U N I / N O W W W. U K I. C A U K I T O R O N T O

Teks penuh

(1)

M e w a r t a k a n I m a n d a n K a s i h

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 W W W . U K I . C A U K I T O R O N T O

GEREJA St. Anselm’s Church

1 MacNaughton Rd.

(Bayview & Millwood)

Toronto ON M4G 3H3 Ph: (416) 485-1792 Subway Stn: Davisville Redaksi: Angelina Hanapie Julian Wibowo Christine Budihardjo Randy Danurahardja Novius Handy Penasehat: Rm. J. Juliwan M. SCJ Alamat Redaksi: c/o Priests of the

Sa-cred Heart 58 High Park Blvd. Toronto ON M6R 1M8 Email: redaksi@uki.ca

Fr Wayne

Fr Wayne

Fr Wayne

Jenkins SCJ

Jenkins SCJ

Jenkins SCJ

Bersyukur Atas

Bersyukur Atas

Bersyukur Atas

AnugerahNya

AnugerahNya

AnugerahNya

Yang Indah

Yang Indah

Yang Indah “

(2)

Pastor Pamong Rm. Johanes Juliwan Maslim SCJ,

(647) 532.1318 jjuliwan@gmail.com

Deacon Deacon Val Danukarjanto,

(416) 497.2274 danu@sympatico.ca

DEWAN PENGURUS UMAT KATOLIK INDONESIA

Koordinator Damianus Indyarta, (416) 284.4707 koordinator@uki.ca Sekretaris Christianita Kuswoyo, (647) 774.3801 sekretaris@uki.ca Bendahara Evy Patuwo, (647) 323.3525 bendahara@uki.ca WILAYAH TIMUR Ketua Wilayah Harty Tantono-Doyle, (647) 533.6246 east@uki.ca Seksi Liturgi

Gabriella Eufrasia Laniewati, (647) 345.3896 liturgyukieast@yahoo.ca

Seksi Bina Iman

Natalia Yurita Saputra, (647) 293-5338 yuritalauw@yahoo.com

Seksi Sosial Lusia Lie

lielusia@gmail.com, (416) 903.9718 Seksi Rumah Tangga Isabella Iman, (416) 838.6282 isabella_iman@yahoo.ca Usher Janto Dinoto, (416) 402.7106 jantodinoto@yahoo.ca WILAYAH BARAT Ketua Wilayah

Michael Karta Lanson, (416) 917.3888 west@uki.ca

Seksi Liturgi Stephanus Limpi, (416)827.2800

liturgyukiwest@yahoo.ca Seksi Bina Iman

Sri Ratna Sari Djunaedi, (647) 404.8901 sari6888@gmail.com

Seksi Sosial

Christine Tanuwijaya, (647) 818.2608 yudhi08@yahoo.com Seksi Rumah Tangga Rica Hendra, (647) 994.7789 gissy_h@yahoo.com Usher Diana Lucas, (416) 824.4069 dianarusdin@yahoo.com BIDANG KHUSUS Mudika, Felicia Wirahardja

mudikatoronto@gmail.com PELAKSANA KHUSUS

Ketua Lektor Lilian Tjokro, (905) 887.9546

lilian.tjokro@rogers.com Ketua Sakristan/Pembagi Komuni

Romo Wayne yang terkasih,

arga Umat Katolik Indonesia - Toronto bersyukur dan ikut

berbahagia bersama Romo merayakan Ulangtahun Imamat ke-40

dan Hidup Membiara ke-50 di tahun 2017. Sungguh suatu

anugrah Tuhan yang MahaEsa bahwa kami dapat mengenal Romo sejak 37

tahun lebih yang lalu…sebuah awal karya Kasih Tuhan bagi para pendatang

Indonesia di Toronto, dan saat ini dapat berkumpul mengucapkan syukur

kepada-Nya.

Secara khusus, Romo selalu memberikan komentar dan ucapan terima kasih

kepada Team Redaksi BERITA UKI atas pengiriman bulletin setiap bulan

dan foto-foto kegiatan UKI serta mengumpulkan bulletin BERITA UKI

dalam arsip SCJ. Hal ini memberikan arti tersendiri bagi Team Redaksi,

perhatian yang tulus dari seorang mantan Romo Pamong UKI, dan

menambah semangat pelayanan kami bagi UKI.

Tiada kata-kata yang dapat kami ucapkan untuk mengungkapkan betapa

kami bersyukur atas kesediaan dan dukungan Romo bagi keberadaan UKI di

Toronto dari 1980 hingga hari ini, dan di waktu mendatang. Kami tahu

“cinta” Romo kepada UKI adalah cinta tulus seorang ayah/ibu kepada

anak-anaknya, tak dapat dipisahkan oleh jarak dan waktu. Kami selalu berdoa

agar Tuhan yang akan menjaga kesehatan dan memberikan kekuatan bagi

Romo untuk selalu berkarya dalam pelayanan bagi sesama dan bagi

kemuliaan nama-Nya.

Dalam tangan-Mu ya Tuhan, kami percaya Engkau yang akan melindungi

dan memenuhi pikiran dan hati Romo Wayne dengan cinta dan sukacita.

Amin.

Team Redaksi BERITA UKI

(Angelina, Christine, Julian, Randy and Handy)

(3)

H A L A M A N 3

Bersambung ke halaman 11,

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 Air Hidup

ir jelas menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan kita manusia. Semua manusia pasti membutuhkan air apalagi tubuh manusia juga terdiri dari air. Jika air saja memberikan kehidupan bagi manusia, apalagi Air Hidup yang berasal dari Tuhan sendiri. Disebut Air Hidup., karena air itu memberikan hidup kepada kita semua, yang berasal dari Sang Kehidupan sendiri, ALLAH, yang adalah Hidup itu sendiri. Maka jika Allah memberikan Hidup kepada kita, maka Hidup Allah ada di dalam diri kita semua. Hidup Allah itu nyata di dalam diri Yesus Kristus dan Roh KudusNya yang selalu menyertai kita.

Yesus sendiri dalam perjumpaan dengan wanita Samaria di sumur Yakub, mengatakan bahwa Ia adalah Air Hidup itu sendiri dan siapa yang minum dari Air itu tidak akan haus lagi. Tentu saja haus yang Yesus maksud bukanlah haus secara fisik, namun haus untuk minuman kehidupan. Tuhan memberikan Air Hidup

ini supaya manusia t e r u s m e n g a l a m i k e h i d u p a n T u h a n sendiri di dalam dirinya. Banyak hal yang sekarang ini memb uat manusia kekeringan dan bahkan kehausan walaupun m a n u s i a s a n g a t berkelimpahan dari segi minuman jasmani. Oleh sebab itulah Tuhan selalu mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari makanan dan minuman

jasmani namun juga rohani. Jika Tuhan sendiri mengingatkan bahkan menyediakannya, akankah kita tetap berkeras hati dan menghidupi cara hidup kita sendiri yang menjauh dari sumber hidup yang diberikan bagi kehidupan kita. Hidup kita bukan hanya berhenti di dunia ini, namun akan berlanjut dalam hidup abadi di Kerajaan Surga.

Hati Yesus yang terbuka

Dalam peristiwa penyaliban Yesus, ketika Yesus sudah mati, seorang serdadu menikam lambung Yesus dengan tombak sehingga mengalirlah darah dan air keluar. Darah dan air mengalir dari diri Yesus Kristus sendiri. Ini berarti hidup Yesus sendiri tercurah bagi keselamatan manusia. Air yang menjadi tanda pembersihan, yang kemudian tampak dalam Sakramen Permandian atau Pembaptisan. Sedangkan darah menjadi tanda pengorbanan dan pemberian hidup yang tampak dalam Sakramen Ekaristi. Darah Yesus itu mengalir dari hati (jantung)

yang terluka oleh tombak serdadu. Walaupun lambungnya yang ditembus, namun hati atau jantung Yesus pun terluka dan sobek. Peristiwa penombakan itu menunjukkan bahwa Yesus sungguh memberikan diriNya secara total bahkan setelah mati pun masih memberikan darah, yakni hidupNya, inilah pemberian hidupNya kepada BapaNya dan manusia yang dicintaiNya. Peristiwa penombakan itu telah membuat Hati Yesus terbuka bagi semua manusia, agar darah, yakni hidup yang mengalir itu tercurah bagi semua manusia dan demi keselamatan manusia juga. Maka sungguh terbukalah Hati, yang adalah Kasih dan diri Yesus sendiri bagi kita semua dan sudah terjadi sejak 2000 tahun yang lalu, masihkah kita hanya diam saja membiarkan darah dan hidup itu tercurah untuk kita tanpa tanggapan dari kita walau itu untuk keselamatan kita juga?

Membuka hati

Jika Tuhan sudah begitu mengasihi kita b a h k a n me m b u k a HatiNya bagi kita, tentu k i t a p u n p e r l u m e n a n g g a p i n y a . Sekarang ini banyak orang yang kehausan akan Kasih Tuhan dan seolah tidak tahu mau mencari ke mana, padahal Tuhan Yesus telah menyediakan Sumber Air kehidupan bagi kita semua. Terkadang ada orang yang lebih mencari sumber lain yang menyenangkan dan seolah menjanjikan secara duniawi dan tidak bagi kebahagiaan abadi. Tampaknya menjanjikan dan cepat, namun hanya sementara dan menyesatkan.

Saatnya kita sekarang ini sungguh menimba air hidup dari Hati Yesus, Sang Kehidupan sejati. Dengan menimba dan minum air hidup itu, kita sungguh hidup dalam kesatuan dengan Allah. Jika kita tidak membuka hati, maka aliran kasih dalam air dan darah Yesus itu, siapa yang akan menerimanya? Memang perlu usaha dan perjuangan untuk membuka hati bagi Tuhan, karena ada berbagai tawaran dan godaan yang sering menghalangi kita. Ketegasan sikap sangat diperlukan supaya kita mampu tetap menjadikan Tuhan Yesus satu-satunya Sumber Hidup kita.

Tuhan Yesus juga pernah bersabda, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”. Ajakan ini terus bergema bagi kita, maka mari datang kepadaNya, karena hanya Dia yang

Menimba

Air Hidup

dari Hati Yesus

| Oleh Rm Johanes Juliwan Maslim SCJ |

Mengalami Kasih Allah

dalam hidup harian

(4)

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 H A L A M A N 4

UKI Tempo Doeloe bersama Rm. Wayne Jenkins SCJ

Perayaan HUT dari Hadisunjoto, sebagian yang ada dalam foto ini sudah Almarhum kecuali Tante Julie dan Romo Wayne.

(5)

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 H A L A M A N 5

osok Pribadi Fr. Wayne Jenkins, SCJ bagi UKI - Toronto

Romo Wayne (begitulah panggilan akrab para oma,

opa, om dan tante UKI Toronto yang sudah hijrah ke negeri dingin ini sejak tahun 70 dan 80an) dilahirkan di

Chatham, Ontario pada tanggal 25 Mei 1947. Atas inspirasi seorang tantenya yang menjadi suster Ursulin, Romo Wayne memilih hidup selibat sebagai imam katolik. Beliau belajar filosofi di Pennsylvania, dan teologi di Yogyakarta, Indonesia (1973-1976). Kehidupan dan budaya Indonesia selama 3 tahun yang beliau jalani, sangat berkesan mendalam, dan bisa dikatakan mendarah-daging dalam pelayanan beliau di kemudian hari. Pada tanggal 25 Juni 1977 Wayne Jenkins menerima Sakramen Imamat, dan tugas pertamanya adalah di paroki St. Joan of Arc, Toronto (dekat Keele subway station). Saat belajar di Yogyakarta Romo Wayne sempat berkenalan dan dekat dengan satu keluarga, yang mempunyai seorang putri tinggal di Toronto, Tante Liza Tannerya. Kerinduan Romo Wayne akan suasana kehidupan Indonesia, membuat Tante Liza mengantar Romo Wayne ke “Toko KITA” milik Tante Julie dan Alm. Om Stephan Tio (saat ini Tante Julie tinggal di

Vancouver). Bak pucuk dicinta, ulam pun tiba (artinya: orang ngantuk, disodori bantal…. Jadi pas-lah). Beberapa om dan

tante yang berasal dari Indonesia dan hijrah ke Toronto memang merindukan misa berbahasa Indonesia. Sejak pertemuan di tahun 1979 Romo Wayne yang fasih berbahasa Indonesia, menemukan kembali “cinta”nya…. bertemu dan berkumpul dengan masyarakat Indonesia (sekitar 30 orang). Romo Wayne yang banyak dikenal sebagai sosok yang rendah hati, ramah dan sangat setia terhadap tugasnya, bersedia mengadakan misa

berbahasa Indonesia yang pertama kali di gereja St. Joan of Arc pada tanggal 3 Pebruari 1980.

Anugerah-Nya yang Indah bagi warga katolik Indonesia di

tahun 1980, dan Kasih-Nya tak berhenti di misa pertama tersebut. Kelompok kecil itulah yang kemudian menamakan diri Umat Katolik Indonesia atau UKI Toronto, menemukan “second home” di gereja St. Joan of Arc, dengan Romo Pamong Wayne Jenkins, SCJ dan Koordinator Tante Julie Tio. Hingga saat ini UKI tetap berdiri dan berjuang dalam iman dan kasih. Romo Pamong dan pengurus terus berganti… Warga baru juga berdatangan dari segala penjuru Indonesia…. Banyak juga warga UKI senior yang sudah berpulang ke rumah Bapa. Namun, kasih Tuhan tetap sama dari 1980 sampai sekarang dan masa mendatang. Romo Wayne telah mengawali UKI sehingga SCJ Indonesia pun terus mengirimkan para romo dari Indonesia untuk menimba ilmu di Toronto dan membimbing UKI sebagai domba-domba-Nya.

Bagi para oma dan opa, Romo Wayne sudah dianggap saudara… beliau selalu baik dan penuh perhatian. Hatinya yang lembut membuatnya sulit untuk menolak atau mengatakan tidak walau sebenarnya beliau mengalami kesulitan untuk memenuhinya. Alasan yang beliau ungkapkan kepada Bp. Steven Madhyo Sukarto: Keinginannya untuk secara utuh menghayati salah satu semangat Imam-imam Hati Kudus Jesus, Ecce Venio. □ [Christine Budihardjo]

Bagi Romo Wayne, UKI adalah tambatan hati dan jiwanya. Dia memang lahir di Canada namun sifatnya mirip orang Indonesia.

Sumber tulisan: Julie Tio, Liza Tannerya, Swan Pudjo, Steven Madhyo Sukarto, dan http://www.sacredheartusa.org/

Selamat Ulang Tahun

Imamat ke-40

(25 Juni 2017)

Fr Wayne Jenkins SCJ

Fr Wayne Jenkins SCJ

Fr Wayne Jenkins SCJ

S

Selamat

Ulang Tahun

ke-70

(25 Mei 2017)

Selamat Pesta

Emas Hidup

Membiara ke-50

(8 September 2017)

(6)

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 H A L A M A N 6

Gereja St. Gabriel Orthodox – Sumber air yang diambil Maria

engawali hari ini, refleksi kita mulai di Gereja St. Gabriel, sebuah gereja Orthodox. Gereja yang penuh dengan berbagai Icon yang indah dan khas Gereja Ritus Timur. Gereja ini didirikan sebagai tempat untuk mengenangkan kembali sebuah sumber air, tempat Bunda Maria sering mengambil air. Perjalanan yang cukup jauh

dilakukan oleh Bunda Maria dari rumahnya ke mata air itu, namun dengan setia dilakukannya. Kesetiaan Maria dalam melakukan hal sederhana inilah menunjukkan tanggungjawabnya yang besar. Dari pengalaman inilah, kita semakin mengenal kepribadian Maria yang setia dan rendah

hati. Sikap inilah yang tampak pula ketika ia menerima

panggilan dari Tuhan untuk menjadi ibu Yesus. Jawaban Maria adalah ‘Ya’, dengan mengatakan, ‘aku ini adalah hamba Tuhan,

terjadilah padaku menurut perkataanmu itu’. Walaupun

tanggungjawab ini tidak mudah, namun Maria siap melakukannya. Maria melihat di dalam panggilan Tuhan ini,

Belaskasih Tuhan yang begitu besar bagi keselamatan manusia

yang berdosa.

Gereja Stella Maris – Carmel

Perjalanan berlanjut menuju ke Bukit Carmel, yang terkenal dalam kisah di Perjanjian Lama. Di atas Bukit atau Gunung Carmel inilah Nabi Elia menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Agung. Elia berhadapan dengan para nabi Baal, yang

Tuhan

Perjalanan Ziarah UKI 2016 menuju Holy Land

dan Roma

| Oleh Rm. Johanes Juliwan Maslim SCJ |

Mengalami Belaskasih Tuhan

(Hari 4: Rabu, 2 November 2016)

Perjalanan peziarahan hari ini secara

khusus terpusat pada pengalaman akan

Belaskasih Tuhan di dalam hidup kita.

Pengalaman Belaskasih itu tampak

dalam berbagai peristiwa yang telah

t e r j a d i d a l a m k eh i d u p a n d a n

perjalanan Sejarah Gereja selama ini.

Melalui kunjungan yang dilakukan

pada hari ini, kita ingin belajar dan

mengalami langsung Belaskasih Tuhan

bagi diri kita masing-masing.□

Mengalami Belaskasih

M

Foto atas, air yang masih mengalir dalam gereja Foto bawah, Sumber air dahulu yang diambil Maria di luar gereja.

(7)

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 Sambungan dari halaman 6, H A L A M A N 7

Bersambung ke halaman 8,

menyembah para dewa dan menentang Allah. Degan kekuatan doanya, Elia memohon kepada Allah dan api turun membakar persembahan yang disiapkan oleh Elia, walaupun sudah disiram air sampai basah. Sungguh nyata kuasa Allah dan

BelaskasihNya kepada Elia dan semua umatNya yang sedang

diserang oleh para nabi Baal.

Dari Gunung Carmel ini kita dapat memandang laut yang terhampar di depannya. Oleh sebab itulah di tempat ini dihormatilah Bunda Maria dengan gelar ‘Stella Maris’, yakni ‘Bintang Laut’. Di atas Gunung ini pula ada sebuah menara dengan Patung Bunda Maria Stella Maris dipasang, yang sedang

memandang ke laut. Harapannya agar Bunda Maria menjadi bintang yang menerangi daerah itu dan lautannya serta melindunginya.

D i G u n u n g Carmel inilah dirayakan

Ekaristi Kudus, yakni di Kapel Stella Maria. Kapel ini ada di

dalam komplek Biara Ordo Carmel. Secara khusus Ordo Carmel didirikan dengan mengambil semangat Nabi Elia dari Gunung Carmel ini.

Masih dalam lokasi Gunung Carmel ini, terdapat Taman Ba’hai yang indah, yang membentang dari atas ke bawah. Ini adalah taman Aliran Ba’hai, aliran keagamaan yang

ada di daerah ini.

Taman Getsemani dan Gereja Segala Bangsa

Selanjutnya, perjalanan ziarah hari ini mengunjungi Taman Getsemani. Inilah tempat yang membawa suasana yang sangat berbeda bagi semua peziarah. Taman Getsemani ini terdiri dari tamannya sendiri, di mana masih bisa dilihat pohon-pohon Zaitun yang sudah tumbuh sejak zaman Yesus, begitulah ceritanya. Maka pohon-pohon Zaitun inilah yang menjadi saksi Yesus yang berdoa di tempat ini dalam sakrat mautNya dan kemudian ditangkap. Pergolakan Yesus dalam melaksanakan Kehendak Allah telah membuat Ia berdoa dengan lebih

bersungguh-sungguh. Kemudian, ada bagian yang sekarang berdiri gereja yang indah dan besar, diberi nama

‘Gereja Segala Bangsa’.

Memasuki gereja ini melalui Holy Door, yang khusus dibuat pada Tahun Belaskasih ini (Jubile of Mercy). Di dalam gereja inilah terletak batu tempat Yesus berdoa kepada BapaNya dalam sakrat maut. Suasana gereja juga mendukung untuk masuk ke dalam keheningan, dalam suasana doa. Semua peziarah berdoa di sekitar batu, tempat Yesus berdoa, dalam suasana hening dan setiap orang masuk ke dalam refleksi yang mendalam sehingga tercipta suasana yang sangat menyentuh dan haru. Tempat ini dengan batunya sungguh berbicara bagi semua peziarah. Bersama dengan Yesus yang menderita bagi kita semua, kita pun berdoa bagi hidup kita dan semua manusia sekarang ini yang masih mengalami berbagai penderitaan. Khususnya berdoa bagi para pengikut Yesus yang dianiaya serta berbagai korban lainnya.

Gereja Pater Noster

Perjalanan berlanjut ke Gereja Pater Noster. Nama Pater Noster berarti Bapa Kami, doa yang diajarkan Yesus kepada para rasulNya. Di tempat inilah Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami itu, yang sekarang telah berdiri sebuah gereja. Di sekeliling gereja ini juga di seluruh tembok halaman luar gereja, tertulislah Doa Bapa Kami dari berbagai bahasa yang ada di

Patung Nabi Elia di gua dalam gereja Stella Maris

Taman Ba’hai di gunung Carmel

(8)

J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0 Sambungan dari halaman 7, H A L A M A N 8

seluruh dunia. Secara langsung Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami ini kepada para rasul atas permintaan mereka. Inilah Doa yang sempurna dan memuat semua unsur dalam doa. Bahkan di dalam doa ini pulalah, Yesus mengajar para rasulNya untuk menyapa Allah sebagai

Bapa, seperti Yesus juga menyapa Bapa.

Hal ini membuka sebuah tabir baru dalam penghayatan iman orang Yahudi yang mengikuti Yesus bahwa Allah hadir

sebagai Bapa, sebuah kedekatan relasi antara Allah dan manuisa. Hal ini tidak mungkin terjadi jika tidak diajarkan oleh Yesus sendiri, Sang Putera Allah.

Gereja Yesus naik ke Surga

Akhir perjalanan ziarah hari ini adalah kunjungan ke sebuah gereja kecil, yang menjadi tempat mengenangkan Tuhan Yesus naik ke Surga. Gereja ini

mengingatkan peristiwa Tuhan Yesus yang meninggalkan para rasulNya dan kembali ke Surga, dalam persatuan dengan BapaNya. Selama 40 hari Yesus menemani para rasul a g a r m e r e k a s u n g g u h dikuatkan dan yakin akan Yesus yang bangkit mulia. Dengan peristiwa penampakan yang dilakukan Yesus kepada m e r e k a , Y e s u s i n g i n meyakinkan dan meneguhkan mereka semua setelah Ia pergi. Pada kesempatan akhir perjumpaan Yesus dengan para r a s u l N ya i n i p u l a I a memberikan tugas perutusan kepada mereka supaya pergi ke seluruh dunia, mengajar semua orang dan membaptis mereka. Tugas perutusan itulah yang dilakukan oleh para rasul sehingga pengikut Yesus sudah tersebar di seluruh dunia saat ini.

Melalui perjalanan peziarahan hari ini, tampaklah Belaskasih Tuhan dalam Sejarah Keselamatan manusia sampai saat ini. Sungguh meneguhkan iman semua peziarah untuk semakin mencintai Tuhan yang Berbelaskasih dan selalu ada bersama kita semua.□

Tapak di batu kenangan Yesus naik ke surga.

Happy 99th

Birthday

1)

Oma Daisy

2)

Oma Deetje

3)

Opa Amir

1.

2.

3.

(9)

H A L A M A N 9 J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0

ekan-rekan yang baik!

Ditegaskan dalam Mat 10:26-33 bahwa para rasul tak usah takut akan kesulitan, perlawanan, dan penderitaan dalam menjalankan tugas mereka. Malah mereka didorong agar berteguh mempersaksikan Yesus. Apa warta petikan yang dibacakan dalam Injil Minggu Biasa XII/A bagi kita pada zaman ini?

Injil hari ini mengajak pembaca mengenali sumber kekuatan para rasul. Kesadaran inilah yang bakal memperkaya pembaca. Petikan tadi ditulis untuk menjelaskan mengapa para rasul bisa tetap teguh dalam perutusan mereka kendati mereka kerap ditentang. Jadi baik disadari bahwa kata-kata yang diperdengarkan dalam Injil bukannya langsung dimaksud untuk menyemangati pembaca zaman ini. Pemakaian Injil seperti itu akan mengobarkan perasaan yang cepat padam dan kurang menajamkan iman Injili yang bisa jadi pegangan kukuh. Dan cara mendalami seperti itu juga tercermin dalam bacaan pertama Yer 20:10-13 yang akan dibicarakan dalam tulisan ini.

Konsekuensi perutusan

Para rasul dipilih Yesus untuk ikut serta dalam karyanya dan, dalam pandangan generasi selanjutnya, mereka menjadi para pemimpin dalam komunitas para pengikut Yesus. Apa konsekuensi

penugasan ini bagi kehidupan mereka? Dalam ay. 16-25 disebutkan bahwa mereka diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala dan hendaknya mereka cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Murid-murid akan dimusuhi, bahkan oleh orang-orang yang dekat, dengan alasan mereka itu menjadi murid Yesus. Bagaimanapun juga hendaknya mereka sadar bahwa Roh Bapa akan menyertai dan membela. Sekaligus mereka diharapkan agar juga tidak gegabah asal mau bertahan. Bila dianiaya di satu kota hendaklah pergi ke kota lain; urusan yang tidak bisa mereka jalankan sendiri sebaiknya diserahkan saja kepada Anak Manusia yang sudah datang (ay. 23). Dengan menerima perutusan mereka, para rasul menjadi senasib dengan guru mereka. Ditolak, dimusuhi, diadili dan menghadapi risiko dibunuh pula. Senasib dengan guru mereka itu pahala dan konsekuensi menjadi utusannya. Tetapi mereka tidak ditinggalkan sendirian. Dalam arti apa? Ada kekuatan yang menyertai mereka dan menyelamatkan ketika sungguh terancam? Kiranya tidak sesederhana ini jawabannya. Janganlah diharapkan akan ada kekuatan ilahi, roh dari langit yang menjadi bodyguard, pengawal pribadi yang siap menolong bila terancam. Angan-angan seperti ini tidak cocok dan malah akan merendahkan kuasa langit serta kemungkinan-kemungkinan manusia. Tidak diajarkan agar para murid melihat diri menjadi orang yang bisa membuat para pengejek kualat dan kena hukuman dari atas. Itu cara-cara kaum preman rohani, dan bukan yang diharapkan dari rasul-rasul Yesus. Para rasul diminta berani memakai sumber kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas luhur mereka. Mereka diharapkan dapat menilai keadaan - bijaksana. Dan tetap tulus - menjaga integritas diri mereka.

Jangan takut!

Petikan yang sedang diulas ini memiliki dua bagian, yang pertama

ialah Mat 10:26-31 dan yang kedua Mat 10:31-32. Bagian pertama memuat ungkapan "Jangan takut!" sampai empat kali (ay. 26 28a 28b 31). Bagian kedua berbicara mengenai keberanian bersaksi dan baru dapat didalami atas dasar bagian yang pertama. Oleh karena itu marilah kita dalami bagian pertama terlebih dahulu.

GUS: Matt, kayaknya kata-kata yang kausampaikan dalam ay. 23-31 itu mirip dengan Luk 12:2-9. Apa saling kutip? Mark kok diam. MATT: Ah, kan sudah tahu bahwa selain mengolah kembali tulisan Mark, aku dan Luc juga memakai catatan-catatan mengenai kata-kata Yesus yang baru beredar setelah Mark selesai menulis Injilnya. GUS: Tapi kau agak berbeda dengan Luc yang langsung berkata (Luk 12:2) bahwa tak ada yang tertutup yang takkan dibuka. Engkau mulai dengan mengatakan jangan takut terhadap "mereka" - tentu maksudmu mereka yang memusuhi - dan baru sesudah itu pembicaraannya sejajar degan Luc.

MATT: Sengaja kutonjolkan ungkapan "jangan takut" agar jelas bahwa wartanya terbingkai oleh gagasan itu.

GUS: Tolong jelaskan lebih lanjut!

MATT: Tugas yang dimaksud ialah menjelaskan kepada orang banyak siapa Yesus itu. Tugas ini bisa menakutkan yang ditugasi. Bisa bikin waswas diri sendiri. Jangan-jangan pengalaman amat pribadi percaya dan berguru pada Yesus itu diketahui orang banyak dan mereka dimintai pertanggungjawaban. Kan para murid itu dulu sealiran dengan orang-orang yang kemudian mau mempertanyakan keyakinan mereka.

GUS: Kau bilang waswas. Bener kagak kalau dikatakan waswas itu tidak sehat. Waswas itu rasa takut yang disebarkan oleh mereka yang tak bermaksud baik. Kekhawatiran yang menggoda terus-menerus dan bisa melemahkan. Eh, tahu tidak bahwa "waswas" itu asalnya dari kata Arab dan artinya bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan. Jadi "jangan takut" yang kita

bicarakan ini menyangkut rasa waswas seperti ini kan? MATT: Ehm, prof filologi Semit! Tapi benar, yang dimaksud memang jangan membiarkan diri dihanyutkan rasa takut yang begitu itu, yang hanya bikin waswas terus, yang mengendurkan semangat.

GUS: Tanya lagi nih tentang hubungan dengan sumber kalian bersama tadi. Yesus mengatakan agar murid tidak takut, yakni tak usah waswas, akan mereka yang bisa membunuh tubuh, tapi tidak dapat mencelakakan jiwa. Yang hendaknya ditakuti itu Dia yang bisa membinasakan jiwa dan tubuh di dalam neraka. Luc (Luk 12:4 -5) yang biasa berpikir Yunani itu tidak memakai pembedaan tubuh dan jiwa seperti Mat 10:28.

MATT: Maksudku memang untuk menajamkan perbedaan yang di luar dan yang di dalam hidup kita. Tubuh bisa dicincang, tapi jiwa itu milik Yang Mahakuasa. Takutilah Dia kalau kau memang mau mengerti rasa takut yang membawa kalian ke dekat Dia.

GUS: Jadi para rasul tak usah waswas akan mereka yang bisa mempersukar yang di luar, tetapi tak bisa mengubah keyakinan. Kemudian para rasul itu juga diperingatkan agar takwa kepada Dia! Begini, Matt, kata takwa itu kan dari Arab taqwa, artinya takut kepada kekuatan ilahi degan sikap menghormat, dan

mengharapkan kekuatan darinya, bukan takut yang waswas tadi itu, yang membuat orang mau melarikan diri.

TAK USAH TAKUT, TAPI JADILAH ORANG TAKWA!

TAK USAH TAKUT, TAPI JADILAH ORANG TAKWA!

TAK USAH TAKUT, TAPI JADILAH ORANG TAKWA!

R

(10)

H A L A M A N 1 0 J U N I 2 0 1 7 / N O . 3 0 0

MATT: Menarik! Mestinya dulu aku nulis dalam bahasa Indonesia...!

GUS: Para rasul juga diminta agar tak lagi waswas karena mereka itu jauh lebih bernilai daripada burung pipit yang walaupun harganya cuma sepeser toh tidak dibiarkan jatuh ke bumi tanpa kemauan Bapa di surga.

MATT: Begitulah, yang seremeh itu saja diperhatikan, apalagi para rasul. Tentu saja mereka dilindungi Bapa. Maka tak usah waswas, begitulah kiranya cara berpikir yang hendak diajarkan Yesus kepada para utusannya.

Pembicaraan dengan Matt ini menerangkan mengapa dalam ay. 32 ditegaskan bahwa barangsiapa mengakui Yesus di depan manusia, maka Yesus pun akan mengakuinya di depan Bapanya. Mengakui Yesus tentunya menerima warta Yesus tanpa membiarkan diri diusik rasa waswas dan terpengaruh bisikan-bisikan jahat mengenai dirinya, melainkan menjalankan perutusan dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus sendiri, yakni Bapanya. Jadi, menyangkal ialah membiarkan diri terus menerus hidup dalam perasaan tak menentu, waswas akan kebenaran warta Yesus, dan dengan demikian menyangkal juga yang mengutusnya. Orang seperti ini sudah berkubu kepada pembisik rasa waswas tadi dan tidak takwa kepada Bapa.

Pembedaan waswas dengan takwa itu dapat membuat kita semakin mengenali rasa takut, kurang aman, gelisah yang memang menjadi bagian dalam hidup kita sebagai manusia. Bisa saja keduanya tercampur, tapi makin diperiksa, arah-arahnya akan makin terlihat. AJARAN KEBIJAKSANAAN

Dalam Mat 10 termuat perkataan Yesus yang kemudian menjadi bekal bagi para utusannya. Bukan bekal fisik, melainkan bekal kebijaksanaan. Yang dimaksud ialah kepintaran menilai keadaan. Mereka juga diberi tahu (ay. 11-15) agar tidak memaksa-maksakan "salam". Mereka tidak disuruh menjadi pemertobat orang banyak dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah. Bila disambut baik, syukur, dan di situlah damai bisa diwartakan lebih jauh. Bila tidak diterima, pergi saja, dan tak usah memberi kesan pernah berjalan ke situ, ini arti mengebaskan debu. Kebebasan orang yang

menerima atau yang kurang menerima patut dihormati. Juga dalam keadaan dimusuhi atau berada di lingkungan yang kurang

menguntungkan mereka dianjurkan agar bersikap bijaksana dan apa adanya, tulus (ay. 16). Bahkan bila mereka diperlakukan dengan buruk di satu tempat, tak usah ngotot bertahan seolah-olah mereka tugas pokok mereka itu mati sebagai martir. Yesus mengajarkan, dalam keadaan itu lebih baik pindah mewartakan ke kota lain (ay. 22). Kebijaksanaan ini membuat mereka sanggup bertahan. Dalam nasihat-nasihat agar jangan takut para rasul diajar mengamati rasa takut, mana yang melemahkan, mana yang menguatkan. Bagi kita? Boleh jadi tidak semua dari kita perlu merasa diutus seperti para rasul dulu. Jelas tidak semua diberi tanggung jawab seperti mereka. Namun bekal bagi kita sama. Kebijaksanaan dan ketulusan. Dan juga baru berguna bila dipakai. MENGENAI BACAAN PERTAMA (Yer 20:10-13)

GUS: Pak Yer, tulisan Nabi Yeremia yang kita dengar ini isinya kok keluhan melulu ya?

YER: [ketus] Tauk! Tanyak ke sana sendiri!

GUS: [sadar salah pencet tombol, ambil strategi baru omong-omong] Nanti deh kalau ketemu. Bacaan kali ini kiranya tentang Nabi Yeremia yang barusan dibogem mentah imam Pasyhur bin Imer yang kemudian menjebloskan sang nabi ke dalam penjara (Yer 20:1-6) karena kritik pedasnya terhadap tipisnya iman di kalangan kaum beragama resmi di tempat ibadat Pasyhur tadi. YER: [mulai tertarik] Memang, itu terbaca dalam Yer 19:, terutama ayat 15. Nabi yang kini meringkuk di penjara itu kemudian mendaraskan doa (Yer 20:7-9) yang memang kedengaran seperti keluh kesah.

GUS: Jadi bukan semata-mata meratapi keadaan diri? YER: Far from it! Yang kedengaran seperti keluh kesah itu sebetulnya mawas diri, menyadari bahwa hati nurani dan kata-katanya menjadi jalan bagi Yang Maha Kuasa mengingatkan orang banyak akan keadaan mereka sendiri.

GUS: Menarik, Pak Yer, apa keadaan mereka itu bisa dikatakan seperti kurang mengindahkan Dia sendiri dan malah mengolok-olok dan menyakiti orang yang mau memperkenalkan-Nya dengan baik-baik?

YER: Begitulah, mengerti sendiri kan?

GUS: Dalam petikan yang dibacakan Nabi Yeremia merasa sendirian, ditinggalkan mereka yang dekat, dimusuhi tapi ia juga mengatakan bahwa Tuhan menyertai dia sehingga ia tak kehilangan semangat, tak gentar oleh bisikan-bisikan orang banyak yang berisi ancaman memperkarakannya. Dia akan dibuktikan benar oleh Dia sendiri (Yer 20:10-12).

YER: Lha iya, malah Nabi Yeremia berani berkata mereka yang melawannya akan kena malu sendiri karena mereka akan terbukti keliru. Maka ia malah makin percaya diri, bukan sambat-sambat melulu, tapi mengajak orang bergembira memuji Yang Maha Kuasa (Yer 20:13).

Kiranya Nabi Yeremia sadar akan risiko yang dihadapinya dan tidak undur melainkan berteguh dalam komitmennya untuk setia pada Tuhannya. Baginya yang membuatnya mengalami resik dan bahaya juga sekaligus sumber kekuatannya. Tapi jelas juga yang hendak disampaikan teks Yeremia bukanlah imbauan agar orang meniru melainkan ajakan untuk menemukan kepuasan dan keberanian, bukan ngotot bersaksi atau berkeyakinan dengan membabi buta.

Salam hangat, A. Gianto

1 Tesalonika 4:14

“Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Kristus akan

dikumpulkan Allah bersama-sama Dia”

Telah berpulang ke rumah Bapa di surga:

Bapak Dominicus Kusuma Khu lim Siong (88 tahun)

Tutup usia di Jakarta Sabtu 3 Juni 2017

Istri: Almh. Maria Budihardja Boen Nyat Yung Anak / Menantu:

Vincentius Kusuma / Rosida Mursalim Regina Kusuma

Theresia Kusuma / Francisco Bayona, Jr. Elizabeth Kusuma

Bernadette Kusuma / Hartoni Ashali (Toronto) Antonius Kusuma

Rudy P. Kusuma / Noviana Satya

Beserta segenap cucu dan cicit.

Semoga Tuhan Maha Rahim memberikan keselamatan kekal dan damai di surga, serta kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang berduka.

(11)

Sambungan dari halaman 3,

St. Anthony

Of

Padua

1195-1231

When many Catholics lose something, the first thing they do is pray to St. Anthony. All around the world, people implore his intercession to find everything

from lost keys to lost souls.

How a Franciscan priest became a celestial lost-and-found department is uncertain. One legend says that

when a friar stole a book, Anthony prayed it would be returned. The sticky-fingered friar was overcome with remorse and brought the book back. Regardless of how St. Anthony got associated with the recovery

of lost items, he is one of the world’s favourite saints.

Anthony was the son of Portuguese nobility. He first joined the Augustinians, but when the relics of

Fran-ciscan martyrs were brought through his town, he entered the Franciscan order. Beloved as a preacher and teacher, he was canonized within a year after his

death.

Although we usually pray to St. Anthony to help us find things, we can also ask him to help us lose at least one thing. If you are overweight, St. Anthony can sympathize. He was short and chubby, hardly a lean ascetic. Since he knows what it is like to strug-gle with weight, he might just be a good person to call on when you begin dieting. Who knows? Since most of St. Anthony’s time is spent finding things, he might be glad to hear a request to lose something!

What do I need to find (or lose) right now? I think of the saints as heavenly friends, ready to lend

a helping hand in all situations. From: 365 Saints by Woodeene Koenig-Bricker mampu melegakan, apalagi Tuhan tidak

pernah ingkar janji jika kita setia.

Jadikanlah hati kami seperti HatiMu

Inilah harapan kita semua, agar hati kita bisa menjadi seperti Hati Yesus, dalam hal apa? Jika kita sudah menimba air kehidupan dari Tuhan Yesus, maka di dalam diri kita mengalirlah air hidup itu dan sungguh menyegarkan. Oleh sebab itulah hati kita menjadi seperti Hati Yesus yang sejuk. Namun ingat kita tetap harus menjalin relasi yang dekat dengan Yesus supaya air itu tidak mengering. Maka setiap saat tetap perlu disegarkan kembali kesatuan dengan Tuhan Yesus di dalam seluruh kehidupan kita. Usaha dan doa menjadi dasar kuat untuk selalu berjalan di dalam aliran Kasih Hati Yesus.

Menjadi seperti Hati Yesus, berarti pula siap menjadi saluran kasih Tuhan kepada sesama kita. Air Hidup yang kita terima itu, akan menjadi aliran

baru dari dalam diri kita yang mengalir dan memancar keluar bagi yang lain. Berbagi kehidupan menjadi bagian dalam perutusan kita sebagai pengikut Yesus. Dengan meneruskan aliran Air Hidup itu, maka kita akan membawa semakin banyak orang kepada Tuhan, Sang Sumber Hidup. Namun tetaplah aliran air itu berasal dari satu Sumber Ilahi yang sama dan bukan dari diri kita sendiri. Oleh sebab itu kita semua sedang berjalan menuju ke arah yang sama, yakni menuju ke Sumber Hidup Abadi.

Marilah kita selalu menimba Air Hidup dari Hati Yesus yang Mahakudus supaya selalu disegarkan dalam menjalani kehidupan yang terkadang gersang ini. Saatnya kita selalu terarah kepada Tuhan Yesus, khususnya ketika Ia menanti kita dengan Hati dan tanganNya yang terbuka.□

(12)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :