Pemikiran Politik Indonesia
1. Pemikiran politik Herbert Feith dalam menganilsis pemikiran politik Indonesia
Peta pemikiran politik yang disumbangkan Herbert Feith menunjukan sebuah kenyataan yang realitis bahwasannya Indonesia dalam perkembangan perpolitikan memiliki warna-warni ideology politik yang tak selalu harus seragam. Keberagaman timbul disertai dengan munculnya banyak partai politik meski pada akhirnya pemikiran politik yang tidak sesuai dengan ideology tunggal Pancasila akhirnya tersingkir juga.
Klasifikasi ideology berdasarkan sejarah yang dilakukan oleh Herbert dapat memberi pandangan bahwa sebuah ideology menentukan masa depan suatu bangsa. Herbert menyatakan 5 aliran politik di Indonesia adalah :
Komunisme : Komunisme merupakan faham yang bermula dari pemikiran Karl marx cenderung bersikap radikal. Untuk mencapai suatu perubahan mereka menganggap perlu adanya suatu revolusi.
Radikalisme pergerakan mereka tampak di Indonesia dimana mereka menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan kesejahteraan yang sama rata sama rasa. Partai komunis pada waktu itu dianggap sebagai partainya wong cilik. Partai komunis mendapat simpatisan yang cukup banyak dengan propagandanya yang ingin mengangkat derajat kaum buruh dan iming-iming pro rakyat kecil. Terbukti mereka berhasil mendapat simpati dan berhasil mendapat urutan keempat denganperolehan 15,4% suara pada PEMILU 1955. Namun paham komunis ini tidak bertahan lama akhirnya dibubarkan pemerintah karena tindakan-tindakannya yang radikal. Meski ideology komunis sudah tidak tercermin dalam aktivitas partai, namun sangat dimungkinkan bila pemikiran komunisme masih memiliki simpatisan ditengah masyarakat kita.
Sosialisme : Konsepnya diambil dari pemikiran Lenin yang bersumber pada ajaran Karl Marx. Sebagai sebuah ideolgi politik mereka mencita-citakan terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi, konstitusional tanpa kekerasan.
dengan sitem ekonomi yang melayani masyarakat banyak secara adil dan proposional. Sisytem ini dikenal dengan sosialisme kerakyatan.
Islam : terbagi dua yaitu kelompok Islam Reformis /modern yang mengilhami partai Masyumi, Muhammadiyah dan kelopok Islam konservatif /tradisionil yang mengilhami Nahdatul Ulama.
Sebagai agama mayoritas, Islam di Indonesia menjadi aliran politik yang direfleksikan dengan tumbuhnya partai Islam seperti Muhammadiyah dan nahdatul Ulama. Muhammadiyah merupakan gerakan Islam modern yang diminati oleh kaum perkotaan yang cerdik dan berpendidikan sedangkan Nahdatul Ulama umumnya berkembang di daerah pedesaan . Nahdatul Ulama . mereka bertujuan mempertahankan praktek dan tata cara Islam tradional.
Nasionalisme Radikal : Muncul sebagai respon terhadap kolonialisme. Partai dengan paham nasionalisme radikal tampak dalam gerakan PNI. Partai Nasionalis Indonesia (PNI) tujuannya adalah memperbaiki keadaan politik, ekonomi, social, dan budaya yang sudah rusak oleh penjajahan dengan kekuatan sendiri. Gerakan PNI dipimpin oleh tokoh-tokoh berbobot seperti Ir. Soekarno, Mr. Ali Sastroamijoyo yang berpengaruh luas diberbagai daerah di Indonesia.dibawah kepemimpinan Soekarno PNI memiliki basis Marhaen sebagai organ penting dalam politiknya. Marhaenisme adalah gerakan yang dipelopori oleh buruh tani,pedagang kecil,nelayan dan lainya yang memiliki alat produksi dan mengolah alat itu sendiri, namun tetap menjadi rakyat yang sedrhana.
Tradisional Jawa : merupakan aliran yang pernah menjadi controversial karena kekuatan pemikiran politik tradisonal jawa ini tidak muncul sebagai kekuatan politik formal yang kongkrit mampu bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya di Indonesia. Nilai-nilai jawa siaplikasikan dalam wacana bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai Jawa ini dijadikan pedoman bertingkah laku tidak hanya dalam kegiatan hidup keseharian namun diterapkan dalam tingkah laku politik sebagai warga Negara. Pemikiran tradisonal Jawa ini sangat mempengaruhi cara pandang actor-aktor politik dan berpengaruh dalam birokrasi pemerintah.
keputusan dan menetapkan suatu kebijakan baik menyangkut dirinya pribadi maupun dalam kebijakan umum.
Relevensi dan keterbatasan model Feith dalam menganalisa pemikiran politik Indonesia kontemporer
Kajian politik di Indonesia merupakan suatu kajian yang membahas dinamika perkembangan perpolitikan mulai dari masa colonial, orde lama, orde baru hingga masa reformasi. Tidak mudah memahami sejarah kontemporer , khusunya masa orde baru dan kita melihatnya pada perkembangan politik era reformasi yang muncul sebagai reaksi kekecewaan terhadap kinerja masa orde baru.
Relevansi analisis Feith mengenai perpolitikan di Indonesia khusunya pada jaman orde baru, nyaris sama dengan Ben Anderson, Adam Schwarz dan Andrew Mclntyre yang memandang perubahan politik di Indonesia saat itu sangat tergantung pada kemauan Soeharto. Mereka menyebut system politik di bawahPresiden Soeharto sebagai otoriter (Authorian government), karena dominananya kekuasaan presiden atas segala cabang. Kekuasaa lainnya baik legislatif maupun yudikatif hanya berupa kosa kata . pendapat ini tentunya dapat diterima oleh masyarakat di era reformasi yang memang muncul sebagai aksi perlawanan rakyat saat itu terhadap sikap otoriter pemerintahan Soeharto.
Feith menjelaskan pada jaman Orde Baru terjadi terjadi perubahan ekonomi secara besar-besaran dalam penambangan minyak dan mineral, kemajuan yang dramatis dalam perhubungan barat dan udara serta telekomunikasi, inovasi teknologi yang cepat dalam bidang pertanian, terutama padi, perluasan yang cepat dalam industri manufaktur dan kegiatan konstruksi yang mengubah wajah-wajah kota besar secara mencolok. Perubahan ini dengan cepat diiringi membesarnya kemampuan negara mengumpulkan pajak serta bertambah efesiennya pengawasan dan penguasaan penduduk. Sumber-sumber keuangan yang dikuasai pemerintah pusat bertambah secara dramatis, yang membuatnya mampu membayar gaji pegawai negeri dan tentara dengan jauh lebih baik. Selain itu dimasa Orde Baru pemerintah menggalang kerja sama yang erat dengan dunia barat yaitu Negara-negara kapitalis.
sepertinya telah direncanakan agar kekuasaan jatuh pada sanak dan keluarganya. Hal inilah yang membuatnya harus rela lengser. Pemikiran Soeharto menurut saya, berkedok tradisi jawa yang menanamkan sikap keharusan untuk “manut” kepada atasan dan kekuasaan Presiden seolah-olah seperti seorang raja/dinasti yang memiliki kekuasaan untuk berkuasa terus menerus.
Pada fase ini pun militer dan birokrasi memegang peranann penting dalam pemerintahan sehingga menjadi instrument politik penguasa. Namun meski pemerintahan didominir oleh sekelompok suku, Feith menolak pemikiran dari Harry. J. Benda yang menyatakan bahwa otorritas birokratik merupakan watak dari kepemimpinan Jawa. Faith menyatakan bahwa otorian birokratik merupakan pilihan suatu rejim pemerintah , terbebas dari latar belakang historis dan cultural dibelakangnya.
Keterbatasan faith dalam analisisnya yaitu tidak mengembangkan pemikiran-pemikiran yang revolusioner dari Soekarno ataupun Tan Malaka. Soekarno misalnya memiliki pemikiran yang besar tentang dasar negara; Pancasila. mereka sangat mempengaruhi peta politik Indonesia pada awal-awal Indonesia berdiri. Pemikiran Soekarno merupakan perpaduan antara kekuatan tradisi budaya, nasionalisme juga kekuatan intelektualnya.
2. Partai politik
a. Hakikat partai politik sebagai representation of ideas
Menurut pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No.2 tahun 2008 tentang Partai Politik, Partai politik di Indonesia adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota masyarakat bangsa dan negara,serta memelihara keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun1945.
nilainilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik atau merebut kedudukan politik – biasanya melalui cara konstitusional – untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.
Friedrich menyatakan bila partai poltik adalah sebagai kelompok manusia yang terorganisi secara stabil dengan tujuan untuk merebut dan mempertahankan kekuasan bagi pemimpin partainya, dan berdasarkan kekuasaan tersebut akan memberikan kegunaan materil dan idiil kepada para anggotanya.
Setiap partai politik mengusung idelogi tertentu. Ideology adalah seperangkat tujuan dan ide-ide yang mengarahkan tujuan seseorang, harapan , dan tindakan Sebuah ideology dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara untuk melihat hal-hala, seperti dalam akal sehat dan beberapa kecenderungan filofis, atau satu set ide-ide yang diajukan oleh kelas yang dominan dari masyarakat untuk semua nggota masyararakat. ..
Untuk memahami hakikat partai politik sebagai representation of ideas ada baiknya kita telaah fungsi representasi berikut; Dari sisi fungsi representasi ada dua pemaknaan, yaitu
pertama, makna representasi in presence, yaitu pengertian yang sifatnya formal dalam arti keterwakilan dilihat dari keberadaan fisik, sehingga berdasarkan makna ini keterwakilan dianggap baru ada apabila secara fisik resmi dan wakil rakyat sudah terpilih sudah duduk dalam lembaga perwakilan.
kedua, makna representative in ideas, yaitu perwakilan substansial yaitu perwakilan aspirasi atau idea.
Keterwakilan secara substansial adalah keterwakilan dianggap ada apabila memang secara nyata kepentingan, nilai, aspirasi, dan pendapat rakyat yang diwakili dan benar-benar diperjuangkan dan benar-benar menjadi kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga perwakilan tersebut atau setidak-tidaknya aspirasi telah diperjuangkan dalam perumusan kebijakan di parlemen. Inilah yang dimaksud dengan representative in ideas
Bagi rakyat pemilih yang juga pemikir yang menitipkan aspirasi dan cita-citanya kepada partai politik, tentunya tak akan puas hanya dengan keterpilihan sosok yang mewakilinya apabila sosok tersebut tidak bisa menterjemahkan apa yang diamanahkan oleh para pemilihnya dalam penetapan kebijakan-kebijakan pemerintah.
Bisa kita bayangkan , saat ini bagaimana para partai politik bersaing agar calon-calonnya terpilih melalui berbagai kampanye. Namun apa yang terjadi setelah pemilihan usai? Orang terpilih tersebut jauh dari harapan . mereka yang terpilih itu, jangankan menyampaikan harapan dan aspirasi para pemilihnya untuk mengikuti rapat anggota dewan pun sering tidak hadir. Ini adalah fakta yang kerap kita lihat dan kita dengar.
Seharusnya partai politik sebagai representative in ideas benar-benar bekerja untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggotanya, mengoranisisr dan membentuk para kadernya untuk benar-benar menjadi warga negara yang memang berkeinginan mewujudkan cita-cita ideologi politik partainya dan mendukung apa yang menjadi tujuan negara.
Partai politik merupakan media bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan publik baik di pusat maupun di daerah. Untuk itu tidak selayaknya partai politik yang telah mendapat dukungan dari masyarakat untuk “lupa “ dengan janji dan tujuan apa yang diharapkan para pendukungnya.
Partai politik harus bisa membentuk para kadernya untuk mampu berfungsi sebagai alat untuk mengkomunikasikan pandangan dan prinsip-prinsip partai, program kerja partai, gagasan partai dan memahami visi misi partainya dengan baik sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945
b. Partisanship sulit berkembang di Indonesia
Mereka begitu menggebu untuk mendapat simpatisan. Selesai Pemilu, penghargaan itu akan menurun drastis. Suara rakyat pemilihnya tergeser oleh kepentingan partai. Mereka tidak lagi ramah dan mendekat kepada rakyat. Apa yang diamanatkan rakyat pemilih tergeser oleh kepentingan-kepentingan partai. Mereka seolah tidakmengenal rakyat pemilihnya.
Seharusnya Partisanship terus dibangun baik itu menjelang Pemilu maupun sesudah Pemilu agar terjalin komunikasi yang baik antara partai dan rakyat /pemilih/ simpatisan. Posko-posko yang dibentuk pada menjelang pemilihan, dimana biasanya para anggota parpol menyusun rencana kegiatan dengan berdiskusi bersama para kaderdan simpatisannya sering menjadi tidak nampak aktivitas bahkan seolah tak pernah ada lagi saat Pemilu itu usai.
Perlu dipikirkan, walau bagaimanapun adalah tugas dari partai politik itu sendiri untuk menyerap aspirasi rakyat dan mewujudkannya dalam kebijakan-kebijakan publik saat wakil partai tersebut terpilih dan duduk dalam lembaga pemerintah. Bagimana mereka bisa tahu apa yang menjadi aspirasi rakyat bila jarang berkomunikasi bahkan tempat berkomunikasipun tidak ada? Bagaimana mereka bisa tahu apa yang dibutuhkan rakyat bila menutup diri?
Saatnya Mindset para wakil rakyat harus berubah, bahwa partisipanship adalah penting untuk membangun public trust! Tanpa adanya public trust, partai politik akan kehilangan suara dan tidak berarti apa-apa. Oleh karena itu partai politik harus mengembangkan komunikasi yang terjalin dengan teratur dengan rakyat pemilih dan menganggap komunikasi itu sebagai penunaian terhadap hak rakyat . Dengan demikian, rakyat tidak merasa ditinggalkan dan aspirasinya dapat tersalurkan. Inilah yang akan menjadi kekuatan untuk sebuah partai dan terbentuk kepercayaan r4akyat kepada partai.
3. Pemikiran politik Thomas Jefferson
Thomas Jefferson menjadi presiden pada tahun 1801 . Pada awalnya ia dipengaruhi oleh pemikiran Henry Knox sekretaris dari George Washington yang menetapkan perjanjian Holston. Pemerintah mengambil alih wilayah tanah milik suku Indian yang kaya dengan emas dengan berdalih meningkatkan peradaban warga Indian. Thomas Jefferson umumnya dianggap sebagai salah satu Presiden yang paling populer dan sukses dari Amerika Serikat Presiden. Namun ditemukan bahwa Jefferson memiliki salah satu saat paling sulit sebagai pemimpin bangsa. Jefferson membuat banyak kesalahan selama dua masa jabatannya, beberapa di antaranya berdampak buruk terhadap seluruh penduduk Amerika Serikat.
Pada kenyataannya Jefferson bertindak jauh lebih agresif dari pada apa yang Knox lakukan. Jefferson memerintahkan agen-agennya untuk mengintensifkan tekanan pada suku-suku untuk menjual lebih banyak dan lebih besar tanah wilayah mereka kepada negara dengan melakukan banyak intimidasi termasuk kepada para kaumwanita yang secara paksa digusur keluar dari rumah merekamasing-masing. Jefferson, dengan agresi nya sesungguhnya tidak bertujuan untuk meningkatkan peradaban suku Indian, tetapi bermaksud memindahkan mereka dari wilayah milikinya. Oleh karena itu penting untuk mengidentifikasi bahwa penyebab Removal Act India tidak berasal dari tahun 1830-an , melainkan memuncak pada awal abad kesembilan belas . Pada th 1830,kongres mengeluarkan UU pemindahan suku Indian di kawasan timur untuk berpindah ke wilayah barat di seberang sungaiMississipi .
Mereka berharap para suku Indian mau menyerahkan lahan perburuan mereka dengan alasan untuk mempercepat akulturasi. Ternyata program tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan. Suku Indian bersikeras untuk tetap tinggal di wilayahnya beserta kebudayaannya. Hal ini memunculkan konflik dimasyarakat amerika. Mereka menganggap suku Indian adalah suku yang tidak beradab dan tidak layakhidup didunia modern.
pemisahan geografis India dan putih , tetapi ribuan penduduk asli Amerika tewas dalam proses.
Dengan demikian penghilangan identitas yang dipaksakan oleh Jefferson kepada suku Indian, dengan dalih untuk meningkatkan harkat dan martabat suku Indian adalah merupakan suatu pelanggaran besar terhadap Hak Asasi Manusia yang selalu didengung-dengungkan oleh Amerika Serikat.
4. Makna identitas bagi perkembangan peradaban sebuah bangsa
Identitas nasional adalah jati diri yang dimiliki oleh suatu bangsa. Identitas setiap bangsa adalah berbeda- berbeda dan menjadi pembeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya. Dibawah ini beberapa defini dari identitas suatu bangsa :
Definisi identitas menurut Parsudi Suparlan adalah :
“Pengenalan atau pengakuan terhadap seseorang yang termasuk dalam suatu golongan yang dilakukan berdasarkan atas serangkaian ciri-ciri yang merupakan suatu kesatuan bulat dan menyeluruh, serta menandainya sehingga dapat dimasukkan dalam golongan tersebut” (Parsudi Suparlan: 1999)
Identitas Nasional adalah istilah yang menggambarkan suatu negara secara keseluruhan, meliputi budaya, tradisi, bahasa, dan politik. Identitas nasional adalah identitas orang tersebut dan rasa memiliki terhadap satu negara atau satu bangsa, perasaan dia / dia saham dengan sekelompok orang.
Berdasarkan pengertian diatas, maka jelaslah bahwa setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Demikian pula, hal ini juga sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut terbentuk secara historis. Identitas diperlukan dalam interaksi antar bangsa (baik individu maupun kelompok/negara) . negara memerlukan identitas untuk menentukan status dan peranan bangsa tersebut di dunia internasional ,sebagai pola interaksi antar identitas dalam suatu masyarakat bangsa menunjukkan struktur sosial masyarakat tersebut.
Faktor Primer, mencakup etnisitas, teritorial, bahasa, agama dan yang sejenisnya. Bagi bangsa Indonesia yang tersusun atas berbagai macam etnis, bahasa, agama wilayah, serta bahasa daerah, merupakan suatu kesatuan meskipun berbeda-beda dengan kekhasan masing-masing.
Faktor Pendorong, meliputi pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembangunan lainnya dalam kehidupan Negara. Dalam hubungan ini bagi suatu bangsa, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan negaradan bangsanya juga merupakan suatu identitas nasional yang bersifat dinamis. Faktor Penarik, mencakup kodifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnnya birokrasi dan pemantapan sistem pendidikan nasional. Bagi bangsa Indonesia unsur bahasa telah merupakan bahasa persatuan dan kesatuan nasional, sehingga bahasa Indonesia telah merupakan bahasa resmi Negara dan bangsa Indonesia. Faktor Reaktif, meliputi penindasan, dominasi, dan pencarian identitas alternatif melalui memori kolektif rakyat. Penderitaan dan kesengsaraan hidup serta semangat bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan merupakan faktor yang sangat strategis dalam membentuk memori kolektif rakyat untuk semakin membina rasa senasib sepenanggungan
Dengan demikian identitas suatu bangsa beserta unsur-unsur pembentuknya adalah penting untuk dilestarikan ,bukan untuk dimusnahkan. Melalui identitas bangsanya, warga negara dapat mempelajari kehidupan proses negaran, bagaimana negara berkembang dari waktu ke waktu dan mempelajari apa yang telah dilakukan negaranya dan dengan identitas yang dimilikinya apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Identitas suatu bangsa adalah cermin diri bagi bangsa itu sendiri.
6. Kekuasaan dan kekuatan
a. Makna kekuasaan dan kekuatan dalam Ilmu Sosial
Sedangkan definisi dari kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002) atau Kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).
Robert Mac Iver mengatakan bahwa Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara langsung dengan jalan memberi perintah / dengan tidak langsung dengan jalan menggunakan semua alat dan cara yg tersedia. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan, ada yg memerintah dan ada yg diperintah. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dari kekuasaan. Contohnya Presiden, ia membuat UU (subyek dari kekuasaan) tetapi juga harus tunduk pada UU (objek dari kekuasaan).
Sudut pandang kekuasaan
Kekuasaan bersifat positif
Merupakan Kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada individu sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang dapat memengaruhi dan mengubah pemikiran orang lain atau kelompok untuk melakukan suatu tindakan yang diinginkan oleh pemegang kekuasaan dengan sungguh-sungguh dan atau bukan karena paksaan baik secara fisik maupun mental.
Kekuasaan bersifat Negatif
Konsep yang berkaitan dengan kekuasaan diantaranya adalah :
Influence atau pengaruh, yaitu bagaimana seseorang mampu mempengaruhi orang lain agar mendukungnya secara sukarela.
Persuasi, yaitu cara meyakinkan seseorang atau orang banyak dengan memberikan argumentasi
Manipulasi, adalah kemampuan seseorang dalammempengaruhi orang lain tanpa orang tersebut menyadari bahwa dirinya dipengaruhi
Force, menunjuk pada tekanan fisik, seperti membatasi kebebasan. Biasanya dilakukan dengan menggunakan senjata sehingga orang lain mengalami ketakutan
Dari tinjauan diatas adalah kekuasaan sebaiknya tidak hanya sekedar paksaan seseorang kepada orang lain atau pada sekelompok orang untuk mengikuti dan takluk kepada pengaruh yang diinginkan tetapi kekuasaan dapat dilaksanakan melalui konsesnsus dan kerelaan.
Definisi kekuatan menurut Bachrach adalah :
Bachrach’s and Baratz’s (1962) own take on power concentrates on how one party can influence the prominence of issues that are considered important in a given society: “Power is…exercised when A devoted his energies to creating or reinforcing social and political values and institutional practices that limit the scope of the political process to public consideration of only those issues which are comparatively innoccus to A” . Bachrach and Baratz (1962) http://www.ukessays.com/
Bachrach dan Baratz s mengambil sendiri daya berkonsentrasi pada bagaimana satu pihak dapat mempengaruhi keunggulan isu yang dianggap penting dalam suatu masyarakat tertentu: "Power ... dilakukan ketika A mencurahkan energinya untuk menciptakan atau memperkuat nilai-nilai sosial dan politik dan praktik kelembagaan yang membatasi ruang lingkup dari proses politik untuk pertimbangan publik hanya isu-isu yang relatif innoccus ke A "(hal. 948). Bachrach dan Baratz (1962)
Coercive power is the totally different from the reward power. Coercive power is the ability to inflict punishment which means to force someone to do something against his wish. Coercive power is possibly physical harm but some time other threats could be used but its main purposes compliance. Coercive power is the power of dictators, financial, expert and personnel. Examples of coercive power are all governments. Although mostly it is use as negative but also it is often seen to keep the peace. For children's who know no better about any thing parents used the coercive power. http://www.ukessays.com/
Kekuasaan untuk memaksa seseorang/sekelompok orang untuk patuh tetap diperlukan agar tercipta ketertibandalam bermasyarakat/bernegara. Kekuatan yang dimiliki oleh pemerintah untuk memaksa warga negara melaui aparatnya akan membuat timbul kepatuhan kepada mereka pengemban kekuatan bukan karena kepribadian mereka.
Kekuasaan seorang Presiden menimbulkan kekuatan melalui perangkat alat pemaksanya untuk memaksa warga negara mematuhi hukum
Dengan demikian dapat kita simpulkan, kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau biasanya melalui penghargaan dan hukuman. Sedangkan kekuatan adalah hak yang ditimbulkan dari suatu kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain berdasarkan tugasnya.
6. Sifat dasar kekuasaan politik yang membedakannya dari jenis kekuasaan
yang lain.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau lembaga untuk memaksa orang untuk melakukan hal-hal apa yang apakah mereka ingin lakukan ataupun tidak melalui berbagai cara.
Kekuasaan politik berbeda dengan kekuasaan dengan kekuatan pengaruh . Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan media , mereka mungkin dapat mempengaruhi atas apa yang parlemen lakukan, tetapi mereka tidak dapat menegakkan keinginan mereka
Sifat dasar kekuasaan politik biasanya berhubungan dengan disiplin dan loyalitas . Teori pluralis menyatakan bahwa kekuasaan politik harus dianggap sebagai analitis berbeda dari kekuatan ekonomi dan, berbeda dengan kaum elit, kekuasaan tidak terkonsentrasi di tangan satu kelompok, tetapi tersebar luas di antara berbagai kelompok.
Semua warga negara memiliki kesempatan untuk menjadi aktif secara politik melalui tindakan baik individu atau kelompok. Dalam pembuatan kebijakan tidak hanya melalui pemilihan perwakilan, keaktifan warga negara dapat tampak melalui mekanisme partisipatif politik dalam kelompok.
Definition of politics
The concise English dictionary (1984) includes as “prudent and sagacious as well as crafty, scheming and artful”. This implies politics as having both well meaning characteristics in addition to another more sinister side. Political process tends to take place in democracies where no single body has absolute power.
Kekuasaan politik memiliki dua karakteristik yang saling bertolak belakang yaitu, bijaksana dan cerdas serta curang/licik dan curang. Proses politik yang berlangsung di negara-negara demokrasi tidak memiliki badan tunggalyang berkuasa secara mutlak.
Kekuasaan politik menurut Hobbes, harus dimiliki secara otoriter dengan memungkinkan raja-raja dapat berkuasa secara mutlak untuk menghindari adanya konflik. Sementara John Locke percaya pada kekuatan demokrasi yang memperhatikan adanya , supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, melindungi hak milik dankebebasan individu yang terjamin.
peranan penting dalam roda pemerintahan. Hal ini berbeda dengan kekuasaan lain, yang bisa saja berhasil mempengaruhi orang lain tetapi tidak mendapat legitimasi publik.
a. praksis politik dalam ranah public dan ranah pribadi.
Ranah publik atau “public sphere’. Yaitu semua wilayah yang memungkinkan kehidupan sosial manusia membentuk opini publik yang relatif bebas. Penekanannya mengenai pembentukan kepekaan kemasyarakatan (sense of public), sebagai praktek sosial yang melekat secara budaya. Orang-orang yang terlibat di dalam percakapan public sphere adalah orang-orang privat, bukan orang dengan kepentingan bisnis atau profesional, bukan pejabat atau politikus, yang memiliki kebebasan dalam menyatakan pendapatnya.
Masyarakat ideal menurut Jurgen Habermas bukan lagi masyarakat tanpa kelas seperti yang dicita-citakan Karl Marx, tapi masyarakat di mana setiap anggotanya dapat bebas mengemukakan ide dan gagasan tanpa takut direpresi oleh pihak-pihak tertentu. Inilah yang menjadi akar dari seluruh gagasan Habermas tentang ranah publik (public sphere). Bagaimana cara memperoleh jalan keluar yang disepakati bersama oleh masyarakat? Kuncinya adalah dialog yang dilakukan melalui ranah-ranah publik.
Habermas mendefinisikan ranah publik sebagai suatu konsep ruang di mana individu-individu berkumpul untuk membahas kepentingan bersama, tanpa dibebani oleh kepentingan-kepentingan etnosentrisme masing-masing, untuk menemukan suatu konsensus universal demi kebaikan orang banyak.Ada tiga kriteria umum yang berlaku di dalamnya :
Pertama, ada kesetaraan antara partisipan. Status sosial bukan berarti tidak ada atau tidak disadari, tetapi bisa dilampaui. Artinya, dalam dialog semua orang duduk bersama dengan status yang sama, yaitu warga negara. Kepentingan ekonomi dan kekuasaan juga perlu dilampaui.
Ketiga, sifat ranah publik haruslah inklusif, artinya semua orang dapat bergabung dan mengungkapkan pemikirannya.
Pada ranah publik ini, warga privat ( private people) berkumpul untuk membentuk sebuah publik, dimana nalar publik tersebut akan bekerja sebagai pengawas terhadapkekuasaan negara.
Dengan demikian individu dan kelompok yang berada diranah publik tersebut dapat membentuk opini publik, memberikan ekspresi langsung tentang kebutuhan-kebutuhannya serta mempengaruhi praktek-praktek politik. Bahkan dari ranah publik ini dapat lahir opini-opini yang bersifat mendukung pemerintah atau bahkan menentangnya.
Ranah pribadi adalah bagian wilayah seseorang yang bersifat privacy dan tertutup untuk diketahui sembarang orang kecuali atas kesadaran ijin individu itu sendiri. Apa yang ada dihati dan pikiran seseorang adalah merupakan ranah pribadinya. Kecuali individu tersebut menginginkannya, ia dapat membuka apa yang ada dalam hati dan pikirannya ke ranah publik. Misalnya hasil pemikiran dan perenungan seseorang mengenai politik negeri, maka bisa jadi cukup untuk dikatahui oleh dirinya pribadi. Namun saat individu tersebut menganggap penting apa yang menjadi pemikirannya untuk diketahui orang banyak, dengan mengingat guna dan manfaat, maka ia dapat saja mengemukakannya agar orang lain tahu apa yang hasil pemikirannya tersebut.
5. Ideologi menjadi bahasan penting dalam sejarah pemikiran politik
a. Makna ideology dan perbedaannya dengan ironi
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan.Kata ideologi diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke 18 untuk mendefiniskan “Sains tentang ide. Ideologi dijabarkan sebagai sejumlah program yang diharapkan membawa perubahan institusional (lembaga)dalamsuatu masyarakat.
Ideologi umumnya dirumuskan dari pandangan hidup, baik pandangan yang bersumber dari ajaran agama maupun dari falsafah hidup.
Ideologi yang berasal dari ajaran agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, maupun agama lainnya, ideologi ini biasanya bersifat umum dan universal, artinya berlaku untuk semua umat manusia.
Sedangkan ideologi yang berdasarkan falsafah hidup biasanya berlaku untuk partai, kelas maupun bangsa bersangkutan, sehingga herlaku local atau untuk kelompok atau bangsa itu sendiri.
Dari pengertianpengertian ideologi di atas, maka dapat dikaji lebih lanjut mengenai unsur-unsur suatu ideologi. Menurut Koento Wibisono ada tiga unsur penting dalam suatu ideologi, yaitu:
a. Keyakinan, yaitu setiap ideologi selalu menunjukkan gagasan vital yang sudah diyakini kebenarannya untuk dijadikan dasar dan arch strategic bagi tercapainya tujuan yang telah ditentukan.
b. Mitos, yaitu konsep ideologi selalu memitoskan suatu ajaran yang secara optimal dan pasti, yang menjamin tercapainya tujuan melalui cara-cara yang telah ditentukan. c. Loyalitas, yaitu setiap ideologi menuntut keterlibatan optimal atas dasar loyalitas dari pendukungnya.
Pentingnya sebuah ideologi bagi suatu negara juga memberikan fungsi idelogi, seperti berikut ini:
Membentuk identitas atau kepribadian (ciri) suatu bangsa
Mempersatukan sesama dalam perbedaan
Mempersatukan orang dari berbagai agama yang dianut
Mengatasi berbagai pertentangan, konflik atau ketegangan sosial dalam negara
Pembentukan solidariatas antara warga negara.
7. Fungsi pemikiran ideologis dalam menjawab persoalan politik
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan berfokus pada pemikiran tentang ideologis bangsa Indonesia, Pancasila. Ada fungsi pokok Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah:
a. Dasar negara dan ideologi Negara :
Pancasila sebagai dasar Negara : Sebagai dasar Negara, pancasila berkedudukan sebagai norma dasar atau norma fundamental (fundamental norm) negara dengan demikian Pancasila menempati norma hukum tertinggi dalam Negara ideologi Indonesia. Pancasila adalah cita hukum ( staatside ) baik hukum tertulis dan tidak tertulis ( konvensi ).
Sebagai sumber dari segala sumber hukum, Pancasila merupakan kaidah Negara yang fundamental artinya kedudukannya paling tinggi, oleh karena itu Pancasila juga sebagai landasan ideal penyusunan aturan – aturan di Indonesia. Oleh karena itu semua peraturan perundangan baik yang dipusat maupun daerah tidak boleh menyimpang dari nilai Pancasila atau harus bersumber dari nilai -nilai Pancasila.
Sebagai pandangan hidup, yaitu nilai Pancasila merupakan pedoman dan pegangan dalam pembangunan bangsa dan Negara agar tetap berdiri kokoh dan mengetahui arah dalam memecahkan masalah ideologi, politik, ekonomi, soaial dan budaya serta pertahanan dan keamanan.
Sebagai iiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, nilai pancasila itu mencerminkan kepribadian bangsa sebab nilai dasarnya kristalisasi nilai budaya bangsa Indonesia asli, bukan diambil dari bangsa lain.
Sebagai Perjanjian luhur bangsa Indonesia, pancasila lahir dari hasil musyawarah para pendiri bangsa dan negara ( founding fathers) sebagi para wakil bangsa.
b. Pancasila Sebagai Ideologi Negara :
Dalam arti luas ideologi menunjuk pada pedoman dalam berpikir dan bertindak atau sebagai pedoman hidup di semua segi kehidupan baik pribadi maupun umum.
Dalam arti sempit, ideologi menunjuk pada pedoman baik dalam berpikir maupun bertindak atau pedoman hidup dalam bidang tertentu misalnya sebagai ideologi negara.
Dalam proses menuju masyarakat yang modern, Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh negara-negara lain baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya juga politik. Untuk mengantisipasi pengaruh negatif dari pergaulan internasional tersebut maka kita harus berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.
Dalam menjawab persoalan-persoalan politik, Pancasila sebagai dasar negara haruslah dapat mengatur perilaku negara yang tercermin pada semangat dan kebiasaan bertindak para penyelenggara negara dalam membuat dan melaksanakan peraturan perundang-undangan negara dan bagaimana cara mereka menghasilkan kebijakan yang memang sesuai dengan kebutuhan.
Apabila apa yang ditampilkan para penyelenggara tersebut hanya memanfaatkan negara sebagai alat untuk mempertahankankekuasaan belaka maka jelas itu tidak mencerminkan karakter yang dikehendaki ideologi negara dan menyimpang dari pedoman negara, yaitu Pancasila.
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan dalam mengatasi persoalan politik sesuai dengan Pancasila diantaranya :
Mengurangi ketergantungan ekonomi kepada negara-negara asing/kapitalis
Membenahi standar moral para politisi yang tampak kian merosot pada akhir-akhir ini
Menerapkan aturan hukum yang jelas dan tidak tebang pilih