• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM FILM "KUKIRA KAU RUMAH": STUDI PSIKOPRAGMATIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM FILM "KUKIRA KAU RUMAH": STUDI PSIKOPRAGMATIK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM FILM KUKIRA KAU RUMAH: STUDI PSIKOPRAGMATIK

Ni Wayan Ayu Permata Sari Universitas Multimedia Nusantara

[email protected]

Abstrak

Film Kukira Kau Rumah yang disutradarai oleh Umay Shahab adalah film yang bercerita mengenai sepasang kekasih yang sama-sama merasakan kesepian. Film ini juga mengangkat kesehatan mental sehingga banyak adegan memiliki dialog yang sangat menarik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tindak tutur ekspresif dalam film Kukira Kau Rumah.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan studi pustaka dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif dalam film Kukira Kau Rumah terdiri atas 1) mengucapkan terima kasih dengan adanya tanda ucapakan terima kasih karena telah dibuatkan kue khusus; 2) mengucapkan maaf dengan konteks adanya perasaan bersalah atas sikap yang dilakukan; 3) memuji dengan adanya tanda yang sesuai dengan kenyataan bahwa lagunya enak didengar serta ingin membuat senang pemilik lagu; 4) mengeluh dengan adanya perasaan kecewa dan kesal karena teman yang dibela justru membuat susah; 5) kebahagiaan adanya konteks nyaman dan bahagia yang muncul karena adanya rasa cinta. Oleh karena itu, tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam film Kukira Kau Rumah adalah tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih, mengucapkan maaf, memuji, mengeluh, dan kebahagiaan.

Kata kunci: tindak tutur, film, pragmatik, psikopragmatik

Abstract

The movie Kukira Kau Rumah, directed by Umay Shahab, is a film that tells the story of two lovers who both feel lonely. This film also raises mental health so that many scenes have very interesting dialogue. The purpose of this study is to describe expressive speech acts in the film Kukira Kau Rumah. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques used literature and observation. The results of the study show that expressive speech acts in the film Kukira Kau Rumah consist of 1) thanking with a thank you sign for making a special cake; 2) apologize in the context of feelings of guilt for the attitude taken; 3) praising the existence of a sign that corresponds to the fact that the song is pleasant to hear and wants to make the owner of the song happy; 4) complaining about feeling disappointed and annoyed because the friend being defended makes it difficult; 5) happiness is a comfortable and happy context that arises because of a feeling of love. Therefore, the expressive speech acts contained in the film Kukira Kau Rumah are expressive speech acts of thanking, apologizing, praising, complaining, and happiness.

Keywords: speech act, movie, pragmatic, psychopragmatic

(2)

A. PENDAHULUAN

Film Kukira Kau Rumah dirilis tahun 2022 merupakan film fenomena karena mengangkat isu mental health. Film tersebut hasil adaptasi dari sebuah lagu karya Amigdala dengan judul yang sama, yaitu Kukira Kau Rumah.

Ayuningtyas, dkk. (2018) menyatakan bahwa untuk mewujudkan kesehatan yang masif, sangat diperlukan adanya mental health yang baik. Namun, istilah mental health tidak akan terealisasi jika individu mengalami gejala abnormal. Gejala abnormal tersebut dikatakan sebagai gangguan kesehatan. World Health Organization (2017) memaparkan contoh gangguan mental yang terlihat dari adanya hubungan pikiran, emosi, dan perilaku yang abnormal saat berintekasi dengan orang lain. WHO pun menyatakan bahwa skizofrenia, depresi, cacat intelektual, gangguan afektif bipolar, demensia, termasuk autis merupakan contoh dari gangguan mental. Fenomena mental health menjadi konsen bagi semua masyarakat sejak adanya pandemi Covid-19.

Tahun 2021, mental health menjadi topik yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia karena Covid-19 melanda Indonesia khususnya, dunia umumnya.

Adaptasi kehidupan yang drastis ini menyebabkan banyaknya dari masyarakat mengalami hal yang tidak baik. Tidak hanya dari segi keuangan, tetapi juga kesehatan. Plt.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, dr. Maxi Rein Rondonuwu

menyatakan perasaan cemas, takut, tekanan mental sedang dirasakan oleh masyarakat Indonesia akibat adanya isolasi mandiri dan pembatasan jarak dan hubungan sosial yang tidak pasti (Kesehatan, 2021). Covid-19 tidak hanya berdampak bagi yang terpapar saja, namun juga berdampak bagi yang tidak terpapar (Kesehatan, 2021).

Umay Shahab sebagai sutradara sekaligus penulis skrip melihat fenomena tersebut dan atas kepeduliannya terhadap mental health yang dirasakan masyarakat Indonesia sehingga jadilah film Kukira Kau Rumah yang fenomenal ini. Untuk menghasilkan film yang baik ini, Umay harus berkonsultasi ke psikolog yang ahli mengenai bipolar sebelum Umay menyutradarai film Kukira Kau Rumah. Film ini tidak hanya sebatas hiburan, tetapi juga edukasi agar masyarakat yang sedang berada di fase tersebut mampu memiliki solusi terbaik mengenai mental health.

Dilansir dari Lembaga Sensor Film (2022), film Kukira Kau Rumah berhasil ditonton oleh satu juta penonton dalam satu bulan pertamanya. Lebih lanjut bahwa penonton film Kukira Kau Rumah mencapai dua juta dalam waktu hanya 15 hari (Kompas.com, 2022).

Film yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina dan Jourdy Pranata ini pun mendapatkan rekor MURI karena kesuksesannya dari segi jumlah penonton.

Film Kukira Kau Rumah mengisahkan seorang anak perempuan bernama Niskala yang awalnya sehat dan normal. Akibat

(3)

terjatuh dari atap rumah, Niskala mengalami gangguan kesehatan yaitu bipolar pada saat SMA.

Gangguan kesehatan yang dirasakan oleh Niskala semakin bertambah karena ayah Niskala memiliki sikap yang protektif pada Niskala. Akibat bipolar dan sikap protektif ayahnya, Niskala menjadi pribadi yang sangat tertutup dan tidak mudah bergaul. Niskala pun sampai harus menghentikan sekolahnya karena gangguan kesehatan dan protektif ayahnya.

Niskala hanya dipercaya oleh orang tuanya untuk berteman dengan Oktavianus dan Dinda. Ibu Niskala merasa kasian dengan keprotektifan ayah Niskala pada Niskala, sehingga tidak jarang, Niskala harus bersepakat dengan ibunya saat ingin melakukan aktivitas yang dilarang ayahnya, seperti kuliah.

Secara diam-diam, ibu Niskala menguliahkan Niskala, tentu satu kampus dengan Oktavianus dan Dinda. Hingga akhirnya, di kampus tersebut, Niskala berjumpa dengan Pram. Pram bukanlah kali pertama melihat Niskala. Pram adalah tetangga dari Oktavianus. Jadi, Pram sering melihat Niskala saat bermain bersama Dinda berkunjung ke rumah Oktavianus. Pram merupakan anak yang sangat merasakan kesepian karena ayahnya meninggal dan ibunya bekerja dari pagi hingga malam.

Singkat cerita, dari awalnya Niskala kesal sampai adu mulut dengan Pram di kampus, berakhir dengan keduanya merasakan jatuh cinta. Sayangnya, saat mereka merasakan kebahagiaan yang

selama ini tidak mereka dapatkan, Niskala mengajak Pram bunuh diri, justru Pram sendiri yang lompat dari atas gedung karena tidak tertangkap, sedangkan Niskala tertangkap kedua orang tuanya.

Prilly Latuconsina sebagai Niskala dan Jourdy Pranata sebagai Pram, sukses membuat penonton terbawa suasana dengan dialog dan gestur yang ditampilkan di film Kukira Kau Rumah. Dalam pragmatik, istilah dialog umumnya dikenal sebagai tindak tutur. Tindak tutur dilakukan oleh penutur dan mitra tutur. Tindak tutur dimaknai sebagai perlakuan terhadap penggunaan bahasa yang memiliki tujuan tertentu dalam ujarannya (Sari, 2021). Tindak tutur erat kaitannya dengan konteks sehingga tindak tutur baru dapat dimaknai apabila adanya konteks (Putrayasa, 2014). Austin dalam bukunya yang berjudul How to do Things with Words mengklasifikasikan tindak tutur menjadi tiga kelompok, yaitu tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi (Austin, 1962). Tindak tutur ilokusi terbagi atas lima jenis, yaitu tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif (Searle, 1969). Penelitian ini dibatasi dengan menganalisis tindak tutur ekspresif saja. Chaer (2010) menegaskan bahwa tindak tutur ekspresif adalah cerminan argumen psikologis dengan cara mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memuji, mengeluh, dan mengekspresikan kebahagiaan atau kesenangan. Tokoh menggunakan tindak tutur ekspresif dalam merepresentasikan perannya.

(4)

Penelitian terdahulu mengenai tindak tutur telah dilakukan oleh Anggraeni dan Sari (2021) dalam judul Tindak Tutur Dalam Naskah Drama Bunga Semerah Darah Karya W. S. Rendra. Penelitian tersebut menganalisis tindak tutur lokusi, ilokusi, dan lokusi dalam naskah drama Bunga Semerah Darah karya W. S. Rendra. Berbeda dengan penelitian ini, penelitian ini membahas tindak tutur melalui film.

Tindak tutur dalam film tentu secara riil terlihat dibandingkan dalam naskah drama.

Bordwell, et. al. (2020) berpendapat bahwa film memiliki pengaruh pada indra penglihatan dan pendengaran melalui kisah dan imajinasinya yang menarik sehingga penonton terbawa dengan suasana yang ada. Oleh karena itu, penglihatan dan pendengaran akan bersatu untuk menangkap sebuah makna atau pesan yang disampaikan oleh film melalui dialog tokoh.

Bordwell, et. al. pun dalam buku berjudul Film art: An introduction mengklasifikasikan makna dalam film menjadi empat bagian, yaitu:

(1) Makna referensial, makna yang ditangkap hanya dari mise-en-scène frame film. (2) Makna eksplisit, makna yang ditangkap dari konteks, sehingga penonton mampu melihat serangkaian kejadian yang ada tidak hanya sebatas dari mise-en-scène.

(3) Makna implisit, makna yang ditangkap dari pemahaman dan pengalaman penonton. Makna implisit sangat bergantung pada interpretasi penonton sehingga makna tiap penonton sangat beragam. (4) Makna simptomatik,

makna yang sangat abstrak dibandingkan dengan makna- makna yang sebelumnya. Makna simptomatik didapat dari hasil interpretasi yang dihubungkan dengan fenomena sosial.

Daya tarik inilah yang akan diteliti bahwa tuturan dapat merepresentasikan peran melalui keekspresifannya berdasarkan konteks yang ada. Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk menganalisis macam-macam tindak tutur ekspresif dan film Kukira Kau Rumah terpilih sebagai subjek penelitian.

Pendekatan psikopragmatik dalam penelitian ini digunakan sebagai cara untuk mengembangkan kajian interdisipliner karena psikopragmatik mengintegrasikan antara psikologi dengan pragmatik.

Psikopragmatik percaya bahwa tiap individu memiliki cara untuk menyampaikan maksudnya dalam berkomunikasi sehingga fungsi tindak tutur akan terlihat jelas.

B. METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Creswell (2016, hlm.

145) menjelaskan bahwa penelitian yang bersifat eksploratoris dengan mendeskripsikan rumusan masalah yang bersumber dari suatu fenomena disebut penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan dua tahap, yaitu studi pustaka dan observasi. Studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan referensi yang

(5)

berkaitan dengan fokus penelitian dan observasi yang dilakukan dengan menonton berulang film Kukira Kau Rumah. Penelitian ini menggunakan sumber primer yaitu film Kukira Kau Rumah dan sumber sekunder yaitu segala informasi yang berkaitan dengan tindak tutur, psikopragmatik, dan film.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tindak Tutur Ekspresif

Mengucapkan Terima Kasih Tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang merepresentasikan psikologis penutur pada mitra tutur. Tindak tutur ekspresif dapat disampaikan dengan cara mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memuji, mengeluh, dan membuat kebahagiaan atau kesenangan.

Pemeran film Kukira Kau Rumah menggunakan tindak tutur ekspresif untuk menyampaikan pesannya.

Ucapan terima kasih merupakan representasi dari penghargaan antara penutur dengan mitra tutur.

Berikut ini adalah contoh dari tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih yang diucapkan oleh Pram (penutur) kepada Niskala (mitra tutur) saat Niskala memberikan kue hasil buatannya untuk Pram.

Niskala: "Dimakan ya. Susah bikinnya. Jadi, enak atau ga enak, lo harus tetep makan."

Pram : "Thanks ya." (33: 50) Tindak tutur di atas terjadi di kampus, saat Pram sedang duduk di lantai, kemudian Niskala menghampiri Pram dan memberikan kue yang sengaja dibuat untuk Pram.

Tindak tutur Pram "Thanks ya"

disampaikan kepada Niskala dengan

maksud bentuk ucapan dan penghargaan atas kebaikan dan ketulusan Niskala pada Pram.

Sependapat dengan Chaer (2010) bahwa tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih merupakan tindak tutur yang dituturkan akibat adanya kebaikan dan ketulusan pada dirinya.

2. Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Maaf

Tindak tutur ekspresif mengucapkan maaf adalah representasi dari adanya sikap yang tidak sesuai dari harapan penutur terhadap mitra tutur. Berikut ini adalah contoh dari tindak tutur ekspresif mengucapkan maaf dalam film Kukira Kau Rumah saat Niskala diminta Mamanya untuk meminum obat, tetapi Niskala mengelak untuk meminum obat.

Niskala : "Ga mau Ma… Kenapa disuruh minum obat terus Ma?"

Mama : "Maaf" (47: 05) Tindak tutur di atas terjadi saat Mama Niskala sudah mengetahui bahwa Niskala sering membolos kuliah dan menanyakan kepada dua sahabat Niskala, yaitu Dinda dan Oktavianus sebab Nisakala

membolos. Oktavianus

melampiaskan kekesalannya kepada Pram saat melihat Pram mengantar Niskala pulang ke rumah karena keegoisan mereka, Oktavianus berbohong pada Mama Niskala.

Akibat perlakuan Oktavianus yang memukuli Pram, bipolar Niskala kambuh sehingga bertingkah sangat tempramen hingga Mamanya memintanya untuk minum obat.

Mamanya pun harus melakukan hal tersebut untuk menenangkan

(6)

Niskala melalui bantuan obat.

Mamanya pun merasa bersalah terhadap mitra tutur.

Mama Niskala mengucapkan maaf pada Niskala karena merasa bersalah pada Niskala karena membuat Niskala tidak nyaman.

Sejalan dengan Chaer (2010) yang menegaskan bahwa tindak tutur ekspresif mengucapkan maaf terjadi akibat penutur merasa bersalah pada mitra tutur, merasa adanya perasaan tidak enak pada mitra tutur.

3. Tindak Tutur Ekspresif Memuji

Tindak tutur ekspresif memuji merupakan representasi penutur yang mengagumi suatu hal atau banyak hal yang ada pada mitra tutur. Tindak tutur eskresif juga bisa direspresentasikan sebagai bentuk rayuan penutur pada mitra tutur.

Berikut ini adalah contoh dari tindak tutur ekspresif memuji dalam film Kukira Kau Rumah saat Pram meminta Niskala untuk mendengarkan lagu ciptaannya.

Niskala: "Oke musiknya, bagus!"

Pram: "Dengerin liriknya.

Gimana?"

Niskala : "Enak." (32: 23) Tindak tutur tersebut terjadi saat Pram menghampiri Niskala agar mendengarkan lagu buatannya. Lagu tersebut nantinya akan mereka bawakan di café tempat Pram bekerja. Respon dari Niskala tentunya sesuai dengan harapan Pram yaitu memuji hasil karya Pram karena Niskala mengagumi lagu Pram. Sesuai pernyataan Chaer (2010) yang menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif memuji

merupakan tindakan dari penutur yang melihat suatu hal yang nyata dari mitra tutur, penutur ingin membuat senang hati mitra tutur, dan ingin merayu mitra tutur karena perbuatan baik yang dilakukan mitra tutur.

4. Tindak Tutur Ekspresif Mengeluh

Tindak tutur ekspresif mengeluh merupakan tindakan untuk mengungkapkan kesedihan, kesusahan, kekecewaan yang terjadi akibat ketidaksesuaian kenyataan dengan harapan. Berikut ini adalah contoh dari tindak tutur ekspresif mengeluh dalam film Kukira Kau Rumah saat Oktavianus menghampiri Niskala yang sedang bersama Pram.

Niskala: "Gila lo!"

Oktavianus: "Saya yang gila? Saya capek jadi tameng untuk orang tuamu setiap saat!"(45:32) Percakapan terjadi saat Oktavianus menghampiri Niskala dan Pram yang baru tiba di rumah setelah Pram mengajak bolos kuliah Niskala. Akibat kekesalan Oktavianus, dia akhirnya memukuli Pram. Namun, Niskala justru membela Pram dengan ucapa "Gila lo!". Padahal, Oktavianus memukuli Pram memiliki alasan yaitu akibat perbuatan Pram, Oktavianus dan Dinda harus rela menjadi tameng bagi Niskala di depan orang tua Niskala. Oktavianus dan Dinda dipanggil ke rumah Niskala untuk ditanyakan keberadaan Niskala dan kegiatan Niskala selama ini sehingga Niskala bisa bolos. Oktavianus tidak suka dengan sikap Pram dan Niskala sehingga Oktavianus harus

(7)

berbohong pada orang tua Niskala.

Tindak tutur Oktavianus merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh. Hal ini dinyatakan dengan pendapat Chaer (2010) yang mengatakan bahwa tindak tutur ekspresif mengelus terjadi akibat adanya keinginan untuk menunjukkan rasa kecewa, sedih, susah, yang terjadi akibat kesakitan dan kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan.

5. Tindak Tutur Ekspresif Kebahagiaan

Tindak tutur ekspresif kebahagiaan adalah representasi kesenangan, kebahagiaan, keberuntungan, serta jatuh cinta.

Niskala: "Aku rasa aku suka kamu."

Pram: (Tertegun) (41: 08)

Percakapan terjadi saat Niskala diajak berkunjung ke rumah Pram.

Mereka berbincang santai dan bercerita hingga tertawa lepas.

Kemudian, seketika itu Niskala langsung mengucapkan "Aku rasa aku suka kamu" dan seketika itu juga Pram tertegun akibat terkejut Niskala mengatakan itu.

Tindak tutur ekspresif kebahagiaan yang diucapkan Niskala terjadi karena adanya rasa jatuh cinta. Hal tersebut sejalan dengan yang ditegaskan oleh Chaer (2010) yaitu tindak tutur ekspresif kebahagiaan terjadi akibat adanyanya rasa bahagia, senang, dan jatuh cinta.

D. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan pada penelitian ini didapatkan dari hasil penelitian dan pembahasan. Simpulan penelitian

ini adalah adanya tindak tutur ekspresif yang terdiri atas 1) mengucapkan terima kasih dengan adanya tanda ucapakan terima kasih karena telah dibuatkan kue khusus; 2) mengucapkan maaf dengan konteks adanya perasaan bersalah atas sikap yang dilakukan;

3) memuji dengan adanya tanda yang sesuai dengan kenyataan bahwa lagunya enak didengar serta ingin membuat senang pemilik lagu;

4) mengeluh dengan adanya perasaan kecewa dan kesal karena teman yang dibela justru membuat susah; 5) kebahagiaan adanya konteks nyaman dan bahagia yang muncul karena adanya rasa cinta.

Saran untuk sutradara adalah perbanyak membuat karya mengenai kesehatan mental agar masyarakat teredukasi dengan cara yang menyenangkan yaitu melalui menonton film.

Saran untuk peneliti lainnya adalah diperbanyak analisis mengenai kesehatan mental sehingga masyarakat terbuka akan informasi yang memang sedang terjadi di kondisi sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, N. N. C. D., dan Sari, N. W.

A. P. (2021). Tindak tutur dalam naskah drama Semerah Darah karya W. S. Rendra. Diglosia,

5(1), 211—221,

https://jurnal.unma.ac.id/index.

php/dl/article/view/2664.

Austin, J. L. (1962). How to do things with modals. Oxford University Press.

Ayuningtyas, D., Misnaniarti, dan Rayhani, M. (2018). Analisis kesehatan mental pada

(8)

masyarakat di Indonesia dan strategi penanggulannya. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat,

9(1), 1-10, 


https://doi.org/10.26553/jikm.

2018.9.1.1-10

Bordwell, D., Thompson, K., & Smith, J. (2020). Film art: An introduction (12th ed.).

McGraw-Hill Education.

https://books.google.co.id/book s?id=FrXSvAEACAAJ

Chaer, A. (2010). Sosiolinguistik:

Perkenalan awal. Rineka Cipta.

Creswell, J. W. (2016). Research design: Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Pustaka Pelajar.

Kesehatan, K. (2021). Kemenkes

beberkan masalah

permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia.

https://sehatnegeriku.kemkes.g o.id/baca/rilis-

media/20211007/1338675/ke menkes-beberkan-masalah- permasalahan-kesehatan-jiwa- di-indonesia/

Kompas.com. (2022). Rekor film Kukira Kau Rumah di masa pandemi, 2 juta penonton hingga

dapat MURI.

https://www.kompas.com/hyp e/read/2022/03/17/08551286 6/rekor-film-kukira-kau-

rumah-di-masa-pandemi-2-juta- penonton-hingga-

dapat?page=all

Lembaga Sensor Film. (2022). Kukira

Kau Rumah.

https://lsf.go.id/movie/kukira- kau-rumah/

Putrayasa, I. B. (2014). Pragmatik.

Graha Ilmu.

Sari, N. W. A. P. (2021). Prinsip kerja

sama dalam tindak tutur (Studi etnografi komunikasi pada polisi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polres Metro Depok).

Pena Persada.

https://doi.org/10.31237/osf.io /hs7rq

Searle, J. R. (1969). Speech acts : an essay in the philosophy of language. Cambridge University Press.

https://www.cambridge.org/co re/product/B826D94DA9C734 A7C11427AA6F811A76

WHO. (2017). FactsheetonMental Disorders. World Health Organization.

http://www.who.int/mediacent re/factsheets/fs396/en/

Referensi

Dokumen terkait

between tenure and job productivity ” yang memiliki arti bahwa masa kerja dan produktivitas pekerjaan berhubungan positif. Semakin banyak masa kerja, semakin tinggi

Based on the finding and discussion of the research, the researcher drew a conclusion that using reading workshop in teaching reading in the second grade at Madrasah Aliyah

Hasil penelitian yang berkaitan dengan kemampuan pengetahuan, yaitu mengetahui tujuan UPPKS untuk meningkatkan pendapatan keluarga; yang berkaitan dengan kemampuan

Dalam perancangan media pembelajaran kewirausahaan peneliti merancang latar permainan sesuai dengan likungan yang sebenarnya dengan adanya pengaturan waktu siang, malam,

Problema kemasyarakatan pendidikan multikultural di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (1) keragaman identitas budaya daerah; (2) pergeseran kekuasaaan

Dampak komunikasi partisipatif dalam setiap kegiatan dan rapat di Posdaya Kenanga dirasakan kader banyak memberikan manfaat. Manfaat yang di dapat yaitu saling

Sehingga begitu banyak upaya yang dapat dilakukan yaitu mengiventariasi Ruang terbuka hijau privat dan publik untuk dapat diketahui seberapa besar daya serap karbon dalam

Infrastruktur merupakan fasilitas utama dan terpenting untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi. Fasilitas transportasi misalnya memungkinkan orang, barang dan jasa