POPULASI DAN SERANGAN KEPIK KUBIS, SERTA POTENSI PARASITOID TELURNYA PADA TANAMAN CAISIN
Rosdah Thalib, Adrizal Leka S., Siti Herlinda, Effendy TA, Triani Adam
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Jalan Raya Palembang-Prabumulih, km 32, Ogan Ilir 30662
Email :[email protected]
ABSTRACT
The objective of the research was to figure out the population, damage persentage, parasitoid species and parasitization level ofE. pulchrum on chinese cabage. The research was conducted in low land, South Sumatera. Data collection was done by direct observation on each sample plant every three days started when the plant aged three days until to its’ seed production phase. The observation consisted of E. pulchrum population, E. pulchrum damage persentage, egg parasitoid ofE. pulchrumand parasitation level ofE. pulchrumeggs. The results showed that the population ofE. pulchrum in experiment location were 0.04 nymphs per plant and 0.49 adults per plant. Damage persentage on leaves ofE. pulchrum was 3.94% at the highest. Damage on seed was 100% at the highest. The species of E. pulchrum egg parasitoid was Telenomussp. Family of Scelionidae with parasitation level ranged from 4.76 to 59.51%.
PENDAHULUAN
Kepik kubis (cabbage bug), Eurydema pulchrum (Westw.) (Hemiptera: Pentatomidae) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kubis dan kerabatnya (Brassicaceae). Kepik kubis ini memang belum terkenal seperti Plutella xylostella (Linn.) (Lepidoptera: Yponomeutidae) dan Crocidolomia pavonana (Zell.) (Lepidoptera: Pyralidae), namun saat ini hama ini telah menggeser posisi kedua hama utama tadi. Di pertanaman caisin, kepik kubis ini menyebabkan daun caisin layu, bunga dan buah kempis berwarna putih dan seperti hangus terbakar. Serangan berat menyebabkan daun-daun caisin membusuk, sedangkan bunga-bunga tidak dapat menghasilkan biji. Selain caisin, kepik ini dapat menyerang brokoli, kembang kol, sawi, petsai, dan sawi jabung. Hama ini dapat menyerang tumbuhan liar, seperti, kanola, (rape), sawi tanah atau sawi lemah, kardamin (Herlindaet al., 2006).
Kepik kubis, E. pulchrum telah menyebabkan kerusakan caisin hingga lebih dari 60%. Kepik dewasa dan pradewasa menghisap cairan daun sehingga daun memutih, lalu menyebabkan tanaman layu dan mati, dan bila polong yang dihisap menyebabkan biji kempis. Daun caisin yang dihisap kepik ini umumnya tidak laku dijual. Di dataran rendah Sumatera Selatan, kepik ini menghancurkan tanaman caisin untuk pembibitan (Herlinda & Thalib, 2006).
Selain dampak ekonomis, dampak sosial dan ekologis yang ditimbulkan kepik kubis ini adalah aplikasi insektisida secara berjadwal setiap tiga hari sekali di sentra sayuran dataran rendah di Sumatera Selatan. Walaupun kepik ini telah disemprot, namun populasinya tetap tinggi di pertanaman caisin tersebut dan bahkan penyemprotan menyebabkan kematian komponen ekosistem lainnya, seperti parasitoid atau predator (Herlinda et al., 2006). Pengendalian hama ini secara kimiawi ini sudah tidak layak lagi karena caisin merupakan produk
langsung sebagai sayuran daun. Oleh karena itu, fokus penelitian ditujukan pada pengembangan pengendalian hayati dengan pendekatan augmentasi dan konservasi.
Karena hama ini menyerang sayuran yang sering dikonsumsi dalam bentuk sayuran segar (lalapan), maka dalam pengendaliannya harus aman bagi konsumen. Untuk itu, alternatif yang lebih baik adalah pengendaliannya secara hayati.
Pada sentra sayuran dataran rendah di Sukarami, Kota Palembang musuh alami kepik kubis dari kelompok parasitoid, yaitu Telenomus sp. telah ditemukan Herlinda dan Thalib (2006) menyerang telur dan mampu menyebabkan parasitisasi mencapai 7-64%. Pemanfaatan parasitoid ini belum pernah dilakukan di sentra sayuran dataran rendah. Untuk itu, parasitoid tersebut perlu dimanfaatkan guna mengendalikan kepik kubis ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan baseline data populasi dan serangan kepik kubis pada tanaman caisin, dan mengamati potensi dan mengidentifikasi jenis-jenis parasitoid yang berasosiasi dengan telur kepik kubis (E. pulchrum) yang berasal dari berbagai jenis tanaman dari keluarga kubis-kubisan (Brassicaceae) di Sumatera Selatan.
BAHAN DAN METODE
Survei Parasitoid TelurE. pulchrumdi Berbagai Ketinggian Tempat
Survei Parasitoid. Eksplorasi parasitoid telur E. pulchrum dilakukan di berbagai
ketinggian tempat (5-1.500 m di atas permukaan laut, dpl) di sentra produksi sayuran di Sumatera Selatan, yaitu dataran tinggi Pagaralam dan sekitarnya (Tegur Wangi, Muarasiban, Pagardin, Bedeng Kresek), dataran sedang Lahat dan sekitarnya (Jarai, Kota Lahat), dan dataran rendah Palembang dan sekitarnya (Sukarami, Talang Buruk, Sako Kenten). Pengambilan contoh dilakukan pada daerah yang terserang berat maupun ringan karena dinamika populasi hama dapat mempengaruhi potensi musuh alaminya. Tingkat populasi hama yang tinggi dapat mengindikasikan ketidakefektifan musuh alaminya. Oleh karena itu, koleksi musuh alami selayaknya dilakukan juga di daerah yang tingkat seranganE. pulchrumrendah.
Telur contoh dari setiap lokasi dan setiap jenis Brassicaceae yang berbeda dimasukkan dalam tempat yang terpisah, dicatat lokasi, waktu pengambilan contoh dan jenis Brassicaceae. Telur contoh dimasukkan ke dalam tabung reaksi (diameter 1 cm dan tinggi 12 cm). Setiap pengambilan contoh dilakukan pendataan tentang jenis-jenis Brassicacaeae baik yang dibudidayakan maupun yang liar di setiap lokasi pengamatan. Imago parasitoid yang muncul dimasukkan dalam botol vial yang berisi alkohol 70%. Jumlah imago parasitoid dan nimfa E. pulchrum yang muncul dicatat guna menentukan tingkat parasitisasi telur dan penyebaran parasitoid telur dari berbagai ketinggian tempat. Parasitoid yang didapatkan selanjutnya diidentifikasi di bawah mikroskop di Laboratorium Entomologi, Jurusan HPT, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Identifikasi spesies parasitoid didasarkan atas ciri morfologinya menggunakan buku acuan Fitton & Walker (1992) dan Donaldet al.(2000).
Analisis Data. Data jenis (komposisi spesies) dan jumlah individu (kelimpahan) setiap
jenis parasitoid telur digunakan untuk menganalisis keanekaragaman dan dominasi spesies parasitoidE. pulchrum dari berbagai ketinggian lokasi. Ukuran keanekaragaman menggunakan indeks Shannon, dominasi spesies Berger-Parker dan kemerataan spesies parasitoid antar berbagai daerah geografis yang berbeda dianalisis menggunakan metode Magurran (1987).
Pengamatan Populasi dan SeranganE. pulchrumdi Pertanaman Caisin
Pengamatan Populasi dan Serangan. Penelitian dilakukan di sentra sayuran dataran
rendah, yaitu Sukarami, Palembang atau Inderalaya, Kabupaten Ogan Ilir. Luas petak tanaman contoh 400 m2. Petak tersebut dibagi menjadi empat sub-petak (empat sub-petak = empat ulangan), masing-masing seluas 100 m2. Kelimpahan populasi imago E. pulchrum diamati langsung pada rumpun tanaman caisin contoh (10% dari populasi tanaman) karena serangga ini mobilitas relatif rendah. Serangan diamati secara langsung juga dan dihitung menggunakan persentase pada daun tanaman caisin contoh, yakni total daun terserang dibagi dengan total seluruh daun. Pengamatan populasi dan serangan E. pulchrumdilakukan setiap minggu selama satu musim tanam, sejak tanaman berumur 1 minggu setelah tanam (mst) hingga terbentuk polong (± 6 mst).
Analisis Data. Nilai rataan dan galat baku populasi nimfa dan imago dan persentase daun yang terserang E. pulchrum dihitung. Kecenderungan perubahan tingkat populasi dan serangan dari waktu ke waktu ditampilkan dalam bentuk kurva atau histogram.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Parasitoid TelurE. pulchrum
Jenis Parasitoid Telur E. pulchrum. Hasil survei di lapangan hanya ditemukan satu
spesies parasitoid yaitu parasitoid telur, Telenomus sp. (Hymenoptera: Scelionidae). Parasitoid ini muncul dari telur E. pulchrum yang berasal dari tanaman caisin. Telenomus sp. yang ditemukan ini memiliki ciri tubuh berwarna hitam metalik dengan panjang tubuh sekitar 1 mm. Antena memiliki ruas sebanyak 12 ruas. Pada mata tabuhan ini terdapat rambut-rambut pendek dan kulit tubuh halus.
Telenomus sangat agresif dan akan memarasit telur kepik walaupun kelompok telur tersebut dijaga induknya. Telenomus sp. dapat memarasit satu kelompok telur yang sama (Gambar 1), tetapi tidak pada telur yang sama. Hal ini disebabkan karena pada waktu memparasit telur, tabuhan ini meninggalkan bau yang dapat dikenali oleh parasitoid yang lain. Bau ini digunakan untuk mencegah parasitoid lain akan memarsit telur yang sama. Parasitoid ini dapat hidup beberapa hari sampai satu minggu atau lebih lama lagi tergantung ketersedian pakan, seperti nektar atau serbuk sari.
TelurE. pulchrum yang terparasit oleh Telenomus sp. tidak mengalami perubahan, akan tetapi antara telur yang menetaskan nimfa E. pulchrum dengan yang terparasit berbeda jelas. Kalau telur yang sehat hampir tidak terdapat bekas tempat keluarnya nympa tersebut. Akan tetapi telur yang terparasit, telurnya berlubang sebagai jalan imago parasitoid tersebut keluar. Dari penelitian diketahui bahwa nimfa dari E. pulchrum ini menetas muncul atau keluar dari sisi samping telur. Hal ini terjadi karena pada waktu menetas hama ini mempunyai kebiasaan mengumpul, sehingga jika mereka keluar dari atas maka ada saja nimfa dari E. pulchrum ini jatuh ke tanah dan mati. Berbeda dengan telur yang terparasit, parasitoidnya keluar dari atas telur dan terdapat lubang di atas telur tempat dimana parasitoid telur tersebut keluar. Karena setelah keluar dari telur parasitoid ini langsung aktif memarasit telur yang lain.
Parasitisasi telur E. pulchrum. Dari hasil survei baik selama satu musim tanam caisin di dataran rendah, maupun survei pada berbagai lokasi didapatkan parasitisasi telur E. pulchrum
oleh Telenomus sp. lebih dari 50% (Tabel 1 dan 2). Pada penelitian ini Telenomus sp. dapat ditemukan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Akan tetapi, parasitisasi telur E. pulchrum di dataran rendah cenderung lebih tinggi dibandingkan di dataran tinggi. Fenomena yang sama dilaporkan juga oleh Herlinda et al. (2004) baik untuk parasitoid telur maupun parasitoid larvaPlutella xylostella.
Populasi dan SeranganE. pulchrumdi Pertanaman Caisin
PopulasiE. pulchrum. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa populasiE. pulchrum
pada bulan Mei dan Juni tinggi karena saat penelitian curah hujan relatif sangat rendah. Pengamatan populasiE. pulchrumpada musim kemarau ini menunjukkan populasi tinggi karena aktifitas penerbangan dan perkembangan hama akan tinggi. Faktor yang sangat berpengaruh pada populasiE. pulchrumialah cuaca yang meliputi suhu dan curah hujan karena apabila terjadi hujan kesempatan imago untuk terbang dan berkopulasi berkurang sehingga telur yang dihasilkan sedikit dengan demikian populasi telur, nimfa dan imago pun menurun. Pada fase nimfaE. pulchrumsangat rentan jika terkena air hujan terutama pada fase awal nimfa.
Tabel 1. Parasitisasi telurE. pulchrumolehTelenomussp. pada satu musim tanam caisin
Umur tanaman
7 04/05/2008 52 8 15,38
14 11/05/2008 49 24 48,98
21 18/05/2008 55 28 50,91
28 25/05/2008 51 21 41,18
35 02/06/2008 64 14 21,88
42 09/06/2008 24 12 50,00
Total 295 107 228,33
Rata-rata 49,17 17,83 38,06
Tabel 2. Parasitisasi telur E. pulchrumdi daerah dataran tinggi dan rendah Sumatera
Tegur Wangi 696 Telenomussp. 14,51
Muarasiban 410 Telenomussp. 59,51
Pagardin 84 Telenomussp. 4,76
Bedeng Kresek 228 Telenomussp. 18,86
Jarai, Lahat 290 Telenomussp. 32,07
Rata-rata 25,94
Dataran rendah:
Sako Kenten 128 Telenomussp. 17,97
Sukarami 211 Telenomussp. 51,18
Talang Buruk 110 Telenomussp. 43,64
Rata-rata 37,80
Selama satu musim tanam caisin, populasi nimfa dan imago E. pulchrum cenderung meningkat seiring peningkatan umur tanaman (Gambar 1). Populasi imago kepik ini meningkat tajam saat caisin berumur 35 hst dan terus meningkat dengan puncak mencapai saat 49 hst (0,49 ekor/tanaman), sedangkan populasi nimfa mencapai puncak 49 hst (0,04 ekor/tanaman). Peningkatan populasi kepik ini disebabkan semakin banyaknya ketersediaan polong yang merupakan pakan utamanya.
Serangan E. pulchrum. Gejala serangan E. pulchrum pada daun menunjukkan daun
menjadi seperti hangus terbakar dan muncul bekas hisapan berwarna putih (Gambar 2). Polong yang terserang akan kempis karena cairan dihisap dan polong tersebut menjadi berkerut biji tidak terbentuk dan warnanya lama-kelamaan menjadi coklat.
Gambar 1. Populasi nimfa dan imago E. pulchrumpada tanaman caisin selama satu musim tanam
---Prosiding Seminar Nasional“Pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan dan sumber daya hayati yang berwawasan lingkungan dalam menyikapi dampak pemanasan global” Palembang, 18 Oktober 2008
7 14 21 28 35 42 49
0,00 0,01 0,00 0,00 0,01
Gambar 2. Kepik kubis (Eurydema pulchrum): kepik kubis sedang mengisap bunga caisin (a), gejala serangan pada buah (b) dan daun caisin (c), telur kepik kubis pada buah caisin (d)
Serangan E. pulchrum pada polong terus meningkat seiring dengan peningkatan umur tanaman (Gambar 3). Apabila dikaitkan dengan perkembangan populasi imago E. pulchrum
terdapat hubungan yang erat. Perkembangan populasi imago semakin tinggi akan menyebabkan keruskan polong akan semakin tinggi pula. Serangan pada daun sangat rendah. Hal ini disebabkan kepik ini lebih memilih polong dibandingkan daun. Daun yang diserang juga tertentu, tidak semua daun melainkan daun pucuk atau daun muda. Sejak terbentuknya polong (21 hst), daun yang diserang kepik ini terus menurun dan daun tidak terserang lagi saat polong tersedia banyak. Selain menyerang polong, kepik ini di lapangan mengisap bunga caisin dan mengisap putik yang baru terbentuk.
Gambar 3. SeranganE. pulchrumpada daun dan polong tanaman caisin selama satu musim tanam.
SIMPULAN
Jenis parasitoid yang berasosiasi dengan E. pulchrum, yaitu Telenomus sp. dan dari berbagai lokasi di Sumatera Selatan didapatkan parasitisasi telurnya lebih dari 50%, populasi imago E. pulchrum mencapai 0,49 ekor/tanaman dan serangan mencapai 100% pada polong dan 3,94% pada daun.
SANWACANA
Penelitian ini merupakan bagian dari Penelitian Hibah Bersaing XVI, DP3M, Dikti, Depdiknas Tahun Anggaran 2008 dengan kontrak nomor: Nomor : 088/H9.2.1/PL/2008, tanggal 7 April 2008 a.n. Rosdah Thalib.
DAFTAR PUSTAKA
Donald, C., N.N. Endersby, P. Ridland, I. Porter & J. Lawrence. 2000. Field Guide to Pests,
Diseases and Disorders of Vegetable Brassicas. AUSVEG: Department of Natural
Resources and Environment.
Fitton, M. & A. Walker. 1992. Hymenopterous parasitoids associated with diamondback moth: the taxonomic dilemma, pp. 225-231. In N.S. Talekar (ed.). Diamondback moth and other crucifer pests. Proceedings of The Second International Workshop, AVRDC, Taiwan.
---Prosiding Seminar Nasional“Pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan dan sumber daya hayati yang berwawasan lingkungan dalam menyikapi dampak pemanasan global” Palembang, 18 Oktober 2008
Herlinda, S. & R. Thalib. 2006. Bio-ekologi Eurydema pulchrum (Westw.) (Hemiptera: Pentatomidae) pada Tanaman Caisin. Seminar Nasional dengan tema “Strategi Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional Melalui revitalisasi dan Resenergisme Sistem Agribisnis”, Palembang 13 September 2006.
Herlinda, S., Hamadiyah, T. Adam & R. Thalib. 2006. Toksisitas isolat-isolat Beauveria
bassiana (Bals.) Vuill. terhadap nimfa Eurydema pulchrum (Westw.) (Hemiptera:
Pentatomidae).Agria2:34-37.
Herlinda, S., R. Thalib & R.M. Saleh. 2004. Perkembangan dan preferensi Plutella xylostella (Lepidoptera: Yponomeutidae) pada lima jenis tumbuhan Brassicaceae. Hayati 11:130-134.
Magurran, A.E. 1987. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton University Press. New Jersey. 179 p.