• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Audit Dan Sistem Pengawasan In

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mekanisme Audit Dan Sistem Pengawasan In"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MEKANISME AUDIT DAN SISTEM PENGAWASAN INTERNAL DAN EKSTERNAL PADA LEMBAGA PEMBIAYAAN SYARIAH

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Audit Organisasi Syariah

Dosen pengampu : Fahri Ali Ahzar

Disusun oleh Kelompok 10 :

KELAS 6C

AKUNTANSI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA

(2)

Mekanisme Audit Dan Sistem Pengawasan Internal Dan Eksternal Pada Lembaga Pembiayaan Syariah

A. Pengertian Lembaga Pembiayaan Syariah

Keberadaan lembaga keuangan yang menawarkan berbagai bentuk fasilitas untuk lebih memperluas penyediaan pembiayaan alternatif bagi dunia usaha dalam system perekonomian modern sangat dibutuhkan. Lembaga pembiayaan diperlukan guna mendukung dan memperkuat system keuangan nasiona yang terdiversifikasi sehingga dapat memberikan alternatif yang lebih banyak bagi pegembangan sector usaha.

Pada era OJK terdapat sejumlah regulasi baru yang diterbitkan untuk menyempurnakan regulasi Lembaga Pembiayaan, yaitu :

1. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 28/PJOK.5/2014 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Pembiayaan.

2. Peraturan Otorisasi Jasa Keuangan Nomor 29/PJOK.05/2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan.

3. Peraturan Otorisasi Jasa Keungan Nomor 30/PJOK.05/2014 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan Pembiayaan.

4. Peraturan Otorisasi Jasa Keuangan Nomor 31/PJOK.05/2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Pembiayaan Syariah.

Perusahaan pembiayaan selain beroperasi menggunakan system konvensiona juga dapat melakukan pembiayaan berdasarka prinsip Syariah. Pembiayaan berdasarkan prinsipsyariah adalah pembiayaan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara perusahaan pembiayaan dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan pembiayaan tersebut dalam jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Adapun prosedur pendirian dan pengurusan izin usaha serta kelembagaan penyelenggara perusahaan pembiayaan syariah merujuk pada Peranturan Orientasi Jasa Keuangan Nomor 28/PJOK.05/2014 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Pembiyaan. Perusahaan pembiayaan syariah dapat dibentuk dengan berbadan hokum koperasi atau perseroan terbatas.

(3)

B. Prinsip dan Kegiatan Usaha Pembiayaan Syariah

Dalam POJK Nomor 31/PJOK.05/204 disebutkan bahwa perusahaan pembiyaan syariah adalah perusahaan pembiyaan yang seluruh kegiatan usahanya melakukan pembiyaan syariah. Penyelanggaraan pembiyaan syariah wajib memenuhi sejumlah prinsip, yaitu :

1. Memenuhi prinsip keadilan, yaitu menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya, memberikan sesuatu hanya pada yang berhak, serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya.

2. Keseimbangan, yaitu meliputi keseimbangan aspek material dannn spriritual, aspek privat dan public, sector keuangan, dan sector riil, bisnis dan sosial, dan keseimbangan aspek pemanfaatan dan kelestarian.

3. Maslahah, yaitu segala bentuk kebaikan yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif serta harus memenuhi 3 (tiga) unsur, yakni kepatuhan syariah, bermanfaat dan membawa kebaikan dalam semua aspek secara keseluruhan yang tidak menimbulkan kemudaratan.

4. Universalisme, yaitu dapat dilakukakan oleh, dengan dan untuk semua pihak yang berkepentingan tanpa memebedakan suku, agama,ras, dan golongan, sesuai dengan semangat kerahmatan semesta.

5. Serta tidak mengandung unsur :

a. Gharar, yaitu transaksi yang bjeknya tidak jelas, tidak dimiliki keberadaabbya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan.

b. Maysir, yaitu transaksi yang spekulatif (untung-untungan) yang tidak terkait langsung dengan produktivitas disektor riil.

c. Riba, yaitu pemastian penambahan pendapatan secara tidak sah.

d. Zhulm, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihal lainnya.

e. Risywah, yaitu tindakan suap dalam bentuk uang, fasilitas, atau bentuk lainnya yang melanggar hokum sebagai upaya mendapatkan fasilitas atau kemudahan dalam suatu transaksi.

f. Objek haram, yaitu suatu barang atau jasa yang diharamkan dalam syariah.

Kegiatan pembiayaan syariah dapat dilakukan dengan menggunakan akad tunggal dan/atau gabungan akad dari berbagai akad setelah terlebih dahulu melaporkan setiap penggunakan akad tuggal dan/atau gabungan akad kepada OJK. Kegiatan pembiayaan syariah meliputi sejumlah pembiayaan yang terdiri dari sejumlah akad sebagai berikut :

(4)

Pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang melalui transaksi jual beli sesuai dengan perjanjian pembayaran syariah yang disepakati oleh para pihak. Akad yang digunakan dalam pembiayaan hual beli anatara lain :

a. Murabahah b. Salam c. Istishna’

2. Pembiayaan investasi

Pembiayaan dalam bentuk penyediaan modal degan jangka waktu tertentu untuk kegiatan usaha produktif dengan pembagian keuntungan sesuai degan perjanjian pembiayaan syariah yang disepakati oleh para pihak. Akad yang digunakan dalam pembiayaan investasi antara lain :

a. Mudharabah b. Musyarakah

c. Mudharabah musyatarakah d. Musyarakah mutanaqishah 3. Pembiayaan jasa

Pemberian/penyediaan jasa baik dalam bentuk pemberian manfaat atas suatu barang, pemberian pinjaman dana/atau pemberian pelayanan dengan dan/atau tanpa pembayaran imbal jasa sesuai dengan perjanjian pembiayaan syariah yang disepakati oleh para pihak. Akad yang digunakan dalam pembiayaan jasa antara lalin :

a. Ijarah, yaitu pemindahan hak guna atas suatu barang dalam jangka waktu tertentu dengan pembayaran sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sndiri.

b. Ijarah muntahiyah, yaitu ijarah yang disertai denagn janji pemidahan kepemilikan setelah masa ijarah selesai.

c. Hawalah atau hawalah bil ujrah, yaitu pengalihan utang dari satu pihak yang berutang kepada pihak lain yag wajib menanggung pembayarannya.adapun hawalah bil ujrah adalah hawalah dengan pengenaan imbal jasa.

d. Wakalah atau wakalah bil ujrah, yaitu pemberian kuasa dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa dalam hal yag boleh diwakilkan, dimana penerima kuasa tidak menanggug risiko terhadap apa yang diwakilkan, kecuali karena kecerobohan. Adapun wakalah bil ujrah adalah wakalah dengan pengenaan imbal jasa.

e. Kafalah atau kafalah bil ujrah, yaitu jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga utuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang bertanggung. Adapun khafalah bil ujrah adalah kafalah dengan pengenaan imbal jasa.

(5)

g. Qardh, yaitu pinjem-meminjam dana tanpa imbalan dengan kewajiban pihak peminjam mengembalikan pokok pinjaman secra sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu.

C. Perjanjian Pembiayaan Syariah

Perjanjian pembiayaan syariah antara perusahaan syariah dengan konsumen wajib dibuat secara tertulis. Perjanjian pembiayaan syariah dalam kegiatan pembiayaan syariah wajib memenuhi ketentuan penyusunan perjanjian sebgaimana diatur dalam Peraturan OJK mengenai perlindungan konsumen sector jasa keuangan.

Perjanjian pembiayaan syariah yang dilakukan wajib memenuhi ketentuan, yaitu :

1. Dilaksanakan tanpa unsur paksaan diantara para pihak yang berakad atau bertransaksi. 2. Obyek yang terdapat dalam perjanjian pembiayaan syariah sesuai dengan prinsip syariah

dan peraturan perundang-undang.

Pada dasarnya pejanjian pembiayaan syariah yang telah disepakati oleh para pihak tidak dapat dibatalkan, kecuali :

1. Para pihak setuju untuk menghentikannya.

2. Tidak terpenuhinya kondisi hukum Karena tidak memenuhi dua ketentuan diatas.

Apabila perusahaan syariah melakukan pembiayaan jual beli untuk kendaraan bermotor, perjanjian pembiayaan syariah wajib mencantumkan nilai uang muka.

D. Uang Muka Pembiayaan Jual Beli Kendaraan Bermotor

Perusahaa syariah yang melakukan pembiayaan jual beli untuk kendaraan bermotor wajib menerapkan ketentuan uang muka kepada konsumen sebagai berikut :

1. Bagi kendaraan bermotor roda dua atau tiga, paling rendah 20% dari harga jual kendaraan yang bersangkutan.

2. Bagi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang digunakan untuk tujuan produktif, paling rendah 20% dari harga jual kendaraan yang bersangkutan.

3. Bagi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang digunakan untuk tujuan nonproduktif, paling rendah 25% dari harga jual kendaraan yang bersangkutan.

E. Produk Lembaga Pembiayaan Syariah 1. Sewa Guna Usaha (Leasing) Syariah

(6)

Sedangkan yang dimaksud dengan sewa guna usaha (leasing) syariah adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran sesuai dengan prinsip syariah. Dalam setiap transaksi leasing terdapat paling tidak 5 pihak yang berkepentingan yaitu:

- Lessor, yaitu pihak yang menyewakan barang dan dapat terdiri dari beberapa perusahaan. Lessor merupakan perusahaan yang menyediakan jasa pembiayaan kepada pihak lesse dalam bentuk barang modal. Lessor dalam finance lease bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai penyediaan barang modal dengan mendapatkan keuntungan. Sedangkan dalam operating lease, lessor bertujuan mendapatkan keuntungan dari penyediaan barang serta pemberian jasa-jasa yang berkenaan dengan pemeliharaan serta pengoperasian barang dan modal tersebut.

- Lessee, adalah perusahaan ataupihak yang memperoleh pembiayaan dalam bentuk barang modal dari lessor.

- Supplier, adalah perusahaan atau pihak yang mengadakan atau menyediakan barang untuk dijual kepada lessee dengan pembayaran tunai oleh lessor.

- Bank terlibat secara tidak langsung dalam kontrak tersebut, namun pihak bank memegang peranan dalam hal penyediaan dana kepada lessor terutama dalam mekanisme leverage lease dimana sumber dana pembiayaan lessor diperoleh melalui kredit bank.

- Asuransi merupakan perusahaan yang akan menanggung risiko terhadap perjanjian antara lessor dan lessee

a. Prinsip Operasional Usaha Leasing Syariah

Usaha leasing syariah dilakukan berdasarkan akad ijarah dan akad al ijarah al muntahiyah bi tamlik

1) Ijarah

Akad ijarah adalah akad penyaluran dana untuk pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam wajtu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) antara perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (mu’ajjir) dengan penyewa (musta’jir) tanpa diikuti pengalihan kepemilikan barang itu sendiri.

(7)

- Hak perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa

Yaitu memperoleh pembayaran sewa dan/atau biaya lainnya dari penyewa , dan mengakhiri akad ijarah dan menarik objek ijarah apabila penyewa tidak mampu membayar sewa sebagaimana dijanjikan.

- Kewajiban perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa

Yaitu menyediakan objek ijarah,menanggung biaya pemeliharaan objek ijarah, menjamin objekijarah yang disewakan tidak terdapat cacat dan dapat berfungsi dengan baik

b) Hak dan Kewajiban penyewa yaitu

- Hak penyewa yaitu menerima objek ijarah dalam keadaan baik dan siap digunakan, menggunakan objek ijarah yang disewakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang diperjanjikan.

- Kewajiban penyewa yaitu membayar sewa dan biaya-biaya lainnya sesuai yang diperjanjikan, mengembalikan objek ijarah apabila tidak mampu membayar sewa, menjaga dan menggunakan objek ijarah sesuai yang dijanjikan, tidak menyewakan kembali dan/atau memindahtangankan objek ijarah kepada pihak lain.

c) Ketentuan objek ijarah yaitu

- Milik dan/atau dalam penguasaan perusahaan pembiayaan - Manfaatnya dapat dinilai

- Manfaatnya dapat diserahkan kepadapenyewa - Pemanfaatannya tidak dilarang dalam syariah - Manfaatnya dapat ditentukan dengan jelas - Spesifikasi objeknya dinyatakandengan jelas d) Objek ijarah antara lain:

- Alat-alat berat - Alat-alat kantor - Alat-alat foto - Alat-alat medis - Alat-alat printer

- Alat-alat pengangkutan - Mesin-mesin

- Gedung - Computer

- Peralatan telekomunikasi atau satelit e) Persyaratan penetapan harga sewa (ujrah)

(8)

- Alat pembayaran ujrah objek ijarah adalah berupa uang atau bentuk lain yang memiliki nilai yang sama yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah

f) Kontrak ijarah minimal memuat hal-hal berikut - Identitas pemberi sewa dan penyewa - Spesifikasi objek ijarah

- Spesifikasi manfaat objek ijarah

- Harga perolehan, nilai pembiayaan, dan pembayaran sewa ijarah - Janga waktu sewa

- Saat penyerahan objek ijarah

- Ketentuan mengenai pengakhiran transaksi yang belum jatuh tempo - Ketentuan mengenai biaya-biaya yang timbul selama masa sewa

- Ketentuan mengenai biaya-biaya yang ditanggung oleh masing-masing pihak apabila terdapat kerusakan, kehilangan atau tidak berfungsinya objek ijarah

- Ketentuan mengenai pengalihan kepemilikan objek ijarah oleh perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa kepada pihak lain

- Hak dan tanggung jawab masing-masing pihak

g) Dokumentasi dalam ijarah oleh pemberi sewa minimal meliputi - Surat persetujuan prinsip

- Akad ijarah

- Perjanjian pengikatan jaminan atas pembayaran sewa - Tanda terima barang

2) Ijarah al Muntahiyah bi al Tamlik

Merupakan akad penyaluran dana untuk pemindahan hak guna atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa, antara perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa dengan penyewa disertai opsi pemindahan hak milik atas barang tersebut kepada penyewa setelah selesai masa sewa. Landasan akad ini adalah Fatwa DSN MUI No. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang al ijarah al muntahiyah bi al Tamlik atau al Ijarah wa al Iqtina’.

a) Dalam pelaksanaan ijarah muntahiyah bi tamlik, perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa wajib membuat wa’ad, yaitu janji pemindahan kepemilikan objek ijarah muntahiyah bit tamlik pada akhir masa sewa. Wa’ad yang dibuat pemberi sewa bersifat tidak mengikat bagi penyewa dan apabila wa’ad dilaksanakan, maka pada akhir masa sewa wajib dibuat akad pemindahan kepemilikan.

b) Hak perusahaan pembiayaan yaitu

(9)

- Menarik objek ijarah muntahiya bi tamlik apabila penyewa tidak mampu membayar sewa sebagaimana yang diperjanjikan

- Pada akhir masa sewa, mengalihkan objek ijarah muntahiyah bi tamlik kepada penyewa lain yang mampu dalam hal penyewa sama sekali tidak mampu untuk memindahkan kepemilikan objek ijarah muntahiyah bi tamlik atau memperpanjang masa sewa atau mencari calon penggantinya. c) Kewajiban perusahaan pembiayaan

- menyediakan objek ijarah muntahiyah bi tamlik,

- menanggung biaya pemeliharaan objek ijarah muntahiyah bi tamlik kecuali diperjanjikan lain,

- menjamin objek ijarah muntahiyah bi tamlik yang disewakan tidak terdapat cacat dan dapat berfungsi dengan baik

d) Hak penyewa yaitu

- Menggunakan objek ijarah muntahiyah bi tamlik sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang diperjanjikan

- Menerima objek ijarah muntahiyah bi tamlik dalam keadaan baik dan siap dioperasikan

- Pada akhir masa sewa, memindahkan kepemilikan objek ijarah muntahiyah bi tamlik, atau memperpanjang masa sewa, atau mencari calon penggantinya dalam hal tidak mampu untuk memindahkan hak kepemilikan atas objek ijarah muntahiyah bi tamlik atau memperpanjang masa sewa

- Membayar sewa sesuai dengan perjanjian e) Kewajiban penyewa yaitu

- Membayar sewa sesuai dengan yang diperjanjikan

- Menjaga dan menggunakan objek ijarah muntahiyah bi tamlik sesuai yang diperjanjikan

- Tidak menyewakan kembali objek ijarah muntahiyah bi tamlik kepada pihak lain

- Melakukan pemeliharaan kecil (tidak material) terhadap objek ijarah muntahiyah bi tamlik

f) objek ijarah muntahiyah bi tamlik adalah berupa barang modal yang memenuhi ketentuang sebagai berikut:

- objek ijarah muntahiyah bi tamlik merupakan milik perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa

(10)

- manfaatnya tidak diharamkan oleh syariat Islam - manfaatnya harus ditentukan dengan jelas - spesifikasinya harus dinyatakan dengan jelas g) objek ijarah muntahiyah bi tamlik antara lain

- Alat-alat berat - Alat-alat kantor - Alat-alat foto - Alat-alat medis - Alat-alat printer

- Alat-alat pengangkutan - Mesin-mesin

- Gedung - Computer

- Peralatan telekomunikasi atau satelit

h) Harga sewa dan cara pembayaran atas objek ijarah muntahiyah bi tamlik ditetapkan berdasarkan kesepakatan di awal akad

i) Harga untuk opsi pemindahan objek kepemilikan ijarah muntahiyah bi tamlik ditetapkan setelah berakhirnya masa sewa

j) Harga untuk opsi pemindahan kepemilikan dibuat secara tertulis dalam perjanjian pemindahan kepemilikan

k) Alat pembayaran berupa uang atau bentuk lain yang memiliki nilai yang sama dan tidak dilarang secara syariat.

l) Dalam kontrak ijarah muntahiyah bi tamlik minimal memuat hal-hal berikut - Identitas pemberi sewa dan penyewa

- Spesifikasi objek ijarah muntahiyah bi tamlik

- Spesifikasi manfaat objek ijarah muntahiyah bi tamlik

- Harga perolehan, nilai pembiayaan, pembayaran sewa ijarah, ketentuan jaminan dan asuransi atas objek ijarah muntahiyah bi tamlik

- Jangka waktu sewa

- Saat penyerahan objek ijarah muntahiyah bi tamlik

- Ketentuan mengenai pengakhiran transaksi yang belum jatuh tempo - Ketentuan mengenai biaya-biaya yang timbul selama masa sewa

- Ketentuan mengenai biaya-biaya yang ditanggung oleh masing-masing pihak apabila terdapat kerusakan, kehilangan atau tidak berfungsinya objek ijarah muntahiyah bi tamlik

- Ketentuan mengenai pengalihan kepemilikan objek ijarah muntahiyah bi tamlik oleh perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa kepada pihak lain

(11)

m) Dokumentasi dalam ijarah muntahiyah bi tamlik oleh perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa minimal meliputi

- Surat permohonan ijarah muntahiyah bi tamlik - Surat persetujuan prinsip

- Akad ijarah muntahiyah bi tamlik - Dokumen wa’ad

- Perjanjian pengikatan jaminan atas pembayaran sewa - Tanda terima barang

- Perjanjian pemindahan kepemilikan b. Prosedur transaksi Leasing Syariah

1) Lessee menghubungi supplier untuk pemilihan dan penentuan jenis barang, spesifikasi harga, jangka waktu pengiriman, jaminan purna jual atas barang. 2) Pihak lessee mengajukan permohonan untuk memperoleh fasilitas suatu

barang modal dimana lessee dapat meminta lease quotation. Pihak lessor kemudian meneliti maksud dan tujuan permohonan lessee serta meneliti kelengkapan dokumen yang disyaratkan (permohonan tertulis, akta perusahaan/KTP, laporan keuangan/slip gaji, NPWP). Jika dokumen yang dibutuhkan sudah lengkap, maka pihak lessor mengirimkan letter of offer yang berisi syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayai barang modal kepada lessee. Jika lessee setuju maka lessee menandatanganinya dan mengembalikannya kepada pihak lessor. Pihak lessor akan meneliti dan menganalisis informasi dan data yang diberikan dengan cara:

a) Melakukan analisis 5C (Character, capacity, Capital, Condition, dan Collateral) untuk mengukur kemauan membayar lessee

b) Meneliti langsung ke lokasi lessee berada (on the spot) c) Meneliti ke lokasi dimana lessee punya hubungan

Hasil penelitian akan dijadikan pertimbangan apakah permohonan ditolak, masih dipertimbangkan, atau diterima.

3) Jika permohonan lessee diterima maka pihak lessee dan lessor bertemu untuk menandatangani perjanjian serta biaya-biaya yang harus dibayar oleh lessee. 4) Selanjutnya pihak lessor melakukan pemesanan kepada supplier sesuai

dengan tipe dan spesifikasi barang dan membayar sesuai perjanjian

5) Pihak suppier mengirim barang sesuai dengan surat pemesanan dan surat bukti pembayaran kepada lessee. Selanjutnya lesse menandatangani surat tanda terima dan perintah bayar yang diserahkan kepada supplier

(12)

7) Pembayaran oleh lessor kepada supplier

8) Pembayaran angsuran secara berkala oleh lessee kepada lessor selama masa sewa guna usaha yang seluruhnya mencakup pengembangan jumlah yang dibiayai.

2. Anjak Piutang Syariah

Anjak piutang syariah adalah transaksi pembelian dan/atau penagiahan serta pegurusan piutang atau tagihan jangka pendek klien (penjual) kepada perusahaan anjak piutang, kemudian akan ditagih oleh perusahaan anjak piutang kepada pembeli karena adanya pembayaran kepada klien oleh perusahaan anjak piutang. Kegiatan pokok anjak piutang adalah

- Pengambilalihan tagihan suatu perusahaan, baik dengan cara dibeli atau dengan cara lainnya sesuai dengan kesepakatan

- Penagihan piutang perusahaan klien

- Mengelola usaha penjualan kredit suatu perusahaan

Sedangkan, yang dimaksud dengan anjak piutang syariah adalah kegiatan pengalihan pitang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut sesuai dengan prinsip syariah. Anjak piutang dilakukan berdasarkan akad wakalah bil ujrah. wakalah bil ujrah adalah pelimpahan kuasa oleh satu pihak (al muwakil) kepada pihak lain (al wakil) dalam hal-hal yang boleh diwakilkan dengan pemberian keuntungan (ujrah). Perlu ditekankan disini bahwa secara umum pengurusan piutang tersebut haruslah tidak dilakukan dengan cara-cara yang dilarang oleh syariat. Beberapa istilah dalam transaksi anjak piutang yang dapat ditemui secara umum yaitu

- Factor

- Client (penjual piutang/ supplier) - Piutang

- Customer (nasabah) - Kontrak

- Nilai pembiayaan - Retention

- Recourse

a. Prinsip Operasional Usaha Anjak Piutang Syariah

1) Hak dan kewajiban perusahaan pembiayaan (wakil) yaitu

- Menagih piutang pengalih piutang (muwakkil) kepada pihak yang berutang (muwakkal’alaih)

(13)

- Meminta jaminan dari pengalih piutang atau tidak meminta jaminan dari pengalih piutang

- Membayar atau melunasi utang pihak yang berutang kepada penagih piutang 2) Hak dan kewajiban penagih piutang (muwakkil) antara lain

- Memperoleh pelunasan piutang dari perusahaan pembiayaan selaku wakil - Membayar upah atas jasa pemindahan piutang sesuai yang dijanjikan

- Dapat menyediakan jaminan kepada perusahaan pembiayaan selaku wakil dalam hal dijanjikan

- Memberitahukan kepada pihak berutang mengenai transaksi pemindahan piutang kepada perusahaan pembiayaan selaku wakil.

3) Hak dan kewajiban pihak yang berutang yaitu

- Memperoleh informasi yang jelas mengenai transaksi pemindahan utangnya dari pengalih piutang kepada perusahaan pembiayaan selaku wakil

- Membayar atau melunasi utang kepada perusahaan pembiayaan selaku wakil 4) Piutang yang menjadi objek wakalah bil ujrah adalah piutang jangka pendek yang

jatuh temponya kurang dari satu tahun yang memenuhi ketentuan sebagai berikut: - Piutang pengalih piutang (muwakkil) yang dipindahkan kepada perusahaan

pembiaaan selaku wakil harus dapat dipastikan oleh para pihak belum jatuh tempo dan tidak dalam kategori piutang macet.

- Piutang yang dialihkan bukan berasal dari transaksi yang diharamkan oleh syariah Islam

- Piutang pengalih piutang (muwakkil) harus dibuktikan dengan dokumen tagihan dan dapat dipastikan keasliannya oleh para pihak.

5) Wakalah bil ujrah antara perusahaan pembiayaan selaku wakil , pengalih piutang (muwakkil), dan pihak yang berutang (muwakkal’alaih) wajib ditetapkan secara tertulis dalam akad wakalah bil ujrah.

6) Dalam wakalah bil ujrah paling kurang memuat hal-hal sebagai berikut:

- Identitas perusahaan pembiayaan selaku wakil, pengalih piutang (muwakkil) dan pihak yang berutang

- Nilai, jumlah, dan waktu jatuh tempo piutang - Ketentuan mengenai upah (jika ada)

- Ketentuan jaminan yang diperoleh perusahaan pembiayaan (jika ada)

- Ketentuan mengenai cara-cara pembayaran utang atau piutang oleh perusahaan pembiayaan selaku wakil, pengalih piutang dan pihak berutang

- Hak dan tanggung jawab masing-masing pihak

7) Dokumentasi dalam wakalah bil ujrah oleh perusahaan pembiayaan selaku wakil minimal meliputi:

(14)

- Akad wakalah bil ujrah sebagai induk perjanjian - Bukti utang piutang

- Surat permohonan realisasi wakalah bil ujrah. - Bukti pelunasan

b. Prosedur Transaksi Anjak Piutang Syariah

1) Supplier (klien) menjual barang atau jasa kepada pembeli (customer). Penyerahan barang dengan D/O yang ditandatangani pembeli. Asli D/O kembali kepada supplier.

2) Karena alasan cash flow, supplier atau klien mewakalahkan tagihannya kepada perusahaan anjak piutang atas persetujuan pembeli (customer)

3) Klien menyerahkan data tagihan, termasuk faktur-faktur atau D/O kepada perusahaan anjak piutang

4) Kontrak persetujuan wakalah bil ujrah tagihan antara klien dengan perusahaan anjak piutang

5) Klien memperoleh pelunasan piutang dari perusahaan anjak piutang

6) Pada saat jatuh tempo perusahaan anjak piutang melakukan penagihan kepada pembeli (customer)

7) Pelunasan utang oleh pembeli. 3. Pembiayaan Konsumen Syariah

Pembiayaan konsumen adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secar angsuran. Pembiayaan konsumen termasuk ke dalam jasa keuangan dan dapatdilakukan baik oleh bank ataupun lembaga keuangan nonbank dalam bentuk perusahaan pembiayaan.

Sedangkan pembiayaan konsumen konsumen syariah adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran sesuai dengan prinsip syariah. Pembiayaaan konsumen diperlukan oleh pengguna dana untuk memenuhi kebutuhankonsumsi dan akan habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti yang telah diketahui secara umum, kebutuhan konsumsi terdiri dari kebutuhan primer (makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, pelayanan kesehatan, pendidikan) dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan tambahan yang secara kuantitatif meupun kualitatif lebih tinggi atau lebih mewah dari kebutuhan primer.

(15)

Murabahah merupakan akad pembiayaan untuk pengadaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya secara angsuran dengan harga lebih sebagai laba. Murabahah dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Dalam pelaksanaan murabahah berdasarkan pesanan, perusahaan pembiayaan sebagai penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari konsumen sebagai pembeli. Murabahah berdasarkan pesanan bersifat mengikat pihak yang berutang untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam pelaksanaan murabahah berdasarkan pesanan bersifat mengikat, konsumen sebagai pembeli tidak dapat membatalkan pesanannya.

a) Hak perusahaan pembiayaan antara lain

- Memperoleh pembayaran dari konsumen sebesar harganya secara angsuran sesuai yang dijanjikan

- Mengambil kembali objek murabahah apabila konsumen sebagai pembeli tidak mampu membayar angsuran sebagaimana diperjanjikan

- Menentukan penyedia barang dalam pembelian objek murabahah b) Kewajiban perusahaan pembiayaan sebagai penjual

- Menyediakan objek murabahah sesuai yang disepakati bersama dengan konsumen sebagai pembeli

- Menjamin objek murabahah tidak terdapat cacat dan dapat berfungsi

c) Dalam menyediakan objek murabahah, perusahaan pembiayaan dapat mewakilkan pembelian barang tersebut kepada konsumen berdasarkan prinsip wakalah, yaitu perjanjian (akad) dimana pihakyang menerima kuasa (wakil) untuk melakukan tindakan atau perbuatan tertentu.

d) Hak dan kewajiban konsumen antara lain:

- Menerima objek murabahah dalam keadaan baik dan siap dioperasikan - Membayar angsuran dan biaya-biaya lainnya sesuai yang diperjanjikan - Mengembalikan atau menitipjualkan objek yang dibiayai

e) Objek murabahah harus memenuhi ketentuan minimal yaitu - Dapat dinilai dengan uang

- Dapat diterima oleh konsumen - Tidak dilarang oleh syariat Islam - Spesifikasinya harus jelas

f) Objek murabahah antara lain - Kendaraan bermotor - Rumah

- Barang-barang elektronik

(16)

g) Persyaratan penetapan harga barang dalam murabahah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut

- Ketentuan harga jual ditetapkan diawal perjanjian dan tidak bolehberubah selama waktu perjanjian

- Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara angsuran atau tunai

- Diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda

- Harga yang disepakati adalah harga jual (harga perolehan) sedangkan harga beli harus dibertahukan kepada konsumen

h) Persyaratan penetapanuang muka (‘urbun) dalam murabahah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut

- Perusahaan pembiayaan diperbolehkan meminta konsumen untuk membayar uang muka (‘urbun) saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan

- Dalam hal konsumen menolak untuk membeli barang tersebut, maka biaya riil perusahaan pembiayaan harus dibayar dari uang muka (‘urbun) tersebut - Dalam hal nilai uang mukalebih kecil dari kegiatan perusahaan pembiayaan

dapat meminta kembali sisa ruginya kepada konsumen.

i) Persyaratan mengenai pengakhiran transaksi murabahah sebelum jatuh tempo wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut

- Dalam hal konsumen dalam murabahah melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, perusahaan pembiayaan diperbolehkan memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad murabahah.

- Besarnya ptongan sebagaimana dimaksudkan sebelumnya diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan perusahaan pembiayaan.

j) Apabila konsumen telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan utang dalam murabahah, maka perusahaan pembiayaan wajib menunda tagihan utang sampai dengan konsumen ia menjadi sanggup kembali membayar tagihan utang atau adanya penyelesaian berdasarkan kesepakatan bersama. k) Persyaratan penetapan sanksi dalam murabahah harus sesuai ketentuan

sebagai berikut:

(17)

- Sanksi dapat berupa denda sosial, ataupun gantirugi berdasarkan atas sebab tertundanya pembayaran dan akibat yang ditimbulakn dari penundaaan tersebut

- Konsumen yang tidak ataubelum mampu membayar disebabkan keadaan memaksa tidak dapat dikenakan sanksi.

l) Dalam kontrak akad murabahah minimal memuat hal-hal berikut - Identitas perusahaan pembiayaan dan konsumen

- Spesifikasi objek murabahah

- Harga jual, harga beli, dan cara pembayaran angsuran - Jangka waktu

- Ketentuan jaminan dan asuransi - Ketentuan mengenai uang muka - Ketentuan mengenai diskon/potongan

- Ketentuan mengenai pengakhiran transaksi yang belum jatuh tempo

- Ketentuan mengenai wanprestasi dan sanksi bagi konsumen yang menunda pembayaran

- Hak dan tanggung jawab masing-masing pihak

m) Dokumen dalam murabahah oleh perusahaan pembiayaan minimal meliputi - Surat persetujuan prinsip

- Surat permohonan realisasi murabahah - Akad wakalah (bila diperlukan)

- Tanda terima uang konsumen, dalam hal perusahaan pembiayaan mewakilkan kepada konsumen melalui wakalah

- Akad murabahah

- Perjanjian pengikatan jaminan - Tanda terima barang

2) Pembiayaan konsumen dengan akad Salam

Salam adalah akad pembiayaan untuk pengadaaan suatu barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu yang disepakati para pihak. Transaksi salam wajib didahului dengan akad pembiayaan pengadaaan barang pesanan antara perusahaan pembiayaan dengan konsumen atas suatu produk yang dikehendaki. Akad pembiayaan pengadaan pesanan bersifat independen dan terpisah dengan akad salam yang dilakukan antara perusahaan pembiayaan dan produsen.

a) Hak perusahaan pembiayaan dalam transaksi salam yaitu

- Menerima barang pesanan dalam keadaan baik dan tidak cacat sesuai dengan spesifikasi yang diperjanjikan

(18)

- Menerima penggantian seluruh biaya-biaya yang telah dikeluarkan sehubungan transaksi salam, apabila produsen sebagai penjual

- Membayar barang pesanan sesuai dengan harga yang disepakati b) Hak dan kewjiban produsen dalam transaksi salam yaitu

- Memperoleh pembayaran dimuka atas harga barang pesanan dari perusahaan pembiayaan

- Menyerahkan barang pesanan dalam keadaan baik dan tidak cacat sesuai dengan spesifikasi yang dijanjikan

- Menyerahkan barang pesanan pada waktu dan tempat sesuai yang dijanjikan

- Menanggung seluruh biaya-biaya yang telah dikeluarkan perusahaan pembiayaan, dalam hal produsen ingkar janji

c) Barang pesanan wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut - Barang yang halal

- Dapat diakui sebagai utang - Dapat dijelaskan spesifikasinya

- Penyerahannya dilakukan kemudianwaktu dan tempat penyerahan harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan

- Tidak boleh ditukar kecuali dengan barang sejenis sesuai dengan kesepakatan

d) Penyerahan barang pesanan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut

- Produsen harus menyerahkan barang pesanan sesuai waktunya dengan kualitas dan jumlah yang disepakati

- Jika produsen menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, maka produsen tidak boleh meminta tambahan harga

- Jika produsen menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah dan perusahaan pembiayaan rela menerimanya, maka perusahaan pembiayaan tidak boleh meminta potongan harga (diskon).

- Produsen boleh menyerakan barang dengan waktu yang lebih cepat sesuai dengan kualitas dan jumlah yang disepakati, produsen tidak boleh meminta tambahan harga.

(19)

e) Penetapan harga barang pesanan wajib ditetapkan sesuai kesepakatan dan tidak boleh berubah selama masa akad

f) Pembayaran harga barang pesanan dilakukan secara penuh dan tunai oleh perusahaan pembiayaan kepada produsen saat perjanjian disepakati

g) Dalam kontrak akad paling tidak memenuhi hal-hal berikut - Identitas perusahaan pembiayaan dan produsen

- Spesifikasi objek

- Waktu dan lokasi penyerahan barang

- Harga barang pesanan dan cara pembayaran - Ketentuan jaminan dan asuransi

- Jangka waktu salam

- Ketentuan mengenai biaya-biaya yang ditanggung oleh masing-masing pihak apabila terdapat kerusakan, kehilangan atau tidak berfungsinya barang pesanan

- Hak dan tanggung jawab masing-masing pihak 3) Pembiayaan konsumen dengan akad Istishna’

Istishna’ adalah akad pembiayaan untuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat) dengan harga yang disepakati bersama oleh para pihak. Dalam pelaksanaan transaksi Istishna’, perusahaan pembiayaan dapat bertindak sebagai pembeli untuk memesan kepada produsen sebagai pembuat untuk menyediakan objek istishna’ dengan akad Istishna’. Akad Istishna’ sebagaimana dimaksud di awal antara perusahaan pembiayaan dan produsen sebagai pembuat bersifat independen dan terpisah dari akad Istishna’ antara perusahaan pembiayaan dan konsumen. Antara perusahaan pembiayaan dan produsen sebagai pembuat harus dilakukan setelah akad Istishna’ antara perusahaan pembiayaan dan konsumen atau pemesan.

a) Hak dan kewajiban pembiayaan antara lain

- Memperoleh pembayaran dari konsumen atau pemesan sebesar harga jual barang secara angsuran sesuai yang dijanjikan

- Mengambil kembali objek Istishna’ apabila konsumen sebagai pembeli tidakmampu membayar angsuran sesuai yang dijanjikan

- Menentukan produsen sebagai pembuat dalampemesanan objek Istishna’ - Menyediakan objek Istishna’ sesuai dengan spesifikasi yang disepakati

dengan konsumen

(20)

- Memperoleh pembayaran dari perusahaan pembiayaan sesuai yang diperjanjikan

- Menyediakan objek istishna’ sesuai dengan spesifikasi yang disepakati bersama dengan perusahaan pembiayaan

- Menjamin objek istishna tidak cacat dan berfungsi

- Menyediakan objek istisna sesuai dengan waktu yang disepakati c) Hak dan kewajiban konsumen anatara lain

- Menerima objek Istishna’ dalam keadaan baik sesuai spesifikasi dan siap dioperasikan

- Menerima objek Istishna’ tepat pada waktunya

- Membayar angsuran atau biaya-biaya lain sesuai dengan kesepakatan d) Objek Istishna’ harus memenuhi ketentuan sebagai berikut

- Barang yang halal

- Dapat diakui sebagai utang - Dapat dijelaskan spesifikasinya

- Penyerahannya dilakukan kemudian waktu dan tempat penyerahan harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan

- Tidak boleh ditukar kecuali dengan barang sejenis sesuai dengan kesepakatan

- Dalam hal terdapat cacat atau tidak sesuai kesepakatan maka pemesan memiliki hak memilih untuk melanjutkan atau membatalkan akad

e) Penetapan harga jual atas objek Istishna’ wajib ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan pembiayaan dan konsumen sebagai pemebeli atau pemesan di awal perjanjian dan tidak boleh berubah selama masa Istishna’

f) Konsumen dapat melakukan pembayaran cicilan pembiayaan objek Istishna’ atas pemesanan barang sejak akad ditandatangani atau dengan cara pembayaran lain yang disepakati bersama

g) Dalam Istishna’ minimal memuat hal-hal berikut - Identitas perusahaan pembiayaan dan konsumen - Spesifikasi objek istishna’

- Waktu dan lokasi penyerahan barang

- Harga jual barang pesanan dan cara pembayaran - Ketentuan jaminan dan asuransi

- Jangka waktu salam

- Ketentuan mengenai pengakhiran transaksi yang belum jatuh tempo

(21)

- Hak dan tanggung jawab masing-masing pihak h) Dokumentasi dalam Istishna’ meliputi

- Surat kesanggupan menyelesaikan barang pesanan dari produsen sebagai pembuat

- Surat persetujuan prinsip dari perusahaan pembiayaan - Akad istishna’

- Perjanjian pengikatan jaminan - Barang/objek pesanan

- Surat permohonan realisasi istishna

- Tanda terima uang dari produsen sebagai pembuat

- Tanda terima barang oleh konsumen sebagai pembeli atau pemesan b. Prosedur Pembiayaan Konsumen Syariah

1) Pihak konsumen menghubungi perusahaan pembiayaan untuk mengajukan pemohonan pembiayaan yang bersifat konsumtif

2) Perusahaan pembiayaan dan konsumen menyepakati kontrak sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam dokumen tertulis yang secara jelas menerangkan syarat dan ketentuan yang disepakati

3) Penyerahan barang kepada konsumen sesuai dengan permohonan konsumen 4) Konsumen membayar kepada perusahaan pembiayaan sesuai dengan kesepakatan F. Mekanisme Audit pada Lembaga Pembiayaan Syariah

Audit Syariah pada lembaga keuangan Islam memiliki arti akumulasi dan evaluasi bukti untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan untuk tujuan kepatuhan syariah. Audit harus dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen. Untuk melakukan audit, harus ada informasi dalam bentuk diverifikasi dan beberapa standar (kriteria) dimana auditor dapat mengevaluasi informasi. Informasi didapat dan diambil dari semua lini. Auditor syariah melakukan audit pada dua tujuan informasi objektif (misalnya informasi keuangan pembagian keuntungan) dan informasi subjektif (informasi syari'ah) untuk memastikan kepatuhan syari'ah lembaga keuangan syariah. Tiga fase Audit Syariah yaitu;

1. Perencanaan

(22)

dilakukan, tujuan dari setiap kegiatan dan teknik yang akan digunakan, termasuk teknik sampling dalam rangka mencapai tujuan audit. Di antara teknik yang dapat digunakan mencakup pemeriksaan makalah, wawancara, benchmarking, survei, studi kasus, diagram alur, dsb.

2. Pemeriksaan

Tehnik audit yang tepat perlu diidentifikasi dan dipaparkan. Teknik yang tepat diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan baik kualitas dan kuantitas untuk mencapai kesimpulan yang masuk akal sesuai dengan kepatuhan syariah. Aspek-aspek utama dari pemeriksaan di lapangan memerlukan teknik sampling. Pemeriksaan yang lebih rinci dari dokumentasi akan diperlukan apakah metodologi sampling digunakan atau tidak. Kertas kerja dan Catatan audit adalah dua hal paling penting dalam tahap pemeriksaan. Tujuan kertas kerja yaitu untuk memberikan catatan sistematis pekerjaan yang dilakukan selama audit dan merupakancatatan informasi dan fakta yang diperoleh untuk mendukung temuan dan kesimpulan.

3. Laporan

Hasil dari pelaksanaan audit, mencakup persiapan laporan audit syariah, yang merupakan komunikasi yang baik dari auditor kepadapara pengguna atau pembaca. Pada umumnya laporan akan berbeda, tetapi semua harus menginformasikan para pembaca mengenai tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan.

Tujuan audit syariah adalah untuk memastikan kesesuaian seluruh operasional dengan prinsip dan aturan syariah yan digunakan sebagai pedoman bagi manajemen dalam mengoperasikan lembaga pembiayaan syariah. Berikut adalah prosedur pengujian audit pada lembaga pembiayaan syariah :

1. Pengujian pengendalian

Pengujian pengendalian adalah pengujian terkait asersi-asersi laporan keuangan. Ada lima asersi yaitu keberadaan dan keterjadian, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian atau alokasi, dan penyajian dan pengungkapan.

2. Pengujian Subtantif a. Prosedur Audit Awal

Auditor menempuh prosedur audit awal dengan cara melakukan rekonsiliasi antara informasi keuangan yang dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya. Oleh karena itu, auditor syariah melakukan 6 prosedur audit berikut ini dalam melakukan rekonsiliasi :

(23)

 Hitung kembali saldo akun

 Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam transaksi

 Usut saldo awal akun

 Usut posting pendebitan akun  Lakukan rekonsiliasi akun kontrol b. Prosedur Analitik

Pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidangyang memerlukan audit lebih intensif.

c. Prosedur Audit terhadap Transaksi Rinci

Auditor melakukan pengujian substansif terhadap transaksi rinci yang mendebit dan pengkredit akun tertentu dan pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut.

 Periksa sampel transaksi yang tercatat dalam akun  Periksa pendebitan akun

 Periksa pengkreditan akun

 Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pengeluaran dan penerimaan kas  Periksa dokumen yang berkaitan

d. Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci

Hal-hal yang dilakukan pada audit lembaga pembiayaan syariah secara umum yaitu meliputi : 1. Pengungkapan kewajaran penyajian laporan keuangan dan unsur kepatuhan syariah 2. Memeriksa akunting dalam aspek produk, baik sumber dana ataupun pembiayaan. 3. Pemeriksaan distribusi profit

4. Pengakuan pendapatan cash basis secara riil 5. Pengakuan beban secara accrual basis

6. Dalam hubungan dengan bank koresponden depositori, pengakuan pendapatan dengan bagi hasil

7. Pemeriksaan atas sumber dan penggunaan zakat

8. Ada tidaknya transaksi yantg mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan syariah Standar auditing AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) untuk audit lembaga keuangan syariah sendiri mencakup lima standar yaitu :

1. Tujuan dan prinsip (objective and principles of auditing) 2. Laporan audit (auditor’s report)

(24)

5. Tinjauan syariah (shari’a review)

Pertama, tujuan dan prinsip. Tujuan dari sebuah audit laporan keuangan yaitu untuk memungkinkan auditor menyampaikan opini atas laporan keuangan tertentu dalam semua hal yang materil dan sesuai dengan aturan dan prinsip Islam, AAOIFI, standar akuntansi nasional yang relevan, serta praktek di negeri yang mengoperasikan lembaga keuangan. Kedua, terkait laporan audit. Laporan audit harus menggambarkan antara lain :

1. Pengujian, pada sebuah uji dasar, bukti yang mendukung sejumlah laporan keuangan dan pengungkapan

2. Menilai perkiraan signifikan yang dibuat oleh manajemen dalam persiapan laporan keuangan

3. Mengevaluasi presentasi laporan keuangan secara keseluruhan

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Mulyadi. 2002. Auditing Edisi 6 Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.

Soemitra, Andri. 2016. BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH Edisi 2. Jakarta: Kencana

http://awulansari8.blogspot.co.id/2016/06/konsep-pengawasan-kerangka-audit.html

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini terbukti dari diterimanya hipotesis yaitu terdapat peningkatan yang signifikan motivasi belajar fisika matematika I mahasiswa prodi pendidikan fisika FKIP UNRI

Data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya (Moleong,2002:3-11). Melalui penelitian

Puji syukur peneliti ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Upaya Peningkatkan

Tablet effervescent probiotik pada konsentrasi 20% dan 30% menit ke-0 sampai menit ke-30, bakteri masih mampu beradaptasi karena masih adanya nutrisi dilingkungan

Untuk memilih salah satu model estimasi yang dianggap paling tepat dari tiga jenis model data panel, maka perlu dilakukan serangkaian uji, yaitu: (1) Uji F statistik untuk

Dalam Dalam penelitian Herwandi (21:2012) pada kegiatan konfimasi mencakup 4 indikator dalam observasi. Dalam hasil observasi tersebut menunjukkan kemampuan guru dalam

Dengan penggunaan Sistem Informasi Manajemen Data pada PO.Agsa Berbasis Web, diharapkan bisa mengurai sedikit masalah yang ada di perusahaan, ,pendataan keselurahan alur

Gambar 2.2 merupakan alat kompresing untuk uji kualitas beton. Gambar 2.2 Alat kompresing untuk menguji kekuatan beton. Beton harus dirancang proporsi campurannya agar