5
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Fasilitas Pembelajaran
a. Pengertian Fasilitas Belajar
Menurut pendapat Dimyati dan Mudjiono (1999;24) fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana pembelajaran. Prasana meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olahraga, tempat ibadah, ruang kesenian dan peralatan olahraga. Sarana prasana meliputi buku pelajaran, buku bacaaan, alat dan fasiliotas laboratorium sekolah dan berbagai media pembelajaran, yang lain.
Sedangkan menurut H.M Daryanto (2006;51) secara etimologi fasilitas terdiri dari sarana dan prasana belajar, bahwa sarana belajar adalah alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya lokasi atau tempat, bagunandan lain-lain, sedangkan prasana adalah alat yang tidak langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya, ruang buku, perpustakaaan, labolatorium dan sebagainya.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar adalah adalah sarana dan prasana yang digunakan untuk menunjang kengiatan belajar untuk mencapai tujuan pendidikan.
b. Macam-macam fasilitas belajar
Fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang kelancaran proses belajar baik di rumah maupun di sekolah. Dengan adanya fasilitas belajar memadai untuk kelancaran dalam belajar akan dapat terwujud.
6
Kaitannya dengan fasilitas belajar, Slameto (2003;63) mengemukakan bahwa ; Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, buku-buku dan lain-lain. Fasilitas belajar itu hanya akan dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang.
Berdasarkan pengertian diatas dapat diketahui bahwa fasilitas belajar erat kaitannya dengan kondisi ekonomi orang tua siswa. Dengan kondisi orang tua yang baik, maka orang tua akan lebih mempunyhai kemampuan untuk mencukupi kebutuhan anaknya termasuk dalam hal penyediakan fasilitas di rumah yang memadai. Begitu juga pemenuhan kelengkapan fasilitas di sekolah. Jika sekolah mempunyai kemampuan keuangan yang baik, maka kelengkapan fasilitas penunjang kengiatan belajart siswa dapat terpenuhi dengan baik. Semakin lengkap fasilitas belajar, akan semakin mempermudah dalam melakukan kengiatan belajar.
Sebagaimana dikemukakan oleh S. Nasution ( 2005;76 ) bahwa ; Untuk memperbaiki mutu pengajaran harus di dukung oleh berbagai fasilitas, sumber belajar, dan tenaga pembantu antara lain di perlukan sumber-sumber dan alat- alat yang cukup untuk memungkinkan murid belajar secara individual.
Dengan demikian, adanya fasilitas belajar yang lengkap diharapkan akan terjadi perubahan, misalnya dengan sekolah menyediakan fasilitas belajar yang lengkap, siswa akan lebih bersemangat dalam belajar, siswa tidak perlu meminjam ataupun menggantungkan tugasnya pada temannya karena ia dapat mengerjakan tugasnya sendiri dengan bantuan fasilitas yang telah disediakan. Ketersediaan
7
fasilitas belajar yang lengkap dan memadai juga merupakan indikasi atau syarat menjadi sekolah yang efektif. Sekolah yang efektif itu sendiri menurut Leivne dalam Burhanuddin dan Furqon ( 2008 ) dapat diartikan sebagai sekolah yang dapat menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan dalam penyelenggarakan proses belajarnya. Dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada peserta didik sesuai dengan tugas pokoknya.
pada akhirnya konsep sekolah efektif ini berkaitan langsung dengan mutu kinerja sekolah. Sebagaiman dikemukakan oleh Satori dalam baharuddin dan furqon (2008), bahwa mutu pendidikan (MP) di sekolah merupakan fungsi dari mutu imput peserta didik yang ditunjukkan oleh potensi siswa (PS), mutupengalaman belajar yang ditunjukan oleh kemampuan profesional guru (KP), mutu pengguanaan fasilitas belajar (FB), dan budaya sekolah ( BS ), yang merupakanrefleksi mutu kepemimpinan kepala sekolah. Penyataan tersebut dapat dirumuskan dalam formula sebagai berikut: MP=f(PS,KP,FB,BS).
Fasilitas yang dimaksud dalam pernyataan tersebut adalah menyangkut ketersedian hal-hal yang dapat memberikan kemudahan bagi perolehan pengalaman belajar yang efektif dan efesien. Fasilitas yang sangat penting adalah laboratorium yang memenuhi syarat bengkel kerja, perpustakan, komputer, dan kondisi fisik lainnya yang secara langsung mempengaruhi kenyaman belajar.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya fasilitas belajar yang lengkap dan memadai merupakan salajh satu faktor dari mutu kinerja sekolah yang efektif. Sekolah akan menjadi sekolah yangmempunyai mutu baik jika dalam penyelenggaraan pelaksanaan kengiatan belajarnya tidak
8
hanya didukung oleh potensi siswa dan kemampuan guru dalam mengajar ataupun fasilitas belajar siswa yang memadai sehingga penggunaannya akan menunjang kemudahan siswa dalam kengiatan belajarnya.
Dalam keputusan Menteri P dan K No. 079/1975, fasilitas belajar terdiri dari 3 kelompok besar yaitu:
1. Bangunan dan perabot sekolah
Bangunan di sekolah pada dasarnya harus sesuai dengan kebutuhan pendidkan dan harus layak untuk ditempati siswa pada proses kengiatan belajar mengajar di sekolah. Bangunan sekolah terdiri atas berbagai macam ruangan.
Secara umum jenis ruangan ditinjau dari fungsinya dapat dikelompokkan dalam ruang pendidikan untuk menampung proses kengiatan belajar mengajar baik teori maupun praktek, ruang administrasi untuk proses administrasi sekolah dan berbagai kengiatan kantor, dan ruang penunjang untuk kengiatan yang mendukung proses kengiatan belajar mengajar. Sedangkan perabot sekolah yang pada umumnya terdiri dari berbagai jenis mebel, harus dapat mendukung semua kengiatan yang berlangsung di sekolah, baik kengiatan mengajar maupun kengiatan administrasi sekolah.
2. Alat Pelajaran
Alat pelajaran yang dimaksud disini adalah alat peraga dan buku-buku bahan ajar. Alat peraga berfungsi untuk memperlancar dan memperjelas komunikasi dalam proses belajar mengajar antara guru dan siswa. Buku-buku yang digunakan dalam kengiatan belajar mengajar biasanya terdiri dari buku pengangan, buku pelengkap, dan buku bacaan.
9 3. Media Pengajaran
Media pengajaran merupakan sarana non personal yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar yang memengang peranan dalam proses belajar untuk mencapai tujuan intruksional. Media pengajaran dapat dikategorikan dalam media visual yang menggunakan proyeksi, media auditif dan media kombinasi.
2. Hasil belajar siswa
Hasil belajar adalah kemampuan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa selatah menerima pengalaman belajarnya, (Sudjana, 2004;22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya membagi 3 macam hasil belajar yaitu:
(1) keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengarahan, (3) sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004;22).
Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah kemapuan keterampilan, sikap dan keterampilan, yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan guru sehingga dapat mengkontruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni, faktor dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana 1989;39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa, perubahan kemampuan yang dimiliki seperti yang dikemukakan oleh Clark ( 1981;21 ) menyatakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhioleh kemampuan siswa dan 20% dipengaruhi oleh lingkungannya. Demikian juga faktor dari luar siswa yakni lingkungan yang paling dominasi berupa kualitas pembelajaran ( Sudjana 2002;39).
10
“ Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya”. ( Ali Muhammad 2004;14). Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sedangkan apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil.
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimilik guru, artnya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif ( Intelektual ) bidang sikap ( afktif ) dan bidang pemikiran ( psikomotorik).
Dari beberapa pendapat diatas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam diri individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar siswa yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut di nyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan, kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspekkehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penelian terhadap sikap, pengetahuan, dan kecakapan dasr yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secar kuantitatif.
B. Kajian yang Relevan
Hasil penelitaian Nur cahyo Aridhianto (2015) dengan judul Analisis Kondisi Fasilitas Dan Motivasi Belajar Siswa Kelas Atas Sekolah Dasar Se- Gugus II Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini
11
bertujuan untuk menganalisis kondisi fasilitas dan motivasi belajar siswa kelas atas se gugus II kecamatan samigaluh, kabupaten kulon progo. Penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 126 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket berskala likert dan lembar observasi kondisi fasilitas belajar untuk menguatkan hasil penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 37 siswa (29,4%) menilai tingkat fasilitas belajar termasuk kategori tinggi, 78 siswa (61,9%) menilai kategori sedang , dan 11 siswa (8,7%) menilai kategori rendah. Hasil analisis motivasi belajar tinggi, 84 siswa (66,7 %) sedang, dan 2siswa (17,4 %) rendah. Hasil analisis motivasi belajar siswa menujukkan bahwah sebanyak 2 siswa ( 15,9 % ) memiliki motivasi belajar tinggi, 84 siswa ( 66,7% ) sedang, dan 22 siswa ( 17,4% ) rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi belajar fasilitas dan motivasi belajar siswa kelas atas sekolah dasar se gugu II kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo termasuk kategori sedang.
12 C. Kerangka Pikir
Kerangka pikir dalam penelitian inidapat disajikan dalam gambar 1.
Gambar 3.1 Kerangka pikir Siswa kelas IV SD Lowokwaru
II Kota Malang
Fasiltas Pembelajaran
Hasil Belajar