• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakterisitik responden

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakterisitik responden"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisitik responden

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner di Dinas Pemadam Kebakaran dapat dilihat karakteristik dari responden yang mengisi kuesioner penelitan. Kuesioner disebarkan kepada 51 responden sehingga karakteristik responden di analisa berdasarkan sisi demografi seperti jenis kelamin, usia, masa kerja, dan Pendidikan terakhir.

Tabel 1 Karakteristik Responden Petugas Damkar Ungaran

Karakteristik Klafifikasi Jumlah (orang) Persentase

Jenis Kelamin Perempuan 0

Laki-laki 51 100%

Total 51 100%

Usia 20-30 31 60.8%

31-40 14 27.5%

41-50 5 9.8%

>51 1 1.9%

Total 51 100%

Masa kerja 1-10 35 68.6%

>11 16 31.4%

Total 51 100%

Pendidikan terakhir SMA/SMK 41 80.4%

D3 2 3.9%

S1 8 15.7%

Total 51 100%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang berpartisipasi dalam mengisi kuesioner yang berjenis kelamin perempuan 0 responden dengan nilai presentase sebesar 0% dan responden laki-laki berjumlah 51 responden dengan niali presentase sebesar 100%, dari data sampel karyawan yang berjumlah 51 responden.

Jika dilihat dari karakteristik usia, responden yang berusia antara 20-30 tahun berjumlah 31 dengan tingkat presentase 60.8%, responden yang berusia antara 31-40 tahun berjumlah 14

(2)

dengan tingkat presentase 27.5%, responden yang berusia antara 41-50 tahun berjumlah 5 dengan tingkat presentase 9.8%, responden yang tahun berusia >51 berjumlah 1 dengan tingkat presentase 1.9%.

Pada karakteristik masa kerja terlihat bahwa sebagian besar karyawan damkar berada pada masa kerja 1-10 tahun yang berjumlah 35 responden yang berarti persentasenya 68.6%. Pada tingkat pendidikan terakhir, sebagian besar karyawan berpendidikan terakhir SMA/SMK sebanyak 41 responden yang berarti persentasenya 80.4%

Hasil Deskriptif Statistik

Untuk menunjukkan rentang skala likert dari rata-rata jawaban responden pada kuesioner dengan keempat variabel dapat dicari dengan rumus:

Interval =Nilai Max−Nilai Min Jumlah kelas

= 5−1

5

= 0,8

Tabel 2 Tingkat Kategori Variabel

Range Keterangan

4,20-5.00 Sangat tinggi 3,40-4,19 Tinggi 2,60-3,39 Sedang 1,80-2,59 Rendah 1,00-1,79 Sangat Rendah

Untuk mengetahui kategori dari setiap dimensi maka perlu mengetahui mean, berikut tabel penjelasan dari setiap dimensi:

(3)

Tabel 3 Hasil Uji Deskriptif Statistik Keselamatan

No Pernyatan Mean Kategori

1. Instansi selalu menyediakan pelindung kerja, seperti helm, sepatu boots, sarung tangan, masker,kapak kecil, dan lain-lain untuk menghindari kecelakaan kerja.

4.84 Sangat tinggi

2. Saya mampu menggunakan peralatan sesuia petunjuk yang aman.

4.78 Sangat tinggi

3. Saya selalu memeriksa peralatan dan perlengkapan kerja sebagai bentuk antisispasi kecelakaan kerja secara berkala.

4.75 Sangat tinggi

4. Semua bagian dari pera;atan yang berbaha diberi suatu tanda peringatan.

4.73 Sangat tinggi

5. Instansi melakukan Pendidikan mengenai pentingnya K3 dalam pencegahan kecelakaan.

4.76 Sangat tinggi

6. Instansi melakukan pengawasa secara intensif terhadap keselamatan.

4.82 Sangat tinggi

7.

Instansi memberikan pelatihan bagi setap petugas pemadam untuk bertindak secara aman

4.88 Sangat tinggi

Rata-rata keselamatan 4.79 Sangat tinggi

Tabel diatas menunjukkan nilai rata-rata dari variabel keselamatan sebesar 4.79 dengan kategori sangat baik. Untuk nilai rata-rata tertinggi yaitu dengan nilai rata-rata 4.88 dengan pernyataan “Instansi melakukan pengawasan secara intensif terhadap keselamatan”.

Tabel 4 Hasil Uji Deskriptif Statistik Kesehatan

No. Pernyataan Mean Kategori

1. Tersedianya obat-obatan untuk pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan.

4.61 Sangat tinggi

2. Instansi melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala kepada petugas.

4.67 Sangat tinggi

(4)

3. Tersedianya jaminan kesehatan kepada setiap petugas. 4.86 Sangat tinggi 4. Saya melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungan

kerja yang sehat.

4.75 Sangat tinggi

5. Saya melakukan kegiatan olahraga untuk menjaga kebugaran

4.73 Sangat tinggi

Rata-rata kesehatan kerja 4.72 Sangat tinggi

Tabel diatas menunjukkan nilai rata-rata dari variabel kesehatan kerja sebesar 4.72 dengan kategori sangat baik. Untuk nilai rata-rata tertinggi yaitu dengan nilai rata-rata 4.86 dengan pernyataan “Tersedianya jaminan kesehatan kepada setiap petugas”.

Tabel 5 Hasil Uji Deskriptif Statistik Kepuasan Kerja

No. Pernyataan Mean Kategori

1. Pekerjaan yang saya lakukan di dinas pemadam kebakaran sesuai minat saya

4.86 Sangat tinngi

2. Pekerjaan yang saya lakukan menambah ketrampilan saya

4.82 Sangat tinggi

3. Rekan kerja di Dinas Pemadam Kebakaran mendukung kinerja saya

4.73 Sangat tinggi

4. Saya merasa senang karena rekan-rekan kerja memotivasi kemajuan karir saya

4.86 Sangat tinggi

5. Pimpinan memberikan dukungan terhadap saya 4.73 Sangat tinggi 6. Saya merasa nyaman bekerja diruangan karena fasilitas

ruang kerja saya lengkap

4.53 Sangat tinggi

7. Dinas Damkar bertanggung jawab atas keselamatan kerja karyawan

4.80 Sangat tinggi

8 Tunjangan yang saya terima sesuai 4.67 Sangat tinggi

Rata-rata kepuasan kerja 4.75 Sangat tinggi

Tabel diatas menunjukkan nilai rata-rata dari variabel kepuasan kerja sebesar 4.75 dengan kategori sangat baik. Untuk nilai rata-rata tertinggi yaitu dengan nilai rata-rata 4,86 dengan

(5)

pernyataan “Pekerjaan yang saya lakukan di dinas pemadam kebakaran sesuai minat saya”dan

“Saya merasa senang karena rekan-rekan kerja memotivasi kemajuan karir saya”.

Table 6 Tabel Hasil Uji Deskriptif Statistik Kinerja Karyawan

No. Pernyataan Mean Kategori

1. Saya memiliki kualitas yang baik dalam pengetahuan pemadam kebakaran

4.25 Sangat tinggi

2. Kemampuan yang saya miliki sesuai dengan standar kualitas pekerjaan

4.27 Sangat tinggi

3. Pekerjaan yang saya lakukan sesuai dengan ketrampilan yang diberikan

4.43 Sangat tinggi

4. Saya mampu menyelesaikan tugas tepat waktu 4.14 Tinggi 5. Saya siap menerima resiko jika ada pekerjaan yang

salah

4.33 Sangat tinggi

6. Saya hadir kerja tepat waktu 4.33 Sangat tinggi

7. Saya mampu bekerja sama dengan rekan kerja satu tim 4.63 Sangat tinggi

8. Saya selalu jujur dalam bekerja 4.51 Sangat tinggi

Rata-rata kinerja karyawan 4.36 Sangat tinggi

Tabel diatas menunjukkan nilai rata-rata dari variabel kinerja karyawan sebesar 4.36 dengan kategori sangat baik. Untuk nilai rata-rata tertinggi yaitu dengan nilai rata-rata 4,63 dengan pernyataan “Saya mampu bekerja sama dengan rekan kerja satu tim” dan terdapat nilai rata-rata tinggi yaitu dengan nilai rata-rata 4.14 dengan pernyataan“Saya mampu menyelesaikan tugas tepat waktu”.

Uji Validitas dan Reliabilitas

Tabel 7 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Variabel Validitas Keteragan Reliabilitas Keterangan

X1.1 0,557 Valid

(6)

Keselamatan Kerja (X1)

X1.2 0,569 Valid

0,557 Reliabel

X1.3 0,419 Valid

X1.4 0,280 Valid

X1.5 0,645 Valid

X1.6 0,552 Valid

X1.7 0,687 Valid

Kesehatan Kerja (X2)

X2.1 0,577 Valid

0,505 Reliabel

X2.2 0,609 Valid

X2.3 0,328 Valid

X2.4 0,638 Valid

X2.5 0,723 Valid

Kepuasan Kerja (Z)

Z1 0,469 Valid

0,321 Reliabel

Z2 0,538 Valid

Z3 0,424 Valid

Z4 0,540 Valid

Z5 0,292 Valid

Z6 0,364 Valid

Z7 0,282 Valid

Z8 0,497 Valid

Kinerja Karyawan (Y)

Y1 0,705 Valid

0,856 Reliabel

Y2 0,787 Valid

Y3 0,746 Valid

Y4 0,673 Valid

Y5 0,692 Valid

Y6 0,821 Valid

Y7 0,661 Valid

Y8 0,581 Valid

Hasil uji validitas menunjukkan bahwa nilai korelasi pada empat variabel penelitian di setiap butir pernyataan pada kuesioner menunjukkan lebih besar dibanding r-tabel. r-tabel pada

(7)

jumlah sampel sebanyak 51 yaitu sebesar 0,275. Nilai korelasi dari tiap butir pernyataan dalam kuesioner lebih besar dibanding r-tabel (0,275) sehingga tiap butir pernyataan dalam kuesioner dinyatakan valid. Nilai cronbach’s alpha variabel keselamatan kerja, kesehatan kerja, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan dinyatakan reliabel.

Uji Normalitas

Tabel 8 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 51

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation 2,64544369

Most Extreme Differences Absolute ,080

Positive ,080

Negative -,077

Test Statistic ,080

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Berdasarkan hasil uji normalitas residual dari variabel keselamatan kerja, kesehatan kerja, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan dengan menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh sig. sebesar 0,200 lebih besar daripada α (0,200 > 0,05) sehingga dinyatakan data yang digunakan terdistribusi normal.

Uji Linearitas

Tabel 9 Hasil Uji Linearitas Variabel Keselamatan Kerja

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Y * X1 Between Groups (Combined) 62,071 3 20,690 2,491 ,072

Linearity 38,554 1 38,554 4,641 ,036

(8)

Deviation from Linearity 23,516 2 11,758 1,415 ,253

Within Groups 390,439 47 8,307

Total 452,510 50

Berdasarkan uji linearitas variabel keselamatan kerja pada tabel ANOVA terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,253 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel keselamatan kerja adalah linier.

Tabel 10 Hasil Uji Linearitas Variabel Kesehatan Kerja

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Y * X2 Between Groups (Combined) 45,022 3 15,007 1,731 ,173

Linearity 38,668 1 38,668 4,460 ,040

Deviation from

Linearity 6,355 2 3,177 ,366 ,695

Within Groups 407,487 47 8,670

Total 452,510 50

Berdasarkan uji linearitas variabel kesehatan kerja pada tabel ANOVA terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,695 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel kesehatan kerja adalah linier.

Tabel 11 Hasil Uji Linearitas Variabel Kepuasan Kerja

ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Y * Z Between Groups (Combined) 120,735 5 24,147 3,275 ,013

Linearity 74,051 1 74,051 10,044 ,003

Deviation from

Linearity 46,684 4 11,671 1,583 ,195

Within Groups 331,775 45 7,373

Total 452,510 50

(9)

Berdasarkan uji linearitas variabel kepuasan kerja pada tabel ANOVA terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,195 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel kepuasan kerja adalah linier.

Uji Heterokedastisitas

Tabel 12 Hasil Uji Gletser

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -23,422 16,273 -1,439 ,157

X1 ,558 ,418 ,194 1,335 ,188

X2 ,686 ,411 ,228 1,671 ,101

Z ,616 ,364 ,256 1,691 ,098

a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan hasil uji gletser tersebut, terlihat bahwa nilai sig. keselamatan kerja lebih besar dibanding α (0,188 > 0,05) kemudian nilai sig. kesehatan kerja lebih besar dibanding α (0,101 >

0,05) dan nilai sig. kepuasan kerja juga lebih besar daripada alpha (0,098) sehingga disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.

(10)

Gambar 1 Hasil Uji Scatterplot

Berdasarkan diagram scatterplot terlihat bahwa sebaran data tersebar secara merata baik diatas angka 0 maupun dibawah angka 0 dan sebaran data tidak membentuk pola tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.

Uji Multikolinearitas

Tabel 13 Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

(11)

B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant)

-16,649 a. Dependent Variable: KINERJA

16,074 -1,036 ,306

KESELAMATAN ,886 ,377 ,307 2,348 ,023 ,997 1,003

KESEHATAN ,924 ,393 ,308 2,351 ,023 ,997 1,003

Berdasarkan hasil uji tersebut nilai tolerance (0,919) lebih besar dibanding 0,10 dan nilai VIF (1,089) lebih kecil dibanding 10,00. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan pada penelitian ini tidak terjadi multikolinearits.

Uji Determinasi

Tabel 14 Hasil Uji Determinasi Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja Terhadap Kepuasan Karyawan

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,529a ,280 ,250 1,08141

a. Predictors: (Constant), KESEHATAN, KESELAMATAN b. Dependent Variable: KEPUASAN

Dilihat pada tabel diatas besarnya koefisien determinasi sebesar 0,280. Hasil tersebut diartikan variasi variabel kepuasan kerja dapat dijelaskan oleh variabel keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 28% (0,280 x 100%). Sementara itu 72% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak disertakan pada penelitian ini.

Tabel 15 Hasil Uji Determinasi Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,424a ,180 ,146 2,78089

a. Predictors: (Constant), KESEHATAN, KESELAMATAN b. Dependent Variable: KINERJA

(12)

Dilihat pada tabel diatas besarnya koefisien determinasi sebesar 0,180. Hasil tersebut diartikan variasi variabel kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh variabel keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 18% (0,180 x 100%). Sementara itu 82% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak disertakan pada penelitian ini.

Tabel 16 Hasil Uji Determinasi Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,405a ,164 ,147 2,77914

a. Predictors: (Constant), KEPUASAN b. Dependent Variable: KINERJA

Dilihat pada tabel diatas besarnya koefisien determinasi sebesar 0,164. Hasil tersebut diartikan variasi variabel kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh variabel kepuasan kerja sebesar 16,4% (0,164 x 100%). Sementara itu 83,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak disertakan pada penelitian ini.

Uji Hipotesis

Tabel 17 Hasil Uji Regresi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -16,649 16,074 -1,036 ,306

KESELAMATAN ,886 ,377 ,307 2,348 ,023

KESEHATAN ,924 ,393 ,308 2,351 ,023

a. Dependent Variable: KINERJA

Berdasarkan pada uji-t dapat diketahui sebagai berikut:

a) hasil uji-t keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (2,348 > 2,0098) dan nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,023 < 0,05).

(13)

Hal ini berarti menerima hipotesis (H1) yang menyatakan keselamatan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Koefisien regresi B variabel keselamatan kerja sebesar 0,307 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan adalah positif.

b) hasil uji-t kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (2,351 > 2,0098) dan nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,023 < 0,05).

Hal ini berarti menerima hipotesis (H2) yang menyatakan kesehatan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Koefisien regresi B variabel kesehatan kerja sebesar 0,308 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan adalah positif.

c) Besarnya nilai error (e2) didapatkan dari perhitungan √(1 – R2) sehingga diperoleh sebesar 0,905.

Tabel 18 Hasil Uji Regresi Kepuasan Terhadap Kinerja

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -2,124 11,964 -,178 ,860

KEPUASAN ,974 ,315 ,405 3,096 ,003

a. Dependent Variable: KINERJA

a) Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil uji t variabel kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (3,096 >

2,0098) dan nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,03 < 0,05). Hal ini berarti menerima hipotesis (H3) yang menyatakan kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Koefisien regresi B variabel kepuasan kerja sebesar 0,405 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan adalah positif.

(14)

Tabel 19 Hasil Uji Regresi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 11,000 6,251 1,760 ,085

KESELAMATAN ,532 ,147 ,445 3,630 ,001

KESEHATAN ,387 ,153 ,310 2,530 ,015

a. Dependent Variable: KEPUASAN

Berdasarkan tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa :

a) hasil uji-t keselamatan kerja terhadap kepuasan kerja diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (3,630 > 2,0098) dan nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,001 < 0,05).

Hal ini berarti menerima hipotesis (H4) yang menyatakan keselamatan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Koefisien regresi B variabel keselamatan kerja sebesar 0,445 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh keselamatan kerja terhadap kepuasan kerja adalah positif.

b) hasil uji-t kesehatan kerja terhadap kepuasan kerja diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (2,530 > 2,0098) dan nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,015 < 0,05).

Hal ini berarti menerima hipotesis (H5) yang menyatakan kesehatan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Koefisien regresi B variabel kesehatan kerja sebesar 0,310 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh keselamatan kerja terhadap kepuasan kerja adalah positif.

c) Besarnya nilai error (e1) didapatkan dari perhitungan √(1 – R2) sehingga diperoleh sebesar 0,848.

Hasil Uji intervening

Untuk membuktikan apakah variabel kepuasan kerja dapat menjadi variabel yang memediasi pengaruh keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan serta kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan maka digunakanlah analisis jalur. Analisis jalur dilakukan dengan memasukkan

(15)

nilai unstandardized coefficients dari hasil regresi pada jalur atau anak panah sehingga dapat dibuat jalur sebagai berikut:

Gambar 2 Hasil Analisis Path

0,886 0,532

0,974 0,387

0,924

0,848 0,905

Berdasarkan dari gambar analisis jalur H6 dapat disimpulkan:

a. Nilai koefisien beta sebagai pengaruh langsung keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan sebesar 0,886.

b. Nilai koefisien beta keselamatan kerja terhadap kepuasan kerja sebesar 0,532 dan nilai koefisien beta kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan sebesar 0,974. Sehingga nilai koefisien beta pengaruh tidak langsung keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja adalah sebesar 0,532 x 0,974 = 0,518.

c. Pengaruh total dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung yaitu sebesar 0,889+ 0,518 = 1,407.

KESELAMA TAN

KEPUASAN KINERJA

KESEHATA N

e1 e2

(16)

Hasil perhitungan menunjukkan pengaruh langsung keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan lebih besar dibanding pengaruh tidak langsung keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (0,886 > 0,518). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja tidak bisa menjadi variabel yang memediasi antara keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan dari gambar analisis jalur H7 dapat disimpulkan:

a. Nilai koefisien beta sebagai pengaruh langsung kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan sebesar 0,924.

b. Nilai koefisien beta kesehatan kerja terhadap kepuasan kerja sebesar 0,387 dan nilai koefisien beta kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan sebesar 0,974. Sehingga nilai koefisien beta pengaruh tidak langsung keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja adalah sebesar 0,387 x 0,974 = 0,376.

c. Pengaruh total dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung yaitu sebesar 0,924 + 0,376 = 1,3.

Hasil perhitungan menunjukkan pengaruh langsung kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan lebih besar dibanding pengaruh tidak langsung kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (0,924 > 0,376). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja tidak bisa menjadi variabel yang memediasi antara kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan.

Uji Sobel (Sobel Test)

Pengaruh Keselamatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja Sab = √𝑏2 + 𝑠𝑎2+ 𝑎2𝑠𝑏2 + 𝑠𝑎2𝑠𝑏2

Sab = √0,9742+ 0,8482+ 0,53220,9052+ 0,84820,9052 Sab = √0,948676 + 0,719104 + 0,231803 + 0,588964 Sab = √2,488547

Sab = 1,577512916

Berdasarkan perhitungan nilai standar eror pengaruh tidak langsung diperoleh sebesar 1,577512916. Nilai t hitung yaitu

t = 𝑎𝑏

𝑠𝑎𝑏

(17)

t = 0,518

1,577512916

t = 0,3283649818

Dari perhitungan t hitung diatas diperoleh sebesar 0,3283649818 sehingga nilai t hitung lebih kecil dibanding t tabel (0,3283649818 < 0,518). Sehingga disimpulkan bahwa kepuasan kerja tidak bisa menjadi variabel yang memediasi pengaruh keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja Sab = √𝑏2 + 𝑠𝑎2+ 𝑎2𝑠𝑏2 + 𝑠𝑎2𝑠𝑏2

Sab = √0,9742+ 0,8482+ 0,38720,9052+ 0,84820,9052 Sab = √0,948676 + 0,719104 + 0,122664 + 0,588964 Sab = √2,4255996

Sab = 1,5574336583

Berdasarkan perhitungan nilai standar eror pengaruh tidak langsung diperoleh sebesar 1,5574336583. Nilai t hitung yaitu

t = 𝑎𝑏

𝑠𝑎𝑏

t = 0,376

1,5574336583

t = 0,2414228035

Dari perhitungan t hitung diatas diperoleh sebesar 0,2414228035 sehingga nilai t hitung lebih kecil dibanding t tabel (0,2414228035 < 0,376). Sehingga disimpulkan bahwa kepuasan kerja tidak bisa menjadi variabel yang memediasi pengaruh kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh Keselamatan Terhadap Kinerja Karyawan

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh keselamatan berpengaruh terhadap kinerja karyawan Damkar Ungaran. Dibuktikan dengan hasil pengujian regresi meperoleh nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,023 < 0,05) dan dilihat dari nilai t-hitung lebih besar dibanding dari t-tabel (2,348 > 2,0098). Nilai koefisiensi regresi variabel keselamatan sebesar 0,307 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh keselamatan terhadap kinerja karyawan adalah positif.

(18)

Keselamatan kerja menunjukkan kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakkan atau kerugian di tempat kerja (Mangkunegara, 2009). Keselamatan kerja berhubungan dengan kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri adalah suatu kejadian yang tidak terduga dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dalam suatu aktivitas.

Nilai-nilai rata-rata jawaban responden pada kuesioner dilihat dari indikator peralatan yang berbahaya diberi suatu tanda peringatan sebesar 4,73 yang artinya penerapan keselamatan pada indikator tersebut dapat dikatakan baik. Pada indikator intasni memberikan pelatihan bagi setiap petugas pamadan sebesar 4,88 artinya penerapan indikator tersebut dapat dikatan baik.

Keselamatan teruji berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Bahari dan Brahim, 2013) dan (Makado dkk, 2017) yang menyatakan bahwa keselamatan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesehatan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan Damkar Ungaran. Dibuktikan dengan hasil pengujian regresi memperoleh nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,023 < 0,05) dan dilihat dari nilai t-hitung lebih besar dibanding dari t-tabel (2,351 > 2,0098). Nilai koefisiensi regresi variabel kesehatan kerja sebesar 0,308 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan adalah positif.

Karyawan adalah sumber daya manusia yang berperan penting didalam perusahaan yaitu untuk tercapainya suatu visi dari perusahaan dan juga mampu menghasilkan kinerja karyawan yang berkualitas. Karyawan yang berkompeten akan berpengaruh terhadap kemajuan suatu perusahaan. Salah satunya adalah rasa tanggung jawab dan cekatan terhadap pekerjaan yang diberikan perusahaan. Kesehatan kerja merupakan kondisi yang merujuk pada kondisi fisik, metal dan stabilitas emosi secara umum. Individu yang sehat adalah individu yang bebas dari penyakit, cidera serta masalah mental emosi yang bisa menggangu aktivitas. Adapun unsur kesehatan yang erat berkaitan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi efisiensi dan produktifitas. Pentingnya kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan menjadi perhatian semua perusahaan agar karyawan dapat bekerja dengan

(19)

dengan energi yang penuh (100%) dan tidak sakit-sakitan. Selama itu dengan perhatiannya kesehatan kerja maka akan terjadi kinerja karywan yang meningkat (Makadao dkk, 2017).

Nilai rata-rata jawaban responden pada kuesioner dilihat dari indikator tersedianya obat- obatan untuk pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan sebesar 4,61 artinya indikator tersebut dapat dikatakan baik. Pada indikator tersedianya jaminan kesehatan kepada setiap petugas sebesar 4,86 artinya tingkat kesehatan kerja dinas pemadam kebakaran ungaran dapat dikatan baik.

Kesehatan kerja teruji berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (juwitasari, 2014) dan (Wibowo, 2016) yang menyatakan bahwa kesehatan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh antara Kepuasan Kerja dan Kinerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan Damkar Ungaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan regresi diperoleh nilai sig. lebih kecil dibanding (0,03 < 0,05) dan dari nilai t-hitung lebih besar dibanding t-tabel (3,096

> 2,0098). Nilai koefisiensi regresi variabel kepuasan kerja sebesar 0,405 dan nilai positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan adalah positif.

Kepuasan kerja memiliki tujuan dan peranan yang sangat penting bagi pimpinan perusahaan untuk mengelola organisasinya guna mencapau tujuan organisasi. kepuasan kerja mempunyai dampak yang cukup besar terhadap kerja karyawan sehingga apabila ada masalah kepuasan kerja tidak teratasi bisa menghambat kelancaran operasional organisasi maupun perusahaan,

Ketidakpuasan kerja bisa mengakibatkan karyawan banyak menghabiskan waktu mereka dikamar mandi, berpura-pura sakit atau bahkan stop bekerja dan tanpa disadari karyawan menimbulkan suatu kecelakan. Kepuasan kerja sangat penting untuk aktualisasi diri. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja secara tidak langsung kematangan psikologi mereka tidak dapat tercapai dan pada akhirnya mereka akan frustasi. Karyawan seperti ini akan kerap melamun, semangat kerja turun, mudah lelah dan bosan, emosinya tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukkan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan yang harus dikerjakan.

Nilai rata-rata jawaban responden dinas pemadam kebakaran Ungaran pada kuesioner dilihat dari indikator pekerjaan sesuai minat karyawan sebesar 4,86 artinya kepuasan kerja dari

(20)

indikator tersebut dapat dikatakan baik. Pada indikator rekan kerja dinas kebakaran saling mendukung sebesar 4,73 artinya kepuasan kerja dari indikator tersebut dapat dikatakan baik.

Kepuasan kerja teruji berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh oleh (Wahyudi dan Sudibya, 2016) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh Keselamatan Terhadap Kepuasan Kerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keselamatan berpengaruh terhadap kepuasan kerja Damkar Ungaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan regresi diperoleh nilai sig. lebih kecil dibanding (0,001 < 0,05) dan dari nilai t-hitung lebih besar dibanding t-tabel (3,630 >

2,0098). Nilai koefisiensi regresi variabel kepuasan kerja sebesar 0,445 dan nilai positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh keselamatan terhadap kepuasan kerja adalah positif.

Keselamatan kerja yaitu merupakan praktik yang memiliki tujuan agar para karyawan atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, metal maupun social melalui usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit/ gangguan kesehatan serta terhadap penyakit umum (Suma’ur, 2006).

Salah satu kubutuhan dalam pemenuhan kepuasan petugas Dinas Pemadam Kebakaran adalah Safety and Security yaitu kebutuhan akan bebas dari ancaman yakni aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan. Adanya hubungan antara kedua pernyataan tersebut.

Apabila karyawan mendapatkan perlindungan keselamatan dari perusahaan maka karyawan akan merasa aman, sehingga karyawan memiliki kepuasan kerja. Hal tersebut menjelaskan bahwa keselamatan kerja dapat mempengaruhi tingkat kepuasan karyawan. pendapat ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sisna, dkk. 2014) bahwa keselamatan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.

Pengaruh kesehatan kerja terhadap kepuasan kerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja Damkar Ungaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan regresi diperoleh nilai sig. lebih kecil dibanding (0,015 < 0,05) dan dari nilai t-hitung lebih besar dibanding t-tabel (2,530 >

(21)

2,0098). Nilai koefisiensi regresi variabel kepuasan kerja sebesar 0,310 dan nilai positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kesehatan kerja terhadap kepuasan kerja adalah positif.

Menurut Wirawan (2015) berpendapat bahwa kesehatan kerja adalah penerapan ilmu kesehatan atau kedokteran di bidang ketenagakerjaan yang bertujuan untuk mencegah penyakit yang timbul akibat kerja dan mempertahankan serta meningkatkan kesehatan para pekerja atau buruh untuk meningkatkan kinerja dan kepuasan pekerja.

Hubungan antara kesehatan dan kepuasan kerja menurut (Rivai, 2011) yaitu kesehatan kerja merujuk pada kondisi psikologis diakibatkan oleh stress pekerjaan dan kehidupan kerja yang berkualitas rendah. Hal ini meliputi ketidakpuasan, sikap menarik diri, kurang perhatian, mudah marah, selalu menunda pekerjaan dan kecenderungan untuk mudah putus asa terhadap hal-hal yang remeh

Kesehatan kerja teruji berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sembe dan Ayou,2017) dan (Skolastika, dkk. 2017) menyatakan bahwa kesehatan kerja memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja.

Pengaruh Keselamatan Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja tidak bisa menjadi variabel yang memediasi antara keselamatan terhadap kinerja karyawan. Hal ini dibuktikan oleh hasil perhitungan koefisiensi pengaruh langsung keselamatan terhadap kinerja karyawan lebih besar dibanding koefisien pengaruh tidak langsung keselamatan terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (0,889 > 0,518).

Kepuasan kerja merupakan suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan situasi kerja, kerjasama antar karyawan, imbalan yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktof fisik dan psikologis (Sutrisno,2010). Keselamatan kerja adalah upaya perlindungan yang ditunjukkan agar tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja atau selalu dalam keadaan selamat dan sehat sehingga setiap sumber produksi dapat digunakan secara umum dan efisien (Ardana, 2012). Dan dijadikan sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan karena adanya rasa aman saat bekerja yang dapat menciptakan kepuasan kerja.

(22)

Nilai rata-rata jawaban responden pada kuesioner dilihat dari indikator perusahaan bertanggung jawab K3 sebesar 4.80 yang artinya tingkat kepuasan kerja petugas Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran dapat dikatakan baik.

Kepuasan kerja tidak dapat menjadi variabel yang memediasi antara keselamatan terhadap kinerja karyawan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Wibowo dan Utomo 2016) menyatakan kepuasan kerja bukan merupakan variabel pemediasi keselamatan terhadap kinerja karyawan. Karena nilai koefisiensi pengaruh lansung kebih besar dibanding nilai koefisiensi pengaruh tidak langsung.

Pengaruh Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja tidak bisa menjadi variabel yang memediasi anata kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan. Hal ini dibuktikan oleh hasil perhitungan koefisiensi pengaruh langsung kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan lebih besar dibanding koefisien pengaruh tidak langsung kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (0,924 > 0,376).

Kesehatan kerja merujuk pada kondisi psikologis diakibatkan oleh stress pekerjaan dan kehidupan kerja yang berkualitas rendah (Rivai, 2011). Hal ini meliputi ketidakpuasan, sikap menarik diri, kurang perhatian, mudah marah, selalu menunda pekerjaan dan kecenderungan untuk mudah putus asa terhadap hal-hal remeh. Kepuasan kerja akan berpengaruh pada baik buruknya kerja sesuai pernyataan dari (Handoko, 2008) bahwa kinerja baik atau tidak tergantung pada motivasi, kepuasan kerja, tingkat stress, dan kondisi fisik pekerja, sisitem kompensasi, desain pekerjaan, aspek-aspek ekonomis, dan teknis serta keperilakuan lainnya.

Adanya bentuk dukungan dari atasan Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran secara langsung atau tidak langsung yaitu kelengkapan pelindung diri (fireman suit, masker, helm, sepatu, dll), dan atasan menciptakan komunikasi terbuka, sehingga memberikan kepuasan tersendiri bagi bawahan, dan kinerja petugas tersebut dapat tercapai.

Kepuasan kerja tidak dapat menjadi variabel yang memediasi antara kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Yusuf, dkk 2012) menyatakan kepuasan kerja bukan merupakan variabel pemediasi kesehatan

(23)

terhadap kinerja karyawan. Karena nilai koefisiensi pengaruh lansung kebih besar dibanding nilai koefisiensi pengaruh tidak langsung

Referensi

Dokumen terkait

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus II telah mencapai keberhasilan baik dari segi proses maupun dari hasil jika dilihat dari 3 aspek yang telah diteliti yaitu:

Secara umum ditulis dengan matrik X, pendekatan pembelajaran dengan multimedia pembelajaran (X1) dan tanpa multimedia pembelajaran (X2), sedangkan X1X3

Tabel Tundaan Total - Lampu Merah angkot rute Dago - Abd.Muis.. Tundaan Total - Lampu Merah (

Berdasarkan hasil penelitian di SMA Negeri 1 Pringsewu tahun pelajaran 2018/2019, dapat disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan tiga tahap kegiatan pembelajaran yaitu tahap

D alam Modul 17 Unit 1 Anda telah mempelajari tentang Bioteknologi Konvensional dengan memanfaatkan mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi untuk

3 Independensi penampilan perilaku berarti adanya kesan masyarakat bahwa akuntan publik bertindak independen sehingga akuntan publik harus menghindari faktor-faktor yang

Oleh karena itu, dalam proses menghafalkan sangat membutuhkan adanya metode pembelajaran yang sesuai agar dapat tercapai tujuannnya yakni hafal al- Qur’an hingga 30 juz ,

Dengan melalui pendidikan baik pengajaran atau pelatihan yang diberikan oleh suatu lembaga atau perseorangan dapat berpengaruh terhadap kemampuan atuapun skill yang