• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Thanthawi Jawhari, al-jawahir Fi Tafsir al-quran al-karim, Jilid 2, (Mesir: Kairo, 1974), hlm.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1 Thanthawi Jawhari, al-jawahir Fi Tafsir al-quran al-karim, Jilid 2, (Mesir: Kairo, 1974), hlm."

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA

DALAM AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL-QURAN AL-KARIM A. Lafadz-lafadz dan Urutan Proses Penciptaan manusia

Dalam Al-Qur‟an terdapat lafadz-lafadz yang merujuk pada penciptaan manusia. Lafadz-lafadz tersebut di antaranya ialah turab (QS. Ali Imran/3:59), thin (QS. Al-An‟am/6:2), thin lazib (QS. Al-Shaffat/37: 11), hama‟ (QS. Al- Hijr/15: 26), shalshal, al-Fakhkhar (al-Rahman/55: 14), nuthfah (QS. Al- Mu‟minun/ 23: 13), „alaqah mudghah, idzam, lahm (QS. Al-Mu‟minun/ 23: 14).

Dalam Tafsir al-Jawahir dijelaskan bahwa lafadz turob yang terdapat dalam Q. S. Ali Imran/3: 59 berarti tanah yang kering. Ayat tersebut menjelaskan proses kejadian Nabi Isa, yang dalam penciptaannya memiliki kesamaan dengan proses kejadian Nabi Adam. Keduanya sama-sama diciptakan dari turab (tanah kering).

Selain itu, baik Nabi Adam maupun Nabi Isa sama-sama tidak berbapak (tidak memiliki seorang bapak). Lebih lanjut membahas kata turab, Tanthawi dalam tafsirnya memaparkan bahwa kata turab itu menunjukkan pada sesuatu yang bersifat materi, terlihat oleh mata manusia, yakni jasmani. Dengan kata lain, Nabi Isa diciptakan oleh Allah Swt dengan turab (tanah kering) tanpa seorang bapak, melalui rahim suci Maryam. Penciptaan tersebut sama seperti Allah menciptakan bapak dari semua manusia, Nabi Adam. Sementara itu, lafadz Kun dalam potongan ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Isa diciptakan dari ruh Tuhan.

Maksudnya, Allah Swt meniupkan ruh Nabi Isa ke dalam rahim suci Maryam.1 Kemudian, kata thin yang termaktub dalam QS. Al-An‟am/6: 2 berarti tanah liat, unsur tersebut merupakan cikal bakal penciptaan Nabi Adam, bapak seluruh manusia, demikian pula dengan keturunannya. Manusia diciptakan dari unsur yang sama seperti unsur penciptaan Nabi Adam, yakni thin. Hal ini logis, karena thin (tanah) merupakan sumber bahan makanan manusia yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan manusia secara terus menerus.

1 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir al-Quran al-Karim, Jilid 2, (Mesir: Kairo, 1974), hlm.

119

(2)

Dengan kata lain, manusia mengkonsumsi apa-apa yang tumbuh dari tanah, dan tumbuh-tumbuhan itu membantu proses perkembangbiakan manusia.2 Sementara kata thin lazib yang termaktub dalam Q. S. Al-Shaffat/37: 11 berarti tanah yang basah. Ayat tersebut sedang menjelaskan asal kejadian seluruh makhluk Allah Swt, baik malaikat, bumi, manusia dan lain-lain. Dikatakan bahwa semua itu tercipta dari unsur yang sama, yakni tanah liat (thin lazib). Dengan kata lain, unsur thin lazib itu senantiasa melekat pada semua makhluk Allah Swt.3

Kata hama‟ yang termaktub dalam Q. S. al-Hijr/15: 26 berarti tanah liat berwarna hitam. Dalam ayat ini diinformasikan bahwa manusia diciptakan Allah Swt dari “tembikar berongga dari tanah liat yang telah dibentuk”. Hama‟

merupakan salah satu mata rantai proses penciptaan Nabi Adam yang dipahami dari ayat-ayat mengenai panciptaannya. Penciptaan itu dimulai dari turab “tanah murni” (Ali Imran/3: 59) dan jika tanah tersebut telah mengandung air, maka disebut thin (al-An‟am/6: 2). Kemudian thin tersebut menjadi thin lazib “tanah liat” (al-Shaffat/37: 11). Dari thin lazib lalu dibentuk shalshal (al-Hijr/15: 28), yaitu benda berongga yang apabila ditiup maka akan mengeluarkan bunyi sal…sal, sehingga orang Arab menyebutnya salsal. Dari salsal (tanah berongga) itu kemudian dibentuk menjadi hama‟ (tembikar atau tanah hitam yang telah dibentuk menyerupai manusia). Dari hama‟ itu kemudian dibentuk lagi menjadi al-Fakhkhar, proses penuntasan penciptaan Nabi Adam.4

Kata shalshal yang terdapat dalam QS. Al-Rahman/55: 14 memiliki arti tanah liat yang berbunyi karena keringnya. Sedangkan kata al-Fakhkhor berarti tembikar atau tanah liat yang sudah dibakar atau dimasak, sehingga menjadi keras. Ayat di atas merupakan penjelasan dan keterangan mengenai proses penciptaan manusia. Dalam ayat tersebut manusia tercipta dari tanah liat yang telah mengering dan keras, seperti tanah yang telah dimasak atau dibakar. Kata al-Fakhkhar (tembikar) dalam redaksi ayat di atas berarti sesuatu yang tersusun

2 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 4, hlm. 3

3 Ibid, Jilid 18, hlm. 12

4 Departemen Agama RI, al-Quran dan Tafsirnya, Jilid V (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm.

235

(3)

dari zat bumi dan unsur panas. Karena kedua unsur tersebut manusia akhirnya membutuhkan makan, minum dan bereproduksi guna melestarikan keturunannya.5

Kata Sulalah yang terdapat dalam Q. S. Al-Mu‟minun/23: 12, maksudnya adalah Nabi Adam itu diciptakan dari sesuatu yang lembut, yakni intisari tanah.6 Sedangkan kata Nuthfah yang terdapat dalam QS. Al-Mu‟minun/ 23: 13, berarti mani, yakni setetes air yang jernih sebagai cikal-bakal dari kejadian manusia di dunia.7 Logikanya adalah Nabi Adam dan Siti Hawa memakan apa-apa yang ada di bumi, baik tumbuh-tumbuhan, sayur mayur, buah-buahan, daging dan lain sebagainya. Kemudian apa yang dimakannya itu lama kelamaan akan berubah menjadi darah. Setelah menjadi darah kemudian menjadi nuthfah. Dalam hal ini, baik Nabi Adam maupun Siti Hawa sama-sama memiliki nuthfah. Ketika nuthfah keduanya telah bercampur dan tersimpan dalam ruang yang kokoh dan hangat bernama rahim, lalu nuthfah tersebut mengalami perubahan secara bertahap dan teratur, yang pada akhirnya menjadi manusia kecil bernama bayi. Dengan demikian, secara tidak langsung al-Quran mendeskripsikan penciptaan manusia dengan cara yang menakjubkan. Ia mendeskripsikan proses awal penciptaan manusia secara sistematis dan spektakuler. Dalam hal ini, al-Quran memilah ke dalam dua bagian proses penciptaan manusia. Pertama, proses penciptaan manusia pertama di muka bumi, Nabi Adam. Kedua, proses penciptaan manusia sebagai keturunan Nabi Adam.8

Kata „alaqah, mudghah, idzam, dan lahma secara berturut-turut tersebut dalam Q. S. Al-Mu‟minun/ 23: 14. „Alaqah dalam potongan ayat di atas berarti segumpal darah yang sudah mengeras. Setelah nuthfah itu tersimpan dalam rahim, lama kelamaan akan berubah menjadi darah, semakin hari darah tersebut mengeras, sehingga menjadi gumpalan darah. Gumpalan darah inilah yang dimaksud dengan „alaqah (dalam bahasa tafsir al-Jawahir adalah sepotong darah

5 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 24, hlm. 16

6 Ibid, Jilid 11, hlm. 94

7 Ibid, Jilid 11, hlm. 94

8 Ibid, Jilid 11, hlm. 94

(4)

yang mengeras).9 Mudghah berarti sepotong daging yang berukuran kecil, sekiranya dapat dimamah di dalam mulut manusia. Mudghah ini merupakan proses kelanjutan dari „alaqah..10 „Idzamah adalah tulang belulang. Setelah Allah Swt menjadikan segumpal daging („alaqah), kemudian Allah Swt memberikan tulang belulang ke dalam tubuh si jabang bayi. „Idzamah ini merupakan salah unsur bagian dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk menguatkan. Tulang juga melindungi organ-organ penting tubuh manusia. Tulang juga merupakan tempat melekatnya daging-daging yang terdapat pada tubuh manusia. Dengan demikian, proses penciptaan manusia itu melalui beberapa tahapan yang oleh al- Quran dijelaskan secara jelas dan gamblang.11

Dengan demikian, maka dapar dipahami bahwa Awal dari penciptaan Adam dalam al-Qur‟an menggunakan lafadz turab yang berarti tanah (QS. Ali Imran/3:59),12 kemudian proses lanjutan dari turab adalah thin yang berarti tanah liat atau tanah yang sudah dicampur air (QS. Al-An‟am/6:2), proses selanjutnya adalah perubahan dari thin menjadi thin lazib (tanah yang melekat dan keras), kemudian dari thin lazib berproses menjadi hamain (lumpur hitam), kemudian lumpur hitam tersebut mengalami proses lanjutan yakni shalshal (tanah liat kering yang dapat dibuat untuk tembikar), setelah perubahan shalshal menjadi al- Fakhkhar (tembikar),13 kemudian menjadi Adam sebagai manusia pertama (QS.

Al-Hijr/15:26; Qs Al-Rahman/55:14).14

Sementara awal dari penciptaan manusia pada umumnya adalah bermula dari Thin (tanah liat yang basah) sebagai lafadz untuk penyebutan awal terciptanya Nabi Adam yang kemudian menjadi sperma atau ovum. Pada dasarnya dari thin tersebut bercabang menjadi dua,15 yakni thin lazib yang mengarah pada penciptaan Adam dan thin yang menjadi sperma atau ovum mengarah pada

9 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 11, hlm. 94

10 Ibid, hlm. 94

11 Ibid, hlm. 94

12 Salaman Harun, Mutiara Al-Qur‟an, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 32

13 Ibid, hlm.12

14 Ibid, hlm. 32.

15 Salaman Harun, Mutiara Al-Qur‟an, Ibid, hlm. 28.

(5)

penciptaan manusia secara umum. Jadi manusia seperti kita tercipta dari pertemuan dan pembuahan sperma terhadap sel telur yang kemudian menjadi nuthfah.16

Nuthfah dalam perut ibu berproses selama empat puluh hari, kemudian nuthfah atau zigot tersebut berkembang menjadi „alaqah (segumpal darah yang mengental, membeku jua keras), kemudian alaqah berproses menjadi mudhgah (darah yang membeku menjadi segumpal daging), setelah itu perubahan menjadi fetus, di mana tulang belulang dibungkus dengan lahm (otot dan daging). Proses pembalutan tersebut dalam al-Qur‟an disebut dengan “memberi pakaian”.17 Ketika tahap fetus telah sempurna kemudian menuju tahap janin atau embrio yang sudah berbentuk anak. Setelah menjadi janin kemudian menjadi makhluk yang mampu berbicara, melihat dan mendengarkan yakni manusia.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa urutan penciptaan Adam yaitu turab- thin-tin lazib-shalshal-hamain-al-Fakhkhar-Adam. Sedangkan manusia umumya yaitu sulalah (sari pati tanah liatnya nabi Adam)-sperma/ovum-nuthfah atau zigot- „alaqah-mudghah-fetus-janin-manusia.

B. Proses Penciptaan Manusia dalam Surat Al-Mu’minun

















“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”. (Q. S. Al-Mu‟minun/23: 12)

Berdasarkan riwayat asbab nuzul ayat diatas adalah berkaitan dengan pandangan „Umar yang selaras dengan kehendak Allah Swt dalam empat hal, diantaranya tentang turunnya ayat, Wa la qad khalaqnal insana min sulalatin min thin sampai lafadz khalqan akhar. Ketika mendengarkan ayat tersebut „Umar berkata: “Fa tabarakallahu ahsanul khaliqin. Maka diturunkanlah ayat tersebut.

Kata Sulalah yang terdapat dalam potongan ayat di atas berarti sari pati tanah. Maksudnya adalah Nabi Adam itu diciptakan dari sesuatu yang lembut,

16 Ibid, hlm. 32.

17 Kemenag RI, Penciptaan Manusia, Ibid, hlm. 91

(6)

yakni intisari tanah. Dengan demikian, Nabi Adam tidak diciptakan dari tanah sebagaimana yang telah diketahui oleh manusia pada umumnya, melainkan tercipta dari saripati tanah yang lembut. Oleh karena itu, manusia pada umumnya memiliki daki (kotoran hitam yang melekat pada tubuh manusia). Sebersih apa pun manusia itu, tetap memiliki daki. Hal yang demikian itu sangat jarang diketahui oleh manusia. Lebih dari itu, tidak sedikit manusia yang tidak mengetahui siklus penciptaan dirinya. Menurut Tanthawi Jawhari manusia merupakan makhluk yang senantiasa mengkonsumsi apa-apa yang ada di bumi dan di laut. Mereka memakan buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, bahkan daging. Semua itu dimakan oleh manusia dan diproses dalam tubuh manusia secara baik dan teratur, karena di dalam perut manusia terdapat mesin canggih yang mampu mengatur proses pencernaan makanan. Setelah semuanya terproses secara baik dan teratur, maka akan berubah menjadi darah. Kemudian dari darah itu berubah menjadi setetes air yang jernih (mani), dan dari mani (nuthfah) itu, maka lahirlah manusia baru, yakni bayi. Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa mani (nuthfah) adalah cikal bakal dari generasi baru.18

Dalam ayat di atas, Tanthawi Jawhari menjelaskan bahwa Allah Swt telah menciptakan manusia (Adam) dari keturunan yang berasal dari sesuatu yang keruh yakni dari tanah liat (lempung). Sesuatu yang keruh itu telah menjadikan sesuatu yang jernih, yakni Adam. Penciptaan tersebut telah digariskan Allah Swt, Tuhan Pencipta Alam Semesta dalam kitab-kitab terdahulu. Penciptaan manusia itu telah ditetapkan dan dipersiapkan sedimikian rupa oleh Allah Swt, sehingga kesuburan dan kehangatan sebagai tempat terciptanya manusia pun disiapkan secara matang-matang oleh Allah Swt, yakni rahim. Allah Swt telah menciptakan Adam sebagai manusia pertama sebagai sumber keturunan manusia pada periode selanjutnya. Cikal bakal manusia itu dijaga di dalam ruang yang kokoh dan

18 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 11, hlm. 94

(7)

hangat, lalu dilahirkanlah dari rahim tersebut dalam bentuk bayi kecil kemudian melahirkan keturunan hingga akhir zaman.19

Ayat di atas merupakan deskripsi penciptaan Nabi Adam yang tercipta dari sari pati tanah. Manusia itu seperti hewan, yang memiliki orang tua, demikian juga dengan manusia yang memiliki nenek moyang, yakni Nabi Adam a.s. Ketika Nabi Adam telah diciptakan di duia ini, maka secara otomatis manusia itu lahir dan terus berkembang, sehingga garis keturunannya pun tetap bersambung. Ayat ini juga menegaskan bahwa manusia terlahir dari keturunan manusia itu sendiri, bukan dari spesies yang lain.20 Ayat di atas adalah bukti sbahwa manusia berasal dari air karena apa-apa yang menjadi makanan untuk kelangsungan hidupnya berawal dari air.

Berkaitan dengan pembahasan diatas terdapat argument mengemukakan bahwa kata al-Insan digunakan dalam al-Quran untuk menunjukkan proses kejadian manusia sesudah Adam. Kejadiannya mengalami proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna dalam rahim (QS. An-Nahl/16: 78 dan QS. Al- Mu‟minun/23: 12-14). Penggunaan kata al-Insan dalam ayat ini mengandung dua makna, yaitu: pertama, makna proses biologis yaitu berasal dari saripati tanah melalui makanan yang dimakan manusia sampai pada proses pembuahan. Kedua, makna proses psikologis (pendekatan spiritual), yaitu proses ditiupkan ruh-Nya pada diri manusia, berikut sebagai potensi yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia.21

Senada dengan pembahasan proses penciptaan manusia, pendapat lain mengatakan bahwa “sulala” merupakan bahasa Arab yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti saripati, bagian penting atau terbaik dari sesuatu.

Implikasi lain, itu berarti “bagian dari keseluruhaan”. Ini menunjukkan bahwa al- Quran merupakan ucapan dari suatu yang mempunyai kemauan yang mengetahui

19 Ibid, hlm. 97

20 Tanthawi Jawhari, Al-Jawahir, Ibid, hlm. 97

21 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat press, 2002), hlm. 15

(8)

penciptaan manusia sampai rinciannya yang terkecil. Ini adalah kemauan Allah Swt, sang Pencipta manusia.22

Sementara itu, Ahmad Baiquni berkomentar dalam bukunya yang berjudul Al- Quran dan llmu Pengetahuan Kealaman terkait dengan proses penciptaan manusia. Menurutnya, unsur-unsur kimiawi hidrogen, karbon, nitrogen, oksigen yang terkandung didalam gas-gas yang keluar dari tanah merupakan awal dari segala kehidupan di bumi (kemudian unsur-unsur kimiawi lain yang berada di tanah seperti posfor, kalsium, besi, dan lainnya ikut memainkan peranannya).

Unsur-unsur tersebut merupakan penyusun biomolekul atau molekul-molekul kehidupan. Oleh karena itu, semua makhluk hidup tidak terkecuali manusia, diciptakan dari unsur-unsur kimiawi yang ada di bumi.23

Dilihat dari proses penciptaannya, al-Quran menyatakan proses penciptaan manusia dalam dua tahapan yang berbeda, yaitu tahapan primordial dan tahapan biologi. Manusia pertama adalah Nabi Adam a.s, ia diciptakan dari al-Thin (tanah), al-Turab (tanah debut), min Shal (tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah Swt dengan seindah-indahnya, kemudian Allah Swt meniupkan ruh dari-Nya kedalam diri manusia tersebut (QS.

al-An‟am/6:2, al-Hijr/15: 26, 28, 29, al-Mu‟minun/23: 12, al-Rum/30:20, ar- Rahman/55:4).24

Lebih lanjut membahas persoalan proses penciptaan manusia, Salman Harun memaparkan bahwa ayat di atas, mendeskripsikan kejadian manusia pada umumnya secara panjang dan terperinci. Dinyatakan bahwa manusia tercipta dari sari pati (Extract) tanah basah, yaitu sperma dan ovum, kemudian menjadi zigot yang ditempatkan pada rahim. Kemudian berproses lagi menjadi embrio, fetus, dan janin. Hal demikian diakui oleh ilmu embriologi. Menurutnya, ayat di atas

22 Harun Yahya, Pesona Al-Quran, (Jakarta: Rabbani Press, 2002), hlm. 25

23 Achamd Baiquni, Al-Quran dan llmu Pengetahuan Kealaman, (Jakarta: Bakti Prima Yasa, 1996), hlm. 193

24 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Ibid, hlm. 15

(9)

merupakan penjelas bagi surat al-An‟am ayat 2, di mana ayat tersebut menjelaskan penciptaan manusia dari tanah basah.25















“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)” (Q. S. al-Mu‟minun/23: 13).

Kata nuthfah dalam potongan ayat di atas berarti mani, yakni setetes air yang jernih atau air mani (sperma). Menurut Tanthawi nuthfah ini merupakan cikal- bakal dari kejadian manusia setelah Adam di dunia ini.26 Oleh karena itu, ayat di atas merupakan penjelasan atas proses penciptaan manusia umum, bukan penciptaan Nabi Adam. Dengan kata lain, manusia setelah Nabi Adam tercipta dari setetes air jernih bernama mani (sperma). Sebagai manusia pertama di muka bumi, Nabi Adam dan Siti Hawa memakan apa-apa yang ada di bumi, baik tumbuh-tumbuhan, sayur mayur, buah-buahan, daging maupun yang lainnya.

Kemudian apa yang dimakannya itu lama kelamaan akan berubah menjadi darah.

Setelah menjadi darah kemudian menjadi nuthfah. Dalam hal ini, baik Nabi Adam maupun Siti Hawa sama-sama memiliki nuthfah. Ketika nuthfah keduanya telah bercampur dan tersimpan dalam ruang yang kokoh dan hangat bernama rahim, lalu setelah beberapa bulan lamanya nuthfah tersebut mengalami perubahan secara bertahap dan teratur, yang pada akhirnya menjadi manusia kecil bernama bayi. Dengan demikian, secara tidak langsung al-Quran mendeskripsikan penciptaan manusia dengan cara yang menakjubkan.27

Berdasarkan analisis penulis dalam Tafsir Al-Jawahir, maka dapat dipahami bahwa surat Al-Mu‟minun ayat 13 mendeskripsikan bahwa manusia tercipta dari spesies yang sama, yakni manusia itu sendiri. Manusia pertama kali diciptakan berawal dari nuthfah atau setetes mani yang disimpan pada suatu tempat yang sangat kuat dan menghangatkan nuthfah tersebut yakni rahim. Kokoh dan

25 Salman Harun, Mutiara al-Quran, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 26

26 Tanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi tafsir…, Ibid, Jilid 11, hlm. 94

27 Ibid, Jilid 11, hlm. 94

(10)

hangatnya rahim perempuan telah dikhabarkan dalam kitab-kitab terdahulu dan ditetapkan di lauhil mahfudz. 28

Nuthfah dalam ayat di atas berarti hasil pertemuan antara satu sel atau lebih dari sperma laki-laki yang memancar dan ovum atau sel telur di rahim perempuan. Menurut ilmu kedokteran, dari ribuan sel mani yang dipanmcarkan biasanya hanya satu sel yang mampu menerobos dan bertemu dengan ovum.

Akan tetapi, apabila sel yang berhasi bertemu dengan ovum itu lebih dari satu, maka akan terjadi bayi kembar.29

Senada dengan pembahasan ayat di atas, dikatakan bahwa kata nutfah dalam Q. S. al-Mu‟minun/23:13 itu semakna dengan kata yang terdapat dalam surat al Hajj/22: 5 yang berbicara tentang asal mula kejadian manusia. Ayat tersebut ditafsirkan ulama bahwa Adam sebagai manusia pertama diciptakan dari Thin.

Sedangkan anak cucu dan manusia keturunannya diciptakan dari nuthfah (air mania tau sperma).30 Sementara itu, kata ganti (dhamir) Hu yang terdapat dalam kata Ja‟alnaahu pada ayat di atas yang berarti “Kami jadikan ia” ditafsirkan oleh para ahli tafsir sebagai anak Adam, yakni manusia. Penafsiran serupa ini memberi kesan kepada kita bahwa proses penciptaan Adam dan manusia itu berbeda, yakni Adam diciptakan dari thin sedangkan anak-anaknya diciptakan dari air mani.31 Sementara itu, Abdul Halim Soebahar mengatakan bahwa dalam konteks reproduksi manusia perspektif Islam, maka dapat dikatakan bahwa nuthfah merupakan titik awal dari proses reproduksi yang selanjutnya berproses menjadi manusia sempurna.32























“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan

28 Tanthawi Jawhari, Al-Jawahir, Ibid, hlm. 97

29 Departemen Agama RI, al-Quran dan Tafsirnya, Ibid, Jilid VI, hlm. 476

30 Juhaya S. Paraja, Tafsir Hikmah, Ibid, hlm 187

31 Ibid, hlm. 187

32 Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm.

38

(11)

larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat”. (Q. S.

Al-Insan/76: 2).

Ayat di atas menjelaskan bagaimana proses awal penciptaan manusia setelah Nabi Adam. Akan tetapi, sebelum penulis menggali pemaknaan ayat di atas, terlebih dahulu penulis mengemukakan komentar Tanthawi Jawhari pada ayat sebelumnya terkait dengan penciptaan Adam. Menurutnya, Adam pertama kali diciptakan oleh Allah Swt dari thin tanah biasa (tanah yang belum terkontaminasi oleh apa pun termasuk air). Proses ini memakan waktu selama empat puluh tahun lamanya. Kemudian dengan rentang waktu yang sama (empat puluh tahun) Allah Swt menciptakan hama‟ masnun (tanah liat berwarna hitam yang telah dibentuk).

Setelah itu Allah Swt menciptakan al-Fakhkhar yang memakan waktu selama empat puluh tahun lamanya. Setelah melalui tiga masa yang lama, kira-kira seratus dua puluh tahun lamanya, maka terciptalah Adam sebagai makhluk pertama sekaligus bapak dari manusia yang hidup di dunia ini. Dikatakan bahwa seratus dua puluh tahun itu tidaklah sama dengan lama waktu yang telah kita pahami sekarang. Karena waktu yang kita pahami sekarang ini sangat berbeda dengan waktu yang dimaksud dengan Tuhan. Bahkan manusia sendiri tidak mampu menjangkau atau memingkirkan seberapa lama Nabi Adam diciptakan.

Hal ini disebabkan, sangat lamanya waktu yang ditempu untuk menciptakan manusia pertama.33

Sementara itu, pada ayat di atas dijelaskan bahwa manusia tercipta dari setetes air mani (sperma) yang bercampur. Maksudnya adalah percampuran dua nuthfah menjadi satu, yakni nuthfah laki-laki dan perempuan (sperma dan ovum) yang tersimpan dalam ruang yang kokoh, hangat dan aman. Dalam rahim perempuan, nuthfah tersebut mengalami perubahan secara terus menerus dan bertahap, yang pada akhirnya akan lahir calon manusia baru di dunia ini. Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa manusia pada umumnya merupakan wujud dari

33 Thantawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 24, hlm. 310

(12)

percampuran dua nuthfah (sperma dan ovum) yang tersimpan dalam rahim perempuan.34

Nuthfah itu merupakan salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Allah Swt meletakkan unsur nuthfah itu dalam bahan makanan yang senantiasa dikonsumsi oleh manusia itu sendiri. Misalnya, buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, sayur mayur, daging dan lain sebagainya. Dengan demikian, Apa-apa yang dimakan oleh seorang ibu dan bapak, suami dan istri mengandung unsur-unsur yang dapat menghasilkan nuthfah. Bahan makanan yang senantiasa dikonsumsi oleh manusia itu bersumber dari tanah atau bumi. Oleh karena itu, masuk akal jika dikatakan bahwa manusia pertama kali diciptakan dari tanah, sebagaimana penciptaan Nabi Adam yang tercipta dari tanah liat.

Pada hakikatnya, penciptaan manusia pertama (Nabi Adam) dengan penciptaan manusia pada umumnya memiliki keterkaitan yang sangat erat, dimana Adam sebagai manusia pertama diciptakan dari thin (tanah), sedang proses penciptaan manusia pada umumnya adalah dari nuthfah. Kemudian nuthfah yang merupakan cikal bakal manusia pada umumnya itu terdapat dalam bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh manusia setiap hari, seperti, sayuran, buah-buahan, daging, dan lain sebagainya. Sementara sayuran, buah-buahan, daging dan lain sebagainya berasal dan terdapat dalam tanah. Demikian keterkaitan dan kesesuaian proses penciptaan Nabi Adam (sebagai manusia pertama) dengan penciptaan manusia pada umumnya dalam al-Quran. Bukan sebaliknya, tidak sistematis dan tidak beraturan. Pendapat tersebut, menurut penulis merupakan pendapat yang gegabah dan sembrono. Dengan tanpa pengetahuan yang memadai mereka, para orientalis men-just al-Quran secara liberal dan tidak berdasar. 35

Berkenaan dengan ayat di atas, Menurut Quraish Shihab, redaksi nutfah amsyaj dalam potongan ayat di atas, tidak sepadan dalam hal mufrad dan

34 Tanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 24, hlm. 310

35 Ibid, hlm. 310

(13)

jamaknya. Padahal kedua kata itu berkedudukan sebagai sifat dan mausuf, sedangkan bahasa Arab menyesuaikan sifat dengan yang disifatinya. Jika mausuf berbentuk tunggal maka sifatnya juga harus berbentuk tunggal, dan seterusnya.

Kalau dianalisis nutfah berbentuk tunggal sedangkan amsyaj berbentuk jamak.

Dalam hal ini, al-Quran seolah terlihat melenceng dan tidak sesuai dengan aturan ilmu nahwu, namun dibalik semua itu al-Quran jauh lebih cerdas dalam menyusun kalimatnya. Singkatnya, ada misteri dibalik kata-kata al-Quran. Para pakar bahasa Arab menyatakan bahwa jika sifat berbentuk jamak dari mausuf yang berbentuk tunggal, maka sifat tersebut mengandung makna mencakup seluruh bagian-bagian kecil dari mausufnya. Dalam hal nutfah maka sifat amsyaj bukan sekedar bercampurnya dua hal sehingga menyatu, tetapi percampuran demikian mantap sehingga mencakup seluruh bagian dari nutfah tersebut. Nutfah amsyaj itu sendiri merupakan hasil percampuran sperma dan ovum yang masing- masing memiliki 46 kromosom.36

Sehubungan dengan kata nuthfah, al-Ghozali mengatakan bahwa pembentukan merupakan suatu proses yang timbul di dalam materi yang cocok untuk menerima ruh. Materi itulah yang merupakan sari pati tanah liat Nabi Adam sebagai cikal bakal dari keturunannya. Cikal bakal atau sel benih (nuthfah) ini yang semula tanah liat, pada akhirnya menjadi manusia setelah melewati proses tertentu. Peniupan nuthfah oleh cahaya ruh kedalam badan merupakan

“penghidupan”. Pada tingkatan ini dibutuhkan dua prasyarat gala yang perlu bagi setiap makhluk hidup. Pertama, kemurahan hati Allah Swt sehingga segala sesuatu menjadi ada. Kedua, keadaan tubuh sebagai penerima anugerah dan rela menjadi pribadi tertentu.37

Pemknaan kata nuthfah dalam al-Quran, sepadan dengan kata main mahiin (Q. S. Al-Mursalat/77: 20)dan main dafiq (Q. S. Al-Thariq/86: 6). Istilah yang pertama merujuk pada tempat keluarnya air itu sebagai tempat yang hina, alat genitalia, suatu organ yang juga berfungsi untuk membuang urine. Sedangkan

36 Nanang Gojali, Manusia Pendidikan dan Sains, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 110

37 Dawam Rahardjo, Insan Kamil, (Jakarta:Pustaka Grafitipres, 1987), hlm. 83

(14)

istilah yang kedua menunjukkan proses masuknya nuthfah (sperma) ke dalam rahim.38













































“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain.

Maka Maha sucilah Allah Swt, Pencipta yang paling baik”. (Q. S. Al- Mu‟minun/23: 14)

Kata „alaqah, mudghah, idzam, dan lahma secara berurutan disebut dalam ayat di atas. Dalam ayat di atas dijelaskan mengenai tahapan-tahapan atau fase- fase penciptaan manusia pada umumnya. Dikatakan bahwa manusia telah diciptakan Allah Swt dari setets air yang jernih (nuthfah) dan pengertiannya pun telah diulas secara detail pada ayat-ayat sebelumnya. Adapun kata „alaqah dalam potongan ayat di atas berarti segumpal darah yang sudah mengeras. Setelah nuthfah itu tersimpan dalam rahim, lama kelamaan akan berubah menjadi darah, semakin hari darah tersebut mengeras, sehingga menjadi gumpalan darah.

Gumpalan darah inilah yang dimaksud dengan „alaqah (dalam bahasa tafsir al- Jawahir adalah sepotong darah yang mengeras dan menempel dalam diding rahim).39

Para ulama terdahulu memaknai kata „alaqah sebagai “segumpal darah”, tetapi penelitian ilmiah kekinian cenderung mengartikan kata „alaqah tersebut sebagai sesuatu yang bergantung atau menempel pada dinding rahim. Menurut para pakar embriologi, setelah terjadi pembuahan yaitu bertemunya sperma dan ovum dalam rahim, membentuk nuthfah dan bergerak menuju dinding rahim, dan

38 Kementrian Agama, Penciptaan Manusia, (Jakarta: Kemenag RI, 2012), hlm. 81

39 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 11, hlm. 94

(15)

pada akhirnya menempel atau bergantung di sana, inilah yang disebut „alaqah dalam al-Quran.40

Makna dari kata mudghah adalah mengunyah. Oleh karena itu, kata mudghah dalam potongan ayat di atas dapat diartikan sebagai sepotong daging yang berukuran kecil, sekiranya dapat dimamah atau dikunyah di dalam mulut manusia. Mudghah ini merupakan proses kelanjutan dari „alaqah..41 „Idzamah adalah tulang belulang. Setelah Allah Swt menjadikan segumpal daging („alaqah), kemudian Allah Swt memberikan tulang belulang ke dalam tubuh si jabang bayi.

„Idzamah ini merupakan salah unsur bagian dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk menguatkan. Tulang juga melindungi organ-organ penting tubuh manusia.

Tulang juga merupakan tempat melekatnya daging-daging yang terdapat pada tubuh manusia. Dengan kata lain, tulang belulang itu dibalut oleh daging-daging, daging inilah yang dimaksud dengan lahama. Dengan demikian, proses penciptaan manusia itu melalui beberapa tahapan yang oleh al-Quran dijelaskan secara jelas dan gamblang.42

Sementara itu, pendapat lain mengatakan bahwa Kata „alaqah pada potongan ayat di atas memiliki banyak arti, antara lain segumpal darah atau sejenis cacing yang terdapat di dalam air, bila diminum dapat melengket di tenggorokan. Kata

„alaqah akar katanya „aliqa yang berarti “tergantung” atau melengket. Al-Quran menggunakannya dalam konteks uraiannya tentang reproduksi manusia untuk makna terakhir ini. Yaitu ketika nutfah tersebut melengket di dinding rahim.

Dalam hati kita tentu bertanya, “darimana Muhammad Saw memperoleh informasi yang demikian akurat, padahal hakikat ilmiah ini baru ditemukan oleh ilmuan setelah seribu tahun lebih dari kedatangan beliau. Nabi Muhammad adalah seorang yang ummiy, tidak pandai membaca dan menulis. Itulah wahyu Allah Swt yang Maha mengetahui yang disampaikan-Nya kepada hamba pilihan-Nya.43

40 Departemen Agama RI, al-Quran dan Tafsirnya, Ibid, Jilid V, hlm. 476

41 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 11, hlm. 94

42 Ibid, hlm. 94

43 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, (Bandung: Miizan, 2000), hlm. 170

(16)

Pendapat lain tentang „alaqah, dikatakan bahwa „alaqah merupakan bentuk pra-embrionik yang terjadi setelah percampuran sperma dan ovarium. Moore dan Azzindari mengemukakan bahwa „alaqah dalam bahasa Arab berarti lintah (leech), suatu suspensi (suspended thing), atau segumpal darah (a clot of blood).

Lintah merupakan binatang tingkat rendah, berbentuk seperti buah pir dan hidup dengan menghisap darah. Ternyata sifat dan bentuk lintah dapat diterapkan pada

„alaqah. Jadi „alaqah adalah suatu stadium embrionik yang berbentuk seperti buah pir, ketika sistem cardiovaskular (sistem pembuluh jantung) sudah mulai tampak, dan hidupnya tergantung pada darah ibunya. „Alaqah terbentuk sekitar 24-25 hari sejak pembuahan. Jika jaringan praembrionik ini digugurkan maka ia akan tampak seperti segumpal darah.44

Embrio berubah bentuk dari tahapan „alaqah ke permulaan tahapan mudghah pada hari ke 24-26. Waktunya relatif lebih cepat dari pada perubahan dari tahap nutfah ke „alaqah. Proses yang demikian cepat itu tampak dari penggunaan kata

“Fa‟” dalam surat al-Mu‟minun yang dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan keberiringan.45

Berkaitan dengan tahap mudghah, Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa mudghah adalah sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran.

Sedangkan Ar-Raghib Al-Asfihani mendeskripsikan bahwa mudghah adalah sepotong daging seukuran sesuatu yang dikunyah dan belum masak.46

Pada akhir minggu ke-6, terbentuk tulang-tulang yang merubah penampakan secara drastis menjadi mirip manusia. Kemudian mnggu ke-7 bentuk manusia makin nyata dengan bermulanya pembentukan kerangka. Masa ini sekitar hari ke- 40 hingga ke-45 adalah garis batas yang membedakan masa mudghah dan bentuk manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa masa antara hari ke-40 hingga 45

44 Kemenag, Penciptaan Manusia, Ibid, hlm. 87

45 Ibid, hlm. 88

46 Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm.

41

(17)

adalah hari-hari yang sangat penting bagi perkembangan embrio. Pada waktu itu embrio berubah bentuk menjadi bentuk manusia.47

Masa pembentukan otot ditandai dengan pembalutan otot dan daging terhadap tulang-tulang. Dengan selesainya masa pembalutan tulang dengan lahm (otot dan daging) bentuk manusia semakin jelas. Otot mengambil posisi disekeliling tulang disekujur tubuh. Dengan demikian kata “memberi pakaian” kepada tulang yang digunakan dalam ayat al-Quran adalah tepat adanya.48

Pembungkusan tulang oleh otot dan daging merupakan babak baru dalam perkembangan anak manusia. Seiring usainya proses myogenesis (pembentukan otot) embrio mulai dapat bergerak. Masa ini yang dimulai akhir minggu ke-7 dan berakhir pada akhir minggu ke-8 dianggap sebagai babak akhir pembentukan embrio, atau dalam bahasa arab diseut dengan takhalluq. Akhir fase embriologi ini segera diikuti dengan fase dimulainya dengan perkembangan janin, yang dalam al-Quran dibahasakan dengan nasy‟ah atau perkembangan.49

Dari penjelasan Imam Tanthawi Jawhari dalam tafsirnya tentang surah al- Mu‟minun ayat 14 di atas, maka dapat dipahami bahwa manusia mengalami tahap-tahap atau fase perkembangan untuk kearah bentuk yang sempurna. Hal demikian dikuatkan dengan hadis Rasulullah yang berbunyi:

“Dari Abdullah, bahwasnya Rasulullah Sa bersabda: “Sesungguhnya salah satu diantara kalian diciptakan dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian dalam waktu empat puluh hari itu menjadi segumpal darah, lalu (empat puluh hari berikutnya) menjadi segumpal daging, (empat puluh hari berikutnya) malaikat turun untuk meniupkan ruh kepada janin itu”. (HR. Muslim)

Berdasarkan hadis di atas, maka dapat dipahami bahwa proses penciptaan manusia itu terdiri atas 4 tahap atau fase perkembangan yakni tahap nuthfah,

47 Kemenag, Penciptaan Manusia,Ibid, hlm. 89

48 Ibid, 90-91

49 Ibid, hlm. 91

(18)

tahap alaqah, tahap mudghah dan tahap peniupan ruh. Secara tegas hadis di atas menjelaskan bahwa proses penciptaan manusia didalam kandungan ibunya itu terjadi setiap empat puluh hari sekali. Penciptaan setelah empat puluh hari pertama berbentuk nuthfah dan empat puluh hari berikutnya berturut-turut terciptalah „alaqah kemudian mudghah. Dalam hal ini ulama sepakat bahwa pada hari keseratus dupuluh sejak awal penciptaan manusia di dalam perut ibu, manusia diberi ruh. Penciptaan ini erat kaitannya dengan sistem hukum perkawinan.50

Allah Swt meniupkan ruh di dalamnya dan menjadikan hewan yang dapat berbicara, mendengar, melihat dan Kami tampakkan keasingan-keasingan di dalamnya. Kemudian dikumpulkan semua anggotanya yang dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut jika dianalogikan dengan ukuran jengkal tangan, maka panjangnya sekitar 8 jengkal hingga 10 jengkal. Ukuran jengkal tangan itu sering dianalogikan oleh masyarakat Mesir sebagai petunjuk baik tidaknya nasab seseorang. Oleh karena itu, orang-orang Mesir terdahulu mengetahui ilmu-ilmu tersebut.51

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa ketika Allah Swt meniupkan ruh kepada manusia dengan dianugerahi daya pemikiran yg luar biasa maka nampaklah sebuah keistimewaan manusia. Allah Swt merakit dan merancang anggota badan manusia dengan beberapa bagian. Bagian tersebut sekitar 8 sampai 10 jengkal yang setiap jengkal itu diibaratkan sebagai satu anggota tubuh manusia.

Berkaitan dengan penciptaan manusia dalam perut ibu terdapat bukti konkret di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/

50 Juhaya S Praja, Tafsir Hikmah, Ibid, hlm 189

51 Tanthawi Jawhari, Al-Jawahir, Ibid, hlm. 97

(19)

membungkus anak dalam rahim). Hal demikian ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah Swt di dalam al-Quran.52

Ketuaan itu merupakan hal yang pasti dialami oleh setiap manusia. Dan sungguhnya ketuaan itu mengarah pada sudut panjang setiap tulang rusuk dan panjang tulang rusuk tersebut mencapai 1000 jengkal tangan manusia. Ketuaan itu dianalogikan atas ukuran peredaran matahari, panjangnya diturunkan padanya dan dari perhitungan tua itu menjadikan ukuran besar dan timbangan besar.

Begitu pun literan, ons-nan, uang dan apa yang menyerupai hal tersebut. Semua itu dibangun atas kiasan ketuaan tersebut. Begitu pun satuan luas yang diqiaskan oleh mereka dengan kiasan selian kondisi ukuran panjang dan dia diletakkan dalam keadaan tua renta. Allah Swt menyebutkan semua itu dalam firman-Nya Q.

S. al-Rahman/55: 7 dan 8 yang menjelaskan bahwa Allah Swt telah meninggikan dan menciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan tersebut. Ayat ini menjelaskan tentang keajaiban ilmu-ilmu dalam dunia sistem dan bagaimana menjadikan sejengkal tangan manusia pada asal tempat pengkiasan dan bagaimana kami menakar, menimbang, menjual dan membeli di pasar. Tidak ada pengetahuan pada manusia bahwasanya mengkiaskan, menimbang, menakar dengan apa yang menjadi hasil dari sejengkal tangan- tangan manusia yang telah ditentukan kadarnya oleh Allah Swt pada manusia dalam rahim dan menjadikan semuanya dalam pertanggungjawabannya.53

Kemudian Allah Swt menciptakan makhluk lain dan Allah Swt menjadikan anak dengan sejajar, kemudian duduk, berdiri, berjalan lalu menyapih, makan dan minum hingga mencapai pemahaman yang mendalam dan memikirkan negara.54

Dilihat dari penafsiran Imam Tanthawi Jawhari mengenai Surat Al-Mu‟minun di atas maka dapat dipahami bahwa ketika beliau menafsirkan ayat tersebut masa saat itu telah berkembang dan maju dalam IPTEK. Hal demikian dapat dibuktikan

52 Iin Tri rahayu, Psikoterapi Perspektif Islam dan Psikologi Kontemporer, (Malang: UIN Malang Press, 2009), hlm. 11

53 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir, Ibid, hlm. 97

54 Ibid, hlm. 98

(20)

dengan pemaparan Imam Tanthwi akan analogi ketuaan manusia dengan ukuran peredaran matahari.

Imam Tanthawi juga berusaha mendeskripsikan bahwa penciptaan manusia berkaitan dengan peranan tanah dan air di dalamnya. Keduanya merupakan unsur yang urgen dalam pembentukan manusia. Beliau bersikap layaknya mufassir yang mengkomparasikan pandangan tekstual dan kontekstual akan awal terciptanya manusia di bumi.

Pandangan penulis sendiri mengiyakan dan senada terhadap apa yang dipaparkan oleh Imam Tanthawi tentang penciptaan manusia dalam surat Al- Mu‟minun di atas. Hal demikian karena, merujuk pada firman Allah berikut.









14. Padahal Dia Sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian[1519].

Setelah menganalisis lebih jauh akan munasabah kedua ayat tersebut, penulis berargument bahwa terdapat keterkaitan antara surat Al-Mu‟minun ayat 12-14 dengan surat Nuh ayat 14. Dimana pengertian beberapa tingkatan kejadian adalah relevan dengan penjelasan dalam surat Al-Mu‟minun. Secara langsung, Surat Al- Mu‟minun diatas merupakan bayan dari surat Nuh ayat 14 tersebut.

C. Proses Penciptaan Manusia dalam Surat Al-Hajj









































































































(21)





































“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh- tumbuhan yang indah”. (Q. S. Al-Hajj/22: 5)

Menurut Tanthawi Jawhari, ayat di atas merupakan jawaban sekaligus sanggahan bagi orang-orang yang ragu terhadap hari kebangkitan. Al-Quran dengan cerdasnya menjawab keraguan tersebut dengan menceritakan proses penciptaan manusia. Menurutnya, manusia tercipta dari tanah, yang dari unsur tersebutlah manusia pertama (Nabi Adam) diciptakan. Kemudian Allah Swt menciptakan manusia berikutnya dari mani‟, sedang mani itu terdapat dalam intisari atau sari pati tanah. Allah Swt meletakkan unsur mani (nuthfah) dalam bahan makanan yang biasa dikonsumsi manusia. Sementara bahan makanan itu tumbuh dan berkembang dari tanah. Allah Swt menciptakan tubuh manusia dari darah yang tumbuh dari bahan makanan sampai pada tanah. Kemudian setelah itu, Allah Swt menciptakan manusia dari darah yang membeku dan keras, kemudian menjadi segumpal daging yang diciptakan dengan sempurna dan tidak sempurna.

Diciptakan dengan sempurna maksudnya ialah didalamnya tidak ada kekurangan dan tidak ada cacat, Allah Swt juga menciptakan dengan tidak sempurna.

Tahapan-tahapan ini Allah Swt menerangkan kepada kalian akan adanya hikmah dan teraturnya tahapan-tahapan tersebut. Allah Swt juga telah menetapkan dalam rahim yakni sesuatu yang tumbuh sampai waktu yang telah ditentukan yakni

(22)

enam bulan sampai 4 tahun, dan Allah Swt tidak mengugurkan apa yang telah tumbuh dalam rahim. Kemudian Allah Swt mengeluarkan bayi dari rahim tersebut.55

Pembentukan organ-organ penting dalam surat al-Hajj ayat 5 diklasifikasikan menjadi mudghah, mukhallaqah, dan mudghah ghairu mukhallaqah, atau yang terbentuk secara sempurna dan cacat atau tidak terbentuk. Berdasarkan paradigma kedokteran dalam setiap cc (centimeter cubic) air mani terdapat seratus juta bibit manusia yakni spermatozoa. Bentuk dari spermatozoa seperti jarum pentul, kepala besar, dan berekor panjang yang dapat digerak-gerakkan untuk berenang. Seorang lelaki yang sehat dalam sekali bersenggama mampu mengeluarkan sebanyak dua setengah cc air mani atau 250 juta spermatozoa.56

Dari penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa al-Quran merupakan buku pedoman umat Islam yang senantiasa memberikan petunjuk dan pelajaran dalam sendi ayat-ayatnya. Ia mampu menjawab semua keraguan manusia terhadap keotentikannya, sehingga dideskripsikanlah proses penciptaan manusia secara detail dan mendalam. Seiring dengan perkembangan dan kecanggihan teknologi, maka semakin terungkaplah pelajaran-pelajaran dan keajaiban- keajaiban al-Quran, yang salah satunya adalah kejaiban tentang proses penciptaan manusia. Meskipun al-Quran bukan kitab ilmiah, namun memuat peristiwa- peristiwa ilmiah yang yang relevan dengan penemuan dan penelitian para ilmuan saat ini.

Dalam proses penciptaan manusia secara bertahap itu, bukanlah hampa dari makna. Proses penciptaan manusia yang bertahap itu memiliki dua makna.

Pertama, makna dari hal sebuah pembelajaran atas suatu cara atau metode mendidik dalam beramal, mengambil hikmah dari tahapan-tahapan tersebut.

Kedua, bahwasanya Allah Swt menetapkan manusia dalam rahim sampai manusia itu lahir, kemudian berkembang sampai usia dewasa atau mengerti hukum dan

55 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir Fi Tafsir…, Ibid, Jilid 6, hlm. 4

56 Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm.

39

(23)

mengetahui hal yang baik dan buruk. Selain itu, makna dari proses manusia secara bertahap tersebut tidak lain sebagai penjelasan, penerangan dan pengetahuan terhadap manusia.57

Adanya pentahapan dalam proses penciptaan manusia itu dimaksudkan agar manusia menyadari dan mengetahui bahwa al-Quran memuat pengetahuan tentang ilmu alam. Secara umum, mengetahui dan mempelajari ilmu-ilmu alam merupakan suatu keharusan (wajib). Namun, keharusan tersebut bukanlah fardhu

„ain, melainkan keharusan yang cukup dilaksanakan oleh sebagian orang saja (fardhu kifayah) dan Allah Swt memberikan penjelasan-penjelasan dalam al- Quran termasuk penjelasan tentang ilmu alam. Melalui penciptaan manusia itu, Allah Swt bermaksud mendidik manusia pemilik akal yang sempurna mengenai tingginya petunjuk yang termuat al-Quran. Apabila di antara milyaran manusia ada yang dimatikan karena ajal yang telah menemuinya, maka akan dimatikan seketika itu juga. Demikian juga dengan manusia yang lanjut usia, maka ia akan dikembalikan pada keadaan semula. Maksudnya manusia akan dikembalikan seperti keadaan awal yakni lemahnya akal, sedikit pengetahuan, pemahaman dan lupa akan ilmu. Dan hal ini menunjukkan pada tempat pembangkitan karena perubahan yang berturut-turut itu menunjukan suatu perubahan yang berkesinambungan, ketika seseorang mati maka akan hidup kembali. Satu hal yang patut dipahami bahwa bahwa hujjah (pandangan dan pendapat) ini terbukti dengan terkelupasnya mata ketika mengembuskan nafas terakhirnya saat mendekati kematian.58

Dalam sebuah ayat dijelaskan, sesungguhnya kami menyaksikan sesuatu yang berlawanan dilahirkan dari lawannya, seperti kebagusan tumbuh dari kejelekan, keadilan tumbuh dari kecurangan, bangun tumbuh dari tidur, tidur tumbuh dari bangun, kekuatan tumbuh dari kelemahan dan begitupun sebaliknya kelemahan tumbuh dari kekuatan, maka sebagian perkara mustahil atas sebagian perkara lainnya. Kemudian perkara itu dikembalikan dengan sifat kehendak sesuatu yang

57 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir, Ibid, Jilid 6, hlm. 4

58 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir, Ibid, Jilid 6, hlm. 4

(24)

ada pada perkara tersebut. Kehidupan, kematian, ada dan tiada merupakan sesuatu yang berlawanan. Ada itu tumbuh dari yang tidak ada, kematian tumbuh dari kehidupan dan kehidupan tumbuh dari kematian.59

Jika diperhatikan akan adanya dalil tentang Saqarath (hembusan nafas terakhir pada suatu kehidupan setelah mati, sebelum al-Quran dengan umpama 900 tahun yakni metode turunnya wahyu, maka al-Quran merupakan sebuah pertunjuk terhadap akal orang-orang muslim dan membuka pintu pemahaman orang-orang muslim. Kemudia al-Quran berkata: “Saya (al-Quran) tidak ingin mengajari kalian dengan wahyu yang kosong, akan tetapi saya akan membukakan untuk kalian pintu sebagai petunjuk-petunjuk akal”, dan inilah yang dimaksud dengan penjelasan Allah Swt terhadap dalil al-Quran. Kemudain disebutkan dalil lain sebagai persaksian untuk manusia, maka Allah Swt berfirman: “Lihatlah oleh kalian bumi yang mati kering, dari api-api yang redup maka jadilah dingin. Ketika kami menurunkan air (hujan) diatasnya, maka tumbuh suburlah bumi tersebut dan menumbuhkan setiap jenis tumbuhan yang indah mengagumkan.60

Manusia mengalami daur masa bayi (daurush-shiba), masa anak-anak (dauruth-thufulah atau daurul ghulam), masa remaja dan pemuda (daurusy- syaikhukhah) hingga akhirnya lemah dan wafat. Ia mengalami proses evolusi dan siklus: lemah-kuat-lemah (dhu‟fun-quwwatun-dhu‟fun) sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut.61

Dari ulasan di atas, maka dapat dipahami bahwa melalui ayat tersebut Allah Swt menyapa manusia dan menerangkan bahwa mereka diciptakan dari tanah, kemudian berproses dari zigot sampai janin. Ayat tersebut juga menyebutkan bahwa proses penciptaan tersebut ada yang sempurna dan ada juga yang tidak sempurna. Kemudian manusia lahir menjadi kanak-kanak dan tumbuh menjadi dewasa. Dari proses pertumbuhan itu, lalu ada yang meninggal dan ada pula yang diberi usia lanjut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ayat di atas merupakan sapaan bagi seluruh manusia. Selain itu, ayat tersebut juga telah

59 Ibid, hlm. 5

60 Ibid, hlm. 5

61 Juhaya S, Praja, Tafsir Hikmah, Ibid, hlm 192

(25)

menjelaskan proses penciptaan manusia secara spektakuler, di mana ia mengilustrasikan dari awal kejadian manusia lahir ke dunia sampai manusia itu lenyap dari muka bumi ini (meninggal).62

M. Quraish Shihab menelaah redaksi teks Qs Al-Mu‟minun/23: 12-14 dan surah Al-Hajj, kemudian beliau memberikan ksimpulan bahwa proses kejadian manusia menurut Al-qur‟an ada 5 tahap. Tahap-tahap yang dimaksud adalah Nuthfah, „alaqah, mudghah, idzam dan lahm. Akan tetapi hadis riwayat Muslim mengemukakan bahwa ada 6 tahap reproduksi, yaitu: (1) tahap nuthfah, yang berupa menyatukan unsur sperma dan ovum dan keduanya menjadi zat baru dalam rahim wanita (2) tahap „alaqah merupakan tahap penting di mana nuthfah tersebut telah bergantung atau melekat pada dinding rahim wanita, (3) tahap mudghah, yaitu pembentukan organ-organ penting yang dalam surah Al-hajj ayat 5 terklasifikasi menjadi mudghah mukhallaqah dan mudghah ghairu mukhallqah, (4) tahap idham yang merupakan elemen atau bahan dalam mudghah dan kemudian membentuk tulang belulang, (5) tahap lahm, yakin tahap di mana reproduksi telah mencapai tahap eemen mudghah tersebut yang berwujud daging segar, (6) tahap ditiupnya ruh dalam diri janin manusia.63

Apabila teks Qs Al-Mu‟minun ayat 12-14, Qs Al-Hajj ayat 5 dan hadis riwayat Imam Muslim diatas dikaji secara detail maka terlihat jelas tahapan produksi manusia diciptakan dari tanah (dengan berbagai jenisnya) dan pada produksi manusia berkembang dalam kandungan ibu menurut evolusi nuthfah (40 hari), „alaqah (40 hari), dan mudghah yang mengandung elemen idzam dan lahm (40 hari), dan setelah empat bulan perkembangan sejak nuthfah dihembuskan kedalam ruh atau jiwa oleh Allah Swt.64

Jadi manusia terdiri dari dua unsur pokok, yakni unsur materi dan unsur immateri yang berupa ruh, jiwa, yang berasal dari alam immateri atau alam al-

62 Salman Harun, Mukjizat al-Quran, Ibid, hlm. 24

63 Abdul Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Ibid, hlm. 38

64 Soebahar, Wawasan Baru…, Ibid, hlm. 42

(26)

Ghaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali ke tanah, sedangkan jiwa akan kembali ke alam immateri alam ruhani atau alam ghaib.65

Ketika menganalisis penafsiran yang ditampilkan oleh Imam Tanthawi terhadap surat Al-Hajj ayat 5 di atas maka dapat diketahui betapa semangatnya beliau dalam memberikan alasan akan kewajiban manusia dalam studi kealaman dengan akal fikirannya. Imam Tanthawi mendeskripsikan kejadian manusia mengapa tercipta dan berakhir dari sebuah zat renik yg berukran kecil yakni turab.

Secara tidak langsung, Imam Tanthawi juga mengemukakan bahwa air memiliki peranan dalam awal kehidupan di bumi, tidak terkecuali manusia. Dan yang paling terlihat jelas adalah pemahaman yang ditawarkan Imam Tanthawi tentang penciptaan manusia hakikatnya merujuk pada kekuasaan Allah dalam mengatur apa yang seharusnya terjadi pada alam semesta.

Penafsiran Imam Tanthawi menurut penulis memang benar bahwa manusia tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Alasannya dengan menilik lebih jauh akan firman Allah berikut.

























17. dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,

18. kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

Menurut hemat penulis, terdapat munasabah antara surat Al-Hajj ayat 5 dengan surat Nuh ayat 17-18 di atas, keduanya saling menguatkan bahwa memang manusia adalah berasal dari tanah. Awal tercipta dari tanah dan akan kembali pada bumi, menjadi tanah.

65 Ibid, hlm. 42

(27)

Pada hakikatnya, Imam Tanthawi mengemuakan manusia adalah makhluk yang dalam proses penciptaannya tak terlepas dari unsur air dan tanah. Pandangan tersebut penulis searah dengan Imam Tanthawi. Untuk lebih memahami bahwa peranan air mampu menghidupkan segala sesuatu termasuk manusia, kita dapat melihat penafsiran yang terkandung dalam Surat Al-Anbiya ayat 30. Secara gamblang dapat diketahui bahwa manusia berawal dari air.

D. Proses Penciptaan Manusia dalam Surat al-Mu’min/40: 67































































“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”. (Q. S. Ghafir/40: 67)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt telah menciptakan manusia dari tanah dengan penciptaan bapak manusia yakni Adam dengan unsur-unsur makanan seperti tumbuhan dan hewan yang semuanya berasal dari tanah, kemudian dari unsur-unsur makanan tersebut jadilah mani, segumpal darah, daging dan keluarlah anak. Hal tersebut telah dijelaskan dalam surat al-Hajj dan al-Mu‟minun, kemudian manusia tumbuh dan berkembang hingga dewasa, lalu menjadi tua. Di antara kalian ada yang dimatikan sebelum tua dan ada juga yang dikembalikan sampai tua, supaya kamu mengerti terhadap apa-apa yang dalam pikiran kalian tentang putaran waktu yang selalu berganti dan berlalu. Sesungguhnya peljaran ini akan mencapai pada apa yang diraba dan dipikirkan oleh manusia tentang dirinya sendiri.66 Dari komentar Imam Thantawi di atas, maka dapat dipahami

66 Thanthawi Jawhari, al-Jawahir, Ibid, hlm. 21

(28)

bahwa al-Quran secara lengkap siklus kehidupan manusia dari awal sampai akhir.

Dengan bahasa yang singkat, padat, lugas, namun penuh makna, al-Quran mengilustrasikan siklus manusia, mulai dari proses penciptaan Nabi Adam, kemudian proses penciptaan manusia setelah Nabi Adam. Setelah itu, al-Quran menceritakan fase kanak-kanak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Demikian gambaran al-Quran atas siklus hidup manusia dari awal sampai akhir.

Lebih lanjut mengupas persoalan penciptaan manusia, Tanthawi dalam tafsirnya mengemukakan bahwa ayat di atas merupakan deskripsi penciptaan manusia pertama, yakni Nabi Adam, yang dari Nabi Adam tersebut kemudian lahir generasi penerus yakni manusia secara umum. Kata turab pada potongan ayat di atas memiliki implikasi bahwa Nabi Adam sebagai manusia pertama di dunia telah diciptakan dari tanah yang kering. Sedangkan kata nuthfah memiliki implikasi bahwa manusia setelah Nabi Adam diciptakan dari setetes air jernih bernama mani. Kemudian tersebut terus berkembang menjadi „alaqah (sepotong darah yang mengeras dan menempel pada dinding rahim). Kemudian setelah melalui beberapa proses dan tahapan, maka lahirlah manusia sebagai generasi penerus dari manusia pertama (Nabi Adam).67 Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa dari sesuatu yang satu kemudian berkembang menjadi beberapa manusia, dari beberapa manusia kemudian berkembang menjadi banyak manusia.

Akan tetapi, proses penciptaannya manusia pertama (Nabi Adam) dengan proses penciptaan manusia berikutnya berbeda.

Tidak hanya itu, al-Quran juga secara gamblang menjelaskan fase atau siklus kehidupan manusia dari awal sampai akhir, mulai dari ia dilahirkan didunia, sampai ia diberikan usia lanjut oleh Allah Swt. Demikian jelasnya al-Quran menjelaskan fase-fase kehidupan manusia, mulai dari proses awal kejadiannya, kelahirannya, masa kanak-kanaknya, masa remaja, dewasa hingga lanjut usia.

Meskipun dengan bahasa yang singkat dan padat, akan tetapi penuh dengan

67 Ibid, Jilid 19, hlm. 46-47

Referensi

Dokumen terkait

Tabel 5, menunjukkan ada penurunan tekanan darah diastolik antara kelompok treatment dan kelompok kontrol dan secara statistik menunjukkan ada perbedaan yang bermakna

Tujuan dari penggunaan perangkap dari bahan keong yang dibusukkan tersebut adalah untuk mengalihkan perhatian dari walang sangit tersebut karena dengan perangkap

Janganlah kita menipu diri kita sendiri dengan berpikir, “Bagi saya mendengar Firman-Nya saja sudah cukup!” 23 Karena siapa yang hanya mendengar ajaran Allah tetapi tidak

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pembcntukkan , kedudukan, tugas pokok, fungsi dan struktur organisasi Dinas Daerah, bahwa dinas daerah yang

Rajah 1.1 menunjukkan dapatan kajian yang diperolehi berdasarkan soalan ‘hormat menghormati dan menolong kaum lain ketika dalam kesusahan adalah tanggungjawab pelajar’

Tahap dalam penelitian ini adalah dengan pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, yaitu mengamati basis data akademik mahasiswa prodi Farmasi UMP dari 5 tahun

Kehadiran organisasi kemasyarakatan ditengah-tengah masyarakat merupakan manifestasi dari gerakan sosial di Indonesia. Pada era orde baru, organisasi kemasyarakatan diatur

Prinsip Kerja Mesin Ayakan Gula Semut ini adalah mengunakan tenaga motor listrik untuk kemudian memutar bandul yang terhubung langsung dengan poros motor dengan tujuan