I. PENDAHULUAN
l .PANDANGAN UMUM
Sejalan dengan pertumbuhan Ekonomi di Indonesia yang semakin meningkat ( rata- rata 6,8 % per tahun- Amanat Presiden Republik Indonesia Pengantar Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (RAPBN) 1994- 1995 ), dan tingkat pertumbahan Industri yang semakin tinggi ( Memberikan sumbangan pada Product Domestik Bruto sebesar 24 % ) , mendorong pemilik- pemilik perusahaan untuk melakukan perluasan usaha dimana keputusan ini diharapkan dapat dibiayai dengan alternative pemenuhan kebutuhan modal kerja. Modal yang dibutuhkan dalam bentuk uang sangat diperlukan oleh perusahaan, selain untuk pengembangan usaha juga untuk menjaga kelangsungan hidup. Yang menjadi masalah bagi perusahaan adalah dari mana uang tersebut didapat, bila uang perusahaan yang ada sedang beredar dimana- mana sesuai dengan transaksi yang diperlukan sedangkan hutang perusahaan sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Bila hal ini dibiarkan berlarut- larut maka bukan tidak mungkin perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Disamping itu selain untuk
menjaga kelangsungan hidup dan mengembangkan usaha, uang juga dibutuhkan untuk berbagai keperluan termasuk untuk membayar hutang- hutang perusahaan yang ada.
Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut tentunya diperlukan usaha untuk mencari tambahan uang untuk disuntikan keperusahaan, sebagai pengganti ataupun sebagai penambah dana yang sedang dijalankan ataupun untuk pengembangan dan perluasan bidang usaha. Dalam rangka pemenuhan hal tersebut ada beberapa altematif yang dapat digunakan perusahaan untuk mengatasinya, seperti mencari pinjaman atau penambahan pinjaman uang, mencari partner untuk merger, menjual perusahaan atau bahkan menutup/ mengurangi sebagian kegiatan usaha, upaya tersebut terakhir tentunya tidak baik bagi perusahaan dan juga bagi pemilik dan pegawainya. Alternative lainnya yang dapat dilakukan dalam mencari tambahan modal itu adalah dengan mencari pihak lain yang mau ikut menanamkan modalnya pada perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan menjual sebagian dari kepemilikan atas perusahaan, penjualan pemilikan dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan penjualan sebagian dari saham perusahaan dalam bentuk efek kepada masyarakat luas yang dalam ini disebut investor atau pemodal, hal ini disebut dengan istilah Penawaran Umum ( Go Public ) , yang biasanya dilakukan pada Pasar Modal.
Perkembangan Pasar Modal di Indonesia saat ini menunjukan kemajuan yang luar biasa setelah mengalami Booming pada tahun 1989 hingga 1991 Hal ini dirasa menggembirakan setelah tahun- tahun sebelumnya Pasar Modal di Indonesia
menunjukan kelesuan.( Pasar Modal Indonesia mengalami stagnasi sejak tahun 1977 ).Kemajuan- kemajuan ini tidak lepas dari kemudahan- kemudahan yang diberikan Pemerintah baik di Sektor Moneter maupun di Sektor Riil. Antaranya Pakjun 1993 dan Pakto 1993 yang dimaksudkan untuk mendorong usaha non migas dan mendorong penanaman modal asing maupun modal dalam negeri.
Deregulasi Pemerintah tahun 1983 yang memberikan kebebasan kepada Perusahaan dari campur tangan Pemerintah dalam mengelolah perekonomian.
Sehingga banyak modal asing yang ditanamkan di Indonesia.
Disamping itu dengan makin meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam transaksi saham pada Bursa saham yang dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah saham yang diperdagangkan sebesar 339.339.135 lembar saham, menyebabkan total jumlah saham yang terdaftar pada Surabaya Stock Exchange menjadi 41.351.369.588 lembar saham atau mengalami peningkatan sebesar 0, 83 % pada bulan Maret 1996.( Monthly Review, March 1996, PT. Bursa Efek Surabaya ) Meningkatnya keterlibatan masyarakat itu sendiri dipengaruhi oleh faktor- faktor pendukung yang dipercaya bisa dijadikan gambaran atau alat bagi investor untuk mengetahui tingkat Risk dan Return yang mungkin akan dihadapi. Salah satu dari sekian faktor- faktor tersebut adalah dengan membaca Laporan Keuangan perusahaan yang mana oleh investor diharapkan bisa memberikan gambaran tentang kesehatan perusahaan dimana keadaan Laporan Keuangan perusahaan merupakan pencerminan Kinerja Keuangan perusahaan. Jika investor melihat Kineija Keuangan perusahaan efisien dalam arti tingkat kemampuan perusahaan
menghasilkan keuntungan ( Profitabilitas ) pada tingkat penjualan, asset dan modal saham yang tertentu baik, maka minat investor atas saham perusahaan tersebut meningkat. Sejalan dengan peningkatan permintaan saham tersebut, maka volume transaksi sahamnya juga akan mengalami peningkatan.
Didukung dari faktor- faktor diatas, penulis ingin mengetahui pengaruh Laporan Keuangan yang mencerminkan Kinerja Keuangan Perusahaan, khususnya Perusahaan Leasing dalam mempengaruhi volume transaksinya pada Bursa Efek Surabaya. Pada Pasar Modal yang efisien , kinerja keuangan perusahaan tercermin dari peningkatan volume transaksinya di Bursa. Misalnya dengan meningkatnya laba perusahaan yang diperoleh dari pengolahan modal kerja setelah Go Public akan mendorong kesehatan kinerja keuangan perusahaan sehingga dengan sendirinya volume transaksi dan harga saham di pasar transaksi akan meningkat.
2 PENJELASAN JUDUL
Pada penyusunan skripsi ini penulis mengambil judul “ Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Leasing dan Pengaruhnya terhadap Volume Transaksi Sahamnya pada Bursa Efek Surabaya “ yang mengandung pengertian sebagai berikut
Analisis Kupasan, ulasan, uraian, penjelasan secara rinci.
Kinerja Keuangan Prestasi kerja yang telah dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu dan dituangkan dalam
5
Perusahaan Leasing
Volume Transaksi
Bursa Efek Surabaya
suatu bentuk Laporan Keuangan baik tengah tahun maupun tahunan. Alat yang dipergunakan adalah ratio hasil atas modal dan ratio hasil atas harta sebagai ukuran prestasi perusahaan.
Perusahaan yang memberi jasa dalam bentuk penyewaan barang- barang modal atau alat- alat produksi dalam jangka waktu menengah atau waktu panjang dimana
pihak penyewa ( lessee ) harus membayar sejumlah uang secara berkala dari nilai penyusutan suatu obyek lease ditambah dengan bunga, biaya- biaya lain serta profit yang diharapkan oleh lessor.
( Marpaung C D., Pemahaman Mendasar Atas Usaha L easing)
Jumlah transaksi yang teijadi dalam satu periode waktu
: Tempat dimana teijadi transaksi jual- beli instrumen keuangan ( Surat Berharga ) jangka menengah dan jangka panjang yang berkedudukan di Surabaya.
3. ALAS AN PEMILIHAN JUDUL
Volume transaksi dan harga saham suatu Perusahaan dipandang oleh Investor sebagai patokan yang tepat untuk mengukur tingkat kesehatan Kineija Keuangan Perusahaan. Jika Kinerja Keuangan perusahaan baik maka volume transaksi saham perusahaan akan meningkat dan dengan sendirinya harga sahampun akan meningkat, tetapi jika Kinerja Keuangan perusahaan buruk maka volume transaksi saham perusahaan juga akan menurun dan dibarengi dengan penurunan harga saham yang bersangkutan. Kondisi dan kineija keuangan dapat dinilai dengan melakukan analisis laporan keuangan perusahaan, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan oleh investor atas keputusan penanaman modalnya. Hasil analisa Kineija Keuangan ini juga sangat bermanfaat bagi perusahaan yang mengeluarkan saham untuk menilai keberhasilan ketjanya.
Disamping itu penulis tertarik untuk memilih sektor Industri yang bergerak dalam Usaha Pembiayaan ( Leasing ) karena penulis melihat belum meluasnya pemahaman masyarakat atas jenis usaha ini. Sedangkan usaha ini diharapkan nantinya mempunyai peran yang lebih besar dalam pembangunan Perekonomian Indonesia.
4. TUJUAN PENYUSUNAN
1. Mengungkapkan Kineija Keuangan Perusahaan Leasing pada Bursa Efek Surabaya selama 3 tahun ( 1992 sampai dengan 1994). Perusahaan yang telah Go Public dan dicatat di Bursa Efek Surabaya.
2. Mengungkapkan perubahan volume transaksi saham Perusahaan Leasing pada Bursa Efek Surabaya selama 3 tahun ( 1992 sampai dengan 1994 )
3. Mengungkapkan pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan Leasing terhadap volume transaksi sahamnya di Bursa Efek Surabaya.
4. Merupakan pemenuhan salah satu syarat dalam memperoleh gelar saijana pada Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra.
5. Skripsi ini diharap dapat memberi manfaat dan masukan bagi pembaca.
5. METODQLOG1 5.1 Permasalahan
Pokok Permasalahan yang dihadapi adalah : “ Apakah Kinerja Keuangan perusahaan memberi pengaruh terhadap volume transaksi saham perusahaan ( dalam hal ini Perusahaan Leasing pada Bursa Efek Surabaya ) ?”
5.2 Batasan Operasional dan Asumsi yang dipakai Batasan operasional yang dipakai : - Kinerja Keuangan Perusahaan
Prestasi keija yang telah dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu dan dituangkan dalam Laporan Keuangan. Alat pengukuran kineija keuangan adalah : Ratio profitabilitas yaitu ratio atas harta, ratio atas modal dan profit margin sebagai ukuran prestasi kerja perusahaan. Penulis juga melakukan Analisa Perbandingan Laporan Keuangan selama 3 tahun sebagai data tambahan untuk lebih mengetahui
secara tepat pertambahan atau pengurangan yang terjadi, sehingga dapat dilakukan analisa lebih lanjut dan menunjukan sampai seberapa jauh perkembangan keadaan ekonomi perusahaan dan hal- hal yang dicapai
- Volume Transaksi, disini dalam periode bulanan yang dirata- rata pertahun.
Asumsi yang dip ak ai:
1. Dalam ratio keuangan, perbedaan perlakuan akuntansi yang dipakai oleh perusahaan dianggap tidak berpengaruh.
2. Data yang dipakai oleh penulis berupa Neraca dan Laporan laba rugi diasumsikan benar.
3. Bursa saham yang dimaksud adalah Bursa Efek Surabaya.
5.3 Pengumpulan dan Pengolahan data 5 .3 .1 M etode Pengumpulan Data
1. Laporan Keuangan Perusahaan. yang diambil berupa Neraca dan Laporan Rugi Laba per tahun periode 1992- 1994.
2. Daftar kurs resmi yang diambil data volume transaksi saham perusahaan - perusahaan Leasing pada Bursa Efek Surabaya pada periode 1992- 1994.
5 .3 .2 M etode Pengolahan Data
Analisa Kuantitatif : yaitu mengolah, menyusun dan menganalisa data yang ada dengan menggunakan alat analisa perbandingan Laporan Keuangan perusahaan.
Kineija Keuangan perusahaan diklasifikasikan berdasarkan ratio- ratio pokok, yaitu profit margin, ratio hasil atas modal dan ratio hasil atas harta.
Analisa Kualitatif : yaitu dengan menginterpretasikan hasil analisa kuantitatif.