• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA ORANG MINANGKABAU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARAKTERISTIK BAHASA INDONESIA ORANG MINANGKABAU"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Rona Almos, Reniwati, dan Noviatri Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Limau Manis, Padang, Sumatra Barat 25163

e-mail: [email protected]

Abstract

The Indonesian is multi spoken languages society. Besides speaking with the official language (bahasa Indonesia), they also speaking in their own mother language. The use of local languages or the mother tongue is preferably as second language. Therefore, the acquisition of Indonesian, especially for Minangkabau society is strongly influenced by the structure of the first language. This is called as dialect or style. Slang or style can be seen from the lingual units that used by the speakers of the language.

Lingual unit is a unit of language that carries meaning, both lexical and grammatical meaning. Unit lingual include morphemes, words, phrases, clauses, sentences, and discourse. In addition, there is another element which is the smallest unit in the language, segmental elements (phonemes) and supra-segmental elements (intonation).

The results of the data analysis showed that there are some unit lingual speech marking Indonesian Minang people, namely: elements of segmental and supra-segmental elements, phatic, and sentence structure. In term of segmental elements, I have found six phonemes in Minangkabau language that affects Indonesian, phonemes are: /e/, /p/, /s/, /k/, and /j/. Moreover, in supra- segmental elements it appears that there tends to tone up the filler constituent predicate function. In declarative sentences, tone up there on the last syllable. In interrogative sentences, tone up tens to present in interrogative qualifiers.

In imperative sentences, the intonation rising filler constituents tend be found in the predicate function, especially on the final syllable.

(2)

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat penutur yang multi bahasa. Selain menggunakan bahasa Indonesia, masyarakat penutur masih banyak menggunakan bahasa lain, salah satunya bahasa daerah. Bahasa daerah ini cenderung merupakan bahasa kedua. Oleh karena itu, dalam pemerolehan bahasa Indonesia, masyarakat bahasa, khususnya penutur masyarakat Minangkabau sangat dipengaruhi oleh struktur bahasa pertama ini. Inilah yang dinamakan dengan logat atau langgam. Logat atau langgam ini dapat dilihat dari satuan lingual yang digunakan oleh masyarakat penutur dalam bahasa. Satuan lingual adalah satuan kebahasaan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal. Satuan lingual tersebut meliputi morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Di samping itu, ada unsur lain yang merupakan satuan terkecil dalam bahasa, yaitu unsur segmental (fonem) dan unsur supra-segmental (intonasi). Hasil analisis data memperlihatkan ada beberapa satuan lingual yang menandai tuturan bahasa Indonesia orang Minang, yaitu: unsur segmental dan unsur supra-segmental , fatis, dan struktur kalimatnya. Dari segi unsur segmental ditemukan enam fonem bahasa Minangkabau yang mempengaruhi tuturan bahasa Indonesia yang digunakan penutur bahasa Minangkabau. Fonem-fonem tersebut adalah:/e/, /p/, /s/, /k/, dan /j/. Dari hal unsur supra- segmental terlihat bahwa intonasi naik cenderung terdapat pada konstituen pengisi fungsi predikat. Pada kalimat deklaratif, intonasi naik terdapat pada suku kata terakhir.

Pada kalimat interogatif, intonasi naik cenderung terdapat pada kualifikator interogatif. Pada kalimat imperatif, intonasi naik cenderung terdapat pada konstituen pengisi fungsi predikat, khususnya pada suku kata akhir.

Kata kunci: logat; fonem; segmental.

A. PENDAHULUAN

Indonesia kaya akan bahasa. Grimes (dalam Kaswanti Purwo, 2003) mencatat lebih kurang 706 bahasa di negara ini. Bahasa- bahasa ini kemudian dikenal sebagai bahasa daerah. Berdasarkan pada jumlah bahasa ini, negara Indonesia patut dijuluki sebagai negara multi-bahasa.

(3)

Sebagai negara yang berjulukan demikian, kehadiran bahasa penghubung sangat diperlukan. Indonesia termasuk bangsa yang sangat beruntung karena sudah lama memiliki dengan fungsi ini. Sekarang, bahasa itu dinamakan bahasa Indonesia (disingkat BI).

Kehadiran BI dapat mengatasi kesulitan dalam berhubungan antarmasyarakat bahasa. BI telah menyatukan masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasa (Halim, 1976).

Sekarang, kedudukan dan fungsi BI sudah mantap karena sudah dikukuhkan dalam Politik Bahasa Nasional. Salah satu dari kebijakan itu adalah penetapan BI sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan. Realisasi dari kebijakan ini sudah berjalan, bahkan sekolah-sekolah di perdesaan menggunakan BI sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran.

Media massa yang begitu semarak perkembangannya menjadikan BI sebagai media untuk menyampaikan berita, informasi, dan hiburan serta acara lainnya. Masyarakat di perdesaan pun sudah dapat menikmati kemajuan teknologi di media massa ini.

Kemajuan teknologi dan kebijakan bahasa nasional di atas membawa pengaruh positif terhadap BI. Daerah pemakai BI bertambah luas karena juga memasuki wilayah pemakai bahasa daerah. Penuturnya juga bertambah banyak. Masyarakat yang pada mulanya hanya bisa menggunakan bahasa daerah (selanjutnya disingkat BD) sekarang juga bisa berbahasa Indonesia.

Proses pemerolehan bahasa kedua (BI) ini tidaklah berlangsung dengan mudah. Penguasaan bahasa pertama, BD, sangat mempengaruhi pemerolehan BI. Corak daerah sangat kental dalam BI-nya dan secara serta-merta turut memperkaya BI.

BI menjadi bervariasi. Di dalam linguistik, variasi ini disebut dengan istilah aksen. Aksen menurut Kridalaksana (1993: 7) adalah variasi bahasa yang berbeda-beda dari bahasa standar,

(4)

terutama dalam pengucapannya. Kridalaksana menyatakan aksen dengan logat. Alwi dkk (2000: 3) mengembangkan pengertian logat dan memandangnya sebagai ragam bahasa yang dilihat dari sudut pandang penutur, tepatnya menurut standard daerah.

Oleh karena banyaknya BD, maka logat BI pun menjadi banyak, ada logat BI orang Batak, Jawa, Bali, dan logat BD lainnya. Dari logat dapat diterka daerah asal penutur.

Logat BD yang paling kentara terdapat pada bunyi. Sebagai contoh, logat bahasa Batak terdapat tekanan kata yang sangat jelas. Logat BI orang Jawa dan Bali mirip, karena terletak pada bunyi yang sama, yaitu bunyi /t/ (bunyi hambat dental bersuara) dan /d/ (bunyi hambat dental tak bersuara).

Logat BI orang Minangkabau juga terletak pada bunyi, tepatnya pada pelaksanaan bunyi /ə/ (vokal sedang-tengah) BI.

Bunyi ini tidak ada dalam sistem bunyi bahasa Minangkabau BM.

Bunyi ini dilafalkan sebagai /e/ (vokal sedang-depan) oleh orang Minangkabau. Kekhasan BI orang Minangkabau ini sudah banyak diketahui orang.

Apabila diperhatikan lebih cermat, logat BI orang Minangkabau tidak hanya terlihat pada bunyi. Masih banyak kekhasan BI dari suku ini. Perhatikanlah contoh berikut ini.

1) Sudah saya katakan tadi, saya tidak kemana-mana doh.

2) Jangan kamu habiskan lo semuanya, ndak.

Dalam BI, kalimat di atas akan berbunyi seperti ini.

1) Saya sudah katakan, saya tetap di sini.

2) Jangan kamu habiskan semuanya, ya!

Contoh-contoh di atas memperlihatkan adanya perbedaan struktur BI dengan BM. Lalu muncul pertanyaan, “Di mana letak perbedaanya?”

Bagi penutur BI yang bahasa ibu atau bahasa pertamanya bukan BM, mereka menganggap BI orang Minangkabau aneh.

Keanehan ini terutama terlihat pada kehadiran satuan-satuan

(5)

lingual seperti doh, lo, ndak, dan lai. Satuan lingual ini tidak ada dalam struktur BI ragam standar.

Setelah mencermati fenomena lingual berbahasa Indonesia orang Minangkabau, maka secara khusus pokok permasalahan tulisan ini adalah, “Satuan lingual BM apa sajakah yang menandai tuturan BI orang Minangkabau?”

Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan ini, perlu adanya beberapa pendekatan. Pendekatan yang digunakan untuk menjawabnya adalah teori yang berhubungan dengan konsep linguistik struktural, antara lain pendekatan di bidang fonologis dan morfologis.

Pendekatan di bidang fonologis digunakan untuk melihat unsur-unsur supra segmental yang senantiasa menandai tuturan BI orang Minangkabau. Pendekatan di bidang ini sangat berperan untuk mengetahui karakteristik berbahasa Indonesia orang Minangkabau.

Dari fenomena lingual khususnya dalam struktur BI orang Minangkabau ada kecenderungan hadirnya satuan-satuan lingual tertentu. Satuan lingual ini merupakan kekhasan struktur BI orang Minangkabau. Kekhasan ini diasumsikan sebagai kategori fatis. Kategori fatis ini merupakan salah satu kategori (kelas) kata.

Untuk itulah diperlukan pendekatan di bidang morfologi.

B. BAHASA MINANGKABAU DALAM KAJIAN ILMIAH Analisis mengenai karakteristik BI orang Minangkabau mencakup dua aspek, yaitu aspek satuan gramatikal dan aspek satuan supra segmental. Ramlan (1987: 28—29) menyebutkan bahwa satuan lingual adalah satuan-satuan kebahasaan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti lingual. Satuan-satuan lingual itu (selanjutnya istilah yang dikemukakan Ramlan ini yang digunakan) meliputi fonem, morfem, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.

(6)

Satuan lingual yang terkait langsung dengan tulisan ini hanya dua unsur satuan lingual, yaitu satuan lingual yang berupa fonem dan kata. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan arti. Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk bebas (Kridalaksana, 1993:

98). Kridalaksana pada bagian yang sama menyederhanakan pengertian kata ini sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri.

Kata mempunyai kategori. Kridalaksana (1986) membagi kelas kata atas 14 kategori. Salah satu dari kategori itu adalah kategori fatis. Kategori ini juga ditemukan dalam BM, bahkan cenderung muncul dalam tuturan BM. Oleh sebab itu, kategori ini relevan untuk dijadikan tuntunan kerja dalam pembahasan penelitian.

Menurut Kridalaksana (1986: 113—115), kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan atau mengukuhkan pembicaraan antara penutur dan mitra tutur.

Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri dari ragam lisan.

Oleh karena pada umumnya ragam lisan merupakan ragam non- standar, maka kategori fatis bahasa daerah atau dialek cenderung muncul.

Pada halaman yang sama, Kridalaksana menyebutkan bahwa bentuk-bentuk kategori fatis ini dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir kalimat. Selanjutnya, Kridalaksana membagi bentuk-bentuk kategori fatis atas beberapa bagian, yaitu kan, lah, ah, kok, dong, deh dan lain-lain.

C. SATUAN LINGUAL YANG MENANDAI TUTURAN BAHASA INDONESIA ORANG MINANGKABAU

Dalam menggunakan bahasa Indonesia, baik secara langsung maupun yang berupa terjemahan penutur, bahasa Minangkabau memiliki ciri-ciri khas dalam bertutur. Ciri-ciri tersebut dapat ditandai dengan munculnya bentuk-bentuk lingual tertentu

(7)

ketika penutur bahasa Minangkabau menggunakan bahasa Indonesia. Di antara bentuk-bentuk lingual yang menandai tuturan-tuturan tersebut adalah berupa unsur fonem, fatis, dan struktur.

1. Satuan Lingual yang Berupa Fonem

Di dalam BI terdapat enam fonem vokal. Keenam vokal itu adalah /a/, /i/,/u/,/ e/,dan /o/. Konsonan ada dua puluh tiga yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /s/, /z/, /f/, /v/, /š/, /x/, /h/, /n/,/ m/, /ŋ/, /ñ/, /r/, /l/, /w/, dan /y/. Di dalam BM ada lima fonem vokal yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, dan /o/.

Konsonan ada delapan belas yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/,/k/,/g/, /?/, /s/, /h/, /n/,/ m/, /ŋ/, /ñ/, /r/, /l/, /w/, dan /y/.

Berdasarkan deskripsi fonem di atas terlihat dengan jelas bahwa jumlah fonem bahasa Indonesia, baik fonem vokal maupun fonem konsonan, lebih banyak dari fonem bahasa Minangkabau. Perbedaan fonem tersebut terlihat pada beberapa fonem yaitu fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem-fonem yang tidak ada dalam BM tetapi ada dalam bahasa Indonesia yaitu fonem vokal /ə/ dan fonem konsonan /z/, /f/, /v/, /š/, dan /x/. Sebaliknya ada fonem yang ada dalam BM tetapi tidak ada dalam BI. Fonem tersebut adalah fonen konsonan /?/.

Perbedaan jumlah fonem kedua bahasa di atas berpengaruh dalam tuturan bahasa Indonesia yang digunakan penutur BM.

Fonem-fonem tersebut adalah (1) fonem /e/; (2) fonem /?/; (3) fonem /p/; (4) fonem /s/; (5) fonem /k/ dan; (6) fonem /j/.

a. Fonem /e/

Di dalam BI terdapat fonem /ə/ (vokal tengah, sedang, tidak bulat). Fonem ini tidak dijumpai dalam BM. Oleh karena itu, dalam tuturan yang mengandung fonem ini orang Minangkabau cenderung menggantikannya dengan fonem yang ada dalam bahasa Minangkabau, yaitu fonem /e/ (vokal depan, sedang, tidak bulat).

(8)

BIM BI 3) /membawa/ ‘membawa’ /məmbawa/

4) /sepeda/ ‘sepeda’ /səpeda/

5) /teras/ ‘teras’ /təras/

Semua data di atas memperlihatkan penggunaan fonem vokal /e/ penutur bahasa Minangkabau dalam bahasa Indonesia.

Seharusnya fonem yang digunakan adalah fonem vokal /ə/ ini dalam bahasa Minangkabau.

b. Fonem /?/

Fonem /?/ (glotal, hambat tidak bersuara) ini merupakan sebuah fonem dalam BM. Fonem ini cenderung muncul di akhir kata.

Dalam bahasa Indonesia, fonem ini berpadanan dengan fonem /k/ (velar, hambat, tidak bersuara). Akibatnya, suku kata yang terakhir dengan fonem /k/ bahasa Indonesia cenderung dilafalkan dengan fonen /?/ bahasa Minangkabau.

BIM BI

6) /belo?/ ‘belok’ /bəlok/

7) /nai?/ ‘naik’ /naik/

8) /baña?/ ‘banyak’ /banyak/

Data di atas memperlihatkan penggunaan fonem /?/ dalam tuturan bahasa Indonesia orang Minangkabau. Seharusnya fonem terakhir pada kata di atas berakhir dengan fonem /k/.

c. Fonem /p/

Fonem /p/ (bilabial, hambat, tidak bersuara) merupakan salah satu fonem konsonan BM. Fonem ini juga terdapat dalam bahasa Indonesia. Fonem ini berpadan dengan fonem /f/ (labiodental, frikatif, tidak bersuara) dan fonem /v/ (labiodental, frikatif, bersuara) bahasa Indonesia. Kedua fonem ini tidak ada dalam bahasa Minangkabau. Oleh karena itu, dalam tuturan BI orang Minangkabau, data yang mengandung kedua fonem ini selalu digantikan dengan fonem /p/. Penggantian fonem ini cenderung dijumpai dalam kata-kata pinjaman.

(9)

BIM BI

9) /poto/ ‘foto’ /foto/

10) /pilem/ ‘film’ /film/

11) /pitamin/ ‘vitamin’ /vitamin/

12) /tipi/ ‘televisi’ /telavisi/

Masing-masing data di atas menggunakan fonem /p/.

Seharusnya fonem ini dilafalkan dengan fonem /f/ dan /v/.

d. Fonem /s/

Baik BM maupun BI sama-sama memiliki fonem konsonan /s/

(alveolar, frikatif tidak bersuara). Dalam BM, tidak terdapat bunyi frikatif lainnya yang mirip dengan fonem /š/ (alveopalatal, grooved, tidak bersuara) BI. Oleh karena itu, untuk menggantikan bunyi ini orang Minangkabau menggunakan fonem yang sudah ada dalam bahasa mereka, yaitu fonem /s/.

BIM BI

13) /sukur/ ‘syukur’ /šukur/

14) /isarat/ ‘isyarat’ /išarat/

15) /masarakat/ ‘masyarakat’ /mašarakat/

16) /sah/ ‘syah’ /šah/

Keseluruhan data di atas memperlihatkan penggunaan fonem /s/. Fonem yang seharusnya digunakan adalah fonem /š/. Oleh karena fonem ini tidak ada dalam bahasa Minangkabau, maka penutur bahasa Minangkabau menggantinya dengan fonem yang sudah ada dalam bahasa Minangkabau, yaitu fonem /s/. Di sisi lain, ada beberapa data yang seharusnya menggunakan fonem /s/, tetapi tidak digunakan oleh penutur.

BIM BI

17) /komplek/ ‘kompleks’ /kompleks/

18) /tranper/ ‘transfer’ /transfer/

19) /tek/ ‘teks’ /teks/

(10)

e. Fonem /k/

Fonem /k/ (velar, hambat, tidak bersuara) terdapat baik dalam BI maupun dalam BM. Akan tetapi, fonem ini dalam BI merupakan realisasi dari dua fonem yang berbeda yaitu /k/ sendiri dan /x/.

Fonem /x/ ini tidak dijumpai dalam BM. Oleh karena itu, kata- kata yang mengandung fonem ini cenderung diganti dengan fonem /k/.

BIM BI

20) /kas/ ‘khas’ /xas/

21) /akir/ ‘akhir’ /axir/

22) /kusus/ ‘khusus’ /xusus/

Pada data di atas digunakan fonem /k/. Seharusnya masing-masing fonem /k/ pada data tersebut menggunakan fonem /x/.

e. Fonem /j/

Fonem /j/ (palatal, afrikatif, bersuara) dijumpai dalam BI dan BM. Selain merupakan fonem tersendiri, untuk data tertentu fonem ini dapat berpadanan dengan fonem /z/ (alveolar, frikatif, bersuara) bahasa Indonesia.

BIM BI

23)/jaman/ ‘zaman’ /zaman/

24)/jakat/ ‘zakat’ /zakat/

25)/jamrut/ ‘zamrut’ /zamrut/

Semua data di atas menggunakan fonem /j/. Fonem ini berpadanan dengan fonem /z/ BI. Dalam penggunaannya, kadang-kala fonem ini tidak digunakan secara konsisten. Artinya, fonem ini kadang-kadang direalisasikan fonem /j/ dan kadang- kadang dengan fonem /z/ atau fonem /s/.

2. Satuan Lingual Kategori Fatis

Dalam berbahasa Indonesia, penutur BM senantiasa memasukan satuan lingual kategori fatis (F) BM dalam pertuturannya.

(11)

Masuknya satuan lingual ini mengakibatkan BI orang Minangkabau memiliki kekhasan sendiri. Hal ini terdengar janggal bagi mitra tutur yang berbahasa Minangkabau, apalagi bagi penutur yang bahasa ibu dan bahasa pertamanya bukan BM.

Keadaan kebahasaan ini dapat dipahami karena BM sangat kaya dengan satuan lingual ini. Akibatnya, setiap tuturan orang Minangkabau senantiasa menggunakan satuan lingual ini dalam penuturan BM. Tanpa menghadirkan satuan lingual lain, tuturan orang Minangkabau terasa hambar, kurang ekspresif, dan kurang mengandung emosi.

Dari klasifikasi data yang telah dilakukan ditemukan a, da(h), ndak, mah, alah, tu, tu mah, tu a, dan gai doh. Berikut adalah deskripsi masing-masing penggunaan satuan lingual fatis tersebut.

a. Fatis a

Penggunaan fatis a dalam bahasa Minangkabau dapat berfungsi menegaskan dan menekankan pembicaraan antara penutur dan mitra tutur.

26) Mintak saya satu a.

‘Minta saya satu ya F.’

Penggunaan fatis a pada data di atas berfungsi untuk mempertegas permintaan tuturan terhadap mitra tutur. Tanpa kehadiran satuan lingual ini, penutur merasa apa yang dimintanya kepada mitra tutur kurang meyakinkan.

b. Fatis do(h)

Frekuensi penggunaan fatis ini cukup tinggi dalam tuturan BI orang Minangkabau. Dalam BM, fatis ini hanya digunakan dalam kalimat menafikan (kalimat ingkar). Fungsi fatis ini untuk menegaskan, meyakinkan, dan menekankan negasi.

27) Ndak ada saya meletakkanya di situ doh.

‘Bukan saya yang meletakkanya di situ F.’

Data (27) di atas`menggunakan fatis doh. Penggunaan fatis ini berfungsi untuk menegaskan negasi yang berupa bantahan

(12)

terhadap dugaan mitra tutur. Dengan hadirnya fatis ini, penutur merasakan bahwa ketidakpuasannya sudah tersampaikan kepada mitra tutur.

c. Fatis ndak

Fatis ndak ini memiliki kemiripan dengan fatis doh. Akan tetapi, selain fungsi untuk mempertegas penafian, fatis ndak juga berfungsi mengubah jenis dan makna kalimat, yaitu mengubah kalimat deklaratif menjadi kalimat interogatif sekaligus mengubah makna kalimat dari kalimat berita menjadi kalimat tanya.

(28) Usah kamu katakan pula sama uni kamu ndak!

‘Jangan sampaikan kepada kakak kamu ya F!’

Kehadiran fatis ndak dalam data (28) di atas berfungsi menegaskan larangan kepada mitra tutur agar tidak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan penutur.

(29) Cantik anak dia ndak?

‘Anak dia cantik, bukan F?’

Berbeda dengan data (29) di atas, kehadiran fatis ndak pada data (29) memiliki fungsi lain, yaitu mengubah kalimat deklaratif menjadi kalimat interogatif. Selain itu, makna kalimatnya juga berubah yang semula memberitakan sesuatu kepada mitra tutur menjadi menanyakan.

d. Fatis mah

Fatis mah cenderung hadir dalam kalimat deklaratif. Fatis ini berfungsi untuk menguatkan pertanyaan antara penutur dan mitra tutur.

(30) Kamu maunya perai saja mah.

‘Kamu maunya yang gratis-gratis saja F.’

Kategori fatis ini berfungsi untuk menegaskan pernyataan penutur tentang sifat yang dimiliki oleh mitra tutur. Pemunculan fatis ini dipicu oleh sifat mitra tutur yang kurang berkenan di hati mitra tutur.

(13)

e. Fatis alah

Fatis alah dapat berfungsi untuk menegaskan ketidakpercayaan penutur terhadap mitra tuturnya. Fatis ini juga cenderung hadir dalam kalimat ingkar.

(31) Alah, ota kamu saja itu mah.

‘F itu hanya bualan kamu saja.’

Contoh penggunaan fatis di atas jelas menunjukkan ketidakpercayaan penutur terhadap mitra tutur. Biasanya, penggunaan fatis ini cenderung ditunjukkan kepada mitra tutur yang sering berkata tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

f. Fatis tu

Fatis tu berfungsi untuk menekankan rasa tidak senang terhadap seseorang atau sesuatu benda yang tidak disenangi. Untuk konteks kalimat tertentu tu bisa pula beridentitas sebagai kata petunjuk atau demonstratif.

(32) Abang tu, dia-dia saja yang bersepeda dari tadi.

‘Dari tadi kakak (laki-laki) saja yang memakai sepeda.’

Penggunaan fatis tu pada data (32) di atas adalah untuk menekankan rasa kesal yang disertai dengan rasa kecewa penutur terhadap seseorang. Kekesalan ini muncul akibat penutur tidak pernah mendapat kesempatan untuk menggunakan sepeda.

g. Fatis tu mah

Fatis tu mah berfungsi untuk menekankan atau memperhalus pernyataaan penutur kepada mitra tutur. Perbedaan fungsi ini sangat ditentukan oleh intonasi tuturan.

(33) Iya pula tu mah. Ndak ingat saya tadi tu doh.

‘Ya, itu benar F. Saya tadi tidak ingat F.’

Penggunaan fatis tu mah berfungsi untuk memperkuat pernyataan yang disampaikan mitra tutur kepada penutur sebelumnya. Kadangkala tuturan di atas hadir tanpa fatis tu.

(14)

Akan tetapi, maknanya sudah berbeda, yaitu tidak bermakna memperkuat melainkan menguatkan saja.

h. Fatis do(h) a

Fatis ini juga muncul dalam kalimat pengingkaran. Kehadirannya berfungsi untuk mempertegas penafian terhadap pernyataan mitra tutur.

(34) Tidak ada saya punya do a ‘Saya benar-benar tidak punya F.’

Hadirnya fatis do a pada tuturan di atas membuat sangkalan atau bantahan yang disampaikan penutur kepada mitra tuturnya menjadi lebih tegas.

i. Fatis lai mah

Fatis ini berfungsi untuk memperkuat atau mempertegas keyakinan penutur terhadap pernyataan yang disampaikan oleh mitra tutur. Biasanya kehadiran fatis ini digunakan untuk ungkapan keraguan mitra tutur terhadap sesuatu objek yang sedang dibicarakan.

(35) Ya ini lai mah. Lupa kamu ya?

‘Ya benar yang ini lagi F. Kamu lupa ya?

Pemunculan fatis lai mah berfungsi untuk meyakinkan mitra tutur terhadap urutan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh penutur. Tuturan ini muncul karena mitra tutur masih meragukan kegiatan yang akan dilalukan berikutnya.

j. Fatis tu a

Fatis tu a berfungsi untuk menguatkan atau mempertegas penunjukan terhadap suatu benda atau kegiatan yang sebelumnya masih diragukan. Untuk menegaskan keraguan itu digunakan fatis tersebut.

(36) Kan iya tu a. Ndak juga kata kamu.

‘Benarkan F. Kata kamu tidak.

(15)

Fatis tu a pada data (36) di atas berfungsi untuk meyakinkan mitra tutur atas keraguannya tentang sesuatu yang menjadi objek pembicaraan.

k. Fatis gai doh

Sama halnya dengan doh, fatis gai doh juga hadir dalam kalimat penafian. Akan tetapi, maknanya agak berbeda. Fatis doh berfungsi untuk menegaskan, sementara fatis gai doh berfungsi untuk mempertegas.

(37) Ah, tidak ada gai doh.

‘Ah, itu bohong F.’

Penggunaan fatis gai doh pada data di atas berfungsi untuk mempertegas bantahan terhadap sesuatu yang disampaikan oleh mitra tutur. Dalam hal ini, penutur tidak percaya dengan apa yang disampaikan. Untuk mempertegas ketidakpercayaan tersebut, penutur menggunakan fatis di atas.

3. Struktur Bahasa Indonesia Orang Minangkabau

Ketika penutur BM berbahasa Indonesia, secara mudah orang dapat memprediksi bahwa penutur tersebut berasal dari penutur BM. Prediksi ini didasarkan atas kebiasaan orang Minangkabau dalam berbahasa Indonesia yang cenderung menggunakan struktur yang tidak sesuai dengan struktur bahasa Indonesia.

Ketidaksesuaian struktur tersebut antara lain dijumpai dalam beberapa hal. Ketidaksesuaian tersebut tampak dalam penerjemahan dalam struktur kalimat dan dalam penggunaan kode bahasa.

a. Penerjemahan Struktur

Dari segi struktur kalimat, penutur BM lebih cenderung memadankan masing-masing glos (kata) dalam BI. Akibatnya, struktur kalimat BI orang Minangkabau sama dengan struktur BM.

(38) Ndak ada di abilang apa-apa doh. (BIM) ‘Dia tidak mengatakan apa-apa. (BI)

(16)

Data (38) di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh struktur bahasa Minangkabau yang berstruktur seperti kalimat 38a di bawah ini.

(38a) Ndak ado inyo mangecekkan apo-apo doh ‘Tidak’ ‘ada’ ‘dia’ ‘mengatakan’ ‘apa-apa’ ‘doh’

Dari contoh (38a) di atas terlihat bahwa penutur BM begitu mudahnya berbahasa Indonesia, yakni cukup dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan memadankan bunyi BM ke dalam BI. Misalnya, kata ado dalam data (38a) di atas dipadankan menjadi kata ada dalam BI. Kata ulang apo-apo dalam kata (38a) di atas dialihkan menjadi kata apa-apa dalam BI. Cara kedua adalah dengan mengalihkan sepenuhnya struktur BM menjadi struktur BI. Kalimat (38a) di atas memperlihatkan struktur BM yang sepenuhnya dialihkan ke dalam struktur bahasa Indonesia.

b. Penggunaan kode bahasa

Penggunaan kode bahasa yang dimaksudkan di sini adalah penggunaan leksikon BM yang dicampurkan dengan leksikon BI dalam struktur kalimat BI orang Minangkabau. Penutur BM sangat leluasa mencampurkan dua kode bahasa dalam berbahasa Indonesia.

(39) Ndak tau saya do.

‘Saya tidak tahu’

(40) Dima kamu beli tas kayak gigi?

‘Dimana kamu beli tas seperti ini?’

(41) Ma tau saya. Saya aja baru tibo baru.

‘Saya tidak tahu. Saya baru datang.’

Contoh data (39—41) di atas masing-masing menggunakan dua kode bahasa. Kode bahasa pertama adalah penggunaan leksikon BM. Misalnya pada data (39) ada kode BM yang berupa leksikon ndak tau ‘tidak tahu’ dan doh ‘fatis’. Data selanjutnya juga mengandung leksikon BM, yakni leksikon dima ‘di mana’

pada data (40), ma tau ‘mana tahu’ dan tibo ‘tiba’ pada data (41).

(17)

D. PENUTUP

Dari analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal: 1) berdasarkan satuan lingual yang menandai tuturan BI orang Minangkabau, ada beberapa satuan lingual yang menandainya, yaitu: unsur segmental dan fatis, dan struktur kalimatnya; 2) dari segi unsur segmental ditemukan enam fonem BM yang mempengaruhi tuturan BI yang digunakan penutur BM.

Fonem-fonem tersebut adalah /e/, /?/, /p/, /s/, /k/, dan /j/.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta:

Balai Pustaka.

Ayub. Asni. Dkk. 1988/1989. Tata Bahasa Minangkabau. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sumatra Barat.

Gunawan, Arsim. 1999. “Kedudukan Bahasa Daerah dan Tantangan pada IX, Abad yang Datang”. Makalah pada Kongres Linguistik Nasional, Jakarta.

Halim, Amran. 1984. Intonasi dan Hubungannya dengan Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Halim, Amran. 1976. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kaswanti Purwo, Bambang. 2003. “Penelitian Bahasa Nusantara di Indonesia”. Dalam Kumpulan Makalah Pertemuan Bahasa Ibu (MUBI). Jakarta

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga.

Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kelas Kata Dalam Bahasa Indonesia.

Jakarta: Gramedia.

(18)

Marsono. 1993. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Moussay, Gerard. 1981. La Langage Minangkabau. Paris: Chacier De Acchipel 14.

Muhadjir, dkk. 1992. Transformasi Budaya Seperti Tercermin dalam Perkembangan Bahasa-bahasa di Indonesia. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Ramlan, M. 1996. Sintaksis. Cetakan Ketujuh. Yogyakarta: CV.

Karyono.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Seri ILDEP. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Suwito. 1983. Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset.

Tarigan, Guntur. 1983. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.

Referensi

Dokumen terkait

Bukan tidak mungkin nasabah pindah ke lain bank karena pelayanan yang kurang, sehingga diperlukan hubungan yang baik antara bank dengan nasabah agar nasabah

Actor tersebut dapat melakukan edit profil proyek, tambah divisi, edit divisi, ahapus divisi, tambah anggota, hapus anggota, melihat profil anggota, set divisi

Demikian juga pada umur 16 bulan perlakuan pupuk kandang 2 kg dan bokashi 2 kg tidak berbeda nyata terhadap persentase tumbuh tanaman, tetapi kedua perlakuan tersebut berbeda

 Peserta adalah perwakilan dari setiap TK/RA/BA dengan jumlah tim yang tidak ditentukan;..  1 tim yang terdiri 1 model dan 1 guru

Tema komik ini adalah Infeksi Menular Seksual. Komik ini akan menceritakan tentang asal usul dan sebab akibat dari Infeksi Menular Seksual melalui pendekatan simbolisasi karena

Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas audit yaitu auditor TENURE memiliki hubungan negatif, sementara ukuran KAP dan spesialisasi industri auditor memiliki

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kewenangan pengawasan rancangan Perda oleh DPD secara normatif telah memperluas lingkup rancangan Perda yang dapat dievaluasi, dengan

Perempuan sebagai pelopor dalam pelestarian pengetahuan lokal dilatar belakangi oleh sistem kekerabatan berdasarkan sistem materilineal yang menarik garis keturunan