P OIESIS I
Shiny.ane el’poesya, Aan Subhansyah, Dian Rahayu, Agoes Andika Ask, Indra Intisa,
Rai Sri Artini, Lasman Simanjuntak, Andri Pituin Cianjur,
YS Sunaryo, dkk.
P OIESIS I
Shiny.ane el’poesya, Aan Subhansyah, Dian Rahayu, Agoes Andika Ask, Indra Intisa,
Rai Sri Artini, Lasman Simanjuntak, Andri Pituin Cianjur,
YS Sunaryo, dkk.
All right reserved ISBN : 978-623-97051-9-0
Desain Sampul: Shiny.ane elpoesya Penata Letak: Ahmad Farhan
Cetakan pertama: Agustus 2021 Ukuran 14 x 20 Hlm.
Penerbit CV Poiesis Indonesia
Jl. Sultan Agung, No. 12 Rt 02 Rw 02 Tukmudal Sumber, Kabupaten Cirebon 45611
Telp: 089526500727 Email: [email protected] Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
Seluruh isi buku ini tanpa seizin tertulis dari penerbit.
Isi di luar tanggung jawab penerbit dan percetakan
P engantar Penerbit
Pergumulan manusia Indonesia terhadap perpuisian tidak pernah surut. Dan, setiap babakannya selalu melahirkan komunitas-komunitas yang tumbuh menghidupinya. Ketika Indonesia memasuki era internet pertama--era mailing list dan www., di sana tumbuh sejumlah komunitas puisi yang coba hadir untuk menampung pemikiran dan jiwa zamannya.
Begitupun, ketika kita menapaki era media sosial menggantikan era mailing list. Komunitas pegiat puisi terus bermunculan, tumbuh dan berkembang dengan caranya masing-masing.
Di era media sosial ini, pun kita melihat sejumlah komunitas puisi terbentuk dan menjadi ramai pengunjung. Meskipun, tak sedikit yang segera kembali sepi. Ini bukan disebabkan apakah grup tersebut diisi oleh orang-orang hebat atau para pembelajar puisi mula. Nyatanya, lebih sering sepinya sebab tidak bertahannya konsistensi, respon pengelola terhadap kebutuhan perkembangan para anggotanya, atau lebih mendasar sebab terlalu sempit hingga tidak adanya visi yang benar yang ditancapkan oleh para pendirinya. Sejumlah grup memang masih terlihat tetap ramai meski tanpa visi yang jelas. Namun, tak bisa dipungkiri grup tersebut akhirnya menjadi mirip grup arisan ketimbang grup puisi--dan sastra pada umumnya; tak ada gairah di dalamnya terkait ini, kecuali gairah narsis dan gosip.
Poiesis Indonesia, kira-kira lahir di alir dan tengah situasi yang demikian itu. Yang salah satu misinya, untuk merekam jejak--terpilih- -yang sebagaimana dilakukan oleh satu-dua saja dari komunitas yang tengah berkembang. Meskipun, rekaman (terkurasi) ini tidak sampai lebih jauh dalam rangka penyusunan sebuah kanon yang berambisi.
Tetapi, dengan ketekunan dan kesabaran terbaik bersama, toh faktanya kita bisa mendapatkan hasil yang tidak asal-asal saja. Sebab, setidaknya kita sudah menyeleksikan, sudah memilih-gugurkan sesuatu yang kita kerjakan sendiri dengan hati dan nalar yang lega.
Selamat untuk kita semua para penulis. Selamat untuk kita semua para pembaca. Ini baru yang pertama.
Poiesis Indonesia
“Grup ini harus tetep eksis. Kita bisa belajar banyak hal, baik dari Sains Lab. maupun POIESIS.” Jihan Audy
“Di sini saya menemukan ruang yang tepat untuk berpuisi. Saya tidak mendapatkannya di ruang lain yang saya tergabung di dalamnya.
Di sini, saya dapat mengetahui alasan mengapa sebuah karya dapat persetujuan atau tidak. Terimakasih, Admin.” Hasan Buche
“Kurasinya seru, bahkan yang gak kirim puisi pun bisa ikut belajar. Puisi dengan isu menarik, puisi yang manis, ungkapan klise, metafora picisan, cuma ceramah dll., Seru!” Annur Aliyyu.
“Banyak Komunitas Sastra, tapi nggak banyak yang bener-bener bisa buat belajar. Selain itu, kita juga bisa uji nyali. Jujur, bangga kalau puisinya bisa up di grup ini.” Sapto Fals
“Sejak masuk grup ini, selain pengetahuan, saya pribadi jadi belajar memilah mana yang sungguh memahami tulisan, mana yang hanya karena gak enakan bilang bagus-bagus saja. Meski berulang kali tulisan ada yang gagal approved, namun itu justru jadi pemantik su[aya lebih mau belajar lagi.” Djuminten.
DAFTAR ISI
Pengantar Penerbit vi
NEW WOR(L)D ORDER 16
SEEKOR CUPANG 17
DUNIA TANPA SAINS 18
ASAL USUL KESEDIHAN 23
JANTUNG HATI PAPUA 25
PUISI GELAP 30
IBU YANG MENANAK PUISI DAN PRESIDEN YANG MENYAMAR 31 POHON TINGGI DI BAHU BUKIT 33
Ibu dalam Ingatanku 35
Negri Pendongeng 37
Sepi yang Membunuh 39
Nenekku Bukan Seorang Pelaut 40
KREMATORIUM SANTHA YANA 42
UMBU LANDU PARANGGI (2) 43
MENUJU LEMPUYANG 44
BESAKIH 45
Tahun-tahun Penciptaan Langit 46
Kotamu 47
Berapa Kelokan Lagi 48
Memuja Sajak 49
BADAI KOMORBID 50
TIDUR DI RANJANG PETIR 52
SAAT HATIKU KEHILANGAN SEKOCI KAPAL 54
IBUNDA MATI MUDA 56
FUGA 58
Tak Ada Puisi Di Kamar Rimbaud: Verlaine 63
INIKAH MASA DEPAN? 66
Mengenang Desa: Untuk Srytn 69
S A C R A M E N T U M 72
ANJING DI DUSUNKU 76
KOTA YANG KUTINGGALKAN 77
BIRRUH DAN BIDDAM PALESTINA 79
DI PARIS VAN JAVA 81
Januari 83
Juri 84
Simple Izakaya -Kasahara 85
Perempuan Tua Penjual Kembang Kuburan 86
Malala, 6 87
Malala, 4 90
Memancing 92
Ini Tahun 93
Sepenggal Cerita di Pulau Kumala 94
Kampung Kenangan 95
BAJU NATAL 96
LINDAP 97
ANAK CAHAYA 98
Tamasya 99
BEPERGIAN KE DALAM TUBUH 101
MENDENGAR SUARA SUNGAI;Kusrin 102
Kepada Jhon Elzmord 103
2021 104
Riwayat sebermula 105
Yang Mengintai 106
Sebelum Tidur 107
Ranting pada Dahan yang Tak Kunjung Patah 108
Gymnopédie No. 1, 1.4142135623731…, 1.7320508075689… 110
Jakarta Monokrom 112
NIGHT WRESTLE 113
SEPERTI EIDELWEYS 114
Belajar PPKn 115
Zalim 116
Kepergian 117
Coklat Pucat Mengepak 118
Holy Laugh 119
IUFD 120
Gagak 121
TAK ADA LAGI CAPUNG-CAPUNG 122
Senja di Tanah Banjar 124
BELAJAR MEMBERDAYA DIRI 125
Dua Kisah Rumput 126
Kerang Mutiara 127
AROMA BUNGA HUTAN 128
SUAR TAMAN RENGGANIS 129
Tentang Sajak Panjang Chairil Anwar 130
Kunang-kunang II 131
PUPUH PERJALANAN 133
ANDROID 101 139
Jangan Menangis Sayang 140
Hectic 141
Engkau Bukan Seperti Yang Mereka Adakan 142
Pepesthen 144
Di Bawah Pohon Wisteria 145
Burung yang Hinggap Setiap Malam 147
Pantat Becong Beracun 148
Die Wissenschaft 150
Black Swan 151
Nyanyian Ong 152
Desaku yang Kucinta 153
Pelangi dan Kebunku 154
Burni Telong Bale Redelong 155
Menunggu Kepulangan Ayah 157
Tralala lala la, Trilili lili 158
Karam 159
Tidur 160
Kau dan Hujan 161
Aku 162 Hujan 164
Kapal Api 165 Permainan yang Perlu Diseriusi 166
Mengapa kata-kata 167
Kunang-kunang dalam ketiadaan Cahaya 168
Ibu 170
Purna 173
RAGAM MAKANAN POKOK ORANG INDONESIA 174
TERTELAN ARUS MODERNISASI? 175
JALAN PENUH KABUT 177
Puisi Pusing 178
MENGINGAT LAUT 180
Makan Malam di Restoran 181
Sosok 182
Marilyn Monroe 183
LAGU-LAGUMU MENGUSIR SEPI 184
PARA PENGHUNI REJEKI 185
PIGURA TUA DI KAMAR IBU 186
DI MALIOBORO YOGYAKARTA 188
PELUKIS AGUNG 189
MUASAL 191
Fenomena Lastri 192
DI SEKOLAH 195
Membelai Bonsai 197
NEGERI AMPLOP 198
Rentenir 199
Teruslah 200
Kalimati 201
JALAN PULANG; JALAN RINDU 202
PARABAN, RADDIN E BUDHINA KANDHANG 203
BANJIR 204
KEBUN 205
Ananda Pulang 206
PANGGUNG KUBURAN 207
Kata-kata 208
Di Balik Jendela Kaca 209
Pelita Eva 210
HAL LAIN, SELAIN PISANG GORENG PAGI 211
Bias-Rumah Kaca 212
Seumpama salju itu kamu 213
Lelaki yang Meletakkan Hatinya di Dalam Bunga 214
Hilang? 215
Waktu 216
DI JEMBATAN DI MATA AIR 217
JARI KAMI 218
SURATKU UNTUK TUAN JASSIN 219
TILIK 220
BERUBAH WARNA 221
SENIMAN GAGAL 222
YA SUDAHLAH 223
PUISI TIDUR 224
DOA SEORANG PENGUNGSI 225
MENDENGARKAN GOD BLESS 226
AIR MATA ATAS BIOLA 227
DOA PENUTUP 228
TENANG-TENANGLAH 229
M A W A R 230
Kau Temukan Tubuhnya di Tepi Jalan 231
BURUNG-BURUNG GEREJA 232
BERLAYAR 233
MENGHAPUS JEJAK DI BATU 234
SAJAK PETROMAKS 235
KERINGAT 236
Kibar Rapuh 237
Orang Sampah 238
Mati-matian 240
PURNAMA KALENG 241
ULANG TAHUN GERHANA 242
PESISIR ITU SERUPA APA 243
BERBATANG-BATANG LILIN 244
PERUNDINGAN MEJA MAKAN 245
Yudas 246
Terang 247
enam bola mata 248
ANGIN DAN BATAS MATA PADA RINDU 249
Semesta 250
Pelabuhan Terakhir 251
GENCATAN SENJATA 252
RIO 253
DUNIA PLASTIK 254
COIMETROPHOBIA 255
RUANG 256
MODAL 257
Hari Bahagia 258
Aroma Jalan Kota 260
Tentang Penulis 261
P OIESIS I
(Selected of selected poems Januari - Juni 2011)
NEW WOR(L)D ORDER
Shiny.ane El’poesya
IA--tak melihat apa, pun dengan kita mata yang terbuka untuk suatu ketakutan dari tempat di bawah laut lepas itu ribuan kilas berita telah menyeduhkan kisahkisah tentang pesawat atau juga perahu ajaib yang bisa selamat dari kiamat.
sebagaimana perahu Noah yang pernah selamat oleh kutuk; kekeringan kemudian oleh banjir bah yang menutup belahan dunia.
IA--tak melihat apa, pun juga kita, kecuali justru secercah kesempatan untuk kembali membangun sebuah kehidupan; suatu
p
iramida;eradaban, yang dibangun di atas izin, di atas kehendak--mukjizat Tuhan.
2 0 1 7 - 2020
SEEKOR CUPANG
Shiny.ane El’poesya
S
EEKOR CUPANGNYEMPLUNG KE DALAM KATA-KATA BERANTEM DENGAN PENYAIRNYA!
2021 NEW WOR(L)D ORDER
Shiny.ane El’poesya
IA--tak melihat apa, pun dengan kita mata yang terbuka untuk suatu ketakutan dari tempat di bawah laut lepas itu ribuan kilas berita telah menyeduhkan kisahkisah tentang pesawat atau juga perahu ajaib yang bisa selamat dari kiamat.
sebagaimana perahu Noah yang pernah selamat oleh kutuk; kekeringan kemudian oleh banjir bah yang menutup belahan dunia.
IA--tak melihat apa, pun juga kita, kecuali justru secercah kesempatan untuk kembali membangun sebuah kehidupan; suatu
p
iramida;eradaban, yang dibangun di atas izin, di atas kehendak--mukjizat Tuhan.
2 0 1 7 - 2020
DUNIA TANPA SAINS
Aan Subhansyah
Seorang anak bertanya: Betapa besar sumbangan sains pada
peradaban dunia. Bisakah dibayangkan apa jadinya dunia ini tanpa ilmu dan teknologi?
Seorang ayah menjawab:
Mari kita bayangkan sebuah dunia tanpa sains.
Di sana umumnya orang tinggal di pedesan. Ada yang di gunung, lembah atau pesisir. Sebagian lagi tinggal di wilayah yang sedikit lebih padat, ada pasar dan pusat kekuasaan. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani, nelayan, tukang atau pemburu dan peramu.
Petani akan menanam apa yang mereka makan, dan memakan apa yang mereka tanam.
Mereka mengembangan tanaman multi kultur disesuaikan dengan kondisi tanah dan musim.
Aneka macam benih dikembangan sindiri. Mereka mengembangan cara menyimpan bahan pangan, seperti membuat lumbung atau sekadar meletakkan di atas tungku.
Mereka juga mengawetkan makanan dengan cara yang sudah diwariskan berabad-abad, seperti mengeringkan dan membuat fermentasi.
Kalau ada hasil tani dan kebun yang berlebih, akan mereka jual ke pasar atau dibarter dengan barang lain.
Yang pasti, karena tidak ada sains, mereka tidak mengembangkan teknologi peratanian intensif.
Tidak ada ketergantungan pada benih dipatenkan oleh perusahaan.
Tidak ada pupuk kimia yang meracuni mikro oganisma tanah.
Tidak ada pestisida yang menyebabkan penyakit kangker.
Tidak ada traktor yang membutuhkan solar dan mencemari lingkungan.
Mereka hanya bertani secara alami saja.
Nelayan menangkap ikan dengan peralatan tradisional seperti tombak, pancing, jaring dan bubu.
Sebagian sudah menggunakan perahu atau kapal layar.
Oleh karena tidak ada sains, maka tidak ada teknologi kapal motor.
Nelayan tidak perlu terjerat hutang untuk membeli solar.
Laut tidak tercemar.
Tidak ada sampah plastik.
Tidak ada limbah industri.
Trumbu karang hidup sehat sentosa.
Ikan dan udang datang menghampirimu.
Para pemburu akan menangkap binatang dan meramu hasil hutan dengan tombak, panah, supit, golok dan semacamnya.
Umumnya orang mengambil hewan burun seperlunya.
Ada juga hasil hutan yang bisa dijual atau dibarter.
Ada komunitas mengembangkan ladang di hutan atau peladangan berotasi. Tahun ini mereka membuka hutan di suatu lokasi, tahun depan pindah ke lokasi di sebelahnya. Lokasi yang ditinggalkan akan segera menjadi hutan kembali. Begitu seterusnya berpindah mengikuti rute melingkar, hingga pada periode tertentu akan kembali ke lokasi semula. Oleh karena tidak ada sains dan teknologi maka tidak ada bolduser, gergaji mesin dan truk tronton.
Tidak ada pembalakan dan perusakan hutan sekala besar.
Tidak ada tambang batu bara yang meracuni sumber air.
Tidak ada perkebunan sawit yang rakus lahan dan air.
Tidak ada bencana ekologi seperti banjir di Kalimantan Selatan.
Hutan sangat kaya dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Pengetahuan tentang cara berburu, bertani atau melaut didapat dalam komunitas secara turun-temurun.
Anak-anak petani belajar jadi petani dengan cara langsung terlibat dalam kegiatan bertani di keluarga dan komunitasnya.
Tidak ada batas yang tegas antara belajar dan bekerja.
Tidak ada batas tegas antara guru dan murid.
Tidak ada pembedaan ruang belajar dan ruang kehidupan.
Oleh karena tidak ada sains maka tidak ada sekolah formal yang dibikin untuk menghasilkan buruh industri.
Tidak ada isu komersialisasi pendidikan. Tidak ada pemalsuan ijasah.
Tidak ada menteri pendidikan yang diresafel lalu jadi oposisi.
Di dunia tanpa sains ada beberapa kerajaan besar, tapi batas teritorialnya tidak begitu jelas sehingga masih menyisakan wilayah- wilayah perdikan atau tanpa penguasa.
Ada juga wilayah-wilayah yang diduduki preman atau penyamun.
Kerajaan hidup dari pajak rakyat. Kemakmuran rakyat tergantung pada
pribadi sang raja.
Kalau raja arif bijaksama maka rakyat akan sejahtera, begitu juga sebaliknya.
Beberapa kerajaan suka berperang untuk ekspansi. Ada yang menjadi jaya. Banyak yang tenggelam di telan jaman.
Kerajaan yang sedang berjaya akan membuat monument besar, biasanya terkait pertahahan atau kepentingn religi. Proyek ini melibatkan banyak sumberdaya dan waktu yang sangat lama, bisa lintas generasi. Banyak juga orang yang ditindas dan dijadikan pekerja paksa.
Akan tetapi monumen itu pun rawan hancur terkait pegantian kekuasaan dan faktor alam.
Konflik dan perang di dunia tanpa sains juga banyak variannya.
Mulai perang suku yang merupakan strategi pengendalian polulasi, hingga perebutan sumber daya dan wilayah kekuasaan.
Akan tetapi karena tidak ada sains dan teknologi, mereka tidak mengenal peralatan tempur seperti tank, pesawat tanpa awak, rudal, senjata kimia dan biologi, juga bom atom dan nuklin. Senapan angin pun tidak.
Korban perang, bahkan untuk level Baratayuda, tidak akan melebihi jumlah korban kecelakaan lalulintas di dunia modern.
Yang pasti di dunia tanpa sains tidak ada Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
Selain soal perang, bencana alam juga menjadi faktor lenyapnya suatu kerajaan, bahkan suatu kebudayaan. Dalam menyikapi becana alam seperti gunung api, gempa bumi dan tsunami kecendrungan komunitas akan menghindar dan membiarkan alam berposes sesuai kodratnya.
Agama di dunia tanpa sains adalalah aliran kepercayaan yang lentur dan cair. Mereka menghayati dunia gaib, entah itu arwah nenek moyang, dewa-dewi atau tuhan.
Ada ribuan bentuk dan aliran kepercayan. Masing-masing punya cara peribadatan. Ada yang tampak sederhana, ada yang lebih rumit.
Akan tetapi karena tidak ada perangkat modernitas yang mendukung, maka kecil peluang agama untuk menjadi institusi besar dan arogan seperti di dunia modern.
Tidak ada infrastruktur modern yang membuat agama beralih dari ranah kultural ke struktural.
Tidak ada mesin yang mencetak kitab suci. Tidak ada teknologi intenet yang memungkinkan penyebaran permusuhan berkedok agama.
Tidak ada lapangan monas tempat orang memperkuat identitas agama dengan menegaskan perbedaan dengan pihak lain.
Di dunia tanpa sains orang tidak mungkin beragama dengan bom bunuh diri atau menabrakan pesawat bajakan ke gedung wtc.
Agama di dunia tanpa sains hanyalah salah satu unsur dari kebudayaan yang tidak lebih utama dan tidak terpisah dari unsur-unsul lain dalam kehidupan.
Warga dunia tanpa sains tentu juga mengembangkan sastra, kesenian dan filsafat.
Akan tetapi, sekali lagi, hal-hal itu bukanlah bidang-bidang yang berdiri sendiri seperti di dunia modern. Semua menyatu dalam keseluruhan gerak kehidupan. Holistik.
Ketika Petani memuja dewi kesuburan, di situ ada aspek religi, sastra, seni suara/musik, yang menopang aspek filosofinya.
Dalam pekerjaan pun tidaklah terjadi pembagian profesi secara tegas.
Seorang nelayan bisa jadi merangkap petani atau tukang kayu.
Tukang kayu bisa merangkap dukun, tabib atau tokoh agama.
Di sisi lain mereka semua bisa berperan sebagai filsuf, sastrawan, penembang, penari dan sebagainya.
Tiadanya teknologi modern tidaklah otomatis menyulitkan kehidupan di dunia tanpa sains.
Orang-orang mengembangkan kemampuan Ilmu kanuragan,
memaksimalkan potensi tubuh dan tenaga dalam untuk menghadapi berbagai tantangan.
Spiritualitas dan daya intuisi lebih berkembang dibanding rasionalitas.
Meski demikian mereka juga menghadapi masalah terkait kesehatan, seperti penyakit dan wabah. Oleh karena tidak ada imunisasi, mereka mengandalkan imunitas alami tubuh. Seleksi alam terjadi, hanya yang kuat yang akan bertahan dan meneruskan generasi. Dengan demikian mereka tidak mungkin menghasilkan generasi lemah seperti yang terjadi di dunia modern. Imunisasi yang dikembangan dunia modern telah memberi kesempatan pada si lemah untuk ikut hidup.
Di dunia tanpa sains sebagain orang hidup bahagia. Sebagain lagi
Bahagia dan derita bukan hal yang mutlak, tapi silih berganti sepanjang hidup.
Lagi pula konsep bahagia tentu berbeda dengan masyarakat modern.
Yang pasti di duna tanpa sains alam raya akan jauh lebih berseri dan lestari.
ASAL USUL KESEDIHAN
Aan Subhansyah
Di semesta dongeng.
Udara adalah rentang. Daratan adalah jarak.
Pohon pohon merambat cepat menuju bulan.
Sesekali turun hujan, rintik atau lebat, lalu membentuk sebatang sungai.
Tapi tak pernah menuju samudera...
Pada awalnya tuhan menciptakan hanya satu manusia.
Manusia pertama itu memiliki segumpal otak, dua buah payudara dan sejuntai penis.
Tiga organ tubuh itu khas, karena tidak dimiliki oleh mahluk tuhan yang diciptakan sebelumnya, iblis dan malaikat.
Itulah sebablnya manusia menjadi mahluk tuhan paling sempurna di semesta.
Perlu kukatakan padamu, manusia pertama itu tidak bisa dikatakan laki- laki atau perempuan, sebab dia hanya satu, belum ada pembandingnya.
Maka saat itu belum ada isu jenis kelamin dan gender.
Suatu hari manusia berjalan-jalan di taman surga, di mana sungai-sungai mengalir di bawahnya.
Tiba tiba dia dikejutkan dengan munculnya seonggok iblis dari celah- celah pohon pisang emas.
“Hai manusia”, sapa iblis ramah.
“Hallo”, jawab manusia juga ramah.
”Sendirian aja nih?”, tanya iblis mulai menggoda.
”Sendiri? Apa arti kata sendiri?”. Manusia balik bertanya keheranan
”Mahluk sempurna, pantas tidak tahu arti sendiri”. Jawab iblis makin menggoda.
”Kalau begitu jelaskan padaku arti sendiri”, desak manusia.
Iblis terkekeh-kekeh, lalu menjawab. ”Coba tanya langsung pada tuhan”.
Manusia pada dasarnya punya sifat penasaran seperti yang disinyalir oleh Rhoma Irama.
Dia langsung menemui tuhan.
”Tuhan, aku ingin bertanya padamu, apakah arti sendiri itu?.”
Tuhan tersenyum bijaksana, lalu menjawab lembut. ”Sendiri itu artinya
mengerti.”
Tuhan berajak dari singgasananya, berjalan mendekati manusia yang sedang bingung. ”Engkau akan memahami apa itu sendiri kalau engkau pernah mengalami situasi yang sebaliknya.” Kata tuhan.
”Kalau begitu, tempatkanlah aku dalam situasi yang sebaliknya itu agar aku bisa mememahami situasiku yang sekarang.” Desak manusia.
Tuhan tersenyum lagi ”Oh tidak, itu akan membuatmu mengalami kesedihan.” Tuhan menjawab sambil memandang dengan penuh kasih.
”Kok bisa begitu?.” Manusia makin heran.
”Sekarang ini engkau sendiri, tapi engkau bahagia. Jika engkau mengalami kebersamaan atau memiliki teman, maka engkau pasti tidak lagi bisa menikmati kesendirian, dan itu akan membuatmu sedih.”
Jawab tuhan.
”Tapi bagaimana aku bisa mengerti apa itu bahagia jika aku tidak pernah mengalami kesedihan.”
Manusia memang cerdas, maklum dia mahluk sempurna. Maka tuhan pun akhirnya mengalah. Manusia memang tidak pernah memahami kasih sayang tuhan.
”Baiklah.” Kata tuhan sambil menghela nafas panjang. ”Akan aku ciptakan manusia lain agar engkau tidak sendiri lagi.”
Tuhan melanjutkan kata-katanya ”Manusia baru itu akan aku ciptakan dari jenismu sendiri. Silahkan engkau pilih bagian tubuh mana yang akan engkau sumbangkan sebagai bahan baku manusia baru.”
Mendengar itu, manusia berfikir sejenak: Seandainya aku berikan otakku, bagai mana kelak aku akan berfikir? Lalu dia memandangi kedua payudaranya yang bergantung indah, dia merasa kagum dan sayang.
Kemudian dia melihat ke bawah. Di antara kedua pahanya ada sebatang penis yang sebenarnya juga menarik. Tetapi organ itu agak merepotkan karena sering mengeras tanpa sebab di pagi hari.
Akhirnya meski dengan sedikit ragu, manusia memutuskan untuk menyumbangkan penisnya sebagai bahan baku manusia baru.
Tidak ada yang sulit bagi tuhan, maka operasi pembentukan manusia baru itu pun berjalan lancar.
Manusia baru agak berbeda dengan manusia asali.
Oleh karena fitrah bahan baku, dia hanya memiliki penis, dan tidak kedua organ penting lainnya. Sedengkan manusia asali sudah kehilangan penisnya sejak saat itu.
Lalu tuhan berfirman. ”Kuberi nama manusia baru ini laki-laki. Dan engkau manusia asali, kunamakan engkau perempuaan.”
Sejak itu perempuan dan laki-laki hidup bersama. Jika sekejap saja mereka berpisah mereka mulai mamahami arti kesendirian dan kesedihan. Perempuan terkadang juga merindukan bagian tubuhnya yang hilang itu. Sedangkan laki-laki, oleh karena kodrat ciptaannya, maka dia pun punya kecendrungan untuk mengembalikan si penis pada pemilik aslinya.
JANTUNG HATI PAPUA
Aan Subhansyah
Kuhirup udara pagi
di suatu desa di jantung hati Papua Di hadapanku
mengalir sebatang sungai purba airnya sewarna subuh
dihuni ikan-ikan gabus sebesar betis orang dewasa.
Di tepian berlumpur
terserak semak kangkung liar batangnya panjang daunnya lebar
menyembulkan kembang-kembang putih kontras dengan kehijauan sekitar.
Di kejauhan
pohon-pohon sagu tumbuh bedesakan besar menjulang dan angker
sumber energi sejak nenek moyang.
Alam kaya raya tersaji sejauh penglihatan.
Kualihkan pandang pada selembar papan
terpampang di depan kantor desa tertulis di situ : desa miskin Pak Desa berkata
desa mereka dikategorikan miskin karena rumah-rumah tidak dibikin dari semen jalan desa tidak dilapisi aspal
dan warga tidak punya sepeda motor Tapi Pak Desa bangga
pemerintah su banyak kasih bantuan ada bantuan langsung tunai
ada beras miskin yang kemudian
berganti nama beras sejahtera ada jatah mi instan, sarden dan sosis, tinggal lep.
Orang-orang diajarkan bahwa
beras berkutu lebih beradab daripada sagu
mi instan lebih bermartabat dibanding kangkung tepian sarden dan sosis lebih mulia daripada ikan gabus sebesar betis.
Lagi pula buat apa capek-capek beburu dan meramu?
tinggal tunggu bantuan saja tho
kesejahteraan dan martabat akan meningkat.
Inilah cara mudah menjadi Indonesia praktis dan efisien, tinggal lep tangan tak lagi harus terampil kaki tak lagi perlu lincah jiwa tak lagi mesti gigih
Suatu ketika bantuan-bantuan itu terlambat datang orang bertanya-tanya
mungkin ada masalah di kabupaten atau hambatan dari propinsi atau ada kebijakan baru dari pusat tidak ada yang tahu pasti.
Semua sabar menunggu hari demi hari
minggu ke minggu sebulan berlalu tetap menunggu sampai beras habis mi sarden sosis ludes
bantuan tunai sudah lama tandas di kedai tuak.
Tetap menunggu
Akhirnya ada kabar bantuan itu akan segera datang tapi ketika datang, semua langsung
dibawa kabur oknum kepala desa
entah ke mana
berhari-hari tidak pulang
kata orang beliau berfoya-foya di kota berpesta dengan bir dan wanita.
Orang-orang masih mengunggu anak-anak hanya minum air sumur hingga perut menjadi buncit tapi badan bertambah kurus mata semakin dalam kulit menggelambir.
Penyakit mewabah lalu
satu-persatu anak-anak dan bayi mati.
Maka satu negeri menjadi heboh media seperti durian runtuh pemerintah dan oposisi berdebat netizen tak kalah ribut
mereka membahas pentingnya infrasturktur perlunya tenaga kesehatan
urgennya pendidikan dan macam-macam.
Inilah krisis itu
nilai-nilai dan cara hidup lama sudah sirna dihancurkan secara sistematis.
Sementara nilai-nilai dan cara hidup baru belum sepenuhnya tumbuh
sebab poses yang dilalui memang tidak wajar.
Tangan tak lagi terampil kaki tak lagi lincah jiwa tak lagi gigih Di depan mata
ikan gabus berkecipak kangkung merambat liar pohon-pohon sagu berjejal
tapi tidak lagi dilihat sebagai sumber kehidupan
melainkan simbol keterbelakangan.
Kuhirup udara senja di suatu desa di jantung hati Papua.
Nafasku sesak.
PUISI GELAP
Aan Subhansyah
kucari kamu
dalam sebuah puisi gelap pujangga besar menulisnya dengan tumpahan malam pada suatu masa yang kelam kupanggil kamu di baris-baris kata kudapati hanya gema
kuraba kamu di lapis-lapis makna kutemui hampa belaka
aku tersendat di lorong bercabang tak ada lentera penerang
tak ada bintang-bintang tak ada kunang-kunang
tak kutemukan sedikit pun kamu dalam gulita itu
yang terdengar hanya suaraku yang teraba hanya ragaku yang terendus hanya nafasku yang terkecap hanya lidahku di dalam puisi gelap
kutemukan diriku yang telah digelapkan berabad-abad lalu Yogya 24/02/21
IBU YANG MENANAK PUISI DAN PRESIDEN YANG MENYAMAR
Aan Subhansyah
Di sebuah gubug, seorang ibu sedang menanak puisi, sementara putri kecilnya menangis kelaparan.
“Sabar nak, sebentar lagi makanannya matang.” Kata si ibu dengan getir.
Tapi sudah berjam-jam, tak ada sesuatu yang bisa dimakan.
Seorang Presiden yang sedang menyamar sebagai tukang kebun kebetulan lewat dekat gubug itu.
Aroma puisi yang mengepul dan tangisan gadis kecil yang kelaparan menghentikan ayunan sepeda onthelnya.
“Mengapa engkau memasak kata-kata?” Tanya Presiden yang menyamar sebagai tukang kebun itu kepada ibu yang menanak puisi.
“Apakah diksi bisa menjadi nasi?” Lanjutnya.
“Ini sekadar menghibur putri kecilku karena tidak ada yang bisa aku masak hari ini.” Jawab si ibu.
Hening di luar. Sementara larik-larik puisi yang menggelegak dalam panci makin menyayat hati.
Presiden yang menyamar sebagai tukang kebun itu seperti teringat sesuatu, kemudian dia menyambar sepeda ontelnya, putar haluan menuju istana, dilewatinya beberapa Paspampres yang pura-pura tidak menyadari kehadirannya, lalu menyusup ke lumbung istana, diambilnya sekarung beras yang berlogo burung garuda emas, diletakkannya di atas palang sepeda onthelnya, kembali mengayuh, melewati beberapa Paspampres yang pura-pura tidak menyadari kehadirannya, menuju gubug ibu yang sedang menanak puisi.
“Ambilah beras ini,” kata sang Presiden,
“dan berikan puisi itu padaku.”
Si ibu mematikan kompor, mengangkat panci yang berisi puisi mendidih, memindah isinya ke dalam sebuah rantang alumunium lalu menyerahkannya pada Presiden yang menyamar sebagai tukang kebun.
Sang Presiden pulang ke istana dengan membawa rantang berisi puisi yang digantung di stang kiri sepeda onthel,
dilewatinya beberapa Paspampres yang pura-pura tidak menyadari kehadirannya, lalu menyusup ke dapur istana.
Seorang Staf Khusus Milenium yang berwajah tampan menyambut dengan tergopoh-gopoh.
“Simpan puisi ini baik-baik,” kata sang Presiden, “akan sangat berguna untuk kampanye presiden periode kedua saya.”
Staf Khusus Milenium yang berwajah tampan menerima rantang itu dengan hati-hati,
kemudian memindah isinya ke sebuah stopmap berlogo burung garuda emas.
Tertulis di situ: SANGAT RAHASIA.
POHON TINGGI DI BAHU BUKIT
Aan Subhansyah
Setelah menghilang tujuh ratus tahun
akhirnya kutemui dia lewat mesin pencari google.
Seorang petapa tua telah mengunggahnya pada sebatang pohon tinggi di bahu bukit.
Dulu dia masih putik dengan tangkai yang rapuh, sekarang sudah menjadi buah yang lebat seperti hujan menjelang pancaroba.
Kulihat orang-orang berebut mengunduhnya dengan galah-galah panjang yang ujungnya bercabang dan berkeranjang jala.
“Ini puisi yang matang pohon,” kata seorang penyair yang karyanya banyak dimuat di akun facebooknya.
“Tapi mengapa kita perlu memaksanya turun?” tanya seorang netizen di kolom komentar.
“Supaya tidak keduluan codot,” jawab penyair medsos itu.
Orang-orang terus menjolok tapi tak kunjung dapat.
Mula-mula mereka bekerja sendiri-sendiri, lalu bekerja sama, kemudian membentuk organisasi yang ada AD/ART-nya.
Tetap saja tak mampu meraih buah itu.
Kupikir sebaiknya memang dia jatuh sendiri sesuai takdir daurnya, seperti kata pepatah, pasti tidak jauh dari pohonnya.
Maka aku hanya duduk-duduk saja di salah satu akarnya yang menonjol, sambil selfi-selfi.
Kini aku sudah menunggu berhari-hari. Entah sudah berapa giga bite data Internet yang aku habiskan, pada hal aku tidak menggunakan kuota unlimited.
Aku mulai resah, bagaimana kalau kuotaku habis sedangkan di bawah pohon ini tidak tersedia sinyal wifi gratis.
Baiklah aku akan berhemat, fitur dan aplikasi yang tidak penting ku nonaktifkan.
Aku menggunakan facebook lite yang tidak banyak memakan paket data, tapi konsekuensinya aku tak bisa melihat foto-foto apa lagi video.
Kuharap ini berguna untuk melatih kepekaanku.
mengaktifkan indera ke enam, justru karena dia tidak bisa melihat.
Sekarang aku merasa makin akrab dengan intuisiku
Mula-mula aku bisa menebak detil sebuah foto hanya dengan membaca komentar-komentar yang berseliweran di bawahnya.
Banyak komentar yang menjebak atau tidak relevan, ada yang sengaja mengalihkan perbincangan, ada yang menawarkan dagangan, ada pula yang mencari permusuhan.
Semakin hari sel-sel di tubuhku semakin peka.
Aku merasakan energi akar pohon yang kududuki ini menyerap air dan unsur hara dari dalam tanah, mengarus melewati urat batang yang tua, menyusuri seluruh dahan, cabang dan ranting hingga daun-daun, lalu berproses di situ, mencerap terik mata hari untuk memasak makanan di hijaunya, lalu melepaskan oksigen ke angkasa, sambil menyebar energi yang sudah matang ke seluruh bagian pohon.
Bunga-bunga pun bersimbulan, lalu menjadi putik, kemudian menjadi buah, akhirnya matang dan jatuh ke tempat aku yang sedang duduk di tonjolan akar ini, diam di situ selama tujuh ratus tahun sambil selfi-selfi dan menyaksikan orang-orang yang masih berusaha mengunduh buah yang di atas tetapi tidak menyadari buah yang jatuh itu.
Kupandangi buah itu lekat-lekat,
dia sangat mirip dengan diriku, mungkin kami berasal dari pohon yang sama.
“Dia memang dirimu.” Terdengar suara Petapa tua yang muncul entah dari mana.
Yogya 01/06/2021
Ibu dalam Ingatanku
Dian Rahayu
kutemui ibu ketika ingin menyeduh kopi di dapur subuh tadi
ibu duduk di depan tungku menyalakan api dengan bara yang kemudian nyala
kobarnya sampai ke mata
kutemui pula ibu yang tengah memasak sayur kesukaan ditumisnya bawang dengan irisan cabai persis pintaku
wanginya menguar di udara meyelusup penciuman dari kenangan kutemui lagi ibu yang tengah duduk di depan televisi
hitam putih gambarnya belum pula mengenal parabola
hari minggu ibu senang menonton telenevola sepulang belanja gambar-gambar kabur di penglihatanku
tapi senyum ibu selalu tampak nyata dari waktu ke waktu lagi kutemui ibu ketika hari beranjak malam
di kamar ibu tengah membacakan cerita pada si bungsu adikku yang kelima
aku duduk di sampingnya berebut manja ibu tertawa mengecup kepala
lalu menyuruh tidur dengan iringan do’a hari-hari sulit seperti ini
ibu makin sering kutemui pada lipatan pakaian di almari
di sajadah yang terkembang diiring suara mengaji di tengah malam ketika dibangunkan mimpi di siang hari ketika matahari terik sekali pada sepiring makanan di atas meja
di segelas air berwarna yang kuhidu setiap senja di kamar mandi dengan aneka warna
sabun dan shampo pencuci kepala di malam-malam yang penuh doa
“bu, hidup begitu sulit setelah kau tiada”
aku menghadap bayang ibu yang tersenyum di penglihatanku ibu melambai sebelum berlalu
membawa kenagan dan hati pilu rindu, selamanya dari waktu ke waktu Pekanbaru 27.12.2020
Negri Pendongeng
Dian Rahayu
pernah ibu mendongeng
tentang burung-burung patah sayap dan ular yang berjalan dengan kaki empat juga tentang kambing yang menjadi raja di suatu negri tak disebut namanya pernah pula bapak bercerita tentang negri yang makmur sentosa rakyatnya sukacita menari sepanjang hari tak perlu bersekolah atau bekerja cukup tidur lalu bermimpilah
pernah kawan-kawan menggambarkan suatu negri yang kaya menggemaskan gedung-gedungnya tinggi menjulang orang-orang berjalan diburu kesibukan jalanan ramai lalu lalang kendaraan dinamakan tempat itu metropolitan
kutanya ibu di sela dongeng menjelang tidur apakah burung patah sayap dapat kembali terbang
apakah ular tak lagi mengenal tanah tempat dia seharusnya melata apakah kambing menajadi raja untuk selamanya
memerintah dengan bijaksana tak hanya pandai mengembik saja atau raja hanya pintar mengangguk lalu mengelus jenggotnya kutanya bapak yang sedang bekerja
kapan kita ke negri yang kaya tinggal di sana sebagai rakyatnya agar bapak tak lagi letih mengayuh beca bisa membeli baju setiap hari raya
kutanya kawan yang senang mengobral kata tunjukan peta tempat dia pernah berkelana di mana letak metropolitan berhutan susunan bata megah bangunan dihuni manusia tergesa-gesa
mereka semua
ibu, bapak, dan kawan-kawan diam menatapku iba
mereka bilang aku suka hanyut dalam bualan masuk ke dalam dunia imajinasi
tanpa bisa membedakan
mana kata-kata nyata dan mana sekedar mimpi sementara negara kita kini
hanya bisa menggelar parodi saling sakit hati
lalu rangkul merangkul koalisi pejabatnya senang debat mendebat saling embik sambil mengunyah tuduh menuduh adalah biasa pemasukan mana yang lebih besar suapan kambing
atau pawang pembersih kandang yang lebih diuntungkan
negara kita kata, ibu
adalah dongeng pengantar tidur anak cucu kala perut lama menganggur dan rumah terancam digusur
Pekanbaru 10.1.2021
Sepi yang Membunuh
Dian Rahayu
tak ada yang tertinggal kau pergi dan aku mengemasi kata kata yang tadi berloncatan di antara gelas bir,
bau tembakau, dan selangakangan terselip pula ia, di hitam kopi kau sesap pahitnya
di bibirku yang menumpahkan darah, umpatan, dan kepura puraan
kau pergi, aku masih telanjang jantung degup
mencari detakmu di atas bantal, tapi hilang kukenakan kutang
dan selembar celana dalam berwarna hitam sempat kusimpan aromamu di keduanya nanti, ketika malam terlalu jahanam kucari hangatmu di sana, pada aroma dan desahmu yang kusimpan
di segelas kekesalan beraroma bir dan tembakau
kau pergi dan aku menjemput mimpi malam masih berbau dusta
di antara gelap aku meraba jejakmu di udara
hangat, maka kusimpan ia di hati dengan menikam
kehilangan tepat di dada esok, kekasih
cinta akan mengabarkan padamu tentang kesepian yang paling membunuh
dadaku kehilangan detak setelah kau melangkahi pintu Itu
Nenekku Bukan Seorang Pelaut
Dian Rahayu
nenekku bukan seorang pelaut bukan pula dia petani
yang mencangkuli hari-hari nenekku seorang pendongeng senang bercerita
sebelum malam benar-benar jatuh sambil menggulung tembakau
di gulungnya pula harapan ke dalam igau nenekku gemar menggerakan tangan ketika bicara menggambarkan kekesalan nenekku bukan pula seorang pegawai senang duduk di kursi kepercayaan jumawa, seolah dia pemilik negara dan rakyat adalah jajahannya senang lupakan janji-janji
sering amnesia ketika menghadapi realita negara
nenekku bukan pula seorang selebritis senang berdandan, memanipulatif bukan pula ia seorang penyair yang menuliskan kata-kata menjadi kiasan, bias makna
nenekku seorang yang lantang bicaranya bercerita penjajahan sejak Belanda hingga zaman merdeka
katanya hidup masih sama saja
meski tak lagi terdengar dentuman senjata atau hardik marah pengkhianatan pada bangsa kata nenek
sekarang kita dijajah
pengetahuan juga tontonan membuat moral merosot dan kesopanan minggat
nenekku bukan seorang pedagang yang menjual kata-katanya dalam partai-partai besar juga bukan seorang politisi
yang senang mengkebiri fakta-fakta memanipulatif berita
ketika pemilu tiba nenek irit bicara
takut tergoda iming-iming penguasa dia tuli dan bisu tiba-tiba
nenekku hanya seorang pendongeng ketika malam-malam terlalu panjang bagi encoknya
aku menjadi pendengar setia bagi setiap kata-kata
yang menjadi sesalan bagi negeri dan anak-anaknya nenekku bukan pahlawan
hanya pengamat yang meresapi keadaan menjadi pendongeng kala malam terlalu berat bagi penyakitnya yang diburu usia dan dimakan masa nenekku bukan pelaut
bukan pula agamawan bukan ia wartawan
bukan pula mantri kesehatan nenek seorang pendongeng hebat bicara tak tau tulis baca
menjadi pengamat dari pelita ke pelita semua dicatat di dalam kepala
KREMATORIUM SANTHA YANA
Agoes Andika Ask
Berapa karma tersulut disini karena terlahir
membawa bayangan ke bumi dan nafas tersedak
bau hangus tulang belulang terus menerus
jadi abu jadi air jadi tanah dan angin berapa doa digoyang genta
mendamaikan alammu tergores duka Kelahiran demi kelahiran
menunggu giliran dan tangan terjulur meraih kefanaan
begitu asap pupus ke angkasa sampaikah
atau terdiam di bukit bukit begitu lama
kelahiran adalah kata awal membaca aksara
dalam tubuh
hingga kematian nanti baleagung, 11 des 2020
UMBU LANDU PARANGGI (2)
Agoes Andika Ask
Raga yang tak sampai
mengulat airmataku ke mumbul membumikan kata
tanah bali yang keramat jadi tempatmu menjelang damailah disana
bawalah katakata ini bermimpi bersamamu saat kudirikan gubuk disini
Istirahatlah sejenak sambil membacanya tanpa gestur imajinasimu yang liar
menjadi abadi bersama tanah kuda mana yang ingin kau tunggangi menghantar puisi ke langit
setelah upacara ini
berjalanlah secepat yang kau inginkan sebelum matahari kembali ke bumi
singaraja, 12 april 2021 live penguburan umbu di pemakaman mumbul nusa dua bali
MENUJU LEMPUYANG*
Agoes Andika Ask
Di puncak bisbis kudengar percakapan para bhakta menebas rumpun bambu agar esok meneguk madu surgawi di jalan duniawi
lelintihan tetua
pendaki ditangkap pepohonan dan dingin bersama keriuhan kerakera penghuni bukit makin menjauhkan bayangan diri
disana jua umbulumbul memberi saksi tanpa tetabuhan di sepanjang
telunjuk mengarah ke atas nafaspun tersisa tanpa kata
“jangan mengeluh”
demikian riwayat turun temurun hyang gnijaya mentitahkan
sampai rumah angin begitu menderu menujumu begitu berpasrah
diantara undag tanah purba dan campuran kekinian jadi tanjakan hasrat pemujamu tiap jengkal waktu menyemai rindu tidaklah berkompromi
selagi kaki melangkah selagi puisi ini berkumandang aku tiada surut bertandang baleagung, medio mei 2021.
Lempuyang -- salah satu Pura besar di Bali
BESAKIH
Agoes Andika Ask
Di besakih matahari bersembunyi dari keramaian umat bergantian menekan awan ke atas
dengan kedua tangan
dengan asap dan suara memelas menyusup lingkaran gaib di sekeliling menunggu menjadi sempurna
sebelum panasnya menyapu awan dingin darimana memasuki gerbang pura semua terbuka dengan kata hati memilih tempat dan keteduhan sebelum didalam penuh oleh keinginan dan mimpi
meliuk di jalanan rendang-besakih bergegas dalam antrian sesak suara itu memanggil terus kembali ke dalam
menanda kening dengan aksara menelisik saudara terlahir aliran darah di urat nadi menggeseknya berpuncak api membakar
terbakarlah dalam kobaran sujud baleagung, akhir mei 2021.
Tahun-tahun Penciptaan Langit
Rai Sri Artini
Bersama kita menyusun batu-batu musim Yang menjadi langit bagi jiwa
Yang menjadi naungan bagi harapan
Di tengah lengang cahaya kita susupi nyanyian Atau menyesap sari kata - kata dari hembusan angin
Langit tercipta. Kita memasuki jalan penuh cahaya sekaligus berbatu Langit kita cipta dari mimpi - mimpi sederhana
Di bawahnya kita telanjang Kata - kata terserak di ranjang
Di bawah langit batu - batu menjelma samudera Sesal dan cemas tak lagi mendera
Dalam tahun - tahun penciptaan langit
Aku bukan lagi arca yang lahir dari mantra - mantra Aku sajak - sajak hidup penuh gairah
Seperti gairah yang meletup pertemuan Kuntum yoni dan batang lingga
Kotamu
Rai Sri Artini
Kita belajar menerima hitam putih dan Lapar purba dengan cara sederhana Menggali ceruk yang diperam kenangan
Lalu menggenapinya dengan sepiring nasi kebuli Lidahmu mencoba menangkap gurih santan di sela riuh Monyet - monyet liar di kepala
Menyusuri mimpi - mimpi absurd di langit kelam kota Tak pernah lagi kau eja
Segala gejolak kemarau
Atau mengutuki hujan yang mungkin ingkar janji Hanya khusuk berselingar di bangku kayu Seolah berhasil memburu kepahaman Di tengah lanskap yang penuh misteri tanpa ciri
Kotamu yang selalu riuh dalam sunyi Yang selalu hikmat dalam beribu suara Telah membawa doa kita ke haribaannya Ia menjelma lembah dan bebukitan Ia adalah udara yang kita hela Kotamu yang penuh denyar Kepingan waktu tanpa arah
Kita kan merindu malam - malamnya Malam - malam penuh mazmur puisi Tempat kita temukan diri
Yang jati Yang aku
Asal segala amsal ( 2020)
Berapa Kelokan Lagi
Rai Sri Artini
Berapa kelokan lagi Mesti kita tempuh Sampai kepada pagi Sinar mentari lirih menyapa Kicau burung mencipta puisi Berapa teguk lagi
Mesti kita minum Sampai pada pagi Mata terbuka
Mimpi-mimpi tak lagi nyala Atau tak mengaku
Sebagai mimpi yang beku Entah berapa batang lilin Mesti membakar diri Kelokan-kelokan waktu Sprei basah pucat Sepucat dada
Bergelas-gelas kopi pahit di malam-malam tak berujung Kantung-kantung mata yang menghitam
Dan jerit kipas angin sepanjang malam Adalah perayaan hidup sebenarnya
Sepenuh-penuhnya puisi yang mengisi dada Sepanas panasnya api yang membakar ego Berapa kelokan lagi
Halaman terakhir buku Sebelum aku terjaga Di pagi yang kosong
Tanpa nyala kompor yang riuh Tanpa gemuruh mesin cuci Hanya mata kosong air mata ( 2020 )
Memuja Sajak
Rai Sri Artini
Apalagi yang mesti kukatakan Selain sajak - sajak
Penghimpun air mata
Tak sekedar kata - kata asing yang bising Ia memikul bebanku sepanjang usia Nadaku sendiri sumbang
Didengar telingaku yang bimbang
Bermacam pertempuran menciptakan luka Luka - luka yang baka
Sungguh aku terasing dari rima sajak Hanya terpenjara dalam sunyi Berjarak dengan bunyi
Aku memuja sajak dengan darah Dengan bulan sabit merah
Meski kadang menghidangkan kematian Dalam panjang penantian
Ingin kusembahkan nyawa berlipat - lipat Namun tiada urat lagi melompat
Ke segenap alamat
Disematkannya padaku kata pecundang Yang malang
Sebab tak ada terpandang
Dari basi kata - kata alang kepalang Kanku ingat setelah berganti baju Berapa ratus kelahiran kurayakan Untuk menemukan rahasia kupu - kupu Di lekuk tubuhnya
( 2021 )
BADAI KOMORBID
Lasman Simanjuntak
menghirup balsam inhaler- menonton abk kapal gula positip virus India-roh takut
makin menyusup
ke dalam demam paruparuku
“mengapa yahwe yang bertakhta di atas kerubim seperti diam,”
tanya kawan pujangga yang sudah dibaptis di kolam tanpa rapid test antigen
mataku kembali bisu hidup selalu bergulat ngeri dengan benih virus bermutasi rahim penyakit ini
terus saja membuntingi penuh birahi
kantongkantong bandara, stasiun kereta api,
mall, pusat perbelanjaan,hotel, terminal bus, super market, rumah sakit, puskesmas, kuburan, kantor polisi
dan rumah ibadah karena kluster baru
“bukankah engkau sudah divaksin dua kali,”
tanya pewarta dari negeri di bawah telapak kaki mereka menolak isolasi mandiri
mereka menolak protokol kesehatan karena terus menulis berita
di atas ribuan masker daur ulang yang terbuang percuma
ke dalam tong sampah iman harus tegak lurus
benih jam rohani harus tetap menyala !
begitu pesan singkat orangorang lewi yang melawatku lewat layar tabung televisi lansia
tanpa antena di atas genteng rumah yang tak pernah tidur seharian
sehingga bumiku terus berputarputar seperti kapal berlayar mencari benua yang sudah aman berpesta ria
musik dunia dan panggung tarian purba entah sampai kapan, tanyamu
sambil terus berdoa
seraya membangun mezbah tembaga mencatat nyawa siapa
tak tercatat di buku kehidupan di surga Pamulang, Mei 2021
TIDUR DI RANJANG PETIR
Lasman Simanjuntak
sewindu telah ditulis pesan petapa bersyair dalam air
wajah langit lalu terbuka lebar dari Tuhan ada kabar singkat;
“segera jaring jiwa orangorang murtad karena sebuah pekabaran selalu menjenguk setia,” kata pengkhotbah yang sudah divaksin dua kali -awan kecil dari laut ditengok tujuh kali
jadilah hujan bertubitubi-
tiba di atas kasur yang gelisah bersatu dengan benturan air kolam batu ikanikan segera sodorkan mulutnya
dengan menu makanan bervariasi bersama ayatayat suci supaya basah lagi dengan genangan airmataku
yang bermuara ke sungaisungai keangkuhan dan kegetiran hidup
“mengapa pekabaran paranabi tak mau dibalas,” tanyanya lagi butiranbutiran tiang awan terlihat
dari balik jendela agunan rumah
namun, suara guntur dan kilat berapi tak mau bersapa lagi
usai memotret pasangan pengantin mandul bersetubuh dengan iringan lagu kanakkanak jenaka
kusiapkan hati untuk ibadah malamhari
“roh ketakutan makin mengurung mimpimimpi sianghari ini, padahal jam khotbah mau kusampaikan hidangan roti hidup,” katamu sambil memungut bunyi pemetik kecapi suara hati
maka jadilah kuterbangkan tujuh roh jahat yang dibawa penghulu beelzebul
yang diamdiam menyusup dalam sajak ini Pamulang, Mei 2021
(**/Penyair Pulo Lasman Simanjuntak, Ketua Komunitas Sastra Pamulang, Kota Tangerang Selatan)
SAAT HATIKU KEHILANGAN SEKOCI KAPAL
Lasman Simanjuntak
saat hatiku kehilangan sekoci kapal sepuluh tahun berlayar
dalam cuaca angkuh di samudera dan ombak liar lalu jadi hamba uang dalam saku celana lepas jangkar
di halaman headline koran sering kusantap makanan haram di hotelhotel berbintang kelam sampai ujung kemudinya salah ambil keputusan
tertipu sang penguasa orde usang jadilah diriku terkurung airmata menulis puisi di dunia sunyi
berjalan dengan tongkat petra buta sesal dibantingnya di tanah rawa saat hatiku kehilangan sekoci kapal kubaca kembali kitab suci
suara azan subuhhari disinari api lilin tak suci
ajaran sesat, seruku penuh amarah sambil berlari cepat
mendaki perpustakaan bukubuku tua bertemu pandita dari negeri Belanda setelah itu kulirik sepuluh perintah Tuhan tulang rohani jadi lunak
batin rohani jadi mencair kapal teduh kembali berlabuh dengar pekabaran dari Nabi Nuh
rajin kusiram pohonpohon iman dalam rumah lautan dan taman ibadah yang kadang terbentur karangkarang tegar di pantai hijau kunyanyikan rebana doa bertahanlah sampai hari kesudahan Pamulang, Selasa 25 Mei 2021
IBUNDA MATI MUDA
Lasman Simanjuntak
i/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta yang mati muda
kanker peranakan rajin beranak masa kanakkanak mengeras rumah sewa beranakpianak.
ii/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta
yang gemar berjudi dengan sperma memukulmukul rotan dan obat antibiotika jeritan malam dari kampung sebelah rumahtangga tak bisa berdoa.
iii/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta yang tinggalkan kesendirian
tanpa pesan dalam sumur kematian.
Sunyi yang terlantar sakit terus berkepanjangan
dibantingnya tubuh tanpa nyanyian disodorkan singkong racun penderitaan.
iv/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta
meninggalkan kami dalam keterasingan anakmu yang perempuan menyilet lengan bau minuman keras menyusup malam lenggang tariantarian liar di pinggir jalan
sampai derita membuntingi dewa kekejian.
v/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta
engkau telah turun ke dunia orang mati tak pandai aku mengeja Injil
tak ada lagi pohon natal yang bisa berkelahi.
Tigapuluhtahun menyembah bangunan baal berzinah dengan janda betsyeba
kejam dan keji seperti ratu atalya.
vi/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta aku terkapar.sekarat.
di rumahrumah perempuan sundal dibalut tulang kering sakit kelamin.
Rajin bersetubuh dengan pemanggil arwah, roh peramal masuk ke dalam kamar
empatpuluh abad berenang di atas tikar
rawarawa dosa menggelepar.
vii/Kutulis kembali sebuah puisi untukmu ibunda tercinta lihatlah anakmu
telah hidup dalam kebenaran melayani ibuibu berkebaya emas bermata berlian memuji Tuhan
jadi pelayan sambil menantikan kedatanganMu yang kedua kali.
Pamulang, Selasa 27 April 2021
FUGA Andri Pituin Cianjur
aku terlahir sebagai sunda tetapi di dalam kepalaku ada orang-orang inggris sibuk bekerja
bahkan bruce willis dan model iklan sampo pernah berebut adegan di kulit kepala
sangat gatal rasanya entah berapa busa yang mengalir dari ujung rambut hingga laut hingga semesta
di bilahan kepalaku yang lain dekat semak-semak
ada aborigin telanjang dada mengembala
domba-domba mereka di kepala kiri
ada migren akut huruf mandarin terjemahkan vaksin dan corona
“wasisongmeycaula”
entah apa artinya di kepala kanan ada bocah tursina dan samiri adu bicara sambil menyulut petasan bau mesiu, padang pasir
sesekali disindir debu-debu gaza ngebul penuhi kepala darah nyecer
serupa gincu
memulas wajah mereka serupa joker yang tertawa di teras kepala
rimbaud dan rumi serius main catur
berlama-lama mikiri kuda yang tak boleh lurus jalannya di ruang tamu
genting bocor ada hamzah, sutan, anwar dan damono main domino
“biar pun hujan
bunuh balak enam saja”
katanya
di bioskop kepala ada rendra dan wiji tukul nonton humor thanos sambil terbahak
“avengers jangan lupa cuci tangan dan pakai masker”
sahut mereka di wc kepala ada sabun cair
dan miyabi tanpa shower duduk bersila di kloset sambil membaca majalah horison matanya berkaca-kaca membaca puisi sedih tentang salihara
di pondok kepala
ada mantan santri menyanyi yalal waton sambil nyalon alon-alon asal kelakon tembangnya
di dapur kepala
ada aan dan faisal syahreza menghitung hasil panen kentang menggantung luka
mengasah pisau dan saling memaafkan sebelum lebaran tiba di ruang baca ada jokpin berpamit kibaskan sarung meninggalkan sepotong hati di meja di kelopak mataku ada paris mengantuk dia hendak memimpi eifel pindah ke pulau jawa di lubang hidungku ada bau amis belanda ia hendak mencium keju berpindah ke ladang jagung dan kebun-kebun palawija lalu tubuhku serupa pulau yang tenggelam bersama sabana taufik ismail dan sutardji
berdadah-dadah kepada telur angsa yang dierami kucing anggora tibalah afrika pecahlah sudah
tanah air mata inikah luka inikah cinta anak papa mama ditinggal umroh menitip kunci tinggal di rumah diasuh tetangga di puncak kepala ada gea anakku sepuluh tahun usianya ia tak lagi tertawa hilang hanabi hilang miya hilang alok dan senapannya biasanya girang sambil jingkrak
dan teriak “bouya, bouya”
wajahnya cemberut bagai buntal marah kehilangan laut berikut
ombak dan terumbu karangnya ia membaca pr dari gurunya lalu berkata:
“ayah, gea sekolah itu karena ingin pintar bukan hanya ingin dicekoki persoalan-persoalan semata”
kutepuk jidat
sambil mengusap muka hingga ke dada
tak lama
tanganku kembali
menepuk kepala menggaruk yang tumbuh di atasnya
tiba-tiba terasa ada miang di sekitarnya
“aduh, harus kabur kayanya ini suasana sungguh jadi bohuya”
Singosari-Tangerang APiC. 23-04-2016_12-03-2021 )* Fuga: Inggris (kompoisi musik) : Italia (melarikan diri) : Jepang (carilah ru-fuga-den)
Tak Ada Puisi Di Kamar Rimbaud : Verlaine
Andri Pituin Cianjur
yang kutemui hanyalah kesedihan sudut ruangan
foto Georges Izambard dalam figura tergantung miring didekati cicak partitur musik yang belum selesai tanpa syair, not balok tak bernada coretan pensil dan tutup botol alkohol arsiran siluet wajah Comunrad
lekat pekat di sebidang kertas ditancap peniti di lekukan gorden jendela kamar menuju pepohonan siluet hitam dengan bibir girang terpajang angin bergoyang serupa pinggul dan buah zakar tak ada puisi di kamar Rimbaud aku tak menemukan kegaiban transenden hanyalah “semusim di neraka,” misalnya
atau Comunrad merah dengan tanduk baru tumbuh di kepalanya, menusuk anus ada bau khas Absinth dekat meja sisa, seperti baru saja
seseorang meminumnya entah siapa, meletakkan gelas bekas bibir pecah, sidik jari tak dikenal
menyengat
terendam di cawan
bertutup daun Philodendron bagaimana surga dan dunia dipersatukan
seperti pahit yang sengaja dicampuradukan
oh Pierre Ordinaire dia ingin sembuh dari luka ingatannya, radang, akut aku mengerti
tak akan kutemukan hal baru di kamar ini
aku ke luar dari pintu sedih itu mencari-cari puisi yang tak terlihat dari jangkauan, tetap tak ada bosan mataku berlarian mencari yang kukira ada huruf-huruf seolah memiliki ilmu kanuragan hilang dari pantauan tak sabar, menata kaki beranjak pergi menuju kemungkinan kebahagiaan atau puisi bisa ditemui
kujumpai sebuah penginapan juga berwarna sedih
kupesan sebuah kamar barangkali ada sudut
untuk menempatkan kegilaan sebab cukup lelah
berprasangka waras rebah, ranjang dan linen bantal-guling serupa tubuh
ada wajah kekasih
bukan berasal dari dunia puisi kudekati, berharap bukan mimpi belum usai, pergi
terdengar di sebelah seorang perempuan mati bunuh diri, cuma hantu dan ilusi tak ada puisi Rimbaud
di kamar ini
aku berlari, setengah mencari keluar tubuh menuju imanen tak ada kewajaran di sini duka hanya sisa
di balik punggung
kurenungi sebuah kematian untuk sekedar tenangkan diri dari ruh yang cemas
menatapi kepergian bekas memori tinggal hidung
indera ciumku dikepung ruap kopi Harar dari kejauhan berembus rambati udara membentangkan Somalia
Tangerang, APiC. 03-03-2021
INIKAH MASA DEPAN?
Andri Pituin Cianjur
Setiap aku pulang ke kampung halaman doa-doa tetap mengambang antara takbir bibir
dan tengadah tangan yang pasrah dijatuhi berbagai perwujudan
Wajah Cianjur semakin sembab rambut kusutnya yang hutan kini gundul sehabis kriwul seperti wirang dan rajam bagi arakan dosa pada zaman Terurai jalan-jalannya
yang semakin tirus
tergerus tank-tank yang lalulalang menggendong cerobong pabrik membopong kantung plastik dan berbagai perabot berbahan sintetik
Para imigran mengambil alih wajah-wajah pribumi yang sedih alih-alih berdalih jadi tuan tanah tanpa pamrih, tanpa pilih kasih Mereka bergotong royong mendumpel gorong-gorong : liang got yang sewot bengkak-membarah bahkan berkarah limbah cekcok rumah tangga di mana-mana
Suara-suara yang mendumel dicekoki upah alakadarnya
sebagai tanda perdamaian bagi bidak catur, dipetak-petak papan peradaban
Kuda Kosong tinggal cerita kuda tanpa penunggang itu kuda yang telah patah kakinya bahkan tak boleh lurus jalannya sedangkan raja berdiam saja lebih banyak menyulurkan punggawa-punggawa jadi peluru tanpa tuju ditinggalkan selongsongnya Cianjur dalam bilur tanpa pelipur matanya ibarat anakan sungai dari mata-mata prihatin mata jelata yang melata diungsikan sebab mentah daun-daun sogokan
Di kulitnya yang mengeriput masih saja ada lubang-lubang bopeng anti tambalan juga tonjolan semacam jerawat batu yang akut bagai gerutu rakyat awam yang kini kembali
menguak mitos para remaja yang mana menahan keinginan tetapi tak tersampaikan ujungnya Sedangkan dari setiap juru orang-orang berduyun antri mengibarkan jargon Jago dan slogan santri
datang ke tugu dan masjid sibuk asik sendiri-sendiri menatap masa depan berlomba-lomba mencari Pokemon
berharap Batara Karang bersemayam dalam ‘pokeball’
dan tubuh mereka Ah,Inikah masa depan?
Jember-Cianjur, APiC. 25 Juli 2016.
Mengenang Desa: Untuk Srytn Andri Pituin Cianjur
Anik kakakku tumbuh menjelma sebatang kamboja
Rusli menguning bersama padi di antara genangan air bening di sampingnya
sedangkan bapak tetap berteduh di bawah riuh beringin tua itu sesekali
aku mengunjunginya menyelipkan do’a-do’a di antara kelopak-kelopak retak yang tumbuh di atasnya jalan-jalan
menuju rumahmu semakin menyipit, alit setapak berbagi jinjit hampir setiap waktu selalu saja ada yang mengisi remah-gembur galangan-galangan lengang tanah itu mereka
tinggal meski tak kekal
mereka tenang berdampingan
sehelat sepi persinggahan
***
tetapi, itu dulu dulu sekali...
sebelum tuhan
melipat lengan baju mereka berdatangan ke desa membujuk kasun-kasun menyusun petakan gurun mesin tambun
berduyun-duyun
didatangkan berayun-ayun mengeruk segala lamun menggendong
pipa-pipa baja bergelondong mata gergaji yang cemas menebas pohon-pohon hingga lunas, hingga tuntas bahkan beringin tua itu tak lagi nampak hingga tunas hingga daun
Bapak...
teduhmu kini di mana?
tuhan-tuhan itu mendesain pekik menanam pabrik
di atas dadamu yang terik menumbuhkan ruko dan pasar di atas kepala kakak dan adik melahirkan sampah-sampah tanpa berkesudah
mereka sesak terhimpit batu mereka hilang ditimbun rimbun koral dan besi mengganti mati bunga-bunga kami
aspal dan bau ban menikam aroma melati lupa mawar, lupa merah lupa rekah, lupa hijau lupa sejengkal tanah tempat mereka berpulang jua akhirnya sawah-sawah berubah hening tanpa kuning berganti industri yang sisiannya berapit parit-parit merupa got dan comberan yang mampet nisan-nisan sudah tak ada
berganti papan swalayan dan bioskop-bioskop sinema Bapak...
kini desa entah ke mana rumahmu ada di mana bahkan bioskop itu tak pernah sekali saja menayangkan kisahnya hilang jangkau
hilang rantau
lenyap, tinggal kenang tinggal nama
Tangerang, APiC. 26-02-2021
S A C R A M E N T U M
Andri Pituin Cianjur
1/Mungkin aku masih hidup di antara dongeng sesaat : bukanlah pengantar tidur yang baik untukmu, nak.
Semoga perjalananmu terus hingga kau ‘tak mengalami -- apa yang pernah kualami.
Selemah-lemahnya aku dan di manapun aku kini, aku tak perlu menjelaskan apapun kepadamu.
Kau akan tahu, bukan dari cerita manusia bahkan nabi -- kau akan segera tahu melalui mata dan telingamu sendiri:
Aku hidup di antara kebencian, tetapi bukan untuk membencimu.
Di sini aku tetap bersaksi bahwa kamu tumbuh dari saripati tubuhku.
Ada darahku di denyut nadimu.
Meski hari ini, kau berpura-pura tak ingin mengenalku.
Atau bahkan ketika orang-orang mulai dibangkitkan: dari lelap tidurnya.
Siang dan Malam, aku tetaplah Ayahmu.
2/Di rumah kita yang dulu, nak biarkan foto-foto keluarga yang tergantung dalam pigura tetap tersenyum ceria
-- bahagia.
Meski kini jadi sarang semut bahkan dibalut keriput jurai Labalaba.
Agar kautahu, bahwa dahulu Ayahmu pun bisa tertawa, tapi kini dikerangkeng jaring-jaring nestapa.
Bahkan warna emosi pada gradasi Munch yang menyindir lukisan Van Gogh tentang malam biarkan tetap dalam sunyi dan ketakutan.
Terlebih ketika lampu ruang tamu
mulai dipadamkan.
Agar kau mengerti kini ayah tengah sendiri
menantimu dengan wajah parodi dalam lukisan-lukisan itu.
Mungkin, ayahmu tak lebih serupa lelaki yang tersesat pulang.
Seolah tak punya kenangan, bahkan 12 buah anak bulan di dalam biru malam
memang sangat membingungkan untuk diterjemahkan
sebagai tahun-tahun pengasingan.
Kau bahkan sering merengek agar melihat rupa wajahku kini telah berubah menjadi apa?
3/Di sisi lain yang jauh-jauh dari kemarin, aku membaca
matamu: serupa menatap protes-protes tanpa suara.
Serupa kutub es yang tak mampu memecah bongkah-bongkah musim dinginnya.
Agar kautahu saja nak, agar tak terkesan miris.
Aku kini, di sini memelihara kumis.
Kubiarkan misai terjuntai janggut tumbuh liar terbiar di daguku yang belah-- dagu yang sama belahnya dengan hatimu.
Agar lebih terlihat tua dewasa dan bijaksana.
Agar kau sedikit asing ketika melihat orang yang kini mungkin
‘tak lagi kau anggap penting.
Bahkan di suatu pagi ketika aku bercermin
aku merasakan asing yang sama.
Meski aku harus rindu
ketika melihat beberapa lembar uban yang bercukul di kepala.
Aku rindu tangan kecilmu yang menyabutinya satu persatu meski terkadang yang hitam kaucabut juga.
Ketika kau bosan, alhasil kau Jambak-jambak juga semua yang tumbuh di kepala.
Semoga kau tak lupa, nak.
Meski kau sedikit amnesia orang itu belum sinting orang itu tetap akan
mengenalmu selalu.
Meski kempis parunya lelah bergeming bahkan meski jantungnya harus melewati batas hening -- kehilangan denting.
1/ Denpasar, APiC. 26-08-2020.
2-3/ Cianjur, APiC. 26-03-2021.
ANJING DI DUSUNKU
YS Sunaryo
di dusun yang sepi anjing melolong tinggi tanpa tercium najis pada suaranya dusun berkabut para mukim berselimut menangkal gigil kemiskinan di hawa pembangunan bangun berhamburan
melalui pematang ketidakadilan bayi mungil memecah tangis terbayang wajah bengis di muka kelimis
dusunku kembali malam dan terus gelap, dalam pengap sejak kunang-kunang hilang di kebun-kebun bukan daun dan hutan telah arang berganti julang besi semakin banyak anjing air liurnya berceceran najis mengepung dusunku asing dari pancuran berwudu dusunku hilang pada jiwa-jiwa mabuk kota
Bandung, 4 April 2021
KOTA YANG KUTINGGALKAN
YS Sunaryo
di kota yang kaca dan besi
orang-orang gemar membeli steak di bawah kolong-kolong jembatan daging-daging membusuk
bertumpuk-tumpuk lampu-lampu merah di sudut duduk pelancong mengunyah penuh spageti dalam dorongan anggur rasa asing sekeliling terbayang detroit telah di sini aku pun linglung
di antara pintu dan jendela kupu-kupu rebah di dada meminum darahku legam, hitam hatiku
kota terus menusuk-nusuk hancurkan tulang rusuk kasak-kusuk jalar api menjilati kesadaran kota makin bara di perut para wanita dan di kepala penguasa menyeretku menjadi kayu hangus menjelang subuh bangun aku debu-debu menyumbang polusi kotaku tercemari sadar sesudah
kota kini masih tinggi namun ke mana orang-orang di antara sembunyi badan-badan takut dikuburkan, dan pulang malah kehilangan lahan di antara spageti tak lagi berasa kota berisi cinta bahkan steak bukan hidangan rindu Bandung, 7 Mei 2021