kegiatan perusahaan memberikan informasi kepada investor tentang prospek return masa depan yang substansial.
Informasi sebagai sinyal yang diumumkan pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek bagus dimasa depan. Bagi manajemen, karena faktor fundamental yang tersaji dari laporan keuangan sangat diperlukan oleh para investor, sehingga dapat digunakan sebagai sinyal positif untuk menilai return saham. Rasio-rasio keuangan berpengaruh positif terhadap return saham, sesuai dengan motivasi signaling dapat digunakan oleh manajemen sebagai sinyal untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.
2.1.4. NEP : Toeri Perilaku Atas Lingkungan
Perilaku adalah segala tindak tanduk seseorang manusia yang bisa diamati oleh orang lain. Diamati memungkinkan untuk dilihat, didengar atau dirasakan (Sepdianti, 2007). Perilaku dapat dibentuk melalui pengetahuan. Pengetahuan merupakan informasi yang diketahui seseorang melalui proses belajar atau pengalaman baik melalui jalur formal maupun informal.
Dari teori tersebut, peneliti mendefinisikan perilaku atas isu lingkungan merupakan persepsi atau mindset pemilik perusahaan terhadap manajemen lingkungan khususnya yang berkaitan dengan masyarakat sekitar, sebagai salah satu stakeholder-nya. Persepsi tersebut dapat dibentuk melalui pemahaman pemilik mengenai aturan-aturan yang berkaitan dengan lingkungan serta bagaimana nilai-nilai lingkungan yang berkembang di masyarakat sekitar.
Sehingga kedua hal tersebut bisa membentuk bagaimana perilaku pemilik perusahaan dalam memandang isu lingkungan.
Selain masyarakat, manajemen lingkungan juga ditentukan oleh pemilik saham atau pemodal yang mempunyai kekuasaan dalam memimpin suatu perusahaan. Pemodal mempunyai karakter dalam membentuk perilaku dalam lingkungan perusahaannya dan menjalankan fungsi operasional manajer dalam operasional perusahaan. Menurut pandangan dunia bisnis, pengelolaan lingkungan perusahaan ditentukan dari pemilik atas sikap etis dan respon terhadap masalah yang berhubungan dengan pembentukan perilaku lingkungan perusahaan.
13
Universitas Kristen Petra
Dunlap (2000) mendefinisikan perilaku pemilik sebagai “belief system”
setiap pemilik atas praktek manajemen lingkungan dalam setiap organisasi.
Peneliti perilaku pemilik dengan pernyataan “belief system” muncul pada tahun 1978 dan pertama kali diungkapkan oleh (Dunlap, 2000). Pembaharuan terjadi ditahun 2000, Dunlap (2000) mengembangkan penelitian terbarunya yaitu New Environmental Paradigm (NEP). Dalam NEP yang lama, alat ukur ini terdiri atas 12 item pertanyaan yang kemudian di ukur dengan menggunakan lima skala- likert. Dalam NEP terbaru Dunlap (2000) alat ukur ini terdiri atas 15-item pertanyaan. Sementara dalam penelitian selanjutnya yang dilakukan Cummings (2008) skor NEP terbagi menjadi 18 Pertanyaan yang semuanya diukur menggunakan skala likert.
Delapan belas item pertanyaan dari NEP yang diperbaharui terdiri dari:
1. Karyawan memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan sesuai yang telah diedukasi perusahaan.
2. Manajemen perusahaan memiliki divisi lingkungan sendiri, yang bertugas khusus dalam mengelola lingkungan.
3. Biaya untuk pengelolaan lingkungan adalah penting sebagai cara untuk mengurangi green house gases.
4. Pemerintah melakukan pengurangan subsidi terhadap bahan baku alam sebagai bentuk konservasi lingkungan.
5. Sanksi perdagangan dapat dikenakan kepada negara yang tidak menerepkan peraturan lingkungan internasional.
6. Kepentingan lingkungan secara internasional harus disesuaikan dengan kepentingan lingkungan secara nasioal.
7. Setiap perushaan harus mampu menerapkan standar internasional terhadap pengukuran kinerja lingkungan.
8. Manfaat utama dari standar lingkungan secara internasional (seperti ISO 14. 000) memberikan keuntungan finansial terhadap perusahaan.
9. Pemerintah harus mengendalikan secara terpusat terhadap lingkungan berdasarkan regulasi yang dikeluarkan.
14
Universitas Kristen Petra
10. Polusi yang dialami suatu negara dapat berakibat terhadap kondisi keuangan dan kondisi sosial negara lain.
11. Setiap perusahaan harus memperhatikan masyarakat lokal ketika akan mengeluarkan kebijakan lingkungan.
12. Pemilik perusahaan harus melakukan diskusi dengan pemangku kepentingan mengenai kebijakan lingkungan.
13. Tanggung jawab implementasi manajemen lingkungan sepenuhnya dipegang oleh minimal manajer senior.
14. Perusahaan wajib mencatat setiap data yang menunjukkan tingkat polusi.
15. Peraturan harus diberlakukan untuk memberikan arah kepada pemilik dalam membuat keputusan perusahaan, tanpa takut menghadapi proses hukum.
16. Setiap perusahaan manfukatur harus mempublikasikan mengenai laporan lingkungan secara terpisah, untuk melengkapi laporan keuangan.
17. Kinerja lingkungan dari sebuah perusahaan harus di verifikasi oleh auditor independen.
18. Peraturan lingkungan harus diterapkan dengan sama oleh perusahaan lokal maupun perusahan asing.
Skala NEP di atas dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana seseorang memiliki pandangan pro-environmental. NEP dirancang untuk mengukur apakah seseorang memegang keyakinan dalam sikap pro-environmental atau anti-environmental (Dunlap, 2000). Hal ini dirancangan untuk mengidentifikasi lima kemungkinan komponen dari pandangan dunia ekologis (Dunlap, 2000):
1. Batas pertumbuhan (the reality of limits to growth) 2. Anti-antroposentrisme (antianthropocentricism)
3. Kerapuhan keseimbangan alam (the fragility of nature’s balance) 4. Penolakan "exemptionalism" (rejection ofexemptionalism) 5. Kemungkinan krisis ekologi (the Possibility of Ecocrisis) 2.1.5. Kinerja Keuangan
15
Universitas Kristen Petra
Kinerja atau yang kita kenal sebagai performance memiliki arti sebagai suatu prestasi yang dicapai sebuah perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut (Sugiarso dan Winarni, 2005).
Perusahaan memiliki pengendalian dalam menganalisis data yang disebut pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja ini dilakukan guna melalukan perbaikan pada kegiatan operasional perusahaan agar mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Kinerja perusahaan dapat menghasilkan informasi bagi investor untuk dapat melihat apakah mereka masih layak mempertahankan investasinya pada perusahaan tersebut atau mencari perusahaan lain sebagai alternatif investasinya.
Hal ini sangat penting untuk membantu para investor membaca informasi dalam perusahaan. Pengukuran kinerja juga dilakukan untuk memperlihatkan kreditibilitas suatu perusahaan yang baik kepada penanam modal maupun pelanggan atau masyarakat secara umum (Munawir, 2010).
Menurut Moorman dan Rust (1999), firm performance memiliki tiga bagian didalamnya, antara lain adalah kinerja keuangan (financial performance), kinerja yang berhubungan dengan pelanggan (customer relationship), dan kinerja produk baru (new product performance). Financial performance menjelaskan mengenai profitabilitas dan kinerja pasar. Customer relationship performance menggambarkan kemampuan untuk memuaskan pelangganserta menjaga hubungan baik denganpelanggan, sedangkan new product performance menilai kecepatan serta kreativitas pengembangan suatu produk.
Menurut IAI (2007) kinerja keuangan sendiri merupakan kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan sumberdaya yang dimilikinya.
Kinerja keuangan merupakan gambaran dari setiap hasil ekonomi yang mampu di raih oleh perusahaan pada periode tertentu melalui aktivitas-aktivitas perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang diperoleh secara efisien dan efektif.
Perkembangannya dapat dilakukan dengan menganalisis data-data keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan.
Menurut Kusnadi (2003) kinerja memiliki arti sendiri yaitu setiap gerakan, perbuatan, pelaksanaan, kegiatan atau tindakan sadar yang diarahkan untuk
16
Universitas Kristen Petra
mencapai suatu tujuan atau target tertentu. Berati apabila dikaitkan dengan keuangan, kinerja keuangan sendiri merupakan kinerja yang harus diukur untuk mengetahui keadaan keuangan suatu perusahaan yang digunakan oleh perusahaan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan akan sangat bermanfaat bagi banyak pihak tertutama oleh pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan baik dari pihak intern maupun extern perusahaan. Pihak manajemen perusahaan merupakan pihak intern membutuhkan informasi pengukuran kinerja keuangan sebagai alat untuk mengevaluasi kinerja dimasa lalu dan menjadikan informasi sebagai pedoman bagi manajemen untuk merencanakan pertumbuhan perusahaannya dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi pihak extern khususnya investor, pengukuran kinerja keuangan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan investasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Lopez, Peon dan Ordas (2005) meyatakan supaya data kinerja yang sensitive tidak mudah hilang, maka digunakan pendekatan yang tidak langsung dalam pengumpulan data yaitu dengan cara melakukan suatu presepsi. Suatu presepsi merupakan cara responden tidak diminta secara langsung dalam melakukan pengukuran objektif dari kinerja keuangan perusahaan, melainkan responden diminta untuk melaporkam tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja perusahaannya (Lopez, Peon, and Ordas, 2005).
Pengumpulan presepsi dilakukan ketika data laporan perusahaan keuangan perusahaam tidak tersedia atau dikarenakan tidak memugkinkannya dilakukan perbandingan yang akurat antar perusahaan.
Menurut Moorman (1995) dalam Setiawan dan Elsye (2014), indikator dalam financial performancemeliputi: cost, sales, profitability, dan marketshare yang kesemuanya diukur menggunakan pendekatan skala likert melalui kuesioner.
Lopez, Peon dan Ordas (2005) dalam penelitiannya membagi financial performance ke dalam 4 indikator yang kesemuanya juga diukur menggunakan skala likert melalui kuesioner, yaitu terdiri dari profitability, sales growth, profit growth, dan sales margin. Hatane (2014) dalam penelitiannya mengadopsi indikator Lopez, Peon dan Ordas (2005) tetapi dengan memecah empat indikator
17
Universitas Kristen Petra
menjadi enam indikator, yaitu terdiri dari return on assets (ROA), return on equity (ROE), sales growth, net profit, profit growth, dan market share.
Indikator financial performance yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi indikator pada penelitian Lopez, Peon dan Ordas (2005) karena dikaitkan dengan isu lingkungan, antara lain:
1. Profitability, merupakan penilaian pemilik mengenai kemampuan perusahaan untuk mencapai laba bersih sesuai target.
2. Sales growth, merupakan penilaian pemilik mengenai kemampuan perusahaan untuk mencapai pertumbuhan penjualan yang telah ditargetkan.
3. Profit growth, merupakan penilaian pemilik mengenai kemampuan perusahaan untuk mencapai pertumbuhan laba sesuai dengan yang ditargetkan.
4. Sales margin, merupakan penilaian pemilik mengenai kemampuan perusahaan untuk menguasai pangsa pasar.
2.1.6. Teori Kepuasan Pelanggan
Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasalatin “satin” (artinya cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat). Secara sederhana kepuasan dapat diartikan sebagai “upaya pemenuhan sesuatu‟ atau “membuat sesuatu. Menurut J. Supranto (2006), kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dengan harapannya.
Harapan pelanggan dapat dibentuk dari pengalaman masa lalu, komentar dari kerabatnya serta janji dan infromasi pemasar dan saingannya. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitive terhadap harga dan memberikan komentar yang baik terhadap perusahaan.
Menurut Kotler dan Keller (2005) bahwa kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil dari sebuah produk yang di pikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan.
Jika kinerja berada di bawah harapan, konsumen tidak puas. Jika kinerja melebihi harapan maka konsumen akansangat senang atau puas. Harapan-harapan
18
Universitas Kristen Petra
konsumen ini dapat diketahui dari pengalaman mereka sendiri saat menggunakan produk tersebut, omongan-omongan orang lain, dan informasi iklan yang dijanjikan oleh perusahaan yang menghasilkan produk tadi.
Kotler dan Keller (2005) mengatakan bahwa konsumen yang sangat puas biasanya akan tetap setia untuk jangka waktu yang lama, serta membeli lagi ketika perusahaan memperkenalkan produk baru dan memperbarui produk lama, selain itu ia akan membicarakan hal-hal baik tentang perusahaan dan produknya kepada orang lain, mereka tidak terlalu memperhatikan merek pesaing dan tidak terlalu mementingkan harga, mereka juga menawarkan ide produk dan jasa kepada perusahaan, dan biaya pelayanannya lebihmurah dari pada konsumen baru karena transaksi menjadi suatu hal yang rutin.
Akbari et al (2013) menambahkan perusahaan akan lebih sukses dan memiliki kinerja baik jika mampu memberikan kepuasan kepada pelanggannya, dikarenakan perusahaan memiliki hubungan yang erat dengan pelanggan. Tingkat kepuasan pelanggan akan menentukan tingkat kesuksesan atau tingkat kegagalan dari perusahaan. Dengan mengetahui kebutuhan riil dari pelanggannya maka perusahaan akan mampu memberikan layanan baru, membangun komunikasi dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan, sehingga akan tercipta kepuasan.
Indikator kepuasan pelanggan yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi 7 indikator pada penelitian Akbari et al (2013) karena dikaitkan dengan kepuasan pelanggan berdasarkan prespektif karyawan perusahaan.
Didalam indikator kepuasan pelanggan dari perspektif karyawan terdapat tujuh indicator didalamnya, antara lain :
1. Perusahaan dikenal memiliki layanan terbaik.
2. Perusahaan selalu mencoba mengenalkan layanan baru kepada pelanggan.
3. Perusahaan mengetahui kebutuhan pelanggan.
4. Perusahaan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan lebih baik dibandingkan perusahaan lain.
5. Pelanggan sudah merasa puas setelah menerima layanan perusahaan.
6. Pelanggan merasa puas terhadap pelayanan karyawan perushaan.
7. Perusahaan menjaga hubungan jangka panjang.
19
Universitas Kristen Petra
2.2. Hubungan Antar Variabel
2.2.1. Hubungan Perilaku Pemilik Atas Isu Manajemen Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan
Dasar teori hubungan antara perilaku pemilik atas isu lingkungan dengan kinerja keuangan akan diawali dengan teori stakeholder dan teori legitimasi. Freeman (1984) menjelaskan stakeholder merupakan bagian terpenting dalam suatu organisasi bisnis, karena keberadaannya dapat mempengaruhi kinerja perusahan melalui tindakannya dalam pengambilan keputusan. Selanjutnya Robert (1992) menjelaskan teori stakeholder merupakan teori yang bisa menjadi dasar terkait dengan tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan. Implementasi teori stakeholder, pemilik perusahaan akan selalu berhati-hati tentang apa yang akan menjadi reaksi masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil, sehingga perusahaan harus membuat strategi lingkungan dan strategi keuangan secara terintegrasi. Sedangkan teori legitimasi (Shocker dan Sethi, 1974) dapat menjelaskan alasan dibalik pentingnya isu lingkungan bagi perusahaan, karena teori legitimasi meyakini bahwa sebuah organisasi akan mampu untuk bertahan lama dan berkelanjutan jika masyarakat disekitarnya memiliki persepsi bahwa organisasi tersebut beroperasi dalam sistem nilai yang benar dan bisa diterima oleh masyarakat sekitar. Kedua teori ini akan mempengaruhi bagaimana mindset dan keyakinan pemilik (personal belief) perusahaan atas manajemen lingkungan.
Personal belief merupakan cara pandang seorang pemilik atas lingkungan dan biasa diukur dengan NEP (Fryxell, 2010). Dunlap (2000) juga menjelaskan perilaku ini sebagai sistem keyakinan pengelola perusahaan atas praktek manajemen lingkungan. Personal belief atas lingkungan tersebut akan mempengaruhi komitmen pemilik atas praktik manajemen lingkungan diperusahaannya (Park, 2009). Pemilik yang berkomitmen atas isu lingkungan biasanya nampak dari cara pandang yang disampaikan melalui komunikasi secara formal maupun informal.
Komunikasi tersebut akan mempengaruhi respon organisasi terhadap isu lingkungan yang terjadi saat ini (Kim, Park, Wen, 2014). Kim, Park, Wen
20
Universitas Kristen Petra
(2014) menjelaskan bahwa komitmen pemilik terhadap lingkungan diimplemetasikan melalui keterlibatan dan dukungan pemilik untuk menerapkan praktek manajemen lingkungan.
Perusahaan perlu merespon isu lingkungan, karena respon tersebut berpengaruh pada kinerja keuangan. Cummings (2008) menjelaskan belief atau mindset atas pengelolaan lingkungan merupakan hal paling mendasar dalam masalah lingkungan, jadi keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakan tergantung pada bagaimana keyakinan pengelola (owner atau manajer) terhadap lingkungan. Hal tersebut dikarenakan perusahaan bersedia mengeluarkan biaya untuk berinvestasi dalam sistem manajemen lingkungan yang dapat berpotensi untuk menghindari terjadinya krisis dan hutang yang berkaitan dengan lingkungan dimasa mendatang (Klassen &
McLaughlin, 1996).
Selain itu, perusahaan juga menganggap adanya sistem manajemen lingkungan dapat membawa keunggulan bersaing tersendiri dibanding hanya melalui peningkatan citra bisnis (Masanet & Llodra, 2006). Dimana adanya manajemen lingkungan yang baik, akan meningkatkan pendapatan (misal melalui akses ke pasar tertentu, diferensiasi produk) dan mengurangi biaya bahan baku yang diperlukan (misal sisa bahan baku akan timbulkan limbah, dengan menggunakan bahan baku yang telah dibeli dengan semaksimal mungkin, maka biaya bahan baku yang diperlukan bisa semakin rendah), mengurangi biaya berkaitan resiko hukum, semakin rendah cost of capital (perusahaan yang tidak berurusan dengan masalah hukum terkait lingkungan akan semakin mudah mendapat modal/pinjaman dengan bunga rendah) dan cost of labor juga semakin rendah (Ambec & Lanoie, 2008). Cummings (2008) juga menjelaskan sistem keyakinan yang positif dalam memandang isu lingkungan dapat mengurangi potensi kerugian yang bisa dialami perusahaan. Implementasi sistem keyakinan yang positif terhadap lingkungan dapat mengurangi potensi biaya yang besar untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan, misalnya pembuangan limbah yang tidak terkontrol.
21
Universitas Kristen Petra
Berdasarkan teori dan hasil penelitian empiris di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Terdapat pengaruh perilaku pemilik atas isu manajemen lingkungan terhadap kinerja keuangan
2.2.2. Hubungan Perilaku Pemilik Atas Isu Manajemen Lingkungan terhadap Kepuasan Pelanggan
Teori stakeholder dan teori legitimasi juga bisa digunakan sebagai dasar dalam hubungan antara perilaku pemilik atas isu lingkungan dengan kepuasan pelanggan. Implementasi dari kedua teori tersebut adalah pemilik perusahaan akan selalu berhati-hati dalam mengambil kebijakan dengan memperhatikan reaksi masyarakat sekitar serta keyakinan bahwa perusahaan akan mampu bertahan lama dan berkelanjutan jika memiliki keyakinan yang sama dengan lingkungan masyarakat sekitar. Berkaitan dengan lingkungan, Cummings (2008) menjelaskan bahwa keyakinan atau belief atas pengelolaan lingkungan merupakan hal paling mendasar dalam masalah lingkungan, sehingga keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakan tergantung pada bagaimana keyakinan pengelola (owner atau manajer) terhadap lingkungan. Dari teori di atas disimpulkan bahwa pemilik perusahaan yang memiliki belief atas pengelolaan lingkungan, akan selalu berhati-hati dalam setiap kebijakan yang akan diambil.
Chung et al. (2015) juga menjelaskan bahwa selain kepuasan terhadap produk dan layanan perusahaan, kepuasan pelanggan juga dapat diukur melalui kepuasan terhadap kebijakan lingkungan yang dilakukan perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa pelanggan dapat memiliki persepsi mengenai kebijakan lingkungan suatu perusahaan. Pendapat ini diperkuat oleh Masanet & Llodra (2006) bahwa sistem manajemen lingkungan dapat membawa keunggulan bersaing dan juga meningkatkan citra perusahaan (Masanet & Llodra, 2006). Kotler (2008) menyatakan citra merek yang tinggi akan menciptakan pelanggan yang puas terhadap merek tersebut. El-Garaihy et al. (2014) juga menjelaskan ethical sebagai salah satu sikap dan tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan,
22
Universitas Kristen Petra
terbukti memberikan dampak yang positif terhadap kepuasan pelanggan (Alafi, 2012).
Berdasarkan teori dan hasil penelitian empiris di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Terdapat pengaruh perilaku pemilik atas isu manajemen lingkungan terhadap kepuasan pelanggan
2.2.3. Hubungan Kepuasan Pelanggan dan Kinerja Keuangan
Penelitian yang dilakukan Luo dan Bhattacharya (2006) memberikan hasil bahwa kepuasan pelanggan mampu memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, kinerja keuangan disini diukur menggunakan data sekunder yang terdiri dari rasio stock return dan tobin’s q. Sedangkan penelitian Alafi dan Al Sufi (2012) dalam penelitiannya juga memberikan hasil yang sama, bahwa kepuasan pelanggan mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Variabel kinerja keuangan pada penelitian Alafi dan Al Sufi (2012) dianggap sebagai variabel laten, yang diukur menggunakan data primer. Penelitian di atas membuktikan bahwa pelanggan yang merasa puas menggunakan produk atau jasa perusahaan, maka akan semakin loyal. Loyalitas tersebut tercermin dari beberapa hal, yaitu melakukan pembelian ulang, menceritakan kepada orang lain mengenai produk/jasa perusahaan, dan bahkan merekomendasikan, hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan kuantitas pembelian oleh konsumen, sehingga penjualan perusahaan akan meningkat. Penjualan yang semakin meningkat, tentunya akan berdampak bagus terhadap kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, berdasarkan teori dan hasil penelitian empiris tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Terdapat pengaruh kepuasan pelanggan terhadap kinerja keuangan
23
Universitas Kristen Petra
2.3 Kajian Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai hubungan perilaku pemilik atas isu manajemen lingkungan dan kepuasan pelanggan yang dilakukan El-Garaihy et al. (2014) dan Chung et al. (2015) yang menjelaskan ethical sebagai salah satu aspek tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar, yang terbukti memberikan dampak yang positif terhadap kepuasan pelanggan (Alafi, 2012).
Chung et al. (2015) juga menjelaskan bahwa selain kepuasan terhadap produk dan layanan perusahaan, customer satisfaction juga dapat diukur melalui kepuasan pelanggan terhadap kebijakan lingkungan yang dilakukan perusahaan.
Penelitian selanjutnya mengenai hubungan perilaku pemilik atas isu manajemen lingkungan dan kinerja keuangan yang dilakukan oleh Tarigan (2013) dan Tarigan & Hatane (2014) juga meneliti hubungan kinerja keuangan dengan kinerja lingkungan. Cummings (2008) dalam penelitiannya lebih fokus meneliti dari aspek perilaku manajer terhadap praktek manajemen lingkungan. Hasil penelitian tersebut menjelaskan isu praktek manajemen lingkungan menjadi faktor yang siginifikan dalam menentukkan perilaku pemilik terhadap praktek manajemen lingkungan dilihat dari kinerja keuangan. Alafi (2012) membuktikan bahwa tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan memberikan dampak yang positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Luo & C. B. Bhattacharya (2006) dan Alafi dan Al Sufi (2012) dalam penelitiannya membuktikan bahwa customer satisfaction mampu memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap financial performance.
Penelitian mengenai hubungan kepuasan pelanggan dengan kinerja keuangan yang dilakukan Luo dan Bhattacharya (2006) memberikan hasil bahwa kepuasan pelanggan mampu memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, kinerja keuangan disini diukur menggunakan data sekunder yang terdiri dari rasio stock return dan tobin’s q.
Sedangkan penelitian Alafi dan Al Sufi (2012) dalam penelitiannya juga memberikan hasil yang sama, bahwa kepuasan pelanggan mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
24
Universitas Kristen Petra
Variabel kinerja keuangan pada penelitian Alafi dan Al Sufi (2012) dianggap sebagai variabel laten, yang diukur menggunakan data primer.
2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis
Gambar 2. 1. Kerangka Pemikiran Teoritis 2.5 Hipotesis
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sementara dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 : Terdapat pengaruh perilaku pemilik atas isu manajemen lingkungan terhadap kinerja keuangan
H2 : Terdapat pengaruh perilaku pemilik atas isu manajemen lingkungan terhadap kepuasan pelanggan
H3 : Terdapat pengaruh kepuasan pelanggan terhadap kinerja keuangan
Perilaku Pemilik (Cummings,
2008)
Financial Performance (Lopez, Peon dan
Ordas (2005), 2005)
Customer Satisfaction (Akbari et al,
2013) H2
H4 H2 H3 H1 H1
H4 H2 H3 H1
H3
H4 H2 H3 H1