25
ANALISIS FAKTOR RISIKO KONSUMSI PROTEIN NABATI PADA WANITA DEWASA (19-49 TAHUN)
RISK FACTORS OF PLANT PROTEIN CONSUMPTION AMONG ADULT WOMEN (19-49 YEARS) IN INDONESIA
Suryana*,Hardinsyah**
*Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh **Fakultas Ekologi Manusia Jurusan Gizi Masyarakat IPB Bogor
Email: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko konsumsi protein nabati pada wanita dewasa usia 19-49 tahun di Indonesia. Studi ini menggunakan data konsumsi Riset Kesehatan Dasar 2010 (survei dasar kesehatan) dengan desain cross sectional. Faktor risiko yang dianalisis berdasarkan umur, tipe wilayah, tingkat pendidikan, status ekonomi (kuintil), dan status gizi (IMT). Analisis chi square dan regresi logistik digunakan untuk mengetahui hubungan antar faktor risiko dengan asupan protein nabati. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kekurangan asupan protein nabati pada wanita dewasa yang berusia 19-49 adalah 48,3%. Faktor risiko yang menjadi faktor protektif terhadap asupan konsumsi protein nabati pada wanita dewasa (p<0.05) yaitu status ekonomi (OR=1.463), status pendidikan (OR=1.342), tipe wilayah (OR=0.903), dan status gizi (OR=0.495). Disarankan agar meningkatkan asupan protein nabati pada wanita dewasa yaitu dengan peningkatan status ekonomi dan pendidikan serta pengetahuan gizi agar pangan sumber protein dapat terakses, kecukupan asupan protein, dan manfaat bagi kesehatan.
Kata kunci: Protein Nabati, Faktor Risiko, Riskesdas Dan Wanita Dewasa
Abstract: The objective of this study is to analyze risk factors plant protein consumption among adulth women aged 19-55 years in Indonesia. This study used the food consumption data set of Riskesdas 2010 (a basic health survey) which was applay a cross-sectional survey design. The potential risk factor analyze were age,type region, formal education, economy status (kuintil) and nutrition status (BMI). Chi square analysis and regression were used to assess the association between risk factors and intake plant protein consumption in woman aged. The result show that prevalence of unless intake of plant protein among adult women 19-49 years were 48,3%. The significant risk factor of consuming plant protein among subjects (p<0.05) were economic status (OR=1.463), formal education status (OR=1.342), region type (OR=0.903), and nutrition status/BMI (OR=0.495). Can be suggest for consumtion of plant protein for adult women 19-49 years old is increased of economic status and formal education status with increased knowledge about uses of plant protein for nutrition and healthy.
PENDAHULUAN
Hidup sehat dan memiliki umur panjang merupakan tujuan hidup setiap umat manusia. Menurut Departemen Kesehatan RI (2003) selain kecukupan kalori, kecukupan protein juga menjadi salah satu indikator kesehatan masyarakat. 1 Kebutuhan kalori biasanya diperoleh dari konsumsi makanan pokok (karbohidrat). Sementara kebutuhan protein diperoleh dari makanan yang berasal dari pangan nabati dan hewani. Keragaman konsumsi antar pangan-pangan ini akan menentukan keberagaman zat-zat gizi dalam menu sehari-hari. 2
Protein merupakan zat gizi penting yang terdiri dari asam-asam amino yang dapat menyediakan asam amino esensial, dan mensuplai energi dalam keadaan energi terbatas dari karbohidrat dan lemak. 3 Secara umum protein terdiri dari protein hewani dan nabati. Protein nabati penting dikonsumsi untuk semua usia khusnya wanita dewasa. Protein nabati mencakup berbagai macam variasi dalam hal kandungan asam amino dan daya cerna serta dapat memuaskan kebutuhan zat gizi ketika dikonsumsi dalam gabungan yang tepat (Millward). Selanjutnya, dalam pangan nabati juga mengandung
vitamin, serat, antioksidan, mineral, lemak tak jenuh, karbohidrat kompleks, asam amino non-esensial dan merupakan sumber utama dari vitamin C, asam folat, dan berbagai senyawa non gizi. 4
Menurut Setiawan (2006) kelompok protein nabati berasal dari beras, kacang-kacangan, dan sayuran dan lain-lain termasuk bumbu, minuman dan buah-buahan. Terdapat beberapa pangan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan biji berminyak. mengandung asam amino essensial lebih tinggi dibandingkan pada jenis pangan hewani seperti telur. 5 Kandungan asam amino alanine lebih tinggi pada jenis pangan kacang-kacangan dan biji-bijian dibandingkan pada produk susu. Asam amino serine lebih tinggi pada jenis pangan kacang-kacangan, produk gandum, hazelnut, bunga matahari dan biji wijen dibandingkan pada daging. Selanjutnya hasil penelitiannya juga menunjukkan pada protein nabati secara signifikan terjadi peningkatan terutama pada asam amino arginine dan glisine. 4
Beberapa studi telah membuktikan adanya hubungan antara konsumsi protein nabati dengan manfaat kesehatan. Menurut Moulton et al
(2010) pada wanita dewasa, konsumsi protein kedelai berhubungan dengan mengurangi kanker payudara. 6 Lebih lanjut dikemukan (Kim et al 2008) wanita dengan kanker payudara, konsumsi pangan kedelai secara signifikan berhubungan dengan penurunan risiko kekambuhan penyakit dan kematian 7 tidak terdapat hubungan pada asupan protein nabati dengan resiko diabetes tipe II. 8
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, rata-rata konsumsi protein penduduk Indonesia 62,1 gram per hari. Jika dilihat konsumsi protein berdasarkan umur, pada wanita dewasa usia 19-55 tahun rata-rata konsumsi protein adalah 55,6 gram per hari dan terdapat 38,3% yang mengkonsumsi protein dibawah kebutuhan minimal. 9 Secara nasional terdapat empat provinsi mengkonsumsi energi dari protein tertinggi antara lain Provinsi Bangka Belitung (68,7 gram), Sumatra Utara (67,3 gram), Sulawesi Tengah (64,2 gram) selanjutnya Aceh (62,1 gram). Provinsi dengan konsumsi energi dari protein terendah terdapat di provinsi sulawesi barat (41,4 gram) (Balitbangkes 2010). 10 Konsumsi protein ditentukan oleh kecukupan protein seseorang yang dipengaruhi
oleh berat badan, usia (tahap pertumbuhan dan perkembangan) dan mutu protein dalam pola konsumsi pangannya. 11
Beberapa faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi protein hewani dan nabati di wilayah Osun State Nigeria adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan dan keterjangkauan sumber protein. 12 Konsumsi pangan, termasuk protein sangat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi yang meliputi tingkat pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan. 2 Tingkat pendapatan merupakan faktor determinan terhadap asupan zat gizi energi dan protein pada populasi. Rumah tangga di perdesaan memiliki peluang konsumsi protein sumber nabati (biji-bijian dan umbi-umbian) lebih besar dibandingkan rumahtangga berpendapatan rendah di perkotaan yang dominan terhadap protein hewani. 13
Rumah tangga di perdesaan dengan jumlah anggota keluarga lebih besar cenderung memutuskan untuk tidak konsumsi protein hewani dan berbanding terbalik pada rumah tangga dengan jumlah angota keluarga kecil cenderung memutuskan memilih pangan sumber protein hewani. 14
Pada Tahun 2010, Badan penelitian dan pengembangan kesehatan telah melakukan penelitian data dasar kesehatan skala nasional dan data tersebut berpotensi untuk diolah dan digunakan untuk menganalisis faktor risiko konsumsi protein nabati di Indonesia. Riskesdas 2010 juga telah memberikan informasi mengenai rata-rata konsumsi protein secara umum, namun tidak menunjukkan seberapa besar konsumsi rata-rata protein nabati. Jumlah sampel yang besar, informasi yang luas pada Riskesdas 2010 maka peneliti tertarik untuk menganalisis lebih lanjut faktor-faktor risiko konsumsi protein nabati pada wanita dewasa di Indonesia. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko konsumsi protein nabati pada wanita dewasa usia 19-49 tahun di Indonesia.
METODE
Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 dengan desain cross sectional study. Sampel analisis ini yaitu seluruh Provinsi di Indonesia. Subjek Riskesdas 2010 mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota.
Pengolahan dan analisis lanjut data untuk penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2014 bertempat di Kampus Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Jawa Barat.
Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi. Sampel rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling.
Sampel yang dianalis dalam penelitian ini adalah wanita dewasa usia 19-49 tahun yang terdapat dalam electronic files data Riskesdas 2010 yaitu seluruh rumahtangga di seluruh Provinsi. Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: wanita dewasa berusia 19-49 tahun dalam kondisi sehat, tidak dalam keadaan hamil, menyusui, konsumsi harian normal (tidak puasa, diet dan sakit) dan memiliki kelengkapan data yang baik. Keseluruhan total sampel yang dianalisis dalam penelitian ini setelah dilakukan proses cleaning data adalah berjumlah 52018 sampel.
Data dalam analisis ini seluruhnya merupakan data Riskesdas 2010 yang diperoleh dalam bentuk electronic files
berupa entry data dan hasil pengolahan Riskesdas 2010. Data yang digunakan meliputi variabel karakteristik sosial ekonomi dan demografi (umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi dan tipe wilayah), data asupan protein nabati serta data berat badan dan tinggi badan (IMT). Selanjutnya dari keseluruhan total sampel tersebut kemudian dilakukan proses pengolahan dan analisis data.
Pengumpulan data dilakukan oleh Tim Riskesdas dari Balitbangkes, Kementerian Kesehatan yang dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2010. Data karakteristik sosial ekonomi dan demografi diperoleh dengan cara wawancara langsung kepada sampel menggunakan kuesioner terstruktur yang dilengkapi buku pedoman pengisian kuesioner. Data konsumsi pangan diperoleh dengan metode recall 24 jam.
Pengolahan data dilakukan menggunakan Aplikasi Pengolah Data. Tahap pengolahan meliputi pemilihan variabel yang akan dianalisis, cleaning, dan recode variabel menjadi data kategori. Proses cleaning data dilakukan untuk memperoleh data yang sesuai dengan variabel yang ditentukan. Analisis data yang dilakukan meliputi
analisis bivariat dan multivariat. Analisis data yang dilakukan meliputi uji Chi-square dan regresi logistik.
Kategori data penelitian ini terdiri dari variabel dependen yaitu asupan konsumsi protein nabati, sedangkan variabel independen adalah karakteristik sosial ekonomi dan demografi (umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, dan tipe wilayah). Pengkategorian variabel umur yaitu 19-29 tahun dan 30-49 tahun. Tingkat pendidikan dikategori-kan ke dalam dua kelompok yaitu pendidikan tinggi apabila berpendidikan > SD dan pendidikan rendah apabila < SD. Status pekerjaan ke dalam kategori bekerja dan tidak bekerja. Status ekonomi keluarga dikategorikan rendah apabila berada pada kuintil 1-3 dan dikategorikan tinggi apabila berada pada kuintil 4-5. Tipe wilyah dikelompokkan menjadi pendesaan dan perkotaan. Pengkategorian IMT berdasarkan pada WHO (2000). IMT tergolong kurus/normal jika <25 kg/m2 dan gemuk/obes jika ≥25 kg/m2. Asupan protein nabati cukup jika ≥ 40%/ persentase kecukupan protein nabati dan kurang jika <40%/persentase kecukupan protein nabati.
Analisis yang dilakukan yaitu bivariat dan multivariat. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square (χ2) untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktor risiko dengan kemaknaan p<0.05 dan nilai confidence interval (CI) sebesar 95% untuk mengetahui besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis multivariat menggunakan model binary logistic regression dengan metode backward wald (Kleinbaum et al. 1994). Model yang digunakan adalah sebagai berikut:
Keterangan:
л (x) = Peluang terjadinya kecukupan protein (0 = kurang < 40% /persentase kecukupan protein nabati, 1 = cukup) e = eksponensial
β0 - β1 = koefisien regresi
x1 = umur [0=19-29 tahun, 1=30-49 tahun]
x2 = pendidikan [0= pendidikan rendah SD, 1 = pendidikan tinggi > SD]
x3 = pekerjaan [0= tidak bekerja, 1= bekerja]
x4 = status ekonomi[0= rendah kuintil 1 s.d. 3, 1= tinggi kuintil 4 s.d. 5]
x5 = tipe wilayah tinggal [0= perdesaan, 1= perkotaan]
x6 = IMT [0= Normal/IMT <25 kg/m2, 1= Gemuk IMT/ ≥25 kg/m2]
HASIL DAN PEMBAHASAN
Prevalensi kekurangan asupan protein nabati pada wanita dewasa usia 19-49 tahun adalah 48,3%. Golongan umur wanita dewasa dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu dewasa usia 19-29 tahun dan dewasa usia 30-49 tahun.
Berdasarkan analisis korelasi menunjukkan faktor-faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan asupan protein nabati pada wanita dewasa berusia 19-49 tahun adalah golongan umur, tipe wilayah, status ekonomi, tingkat pendidikan dan status gizi (Tabel 1). Asupan protein nabati tidak menunjukkan hubungan dengan status pekerjaan. Kekurangan asupan protein nabati pada wanita lebih tinggi ditemukan pada wanita yang tinggal baik diperdesaan maupun diperdesaan, namun prevalensi lebih besar pada wanita yang tinggal di perkotaan. Selanjunya kekurangan asupan protein nabati juga ditemukan pada wanita yang memiliki status ekonomi tinggi, berpendidikan rendah, dan status gizi normal-kurus.
Tabel 1. Karakteristik Sosial Ekonomi dan Asupan Protein Nabati
Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan rata-rata asupan protein pada wanita dewasa dengan karakteristik sosial ekonomi berdasarkan tipe wilayah, status ekonomi, tingkat pendidikan, status bekerja dan status gizi tidak jauh berbeda, namun hasil uji T-test menunjukkan perbedaan yang signify-kan antara asupan protein nabati dengan karakteristik sosial ekonomi keluarga tersebut. Rata-rata konsumsi protein nabati pada wanita dewasa perdesaan yaitu 27 gram/kap/hari sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita yang tinggal di perkotaaan. Wanita yang memiliki status ekonomi lebih tinggi memiliki rata-rata asupan protein nabati lebih tinggi yaitu 27 gram/kap/hari
dibandingkan wanita dengan status ekonomi rendah. Selanjutnya rata-rata asupan protein nabati wanita dewasa yang memiliki tingkat pendidikan diatas SD juga sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita dengan pendidi-kan dibawah SD yaitu 27 gram/kap/hari. Hal yang sama menunjukkan terhadap wanita yang bekerja memiliki rata-rata asupan protein nabati sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak bekerja. Sementara pada wanita normal-kurus memiliki asupan rata-rata konsumsi protein nabati hampir sama dengan wanita gemuk yaitu 26 gram/kap/hari.
Karakteristik Ekonomi Keluarga
Konsumsi Protein Nabati Kurang (N=25127) Cukup (N=26891) Uji X 2 n % n % (p<0.05) Tipe wilayah Perdesaan 12598 50,1 14679 54,6 0.000 Perkotaan 12529 49,9 12212 45,4 Status Ekonomi Rendah 11839 47,1 10248 38,1 0.000 Tinggi 13288 52,9 16643 61,9 Pendidikan Pendidikan SD kebawah 23483 93,5 24239 90,1 0.000 pendidikan SD keatas 1644 6,5 2652 9,9 Status Pekerjaan Tidak bekerja 10809 43,0 11364 42,3 0.041 Bekerja 14318 57,0 15527 57,7 IMT Normal 16622 66,2 21231 79,0 0.000 Gemuk 8505 33,8 5660 21,0 Umur 19-29 tahun 8674 34,4 10235 38,1 0.000 30-49 tahun 16453 65,5 16656 61,9
Tabel 2. Rata-rata dan Standar Deviasi Asupan Protein Nabati (gram/kap/hr) menurut
Karakteristik Sosial Ekonomi pada Wanita Dewasa usia 19-49 tahun 2014
Karakteristik sosial ekonomi yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap asupan protein nabati pada wanita dewasa adalah tipe wilayah, status ekonomi, tingkat pendidikan dan status gizi (Tabel 3). Hasil regresi logistik menunjukkan wanita yang berstatus ekonomi tinggi berpeluang kekurangan asupan protein nabati 1.463 kali (CI: 1.409-1.518) lebih tinggi dibandingkan wanita berstatus ekonomi rendah. Iyangbe & Orewa (2009) menyatakan tingkat pendapatan merupakan faktor determinan terhadap asupan zat gizi energi dan protein pada populasi15. Selanjutnya dijelaskan, penduduk yang memiliki tingkat pendapatan lebih tinggi cenderung memilih konsumsi protein sumber
hewani dibadingkan penduduk dengan tingkat pendapatan rendah lebih memilik konsumsi protein nabati. Sementara menurut (Odusina 2011) peningkatan pendapatan perbulan dari kepala rumahtangga dan peningkatan pengeluran perbulan rumah tangga untuk makanan tambahan secara signifikan meningkatkan peluang rumah tangga memutuskan untuk konsumsi protein nabati. 14 Abdulahi & Aubert (2004) menyatakan pendapatan merupakan faktor determinan penting dalam menentukan akses pangan rumah tangga, memilih dan menggabungkan pilihan makanan yang berkualitas dan tepat sehingga dapat menjamin kecukupan asupan gizi, kesehatan dan produktif. 16
Karakteristik Sosial Ekonomi
Kurang Cukup Total Uji t
(<0.05)
Mean St.def Mean St.def Mean St.def
Tipe wilayah Perdesaan 18,61 5,61 55,03 25,33 50,62 26,63 0.000 Perkotaan 16,60 5,59 50,62 23,71 45,60 25,09 Status Ekonomi Rendah 16,49 5,45 48,69 22,50 43,34 23,89 0.000 Tinggi 18,75 5,70 55,92 25,68 51,84 26,94 Pendidikan Pendidikan SD kebawah 17,44 5,66 52,38 24,46 47,55 25,79 0.000 pendidikan SD keatas 19,61 5,72 59,08 26,19 55,84 27,38 Status Pekerjaan Tidak bekerja 18,04 5,68 52,50 24,47 48,15 25,65 0.000 Bekerja 17,23 5,67 53,32 24,84 48,29 26,30 IMT Normal 15,57 4,59 51,77 24,65 47,84 25,90 0.006 Gemuk 20,43 5,88 56,53 24,46 49,27 26,35 Umur 19-29 tahun 16,81 5,33 51,96 24,73 47,83 25,91 0.170 30-49 tahun 17,90 5,81 53,56 24,64 48,46 26,09
Tabel 3. Faktor Risiko Konsumsi Protein Nabati pada Wanita Dewasa Variabel B OR (95% CI) Konstanta 0.109 Tipe Wilayah (0=perdesaan, 1=perkotaan) -0.312 0.903 (0.870-0.936)* Status Ekonomi
(0=kwintil 1-3 rendah , 4-5=tinggi)
0.380 1.463 (1,409-1.518)* Pendidikan (0= <SD, 1=Tinggi>SD 0.294 1.342 (1.255-1.436)* Status Pekerjaan
(0= tidak bekerja, 1=bekerja)
-0.06
0.994 (0.959-1.030) IMT
(0=kurus normal, 1=gemuk)
-0.704 0.495 (0.475-0.515) * Umur (0=19-29 tahun, 1=30-49 tahun) -0.024 0.976 (0.941-1.013) *signifikan (p<0.05)
Wanita yang memiliki tingkat pendidikan rendah atau SD kebawah memiliki prevalensi kekurangan asupan protein nabati lebih tinggi dibandingkan pendidikan tinggi atau SD keatas. Wanita yang berpendidikan rendah memiliki peluang kekurangan asupan protein nabati 1.342 kali (CI: 1.255-1.436) lebih tinggi dibandingkan wanita berpendidikan tinggi. Hal tersebut diduga wanita yang memiliki pendidikan tinggi lebih mudah untuk mengakses informasi mengenai konsumsi makanan yang baik dan beragam serta manfaat makanan bagi kesehatan. Harga pangan sumber protein hewani yang relatif tinggi serta perkembangan pengetahuan masyarakat mengenai keunggulan protein nabati menyebabkan kecenderungan
mening-katnya konsumsi rumahtangga terhadap sumber protein nabati seperti tempe, tahu, dan produk olahan lainnya +2.
Faktor risiko yang menjadi faktor protektif terhadap asupan protein nabati dalam penelitian ini adalah tipe wilayah dan status gizi. Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa wanita yang tinggal di wilayah perdesaan memiliki prevalensi kecukupan asupan protein nabati yang lebih tinggi dibandingakan perkotaan. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa tipe wilayah merupakan faktor protektif terhadap asupan protein nabati pada wanita dewasa (OR: 0.903; CI: 0.870-0.936). Menurut Iyangbe & Orewa (2009) pada rumah tangga di perdesaan dan di perkotaan yang berpendapatan rendah di Nigeria menunjukkan rumah tangga
di perdesaan memiliki peluang konsumsi protein sumber nabati (biji-bijian dan umbi-umbian) lebih besar dibandingkan rumahtangga di perkotaan yang konsumsi lebih tinggi terhadap protein sumber hewani. Selanjutnya rata-rata pendapatan rumahtangga yang tinggal diperdesaan lebih rendah jika dibandingkan dengan perkotaan. Rumah tangga diperkotaan selain memiliki pendapatan lebih tinggi juga lebih lebih melek huruf dibandingkan rumahtangga di perdesaan. 15
Wanita yang memiliki status gizi kurus-normal memiliki prevalensi kekurangan asupan protein nabati lebih tinggi dibandingkan pada wanita dengan status gizi gemuk (Tabel 1). Hasil regresi logistik menunjukkan status gizi juga merupakan faktor protektif terhadap asupan protein nabati pada wanita dewasa usia 19-49 tahun (OR: 0.495; CI: 0.475-0.515). Hasil studi Roemling dan Qaim (2012) menunjukkan pada orang gemuk pengeluaran pangan lebih banyak dikeluarkan untuk daging dan produk susu lebih tinggi dibandingkan normal, sementara itu, pengeluaran untuk pangan pokok tradisional lebih rendah. Sehingga makanan tinggi lemak dan
gula menggantikan makanan tradisional yang tinggi serat. 17
Karakteristik sosial ekonomi yang tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap asupan protein nabati pada wanita dewasa adalah golongan umur dan status pekerjaan. Bertambah usia wanita dewasa belum tentu meningkatkan asupan protein nabati. Hasil korelasi pada Tabel 1 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara golongan umur wanita dewasa dengan asupan protein nabati, namun pada uji resresi logistik tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian Amao (2013) menunjukkan koefisiensi positif antara faktor usia terhadap pola asupan protein. Semakin bertambah usia semakin besar kemungkinan untuk konsumsi protein baik pada protein nabati maupun hewani. 13
KESIMPULAN DAN SARAN
Hampir separuh wanita dewasa berusia 19-49 tahun penduduk wilayah Indonesia belum memenuhi asupan protein nabati. Faktor yang berhubungan signifikan pada asupan protein nabati wanita dewasa adalah golongan umur, tipe wilayah, status
ekonomi, tingkat pendidikan dan status gizi. Faktor yang berpengaruh nyata asupan protein nabati pada wanita dewasa adalah tipe wilayah, status ekonomi, tingkat pendidikan dan status gizi . Faktor protektif yang berbanding terbalik terhadap asupan protein nabati pada wanita dewasa adalah tipe wilayah tempat tinggal dan status gizi. Karakteristik sosial ekonomi yang tidak terlihat pengaruh nyata terhadap asupan protein nabati pada wanita dewasa adalah golongan umur dan status pekerjaan.
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian maka diperlukan peningkatan asupan protein nabati pada wanita dewasa usia 19-49 tahun penduduk Indonesia dengan cara peningkatan status ekonomi dan pendidikan serta meningkatkan pengetahuan gizi agar sumber protein nabati dapat terakses dan terpenuhi asupan protein dan bermanfaat untuk kesehatan wanita dewasa.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI, yang telah memberikan kesempatan untuk menganalisis sebagian data Riskesdas 2010 untuk tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan R.I. (2003). Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta. 2. Ulva A. 2011. Analisis Faktor-faktor
yang mempengaruhi Permintaan Tempe di Desa Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, provinsi Banten. [Skripsi]. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Hidayatullah, Jakarta.
3. Hardinsyah, Riyadi H, Napitupulu. 2013. Kecukupan Energi, Protein, Lemak dan Karbohidrat. Departemen Gizi Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. Bogor 4. Kudlackova–Krajcovicova M,
Bbinska K, & Valachovicova M. 2005. Health benefit and risks of plant proteins. Journal , 106 96-7): 231-234, Britisl Lek Listy, May 2005.
5. Setiawan N. 2006. Perkembangan Konsumsi Protein Hewani di Indonesia (Analisis Hasil Sesenas 1999-2004). Fakultas Peternakan dan Padjadjaran, Jatinangor.
6. Moulton C, Valentine R, Layman D, Devkota S, Singletary K, Wallig M, Donovan S, 2010. A high protein moderate carbohydrate diet fed at discrete meals reduces early progression of N-methyl-N-nitrosoures-induced breast tumorigenesisi in rats. Nutrition & Metabolism. &:1, 2010.
7. Kim M, Kim J, Nam S, Ryu S, Kong G, 2008. Dietary Intake of Soy Protein and Tofu in association with breast cancer risk based on
a case-control study. Nutr Cancer, 60:568.
8. Sluijs I, Grobbee D E, Vander A. 2010. Dietary intake of total, animal, and vegetable protein and risk of type 2 diabetes in the European investigation into cancer and nutrition (EPIC)-NL study. Diabetes Care 33:43–48, Diabetes Care Journal, January 2010 prospective
9. Riset Kesehatan Dasar, Tahun 2010 10. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta: Balitbangkes Kemenkes RI.
11. Hardinsyah, Riyadi H, Napitupulu. 2013. Kecukupan Energi, Protein, Lemak dan Karbohidrat. Departemen Gizi Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. Bogor
12. Amoa J O. 2013. Determinants of protein consumption among households in ILA Local Goverment Area of Osun State, Nigeria. Middle-East J. Sci. Res. 15 (10): 1401-1410, 2013. 13. Ariningsih, E. (2009). Konsumsi
dan Kecukupan Energi dan Protein Rumah Tangga Pedesaan di Indonesia: Analisis Data Susenas 1999, 2002, 2005. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor
14. Odusina O & Akinsulu A A. 2011. A dauble hurdle analysis of determinants of protein consumption pattern among ruralhouseholds in Egbeda
local goverment area Oyo State. International Journal of Agricultural Economics & Rural Development. 4 (2): 2011
15. Iyangbe CO, Orewa S I. 2009. Assesment of the calorie-protein consumption pattern among rural and low urban households in Nigeria. Middle-East J. Sci. Res., 4 (4): 288-296, 2009.
16. Abdulahi A, Aubert D. 2004. Non parametriand parametric analysis of acalorie consumption in Tanzania. Food Policy. 29: 13-129, 2004 17. Roemling C, Qaim M. 2012.
Obesity trends and determinants in Indonesia. Appetite, 58, 1005-1013.