• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN KRITIS TERHADAP PEMERINTAH DALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TINJAUAN KRITIS TERHADAP PEMERINTAH DALA"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

KASUS LUMPUR LAPINDO

(Dasar Keppres 13/2006, Perpres 14/2007, Perpres 48/2008, Perpres 40/2009) Dosen Pengampu : Harry Supriyono, SH., M. Si.

Oleh :

La Ode Muhammad Erif (10/307009/PMU/6714) Fenky Wirada (10/307116/PMU/6752)

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASAJANA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena tulisan ilmiah mengenai “Tinjauan Kritis Terhadap Pemerintah dalam Penanganan Kasus Lumpur Lapindo” ini telah kami selesaikan sebagai syarat tugas mata kuliah Hukum Lingkungan yang diampu oleh Dosen Harry Supriyono, SH., M.Si.

Dalam pembuatan karya ini kami mengumpulkan berbagai referensi dari buku teks, jurnal ilmiah, peraturan pemerintah terkait, maupun berbagai laporan ilmiah penelitian yang berhubungan dengan kasus Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam berbagai pemikiran yang menghasilkan karya ini tidak akan bisa sempurna tanpa adanya data dari berbagai penelitian, kemudahan akses dan informasi terkait peraturan merupakan sarana bagi kami untuk mengkritisi upaya penanganan oleh pemerintah terkait bencana lumpur yang terjadi. Topik terkait kritisi terhadap penanganan pemerintah lewat kebijakan perundangan merupakan hal bagi penilaian kinerja pemerintah. Diharapkan hasil dari tulisan ini selain juga untuk memenuhi syarat mata kuliah Hukum Lingkungan juga dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan mengenai perbaikan kebijakan ketika ada hal yang dianggap tidak tepat guna terkait peraturan pemerintah.

Kami mengucapkan terimakasih banyak kepada Bapak Harry Supriyono yang telah memberikan kami pengetahuan terkait isu dan peraturan hukum lingkungan. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam pengumpulan data dan kepada para penulis karya yang dapat dijadikan sebagai bahan telaah tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan.

Januari 2011

Penulis

(3)

INTISARI

Lumpur Lapindo merupakan salah satu kejadian alam karena ada kesalahan faktor manusia. PT Lapindo Brantas yang dalam hal ini adalah pemrakarsa usaha seharusnya wajib menjadi penanggung jawab atas kejadian yang merugikan banyak umat manusia ini. Dalam perkembangannya Pemeritah melalui beberapa peraturan yaitu Keputusan Presiden No. 13 Tahun 2006, Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2007, Peraturan Presiden No. 48 Tahun 2008 hingga Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2008 menjadikan beban tanggung Jawab mengenai kerusakan alam berupa biaya akan dimasukankan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Berbagai kegiatan dilakukan oleh Tim Nasional dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang ditunjuk Presiden lewat keputusan untuk menangani masalah lingkungan dan Sosial. Di satu sisi PT Lapindo Brantas hanya mempuyai tanggungan untuk menyelesaikan masalah sosial di wilayah yang terkena dampak per 22 Maret 2007. Rakyat Indonesia disengsarakan dengan banyak Kebijakan Pemerintah yaitu kerugian masalah lingkungan dan sosial yang harus ditanggung oleh PT Lapindo Brantas diperingan dengan kebijakan pemerintah tersebut. Peran Pemerintah untuk menjamin warganya mendapat hak untuk lingkungan yang sehat dan baik serta penegakan hukum untuk tanggung jawab dari pihak pemrakarsa tidak terlaksana. Alhasil dengan banyak peraturan yang harusnnya menjamin kesehjateraan masyarakat hanya menghasilkan kerugian lebih besar kepada negara dan rakyatnya. Analisis dan kebijakan harusnya melihat studi terkait tentang sebab-aakibat dari kejadian lumpur tersebut agar keputusan mengenai kebijakan pemerintah menghasilkan putusan yang adil dan objektif.

Sampai saat ini dari hasil keputusan Kebijakan Pemerintah tersebut masih menuai bencana kerugian besar kepada warga yang terkena dampak dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Keadilan tentang perumusan kebijakan pemerintah dalam berbagai kasus lingkungan harus mendapat evaluasi dan kontrol dari banyak pihak akademisi dan masyarakat luas, agar peran dan fungsi kebijakan saat disahkan dapat menjamin kehidupan masyarakat Indonesia dalam lingkungan yang berkualitas dan eksis.

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kasus lumpur lapindo yang 5 tahun lalu terjadi masih memberikan efek kerusakan lingkungan yang tidak ternilai bagi dunia lingkungan termasuk aspek sosial masyarakat yang pasti merasakan kerugian akan harta benda dan lingkungan yang mengalami degradasi. Belum selesai akan penanganan masalah ganti rugi oleh PT. Lapindo Brantas, Inc. sebagai pelaku usaha yang harusnya bertanggung jawab akan bencana yang terjadi, pemerintah dalam hal ini presiden mengeluarkan beberapa keputusan yang dinilai meringankan pihak PT. Lapindo Brantas.

(5)

dampak semburan lumpur dari PT Lapindo layaknya musibah yang statusnya bencana nasional.

Melalui keputusan presiden mengenai Kasus Lumpur Lapindo yang termuat dalam Keppres 13/2006, Perpres 14/2007, Perpres 48/2008, hingga Perpres 40/2009 dapat dinilai dan dikritisi apakah memang sebuah kebijakan melihat kerusakan lingkungan Lumpur Lapindo yang kemudian membuat keputusan tersebut muncul sebagai suatu kebijakan pemikiran pada pemerintahannya. Seperti diketahui disatu sisi pemegang saham dari perusahaan tersebut adalah Bakrie & Brother yang termasuk sebagai salah satu pengusaha dan penguasa yang masih duduk aktif sebagai pemegang keputusan di partai besar dalam dunia politik di Indonesia. Sampai sekarang walaupun Peraturan sdah disahkan dan pemerintah menyatakan bahwa bencana Lumpur Lapindo sebagai bencana nasional, disatu sisi banyak pihak juga yang kontra dengan melihat keputusan dan peraturan tersebut adalah sebuah pembenaran terhadap sebuah kesalahan dari kongsi perusahaan tersebut. Melalui tulisan ini akan coba dikritisi apakah segala kebijakan pemerintah terkait penanganan kerusakan akibat lumpur lapindo memang sesuatu yang sewajarnya ataukah memang titipan pesan dari para penguasa.

B. Masalah

Dari banyak telaah ilmiah mengenai sebab-akibat kejadian Lumpur Lapindo, secara ilmiah memang banyak pihak yang menyatakan kejadian tersebut adalah akibat kesalahan prosedur dalam proses eksploitasi. Tetapi dari sisi politis ternyata peran seorang sosok pengusaha sekaligus pejabat dari PT. Lapindo Brantas, Inc. mampu membuat sesuatu yang berbeda dalam putusan kebijakan jika dilihat dari kerangka ilmiah penyebab kejadian tersebut, yaitu dengan diputuskannya aturan dari Presiden yang dinilai kontroversial sebagai penyelamat aset usaha para penguasa.

(6)

Hal-hal mengenai pro-kontra bisa terlihat dalam keputusan presiden yang bersifat administratif. Dari banyak keputusan tersebut ternyata PT. Lapindo Brantas, Inc. tidak menanggung semua kerusakan akibat eksploitasi tersebut. Sampai saat ini kejadian penanganan masalah sosial dan infrastruktur dimasukan dalam realisasi anggaran APBN seolah-olah yang menjadi pelaku adalah seluruh umat bangsa Indonesia, memang sebuah kebijakan yang ironi.

C. Metode Penulisan

Metode penelitian dalam tulisan ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu suatu jenis penelitian yang menggunakan bahan pustaka atau data sekunder. Bahan pustaka atau data sekunder yang dimaksud diantaranya adalah peraturan perundang-undangan, penggunaan pendekatan yuridis, asas-asas dan perbandingan hukum. Penelitian hukum normatif ini merupakan penelitian perpustakaan berdasarkan data sekunder dan bersifat kualitatif (tidak berbentuk angka).

Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui pengumpulan dokumen-dokumen yang dianggap penting yang berkaitan dengan penelitian. Dokumen merupakan metode pelengkap untuk mencari data yang tidak mungkin diperoleh melalui observasi dan wawancara. Lincoln dan Guba (1985: 113) mengatakan bahwa penggunaan dokumen dalam pengumpulan data didasarkan atas beberapa alasan yaitu merupakan sumber informasi yang stabil dan kaya, bermanfaat untuk membuktikan suatu peristiwa, sifatnya alamiah sesuai dengan konteks dan hasil pengkajian akan diperluas sesuai degan pengetahuan terhadap sesuatu yang diteliti. Penulis menggunakan dokumen-dokumen berupa teks-teks yang dapat dipahami lebih lanjut. Atau berupa teks-teks arsip, statistik, hasil laporan Timnas PSLS/ BPLS, buku-buku, koran, majalah atau buku catatan organisasi yang bisa diambil sebagai pelengkap data dan informasi dalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

(7)

2. Bahan/materi hukum sekunder, yaitu pendapat hukum para ahli hukum, buku-buku penelitian (litbang) hukum, hasil-hasil karya ilimiah dan hasil penelitian para sarjana hukum, dan badan kepustakaan bidang hukum lainnya.

3. Bahan/materi hukum tersier, yakni berbagai bahan pendukung seperti surat kabar, cyber media atau internet, majalah, tabloid, jurnal hukum bisnis, kamus, dan lain sebagainya.

Data yang diperlukan untuk Kajian Kritis Penanganan Lumpur Lapindo yaitu : 1. Data kronologis kejadian Lumpur Lapindo

2. Riwayat PT. Lapindo Brantas, Inc. sebagai investor usaha 3. Keputusan Presiden no. 13 tahun 2006

4. Peraturan Presiden no. 14 tahun 2007 5. Peraturan Presiden no. 48 tahun 2008 6. Peraturan Presiden no. 40 tahun 2009 7. Peta wilayah bencana Lumpur Lapindo

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PT Lapindo Brantas Inc.

Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu dari berbagai anak perusahaan PT. Energi Mega Persada Tbk. Lapindo Brantas didirikan khusus untuk mengekploitasi sumur-sumur yang ada di Blok Brantas atau dengan kata lain Lapindo Brantas/EMP hanya sebagai pelaksana teknis (operator), sementara saham blok tersebut dimiliki bersama oleh PT. Energi Mega Persada sebesar 50 persen, PT. Medco E&P Brantas, anak perusahaan Medco Energy sebesar 32 persen, dan Santos Brantas Indonesia Tbk. menguasai saham sebesar 18 persen. Jika dilihat secara seksama, perusahaan-perusahaan yang menguasai saham di Lapindo Brantas/EMP adalah juga merupakanperusahaan yang memiliki berbagai kilang minyak dan gas yang tersebar di wilayah Indonesia. Menurut Aswan Siregar116 tahun 2004 merupakan tahun yang sukses bagi usaha Lapindo Brantas. Sejak 1999, Lapindo Brantas telah berkembang untuk menjadi pemasok utama gas bagi perusahaan distribusi gas pemerintah, yaitu PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Yang disuplay dari lapangan gas Wunut. Rata-rata suplai 65 mmcf gas per hari di tahun 2004, yang merupakan kenaikan sebesar 48,1% dari tahun sebelumnya. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Menguak Pelanggaran HAM dan Kejahatan Lingkungan PT. Lapindo Brantas/Energi Mega Persada (EMP), Laporan WALHI kepada komnas HAM, 31 Agustus 2007.

(9)

sumursumur pengeboran di Wunut, kami telah menyelesaikan di Tanggulangin 1, memasang kompresor ketiga di ladang pengolahan gas Wunut, meningkatkan fasilitas sistem pemantauan terintegrasi dan memasang fasilitas pengairan di ladang pengolahan gas.

Blok dari Brantas PSC yang terletak di tempat eksplorasi yang paling diperbincangkan di Indonesia, jalur eksplorasi Kujung di Jawa Timur. Kami telah mengidentifikasi bahwa blok tersebut memiliki sekurangkurangnya 7 cadangan minyak dan gas yang prospektif dengan sumber daya hingga 677 Bcf dan 121.5 mmbbl. Lapindo Brantas terletak di tempat yang sangat baik dalam ukuran luas eksplorasi di Jawa Timur. Area Kujung di Jawa Timur teridentifikasi sebagai salah satu daerah cadangan minyak dan gas terbaik di Indonesia dengan jumlah keseluruhan penemuan sumber daya sebesar 2,417 mmboe (55% Minyak). Tingkat kesuksesan eksplorasi diukur dari luas cekungan (basin) adalah sebesar 40% dan dalam sepuluh (10) tahun terakhir tercatat 80% kesuksesan. Statistik menyarankan untuk melakukan eksplorasi yang belum terlaksana.

1. Area Kujung di Jawa Timur teridentifikasi sebagai salah satu lokasi cadangan minyak dan gas terbaik di Indonesia.

2. Penemuan sumber daya kumulatif sebesar 2,417 mmboe (55% minyak) 3. Tingkat kesuksesan eksplorasi diukur dari luas cekungan adalah sebesar 40%

a. Sepuluh tahun terakhir tercatat 80%.

b. Statistik (Creaming Curve) menyarankan untuk melakukan eksplorasi yang belum terlaksana.

c. Blok Brantas dan Blok Kangean berada di area Kujung.

Lapindo Brantas Inc. adalah perusahaan eksplorasi dan produksi migas berdasarkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) atau Production Sharing Contract (PSC) dengan BP Migas hingga tahun 2020. Sejak membeli Blok

(10)

PGN kemudian diperpanjang hingga tahun 2020 dengan pertimbangan yang kurang jelas. Lokasi rencana kontrak meliputi Wunut, Carat, Ketingan, dan Tanggulangin (Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, dan Kab. Pasuruan). Khusus lapangan Wunut Amdal-nya telah disetujui oleh Dept. Pertambangan dan Energi No 3129/0115/SJ.T/1997.

Lapindo Brantas melakukan pengeboran gas melalui perusahaan kontraktor pengeboran PT. Medici Citra Nusantara yang merupakan perusahaan afiliasi Bakrie Group. Subkontrak itu diperoleh Medici melalui tender dari Lapindo Brantas senilai US$ 24 juta pada 20 Januari 2006 atas nama Alton International Indonesia. Alton International Indonesia merupakan perusahaan patungan antara Alton International Singapore dengan PT Medici Citra Nusa, yang didirikan pada 2004.

(11)

Pada tahun 1990, blok Brantas pernah dikuasai oleh HUFFCO melalui Production Sharing Contract (PSC) dengan PT. Pertamina sampai 2020, akan tetapi baru berjalan satu periode eksploitasi, tepatnya pada tahun 1996, dengan tanpa sebab, HUFFCO kemudian menjual blok Brantas kepada PT. Lapindo Brantas/EMP Inc. Rencana lokasi yang akan di eksploitasi lapangan gas bumi blok Brantas meliputi 3 kabupaten, yaitu Sidoarjo, Mojokerto, dan Pasuruan. Terdiri dari lapangan gas bumi Wunut, Carat, Ketingan, dan Tanggulangin dan semua lapangan gas ini akan di kuasakan pengelolaannya kepada Lapindo Brantas/EMP. Sedangkan titik sumur Banjar Panji I merupakan salah satu sumur yang terletak di blok Wunut dan baru di eksplorasi pada bulan January 2006. Blok Brantas sendiri adalah salah satu dari 5 Blok yang terletak di cekungan Jawa Timur, cekungan ini di perkirakan memiliki cadangan : minyak sebesar 900 juta barel sedangkan Gas 700 milyar kaki kubik. Dari jumlah cadangan yang begitu besar di cekungan Jawa Timur, Blok Brantas sendiri juga di perkirakan memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar diantara dari 4 blok Lainnya.

(12)

Gambar 1: Kelompok bisnis di belakang PT LBI (diolah dari berbagai sumber) Akan tetapi belakangan publik hanya mengenal bahwa PT LBI adalah milik kelompok usaha Bakrie&Brothers yang terhubungkan ke Aburizal Bakrie. Hal ini dapat terjadi karena setelah terjadinya bencana, ME dan Santos "menjual" sahamnya kepada satu perusahaan yang masih berafiliasi dengan group Bakrie&Brothers. Meskipun disebut "menjual" pada dasarnya penjualan tersebut adalah penjualan yang aneh. Karena transaksi yang terjadi tidak lazim.

ME melepaskan dirinya dari belitan kasus lumpur Lapindo dengan jalan menjual 32% sahamnya di PT LBI kepada sebuah nama baru, Group Prakarsa, sebuah perusahaan yang penjamin keuangannya adalah Minarak, salah satu anak perusahaan dalam group Bakrie&Brothers. Pada tanggal 16 Maret 2007, ke-32% saham milik Medco beserta seluruh kewajiban, tanggungjawab, klaim yang termasuk di dalamnya kompensasi terhadap dampak ekonomi dan sosial sehubungan dengan operasi migas di blok Brantas yang dikenakan terhadap Medco Brantas, baik di masa yang lalu, kini dan di masa mendatang dilego kepada Group Prakarsa dengan harga 100 Dolar AS (tidak sampai 1 juta, dengan kurs Dolar AS versus rupiah pada kisaran angka 9 ribu).

(13)

sebaliknya, Santos malah harus mengeluarkan uang senilai 22,5 juta Dolar AS untuk atas "penjualan" sahamnya tersebut.

B. Kronologi Kejadian Lumpur Lapindo

Korporasi yang saat ini sedang mendapat sorotan atas dugaan pelanggaran terhadap lingkungan yang sedang terjadi adalah Lapindo Brantas Inc. yang terkait dengan luapan lumpur dan gas di Porong Sidoarjo Jawa Timur. Telah 200 hari sejak pertama kali lumpur itu menyembur dari sumur galian milik Lapindo Brantas Inc., salah satu dari berbagai anak perusahaan milik PT. Energi Mega Persada Tbk (EMP). Lapindo Brantas didirikan khusus untuk mengeksploitasi sumur-sumur yang ada di Blok Brantas, dalam hal ini, Lapindo Brantas/EMP ibaratnya hanya sebagai operator, sedangkan saham Blok Brantas tersebut dimiliki bersama oleh PT. Energi Mega Persada Tbk, PT. Medco Energi Tbk, dan Santoz LTD-Australia. Perusahaan-perusahaan yang menguasai saham di Lapindo Brantas/EMP merupakan perusahaan yang juga memiliki berbagai kilang minyak dan gas yang tersebar seantero Nusantara.

Lapindo Brantas/EMP bukan warga baru di Sidoarjo, perusahaan ini muncul di Sidoarjo 1(satu) dasawarsa lalu setelah ditunjuk oleh BP Migas sebagai pemegang hak kuasa dari pemerintah di bidang pertambangan migas. Yang berada dalam top manajeman yang mengeksplorasi Blok Brantas adalah, pada skema kepemilikan saham eksplorasi dan eksploitasi blok Brantas, PT. Energi Mega Persada Tbk yang dimiliki Bakrie Group menguasai 50% saham, sedangkan PT. Medco Energi Tbk menguasai 32% dan Santoz Brantas Indonesia Tbk yang dimilki perusahaan asing dari Australia komposisi sahamnya adalah 18%. PT. Energi Mega Persada sebagai pemegang saham terbesar dominan dalam penguasaan dan bekerja sebagai operator di Sumur Banjar Panji I, sumur yang sampai saat ini masih menyemburkan lumpur.

(14)

terjadi kick atau muncul gas dibawah permukaan secara mendadak dan periodik, akhirnya terhenti Situasi ini terjadi sebelum gempa Yogyakarta, 27 Mei 2006, sehingga ada perkiraan baru bahwa terjadinya semburan karena underground blow out atau semburan gas dibawah permukaan yang memicu meningkatnya tekanan shale121 (over pressure shale) dari formasi kalibeng naik melalui rekahan-rekahan, volume semburan

lumpur telah melebihi volume mud yang lose dilubang pemboran, sehingga yang tersembur keluar adalah shale dan air formasi; dari sinilah di ketahui bahwa pada kedalaman 9000 kaki, Lapindo Brantas/EMP tidak melakukan pemasangan casing 9 5/8 inchi yang merupakan rambu keselamatan dalam setiap pengeboran. Disamping itu, Lapindo tidak mengantisipasi adanya zona patahan yang ada dalam kawasan eksplorasinya. Patahan itu kini meretakkan struktur geologi sehingga mengakibatkan semburan lumpur. Zona patahan-lemah itu berupa garis membentang sepanjang Porong (Sidoarjo) hingga Purwodadi (Pasuruan). Posisi patahan miring terhadap utara mata angin dengan sudut N30E (30 derajat dari utara ke timur). Teori yang dikembangkan komunitas geologi diantaranya dugaan bahwa lumpur berasal dari deposit minyak dalam bentuk kubah dengan ujung kubah paling dekat dengan permukaan. Struktur ini disebut diapir. Pengeboran Lapindo kemungkinan telah memicu retakan di zona lemah di atas kubah dan menimbulkan blow out jebakan lumpur dan gas di dalam kubah. Dengan tekanan tinggi, lumpur dan gas akan mencari lokasi yang paling lemah dalam rekahan perut bumi.

(15)

dikalkulasi bisa mancapai 170 juta dollar AS (sekitar Rp 1,6 triliun), ditambah biaya relokasi sebesar 1-2 triliun. Namun hal ini tidak akan terjadi karena penjualan ini ditolak oleh BAPPEPAM selaku pengawas kegiatan pasar modal yang dalam hal ini sebagai regulator yang tidak hanya melindungi kepentingan pemegang saham publik, tetapi juga kepentingan masyarakat luas.

Kasus Lumpur Sidoarjo dimulai pada tanggal 29 Mei 2006 ketika terjadi semburan pertama lumpur panas di sekitar 200 meter sebelah barat daya sumur BJP I. Sumur pengeboran Banjar Panji I (BJP I) merupakan daerah eksplorasi Brantas Production Sharing Contract (PSC) di Kabupaten Sidoarjo yang dioperasikan oleh

Lapindo Brantas, Inc. Erupsi pertama tersebut diikuti beberapa titik semburan lagi dalam radius 500 m di sekitar sumur BJP 1.

Gambar 2. : Lokasi semburan Lumpur Sidoarjo.

Sumber: IAGI, Pembelajaran dari Erupsi Lumpur di Sekitar Lokasi Sumur Banjar Panji-1, 2006.

Kronologi erupsi lumpur panas :

(16)

sebagian penduduk Dusun Siring Tangunan dan Dusun Renomencil berjumlah 188 KK atau 725 Jiwa terpaksa mengungsi ke Balai Desa Renokenongo dan Pasar Baru Porong.

2. Pada tanggal 7 Juni 2006, semburan lumpur panas semakin membesar dan mulai mendekati pinggir bagian Timur di Desa Siring sehingga mengancam pemukiman penduduk di desa tersebut. Kondisi ini terus memprihatinkan karena semakin hari debit lumpur yang keluar dari perut bumi semakin membesar hingga akhirnya pada 7 Juli 2006, lumpur mulai menggenangi areal pemukiman penduduk dusun Renomencil Desa Renokenongo dan Dusun Siring Tangungan, Desa Siring. Akibat dari peristiwa ini 993 KK atau 3815 Jiwa terpaksa mengungsi ke Pasar Baru Porong, atau ke rumah-rumah sanak famili yang tersebar di sejumlah tempat.

3. 10 Juli 2006, lumpur mulai menggenangi areal persawahan bagian Selatan lokasi semburan yang berbatasan dengan Desa Jatirejo, di kawasan itu juga terdapat sejumlah pabrik.

4. 12 Juli 2006 lumpur panas mulai menggenangi areal pemukiman Desa Jatirejo dan Kedungbendo akibat tanggul-tanggul penahan lumpur di Desa Renokenongo dan Siring tidak mampu menahan debit lumpur yang semakin membesar.

(17)

telepon). Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit .

6. Memasuki akhir September 2006, Desa Jatirejo Wetan termasuk di sini dusun Jatianom, Siring Tangunan dan Kedungbendo, tenggelam akibat tanggul penahan lumpur di desa Siring dan Renokenongo kembali jebol.

7. 22 November 2006, pipa gas milik Pertamina meledak, yang menyebabkan 14 orang tewas (pekerja dan petugas keamanan) dan 14 orang luka-luka . Peristiwa meledaknya pipa Pertamina diceritakan oleh penduduk seperti kiamat karena ledakan yang sangat keras dan api ledakan yang membumbung sampai ketinggian 1 kilo meter. Penduduk panik dan berlarian tak tentu arah. Suasana sangat mencekam dan kacau balau . Sebelumnya telah ada peringatan bahwa akibat amblesnya tanggul yang tidak kuat menahan beban menyebabkan pipa tertekan sehingga dikhawatirkan akan meledak. Namun peringatan ini tidak diindahkan oleh pihak Pertamina. Peristiwa ini juga mengakibatkan tanggul utama penahan lumpur di desa Kedungbendo rusak parah dan tidak mampu menahan laju luapan lumpur. Dari peristiwa tersebut sejumlah desa di wilayah utara desa tersebut seperti, Desa Kali Tengah dan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera Kecamatan Tanggulangin, mulai terancam akan tergenang lumpur.

8. 6 Desember 2006, Perumtas I dan II tergenang lumpur dengan ketinggian yang beragam. Di laporkan lebih dari 2000 jiwa harus mengungsi ke Pasar Baru Porong.

9. Memasuki Januari 2007, Perumtas I dan II sudah terendam seluruhnya.

(18)

11. 10 Januari 2008, Desa Ketapang Barat dan Siring Barat terendam air dan lumpur akibat tanggul di sebelah Barat yang berdekatan dengan jalan raya Malang-Surabaya jebol karena tidak mampu menahan lumpur yang bercampur dengan air hujan. Dilaporkan sekitar lebih dari 500 orang mengungsi ke Pasar Porong atau ke sanak keluarga mereka yang terdekat.

12. Dengan demikian sampai November 2008, terdapat 18 desa yang tenggelam dan/ atau terendam dan/ atau tergenang lumpur, yang meliputi: Desa Renokenongo, Jatirejo, Siring, Kedung Bendo, Sentul, Besuki, Glagah Arum, Kedung Cangkring, Mindi, Ketapang, Pajarakan, Permisan, Ketapang, Pamotan, Keboguyang, Gempolsari, Kesambi, dan Kalitengah.

(sumber: Wakil Kepala Bidang Eksternal Komnas HAM Nur Kholis)

C. Prakiraan Penyebab Kejadian

Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret 2006 dengan menggunakan perusahaan kontraktor pengeboran PT Medici Citra Nusantara. Kontrak itu diperoleh Medici atas nama Alton International Indonesia, Januari 2006, setelah menang tender pengeboran dari Lapindo senilai US$ 24 juta.

Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan dipasang selubung bor (casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum pengeboran menembus formasi Kujung.

Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo “sudah” memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki (Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka “belum” memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki).

(19)

mengasumsikan zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpurnya Lapindo (Medici).

Gambar 3. Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)

Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.

(20)

dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran

berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pemboran MIGAS di Indonesia setiap tindakan harus seijin BP MIGAS, semua dokumen terutama tentang pemasangan casing sudah disetujui oleh BP MIGAS.

Dalam AAPG 2008 International Conference & Exhibition dilaksanakan di Cape Town International Conference Center, Afrika Selatan, tanggal 26-29 Oktober 2008, merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh American Association of Petroleum Geologists (AAPG) dihadiri oleh ahli geologi seluruh dunia, menghasilan pendapat ahli: 3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung gempa yogya sebagai penyebab, 42 (empat puluh dua) suara ahli menyatakan pemboran sebagai penyebab, 13 (tiga belas) suara ahli menyatakan kombinasi gempa dan pemboran sebagai penyebab, dan 16 (enam belas suara) ahli menyatakan belum bisa mengambil opini. Laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan tertanggal 29 Mei 2007 juga menemukan kesalahan-kesalahan teknis dalam proses pemboran.

D. Mud Volcano

(21)

dunia, terutama para geolog (bekas) Uni Soviet. Mud volcano menjadi sangat penting dalam kajian geologi, tak lain dan tak bukan karena keberadaannya yang sering berasosiasi dengan cebakan minyak dan gas bumi. Akan tetapi, meskipun sudah menjadi objek studi para saintis selama puluhan tahun, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai mud volcano.

(22)

Gambar 4: Struktur dasar dan elemen utama sebuah mud volcano yang berbentuk kerucut. Diolah dari Dimitrov, 2002.

E. Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup no. 32 tahun 2009 menetapkan mengenai hak, kewajiban dan wewenang, yaitu hak dan kewajiban yang ada pada setiap orang serta kewajiban yang ada pada Pemerintah, demikian pula wewenang pengaturan yang ada pada pemerintah serta hak masyarakat untuk berperan serta. Salah satu dari hak tersebut yaitu hak atas lingkungan hidup yang baik yang tercantum dalam pasal 65 ayat 1 UUPLH berbunyi :

(23)

Heinhard Steiger c.s menyatakan, bahwa apa yang dinamakan hak-hak subyektif (subjektif rights) adalah bentuk yang paling luas dari perlindungan seseorang. Hak tesebut memberikan kepada yang mempunyainya suatu tuntutan yang sah guna meminta kepentingannya akan sesuatu lingkungan hidup yang baik dan sehat itu dihormati, suatu tuntutanyang dapat didukung oleh prosedur hukum kaitannya dengan lingkungan, dengan perlindungan hukum oleh pengadilan dan perangkat-perangkat lainnya.

Begitu pula yang terjadi dalam kasus Lumpur Lapindo. Tuntutan tersebut mempunyai 2 fungsi yang berbedan yaitu sebagai berikut :

a. The function of defense b. The function of performance

(Steiger c.s., 1980:3)

Fungsi yang pertama yaitu yang dikaitkan pada hak membela diri terhadap gangguan dari luar yang menimbulkan kerugianpada lingkungannya, dan fungsi kedua yaitu yang dikaitkan pada hak menuntut dilakukannyasesuatu tindakan agar lingkungannya dapat dilestarikan, dipulihkan atau diperbaiki. Hak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik sebagaimana tertera dalam berbagai konstitusi dikaitkan dengan kewajiban untuk melindungi lingkungan hidup. Ini berarti bahwa lingkungan hidup dengan sumber-sumber dayanya adalah kekayaan bersama yang dapat digunakan setiap orang, yang harus dijaga untuk kepentingan masyarakat dan untuk generasi-generasi mendatang. Perlindungan lingkungan hidup dan sumber daya alamnya dengan demikian mempunyai tujuan ganda yaitu melayanai kepentingan masyarakat secara keseluruhan dan melayani kepentingan individu.

Dengan mengacu pada pasal ini seharusnya kebijakan yang diambil pemerintah yaitu dengan memperhitungkan hak masyarakat atas lingkungan hidup. Yaitu menjamin penuh setiap kegiatan yang berhubungan dengan eksplorasi dan ekploitasi tidak akan menyebabkan degradasi lingkungan dan kerugian bagi masyarakat.

Adapun respon dari pemerintah yaitu berupa penetapan kebijakan berupa : 1. Keputusan Presiden no. 13 tahun 2006 (Lampiran)

(24)
(25)

BAB III PENYAJIAN DATA

A. Peta Administrasi

Gambar 5: Peta administrasi Kabupaten Sidoarjo.

B. Dampak Lingkungan Luapan Lumpur

(26)

daya. Eksternalitas positif adalah manfaat yang diperoleh pihak ketiga selain pembeli dan penjual yang tidak dinyatakan dalam harga. Contohnya adalah keberadaan untuk pencegahan api, karena pembelian alarm rokok dan bahan tahan api bermanfaat untuk mengurangi resiko kebakaran (Hyman, 2005: 97-98). Faktor eksternal memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap nilai properti rumah tinggal. Hal tersebut terjadi karena rumah tinggal memiliki karakteristik immobile, sehingga menyebabkan pengaruh eksternal lebih kuat terhadap properti dibandingkan barang ekonomis, jasa atau komoditas lainnya. Eksternalitas dapat berupa penggunaan atau atribut fisik dari properti yang berlokasi dekat dengan properti lain atau kondisi ekonomi yang mempengaruhi pasar di mana properti berkompetisi. Eksternalitas negatif terjadi ketika pemilik properti merasa tidak nyaman akibat tindakan yang dilakukan oleh pihak lain seperti adanya limbah berbahaya di sekitar properti yang diketahui oleh masyarakat dan menyebabkan nilai properti menurun (Prawoto, 2003: 98-99). Menurut Simons dan Saginor (2006: 71) salah satu bentuk eksternalitas adalah kontaminasi lingkungan (environmental contamination) yang memiliki pengaruh negatif terhadap nilai properti perumahan. Sumber dari kontaminasi tersebut seperti kebocoran tangki pembuangan limbah, polusi air dan udara, saluran tegangan tinggi, tenaga nuklir, dan lain sebagainya.

Dampak atau efek dari semburan lumpur panas dari pengeboran pada Sumur Banjar Panji-1 secara umum dapat dilihat dari dua hal yaitu adanya tumpahan atau luberan material cair berupa lumpur dalam volume yang sangat besar maupun adanya dugaan kandungan yang terdapat dalam material cair tersebut.

a. Volume lumpur

(27)

Gambar 6 : Lokasi Kolam Penampungan Lumpur.

Sumber : United Nations, Environment Assessment Hot Mudflow East Java, Indonesia, Juli 2006

b. Karakteristik Lumpur

(28)

Walaupun survei selanjutnya yang dilakukan oleh Lapindo menunjukkan bahwa lumpur tidak mengandung bahan beracun dan aman untuk digunakan atau dibuang.

c. Hasil Uji Lumpur

Berdasarkan pengujian toksikologis di 3 laboratorium terakreditasi (Sucofindo, Corelab dan Bogorlab) diperoleh kesimpulan ternyata lumpur 108 Davies et al. 2007; dalam makalah Mazzani et al 2007, United Nation (UN) 2006 Report. Sidoarjo tidak termasuk limbah B3 baik untuk bahan anorganik seperti Arsen, Barium, Boron, Timbal, Raksa, Sianida Bebas dan sebagainya, maupun untuk untuk bahan organik seperti Trichlorophenol, Chlordane, Chlorobenzene, Chloroform dan sebagainya. Hasil pengujian menunjukkan semua parameter bahan kimia itu berada di bawah baku mutu. Tabel 1. Hasil Uji Laboratorium Terhadap Lumpur Lapindo

Beberapa hasil pengujian

Parameter Hasil uji Baku Mutu

(PP Nomor 18/1999)

Trichlorophenol 0,017 Mg/L 2 Mg/L (2,4,6 Trichlorophenol)

(29)

laut. Jika nilai LC50 lebih besar dari 30.000 Mg/L SPP, lumpur dapat dibuang ke perairan.

d. Hasil Penelitian Tanah

(30)

e. Dampak Sosial Ekonomi

Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Lumpur panas Lapindo selain mengakibatkan kerusakan lingkungan, dengan suhu rata-rata mencapai 60 derajat celcius juga bisa mengakibatkan rusaknya lingkungan fisik masyarakat yang tinggal disekitar semburan lumpur. Rusaknya lingkungan fisik tersebut sudah dirasakan berbagai pihak selama ini antara lain lumpuhnya sektor industri di Kabupaten Sidoarjo. Sebagai mana kita ketahui Sidoarjo merupakan penyangga Propinsi Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya dalam sektor industri. Sekitar 30 sektor usaha tidak dapat beroperasi sebagai akibat hilangnya tempat usaha sehingga terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja kehilangan mata pencaharian sebagai akibat dampak bencana tersebut.

a. Lumpuhnya sektor ekonomi sebagai akibat rusaknya infrastruktur darat seperti rusaknya jalan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu jalur Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong yang berakibat pula pada aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.

b. Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan dan jalur ekonomi darat lainnya seperti jalur transportasi kereta api dll.

c. Kerugian di sektor lain seperti pertanian, perikanan darat dll. Sejauh ini sudah diidentifikasi luas lahan pertanian berupa lahan sawah yang mengalami kerusakan, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Soetarto Alimoeso area pertanian di Sidoarjo, Jawa Timur, yang terkena luapan lumpur Lapindo seluas 417 hektar. Jumlah ternak yang terkena dampak luapan lumpur adalah 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang. d. Dampak sosial kehidupan masyarakat disekitar seperti :

(31)

• Tidak berfungsinya sarana dan prasarana publik seperti sarana pendidikan akibat rusaknya bangunan sekolah sebanyak 18 buah (7 sekolah negeri).

• Sarana air bersih sebagai akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur yang mengakibatkan rusaknya pipa air milik PDAM Surabaya. Sarana beribadah seperti masjid dan mushola yang mengalami kerusakan sebanyak 15 unit.

• Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawaijuga terancam tak bekerja

• Rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik,telepon, jalur transportasi darat seperti kereta api). Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.

• Rusaknya pipa gas milik Pertamina sebagai akibat adanya penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam.

e. Selain dampak kerusakan langsung yang disebabkan adanya luberan lumpur dalam volume yang cukup besar, luapan lumpur tersebut juga mempunyai dampak terhadap kesehatan masyarakat yang ada disekitar lokasi bencana. Efek samping lumpur bagi kesehatan manusia bisa berupa efek langsung maupun tidak langsung. Lily Pujiastuti, Sekretaris Pusat Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) di LPPM ITS Surabaya mengatakan bahwa efek langsung lumpur panas menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan iritasi kulit. Lebih lanjut dijelaskan bahwa lumpur tersebut juga mengandung bahan karsinogenik yang bila berlebihan menumpuk dalam tubuh dapat menyebabkan kanker dan akumulasi yang berlebihan pada anak-anak akan mengakibatkan berkurangnya kecerdasan.

(32)

Tabel 2. Daftar siswa yang diungsikan

Tabel 3. Catatan mengenai kesehatan

(33)

BAB IV

TINJAUAN KRITIS PENANGANAN OLEH PEMERINTAH

A. Posisi Kasus

Ditetapkannya kebijakan di bidang penanganan kasus Lumpur Lapindo, pada bagian ini akan dijelaskan mengenai perkembangan Peraturan Presiden terkait lumpur Lapindo. Adapun Peraturan-peraturan tesebut adalah :

1. KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN

2006 TENTANG TIM NASIONAL PENANGGULANGAN SEMBURAN LUMPUR DI SIDOARJO

Adapun inti dari keputusan ini yang akan ditelaah yaitu :

• PERTAMA : Membentuk Tim Nasional Penganggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo, yang selanjutnya dalam Keputusan Presiden ini disebut Tim Nasional.

• KETIGA : Tim Nasional mempunyai tugas untuk mengambil langkah-langkah operasional secara terpadu dalam rangka penanggulangan semburan lumpur di Sidoarjo yang meliputi :

a. penutupan semburan lumpur; b. penanganan luapan lumpur; c. penanganan masalah sosial.

• KEENAM : Biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas Tim Nasional dibebankan pada anggaran PT. Lapindo Brantas.

2. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO

Adapun inti dari keputusan ini yang akan ditelaah yaitu : • Pasal 1

(34)

(2) Badan Penanggulangan bertugas menangani upaya penanggulangan semburan lumpur, menangani luapan lumpur, menangani masalah sosial dan infrastruktur akibat luapan lumpur di Sidoarjo, dengan memperhatikan risiko lingkungan yang terkecil.

• Pasal 14

(1) Biaya administrasi Badan Penanggulangan didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) .

• Pasal 15

( 1) Dalam rangka penanganan masalah sosial kemasyarakatan, PT Lapindo Brantas membeli tanah dan bangunan masyarakat yang terkena luapan lumpur Sidoarjo dengan pembayaran secara bertahap, sesuai dengan peta area terdampak tanggal 22 Maret 2007 dengan akta jual-beli bukti kepemilikan tanah yang mencantumkan luas tanah dan lokasi yang disahkan oleh Pemerintah. (2) Pembayaran bertahap yang dimaksud, seperti yang telah disetujui dan dilaksanakan pada daerah yang termasuk dalam peta area terdampak 4 Desember 2006, 20% (dua puluh perseratus) dibayarkan dimuka dan sisanya dibayarkan paling lambat sebulan sebelum masa kontrak rumah 2 (dua) tahun habis.

(3) Biaya masalah sosial kemasyarakatan di luar peta area terdampak tanggal 22 Maret 2007, setelah ditandatanganinya Peraturan Presiden ini, dibebankan pada APBN

(5) Biaya upaya penanggulangan semburan lumpur terrnasuk di dalamnya penanganan tanggul utama sampai ke Kali Porong dibebankan kepada PT Lapindo Brantas.

(6) Biaya untuk upaya penanganan masalah infrastruktur termasuk infrastruktur untuk penanganan luapan lumpur di Sidoarjo, dibebankan kepada APBN dan sumber dana lainnya yang sah.

3. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN

2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR

SIDOARJO

(35)

(1) Dalam rangka penanganan masalah sosial kemasyarakatan, PT Lapindo Brantas membeli tanah dan bangunan masyarakat yang terkena luapan lumpur Sidoarjo dengan pembayaran secara bertahap, sesuai dengan Peta Area Terdampak tanggal 22 Maret 2007 dengan akta jual-beli bukti kepemilikan tanah yang mencantumkan luas tanah dan lokasi yang disahkan oleh Pemerintah.

(2) Pembayaran secara bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat (1), seperti yang telah disetujui dan dilaksanakan pada daerah yang termasuk dalam Peta Area Terdampak tanggal 4 Desember 2006, 20% (dua puluh per seratus) dibayarkan di muka dan sisanya dibayarkan paling lambat sebulan sebelum masa kontrak rumah 2 (dua) tahun habis.

(3) Dihapus.

(5) Biaya upaya penanggulangan semburan lumpur, termasuk di dalamnya penanganan tanggul utama sampai ke Kali Porong, dibebankan kepada PT Lapindo Brantas.

(6) Biaya upaya penanganan masalah infrastruktur, termasuk infrastruktur untuk penanganan luapan lumpur di Sidoarjo, dibebankan kepada APBN dan sumber dana lainnya yang sah.”

Di antara Pasal 15 dan Pasal 16 disisipkan 3 (tiga) pasal, yakni Pasal 15 A, Pasal 15 B, dan Pasal 15 C yang berbunyi sebagai berikut:

• Pasal 15 A

Biaya penanganan masalah sosial kemasyarakatan di luar Peta Area Terdampak tanggal 22 Maret 2007 dibebankan pada APBN.

• Pasal 15 B

(1) Wilayah penanganan luapan lumpur di luar Peta Area Terdampak tanggal 22 Maret 2007 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 A adalah di Desa Besuki, Desa Pejarakan, dan Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, dengan batas-batas sebagai berikut :

o sebelah utara : tanggul batas Peta Area Terdampak

o sebelah timur : jalan tol ruas Porong – Gempol

o sebelah selatan : Kali Porong

(36)

(3) Dalam rangka pengananan masalah sosial kemasyarakatan di wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan pembelian tanah dan bangunan di wilayah tersebut dengan akta jual beli bukti kepemilikan tanah yang mencantumkan luas tanah dan lokasi yang disahkan oleh Pemerintah.

(4) Jual beli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat khusus sehingga tidaK berlaku ketentuan dasar perhitungan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006.

(5) Pembayaran penanganan masalah sosial kemasyarakatan di wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap dengan skema 20% (dua puluh per seratus) pada Tahun Anggaran 2008 dan sisanya mengikuti tahapan setelah dilakukannya pelunasan oleh PT Lapindo Brantas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2).

(6) Dana penanganan masalah sosial kemasyarakatan yang berupa bantuan sosial dan pembelian tanah dan bangunan diterimakan kepada masyarakat di 3 (tiga) desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), besarannya dimusyawarahkan dengan mempertimbangkan rasa keadilan oleh Badan Pelaksana BPLS dengan mengacu pada besaran yang dibayarkan oleh PT Lapindo Brantas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

(7) Tata laksana pembayaran penanganan masalah sosial kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan Pelaksana BPLS.

4. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PRESIDEN

NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO

Adapun inti dari keputusan ini yang akan ditelaah yaitu : • Pasal 9

(37)

(5) Dihapus.

(6) Biaya upaya penanggulangan semburan lumpur, pengaliran lumpur ke Kali Porong, penanganan infrastruktur, termasuk infrastruktur penanganan luapan lumpur di Sidoarjo, dibebankan kepada APBN dan sumber dana lainnya yang sah.

(7) Biaya tindakan mitigasi yang dilakukan oleh Badan Pelaksana BPLS untuk melindungi keselamatan masyarakat dan infrastruktur dibebankan kepada APBN.

B. Pembahasan Analisis Kasus

Melalui berbagai analisis mengenai Lumpur Lapindo dan sebab-akibat maka Pemerintah mengeluarkan kebijakan pada tahun 2006 yaitu berupa Keputusan Presiden no. 13 tahun 2006 yaitu tentang Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo. Keputusan ini dibuat dalam rangka penanggulangan semburan lumpur di sekitar Sumur Banjar Panji-1, Sidoarjo, Jawa Timur, yaitu perlu dilaksanakan langkah-langkah penyelamatan penduduk di sekitar daerah bencana, menjaga infrastruktur dasar dan penyelesaian masalah semburan lumpur dengan memperhitungkan resiko lingkungan yang paling kecil. Susunan keanggotaan Tim Nasional ini dipimpin oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral yang ditunjuk oleh Presiden. Dalam keputusan tersebut dikatakan bahwa tindakan penanggulangan yaitu dengan penutupan semburan, penanganan luapan lumpur dan penanganan masalah sosial.

(38)

Sementara luapan lumpur dari hari kehari semakin memperbesar area yang tergenang, dan juga masyarakat sekitar harus segera beranjak dari tempat tinggal mereka terkait bahaya dari ledakan maupun ke kesehatan masyarakat. Penderitaan masyarakat akibat tidak bisa menerima hak untuk memperoleh lingkungan yang sehat dan baik semakin menjadi karena mereka hanya bisa menunggu peran serta pemerintah menjamin kehidupan mereka. Dikatakan bahwa pemerintah belum mempunyai anggaran untuk membantu pihak PT. Lapindo Brantas menalangi sementara kerugian yang diderita warga.

Kebijakan Pemerintah mengenai lumpur Lapindo yang ke II yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 yang diterbitkan untuk pembentukan Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo. Hal ini menimbang dampak luapan lumpur yang semakin luas; langkah penyelamatan penduduk, penanganan masalah sosial dan infrastruktur akibat bencana; dan pembentukan Badan Penanganan Lumpur Lapindo dengan berakhirnya masa tugas Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur. Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo ini dipimpin oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU) yang bertindak sebagai dewan pengarah.

Pada Perpres ini semua biaya Administrasi Badan Penanggulangan didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang berarti seluruh rakyat Indonesia berpartispasi dan bertanggung jawab terhadap bencana ini. Hal ini seharusnya tidak terjadi jika Pemerintah memang teliti dan melihat kronologis kejadian penyebab luapan lumpur di kawasan ini, yaitu PT. Lapindo Brantas adalah pelaku dari kejadian bencana ini. Seperti disebutkan oleh American Association of Petroleum Geologists (AAPG) bahwa “3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung gempa yogya sebagai penyebab, 42 (empat puluh dua) suara ahli menyatakan pemboran sebagai penyebab,

13 (tiga belas) suara ahli menyatakan kombinasi gempa dan pemboran sebagai

penyebab, dan 16 (enam belas suara) ahli menyatakan belum bisa mengambil opini.”

(39)

terjadinya karena runtuhnya (collapse) formasi tanah (upper Kalibeng) yang merupakan zona lumpur pada kedalaman 4000-6000 kaki. Pada lapisan ini terdapat tekanan hidrostatik dan tekanan lain dari poripori batuan yang ada. Program drilling yang telah dipersiapkan memberikan petunjuk bahwa pada formasi Top Kujung (lapisan batu gamping) dipasang “casing ”. Sampai kedalaman 9000 kaki tercatat masih terus dilakukan pengeboran dengan “ run casing ”, baru pada kedalaman 9297 kaki diketahui telah terjadi kehilangan sirkulasi secara total, lubang sumur menjadi tidak stabil. Pada posisi ini, sebetulnya masih bisa diatasi dengan mengorbankan sumur yang sedang di bor dengan memompa semen kedalamnya (well plug) supaya tekanan dari bawah tidak berhubungan dengan lumpur cair di lapisan Kalibeng, yang pada gilirannya akan mendesak lumpur cair ini ke permukaan, seperti yang terlihat saat ini.

(40)

terhingga yang dirasakan masyarakat. Hal seperti di atas tidak diakomodir oleh keputusan tersebut.

(41)
(42)

yang masuk ke dalam perjanjian ganti rugi dan sebagian wilayah lain tidak termasuk ke dalam wilayah yang terdampak.

Desa besuki adalah salah satu dari tiga desa yang dimasukkan dalam area peta terdampak lewat Perppres no. 48/2008, yang akan mendapat ganti rugi dari APBN-P. Beberapa hal yang membuat ambigu dan tidak membawa suasana lega pada warga desa tersebut yaitu hal pertama adalah hanya desa Besuki Barat yang dimasukkan dalam peta area terdampak—sementara desa Besuki Timur yang dipisahkan oleh eks-jalan tol Gempol dengan Besuki Barat, tidak termasuk di dalamnya.Hal kedua adala belum adanya kepastian waktu ganti rugiu ntuk proses jual beli tersebut dibayarkan, dan hal ketiga yaitu harga jual beli tanah dan bangunan pun belum ditetapkan oleh pemerintah.

Kejadian di mana sebuah desa tidak seluruhnya dimasukkan ke dalam peta area terdampak bukan sekali ini saja terjadi. Dalam kejadian tersebut selalu saja menimbulkan dampak langsung yang jelas memecah belah dan merugikan kehidupan masyarakat. Desa-desa lain yang terpecah antara di dalam peta dan bukan di dalam peta antara lain: Glagah Arum, Gempol Sari, Jatirejo, dan Siring. beberapa desa yang terpecah ini tidak selalu jelas alasan pembagiannya kenapa sebagian wilayahnya dimasukkan ke dalam peta dan yang lain tidak. Ketidakjelasan inilah yang memicu kecemburuan di antara warga dan menjadi biang kehancuran kohesi sosial di masyarakat.

(43)

Berdasarkan kenyataan ini, maka tentu sangat dipahami jika korban lumpur merasakan bahwa tidak ada pilihan selain mengikuti ketentuan sebagaimana diatur dalam Perpres No. 14 Tahun 2007 yang kemudian diperbarui dengan Perpres No. 48 Tahun 2008 guna mendapatkan penyelesaian hukum atas terlanggarnya hak-hak mereka tersebut. Namun –lagi-lagi- ironisnya, persoalan penyelesian hak-hak korban lumpur tidak juga mendapatkan titik terang walaupun hampir keseluruhan korban telah melakukan pengikatan jual-beli dengan pihak Lapindo sebagaimana diamanatkan dalam Perpres, hal ini terbukti dengan masih belum tuntasnya pembayaran lahan dan bangunan milik warga korban oleh pihak Lapindo Brantas bahkan hingga melampaui jangka waktu pelunasan pembayaran sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat 2 Perpres No. 14 Tahun 2007 dan Perpres No. 48 Tahun 2008 yakni maksimal selama 23 bulan. Atas realita ini, maka pihak Lapindo Brantas jelas-jelas telah melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Perpres (walaupun Perpres itu sendiri juga melanggar hukum), dan Presiden selaku pihak yang mengeluarkan Perpres tidak melakukan upaya perlindungan hukum apapun bagi korban lumpur berkaitan dengan realita dilanggarnya ketentuan Perpres oleh pihak Lapindo ini. Hal ini tentu sangat jelas menggambarkan betapa nihilnya perlindungan hukum bagi korban lumpur, ribuan warga negara Indonesia yang telah terlanggar hak-hak konstitusionalnya selama 3 tahun ini.

(44)

Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 15 ayat 6 yang masih menyatakan bahwa Pengaliran dan Penanggulangan Lumpur melalui Kali Porong dibebankan kepada PT Lapindo Brantas, termasuk biaya tindakan mitigasi yang dilakukan Badan Pelaksana BPLS dalam ayat 7 juga akan ditanggungkan ke dalam APBN. Dalam perkembangannya hal ini sangat merugikan pihak rakyat Indonesia sebagai penanggung beban dari biaya perbaikan dan rehabilitasi lumpur Lapindo. Berdasarkan perkembangan dari peraturan ke peraturan selalu mengalami kemunduran perlindungan hak bagi masyarakat Indonesia dan penegakan hukum yaitu dibuktikan dengan pihak PT Lapindo Brantas hanya mempunyai tanggung jawab sebatas penanganan masalah sosial kemasyarakatan dalam area terdampak per 22 Maret 2007.

Seharusnya Pemerintah lewat berbagai kebijakannya adalah memberi dan memastikan perlindungan hukum bagi masyarakat Indonesia mengenai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pemerintah Indonesia harus memastikan Pihak Pencemar mampu menerapkan konsep tanggung jawab mutlak seperti yang dikemukakan oleh James E. Krier mengenai tanggung jawab mutlak dapat merupakan bantuan yang sangat besar dalam peradilan mengenai kasus-kasus lingkungan, karena banyak kegiatan-kegiatan yang menurut pengalaman menimbulkan kerugian terhadap lingkungan merupakan tindakan-tindakan yang berbahaya.

(45)

Untuk mengurangi dampak negatif pendangkalan Kali Porong, akan dilakukan pengerukan dasar Kali Porong secara berkala sehingga dapat dicegah terjadinya pendangkalan sungai pada tingkat yang menyebabkan timbulnya banjir. Penimbunan dasar Kali Porong dengan lumpur panas Sidoardjo diperkirakan oleh para pakar dapat memperlancar arus air dan mengurangi proses sedimentasi, sampai batas tertentu. Bila batas pendangkalan tersebut terlampaui, akan terjadi kerusakan lingkungan. Pendangkalan tersebut akan meningkatkan intensitas banjir pada musim hujan dan pencemaran tambak ikan dan udang di sepanjang dan di muara Kali Porong. Untuk mengurangi dampak negatif pemanfaatan Kali Porong sebagai saluran pembuangan lumpur bagi masyarakat pemanfaat air Kali Porong, diusulkan agar sebagian aliran air di Kali Porong disalurkan lewat pipa atau saluran terbuka pada bagian hulu sebelum titik pembuangan lumpur untuk menjamin pasokan air bagi keperluan irigasi dan pertambakan masyarakat di bagian hilirnya. Studi beberapa pakar dari perguran tinggi di Jawa Timur menemukan bahwa air laut di Selat Madura hanya mengalir bolak-balik dari Barat ke Timur dan dari Timur ke Barat sesuai dengan pasang naik dan pasang surutnya perairan Selat Madura. Puluhan ribu masyarakat kabupaten Sidoarjo, kabupaten Pasuruan, kotamadya Surabaya dan mungkin kabupaten Probolinggo yang hidupnya bergantung pada tambak udang dan ikan akan terancam sumber kehidupannya. Berkurangnya pendapatan nelayan yang menangkap ikan lemuru, ikan layang dan ikan tongkol sejak belasan kilometer di timur muara Kali Porong sampai ke sebelah Timur Selat Madura, adalah dampak yang sangat mungkin dirasakan sejak pertengahan tahun 2007, apabila lumpur Sidoardjo dib uang ke Selat Madura.

(46)
(47)

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil kajian kritis terhadap kebijakan pemerintah mengenai lumpur Lapindo yang terdapat dalam Keppres 13/2006, Perpres 14/2007, Perpres 48/2008 hingga Perpres 40/2009 yaitu didapatkan simpulan :

1. Bahwa kebijakan pemerintah sangat merugikan rakyat Indonesia karena pembebanan penanganan sosial di luar area terdampak, biaya penanggulangan lumpur ke Kali Porong, penanganan infrastruktur dibebankan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

2. Bahwa kebijakan pemerintah sangat merugikan warga yang terkena dampak karena putusan pembayaran ganti-rugi atas kerusakan tanah dan tempat tinggal didasarkan atas akta jual beli kepemilikan.

3. Bahwa kebijakan pemerintah sangat merugikan warga yang terkena dampak karena penggantian ganti rugi hanya atas dasar putusan pemerintah di satu pihak, sehingga tidak ada persetujuan sebelumnya dari warga.

4. Bahwa kebijakan Perpres No. 14 Tahun 2007 dan Perpres No. 48 Tahun 2008 yang mengatur jual-beli tanah antara warga korban dengan pihak Lapindo Brantas bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yaitu dalam hal ini ketentuan pasal 26 ayat 2 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

5. Bahwa kebijakan pemerintah tidak melindungi kepentingan masyarakat luas akan hak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik seperti yang tercantum dalam UUPLH Nomor 32 Tahun 2009.

B. Saran

Berdasarkan hasil kajian dalam tulisan ini penulis penulis mempunyai pemikiran bahwa :

(48)

2. Dalam kebijakannya pemerintah harus mempertimbangkan hak manusia untuk mendapat lingkungan yang sehat dan baik.

3. Kebijakan pemerintah harus bersifat adil dan melindungi warganya

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Rianto, 2005, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Granit. Jakarta. Afandi, Agus, dkk., 2005, Catatan Pinggir di Tiang Pancang Suramadu, Arrus. Yogyakarta.

Akbar, A. A. 2007. Konspirasi di Balik Lumpur Lapindo. Percetakan Galang Press. Yogyakarta.

Effendi Lotulung, Paulus, 1993, Penegakan Hukum Lingkungan Oleh Hakim Perdata, Citra Aditya Bakti. Bandung.

Hamzah, Andi, 2005, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika. Jakarta.

Hardjasoemantri, Koesnadi. 2002. Hukum Tata Lingkungan. Gadjah Mada university Press Yogyakarta.

Hardjasoemantri, Koesnadi.1996. Sebuah Studi tentang KANKYO KIHON HO 1993 (Undang-Undang Lingkungan Hidup Jepang 1993). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Kumpulan Analisis Lumpur Lapindo, http://www.scribd.com/doc/24578342/Kumpulan-Analisis-Bencana- Lumpur-Lapindo-1

McEldowney, John F. & McEldowney, Sharron, 2006, Environment and The Law ( an introduction for environmental scientists and lawyers), Prentice Hall. London.

Nasution, Bismar, Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya, http://bismar.wordpress.com/2009/12/23/kejahatan-korporasi/

Rifai, Rachman. 2009. Spatial Modeling and Elements at Risk Assesment of Sidoarjo Mud Volcanic Flow. Graduate School Gadjah Mada University Yogyakarta.

Simpson, Sally S., Strategy, Structure and Corporate Crime, 4 Advances in Criminological Theory 171 (1993).

Soesanto, L.C, Universitas Diponegoro, The Spectrum of Corporate Crime in Indonesia, http://www.aic.gov.au/publications/proceedings/12/soesanto.pdf

United Nations, 2006, “Environment Assessment Hot Mudflow East Java, Indonesia”, Final Technical Report: United Nations Disaster Assessment and Coordination mission in June and July 2006 and Follow-up mission in July 2006, Switzerland.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 13 TAHUN 2006

(50)

BIODATA DIRI

1. Nama Lengkap La Ode Muhammad Erif, S.Si. 2. Tempat Lahir/Tgl. Lahir Buton, 12 September 1987 3. Jenis kelamin Pria

4. A g a m a Islam

5. Status perkawinan Belum Kawin

6 Alamat Jl. Kaliurang Km. 5 , Gang Gayamsari II Rt I/RWII VIIIA

7 No Telp/HP 085756877200

1. Nama Lengkap Fenky Wirada, S.Hut. 2. Tempat Lahir/Tgl. Lahir Palangka Raya/21 Juni 1986 3. Jenis kelamin Pria

4. A g a m a Kristen 5. Status perkawinan Belum Kawin

Gambar

Gambar 1: Kelompok bisnis di belakang PT LBI (diolah dari berbagai sumber)
Gambar 2. : Lokasi semburan Lumpur Sidoarjo.
Gambar 3. Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)
Gambar 4: Struktur dasar dan elemen utama sebuah mud volcano yang berbentuk
+6

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah peradiasian plasma terhadap sampel pellet pakan sapi dari limbah tanaman jagung pada udara atmosfir dapat

Hasil penelitian bahwa kejadian keputihan pada wanita usia subur di Puskesmas Sosial didapatkan bahwa yang mengalami keputihan sebanyak 8 orang (25,8%), perilaku baik sebanyak

Sesuai yang dijelaskan oleh Tanuwidjaja (2009, h.41) bahwa salah satu karakteristik orang yang cerdas finansial adalah memiliki tujuan produktif. Tujuan produktif berarti

Dalam pengumpulan dan penganalisaan suatu data, salah satu langkah yang penting adalah menentukan objek yang akan diteliti terlebih dahulu, karena melalui

Berdasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya dapat diketahui bahwa perencanaan haji adalah proses pemikiran, baik secara garis besar maupun secara detail dari

Ayat Al-Quran menerangkan hal ini: “Barangsiapa mendapat pemaafan dari saudaranya, hendaklah mengikuti cara yang baik dan hendaklah (orang yang diberi maaf) membayar diat kepada

Hasil khusus tersebut membuktikan bahwa hipotesis alternatif (H 1 ) dari hubungan antara Kesadaran Membayar Pajak (X 1 ) dengan Kewajiban Membayar 3DMDN GDUL

Neraca kegiatan ekspor dan impor lantai kayu Perancis yang defisit menunjukkan bahwa Perancis lebih banyak membeli daripada menjual produk lantai kayu. Negara