• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Taman Kanak-Kanak merupakan bentuk pendidikan pra sekolah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak sebelum memasuki pendidikan dasar. Sebagaimana terdapat dalam Garis-garis Besar Program Kegiatan belajar Taman Kanak-Kanak (GBPKBTK 1994) bahwa Taman kanak-Kanak didirikan sebagai usaha mengembangkan seluruh segi kepribadian anak didik dalam rangka menjembatani pendidikan dalam keluarga dan pendidikan sekolah. Adapun tujuan program kegiatan belajar anak TK adalah meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan dan daya cipta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Kata kunci yang juga merupakan suatu keutuhan dalam tujuan tersebut yaitu kata daya cipta atau dengan istilah lain kreativitas.

Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada (Supriadi, 1994 dalam Rachmawati, 2005:15) kreativitas tidak dapat berkembang dengan sendirinya namun membutuhkan perhatian yang maksimal untuk dapat mengembangkannya secara optimal. Dalam pengembangannya masih banyak ditemukan kesulitan yang berkenaan dengan bagaimana mengembangkan kreativitas pada anak TK. Kesulitan atau hambatan tersebut mungkin berasal dari program apa yang seharusnya dikembangkan oleh guru, karakteristik guru seperti apa yang dapat mengembangkan kreativitas anak usia TK serta strategi apa yang harus dilakukan oleh guru agar dapat memfasilitasi berkembangnya kreativitas anak.

Kreativitas hendaknya dikembangkan sejak usia dini, pada masa usia Taman Kanak-Kanaklah waktu yang tepat untuk mengembangkan

(2)

kreativitas. Tetapi tidak semua anak usia Taman Kanak-Kanak dapat mengoptimalkan kreativitasnya. Didalam kelompok B3 yang terdiri dari 27 anak dapat dikatakan hanya 40 % anak yang mempunyai kreativitas yang baik. Namun 60 % sisanya adalah anak-anak yang kurang mampu mengembangkan kreativitasnya.

Harapan agar anak usia Taman Kanak-Kanak mempunyai kreativitas yang tinggi tidaklah sama dengan kenyataan yang ada, hal demikianlah yang menjadikan masalah, maka menjadi tugas guru Taman Kanak-Kanak untuk mengatasi hal ini.

Dalam rangka mengembang tugas dan tanggung jawab untuk mengoptimalkan potensi kreativitas yang dimiliki oleh anak sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang mereka miliki, maka diperlukan suatu upaya kreatif agar mereka dapat tumbuh optimal dengan kondisi nyaman dan menyenangkan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

“Bagaimana strategi guru dalam mengembangkan kreativitas anak melalui bercerita”.

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulis adalah untuk mengetahui strategi guru dalam mengembangkan kreatifitas melalui bercerita di TK ABA I Rambipuji.

1.4 Kegunaan Penelitian

Pentingnya atau kegunaan observasi ini : 1. Bagi penulis

Hasil observasi ini nantinya dapat dijadikan bekal bagi penulis sebagai salah satu cara untuk mengembangkan kreativitas anak di Taman Kanak-Kanak

(3)

2. Bagi Guru

Khususnya guru Taman Kanak-Kanak, hasil observasi dapat menjadi alternatif dalam mengembangkan kreativitas anak didik di Taman Kanak-Kanak.

3. Bagi Siswa – Orang Tua

Siswa dapat mengembangkan potensi kreativitas yang ada pada dirinya.

Orang tua dapat membantu mengembangkan kreativitas anak dengan memberikan dukungan dan dorongan pada anak

4. Bagi TK ABA I

Hasil observasi ini dapat digunakan sebagai sarana mengoptimalkan kreativitas pada anak didik

1.5 Batasan Operasional

“Strategi mengembangkan” adalah cara yang digunakan memajukan, menambahkan, meningkatkan, mengoptimalkan apa yang menjadi obyek

(4)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kreatifitas

James J Gallagher (1985 dalam Rachmawati 2005 : 15) mengatakan bahwa “Creativity is a mental process by which an individual creates new ideas or products, or recombines existing ideas and product, in fasion that is novel to him or her” (kreativitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru, atau mengkombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya)

Lebih lanjut Supriadi (1994 dalam Rachmawati 2005 : 15) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Selanjutnya ia menambahkan bahwa kreatifitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi dan integrasi antara setiap tahap perkembangan.

Clark Monstakis (dalam Munandar 1995 dalam Rachmawati 2005 : 15) mengatakan bahwa kreativitas merupakan pengalaman dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu antara hubungan diri sendiri, alam dan orang lain. Pada umumnya definisi kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi (person), proses dan produk dan press, seperti yang diungkapkan oleh Rhodes yang menyebut hal ini sebagai “Four P’s of Creativity : Person, Process, Press, Product”. Keempat P ini saling berkaitan : Pribadi yang kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif dan dengan dukungan dan dorongan (press) dari lingkungan akan menghasilkan produk kreatif.

(5)

Adapun Semiawan (1997 dalam Rachmawati 2005 : 15) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Sementara itu Chaplin (1989 dalam Rachmawati 2005 : 15) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni, atau dalam permesinan atau dalam memecahkan masalah-masalah dengan metode-metode baru.

Definisi berikutnya diutarakan oleh Csikzentmihalyi (dalam Munandar, 1995), beliau memaparkan kreativitas sebagai produk berkaitan dengan penemuan sesuatu, memproduksi sesuatu yang baru, daripada akumulasi ketrampilan atau berlatih pengetahuan dan mempelajari buku.

Dari beberapa definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu proses mental individu yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang efektif yang bersifat imajinatif, estetis, fleksibel, integrasi, suksesi, diskontinuitas dan diferensiasi yang berdaya guna dalam berbagai bidang untuk pemecahan suatu masalah.

2.2 Cara Meningkatkan Kreativitas Anak

Empat hal yang dapat mengembangkan kreativitas yaitu :

Pertama, memberikan rangsangan mental baik pada aspek kognitif maupun kepribadiannya serta suasana Psikologis (Psycological Athmosphere).

Kedua, menciptakan lingkungan kondusif yang akan memudahkan anak untuk mengakses apapun yang dilihatnya, dipegang, didengar dan dimainkan untuk mengembangkan kreativitasnya. Perangsangan mental dan lingkungan kondusif dapat berjalan beriringan seperti halnya kerja simultan otak kiri dan kanan. Cherry (1976) dan Ayan (2002 dalam Rachmawati 2005 : 15) mengemukakan beberapa kondisi lingkungan yang harus

(6)

diciptakan untuk menumbuhkan jiwa-jiwa kreatif, sebagai berikut :

a. Pencahayaan b. Sentuhan warna c. Seni dalam lingkungan d. Bunyi dan musik e. Aroma

f. Sentuhan g. Cita rasa

Ketiga, peran serta guru dalam mengembangkan kreativitas, artinya ketika kita ingin anak-anak menjadi kreatif maka akan dibutuhkan juga guru yang kreatif pula dan mampu memberikan stimulasi yang tepat pada anak. Beberapa hal yang dapat mendukung peran guru dalam mengembangkan kreativitas siswa adalah sebagai berikut :

a. Percaya diri

b. Berani mencoba hal-hal yang baru c. Memberikan contoh

d. Menyadari keragaman karakteristik siswa

e. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berekspresi dan bereksplorasi

f. Positive thinking

Keempat, peran orang tua dalam mengembangkan kreativitas anak. Utami Munandar (1999 dalam Rachmawati 2005 : 15) menjelaskan beberapa sikap orang tua yang menunjang tumbuhnya kreativitas, sebagai berikut :

a. Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkan

b. Memberi waktu pada anak untuk berfikir, merenung, dan berkhayal

(7)

c. Membolehkan anak mengambil keputusan sendiri

d. Mendorong anak untuk menjajagi dan mempertanyakan hal-hal

e. Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicoba, dilakukan dan apa yang di hasilkan

f. Menunjang dan mendorong kegiatan anak g. Menikmati keberadaannya bersama anak

h. Memberi pujian yang sungguh-sungguh kepada anak i. Mendorong kemandirian anak dalam bekerja

j. Menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan anak

2.3 Bercerita

Aspek pengembangan anak usia dini pada lembaga Taman Kanak-Kanak sangat luas dan hal tersebut dapat dicapai dengan pendekatan yang beragam, salah satu diantaranya adalah dengan melakukan kegiatan bercerita sebagai implementasi metode bercerita. Metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-Kanak melalui cerita yang disampaikan secara lisan (Moeslichatun 1999 : 157 dalam Bachri 2005 : 11)

Kegiatan bercerita juga dapat mewarisi nilai-nilai budaya dan kemanusiaan pada anak Moeslichatun (1999 : 26 dalam Bachri 2005 : 11) menjelaskan bercerita mempunyai makna penting bagi perkembangan anak Taman Kanak-Kanak melalui kegiatan bercerita guru dapat melakukan hal untuk :

a. Mengkomunikasikan nilai-nilai budaya b. Mengkomunikasikan nilai-nilai sosial c. Mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan d. Menanamkan etos kerja, etos waktu dan etos alam e. Membantu mengembangkan fantasi fisik

f. Membantu mengembangkan dimensi kognitif anak g. Membantu mengembangkan dimensi bahasa anak

(8)

Melalui perhatian yang terpusat pada guru yang menyampaikan cerita anak akan mudah mengikuti pembelajaran yang disampaikan melalui bercerita. Dan kajian teori belajar pengolahan informan terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage and Berliner dalam Dimyati 1994 : 40 dalam Bachri 2005 : 11)

2.4 Peran Bercerita dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Menurut Rachmawati (2005 : 60 – 76) ada tujuh strategi pengembangan kreativitas anak :

a. Pengembangan kreativitas melalui menciptakan produk (Hasta karya pada dasarnya hasil karya anak yang dibuat melalui aktivitas membuat). Menyusun atau mengkontruksi ini akan memberikan kesempatan bagi anak untuk menciptakan benda-benda buatan mereka sendiri yang belum pernah ditemui, ataupun membuat modifikasi benda-benda yang telah ada sebelumnya.

b. Pengembangan kreativitas melalui imajinasi dalam permainan imajinasi anak-anak dapat memperagakan situasi, memainkan peranannya dengan cara tertentu, memainkan peran orang dan menggantinya bila tidak cocok ataupun membayangkan suatu situasi yang tidak pernah mereka alami.

c. Pengembangan kreativitas melalui eksplorasi ide-ide kreatif sering kali muncul dari eksplorasi atau penjelajahan individu terhadap sesuatu d. Pengembangan kreativitas melalui eksperimen segala macam fenomena

alam dan berbagai hal permasalahan kehidupan mengundang berbagai tantangan yang mendorong anak-anak untuk melakukan suatu percobaan atas segala keingintahuan

e. Pengembangan kreatifitas melalui proyek, metode proyek ini merupakan metode pembelajaran yang dilakukan anak untuk melakukan pendalaman tentang satu topik pembelajaran yang diminati satu atau beberapa anak (Katz 1991)

f. Pengembangan kreativitas melalui musik-musik merupakan sesuatu yang nyata dan senantiasa hadir dalam kehidupan manusia

(9)

Yusuf (2001) menyatakan bahwa bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan suatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat bilangan, lukisan dan mimik muka. Sedangkan Smilansky dalam Beauty (1994) menemukan tiga fungsi utama bahasa pada anak-anak yaitu :

1. Meniru ucapan orang dewasa

2. Membayangkan situasi (terutama dialog) 3. Mengatur permainan

Tiga fungsi kegiatan berbahasa ini dapat dilakukan di Taman Kanak-Kanak melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali kisah yang telah didengarkan, berbagi pengalaman, sosiodrama ataupun mengarang cerita dan puisi. Dengan kegiatan tersebut diharapkan kreativitas dan kemampuan bahasa anak dapat terkembangkan lebih optimal.

Menurut Mustakim (2005 : 121 – 170) untuk mengetahui peranan cerita dalam mengembangkan kreativitas anak terlebih dahulu kita akan mengetahui peranan cerita dalam pembentukan perkembangan anak. Tujuan dari kegiatan penceritaan atau reproduktif cerita untuk memperoleh berbagai manfaat perkembangan anak dari yang ditimbulkan oleh bentuk dan isi cerita. Tujuan yang diharapkan dari kegiatan ini adalah :

1. Perkembangan Bahasa Anak

Pada dasarnya berbahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Ada dua hal yang harus diperhatikan untuk menetapkan anak mampu dan terampil berbahasa dan berkomunikasi. Pertama, anak harus mengucapkan kata-kata, sehingga segera dimengerti oleh orang lain. Kedua, anak-anak harus memahami arti kata-kata yang diucapkannya dalam menghubungkan dengan obyek-obyek yang diwakilinya. Bilamana kedua kemampuan dan ketrampilan ini dikuasai, maka berarti anakpun menguasai penyampaian hasil pikiran, perasaan atau kehendak anak. Setelah dipahami perkembangan anak usia TK maka diungkapkan bagaimana aplikasi penggunaan bahasa cerita terhadap perkembangan bahasa anak.

(10)

2. Perkembangan Kognitif Anak

Tahapan ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu : 1. Tahap berfikir anak teroganisasi

2. Tahap berfikir kompleks 3. Tahap berfikir konseptual

Apabila anak mulai berfikir egosentris dan beralih ke berfikir obyektif. Ciri berfikirnya mewujudkan kompleksitas antara berfikir pada tingkat kongkrit ke abstrak, simbol dan logik. Dihubungkan dengan pembelajaran bercerita maka bahan cerita yang cocok untuk kegiatan bercerita adalah cerita yang bersifat fantasi seperti horor, cerita yang berkait dengan science, cerita binatang dan cerita petualangan. Berdasarkan pada pengalaman setiap tingkat atau level, individu dipersiapkan untuk mendengarkan lingkungan pengalaman yang berbeda dan kebudayaan berbeda akan membentuk cara alami anak meningkatkan proses kognitif.

3. Perkembangan Emosional Anak

Perkembangan emosi anak mengalami kebahagiaan dan kesusahan, kebahagiaan artinya emosional anak berkembang secara positif menuju kebahagiaan, sedangkan kesusahan berkembang secara negatif. Pada masa bunyi ungkapan emosi berbentuk melalui prabicara, yaitu ungkapan melalui gerak tangan, badan dengan suara gelak tawa dan ungkapan melalui ekspresi wajah.

4. Perkembangan Moral Anak

Perkembangan moral biasanya dianggap sebagai proses sosialisasi dimana orang dewasa mengajari anak-anak memahami apa-apa yang benar dan apa-apa yang salah. Perkembangan kognitif anak bertanggung jawab atas perubahan perkembangan pikiran moral

5. Perkembangan Estetika Anak

Prinsip dasar estetika adalah keindahan sebagai pernyataan perasaan dan pikiran. Dalam seni berceritapun yang dinilai adalah aspek kemampuan orang mengkomunikasikan apa yang bicarakan berupa tema, lafal, kata yang tepat dan wajar, intonasi kata atau kalimat, ekspresi atau penghayatan dan penampilan.

(11)

6. Perkembangan Sosial Anak

Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntunan sosial. Kemampuan perperilaku sosial atau bermasyarakat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan sosial.

Ternyata apa yang paparkan dalam penemuan penelitian, dalam mengembangkan kreativitas anak di TK bercerita memegang peranan penting, karena :

1. Bercerita merupakan suatu metode yang dilakukan guru untuk mengembangkan kreativitas anak

2. Metode bercerita adalah metode yang tidak terlalu banyak menggunakan biaya dalam penyampaiannya namun dapat langsung mengena kepada sasaran

3. Metode bercerita mampu memberikan masukan pada perkembangan bahasa anak, perkembangan kognitif anak, perkembangan emosional anak, perkembangan moral anak, perkembangan estetika anak dan perkembangan sosial anak

4. Bercerita mampu mengembangkan kreativitas anak dalam era globalisasi ini, kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan pemikiran yang kreatif berupa ide-ide baru atau penemuan-penemuan baru. Untuk mencapai hal ini, sikap, pemikiran dan perilaku yang kreatif perlu dipupuk sejak usia TK.

2.5 Prosedur Pembelajaran

Pada Garis-Garis Besar Program Kegiatan belajar Taman Kanak-Kanak (GBPKB-TK) dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah, dengan program kegiatan belajar (Hidayat, 2003 : 21 dalam Bachri 2005 : 9)

a. Program Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di TK dalam rangka pembentukan perilaku melalui pembiasaan yang terwujud dalam kegiatan sehari-hari yang meliputi pengembangan agama, moral pancasila, disiplin, perasaan emosi dan kemampuan bermasyarakat.

(12)

b. Program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan pendidikan agama, berbahasa, daya pikir, daya cipta, ketrampilan dan jasmani (GBPKB TK, 1994 : 2)

Pendidikan di Taman Kanak-Kanak dikembangkan dengan berdasar pada teori-teori pembelajaran yang menggunakan prosedur dan strategi ilmiah untuk belajar, diantaranya adalah dengan menggunakan metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang dapat diterapkan di Taman Kanak-Kanak adalah metode yang sesuai untuk belajar anak usia dini. Dengan demikian tidak semua metode pembelajaran yang berhasil diidentifikasi dan dikembangkan oleh para ahli pembelajaran dapat dipergunakan di Taman Kanak-Kanak. ( Bachri 2005 : 9)

Menurut Hidayat (2003 : 21 dalam Bachri 2005 : 9) metode pembelajaran ini adalah sebagai berikut :

a. Metode Bercerita k. Metode Menyanyi

b. Metode Bercakap-cakap l. Metode Skolastik/Kinestesi c. Metode Berdiskusi m. Metode Bermain

d. Metode Tanya Jawab n. Metode Wisata Bermain

e. Metode Mengucapkan Syair o. Metode Proyek/Kerja Kelompok f. Metode Dramatisasi p. Metode Gerak dan Lagu

g. Metode Pemberian Tugas q. Metode Senam h. Metode Praktek Langsung r. Metode Menari

i. Metode Demonstrasi/Eksperimen s. Metode Permainan Musik j. Metode Pantonim t. Metode Atraktif

(13)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah diskriptif kwalitatif

3.2 Populasi/Responden

Penelitian ini dilakukan di kelompok B3 TK ABA I Rambipuji. TK ABA I Rambipuji merupakan salah satu TK favorit di Kecamatan Rambipuji, TK ini adalah amal usaha Aisyiyah Cabang Rambipuji yang merupakan kesatuan istri-istri Muhammadiyah, yang berdiri sekitar 33 tahun yang lalu dan dikelola oleh Majlis Dikdasmen Cabang Rambipuji.

3.3 Metode Penggumpulan Data

Untuk memperoleh data dalam penyusunan tugas akhir ini digunakan tehnik pengumpulan data yaitu :

1. Observasi

Tehnik ini dilakukan oleh penulis dengan cara pengamatan langsung dan pencatatan secara sistematis

2. Wawancara

Merupakan tehnik kedua yang dilakukan oleh penulis kepada guru-guru yang ada di TK ABA I Rambipuji. Wawancara adalah tehnik yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden untuk memperoleh dan mendapatkan data dari responden yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

(14)

3.4 Metode Analisis Data

3.4.1 Data Hasil Observasi

Berdasarkan data yang diperoleh melalui metode observasi terhadap 27 anak didik di kelompok B3 TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Rambipuji kemudian dimasukkan dalam 17 aspek (ada pada lampiran 1) kreativitas anak yang dikategorikan baik atau kurang. 3.4.2 Data Hasil Wawancara

Adapun wawancara dilakukan pada masing-masing Staf pengajar dengan 4 aspek (ada pada lampiran 2) yang dikategorikan ya atau tidak.

(15)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tentang TK ABA I Rambipuji

4.1.1 Gambaran Umum Tentang Staf Pengajar TK ABA I Rambipuji. Tabel Staf Pengajar TK ABA I Rambipuji

No Nama Guru Tempat Lahir Ijzah Terakhir Pangkat Jabatan Bekerja di TK sejak Mengajar Ket A B 1 Lathifah Hanum, MM Bangil, 03-08-1946 DII 1996 Kep TK 01-06-1984 - - 2 Dewi Sukarningsih Jember, 25-10-1957 SMP 1973 Guru 17-07-1989  3 Yuliana Jember, 18-08-1968 SPGTK 1988 Guru 17-07-1988  4 Novita Jember, 05-01-1980 DII PGTK 2005 Guru 17-07-2003  5 Dina Rahmawati Jember, 12-05-1984 SMK 2003 Guru 24-07-2004  6 Ida Winarni Jember, SMK

2006 Guru 01-03-2007  7 Nurul Aini Jember,

13-04-1986

SMA

2005 Guru 01-05-2007 

Ibu Hanum selaku Kepala TK ABA I Rambipuji, beliau mengabdi di TK ABA I Rambipuji hampir 21 tahun. Latar belakang pendidikannya DII Tarbiyah di STAIN lulus pada tahun 1996. Sebelum mengajar di TK ABA I Rambipuji, beliau pernah mengajar SD, SMP dan SMA Swasta di Dorowati, Surabaya. Pada tahun 1974 beliau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mengajar di SD 4 Kencong (tahun 1981). Tahun 1982 Ibu Lathifah Hanum pindah ke Jember dan mengajar di MI Miftahul Ulum. Tahun 1984 beliau mulai mengajar di TK, waktu itu belum menjadi Kepala TK dan muridnya waktu itu adalah 33 siswa. Setelah menjabat menjadi Kepala Sekolah hingga sekarang, beliau berusaha terus menerus agar sekolah TK ABA I Rambipuji menjadi TK yang maju dan terbaik. Terbukti dengan jumlah siswa yang awalnya hanya 33 siswa, dari tahun ke tahun bertambah terus, hingga sekarang mencapai 180

(16)

siswa yang sekolah di TK ABA I Rambipuji. Di TK ABA I Rambipuji menjadi TK yang diminati banyak orang karena hasil perjuangan Ibu Hanum.

Ibu Dewi Sukarningsih selaku Guru di TK ABA I Rambipuji, termasuk guru senior dan tertua dari guru yang lainnya. Latar belakang pendidikannya hanya lulusan SMP, yang lulus pada tahun 1973. Ibu Dewi sebelumnya sudah berpengalaman mengajar di TK, sebelum mengajar di TK ABA I Rambipuji, yaitu mengajar di TK Banyuwangi. Dengan pindahnya ke Jember dan dengan pengalaman yang dimiliki, yaitu mengajar di TK Banyuwangi, Ibu Dewi mencoba ikut tes untuk menjadi guru di TK ABA I Rambipuji dan akhirnya diterima pada tahun 1989, dan beliau mulai mengajar pada tahun itu juga.

Ibu Novita yang akrab di sapa Bu Novi pada saat pertama mengajar di TK ABA I Rambipuji beliau masih dalam pendidikan DII PGTK di Universitas Muhammadiyah Jember, karena ijazah terakhir beliau SMA. Setelah tamat dari DII PGTK pada tahun 2005 beliau eksis di TK ABA I Rambipuji.

Ibu Dina Rahmawati, selaku guru di TK ABA I Rambipuji, memiliki latar belakang yang hanya lulusan SMK. Karena ada dorongan dari orang tua dan mempunyai motivasi yaitu senang terhadap anak kecil akhirnya menjadi guru TK di TK ABA I Rambipuji pada tanggal 24 Juli 2004. Dan sekarang masih menempuh DII PGTK di UNMUH Jember.

Ibu Ida mempunyai latar belakang pendidikan SMK 2006 namun karena keinginan yang kuat beliau mengikuti tes untuk menjadi guru di TK ABA I Rambipuji dan berhasil menjadi staf pengajar di TK ABA I Rambipuji.

Ibu Nurul Aini beliau mempunyai latar belakang pendidikan SMA namun pada saat ia mengikuti tes mengajar di TK ABA I Rambipuji beliau masih menempuh DII PGTK di UNMUH Jember.

(17)

4.1.2 Gambaran Geografis TK ABA I Rambipuji 4.1.2.1 Letak Geografis TK ABA I Rambipuji

Penelitian di TK ABA I Rambipuji yang beralamat di Jl. Gajah Mada No. 27 Rambipuji di sebelah barat Kantor Kapolsek Rambipuji dan di sebelah Timur Lapangan (Alun-alun) Rambipuji. Karena letaknya strategis berada di pinggir jalan yang setiap waktu dilalui angkutan umum, maka untuk dapat sampai letak TK ABA I Rambipuji orang tidak akan sulit. Adapun disebelah kanan dan kiri TK ABA I Rambipuji adalah rumah penduduk yang padat, bahkan halaman sekolahpun jadi satu dengan halaman rumah penduduk.

4.1.2.2 Jarak TK ABA I Rambipuji dengan Kota Kecamatan Jarak antara TK ABA I Rambipuji dengan kota Kecamatan tidaklah jauh, kurang lebih 500 m berada di sebelah Timur Lapangan (Alun-alun) Rambipuji dan juga letak TK ABA I Rambipuji berada di daerah pusat Kecamatan dan Sentral pembelajaran Kecamatan Rambipuji. Jadi dapat dikatakan bahwa TK ABA I berada di tengah pusat kota Kecamatan Rambipuji.

4.1.2.3 Peta Lokasi TK ABA I Rambipuji

TK ABA I Rambipuji POLSEK Rambipuji Stasiun Rambipuji K e Sur ab aya S U T B

(18)

4.1.3 Gambaran Siswa TK ABA I Rambipuji

TK ABA I Rambipuji pada tahun ajaran 2006 – 2007 mempunyai siswa yang berjumlah 150 siswa yang terdiri dari kelompok A berjumlah 69 siswa yaitu A1, A2, A3 (L = 30, P = 39) sedangkan kelompok B berjumlah 81 siswa yaitu B1, B2, B3 (L = 35, P = 46). Dalam penelitian responden yang diteliti sebanyak 27 siswa dari kelompok B3 yang terdiri dari L = 13, P = 14.

4.2 Hasil Wawancara dengan Staf Pengajar TK ABA I Rambipuji

Hasil wawancara penulis dengan 6 Staf Pengajar TK ABA I Rambipuji jika dilihat dari segi usia antara 20 – 50 tahun, sedangkan latar belakang pendidikan mereka berbeda, Lathifah Hanum, MM dari DII Tarbiyah tahun 1996, Dewi S dari SMP lulus tahun 1973, Novita dari DII PGTK tahun 2005, Dina R dari SMK tahun 2003, Ida dari SMK tahun 2006 dan Nurul Aini dari SMA tahun 2005. Lama mereka mengabdi karena tertarik pada dunia anak-anak, namun berbicara tentang dunia anak-anak tidaklah mudah mendidik anak usia Taman Kanak-Kanak. Selain kesabaran dibutuhkan ketelatenan dalam mendidik anak usia Taman Kanak-Kanak, guru juga diharapkan mempunyai bekal pengetahuan yang cukup sehingga bermanfaat bagi anak didiknya. Dengan mengetahui latar belakang pendidikan yang berbeda dari guru-guru TK ABA I Rambipuji, dapat kita lihat bagaimana mereka mengembangkan kreativitas anak didiknya di TK ABA I Rambipuji. Dimana TK tersebut termasuk TK Favorit yang ada di Kecamatan Rambipuji dan juga TK tersebut letaknya sangat strategis karena terletak berhadapan dengan jalan raya dan mudah dijangkau dengan alat transportasi umum maupun pribadi. Dengan kata lain TK ABA I Rambipuji mudah dijangkau.

Hasil wawancara dengan Ibu Lathifah Hanum, MM selaku Kepala TK ABA I Rambipuji (Juni 2007), yaitu : “Mengembangkan kreativitas anak melalui bercerita tergantung pada apa yang diceritakan dan yang menceritakan, bagaimana gerakannya, bagaimana aktingnya ketika bercerita

(19)

sebab dengan demikian anak akan terfokus pada gerakan yang membawakan cerita dan anak dapat meniru”. Disinilah kreativitas anak dapat muncul dan kreativitas itu bisa muncul dari diri anak dengan cara sejauh mana anak memahami, mengerti apa isi cerita dan gerakan-gerakan yang merupakan stimulus dari cerita tersebut.

Hasil wawancara dengan Ibu Dewi yang sudah mengabdi selama 17 tahun di TK ABA I Rambipuji.

Pada umumnya anak-anak menyukai boneka, karena boneka itu bermacam-macam bentuknya. Ada yang lucu, menyerupai binatang kesukaan anak-anak, ternyata setelah ditanya pada umumnya mereka banyak yang menyukai boneka panda dan hampir semuanya mempunyai boneka panda tersebut di rumahnya, maka dari itu saya mengambil tema boneka panda sebagai judul cerita bagi anak-anak.

Sebelum guru memberikan tugas, terlebih dahulu guru menceritakan kondisi panda itu sendiri bahwa panda itu warnanya bagus putih dan hitam-putih. Kelihatan bersih sekali sehingga anak-anak ingin memegangnya. Selain itu badannya juga lucu, gemuk, berbulu halus, ekornya mungil dan kalo berjalan suka berdiri. Panda juga merupakan hewan yang bersahabat, panda suka bermain dengan sesamanya sehingga dapat membuat perasaan manusia senang karena gaya panda memang lucu.

Dengan cerita yang pendek tersebut, guru memberikan tugas untuk merangsang anak dalam menggambar binatang panda sesuai dengan kemampuan anak-masing-masing.

Ternyata setelah guru melihat hasil dari gambaran anak-anak, hampir semuanya mampu menggambar sesuai dengan cerita yang telah guru ceritakan sesuai dengan kemampuan anak masing-masing. Padahal sebelumnya guru memberikan tugas menggambar tanpa cerita, banyak diantara anak-anak tidak bisa menggambar dengan baik.

Dari cerita diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan bercerita anak-anak bisa berkreatifitas sesuai dengan apa yang dibayangkan. Dengan cerita, kemampuan anak dalam membayangkan sesuatu bisa meningkat,

(20)

sehingga hasil gambarannya menjadi lebih bagus. Dengan hasil gambaran yang lebih bagus tersebut dapat menjadikan anak lebih senang dalam menggambar apa yang dia lihat disekitarnya.

Menurut Ibu Novita dengan latar belakang pendidikan DII PGTK atau dalam artian mempunyai bekal kependidikan, hasil wawancaranya adalah :

Menurut pendapat saya kegiatan bercerita memberikan pengalaman belajar untuk berlatih mendengarkan. Melalui mendengarkan anak memperoleh bermacam informasi tentang pengetahuan nilai dan sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memberi pengalaman belajar dengan menggunakan kegiatan bercerita memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif masing-masing anak. Bila anak terlatih untuk mendengarkan dengan baik maka ia akan terlatih untuk menjadi pendengar yang kreatif dan kritis. Pendengar yang kreatif mampu melakukan pemikiran-pemikiran baru berdasarkan apa yang didengarkannya. Pendengar yang kritis mampu menemukan ketidaksesuaian antara apa yang didengar dengan apa yang dipahami. Bila menurut anggapannya yang didengar itu salah, maka ia berani menyatakan adanya kesalahan tersebut. Keberanian menyatakan pendapat yang berbeda, misalnya dalam pernyataan :” Saya kalau dirumah tidak begitu bu guru” atau dalam pernyataan : “ Saya kalau mengerjakan begini bu guru.”

Dan dalam kegiatan bercerita anak dibimbing mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita guru yang bertujuan untuk memberikan informasi (sebagaimana telah dijelaskan diatas) atau menanamkan nilai-nilai sosial, moral dan keagamaan. Nilai-nilai sosial yang dapat ditanamkan ke anak yakni bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam hidup bersama dengan orang lain. Nilai-nilai moral yang dapat ditanamkan yakni bagaimana seharusnya sikap moral seseorang yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai keagamaan yang dapat ditanamkan yakni bagaimana kewajiban kita sebagai seorang muslim (Taat kepada Alllah dan Ajaran Islam)

(21)

Berdasarkan definisi diatas, maka saya menyimpulkan bahwa kegiatan bercerita dapat mengembangkan kemampuan dasar untuk mengembangkan daya cipta dalam pengertian membuat anak kreatif yaitu lancar dalam bertutur kata dan berfikir. Dan pengembangan kemampuan dasar dalam pengembangan bahasa atas anak mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya.

Menurut Ibu Dina hasil wawancara adalah sebagai berikut :

Menurut pendapat saya peranan bercerita sangat penting dan membantu dalam mengembangkan kreativitas anak, karena bercerita merupakan suatu metode dalam pembelajaran di Taman Kanak-Kanak. Bercerita merupakan suatu cara untuk menggali bakat anak dalam berbahasa, berkomunikasi, bertanya serta menanamkan nilai budaya, sosial dan agama. Peranan bercerita dapat merangsang anak untuk konsentrasi/memusatkan perhatian serta membangun motivasi anak, sehingga anak tidak akan pernah takut kepada guru dalam menyampaikan suatu ide-idenya. Peranan bercerita juga dapat berbentuk kasih sayang, pujian kepada anak didik, agar anak bisa lebih kreatif dan dapat memunculkan rasa percaya diri kepada anak.

Menurut saya mengembangkan kreativitas anak melalui metode bercerita diharapkan anak bisa berkualitas, mandiri dan bertanggung jawab, serta cara penyampaian yang menyenangkan dan unik dimata anak, sehingga peranan bercerita merupakan suatu metode pembelajaran yang dapat membentuk anak yang kreatif, unik, inovatif dan aktif. Selain peranan bercerita seorang guru yang kreatif akan membentuk jiwa anak yang kreatif.

Menurut Ibu Ida yang mempunyai latar belakang pendidikan SMK hasil wawancaranya adalah :

Cerita merupakan suatu alat untuk berkomunikasi dengan anak. Dengan bercerita komunikasi akan lebih mengena dengan artian komunikasi itu terasa komplek sehingga anak akan lebih mudah menerima apa yang akan disampaikan di dalam cerita dengan kata lain cerita adalah komunikasi yang paling anak sukai di dalam menyampaikan sesuatu kepada anak sehingga anak dapat berkembang pemikirannya (kreatif) setelah dia mendengarkan cerita tersebut.

(22)

Menurut Ibu Nurul Aini

Bercerita memang dapat mengembangkan kreativitas anak, karena kegiatan bercerita memberikan pengalaman belajar yang unik dan menarik. Bercerita memungkinkan mengembangkan dimensi perasaan anak TK. Dengan bercerita pula anak akan lebih berimajinatif sehingga menghasilkan suatu kreatifitas yang tinggi. Contohnya : guru menyampaikan cerita bertema kehidupan di desa dan anak disuruh menggambar apa saja yang ada dicerita. Namun untuk menumbuhkan imajinasi dan membangkitkan semangat pada nak yang bertujuan untuk menghasilkan suatu kreativitas, semua tergantung pada cara guru saat menyampakan cerita. Dalam bercerita, guru tidak hanya dituntut untuk kreatif tapi juga harus berimajinasi, sehingga anak akan menghasilkan karya yang lebih kreatif dan lain dari pada orang lain.

4.2.1 Hasil Observasi Anak

Dari responden B3 yang teridiri dari 27 anak dalam kegiatan belajar mengajar bisa dikatakan cukup baik, namun dalam mengembangkan kreativitas guru telah melakukan kegiatan atau usaha untuk meningkatkan kreativitas pada anak, namun hasil yang didapat belum begitu memuaskan. Ada sekitar 40 % dari jumlah siswa yang mempunyai kreativitas yang dapat dikatakan baik namun yang 60 % adalah masih kurang memenuhi persyaratan anak yang kreatif. Daftar nama anak (lampiran 3)

Dalam menangani anak yang kurang kreatif ini guru memberikan metode bercerita. Dalam menyampaikan metode bercerita ini guru berharap akan memberikan rangsangan dan memberikan dorongan untuk manambah kreativitas anak. Cerita-cerita yang disampaikan adalah Cerita-cerita-Cerita-cerita yang menarik pada anak. Hasil yang diperoleh ada pada lembar observasi.

Cerita pertama “Anak Pemalas” yang pada akhir cerita si anak pulang paling akhir karena tidak bisa menjawab pertanyaan guru. Pada cerita ini guru belum melihat pengaruh cerita pada kreativitas anak. (lampiran 4)

Cerita kedua “Budi Anak Pintar” sehingga mendapat bintang dari guru. Pada cerita ini guru melihat adanya perubahan pada anak yang kurang kreatif. (lampiran 5)

(23)

Cerita ketiga “Kerja Kelompok Menyusun Menara” pada cerita ini anak mulai menunjukkan bahwa ia mulai punya kreatif. Guru memberi tugas pada anak untuk mengembangkan kreativitasnya melalui menyusun balok berbentuk menara. (lampiran 6)

Cerita ke empat “Anton Anak yang Kreatif” pada cerita ini anak mulai terpacu untuk berkreativitas. (lampiran 7)

Dari cerita-cerita di atas anak mulai terangsang untuk mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan minat masing-masing anak.

4.3 Pembahasan

Masa anak-anak adalah masa mengembangkan kreatifitas, namun kreatifitas itu tidak datang dengan sendirinya, namun perlu dikembangkan. Anak perlu dilatih dalam ketrampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka. Pendidik perlu menciptakan iklim yang merangsang pemikiran dan ketrampilan kreatif anak.

Serta menyediakan sarana prasarana. Tetapi ini tidak cukup. Disamping perhatian, dorongan dan pelatihan dari lingkungan, perlu ada motivasi intrinsik pada anak. Minat anak untuk melahirkan sesuatu harus tumbuh dari dalam diri sendiri, atas keinginan sendiri, artinya seorang guru harus memberi kebebasan kepada anak.

Menjadi seorang guru TK bukanlah pekerjaan yang mudah. Guru berkewajiban menciptakan suasana sekolah yang sebaik-baiknya, yang menunjang proses belajar mengajar oleh karena itu guru harus aktif mengusahakan suasana yang baik itu dengan berbagai cara, baik dengan menggunakan metode mengajar yang sesuai, maupun dengan penyediaan alat peraga yang cukup serta pengaturan organisasi kelas yang mantap.

Khususnya guru TK, menciptakan suasana sekolah yang menarik merupakan kewajiban yang tidak dapat dihindari, karena usia TK adalah “Bermain sambil Belajar”. Guru TK di tuntut untuk mampu menciptakan suasana sekolah yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa bosan

(24)

dikelas, sehingga dapat mempermudah seorang guru dalam memberikan pengetahuan tanpa harus ada paksaan kepada si anak tersebut. Apabila unsur paksaan tersebut lebih dominan, maka hal ini, baik secara langsung maupun tidak langsung akan menghambat proses kreativitas pada anak.

Dari TK yang telah penulis observasi tersebut, terdapat 7 orang guru, dengan usia antara 20 – 50 tahun, sedangkan pengalaman mereka sebagai guru boleh dikatakan tidak sebentar, karena pengabdian mereka dibidang pendidikan khususnya guru Taman Kanak-Kanak antara 1 – 20 tahun. Dan dengan latar belakang yang dimiliki oleh mereka, bisa dijadikan bekal bagi mereka untuk mendidik anak.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing guru tersebut, ternyata dalam hal mendidik dan mengembangkan anak didiknya untuk berkreatif tidak jauh berbeda. Mereka mengatakan, bahwa dalam mengembangkan kreativitas anak metode bercerita adalah cukup efisien dalam membatu perkembangan kreativitas anak.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala TK ABA I Rambipuji, bercerita adalah suatu cara mengembangkan kreativitas anak dimana pelaksanaannya bergantung pada isi cerita yang disampaikan dan tergantung pada guru yang menyampaikan cerita, baik gerakan, mimik dan aktingnya waktu bercerita.

Dengan latar belakang kependidikan yang dimiliki oleh masing-masing guru tersebut dalam mengembangkan kreativitas anak metode yang mereka lakukan atau mereka pilih tidak jauh berbeda yaitu mereka memiliki metode bercerita untuk merangsang pengembangan kreativitas anak didiknya. Menurut salah seorang guru TK yang mempunyai latar belakang pendidikan D-2 PGTK yang menyatakan bahwa melalui bercerita anak akan dapat berlatih pendengaran dan akan memperoleh bermacam informasi pengetahuan nilai dan sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu bercerita juga dapat menanamkan nilai-nilai sosial, moral dan keagamaan serta dapat mengembangkan kemampuan dasar dalam mengembangkan bahasa dan ini akan memupuk anak untuk lebih kreatif setelah ia menyerap apa yang disampaikan melalui bercerita.

(25)

Apabila dilihat dari latar belakang pendidikan yang bervariasi (berbeda) dari para guru tersebut ternyata cara mengembangkan kreativitas tidak jauh beda, karena mereka mempunyai motivasi yang sama terhadap anak-anak yaitu sama-sama ingin mengembangkan kreativitas anak. Dengan motivasi yang bisa dikatakan sama tersebut, guru yang memiliki latar belakang SMA maupun SMK yang masa pengabdiannya masih belum lama dibandingkan dengan guru yang memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi dan mempunyai bekal ilmu pengetahuan bahkan pengalaman terhadap dunia anak, terus mencoba berusaha mengembangkan kreativitas anak melalui bercerita.

Menjadi seorang guru, khususnya guru TK, tidaklah mudah seperti yang selalu kita bayangkan. Selain pada akhirnya dituntut anak didiknya harus bisa membaca dan menulis, guru juga dituntut untuk mengembangkan kreativitas anak secara optimal dan ini dilakukan dengan beberapa metode yaitu satu diataranya dengan metode bercerita.

(26)

BAB V PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Pada dasarnya menjadi seorang guru membutuhkan suatu keahlian khususnya guru Taman Kanak-Kanak, karena usia TK adalah usia yang rawan dimana anak didik mudah meniru apa saja yang dilihatnya. Dan yang paling penting adalah usia TK adalah usia dimana kita harus dapat menanamkan dan mengembangkan kreativitas pada anak didik kita. Bagaimanakah strategi guru dalam mengembangkan kreativitas anak melalui bercerita.

Menjadi guru di Taman Kanak-Kanak hendaknya selain mempunyai bekal pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan seorang guru dalam menghadapi anak didiknya perlu memahami metode yang cocok untuk meningkatkan atau mengembangkan kreatifitas anak didiknya.

Guru Taman Kanak-Kanak harus mampu menciptakan suasana menyenangkan disekolah, karena anak masih sulit untuk mampu memusatkan perhatian. Jadi merupakan tugas guru untuk mampu membuat anak tertarik dan tidak bosan ketika berada dilingkungan sekolah.

Dengan proses kreatif yang ada pada diri anak, disitulah peranan guru sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas anak didiknya. Juga dengan metode-metode yang dimiliki atau dikuasai oleh guru dengan metode bercerita misalnya guru berusaha mengembangkan kreativitas anak didiknya agar menjadi manusia yang mandiri dan kreatif.

Metode bercerita yang dapat memberikan pemahaman dan kebebasan untuk berfikir dapat memungkinkan merangsang kreativitas anak didik untuk mencapai prestasi.

Mengembangkan kreativitas sejak dini dalam diri anak dapat bermakna memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya yang kelak akan bermanfaat bagi dirinya dan memberikan kepuasan kepada individu.

Guru didalam memilih metode bercerita diharapkan dapat mengembangkan kreativitas anak didiknya.

(27)

Dengan bekal pendidikan yang dimiliki oleh guru-guru TK ABA I Rambipuji dalam mendidik dan membimbing anak didiknya memilih metode yang tidak jauh beda dan ternyata semua guru TK yang ada di TK ABA I Rambipuji sama-sama memilih metode bercerita dalam mengembangkan kreativitas anak didiknya.

5.2 SARAN

Menjadi seorang guru Taman Kanak-Kanak bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena mereka harus mampu mendidik anak sesuai dengan perkembangannya. Oleh sebab itu hendaknya menjadi guru Taman Kanak-Kanak khususnya yang ada di TK ABA I Rambipuji tidak pernah berhenti untuk menambah pengetahuan mereka tentang dunia anak yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan TK.

Guru TK dapat memilih metode-metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi baik anak maupun sekolah untuk meningkatkan kreativitas anak

Diharapkan kepada semua guru TK ABA I Rambipuji agar dapatnya menguasai metode-metode pembelajaran yang ada agar dapat memiliki metode mana yang paling obyektif dalam menghadapi anak didiknya.

Kepada Kepala TK ABA I Rambipuji agar meningkatkan upaya (motivasi dan dorongan) yang dilakukan guru dalam mengembangkan kreativitas anak didiknya, karena kreativitas sangat bermakna dan berguna bagi anak tersebut.

(28)

DAFTAR RUJUKAN

Mustakim NM. 2005. Peranan Cerita dalam Pembentukan Perkembangan Anak

TK. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal

Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Rachmawati Y, Kurniati E. 2005. Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak

Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional,

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Bachri SB. 2005. Pengembangan Kegiatan Bercerita di Taman Kanak-Kanak,

Teknik dan Prosedurnya, Jakarta. Departeman Pendidikan Nasional,

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Penguruan Tinggi

(29)

Lampiran 1

Aspek Kreativitas anak yang diobservasi

No Aspek yang diobservasi Baik Kurang

1 Terbuka terhadap pengalaman baru 2 Fleksibel dalam berfikir dan merespon

3 Bebas dalam menyatakan pendapat dan merespon 4 Menghargai fantasi

5 Tertarik pada kegiatan kreatif

6 Mempunyai pendapat sendiri dan tidak terpengaruh pada orang lain

7 Mempunyai rasa ingin tahu yang besar

8 Toleran terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti

9 Berani mengambil resiko yang diperhitungkan 10 Percaya diri dan mandiri

11 Mempunyai tanggung jawab dan komitmen kepada tugas

12 Tekun dan tidak mudah bosan

13 Tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah 14 Kaya akan inisiatif

15 Peka terhadap situasi lingkungan

16 Lebih berorientasi kemasa kini dan masa depan dari pada masa lalu

(30)

Lampiran 2

Aspek mengembangkan Kreativitas yang dilakukan guru

No Aspek yang ditanyakan Ya Tidak

1 Memberikan rangsangan mental pada aspek kognitif dan kepribadian

2 Menciptakan lingkungan yang kondusif

3 Guru yang memberikan stimulasi dan kreativitas guru 4 Mengikutsertakan orang tua dalam mengembangkan

(31)

Lampiran 3

DAFTAR KELOMPOK B3 TK. ABA I RAMBIPUJI

NO NAMA JENIS KELAMIN KETERANGAN

P L 1 Aditya Dion L P = 14 2 Aditya Wahyu L L = 13 3 M. Andre L 4 Eovrija Luluk P 5 Desi P 6 Salsa Bila P 7 Febrianti P 8 Linda P 9 Dika Humairoh P 10 Wendi P 11 Aulia Intan P 12 Imro’atul P 13 Reza P 14 Niken P 15 Tania P 16 Noval Hayyu L 17 Wulandari P 18 Sauqi L 19 Hari Riski L 20 M. Ilzam L 21 Henrico L 22 Hasbi L 23 Ugra L 24 M. Roy L 25 M. Danil L 26 Fateh Jenata L 27 Qotrun Nada P

(32)

Lampiran 4

LEMBAR OBSERVASI TANGGAL 4 JUNI 2007 Mengembangkan kreativitas melalui cerita “Anak Malas”

Tujuan : Meningkatkan Keaktivan Anak

Hasil : Perubahan Tingkah Laku dari Malas menjadi Rajin

NO NAMA

Aspek Kreativitas Anak (Item Pada Lampiran Observasi)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 B / K 1 Aditya Dion B K K K B K B K B K K B B B K K B 2 Aditya Wahyu K B B K B B K K B K B K K B B K K 3 M. Andre B B B K K K K K B K K K B B B B K 4 Eovrija Luluk B B K B B K B K B K B K B K K K K 5 Desi K K B B B K K K K K K B K K B B B 6 Salsa Bila K B K B K K B K B K K B K B K K K 7 Febrianti K K B B K K B B K K B B K B B K B 8 Linda K K K K K B B B K K K B B B K B K 9 Dika Humairoh B B B K K K B B K B K B K K K K K 10 Wendi K K K K K B B B K B K B B B K K K 11 Aulia Intan K K K B B B K K K K B B B B K K K 12 Imro’atul B B B B B B K K K K K K K B K K K 13 Reza K K K K K B B B B K K B B B K K K 14 Niken B B B B B K K K B K K B K K K K K 15 Tania K K K K B B B B B K K K K B B K K 16 Noval Hayyu K B B K K B K B K K B B K K K B B 17 Wulandari B B K K B B K K B B K K B B B K K 18 Sauqi K K B B K K B B K K B B K K K B B 19 Hari Riski B B B B B B B K K K K K K K B B K 20 M. Ilzam B B B K K K K K B B K K K B B K K 21 Henrico B B K K B B K K B B K K K B B K K 22 Hasbi B K B K B K B K B K B K B K B B K 23 Ugra B B K B K K B B K B B K K K B K K 24 M. Roy K K B B K K B B K K B B K K B B K 25 M. Danil B B B B K K K K B B K K B B K K B 26 Fateh Jenata K K K K B B B K K K B B B K K K B 27 Qotrun Nada B K B K B K B K B K B K B K K B K Keterangan : B = Baik K = Kurang B = 40 % K = 60 %

(33)

Lampiran 5

LEMBAR OBSERVASI TANGGAL 11 JUNI 2007 Mengembangkan kreativitas melalui cerita “Budi Anak Pintar” Tujuan : Meningkatkan Kreativitas Anak

Hasil : Perubahan pada Anak yang Kurang Kreatif

NO NAMA

Aspek Kreativitas Anak (Item Pada Lampiran Observasi)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 B / K 1 Aditya Dion B K B K K B K B K B K B K B K B B 2 Aditya Wahyu B K B K B B K B K B K B B K K K K 3 M. Andre K K K B B K B B K B K B B B K K K 4 Eovrija Luluk B B K B B K K B B K B B B K K K K 5 Desi K K B B B K K B B K B K K B B K K 6 Salsa Bila B K B K K B K B K K B K B K B K B 7 Febrianti K B K B K K B K B K B K B K B B B 8 Linda K B K B K K B K B K B K B B K B B 9 Dika Humairoh B K B K K B K B K B K B K B K K B 10 Wendi K B K B K B K B K B K B B B K B K 11 Aulia Intan K B K B K B K B K B K B K B K B K 12 Imro’atul B K B K B K B K B K B K B K B K B 13 Reza K B K B K B K B K B K B K B B K K 14 Niken B K B K B K B K B K K K B K B K B 15 Tania B K B K B K B K B K B K B K B K B 16 Noval Hayyu K B K B K B K B K B B B K B K K B 17 Wulandari K B K B K B K B K B B K K B K K B 18 Sauqi B B B K B K B K B K K B B B K K K 19 Hari Riski K B B K B K B K B K K B B B K K K 20 M. Ilzam B B B K K B K B K B K K B K K B B 21 Henrico B B B K K B K B K B K K B K K B K 22 Hasbi K B K B K K B K K K B K K B B B B 23 Ugra K B K B K K B K B K B K K B B B B 24 M. Roy B K B K B K B B K B K B B K K K K 25 M. Danil B K B K B K B B K B K B B B K K K 26 Fateh Jenata K B K B K B K K B K K K K B B B B 27 Qotrun Nada K B K K K B K K B K K K K B B B B Keterangan : B = Baik K = Kurang B = 50 % K = 50 %

(34)

Lampiran 6

LEMBAR OBSERVASI TANGGAL 18 JUNI 2007

Mengembangkan kreativitas melalui cerita “Kerja Kelompok Menyusun Menara” Tujuan : Meningkatkan Kreativias Anak

Hasil : Anak Kreatif mulai Meningkat

NO NAMA

Aspek Kreativitas Anak (Item Pada Lampiran Observasi)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 B / K 1 Aditya Dion B K B K B K B B B K B K B K B B K 2 Aditya Wahyu B B K B K B K K K B K B K B B B B 3 M. Andre B B B K B B K K B B B B B K K K K 4 Eovrija Luluk K B K B K B K B K B B B B K K B B 5 Desi K B K B K B K B K B B B B K K B B 6 Salsa Bila B K B K B K B K B K B K B K B B B 7 Febrianti K B K B K B K B K B K B K B B B B 8 Linda K B B K B B K B B K B K B K B B K 9 Dika Humairoh B K B B K B B K B K B K B K B B K 10 Wendi B B B B K K B K B K B K B B K K K 11 Aulia Intan B B B B K K B K B K B K B B K K K 12 Imro’atul K B K B K B K B K B K B B B B B B 13 Reza K B K B K B K B K B K B B B B B B 14 Niken B B K B K B K B K B K B B K B K B 15 Tania B B K B K B K B K B K B B K B K B 16 Noval Hayyu K B B K B K B K B K B K B K B B B 17 Wulandari K B B K B K B K B K B K B K B B B 18 Sauqi B B B B B B B B B B B K K K K K K 19 Hari Riski B B B B B B B B B B B K K K K K K 20 M. Ilzam K K K K K K B B B B B B B B B B B 21 Henrico K K K K K K B B B B B B B B B B B 22 Hasbi B B B B B B B B B B K K K K K K K 23 Ugra B B B B B B B B B B K K K K K K K 24 M. Roy K K K B B B B B B B B K K K K K K 25 M. Danil K K K B B B B B B B B K K K K K K 26 Fateh Jenata K K K K K B B B B B B B B B B K K 27 Qotrun Nada K K K K K B B B B B B B B B B K K Keterangan : B = Baik K = Kurang B = 60 % K = 40 %

(35)

Lampiran 7

LEMBAR OBSERVASI TANGGAL 25 JUNI 2007 Mengembangkan kreativitas melalui cerita “Anak Kreatif”

Tujuan : Meningkatkan Kreativitas Anak Hasil : Anak semakin Kreatif

NO NAMA

Aspek Kreativitas Anak (Item Pada Lampiran Observasi)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 B / K 1 Aditya Dion B B B B B B B B B B B B B K K K K 2 Aditya Wahyu K K B K B K B B B B B B B B B B B 3 M. Andre B K B B K B B B K B B B B B B B K 4 Eovrija Luluk B B B B B B B B B B K B K B K B K 5 Desi B B B B B B B B B B K B K B K B K 6 Salsa Bila K B K B K B K B B B B B B B B B B 7 Febrianti K B K B K B K B B B B B B B B B B 8 Linda B B B B B B B B B B K B K B K B K 9 Dika Humairoh B B B B B B B B B B K B K B K B K 10 Wendi B B B B B B K B K B B K B K B B B 11 Aulia Intan B B B B B B K B K B B K B K B B B 12 Imro’atul B K B K B K B K B B B B B B B B B 13 Reza B K B K B K B K B B B B B B B B B 14 Niken K B K B K B K B B B B B B B B B B 15 Tania K B K B K B K B B B B B B B B B B 16 Noval Hayyu B B B B B B B B B K K B B K B K B 17 Wulandari B B B B B B B B B K K B B K B K B 18 Sauqi B K B B K K K B B B B B B B B B B 19 Hari Riski B K B B K K K B B B B B B B B B B 20 M. Ilzam B B B B K K K B B B B B B K B B B 21 Henrico B B B B K K K B B B B B B K B B B 22 Hasbi B B B B K K K B B B B B B K B B B 23 Ugra B B B B B B B B K K K K B B B B B 24 M. Roy B B B B B B B B K K K K B B B B B 25 M. Danil B B B B B B B B K K K K B B B B B 26 Fateh Jenata B B K B K B K B K B B B B B B B B 27 Qotrun Nada B B K B K B K B K B B B B B B B B Keterangan : B = Baik K = Kurang B = 75 % K = 25 %

(36)

STRATEGI MENGEMBANGKAN KREATIVITAS

ANAK MELALUI BERCERITA DI TK AISYIYAH

BUSTANUL ATHFAL I RAMBIPUJI

JEMBER

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada

Universitas Muhammadiyah Jember

Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memenuhi

Program D-2 PGTK

Oleh :

YULIANA

NIM : 05024032

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

GURU TAMAN KANAK-KANAK

(37)

LEMBAR PERSETUJUAN

Dengan ini dinyatakan bahwa Tugas Akhir yang di buat : Nama : YULIANA

NIM : 05024032

Judul : Strategi Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Bercerita di TK. Aisyiyah Bustanul Athfal I Rambipuji

Isi dan formatnya telah disetujui dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diujikan dalam memperoleh gelar Ahli Muda Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember.

Jember, Juli 2007 Dosen Pembimbing

Dr. BAMBANG HARI. P, MA NIP : 131 658 015

(38)

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

Tugas akhir oleh Yuliana ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada Tanggal 31 Juli 2007

Dewan Penguji

... Ketua Drs. H. MF. Rachman Tawil, M.Si

... Sekretaris Drs. Slamet Riyadi

... Anggota DR. Bambang Hari P, MA

Mengetahui,

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Drs. Kukuh Munandar, M.Kes NIP : 131 963 584

(39)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Hirobbil Alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Dalam penulisan tugas akhir ini penulis menyadari masih banyak kekurangan, karena adanya keterbatasan kemampuan atau keterbatasan ilmu yang kami miliki.

Adapun penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh semua mahasiswa Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak guna menyelesaikan jenjang Pendidikan Diploma II di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak.

Dalam penyelesaian tugas ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis, baik secara langsung maupun tidak langsung, hingga terselesaikannya tugas akhir ini, antara lain :

1. Bpk. Drs. Kukuh Munandar, M.Kes, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember ;

2. Ibu Dra. Tri Endang Jatmikowati, M.Si, selaku Ketua Program Study D-2 PGTK Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jember ;

3. Bpk. Dr. Bambang Hari P, MA, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan nasehat dan bantuan kepada penulis sehingga terselesaikannya tugas akhir ini ;

4. Ibu Lathifah Hanum, MM, selaku Kepala TK. ABA I Rambipuji dan Staf-stafnya yang telah bersedia memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dan bersedia kami wawancarai ;

5. Suami dan keluarga yang telah memberikan dukungan ;

6. Seluruh Dosen Pengajar dan Pengelola Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Jember ;

7. Semua pihak yang membantu kelancaran pelaksanaan dan penyusunan Tugas Akhir ini.

(40)

Akhirnya, harapan kami semoga tugas akhir ini nantinya bermanfaat baik bagi penulis maupun semua pihak yang membaca, khusunya mahasiswa D-2 PGTK Universitas Muhammadiyah Jember. Saran dan Kritik yang bersifat membangun terhadap penulisan tugas akhir ini sangat kami harapkan dan mudah-mudahan orang-orang yang telah membantu kami senantiasa mendapatkan Rahmad dan Hidayah dari Allah SWT. Amin.

(41)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul

Lembar Persetujuan ... i

Lembar Pengesahan ... ii

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan ... 2 1.4 Kegunaan Penelitian ... 2 1.5 Batasan Operasional ... 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kreatifitas ... 4

2.2 Cara Meningkatkan Kreativitas Anak ... 5

2.3 Bercerita ... 7

2.4 Peran Bercerita dalam Mengembangkan Kreativitas Anak . 8 2.5 Prosedur Pembelajaran ... 11

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 13

3.2 Populasi / Responden ... 13

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 13

3.4 Metode Analisis Data ... 14

3.4.1 Data Hasil Obeservasi ... 14

(42)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum tentang TK ABA I Rambipuji ... 15 4.1.1 Gambaran Umum tentang Staf Pengajar TK ABA I

Rambipuji ... 15 4.1.2 Gambaran Geografis TK ABA I Rambipuji ... 17 4.1.2.1 Letak Geografis TK ABA I Rambipuji ... 17 4.1.2.2 Jarak TK ABA I Rambipuji dengan Kota

Kecamatan ... 17 4.1.2.3 Peta Lokasi TK ABA I Rambipuji ... 17 4.1.3 Gambaran Siswa TK ABA I Rambipuji ... 18 4.2 Hasil Wawancara dengan Staf Pengajar TK ABA I

Rambipuji ... 18 4.2.1 Hasil Observasi Anak ... 22 4.3 Pembahasan ... 23 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 26 5.2 Saran ... 27 DAFTAR RUJUKAN ... 28 DAFTAR LAMPIRAN

Gambar

Tabel Staf Pengajar TK ABA I Rambipuji

Referensi

Dokumen terkait

Data sekunder dalam Tugas Akhir ini berupa laporan keuangan PT Bank SUMUT yang diperoleh dari website Bank Indonesia (www.bi.go.id). Populasi dan Sampel 1)

Penggunaan teknik sosiodrama melalui layanan bimbingan kelompok untuk mengurangi prasangka sosial terhadap teman - teman disekolah digunakan karena masalah yang

Variabel adversity quotient, lingkungan keluarga, dan minat berwirausaha diukur dengan skala Likert, yaitu skala dipergunakan untuk mengetahui setuju atau tidak

Berdasarkan pengertian tentang komunikasi massa yang sudah dikemukakan oleh para ahli komunikasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi

Jika

Dari 3 responden yang kesemuanya adalah wanita menyatakan tidak setuju ponsel Sony Ericson Ericsson mempunyai fungsi multimedia yang lengkap dan menarik.1 responden dari

Di satu sisi produk berbahan eceng gondok ini menghasilkan kertas dengan nilai seni yang relatif lebih indah dan di sisi lain adalah upaya pengendalian gulma eceng gondok di

Prosedur penyelesaian dirancang untuk menemukan kebijakan optimal dari keseluruhan masalah, yang menunjukkan keputusan kebijakan mana yang optimal pada setiap tahap