POLA PENYAKIT PASIEN RAWAT INAP DI PERAWATAN THT-KL RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR PERIODE
JANUARI-JUNI 2016
OLEH:
RENY KARTINI C111 14 046
PEMBIMBING:
Dr. dr. RISKIANA DJAMIN, Sp. THT-KL (K)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2017
i
RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR PERIODE JANUARI-JUNI 2016
Diajukan Kepada Universitas Hasanuddin Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran
Reny Kartini C111 14 046
Pembimbing:
Dr. dr. Riskiana Djamin, Sp. THT-KL (K)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2017
vi
melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya kepada kita semua dengan segala keterbatasan yang penulis miliki, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pola Penyakit Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode Januari-Juni 2016” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudddin.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Allah SWT atas kekuatan dan nikmat yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu.
2. Kedua orang tua penulis, Ayah Aliyas S. Pd, dan Ibu Mona, S. Pd. Serta saudara penulis Resky Amalia yang senantiasa membantu dalam memotivasi, mendorong dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. dr. Riskiana Djamin, Sp.THT-KL(K) selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam pembuatan skripsi ini dan membantu penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
4. Prof. Dr. dr. Eka Savitri, Sp. THT-KL(K) dan dr. Aminuddin Azis, Sp. THT- KL(K), M. Kes selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan pengarahan dalam pembuatan skripsi ini.
5. Teman-teman skripsi bagian Ilmu Kesehatan THT-KL, yang selalu memberikan semangat, bantuan, dan motivasi selama mengerjakan skripsi ini.
vii
7. Teman-teman Bone Medstud Neutrof14vine yang tidak pernah lelah memberi semangat dan motivasi disepanjang perjalanan preklinik penulis.
8. Teman seperjuangan sejak jaman SMP (OFF) dan jaman SMA (drans) serta teman seperjuangan KKN Tanuntung Herlang Bulukumba yang selalu setia memberikan hiburan serta motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
9. Teman-teman dan kakak-kakak yang sudah membantu melalui sumbangsih pikiran maupun bantuan fisik dan moril secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan secara satu per satu yang terlibat dalam memberi dukungan dan doanya kepada penulis
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna sehingga dengan rasa tulus penulis akan menerima kritik dan saran serta koreksi membangun dari semua pihak.
Makassar, 15 November 2017
Penulis
viii
November 2017 Reny Kartini
Dr. dr. Riskiana Djamin, Sp. THT-KL(K)
Pola Penyakit Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode Januari-Juni 2016
ABSTRAK
Latar Belakang: Transisi epidemiologis kini ditandai dengan semakin berkembangnya penyakit degeneratif dan penyakit tertentu termasuk penyakit yang berhubungan dengan THT-KL yang belum dapat diatasi sepenuhnya. Sementara itu, Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi dengan jumlah pelaporan RL2A (Rawat Inap) yang paling sedikit pada tahun 2009.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dengan metode penelitian deskriptif. Sampel diambil sesuai dengan jumlah populasi dari data rekam medis di perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan Teknik total sampling. Data dianalisa menggunakan program SPSS dan Microsoft Excel 2010 dan hasil ditampilkan berupa tabel, grafik, dan narasi.
Hasil: Jumlah kasus THT yang menjalani rawat inap di perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo periode Januari-Juni 2016 adalah sebanyak 321 kasus.
Didapatkan kasus terbanyak pada bulan Januari yaitu sebanyak 66 kasus (20,6%).
Berdasarkan organ THT yang mengalami gangguan, didapatkan kasus tertinggi pada organ hidung dengan 131 kasus (40,8%), disusul penyakit faring sebanyak 105 kasus (32,7%), penyakit telinga sebanyak 59 kasus (18,4%) dan penyakit laring sebanyak 26 kasus (8,1%). Berdasarkan jenis penyakit didapatkan yang tertinggi adalah penyakit tumor dengan 161 kasus (50,2%), disusul penyakit infeksi 142 kasus (44,2%), trauma 8 kasus (2,5%), benda asing 7 kasus (2,2%), dan kongenital 3 kasus (0,9%). Adapun jumlah kasus terbanyak adalah penyakit sinusitis kronik dan karsinoma nasofaring dengan masing-masing 81 kasus (25,2%).
Kesimpulan: Sebagian besar penyakit THT yang menjalani rawat inap di RSUP Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Januari-Juni 2016 mengalami gangguan pada hidung. Jenis penyakit terbanyak adalah tumor, dan penyakit yang paling banyak ditemukan adalah sinusitis kronik dan karsinoma nasofaring.
Kata kunci: THT-KL, pola penyakit, penderita rawat inap
ix
November, 2017 Reny Kartini
Dr. dr. Riskiana Djamin, Sp. THT-KL(K)
The Patterns Disease of Hospitalized Patients in ENT-HNS Care of Dr. Wahidin Suriohusodo Hospital Makassar from January to June 2016.
ABSTRACT
Background: Epidemiological transition which is marked by the growing of degenerative diseases and certain diseases associated with throat-ear-nose head and neck surgery (ENT-HNS) than can not besolved completely. Meanwhile, South Sulawesi became one of the provinces with the least number of RL2A (Hospitalized patients) reporting in 2009.
Method: This was an observational research type with descriptive research method.
The samples were taken aaccording to the population from the medical record data in ENT-HNS treatment with total sampling technique. The data was analyzed using computer statistics program (SPSS) and Microsoft Excel 2010 and the results are presented in tables, graphs, and narrations.
Result: The number of ENT cases that have undergone hospitalization in ENT-HNS care of Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from January to June 2016 reported to be 321 cases. The most cases were obtained in January as many as 66 cases (20,6%). Based on ENT disturbed organ, the most cases were in the nose with 131 cases (40,8%), followed by pharynx disease amounted to 105 cases (32,7%), ear disease with 59 cases (18,4%) and larynx disease with 26 cases (8,1%). Based on the type of disease, it was found that most cases were tumor disease with 161 cases (50,2%), followed by infectious disease with 142 cases (44,2%), trauma with 8 cases (2,5%), foreign body with 7 cases (2,2%), and congenital with 3 cases (0,9%). The most cases were chronic sinusitis and nasopharyngeal carcinoma with 85 cases each (21,4%)
Conclusion: Most of ENT cases who had undergone hospitalization at the Dr.
Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from January to June 2016 had a nose disorder. The most common type of disease was tumor and the most commonly encountered disease was sinusitis chronic and nasopharyngeal carcinoma.
Keyword: ENT-HNS, pattern disease, hospitalized patients
x
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN CETAK ... iv
HALAMAN PERNYATAAN ANTI PLAGIARISME ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GRAFIK ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.. ... 1
1.2 Rumusan Masalah.. ... 4
1.3 Tujuan Penelitian.. ... 5
1.3.1 Tujuan Umum ... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ... 5
1.4 Manfaat Penelitian.. ... 5
xi
2.2 Anatomi Organ THT ... 11
2.3 Pola Penyakit THT .. ... 17
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti ... 50
3.2 Kerangka Konsep ... 51
3.3 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif ... 52
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ... 56
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 56
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 56
4.3.1 Populasi ... 56
4.3.2 Sampel ... 57
4.3.3 Teknik Sampling ... 57
4.4 Kriteria Seleksi ... 57
4.4.1 Kriteria Inklusi ... 57
4.4.2 Kriteria Eksklusi ... 57
4.5 Cara Pengumpulan Data ... 58
4.6 Pengolahan dan Penyajian Data ... 58
4.6.1 Pengolahan Data ... 58
4.6.2 Penyajian Data ... 58
4.7 Etika Penelitian ... 58
xii
5.1.1 Distribusi Jumlah Kasus Penyakit THT pada Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL Menurut Waktu (Bulan)
Periode Januari-Juni 2016……… 60 5.1.2 Distribusi Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggerokan Pada Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016... 61 5.1.3 Distribusi Jenis Penyakit THT pada Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016…….. 63 5.1.4 Distribusi Penyakit THT pada Pasien Rawat Inap di
Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016………... 64 5.1.5 Distribusi 10 Penyakit THT Terbanyak pada Pasien
Rawat Inap di Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni
2016……….. 67
BAB 6 PEMBAHASAN ………... 69
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan ... 75 7.2 Saran ... 76 DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN
xiii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 5.1 Distribusi Jumlah Kasus Penyakit THT pada Pasien Rawat 60
Inap di Perawatan THT-KL Menurut Waktu (Bulan)
Tabel 5.2 Distribusi Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggerokan pada 61 Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni
2016
Tabel 5.3 Distribusi Jenis Penyakit THT pada Pasien Rawat Inap di 63 Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016
Tabel 5.4 Distribusi Penyakit THT pada Pasien Rawat Inap di Perawatan 65 THT-KL Periode Januari-Juni 2016
Tabel 5.5 Distribusi 10 Penyakit THT terbanyak pada Pasien Rawat Inap di 67 Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016
xiv
DAFTAR GRAFIK
Halaman Grafik 5.1 Distribusi Jumlah Kasus Penyakit THT pada Pasien Rawat 60
Inap di Perawatan THT-KL Menurut Waktu (Bulan)
Grafik 5.2 Distribusi Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggerokan pada 62 Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni
2016
Grafik 5.3 Distribusi Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggerokan (Faring 62 dan Laring) pada Pasien Rawat Inap di Perawatan THT-KL
Periode Januari-Juni 2016
Grafik 5.4 Distribusi Jenis Penyakit THT pada Pasien Rawat Inap di 64 Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016
Grafik 5.5 Distribusi 10 Penyakit THT terbanyak pada Pasien Rawat Inap di 68 Perawatan THT-KL Periode Januari-Juni 2016
xv
DAFTAR LAMPIRAN
1. Jadwal Penelitian
2. Surat Izin Permohonan Penelitian 3. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik 4. Data Hasil Peneltian
5. Hasil Perhitungan Statistik
6. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian 7. Biodata Peneliti
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Rumah sakit mempunyai fungsi dan tujuan sebagai sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggara kan kegiatan pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, pelayanan gawat darurat, pelayanan rujukan yang mencakup pelayanan rekam medis dan penunjang medis serta kegiatan untuk pendidikan, pelatihan, dan penelitian bagi para tenaga kesehatan. Segala kegiatan pelayanan medis yang dilakukan tentu perlu didokumentasikan dalam formulir pasien.
(Darmanto, 1997)
Selain itu, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 168 BAB XIV disebutkan bahwa untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan.
Saat ini di Indonesia, data morbiditas penyakit dan fasilitas kesehatan dikumpulkan dari puskesmas dan rumah sakit. Data analisis diperoleh dari laporan rumah sakit melalui Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) yaitu RL2B (Rawat Jalan) dan RL2A (Rawat Inap), yang merupakan laporan rumah sakit langsung ke Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan.
Namun, pelaporan RL2A (Rawat Inap) pada tahun 2009-2010 ternyata masih rendah yaitu secara nasional hanya 29,2% pada tahun 2009, kemudian
turun menjadi 24,63% pada tahun 2010. Begitu juga halnya dengan laporan RL2B (Rawat Jalan) yang masih rendah yaitu 28,37% pada tahun 2009, turun menjadi 26,29% pada tahun 2010 rumah sakit yang mengirim laporan.
Berdasarkan provinsi, tahun 2009, provinsi dengan rumah sakit yang sama sekali tidak melapor RL2A (Rawat Inap) adalah provinsi Gorontalo. Adapun jumlah rumah sakit tersedikit yang melapor untuk pelaporan RL2A adalah provinsi Papua, Sulawesi Selatan, dan Bengkulu sedangkan jumlah rumah sakit yang tersedikit melapor RL2B (Rawat Jalan) adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Bengkulu, dan Maluku Utara.
Sementara itu, data terakhir dari Riskesdas 2013 menyatakan bahwa 2,3%
penduduk Indonesia dalam dua belas bulan terakhir melakukan rawat inap.
Penduduk di Yogyakarta menjadi yang tertinggi dalam pemanfaatan rawat jalan, yaitu sebesar 4,4%, disusul oleh Sulawesi Selatan sebesar 3,4%.
(Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Harus diakui bahwa pembangunan kesehatan di Indonesia selama beberapa dekade lalu sudah relatif berhasil, namun keberhasilan tersebut belum menuntaskan problem kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Indonesia saat ini berada pada pertengahan transisi epidemiologi dimana penyakit tidak menular meningkat drastis sementara penyakit menular masih menjadi penyebab penyakit yang utama.
Transisi epidemiologis kini ditandai dengan semakin berkembangnya penyakit degeneratif dan penyakit tertentu termasuk penyakit yang berhubungan dengan Telinga, Hidung, dan Tenggerokan Bedah Kepala Leher
(THT-KL) yang belum dapat diatasi sepenuhnya. Perubahan yang diiringi semakin kompleksnya pola penyakit ini merupakan tantangan terbesar bagi sistem kesehatan di Indonesia.
Tantangan lainnya adalah meningkatnya masalah kesehatan kerja, kesehatan lingkungan, masalah obat-obatan dan perubahan dalam bidang ekonomi, kependudukan, pendidikan, sosial budaya, dan dampak globalisasi yang akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan keadaan kesehatan masyarakat.
Hal ini akan berdampak pada terganggunya kesehatan masyarakat yang membawa masyarakat untuk pergi berobat baik secara rawat jalan maupun pada kondisi tertentu dapat pula dilakukan rawat inap.
Berdasarkan data Kesehatan Indonesia, penyakit rawat inap di rumah sakit tahun 2010 yang berhubungan dengan kasus THT-KL untuk laki-laki 54,34%
atau 9.737 kasus dan perempuan 45,66% atau 8.181 kasus. Penelitian lain yang dilaksanakan tahun 2004-2007 di Instalasi Rawat Jalan THT-KL RSU Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado, jumlah pasien THT-KL yang berkunjung semakin bertambah dengan rata-rata kunjungan 6714 pasien/tahun. Pada tahun 2010- 2012 di rumah sakit tersebut, proporsi jenis penyakit yang menjalani rawat inap, dilihat berdasarkan lokasi meliputi penyakit tenggerokan 239 kasus (55,97%), penyakit hidung 163 kasus (38,17%), dan penyakit telinga 25 kasus (5,85%). (Kandouw dkk, 2015)
Sementara itu, hasil penelitian di rumah sakit tersier di Federal District tahun 2011 menyebutkan bahwa 62,27% kasus THT-KL adalah penyakit pada telinga, disusul penyakit pada hidung (18,55%), lalu tenggerokan (17,09%), dan
yang terakhir adalah penyakit kepala dan leher (2,07%). Dari semua kasus, ditemukan 61,26% yang merupakan kasus emergensi dan 38,73% yang non- emergensi dengan etiologi terbanyak adalah infeksi (65,71%). (Furtado dkk, 2011).
Pada penelitian lain di Rumah Sakit Sao Paulo di Brasil tahun 2013 menunjukkan bahwa dari semua pasien yang datang, 8,89 % diantaranya merupakan pasien THT-KL yang dalam hal ini menempati urutan kelima bila dibandingkan dengan departemen lain, dengan etiologi infeksi (65,04%), tuli sensorineural (13,66%), benda asing (9,77%), perdarahan (6,69%), trauma (4,47%), tumor (0,24%), gangguan fungsional (0,06%), dan penyakit pernapasan (0,04%). (Andrade JSCD dkk, 2013)
Tingginya prevalensi penyakit THT-KL di Indonesia maupun di dunia beserta kemunculan berbagai etiologi, terutama infeksi yang terus meningkat dari waktu ke waktu menunjukkan suatu pergeseran pola penyakit THT-KL pada masyarakat sehingga hal ini menjadi salah satu kendala yang perlu diatasi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pola penyakit pasien rawat inap di perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Januari-Juni 2016 ?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pola penyakit pasien rawat inap di perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar periode Januari- Juni 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui penyakit telinga, hidung, dan tenggerokan pada pasien rawat inap di perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Januari-Juni 2016.
b. Untuk mengetahui jenis penyakit THT-KL pada pasien rawat inap di perawatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Januari-Juni 2016.
1.4 MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Bagi peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam melakukan penelitian kesehatan dan tambahan ilmu mengenai topik yang dibahas yaitu pola penyakit THT-KL.
1.4.2 Bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan
Sebagai sumber informasi bagi tenaga kesehatan dan mahasiswa mengenai pola penyakit THT-KL sehingga dapat menjadi evaluasi guna kepentingan data epidemiologi, diagnosis, terapi, dan pencegahan. Selain
itu, dapat membantu dalam pencatatan dan pelaporan penderita THT-KL yang menjalani rawat inap.
1.4.3 Bagi peneliti lain
Sebagai acuan bagi peneliti-peneliti lain yang tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pola penyakit THT-KL.
7 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 EMBRIOLOGI ORGAN THT 2.1.1 Embriologi Telinga
1. Telinga luar
Liang telinga berasal dari celah branchial pertama ectoderm.
Membrana timpani mewakili membran penutup celah tersebut. Selama satu stadium perkembangannya, liang telinga akhirnya tertutup sama sekali oleh suatu sumbatan jaringan telinga tapi kemudian akan terbuka kembali.
2. Telinga tengah
Rongga telinga tengah berasal dari celah branchial pertama endoderm. Rongga berisi udara ini meluas ke dalam recessus tubotimpanikus yang selanjutnya meluas di sekitar tulang-tulang dan saraf telinga tengah dan meluas kurang lebih ke daerah mastoid.
Osikula berasal dari tulang rawan arcus branchialis.
3. Telinga dalam
Plakoda otika ectoderm terletak pada permukaan lateral dari kepala embrio. Plakoda ini kemudian tenggelam membentuk suatu lekukan otika dan akhirnya terkubur di bawah permukaan sebagai vesikel otika.
Letak vesikel dekat dengan otak belakang yang sedang berkembang dan sekelompok neuron yang dikenal sebagai ganglion
akustikofasialis. Ganglion ini penting dalam perkembangan dari saraf facialis, akustikus, dan vestibularis. Vesikel auditorius membentuk suatu divertikulum yang terletak dekat terhadap tabung saraf yang sedang berkembang dan kelak akan menjadi duktus endolimfatikus.
Vesikel otika kemudian berkerut membentuk suatu utrikulus superior (atas) dan sakulus inferior (bawah). Dari utrikulus kemudian timbul tiga tonjolan mirip gelang. Lapisan membrane yang jauh dari perifer gelang diserap, meninggalkan tiga kanalis semisirkularis pada perifer gelang. Sakulus kemudian membentuk duktus cochlearis berbentuk spiral. (Higler AB, 1997)
2.1.2 Embriologi Hidung
Perkembangan rongga hidung secara embriologi yang mendasari pembentukan anatomi sinonasal dapat dibagi menjadi dua proses. Pertama, embrional bagian kepala berkembang membentuk dua bagian rongga hidung yang berbeda ; kedua, adalah bagian dinding lateral hidung kemudian berinvaginasi menjadi kompleks padat, yang dikenal dengan konka (turbinate) dan membentuk rongga-rongga yang diebut sebagai sinus. (Soetjipto D & Wrdani RS, 2007)
Sejak kehamilan berusia empat hingga delapan minggu, perkembangan embrional anatomi hidung mulai terbentuk dengan terbentuknya rongga hidung sebagai bagian yang terpisah yaitu daerah frontonasal dan bagian pertautan prosesus maksilaris. Daeran frontonasal nantinya yang akan
berkembang hingga ke otak bagian depan, mendukung pembentukan olfaktori. Bagian medial dan lateral akhirnya akan menjadi nares (lubang hidung). Septum nasal berasal dari pertumbuhan garis tengah posterior frontonasal dan perluasan garis tengah mesoderm yang berasal dari daerah maksilaris.
Ketika kehamilan memasuki usia enam minggu, jaringan mesenkim mulai terbentuk, yang tampak sebagai dinding lateral hidung dengan struktur yang masih sederhana. Usia kehamilan tujuh minggu, tiga garis axial berbentuk lekukan bersatu membentuk tiga buah konka. Ketika kehamilan berusia sembilan minggu, mulailah terbentuk sinus maksilaris yang diawali oleh invaginasi meatus media. Pada usia kehamilan tiga puluh minggu, dinding lateral hidung terbentuk dengan baik dan sudah tampak jelas proporsi konka. Seluruh daerah sinus paranasal muncul dengan tingkatan yang berbeda. Yang pertama berkembang adalah sinus ethmoid, diikuti sinus maksilaris, sphenoidalis, dan sinus frontal. (Walsh WE, 2002)
2.1.3 Embriologi Tenggerokan
Embriologi faring berkesinambungan dengan embriologi kepala dan leher manusia. Embriologi dari kepala diawali dari perkembangan mesenkim. Mesenkim untuk membentuk regio kepala berasal dari mesoderm paraaksial dan mesoderm lempeng lateral, krista neuralis, dan regip ectoderm yang menebal dan dikenal sebagai plakoda ectoderm.
Mesoderm lempeng lateral yang membentuk kartilago laring serta jaringan
ikat di daerah ini. Sel krista neuralis akan membentuk struktur tulang arkus faring dan wajah bagian tengah serta jaringan lain di daerah ini. Arkus- arkus ini akan muncl pada minggu keempat hingga kelima perkembangan dan ikut berperan dalam menghasilkan penampilan luar embrio. Pada awalnya, arkus ini terdiri dari jaringan mesenkim yang diisahkan oleh celah yang dikenal dengan celah faring. Secara bersamaan, terbentuknya arkus dan celah juga diiringi dengan pembentukan kantong faring.
Pada saat embrio berusia 3,5 minggu suatu alur yang disebut laringotrakeal groove tumbuh dalam embrio pada bagian ventral foregut.
Alur ini terletak di sebelah posterior dari eminensia hipobronchial dan terletak lebih dekat dengan lengkung ke IV daripada lengkung ke III.
Selama masa pertumbuhan embrional, ketika tuba yang single ini menjadi dua struktur, tuba yang asli mula-mula mengalami obliterasi dengan proliferasi lapisan epitel, kemudian epitel diresopsi, tuba kedua dibentuk dengan proliferasi lapisan epitel, kemudian epitel diresopsi, tuba kedua dibentuk dan tuba pertama mengalami rekanulisasi. Berbagai malformasi dapat terjadi sehingga kedua tuba ini terpisah menjadi esophagus dan bagian laringotracheal. (Higler AB, 1997)
2.2 ANATOMI ORGAN THT 2.2.1 Anatomi Telinga
Telinga terdiri dari telinga luar (auris externa), telinga tengah (auris media) atau cavitas tympani, dan telinga dalam (auris interna) atau labyrinthus, Telinga dalam berisi organ pendengaran dan keseimbangan.
1. Telinga luar
Telinga luar terdiri dari auricular dan meautus acusticu externus.
Auricula mempunyai bentuk yang khas dan berfungsi untuk mengumpulkan getaran udara. Terdiri atas lempeng tulang rawan elastis tipis yang ditutupi kulit. Auricula mempunyai otot intrinsik dan ekstrinsik, keduanya dipersarafi oleh nervus facialis.
Meatus acusticus externus adalah saluran berkelok yang menghubungkan auricula dengan membrane tympani. Meatus acusticus externus berfungsi menghantarkan gelombang suara dari auricula ke membrane tympani. Sepertiga bagian luar meatus adalah cartilage elastis, dan dua pertiga bagian dalam adalah tulang yang dibentuk oleh lempeng tympani.
2. Telinga tengah (Cavum Tympani)
Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis temporalis. Cavum tympani berbentuk celah sempit yang dilapisi oleh membran mucosa. Ruang ini berisi tulang-tulang pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran membrane tympani ke perylimpha telinga dalam. Di depan ruang ini berhubungan dengan
nasopharynx melalui tuba auditiva dan di belakang dengan antrum mastoideum.
Membrana tympani adalah membrane fibrosa tipis berwarna kelabu mutiara. Membran ini terletak miring, menghadap ke bawah, depan, dan lateral. Permukaannya cekung ke lateral, dan pada cekungan yang paling dalam terdapat lekukan kecil, umbo, yang dibentuk oleh ujung manubrium mallei. Terdiri atas dua pars yaitu pars flaccid yang lemas dan elastic serta pars tensa yang tegang. Jika membran tympani terkena cahaya otoskop, bagian cekung ini menghasilkan kerucut cahaya, yang memancar ke anterior dan inferior dari umbo.
Ossicula auditus (tulang-tulang pendengaran) terdiri atas os malleus, os incus, dan os stapes. Malleus adalah tulang pendengaran terbesar, dan mempunyai caput, collum, crus longum atau manubrium, sebuah processus anterior dan processus lateralis. Incus mempunyai corpus yang besar dan dua crus. Stapes mempunyai caput, collum, dua lengan, dan sebuah basis. Otot- otos ossicula terdiri atas musculus tensor tympani dan musculus stapedius.
Tuba auditiva menghubungkan dinding anterior cavitas tympani ke nasopharynx. Sepertiga bagian posteriornya adalah tulang dan dua pertiga bagian anteriornya adalah kartilago.
Antrum mastoideum, terletak di belakang cavitas tympani dalam pars petrosa ossis temporalis.
Cellulae mastoideae, adalah suatu seri rongga yang saling berhubungan di dalam processus mastoideus, yang diatas berhubungan dengan antrum dan cavitas tympani.
3. Telinga dalam (Labyrinthus)
Telinga dalam terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis, medial terhadap telinga tengah. Terdiri dari labyrinthus osseus, tersusun dari sejumlah rongga di dalam tulang; dan labyrinthus membranaceus, tersusun dari sejumlah saccus dan ductus membranosa di dalam labyrinthus osseus.
a. Labyrinthus Osseus
Labyrinthus osseus terdiri atas tiga bagian: vestibulum, canalis semicircularis, dan cochlea.
b. Labyrinthus Membranaceus
Labyrinthus membranaceus terdiri atas utriculus dan sacculus, yang terdapat di dalam vestibulum osseus.
Nervus vestibulocochlearis, terdiri atas nervus vestibularis untuk keseimbangan dan nervus cochlearis untuk pendengaran.
2.2.2 Anatomi Hidung 1. Cavum Nasi
Cavum nasi adalah rongga yang dimulai pada nostril (aperture nasalis anterior = nares anterior) dan berakhir pada nares posterior (=
choanae). Vestibulum nasi adalah area di dalam cavum nasi yang terletak tepat di belakang nares. Terbagi dua oleh septum nasi yang terletak pada linea mediana.
a. Dinding Cavum Nasi
Setiap belahan cavum nasi mempunyai dasar, atap, dinding lateral dan dinding medial atau dinding septum.
Dasar dibentuk oleh processus palatines os maxilla dan lamina horizontalis ossis palatine. Atap sempit dan dibentuk di sebelah anterior mulai dari bagian bawah batang hidung oleh os nasale dan os frontale, di tengah oleh lamina cribrosa ossis ethmoidalis, terletak di bawah fossa crania anterior. Dinding lateral mempunyai tiga tonjolan tulang disebut concha nasalis superior, media, dan inferior. Area di bawah setiap concha disebut meatus.
Dinding medial dibentuk oleh septum nasi.
b. Septum Nasi
Merupakan dinding medial dari cavum nasi yang dibentuk oleh os vomer di bagian posterior, lamina perpendicularis ossis ethmoidalis di bagian postero-superior dan cartilago septalis yang berada di bagian anterior di anatara kedua tulang tersebut tadi.
2. Sinus Paranasalis a. Sinus Maxillaris
Sinus maxillaries berbentuk pyramid dan terletak di dalam corpus maxillaries di belakang pipi. Atap dibentuk oleh dasar orbita, sedangkan dasar berhubungan dengan akar gigi premolar dan molar. Sinus maxillaries bermuara ke dalam meatus nasi medius melalui hiatus semilunaris.
b. Sinus Frontalis
Sinus frontalis ada dua buah, terdapat di dalam os frontale.
Mereka dipisahkan satu dengan yang lain oleh septum tulang.
Setiap sinus berbentuk segitiga, meluas ke atas di atas ujung medial alis mata dan ke belakang sampai ke bagian medial atap orbita. Masing-masing sinus frontalis bermuara ke dalam meatus nasi medius melalui infundibulum.
c. Sinus Sphenoidalis
Sinus sphenoidalis ada dua buah, terletak di dalam corpus ossis sphenoidalis. Setiap sinus bermuara ke dalam recessus sphenoethmoidalis di atas concha nasalis superior.
d. Sinus Ethmoidalis
Sinus ethmoidalis terletak di anterior, medius, dan posterior, serta terdapat di dalam os ethmoidale, di antara hidung dan orbita.
Sinus ini dipisahkan dari orbita oleh selapis tipis tulang, sehingga infeksi dengan mudah menjalar dari sinus ke dalam orbita. Sinus
ethmoidalis kelompok anterior bermuara ke dalam infundibulum;
kelompok media bermuara ke dalam meatus nasi mediua, pada atau di atas bulla ethmoidalis; dan kelompok posterior bermuara ke dalam meatus nasi superior.
2.2.3 Anatomi Tenggerokan
Pharynx (tenggerokan) terletak di belakang cavum nasi, cavum oris, dan larynx dan dibagi menjadi bagian-bagian nasopharynx, oropharynx, dan laryngopharynx. Pharynx berbentuk seperti corong, dengan bagian atasnya yang lebar, terletak di bawah cranium dan bagian bawahnya yang sempit dilanjutkan sebagai esophagus setinggi vertebra cervicalis VI. Di tempat ini, jaringan musculomembranosa diganti oleh aperture nasalis posterior (choanae), isthmus faucium (pembukaan ke rongga mulut), dan aditus laryngis. Melalui tuba auditiva, membran mucosa juga berhubungan dengan membrane mucosa cavum tympani.
a. Nasopharynx
Nasopharynx terletak di atas palatum molle dan di belakang rongga hidung. Di dalam submucosa atap terdapat kumpulan jaringan limfoid yang disebut tonsilla pharyngea. Isthmus pharyngeus adalah lubang di dasar nasopharynx di antara pinggir bebas palatum molle dan dinding posterior pharynx. Pada dinding lateral terdapat muara tuba auditiva.
b. Oropharynx
Oropharynx terletak di belakang cavum oris. Dasar dibentuk oleh sepertiga posterior lidah dan celah antara lidah dan epiglottis. Pada kedua sisi dinding lateral terdapat arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus dengan tonsilla palatine di antaranya.
c. Laryngopharynx
Laryngopharynx terletak di belakang aditus laryngis. Dinding lateral dibentuk oleh cartilage thyroidea dan membrane thyrohyoidea.
Recessus piriformis, merupakan cekungan pada membran mucosa yang terletak di kanan dan kiri aditus laryngis. (Snell RS, 2012)
2.3 POLA PENYAKIT THT
Penyakit THT (Telinga, Hidung, Tenggerokan) merupakan penyakit yang harus didiagnosis dan manajemen secara dini untuk mengurangi morbiditas.
Berdasarkan etiologi, penyakit THT dapat disebabkan oleh kelainan kongenital, infeksi, tumor, trauma, dan benda asing.
2.3.1 Kelainan Kongenital
Menurut WHO, kelainan kongenital adalah kelainan yang sudah ada sejak lahir yang dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun non genetik. Kelainan congenital merupakan penyebab penting terjadinya keguguran, lahir mati atau kematian segera setelah lahir (perinatal).
Sebanyak 260.000 kematian neonates di seluruh dunia terjadi akibat kelainan congenital. Jumlah ini merupakan 7% dari seluruh kematian
neonates dengan rentang 5% di Asia Tenggara hingga lebih dari 25% di Eropa.
Kelainan kongenital pada bayi baru lahir dapat berupa satu jenis kelainan saja atau dapat pula beberapa kelainan kongenital yang terjadi bersamaan yang disebut kelainan kongenital multipel. Kadang suatu kelainan congenital belum terlihat saat bayi baru lahir, akan tetapi baru ditemukan beberapa lama setelah bayi tersebut dalam perawatan.
Insidens kelainan congenital di Indonesia tahun 2009 berkisar 15 per 1000 kelahiran. Angka kejadian ini akan menjadi 4-5% bila bayi diikuti terus sampai berusia 1 tahun. Dari tahun 1994-2005 terdapat 2,55%
kelainan congenital dari sejumlah bayi yang lahir. (Andriati R, 2014) Hampir semua kelainan kongenital pada bayi merupakan interaksi yang kompleks antara faktor predisposisi genetik dan faktor pendukung dalam lingkungan intrauterin. Kelainan kongenital merupakan kelainan morfologik dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi dalam kandungann. Secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok : malformasi yaitu kelainan congenital yang timbul sejak periode embrional sebagai gangguan primer morfogenesis atau organogenesis, dan deformitas congenital yang timbul pada fetus akibat mengalami perubahan posisi, bentuk, ukuran organ tubuh yang semula tumbuh normal.
Berdasarkan gangguan pertumbuhan organ, kelainan kongenital dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Gangguan pembentukan organ : tidak terbentuknya suatu organ atau sebagian organ, misalnya anensefali, atau suatu organ tergentuk akan tetapi lebih kecil, misalnya microtia.
b. Gangguan fusi jaringan tubuh : misalnya labiopalatoskisis c. Gangguan diferensiasi organ : misalnya ginjal tapal kuda
d. Gangguan menghilangnya jaringan yang seharusnya hilang pada pertumbuhan normal : misalnya divertikulum meckel.
e. Gangguan invaginasi jaringan : misalnya atresia ani f. Gangguan migrasi suatu organ, misalnya adesensus testis g. Gangguan pembentukan saluran, misalnya atresia esophagus h. Reduplikasi organ, misalnya ureter ganda
i. Hipertro organ, misalnya hipertrofi adrenal
j. “Abberrant development and displacement” misalnya transposisi pada kelainan jantung.
Penyebab suatu kelainan congenital kadang-kadang sukar ditemukan pada saat bayi baru lahir. Kurang lebih 65-75% dari kelainan congenital tidak diketahui penyebabnya dengan pasti, 10-25% disebabkan oleh faktor genetik dan 10% disebabkan oleh faktor lingkungan. Pada prinsipnya seluruh kelainan yang terjadi pada janin selalu melibatkan unsure gen akan tetapi adanya perbedaan konstitusi genetik diantara individu juga berperan apakah seseorang mudah atau tidak menderita kelainan dan juga menentukan berat ringannya kelainan yang diakibatkannya. (Prabawa M, 1998)
Adapun contoh kelainan kongenital pada penyakit THT antara lain:
1. Telinga
a. Fistel preaurikuler
Fistel preaurikuler adalah kelainan malformasi congenital pada daun telinga berupa lubang atau cekungan kecil yang terbuka pada daerah preaurikula. Penyebabnya masih belum diketahui, namun hipotesa yang paling bisa diterima adalah autosam dominan yang diturunkan atau bawaan.
Fistel preaurikuler berupa lubang kecil yang berdekatan dengan telinga luar, biasanya terletak pada margin anterior dari limb heliks asendens. Pernah dilaporkan juga sepanjang margin posterosuperior heliks, pada tragus ataupun lobul. Kelainan ini bervariasi dari hanya lubang buntu hingga bentuk yang lebih kompleks yang bercabang-cabang. Kelainan ini biasanya asimptomatik, meskipun adapula yang mengalami infeksi dari yang keluar cairan terus menerus ataupun telah terbentuk abses.
Terapi operatif berupa eksisi fistula merupakan penatalaksanaan utama, terutama bila infeksinya rekuren atau persiten. (Ghanie A, 2008)
b. Acessory auricle
Acessory auricle adalah kelainan anomaly daun telinga dimana terdapat tulang kartilago tambahan yang ditutupi oleh kulit seperti tragus. Umumnya unilateral, namun dapat pula bilateral ataupun
multipel. Hal ini terjadi karena pada masa embriologi, terjadi kegagalan pemisahan auricular hillocks 6th sepanjang perkembangan auricular.
c. Bat‟s ear
Bat‟s ear atau telinga cemplang adalah kelainan congenital dimana bentuk daun telinga tidak nomal, yaitu lebih lebar dan berdiri. Hal ini disebabkan karena kelainan perkembangan pada masa embrional yaitu kelainan perkembangan arkus brachial pertama dan kedua.
d. Kelainan ukuran (microtia, macrotia, anotia)
Microtia adalah kelainan kongenital berupa malformasi daun telinga yang memperlihatkan kelainan bentuk dengan derajat kelainan dari ringan sampai berat, daun telinga berukuran kecil sampai tidak terbentuk sama sekali (anotia). Pada kelainan ini, daun telinga mengandung sisa kartilago yang tidak terbentuk dengan baik yang melekat pada jaringan lunak lobul dan posisinya tidak sesuai dengan telinga normal. Mikrotia dapat disertai dengan kelainan lengkung brankial berupa hemifasial mikrosomia, kraniofasial mikrosomia atau dapat berdiri sendiri.
Microtia seringkali disertai dengan atresia liang telinga, kelainan telinga tengah dan gangguan perkembangan tulang pendengaran yang menyebabkan gangguan kondksi hantaran
suara. Sedangkan macrotia adalah kelainan kongenital dimana daun telinga berukuran lebih besar dari ukuran umumnya.
e. Atresia liang telinga
Atresia liang telinga merupakan sumbatan atau plug jaringan lunak pada bagian medial liang telinga luar yang menempel pada bagian lateral membran timpani (Munilson, 2014).Diduga atresia liang telinga dapat terjadi dengan dua cara, yaitu terjadinya malformasi dari lengkung pertama dan kedua brankial yang dapat menimbulkan deformitas dari daun telinga, telinga tengah, dan mastoid atau terjadinya kegagalan reabsorbsi dari sumbatan epitel pada minggu ke-21 kehamilan, sehingga menimbulkan atresia liang telinga dengan daun telinga, telinga tengah, dan mastoid normal. (Abdullah, 2003)
f. Kolesteatoma kongenital
Kongenital kolesteatoma memiliki presentasi 2-5% dari semua kolesteatoma. Kolesteatoma kongenital merupakan kista epidermal yang terbentuk dari sisa-sisa epitel skuamosa yang mengalami keratinisasi pada tulang temporal (Chauhan A dkk, 2015). Kolesteatoma kongenital terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membran timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Lokasi kolesteatoma biasanya di cavum timpani, daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle.
2. Hidung
a. Agenesis nasal
Agenesis nasal adalah tidak terbentuknya nasal eksterna, cavum nasi, dan apparatus olfactorius. Kelainan ini jarang ditemukan dan etiologinya tidak diketahui, meskipun telah dilaporkan berhubungan dengan anomali kromosom 9, 13, dan 21.
b. Atresia nasal anterior/media/posterior
Atresia nasal anterior, media, maupun posterior terjadi dalam bentuk stenosis aperture piriformis yang ditandai dengan gejala sumbatan hidung. Pada atresia nasal posterior juga dapat terjadi atresia choana. Apertura stenosis piriformis ditandai dengan penyempitan dari aperture piriformis premaxillaris (1-2 mm), sehingga terjadi obstruksi nasal. Apertura piriformis adalah bagian tersempit jalan napas pada hidung bayi yang baru lahir, sehingga apabila terjadi obstruksi akan menyebabkan berbagai gangguan pernapasan.
c. Saddle nose
Saddle nose adalah hilangnya proyeksi tulang rawan dan atau struktur tulang dorsum nasal, sehingga memengaruhi pasien baik secara fungsional maupun estetika. Selain karena kelainan kongenital, saddle nose ini juga bisa disebabkan oleh infeksi, trauma hidung, dan penyebab iatrogenik akibat reduksi rhinoplasti primer maupun sekunder. (Abdel WK, Hussein H, 2015)
3. Tenggerokan a. Faring
1) Atresia Koana Kongenital
Beberapa teori menyatakan bahwa atresia koana akibat dari kegagalan embriologik dari membran bukonasal untuk membelah sebelum kelahiran. Hal ini mengakibatkan persistensi dari lempeng tulang atau membran menimbulkan obstruksi hidung posterior. Obstruksi unilateral mungkin tidak menimbulkan gejala pada waktu kelahiran tetapi kemudian akan menyebabkan drainase nasal kronis unilateral pada masa anak- anak. Sedangkan atresia koana bilateral menyebabkan keadaan darurat pada waktu kelahiran.
b. Laring
1) Laringomalasia
Tidak ditemukan gangguan patologis dasar ataupun gangguan yang bersifat progresif pada laringomalasia. Kondisi ini lebih merupakan keadaan laring neonatus yang terlalu lunak dan kendur dibandingkan normalnya. Saat bayi menarik napas, maka laring yang lunak akan saling menempel, mempersulit aditus dan timbul stridor.
2) Kista kongenital
Neonatus dengan kista kongenital biasanya mengalami obstruksi jalan napas atau gangguan pertumbuhan. Episode
obstruksi jalan napas dapat membingungkan dan dianggap sebagai akibat suatu gangguan kejang. Suara dan proses menelan biasanya normal. Kista dapat berasal dari pangkal lidah, plika ariepiglotika atau korva vocalis palsu.
3) Stenosis subglottis kongenital
Stenosis subglottis kongenital didefinisikan sebagai suatu diameter subglottis yang kurang dari 4 mm. Laring neonates normal dapat dilalui bronkoskop 3,5 mm. sebagian neonates mengalami stridor tidak lama setelah lahir, sedangkan bayi lainnya mengalami episode laringotrakeitis berulang. Diagnosis dibuat secara endoskopis. (Higler AB, 1997)
2.3.2 Infeksi
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen, dan bersifat sangat dinamis. Secara umum proses terjadinya penyakit melibatkan tiga faktor yang saling berinteraksi yaitu : faktor penyebab penyakit (agen), faktor manusia atau pejamu (host) dan faktor lingkungan.
Dalam garis besarnya mekanisme transmisi mikroba pathogen ke pejamu yang rentan melalui dua cara :
a. Transmisi langsung
Penularan langsung oleh mikroba pathogen ke pintu masuk yang sesuai dari pejamu. Sebagai contoh adanya sentuhan, gigitan, atau
adanya droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara atau saat transfuse darah dengan darah yang terkontaminasi mikroba pathogen.
b. Transmisi tidak langsung
Penularan mikroba pathogen yang memerlukan media perantara baik berupa barang/bahan, air, udara, makanan/minuman, maupun vektor.
Dalam riwayat perjalanan penyakit, pejamu yang peka akan berinteraksi dengan mikroba pathogen yang secara alamiah akan melewati empat tahap :
a. Tahap Rentan
Pada tahap ini pejamu masih dalam kondisi relative sehat namun peka atau labil, disertai faktor predisposisi yang mempermudah terkena penyakit seperti umur, keadaan fisik, perilaku/kebiasaan hidup, sosial ekonomi, dan lain-lain. Faktor predisposisi tersebut mempercepat masuknya pathogen untuk berinteraksi dengan pejamu.
b. Tahap Inkubasi
Setelah masuk ke tubuh pejamu, mikroba pathogen mulai bereaksi namun tanda dan gejala penyakit belum tampak. Saat mulai masuknya mikroba pathogen ke tubuh pejamu hingga saat munculnya tanda dan gejala penyakit disebut inkubasi. Masa inkubasi satu penyakit berbeda dengan penyakit lainnya, ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula yang bertahun-tahun.
c. Tahap Klinis
Merupakan tahap terganggunya fungsi organ yang dapat memunculkan tanda dan gejala penyakit. Dalam perkembangannya, penyakit akan berjalan secara bertahap. Pada tahap awal, tanda dan gejala penyakit masih ringan. Penderita masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Jika bertambah parah, penderita sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari.
d. Tahap Akhir Penyakit
Perjalanan penyakit dapat berakhir dengan lima alternatif, yaitu : 1) Sembuh sempurna
Penderita sembuh sempurna, artinya bentuk dan fungsi sel/jaringan/organ tubuh kembali seperti sedia kala.
2) Sembuh dengan cacat
Penderita sembuh dari penyakitnya namun diserta adanya kecacatan. Cacat dapat berbentuk cacat fisik, cacat mental, maupun cacat sosial.
3) Pembawa (carrier)
Perjalanan penyakit seolah-olah berhenti, ditandai dengan menghilangnya tanda dan gejala penyakit. Pada kondisi ini, agen penyebab penyakit masih ada, dan masih potensial sebagai sumber penularan.
4) Kronis
Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala yang tetap atau tidak berubah
5) Meninggal dunia
Akhir perjalanan penyakit dengan adanya kegagalan fungsi- fungsi organ.
Adapun contoh penyakit THT yang penyebabnya adalah infeksi, antara lain :
1. Telinga
a. Perikondritis
Perikondritis adalah radang pada tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga. Biasanya karena terjadi trauma akibat kecelakaan, operasi daun telinga yang terinfeksi dan sebagai komplikasi pseudokista daun telinga. Bila pengobatan antibiotik gagal, dapat timbul komplikasi berupa mengkerutnya daun telinga akibat hancurnya tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga (cauliflower ear)
b. Otitis eksterna akut
Yang dimaksud dengan otitis eksterna adalah radang liang telinga yang disebabkan infeksi bakteri, jamur, dan virus.
Faktor yang mempermudah radang telinga luar adalah perubahan pH di liang telinga, yang biasanya normal atau
asam. Bila pH menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun. Sementara pada keadaan udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mulai tubuh.
Terdapat dua kemungkinan otitis eksterna akut yaitu otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul) dan otitis eksterna difus.
c. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul)
Oleh karena kulit di speertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel.
Kuman penyebab biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus.
d. Otitis eksterna difus
Biasanya mengenai kulit liang telinga dua pertiga dalam.
Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasannya. Kuman penyebab biasanya golongan Pseudomonas.
e. Otomikosis
Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering adalah Pityrosporum, Aspergillus. Pityrosporum menyebabkan
terbentuknya sisik yang menyerupai ketombe dan merupakan predisposisi otitis eksterna bakterialis.
f. Herpes Zoster Otikus
Herpes zoster otikus adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf ktanial. Dapat mengenai saraf trigeminus, ganglion geniculatum dan radix cervicalis bagian atas. Keadaan ini juga disebut sindroma Ramsay Hunt. Tampak lesi kulit yang vesikuler pada kulit di daerah muka sekitar liang telinga, otalgia, dan terkadang disertai paralisis otot wajah. Pada keadaan yang berat, ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural.
g. Otitis media akut (OMA)
OMA terjadi karena faktor pertahanan tubuh terganggu.
Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama otitis media. Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan juga bahwa pencetus OMA adalah infeksi saluran napas atas.
h. Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
OMSK adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga
tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah. Terdiri atas OMSK tipe benign dan OMSK tipe maligna.
i. Labirinitis
OMSK terutama dengan kolesteatoma dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga terbentuk fistula. Pada keadaan ini, infeksi dapat masuk, sehingga terjadi labirinitis. Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum (general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis yang terbatas (labirinitis sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja. (Soepard EA dkk, 2014)
2. Hidung a. Sinusitis
Sinusitis merupakan proses inflamasi yang terjadi pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis yang paling umum terjadi berdasarkan lokasi adalah sinusitis maksilaris. Sinusitis maksilaris disebut akut apabila gejala klinis berlangsung kurang dari empat minggu.
b. Rhinitis Kronik
Rhinitis kronik merupakan keluhan yang paling sering ditemukan para ahli THT. Definisinya sulit dijelaskan. Dari pihak pasien, gejala yang paling sering dikemukakan berupa pereasaan rasa tidak enak pada muka dan sumbatan hidung yang tidak jelas penyebabnya. (Jacob JB, 2010)
c. Rhinitis Vasomotor
Peradangan pada mukosa hidung ini merupakan akibat dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu aktivitas saraf parasimpatis yang menyebabkan pelebaran jaringan vaskular sehingga terjadi sumbatan dan peningkatan produksi mukus, sementara aktivitas saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi yang mengakibatkan patensi hidung dan menurunnya produksi mukus.
3. Tenggerokan a. Faring
1) Tonsilitis
Tonsilitis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh peradangan pada tonsil. Prevalensi tonsillitis meningkat sesuai dengan bertambahnya umur, mencapai puncaknya pada umur 4-7 tahun, dan berlanjut hingga dewasa.
2) Faringitis
Faringitis adalah infeksi mukosa dan struktur limfe pada faring yang disebabkan oleh virus atau bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggerokan, faring eksudar dan hiperemis, demam, pembesaran kelenjar getah bening leher dan malaise. Faktor predisposisi yang membantu timbulnya penyakit ini adalah turunnya daya tahan tubuh karena infeksi virus, flu, makanan kurang bergizi, dll.
3) Selulitis Peritonsilaris dan Abses (Quinsy)
Kadang-kadang, infeksi tonsilla berlanjut menjadi selulitis difusa dari daerah tonsila meluas sampai palatum molle. Kelanjutan proses ini menyebabkan abses peritonsilaris. Kelainan ini terjadi cepat, dengan awitan awal dari tonsilitis, atau akhir dari perjalanan tonsillitis akut.
b. Laring 1) Croup
Croup adalah suatu infeksi laring yang berkembang cepat, menimbulkan stridor dan obstruksi jalan napas.
Walaupun dapat terjadi pada usia berapapun, bahkan pada dewasa, croup terutama menyerang pada anak di bawah usia enam tahun. Croup dapat dibedakan menjadi
supraglotitis (epiglottis) akut dan laryngitis subglotis akut.
2) Laringitis akut
Penyalahgunaan suara, inhalasi uap toksik, dan infeksi menimbulkan laryngitis akut. Infeksi biasanya tidak terbatas pada laring, namun merupakan suatu pra- infeksi yang melibatkan sinus, telinga, laring, dan tuba bronkus Virus influenza, adenovirus, dan streptococcus merupakan organism penyebab yang tersering. (Higler AB, 1997)
2.3.3 Tumor
Tumor adalah suatu pertumbuhan sel neoplastik yang dikelompokkan bersama; mungkin benigna atau maligna. Adapun neoplasma adalah suatu pertumbuhan baru atau reproduksi selular abnormal. Istilah neoplasma beingna mengacu pada sel-sel neoplastik yang tidak menginvasi jaringan sekitar dan tidak bermetastasis. Sedangkan istilah neoplasma maligna mengacu pada sel-sel neoplastik yang tumbuh dengan menginvasi jaringan sekitar dan mempunyai kemampuan untuk bermetastasis pada jaringan reseptif. Semua neoplasma maligna diklasifikasikan sebagai kanker dan kemudian digambarkan sesuai dengan asal jaringannya. Suatu tumor bisa benigna atau maligna. (Tambayong J, 2000)
Adapun contoh penyakit THT yang penyebabnya adalah tumor, antara lain :
1. Telinga
a. Tumor pada pinna
Tumor pada pinna atau auricular memiliki dua tipe utama, yaitu karsinoma sel gepeng dan karsinoma sel basal.
b. Tumor pada liang telinga 1) Karsinoma sel gepeng
Karsinoma sel gepeng merupakan keganasan yang paling sering pada liang telinga dan dapat disembuhkan jika didiagnosis secara dini dan ditangani dengan tepat. Disertai sekresi kronik, seringkali bersifat serosanguinosa, dan perdarahan, nyeri serta pembengkakan dalam liang telinga 2) Osteoma
Osteoma merupakan suatu tumor jinak pada dinding liang telinga yang tampak sebagai benjolan tunggal, keras, bundar, yang menempel melalui suatu pedikel tulang yang kecil pada sepertiga bagian dalam (bagian tulang) liang teliga.
3) Eksostosis
Berupa tonjolan bundar dari tulang kanalis yang hipertrofik (biasanya multipel dan bilateral). Penyebab eksostosis tidak sepenuhnya jelas; telah dikemukakan bahwa
pertumbuhan ini lebih sering terjadi pada orang-orang yang sering berenang dalam air dingin.
2. Hidung
a. Kista nonsekresi
Kista ini dibatasi oleh jaringan ikat yang longgar dan terisi eksudat berwarna kekuningan. Bentuknya licin, bulat, serta terletak subtipel.
b. Kista retensi
Kista ini terbentuk karena pembesaran dari kelenjar yang terletak dalam mukosa sinus. Penyebab sumbatan kelenjar ini mungkin oleh alergi atau infeksi. Kista ini dapat mengecil spontan atau terus membesar memenuhi rongga antrum dan menimbulkan gejala yang memerlukan tindakan pembedahan.
c. Mukokel
Mukokel adalah kista sekresi yang dibatasi oleh mukosa sinus dan menjadi besar karena akumulasi dari hasil sekret dan deskuamasi. Kelainan ini terjadi karena tersumbatnya ostium sinus.
d. Kista dermoid
Tempat yang sering ditemukan kista dermoid di daerah hidung dan sinus paranasal adalah garis sutura antara tulang hidung dan
processus nasalis os frontal. Dapat meluas ke rongga hidung, sinus frontal, sinus ethmoid, maupun sinus maksilla.
e. Osteoma sinus paranasal
Suatu osteoma sinus paranasal ditemukan lebih kurang 0,25%
dari pemeriksaan radiologi rutin sinus paranasal. Osteoma paling sering timbul pada sinus frontal.
f. Papilloma
Ada empat jenis papiloma hidung berdasarkan bentuk histologisnya (Batsakis). Papiloma inverted merupakan bentuk kelainan bermakna secara klinis. Epitel yang hiperplastik secara mikroskopik terlihat membalik atau terdapat pertumbuhan endofatik ke stroma di bawahnya.
g. Tumor non neoplasma
Polip hidung adalah hipertrofi yang edematosa dari mukosa hidung, diakibatkan oleh proses inflamasi yang edematosa pula.
Dapat tunggal atau banyak dan dapat pula bertangkai atau tidak bertangkai. (Jacob JB, 2010)
h. Karsinoma Sel Skuamosa
Keganasan tersering pada sinonasal adalah karsinoma sel skuamosa (70%). Karsinoma sel skuamosa umumnya timbul pada daerah yang berhubungan dengan paparan sinar matahari yang tinggi. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasin atau diasap juga diduga meningkatkan resiko keganasan sinonasal terutama jenis
squamous cell carcinoma. Predileksi tersering di sinus maksilla (60%), diikuti rongga hidung (20-30%), sinus ethmoid (10-15%), jarang di sinus frontal dan sphenoid (<1%). (Shavilla E dkk, 2015)
3. Tenggerokan a. Faring
1) Karsinoma Nasofaring (KNF)
Karsinoma nasofaring adalah suatu keganasan epitelial yang merupakan neoplasma dengan insiden tersering pada traktus aerodigestif bagian atas. KNF merupakan salah satu keganasan di bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok (THT) yang banyak mendapatkan perhatian, karena angka kematiannya yang masih relatif tinggi.
(Kurniawati D dkk, 2013) 2) Papiloma Faring
Papiloma jarang terjadi di dinding faring tetapi lebih sering di daerah lingkar faucium. Sangat sering ditemukan pada uvula pinggir bebas pilar tonsil dan pada tonsil sendiri.
Besarnya dapat mulai sebesat kacang polong sampai kenari besar.
3) Hipertrofi Adenoid
Adenoid merupakan kumpulan jaringan limfoid sepanjang dinding posterior nasofaring diatas batas palatum molle.
Hipertrofi adenoid dihubungkan dengan obtruksi tuba eustachius dan akibat otitis media serosa baik rekuren maupun episode ulang dari otitis media akut. Obstruksi dapat mengganggu pernapasan hidung. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan dalam kualitas suara.
4) Neurinoma; Neurofibroma; Schwanoma
Tumor neurogenik pada traktur respiratorius bagian atas termasuk semua tumor yang berasal dari jaringan saraf atau selubungnya. Neurinoma (neurofibroma) berasal dari jaringan ikat selubung saraf. Selaput ini dinamai selaput Schwann, yang berasal dari ectoderm. (Jacob JB, 2010)
b. Laring
1) Nodulus Vokal
Terdapat berbagai sinonim klinis untuk polip nodular vokalis, termasuk screamer’s nodule, singer’s node, atau teacher’s node. Nodulus jinak dapat unilateral dan timbul akibat penggunaan korda vokalis yang tidak tepat atau berlangsung lama. Seringkali bilamana disertai peradangan, maka korda vocal dapat bervariasi secara histologist dari suatu tumor edematosa yang longgar dan lunak, hingga massa fibrosa yang padar, atau suatu lesi vascular dengan banyak pembuluh kecil sebagai gambaran utama.
2) Poliposis Korda Vokalis Difus
Degenerasi polipoid di sepanjang korda vocalis biasanya berkaitan dengan penggunaan vocal yang lama, merokok, dan radang yang menetap.
3) Papiloma Juvenilis
Papiloma merupakan tumor laring yang paling lazim pada anak. Awitannya pada anak berusia antara 18 bulan dan 7 tahun, dan seringkali terjadi involusi pada pubertas.
Terkadang dapat dicurigai sebagai croup, namun didiagnosis sebagai papiloma bila tidak berespons terhadap terapi.
4) Mioblastoma Sel Granular
Tumor ini cenderung timbul pada lidah dan laring.
Suaraserak merupakan gejala utama tumor kecil ini, dan tidak sering rekurens setelah pengangkatan secara endoskopis.
5) Kondroma
Kondroma merupakan tumor kartilago hialin yang tumbuh lambat, dapat berasal dari kartilago cricoidea, thyroidea, arytenoidea, dan epiglottica. Suara serak akibat keterbatasan gerak korda vokalis dan dispnea disebabkan obstruksi jalan napas merupakan gejala utama. (Higler AB, 1997)
2.3.4 Trauma
Trauma adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami suatu cedera pada jaringan oleh suatu sebab. Dapat disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan, kecelakaan kerja, olahraga, dan kecelakaan rumah tangga. (Kemenkes RI, 2012)
Adapun contoh penyakit THT yang penyebabnya adalah trauma, antara lain :
1. Telinga
a. Laserasi/Abrasi
Laserasi adalah luka robekan yang disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Laserasi di telinga sering terjadi pada membran tympani. Seringkali sebagai akibat pasien mengorek- ngorek telinga dengan jari atau suatu alat seperti jepit rambut atau klip kertas atau bahkan akibat tamparan yang terlalu keras.
Laserasi juga dapat disebabkan oleh kerusakan yang tidak disengaja akibat pembedahan telinga sehingga dapat menimbulkan infeksi pada telinga. Laserasi dinding kanalis dapat menyebabkan perdarahan sementara yang membuat pasien cemas.
Laserasi hebat pada aurikula harus dieksplorasi untuk mengetahui apakah ada kerusakan tulang rawan.
Adapun abrasi atau luka lecet pada telinga sering disebabkan oleh alergi.
b. Frostbite
Frostbite pada aurikula dapat timbul dengan cepat pada lingkungan bersuhu rendah dengan angin dingin yang kuat.
Karena perubahan yang perlahan-lahan maka tidak terasa nyeri sampai telinga „memanas‟ lagi. Akibatnya tergantung pada dalamnya cedera dan lamanya paparan. Cedera diduga sebagai akibat kerusakan selular dan gangguan mikrovaskular yang mengarah pada iskemik local.
c. Othohematom
Othohematom seringkali ditemukan pada pegulat atau petinju.
Dapat terjadi akibat luka geser sehingga terjadi pemisahan kartilago auricular dengan perikondrium. Keadaan ini menyebabkan terjadinya akumulasi atau bekuan darah di dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago tersebut sehingga menyebabkan daun telinga tampak bengkak bahkan dapat meradang.
2. Hidung
a. Fraktur Hidung
Hidung terletak di bagian tengah wajah, menonjol dan tidak terlindung, sehingga cenderung paling sering fraktur dibandingkan tulang-tulang lain di seluruh tubuh. Fraktur tulang rawan septum sering tidak diketahui dan tidak terdiagnosis, dapat menimbulkan hematom septum atau defleksi.
b. Fraktur Sinus Ethmoid dan Frontal
Sinus ethmoid yang halus dan lemah sangat mudah fraktur, seringkali menyertai trauma hidung dan sinus frontal. Tidak jarang fragmen tulang hidung dan ethmoid tampak terdesak ke belakang, dan hal ini memerlukan tindakan reposisi pengembalian fragmen- fragmen ini ke depan lagi.
c. Fraktur Maksilla
Fraktur rahang atas dapat tunggal atau multipel dan tidak jarang mengakibatkan pergeseran rahang atas dan gigi ke posterior atau lateral, sehingga dapat menimbulkan obstruksi saluran napas.
Sering terjadi maloklusi, dan sinus maksilla serta orbita kadang- kadang juga terkena. (Jacob JB, 2010)
d. Epistaksis
Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung yang penyebabnya bisa lokal atau sistemik. Penyebab lokal dapat disebabkan oleh sinusitis kronik, benda asing, iritan, dan trauma.
Sedangkan penyebab sistemiknya antara lain hipertensi, leukemia, sirosis hati, ataupun obat-obatan (Anti Inflammatory Drugs).
Terdapat dua sumber perdarahan dari epistaksis yaitu pada bagian anterior, bersumber dari pleksus Kiesselbach dan pada bagian posterior bersumber dari arteri sfenopalatina dan arteri ethmoid posterior. (Limen MP dkk, 2013)
e. Kelainan Septum Akibat Trauma
Kelainan septum yang didapati setelah trauma dapat dibagi menjadi tiga golongan : (1) tipe lateral, biasanya merupakan akibat fraktur hidung lateral dengan disertai pergeseran septum dari cekungan vomer dan Krista maksila; (2) tipe melesak (depresi), sebagai akibat fraktur frontal yang meremukkan dan menimbulkan kerusakan septum yang tak beraturan, bengkok, terputar, terbelah menjadi beberapa bagian atau fibrosis; (3) tipe latero-frontal, sebagai paduan kedua tipe tadi, tetapi lebih sering sebagai tipe lateral yang lebih berat.
f. Perforasi Septum
Kebanyakan perforasi septum terjadi akibat trauma atau semacamya, terutama trauma bedah. Pada anak-anak, trauma karena mengorek hidung berulang-ulang lama-kelamaan dapat menimbulkan perforasi septum. (Jacob JB, 2010)
3. Tenggerokan a. Faring
1) Perdarahan
Perdarahan ke faring berasal dari banyak sumber dan kadang-kadang tidak teratur. Aliran utama adalah dari a.
faringeal ascendens dan cabang-cabang dari a. carotis eksterna dan dari cabang palatine superior dari a. maksilaris interna
2) Kontusio
Kontusio atau memar pada daerah faring dapat disebabkan oleh trauma akibat benda tumpul baik akibat pukulan maupun penggunaan alat-alat di daerah faring.
Kontusio pada faring dapat berakhir menjadi infeksi.
Contohnya infeksi pada leher bagian dalam akibat adanya perforasi pada membran mukosa pelindung mulut atau ruang faring.
3) Laserasi/Abrasi
Selain kontusio, dapat pula terjadi robekan (laserasi) dan lecet (abrasi) pada daerah faring. Etiologinya hampir sama dengan kontusio yaitu dapat berasal dari adanya benda asing atau selama penggunaan alat-alat atau intubasi.
Laserasi maupun abrasi tersebut juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi sehingga dapat terjadi akumulasi pus diantara dinding faring posterior dan fascia prevertebra menyebabkan terjadinya abses retrofaring.
b. Laring
1) Kontusio laring
Kontusio laring yang ringan bermanifestasi sebagai hematoma internal dan terkadang sebagai dislokasi kartilago arytenoidea. Trauma biasanya disebabkan oleh benda tumpul yang menghantam leher dalam keadaan ekstensi.