PENDIDIKAN MULTIKULTURAL UNTUK MASYARAKAT ACEH DAN PAPUA
Oleh:
Almunauwar Bin Rusli1
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Email :[email protected]
Abstract
The goal of this paper is to explain the epistemology, concept, and urgency of multicultural education for Aceh and Papua, focused on typology of violence and civil democracy. The method of research used is library research, with classification, comparison, and selection of data that relates to or influences the two main topics of focus. References are primary sources (books, journals, newspaper). The data is analyzed using the qualitative descriptive model. The result of this research indicates that (1) The typology of violence for Aceh and Papua is based on (a) low level violence (b) medium level of violence (c) high level of violence. These three typologies of violence can lead to a downward spiral of violence, including institusional violence, counter-violence, and pressured violence (2) Civil democracy for Aceh and Papua comprises 3 approaches, namely (a) descriptive-demographic (b) normative-ideological (c) political-programmatic. This approach creates relational and territorial strength for many levels of life. Thus, in summary, (a) multicultural education must operate alongside daily activities (b) multicultural education must be profitable (c) multicultural education must be organized locally (d) multicultural education must help raise awareness and preparedness for cultural changes (e)
multicultural education must be able to make Acehnese and Papuans aware of themselves, their position, and what they will be like in the future.
Keywords : Multicultural education, Typology of violence, Civil Democracy
A. Pendahuluan
Aceh dan Papua adalah dua wilayah di Indonesia yang merepresentasikan kelompok mayoritas-minoritas dalam konteks kehidupan sosial-keagamaan berskala nasional. Dilihat dari aspek historis, Islam sungguh bukan hal baru
bagi masyarakat Aceh apalagi pada masa Sultan Iskandar Muda, Syekh
Abdurrauf, Syekh Ar-Raniry dan sejumlah tokoh lain. Kedatangan Islam di Aceh telah mengubah masyarakat setempat yang meliputi perkembangan peradaban dan kebudayaan sejak ajaran tauhid mulai masuk ke wilayah ini. Namun, dalam kurun terakhir, syariat Islam di Aceh terlihat hanya berperan pada aktifitas yang terbatas yaitu sebatas ritual pribadi seperti ibadah mahdah, perkawinan,
kematian, kelahiran anak, dan tidak menyentuh aspek sosial kemasyarakatan serta pemberdayaan potensi umat.2 Sedangkan, masyarakat non muslim di Aceh mengharapkan semua pihak berkenan mengevaluasi kembali berbagai pemikiran dan data sejarah yang diwarisi oleh masyarakat Islam. Sebab, konsekuensi ini akan memberi arti serta solusi terhadap problematika.3
Di sisi lain, hingga awal abad XX, mayoritas masyarakat Papua belum tersentuh Islam maupun Kristen. Padahal, pengaruh Islam sudah dimulai pada abad XVII yang dapat ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Sorong, dan Fakfak. Agama ini dibawa oleh orang Maluku dari Tidore, Ternate, dan Seram. Penyebaran agama Kristen Protestan dimulai pada 1855 di pantai utara sekitar Manokwari, Waropen, Biak, Jayapura, dan Sarmi, sedangkan Katolik pada 1898 di sekitar pantai selatan, antara lain Fakfak, Mimika, dan Merauke.4 Disamping ‘keterlambatan agama’, tuntutan akan perbaikan nasib orang asli Papua
sekarang ini terasa semakin kencang. Sebab, masyarakat Papua melihat perekonomian sejumlah pejabat tumbuh pesat. Sebaliknya, mereka hanya menjadi penonton keberhasilan pendatang. Pendidikan dan kesehatan masyarakat, terutama yang berada di pedalaman masih terabaikan.
Transportasi juga terbatas. Padahal alokasi dana otonomi khusus Papua tahun
2 M. Saleh Suhaidy, “Tentang Dinas Syariat Islam : Apa dan Untuk Apa?” dalam Fairus M. Nur Ibr (Editor), Syariat di Wilayah Syariat : Pernik-pernik Islam di Nanggroe Aceh Darussalam,
(Yayasan Ulul Arham : Aceh, 2002), h. 259
3 Syamsul Rijal Sys, “Kelompok Minoritas dalam Realitas Syariat Islam di Aceh”, Ibid., h. 291-292
2002 (1,2 triliun), 2003 (1,3 triliun), 2004 (1,4 triliun), 2005 (1,5 triliun), 2006 (1,6 triliun), dan 2007 (3,2 triliun). Total 10,3 triliun. Di sisi lain, sebagian kaum lelaki muda cenderung mabuk-mabukan serta kasus HIV/AIDS semakin marak.5
Pasca tragedi pembakaran Masjid di Karubaga, Tolikara Papua pada 17 Juli 2015 yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1436 H menyebabkan masyarakat Islam dan Kristen mengalami ketegangan yang serius. Istilah keberagamaan merupakan perwujudan dari semangat kolektivisme keyakinan yang bersumber pada satu nilai kesucian yaitu Tuhan. Nilai kesucian ini dalam perjalanan sejarahnya kemudian membentuk kesejahteraan, simbol, dan bangunan. Ketiga hasil bentukan ini harus ditempatkan di atas, dimuliakan, sekaligus dimanfaatkan secara proporsional diiringi ketaatan terhadap aturan. Jika tidak, kekejaman, kutukan, makian akan beranakpinak. Kenyataan ini sayangnya tidak dihayati dan diamalkan dengan baik di Papua sehingga tragedi yang melahirkan kekecawaan itu lahir.
Setidaknya ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. (a) Jumlah penduduk Kabupaten Tolikara pada 2003 sebanyak 54.821 jiwa. Dalam kurun waktu 12 tahun peningkatannya menjadi 114 ribuan jiwa. Hal ini
memperlihatkan proses menuju kemajuan yang teramat lambat meski
pertumbuhannya 200% dari penduduk awal terbentuknya kabupaten tesebut. (b) Di wilayah seluas 14.564 km2 itu terdapat kandungan potensi alam berupa batu gamping bahan baku utama pembuat semen. Sementara itu beberapa info menyatakan sumber alam di wilayah tersebut juga bermuatan emas. Ini berarti terdapat informasi tentang kekayaan alam yang terkandung di bumi Tolikara menggiurkan pihak asing yang berkeinginan menguasai kandungan alamnya seperti halnya penguasaan atas tambang emas Freeport. (c) Konflik horizontal di Tolikara kerap terjadi. Salah satu yang terbesar adalah konflik antar suku
5 Laporan Jurnalistik Kompas, Ekspedisi Tanah Papua : Terasing Di Tanah Sendiri,
dalam bidang politik daerah yang terjadi pada 5 Januari 2012 lalu dimana dua suku di sana saling serang menyebabkan 11 tewas, 201 luka-luka dan 122 rumah hangus terbakar. Ini menandakan bahwa daerah ini memang tertinggal pendidikannya dan mudah tersulut oleh provokator yang menunggangi mereka dengan imbalan tertentu6.
Isu agama muncul dan menjadi hangat di Papua pada masa pasca Pepera dan dilanjutkan era Orde Baru hingga kini. Ini tentang kaum pendatang.
Pendatang selalu identik dengan Islam. Oleh karena itu, ketika menjelaskan mengenai pendatang, selalu dikaitkan dengan Islam. Bertambahnya populasi Muslim selalu seiring dengan pertambahan populasi pendatang. Pendatang yang berasal dari luar Papua pada kenyataannya sebagian besar adalah Muslim7. Masuknya Islam di daerah perkotaan berpengaruh pada penguasaan para pendatang Muslim terhadap banyak sektor ekonomi-bisnis di Papua, meskipun penguasaan ini tidak selalu berujung konflik. Isu utama konflik berawal dari keterdesakan orang asli Papua dalam wilayah pasar tradisional dan bisnis. Mereka kalah bersaing dengan pendatang. Jika konflik dikaitkan dengan agama, maka sebenarnya agama adalah isu sertaan.
Akan tetapi, karena kebetulan pendatang yang menguasai pasar tradisional dan bisnis adalah beragama lain dari agama orang Papua, maka isu agama kemudian menjadi isu penting. Sebagaimana pernah terjadi konflik antar penganut agama di Jayapura. Konflik ini bukan karena sifat pemahaman ideologis antar penganut agama yang berbeda, melainkan akibat dari kecemburuan ekonomi dari penganut agama yang berbeda. Efek agama
terhadap perekonomian pun menjadi terasa. Apalagi diperparah dengan jumlah
6 Lihat tulisan Abanggeutanyo berjudul, Tolikara, PR Pertama Pangab Gatot Nurmantyo. Diakses melalui www.kompasiana.com.
populasi pendatang yang naik secara fantastis, demikian halnya dengan kenaikan signifikan jumlah penganut Islam di Papua pada tahun 20008.
Pasca tragedi pembakaran Gereja di Aceh Singkil pada 13 Oktober 2015 lalu ikut menambah potret buram keberagamaan di Indonesia. Kasus Singkil sesungguhnya tidak mencerminkan DNA religio-antropologis masyarakat9. Kejadian ini bisa diantisipasi jika aparat pemerintah dan keamanan bertindak cepat dan bijaksana mencegah konflik. Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (Isess) Khairul Fahmi juga menilai pemerintah gagal meredam potensi kerusuhan. Ia mempertanyakan kinerja komunitas intelejen daerah (Kominda) yang mestinya bisa mendeteksi potensi kericuhan. Ia menilai, kebanyakan aparat di daerah cenderung meremehkan situasi. Asumsinya, mereka merasa sudah punya simpul yang bisa memengaruhi jaringan-jaringan radikal yang ada di daerahnya. Sementara itu, Kementerian Agama meminta semua umat beragama di Indonesia mematuhi peraturan bersama antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang pendirian rumah ibadah. Sekjen Kementerian Agama Nur Syam mengatakan adanya ketidakpatuhan dalam regulasi pendirian rumah ibadah sering dijadikan alasan bagi sebagian pihak untuk melakukan tindakan kekerasan.
8 Ibid., h. 48-49
9 Islam dan Kristen di sana sebenarnya terjadi secara alami. Jatuh cinta sesama muda-mudi dan kemuda-mudian menikah menjadi alasan pindah agama. Itu semua jauh dari unsur
ideologis-teologis, hanya ada unsur romantis-domestik. Bahkan menurut Pendeta Erde Berutu, pemimpin Gereja Kristen Protestan Pakpak-Dairi Singkil, jumlah umat Kristen yang masuk Islam lebih banyak dibandingkan sebaliknya. Situasi itu terbentuk karena Singkil memiliki sistem sosial-budaya unik dibandingkan etnis Aceh mayoritas. Sebagai etnis tempatan yang
berkembang di Sumatera Utara dan bertemu dengan etnis-etnis pendatang yang rata-rata non muslim dari Pakpak Bharat, Dairi, Tapanuli Tengah, dan Sibolga, kesadaran beragama
masyarakat Singkil sangat kultural dan tidak puritan. Politik identitas keagamaan Singkil ramah pada perbedaan. Agama bukan palang solidaritas utama. Kekerabatan dan margalah yang mengikat. Kasus Singkil mirip dengan Tolikara. Penandatanganan surat kesepakatan pembongkaran 10 gereja pada 12 Oktober oleh bupati dan unsur muspida hanya untuk memenuhi hasrat mayoritarian, bukan permufakatan damai. Tidak ada satu pun perwakilan gereja ikut diundang saat pertemuan itu. Lihat Teuku Kemal Fasya, Memperbaiki
Secara sosiologis, aktor yang terlibat dalam radikalisme agama adalah anak muda yang berusia mulai 17-40 tahun. Mereka dikenal sebagai kelompok prekariat melalui berbagai aktivitas keagamaan, bantuan sosial, jaringan bisnis, diskursus populis, dan bahasa yang mudah dipahami. Sedangkan kaum
agamawan moderat sendiri lebih sibuk dengan politik elite. Radikalisme agama hanya dapat diatasi dengan menata kembali industrialisasi modernisasi yang jadi lahan subur bagi tumbuhnya anak muda prekariat. Menurut Standing (2011) prekariat adalah mereka yang kerja dan hidupnya secara umum tak aman, tak stabil, sehingga secara psikologis sering marah, terasing dari hidup sekaligus rentan terlibat dalam aktivitas ekstrimis. Tanpa penataan seperti itu, radikalisme agama tetap jadi ancaman Indonesia kini dan nanti karena
sebagian besar penduduk Indonesia berusia muda10.
B. Pembahasan
1. Epistemologi Pendidikan Multikultural
Epistemologi pendidikan multikultural untuk masyarakat Aceh dan Papua Diantaranya (a) Pendekatan humanis (b) Pendekatan rasional (c) Pendekatan fungsional11. Pendekatan humanis adalah memperlakukan mereka sebagai subyek pendidikan dengan segala potensinya, termasuk potensi keberagamaannya yang secara alami akan tumbuh berkembang. Fasilitator menjadi motivator dan dinamisator dengan memfasilitasi masyarakat untuk mengalami dan menghayati sendiri pesan-pesan ketuhanan dan kemanusiaan dalam mengatasi persoalan kehidupan individu dan sosial. Pendekatan rasional
adalah mengajarkan agama dengan mendayagunakan akal sehat bagi mereka yang berkonflik. Pendekatan fungsional adalah melatih mereka untuk mencari hikmah fundamental dari setiap ajaran. Menurut penulis, epistemologi ini perlu 10 Lihat Andi Rahman Alamsyah, Anak Muda dan Radikalisme, dalam Opini Kompas, Rabu 4 November 2015.
menerapkan pola cooperative learning serta learning society. Cooperative learning artinya pembelajaran berbasis magang yang berangkat dari tataran filosofis-teoritis menuju tahap eksperimental-empiris. Contohnya model pembelajaran live in yang pernah diterapkan oleh Jacklevyn Frits Manuputy, seorang tokoh perdamaian di Maluku. Model ini menginstruksikan Muslim untuk menginap semalam sampai dua malam di rumah Kristen, begitu pun sebaliknya dengan pengontrolan. Hasilnya sangat mengejutkan. Ternyata ada banyak hal-hal positif dan pikiran lebih terbuka ketika mereka berdialog di ruang privat daripada di ruang publik yang memiliki banyak topeng kemunafikan. Sedangkan
learning society artinya model pembelajaran berbasis banyak sumber, sehingga masyarakat Aceh dan Papua bisa menyuarakan tuntutan hukum, ekonomi, sosial dan politik yang mereka alami.
2. Konsep Pendidikan Multikultural
James Banks (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi. Pertama,content integration. Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi, dan teori dalam materi pembelajaran. Kedua,the knowledge construction process. Membawa masyarakat untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah materi pelajaran, baik secara territorial maupun relasional. Ketiga,an equity paedagogy. Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar masyarakat dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik yang beragam, baik dari segi ras, budaya, dan sosial12. Keempat, prejudice reduction.
12 Dalam analisis penulis, point ketiga ini adalah aspek terpenting dalam meminimalisir konflik lewat jalur pendidikan multikultural. Sebab, wilayah ini berbicara tentang epistemologi sebagai kata kunci. Berdasarkan beberapa tayangan di TV Nasional, penulis melihat banyak anak-anak kecil yang ikut terseret sekaligus menyaksikan rumah ibadah mereka dibakar secara langsung. Padahal, tempat itu begitu spesial bahkan sakral di sanubari. Penulis yakin ada dendam yang tersimpan dalam memori jangka panjang mereka. Sehingga pendekatan
Mengidentifikasi karakteristik ras masyarakat dan menentukan metode
pengajaran mereka13. Ada empat acuan pokok untuk merumuskan pendidikan multikultural di Indonesia khususnya bagi masyarakat pasca konflik di Papua dan Aceh. (a) Undang-undang Dasar 1945 (b) Ketetapan Majelis
Permusyarawatan Rakyat Republik Indonesia No. VII/MPR/2001 tentang etika hidup berbangsa (c) Ketetapan Majelis Permusyarawatan Rakyat Republik Indonesia No. VII/MPR/2001 tentang visi Indonesia ke depan (d) Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional14. Berdasarkan konsep ini, maka paradigma toleransi dan paradigma transformasi bisa kita gunakan untuk merancang pendidikan multikultural secara rasional, operasional dan terukur sehingga menciptakan kualitas juga loyalitas.
3. Urgensi Pendidikan Multikultural
Urgensi pendidikan multikultural dalam konteks masyarakat Papua dan Aceh pasca konflik diantaranya (a) Mengembangkan iklim belajar yang damai dan perilaku saling menghargai antar anggota masyarakat (b) Menunjukkan prinsip persamaan tanpa diskriminasi baik dalam praktik atau kebijakan administrasinya (c) Menjabarkan pengetahuan tentang bentuk perdamaian di tengah masyarakat (d) Memadukan pemahaman tentang damai, hak asasi manusia, keadilan sosial dan isu global melalui sarana kurikulum (e)
Menyediakan forum diskusi tentang nilai damai dan keadilan sosial.15 Urgensi
bisa memilah, menggambar dan membandingkan (c) 7-11 tahun adalah tahap operasi konkret. Pada tahap ini sudah belajar dari pengalaman nyata berdasarkan pemikiran logis meski sering
trial and error (d) 11-20 tahun adalah tahap operasi formal. Pada tahap ini anak sudah bisa berpikir abstrak. Sedangkan bagi masyarakat dewasa, maka pendekatan andragogy perlu diterapkan melalui enam indikator yaitu (a) Kontes (b) Fokus (c) Sosialisasi (d) Individualisasi (e) Sequence (f) Evaluasi.
13 Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, (Pustaka Pelajar : Yogyakarta, 2014), h. 177
14 H.A.R Tilaar, Multikulturalisme : Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, (Grasindo : Jakarta, 2004) h. 194
ini menggunakan paradigma integratif-interkonektif, dedikatif-inovatif, dan inklusif-continuos improvement. Penulis menganalisis bahwa, menjamurnya rumah ibadah tidak juga otomatis menambah kesalehan dan kecerdasan umatnya. Banyak Masjid/Gereja, namun jumlah masyarakat miskin dan putus sekolah semakin parah. Orang beragama tinggal sebatas dogma terlebih euforia komunal saja. Tidak ada basis pengetahuan yang mengakar kuat. Sehingga, mereka tidak menyadari dan mau taat terhadap aturan.
Kepercayaan kepada Tuhan semestinya diimbangi dengan komitmen dalam kesepakatan. Kekerasan yang menggunakan simbol agama mesti terlebih dahulu melihat penyebab yang melatarbelakanginya dan mengantisipasi
supaya kasus itu tidak terjadi lagi. Kita mesti menyelesaikan dengan memahami alam pikiran mereka secara cermat serta melalui analisis yang multiperspektif.
Dengan demikian, tidak ada lagi kekerasan-kekerasan lain yang akan semakin memperparah keadaan. Begitupun dengan kesadaran akan aturan dan kejujuran. Umat beragama mesti belajar memegang prinsip. Dari aturan akan timbul kesadaran, dari kesadaran akan timbul ketaatan. Ketaatan inilah yang akan membuahkan keteladanan yang menginspirasi warga yang lainnya. Kalau mau bersikap jujur, ini bukan persoalan dendam, diskriminasi ataupun tindakan subversif dari kelompok agama tertentu. Pelaku-pelaku pengrusakan Masjid/Gereja di Aceh dan Papua yang sudah tertangkap aparat kepolisian bisa menjadi sumber utama untuk diwawancarai secara mendalam terkait dengan insiden ini. Agar supaya informasinya menjadi lebih dekat, terhubung,
terpercaya. Tipologi kekerasan yang terjadi di Aceh dan Papua setidaknya bisa diklasifikasikan pada tabel di bawah ini sehingga para fasilitator dapat
memahami kebijakan pendidikan multikultural dengan tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat guna.
No
Tolikara Papua
1. KekerasanTingkat Ringan (Low level violence)
a. Kekerasan tertutup b. Unjuk rasa
c. Pelecehan martabat kelompok tertentu
d. Penekanan psikis e. Kekerasan defensive
2. KekerasanTingkat Sedang (Medium level violence)
a. Terkait dengan fisik
b. Pelanggaran aturan bersama c. Membawa nama, atribut, simbol
agama
d. Kekerasan terbuka e. Kekerasan kolektif
3. KekerasanTingkat Berat (High level violence)
a. Ditangani oleh pihak berwajib b. Jalur hukum
c. Kekerasan offensive
Berdasarkan tipologi beserta indikator kekerasan di atas yang pada kenyataannya melahirkan spiral kekerasan institusional, tandingan, dan tekanan, maka wujud dari demokrasi berkeadaban sebagai pilar utama
pendidikan multikultural mestilah diaktualisasikan melalui tiga pendekatan. (a)
Deskriptif-demografis. Hal ini merujuk pada eksistensi keragaman segmen-segmen yang berbeda secara etnik, kultural dan linguistik dalam populasi suatu masyarakat atau negara. Pengelompokkan etnik disuatu negara,
signifikansi etnisitas bagi partisipasi sosial dalam institusi-institusi sosietal dan proses melalui mana diferensiasi etnik yang dikonstruk dan dipertahankan bisa bervariasi dari satu negara ke negara lain. (b) Normatif-ideologis. Ini menekankan fokus pada manajemen dan organisasi respon pemerintahan terhadap keragaman etnik dan kultural. Alternatif ini merupakan suatu
kontinum dari asimilasionisme hingga diferensialisme, bentuk-bentuk ekstrem yang berupa pengasingan, apartheid, ethnic cleansing, dan genoside. (c)
dikembangkan untuk merespon dan mengelola keragaman etnik.16 Ketiga pendekatan ini menurut penulis mesti mengacu kepada kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri dari masyarakat pasca konflik di Aceh serta Papua itu sendiri. Mungkin tesis Kriesberg yang mengatakan “Semakin tinggi tingkat interaksi dan saling ketergantungan antar pihak-pihak yang tadinya berkonflik akan semakin membatasi munculnya konflik baru” bisa dijadikan acuan untuk menghapus potret keburaman ini.
C. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulannya sebagai berikut :
a. Pendidikan multikultural harus operasional terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh dan Papua.
b. Pendidikan multikultural harus menguntungkan masyarakat Aceh dan Papua.Artinya, harus memegang peranan yang dianggap penting dan jelas-jelas disadari kegunaannya oleh mereka.
c. Pendidikan multikultural harus diorganisasikan secara lokal.Artinya, penggunaan bahasa, alam pikiran, dan kebudayaan masyarakat Aceh dan Papua akan mempercepat penerimaan pelajaran.
d. Pendidikan multikultural harus membantu menumbuhkan kesadaran dan kesiapan terhadap perubahan/perkembangan kebudayaan masyarakat Aceh dan Papua.
e. Pendidikan multikultural harus mampu membuat masyarakat Aceh dan Papua menyadari siapa dirinya, posisinya, dan akan seperti apa dia kelak.Artinya, agar mereka siap menghadapi tekanan dari dunia luar serta proaktif mengarahkan kehidupannya.
Sedangkan saran penulis adalah perlu diterapkannya sistem TANDUR
yaitu :
a. Tumbuhkan. Fasilitator bersama pemerintah pusat-daerah perlu membangun ikatan emosi dalam proses belajar dengan masyarakat Aceh dan Papua dengan melibatkan mereka akan pembuatan keputusan, jalinan rasa simpati juga saling pengertian.
b. Alami. Fasilitator bersama pemerintah pusat-daerah memberikan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat Aceh dan Papua.
c. Namai. Fasilitator bersama pemerintah pusat-daerah menyediakan kata kunci, model, dan rumus strategi yang akan diterapkan dalam proses pendidikan multikultural.
d. Demonstrasikan. Fasilitator bersama pemerintah pusat-daerah menyediakan kesempatan kepada masyarakat lintas etnis-agama di Aceh dan Papua untuk mewujudkan bahwa mereka tahu hidup bersama. e. Ulangi. Fasilitator bersama pemerintah pusat-daerah menunjukkan
kembali kepada masyarakat Aceh dan Papua cara-cara menghimpun kekuatan, memperbaiki kelemahan, melihat peluang dan mengantisipasi ancaman.
DAFTAR PUSTAKA
Abanggeutanyo, Tolikara, PR Pertama Pangab Gatot Nurmantyo. Diakses melalui www.kompasiana.com.
Achmadi, 2011. Pendidikan Agama Islam Berwawasan Nilai Kemanusiaan
dalam Jurnal Pendidikan Islam Nadwa, Vol. 5, Nomor 1, Mei.
Alamsyah, Andi Rahman, 2015. Anak Muda dan Radikalisme, dalam Opini Kompas, Rabu 4 November.
Assegaf, Abd. Rahman. 2004. Pendidikan Tanpa Kekerasan : Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep, Tiara Wacana : Yogyakarta.
Baidhawy, Zakiyuddin. 2007. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural,
Penerbit Erlangga : Jakarta.
Fasya, Teuku Kemal, 2015. Memperbaiki Keberagamaan Singkil, dalam Opini Kompas, Senin, 19 Oktober.
Laporan Jurnalistik Kompas, 2009. Ekspedisi Tanah Papua : Terasing Di Tanah Sendiri, Kompas : Jakarta.
Mahfud, Choirul. 2014. Pendidikan Multikultural, Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Meteray, Bernarda. 2012. Nasionalisme Ganda Orang Papua, Kompas :
Jakarta.
Nur Ibr, Fairus M. (Editor),2002. Syariat di Wilayah Syariat : Pernik-pernik Islam di Nanggroe Aceh Darussalam, Yayasan Ulul Arham : Aceh.
Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme : Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, Grasindo : Jakarta.