• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Surabaya, 25 Oktober Penyusun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Surabaya, 25 Oktober Penyusun"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Sejarah Sastra | Angkatan Pujangga Baru 1

KATA PENGANTAR

Segala Puji kami haturkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas ijin dan karunia-Nyalah kami dapat menyusun makalah Sejarah Sastra yang berjudul “ Angkatan Pujangga Baru “ ini, dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.

Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan pembuatan makalah sederhana kami ini, terutama kepada Ibu Dr. Heny Subandiyah, M. Hum. , selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Sastra yang telah memberi kami bimbingan dalam mengerjakan makalah kami.

Makalah ini disusun dengan berdasarkan beberapa sumber yang telah kami rangkum sedemikian rupa, hingga menjadi suatu kumpulan informasi yang jelas dan sederhana sehingga memudahkan para pembaca.

Sesuai dengan judulnya, dalam makalah ini dibahas tentang seluk beluk periode sastra Angkatan Pujangga Baru, yang terbagi menjadi tiga bab utama yaitu Bab I (Pendahuluan), Bab II (Pembahasan), dan Bab III (Penutup), dan beberapa sub-bab pada setiap bab-nya.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberi wawasan khusus tentang Angkatan Pujangga Baru dan bernilai guna bagi siapapun yang membacanya.

Surabaya, 25 Oktober 2013

Penyusun

(2)

PENYUSUN

KELOMPOK II

“ Angkatan Pujangga Baru”

PB 2013

Nama Anggota :

- Annisa Ilma (132074053)

- Khoirun Ni’mah (132074081)

- Shella Wahyuni (132074040)

- Verica Putri R. A. (1320740) - Mirza Krisna G. P. (132074050)

- Anggraeni Ida P. (132074065)

- Lely Anggraini (132074058)

(3)

Makalah Sejarah Sastra | Angkatan Pujangga Baru 3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... 1

Daftar Penyusun ... 2

Bab I Pendahuluan - Latar Belakang ... 4

- Rumusan Masalah... 5

- Tujuan ... 6

Bab II Pembahasan - Sejarah ... 7

- Visi dan Misi... 9

- Ciri dan Karakteristik Karya Sastra ... 9

- Sastrawan dan Karya Sastra ... 11

- Sumbangan Angkatan Pujangga Baru ... 20

Bab III Penutup - Kesimpulan ... 22

Daftar Referensi... 23

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Kemajuan suatu zaman tidaklah lepas kaitannya dari sejarah pada zaman sebelumnya. Seperti kata cendekiawan pendahulu kita, bahwa orang-orang di masa sekarang perlu belajar dari orang-orang di masa lalu untuk menentukan masa depan mereka. Untuk itulah perlu bagi generasi di masa sekarang untuk mengkaji sejarah masa lampau sebagai referensi guna memajukan bidang kehidupan di masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan konsep yang sama, sebagai sastrawan pemula, kita perlu mempelajari sejarah sastra yang mencakup aspek-aspek penting dalam perkembangan sastra saat ini dan penentu kemajuan sastra di era selanjutnya. Maka pada makalah ini, akan dijelaskan mengenai seluk-beluk sejarah sastra periode “Angkatan Pujangga Baru”.

Terciptanya suatu angkatan di dalam kesusastraan selalu mendukung karakteristik tertentu. Karena itu jika pada suatu masa timbul suatu kelompok kerja yang mendukung karakteristik yang berbeda dari yang telah ada, hal ini dapat ditunjuk sebagai sebab timbulnya angkatan baru. Demikian pula dalam perjalanan kesusastraan kita.

Berdiri dan berkembangnya Angkatan Balai Pustaka ternyata disambung dengan berdiri dan berkembangnya Angkatan Pujangga Baru. Para pelopor Angkatan Pujangga Baru punya tekad bahwa bahasa dan kesusastraan Indonesia harus dibuat maju, berkembang, dan membawakan ciri keindonesiaan yang lebih merdeka, dinamis, dan intelektual.

Angkatan ini dimotori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armin Pane, lalu diperkuat oleh Sanusi Pane, Y.E. Tatengkeng, Asmara Hadi, dua pengarang wanita Selasih dan Fatimah H. Delais. Ketiga tokoh yang disebut terdahulu itu memiliki

(5)

Makalah Sejarah Sastra | Angkatan Pujangga Baru 5 berbagai tantangan zaman, karena merekalah yang selalu mengutamakan intelektualisme, materialisme, dan modernisasi. Kerja yang dinamik dan kreativitas Barat memiliki tokoh Faust yang berjiwa besar dan selalu bergelora dalam usaha menggapai kebahagiaan duniawi. Amir Hamzah dan Armijn Pane lebih berpaling pada dunia timur.

Keindonesiaan menurut mereka haruslah berakar pada budaya asli kita yang menyandarkan pada potensi kerohanian. Orang tidak perlu memburu materi atau menjadi materialistik karena menurut mereka, yang lebih hakiki ialah batin yang bahagia. Faktor perasaan jangan sampai ditinggalkan dan kehidupan akhirat pun harus pula dipikirkan.

Sanusi Pane menginginkan keseimbangan antara barat dan timur. Menurut Sanusi Pane, hendaknya cara berpikir Indonesia merupakan gabungan antara Arjuna yang suka mengolah kehidupan spiritual dan Faust yang memiliki semangat keduniaan yang tinggi.

Bila kedua tokoh itu digabung, maka terjadilah satu kehidupan yang seimbang dan paripurna. Jiwa-raga material spiritual terpenuhi secara seimbang. Angkatan Pujangga Baru banyak dipengaruhi Angkatan 80 (1880) dari Nederland. Menilik seri sifat keromantikan dan idealismenya, pendapat itu tidaklah berlebihan. Yang jelas para sastrawan pendukung Angkatan Pujangga Baru adalah orang-orang yang banyak membaca. Bacaan-bacaan yang digeluti tentang perkembangan sastra dunia. Para pengarang dan penyair pun tidak lagi menunjukkan dominasi Sumatera sebagaimana Angkatan Balai Pustaka. Kesadaran masyarakat untuk menghargai dan mengembangkan kehidupan kesusastraan cukup menyenangkan.

b. Rumusan Masalah

Makalah ini dibuat dengan berdasarkan beberapa rumusan masalah, yaitu : 1. Bagaimana sejarah munculnya periode angkatan pujangga baru ?

2. Siapa saja tokoh tokoh Angkatan Pujangga Baru?

3. Apa ciri-ciri atau karakterisik Angkatan Pujangga Baru?

4. Apa saja karya sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru?

c. Tujuan

Makalah ini dibuat dengan tujuan :

1. Mengetahui Sejarah Sastra Periode Angkatan Pujangga Baru

(6)

2. Mengetahui Ciri-ciri Sastra Angkatan Pujangga Baru

3. Mengenal Tokoh (Sastrawan-sastrawati) Angkatan Pujangga Baru 4. Mengetahu Karya Sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru

(7)

Makalah Sejarah Sastra | Angkatan Pujangga Baru 7

BAB II PEMBAHASAN

a. Sejarah Munculnya Angkatan Pujangga Baru

Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.

Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak"

sastra modern Indonesia. Angkatan Pujangga Baru (1930-1942) dilatarbelakangi kejadian bersejarah “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928. Ikrar Sumpah Pemuda 1928:

o Pertama : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

o Kedua : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

o Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Melihat latar belakang sejarah pada masa Angkatan Pujangga Baru, tampak Angkatan Pujangga Baru ingin menyampaikan semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia. Pada masa Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane, memunculkan dua kelompok sastrawan yaitu :

1. Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah

2. Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Majalah tersebut menjadi media pertemuan para penulis muda. Dalam dada para penulis muda hanya ada satu tekad dan modal, yaitu hasrat yang menyala-nyala (antusiasme). Pada tahun itu pula diedarkannya prospektus atau edaran tentang pendapat dan pendirian kesusastraan. Maka terbentuklah perkumpulan sastrawan muda yang menamakan dirinya Pujangga Baru. Pujangga Baru merupakan perjuangan untuk memajukan kesusastraan baru Indonesia sebagai Kader Kebudayaan Bangsa Indonesia, yang sesuai dengan jiwa baru bangsa Indonesia. Dengan lahirnya Pujangga Baru dimulailah kesusastraan Indonesia yang sebenarnya, dan kesusastraan Melayu di bumi

(8)

Indonesia pun berakhirlah. Pujangga-pujangganya terdiri atas berbagai suku bangsa yang mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perjuangan, bahasa untuk melahirkan perasaan dan pikiran, menuju cita-cita yang luhur yaitu kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Semangat yang mendorong lahirnya Pujangga Baru ialah: Perasaan ingin bebas merdeka, tidak terkungkung dalam melahirkan perasaan, kehendak, dan pendapat menurut gerak sukma dan jiwa masing-masing.

Jadi Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang- orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.

Barangkali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah maka dipakai istilah Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulisan- tulisannya pernah dimuat didalam majalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, suatu badan yang memang mempunyai perhatian terhadap masalah- masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan.

Sebenarnya para pujangga baru serta beberapa orang pujangga Siti Nurbaya sangat dipengaruhi oleh para pujangga Belanda angkatan 1880 (De Tachtigers). Hal ini tak mengherankan sebab pada jaman itu banyak para pemuda Indonesia yang berpendidikan barat, bukan saja mengenal, bahkan mendalami bahasa serta kesusastraan Belanda. Di antara para pujangga Belanda angkatan 80-an, dapat kita sebut misalnya Willem Kloos dan Jacques Perk. J.E. Tatengkeng, seorang pujangga baru kelahiran Sangihe yang beragama Protestan dan merupakan penyair religius sangat dipengaruhi oleh Willem Kloos.

Lain halnya dengan Hamka. Ia pengarang prosa religius yang bernafaskan Islam, lebih dipengaruhi oleh pujangga Mesir yang kenamaan, yaitu Al-Manfaluthi, sedangkan Sanusi Pane lebih banyak dipengaruhi oleh India daripada oleh Barat, sehingga ia dikenal sebagai seorang pengarang mistikus ke-Timuran.

Pujangga religius Islam yang terkenal dengan sebutan Raja Penyair Pujangga Baru adalah Amir Hamzah. Ia sangat dipengaruhi agama Islam serta adat istiadat Melayu. Jiwa Barat itu rupanya jelas sekali terlihat pada diri Sutan Takdir Alisyahbana. Lebih jelas lagi tampak pada Armijn Pane, yang boleh kita anggap sebagai perintis kesusastraan modern.

Pada Armijn Pane rupanya pengaruh Barat itu menguasai dirinya secara lahir batin.

Masih banyak lagi para pujangga baru lainnya seperti Rustam Effendi, A.M. Daeng Myala, Adinegoro, A. Hasjemi, Mozasa, Aoh Kartahadimadja, dan Karim Halim. Mereka

(9)

Makalah Sejarah Sastra | Angkatan Pujangga Baru 9 b. Visi dan Misi

Sebagai angkatan pengganti balai pustaka, angkatan pujangga baru hadir dengan membawa visi dan misi yang jauh berbeda dengan pendahulunya. Jika angkatan balai pustaka hadir untuk menggantikan karya-karya melayu lama yang terkenal cabul dan liar, maka berbeda dengan karya-karya pujangga baru yang bervisi-misikan kemajuan ke arah modernisasi dengan nilai juang. Berikut adalah visi dan misi utama dari angkatan balai pustaka.

1. Visi dan misi utama dari lahirnya angkatan pujangga baru adalah untuk memajukan perkembangan dari karya sastra indonesia.

2. Perkembangan karya sastra yang dimaksudkan oleh pujangga baru adalah menciptakan ciri-ciri keindonesiaan yang lebih merdeka dan berintelektual.

3. Menyampaikan gelora juang yang merdeka.

Pada masa perkembangan Angkatan Pujangga Baru karya-karya yang dihasilkan oleh para penulis golongan ini lebih bersifat idealisme tanpa harus mengurangi nilai-nilai romantisme yang terdapat di dalamnya. Karya-karya yang dihasilkan juga kebanyakan dipengaruhi oleh tulisan dan karya-karya yang dihasilkan oleh angkatan 1880 Belanda, yang pada masa itu memang lebih banyak mengambil tema-tema romantis realistik.

c. Ciri dan Karakteristik Karya Sastra

Secara keseluruhan, karya sastra pada masa Pujangga Baru, memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Dinamis

2. Bercorak romantik/idealistis, masih secorak dengan angkatan sebelumnya, hanya saja kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat pasif, sedangkan angkatan Pujangga Baru aktif romantik. Hal ini berarti bahwa cita-cita atau ide baru dapat mengalahkan atau menggantikan apa yang sudah dianggap tidak berlaku lagi.

3. Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern dan sudah meninggalkan bahasa klise. Mereka berusaha membuat ungkapan dan gaya bahasa sendiri. Pilihan kata, Penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan oleh Pujangga Baru sehingga dianggap terlalu dicari-cari

4. Ditilik bentuknya, karya angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri:

• Bentuk puisi yang memegang peranan penting adalah soneta, disamping itu ikatan-ikatan lain seperti quatrain dan quint pun banyak dipergunakan. Sajak jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi, kadang-kadang para Pujangga Baru mengubah sajak atau puisi yang pendek- pendek, cukup beberapa bait saja. Sajak-sajak yang agak panjang hanya ada beberapa buah, misalnya ”Batu Belah” dan ”Hang Tuah” karya Amir Hamjah.

• Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan, misalnya pada roman Layar Terkembangkarya Sutan Takdir Alisyahbana

(10)

• Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru dengan tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari sejarah dan ada pula yang semata-mata pantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.

Sedangkan pendapat lain, membedakan ciri karya sastra periode Angkatan Pujangga Baru menjadi dua aspek, yaitu ciri struktur estetik dan ciri ekstra estetik.

Ciri Struktur Estetik

• Bentuknya teratur rapi, simetris.

• Mempunyai persajakan akhir.

• Banyak menggunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain.

• Sebagai besar puisi empat seuntai. Tiap-tiap barisnya terdiri atas dua periodus dan terdiri atas sebuah gatra (kesatuan sintaktis). Tiap gatranya pada umumnya terdiri atas dua kata.

• Pilihan katanya menggunakan kata-kata pujangga atau bahasa nan indah

• Gaya ekspresinya beraliran romantik.

• Gaya sajaknya diafan atau polos, tidak mempergunakan kata-kata kiasan yang bermakna ganda.

Ciri Struktur Ekstra-estetik

• Masalahnya bersangkut-paut dengan kehidupan masyarakat kota, seperti masalah percintaan, masalah individu manusia, dan sebagainya.

• Ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan banyak mengisi sajak-sajak Pujangga Baru.

• Ide keagamaan menonjol.

• Curahan perasaan atau curahan jiwa tampak kuat : kegembiraan, kesedihan, kekecewaan, dan sebgainya.

• Sifat didaktis masih tampak kuat.

Dilihat kedua ciri struktur estetik dan ekstra estetik maka dapat diuraikan secara umum karaterisrik dari periode Angkatan Pujangga Baru.

1. Tema pokok ceritanya tidak lagi berkisar pada masalah adat, tetapi masalah kehidupan kota atau modern. Hal ini dapat kita ketahui pada karya Sanusi Pane yang bejudul “Manusia Baru”, pada karya Sutan Takdir Alisyabana yang berjudul “ Layar Berkembang” dan lain-lainnya.

2. Mengandung nafas kebangsaan atau unsur nasional. Hal ini terlihat dalam karyanya Asmara Hadi yan berjudul “ Dalam Lingkungan Kawat Berduri”, pada karya Selasih

Referensi

Dokumen terkait

Mengkosongka n semua data, lalu tekan tombol “Simpan” Jenis Layanan: (kosong) Kronologi: (kosong) Sistem akan menolak dan kursor berada pada data yang belum terisi Sesuai

saat ini di Bukittinggi menyebabkan RPJMD Kota Bukittinggi diubah melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2016

·          Semester VI mengambil mata kuliah Kewirausahaan, Keselamatan Proses, Pemisahan dgn membran, MKP 3, MKP 4, MKP 5. MK Pil I : Rekayasa Produk ; Teknologi

Selain itu dengan strukturnya yang multi-input multi-output (IVTJMO) menjadikan hubungan tersebut sangat sulit untuk dimodelkan secara matematis. Model matematik

Tujuan yang ingin dicapai adalah pengaturan strategi peningkatan upaya pencegahan pada populasi kunci, populasi umum, peningkatan penyediaan pelayanan konseling dan

Salah satu pemodelan yang dapat digunakan untuk menganalisis data runtun waktu spasial adalah model generalized space time autoregressive (GSTAR) dengan asumsi eror

Formulir Pemesanan Pembelian Unit Penyertaan beserta bukti pembayaran yang diterima secara lengkap dan disetujui oleh Manajer Investasi atau Agen Penjual Efek Reksa Dana yang

sampah yang didominasi oleh sampah sisa makanan. Hasil uji nilai kalor sampel sampah baik di Rusunawa maupun LPPU cenderung lebih tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh