• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MATA KULIAH VAKSIN DAN IMUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS MATA KULIAH VAKSIN DAN IMUN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH VAKSIN DAN IMUN

DISUSUN OLEH :

PUTRI SEPTYARINI 25010110120028

DWI ERNAWATI 25010110120189

NOVIA ROKHMAWANTI 25010110141033 DEVY AMELIA NURUL ALAMSYAH 25010110141191

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Manusia dapat terhindar dari penyakit, karena didalam tubuhnya dilengkapi dengan dua kekebalan tubuh yaitu system kekebalan spesifik dan ksistem kekebalan non-spesifik. System kekebalan tubuh non spesifik bekerja melawan semua jenis benda asing yang masuk dan tidak bekerja ditujukan pada zat asing atau mikroorganisme tertentu. System kekebalan tubuh non spesifik meliputi antara lain :

a. Pertahanan fisis dan mekanis, misalnya silia bulu getar hidung yang menyaring kotoran yang masuk dari saluran nafas bawah, kulit, bulu mata, dll. b. Pertahanan biokimiawi, misalnya air susu ibu yang mengandung laktoferin

yang berperan sebagai antibakteri

c. Pertahanan tubuh seluler, misalnya monosit dan makrofrag.

Apabila kekebalan tubuh spesifik tidak bisa mengatasi serangan mikroorganisme;/zat asing yang masuk maka kekebalan tubuh spesifik akan diaktifkan. Sistem kekebalan tubuh spesifik bekerja melawan antigen tertentu oleh karena kemampuannya menyimpan memori. Sistem kekebalan tubuh spesifik diperankan oleh sel limfosit T dan limfosit B.

Sistem kekebalan tubuh spesifik ini tidak mengenali struktur utuh dari mikroorganisme melainkan hanya sebagian protein saja yang kemudian memacu kekebalan aktif tubuh. Protein yang sebagian ini disebut antigen. Adanya antigen ini akan menyebabakan sel T dan B memproduksi antibody untuk melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh manusia. Semakin sering terpapar antigen dari luar maka akan semakin tinggi antibody yang terbentuk dan memori pertahanan tunuh semakin banyak mengingat, sehingga tubuh menjadi kebal.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

IMUNISASI DAN VAKSINASI A. Sejarah Vaksinasi

Orang yang pertama kali mengidap penyakit cacar mencoba mencegah dengan inokulasi diri dan dengan jenis infeksi lain. Pada tahun 1718., Lady Mary Wortley Montagu melaporkan bahwa Turki memiliki tradisi sengaja inokulasi diri dengan cairan yang diambil dari kasus-kasus ringan cacar, dan bahwa ia telah menginokulasi anak-anaknya sendiri. Sebelum 1796 ketika dokter Edward Jenner dari Inggris menguji adanya kemungkinan menggunakan vaksin cacar sapi sebagai imunisasi untuk cacar pada manusia untuk pertama kalinya., sedikitnya enam orang telah melakukan hal tersebut dan beberapa tahun yang sama sebelumnya : seseorang yang identitasnya tidak diketahui, Inggris, (sekitar 1771), Ibu Sevel, Jerman (sekitar 1772), Jensen Mr, Jerman (sekitar 1770); Benyamin Jesty, Inggris, pada tahun 1774, Rendall Ibu, Inggris (sekitar 1782);. dan Peter Plett, Jerman, tahun 1791.

Kata Vaksinasi pertama kali digunakan oleh Edward Jenner pada tahun 1796. Louis Pasteur furthered dengan konsep yang melalui kepeloporannya dalam mikrobiologi. Vaksinasi (Latin: Vacca-sapi) ini dinamakan demikian karena vaksin pertama berasal dari virus yang mempengaruhi sapi (cacar sapi) yang relatif jinak terhadap virus yang menyediakan tingkat kekebalan terhadap cacar, penyakit menular dan mematikan. Dalam pengucapan umum, 'vaksinasi' dan 'imunisasi' pada umumnya memiliki makna sehari-hari yang sama. Hal ini membedakannya dari inokulasi, yang menggunakan patogen hidup unweakened, walaupun dalam pemakaian umum baik digunakan untuk merujuk kepada sebuah imunisasi. Kata "vaksinasi" pada awalnya digunakan khusus untuk menggambarkan suntikan vaksin cacar.

(4)

B. Pengertian Vaksin

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, resisten. Imunisasi berarti anak di berikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal terhadap suatu penyakit tapi belum kebal terhadap penyakit yang lain.(Soekidjo.2003)

Imunisasi adalah upaya memberikan bahan untuk merangsang produksi daya tahan tubuh. Sebagai akibat selanjutnya orang yang diberi vaksin akan memiliki kekebalan spesifik terhadap penyakit yang disebabkan kuman tersebut. Bahan tersebut pada dasarnya merupakan ancaman buatan bagi tubuh (Achmadi,2006)

Imunisasi disebut juga vaksinasi atau inokulasi. Imunisasi memberikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit berbahaya. Walaupun beberapa dari penyakit ini jarang ditemukan. Ketika diimunisasi, diberikan vaksin yang dibuat dari sejumlah kecil bakteri atau virus penyebab penyakit tersebut. Vaksin ini akan merangsang tubuh membuat antibodi terhadap penyakit yang dimaksud. (Thompson,2003)

Vaksin adalah segala persiapan dimaksudkan untuk menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dengan merangsang produksi antibodi. Vaksin termasuk, misalnya, suspensi mikroorganisme dibunuh atau dilemahkan, atau produk atau turunan dari mikroorganisme. Metode yang paling umum dari pemberian vaksin adalah melalui suntikan, namun ada juga yang diberikan melalui mulut atau semprot hidung. (who)

(5)

C. Tujuan Imunisasi/Vaksinasi

Tujuan imunisasi yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan suatu penyakit tertentu dari dunia. Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.

Secara umun tujuan imunisasi antara lain :

1. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular 2. Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular

3. Imunisasi menurunkan angka mordibitas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) pada balita.

D. Manfaat Vaksinasi

Ada beberapa manfaat dari vaksinasi, antara lain : 1. Bagi Anak

Sebagai upaya pencegahan untuk melindungi anak dari serangan penyakit tertentu, yang mungkin bisa menyebabkan penderitaan atau bahkan cacat permanen.

2. Bagi Keluarga

Bagi keluarga, vaksinasi bermanfaat untuk menghilangkan kecemasan akan kesehatan dan biaya pengobatan jika anak sakit. Menumbuhkan keyakinan dan harapan bahwa anak-anak akan menjalani masa pertumbuhannya dengan aman dan ceria. Sehingga, orang tua bisa sedikit terlepas dari kekhawatiran anaknya terserang dari penyakit-penyakit tertentu yang selalu menjangkiti anak-anak. 3. Bagi Negara

(6)

E. Jenis-Jenis Vaksinasi 1. Imunisasi BCG

Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan virus tubercle bacii yang hidup didalam darah. Itulah mengapa agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkan jenis basil tak berbahaya ini ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus Celmette-Guerin)

Vaksin BCG

Jadwal pemberian : Diberikan 1 kali pada umur antara 0-2 bulan Cara Pemberian dan Dosis:

Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml)

a. Dosis pemberian: 0,05 ml sebanyak 1 kali

b. Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio musculus deltoideus) , dengan menggunakan spuit suntik (ADS 0,05 ml)

c. Vaksin yang dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam. 2. Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi ini merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya VHB, yaitu virus penyebab penyakit hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis atau pengerutan hati, bahkan lebih buruk lagi mengakibatkan kanker hati.

Vaksin Hepatitis B

Jadwal pemberian : Pemberian 3 kali selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan.

Cara Pemberian dan Dosis :

a. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen

b. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara intramuskular, sebaiknya pada anterolateral paha

(7)

d. Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)

e. Untuk Hepatitis B vial

f. Di unit pelayanan statis, vaksin Hep B yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:

1. Vaksin belum kadaluarsa

2. Vaksin di simpan dalam suhu 2o C s/d 8o C 3. Tidak pernah terendam air

4. Sterilitasnya terjaga

5. VVM masih dalam kondisi A dan B

g. Sedangkan di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya

3. Imunisasi Polio

Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. Penyakit akibat virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan.

Jadwal Pemberian : Diberikan 4 kali (Polio 1, 2, 3, 4) selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan

Cara Pemberian dan Dosis :

a. Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian

b. dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu

c. Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru Di unit pelayanan statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan:

1. vaksin belum kadaluarsa

2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C 3. tidak pernah terendam air

4. sterilitasnya terjaga

(8)

d. Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya

4. Imunisasi DTP

Dengan pemberian imunisasi DTP, diharapkan penyakit difteri, tetanus, dan pentusis, menyingkir jauh dari tubuh si kecil.

Jadwal Pemberian : Diberikan 3 kali (DPT 1,2,3), selang 4 minggu, umur antara 2-11 bulan

Cara Pemberian dan Dosis :

a. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen

b. Disuntikkan secara im dengan dosis pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis c. Dosis pertama diberikan pada anak umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan

dengan interval paling cepat 4 minggu

d. Di unit pelayanan statis, vaksin DPT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:

1. vaksin belum kadaluarsa

2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C 3. tidak pernah terendam air

4. sterilitasnya terjaga

5. VVM masih dalam kondisi terjaga

e. Di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya

5. Imunisasi Campak

Sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus Morbili.

(9)

Cara Pemberian dan Dosis :

a. Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut

b. Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6 - 7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak SD kelas 1-6.

6. Imunisasi HIB

Penyakit Hib bisa dicegah melalui imunisasi Hib. Imunisasi Hib tidak dapat melindungi kanak- kanak daripada mendapat penyakit yang disebabkan oleh bakteria/ virus yang lain. Kanak- kanak mungkin boleh mendapat lain jenis jangkitan radang paru- paru, radang selaput otak atau selesma. Semua bayi berumur 2, 3 dan 5 bulan perlu diberi imunisasi Hib Imunisasi Hib diberikan sebanyak 3 dos. Umur Dos: 2 bulan Dos 1, 3 bulan Dos 2, 5 bulan Dos 3

7. Imunisasi Rotavirus

Rotavirus merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak dan menyebabkan kematian. Studi terbaru mengungkapkan vaksin rotavirus terbukti efektif dan memberikan perlindungan yang luas. Baru-baru ini sebuah vaksin rotavirus diperkenalkan dan telah terbukti sangat efektif serta memiliki beberapa manfaat yang tidak terduga. Hal ini karena vaksin tersebut memberikan perlindungan yang lebih luas bagi anak yang menerima vaksin dan orang-orang disekitarnya. Para peneliti yang mengevaluasi vaksin tersebut menyimpulkan vaksin ini efektif karena terbukti menurunkan pasien rawat inap akibat diare di rumah sakit sebanyak 50 persen. Penurunan ini terjadi hanya setelah 2 tahun program imunisasi dimulai.

8. Imunisasi Pnemokokus.

(10)

(polisakarida) tidak bagus digunakan pada anak. Vaksin ini memberikan kekebalan terhadap 7 strain bakteri pneumokokus penyebab terbanyak infeksi serius pada anak. Vaksin ini baru dapat mencega infeksi telinga tengah, meningitis, pneumonia (radang paru), dan bakteremia akibat bakteri pneumokokus. Bayi harus mendapatkan vaksin ini sebanyak 4 dosis, yang diberikan pada usia 2, 4, 6 dan 12 – 15 bulan. Anak yang berusia lebih tua tidak memerlukan pengulangan dosis sebanyak ini. Konfirmasi dengan dokter anak jika anak anda mulai mendapatkan vaksin pada usia yang lebih tua. Untuk anak berusia lebihdari 5 tahun yang ingin diberikan imunisasi dapat diberikan vaksin pneumokokus polisakarida. Vaksin pneumokokus dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lainnya.

9. Imunisasi influenza.

(11)

Jenis Vaksin dan keterangannya

Vaksin Keterangan

BCG Diberikan sejak lahir. Apabila umur > 3 bulan harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu, BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.

Hepatitis B diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 3-6 bulan. Interval dosis minimal 4 minggu. Polio Polio-0 diberikan saat kunjungan

pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS OPV diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain).

DTP Diberikan pada umur 8 minggu, DTwP atau DTaP

Campak Campak-1 umur 9 bulan

Hib Diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Diberikan terpisah atau kombinasi.

Pneumokokus Pada anak yang belum mendapat PCV pada umur > 1 tahun PCV diberikan 2-4 kali

(12)

F. Tata Cara Pemberian Imunisasi

Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan.

Tata Cara Pemberian Imunisasi :

Sebelum melakukan imunisasi, dianjurkan mengikuti tata cara sebagai berikut : a) Memberitahukan secara rinci tentang risiko vaksinasi dan risiko apabila tidak

diimunisasi.

b) Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi reaksi ikutan yang tidak diharapkan.

c) Baca dengan teliti informasi tentang produk (vaksin) yang akan diberikan jangan lupa mengenai persejutuan yang telah diberikan kepada orang tua.

d) Melakukan tanya jawab dengan orang tua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi

e) Tinjau kembali apakah ada kontra indikasi terhadap vaksin yang akan diberikan f) Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan

g) Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan baik h) Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan,

periksa tanggal kadaluwarsa dan cacat hal-hal istimewa, misalnya perubahan warna menunjukkan adanya kerusakan.

i) Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal.

j) Berilah petunjuk (sebaiknya tertulis) kepada orang tua atau pengasuh apa yang harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan yang lebih berat.

k) Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis

l) Catatan imunisasi secara rinci harus disampaikan kepada Dinas Kesehatan bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

(13)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Vaksinasi, yang merupakan imunisasi aktif, ialah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan antigen dari suatu patogen yang akan menstimulasi sistem imun dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya anak yang telah mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan oleh antigen serupa.

Secara umun tujuan imunisasi antara lain :

1. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular 2. Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular

3. Imunisasi menurunkan angka mordibitas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) pada balita.

Manfaat Imunisasi : a. Bagi Anak

Sebagai upaya pencegahan untuk melindungi anak dari serangan penyakit tertentu, yang mungkin bisa menyebabkan penderitaan atau bahkan cacat permanen.

b. Bagi Keluarga

(14)

c. Bagi Negara

Vaksinasi merupakan salah satu bentuk tanggung jawab negara untuk meningkatkan taraf kesehatan wargananya. Dengan vaksinasi diharapkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara

keseluruhan lebih meningkat dan citra negara di mata dunia menjadi lebih baik.

B. Saran

a. Untuk mendapatkan vaksin yang efektif hendaknya, para praktisi kesehatan yang melakukan vaksinasi mematuhi petunjuk penggunaan vaksin agar efek baik dari vaksin tersebut didapatkan dan efek samping dikurangi.

b. Praktisi kesehatan yang melakukan vaksinasi hendaknya sudah memiliki latar belakang ilmu tentang vaksin serta seluk beluknya agar dalam memvaksinasi tidak terdapat kekeliruan.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi,Umar Fahmi.2006.Imunisasi,Mengapa Perlu?.Jakarta : Penerbit Buku Kompas

Anonim. 2012. Manfaat Vaksinasi bagi Anak, Keluarga dan Negara. http://infomanfaat.com/561/manfaat-vaksinasi-bagi-anak-keluarga-dan-negara/kesehatan. Diakses pada tanggal 10 April 2013

Anonim.2010.Jenis-jenis Vaksin

http://www.historyofvaccines.org/content/articles/different-types-vaccines Diakses pada tanggal 10 April 2013

Anonim.2013. http://www.biofarma.co.id Diakses pada tanggal 10 April 2013

Anonim.2013. Pengertian Vaksin. http://www.who.int/topics/vaccines/en/ Diakses pada tanggal 10 April 2013

Cahyono, J.B. Subarjo B.2010. Vaksinasi Cara ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta : Kanisius.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta

Thompson, June.2003. Toddlercare:Pedoman Merawat Bayi.Jakarta : Erlangga

Yusie.2009.Kelengkapan Imunisasi.(online).diakses dari

Referensi

Dokumen terkait

Pada pasar Saham, terus menurunnya credit default swap, bursa global yang berada ditren naik, potensi Indonesia mendapatkan investment grade dari S&P tahun ini, dan

Jumlah populasi ternak (AU) tahun 2006 dan 2008 dari target yang telah ditetapkan realisasi melebihi target karena didukung kegiatan pembibitan ternak sapi, pengembangan

8 Berdasarkan uraian di atas dengan permasalahan yang berada dalam perusahaan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisa Hubungan

Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit,

leptotek dri dot. Pada analisis statistik 10 kasus dengan 10 kontrol yang didiagnosis dengan leptotek positif leptospirosis tidak ikut diolah datanya. Namun demikian

Aktivitas guru dalam pembelajaran menggunakan media grafis bagan, Aktivitas siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan media grafis bagan dalam

Kesesuaian terapi antiviral yang diberikan oleh dokter untuk pasien mengacu pada Persatuan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) yang merekomendasikan pemberian antiviral untuk

Seseorang tidak langsung member respon pada orang lain, tetapi didasari oleh pengertian yang diberikan kepada tindakan individu, blumer(1969;78-79) menyatakan, dengan