54 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1) Paparan Data Primer
a. Peternakan Ayam di Kabupaten Klaten
Sistem peternakan ayam yang terjadi di masyarakat saat ini tidak lagi dengan cara tradisonal. Perkembangan teknologi informasi yang cepat memunculkan inovasi baru terkait model dalam sistem perternakan, namun pada masyarakat pedesaan masih ada yang menggunakan cara tradisional yaitu pejanjian secara lisan. Kondisi ini didukung dengan kurangnya modal bagi sebagian masyarakat, yang menyebabkan terciptanya perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini guna untuk mendapatkan keuntungan secara bersama-sama.
Kondisi ini menjadikan kemudahan bagi masyarakat yang kekurangan modal untuk menjalankan usahanya. Masyarakat yang tidak mempunyai cukup modal biasanya akan melakukan kerjasama antar para pihak. Kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten pada umumnya dilakukan dalam bentuk perjanjian tertulis, namun di Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten para peternak ayam melakukan perjanjian kerjasama peternakan ayam yang dilakukan secara lisan, karena para pihak yang sepakat untuk melakukan kerjasama saling percaya dan berdasarkan itikad baik. Biasanya para pihak telah mengenal satu sama lain dan telah melakukan kerjasama dalam kurun waktu cukup lama.
Selain itu, kebiasaan masyarakat pedesaan yang melakukan suatu perjanjian dengan cara lisan merupakan sesuatu yang dilakukan secara turun temurun karena pada masyarakat tradisional cenderung memilih cara praktis. Biasanya perjanjian lisan ini akan ditaati oleh para pihak, karena dalam masyarakat tradisional cenderung menjunjung tinggi norma dan budi pekerti yang luhur, sehingga
55
walapun dilakukan secara lisan perjanjian ini jarang terjadi permasalahan.
Kepercayaan dan itikad baik para pihak dalam menjalankan usaha kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini, memunculkan beberapa kelemahan, yaitu Kekuatan hukum dari perjanjian lisan pada kerjasama peternakan ayam dan perlindungan hukum bagi para pihak yang seharusnya mempunyai kepastian hukum dalam bekerjasama antara hak dan kewajiban yang akan diperoleh serta perlindungan hukum ketika terjadi permasalahan.
Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mengatur tentang sahnya perjanjian dan melihat banyaknya terjadi kasus-kasus serupa di dalam pelaksanan dalam perjanjian lisan pada kerjasama peternakan ayam, maka tentu semestinya asas fundamental di dalam pelaksanaan perjanjian termasuk perjanjian lisan yaitu asas itikad baik dan prinsip saling percaya haruslah dipahami dan diterapkan dengan sebaik-baiknya oleh para pihak guna mendapatkan kepastian hukum dari perjanjian ini sekaligus mendapatkan perlindungan hukum. Kemudian terkait dengan kekuatan hukum dari perjanjian lisan pada kerjasama peternakan ayam ini. Pada Pasal 1338 KUHPerdata menyatakan bahwa kesepakatan para pihak menjadi undang-undang dan tidak menyebutkan secara tegas bentuk perjanjiannya.
b. Para peternak ayam 1) Pihak pemodal
Rasa saling percaya dan itikad baik adalah landasan fundamental bagi para pihak untuk membuat perjanjian lisan pada kerjasama peternakan ayam. Kebiasaan pada masyarakat pedesaan yang melakukan perjanjian lisan ini dilakukan secara turun temurun dan dalam pelaksanaanya para pihak menjunjung tinggi norma-norma yamg hidup dalam masyarakat dan budi pekerti
56
luhur, hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sdr. Arif yang bertindak sebagai pemodal, yang menyatakan bahwa:
“Arif sebagai pihak pemodal dalam kerjasama usaha peternakan ayam ini mengatakan bahwa pada intinya perjanjian ini dilakukan karena rasa saling percaya dan berdasarkan itikad baik. Perjanjian ini dilakukan berdasarkan kebiasaan masyarakat desa sekitar, dengan sistem ini para pihak akan mendapatkan keuntungan bersama sesuai dengan hak dan kewajibannya, jumlah uang yang dikeluarkan untuk modal usaha ayam ini adalah sekitar Rp. 18.000.000 perseribu ekor, jenis ayam yang dipelihara adalah ayam pejantan.
Apabila pihak peternak sebagai pelaksana melakukan wanprestasi, pihak pemodal yaitu Arif menyadari konsekuensinya yaitu akan mendapatkan kerugian paling besar karena modal usaha ini berasal darinya, dalam pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini, secara teknis dilakukan di rumah kediaman Arif yaitu Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten yang disaksikan oleh empat orang saksi, masing-masing dari para pihak sebanyak dua orang, saksi dari pemodal adalah Nanda dan Ridwan. Para pihak yang melakukan perjanjian juga dilakukan secara sadar tanpa paksaan untuk kepentingan mencari keuntungan secara bersama-sama, dan ayam berjumlah sekitar 1200 ekor ayam pejantan yang dipelihara oleh peternak yaitu Sdr Sapto, terkait jangka waktu panen sekitar 60 hari dan perpanjangan dalam perjanjian lisan ini dilakukan setiap periode panen dengan ketentuan harga ayam hidup Rp 25.500 rupiah perkilogram.
Terkait penyelesaian permasalahan biasanya dilakukan secara
57
kekeluargan, namun sampai saat ini jarang terjadi permasalahan dalam pelaksanaannya.70
Sementara bentuk pertanggungjawaban pihak pemodal adalah sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sdr. “Arif”
sebagai pihak inti yang menyatakan bahwa : 71
“ saya sebagai pemodal berkewajiban mengeluarkan sejumlah uang yaitu sekitar Rp. 18.000.000 perseribu ekor ayam dan jumlah uang tersebut bisa bertambah sesuai harga pakan dipasaran untuk keperluan dalam kerjasama ini, baik dari pembibitan, pakan vaksin maupun kebutuhan pakan sampai masa panen. Selain itu juga berkewajiban membina maupun mengawasi pihak peternak. Mengenai hak yang saya dapat ialah 60% dari hasil keuntungan bersih dari hasil panen pada peternakan ayam ini.”
2) Pihak peternak
Masyarakat yang ingin menjalankan usaha sering kali terkendala oleh modal atau biaya, tak terkecuali pada masyarakat pedesaan di Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, untuk mensiasati kurangnya modal ini biasanya akan menjalin kerjasama dengan pihak lain yang mau diajak untuk melakukan kerjasama. Dewasa ini sistem kerjasama usaha merupakan metode yang tepat untuk dipilih, hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sdr. Sapto yang merupakan peternak dari sdr Arif, yang menyatakan bahwa:72
“ Dalam mewujudkan usahanya, Sapto sebagai pihak peternak sepakat melakukan perjanjian lisan untuk kerjasama
70 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB.
71 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB.
72 Wawancara dengan “Sapto” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 07 Mei 2021. pukul 12.30 s/d 14.30 WIB.
58
peternakan ayam. Perjanjian dipilih karena hubungan antara Sapto dan Arif sangat baik, saling mengenal dan saling percaya untuk mendapatkan keuntungan bersama sesuai hak dan kewajibannya dan berdasarkan itikad baik. Perjanjian lisan ini dilakukan di rumah Arif sebagai pemodal dan dilakukan tanpa adanya tekanan dan paksaan. Perjanjian lisan ini disaksian oleh empat orang saksi, yaitu dua orang saksi dari sdr sapto sebagai pihak peternak adalah Agung dan Galang.
Terkait jangka masa panen adalah 60 hari, masa panen bisa lebih dari 60 hari tergantung kondisi bobot ayam, untuk perpanjangan perjanjian kerjasama biasanya dilakukan setiap periode panen dengan ketentuan Rp. 25.500 perekor ayam hidup, jenis ayam yang dipelihara adalah ayam pejantan.
Selama melakukan kerjasama dengan Arif jarang terjadi permasalahan, akan tetapi apabila ada permasalahan upaya yang ditempuh adalah mediasi secara kekeluargaan.
Sementara bentuk pertanggungjawaban pihak peternak adalah sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sdr. Sapto sebagai pihak peternak yang menyatakan bahwa:73
“saya berkewajiban menjalankan usaha kerjasama dengan cara menyediakan tempat sebagai tempat pembesaran ayam, memelihara dan merawat ayam sampai masa panen, hak yang diperoleh ialah 40% dari keuntungan bersih dari hasil panen, dan akan mendapatkan bonus apabila hasil panen melebihi target, sementara risiko akan ditanggung bersama”.
Dari hasil wawancara di atas, dapat dicermati bahwa adanya kesepakatan para pihak dalam bentuk perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini adalah rasa saling percaya untuk secara bersama-sama mendapatkan keuntungan
73 Wawancara dengan “Sapto” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 07 Mei 2021. pukul 12.30 s/d 14.30 WIB.
59
bersama berdasarkan itikad baik. Selain itu kebiasaan pada masyarakat pedesaan yang memilih cara praktis yaitu dengan cara perjanjian lisan yang telah dilakukan secara turun-temurun yang menjunjung tinggi norma-norma yang tumbuh dalam masyarakat dan budi pekerti yang luhur. Menurut interprestasi sosiologis peneliti, kesepakatan para pihak berdasarkan itikad baik untuk melakukan perjanjian kerjasama secara lisan ini mengikat satu sama lain. Perjanjian lisan dipilih oleh para pihak karena kebiasaan masyarakat sekitar, kesepakatan dari perjanjian ini harus dipegang teguh sebagai dasar untuk menjalankan usahanya berdasarkan itikad baik sesuai dengan Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata. Serta para pihak harus mengetahui konsekuensi hukumnya untuk mendaptakan prestasi dari kesepakatannya yaitu hak dan kewajiban para pihak.
Para pihak pada kerjasama peternakan ayam ini yaitu Arif sebagai pemodal dan Sapto sebagai peternak atau pelaksana dalam menjalankan usaha peternakan ayam. Peternakan ayam di Kecamatan Jogonalan akhir-akhir ini mengalami penurunan, hal itu disebabkan karena menurunnya daya beli masyarakat dan semakin melambungnya harga pakan ternak, ada beberapa peternakan yang berhasil kami wawancarai, antara lain:74
“Sdr. Dwi yang pada intinya menjelaskan bawa beliau juga salah satu mitra dari Arif dalam menjalankan usaha peternakan ayam. Perjanjian ini juga dilakukan secara lisan, ini dipilih karena itikad baik para pihak serta prinsip kepercayaan. Dwi juga menjelaskan bahwa sudah berhenti menjalankan usaha peternakan ayam karena kurangnya daya beli masyarakat. Selanjutnya kami
74 Wawancara dengan “Dwi” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 03 September 2021. pukul 13.30 s/d 14.30 WIB
60
juga berhasil mewawancarai peternak ayam yang juga mitra dari Arif yaitu Yogi.
“Sdr. Yogi pada saat kami wawancarai menjelaskan bahwa sebagai peternak dari Arif selaku pemodal, menjelaskan perjanjian peternakan ayam ini dilakukan secara lisan. Perjanjian lisan ini dipilih karena rasa kepercayaan dan itikad baik, secara teknis hampir sama seperti yang dilakukan antara Arif dengan Sapto, dalam pelaksanaannya kerjasama peternakan ayam ini saling menguntungkan para pihak. Yogi juga menjelaskan bahwa perjanjian lisan dalam peternakan ayam ini dilakukan karena kebiasaan masyarakat sekitar.75
3) Saksi-saksi dalam pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama peternakan ayam.
Pelakasanaan perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten, khususnya di Desa Tangkisan Pos, perjanjian ini tidak ada dokumen tertulis, maka dari itu para pihak yaitu sdr Arif sebagai pemodal dan sdr Sapto sebagai peternak dalam melakukan perjanjian telah membawa saksi, masing-masing pihak membawa empat orang saksi. Peneliti berhasil mewawancari dua orang saksi baik dari pihak pemodal maupun peternak masing-masing satu orang, yaitu:
1.Saksi dari pihak pemodal yaitu Nanda: 76
“Nanda sebagai saksi dari pihak pemodal yaitu Arif dalam kerjasama usaha peternakan ayam ini mengatakan bahwa benar antara Arif dan Sapto telah melakukan perjanjian secara lisan untuk menjalankan usaha peternakan ayam, Arif sebagai pemodal dan Sapto sebagai pihak peternak,
75 Wawancara dengan “Yogi” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 03 September 2021. pukul 13.30 s/d 14.30 WIB
76 Wawancara dengan “Nanda” Saksi dari Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 14.30 s/d 15.0 WIB.
61
perjanjian lisan ini dipilih oleh para pihak karena sudah biasa dilakukan pada masyarakat sekitar. Lokasi perjanjian dilakukan di rumah kediaman Arif yaitu Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten”.
2. Saksi dari pihak peternak yaitu Agung : 77
“Agung sebagai saksi dari pihak peternak yaitu Sapto dalam kerjasama usaha peternakan ayam ini mengatakan bahwa pada pokoknya hampir sama dengan perkataan saksi dari pihak Arif yaitu bahwa benar antara Sapto dan Arif telah melakukan perjanjian secara lisan untuk menjalankan usaha kerjasama peternakan ayam, Arif sebagai pemodal dan Sapto sebagai pihak peternak. Sapto sebagai pihak peternak mempunyai kandang sebagai tempat dimana ayam dibesarkan sampai usia panen, perjanjian lisan ini dipilih oleh para pihak karena sudah biasa dilakukan pada masyarakat sekitar. Lokasi perjanjian ini dilakukan di rumah kediaman Arif yaitu Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.
4) Masyarakat Sekitar Pedesaan
Suatu peristiwa hukum pasti tidak jauh dari kebiasaan masyarakat, tak terkecuali bagi perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten. Pada umumnya para peternak di Kabupaten Klaten dalam menjalankan usaha dilakukan dengan beberapa metode, baik sistem kerjasama maupun secara mandiri, di Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten ada keunikan tersendiri yaitu masyarakat pedesaan ini khususnya para peternak ayam melakukan perjanjian kerjasama peternakan ayam dilakukan dalam bentuk lisan. Peristiwa ini telah dilakukan secara turun
77 Wawancara dengan “Agung” Saksi dari Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 08 Mei 2021. pukul 16.30 s/d 17.30 WIB.
62
temurun yang menjadi kebiasaan oleh masyarakat sekitar, sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh salah satu warga Desa Tangkisan Pos yaitu Sdr. Alif yang menyatakan : 78
“Bahwa benar masyarakat daerah sini dalam menjalankan usaha peternakan ayam melakukan perjanjian secara lisan, karena sudah menjadi kebiasaan pada lingkungan masyarakat sini. Serta dilakukan berdasarkan prinsip rasa saling percaya dan asas itikad baik untuk mendapatkan keuntungan secara bersama-sama.”
Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat dicermati bahwa kebiasaan pada masyarakat pedesaan sampai sekarang masih sering digunakan dalam menjalankan usahanya. Peristiwa hukum ini juga dikui oleh undang-undang yang pada intinya hukum adat atau kebiasaan pada masyarakat pedesaan sah dan terdapat sangsi sosial apabila ada pihak yang melanggar. Secara norma undang- undang Perdata juga mengakui perjanjian lisan, penyelesaian melalui musyawarah mufakat adalah upaya terbaik apabila terjadi permasalahan, sesuai kebiasaan masyarakat sekitar.
2. Paparan Data Skunder
Kabupaten Klaten merupakan salah satu daerah yang terletak di wilayah provinsi Jawa Tengah. Terdapat 26 kecamatan dan merupakan salah satu daerah dengan jumlah populasi peternakan ayam cukup banyak.
Pada survei terakhir tahun 2017, Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten mencatat jumlah populasi ayam yang dapat dilihat pada tabel berikut:79
Kecamatan Anak dan Muda / Dewasa /
Jumlah / Total Sub District
Child and Young Adult
Jantan / Male
Betina / Female
Jantan / Male
Betina/
Female
01 Prambanan 13 619 18 115 14 704 11 741 58 179
78 Wawancara dengan “Alif” salah satu warga diWilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 12.00 s/d 14.00 WIB.
79 https://klatenkab.bps.go.id/statictable/2019/01/30/336/ayam-buras-anak-dewasa-menurut- kecamatan-dan-jenis-kelamin-di-kabupaten-klaten-tahun-2017.html.
63
02 Gantiwarno 23 398 25 202 18 656 23 446 90 702
03 Wedi 12 839 12 708 9 070 14 919 49 536
04 Bayat 16 598 5 508 21 333 25 905 69 344
05 Cawas 13 728 13 826 10 775 15 289 53 618
06 Trucuk 13 819 16 558 10 334 10 626 51 337
07 Kalikotes 17 668 15 463 9 281 14 585 56 997
08 Kebonarum 14 508 19 493 7 028 13 471 54 500
09 Jogonalan 20 829 17 663 14 849 20 537 73 878
10 Manisrenggo 22 599 22 508 13 014 17 333 75 454 11 Karangnongko 14 398 20 765 12 864 19 089 67 125
12 Ngawen 11 924 17 665 11 300 18 034 58 923
13 Ceper 13 604 22 363 15 319 17 056 68 342
14 Pedan 15 508 15 508 16 170 22 133 69 319
15 Karangdowo 13 662 15 072 6 977 15 159 50 870
16 Juwiring 17 665 8 764 8 461 17 561 52 451
17 Wonosari 15 463 6 382 12 208 18 052 53 105
18 Delanggu 19 865 306 558 8 237 15 682 350 342
19 Polanharjo 12 262 16 592 6 054 14 314 49 222
20 Karanganom 17 728 18 576 7 130 16 605 60 039
21 Tulung 12 363 15 013 11 780 20 009 59 165
22 Jatinom 17 662 18 030 5 312 12 103 53 107
23 Kemalang 10 818 7 666 6 913 13 084 38 481
24 Klaten Selatan 7 665 9 665 7 228 7 306 31 864
25 Klaten Tengah 8 764 6 564 5 916 1 989 23 233
26 Klaten Utara 136 574 9 728 7 179 259 153 740
Jumlah /Total
2017 515 530 681 955 278 092 397 296 1 872 873
Sumber / Source:
Dinas Pertanian Kabupaten Klaten
Dari tabel di atas, dapat dicermati bahwa jumlah populasi ayam di Kabupaten Klaten cukup banyak yang tersebar di beberapa peternak ayam sekitar. Peternak di kabupaten Klaten yang memelihara ayam pejantan sekitar 20 peternak, namun akhir-akhir ini mengalami penurunan lebih dari 50% karena faktor non alam dan mahalnya harga ayam. Pada umunya para peternak di Kabupaten Klaten melakukan usaha mereka denga cara mandiri dan kerjasama. Salah satu daerah di Kabupaten Klaten yaitu Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan terdapat keunikan yaitu perjanjian
64
kerjasama bagi hasil peternakan ayam dilakukan secara lisan, terdapat empat peternak, jenis ayam yang diplihara adalah ayam pejantan, oleh karenanya kekuatan dari perjanjian lisan dan perlindungan hukum para pihak dalam kerjasama peternakan ayam ini sangat menarik untuk dikaji.
B. Pembahasan
1. Kekuatan hukum dari perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten.
Membuat suatu perjanjian dikenal dengan adanya asas pacta sunt servanda, asas yang dapat dikatakan sebagai asas mengikatnya perjanjian.
Maksud dari asas ini adalah asas yang berkaitan dengan akibat perjanjian dan bersifat mengikat para pihak, asas ini menegaskan bahwa para pihak harus menghargai substansi perjanjian yang telah disepakati layaknya undang-undang, sesuai dengan ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KHUPerdata. Asas ini juga sangat berkaitan dengan asas pelaksanaan perjanjian. Berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten yang telah disepakati oleh para pihak atas dasar prinsip saling percaya dan saling menguntungkan.
Perjanjian secara lisan dalam perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam secara lisan yang dilakukan oleh para pihak merupakan wujud dari asas kebebasan berkontrak terkait dalam bentuk perjanjiannya.
Asas kebebasan berkontrak mempunyai batas yaitu tidak dilarang oleh undang-undang, tidak melanggar kesusilaan dan ketertiban umum.
Keabsahan dari suatu perjanjian baik secara tertulis maupun tidak tertulis dapat dilihat dari terpenuhinya ketentuan dari syarat sahnya suatu perjanjian. Secara umum perjanjian lahir pada saat tercapainya kata sepakat dari para pihak yang membuat perjanjian serta para pihak dapat menentukan isi dari perjanjian tersebut. Namun isi dari perjanjian tersebut haruslah memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata, kebebasan dalam asas ini bukanlah bebas yang sebebas-bebasnya agar tidak betentangan dengan undang-undang, tidak melanggar kesusilaan dan ketertiban umum.
65
Ketentuan Pasal 1338 (1) KUHPerdata yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, selain mencerminkan asas kebebasan berkontrak juga mencerminkan asas pacta sunt servanda, artinya para pihak mempunyai kepastian hukum, perjanjian ini mengikat kedua belah pihak yang telah sepakat, serta berdasarkan kesepakatan ini menjadi undang-undang bagi para pihak. Artinya para pihak yang sudah sepakat melakukan perjanjian lisan harus menghormati kesepakatan dari perjanjian tersebut, sebagaimana menghormati undang- undang. Apabila para pihak tidak melaksanakan perjanjian seperti apa yang telah disepakati dan diperjanjikan, maka akan mempunyai akibat seperti halnya jika para pihak tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan, yaitu dengan suatu sanksi.
Itikad baik dalam Pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam sangatlah penting di dalam pembuatan perjanjian yang telah diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPer. Asas itikad baik menjadi penting karena pada dasarnya perjanjian ini dilalukan secara lisan. Para pihak juga harus mengetahuai hak dan kewajibannya sehingga dalam membuat kesepakatan akan menghasilkan sautu perjanjian yang menguntungkan para pihak. Berdasarkan asas itikad baik timbulah kepercayaan yaitu bahwa satu sama lain akan memegang janjinya, dengan kata lain akan memenuhi prestasinya kemudian hari, tanpa adanya kepercayaan itu tidak mungkin akan diadakan perjanjian oleh para pihak, dengan kepercayaan kedua pihak mengikatkan dirinya dan lahirlah kesepakatan-kesepakatn secara lisan yang mengikat yang menjadikan suatu sebagai undang-undang yang harus dipatuhi, sesuai dengan Pasal 1338 KUHPerdata agar dalam menjalankan usahanya bisa berjalan lancar serta tidak merugikan salah satu pihak yang terlibat dalam perjanjian lisan. Menurut Wirjono Prodjodikoro, secara garis besar menyatakan bahwa itikad baik diperlukan karena hukum tidak dapat menjangkau keadaan-keadaan di masa mendatang, artinya itikad baik dalam suatu perjanjian harus ada sebelum terjadinya kesepakatan, dan saat
66
pelaksanaan perjanjian hingga telah terpenuhi kesepakatan tersebut.
Pelaksanaan itikad baik dalam perjanjian harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata mengenai asas itikad baik, yang menyatakan “Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.”
Asas itikad baik harus ada pada waktu sebelum terjadinya kesepakatan, selanjutnya terjadilah suatu kesepakatan bagi para pihak yang tertuang dalam Pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi “Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan ini tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.” Apabila dilihat dari ketentuan Pasal tersebut, itikad baik merupakan prinsip yang wajib dipenuhi oleh para pihak yang bersepakat didalam perjanjian.
Praktik di dalam masyarakat terkadang hukum tertulis tidak selamanya sejalan dengan perkembangan di masyarakat, maka kebiasaan- kebiasaan masyarakat yaitu hukum tidak tertulis atau hukum adat dianggap sangat relevan bagi suatu kelompok masyarakat, dan nantinya akan menyelesaikan masalah apabalia terjadi perselisihan, hal ini nampak dari amanat Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang memberikan keleluasaan kepada hakim untuk memahami, menggali dan mengikuti nilai-nilai hukum yang ada di dalam masyarakat. Eksistensi hukum adat hingga saat ini tetap mempunyai peranan penting, terutama dalam pembentukan hukum nasional yang akan datang. Hukum adat akan menjadi salah satu sumber utama dalam pembentukan hukum tertulis, sehingga aturan tertulis tersebut otomatis merupakan pencerminan dari hukum masyarakat.
Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat M Koesno, yang pada intinya antara konsep hukum barat dan hukum adat mempunyai perbedaan. Hukum Barat mengangap individu dipandang sebagai makluk yang merdeka, berbeda dengan konsep hukum adat, yang memandang
67
individu sebagai bagian dari masyarakat dan mempunyai sifat kebersamaan dan komunal yang kuat, dan juga pendapat Ter Haar yang menyatakan pada prinsipnya hukum adat merupakan seluruh peraturan yang diterapkan dalam keputusan-keputusan dan di dalam kelahirannya dinyatakan mengikat. Pendapat ini terkenal dengan teori keputusan (beslissingenleer). Penjelasan mengenai hukum adat tersebut relevan dengan kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten yang biasanya dilakukan dalam bentuk tertulis, namun di Desa Tangkisan Pos Kabupaten Klaten memiliki ciri khas tersendiri yaitu dalam menjalankan usaha kerjasama peternakan ayam, para pihak sepakat untuk melakukan perjanjian secara lisan. Perjanjian secara lisan dipilih para pihak disebabkan karena kebiasaan masyarakat setempat, khususnya para peternak ayam yang beranggapan bahwa kerjasama ini dilakukan berdasarkan asas itikad baik serta asas kepercayaan. Pada prinsipnya kerjasama ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan secara bersama- samas. Kebiasan atau adat dalam masyarakat ini juga mendasari lahirnya perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten khususnya Desa Tangkisan Pos.
Kebiasan-kebiasan pada masyarakat Desa Tangkisan Pos tersebut lahir dari dan dipelihara oleh keputusan-keputusan para warga masyarakat setempat. Perlu diketahui dalam hukum adat, sanksi bukan menjadi hal yang sangat esensial, itu disebabkan karena hukuman merupakan upaya pemulihan kembali keseimbangan yang terganggu karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang dalam bermasyarakat, apabila penerapan hukum yang dilanggar sudah dipulihkan kembali kepada keseimbangan awal, maka sudah tidak ada permasalahan lagi. Tindakan penerapan hukum terhadap pelanggaran hukum tidak selalu diberikan oleh petugas hukum, melainkan juga masyarakat adat sendiri.
Penjelasan di atas, dalam pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten, pada umumnya para peternak ayam memilih untuk melakukan perjanjian secara tertulis, namun seperti yang telah dijelaskan di atas, di Desa Tangkisan
68
Pos kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten memiliki ciri khas tersendiri yaitu para peternakan ayam untuk menjalankan usahanya memilih untuk melakukan perjanjian lisan. Jika dilihat populasi ayam di Kabupaten, perputaran uang dalam usaha ini cukup besar. Merujuk pada dapat BPS Kabupaten Klaten di Desa Tangkisan Pos Kecamatan Jogonalan terdapat 73.878 ekor populasi ayam pertahun yang terbagi menjadi beberapa ras ayam yaitu petelur dan ayam pedaging yang terdiri dari ayam boiler, ayam joper, dan ayam pejantan. Para peternak ayam di Desa Tangkisan Pos fokus pada penggemukan ayam pedaging jenis pejantan dan secara keseluruhan ada empat peternak ayam pejantan yang melakukan perjanjian secara lisan yaitu Arif, Sapto, Yogi dan Dwi, namun Dwi sesuai penjelasan saat wawancara dengan peneliti menyatakan bahwa Dwi tidak lagi menjalankan usaha kerjasama peternakan ayam. Adanya data saat penelitian tersebut, peneliti memfokuskan pada Arif, Sapto, dan Yogi untuk mengkaji perjanjian kerjasama peternakan ayam secara lisan.
Menurut analisis peneliti sesuai dengan paparan hasil penelitian di atas, perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten, dilihat dari peran atau kontribusi para pihak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang telah disepakati, yaitu:
1) Pihak pemodal yaitu sdr Arif , yang bertindak sebagai pemodal dalam pelaksanaan usaha peternakan ayam sekaligus sebagai pengawas, yang memberikan penawaran modal kepada pihak peternak yang berkeinginan untuk menjalankan usaha peternakan ayam. Sesuai dengan pernyataan Sdr. Arif yang menyatakan bahwa Sdr. Arif sepakat dengan Sdr. Sapto serta Sdr. Yogi sebagai pihak pemodal mengatakan bahwa dalam melakukan perjanjian lisan pada intinya perjanjian ini dilakukan karena rasa saling percaya dan berdasarkan asas itikad baik untuk mendapatkan keuntungan bersama.
2) Pihak peternak sebagai pihak pelaksana dalam menjalankan usaha peternakan ayam, yaitu sdr Sapto dan Yogi bertindak sebagai peternak atau pelaksana yang berkewajiban
69
menyediakan lahan, memelihara, merawat ayam sampai masa panen tiba. Biasanya peternak ini merupakan seseorang yang tidak memiliki modal cukup untuk menjalankan usahnya, maka dari itu melakukan kerjasama usaha dengan rekan bisnis sebagai solusi atas masalah ini. Sesuai dengan pernyataan Sdr.
Sapto dan Yogi yang telah sepakat sebagai pihak peternak atau pelaksana, karena kekurangan modal untuk menjalankan usahanya, sepakat untuk melakukan perjanjian secara lisan, yaitu kerjasama peternakan ayam dengan Arif untuk mendapatkan keuntungan bersama berdasarkan kepercayaan dan itikad baik.
Penjelasan di atas dapat dicermatii bahwa kerjasama bagi hasil pada umumnya termasuk dalam perjanjian kemitraan yang mensyaratkan perjanjian dilakukan dalam bentuk tertulis sesuai Pasal 34 Undang- Undang No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Peraturan tersebut juga memberi penjelasan bahwa kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan usaha menengah dengan usaha besar yang harus memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam undang-undang yaitu kriteria terkait modal, hasil penjualan dan/atau kekayaan serta izin usaha sesuai Pasal 40 dalam undang-undang ini. Kriteria modal, hasil penjualan dan/atau kekayaan terdapat dalam Pasal 6, yaitu:
1) Kriteria usaha mikro adalah sebagai berikut:
a) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
b) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
2) Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut:
70
a) Memiliki kekayaan bersih lebih dari 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3) Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:
a) Memiliki kekayaan bersih lebih dari 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
Kerjasama bagi hasil selain diatur dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2008 juga diatur dalam Peraturan Pemerintah No 17 Tahun 2013 tentang Pelaksanann Undang-Undang No. 20 tahun 2008, yaitu terdapat pada Pasal 22, yaitu terkait kriteria dalam pola kerjasama bagi hasil adalah:
a. Usaha mikro, kecil, dan usaha menengah berkedudukan sebagai pelaksana yang menjalankan usaha yang dibiayai atau dimiliki oleh usaha besar;
b. Usaha mikro dan usaha kecil berkedudukan sebagai pelaksana yang menjalankan usaha yang dibiayai atau dimiliki oleh usaha menengah.
Penjelasan di atas, dapat dicermati bahwa perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten tidak memenuhi kriteria pada ketentuan Pasal 6 Undang-Undang No. 20 tahun 2008 yaitu terkait kriteria dari aspek modal, penjualan pertahun dan kekayaan dari para pihak yang melakukan kerjasama bagi hasil peternakan ayam. Sesuai
71
dengan pernyataan dari Arif sebagai pemodal yang menjelaskan bahwa modal yang dikeluarkan hanya Rp 18.000.000,00 per seribu ayam, jumlah ayam yang di pelihara sebanyak 1200 ekor.80 Selain itu, ketentuan pada Pasal 22 PP No 17 tahun 2013 juga menyatakan bahwa kerjasama bagi hasil harus dilakukan oleh pelaku usaha mikro atau pelaku usaha kecil yang dibiayai atau dimiliki oleh pelaku usaha menengah. Ketentuan mengenai kriteria tersebut mempertegas bahwa kerjasama bagi hasil peternakan ayam yang dilakukan antara Arif sebagai pemodal dengan Sapto serta Yogi tidak sesuai dengan kriteria terebut, karena para pihak ini hanya pelaku usaha mikro. Para pelaku usaha juga belum ada izin usaha kemitraan, artinya tidak sesuai dengan Pasal 36 yang mensyaratkan harus ada izin usaha. Usaha peternakan ayam ini hanya kerjasama usaha antar perorangan yang belum memenuhi kriteria dalam ketentuan peraturan ini.
Perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini merupakan kebiasaan pada masyarakat setempat berdasarkan kepercayaan serta itikad baik dari para pihak. Artinya peraturan pada penjelasan di atas tidakk relevan untuk dijadikan dasar hukum. Sehingga perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini bisa dilakukan secara lisan. Substansi dari perjanjian lisan ini adalah kesepakatan dari para pihak berdasarkan kepercayaan dan itikad baik untuk mendapatkan keuntungan bersama.
Penjelasan di atas, juga dapat di analis oleh peneliti yaitu terkait unsur essensiaalia, dalam perjanjian menjelaskan bahwa dalam suatu perjanjian harus mengandung suatu ketentuan-ketentuan tentang prestasi, artinya isi yang terkandung dari perjanjian yang mendefiniskan bentuk hakikat perjanjian. Kerjasama peternakan ayam secara lisan ini, secara hakikat sesuai yang telah dijelaskan di atas, bahwa perjanjian ini ada karena adanya kepercayaan dari para pihak untuk mendapatkan keuntungan bersama berdasarkan itikad baik. Artinya perjanjian
80 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB.
72
kerjasama bagi hasil ini merupakan kebiasaan masyarakat untuk menjalankan usaha dengan cara praktis dengan tujuan mendapatkan keuntungan bersama.
Unsur naturalia menjelaskan bahwa unsur perjanjian yang oleh undang-undang telah diatur, maka tidak bisa di kesampingan oleh para pihak. Pada perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten, sesuai penjelasan di atas bahwa UU No 20 tahun 2008 yang mensyaratkan perjanjian harus dilakukan dalam bentuk tertulis tidak relevan untuk dijadikan dasar hukum karena tidak terpenuhinya kriteria dalam peraturan ini. Artinya perjanjian ini tidak ada peraturan khusus atau tidak ada asas lex spciallis legi generalinya. Perjanjian ini ada karena kesepakatan dari para pihak yang sepakat melakukan perjanjian secara lisan berdasarkan kepercayaan dan itikad baik dari para pihak sesuai ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Selain itu, hakikat dari kerjasama kemitraan yang menyatakan bahwa para pihak yang melakukan kerjasama harus dilakukan oleh pelaku usaha mikro atau pelaku usaha kecil yang dibiayai atau dimiliki oleh pelaku usaha menengah juga memperjelas bahwa tidak ada aturan khusus yang mengatur karena para pihak dalam kerjasama bagi hasil ini hanya para pelaku usaha mikro. Sehingga kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini bisa dilakukan secara lisan.
Perjanjian juga mengenal adanya asas Konsensualisme yaitu perjanjian yang timbul karenanya itu dan sudah dilahirkan sejak tercapainya oleh para pihak mengenai hal-hal pokok dari perjanjian itu, sehinga timbul perikatan dan melahirkan hak dan kewajiban dari para pihak. Sesuai dengan pernyataan Arif yang menjelaskan bahwa Arif sebagai pemodal berkewajiban membiayai usaha peternakan ayam sampai usia panen dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, dan hak yang akan di dapat ialagh 60 % dari laba bersih sesuai kesepakatan yang telah
73
disepakati.81 Sapto juga menjelaskan bahwa sebagai peternak atau pelaksana berkewajiban memelihara ayam dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan keuntungan secara maksimal, hak yang diperoleh adalah 40% dari laba bersih.82 Sementara Yogi juga menjelaskan terkait hak dan kewajiban sesuai apa yang telah dijelaskan oleh Sapto. Asas konsensualisme terdapat dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata, yaitu telah tercapainya kata sepakat antara Arif dengan Sapto serta Yogi mengenai hal-hal pokok. Asas konsensualisme ini terdapat beberapa pengecualian yaitu, perjanjian formil yang harus dengan bentuk bentuk tertentu dan perjanjian rill yang menyatakan bahwa untuk terjadinya kata sepakat harus dengan penyerahan barang yang menjadi pokok perjanjian.
Seperti penjelasan di atas bahwa perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten merupakan jenis perjanjian biasa yang tidak mensyaratkan dalam bentuk tertentu. Maksud dari perjanjian biasa adalah perjanjian konsensuil dimana perjanjian dianggap sah dan mengikat karena telah terjadi kesepakatan pokok dari para pihak untuk melakukan kerjasama peternakan ayam dengan tujuan mendapatkan keuntungan bersama.
Berdasarkan uraian di atas, menurut analisis peneliti sesuai dengan penjelasan di atas, kekuatan hukum dari perjanjian lisan pada perjanjian lisan dapat dilihat dari kesepakatan-kesepakatan para pihak yang sekurang-kurangnya telah memuat ketentuan hal-hal, yaitu:
1) Kesepakatan para pihak untuk melakukan perjanjian secara lisan.
Pelaksanaan perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam yang dilakukan secara lisan antara Arif dengan Sapto serta Yogi yang telah sepakat melakukan perjanjian lisan. Esensi dari kesepakatan tersebut adalah Arif
81 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB.
82 Wawancara dengan “Sapto” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 07 Mei 2021. pukul 12.30 s/d 14.30 WIB
74
sebagai pemodal dan Sapto serta Yogi sepakat sebagai peternak atau pelaksana untuk mendapatkan keuntungan bersama, dari kata sepakat ini dapat dicermati bahwa perjanjian kerjasama secara lisan ini merupakan perjanjian bagi hasil, karena kontribusi sesuai kemampuan dan sumber daya yang telah disepakati antara Arif sebagai pemodal dengan Sapto serta Yogi sebagai peternak atau pelaksanan, sesuai dengan penjelasan Arif sepakat sebagai pihak pemodal dalam kerjasama usaha peternakan ayam.83 wawancara dengan Sapto, dalam mewujudkan usahanya, Sapto sebagai pihak peternak sepakat melakukan perjanjian lisan untuk kerjasama peternakan ayam.84 Serta Yogi pada saat kami wawancarai menjelaskan bahwa sebagai peternak dari Arif selaku pemodal, menjelaskan perjanjian peternakan ayam ini dilakukan secara lisan.
Perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten sesuai dengan asas kebebasan berkontrak, sesuai dengan pendapat Ahmadi Miru yang menjelaskan bahwa kebebasan berkontrak memberikan jaminan pada seseorang untuk secara bebas dalam beberapa hal yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu: bebas menentukan apakah ia akan melakukan perjanjian atau tidak, bebas menentukan dengan siapa ia akan melakukan perjanjian, bebas menentukan isi perjanjian, dan bebas menentukan bentuk perjanjian yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lain.85 Perjanjian kerjasama bagi hasil ini, sesuai dengan penjelasan di atas bahwa perjanjian ini tidak melanggar perundang-undangan lain yang mengaturnya
83 Wawancara dengan “Sapto” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 07 Mei 2021. pukul 12.30 s/d 14.30 WIB.
84 Wawancara dengan “Yogi” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 03 September 2021. pukul 13.30 s/d 14.30 WIB
85 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak Perencanaan Kontrak, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007, hlm. 4.
75
karena tidak ada peraturan khusus yang mengatur. Perjanjian ini berdasarkan ketentun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu perjanjian bisa dilakukan secara lisan.
Kebebasan berkontrak pada perjanjian kerjasama peternakan ayam ini juga merujuk pada syarat sahnya perjanjian yaitu terkait suatu sebab yang halal. Pasal 1335 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan. Pasal 1337 KUHPerdata “suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh Undang- undangan, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum. Ketentuan pada Pasal tersebut tidak dilanggar oleh para pihak karena tidak melanggar kesusilaan atau ketertiban umum serta tidak dilarang oleh undang- undang. Serta perjanjian ini secara kepatutan dan kebiasaan ada karena kebiasaan pada masyarakat.
Peraturan tersebut memperjelas bahwa perjanjian kerjasama peternakan ayam yang dilakukan antara Arif dengan Sapto serta Yogi menurut asas pacta sunt servanda kesepakatan yang telah disepakati bersama berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya dan diharuskan menghormati kesepakatan tersebut sesuai dengan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata. Asas pacta sunt servanda juga dikatakan sebagai asas mengikatnya perjanjian, artinya mengikatnya perjanjian ini adalah kesepakatan-kesepakatan secara lisan dari para pihak berdasarkan kepercayaan dan itikad baik karena .
Kata sepakat dari para pihak ini juga sesuai dengan syarat sahnya perjanjian yaitu Pasal 1320 KUHPer angka (1) yaitu pada klausa sepakat yang mengikatkan dirinya, artinya para pihak ini telah menghendaki apa yang telah disepakati dan kesepakatan para pihak juga dilakukan secara bebas tanpa
76
adanya paksaan dan tidak bertentangan dengan Pasal 1321 KUHPer sehingga kesepakatan ini tidak menimbulkan cacat kehendak. Kata sepakat ini juga mengandung unsur penawaran dari Arif sebagai pemodal, yaitu bahwa Arif menawarkan diri sebagai pemodal agar peternak bisa menjalankan usaha, dan menimbulkan unsur penerimaan yaitu bahwa para peternak atau pelaksana yaitu Sapto dan Yogi menerima penawaran yang diajukan oleh Arif dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan bersama dalam kerjasama peternakan ayam, artinya syarat subjektif terkait syarat sahnya perjanjian sudah terpenuhi.
Analisis di atas, menurut peneliti juga sesuai dengan teori kepastian hukum yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch yang menyatakan ada tiga tujuan hukum atau tiga asas prioritas, yaitu: keadilan, kepastian, dan kemanfaatan.
Adanya kepastian hukum berkaitan dengan supremasi hukum, karena hukumlah yang berdaulat. Menurut analisis peneliti terkait dengan kesepakatan para pihak dalam perjanjian kerjasama peternakan ayam adalah aspek keadilan hukum menurut Gustav, barometer dari keadilan hukum ini adalah menurut Thomas Hobbes yang menyatakan bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan adil apabila telah didasarkan pada perjanjian yang telah disepakati. Artinya kesepakatan antara Arif sebagai pemodal dan Sapto serta Yogi sebagai peternak telah sepakat untuk melakukan kerjasama peternakan ayam secara lisan berdasarkan kepercayaan yang menimbulkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati untuk mendapatkan prestasinya berdasarkan itikad baik.
Kedua aspek kemanfaatan hukum menurut pendapat dari Jeremy Bentham, yang menyatakan bahwa tujuan hukum memberikan adalah untuk kemanfaatan dan kebahagiaan sebanyak-banyaknya kepada warga masyarakat yang didasari
77
oleh falsafah sosial. Artinya dalam pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten khusunya di Desa Tangkisan Pos antara Arif dan Sapto serta Yogi telah menegaskan bahwa perjanjian kerjasama secara lisan ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bersama sesuai yang telah disepakati.
Ketiga kepastian hukum menurut pendapat dari Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu. Pertama, pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama peternakan ayam antara Arif sebagai pemodal dan Sapto serta Yogi sebagai peternak terkait aturan yang bersifat umum ialah kesepakatan-kesepakatan secara lisan dari mereka yang telah dipatuhi berdasarkan kepercayaan dan itikad baik, dan kedua terkaiat regulasi pemerintah yaitu Kitab Undang- Undang Hukum Perdata khsusnya Pasal 1338.
2) Kesepakatan terkait kegiatan usaha.
Para pihak yaitu Arif dengan Sapto serta Yogi telah bersepakat untuk melakukan kerjasama usaha yaitu usaha kerjasama peternakan ayam. Kegiatan usaha yang dilakukan antara Arif dengan Sapto serta yogi adalah usaha peternakan ayam. Menurut analisis peneliti sesuai hasil wawancara dalam penelitian kegiatan usaha, usaha kerjasama peternakan ayam ini berjalan dengan baik. Sesuai dengan penjelasan para pihak saat wawancara langsung dengan peneliti yaitu: Arif sepakat
78
dengan Sapto dan Yogi untuk melakukan kerjasama peternakan ayam.86
Menurut analisis peneliti, kegiatan usaha dalam perjanjian kerjasama peternakan ayam ini terkait dengan objek perjanjian, yaitu merujuk pada syarat sahnya perjanjian pada klausa suatu hal tertentu. Suatu hal tertentu yang dimaksud adalah sesuai dengan Pasal 1332 KUHPer yang menyatakan bahwa obyek perjanjian adalah barang-barang yang dapat diperdagangkan, objek perjanjian tidak hanya berupa benda tetapi juga jasa, artinya kegiatan peternakan ayam yang dilakukan antara Arif dengan Sapto serta Yogi merupakan wujud dari objek perjanjian. Tujuan dari kerjasama peternakan ayam adalah mendapatkan keuntungan bersama. Pasal 1320 KUHPerdata adalah kewajiban debitur dan hak kreditur, artinya bahwa hal tertentu itu adalah apa yang diperjanjikan yaitu perjanjian kerjasama peternakan ayam antara Arif sebagai pemodal dengan Sapto dan Yogi sebagai peternak, akibat dari perjanjian yang sah tersebut timbulah hak dan kewajiban para pihak, sesuai penjelasan diatas. Pasal 1332 KUHPerdata menyebutkan bahwa objek perjanjian adalah barang-barang yang dapat diperdagangkan, dan Pasal 1333 ayat (1) KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai pokok suatu benda yang paling sedikit dapat ditentukan jenisnya suatu perjanjian harus memiliki suatu pokok persoalan. Objek dalam perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini adalah perjanjian kerjasama antara pemodal dengan pihak peternak untuk melakukan kerjasama peternakan ayam, obyek ini mengandung sesuatu yang bisa diperdagangkan yaitu peternakan ayam itu sendiri.
86 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB.
79
Secara teoritis, perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini sesuai dengan teori Gustav dengan tiga tujuan hukumnya yaitu terkait dengan aspek kemanfaatan hukum seperti yang telah dijelaskan di atas, barometer dari aspek kemanfaat adalah menurut pendapat dari Jeremy Bentham, yang menyatakan bahwa tujuan hukum memberikan adalah untuk kemanfaatan dan kebahagiaan sebanyak- banyaknya kepada warga masyarakat yang didasari oleh falsafah sosial. Artinya dalam pelaksanaan perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten khusunya di Desa Tangkisan Pos antara Arif dan Sapto serta Yogi telah menegaskan bahwa perjanjian kerjasama secara lisan ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bersama sesuai yang telah disepakati.
4) Kesepakatan terkait jangka waktu perjanjian
Jangka waktu yang telah disepakati oleh para pihak adalah setiap periode panen ayam sekitar 60 hari dengan kesepakatan harga ayam Rp. 25.500 perkilogram ayam hidup;
Menurut analisis peneliti, kesepakatan yang dilakukan antara pemodal yaitu Arif dan Peternak yaitu Sapto dan Yogi, merujuk pada ketentuan Pasal 1338 ayat (2) KUHPer menyatakan bahwa jangka waktu perjanjian ini tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan bersama, artinya jangka waktu perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak yaitu setiap periode panen atau 60 hari adalah berdasarkan kemauan para pihak apakah akan melanjutkan kerjasama atau tidak. Sesuai dengan pernyataan Sapto saat wawancara yang menjelaskan bahwa Sapto sebagai pihak peternak sepakat melakukan perjanjian lisan untuk kerjasama peternakan ayam.
Perjanjian dipilih karena hubungan antara Arif dengan Sapto serta Yogi sangat baik, saling mengenal dan saling percaya untuk mendapatkan keuntungan bersama sesuai hak dan
80
kewajibannya dan berdasarkan itikad baik. Perjanjian lisan ini dilakukan di rumah Arif sebagai pemodal dan dilakukan tanpa adanya tekanan dan paksaan. Terkait jangka masa panen adalah 60 hari, masa panen bisa lebih dari 60 hari tergantung kondisi bobot ayam, untuk perpanjangan perjanjian kerjasama biasanya dilakukan setiap periode panen dengan ketentuan Rp.
25.500 perekor ayam hidup, jenis ayam yang dipelihara adalah ayam pejantan.87 Pelaksanannya, perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini dilakukan sampai sekarang.
5) Kesepakatan terkait hak dan kewajiban para pihak
Penjelasan pada point kesepakatan melakukan perjanjian secara lisan di atas, telah mengupas terkait dengan perjanjian yang telah disepakati oleh Arif dengan Sapto serta Yogi. Akibat dari kesepakatan tersebut mengakibatkan suatu prestasi-presati dari para pihak yaitu hak dan kewajiban.
Sesuai hasil wawancara peneliti dengan Arif, menjelaskan bahwa sebagai pemodal berkewajiban mengeluarkan uang yaitu sekitar Rp. 18.000.000 perseribu ekor ayam dan jumlah uang tersebut bisa bertambah sesuai harga pakan dipasaran dipasaran untuk keperluan dalam kerjasama ini, baik dari pembibitan, pakan vaksin maupun kebutuhan pakan sampai masa panen. Selain itu juga berkewajiban membina maupun mengawasi pihak peternak. Mengenai hak yang saya dapat ialah 60% dari hasil keuntungan bersih dari hasil panen pada peternakan ayam ini.88 Penjelasan dari Sapto yang menjelaskan bahwa berkewajiban menjalankan usaha kerjasama dengan cara menyediakan tempat sebagai tempat pembesaran ayam, memelihara dan merawat ayam sampai masa panen, hak yang diperoleh ialah 40% dari keuntungan
87 Wawancara dengan “Sapto” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 07 Mei 2021. pukul 12.30 s/d 14.30 WIB.
88 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB
81
bersih dari hasil panen, dan akan mendapatkan bonus apabila hasil panen melebihi target.89
Menurut analisis peneliti, perjanjian kerjasama yang dilakukan oleh para pihak secara lisan ini para pihak telah memenuhi hak dan kewajiban. Terpenuhinya hak dan kewajiban ini merupakan wujud dari asas kepercayaan yaitu para pihak telah menumbuhkan kepercayaan satu sama lain akan memegang janjinya. Selain itu asas persamaan hukum dari pihak pemodal dan peternak atau pelaksana telah memposisikan bahwa kontribusi dari para pihak ini telah disepakati untuk mendapatkan haknya. Asas kepatut dari para pihak juga telah mangakomodir terpenuhinya hak yang di dapat, sesuai dengan ketentuan pasal 1339 KUHPerdata yang berkaitan dengan isis perjanjian untuk mendapatkan kenutungan bersama sesuai kontribusinya, kepatutan ini juga telah di pertahankan oleh para pihak sehingga kerjasama bagi hasil peternakan ini berjalan dengan baik.
6) Kesepakatan terkait perpanjangan perjanjian.
Perpanjangan perjanjian kerjasama tidak terlepas dengan hak dan kewajiban dari para pihak yang telah terpenuhi. Sesuai wawancara dengan Arif, menjelaskan bahwa perpanjangan perjanjian akan dilaksanakan setiap periode panen yaitu 60 hari.90 Hak dan kewajiban yang telah terlaksana dengan baik menjadi pertimbangan diperpanjang atau tidaknya perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini. Selain itu kecapakan dari para pihak juga sangat penting. Para pihak yaitu Arif dan Sapto serta Yogi telah memenuhi kecapakan untuk melakukan perjanjin. Merujuk pada Pasal 1329 KUHPerdata yang menyatakan bahwa setiap orang adalah
89 Wawancara dengan “Sapto” Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 07 Mei 2021. pukul 12.30 s/d 14.30 WIB
90 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB
82
cakap untuk membuat perikatan-perikatan. Para pihak yaitu pihak pemodal dan pihak peternak telah cakap untuk membuat suatu perikatan atau perjanjian lisan ini, yaitu para pihak telah dewasa yaitu diatas 21 tahun, tidak ditaruh di bawah pengampuan yang diatur dalam Pasal 1330 KUHPerdata, yaitu orang yang belum dewasa 330 KUHPerdata, Pasal 433 KUHPerdata menyebutkan bahwa setiap orang dewasa yang selalu dalam keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap harus ditaruh di bawah pengampuan, bahkan orang dewasa yang boros pun layaknya ditaruh dalam pengampuan. Menurut analisis peneliti kecapakan para pihak ini telah memuhi syarat subyektif, artinya setiap kali perjanjian dilakukan, maka kesepakatan-kesepakatan tersebut mengikat para pihak sesuai dengan Pasal 1338 KUHPerdata.
7) Kesepakatan terkait resiko.
Menurut analisis peneliti, sesuai paparan data dalam hasil penelitian, resiko dalam perjanjian lisan pada peternakan ayam adalah sesuai dengan kesepakatan para pihak, yaitu bahwa terkait resiko ditanggung secara bersama. Arif selaku pemodal mendapatkan resiko paling besar kerena telah mengeluarkan uang sebagai modal usaha peternakan ayam dan resiko dari peternak yaitu Sapto dan Yogi hanya rugi tenaga yang dikeluarkan. Kesepakatan terkait resiko tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwasanya para pihak yang sepakat terkait resiko akan ditanggung bersama, para pihak tidak bisa menuntut terkait kerugian yang disebab oleh faktor alam maupun non alam, kecuali kerugian akibat individu seperti kelalaian pemodal dan peternak yang mengakibatkan ayam mati dalam jumlah cukup banyak.
Arif sebagai pemodal meyadari bahwa resiko yang ditanggung lebih besar dari pada peternak karena unsur
83
penawaran saat melakuakn perjanjian. Kata sepakat terkait resiko jug memperjelas bahwa kedudukan hukum para pihak relatif sama, yaitu pemodal mendapatkan 60% dari keuntungan karena faktor resiko yang akan diterima.
Sementara pihak peternak sebagai pelaksana mendapatkan kentungan relatif kecil yaitu 40% dari laba bersih, kontribusi dari para pihak ini membuat nilai tawar dari para pihak relatif sama.
8) Kesepakatan terkait cara penyelesaiannya.
Menurut analisis peneliti, sesuai paparan data penelitian yang telah dijelaskan di atas, Arif sebagai pemodal menjelaskan bahwa selama melakukan kerjasama dengan Sapto serta yogi jarang terjadi permasalahan, apabila ada permasalahan upaya yang ditempuh adalah mediasi secara kekeluargaan.91 Kerjasama peternakan ayam telah berjalan dengan baik dan bisa menjadi barometer terkait dengan penyelesaian sengketa, maksudnya bahwa para pihak telah berdasarkan kepercayaan dan itikad baik untuk sepakat melakukan perjanjian secara lisan.
Penyelesaian sengketa secara non ligitasi, sesuai penjelasan dari Arif bahwa penyelesaian sengketa dilakukan dengan upaya mediasi kekeluargaan. Dewasa ini mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR) atau sering disebut sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa menjadi cara paling relevan untuk diterapkan. ADR diatur dalam UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Dispute Resolution, terdapat beberapa bentuk ADR yang dapat dipilih oleh para pihak yang bersengketa, yaitu konsultasi, negoisasi, mediasi, konsoliasi, dan penilaian ahli. Berbedada dengan Arbitrase atau Pengadilan, dimana ada pihak ketiga yang mengambil
91 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB
84
keputusan, yang menjadi titik tekan dalam mekanisme ADR adalah penyelesaian sengketa berdasarkan kesepakatan, maka perlu kekuatan mengikat dari kesepakatan ADR. Peneliti saat melakukan wawancara dengan para pihak, mendapatkan data bahwa para pihak ketika terjadi permasalahan kecil akan melakukan upaya negoisasi untuk mendapatkan solusi dari permasalahan, serta upaya mediasi yang melibatkan pihak ketiga yaitu tokoh masyrakat. Cara ini dianggap cara paling efektif karena perjanjian ini dilakukan secara lisan dan berdasarkan kebiasaan masyarakat setempah.
9) Itikad baik.
Menurut analisis peneliti, sesuai dengan penjelasan pada paparan data hasil penelitian di atas, sebagai pemodal Arif menjelaskan bahwa saat melakukan perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam dengan Sapto dan Yogi dilakukan karena rasa saling percaya dan berdasarkan itikad baik.92 Selain itu, Perjanjian ini dilakukan berdasarkan kebiasaan masyarakat sekitar, sesuai penjelasan dari salah satu warga desa yang berhasil peneliti temui, yaitu Alif yang menerangkan bahwa benar masyarakat desa Tangkisan Pos dalam menjalankan usaha peternakan ayam dilakukan dalam bentuk perjanjian lisan, karena sudah menjadi kebiasaan pada lingkungan masyarakat sini93. Kesepakatan para pihak melakukan perjanjian secara lisan berdasarkan itikad baik ini merupakan wujud dari ketentuan Pasal 1338 ayat (3) KUHPer, sehingga pelaksanaan kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini berjalan sebagai mana mestinya.
Itikad baik dari para pihak menjadi penting karena perjanjian ini dilakukan secara lisan, dan selaras dengan
92 Wawancara dengan “Arif” Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 10.00 s/d 11.30 WIB
93 Wawancara dengan “Alif” salah satu warga diWilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 12.00 s/d 14.00 WIB.
85
pendapat Dr. O. Notohamidjojo dalam buku Pengantar Hukum Indonesia, yang pada intinya memahami arti hukum adalah keseluruhan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang bersifat memaksa untuk tingkah laku manusia dalam masyarakat negara serta antara negara yang berorientasi pada dua asas, yaitu keadilan dan daya guna untuk tata hidup dan perdamaian dalam bermasyarakat.94 dan Pancasila sebagai nilai-nilai luhur dan falsafah Negara Indonesia yang menganut asas keselarasan dan kesetaraan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi dan dalam hubungan manusia dengan masyarakat terlaksana dengan baik. Mencermati terkait butir- butir pancasila yang diatur pertama kali melalui Ketetapan MPR No.II/MPR/1978 dan setelah reformasi disesuaikan berdasarkan Ketetapan MPR No.I/MPR/2003 untuk melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Penjelasan mengenai Pancasila di atas, untuk mencapai asas keadilan sesuai dengan Pancasila dalam Perjanjian lisan pada kerjasama bagi hasil peternakan ayam di Kabupaten Klaten, khususnya di Desa Tangkisan Pos dimana para peternak ayam melakukan perjanjian secara lisan berdasarkan itikad baik, maka pelaksanaan itikad baik dalam perjanjian lisan ini memiliki peran penting untuk mewujudkan keadilan hukum bagi para pihak, dan memunculkan akibat hukum yang dapat dibenarkan dalam perspektif Pancasila.
Menurut analisis peneliti sesuai hasil penelitian yang telah dijelaskan di atas, bahwa Arif sebagai pemodal yang telah bersepakat melakukan perjanjian secara lisan dengan Sapto serta Yogi sebagai peternak ini telah melaksanakan itikad baik untuk menjalakan usaha peternakan ayamnya, ini selaras dengan Penjelasan dalam butir-butir Pancasila yang
94 Syamsul Arifin, Pengantar Hukum Indonesia, Surabaya: PT Revka Petra Media, 2016, hlm 159.
86
terdapat pada sila keempat yang berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan pada butir ke lima yang menyatakan bahwa dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah dan terkait dengan hak-hak para pihak yang telah terpenuhi yaitu Arif menerima keuntungan sebesar 60% dari hasil keuntungan bersih serta Sapto serta Yogi menerima keuntungan 40% dari hasil keuntungan bersih atas usaha peternakan ayam ini juga sesuai dengan sila kelima yang menyatakan bahwa Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang terletak pada butir ke 4 yang mempunyai makna setiap manusia harus menghormati hak orang lain dan memberikan peluang kepada orang lain untuk mencapai haknya.
Pancasila sebagai batu uji nilai atau moral dari para pihak ini yaitu Arif dan Sapto serta Yogi telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam menjalankan usaha peternakan ayamnya, serta telah mencapai asas keadilan sesuai dengan persepektif Pancasila. Sesuai dengan pendapat M. Agus Santoso dalam bukunya Hukum Moral dan Keadilan Sebuah Kajian Filsafat, mengatakan bahwa keadilan harus ditentukan berdasarkan ketertiban umum dari masyarakat setempat. 95 Sejalan dengan keterangan dari salah satu warga Desa Tangkisan Pos bernama Alif yang menjelaskan bahwa Bahwa benar masyarakat daerah sini dalam menjalankan usaha peternakan ayam dilakukan dalam bentuk perjanjian lisan, karena sudah menjadi kebiasaan pada lingkungan masyarakat
95 M. Agus Santoso, 2014, Hukum, Moral & Keadilan Sebuah Kajian Filsafat, Jakarta: Kencana, hlm. 85.
87
sini. Serta dilakukan berdasarkan prinsip rasa saling percaya dan asas itikad baik. 96
Selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Reinhard Zimmermann dan Simon Whittaker, dalam bukunya yang berjudul “God Faith in Europan Kontrak Law.97 Pada intinya bahwa Itikad baik terbagi menjadi dalam dua artian, yaitu:
pertama, dilihat secara subjektif itikad baik dapat diartikan dengan “kejujuran” yaitu merupakan itikad baik yang ada pada waktu mulai berlakunya suatu hubungan hukum, dan kedua dilihat secara objektif itikad baik disebut dengan istilah
“kepatutan” yaitu bahwa suatu perjanjian yang dibuat haruslah dilaksanakan dengan mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan yang berati bahwa perjanjian itu harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak merugikan salah satu pihak, artianya itikad baik dilihat secara subjektif adalah kejujuran dari pihak Arif sebagai pemodal dan Sapto serta yogi sebagai peternak untuk melakukan perjanjian secara lisan dan itikad baik dilihat secara objektif adalah kepatutan dari Arif sebagai pemodal dan Sapto serta Yogi sebagai peternak yang tidak melanggar norma-norma maupun ketertiban umum untuk sepakat melakukan perjanjian kerjasama peternakan secara lisan dengan tujuan mendapatakan keuntungan secara bersama-sama, hal ini terbukti bahwa tidak ada permasalahan sampai saat ini karena para pihak sudah melaksanakan itikad baik untuk menjalankan usahanya
10) Adanya saksi
Saksi dalam perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini menjadi sangat penting karena perjanjian ini hanya dilakukan secara lisan, merujuk pada asas unnus
96 Wawancara dengan “Alif” salah satu warga diWilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 12.00 s/d 14.00 WIB.
97 Reinhard Zimmerman and Simmon Whittaker, God Faith in Europan Kontrak Law, Cambridge:
University Press, 2000, hlm 12.
88
testis nullus testis yang menyatakan bahwa jika keterangan saksi hanya berdiri sendiri tanpa dukungan alat bukti lainnya maka tidak memiliki kekuatan pembuktian, oleh sebab itu, pelaksanaan perjanjian kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini diperkuat dengan empat orang saksi baik dari pihak pemodal yaitu Arif dan pihak peternak yaitu Sapto dan yogi, masing-masing pihak membawa dua orang saksi. Sesuai dengan wawancara peneliti yang telah dijelaskan pada paparan data hasil penelitian yaitu satu orang saksi dari Arif sebagai Pemodal dan satu orang saksi dari Sapto sebagai pihak peternak, yang mengatakan pada intinya, yaitu Nanda sebagai saksi dari pihak pemodal membenarkan bahwa antara Arif dengan Sapto telah melakukan perjanjian lisan untuk menjalankan usaha peternakan ayam, dia juga menjelaskan bahwa Arif sebagai pemodal berkewajiban memberi sejumlah uang untuk keperluan usaha. Perjanjian lisan dipilih oleh para pihak karena kebiasaan pada masyarakat sekitar, perjanjian ini dilakukan di rumah kediaman Arif yaitu Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten”.98 Serta saksi dari pihak Sapto yaitu Agung yang menyatakan bahwa pada prinsipnya benar telah terjadi perjanjian lisan antara Sapto dan Arif untuk menjalankan usaha kerjasama peternakan ayam.99
Menurut analisis peneliti, saksi dalam kerjasama bagi hasil peternakan ayam ini bisa menjadi bukti ketika terjadi permasalahan. Kualifikasi keterangan saksi baru dapat diterima sebagai alat bukti apabila saksi menerangkan perihal apa yang dilihat, didengar dan dialami yang diatur dalam Pasal 171 ayat (1),(2) HIR. Keterangan saksi yang tidak memenuhi kaidah dalam HIR tersebut bukan merupakan alat bukti atau
98 Wawancara dengan “Nanda” Saksi dari Pihak pemodal dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 05 Mei 2021. pukul 14.30 s/d 15.0 WIB.
99 Wawancara dengan “Agung” Saksi dari Pihak peternak dalam kerjasama peternakan ayam Wilayah Kabupaten Klaten tepatnya Desa Tangkisan Pos. 08 Mei 2021. pukul 16.30 s/d 17.30 WIB.