• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Interpersonal dan Konsep Diri Pengguna Sabu (Studi Kasus di Medan Denai)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Komunikasi Interpersonal dan Konsep Diri Pengguna Sabu (Studi Kasus di Medan Denai)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Sumatera Utara BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Konteks Masalah

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu pasti membutuhkan pertolongan dari orang lain. Sebagai makhluk sosial yang selalu ingin menjalin hubungan atau ikatan yang emosional diataranya, manusia memerlukan komunikasi sebagai perantara. Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan baik secara individu maupun kelompok. Hampir disetiap aktifitas kegiatan manusia disertai dengan komunikasi. Ini menujukkan bahwasannya komunikasi merupakan suatu hal yang sangat berperan penting dalam berinteraksi dan bersosialisasi pada masyarakat. Karena tanpa berkomunikasi individu tidak dapat bertukar fikiran, perasaan dan ide kepada orang lain. Komunikasi tidak hanya berbicara mengenai individu yang satu dengan individu yang lain dalam membagi perasaan, bertukar pemikiran untuk mempertahankan hubungan yang telah dibentuk atau yang sering disebut dengan komunikasi interpersonal. Tetapi dalam realitasnya

seseorang memerlukan komunikasi interpersonal dalam berinteraksi dengan masyarakat. Ini dikarenakan komunikasi interpersonal merupakan pondasi dari komunikasi interpersonal.

Pergaulan merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi konsep diri setiap individu. Dari cara bergaul di sekitar lingkungan tempat tinggal seseorang yang ditampilkan dapat mengetahui bagaimana kondisi lingkungan tempat ia tinggal. Dari segi pergaulan di sekitar lingkungan dapat diketahui citra diri dari setiap individu. Pada dasarnya hal ini menunjukkan bahwa apa yang ingin kita tampilkan atau kita lakukan dimasyarakat sesuai dengan konsep diri yang kita bentuk.

(2)

Universitas Sumatera Utara jika ad aide-ide baru maka ide tersebut dapat ditolak atau diterima, atau dimodifikasi dengan ide-ide lama. Kata Lecky sistem organisasi kepribadian itulah disebut “konsep diri” yang dapat dikenal sebagai “inti kepribadian”

Indonasia, narkoba bahkan sudah menjadi semacam industri yang diproduksi di kitchen laboratorium di apartemen – apartemen. Pada 2009, tercatatat 37 laboratorium dan cara pembuatannya dapat diketahui dari internet. Peredaran gelap narkoba di Indonesia atau di manapun meman dilakukan oleh mafia atau jaringan internasional. Disebut mafioa, karena mereka menjalankan kejahatannya secara terorganisasi (organized crime).

Bila di hitung secara materil, kerugian akibat peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba pada 2014 mencapa Rp 63,1 triliun atau dua kali lipat dibandingkan tahun 2008 atau meningkat 31% ketimbang tahun 2011. Angka itu termasuk, antara lain uang untuk membeli narkoba, kerugian kejahatan yang dilibatkan oleh penyalahgunaan narkoba, serta biaya rehabilitas. Nilai kerugian Rp63,1 triliun itu terbilang fantastis, bahkan tidak jauh beda dengan APBD DKI Jakarta 2015 sebesar Rp69,28 triliun. Lalu bila dibandingkan dengan nilai transaksi narkoba di Indonesia sejumlah Rp48 triliun, nilai kerugian yang diakibatkan oleh

peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba melampai nilai transaksinya. Karena kerugian dahsyat yang ditimbulkan, tidak salah jika Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Antinarkoba Internasional 26 Juni 2015 menyebutkan bahwa narkoba memiliki daya rusak luar biasa. Presiden Jokowi bahkan mengatakan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba menghambat daya saing bangsa.

Bukan tidak mungkin mafia melibatkan pelajar atau mahasiswa untuk mengedarkan narkoba disekolah atau dikampus. Sebagai contoh, Kepolisian Resort Kota Medan sepanjang Januari hingga Agustus 2015, meringkus 1.143 pengedar dan Bandar narkoba di Medan, Sumatera Utara. Dari jumlah itu, 68 pelajar SD, 200 pelajar SMP, 849 pelajar SMA, dan 26 Mahasiswa.

(3)

Universitas Sumatera Utara tentang jumlah pemakai narkoba di pulau-pulau utama di Indonesia pada 2014. Data tersebut memperlihatkan jumlah penyalahgunaan narkoba di Jawa mencapai 2.416.500 jiwa, Sumatera 849.500 jiwa, Sulawesi 267.500 jiwa, Kalimantan 238.300 jiwa, Maluku 24.100 jiwa, dan Papua 38.900 jiwa.

Mafia peredaran gelap betul-betul memanfaatkan luas wilayah Indonesia. Mereka memanfaatkan pintu-pintu masuk dari darat, laut, dan udara. Mafia ini berasal dari Indonesia sendiri, Malaysia, Australia, Iran, Prancis, Tiongkok, Taiwan, Nigeria, dan sejumlah Negara Afrika lain. Jaringan mafia internasional menggunakan kurir warga neraga Filipina, Thailand, atau Indonesia yang umumnya perempuan.

Berbagai modus operandi dilakukan oleh kurir jaringan internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia. Modus operandi itu, antara lain ditelan (karena berupa kapsul), atau dimasukkan dalam kaki palsu, mainan anak-anak, daster/handuk basah, kaleng kue, patung, keramik, jenazah bayi, dinding koper, pigura/bingkai lukisan, dan kancing baju perempuan. Modus operandi peredaran narkoba berubah-ubah. Perderan gelap narkoba di Indonesia didistribusikan secara berjenjang sampai ke penyalah guna. Bahkan dari balik penjarapun beberapa di antara anggota jaringan masih bisa mengendalikan peredaran narkoba di Tanah Air. (Jurnalisme

Narkoba:2015:33)

(4)

Universitas Sumatera Utara Sepanjang tahun 2015 lalu, jumlah pemakai dan pengedar narkoba yang diamankan petugas petugas Sat Res Narkoba Polresta Medan, sebanyak 75 persen berasal dari kalangan tamatan SMA. Selain itu, narkoba jenis sabu-sabu tetap menjadi trend narkoba yang paling diminati. Dari 2168 pelaku tindak pidana narkoba sejajaran Polresta Medan, sebanyak 1.641 diantaranya berasal dari kalangan dengan pendidikan terakhir SMA, jumlahnya sekitar 75 persen. Angka pemakai narkoba paling banyak juga diikut tamatan SMP sebanyak 350 orang tersangka, tamatan SD sebanyak 117 orang tersangka, dan terakhir tamatan Perguruan Tinggi (PT) berjumlah 60 tersangka. (http://www.jurnalisasi.com/2016/01/06/sepanjang-tahun-2015-75-persenpemakaipengedar-narkoba-tamatan-sma/)

Didalam Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 1997, tanggal 1 September 1997 tentang Narkotika, menyatakan bahwa “Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan Ilmu Pengetahuan termasuk

kepentingan Lembaga Penelitian/Pendidikan saja, sedangkan pengadaan

ekspor/impor, peredaran dan pemakainya diatur oleh Pemerintah,dalam hal ini

Departemen Kesehatan”.

Psikotropika adalah zat atau obat alamiah maupun sintetris, yang bersifat atau berkhasiat psiko aktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktifitas mental dan prilaku. Zat atau obat yang dapat menurunkan aktifitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan prilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (khayalan), ilusi, gangguan cara berfikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya. Pemakaian Psikotropika yang berlansung lama tanpa pengawasan dan pembatasaan pejabat kesehatan dapat menimbulkan pengaruh yang lebih buruk, tidak saja dapat meyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai penyakit serta kelainan fisik maupun psikisis si pemakai dan juga tidak jarang pemakaian ini dapat menimbulkan kematian bagi para pemakainya.

(5)

Universitas Sumatera Utara karena asap akan tersaring waktu melewati air tersebut. Ada juga sebagian pemakai membakar sabu dengan alumunium foil. Sabu sering dikeluhkan sebagai penyebab paranoid (rasa takut yang berlebihan), menjadi sangat sensitif (mudah tersinggung), terlebih bagi mereka yang tidak berfikir positif, dan halusinasi visual.

Selain itu, pengguna sabu memiliki kecendrungan memakai dengan jumlah banyak dalam satu sesi dan sukar berhenti sampai sabu yang dikonsumsinya habis. Beberapa pemakai mengatakan sabu tidak mempengaruhi nafsu makan, dan beberapa juga mengatakan sabu dapat menghilangkan nafsu makan jika sedang mengkonsumsi sabu. Bahkan juga banyak yang mengatakan bahwa berat badan dapat turun secara drastis selama memakai sabu. Efek ini dapat mengakibatkan ketergantungan (sabu) tanda-tanda fisik, seperti mata merah, mulut kering, bibir kecoklatan, prilakunya tidak wajar, bicaranya kacau dan daya ingatan menurun, wajah pucat dan kuyu, terdapat bau aneh pada kamarnya, matanya berair, tangannya gemetaran, nafasnya tersengkal dan susah tidur, badannya lesu dan selalu gelisah, depresi, memiliki semangat yang tinggi, dan juga agresif.

Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah pengguna sabu yang ada di lingkungan XIII Medan Denai. Pemilihan lokasi dilingkungan XIII

dilakukan karena dilingkungan tersebut sudah banyak sekali yang terkena oleh narkoba jenis sabu, baik itu anak-anak, remaja, dan juga dewasa. Peneliti memilih lingkungan XIII Medan Denai karena peneliti disni sudah mengenai bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan ini.

Pandangan masyarakat dikalangan sekitar melihat para pengguna sabu terlihat begitu mengganggu mereka terutama masyatakat mengkhawatirkan para anak-anak mereka. Merka takut akan anak-anaka mereka bisa terjerumus seperti para pemakai sabu yang dulunya hanya coba-coba saja dan pada akhirnya menjadi pengguna tetap, dan juga para masyarakat mengkhawatirkan akan barang-barang berharga milik mereka bisa jadi incaran bagi para pemakai sabu tersebut.

(6)

Universitas Sumatera Utara 1.2Fokus Masalah

Berdasarkan konteks masalah yang diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan fokus masalah sebagai berikut: “Bagaimana konsep diri pengguna sabu di Medan Denai”

1.3Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui alasan seseorang memakai sabu-sabu. 2. Untuk mengetahui konsep diri pengguna sabu-sabu. 3. Untuk mengetahui efek sabu-sabu terhadap penggunanya

1.4Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat akademis

Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menambah dan memperluas khasanah penelian komunikasi dan menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa khususnya Mahasiswa Komunikasi FISIP USU

2. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dan memperluas wawasan berkaitan dengan penggunaan sabu-sabu.

3. Manfaat Praktis

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat 5 faktor yang dimasukkan dalam model fungsi produksi frontier stochatik dan diduga berpengaruh terhadap tingkat produksi yaitu bibit, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk

Berdasarkan hasil analisis data deskriptif diperoleh rata-rata nilai kedua kelompok tersebut, yaitu kelas kontrol ( pretest ) sebesar 51,61 dan posttest sebesar 66,56

Kegiatan AIM untuk Unit Kerja Pelaksana Akademik (UKPA) tahun ini merupakan siklus ke-16 yang diperuntukkan bagi auditees tingkat fakultas, jurusan, program studi (prodi)

Penilaian kognitif dari kejadian : Berpikir bahwa hasil pemeriksaan tidak menyenangkan Penilaian kognitif dari kejadian dan dari respon tubuh: Tidak terjadi Penilaian

BATAS DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI PROVINSI JAMBI DENGAN.. KABUPATEN BANYUASIN PROVINSI

[r]

Provinsi Kalimantan Tengah, perlu ditetapkan batas daerah secara pasti antara Kabupaten Kotawaringin Barat dengan.. Kabupaten Lamandau Provinsi

(g) explain the meaning of the term theory with reference to examples from the Subject Content (h) use the knowledge and understanding gained in this section in new situations, or