• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan PTK Meningkatkan Prestasi Belaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan PTK Meningkatkan Prestasi Belaja"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

Pembelajaran matematika sering diinterpretasikan sebagai aktivitas utama yang dilakukan guru, yaitu guru mengenalkan materi, mungkin mengajukan satu atau dua pertanyaan, dan meminta siswa yang pasif untuk aktif dengan memulai melengkapi latihan dari buku teks, pelajaran diakhiri dengan pengorganisasian yang baik dan pembelajaran selanjutnya dilakukan dengan sekenario yang serupa.

Kondisi di atas tampak lebih parah pada pembelajaran geometri. Sebagian siswa tidak mengetahui mengapa dan untuk apa mereka belajar konsep-konsep geometri, karena semua yang dipelajari terasa jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Siswa hanya mengenal objek-objek geometri dari apa yang digambar oleh guru di depan papan tulis atau dalam buku paket matematika, dan hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk memanipulasi objek-objek tersebut. Akibatnya banyak siswa yang berpendapat bahwa konsep-konsep geometri sangat sukar dipelajari (Soedjadi, 1991 dalam Sodikin 2004:2).

Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit dipahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

Dalam mengajarkan matematika, sebaiknya diusahakan agar siswa mudah memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebih berminat untuk mempelajarinya. Jika sekiranya diperlukan media atau alat peraga yang dapat

(2)

membantu siswa dalam memahami konsep matematika, maka seyogyanya guru menyiapkan media atau alat peraga yang diperlukan.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.

Guru selalu menggunakan metode ceramah yang langsung menyajikan materi dalam bentuk rumus-rumus pasti, tanpa mengetahui bagaimana rumus itu diperoleh, sehingga tidak bisa bertahan lama di benak siswa. Walaupun kurikulum telah berkali-kali diperbarui, teknologi pendidikan telah mengalami berkali-kali inovasi, banyak guru yang tidak mengubah cara mengajar mereka yang cenderung monoton atau kurang bervariasi. Guru kurang kreatif dalam memanfaatkan alat peraga yang ada dalam proses pembelajaran di kelas.

Seharusnya, siswa memiliki motivasi belajar tinggi, aktif, kreatif, disiplin, antusias memperhatikan penjelasan guru, berusaha menjadi pembelajar yang mandiri, mau berusaha mencari dan menemukan sendiri konsep-konsep Matematika, sehingga diharapkan pemahaman siswa pada mata pelajaran Matematika dapat meningkat, pada akhirnya prestasi belajarnya meningkat, sehingga tidak ada anak yang tinggal kelas atau tidak lulus ujian karena nilai Matematikanya tidak dapat memenuhi KKM yang telah ditetapkan di sekolah masing-masing.

(3)

dibuktikan dengan nilai rata-rata ulangan harian belum dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu baru 50 dengan nilai terendah 30 dan nilai tertinggi 70. Dari siswa yang berjumlah 33 yang terdiri dari 16 putra dan 17 putri baru 13 siswa atau 39,4% yang dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM yang ditetapkan untuk mata pelajaran Matematika kelas V adalah 65.

Jumlah anak yang nilainya mencapai KKM belum ada separuh dari jumlah keseluruhan siswa di kelas V. Hal ini tentu cukup memprihatinkan, mengingat Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional (UN). Kenyataan ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari faktor guru, faktor siswa, sarana dan prasarana maupun lingkungan serta latar belakang keluarga siswa.

Faktanya pembelajaran Matematika di sekolah masih banyak melakukan pembelajaran konvensional, padahal seharusnya dalam konsep pembelajaran guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, selain itu penggunaan media sebagai sumber belajar harus dimaksimalkan.

Berdasarkan observasi dan diskusi dengan teman sejawat diketahui adanya masalah yang menyebabkan rendahnya pencapaian kompetensi dasar tersebut. Identifikasi masalahnya adalah bahwa siswa kurang mengerti dalam menerjemahkan bentuk bangun ruang kubus dan balok dengan penerapannya, juga masih rendahnya keberanian siswa dalam memberikan pendapat sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.

(4)

pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami materi kubus dan balok.

Oleh karena itu, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Penggunaan Alat Peraga untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika tentang Kubus dan Balok pada Siswa Kelas V SDS 009 Immanuel Tebing”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diajukan rumusan masalah yaitu apakah penggunaan alat peraga konkrit dapat meningkatkan hasil belajar Matematika tentang kubus dan balok pada siswa kelas V SDS 009 Immanuel Tebing?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu:

1. Untuk mendeskripsikan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran Matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa

2. Menciptakan pembelajaran matematika yang menyenangkan 3. Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran 4. Meningkatkan kualitas pembelajaran

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.

1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami materi kubus dan balok dan meningkatkan motivasi belajar.

2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah

(5)
(6)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar

Oemar Hamalik (2001 : 27 ) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Slameto (2003 : 2) berpendapat bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Suparwoto (2004 : 41) bahwa belajar pada intinya adalah proses internalisasi dalam diri individu yang belajar dapat dikenali produk belajarnya yaitu berupa perubahan, baik penguasaan materi, tingkah laku, maupun keterampilan.

William Burton mengemukakan bahwa ”A good learning situation consist of a rich and varied series of learning experiences unified around a vigorous purpose and carried on in interaction with a rich, varied and propocative environment”. Yang berarti bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman – pengalaman belajar.

Menurut Winkel belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. Menurut Ernest R. Hilgard belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya (Purwanto, 2008 : 51)

(7)

berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Moh. Surya dikutip oleh Nana Sudjana (2005 : 22) mendefinisikan Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

Oemar Hamalik (1993 : 280) mengungkapkan empat prinsip belajar yaitu : a. Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah, dan jelas bagi siswa, karena

tujuan akan menuntut dalam belajar,

b. Jenis belajar yang paling utama adalah untuk berpikir kritis,

c. Belajar memerlukan pemahaman atas hal – hal yang dipelajari sehingga memperoleh pengertian – pengertian,

d. Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan dan hasil.

Dari prinsip – prinsip tersebut memberikan penjelasan dalam memaknai belajar dan dapat mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan dalam mendukung proses pembelajaran, sehingga pengertian dan pemahaman mengenai makna Belajar menjadi lebih jelas dan terarah.

Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa di dalam belajar ada suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang berupa pengetahuan, pemahaman, maupun sikap yang diperoleh melalui proses belajar. Perubahan tingkah laku yang diperoleh merupakan hasil interaksi dengan lingkungan. Interaksi tersebut salah satunya adalah proses pembelajaran yang diperoleh di sekolah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dengan belajar seseorang dapat memperoleh sesuatu yang baru baik itu pengetahuan, keterampilan maupun sikap. B. Hasil Belajar

(8)

Prestasi belajar menurut Winkel (1996 : 226 ) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang.

Menurut Nana Sudjana (2005 : 20) hakikat hasil belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Nana Sudjana (2005 : 38) hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77 ) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil terbaik yang dicapai siswa setelah melaksanakan usaha belajar secara maksimal. Salah satu pemikiran konstruktivisme yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu (1) sensory motor; (2) pre-operational; (3) concrete operasional; dan (4) formal operational. Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.

Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru.

(9)

berbagai pengetahuan dari lingkungan dan sumber Belajar lainnya. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran, adalah:

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu, guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. 4. Memberikan peluang agar anak belajar sesuai dengan tahap

perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara serta diskusi dengan teman-temannya.

C. Karakteristik Matematika

Menurut Soedjadi (1994:1), meskipun terdapat berbagai pendapat tentang matematika yang tampak berlainan antara satu sama lain, namun tetap dapat ditarik ciri-ciri atau karekteristik yang sama, antara lain: (a) memiliki objek kajian abstrak, (b) bertumpu pada kesepakatan, (c) berpola pikir deduktif, (d) memiliki symbol yang kosong dari arti, (e) memperhatikan semesta pembicaraan, (f) konsisten dalam sistemnya.

Matematika sebagai suatu ilmu memiliki objek dasar yang berupa fakta, konsep, operasi, dan prinsip. Dari objek dasar itu berkembang menjadi objek-objek lain, misalnya: pola-pola, struktur-struktur dalam matematika yang ada dewasa ini. Pola pikir yang digunakan dalam matematika adalah pola pikir deduktif, bahkan suatu struktur yang lengkap adalah deduktif aksiomatik.

(10)

pembelajarannya dapat menggunakan pendekatan induktif. Ini tidak berarti bahwa kemampuan berfikir deduktif dan memahami objek abstrak boleh ditiadakan begitu saja.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2002:100). Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah laku.

Pembelajaran matematika menurut Russeffendi (1993:109) adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang sengaja dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dengan memanipulasi simbol-simbol dalam matematika sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.

Dalam kurikulum 2004 disebutkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu pembelajaran yang bertujuan:

(a) Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi

(b) Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba

(c) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah

(d) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan

(11)

Gambar 1

Pada gambar di atas menunjukkan sebuah bangun ruang yang semua sisinya berbentuk persegi dan semua rusuknya sama panjang. Bangun ruang seperti itu dinamakan kubus. Gambar 1 menunjukkan sebuah kubus ABCD.EFGH yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

a. Sisi/Bidang; Sisi kubus adalah bidang yang membatasi kubus. Dari Gambar 1 terlihat bahwa kubus memiliki 6 buah sisi yang semuanya berbentuk persegi, yaitu ABCD (sisi bawah), EFGH (sisi atas), ABFE (sisi depan), CDHG (sisi belakang), BCGF (sisi samping kiri), dan ADHE (sisi samping kanan).

b.

Rusuk; Rusuk kubus adalah garis potong antara dua sisi bidang kubus dan terlihat seperti kerangka yang menyusun kubus. Coba perhatikan kembali Gambar 8.1. Kubus ABCD.EFGH memiliki 12 buah rusuk, yaitu AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan DH.

c.

Titik Sudut; Titik sudut kubus adalah titik potong antara dua rusuk. Dari Gambar 8.2 , terlihat kubus ABCD. EFGH memiliki 8 buah titik sudut, yaitu titik A, B, C, D, E, F, G, dan H. Selain ketiga unsur di atas, kubus juga memiliki diagonal. Diagonal pada kubus ada tiga, yaitu diagonal bidang, diagonal ruang, dan bidang diagonal.

d.

Diagonal Bidang; Pada kubus tersebut terdapat garis AF yang menghubungkan dua titik sudut yang saling berhadapan dalam satu sisi/bidang. Ruas garis tersebut dinamakan sebagai diagonal bidang

(12)

e.

Diagonal Ruang; perhatikan kubus ABCD.EFGH pada Gambar 8.4 . Pada kubus tersebut, terdapat ruas garis HB yang menghubungkan dua titik sudut yang saling berhadapan dalam satu ruang. Ruas garis tersebut disebut diagonal ruang.

Gambar 3

f.

Bidang Diagonal; Perhatikan kubus ABCD.EFGH pada Gambar 8.5 secara saksama. Pada gambar tersebut, terlihat dua buah diagonal bidang pada kubus ABCD. EFGH yaitu AC dan EG. Ternyata, diagonal bidang AC dan EG beserta dua rusuk kubus yang sejajar, yaitu AE dan CG membentuk suatu bidang di dalam ruang kubus bidang ACGE pada kubus ABCD. Bidang ACGE disebut sebagai bidang diagonal. Coba kamu sebutkan bidang diagonal lain dari kubus ABCD.EFGH.

Gambar 4

2. Jaring-jaring Kubus

(13)
(14)
(15)

3. Menghitung Volume Kubus

Volume kubus dapat dihitung dengan menggunakan rumus: V = S x S x S atau V=S3

Keterangan: V = Volume S = sisi kubus

4. Pengertian Balok

Bangun ruang ABCD.EFGH pada gambar tersebut memiliki tiga pasang sisi berhadapan yang sama bentuk dan ukurannya, di mana setiap sisinya berbentuk persegipanjang. Bangun ruang seperti ini disebut balok. Berikut ini adalah unsur-unsur yang dimiliki oleh balok ABCD.EFGH pada Gambar 6.

Gambar 6

a. Sisi/Bidang; Sisi balok adalah bidang yang membatasi suatu balok. Dari Gambar 6, terlihat bahwa balok ABCD.EFGH memiliki 6 buah sisi berbentuk persegipanjang. Keenam sisi tersebut adalah ABCD (sisi bawah), EFGH (sisi atas), ABFE (sisi depan), DCGH (sisi belakang), BCGF (sisi samping kiri), dan ADHE (sisi samping kanan). Sebuah balok memiliki tiga pasang sisi yang berhadapan yang sama bentuk dan ukurannya. Ketiga pasang sisi tersebut adalah ABFE dengan DCGH, ABCD dengan EFGH, dan BCGF dengan ADHE.

b. Rusuk; Sama seperti dengan kubus, balok ABCD.EFGH memiliki 12 rusuk. Rusuk-rusuk balok ABCD. EFGH adalah AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan HD.

(16)

balok pun memiliki istilah diagonal bidang, diagonal ruang, dan bidang diagonal. Berikut ini adalah uraian mengenai istilah-istilah berikut.

d. Diagonal Bidang; Coba kamu perhatikan Gambar 7. Ruas garis AC yang melintang antara dua titik sudut yang saling berhadapan pada satu bidang, yaitu titik sudut A dan titik sudut C, dinamakan diagonal bidang balok ABCD.EFGH.

e. Diagonal Ruang; Ruas garis CE yang menghubungkan dua titik sudut C dan E pada balok ABCD.EFGH seperti pada Gambar 8 disebut diagonal ruang balok tersebut. Jadi, diagonal ruang terbentuk dari ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang saling berhadapan di dalam suatu bangun ruang.

f. Bidang Diagonal; Sekarang, perhatikan balok ABCD.EFGH pada Gambar 9. Dari gambar tersebut terlihat dua buah diagonal bidang yang sejajar, yaitu diagonal bidang HF dan DB. Kedua diagonal bidang tersebut beserta dua rusuk balok yang sejajar, yaitu DH dan BF membentuk sebuah bidang diagonal. Bidang BDHF adalah bidang diagonal balok ABCD.EFGH. 5. Jaring-jaring Balok

(17)

6. Menghitung Volume Balok

Volume balok dapat dihitung dengan menggunakan rumus : V=P x l x t

(18)

P = Panjang l = lebar t = tinggi E. Alat Peraga

Menurut Ngadino Y. ( 2003 : 10 ) alat peraga adalah “alat / benda yang digunakan oleh guru dalam mengajar”. Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata / konkrit (Depdiknas, 2003 : 10).

Amirhamzah Sulaiman (1991 : 25) berpendapat bahwa “ alat peraga adalah alat-alat visual, yang dapat memperhatikan rupa atau bentuk yang kita kenal dengan alat peraga”. Sedangkan Oemar Hamalik (1982 : 43) “alat peraga adalah alat metode atau teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran sebagai alat bantu sekolah.

Pengertian alat peraga menurut Estiningsih (1994) adalah media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. Alat peraga merupakan salah satu faktor untuk mencapai efisiensi hasil belajar (Moh. Surya, 1992: 75).

Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).

Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses belajar mengajar (2002: 99-100):

a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif;

b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar;

c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran;

(19)

e. Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru;

f. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar

Di samping enam fungsi di atas, penggunaan alat peraga mempunyainilai-nilai:

a. Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme;

b. Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar;

c. Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan Belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap;

d. Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa;

e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan;

f. Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa;

g. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana,2002: 104-105):

a. Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan;

b. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik;

c. Menyajikan alat peraga dengan tepat;

(20)

R.M. Soelarko dalam buku Audio Visual media komunikasi ilmiah pendidikan penerangan (1995: 6) menggolongkan macam-macam alat peraga berdasarkan pada bahan yang dipakai:

 Gambar-gambar (lukisan), misalnya Zoologie (gambar-gambar binatang), Botani (gambar pohon, bunga, daun, dan buah), dan gambar tentang ilmu bumi (gambar gunung, laut, danau, hutan);

 Benda-benda alam yang diawetkan, misalnya daun kering yang dipres, bunga, serangga misalnya kupu-kupu, jangkrik, belalang;

 Model, Fantom, dan Manikkin. Yang disebut model adalah bentuk tiruan dalam skala kecil. Fantom atau Manikkin adalah model anatomi dari bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri misal rangka manusia.

Media mengajar alat peraga dan peraga benda sering disebut sebagai alat modern, karena kesadaran mengenai pentingnya memakai media mengajar dalam pelayanan anak yang masih baru. Melalui pemakaian alat peraga dan peraga benda, imajinasi anak dirangsang, perasaan anak disentuh dan kesan yang mendalam diperoleh. Melaluinya anak belajar dengan semangat dan dapat mengingat dengan baik. Dalam mengajar, panca indera dan seluruh kesanggupan seorang anak perlu dirangsang, digunakan dan dilibatkan, sehingga tak hanya mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang dipelajari. Panca indera yang paling umum dipakai dalam mengajar adalah "mendengar". Melalui mendengar, anak mengikuti peristiwa demi peristiwa dan ikut merasakan apa yang disampaikan. Seolah-olah telinga mendapatkan mata. Anak melihat sesuatu dari apa yang diceritakan.

(21)

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Subyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Swasta 009 Immanuel Tebing kelas V pada tahun pembelajaran 2014/2015 yang berjumlah 33 orang, yang terdiri dari 16 laki-laki dan 17 perempuan, yang beralamat di wilayah Sei Bati, Kelurahan Pamak, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

B. Deskripsi per Siklus

Menurut Sukardi (2003: 210) Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. Bentuk penelitian ini yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan jenis kolaboratif yang melibatkan guru lain sebagai observer. Pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua siklus yakni siklus 1 (pertama) dan siklus II (kedua). Selanjutnya dilakukan ulangan harian 1 dan 2. Dari hasil pengamatan dan refleksi pada siklus 1 diadakan perbaikan/pemantapan pada proses pembelajaran pada siklus II.

Menurut Sukardi (2003: 212), model siklus dalam penelitian tindakan kelas mempunyai tahapan yaitu sebagai berikut :

1. Perencanaan

Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari: lembar kerja siswa, mempersiapkan tes hasil belajar dan lembar observasi

2. Pelaksanaan Tindakan

(22)

1 pada siklus 1 dan rencana pelaksanaan pembelajaran 2 pada siklus II. Peneliti memberikan lembar kerja siswa dengan menerapkan penggunaan alat peraga. Selama proses pembelajaran siswa belajar sesuai pembelajaran yang digunakan yaitu pendekatan model demonstrasi dengan mengedepankan alat peraga.

3. Observasi

Dalam tahap ini yang bertindak sebagai observer adalah guru lain. Observasi yang dilakukan terhadap aktivitas, interaksi, dan kemajuan siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan bersamaan dengan tindakan. Observasi dilakukan oleh guru lain dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan. Observasi bertujuan untuk mengamati hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan yang dilakukan mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Refleksi

Refleksi merupakan aktivitas melihat kembali bagi guru atau peneliti atas dampak dari proses yang dilakukan untuk menimbulkan pertanyaan yang bisa dijadikan acuan keberhasilan, misalnya apakah hasil belajar siswa sudah menunjukkan ketuntasan belajar atau bagaimana aktivitas yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran berikutnya.

(23)

C. Instrumen Penelitian

1. Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan program kerja guru dalam melaksanakan tugas di dalam proses pembelajaran, materi ajar, model pembelajaran dan langkah-langkah pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. b. Lembar Kerja Siswa

(24)

b. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar dibuat berpedoman pada indikator kisi-kisi. Data hasil belajar matematika, berupa ulangan harian setiap siklus. Data hasil belajar berguna untuk melihat ketercapaian kompetensi dasar.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian adalah : 1. Observasi

Observasi ini digunakan untuk memperoleh aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi siswa dilakukan oleh teman sejawat. Observasi siswa berisikan berbagai aktivitas siswa yang terjadi di dalam kelas.

2. Wawancara

Wawancara ini digunakan untuk memperoleh gambaran awal guru dalam mengetahui penyebab/faktor-faktor yang mempengaruhi siswa kurang minat belajar matematika, nilai matematika siswa kurang sehingga guru dapat menciptakan model pembelajaran yang bisa mengatasi kendala-kendala tersebut. Wawancara ini dilakukan peneliti kepada guru matematika kelas sebelumnya dan kepada siswa tersebut.

3. Teknik Tes

Data tentang hasil belajar matematika diperoleh melalui tes yang dilakukan setelah pembelajaran berlangsung. Tes hasil belajar dilakukan dua kali dalam bentuk ulangan harian tiap kompetensi dasar. Soal-soal pada ulangan harian berdasarkan indikator yang ingin dicapai pada materi kubus dan balok.

F. Teknik Analisis Data

(25)

1. Analisis Data Aktivitas Siswa

(26)
(27)

Tabel 3.1 tindakan. Ketuntasan belajar secara klasikal dikatakan tercapai jika 85% dari seluruh siswa mencapai KKM. Sedangkan untuk mencapai KKM terhadap hasil siswa secara keseluruhan menggunakan rumus :

Ketuntasan Klasikal = Jumlah Siswa yang tuntas

Total Siswa x 100 G. Waktu Penelitian

(28)

ganjil. Untuk lebih jelasnya berkaitan dengan alokasi/waktu pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.2

Alokasi/waktu Pelaksanaan Penelitian

No Kegiatan Pembelajaran WaktuPelaksanaan

1 Mempersiapkan perangkat pembelajaran 8 November 2014 2 Pelaksanaan penelitian siklus 1 11 November 2014 3 Pelaksanaan penelitian siklus 2 14 November 2014

(29)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi per Siklus

Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilakukan di SD Swasta 009 Immanuel Tebing pada siswa kelas V yang berjumlah 33 orang. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan model pendekatan alat peraga yang diawali dengan mendemostrasikan alat peraga kubus dan balok di depan kelas.Tahap pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini mempersiapkan 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan soal ulangan harian, serta kunci jawaban LKS dan kunci jawaban ulangan harian.

Pada tahap ini peneliti membagi siswa dalam 8 kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa. Penetapan kelompok berdasarkan pemerataan siswa yang tingkat kemampuannya lebih pandai, sedang, dan kurang pandai.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan metode tutor sebaya dengan materi kubus dan balok. Pelaksanaan tindakan pada penelitian ini sebanyak 2 siklus.

a. Pelaksanaan siklus 1

(30)

Pada pertemuan pertama ini, peneliti dibantu oleh teman sejawat untuk melakukan aktivitas siswa.

Adapun hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1

Observasi Aktivitas Siswa Siklus 1

No Fokus Pengamatan Siswa ( Siklus 1)

1 Motivasi siswa mengikuti pembelajaran Baik 2 Memperhatikan dan mengikuti penjelasan

materi dengan pengenalan alat peraga

Cukup

3 Menyelesaikan soal-soal pada LKS Cukup

Berdasarkan hasil tersebut di atas diketahui bahwa memperhatikan dan mengikuti bimbingan teman sebaya serta menyelesaikan soal-soal LKS yang diberikan oleh guru masih dalam kategori cukup, sehingga membutuhkan perbaikan dalam rencana siklus berikutnya.

(31)

Tabel 4.2 Skor Nilai Siklus 1

Sumber dari hasil ulangan siklus 1

Keterangan : T = Tuntas

TT = Tidak Tuntas

(32)

dengan persentase 57,58%. Setelah mengkaji hasil ulangan harian 1 ternyata rata-rata kelasnya 63,64% yang artinya masih di bawah KKM yang telah ditentukan yaitu 65.

(33)

Tabel 4.3

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI KUBUS DAN BALOK PADA TES AWAL DAN SIKLUS I N

1 Agustinus Ligaury Ardi Murin 50 50 Tetap

2 Alberto Aldius Marco 40 40 Tetap

3 Alfonsus Felix Brian 50 50 Tetap

4 Angelica Kristina Natalie 40 50 Meningkat 5 Antonius Nanda Saputra 50 50 Tetap

6 Antonius Anus 40 50 Meningkat

7 Apriyani 70 80 Meningkat

8 Ardika Marco Dongoran 50 50 Tetap 9 Christianus Martin Danielo 60 80 Meningkat

10 Dedy Pranata 70 80 Meningkat

11 Devita Sari Simamora 40 40 Tetap

12 Dhe Hotdlen Rhapael S. 40 50 Meningkat 13 E'bri Kasih Tampubolon 50 50 Tetap

14 Erfina Damai Yanti 80 90 Meningkat

15 Erison Manalu 40 40 Tetap

16 Eryadi 80 90 Meningkat

17 Femiliana Agnes 40 40 Tetap

18 Ferdinan Roynaldo Oktaviano S 40 50 Meningkat

19 Heppi Naomi Lastio S 50 50 Tetap

20 Jesy Rosalia Venelia Sari 60 60 Tetap

21 Joni Chandra 70 90 Meningkat

22 Lily Gabriel Malau 50 60 Meningkat

23 Lisa Lavenia 70 80 Meningkat

24 Maria Grasela 50 60 Meningkat

25 Michelle Magdalena 70 80 Meningkat

26 Raifalina Dhea Agnesia P 50 50 Tetap 27 Ryan Pratama Sianturi 80 80 Tetap 28 Stefanie Fransisca Bridoin Ujan 80 90 Meningkat 29 Steviana Br Sihombing 60 60 Tetap 30 Wihelmus Bimo Primastopo 90 90 Tetap

31 Xui Ching Anggelika 90 90 Tetap

32 Yolanda Agnes H. Sitompul 80 80 Meningkat

33 Yosephine Mere 40 50 Meningkat

Jumlah 1920 2100

(34)

Berdasarkan tabel perbandingan tersebut hasil belajar kubus dan balok pada tes awal mencapai rata-rata 58,18% tergolong rendah, sedangkan pada siklus 1 rata-rata hasil belajar 63,64% tergolong sedang. Dengan demikian terjadi peningkatan hasil belajar materi kubus dan balok pada siswa kelas V SD Swasta 009 Immanuel Tebing. Selama pelaksanaan berlangsung, guru membuat catatan harian tentang situasi dan kondisi guru, siswa, dan lingkungan. Pada siklus ini, kondisi guru dalam keadaan sehat. Namun pada saat proses pembelajaran berlangsung cuaca kurang mendukung karena terjadi turun hujan yang disertai petir. Hal tersebut diperparah lagi dengan kondisi listrik padam. Guru mengalami kesulitan menjelaskan materi pelajaran karena suara guru kurang jelas didengar oleh siswa.

Refleksi Siklus 1

Berdasarkan hasil pengamatan pelaksanaan 1, ketuntasan belajar materi operasi hitung campuran belum mencapai hasil yang memuaskan, masih ada 19 siswa yang belum tuntas secara individual, dan secara klasikal pun belum tercapai, tetapi telah menunjukkan peningkatan persentase secara umum baik individu maupun klasikal.

Ketuntasan belajar siswa belum dapat tercapai dengan maksimal disebabkan beberapa faktor, antara lain :

1. Dalam perencanaan kurangnya persiapan, sehingga hasil belajar belum optimal

2. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru kurang memberi bimbingan dan kurang tegas kepada siswa yang kurang serius dalam mengerjakan tugas.

3. Faktor alam yang kurang mendukung yaitu hujan yang disertai sehingga menyebabkan mati lampu

4. Berdasarkan hasil belajar pada siklus 1 masih belum tuntas, untuk itu siswa yang belum tuntas diadakan remedial

(35)

Untuk siklus II ada satu kali pertemuan dengan satu kali ulangan harian. Pertemuan ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 15 November 2014. Adapun hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan kedua siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.4

Observasi Aktivitas Siswa Siklus II

No Fokus Pengamatan Siswa ( Siklus 1)

1 Motivasi siswa mengikuti pembelajaran Baik 2 Memperhatikan dan mengikuti penjelasan

materi dengan pengenalan alat peraga

Baik

3 Menyelesaikan soal-soal pada LKS Baik

(36)

Tabel 4.5

Sumber dari hasil ulangan harian 2

Keterangan : T = Tuntas

TT = Tidak tuntas

(37)

semester ganjil siswa tersebut dapat mengerjakan soal berkaitan dengan kubus dan balok.

Refleksi siklus II

Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan kelas pada siklus II, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar matematika materi kubus dan balok di kelas V SD Swasta 009 Immanuel Tebing meningkat menjadi berkategori baik. Dan dengan hasil itu maka tidak perlu dilaksanakan siklus selanjutnya.

B. Pembahasan dari Setiap Siklus

Setelah dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan metode tutor sebaya maka terlihat adanya peningkatan dalam hasil belajar matematika materi opearsi hitung campuran. Peningkatan hasil belajarnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6

Perbandingan Hasil Belajar Tes Awal, Siklus I dan Siklus II Nilai

Kategori

Hasil Pembelajaran

Tes Awal Siklus I Siklus II 80 – 100 Tinggi 7 ( 21,21% ) 13 ( 39,39%) 20 (60,31%)

65 – 79 Sedang 5 (11,54%) 5 (15,15%)

0 – 64 Rendah 21 (73,08%) 20 (60,61%) 8 (24,24%)

Jumlah Siswa 33 33 33

Rata-rata 58,18% 63,64% 78,18%

Kategori Rendah Sedang Baik

(38)

Tabel 4.7

Perbandingan Hasil Belajar Matematika Materi Kubus dan Balok pada Tes Siklus I dan siklus II

(39)

Perbandingan hasil belajar awal, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.8

Perbandingan Hasil Belajar Matematika Kubus dan Balok pada Tes Awal, Siklus I dan Siklus II

No Nama Siswa Skor Nilai Ket

Tes Awal Siklus1 SiklusII

1 Agustinus Ligaury Ardi Murin 50 50 80 Meningkat 2 Alberto Aldius Marco 40 40 60 Meningkat 3 Alfonsus Felix Brian 50 50 70 Meningkat 4 Angelica Kristina Natalie 40 50 80 Meningkat 5 Antonius Nanda Saputra 50 50 60 Meningkat 6 Antonius Anus 40 50 70 Meningkat 7 Apriyani 70 80 100 Meningkat 8 Ardika Marco Dongoran 50 50 80 Meningkat 9 Christianus Martin Danielo 60 80 80 Meningkat 10 Dedy Pranata 70 80 90 Meningkat 11 Devita Sari Simamora 40 40 50 Meningkat 12 Dhe Hotdlen Rhapael S. 40 50 60 Meningkat 13 E'bri Kasih Tampubolon 50 50 80 Meningkat 14 Erfina Damai Yanti 80 90 90 Meningkat 15 Erison Manalu 40 40 70 Meningkat 16 Eryadi 80 90 90 Meningkat 17 Femiliana Agnes 40 40 70 Meningkat 18 Ferdinan Roynaldo Oktaviano S 40 50 60 Meningkat 19 Heppi Naomi Lastio S 50 50 80 Meningkat 20 Jesy Rosalia Venelia Sari 60 60 60 Meningkat 21 Joni Chandra 70 90 90 Meningkat 22 Lily Gabriel Malau 50 60 80 Meningkat 23 Lisa Lavenia 70 80 90 Meningkat 24 Maria Grasela 50 60 80 Meningkat 25 Michelle Magdalena 70 80 90 Meningkat 26 Raifalina Dhea Agnesia P 50 50 60 Meningkat 27 Ryan Pratama Sianturi 80 80 90 Meningkat 28 Stefanie Fransisca Bridoin Ujan 80 90 100 Meningkat 29 Steviana Br Sihombing 60 60 70 Meningkat 30 Wihelmus Bimo Primastopo 90 90 100 Meningkat 31 Xui Ching Anggelika 90 90 100 Meningkat 32 Yolanda Agnes H. Sitompul 80 80 90 Meningkat 33 Yosephine Mere 40 50 60 Meningkat

Jumlah 1920 2100 2580 Meningkat

(40)

Dan perbandingan hasil belajar matematika tentang materi kubus dan balok pada tes awal, siklus I dan siklus II dapat digambarkarkan melalui diagram berikut ini.

Gambar 4.1

Diagram Hasil Belajar Matematika Kubus dan Balok pada Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II

Tes Awal Siklus I Siklus II

0 ditemukan peneliti selama tindakan yaitu siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran, siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran dengan mengedepankan alat peraga.

(41)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar matematika kubus dan balok pada siswa kelas V SD Swasta 009 Immanuel Kabupaten Karimun Tahun Pelajaran 2014/2015. Adapun kesimpulannya sebagai berikut :

1. Dengan penggunaan alat peraga pada proses pembelajaran maka hasil belajar siswa dapat lebih meningkat.

2. Kegiatan pembelajaran dengan penggunaan alat peraga dapat meningkatkan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. 3. Peningkatan hasil belajar matematika materi kubus dan balok

diperoleh data siswa tuntas pada siklus I ada 13 siswa dengan presentase 39,39%, sedangkan siswa yang tidak tuntas ada 20 siswa dengan presentase 60,61%. Pada siklus II terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu siswa yang tuntas menjadi 25 siswa dengan prosentase 75,76%, sedangkan siswa yang belum tuntas 8 siswa dengan presentase 24,24%. Artinya secara keseluruhan kelas dapat dikatakan tuntas.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian, maka peneliti mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan penerapan metode tutor sebaya yaitu :

1. Penerapan alat peraga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran matematika kelas V pada materi kubus dan balok atau materi matematika lainnya.

(42)

3. Bagi penelitian lanjutan, penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi kubus dan balok hendaknya dapat memperluas cakupan aspek yang terdapat dalam penelitian ini.

Gambar

Tabel 4.2 Skor Nilai Siklus 1

Referensi

Dokumen terkait

bahwa kemandirian Komisi Yudisial dalam melakukan wewenangnya yang ditentukan dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945, yang oleh Para Pemohon didalilkan telah dijabarkan oleh

Seteleah hasil dari regresi linier berganda diketahui, selanjutnya ialah melakukan uji hipotesis agar dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian mengenai pengaruh

Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas eksperimen yaitu siswa yang di ajar dengan metode peta konsep dengan menggunakan macromedia flash dan kelas kontrol

Tulang anggota gerak bawah (kaki) berhubungan dengan tulang gelang panggul. Tiap jari 3 ruas, kecuali ibu jari yang hanya 2 ruas. Adapun fungsi dari tulang yaitu: Menggambarkan

No Nama Depan Nama Belakang Nama perguruan Tinggi L/P Ukuran Baju (S/M/L) (Instruktur/ Peserta) Keterangan.. 1 Fauzyah

Dalam suatu hari Rasul saw kedatangan sepasang suami istri yg mengadukan kematian putri mereka, kalau putrinya bisa hidup lagi maka mereka akan masuk islam,

frontal sinus anteroposterior size based on against lateral cephalometric radiographs chronological age as forensic identiication.. Methods: A number of samples are 502

Penambahan tepung bawang putih atau limbah udang sama efektifnya dalam menurunkan kolesterol telur, sedangkan limbah udang juga dapat meningkatkan skor warna