NOMOR 2 7 TAHUN 1 9 9 1 TENTANG
RAWA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 t ent ang Pengairan dinyat akan, rawa merupakan salah sat u sumber air yang perlu dilindungi dan dimanf aat kan dalam rangka meningkat kan kesej aht eraan rakyat ;
b. bahwa rawa sebagai sumber air yang dapat dimanf aat kan unt uk berbagai keperluan perlu dij aga kelest ariannya agar t ercapai kemanf aat an seopt imal mungkin;
c. bahwa berdasarkan hal-hal t ersebut di at as, maka unt uk menj aga ekosist em rawa sebagai sumber air perlu diat ur dengan Perat uran Pemerint ah;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 t ent ang Perat uran Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043);
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 t ent ang Ket ent uan-ket ent uan Pokok Kehut anan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 t ent ang Pokok-pokok Pemerint ahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);
6. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 t ent ang Ket ent uan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);
7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 t ent ang Konservasi Sumber Daya Alam Hayat i dan Ekosist emnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);
8. Perat uran Pemerint ah Nomor 22 Tahun 1982 t ent ang Tat a Pengat uran Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225);
9. Perat uran Pemerint ah Nomor 23 Tahun 1982 t ent ang Irigasi (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3226);
10. Perat uran Pemerint ah Nomor 6 Tahun 1988 t ent ang Koordinasi Kegiat an Inst ansi Vert ikal di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3373);
11. Perat uran Pemerint ah Nomor 20 Tahun 1990 t ent ang Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3409);
MEMUTUSKAN :
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Pert ama
Pengert ian
Pasal 1
Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan:
1. Rawa adalah lahan genangan air secara alamiah yang t erj adi t erus menerus at au musiman akibat drainase alamiah yang t erhambat sert a mempunyai ciri-ciri khusus secara phisik, kimiawi, dan biologis.
2. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pert imbangan t eknis, sosial ekonomis dan lingkungan, bert uj uan menj amin dan memelihara kelest arian keberadaan rawa sebagai sumber air dan/ at au meningkat kan f ungsi dan pemanf aat annya.
3. Reklamasi rawa adalah upaya meningkat kan f ungsi dan pemanf aat an rawa unt uk kepent ingan masyarakat luas.
4. Jaringan reklamasi rawa adalah keseluruhan saluran baik primer, sekunder, maupun t ersier dan bangunan yang merupakan sat u kesat uan, besert a bangunan pelengkapnya, yang diperlukan unt uk pengat uran, pembuangan, pemberian, pembagian dan penggunaan air.
5. Saluran primer adalah saluran ut ama dari j aringan reklamasi rawa yang berf ungsi baik unt uk pembuangan maupun pemberian air.
7. Saluran t ersier adalah cabang saluran sekunder yang berf ungsi baik sebagai pembuangan maupun pemberian air.
8. Garis sempadan adalah garis bat as kiri kanan saluran yang menet apkan daerah yang dibut uhkan unt uk keperluan pengamanan saluran.
9. Limbah adalah semua bahan buangan baik berupa benda dan/ at au bahan padat maupun cair yang dapat menimbulkan pencemaran.
10. Eksploit asi dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa adalah serangkaian kegiat an yang mengarah kepada upaya pemanf aat an air secara opt imal dan pelest arian f ungsi j aringan reklamasi rawa.
11. Ment eri adalah Ment eri yang bert anggung j awab dalam bidang Pengairan.
12. Pemerint ah Daerah adalah Pemerint ah Daerah Tingkat I.
Bagian Kedua
Lingkup Pengat uran
Pasal 2
BAB II ASAS DAN TUJUAN
Pasal 3
Penyelenggaraan konservasi rawa dilaksanakan berdasarkan asas kemanf aat an umum, keseimbangan, dan kelest arian unt uk melindungi dan mengamankan f ungsi dan manf aat rawa.
Pasal 4
Penyelenggaraan konservasi rawa bert uj uan unt uk :
a. mempert ahankan keseimbangan ekosist em rawa sebagai sumber air;
b. mengat ur perlindungan dan pengawet an rawa sebagai sumber air;
c. mengat ur pemanf aat an rawa sebagai sumber air;
d. mengat ur pengembangan rawa sebagai sumber daya lainnya.
BAB III
PENGUASAAN RAWA
Pasal 5
(1) Rawa dikuasai oleh Negara, yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerint ah.
BAB IV
FUNGSI RAWA
Pasal 6
(1) Rawa sebagai sumber air merupakan salah sat u sumber daya alam yang mempunyai f ungsi serba guna bagi kehidupan dan penghidupan manusia.
(2) Rawa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilindungi dan dij aga kelest ariannya sert a dit ingkat kan f ungsi dan kemanf aat annya.
BAB V
WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PEMBINAAN
Pasal 7
(1) Wewenang dan t anggung j awab pembinaan rawa ada pada Pemerint ah.
(2) Pelaksanaan wewenang dan t anggung j awab pembinaan rawa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Ment eri.
BAB VI
INVENTARISASI RAWA
Pasal 8
(1) Unt uk menget ahui f ormasi rawa sebagai lahan dalam pelaksanaan pembinaan rawa dilaksanakan invent arisasi rawa.
(2) Ment eri menyelenggarakan invent ari rawa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
BAB VII KONSERVASI RAWA
Bagian Pert ama
Umum
Pasal 9
Konservasi rawa dit uj ukan unt uk mempert ahankan dan melindungi ekosist em rawa sebagai sumber air, sert a meningkat kan f ungsi dan manf aat nya, dengan memperhat ikan :
a. kemampuan meningkat kan rawa sebagai ekosist em sumber air;
b. kelest arian rawa;
c. kemampuan meningkat kan perekonomian masyarakat ;
Pasal 10
Konservasi rawa meliput i usaha perlindungan, pengawet an, peningkat an f ungsi dan manf aat rawa melalui t ahapan perencanaan, pelaksanaan, eksploit asi dan pemeliharaan sert a pengendalian.
Bagian Kedua
Perlindungan dan Pengawet an
Paragraf 1
Perlindungan
Pasal 11
Perlindungan rawa dimaksudkan unt uk melindungi sist em penyangga kehidupan pada wilayah konservasi rawa.
Paragraf 2
Pengawet an
Pasal 12
Paragraf 3
Rencana Perlindungan dan Pengawet an
Pasal 13
(1) Perlindungan dan pengawet an rawa dilaksanakan berdasarkan rencana j angka panj ang, j angka menengah, j angka pendek dan rencana t eknis.
(2) Rencana j angka panj ang, j angka menengah, dan j angka pendek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun oleh Ment eri bersama-sama Ment eri lain yang t erkait .
(3) Rencana t eknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun oleh Ment eri dan Ment eri lain yang t erkait , sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Paragraf 4
Pelaksanaan
Pasal 14
(1) Perlindungan dan pengawet an rawa menj adi t ugas, wewenang, dan t anggungj awab Ment eri.
Paragraf 5
Pengendalian
Pasal 15
(1) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan di wilayah konservasi rawa set iap orang dilarang unt uk :
a. merusak ekosist em kehidupan dan sumber air yang berada di wilayah konservasi rawa;
b. membuang benda dan/ at au bahan padat maupun cair yang berupa limbah ke dalam wilayah konservasi rawa.
(2) Set iap pemegang hak at as t anah di dalam wilayah konservasi rawa waj ib menj aga kelangsungan f ungsi wilayah t ersebut .
Pasal 16
(1) Ment eri melakukan pemeliharaan dan penert iban di wilayah konservasi rawa.
Bagian Ket iga
Pemanf aat an
Paragraf 1
Pengambilan dan Penggunaan Air
Pasal 17
(1) Pengambilan dan penggunaan air dari wilayah konservasi rawa unt uk keperluan pokok kehidupan sehari-hari dapat dilakukan t anpa ij in.
(2) Pengambilan dan penggunaan air dari wilayah konservasi rawa selain unt uk keperluan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan bersif at komersial hanya dapat dilakukan berdasarkan ij in.
(3) Pelaksanaan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri.
Pasal 18
Paragraf 2
Reklamasi
Pasal 19
(1) Unt uk meningkat kan f ungsi dan manf aat rawa dilakukan kegiat an reklamasi rawa.
(2) Wewenang pelaksanaan reklamasi rawa berada pada Ment eri.
(3) Pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilakukan oleh Pemerint ah Daerah.
(4) Dalam hal t ert ent u reklamasi rawa dapat dilakukan oleh badan hukum, badan sosial dan/ at au perorangan dengan ij in Ment eri.
(5) Ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri.
Paragraf 3
Penyusunan Rencana Reklamasi
Pasal 20
(1) Penyusunan rencana reklamasi rawa, baik yang berupa rencana j angka panj ang, j angka menengah, maupun j angka pendek dilakukan oleh Ment eri.
Paragraf 4
Penyusunan Rencana Teknis Reklamasi
Pasal 21
(1) Penyusunan rencana t eknis reklamasi rawa menj adi t ugas, wewenang, dan t anggung j awab Ment eri.
(2) Dengan memperhat ikan ket ent uan Pasal 19 ayat (4), badan hukum, badan sosial, dan/ at au perorangan dapat melaksanakan pembuat an rencana t eknis reklamasi.
(3) Rencana t eknis yang dibuat badan hukum, badan sosial dan/ at au perorangan harus, memperoleh pengesahan dari Ment eri.
Paragraf 5
Pembangunan Jaringan Reklamasi
Pasal 22
(1) Pembangunan j aringan reklamasi rawa menj adi t ugas, wewenang, dan t anggungj awab Ment eri.
(2) Pembangunan j aringan reklamasi rawa didasarkan pada rencana dan rencana t eknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 21.
Pasal 23
(1) Tugas dan t anggung j awab pembangunan saluran t ersier besert a bangunan pelengkapnya, dapat diserahkan kepada masyarakat pemakai air yang bersangkut an.
(2) Pembangunan saluran pada pet ak t ersier besert a bangunan pelengkapnya. menj adi t ugas dan t anggung j awab masyarakat pemakai air yang bersangkut an.
(3) Dengan memperhat ikan keadaan sosial ekonomi masyarakat pemakai air yang bersangkut an, Pemerint ah dapat memberikan bant uan pembiayaan bagi t erlaksananya pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2).
(4) Tat a cara pelaksanaan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri.
Pasal 24
Paragraf 6
Eksploit asi dan Pemeliharaan
Jaringan Reklamasi
Pasal 25
Eksploit asi dan pemeliharaan saluran primer dan saluran sekunder besert a bangunan pelengkapnya menj adi t ugas dan t anggung j awab Pemerint ah.
Pasal 26
Eksploit asi dan pemeliharaan saluran t ersier dan saluran lainnya dalam pet ak t ersier besert a bangunan pelengkapnya menj adi t ugas dan t anggung j awab masyarakat pemakai air yang bersangkut an.
Pasal 27
Eksploit asi dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa yang dikelola oleh badan hukum, badan sosial dan/ at au perorangan dilakukan oleh yang bersangkut an dengan memperhat ikan ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini.
Pasal 28
(2) Pemerint ah Daerah menet apkan besarnya iuran dan t at a cara pemungut annya, dengan memperhat ikan keadaan sosial ekonomi masyarakat pemakai air, yang pelaksanaannya dilakukan secara bert ahap dan selekt if .
(3) Iuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) menj adi penerimaan Pemerint ah Daerah, dipergunakan unt uk membiayai eksploit asi dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa sepanj ang penguasaannya berada pada Pemerint ah Daerah.
Paragraf 7
Pengambilan Air, Penggunaan dan Perlindungan Jaringan Reklamasi
Pasal 29
(1) Pengambilan air dari j aringan reklamasi rawa unt uk keperluan pokok kehidupan sehari-hari dapat dilakukan t anpa ij in.
(2) Pengambilan air dari j aringan reklamasi rawa unt uk keperluan selain yang dit ent ukan dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan berdasarkan ij in.
(3) Pelaksanaan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diat ur lebih lanj ut oleh Pemerint ah Daerah dengan memperhat ikan t at a cara dan persyarat an pemberian ij in yang dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 30
Pasal 31
(1) Lahan yang t erlet ak disepanj ang j aringan reklamasi rawa yang dibat asi garis sempadan diperunt ukkan bagi pengamanan j aringan reklamasi rawa.
(2) Penggunaan lahan dan lebar lahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 32
Set iap orang dilarang membuang benda dan/ at au bahan padat maupun cair, yang berupa limbah ke dalam maupun sekit ar j aringan reklamasi rawa yang diperkirakan at au pat ut diduga akan menimbulkan pencemaran at au penurunan f ungsi pelayanan j aringan reklamasi rawa.
BAB VIII
TUGAS PEMBANTUAN
Pasal 33
Urusan pembinaan rawa yang belum diserahkan kepada Pemerint ah Daerah sebagai urusan Daerah, pelaksanaannya dapat dilakukan dalam rangka pelaksanaan t ugas pembant uan.
BAB IX PENGAWASAN
Pasal 34
dit unj uk oleh Ment eri at au Pemerint ah Daerah dalam rangka t ugas pembant uan.
(2) Dalam melaksanakan t ugasnya, pej abat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang melakukan pengamat an dan penelit ian yang diperlukan.
(3) Pej abat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus menyampaikan laporan kepada Ment eri, mengenai hasil pengamat an dan penelit ian yang t elah dilakukan.
(4) Apabila dari hasil pengamat an dan penelit ian t erdapat at au diduga t erdapat unsur-unsur pidana yang diat ur dalam perat uran perundang-undangan yang berlaku, pengusut annya diserahkan kepada pej abat penyidik yang berwenang.
BAB X
KETENTUAN PIDANA
Pasal 35
Dipidana berdasarkan ket ent uan Pasal 15 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 dan perat uran perundang-undangan lain yang berlaku :
a. barang siapa unt uk keperluan usahanya melakukan pengambilan/ penggunaan air, t umbuhan dan sat wa, sert a sumber daya alam lainnya dari wilayah konservasi rawa t anpa ij in, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) dan Pasal 18;
b. barang siapa unt uk keperluan usahanya melaksanakan reklamasi rawa dan pembangunan j aringan reklamasi rawa t anpa ij in sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4) dan Pasal 24;
d. barang siapa melakukan perbuat an yang berakibat rusaknya ekosist em kehidupan dan sumber air yang berada di wilayah konservasi rawa at au membuang benda dan/ at au bahan padat maupun cair yang berupa limbah ke wilayah konservasi rawa at au membuang benda dan/ at au bahan padat maupun cair yang berupa limbah ke dalam maupun sekit ar j aringan reklamasi rawa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 32.
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 36
Dengan berlakunya Perat uran Pemerint ah ini, perat uran perundang-undangan mengenai rawa yang t elah ada dinyat akan t et ap berlaku sepanj ang t idak bert ent angan at au belum digant i dengan yang baru berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini.
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 37
Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku pada t anggal 3 Desember 1991.
Dit et apkan di Jakart a pada t anggal 2 Mei 1991
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
t t d
SOEHARTO
Diundangkan di Jakart a pada t anggal 2 Mei 1991
MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
t t d
PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1991
TENTANG RAWA
UMUM
1. Wilayah negara kit a memiliki beberapa daerah rawa yang sangat luas, t erut ama t erdapat di pulau-pulau Sumat era, Kalimant an, Sulawesi dan Irian Jaya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 t ent ang Pengairan yang merupakan landasan pokok unt uk menyelenggarakan pengat uran mengenai air dan sumber air, dit et apkan rawa merupakan salah sat u sumber air. Karena rawa merupakan sumber daya alam yang pot ensial bagi kesej aht eraan masyarakat , maka pot ensi rawa perlu dilest arikan dan dikembangkan agar dapat dipergunakan unt uk sebesar-besar kemakmuran rakyat secara adil dan merat a sesuai dengan ket ent uan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945.
2. Sehubungan dengan hal t ersebut di at as, dalam rangka pemanf aat an rawa seopt imal mungkin, Pemerint ah perlu mengadakan pengat uran at as rawa. Pengat uran t ersebut dit it ikberat kan pada penyelenggaraan konservasi rawa yang mencakup kegiat an perlindungan, pengawet an secara lest ari, dan peningkat an f ungsi sert a pemanf aat an rawa sebagai ekosist em sumber air. Hal ini sej alan dengan asas kemanf aat an umum, keseimbangan, dan kelest arian yang digunakan dalam pengat uran air dan sumber air.
Nomor 11 Tahun 1974 rawa dikuasai oleh Negara, dalam hal ini dilaksanakan oleh Pemerint ah, yang selanj ut nya melimpahkan pelaksanaan penguasaan rawa ini kepada Ment eri yang bert anggungj awab di bidang pengairan.
4. Dalam melaksanakan penguasaan rawa t ersebut Ment eri diberi wewenang dan t anggung j awab pembinaan rawa. Pembinaan rawa dimaksud meliput i kegiat an perlindungan, pengawet an secara lest ari, sert a peningkat an f ungsi dan manf aat rawa, yang pelaksanaannya melalui t ahapan perencanaan, pembangunan, eksploit asi dan pemeliharaan, sert a pengendalian.
Ment eri selanj ut nya dapat menyerahkan dan/ at au melimpahkan (menugas-pembant uankan) wewenang dan t anggung j awab pembinaan rawa kepada Pemerint ah Daerah. Sedangkan sebagian t ahapan dalam rangka peningkat an f ungsi dan manf aat rawa dapat dilaksanakan oleh badan hukum, badan sosial dan/ at au perorangan set elah memperoleh izin Ment eri.
5. Pelaksanaan konservasi rawa sej auh menyangkut perlindungan dan pengawet an secara lest ari, karena t erkait dengan kepent ingan berbagai Depart emen/ Inst ansi sert a merupakan t ugas lint as sekt oral, maka penyusunan rencana pembinaannya dilakukan oleh Ment eri bersama Ment eri lain yang t erkait . Adapun pelaksanaan kegiat an konservasi rawa yang menyangkut peningkat an f ungsi dan pemanf aat annya, penyusunan rencana pembinaannya dilakukan oleh Ment eri.
7. Mengingat perkembangan j umlah penduduk dan perkembangan t eknologi dewasa ini sert a dalam rangka mewuj udkan kesej aht eraan masyarakat , peningkat an f ungsi dan pemanf aat an rawa yang dilakukan melalui upaya reklamasi sangat diperlukan. Upaya reklamasi t ersebut dapat dimanf aat kan unt uk pert anian, indust ri, pert ambangan, penyediaan pemukiman dan lain-lain. Pelaksanaan reklamasi rawa dimaksud menj adi wewenang Ment eri yang bert anggung j awab di bidang pengairan, yang selanj ut nya dapat menyerahkan dan menugas-pembant uankan wewenang t ersebut kepada Pemerint ah Daerah. Dengan pert imbangan unt uk memberikan kesempat an kepada masyarakat guna berperan sert a dalam pembangunan Nasional, maka dalam hal-hal t ert ent u yang dit et apkan Ment eri, badan hukum, badan sosial, dan/ at au perorangan dapat melaksanakan reklamasi rawa set elah memperoleh izin dari Ment eri.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Ist ilah-ist ilah yang dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan agar supaya t erdapat keseragaman pengert ian at as isi Perat uran Pemerint ah ini, sehingga dapat menghindarkan kesalahpahaman dalam penaf sirannya.
Angka 1
Dalam Perat uran Pemerint ah ini t ermasuk rawa adalah :
a. rawa pant ai yait u rawa yang t erlet ak di pant ai at au dekat pant ai, di muara at au dekat muara sungai sehingga dipengaruhi oleh pasang surut nya air laut .
b. rawa pedalaman yait u rawa yang let aknya sedemikian j auh j araknya dari pant ai sehingga t idak dipengaruhi oleh pasang surut nya air laut .
Adapun ciri-ciri khas rawa adalah :
- ciri phisik, t erut ama keadaan t anahnya cekung;
- ciri kimiawi, t erut ama deraj at keasaman airnya pada umumnya rendah;
- ciri biologis, t erut ama t erdapat ikan-ikan rawa, t umbuhan rawa, dan hut an rawa.
Angka 2
Cukup j elas
Angka 3
Angka 4
Jaringan reklamasi rawa dapat dimanf aat kan unt uk keperluan lalu lint as dan angkut an air.
Angka 5
Cukup j elas
Angka 6
Cukup j elas
Angka 7
Cukup j elas
Angka 8
Cukup j elas
Angka 9
Limbah sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat berasal dari indust ri, pert anian, rumah t angga, dan sebagainya.
Angka 10
Cukup j elas
Angka 11
Cukup j elas
Angka 12
Cukup j elas
Pasal 2
Cukup j elas
Pasal 3
penghidupan, mencakup pula keharusan unt uk melindungi sert a mengamankan rawa guna menj aga kelest arian f ungsinya sebagai sumber air.
Pasal 4
Cukup j elas
Pasal 5
Ayat (1)
Penguasaan ini meliput i rawa baik yang belum maupun yang sudah direklamasi.
Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup j elas
Ayat (2)
Ket ent uan dalam ayat ini selain memenuhi ket ent uan di dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 t ent ang Pengairan yang menet apkan perlunya dilakukan perlindungan dan pengembangan at as sumber air, sekaligus memenuhi ket ent uan di dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 t ent ang Ket ent uan-ket ent uan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menet apkan perlunya dilakukan usaha pelest arian kemampuan daya dukung lingkungan hidup secara serasi dan seimbang.
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup j elas
Karena pembinaan rawa menyangkut t ugas lint as sekt oral maka dalam pelaksanaannya perlu dikoordinasikan agar kepent ingan Depart emen dan Inst ansi yang t erkait dapat berj alan selaras dan t erpadu.
Sehubungan dengan hal t ersebut , sesuai dengan ket ent uan yang t ercant um pada Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974, kepada Ment eri yang bert anggung j awab dalam bidang pengairan diberi pelimpahan wewenang dan t anggung j awab Pemerint ah unt uk melaksanakan pembinaan rawa dengan memperhat ikan kepent ingan Depart emen at au Inst ansi lain yang bersangkut an dengan rawa.
Sebagai pedoman unt uk melaksanakan kegiat an yang t ercakup dalam ruang lingkup pembinaan rawa, Ment eri akan menet apkan pola dasar pembinaan rawa.
Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 8
Ayat (1)
Ayat (2)
Termasuk dalam pengert ian ini ant ara lain pengat uran dan penent uan t at a cara invent arisasi dan klasif ikasi yang mungkin diperlukan.
Pasal 9
Cukup j elas
Pasal 10
Kegiat an yang t ermasuk dalam t ahapan perencanaan dalam pasal ini meliput i survai, invest igasi, pembuat an rencana dan rencana t eknis.
Kegiat an yang t ercakup dalam t ahapan pelaksanaan meliput i pengamanan, pemulihan pada keadaan semula, pelest arian, dan pembangunan dalam rangka meningkat kan f ungsi dan manf aat rawa.
Kegiat an yang t ercakup dalam t ahapan eksploit asi dan pemeliharaan meliput i kegiat an pengoperasian rut in secara opt imal dan pemeliharaan baik secara berkala maupun sewakt u-wakt u diperlukan.
Kegiat an yang t ercakup dalam t ahap pengendalian adalah kegiat an pemant auan dan pengawasan, evaluasi, dan t indak t urun t angan.
Pasal 11
Cukup j elas
Pasal 12
Cukup j elas
Pasal 13
Ayat (1)
- Rencana j angka panj ang yait u gambaran sasaran Nasional yang ingin dicapai unt uk j angka wakt u duapuluh lima t ahun dalam rangka melaksanakan konservasi rawa.
- Rencana j angka menengah yait u kumpulan rencana regional yang merupakan penj abaran dari sasaran nasional konservasi rawa yang ingin dicapai dalam j angka wakt u lima t ahun.
- Rencana j angka pendek yait u kumpulan rencana proyek yang merupakan penj abaran dari sasaran regional konservasi rawa yang ingin dicapai dalam wakt u sat u t ahun.
- Rencana t eknis yait u dokumen yang memberikan gambaran t eknis yang ingin diwuj udkan, t erdiri dari gambar-gambar t eknis, syarat -syarat dan spesif ikasi t eknis.
Ayat (2)
Ment eri lain yang t erkait ant ara lain Ment eri yang bert anggung j awab dalam bidang pemerint ahan, t at a guna t anah, t at a guna hut an, konservasi sumber daya alam hayat i dan ekosist emnya, pert ambangan dan energi, sert a kebudayaan.
Cukup j elas
Pasal 16
Ayat (1)
Tindakan penert iban yang dimaksud dalam ayat ini berupa pengat uran pemanf aat an dan penet apan larangan dan kewaj iban.
Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 17
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan keperluan pokok kehidupan sehari-hari ant ara lain keperluan rumah t angga, air minum, peribadat an, dan lalu lint as air t radisional.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan keperluan yang bersif at komersial adalah pemanf aat an at as air unt uk keperluan selain yang t ersebut pada ayat (1) yang dit uj ukan unt uk memperoleh keunt ungan ekonomis,
Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 18
Pemanf aat an t ersebut dapat meliput i misalnya unt uk usaha perikanan, pert ambangan, penangkapan at au penangkapan t umbuhan dan sat wa yang dilindungi dengan undang-undang, dan lain-lainnya.
Pasal 19
Ayat (1)
Cukup j elas
Cukup j elas
Ayat (3)
Dalam melaksanakan ket ent uan ini Ment eri perlu mempert imbangkan kemampuan Daerah yang pelaksanaannya dilakukan dalam rangka penyerahan urusan at aupun t ugas pembant uan.
Yang dimaksud dengan rencana j angka panj ang, rencana j angka menengah dan rencana j angka pendek dalam ayat ini adalah sama dengan yang t ercant um dalam Penj elasan Pasal 13 ayat (1).
Yang dimaksud dengan sasaran nasional adalah j umlah luas rawa yang direklamasi keseluruhan yang dapat dikembangkan.
Yang dimaksud dengan sasaran regional adalah j umlah luas rawa yang direklamasi yang dapat dikembangkan di masing-masing Propinsi yang bersangkut an.
Ment eri dalam melakukan penyusunan perencanaan reklamasi rawa mengkonsult asikan dengan Ment eri yang t erkait ant ara lain Ment eri Dalam Negeri, Ment eri Kehut anan, Ment eri Pert anian, Ment eri Transmigrasi, Ment eri Perhubungan dan Ment eri Pert ambangan dan Energi.
Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 21
Ayat (1)
Cukup j elas
Ayat (2)
Cukup j elas
Ayat (3)
Ket ent uan ini dimaksudkan unt uk t ercapainya ket erpaduan secara menyeluruh dalam rangka pembinaan reklamasi rawa.
Pasal 22
Ayat (1)
Unt uk menet apkan apakah pembangunan j aringan reklamasi rawa yang berada pada sat u Propinsi akan dit angani oleh Pemerint ah Pusat at au dilaksanakan Pemerint ah Daerah dalam rangka t ugas pembant uan, maka Ment eri perlu menet apkan krit eria kualit at if dan kuant it at if at as proyek-proyek t ersebut .
Ayat (2)
Cukup j elas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan rehabilit asi adalah mengembalikan kemampuan pelayanan j aringan reklamasi rawa sepert i keadaan semula. Yang dimaksud dengan peningkat an j aringan reklamasi rawa adalah meningkat kan kemampuan pelayanan dari t ingkat pelayanan yang t elah dicapai sebelumnya.
Pasal 23
Yang dimaksud dengan masyarakat pemakai air adalah masyarakat yang mendapat manf aat langsung dari adanya j aringan reklamasi rawa.
Ayat (2)
Cukup j elas
Ayat (3)
Dana bant uan Pemerint ah sepert i yang t ercant um dalam ayat ini dialokasikan melalui Inst ansi yang bersangkut an.
Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 24
Ket ent uan dalam Pasal ini dimaksudkan agar badan hukum, badan sosial dan/ at au perorangan dalam melaksanakan pembangunan j aringan reklamasi rawa selain memenuhi persyarat an t eknis yang t elah dit et apkan j uga mengikut i perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 25
Kegiat an-kegiat an eksploit asi dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa mencakup invent arisasi j aringan reklamasi rawa, pemant auan dan evaluasi dat a, pengoperasian dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa (t ermasuk perbaikan bangunan dan pengerukan saluran) dan pemeliharaan peralat an eksploit asi.
Pasal 26
Cukup j elas
Pasal 27
Cukup j elas
Ayat (1)
Penet apan iuran pembayaran eksploit asi dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa perlu mendapat perset uj uan t erlebih dahulu dari Ment eri lain yang t erkait ant ara lain Ment eri Keuangan dan Ment eri Dalam Negeri.
Ayat (2)
Ket ent uan ini dimaksudkan unt uk t idak memberat kan masyarakat pemakai air.
Ayat (3)
Dengan adanya ket ent uan mengenai iuran pembiayaan eksploit asi dan pemeliharaan j aringan reklamasi rawa yang dikenakan kepada masyarakat , maka dit unt ut adanya kewaj iban t imbal balik dari Pemerint ah Daerah unt uk memelihara saluran-saluran agar t et ap bisa berf ungsi dengan baik.
Pasal 29
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan keperluan pokok kehidupan sehari-hari ant ara lain unt uk keperluan rumah t angga, air minum, peribadat an dan lalu-lint as air t radisional.
Ayat (2)
Fungsi pokok j aringan reklamasi rawa adalah unt uk mengat ur pembuangan dan pemberian air pada lahan pemanf aat an.
Selain it u j aringan reklamasi rawa dapat dimanf aat kan unt uk keperluan lain baik at as pengambilan airnya, maupun penggunaan j aringannya. Sedangkan pengambilan air unt uk keperluan usaha yang bersif at komersial harus mendapat ij in.
Ayat (3)
Pasal 30
Lalu lint as air adalah salah sat u f ungsi di dalam penggunaan j aringan reklamasi rawa dan seringkali merupakan sat u-sat unya j alan unt uk memudahkan keluar masuk daerah pengembangan rawa.
Pengat uran yang menyangkut urusan lalu lint as air baik yang komersial maupun t radisional mengikut i perat uran perundang-undangan dibidang perhubungan.
Namun demikian, mengingat perlindungan j aringan reklamasi rawa harus diselenggarakan secara menyeluruh, t erkoordinasi, dan t erpadu, maka dalam menggunakan j aringan ini unt uk keperluan lalu lint as air, Ment eri yang bert anggung j awab di bidang perhubungan harus senant iasa berkonsult asi t erlebih dahulu dengan Ment eri misalnya dalam pembangunan dermaga dan sebagainya.
Demikian pula dalam hal pengerukan j aringan reklamasi rawa unt uk keperluan lalu lint as air harus dilakukan secara t erpadu dengan rencana pemeliharaan rawa dan j aringan reklamasi rawa secara menyeluruh.
Adapun penggunaan j aringan reklamasi rawa unt uk pengapungan, Ment eri yang bert anggung j awab di bidang perhubungan harus senant iasa berkonsult asi t erlebih dahulu dengan Ment eri, mengingat t idak semua saluran dapat digunakan unt uk pengapungan.
Pasal 31
Ayat (1)
Dalam hal st at us lahan pada j alur bebas t ersebut merupakan hak milik seseorang, maka perlu dilakukan pembebasan t anah sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
St at us j alur bebas t ersebut selanj ut nya dikuasai Negara.
Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 32
Yang dimaksud diperkirakan at au pat ut diduga sebagaimana t ercant um dalam pasal ini adalah apabila kualit as at au kuant it as limbah yang bersangkut an melewat i ambang bat as t ert ent u. Bat as t ersebut dit et apkan oleh pihak yang berwenang at as dasar pert imbangan khusus t ent ang sif at hidrologi daripada j aringan reklamasi rawa yang bersangkut an.
Pasal 33
Cukup j elas
Pasal 34
Ayat (1)
Cukup j elas
Ayat (2)
Cukup j elas
Ayat (3)
Cukup j elas
Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 35
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 t ent ang Konservasi Sumber Daya Alam Hayat i dan Ekosist emnya.
Pasal 36
Cukup j elas
Pasal 37